Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 40 – Rencana Saguri| By: Desya Saghir

Adhit dan Jinn Si Kelinci yang akhirnya bisa bernapas lega, kini keduanya menatap kagum pada sepak terjang Dharma dalam melawan para prajurit hitam. Pemandangan yang begitu kontras antara seorang pertapa muda sopan berusia lima belas tahun, yang dibantu para Monster Astamaya yang terkenal brutal dan berwajah garang, lalu bertarung melawan pasukan hitam yang semuanya kekar dan tinggi besar.

Berkat Dharma dan para Monster Astamaya yang ia bawa, pertarungan yang semula sangat timpang, kini jadi seimbang. Karena hal itu pula, Ragadewa berhasil menaklukan sekaligus menyadarkan Kahiyang Raga beserta beberapa Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa lainnya. Kini mereka berbalik arah, berdiri bersama Ragadewa dalam melawan pasukan hitam disekitar Saguri.

Ini membuat beberapa Jenderal Hitam langsung mundur ketakutan. Setelah sebagian pasukan mereka dibabat habis oleh para Monster yang dibawa Dharma sang pertapa, kini semakin habis saja karena Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa berbalik melawan.

Ditengah suasana kacau, Adhit dan Jinn Si Kelinci justru malah terpukau, karena Kaum Astamaya berkekuatan istimewa mempunyai jenis energi yang bukan hanya unik dan kompleks, tetapi juga skala kekuatan yang sangat berbahaya.  

Mereka dulu terkesima dengan energi yang dikeluarkan Ragadewa, namun kini mereka dihadapkan pada puluhan sosok dengan energi yang seunik Ragadewa, tetapi dengan identitas energi dari masing-masing pemilik.

Galuh sendiri malah terkesima melihat Dharma yang masih terlihat tenang. Bahkan saat menghadapi puluhan prajurit hitam, Dharma menghadapi mereka dengan sikap yang sangat santun. Namun dalam satu gerakan yang presisi, energi yang tampak berpendar lembut seperti riak air, justru membuat puluhan prajurit hitam terpental dengan sangat hebat! jatuh berdebam, lalu serentak pingsan ditempat. Galuh terkejut karena remaja santun ini ternyata kekuatannya lebih mengerikan dari Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa.

Namun bukan itu saja, karena Dharma juga menguasai energi teleport, membuat ia bisa sesuka hati menghilang dan muncul ditempat yang tidak terduga. Ini membuat keberadaanya jadi sangat diperhitungkan oleh banyak Jenderal Hitam, termasuk Saguri yang cukup terkejut dengan kemampuan Dharma yang satu ini.

Adhit dan Jinn Si Kelinci bersorak saat Dharma berhasil mengalahkan beberapa kelompok Pasukan Hitam, mereka berdua benar-benar seperti anak remaja yang tengah menonton pertandingan gulat.

Ditengah napasnya yang terengah, Ragadewa hanya tersenyum menggeleng melihat perilaku Adhit dan Jinn Si Kelinci yang tampak seperti dua bocah kegirangan. Baru kali ini ia merasakan bahagia saat bertarung. Selain kemarahannya pada Kaum Hitam terasa sedikit demi sedikit mulai terbayar, Ia yang dulu selalu sendirian, kini berada dilingkaran persahabatan yang melebihi ikatan sebuah keluarga.

Saguri yang menyadari bahwa pasukannya semakin berkurang, peristiwa ini membuatnya sedikit kesal. Setelah menarik napas dengan dalam seakan sedang mengumpulkan energi miliknya, ia berkata, “kalian pikir bisa mengalahkan saya dalam drama anak ingusan heh?” ucap Saguri dengan senyum mengejek.

Begitu Saguri membuka telapak tangannya, tiba-tiba saja muncul pusaran besar yang menyedot banyak sekali Monster Astamaya yang dibawa Dharma, Sontak Dharma langsung memerintahkan para Monster ini mundur agar mereka tetap selamat.

Ragadewa juga memerintahkan semua Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa mundur, karena khawatir dengan sepak terjang Kahiyang Raga, yang masih nekat menghajar sekalipun hampir tersedot masuk kedalam pusaran yang diciptakan Saguri.

Disaat Kaum Hitam kembali tersenyum, tiba-tiba dari sudut lain, datang Si merah Gila yang mendarat dengan gerakan sangat serampang. Si Merah Gila bukan hanya mendarat dengan pose seperti monyet yang menyerukan tanda hati dengan kedua sikunya, tetapi juga ia benar-benar mengerjai Kaum Hitam jadi tampak konyol dan sangat memalukan.

Kaum Hitam kebingungan karena tidak bisa melihat pelakunya. Namun Saguri, dengan lesatan gerak yang sangat cepat, tiba-tiba ia sudah mencengkram leher Si Merah Gila dengan tatapan dingin mematikan. Galuh dan kawan-kawan terkejut karena ternyata Saguri bisa melihat Si Merah Gila. Dan dalam sekejap, segel pelindung tubuh Si Merah Gila retak, yang mengakibatkan semua bisa melihat wujud Si Merah Gila.

“Saya adalah Kaum Astamaya kuno, maka bagi saya, tipu muslihatmu hanya permainan bayi konyol yang tidak berguna!” ucap Saguri dengan aura menakutkan yang begitu menggelegar. Namun, sekalipun dalam keadaan tercekik, Si Merah Gila menanggapinya dengan tertawa tidak waras, yang setelah itu Si Merah Gila tampak melemparkan sesuatu ke arah Galuh.

“Gada Sangkara!” Teriak Galuh karena Gada Sangkara mendarat dihadapannya begitu saja. Mengetahui bahwa Si Merah Gila mencuri Gada sangkara dari kalungnya, Saguri jadi sangat marah karena merasa telah ditipu mentah-mentah oleh Si Merah Gila. Kini tidak ada lagi ekspresi dingin yang selalu di tampilkan oleh Saguri.

Tanpa menunggu lama, Adhit segera memasukan Gada Sangkara kedalam bandul Istana Tujuh Pintu yang menempel pada kalung Sura Sudarana miliknya. Sedangkan Jinn Si Kelinci tetap bertarung membantu Galuh.

Ketika Saguri hendak membunuh Si Merah Gila, tiba-tiba Saguri diserang ratusan Monster buas yang ikut datang bersama Dharma, lalu dipukuli secara brutal. Lalu dengan menggunakan energi teleport miliknya, Dharma muncul yang lalu menyerangnya Saguri dengan tapak saktinya, sehingga membuat seluruh tulang Saguri terdengar berkeretak hebat!

Sontak, Saguri segera meremas pelan Batu Hyang Sawarga yang telah ia genggam. Lalu dengan sekali menggeram, dengan hanya menggunakan sedikit dari kekuatan Batu Hyang Sawarga, tiba-tiba semua Monster Astamaya yang tengah menyerangnya terpental ke semua arah, termasuk Si Merah Gila dan Dharma yang ikut terpental yang lalu pingsan seketika.

Disini Galuh dan kawan-kawan mulai menyadari apa yang dikhawatirkan Guru Candrakara selama ini, bahwa kekuatan yang disandang Batu Hyang Sawarga memang benar-benar sangat menakutkan.

Adhit segera mendekat pada Dharma dan Si Merah Gila yang sudah tidak sadarkan diri. Dibantu ke enam kakak Nawang Wulan, Dharma dan Si Merah Gila dibantu masuk kedalam Kalung Istana Tujuh Pintu.

Disaat kekuatan Saguri telah lenyap separuh, Saguri baru menyadari bahwa para Monster yang dibawa Dharma sang pertapa, dan para Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa yang telah berbalik arah menyerangnya, telah membabat habis seluruh pasukan hitamnya. Maka emosi Saguri langsung meledak!

Dengan amarah yang memuncak, Saguri tiba-tiba mengangkat Galuh dari kejauhan, lalu memisahkan paksa Galuh dari Para Ajag. Rasa tercerabut segel para Ajag yang lengket menempel pada Ruhnya, membuat Galuh melengkingkan jeritan menyayat karena membuatnya hampir tewas.

Sontak semua yang mendengar langsung terkejut bukan kepalang, terutama Adhit. Namun semua tidak ada yang berani bertindak gegabah, karena Galuh tampak berada dalam genggaman kekuasaan Saguri. Hanya Adhit yang nekat berlari untuk mendekat, namun itupun hanya bisa memegang tangan Galuh yang sudah didekap Aral sang Ajag dengan penuh kekhawatiran.

Ditengah Galuh yang kini sekarat, Saguri memberi penawaran kepada para Ajag yang telah keluar dari tubuh Galuh.

“Tetap bersama Galuh, lalu kalian akan mati sia-sia. Atau.. ikut dengan saya, maka kalian akan tetap hidup bahkan berjaya dalam menguasai dua dunia.” Tawar Saguri sambil mengimingi NaRaja dengan Batu Hyang Sawarga yang sudah berada dalam genggamannya. Naraja tampak terdiam sebentar.

“Tidak NaRaja, jangan!” Tenaga yang tersisa, membuat Galuh hanya bisa berkata dalam bisik yang tersengal, ia benar-benar dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan! Aral, salah satu Ajag yang Adhit kenal paling sompral, kini mendekap Galuh sambil memandang Saguri dengan penuh kebencian.

NaRaja menoleh pada kawanannya, Ajag lain ikut melolong setuju, kecuali Aral. Ajag ini memilih tetap menopang Galuh yang tengah sekarat.

“NaRaja! Kamu Gila! Kamu akan mengkhianati orang yang berjasa menyelamatkan kita semua selama ini?” teriak Aral dengan kemarahan yang meledak. Ajag ini nekat berteriak karena sudah tidak bisa membendung kemarahannya lagi.

 “Lalu saya harus apa? Ikut mati bersamanya?” Jawab NaRaja enteng.

Ternyata NaRaja memutuskan untuk berada dikubu Saguri, lalu semua Ajag mengikuti NaRaja dengan patuh, kecuali satu Ajag yang bernama Aral.

Aral menyumpahi para Ajag dengan kasar, namun NaRaja dan para Ajag lain tidak mengidahkannya, bahkan menganggap sumpah serapah Aral hanya seperti angin lalu. Aral menggeram dengan sangat tidak suka saat para Ajag semakin mendekat pada Saguri, namun ia sendiri tidak mampu berbuat apa – apa.

“Menyerahlah Galuh, bergabunglah dengan saya. Serahkan darahmu dengan kerelaan, maka saya tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti kamu.. hahaha,” ucap Saguri sambil meremas batu Hyang Sawarga yang telah lengkap dengan penuh rasa kemenangan.

“Saguri memang benar-benar berniat menguasai batu Hyang Sawarga sepenuhnya!” pikir Adhit dengan pandangan marah.

Dalam keadaan sekarat, Galuh menangis tak berdaya karena tidak menyangka tindakan NaRaja dan kawanannya bisa setega ini.

Maka dengan tangis yang dalam, Galuh mengucapkan mantera segel perjanjian yang dulu ia lakukan bersama NaRaja. Sebuah perjanjian darah, yang apabila salah satu mengkhianati, maka tubuh pengkhianat dalam perjanjian ini akan tercabik dengan sangat mengenaskan.

Namun ternyata tidak terjadi apapun! Disini Galuh baru menyadari bila ia telah ditipu mentah-mentah oleh NaRaja.

“Penipu licik!” umpat Galuh dalam bisik.

Setelah NaRaja tiba didekat Saguri, Galuh yang perlahan antara sadar dan tidak sadar dalam dekapan Aral, tiba – tiba merasakan mulutnya diteteskan sesuatu oleh Aral.

Di sisi lain, dengan polah mengejek, Saguri mengacungkan Batu Hyang Sawarga tepat didepan ruang segel, seakan-akan hendak melemparkannya kedalam, namun tidak jadi. Saguri sangat puas melihat Kaum Putih yang kini terlihat sangat putus asa, terutama para Tetua Putih yang sangat ia benci! Batu Hyang Sawarga sekarang memang ada dihadapan para Tetua Putih, tetapi mereka tidak dapat menyentuhnya sedikitpun.

Lalu setelah itu Saguri berbalik pada ruang segel tersebut sambil berkata. “Teman-temanku para Tetua Hitam, kalian sekarang bisa mati dengan tenang, saya akan mewakili kalian untuk menguasai dunia Manusia, lalu menjadikan mereka budak demi kepentingan Kaum Tanah Astamaya, berjayalah Kaum Hitam… Hahahaha..!!!”

Setelah itu Saguri berbalik ke arah para Ajag sambil merentangkan tubuhnya, mempersilahkan agar para Ajag masuk kedalam tubuhnya.

Saat Bangkarwarah, Ajag betina milik Saguri akan masuk pertama kali, Saguri malah menepisnya sambil berkata. “Ini dunia para lelaki.. wanita tetaplah dibelakang dan menjadi pelayan setia!” Hardik Saguri kasar.  Bangkarwarah menatap Saguri dengan terkejut, namun setelah itu Bangkarwarah mundur dan menepi dengan patuh.

Tepat saat NaRaja hendak masuk kedalam tubuh Saguri, NaRaja tiba-tiba menyambar Batu Hyang Sawarga yang tengah dipamerkan Saguri pada Kaum Putih dengan angkuh.

Belum hilang rasa terkejut Saguri, para Ajag lain langsung sibuk membuat Saguri terhalangi. Dengan celah sesingkat itu, NaRaja langsung melesat kilat untuk melemparkan Batu Hyang Sawarga kedalam cawan khusus batu Hyang Sawarga, tempat dimana batu Hyang Sawarga berencana akan dihancurkan.

Begitu Batu Hyang Sawarga menyentuh dasar cawan tersebut, seketika itu juga segel ruang tersebut tertutup, lalu keluarlah ledakan dasyat mengguncang seluruh permukaan Istana. Bahkan saking Dahsyatnya, dinding ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga sampai retak hebat! untung tidak menimbulkan korban jiwa sama sekali.

Galuh yang telah pulih karena ramuan yang diteteskan Aral sang Ajag, kini merasa bingung. “Ini semua perintah NaRaja..” bisik Aral sambil tetap memeluknya dengan lembut.

Di sisi lain, Saguri kini benar-benar sangat marah! Hilang sudah wajah dingin yang selalu ia tampilkan. Saguri yang sempat kehilangan separuh energinya saat bertarung dengan Hailana, lalu separuh dari kekuatannya yang telah separuh juga hilang karena terpaksa menggunakan Batu Hyang Sawarga yang segelnya belum dihilangkan, lalu ditambah kenyataan bahwa ia telah kehilangan Batu Hyang Sawarga yang ia incar sejak seribu tahun yang lalu, membuat kemarahan Saguri meledak luar biasa.

Dengan kemarahan yang sangat memuncak, dari kejauhan, Saguri menggunakan ilmu Bayang Jiwa, untuk mencekik para Ajag hingga membuat para Ajag tergelepak dengan sangat kepayahan. Kecuali Aral sang Ajag, karena posisinya sedang menopang Galuh, maka Aral berada didalam segel pelindung yang dikeluarkan Kalung Suradana milik Adhit untuk melindungi Galuh.

Sekalipun para Ajag lain menggelepal, namun tidak dengan NaRaja! Bukannya tergelepak kepayahan seperti Ajag lainnya, wujudnya malah berubah menjadi seorang pria berkulit coklat dengan postur tinggi dan sangat gagah.

Alisnya tebal panjang, bertengger di atas sepasang mata yang gelap dan dalam. Mata yang ketika menatap tanpa berbicara, membuat siapapun yang ditatap seolah-olah ditelanjangi setiap inci dari pemikiran mereka. Rahanganya kokoh, dihiasi janggut sedikit acak, dan bibir tipis tanpa senyuman, membuat ia mempunyai aura maskulin yang begitu membuar, namun tertelan keheningan yang dalam mengikat.

Galuh kini mengerti, mengapa Hailana Sang Dewi Ruh begitu tergila-gila pada NaRaja yang menyebalkan.

“Rakha! Rakha Sadeli! Bukankah kamu sudah mati! Saya sendiri yang mendorongmu kedalam Kendi Ruh agar Candrakara tidak tahu sama sekali tentang rencana saya.. bagaimana.. bagaimana bisa!” teriak Saguri dengan mundur terkejut. Jelas sekali Saguri sangat ketakutan melihat Rakha Sadeli yang ternyata masih hidup.

Mendengar hal tersebut, Galuh dan kawan-kawan langsung terkejut luar biasa!

“Rakha Sadeli? Bukankah itu adalah tiga serangkai dari Murid Ayah Soma Wisesa? Yang terdiri Guru Candrakara, Aria Wiraja yang telah berganti nama jadi Saguri, dan Rakha Sadeli?” ucap Adhit terkejut.

“Benar, seperti yang dikatakan Guru Candrakara saat kita kembali ke masa lalu, Rakha Sadeli adalah kakak kandung Soma Wisesa. Ternyata ia masih hidup!” sambung Ragadewa yang masih sangat terkejut.

Sedangkan Galuh, saking terkejutnya, ia sampai tidak bisa mengeluarkan kata apapun kecuali napas tercekat yang begitu sesak. Lalu Galuh menoleh pada Aral sang Ajag, namun Aral terlihat sama terkejutnya, sepertinya ia juga baru tahu tentang ini.

 

 

“Tentu saja saya masih hidup!” Ucap NaRaja yang telah berganti wujud menjadi Rakha Sadeli dengan pandangan mengejek. Lalu dengan sekali gerakan menebas, NaRaja mematahkan ilmu Bayang Jiwa milik Saguri. Seketika itu, para Ajag yang tercekik oleh ilmu Bayang Jiwa milik Saguri kembali bisa bernapas lega, hal itu membuat Saguri tercekat luar biasa!

“Apa benar yang dikatakan Guru Candrakara saat itu? Rakha Sadeli adalah seseorang yang terlahir dengan anugrah energi hitam yang luar biasa besar? Lihatlah, kekuatan dari energi kuno milik Saguri bisa ia halau seperti sedang menepuk lalat.” Ucap Ragadewa takjub.

“Ini dikarenakan sebelumnya Hailana yang telah mengorbankan kristal energi yang ada dikeningnya,” jelas Adhit sambil terus menatap Saguri dan NaRaja yang masih saling bersiaga.

“Pengorbanan itu menyebabkan Hailana terluka parah, tetapi sekaligus menyebabkan kekuatan Saguri berkurang sangat banyak.” Karena mengingat peristiwa itu, ucapan Adhit kini diangguki Ragadewa yang mulai mengerti.

“Ditambah.. Guru Candrakara telah menyelimuti Batu Hyang Sawarga dengan segel darah milik leluhur ayah Galuh.” Galuh dan Ragadewa kini memandang Adhit dengan penuh tanda tanya.

“Dalam sekelebatan memori yang ditinggalkan Guru Candrakara pada saya, ia berkata, batu tersebut bisa diaktifkan dengan aman, apabila darah Galuh menyentuh batu tersebut dengan kondisi Galuh yang menyerahkan diri. Bila tidak, maka separuh energi orang yang mengaktifkannya akan hilang sia-sia.” Kalimat terakhir Adhit membuat Galuh langsung dan Ragadewa terhenyak, persis Jinn Si Kelinci tadi saat mendengar kalimat tersebut dipertama kali.

“Pantas saja, tadi Saguri menawarkan penyerahan diri dengan imbalan akan membuat Galuh tetap hidup.” Ucap Ragadewa yang langsung diiyakan oleh Galuh.

“Jadi, ketika tadi Saguri mengaktifkan energi Batu Hyang Sawarga untuk melindungi diri dari seragan para Monster yang dibawa Dharma, saat itu pula energi Saguri berkurang setengahnya?” ucap Galuh seakan tidak mempercayai telinganya sendiri. Adhit mengangguk dengan pasti, yang lalu diiringi decakan tidak percaya dari Ragadewa.

Di sisi lain, NaRaja yang telah berganti rupa menjadi Rakha Sadeli, kini mengeluarkan energinya untuk memperlihatkan sebuah gambaran pada Saguri.

Gambaran masa lalu, dimana saat itu ia masih sebagai Rakha Sadeli, yang memergoki Saguri karena telah berhasil membuat kendi Ruh, lalu digunakan untuk menggodok ribuan Ruh manusia jahat demi ambisi gelapnya sendiri.

Disana terlihat bila Saguri begitu terkejut dan panik. Bahkan saking paniknya, Saguri tega mendorong sahabatnya, Rakha Sadeli ke dalam kendi Ruh, berharap agar rahasia tentang Kendi Ruh akan terbungkam selamanya.

Namun perkiraan Saguri salah. Saat NaRaja yang masih jadi Rakha Sadeli didorong paksa masuk kedalam Kendi Ruh, saat itu pula Rakha Sadeli melemparkan kalung miliknya yang berisi pesan tentang perilaku Saguri, yang lalu diantar burung Mahuinya untuk disampaikan pada Candrakara.

Semua terkejut, karena kalung yang dibawa burung Mahui Naraja adalah kalung Sura Suradana milik Adhit!

“Tunggu! Itu bukannya kalung yang kamu pakai sekarang? Pantas saja NaRaja langsung menyapamu sejak pertama kali bertemu, rupanya ia mengenali kamu dari kalung yang kamu kapai” ucap Galuh yang membuat Adhit menggangguk sambil terkejut. Namun Soma Wisesa malah tertawa “Jadi, kalung itu juga bagian dari rencana si Gila Candrakara?” Ucap Soma Wisesa sambil tertawa dan menggeleng takjub.

Mereka lalu melihat kembali pada gambaran saat NaRaja yang saat itu masih jadi Rakha Sadeli, alih-alih hancur saat dileburkan didalam Kendi Ruh, meski dalam keadaan tersiksa hebat, ia justru berhasil mengendalikan peleburan para Ruh Jahat sehingga ia menjadi pusat kendali dari ribuan Ruh jahat tersebut.

Energi hitam luar biasa besar yang dimiliki Rakha Sadeli, ternyata bukan hanya bisa membuatnya bertahan hidup, ia bahkan mengendalikan proses penggodokan Ruh. Akibatnya, selain Ruh Rakha tetap utuh, ia juga malah menyatu dengan energinya sendiri, sehingga menjelma menjadi satu entitas Ruh dengan energi hitam yang luar biasa besar.

Dalam keadaan tersiksa luar biasa, Rakha Sadeli akhirnya berhasil menjadikan Ruh lain sebagai bawahannya, hingga terlahirlah ke lima Ajag; Aral, Agul, Neluh, Sasab, dan Bangkarwarah. Rakha Sadeli menamai diri sendiri sebagai NaRaja, lalu pura-pura mengaku berasal dari Ruh para Raja jahat yang dulunya berkuasa sangat hebat.

“Dan Saguri, kamu tahu? Semua yang terjadi saat ini, adalah plot dadakan rencana Candrakara saat menerima pesan saya..  Hahahaha…” ejek NaRaja sambil tertawa begitu puas.

Saguri merasa sangat tertipu, karena selama ini ia merasa bahwa ialah yang merancang dan mengendalikan semua itu, namun ternyata, Saguri hanya tergiring oleh rencana dadakan dari Candrakara.

Dengan penuh emosi, Saguri mencoba membunuh NaRaja menggunakan energi dari tubuh Soma Wisesa yang tengah tidak sadarkan diri. Namun bukannya menyerang NaRaja, Soma Wisesa yang ternyata sudah sadarkan diri, malah berdiri untuk melindungi Galuh. Ternyata Soma Wisesa telah dibebaskan oleh Ajag saguri sendiri, Bangkarwarah.

Bangkarwarah melakukan ini karena merasa dikhianati. Setelah Saguri mendapatkan NaRaja dan kawanannya, Saguri terkesan membuang Bangkarwarah yang selalu setia dan membantunya sejak keluar dari Kendi Ruh. Dalam keadaan emosi yang sangat memuncak, dari jarak jauh, Saguri mencekik Bangkarwarah hingga tewas, dan Ruhnya berkeping-keping lalu hilang terbawa angin.

Tidak berhenti sampai situ, Saguri menyerang NaRaja secara membabi buta. Hantaman demi hantaman terus maju tanpa jeda.

Namun, Naraja yang telah kembali menjadi Rakha Sadeli, karena tidak perlu mempertahankan sosok palsunya sebagai NaRaja, maka energinya menjadi sangat utuh. Sehingga ia bisa sangat tenang dalam menghadapi serangan Saguri yang semakin lama semakin serampangan karena terbawa emosi. Hingga akhirnya, Saguri terkena pukulan hebat dan sekarat ditangan NaRaja.

Setelah itu berhasil mengalahkan Saguri, NaRaja yang telah berubah wujud menjadi Rakha Sadeli, beserta para Ajag berjalan menuju Galuh, lalu mereka semua menunduk hormat.

Namun yang tidak diduga, Saguri yang masih sekarat, ia menyerang Galuh sekali lagi dengan energi terakhirnya.

“Saya sudah kehilangan Batu Hyang Sawarga, maka Astamaya juga harus kehilangan pewaris paling berharga mereka Hahahaha!” Kemarahan NaRaja meledak! Yang setelah itu Saguri terkena pukulan dengan energi penuh NaRaja hingga tewas ditempat.

Semua langsung menghampiri Galuh yang kini tidak sadarkan diri. Sedangkan Adhit, kini ia begitu panik memeluk Galuh dengan tangis yang menyayat perih.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir