Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya.

Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit.

“Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit.

“Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget.

Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelaki Sunda, namun dengan sentuhan khas Astamaya. Proporsi tubuh yang pas, aura maskulin yang dominan, serta keunikan karakter masing-masing yang memikat, membuat mereka tampak seperti tokoh yang baru saja keluar dari dongeng legenda. Lalu Adhit melihat dirinya sendiri yang lusuh tidak karuan.

Melihat Adhit yang tampak begitu kacau, mereka segera mengajak pindah menuju balkon kamar, agar kesedihan Adhit terhadap Galuh tidak terlalu berlarut.

“Jangan khawatir Dhit, Istana akan memberikan perawatan terbaik untuk Galuh. Kita harus optimis! Kita punya para ahli dari Kaum Luhur yang terkenal hebat. Lalu ditambah Taphilli dan Cahya Natraprawira yang kita tahu seperti apa sepak terjang mereka dalam ilmu yang mereka kuasai, Galuh pasti akan pulih seperti sedia kala,” hibur Gada Sangkara yang segera diangguki yakin oleh Ragadewa.

Mengetahui kedua temannya mulai mengkhawatirkannya, Adhit tersenyum sebagai tanda mengiyakan agar mereka lega.

“Gada, saat itu apa yang terjadi? mengapa Saguri tiba-tiba bisa menyamar menjadi kamu?” Tanya Adhit sebagai pengalihan dari rasa sedihnya tadi.

“Semua itu terjadi sangat cepat.” Jawab Gada Sangkara sambil mengingat-ingat.

“Saat kita dalam perjalanan menuju petunjuk dimana Sang Cahaya, pecahan dari Hyang Sawarga disembunyikan, tiba-tiba mata saya gelap begitu saja. Dan ketika saya terbangun, saya mendapati diri saya sudah berada dalam sebuah ruangan yang seluruhnya terbuat dari kaca.” Ucap Gada Sangkara sambil memperlihatkan gambaran tersebut melalui energi milknya.

Terlihat Gada Sangkara yang ketika melihat dari balik kaca, ia terkejut karena teman-temannya terlihat besar seperti raksasa.

Lalu, saat Gada tergoncang-goncang dalam ruangan tersebut, dan setelahnya ia mendengar suara yang mirip dengan dirinya sedang berbaur dengan teman-temannya diluar sana, Gada baru menyadari bahwa ia tengah disekap dalam wadah kaca yang digantungkan di leher seseorang.

Saat itu Gada Sangkara berteriak, menendang berkali-kali ruang kaca tersebut hingga tangan dan kakinya terluka, namun hasilnya nihil. Bahkan energi kepalan tangan besar andalan miliknya yang biasanya begitu hebat, begitu terbentuk, tiba-tiba berubah menjadi asap yang menguap tanpa hasil. Hingga akhirnya, Gada hanya menjadi penonton putus asa yang melihat setiap detail pembicaraan mereka setiap hari.

Tak lama, Soma Wisesa menemui mereka bersama NaRaja yang sudah kembali pada wujud Rakha Sadeli. Sekalipun kedua kakak beradik ini terlihat begitu kontras. Mereka tampak begitu dekat dan sangat akrab.

Soma Wisesa, separuh albino dengan postur kurus tinggi, namun berotot liat dibalik pakaiannya yang begitu eksentrik. Soma mempunyai wajah dingin yang begitu cantik sekaligus tampan, sebuah perpaduan yang nyaris tidak masuk akal. Kulit putih pucat, bola mata coklat keabuan, dan alis serta rambut panjang yang berwarna pirang keperakan. Disertai setiap lekukan tulang wajahnya seolah sengaja dipahat khusus oleh para Dewa, membuatnya lebih terlihat seperti entitas suci dibandingkan Kaum Astamaya.

