Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir
Mereka semakin terkejut, karena dari
balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu
transparan, besar dan melayang menembus
awan malam.
Tirai putih panjang dengan bagian
dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang
tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup
mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang.
“Ini kebetulan yang baik, kita bertemu
dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada
Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.
“Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus
segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi
dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali
menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut.
Begitu awan terbang yang dibuat
Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit
sendiri sampai refleks memegang tengkuknya, karena seluruh bulu kuduknya
merinding luar biasa.
Namun raut Gada sangkara malah masih biasa,
ia bahkan masuk duluan dari pintu depan, lalu menghilang dibalik gelapnya
bagian dalam ruangan yang tak terjamah cahaya sedikitpun. Sontak semuanya langsung
berlari menyusul Gada dengan khawatir. Namun begitu sampai didalam, semua malah
terperangah luar biasa!
Bagian dalam perahu hantu ini ternyata
sangat hangat dan terang! Ini mengingatkan Adhit saat pertama kali dibawa Galuh
pada Gua tempat persembunyian Kaum Luhur dulu.
Pandangan mereka terpaku pada ruangan yang
bukan hanya amat luas, melainkan dindingnya sendiri nyaris tak terjangkau
pandangan. Ratusan rak-rak jati bertingkat tinggi dan sangat besar, dipenuhi ribuan
buku dengan aneka ukuran dan warna. Namun bukan itu saja yang membuat mereka
terkejut, karena yang terdapat disana bukan buku saja, melainkan juga dipenuhi
berbagai dengan alat peraga yang begitu aneh.
“Rasanya seperti masuk museum iptek,
namun disini isinya lebih Ajaib!” ucap Adhit dengan mata berkeliling takjub. Ketika
mendengarnya, Gada Sangkara langsung tersenyum.
Saat terus berjalan ke arah lebih dalam,
mereka kembali terkejut, karena malah mendapati aktivitas karnaval sirkus
meriah diantara rak-rak buku besar yang menjulang begitu tinggi.
“Gada? Gada Sangkara!” Teriak
seseorang dari dalam kerumunan karnaval. Lalu keluarlah seseorang dari dalam karnaval
dengan memakai pakaian badut.
Setelah karnaval ia bekukan, lalu
menghilangkan kostum badut yang ia kenakan, kini terlihatlah seorang pemuda
hitam manis berpostur tegap, dengan garis wajah tampan khas Indonesia. Kini
mereka semua mulai mengerti, ternyata karnaval sirkus tersebut adalah ilusi
buatan pria tersebut.
Begitu mengenalinya, Gada Sangkara tertawa
sambil memeluk pria ini dengan senang.
“Maafkan atas semua kericuhan ini
hahaha!” ucap pria tersebut sambil menoleh pada karnaval sirkus buatannya, yang
lalu disambut tawa terkekeh dari Gada Sangkara.
“Para Delegasi mulai sibuk dengan kasus
baru dari Kaum Hitam, kamu pasti sudah mendengarnya di Istana. Hal tersebut menyebabkan
beberapa tahun ini sama sekali tidak ada yang berkunjung. Lalu munculah ide Ini
untuk menghibur kebosanan saya hahaha…” lanjut pria tersebut lagi sambil menunjuk
sekali lagi pada karnaval buatannya.
“Teman-teman, perkenalkan.. ini adalah
Damar Agung, kawan saya semasa sekolah militer.” Damar melambai pada semua
dengan ramah. Sebaris gigi rapi dan lesung pipi dikedua sisi pipinya, membuat
wajah Damar semakin terlihat manis namun tetap bersahaja.
“Begitu lulus, saya tetap di Astamaya
untuk membantu ayah saya, Panglima Besar Baharyu. sedangkan Damar, sekalipun
cita-citanya ikut berperang dalam melindungi Astamaya bersama saya, ia malah memilih
pergi ke perahu tabir ilmu ini untuk menggantikan ayahnya yang tiba-tiba wafat.”
Ucap Gada Sangkara sambil menepuk Pundak Damar dengan bangga.
Sesuai dengan namanya, ternyata Damar benar-benar
jadi penerang bagi Galuh dan kawan-kawan. Ia mengetahui segala seluk beluk dalam
perpustakaan ini seperti mengenali tubuhnya sendiri. Bahkan mempersilahkan
Adhit untuk mencoba berbagai alat peraga disana. Galuh sampai tergelak karena Adhit
benar-benar seperti bocah tersesat ditaman bermain!
Ditengah-tengah pencarian, tiba-tiba muncul
suara ricuh dari arah luar. Ternyata, mereka kedatangan Prajurit Hitam yang
tiba-tiba mengobrak-abrik isi dari beberapa rak buku, namun entah untuk apa.
Damar berbisik, “diam dan tunggu
disini!”
Yang setelah itu, ia segera membuat memajukan
kembali karnaval sirkus buatannya. Lalu Galuh dan Kawan-kawan ia sembunyikan ditengah-tengah
karnaval buatannya. Untung saja yang datang hanya para bawahan kecil, sehingga
kehadiran para pemilik elemen tidak mereka sadari. Lalu Damar pura-pura
membekukan karnaval tersebut, agar perhatian para Prajurit Hitam lebih pada
Damar.
Saat pura-pura membeku ditengah
karnaval buatan Damar, Adhit baru sadar, bahkan tawanya hampir meledak. Karena ternyata,
Soma Wisesa dipakaikan kostum pudel berpita imut, dengan jambul terkepang yang menjulang
tinggi.
Saat Adhit melirik kearah lain demi tidak
kelepasan tertawa, ia malah mendapatkan bahwa Ragadewa dan Gada Sangkara, juga ternyata
dipakaikan kostum kucing yang lengkap dengan sarung cakar imutnya. Adhit sampai
sesak karena berusaha menahan tawa setengah mati, padahal ia sendiri dipakaikan
kostum jamur payung yang memakai dot dan popok bayi.
Akhirnya, hasrat tertawanya menurun
karena melihat Galuh. Ia tampak semakin cantik bersahaja karena mengenakan
kostum ksatria wanita yang gagah berani.
Disisi lain, Gada Sangkara menatap
Damar kesal, namun Damar hanya meliriknya sambil tersenyum tipis, lalu
melanjutkan akting di depan para Prajurit Hitam. Adhit jadi teringat bagaimana
Soma Wisesa dan Guru Candrakara berinteraksi. Adhit menebak, sepertinya kedekatan
mereka, sama dengan Gada Sangkara dan Damar Agung sekarang.
Begitu selesai mengobrak-abrik puluhan
rak tanpa hasil, pemimpin mereka berbalik ganas dan langsung menarik paksa
Damar untuk mengatakan dimana pecahan Kitab Sembilan disembunyikan. Damar yang
disiksa, membuat Gada Sangkara refleks untuk menyelamatkan. Namun, Damar tetap
berkata tidak tahu apa-apa sambil diam-diam melilit Galuh dan kawan-kawan
dengan energinya, sehingga tubuh Gada Sangkara kaku dan tidak dapat menolong
Damar sama sekali.
Soma Wisesa yang terkejut karena
lilitan buatan energi Damar Agung tidak bisa ia lepaskan sama sekali. Seorang
Soma Wisesa tidak bisa melepaskan lilitan energi milik anak kemarin sore, membuat
ia langsung menoleh pada Gada Sangkara. Namun Gada juga menatap Soma Wisesa,
seakan mengatakan bahwa ia juga tidak tahu mengapa energi Damar bisa sehebat
ini.
Sekalipun sekelompok Prajurit Hitam ini
mengetahui bahwa semua bagian dari karnaval adalah ilusi, namun salah seorang Prajurit
Hitam malah merasa tertarik dengan kecantikan Galuh. Ia bahkan hampir menyentuh
wajah Galuh.
Dengan sigap Damar segera memajukan
ilusi karnavalnya lebih meriah, sehingga Galuh tertutup hingar bingar karnaval.
Setelah itu Damar segera meminta maaf, dengan alasan beberapa pukulan prajurit
hitam mengacaukan syaraf pengontrolan energinya. Ini membuat para Prajurit
Hitam teralihkan, karena puas menertawakan ekspresi palsu Damar yang terlihat
begitu ketakutan.
Karena tidak menemukan apapun yang
terhubung dengan Kitab Sembilan, mereka akhirnya meninggalkan perahu tabir ilmu
dengan kondisi porak poranda.
Begitu melihat para Prajurit Hitam telah
menghilang dari pandangan, Damar segera menghilangkan ilusi karnaval miliknya, membuka
ikatan energi dan mengembalikan sosok para pemilik elemen menjadi seperti
semula. Lalu dengan mudah pula, Damar Agung mengobati seluruh lukanya dan membetulkan
semua kekacauan tersebut dengan sekali jentikan. Sekalipun ia bukan anak
Istimewa, tetap saja kekuatan Damar tidak bisa dianggap sembarangan.
“Siapa kamu? Mengapa lilitan energimu
sangat kuat?” tanya Soma Wisesa heran. Damar menanggapinya dengan memperlihatkan
dua dari pecahan Kitab Sembilan. “Itu Kitab Ilusi Partikel dan Kitab Mantera
Ramuan!” teriak Ragadewa dengan terkejut. Mendengar yang diucapkan Ragadewa, Gada
Sangkara menoleh heran pada sahabatnya.
“Dua Kitab ini yang membuat ayah saya
tewas mengenaskan. Ayah berjuang mempertahankan kitab ini, karena ini adalah
titipan ilmu dari Guru Candrakara, yang diturunkan secara turun temurun hingga masa
yang diramalkan datang. Pesan Guru Candrakara agar melindungi para pemilik
elemen menggunakan energi gabungan dari kedua kitab ini,” Sontak ucapan Damar
Agung membuat semuanya terkejut luar biasa.
“Jadi ini rencana Guru Candrakara
juga, ini gila!.. ini sangat gilaa!!” ucap Adhit sangat senang, sedangkan Soma
Wisesa hanya menggeleng tidak percaya. Sebagai sahabatnya di masa lalu, pemikiran
Candrakara sudah benar-benar diluar nalarnya sendiri.
“Lalu, dari mana kamu tahu bahwa kami
adalah yang diramalkan Guru Candrakara?” tanya Gada Sangkara penasaran. “Dari
petunjuk Guru Candrakara, bahwa akan ada lima orang utusan istana. Satu wanita
berpakaian ksatria, dan empat pria dengan memakai baju pudel berpita pink,
kucing imut dan jamur payung yang memakai dot dan popok. Begitu menyadari
kalian semua memakai semua itu, saya langsung sadar bahwa ramalan Guru
Candrakara telah datang.” Mendengar jawaban santai Damar, membuat semua yang
mendengarnya langsung hening.
“Petunjuk yang benar-benar tidak
waras!” ucap Soma Wisesa yang membuat semua langsung tergelak mengiyakan.
Di dalam Perahu Tabir Ilmu, mereka
akhirnya mendapat waktu tenang dalam menterjemahkan kordinat wilayah Sang Api, bahkan
mereka dijamu dengan aneka camilan dan minuman lezat khas Jawa Barat!
Dengan satu jentikan jari, melayang
perlahan satu piring colenak, yaitu tape singkong yang dibakar dan disiram saus
gula merah kental, lalu ditaburi kepala parut bakar dengan aroma wangi memikat.
Lalu menyusul, satu piring combro dan
misro yang saling berdampingan, yang satu di isi tumisan oncom gurih pedas, satu
lagi, di isi gula merah yang lumer pada gigitan pertama.
Menyusul lagi cireng dengan berbagai
isian, ayam suwir pedas gurih, abon sapi, dan ayam mayo. Tidak ketinggalan Gehu
pedasnya, yaitu tahu yang diisi tumisan gurih sayuran yang diselipi satu cabe
rawit pedas, dan aneka gorengan lainnya.
Soma Wisesa duduk bersila, sambil tekun
menterjemahkan Kitab Candrakara. Lalu dibantu Adhit dengan kilasan memori yang
ditinggalkan Guru Candrakara, dan tentu saja sambil mencicip banyak sekali
camilan.
Gada Sangkara dan Galuh sendiri membantu
Damar Agung dalam menurunkan buku-buku yang diminta Soma Wisesa. Adhit dan
Damar sampai tergelak, karena bisa-bisanya Gada menurunkan buku dengan satu
tangan, dan satunya lagi digunakan untuk melayangkan camilan disekitarnya untuk
ia cicip satu persatu.
Sedangkan Ragadewa, ia membagi dirinya
menjadi lima orang, yang lalu ikut membantu menurunkan beberapa buku dari sisi
lain.
Kadang, saat Galuh terlihat begitu
akrab dengan Gada Sangkara, ia akan mengetapel jarak jauh Gada agar jangan
dekat-dekat dengan Galuh, sambil berkata bahwa Galuh itu lebih buas dari para
Ajag yang bersemayam ditubuhnya. Sontak para Ajag langsung tergelak mengiyakan.
Galuh yang kesal, lalu membalas Adhit
dengan gangguan serupa, yang setelahnya disambut gelak tawa Adhit karena senang
mendapat perhatian Galuh kembali. Mereka benar-benar seperti kucing dan anjing.
Sambil menurunkan beberapa buku, Ragadewa
memperhatikan interaksi Galuh dan Adhit. Ada sedikit rasa perih yang menusuk dadanya. Ragadewa
menyukai Galuh saja usia enam tahun, namun sejak bertemu kembali, sehangat
apapun bentuk perhatian Ragadewa pada Galuh, entah mengapa pandangan Galuh selalu
tersorot kepada Adhit. Namun ia juga bahagia, karena saja bertemu Adhit, Galuh
berubah! Hidupnya seakan jadi agak santai dan penuh warna.
Setelah itu Ragadewa menggeleng pelan,
karena sepertinya Adhit mengira Gada Sangkara selalu mendekati Galuh. Padahal, dari
pembicaraan yang tidak sengaja ia dengar antara Galuh dan Gada Sangkara, justru
ia sedang menggali banyak informasi
tentang Subhita, sahabat baru Galuh di istana. Gada Sangkara ternyata telah
lama jatuh hati pada Subhita, namun selalu tidak pernah bisa mengatakan apapun
saat bertemu Subhita.
Hingga akhirnya, “Petunjuk sang Api, ternyata
ada di Bromo!” teriak Soma Wisesa dengan kelegaan yang amat sangat.
“Damar, terimakasih atas bantuan dan
jamuan yang luar biasa ini, maaf telah sangat merepotkan,” ucap Gada Sangkara dengan
penuh terimakasih.
“Hei.. tidak merepotkan sama sekali! Kamu
tahu sendiri, ayah saya tewas karena demi menjaga agar ramalan ini berjalan
dengan semestinya, sebuah kehormatan besar bahwa saya ternyata bagian dari
perjuangan ayah saya.” jawab Damar Agung pada Gada Sangkara dengan sangat dalam.
“Ah.. sekarang sudah menjelang pagi,
perjalanan memakai awan terbang buatan Ragadewa akan membuat tubuh kalian
semakin lelah, pakailah ini!” ucap Damar sambil memperlihatkan sesuatu yang
membuat semua terperanjat.
Sebuah perahu transparan, dengan
ukuran sebesar perahu nelayan yang sebelumnya tertutup kain putih transparan.
Damar lalu memimpin untuk masuk kedalam.
Dari luar, perahu ini tampak seperti
kapal nelayan hantu, transparan dan mengerikan. Namun saat kain yang tergantung
di pintu tersibak, semua terperanjat kedua kalinya.
Bagian dalam perahu ini menyerupai tenda
berkelas yang hangat dan begitu luas. Lantai kayu berpelitur mengkilap,
terlapisi permadani bulu yang begitu lembut saat terinjak. Ditengah ruangan, sofa
besar yang membundar, mengelilingi satu meja tengah kayu dengan ukiran yang begitu
otentik. Dengan jendela-jendela klasik yang besar, membuat mereka bisa melihat
pemandangan luar dari berbagai sisi.
Di bagian belakang sofa, terdapat tiga
kamar tidur yang dipisahkan sekat berbahan kain tenda. Damar lalu menunjukan,
sekalipun dari sisi ruang tengah masing-masing kamar tersebut terlihat kecil, tetapi
bila sudah masuk kedalam, ternyata masing-masing kamar mempunyai ukuran lebih
luas dari pada yang terlihat dari ruang tengah.
Masing-masing kamar memiliki dua
tempat tidur dengan seprai batik khas cirebon, bantal sarung batik yang
tersusun rapi dan selimut dengan tekstur lembut dan sangat nyaman. Disamping
masing-masing tempat tidur, terdapat satu nakas kayu besar, satu meja di
masing-masing tempat tidur.
Yang mengejutkan, ada dapur mini juga dengan
kulkas yang diisi makanan instan yang sangat lengkap, hingga membuat mereka
senang luar biasa.
“Tadinya saya berencana akan mendarat
sebentar di salah satu pulau seribu untuk menyelidiki sesuatu, tapi ternyata ada
misi yang lebih besar, pakailah!” ucap Damar Agung senang.
Setelah semua memeluk Damar karena
penyambutan dan tumpangan untuk perjalanan selanjutnya yang luar biasa, akhirnya
Galuh dan kawan-kawan berangkat menuju petunjuk selanjutnya.
Selama perjalanan, Adhit yang sudah
lelah luar biasa, ia malah tertidur di salah satu sofa empuk dan setelah itu
terlelap luar biasa. Gada Sangkara yang menertawakan Adhit karena tertidur
cepat, saat menyender pada salah satu sofa, ia juga malah tertidur dengan sama
lelapnya seperti Adhit.
Galuh hanya bisa menggeleng melihat
perilaku mereka berdua, setelah itu ia masuk pada salah satu kamar dan tertidur
didalamnya.
Bukannya istirahat, Ragadewa malah membuka
jurnal kecilnya untuk mencatat perjalanan mereka. Ternyata ia menjadikan
perjalanan ini bagian dari Novel Fiksi terbarunya. Namun tak lama, Ragadewa malah
tertidur sambil memeluk catatannya. Hari yang mereka lalui akhir-akhir ini
memang sangat menguras segalanya.
Sedangkan Soma Wisesa, yang sejak
tersegel tidur bukan lagi menjadi bagian dari siklus hidupnya, maka seperti
biasa, ia melamun sambil memandang awan-awan yang mereka lewati dari balik salah
satu jendela. Hingga akhirnya, mereka semua dibangunkan oleh Soma Wisesa,
karena mereka ternyata telah sampai di Bromo!
Mereka mendaratkan perahu
transparannya dengan hati-hati. Setelah memastikan tidak ada seorangpun disana,
merekapun keluar satu persatu. Setelah itu Adhit lalu memasukan perahu
transparan tersebut kedalam tas pemberian Kakek Addar dulu.
Untuk mencari petunjuk, Soma Wisesa kembali
membuka Kitab Candrakara. Karena kali ini yang dicari adalah elemen Api, maka
Adhitlah yang diminta merasakan koneksi dengan sang Api.
Adhit tiba-tiba duduk pada sebuah batu
sambil bersemedi, yang sontak langsung disentil jarak jauh oleh Soma Wisesa.
“Adhitya! kamu pikir kita sedang
mencari nomor judi!” teriak Soma Wisesa kesal. Gara-gara hal tersebut, semua jadi tertawa terpingkal-pingkal. Adhit
tertawa sambil menggaruk kepalanya, “Ayolah Soma, kamu.. Aaaaaa!!!” Tiba-tiba
Adhit hilang! Ternyata batu tempat Adhit duduk jeblos kebawah!
Semua yang terkejut segera menyusul
untuk menolong Adhit. Namun saat mereka masuk, tiba-tiba mereka masuk kedalam
dunia yang mirip dengan suasana dunia atas, tetapi posisinya terbalik.
Seakan-akan dunia Manusia sekarang ada dibawah mereka.
Semuanya benar-benar mirip, namun
dengan tambahan pulau-pulau kecil yang mengambang di udara. bahkan mereka bisa
melihat akar pepohonan besar yang menjuntai kebawah, disertai hewan-hewan yang
hidup disana. Dan yang paling membuat mereka terkejut. Disana melintas banyak
sekali hewan terbang purba!
“Sepertinya kita memasuki wilayah
dimana Sang Api disembunyikan.” ucap Soma Wisesa yakin.
Saat mereka hendak berjalan, tiba –
tiba saja mereka dihadang beberapa hewan purba yang memamerkan taring tajam
mereka. Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba Gada Sangkara dibawa kabur
salah satu predator terbang purba, bahkan Galuh dan kawan – kawan yang berusaha
menolong Gada, dibuat terpental kesana kemari.
Saat hendak mengeluarkan para Ajag, tiba-tiba
saja para monster yang mengelilingi mereka menyingkir kepinggir. lalu masuklah
seorang anak muda berusia empat belas tahun, berambut cepak, dengan baju khas Pertapa.
Ia datang membawa kembali Gada
Sangkara, yang lalu mendaratkan predator terbang purba yang mereka kendarai
dengan hati-hati.
“Siapa dia!” Tanya Galuh dengan
terkejut.
- Bersambung - Desya Saghir -
Komentar