Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat sedang
memantau sekitar, Galuh mendadak tersentak! Dari balik rimbunnya semak dan
pepohonan, ia melihat seorang pemuda bersembunyi dibalik bebatuan besar dengan
takut.
“Sedang apa malam-malam
begini manusia ada di wilayah kami?” pikir Galuh heran sekaligus waspada. Merasa
ada yang tidak beres, Galuh segera menatap sekitar untuk mencari penyebab,
namun ia tidak menemukan kejanggalan apapun.
Galuh menatap kembali pada pemuda tadi. Wajahnya
tampak pucat dengan raut penuh ketakutan. Namun tak lama, tanah dibawah kakinya
tiba-tiba bergetar hebat. Kerikil-kerikil sekitar saling melompat liar, dibarengi
datangnya hawa dingin yang menyeruak paksa, kini Galuh tahu siapa yang membuat
pemuda ini begitu sangat ketakutan.
“Dwasa sialan,
sedang apa dia disini!” umpat Galuh dengan geram, setelah itu ia segera menaiki
Ajag atau Monster anjing hutan berbulu kasar setinggi dirinya.
Dengan perlahan
ia membawa Ajagnya mengendap menuju tempat pemuda tersebut berada. Saat sudah
dekat, dengan secepat kilat, Galuh segera menarik naik pemuda tersebut pada
Ajagnya, yang lalu ia bawa lari sejauh mungkin.
Setelah merasa
telah dekat dengan pintu perbatasan menuju dunia manusia, perlahan Galuh
memperlambat lari Ajagnya agar pemuda yang ia bawa tidak terlalu panik.
“Kamu bisa
membuka matamu sekarang, tenang saja, kamu akan segera selamat.” Ucap Galuh
sambil tetap melarikan Ajagnya dengan kecepatan yang sudah diturunkan.
Galuh berencana,
begitu sampai di pintu perbatasan ia akan mengembalikan pemuda ini dulu, lalu
kembali ketempat semula untuk mencari tahu apa yang sedang Dwasa cari disana.
Namun ditengah
perjalanan, Galuh terkejut akan sengatan energi yang terasa sangat kuat! Benar
saja, saat menoleh, ada sebuah kelebatan bayangan hitam berasap ikut berlari
mengiringi mereka. Bayangan tersebut kemudian menyusulnya berlari dengan
kecepatan mengejek, kadang di depan, kadang menyelaraskan kecepatan.
“Dwasa sialan!
mengapa energinya jadi terasa kuat seperti ini!” umpat Galuh heran sekaligus kesal.
Ajag yang ditumpangi merekapun mulai menggeram kesal, namun Galuh segera
mengusap belakang kepala Ajagnya agar ia tetap konsentrasi dan terus berlari.
Galuh menepuk
Ajagnya agar menambah kecepatan, tetapi bayangan hitam tersebut malah semakin
mengejeknya dengan berlari zig zag. Lalu dengan tiba–tiba, “Whoaaaah!” mendadak
bayangan tersebut menghadang mereka disertai seringai menyeramkan. Sontak
mereka semua terguling karena Ajag yang mereka tumpangi terkejut!
“Sial!” teriak
Galuh geram, karena Ajag yang mereka tumpangi mengerem secara mendadak. Galuh
segera bangun sambil mengeluarkan sepasang kujang dengan posisi siaga. Sedangkan
pemuda yang ia bawa, malah tersungkur dengan posisi jungkir balik, untung hanya
cedera ringan.
Ketika mencoba
berdiri lagi, mata pemuda ini menangkap sesuatu yang sangat ia kenal. “Tidaaak!”
teriak pemuda ini dengan lutut lemas. Karena ternyata, bayangan hitam berasap inilah
yang baru saja melahap beberapa sahabatnya.
Pemuda ini kembali
terkejut ketika menyadari mahluk dihadapannya bukan hanya berupa gumpalan asap,
melainkan sesosok pria berasap kurus menyedihkan yang terbalut pakaian hitam
mengikat begitu ketat.
Ditambah kepala
botaknya yang hanya ditumbuhi beberapa rambut jabrik tipis, sepasang mata berkelopak
tersobek dan deretan gigi yang sangat jelek, benar-benar membuat siapapun yang
melihat akan mengernyit sangat ngeri.
