Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 40 – Rencana Saguri| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Adhit dan Jinn Si Kelinci yang akhirnya
bisa bernapas lega, kini keduanya menatap kagum pada sepak terjang Dharma dalam
melawan para prajurit hitam. Pemandangan yang begitu kontras antara seorang
pertapa muda sopan berusia lima belas tahun, yang dibantu para Monster Astamaya
yang terkenal brutal dan berwajah garang, lalu bertarung melawan pasukan hitam
yang semuanya kekar dan tinggi besar.
Berkat Dharma dan para Monster
Astamaya yang ia bawa, pertarungan yang semula sangat timpang, kini jadi seimbang.
Karena hal itu pula, Ragadewa berhasil menaklukan sekaligus menyadarkan
Kahiyang Raga beserta beberapa Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa lainnya. Kini
mereka berbalik arah, berdiri bersama Ragadewa dalam melawan pasukan hitam
disekitar Saguri.
Ini membuat beberapa Jenderal Hitam langsung
mundur ketakutan. Setelah sebagian pasukan mereka dibabat habis oleh para
Monster yang dibawa Dharma sang pertapa, kini semakin habis saja karena Kaum
Astamaya berkekuatan Istimewa berbalik melawan.
Ditengah suasana kacau, Adhit dan Jinn
Si Kelinci justru malah terpukau, karena Kaum Astamaya berkekuatan istimewa
mempunyai jenis energi yang bukan hanya unik dan kompleks, tetapi juga skala
kekuatan yang sangat berbahaya.
Mereka dulu terkesima dengan energi
yang dikeluarkan Ragadewa, namun kini mereka dihadapkan pada puluhan sosok dengan
energi yang seunik Ragadewa, tetapi dengan identitas energi dari masing-masing
pemilik.
Galuh sendiri malah terkesima melihat Dharma
yang masih terlihat tenang. Bahkan saat menghadapi puluhan prajurit hitam, Dharma
menghadapi mereka dengan sikap yang sangat santun. Namun dalam satu gerakan
yang presisi, energi yang tampak berpendar lembut seperti riak air, justru
membuat puluhan prajurit hitam terpental dengan sangat hebat! jatuh berdebam, lalu
serentak pingsan ditempat. Galuh terkejut karena remaja santun ini ternyata kekuatannya
lebih mengerikan dari Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa.
Namun bukan itu saja, karena Dharma
juga menguasai energi teleport, membuat ia bisa sesuka hati menghilang dan
muncul ditempat yang tidak terduga. Ini membuat keberadaanya jadi sangat
diperhitungkan oleh banyak Jenderal Hitam, termasuk Saguri yang cukup terkejut
dengan kemampuan Dharma yang satu ini.
Adhit dan Jinn Si Kelinci bersorak saat
Dharma berhasil mengalahkan beberapa kelompok Pasukan Hitam, mereka berdua benar-benar
seperti anak remaja yang tengah menonton pertandingan gulat.
Ditengah napasnya yang terengah, Ragadewa
hanya tersenyum menggeleng melihat perilaku Adhit dan Jinn Si Kelinci yang
tampak seperti dua bocah kegirangan. Baru kali ini ia merasakan bahagia saat
bertarung. Selain kemarahannya pada Kaum Hitam terasa sedikit demi sedikit mulai
terbayar, Ia yang dulu selalu sendirian, kini berada dilingkaran persahabatan
yang melebihi ikatan sebuah keluarga.
Saguri yang menyadari bahwa pasukannya
semakin berkurang, peristiwa ini membuatnya sedikit kesal. Setelah menarik
napas dengan dalam seakan sedang mengumpulkan energi miliknya, ia berkata, “kalian
pikir bisa mengalahkan saya dalam drama anak ingusan heh?” ucap Saguri dengan
senyum mengejek.
Begitu Saguri membuka telapak
tangannya, tiba-tiba saja muncul pusaran besar yang menyedot banyak sekali Monster
Astamaya yang dibawa Dharma, Sontak Dharma langsung memerintahkan para Monster
ini mundur agar mereka tetap selamat.
Ragadewa juga memerintahkan semua Kaum
Astamaya berkekuatan Istimewa mundur, karena khawatir dengan sepak terjang
Kahiyang Raga, yang masih nekat menghajar sekalipun hampir tersedot masuk
kedalam pusaran yang diciptakan Saguri.
Disaat Kaum Hitam kembali tersenyum, tiba-tiba
dari sudut lain, datang Si merah Gila yang mendarat dengan gerakan sangat
serampang. Si Merah Gila bukan hanya mendarat dengan pose seperti monyet yang
menyerukan tanda hati dengan kedua sikunya, tetapi juga ia benar-benar
mengerjai Kaum Hitam jadi tampak konyol dan sangat memalukan.
Kaum Hitam kebingungan karena tidak
bisa melihat pelakunya. Namun Saguri, dengan lesatan gerak yang sangat cepat,
tiba-tiba ia sudah mencengkram leher Si Merah Gila dengan tatapan dingin
mematikan. Galuh dan kawan-kawan terkejut karena ternyata Saguri bisa melihat
Si Merah Gila. Dan dalam sekejap, segel pelindung tubuh Si Merah Gila retak,
yang mengakibatkan semua bisa melihat wujud Si Merah Gila.
“Saya adalah Kaum Astamaya kuno, maka
bagi saya, tipu muslihatmu hanya permainan bayi konyol yang tidak berguna!”
ucap Saguri dengan aura menakutkan yang begitu menggelegar. Namun, sekalipun
dalam keadaan tercekik, Si Merah Gila menanggapinya dengan tertawa tidak waras,
yang setelah itu Si Merah Gila tampak melemparkan sesuatu ke arah Galuh.
“Gada Sangkara!” Teriak Galuh karena
Gada Sangkara mendarat dihadapannya begitu saja. Mengetahui bahwa Si Merah Gila
mencuri Gada sangkara dari kalungnya, Saguri jadi sangat marah karena merasa
telah ditipu mentah-mentah oleh Si Merah Gila. Kini tidak ada lagi ekspresi
dingin yang selalu di tampilkan oleh Saguri.
Tanpa menunggu lama, Adhit segera memasukan
Gada Sangkara kedalam bandul Istana Tujuh Pintu yang menempel pada kalung Sura
Sudarana miliknya. Sedangkan Jinn Si Kelinci tetap bertarung membantu Galuh.
Ketika Saguri hendak membunuh Si Merah
Gila, tiba-tiba Saguri diserang ratusan Monster buas yang ikut datang bersama
Dharma, lalu dipukuli secara brutal. Lalu dengan menggunakan energi teleport
miliknya, Dharma muncul yang lalu menyerangnya Saguri dengan tapak saktinya, sehingga
membuat seluruh tulang Saguri terdengar berkeretak hebat!
Sontak, Saguri segera meremas pelan
Batu Hyang Sawarga yang telah ia genggam. Lalu dengan sekali menggeram, dengan hanya
menggunakan sedikit dari kekuatan Batu Hyang Sawarga, tiba-tiba semua Monster
Astamaya yang tengah menyerangnya terpental ke semua arah, termasuk Si Merah
Gila dan Dharma yang ikut terpental yang lalu pingsan seketika.
Disini Galuh dan kawan-kawan mulai
menyadari apa yang dikhawatirkan Guru Candrakara selama ini, bahwa kekuatan yang
disandang Batu Hyang Sawarga memang benar-benar sangat menakutkan.
Adhit segera mendekat pada Dharma dan
Si Merah Gila yang sudah tidak sadarkan diri. Dibantu ke enam kakak Nawang
Wulan, Dharma dan Si Merah Gila dibantu masuk kedalam Kalung Istana Tujuh Pintu.
Disaat kekuatan Saguri telah lenyap
separuh, Saguri baru menyadari bahwa para Monster yang dibawa Dharma sang
pertapa, dan para Kaum Astamaya berkekuatan Istimewa yang telah berbalik arah
menyerangnya, telah membabat habis seluruh pasukan hitamnya. Maka emosi Saguri
langsung meledak!
Dengan amarah yang memuncak, Saguri
tiba-tiba mengangkat Galuh dari kejauhan, lalu memisahkan paksa Galuh dari Para
Ajag. Rasa tercerabut segel para Ajag yang lengket menempel pada Ruhnya,
membuat Galuh melengkingkan jeritan menyayat karena membuatnya hampir tewas.
Sontak semua yang mendengar langsung
terkejut bukan kepalang, terutama Adhit. Namun semua tidak ada yang berani
bertindak gegabah, karena Galuh tampak berada dalam genggaman kekuasaan Saguri.
Hanya Adhit yang nekat berlari untuk mendekat, namun itupun hanya bisa memegang
tangan Galuh yang sudah didekap Aral sang Ajag dengan penuh kekhawatiran.
Ditengah Galuh yang kini sekarat, Saguri
memberi penawaran kepada para Ajag yang telah keluar dari tubuh Galuh.
“Tetap bersama Galuh, lalu kalian akan
mati sia-sia. Atau.. ikut dengan saya, maka kalian akan tetap hidup bahkan berjaya
dalam menguasai dua dunia.” Tawar Saguri sambil mengimingi NaRaja dengan Batu
Hyang Sawarga yang sudah berada dalam genggamannya. Naraja tampak terdiam
sebentar.
“Tidak NaRaja, jangan!” Tenaga yang
tersisa, membuat Galuh hanya bisa berkata dalam bisik yang tersengal, ia
benar-benar dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan! Aral, salah satu Ajag
yang Adhit kenal paling sompral, kini mendekap Galuh sambil memandang Saguri
dengan penuh kebencian.
NaRaja menoleh pada kawanannya, Ajag
lain ikut melolong setuju, kecuali Aral. Ajag ini memilih tetap menopang Galuh
yang tengah sekarat.
“NaRaja! Kamu Gila! Kamu akan
mengkhianati orang yang berjasa menyelamatkan kita semua selama ini?” teriak
Aral dengan kemarahan yang meledak. Ajag ini nekat berteriak karena sudah tidak
bisa membendung kemarahannya lagi.
“Lalu saya harus apa? Ikut mati bersamanya?”
Jawab NaRaja enteng.
Ternyata NaRaja memutuskan untuk berada
dikubu Saguri, lalu semua Ajag mengikuti NaRaja dengan patuh, kecuali satu Ajag
yang bernama Aral.
Aral menyumpahi para Ajag dengan
kasar, namun NaRaja dan para Ajag lain tidak mengidahkannya, bahkan menganggap
sumpah serapah Aral hanya seperti angin lalu. Aral menggeram dengan sangat tidak
suka saat para Ajag semakin mendekat pada Saguri, namun ia sendiri tidak mampu
berbuat apa – apa.
“Menyerahlah Galuh, bergabunglah
dengan saya. Serahkan darahmu dengan kerelaan, maka saya tidak akan membiarkan
seorangpun menyakiti kamu.. hahaha,” ucap Saguri sambil meremas batu Hyang
Sawarga yang telah lengkap dengan penuh rasa kemenangan.
“Saguri memang benar-benar berniat
menguasai batu Hyang Sawarga sepenuhnya!” pikir Adhit dengan pandangan marah.
Dalam keadaan sekarat, Galuh menangis
tak berdaya karena tidak menyangka tindakan NaRaja dan kawanannya bisa setega
ini.
Maka dengan tangis yang dalam, Galuh
mengucapkan mantera segel perjanjian yang dulu ia lakukan bersama NaRaja.
Sebuah perjanjian darah, yang apabila salah satu mengkhianati, maka tubuh
pengkhianat dalam perjanjian ini akan tercabik dengan sangat mengenaskan.
Namun ternyata tidak terjadi apapun!
Disini Galuh baru menyadari bila ia telah ditipu mentah-mentah oleh NaRaja.
“Penipu licik!” umpat Galuh dalam
bisik.
Setelah NaRaja tiba didekat Saguri, Galuh
yang perlahan antara sadar dan tidak sadar dalam dekapan Aral, tiba – tiba merasakan
mulutnya diteteskan sesuatu oleh Aral.
Di sisi lain, dengan polah mengejek,
Saguri mengacungkan Batu Hyang Sawarga tepat didepan ruang segel, seakan-akan
hendak melemparkannya kedalam, namun tidak jadi. Saguri sangat puas melihat
Kaum Putih yang kini terlihat sangat putus asa, terutama para Tetua Putih yang
sangat ia benci! Batu Hyang Sawarga sekarang memang ada dihadapan para Tetua
Putih, tetapi mereka tidak dapat menyentuhnya sedikitpun.
Lalu setelah itu Saguri berbalik pada
ruang segel tersebut sambil berkata. “Teman-temanku para Tetua Hitam, kalian
sekarang bisa mati dengan tenang, saya akan mewakili kalian untuk menguasai
dunia Manusia, lalu menjadikan mereka budak demi kepentingan Kaum Tanah
Astamaya, berjayalah Kaum Hitam… Hahahaha..!!!”
Setelah itu Saguri berbalik ke arah
para Ajag sambil merentangkan tubuhnya, mempersilahkan agar para Ajag masuk
kedalam tubuhnya.
Saat Bangkarwarah, Ajag betina milik
Saguri akan masuk pertama kali, Saguri malah menepisnya sambil berkata. “Ini
dunia para lelaki.. wanita tetaplah dibelakang dan menjadi pelayan setia!”
Hardik Saguri kasar. Bangkarwarah
menatap Saguri dengan terkejut, namun setelah itu Bangkarwarah mundur dan
menepi dengan patuh.
Tepat saat NaRaja hendak masuk kedalam
tubuh Saguri, NaRaja tiba-tiba menyambar Batu Hyang Sawarga yang tengah
dipamerkan Saguri pada Kaum Putih dengan angkuh.
Belum hilang rasa terkejut Saguri, para
Ajag lain langsung sibuk membuat Saguri terhalangi. Dengan celah sesingkat itu,
NaRaja langsung melesat kilat untuk melemparkan Batu Hyang Sawarga kedalam cawan
khusus batu Hyang Sawarga, tempat dimana batu Hyang Sawarga berencana akan
dihancurkan.
Begitu Batu Hyang Sawarga menyentuh
dasar cawan tersebut, seketika itu juga segel ruang tersebut tertutup, lalu
keluarlah ledakan dasyat mengguncang seluruh permukaan Istana. Bahkan saking Dahsyatnya,
dinding ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga sampai retak hebat! untung tidak
menimbulkan korban jiwa sama sekali.
Galuh yang telah pulih karena ramuan
yang diteteskan Aral sang Ajag, kini merasa bingung. “Ini semua perintah
NaRaja..” bisik Aral sambil tetap memeluknya dengan lembut.
Di sisi lain, Saguri kini benar-benar sangat
marah! Hilang sudah wajah dingin yang selalu ia tampilkan. Saguri yang sempat kehilangan
separuh energinya saat bertarung dengan Hailana, lalu separuh dari kekuatannya
yang telah separuh juga hilang karena terpaksa menggunakan Batu Hyang Sawarga
yang segelnya belum dihilangkan, lalu ditambah kenyataan bahwa ia telah
kehilangan Batu Hyang Sawarga yang ia incar sejak seribu tahun yang lalu,
membuat kemarahan Saguri meledak luar biasa.
Dengan kemarahan yang sangat memuncak,
dari kejauhan, Saguri menggunakan ilmu Bayang Jiwa, untuk mencekik para Ajag
hingga membuat para Ajag tergelepak dengan sangat kepayahan. Kecuali Aral sang
Ajag, karena posisinya sedang menopang Galuh, maka Aral berada didalam segel
pelindung yang dikeluarkan Kalung Suradana milik Adhit untuk melindungi Galuh.
Sekalipun para Ajag lain menggelepal, namun
tidak dengan NaRaja! Bukannya tergelepak kepayahan seperti Ajag lainnya,
wujudnya malah berubah menjadi seorang pria berkulit coklat dengan postur tinggi
dan sangat gagah.
Alisnya tebal panjang, bertengger di
atas sepasang mata yang gelap dan dalam. Mata yang ketika menatap tanpa
berbicara, membuat siapapun yang ditatap seolah-olah ditelanjangi setiap inci
dari pemikiran mereka. Rahanganya kokoh, dihiasi janggut sedikit acak, dan
bibir tipis tanpa senyuman, membuat ia mempunyai aura maskulin yang begitu
membuar, namun tertelan keheningan yang dalam mengikat.
Galuh kini mengerti, mengapa Hailana
Sang Dewi Ruh begitu tergila-gila pada NaRaja yang menyebalkan.
“Rakha! Rakha Sadeli! Bukankah kamu
sudah mati! Saya sendiri yang mendorongmu kedalam Kendi Ruh agar Candrakara
tidak tahu sama sekali tentang rencana saya.. bagaimana.. bagaimana bisa!”
teriak Saguri dengan mundur terkejut. Jelas sekali Saguri sangat ketakutan
melihat Rakha Sadeli yang ternyata masih hidup.
Mendengar hal tersebut, Galuh dan kawan-kawan
langsung terkejut luar biasa!
“Rakha Sadeli? Bukankah itu adalah
tiga serangkai dari Murid Ayah Soma Wisesa? Yang terdiri Guru Candrakara, Aria
Wiraja yang telah berganti nama jadi Saguri, dan Rakha Sadeli?” ucap Adhit
terkejut.
“Benar, seperti yang dikatakan Guru
Candrakara saat kita kembali ke masa lalu, Rakha Sadeli adalah kakak kandung
Soma Wisesa. Ternyata ia masih hidup!” sambung Ragadewa yang masih sangat
terkejut.
Sedangkan Galuh, saking terkejutnya,
ia sampai tidak bisa mengeluarkan kata apapun kecuali napas tercekat yang
begitu sesak. Lalu Galuh menoleh pada Aral sang Ajag, namun Aral terlihat sama
terkejutnya, sepertinya ia juga baru tahu tentang ini.
“Tentu saja saya masih hidup!” Ucap
NaRaja yang telah berganti wujud menjadi Rakha Sadeli dengan pandangan
mengejek. Lalu dengan sekali gerakan menebas, NaRaja mematahkan ilmu Bayang
Jiwa milik Saguri. Seketika itu, para Ajag yang tercekik oleh ilmu Bayang Jiwa
milik Saguri kembali bisa bernapas lega, hal itu membuat Saguri tercekat luar
biasa!
“Apa benar yang dikatakan Guru
Candrakara saat itu? Rakha Sadeli adalah seseorang yang terlahir dengan anugrah
energi hitam yang luar biasa besar? Lihatlah, kekuatan dari energi kuno milik Saguri
bisa ia halau seperti sedang menepuk lalat.” Ucap Ragadewa takjub.
“Ini dikarenakan sebelumnya Hailana
yang telah mengorbankan kristal energi yang ada dikeningnya,” jelas Adhit
sambil terus menatap Saguri dan NaRaja yang masih saling bersiaga.
“Pengorbanan itu menyebabkan Hailana
terluka parah, tetapi sekaligus menyebabkan kekuatan Saguri berkurang sangat
banyak.” Karena mengingat peristiwa itu, ucapan Adhit kini diangguki Ragadewa
yang mulai mengerti.
“Ditambah.. Guru Candrakara telah
menyelimuti Batu Hyang Sawarga dengan segel darah milik leluhur ayah Galuh.”
Galuh dan Ragadewa kini memandang Adhit dengan penuh tanda tanya.
“Dalam sekelebatan memori yang
ditinggalkan Guru Candrakara pada saya, ia berkata, batu tersebut bisa
diaktifkan dengan aman, apabila darah Galuh menyentuh batu tersebut dengan
kondisi Galuh yang menyerahkan diri. Bila tidak, maka separuh energi orang yang
mengaktifkannya akan hilang sia-sia.” Kalimat terakhir Adhit membuat Galuh
langsung dan Ragadewa terhenyak, persis Jinn Si Kelinci tadi saat mendengar
kalimat tersebut dipertama kali.
“Pantas saja, tadi Saguri menawarkan
penyerahan diri dengan imbalan akan membuat Galuh tetap hidup.” Ucap Ragadewa
yang langsung diiyakan oleh Galuh.
“Jadi, ketika tadi Saguri mengaktifkan
energi Batu Hyang Sawarga untuk melindungi diri dari seragan para Monster yang
dibawa Dharma, saat itu pula energi Saguri berkurang setengahnya?” ucap Galuh
seakan tidak mempercayai telinganya sendiri. Adhit mengangguk dengan pasti,
yang lalu diiringi decakan tidak percaya dari Ragadewa.
Di sisi lain, NaRaja yang telah
berganti rupa menjadi Rakha Sadeli, kini mengeluarkan energinya untuk
memperlihatkan sebuah gambaran pada Saguri.
Gambaran masa lalu, dimana saat itu ia
masih sebagai Rakha Sadeli, yang memergoki Saguri karena telah berhasil membuat
kendi Ruh, lalu digunakan untuk menggodok ribuan Ruh manusia jahat demi ambisi
gelapnya sendiri.
Disana terlihat bila Saguri begitu
terkejut dan panik. Bahkan saking paniknya, Saguri tega mendorong sahabatnya, Rakha
Sadeli ke dalam kendi Ruh, berharap agar rahasia tentang Kendi Ruh akan
terbungkam selamanya.
Namun perkiraan Saguri salah. Saat
NaRaja yang masih jadi Rakha Sadeli didorong paksa masuk kedalam Kendi Ruh,
saat itu pula Rakha Sadeli melemparkan kalung miliknya yang berisi pesan tentang
perilaku Saguri, yang lalu diantar burung Mahuinya untuk disampaikan pada
Candrakara.
Semua terkejut, karena kalung yang dibawa
burung Mahui Naraja adalah kalung Sura Suradana milik Adhit!
“Tunggu! Itu bukannya kalung yang kamu
pakai sekarang? Pantas saja NaRaja langsung menyapamu sejak pertama kali
bertemu, rupanya ia mengenali kamu dari kalung yang kamu kapai” ucap Galuh yang
membuat Adhit menggangguk sambil terkejut. Namun Soma Wisesa malah tertawa “Jadi,
kalung itu juga bagian dari rencana si Gila Candrakara?” Ucap Soma Wisesa
sambil tertawa dan menggeleng takjub.
Mereka lalu melihat kembali pada
gambaran saat NaRaja yang saat itu masih jadi Rakha Sadeli, alih-alih hancur saat
dileburkan didalam Kendi Ruh, meski dalam keadaan tersiksa hebat, ia justru
berhasil mengendalikan peleburan para Ruh Jahat sehingga ia menjadi pusat
kendali dari ribuan Ruh jahat tersebut.
Energi hitam luar biasa besar yang
dimiliki Rakha Sadeli, ternyata bukan hanya bisa membuatnya bertahan hidup, ia
bahkan mengendalikan proses penggodokan Ruh. Akibatnya, selain Ruh Rakha tetap
utuh, ia juga malah menyatu dengan energinya sendiri, sehingga menjelma menjadi
satu entitas Ruh dengan energi hitam yang luar biasa besar.
Dalam keadaan tersiksa luar biasa,
Rakha Sadeli akhirnya berhasil menjadikan Ruh lain sebagai bawahannya, hingga
terlahirlah ke lima Ajag; Aral, Agul, Neluh, Sasab, dan Bangkarwarah. Rakha
Sadeli menamai diri sendiri sebagai NaRaja, lalu pura-pura mengaku berasal dari
Ruh para Raja jahat yang dulunya berkuasa sangat hebat.
“Dan Saguri, kamu tahu? Semua yang
terjadi saat ini, adalah plot dadakan rencana Candrakara saat menerima pesan
saya.. Hahahaha…” ejek NaRaja sambil
tertawa begitu puas.
Saguri merasa sangat tertipu, karena
selama ini ia merasa bahwa ialah yang merancang dan mengendalikan semua itu,
namun ternyata, Saguri hanya tergiring oleh rencana dadakan dari Candrakara.
Dengan penuh emosi, Saguri mencoba
membunuh NaRaja menggunakan energi dari tubuh Soma Wisesa yang tengah tidak
sadarkan diri. Namun bukannya menyerang NaRaja, Soma Wisesa yang ternyata sudah
sadarkan diri, malah berdiri untuk melindungi Galuh. Ternyata Soma Wisesa telah
dibebaskan oleh Ajag saguri sendiri, Bangkarwarah.
Bangkarwarah melakukan ini karena
merasa dikhianati. Setelah Saguri mendapatkan NaRaja dan kawanannya, Saguri terkesan
membuang Bangkarwarah yang selalu setia dan membantunya sejak keluar dari Kendi
Ruh. Dalam keadaan emosi yang sangat memuncak, dari jarak jauh, Saguri mencekik
Bangkarwarah hingga tewas, dan Ruhnya berkeping-keping lalu hilang terbawa
angin.
Tidak berhenti sampai situ, Saguri
menyerang NaRaja secara membabi buta. Hantaman demi hantaman terus maju tanpa
jeda.
Namun, Naraja yang telah kembali
menjadi Rakha Sadeli, karena tidak perlu mempertahankan sosok palsunya sebagai
NaRaja, maka energinya menjadi sangat utuh. Sehingga ia bisa sangat tenang
dalam menghadapi serangan Saguri yang semakin lama semakin serampangan karena
terbawa emosi. Hingga akhirnya, Saguri terkena pukulan hebat dan sekarat
ditangan NaRaja.
Setelah itu berhasil mengalahkan
Saguri, NaRaja yang telah berubah wujud menjadi Rakha Sadeli, beserta para Ajag
berjalan menuju Galuh, lalu mereka semua menunduk hormat.
Namun yang tidak diduga, Saguri yang
masih sekarat, ia menyerang Galuh sekali lagi dengan energi terakhirnya.
“Saya sudah kehilangan Batu Hyang
Sawarga, maka Astamaya juga harus kehilangan pewaris paling berharga mereka
Hahahaha!” Kemarahan NaRaja meledak! Yang setelah itu Saguri terkena pukulan
dengan energi penuh NaRaja hingga tewas ditempat.
Semua langsung menghampiri Galuh yang kini tidak sadarkan diri. Sedangkan
Adhit, kini ia begitu panik memeluk Galuh dengan tangis yang menyayat perih.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar