Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 7 - Kota yang penuh kejutan.| By: Desya Saghir

“Galuh.. kamu sudah kembali, bagaimana keadaan bagian utara?” tanya Kakek Addar sambil mengubah arah pembicaraan dengan gugup. “Semuanya masih terkendali Kek,” jawab Galuh singkat. Galuh lalu menoleh pada para Kaum Luhur. ”Apa anda semua sedang membicarakan kawan–kawan saya pada orang asing?” Sekalipun sopan, tetap saja terselip sebuah nada keras yang agak kentara. Seketika terdengar beberapa lolongan dan geraman garang dari belakang Galuh. geraman yang saling bersahutan tersebut, sontak membuat para Kaum Luhur gelisah dan menoleh cemas. Namun, Kakek Addar masih berusaha tetap tenang. Lalu dengan lembut, ia membawa Galuh mendekat pada Adhit. “Anak muda ini ternyata adalah turunan keempat dari Sura Suradana, bukankah dulu Kakek pernah bercerita, “ucap Kakek Addar lembut sambil memperlihatkan kalung yang dipakai Adhit. Melihat hal tersebut, Galuh langsung terkejut. Ekspresi spontan Galuh, kini membuat Kakek Addar tenang dalam melanjutkan perkataanya. “Dulu, Tuan kura-kura Din saa...