Sekalipun
gumpalan asap terus menyembur dari tubuhnya kesana kemari, namun anehnya, asap yang
menyeruak kesana kemari memendar saat melewati wajahnya yang jelek. Pantas saja,
biarpun dalam kegelapan, seringai mahluk asap ini tetap terlihat jelas. Bagi
pemuda ini, mahluk berasap ini benar-benar perwujudan mimpi buruk yang mengerikan.
“Ghaluuuhhh…
Aaaah.. Khanaayhaa Ghalhuuuh… lama tidak bertemhuu…” ucap Dwasa si mahluk asap dari
mulut tersobeknya. Lalu Dwasa menunduk hormat, namun matanya tetap menatap
Galuh dengan pandangan mengejek.
Ketika ia hendak
mulai berbicara lagi, terlihatlah jelas kedua sisi mulutnya yang tersobek tidak
simetris, melengkungkan senyum dengan menjijikan!
“Khau
mherindukankhuuuu….”ucapnya lagi disertai gema suara serak berangin, yang lalu
disusul lengkingan tawa memekikan telinga. Mahluk asap ini bukan hanya membuat
sakit dari setiap mata yang melihat, tetapi meracuni setiap telinga yang
mendengar.
Galuh menatap
mahluk asap dihadapannya dengan pandangan marah, “Dwasa! apa yang kamu lakukan
disini! Ini bukan wilayahmu!” teriak Galuh sambil mengepal tangan dengan keras,
disusul sepasang kujang melayang-layang di atas Galuh seakan sedang menahan
diri.
Mahluk yang
dipanggil Dwasa ini mulai menyeringai senang, ia merasa telah menemukan celah
yang ia tunggu. Sambil merenggangkan jari jemari kurus berasapnya, dengan melangkah
santai ia berkata, “akhu dhataang kharena mherindukanmhuu shayaang…” ucap Dwasa
yang lalu mengikik lagi dengan menyebalkan, nada suaranya benar-benar sangat
mengejek.
Ajag disamping
Galuh menggeram semakin kesal. Cakar tajamnya mulai menggaruk-garuk tanah
dengan tidak sabar, dengan mata garang, ia seakan tampak bersiap merobek mahluk
hitam berasap ini hingga tidak berbentuk lagi. Namun Galuh menyentuh bahu kaki
depan Ajagnya agar tetap menahan emosinya.
“Ghalhuhh
shaayaang… sherahkan phemuda ithu, lalhu bergabhunglah dengankhu,” ucap Dwasa
dengan langkah mendekat pada pemuda tersebut, namun segera dihalangi Galuh dan
Ajagnya dengan sigap.
Melihat Galuh mulai
melayangkan sepasang kujangnya seakan bersiap untuk mencabik, Dwasa si mahluk
asap malah mengikik semakin menyebalkan.
“Ayholah
shayaang… inhi yhang khita dhapatkan bhila khita bhershatu… ”ucap Dwasa sambil
merentangkan kedua tangannya yang kurus menyedihkan.
Tak lama asap
menyembur dari kedua lengannya yang lalu membuat sebuah siluet kasar tentang pemuda
yang Galuh bawa sedang di ikat, lalu Dwasa si mahluk asap menginjaknya dengan
angkuh. Setelah itu scene beralih pada seluruh dunia manusia yang tengah
dikuasainya bersama dia dan Galuh.
“Kau hanya
membuang waktu Dwasa! enyahlah!” potong Galuh galak sambil perlahan mendekat
pada pemuda yang ia coba selamatkan.
“Tungghuu..ahahahaha…!”
Ucap Dwasa sambil mengeluarkan kerikil berasap hitam dari jari jemarinya yang
kurus. Kerikil berasap itu berlarian, yang lalu saling berlomba untuk membelah
jarak antara Galuh dan pemuda tersebut.
Lalu dengan sigap,
Galuh mengendalikan layangan sepasang kujangnya untuk menangkis kerikil-kerikil
hitam yang hampir mengenai dirinya dan pemuda yang ia bawa. Sekalipun tidak
terkena, bulu kuduk leher Galuh dan pemuda tersebut seakan berdiri karena
tengah merasakan hawa dingin kerikil yang begitu kelam dan menakutkan.
“Dwasa!” teriak
Galuh lagi mengembalikan sepasang kujangnya pada genggamannya, tetapi kini
kedua matanya mulai mengeluarkan cahaya kemerahan yang lalu kembali menghilang.
Melihat itu,
mata Dwasa malah membulat berbinar. Ia seakan mendapatkan sesuatu yang tengah
ia nantikan.
“Ayhoo..
kheluarlaaah….” ucap Dwasa sambil melentikan jari jemari kurusnya dengan tidak
sabar. Mata Dwasa semakin melebar saat mata Galuh kembali bersinar lebih terang.
“Dwasa..!
pergilah sebelum saya cabik hingga kamu menyesal bahwa telah dilahirkan!” ucap
Galuh yang kini telah dibarengi sebuah suara lain.
Pemuda disampingnya menoleh dengan terkejut. Secara
refleks, ia menggeser tubuhnya karena tiba-tiba muncul beberapa bayangan Ajag yang
muncul dari balik kabut asap di belakang Galuh. Namun tak lama kabut tersebut kembali
hilang membuar seakan terbawa angin.
“Ayhoo..
kheluarlah NaRaja phengechhut!, kheluarlah bhersama shaudara-saudaramhu yang
tidak berghunaa, jhangan hanya bhisa bhersembunyi dibhalik thubuh anhak
pherempuan, dhasarr thidak bergunna! Huahahahaha… ”ucap Dwasa lagi sambil tertawa
menyebalkan. Lengkingan tawanya benar–benar sangat mengganggu.
”Dwasa! kau
benar–benar ingin mati!” ucap Galuh marah yang kembali dibarengi suara lain. Namun kini suara yang bersamanya terdengar
lebih besar dan bergema kasar mematikan.
Beberapa
geraman dan lolongan mengerikan mulai muncul saling bersahutan. Lalu timbulah
kembali kabut asap transparan tadi, yang kini memunculkan bayangan tiga Ajag lagi
dengan ukuran yang lebih besar dari yang tadi Galuh bawa. Mereka keluar satu
persatu dengan geraman yang saling bersahutan, lalu berdiri dibelakang Galuh
dengan gagah perkasa!
Bulu mereka
begitu acak dan kasar, geraman berat melalui taring–taring tajam, menemani cakar
yang terus menggaruk haus darah.
Namun seketika
Galuh tersadar, “tidak.. jangan sekarang! ada manusia disini!” ucap Galuh panik
saat muncul lagi sebuah bayangan Ajag yang besarnya dua kali lipat dari para
Ajag tadi.
Dengan cepat
Galuh menarik pemuda tersebut ke atas Ajag terkecil. Lalu segera berlari
secepat mungkin, meninggalkan ketiga Ajag lainnya yang siap menyerang Dwasa si
mahluk asap dengan brutal.
“Apa yang
terjadi!” ucap pemuda tersebut mencoba mencerna apa yang tengah terjadi “diamlah!”
ucap Galuh sambil terus melarikan Ajagnya dengan menambah kecepatan.
Setelah melewati
pintu perbatasan dunia manusia, Galuh dengan segera menurunkan pemuda yang ia
bawa. “Teruslah berjalan kedepan dan pulanglah, anggap semua ini hanya mimpi
buruk dan jangan pernah kembali!” ucap Galuh sambil berbalik untuk menuju tempat
tadi.
“Saya tidak
bisa pulang, teman–teman satu band saya dilahap mahluk tadi, apa yang bisa saya
jelaskan pada perusahaan label dan keluarganya bila saya kini pulang
sendirian!” teriak pemuda ini berteriak putus asa.
Kejadian hari
ini membuat pemuda tersebut hilang arah, tetapi Galuh berbalik tidak perduli. Namun,
saat hendak pergi, tiba-tiba Galuh menghentikan langkah Ajagnya dan menolehkan
kepalanya dengan cepat, “apa!” ucap Galuh seperti menyadari sesuatu.
“Mahluk asap
licik! jadi ini tujuanmu sebenarnya!” umpat Galuh sambil loncat turun dari
Ajagnya. Setelah memberi segel pada lengan pemuda tersebut, Galuh segera membawanya
naik lagi ke atas Ajagnya lagi sambil berkata “ayo ikut!”
Belum sempat
pemuda ini mengerti dengan apa yang terjadi, pemuda ini kembali tercekat karena
setelah dibawa lari dengan kecepatan yang sangat tinggi, mereka malah berhenti
di sebuah sisi tebing yang begitu tinggi dan gelap.
“Ini dimanaa.. !”
Teriak pemuda tersebut panik!
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar