Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 7 - Kota yang penuh kejutan.| By: Desya Saghir

“Galuh.. kamu sudah kembali, bagaimana keadaan bagian utara?” tanya Kakek Addar sambil mengubah arah pembicaraan dengan gugup. “Semuanya masih terkendali Kek,” jawab Galuh singkat. Galuh lalu menoleh pada para Kaum Luhur. ”Apa anda semua sedang membicarakan kawan–kawan saya pada orang asing?” Sekalipun sopan, tetap saja terselip sebuah nada keras yang agak kentara. Seketika terdengar beberapa lolongan dan geraman garang dari belakang Galuh. geraman yang saling bersahutan tersebut, sontak membuat para Kaum Luhur gelisah dan menoleh cemas. Namun, Kakek Addar masih berusaha tetap tenang. Lalu dengan lembut, ia membawa Galuh mendekat pada Adhit. “Anak muda ini ternyata adalah turunan keempat dari Sura Suradana, bukankah dulu Kakek pernah bercerita, “ucap Kakek Addar lembut sambil memperlihatkan kalung yang dipakai Adhit. Melihat hal tersebut, Galuh langsung terkejut. Ekspresi spontan Galuh, kini membuat Kakek Addar tenang dalam melanjutkan perkataanya. “Dulu, Tuan kura-kura Din saa...