Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kakek Addar
terkejut dengan pertanyaan Adhit. Bahkan, dia begitu bingung sampai tidak tahu
harus memulai dari mana. Para Kaum Luhur juga sama terkejutnya, mereka bahkan saling
menoleh satu sama lain. Namun sama saja, mereka juga tidak tahu harus menjawab
apa.
Setelah merasa
menemukan kata yang tepat, Kakek Addar memberi tanda berupa anggukan pada Kaum
Luhur, sehingga wajah mereka menjadi lega yang lalu ikut merestui.
“Baiklah
Adhitya, mengingat kamu akan tinggal cukup lama bersama kami, memang seharusnya
kamu tahu tentang ini,” ucap Kakek Addar mencoba tenang. Setelah mengambil
napas yang cukup dalam, iapun kembali berkata.
“Kita mulai
dari awal.” ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan
energinya, untuk menampilkan gambaran pertengkaran dua kubu di ruang pertemuan
istana.
“Di waktu yang
lampau, ada sebagian dari Kaum Astamaya yang mulai menentang keputusan mutlak
Istana.” Terlihatlah sebuah gambaran pertengkaran dua kubu yang semakin memanas.
“Pihak ini merasa
bahwa Kaum Astamaya adalah kaum terkuat, kaum yang seharusnya mengendalikan
para Manusia, bukan hanya menyelamatkan bumi diam-diam saat terjadi kekacauan dari
polah manusia itu sendiri,” ucap Kakek Addar dengan raut wajah yang sebenarnya tidak
setuju.
“Tentu saja,
ide tentang menjadi kaum terkuat ditolak tegas oleh sebagian kami yang lain. Termasuk
Ayah saya, saya dan tentu saja para Kaum Luhur,” Adhit melihat para Kaum Luhur ikut
mengangguk setuju.
“Kami yang menolak
ide tentang istilah kaum terkuat berpendapat, bahwa manusia masih belum siap
dengan kehadiran kami. Kemunculan kami hanya akan mengakibatkan banyak
kerusakan dari segala arah, terutama dunia Manusia.” Ucap salah satu kura-kura
tua dengan sedih.
“Benar sekali, ide tentang menjadi kaum
terkuat adalah sebuah niat keserakahan terselubung. Keserakahan yang hanya akan
menyebabkan kesengsaraan akibat perang dan perbudakan.” Ucap salah satu sesepuh
kelinci dengan raut menyesali.
“Yang dikatakan
Tuan Kura-Kura dan Tuan Kelinci benar sekali. Dua pendapat ini mengakibatkan Kaum
Astamaya terpecah menjadi dua bagian. Kaum Putih, yaitu kami yang menginginkan
tetap tersembunyi sampai Kaum Manusia benar-benar siap. Dan Kaum Hitam, yaitu
mereka yang menginginkan Kaum Manusia dijadikan sebagai budak agar bisa lebih
dikendalikan.” Ucap Kakek Addar yang lalu berhenti sebentar untuk menyesap
tehnya lagi, ia tampak berhati-hati sekali dalam memilih kata selanjutnya.
“Sejak Kaum Astamaya terpecah menjadi dua, kedua
pihak ini terus bertarung secara seimbang,” ucap Kakek Addar sambil memberikan
gambaran ilusi baru, berupa beberapa pertarungan dua kubu, yang selalu berakhir
dengan mundurnya kedua belah pihak.
“Hingga suatu
ketika, Kaum hitam berhasil membuat sebuah terobosan yang sangat mengejutkan.
Yaitu, munculnya para Ajag!” Ucap Kakek Addar dengan geram.
“Padahal kami
mengikuti pergerakan Kaum Hitam dengan akurat, entah mengapa hal sebesar ini
bisa terlewat.” Dengan tangan yang mengepal kuat, wajah kakek Addar mulau
dipenuhi kesedihan yang amat sangat.
“Para Ajag ini,
bukan lagi sejenis Mudria seperti yang pernah merasuki lenganmu nak… Mudria
hanya satu Ruh kecil. Tetapi para Ajag, ia berasal dari kumpulan ribuan Ruh manusia
tersesat, Ruh yang telah dipilah sangat seksama oleh Kaum Hitam.“ Ucap Tuan
Monyet Rahyata, karena Kakek Addar terlihat begitu sedih hingga tidak sanggup
melanjutkan.
“Para Ruh yang
dipilah ini, adalah para Manusia yang berhasil mengemban energi yang dipinjamkan
oleh Kaum Hitam, sehingga menjadi begitu hebat dan gemilang.” Gambaran ilusi
yang diberikan salah satu kucing yang tampak begitu tua, beralih pada para Manusia
jahat yang berhasil menjadi Manusia terkuat dan tidak terkalahkan.
“Setelah masa perjanjian
yang telah ditentukan selesai, Manusia yang telah dipinjamkan energi oleh Kaum
Hitam, Ruhnya akan diambil paksa, dipilah dan dikelompokan. Lalu yang memenuhi
syarat, dipisahkan untuk digodok dalam kendi Ruh bertuah,dengan rentang waktu
yang amat sangat lama.” Ucap Tuan Monyet Rahyata berapi-api.
“Hingga
akhirnya ribuan Ruh tersebut berhasil melebur, dan mengelompok menjadi enam Ajag,
sesuai dari karakter jahat para Ruh ini,” lanjut Tuan Monyet Rahyata dengan
kesal.
“Ternyata Enam
Ajag? bukan lima seperti yang dikatakan para kucing kemarin?” pikir Adhit
heran, tetapi ia lebih memilih untuk mendengarkan dulu, versi Kakek Addar dan
Kaum Luhur yang ada disini.
“Jadi, ke enam
Ajag ini, sebenarnya berasal dari Kumpulan Ruh Manusia, yang berhasil mengemban
energi mereka menjadi luar biasa?” ucap Adhit memastikan.
“Benar sekali
anak muda, mereka adalah kumpulan Ruh Manusia yang amat kuat pada masanya.”
Jawab Tuan Monyet Rahyata dengan gestur membenarkan.
“Ruh yang
mengelompok menjadi enam Ajag ini terdiri dari empat Ajag jantan, yaitu: Aral,
Agul, Neluh, Sasab, satu Ajag betina yaitu Bangkarwarah. Dan pemimpin mereka
semua, NaRaja, Ajag dengan kekuatan yang jauh melebihi mereka semua, “ucap
Kakek Addar setelah berhasil menguasai emosinya.
“Aral berasal
dari Ruh yang tidak pernah puas, Agul berasal dari Ruh kesombongan, Neluh
berasal dari Ruh pengeluh yang selalu iri hati, Sasab berasal dari Ruh yang
selalu jahil dengan pencapaian orang lain, Bangkarkawah berasal dari Ruh wanita
penuh nafsu dan pembangkang. Lalu NaRaja, kami tidak pernah tahu ia berasal
dari Ruh seperti apa, sangat sulit sekali menggali informasi tentang NaRaja,” ucap
Kakek Addar menyesali.
“Sedangkan Ruh-Ruh
sesat yang tidak terpilih, oleh Kaum Hitam dijadikan menjadi sejenis Mudria. Ruh
kecil yang dijadikan budak untuk kebutuhan hanya sekali pakai. Setelah itu dibiarkan
musnah begitu saja, seperti yang disisipkan pada lenganmu nak..” ucap Kakek
Addar lagi sambil menunjuk lengan Adhit. Secara refleks, Adhit memegang
lengannya yang sempat terasuki Mudria.
“Dengan
berbekal enam Ajag tersebut, para Kaum Hitam nekat menyerang istana demi
merebut batu Hyang Sawarga. Namun, yang mereka tidak ketahui, batu Hyang
Sawarga yang asli telah lama disembunyikan Guru Candrakara. Sedangkan yang
berada di Istana, hanyalah replika kosong biasa, sama sekali tidak berguna.” Ucap
Tuan Monyet Rahyata yang dibenarkan Kakek Addar dan Kaum Luhur lainnya.
“Batu Hyang Sawarga?”
pikir Adhit penasaran, Kakek Addar tersenyum karena menangkap dari maksud
kerutan kening Adhit.
“Hyang Sawarga adalah
kata serapan dari bahasa sunda, yang mempunyai arti, Hyang adalah Dewa, dan Sawarga
yang berarti Surga atau Kahyangan. Maka, batu Hyang Sawarga mempunyai arti, Batu
para Dewa yang berasal dari Surga atau Kahyangan.” Adhit mengangguk-angguk
mengerti.
“Para pendahulu
kami menamainya Hyang Sawarga, karena batu tersebut tiba-tiba jatuh begitu saja
dari langit. Namun, begitu menyentuh tanah, justru merubah komponen seluruh apa
saja yang ada di wilayah ini, sehingga menjadi seperti sekarang.“ Ucap Kakek
Addar sambil merentangkan kedua tangannya, seakan menunjuk semua keanehan yang
pernah dilihat Adhit di wilayah ini.
"Seiring
berkembangnya peradaban, kami mulai memahami bahwa batu Hyang Sawarga hanyalah
batu meteor biasa. Yang membedakannya adalah, batu ini membawa radiasi unik dalam
jumlah yang sangat besar, sehingga mampu mengubah komponen apapun yang terkena radiasinya,
dengan radius yang sangat luas." Mendengar hal tersebut, kini Adhit
mengerti, mengapa wilayah Astamaya sangat jauh berbeda dengan wilayah Manusia.
“Kita kembali
pada yang tadi. Karena serangan yang tiba-tiba, pihak istana terdesak karena kekuatan
para Ajag ternyata diluar dugaan kami. Satu persatu dari para Tetua Putih yang
ada, tumbang dan terluka, hingga akhirnya hanya menyisakan saya dan Tuan
Baharyu, Panglima utama istana.” Ucap Kakek Addar menyesali.
“Kami berdua benar-benar
harus memutar otak dengan cepat. Jumlah para Tetua Hitam yang masih lengkap,
ditambah para Ajag yang tidak terluka sedikitpun, melawan mereka sama saja dengan
upaya bunuh diri.” Ucap Kakek Addar geram.
“Tiba-tiba kami
berdua teringat, para Kaum Hitam masih belum tahu, bahwa batu Hyang Sawarga
yang ada di istana hanyalah replika kosong. Berbekal hal tersebut, kami berdua
mencoba menggunakan tipu daya, dengan tujuan, mengarahkan para Tetua Hitam
untuk masuk kedalam ruang penyimpanan replika batu Hyang Sawarga.
“Mengapa ruang
batu Hyang Sawarga, untuk apa mereka diarahkan pada sebuah replika yang tidak
berguna?” tanya Adhit heran.
“Karena sebelum
disembunyikan, batu Hyang Sawarga yang asli pernah ditempatkan disana,” jelas
Kakek Addar dengan nada bijak.
“Aah.. saya
mengerti, bila tempat tersebut adalah sebelumnya tempat penyimpanan batu Hyang
Sawarga yang asli, tentu tempat tersebut mempunyai dinding yang sangat kuat, sehingga
bila para Tetua Hitam masuk, anda semua bisa menguncinya dari luar! ini
keputusan yang benar-benar cerdas!” ucap Adhit takjub.
“Benar, tetapi
bukan dinding, melainkan tempat tersebut dilingkupi segel pelindung yang sangat
kuat. “Ralat Kakek Addar agak terkejut. Manusia dihadapannya mungkin tidak
mempunyai kekuatan seperti Kaum Astamaya, tetapi pola pikirnya beradaptasi dengan
cepat, benar-benar hampir secerdas Kaum Luhur.
“Segel yang
melindungi ruangan tersebut dibuat dari sedikit sari pati batu Hyang Sawarga
sendiri, sehingga ruangan itu bukan hanya kuat, melainkan amat sangat kuat!” Sambung
Tuan Monyet Rahyata yang tidak kalah terkejutnya.
“Begitu mereka
berhasil masuk dan memegang replika batu tersebut, kami segera tutup kembali
segelnya. Awalnya mereka tidak perduli, karena mereka sudah merasa telah mendapatkan
batu Hyang Sawarga. Namun, ketika batu tersebut digunakan, mereka baru sadar
bahwa batu yang ada di tangan mereka hanya batu kosong yang tidak berguna.”
Ucap Kakek Addar dengan mata penuh binar puas.
“Kami pikir,
setelah ini para Tetua Hitam akan terus memaksa Ajagnya untuk mendobrak segel. Tentu
hal ini akan membuat para Ajag marah, lalu mengamuk membabi buta hingga
menewaskan inangnya sendiri, ternyata dugaan kami salah!” Kini raut Kakek Addar
berubah menjadi sebal.
“Yang terjadi,
Para Tetua Hitam ini malah mengembalikan para Ajag kembali pada segel tubuh
mereka, lalu duduk menenangkan diri,” kening Kakek Addar tampak berkedut-kedut
karena sangat kesal.
“Itu pasti
membuat sangat membuat kesal, Kaum Putih sendiri tidak bisa mengesekusi karena
terhalang segel ruangan tersebut, namun bila nekat membuka segel ruang batu
Hyang Sawarga, maka saat itu pula para Ajag keluar dan mempora-porandakan
seluruh isi istana dan sekitarnya,” ucap Adhit refleks, namun berhasil membuat
seisi ruangan menatap takjub.
“Anak ini
sangat cerdas!” bisik salah satu Kaum luhur pada yang lainnya. “Apa benar ia
seorang Manusia?” tanya yang lain dengan hampir tidak percaya.
“Benar sekali
anak muda,” ucap Kakek Addar yang tak kalah terkejutnya.
“Atas keputusan
para Tetua Putih, lima Tetua Hitam yang sudah tidak berdaya, kami biarkan
sekarat dalam ruangan tersegel, agar mereka putus asa dan kalap. Semakin mereka
putus asa dan kalap, semakin tipis kesabaran para Ajag. Sehingga para Ajag yang
sudah kesal dan marah, keluar mengamuk secara membabi buta, yang lalu
menewaskan inangnya sendiri.” Ucap Kakek Addar dengan penuh keyakinan.
“Lima? bukankah
tadi katanya ada enam Ajag?” kali ini Adhit bertanya dengan heran, mengapa kini
Kakek Addar dan kata-kata para kucing semalam malah menjadi satu suara.
“Yang berhasil
dijebak hanya lima Tetua nak.., sedangkan satu Tetua lagi dan Ajagnya berhasil
lolos dan meninggalkan pasukannya yang kocar-kacir,” jelas Kakek Addar yang
akhirnya membuat Adhit kini mengerti.
Kakek Addar tampak
menimbang–nimbang kalimat lanjutan yang hendak ia ucapkan, setelah sepertinya
telah menemukan kalimat yang tepat, iapun berkata.
“Selama para
Tetua Hitam ini tersegel, ruangan tersebut dijaga dengan sangat ketat. Semua
yang mengunjungi luar segel ini, benar-benar diawasi oleh prajurit terpilih.” Ucap
Kakek Addar yang terhenti sebentar, lalu ia menarik napas yang begitu berat.
“Namun, Galuh yang
terlepas dari pengasuhnya, malah tidak sengaja menemukan jalan masuk melalui lorong
ventilasi udara. Ia masih sangat kecil, saat itu usianya baru enam tahun,” ucap
Kakek Addar yang lalu berhenti lagi, ada kesedihan yang sangat dalam ketika ia
mengucapkan kalimat tersebut, bahkan tangannya mengepal kencang seakan ada penyesalan
yang begitu kencang.
“Ketika para
Tetua Hitam mengetahui, bahwa anak yang berhasil menembus segel adalah pewaris
tahta selanjutnya. Mereka memanfaatkan kesempatan ini, untuk mentranster Ruh
hitam yang selama ini bersarang dalam tubuh mereka. Meskipun taruhannya adalah,
nyawa mereka sendiri.” Sambung Tuan Monyet Rahyata karena Kakek Addar terlihat
bersedih sekali.
“Dengan cara
ini, para Tetua Hitam merasa kematian mereka tidak menjadi sia-sia. Mereka
sepakat ingin sang Maharaja menderita untuk seumur hidupnya.” Ucap Tuan Monyet
Rahyata lagi yang kali ini dengan nada yang begitu marah.
“Bila Galuh
dibiarkan hidup, maka para Ajag akan tetap hidup, sehingga akan terus menimbulkan
kekisruhan di dalam istana. Bila ingin para Ajag mati, mereka harus membiarkan
Galuh tewas mengenaskan, para Tetua Hitam itu benar-benar sangat kejam!” Ucap
salah satu sesepuh kura-kura dengan sama kesalnya, tangannya mengepal hingga
pena tinta yang sedang ia pegang patah terbelah dua.
“Karena saat
itu Tuan Maharaja belum memutuskan apa-apa, maka timbulah kisruh dimana-mana. Terutama
kalangan Bangsawan pengecut! mereka benar-benar sangat ricuh.” tambah Kakek
Addar dengan kesal.
“Ditambah para Bangsawan
dan para petinggi korup. Mereka memanfaatkan situasi ini dengan menghasut
rakyat, mereka menuduh Sang Maharaja egois dan harus segera turun tahta,” ucap Tuan
Monyet Rahyata dengan kedua tangan yang mengepal dengan marah.
“Itu kejam sekali!” ucap Adhit refleks, Kakek
Addar mengiyakan dengan dalam.
“Tetapi ketakutan
rakyat sendiri sangat beralasan nak. Energi yang bersarang di tubuh Galuh memang
sangat kuat dan sulit dikendalikan.” Ucap Kakek Addar dengan dalam.
“Jangankan para
Kaum Putih, saat menyerang istana, para Tetua Hitam sendiri sangat kesulitan untuk
mengendalikan mereka. Ketika tengah berduel, tiba–tiba Ajag membangkang pada
inangnya karena terlalu dipaksa, atau tiba–tiba menyerang lawan yang bukan
target karena sebelumnya diejek oleh target lain,” ucap Tuan Monyet Rahyata
membenarkan.
“Apalagi sejak terasuki, Galuh sama sekali
tidak dapat disentuh, karena para Ajag sering memunculkan geraman dengan
perisai energi menyeramkan. Namun yang mengherankan, berbeda dengan para Tetua Hitam.
Galuh dapat berbicara secara baik dengan para Ajag, bahkan saling melempar
canda, ini yang membuat ayah saya yang saat itu menjabat menjadi salah satu penasihat
tertinggi Istana merasa mengenali situasi ini,” ucapan Kakek Addar membuat
Adhit semakin antusias.
“Setelah lama
mencari, akhirnya ditemukan bahwa ternyata kisah ini telah tertulis sejak
seribu tahun yang lalu dalam kitab Candrakara. Tulisan yang berisi ramalan dari
Guru besar Candrakara, penasihat tertinggi istana dimasa lampau,” ucap Kakek
Addar lagi. Mendengar hal tersebut, raut wajah Adhit semakin takjub tidak
percaya.
“Ramalan
tentang apa Kek?” tanya Adhit refleks.
“Ramalan tentang
sepak terjang Kaum hitam, dan sebuah cara agar Kaum Hitam gagal menguasai Tanah
Astamaya, sehingga Kaum Manusia tetap aman.” Adhit begitu terkejut saat
mendengar kata tersebut.
“Guru Candrakara,
dalam penerawangannya, ia melihat Kaum Hitam akhirnya berhasil menguasai Tanah
Astamaya. Lalu kekuatan yang ada di Astamaya, mereka pergunakan untuk menguasai
dunia Manusia. Maka terbuatlah Kitab Candrakara, agar hal tersebut tidak akan
pernah terjadi,” ucap Kakek Addar dengan bijak.
“Kembali pada
yang tadi, situasi benar-benar kacau saat itu. Disaat Sang Maharaja harus
memutuskan hal tersulit dalam hidupnya, tiba-tiba ia harus kehilangan satu lagi
yang ia cintai, sang Permaisuri.” Ucap Kakek Addar dengan nada lirih.
“Sang
Permaisuri jatuh sakit karena tidak tahan mendengar rumor, bahwa Galuh harus di
eksekusi mati, persis seperti yang dilakukan pada para Tetua Hitam. Suaranya
yang tidak didengar, membuat kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Lalu
akhirnya, ia ditemukan tidak bernapas ditempat tidurnya sendiri.” Lanjut Kakek
Addar dengan sangat sedih.
Kakek Addar
berhenti sebentar untuk meminum tehnya, lalu ia terdiam untuk bernapas sebentar.
Hal ini tampaknya sangat berat untuk Kakek Addar. Setelah agak lega, ia kembali
meneruskan.
“Ditengah
pergolakan batin, Sang Maharaja terkejut saat Ayah saya memperlihatkan isi dari
Kitab Candrakara. Semua ciri-ciri yang terdapat dalam diri Galuh sama persis
dengan yang dituliskan Guru Candrakara. Seakan mendapatkan titik terang, tanpa
berpikir lebih lama, ia langsung menyetujui rencana ayah saya untuk membawa
Galuh dan menyembunyikannya di tempat ini.” Ucap Kakek Addar dengan dalam.
“Diusia yang
masih enam tahun, Galuh sebisa terkoneksi baik dengan para Ruh ini? itu hebat
sekali!” ucap Adhit semakin takjub.
“Ya, dan hal
ini menjadi masuk akal ketika sebuah sumber terpercaya mengabarkan bahwa, tahun
para Ruh Ajag ini selesai digodok dalam kendi Ruh bertuah, adalah tahun yang
sama dengan tahun kelahiran Galuh.” Ucap Kakek Addar.
“Aah.. saya
mengerti, tentu saja para Ajag ini akan membangkang karena dipaksa melakukan
sesuatu diluar keinginan mereka. Persis seperti karakter anak berusia enam
tahun, mereka hanya ingin bersenang–senang. Dan saat kelima energi tersebut
bertemu dengan Galuh, mereka bertemu dengan inang yang mengerti dengan apa yang
mereka inginkan, mereka satu usia, mereka hidup di dunia yang sama, dunia
anak–anak,” ucap Adhit refleks.
“Benar sekali
anak muda.. benar sekali..” jawab Kakek Addar semakin takjub dengan kecerdasan
Adhit. Tuan Monyet Rahyata dan para Kaum Luhur lainnya mengangguk-angguk dengan
sama takjubnya.
“Setelah Galuh
berhasil kami bawa pergi, Ayah saya menyebarkan berita bahwa Galuh tewas saat
berusaha disembuhkan. Energi jahat yang bersarang pada tubuhnya keluar
mengamuk, lalu merusak dirinya sendiri hingga tidak tersisa sama sekali.” Ucap
kakek Addar dalam.
“Bukankah Galuh
tidak dapat disentuh oleh siapapun, bagaimana kalian bisa membawanya semudah
itu?” tanya Adhit penasaran.
“Pertanyaan
yang sangat bagus nak. Melihat dari cara mereka memperlakukan Galuh, ayah saya
meminta saya datang membujuk para Ajag diam-diam. Selama berhari-hari saya
mencoba melakukan pendekatan,” ucap Kakek Addar.
“Ditengah rasa putus asa karena para Ajag ini
benar-benar keras kepala. Saya tiba-tiba menangis, lalu berbicara tentang keputusan
para sesepuh, untuk menewaskan Galuh seperti kepada para Inang mereka dulu.”
Ucap Kakek Addar lirih.
“Tidak
disangka, mereka terkejut! Tiba-tiba langsung mempersilahkan agar Galuh dibawa
oleh kami.“ Ucap Kakek Addar yang terhenti seketika, saat mendapati Galuh
berdiri di depan pintu ruang pertemuan dengan wajah tidak suka.”
“Galuh.. kamu
sudah kembali, bagaimana keadaan wilayah utara?” ucap Kakek Addar gugup dan
segera mengalihkan pembicaraan.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar