Postingan

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 40 – Rencana Saguri| By: Desya Saghir

Adhit dan Jinn Si Kelinci yang akhirnya bisa bernapas lega, kini keduanya menatap kagum pada sepak terjang Dharma dalam melawan para prajurit hitam. Pemandangan yang begitu kontras antara seorang pertapa muda sopan berusia lima belas tahun, yang dibantu para Monster Astamaya yang terkenal brutal dan berwajah garang, lalu bertarung melawan pasukan hitam yang semuanya kekar dan tinggi besar. Berkat Dharma dan para Monster Astamaya yang ia bawa, pertarungan yang semula sangat timpang, kini jadi seimbang. Karena hal itu pula, Ragadewa berhasil menaklukan sekaligus menyadarkan Kahiyang Raga beserta beberapa Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa lainnya. Kini mereka berbalik arah, berdiri bersama Ragadewa dalam melawan pasukan hitam disekitar Saguri. Ini membuat beberapa Jenderal Hitam langsung mundur ketakutan. Setelah sebagian pasukan mereka dibabat habis oleh para Monster yang dibawa Dharma sang pertapa, kini semakin habis saja karena Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa berbalik melawan. ...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 39 – Hyang Sawarga yang menakutkan! | By: Desya Saghir

  Wajah Maharaja Ranji Raspati jadi separuh ular! Semua orang spontan menahan napas. Bi Nai yang baru memasuki ruangan untuk memberikan informasi terbaru, malah berteriak histeris. Lalu setelahnya malah pingsan ditempat. Ditengah kekalutan, Kakek Addar segera memfokuskan energinya untuk melayangkan tubuh paman Galuh menuju tempat tidur. Sedangkan Galuh, dengan tubuh yang gemetar hebat, ia segera memegang erat tangan Adhit untuk menahan tangis. Ia yang telah kehilangan ibunya, lalu ayahnya. Kini malah dihadapkan dengan kondisi paman kesayangannya yang tidak bisa dijelaskan sama sekali. Disatu sisi hatinya perih luar biasa, namun disisi lainnya, Galuh harus berusaha agar tetap kuat, agar segel para Ajag dalam tubuhnya tetap terjaga penuh. Disaat yang sama, Subhita yang panik karena ibunya tidak sadarkan diri, segera dibantu oleh energi Gada Sangkara dalam memapah ibunya yang pingsan keatas sofa. Setelah berterimakasih dengan hangat, Subhita langsung menghubungi Taphilli dan Cah...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 38 – Sang Cahaya | By: Desya Saghir

Langit tiba-tiba mencekam, namun bukan itu saja. Dari kejauhan terdengar suara lirih saling berdesing, yang tak lama kemudian, satu.. dua… bahkan tiga elang jawa terbang melingkar seakan sedang menunggu sebuah peristiwa besar. “Kumpulan Elang Jawa? Jangan-jangan.. Si Tengkorak Beruang!” bisik Gada Sangkara yang langsung menatap sekitar dengan waspada. Benar saja! Baru saja Gada Sangara menebak, tiba-tiba dari balik pepohonan yang tertutupi kabut, datanglah sosok tinggi, kekar dan besar seperti gunung berjalan. Langkahnya yang berdebam, jubah bulu beruang dengan sepasang pelindung bahu berukiran kepala beruang, ditambah satu tengkorak beruang yang tersemat diatas kepalanya, membuat semuanya kini yakin, bahwa orang dihadapan mereka adalah benar Si Tengorak Beruang. Adhit sedikit terkesima, saat melihat sarung punggung tangan dan sepatu Si Tengkorak Beruang yang terbuat dari tangan dan kaki beruang dengan cakarnya yang masih utuh. Adhit semakin terkesima, saat Si Tengorak Beruang ...