Lalu NaRaja, dengan tubuh yang sudah kembali menjadi Rakha Sadeli. Ia adalah seorang pria berkulit coklat, dengan postur tinggi besar, dan otot yang sangat gagah. Alisnya yang tebal panjang, bertengger di atas sepasang mata yang gelap dan dalam. Rahanganya kokoh, dihiasi janggut sedikit acak, dan bibir tipis tanpa senyuman, membuat ia mempunyai aura maskulin yang begitu membuar, namun tertelan keheningan yang dalam mengikat. Membuat kesan NaRaja saat masih menjadi pemimpin para Ajag melekat kuat, sekalipun ia telah berubah menjadi Rakha Sadeli. Adhit merasa benar-benar kecil dengan kharisma dari kedua kakak beradik ini

Setelah berbasa basi akrab, NaRaja berkata bahwa ia enggan dipanggil Rakha Sadeli. Karena baginya, nama itu hanya menorehkan banyak luka. Dirinya yang dikhianati sahabatnya Aria Wiraja yang  mereka kenal sekarang dengan nama Saguri. Lalu setelahnya peristiwa terbunuhnya Candrakara, yang juga karena ulah Saguri, menjadikan nama itu mempunyai memori luka yang cukup menyakitkan bagi NaRaja.

“Nama NaRaja lebih banyak menorehkan memori menyenangkan bagi saya. Saat masih dalam tubuh salah satu Tetua Hitam, saya sering mengerjai para Tetua Hitam dengan banyak petunjuk palsu. Lalu saat saya merasuk kedalam tubuh Galuh, dan akhirnya bertemu dengan kalian semua. Bagi saya.. persahabatan jujur dari kalian cukup mengobati luka saya dimasa lalu.” Ucap NaRaja sambil mengelus janggut tipisnya yang sedikit acak, lalu disambut senyum senang dari yang lainnya.

“Bagaimana dengan rencana kalian semua setelah ini, kalau saya… saya masih mengkhawatirkan kondisi Astamaya tanpa Galuh,” ucap Adhit kembali khawatir.

“Karena Galuh telah koma dengan waktu yang tidak ditentukan, paman Galuh yaitu Ranji Raspati, ia mau kembali menangani istana, karena kini ditemani panglima besar Baharyu dan Gada sangkara, belum lagi ada para sesepuh Kaum Luhur dibelakangnya.” Ucap Ragadewa, yang setelah itu diangguki oleh Gada Sangkara.

“Tenang saja, ada ayah dan saya yang akan mendampingi Maharaja Ranji Raspati, agar Astamaya tetap baik-baik saja hingga Galuh terbangun dari koma,” hibur Gada Sangkara dengan yakin.

“Sesuai harapan Galuh dulu, Istana mengalami perombakan luar biasa. Pencopotan gelar dan fasilitas bagi para Bangsawan dan para Menteri yang terbukti berkhianat saat perang besar yang telah lama diramalkan Guru Candrakara kemarin. Yang setelahnya, langsung dihukum seadil-adilnya sesuai kejahatan mereka masing-masing.” Ucap Gada Sangkara lagi, yang setelah itu membuat tersenyum Adhit lega.

“Sebagian Kaum Luhur akan tinggal disini untuk menggantikan posisi pejabat penting Istana yang dicopot paksa oleh Istana. Para sesepuh Kaum Luhur, termasuk Tuan Monyet Rahyata bahkan Tuan Addar,” sambung Ragadewa yang membuat Adhit semakin lega.

“Sisanya, akan tetap di Gua bawah tanah yang terdapat dibawah Istana. Mereka akan konsentrasi dalam mengembangkan banyak hal yang dibutuhkan Astamaya, terutama untuk kesembuhan Galuh. Lalu, untuk warga sipil, mereka pulang ke Pulau Bagjarupa. Kembali membangun Pulau Bagjarupa yang dulu begitu termasyur. Mereka akan mengembangkan segala hal yang bisa mereka bantu untuk kebutuhan Astamaya, bahkan dunia Manusia.” Ucap sebuah suara yang begitu Adhit kenal.

“Tuan Rahyata! Kakek Addar!” ucap Adhit kaget melihat Tuan Monyet Rahyata yang tiba-tiba muncul, yang setelahnya disusul Kakek Addar. Adhit begitu lega karena mereka berdua juga ternyata sudah pulih. Luka hebat mereka ketika masa pertarungan saat perang besar kemarin, benar-benar membuat Adhit sempat shock luar biasa.

“Kita memiliki Taphilli yang benar-benar hebat dalam hal ramuan,” ucap Kakek Addar sambil memperlihatkan bagian lengannya yang kemarin sempat terluka hebat, kini seakan tidak ada bekasnya sama sekali.

“Bahkan racun yang berisi mantera Ruhpun, kini lenyap tanpa sisa.” Sambung Tuan Monyet Rahyata sambil memperlihatkan dimana kemarin lukanya menganga begitu lebar, namun kini benar-benar seakan tidak pernah terjadi apapun pada kulitnya.

“Semua berkat dari ilmu ramuan milik Taphilli dan daya pencarian sejarah kuno ramuan oleh Cahya Natraprawira.” Sambung Kakek Addar lagi sambil memperlihatkan kilasan segala proses penyembuhan para Tetua Putih lewat gambaran dari energi Kakek Addar. Semua begitu terkesima saat melihat semua proses yang terlihat dari gambaran tersebut.

Melihat Kakek Addar dan Tuan Monyet Rahyata cepat pulih karena bantuan dari Taphilli dan Cahya Natraprawira, ada secercah harapan dalam Adhit untuk kesembuhan Galuh.

Setelah itu, Adhit memandang semuanya dengan lega, karena semua hal yang terjadi sekarang, adalah harapan-harapan Galuh dulu.

Astamaya yang telah aman, Kaum Luhur yang sudah bisa melihat matahari dan bulan sungguhan. Merasakan angin semilir yang bukan buatan dari hembusan bunga binulus lagi. Bahkan dari atas balkon kamar Galuh, Adhit melihat beberapa anak-anak Kaum Luhur berlari-lari bahagia bersama anak-anak Astamaya. Mereka tertawa begitu bahagia dibawah matahari pagi asli yang begitu cerah ceria.

Adhit bahkan melihat ke empat kawan satu Bandnya yang dulu sempat ditelan Dwasa si Mahluk Asap, kini telah pulih dan benar-benar sehat. Bahkan mereka kini tertawa ceria, melihat kekonyolan anak-anak Kaum Luhur dan anak-anak Astamaya ketika bermain bersama.

Ditengah pembicaraan, tiba-tiba Jinn Si Kelinci dan Subhita muncul sambil membawa banyak sekali camilan enak. Perilaku licah menggemaskan Subhita, membuat pipi dan telinga Gada Sangkara terlihat memerah. Apalagi saat Subhita menyerahkan secara khusus kue buatannya. Ragadewa sampai tergelak melihat Gada Sangkara yang mendadak kikuk hingga membuat Subhita tersipu. Hal ini membuat Adhit mulai merasakan hatinya sedikit lebih tenang. Galuh kini telah benar-benar aman dan dikelilingi orang-orang yang begitu mencintainya.

“Saya akan pulang ke dunia Manusia,” semua langsung terkejut dengan perkataan Adhit yang tiba-tiba.

“Mengapa?” Tanya Gada Sangkara karena ia yang paling terkejut.

“Saya tenang, selain karena semua harapan Galuh telah tercapai, dan juga karena Galuh telah dikelilingi banyak orang yang mencintainya. Dan hal selanjutnya, selain saya harus membawa pulang teman-teman saya ke dunia Manusia, saya merasa hancur melihat Galuh yang dalam kondisi seperti ini. “Ucap Adhit dengan sangat perih, yang kemudian membuat Gada Sangkara dan Ragadewa langsung menepuk pundak Adhit seakan sedang menguatkan Adhit.

“Apa kamu yakin?” Tanya Gada Sangkara sekali lagi, Adhit lalu menggangguk dengan sangat yakin.

“Kami tidak bisa memaksamu anak muda. Namun, bawalah terus kalung Sura Suradana bersamamu. Kapanpun kamu merindukan Galuh, kamu bisa kembali kapanpun kamu mau,” ucap Kakek Addar bijak.

Semua lalu memeluk Adhit secara bergantian, sehingga membuat Adhit yang biasanya bengal dan sering menertawakan banyak hal, kini malah menangis tersedu. Meninggalkan Astamaya, bukan hanya membuat Adhit kehilangan seseorang yang ia cintai begitu dalam, namun lingkungan yang menyambutnya seperti keluarga inti.

Hari perpisahanpun tiba, NaRaja yang telah terpisah dengan Galuh, kini memutuskan untuk membawa kawanan Ajagnya menuju Bukit Ruh. “Saya akan menyusul Hailana dan akan menetap di Leuweung Asmalaya, tempat dimana Hailana dan para Ruh tua tinggal.” Ucap NaRaja pasti.

NaRaja juga berkata, selama di Leuweung Asmalaya, ia akan menjadi jembatan antara Istana dan Kaum Ruh yang tidak pernah tersambung sejak Astamaya ada. Namun, setelah itu semua Ajag malah meledek NaRaja karena ia akan terus berdekatan dengan Hailana Sang Dewi Ruh.

NaRaja yang yang biasanya mengumpat panjang, dalam wujud sebagai Rakha Sadeli, kini hanya tersenyum sambil menggeleng. Sepertinya, selain memang berniat untuk menjadi jembatan antara Istana dan Kaum Ruh, hatinya juga telah mengakui, bahwa ia memang jatuh hati pada Hailana Sang Dewi Ruh.

Lalu adiknya, Soma Wisesa, bersama kekasihnya Nawang Wulan ternyata juga memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk dunia Manusia. Bahkan ke enam kakak Nawang Wulan dan ayah Nawangpun ikut bersama mereka.

Atas kesepakatan bersama, Istana Tujuh Pintu yang berisi Nawang Wulan diserahkan pada Soma Wisesa. Namun setelahnya, Soma malah menggabungkan kalung tempat ia bersemayam dengan Istana Tujuh Pintu, lalu merubah fungsinya.

“Perkenalkan.. inilah Asmaralaya, Kedai pemurnian jiwa,” ucap Soma Wisesa yang memperlihatkan sebuah kedai kopi tradisional, yang muncul perlahan dari balik kabut tipis. Sebuah kedai kopi khas Sunda, dengan dinding kayu, atap ijuk, dan penataan masa lalu yang begitu estetik. Melihat semua memandangnya dengan penuh tanya, Somapun meneruskan perkataanya.

“Ide ini berasal dari ide kedua kakak beradik manusia yang sempat membantu kita di Dunia Manusia, Adiba Shakeela dan Aleiyah Zahwa.” Ucap Soma Wisesa mengingatkan. Adhit dan para pemilik elemen lainnya langsung tersenyum karena sangat mengenal nama itu.

“Begitu sampai di dunia Manusia, saya akan sengaja menemukan mereka dulu, lalu memberikan banyak hadiah terimakasih khusus dari Astamaya tanpa mereka sadari.” Ucap Soma Wisesa penuh arti.

“Saat seseorang yang terpilih memasuki kedai Asmaralaya, mereka akan menemukan saya dan Nawang Wulan berjaga didepan.” Ucap Soma sambil memperlihatkan gambaran Soma Wisesa dan Nawang Wulan dengan tampilan wajah mereka yang memang seindah dewa dewi Kahyangan, namun di kedai ini, mereka memakai pakaian seperti seseorang yang hidup di masa kuno.

“Saat orang tersebut duduk, maka mereka akan memasuki dunia yang tercipta dari ilusi buatan para kakak Nawang Wulan.”  Kemudian gambaran beralih pada seorang Manusia sudah sangat putus asa. Sejenak Manusia tersebut akan terpesona pada keindahan visual dari tampilan wajah Soma Wisesa dan Nawang Wulan, setelah itu pada keindahan visual keenam kakak Nawang yang seakan mereka adalah pramusaji dan tamu disekitar kedai. Lalu setelahnya, Manusia tersebut terkesima dengan segala interior kedai yang benar-benar kuno, namun begitu indah memikat.

Setelah menerima kopi gratis dengan alasan sebagai hadiah pengunjung ke seratus, Manusia ini akan bertemu dengan ayah Nawang dengan segala pesan kebijakannya. Setelah itu, Manusia tersebut akan dikejutkan kembali karena  memasuki dunia masa lalu mereka. Saat para Manusia ini masih sangat muda dan begitu naif memandang dunia karean dipenuhi cita-cita besar.

Mereka akan memasuki sebuah dunia masa lalu mereka, dimana mereka yang masih mempunyai banyak harapan. Lalu saat harapan tersebut tercapai, dan menemukan banyak sekali kesulitan, sehingga Manusia tersebut putus asa. Maka mereka akan dikembalikan pada akar sebenarnya permasalahan tersebut dimulai. Apakah trauma masa kecil? Lingkungan yang begitu beracun? Atau bahkan kesalahan kecil yang ternyata berakibat fatal.

Begitu mereka menemukan titik terang, mereka pun pulang dengan bahagia. Jadi, orang tersebut tersadar seakan-akan ia tengah ketiduran dan bermimpi di kedai tersebut. Begitu orang tersebut pulang dengan bersemangat kembali untuk mengejar kembali dunia yang sempat ia hendak tinggalkan, kedai itu menghilang secara perlahan.

Dengan segala fasilitas yang bisa disajikan Istana Tujuh Pintu, Ilmu pengetahuan Soma Wisesa, kekuatan penyembuhan Nawang Wulan, dan ilmu ilusi ke enam kakak Nawang Wulan, dan ilmu kebijakan dari Ayah Nawang Wulan. Kedai kopi tradisional tersebut akan mengobati luka Manusia yang tersebut hingga luka dan traumanya sembuh. Termasuk luka yang disebabkan penyusupan Mudria yang dulu digerakan Kaum Hitam di dunia Manusia.

“Kedai Asmaralaya.. saya akan ingat nama itu ketika di dunia Manusia.” Ucap Adhit kembali senang.

“Kamu akan selalu bisa menemukan kami saat kamu membutuhkannya dhit, karena Kalung Istana Tujuh Pintu dan Kalung Sura Suradana pernah terkait satu sama lain. Sehingga ketika kamu membutuhkan kami, maka saat itu pula kamu akan muncul dihadapan kedai Asmaralaya sekalipun saat itu kami sedang ada tamu,” ucapan Soma Wisesa yang sontak membuat Adhit senang luar biasa.

Lalu Ragadewa, ia memutuskan untuk membantu Kahiyang Raga dalam mengumpulkan Kitab Sembilan yang masih terpencar di dunia Manusia.

“Kaum Hitam mungkin telah menghilang di Astamaya, tetapi sebagian kecil dari mereka masih tersebar di dunia Manusia. Maka saya dan Kahiyang memutuskan untuk memberantas mereka di Dunia Manusia.” Ucap Ragadewa penuh semangat.  Sepertinya, Ragadewa kini telah merelakan Galuh pada Adhit. Sejak ia menyelamatkan Kahiyang Raga di perang besar kemarin, mereka kini malah jadi sepasang kekasih.

Setelah berpamitan pada Galuh yang tampak tertidur pulas, semua saling berpelukan dengan sangat erat. Dengan diantar Gada Sangkara dan Kakek Addar, satu persatu meninggalkan Istana.

Tibalah waktunya Adhit pergi. Ia menoleh lagi pada Istana untuk terakhir kalinya. Memori Adhit kembali pada Galuh yang mulai ceria dan menampakan karakter aslinya. Galuh yang sering sekali kesal pada Adhit, bahkan tidak segan mencubit adhit berkali-kali. Namun perih itu mulai terasa lagi, Adhit benar-benar rindu Galuh yang galak dan selalu mencubit gregetan kepadanya.

Lalu dengan mengambil napas yang sangat panjang, Adhit kembali ke Dunia Manusia sambil membawa teman-temannya pulang. Adhit dan teman-teman satu Bandnya adalah teman sejak kecil di panti asuhan, persahabatan mereka akan membuat rahasia tentang Astamaya tidak akan pernah bocor dari mulut mereka bahkan sampai mereka mati.

Setelah Adhit dan kawan-kawan menjalani kembali kegiatan mereka yang sebelumnya digantikan sementara oleh utusan Istana, Band mereka semakin melejit hingga akhirnya mereka tour keseluruh pelosok bahkan luar Indonesia. Namun karena patah hati yang terlalu dalam, disertai rasa bersalah dan kerinduannya pada Galuh, Adhit akhirnya malah memutuskan keluar dari Band.

Teman-temannya sempat melarang, tetapi melihat Adhit yang semakin kacau, mereka akhirnya mengijinkan dan band mereka vakum untuk beberapa waktu, hingga mereka siap mengambil pengganti Adhit.

Ditengah kekalutannya, Adhit malah memilih menjadi penulis novel fantasy sesuai pengalaman yang ia dapatkan di Astamaya. Karena dengan itu, ia selalu merasa terkoneksi dengan Galuh.

Kadang Adhit bertemu dengan Ragadewa yang mulai berani menampakan diri pada khalayak, karena kakeknya telah tewas di perang besar kemarin. Mereka bahkan kadang bertemu di forum-forum penulis bersama Kahiyang yang juga menjadi managernya.

Saat bertemu, mereka akan saling bertukar ide tentang konsep penulisan. Namun, bila hanya mereka bertiga, maka mereka akan berbicara banyak tentang masa saat mereka masih mencari pecahan dari batu Hyang Sawarga.

Satu tahun pun berlalu, Adhit yang sedang menulis di café pantai, tiba-tiba saja mengelus kalung sura suradana yang ia pakai dengan rasa perih. Entah mengapa, pulang ke dunia Manusia malah membuatnya semakin merindukan Galuh.

“Saya merindukanmu Galuh..” ucap Adhit dengan luka yang sangat mendalam.

“Saya juga..” sebuah suara membuat Adhit terhenyak.

Saat Adhit menoleh, ia langsung berteriak karena saking tidak percaya dengan yang ia lihat. Adhit mendapatkan Galuh sudah duduk di kursi sebelahnya di café Pantai

Belum hilang terkejutnya, tiba-tiba disampingnya sudah ada Gada sangkara yang tengah menggandeng Subhita, Ragadewa yang menggengam tangan Kahiyang raga, dan Soma Wisesa dengan Nawang Wulan yang menyender pada bahunya.

Adhit yang masih terkejut tidak mengerti, ia lalu menggengam tangan Galuh seakan memastikan bahwa itu bukan mimpi. Namun Galuh malah membantunya dengan mencubit pipi Adhit, akibatnya semua langsung tergelak karena Adhit mengaduh keras sekali.

Mengetahui bahwa Galuh nyata, Adhit langsung menarik Galuh sambil tersedu hebat. Begitu tangis Adhit reda, Galuh akhirnya mengatakan, “Kami butuh penasihat untuk Istana, dan penasihat terbaik yang pernah kami temui hanyalah kamu. Ikutlah kembali ke Astamaya, kami sangat membutuhkan ide-ide gila yang biasa keluar dari mulut kamu,” ucapan Galuh membuat semuanya terkekeh.

Adhit yang masih mencerna apa yang terjadi, membuat Galuh tersenyum lalu berkata. “Saat serangan terakhir, Saguri memang membuat otak saya menjadi sangat rusak parah. Namun, yang membuat saya kembali seperti ini, kujang peninggalan ayahanda yang ternyata pemberian Guru Candrakara. Ada sebuah batu yang tadinya saya anggap penghias saja, ternyata adalah batu Manik Gumilang.” Ucap Galuh sambil memperlihatkan batu penghias Kujang tersebut pada Adhit.

“Manik Gumilang adalah batu yang berasal dari pecahan Hyang Sawarga. Energi yang terdapat dari Manik Gumilang, membuat kondisi Galuh kembali menjadi pulih, utuh seakan tidak pernah terkena serangan apapun.” Ucap Gada Sangkara yang membuat Adhit terkejut luar biasa.

“Memang membutuhkan waktu yang agak lama sehingga saya sempat mengalami koma, tetapi lihatlah sekarang,” ucap Galuh ceria. Adhit yang tidak tahu harus berkata apa, ia malah menangis kembali.

Adhit tiba-tiba teringat, saat mereka semua dibawa kembali ke masa lalu oleh Cahya Natraprawira, dan kemudian bertemu dengan Guru Candrakara. Saat harus kembali pulang, Guru Candrakara menepuk Pundak Adhit sambil berkata, “tenang, Galuh akan baik-baik saja,” Adhit pikir itu hanya ucapan penyemangat saja, tapi ternyata hal tersebut sudah ada dalam penerawangan Guru Candrakara.” Adhit lalu menggeleng dengan sangat tidak percaya.

Saat Adhit menyampaikan ini pada semua, Soma Wisesa terkejut lalu berkata, “Si Gila itu, padahal sudah tewas seribu tahun yang lalu, bahkan batu Hyang Sawarga sendiri telah lama lenyap, namun ia masih membuat kita terkejut dengan segala tidakannya sampai hari ini Hahaha!” ucap Soma Wisesa menggeleng, yang lalu disambut tawa kekeh mengiyakan dari yang lainnya

Tanpa menunggu lama, Adhit langsung setuju ikut kembali ke Astamaya.

“Eiiits… tapi sebelum pulang, kita nikmati dunia Manusia dulu ya, saya kangen baksooo… ” ucap Galuh di iringi tawa gelak dari semua.

-Tamat-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir