Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Kakek Addar terkejut dengan pertanyaan Adhit. Bahkan, dia begitu bingung sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Para Kaum Luhur juga sama terkejutnya, mereka bahkan saling menoleh satu sama lain. Namun sama saja, mereka juga tidak tahu harus menjawab apa.

Setelah merasa menemukan kata yang tepat, Kakek Addar memberi tanda berupa anggukan pada Kaum Luhur, sehingga wajah mereka menjadi lega yang lalu ikut merestui.

“Baiklah Adhitya, mengingat kamu akan tinggal cukup lama bersama kami, memang seharusnya kamu tahu tentang ini,” ucap Kakek Addar mencoba tenang. Setelah mengambil napas yang cukup dalam, iapun kembali berkata.

“Kita mulai dari awal.” ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan energinya, untuk menampilkan gambaran pertengkaran dua kubu di ruang pertemuan istana.

“Di waktu yang lampau, ada sebagian dari Kaum Astamaya yang mulai menentang keputusan mutlak Istana.” Terlihatlah sebuah gambaran pertengkaran dua kubu yang semakin memanas.

“Pihak ini merasa bahwa Kaum Astamaya adalah kaum terkuat, kaum yang seharusnya mengendalikan para Manusia, bukan hanya menyelamatkan bumi diam-diam saat terjadi kekacauan dari polah manusia itu sendiri,” ucap Kakek Addar dengan raut wajah yang sebenarnya tidak setuju.

“Tentu saja, ide tentang menjadi kaum terkuat ditolak tegas oleh sebagian kami yang lain. Termasuk Ayah saya, saya dan tentu saja para Kaum Luhur,” Adhit melihat para Kaum Luhur ikut mengangguk setuju.

“Kami yang menolak ide tentang istilah kaum terkuat berpendapat, bahwa manusia masih belum siap dengan kehadiran kami. Kemunculan kami hanya akan mengakibatkan banyak kerusakan dari segala arah, terutama dunia Manusia.” Ucap salah satu kura-kura tua dengan sedih.

 “Benar sekali, ide tentang menjadi kaum terkuat adalah sebuah niat keserakahan terselubung. Keserakahan yang hanya akan menyebabkan kesengsaraan akibat perang dan perbudakan.” Ucap salah satu sesepuh kelinci dengan raut menyesali.

“Yang dikatakan Tuan Kura-Kura dan Tuan Kelinci benar sekali. Dua pendapat ini mengakibatkan Kaum Astamaya terpecah menjadi dua bagian. Kaum Putih, yaitu kami yang menginginkan tetap tersembunyi sampai Kaum Manusia benar-benar siap. Dan Kaum Hitam, yaitu mereka yang menginginkan Kaum Manusia dijadikan sebagai budak agar bisa lebih dikendalikan.” Ucap Kakek Addar yang lalu berhenti sebentar untuk menyesap tehnya lagi, ia tampak berhati-hati sekali dalam memilih kata selanjutnya.

 “Sejak Kaum Astamaya terpecah menjadi dua, kedua pihak ini terus bertarung secara seimbang,” ucap Kakek Addar sambil memberikan gambaran ilusi baru, berupa beberapa pertarungan dua kubu, yang selalu berakhir dengan mundurnya kedua belah pihak.

“Hingga suatu ketika, Kaum hitam berhasil membuat sebuah terobosan yang sangat mengejutkan. Yaitu, munculnya para Ajag!” Ucap Kakek Addar dengan geram.

“Padahal kami mengikuti pergerakan Kaum Hitam dengan akurat, entah mengapa hal sebesar ini bisa terlewat.” Dengan tangan yang mengepal kuat, wajah kakek Addar mulau dipenuhi kesedihan yang amat sangat.

“Para Ajag ini, bukan lagi sejenis Mudria seperti yang pernah merasuki lenganmu nak… Mudria hanya satu Ruh kecil. Tetapi para Ajag, ia berasal dari kumpulan ribuan Ruh manusia tersesat, Ruh yang telah dipilah sangat seksama oleh Kaum Hitam.“ Ucap Tuan Monyet Rahyata, karena Kakek Addar terlihat begitu sedih hingga tidak sanggup melanjutkan.

“Para Ruh yang dipilah ini, adalah para Manusia yang berhasil mengemban energi yang dipinjamkan oleh Kaum Hitam, sehingga menjadi begitu hebat dan gemilang.” Gambaran ilusi yang diberikan salah satu kucing yang tampak begitu tua, beralih pada para Manusia jahat yang berhasil menjadi Manusia terkuat dan tidak terkalahkan.

“Setelah masa perjanjian yang telah ditentukan selesai, Manusia yang telah dipinjamkan energi oleh Kaum Hitam, Ruhnya akan diambil paksa, dipilah dan dikelompokan. Lalu yang memenuhi syarat, dipisahkan untuk digodok dalam kendi Ruh bertuah,dengan rentang waktu yang amat sangat lama.” Ucap Tuan Monyet Rahyata berapi-api.

“Hingga akhirnya ribuan Ruh tersebut berhasil melebur, dan mengelompok menjadi enam Ajag, sesuai dari karakter jahat para Ruh ini,” lanjut Tuan Monyet Rahyata dengan kesal.

“Ternyata Enam Ajag? bukan lima seperti yang dikatakan para kucing kemarin?” pikir Adhit heran, tetapi ia lebih memilih untuk mendengarkan dulu, versi Kakek Addar dan Kaum Luhur yang ada disini.

“Jadi, ke enam Ajag ini, sebenarnya berasal dari Kumpulan Ruh Manusia, yang berhasil mengemban energi mereka menjadi luar biasa?” ucap Adhit memastikan.

“Benar sekali anak muda, mereka adalah kumpulan Ruh Manusia yang amat kuat pada masanya.” Jawab Tuan Monyet Rahyata dengan gestur membenarkan.

“Ruh yang mengelompok menjadi enam Ajag ini terdiri dari empat Ajag jantan, yaitu: Aral, Agul, Neluh, Sasab, satu Ajag betina yaitu Bangkarwarah. Dan pemimpin mereka semua, NaRaja, Ajag dengan kekuatan yang jauh melebihi mereka semua, “ucap Kakek Addar setelah berhasil menguasai emosinya.

“Aral berasal dari Ruh yang tidak pernah puas, Agul berasal dari Ruh kesombongan, Neluh berasal dari Ruh pengeluh yang selalu iri hati, Sasab berasal dari Ruh yang selalu jahil dengan pencapaian orang lain, Bangkarkawah berasal dari Ruh wanita penuh nafsu dan pembangkang. Lalu NaRaja, kami tidak pernah tahu ia berasal dari Ruh seperti apa, sangat sulit sekali menggali informasi tentang NaRaja,” ucap Kakek Addar menyesali.

“Sedangkan Ruh-Ruh sesat yang tidak terpilih, oleh Kaum Hitam dijadikan menjadi sejenis Mudria. Ruh kecil yang dijadikan budak untuk kebutuhan hanya sekali pakai. Setelah itu dibiarkan musnah begitu saja, seperti yang disisipkan pada lenganmu nak..” ucap Kakek Addar lagi sambil menunjuk lengan Adhit. Secara refleks, Adhit memegang lengannya yang sempat terasuki Mudria.

“Dengan berbekal enam Ajag tersebut, para Kaum Hitam nekat menyerang istana demi merebut batu Hyang Sawarga. Namun, yang mereka tidak ketahui, batu Hyang Sawarga yang asli telah lama disembunyikan Guru Candrakara. Sedangkan yang berada di Istana, hanyalah replika kosong biasa, sama sekali tidak berguna.” Ucap Tuan Monyet Rahyata yang dibenarkan Kakek Addar dan Kaum Luhur lainnya.

“Batu Hyang Sawarga?” pikir Adhit penasaran, Kakek Addar tersenyum karena menangkap dari maksud kerutan kening Adhit.

“Hyang Sawarga adalah kata serapan dari bahasa sunda, yang mempunyai arti, Hyang adalah Dewa, dan Sawarga yang berarti Surga atau Kahyangan. Maka, batu Hyang Sawarga mempunyai arti, Batu para Dewa yang berasal dari Surga atau Kahyangan.” Adhit mengangguk-angguk mengerti.

“Para pendahulu kami menamainya Hyang Sawarga, karena batu tersebut tiba-tiba jatuh begitu saja dari langit. Namun, begitu menyentuh tanah, justru merubah komponen seluruh apa saja yang ada di wilayah ini, sehingga menjadi seperti sekarang.“ Ucap Kakek Addar sambil merentangkan kedua tangannya, seakan menunjuk semua keanehan yang pernah dilihat Adhit di wilayah ini.

"Seiring berkembangnya peradaban, kami mulai memahami bahwa batu Hyang Sawarga hanyalah batu meteor biasa. Yang membedakannya adalah, batu ini membawa radiasi unik dalam jumlah yang sangat besar, sehingga mampu mengubah komponen apapun yang terkena radiasinya, dengan radius yang sangat luas." Mendengar hal tersebut, kini Adhit mengerti, mengapa wilayah Astamaya sangat jauh berbeda dengan wilayah Manusia.

“Kita kembali pada yang tadi. Karena serangan yang tiba-tiba, pihak istana terdesak karena kekuatan para Ajag ternyata diluar dugaan kami. Satu persatu dari para Tetua Putih yang ada, tumbang dan terluka, hingga akhirnya hanya menyisakan saya dan Tuan Baharyu, Panglima utama istana.” Ucap Kakek Addar menyesali.

“Kami berdua benar-benar harus memutar otak dengan cepat. Jumlah para Tetua Hitam yang masih lengkap, ditambah para Ajag yang tidak terluka sedikitpun, melawan mereka sama saja dengan upaya bunuh diri.” Ucap Kakek Addar geram.

“Tiba-tiba kami berdua teringat, para Kaum Hitam masih belum tahu, bahwa batu Hyang Sawarga yang ada di istana hanyalah replika kosong. Berbekal hal tersebut, kami berdua mencoba menggunakan tipu daya, dengan tujuan, mengarahkan para Tetua Hitam untuk masuk kedalam ruang penyimpanan replika batu Hyang Sawarga.

“Mengapa ruang batu Hyang Sawarga, untuk apa mereka diarahkan pada sebuah replika yang tidak berguna?” tanya Adhit heran.

“Karena sebelum disembunyikan, batu Hyang Sawarga yang asli pernah ditempatkan disana,” jelas Kakek Addar dengan nada bijak.

“Aah.. saya mengerti, bila tempat tersebut adalah sebelumnya tempat penyimpanan batu Hyang Sawarga yang asli, tentu tempat tersebut mempunyai dinding yang sangat kuat, sehingga bila para Tetua Hitam masuk, anda semua bisa menguncinya dari luar! ini keputusan yang benar-benar cerdas!” ucap Adhit takjub.

“Benar, tetapi bukan dinding, melainkan tempat tersebut dilingkupi segel pelindung yang sangat kuat. “Ralat Kakek Addar agak terkejut. Manusia dihadapannya mungkin tidak mempunyai kekuatan seperti Kaum Astamaya, tetapi pola pikirnya beradaptasi dengan cepat, benar-benar hampir secerdas Kaum Luhur.

“Segel yang melindungi ruangan tersebut dibuat dari sedikit sari pati batu Hyang Sawarga sendiri, sehingga ruangan itu bukan hanya kuat, melainkan amat sangat kuat!” Sambung Tuan Monyet Rahyata yang tidak kalah terkejutnya.

“Begitu mereka berhasil masuk dan memegang replika batu tersebut, kami segera tutup kembali segelnya. Awalnya mereka tidak perduli, karena mereka sudah merasa telah mendapatkan batu Hyang Sawarga. Namun, ketika batu tersebut digunakan, mereka baru sadar bahwa batu yang ada di tangan mereka hanya batu kosong yang tidak berguna.” Ucap Kakek Addar dengan mata penuh binar puas.

“Kami pikir, setelah ini para Tetua Hitam akan terus memaksa Ajagnya untuk mendobrak segel. Tentu hal ini akan membuat para Ajag marah, lalu mengamuk membabi buta hingga menewaskan inangnya sendiri, ternyata dugaan kami salah!” Kini raut Kakek Addar berubah menjadi sebal.

“Yang terjadi, Para Tetua Hitam ini malah mengembalikan para Ajag kembali pada segel tubuh mereka, lalu duduk menenangkan diri,” kening Kakek Addar tampak berkedut-kedut karena sangat kesal.

“Itu pasti membuat sangat membuat kesal, Kaum Putih sendiri tidak bisa mengesekusi karena terhalang segel ruangan tersebut, namun bila nekat membuka segel ruang batu Hyang Sawarga, maka saat itu pula para Ajag keluar dan mempora-porandakan seluruh isi istana dan sekitarnya,” ucap Adhit refleks, namun berhasil membuat seisi ruangan menatap takjub.

“Anak ini sangat cerdas!” bisik salah satu Kaum luhur pada yang lainnya. “Apa benar ia seorang Manusia?” tanya yang lain dengan hampir tidak percaya.

“Benar sekali anak muda,” ucap Kakek Addar yang tak kalah terkejutnya.

“Atas keputusan para Tetua Putih, lima Tetua Hitam yang sudah tidak berdaya, kami biarkan sekarat dalam ruangan tersegel, agar mereka putus asa dan kalap. Semakin mereka putus asa dan kalap, semakin tipis kesabaran para Ajag. Sehingga para Ajag yang sudah kesal dan marah, keluar mengamuk secara membabi buta, yang lalu menewaskan inangnya sendiri.” Ucap Kakek Addar dengan penuh keyakinan.

“Lima? bukankah tadi katanya ada enam Ajag?” kali ini Adhit bertanya dengan heran, mengapa kini Kakek Addar dan kata-kata para kucing semalam malah menjadi satu suara.

“Yang berhasil dijebak hanya lima Tetua nak.., sedangkan satu Tetua lagi dan Ajagnya berhasil lolos dan meninggalkan pasukannya yang kocar-kacir,” jelas Kakek Addar yang akhirnya membuat Adhit kini mengerti.

Kakek Addar tampak menimbang–nimbang kalimat lanjutan yang hendak ia ucapkan, setelah sepertinya telah menemukan kalimat yang tepat, iapun berkata.

“Selama para Tetua Hitam ini tersegel, ruangan tersebut dijaga dengan sangat ketat. Semua yang mengunjungi luar segel ini, benar-benar diawasi oleh prajurit terpilih.” Ucap Kakek Addar yang terhenti sebentar, lalu ia menarik napas yang begitu berat.

“Namun, Galuh yang terlepas dari pengasuhnya, malah tidak sengaja menemukan jalan masuk melalui lorong ventilasi udara. Ia masih sangat kecil, saat itu usianya baru enam tahun,” ucap Kakek Addar yang lalu berhenti lagi, ada kesedihan yang sangat dalam ketika ia mengucapkan kalimat tersebut, bahkan tangannya mengepal kencang seakan ada penyesalan yang begitu kencang.

“Ketika para Tetua Hitam mengetahui, bahwa anak yang berhasil menembus segel adalah pewaris tahta selanjutnya. Mereka memanfaatkan kesempatan ini, untuk mentranster Ruh hitam yang selama ini bersarang dalam tubuh mereka. Meskipun taruhannya adalah, nyawa mereka sendiri.” Sambung Tuan Monyet Rahyata karena Kakek Addar terlihat bersedih sekali.

“Dengan cara ini, para Tetua Hitam merasa kematian mereka tidak menjadi sia-sia. Mereka sepakat ingin sang Maharaja menderita untuk seumur hidupnya.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi yang kali ini dengan nada yang begitu marah.

“Bila Galuh dibiarkan hidup, maka para Ajag akan tetap hidup, sehingga akan terus menimbulkan kekisruhan di dalam istana. Bila ingin para Ajag mati, mereka harus membiarkan Galuh tewas mengenaskan, para Tetua Hitam itu benar-benar sangat kejam!” Ucap salah satu sesepuh kura-kura dengan sama kesalnya, tangannya mengepal hingga pena tinta yang sedang ia pegang patah terbelah dua.

“Karena saat itu Tuan Maharaja belum memutuskan apa-apa, maka timbulah kisruh dimana-mana. Terutama kalangan Bangsawan pengecut! mereka benar-benar sangat ricuh.” tambah Kakek Addar dengan kesal.

“Ditambah para Bangsawan dan para petinggi korup. Mereka memanfaatkan situasi ini dengan menghasut rakyat, mereka menuduh Sang Maharaja egois dan harus segera turun tahta,” ucap Tuan Monyet Rahyata dengan kedua tangan yang mengepal dengan marah.

 “Itu kejam sekali!” ucap Adhit refleks, Kakek Addar mengiyakan dengan dalam.

“Tetapi ketakutan rakyat sendiri sangat beralasan nak. Energi yang bersarang di tubuh Galuh memang sangat kuat dan sulit dikendalikan.” Ucap Kakek Addar dengan dalam.

“Jangankan para Kaum Putih, saat menyerang istana, para Tetua Hitam sendiri sangat kesulitan untuk mengendalikan mereka. Ketika tengah berduel, tiba–tiba Ajag membangkang pada inangnya karena terlalu dipaksa, atau tiba–tiba menyerang lawan yang bukan target karena sebelumnya diejek oleh target lain,” ucap Tuan Monyet Rahyata membenarkan.

 “Apalagi sejak terasuki, Galuh sama sekali tidak dapat disentuh, karena para Ajag sering memunculkan geraman dengan perisai energi menyeramkan. Namun yang mengherankan, berbeda dengan para Tetua Hitam. Galuh dapat berbicara secara baik dengan para Ajag, bahkan saling melempar canda, ini yang membuat ayah saya yang saat itu menjabat menjadi salah satu penasihat tertinggi Istana merasa mengenali situasi ini,” ucapan Kakek Addar membuat Adhit semakin antusias.

“Setelah lama mencari, akhirnya ditemukan bahwa ternyata kisah ini telah tertulis sejak seribu tahun yang lalu dalam kitab Candrakara. Tulisan yang berisi ramalan dari Guru besar Candrakara, penasihat tertinggi istana dimasa lampau,” ucap Kakek Addar lagi. Mendengar hal tersebut, raut wajah Adhit semakin takjub tidak percaya.

“Ramalan tentang apa Kek?” tanya Adhit refleks.

“Ramalan tentang sepak terjang Kaum hitam, dan sebuah cara agar Kaum Hitam gagal menguasai Tanah Astamaya, sehingga Kaum Manusia tetap aman.” Adhit begitu terkejut saat mendengar kata tersebut.

“Guru Candrakara, dalam penerawangannya, ia melihat Kaum Hitam akhirnya berhasil menguasai Tanah Astamaya. Lalu kekuatan yang ada di Astamaya, mereka pergunakan untuk menguasai dunia Manusia. Maka terbuatlah Kitab Candrakara, agar hal tersebut tidak akan pernah terjadi,” ucap Kakek Addar dengan bijak.

“Kembali pada yang tadi, situasi benar-benar kacau saat itu. Disaat Sang Maharaja harus memutuskan hal tersulit dalam hidupnya, tiba-tiba ia harus kehilangan satu lagi yang ia cintai, sang Permaisuri.” Ucap Kakek Addar dengan nada lirih.

“Sang Permaisuri jatuh sakit karena tidak tahan mendengar rumor, bahwa Galuh harus di eksekusi mati, persis seperti yang dilakukan pada para Tetua Hitam. Suaranya yang tidak didengar, membuat kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Lalu akhirnya, ia ditemukan tidak bernapas ditempat tidurnya sendiri.” Lanjut Kakek Addar dengan sangat sedih.

Kakek Addar berhenti sebentar untuk meminum tehnya, lalu ia terdiam untuk bernapas sebentar. Hal ini tampaknya sangat berat untuk Kakek Addar. Setelah agak lega, ia kembali meneruskan.

“Ditengah pergolakan batin, Sang Maharaja terkejut saat Ayah saya memperlihatkan isi dari Kitab Candrakara. Semua ciri-ciri yang terdapat dalam diri Galuh sama persis dengan yang dituliskan Guru Candrakara. Seakan mendapatkan titik terang, tanpa berpikir lebih lama, ia langsung menyetujui rencana ayah saya untuk membawa Galuh dan menyembunyikannya di tempat ini.” Ucap Kakek Addar dengan dalam.

“Diusia yang masih enam tahun, Galuh sebisa terkoneksi baik dengan para Ruh ini? itu hebat sekali!” ucap Adhit semakin takjub.

“Ya, dan hal ini menjadi masuk akal ketika sebuah sumber terpercaya mengabarkan bahwa, tahun para Ruh Ajag ini selesai digodok dalam kendi Ruh bertuah, adalah tahun yang sama dengan tahun kelahiran Galuh.” Ucap Kakek Addar.

“Aah.. saya mengerti, tentu saja para Ajag ini akan membangkang karena dipaksa melakukan sesuatu diluar keinginan mereka. Persis seperti karakter anak berusia enam tahun, mereka hanya ingin bersenang–senang. Dan saat kelima energi tersebut bertemu dengan Galuh, mereka bertemu dengan inang yang mengerti dengan apa yang mereka inginkan, mereka satu usia, mereka hidup di dunia yang sama, dunia anak–anak,” ucap Adhit refleks.

“Benar sekali anak muda.. benar sekali..” jawab Kakek Addar semakin takjub dengan kecerdasan Adhit. Tuan Monyet Rahyata dan para Kaum Luhur lainnya mengangguk-angguk dengan sama takjubnya.

“Setelah Galuh berhasil kami bawa pergi, Ayah saya menyebarkan berita bahwa Galuh tewas saat berusaha disembuhkan. Energi jahat yang bersarang pada tubuhnya keluar mengamuk, lalu merusak dirinya sendiri hingga tidak tersisa sama sekali.” Ucap kakek Addar dalam.

“Bukankah Galuh tidak dapat disentuh oleh siapapun, bagaimana kalian bisa membawanya semudah itu?” tanya Adhit penasaran.

“Pertanyaan yang sangat bagus nak. Melihat dari cara mereka memperlakukan Galuh, ayah saya meminta saya datang membujuk para Ajag diam-diam. Selama berhari-hari saya mencoba melakukan pendekatan,” ucap Kakek Addar.

 “Ditengah rasa putus asa karena para Ajag ini benar-benar keras kepala. Saya tiba-tiba menangis, lalu berbicara tentang keputusan para sesepuh, untuk menewaskan Galuh seperti kepada para Inang mereka dulu.” Ucap Kakek Addar lirih.

“Tidak disangka, mereka terkejut! Tiba-tiba langsung mempersilahkan agar Galuh dibawa oleh kami.“ Ucap Kakek Addar yang terhenti seketika, saat mendapati Galuh berdiri di depan pintu ruang pertemuan dengan wajah tidak suka.”

“Galuh.. kamu sudah kembali, bagaimana keadaan wilayah utara?” ucap Kakek Addar gugup dan segera mengalihkan pembicaraan.

- Bersambung - Desya Saghir -

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir