Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir

“Anak muda, dari mana kamu berasal?” Kakek Tua tersebut akhirnya bersuara kembali. “Jakarta Kek..” jawab Adhit gugup, karena Kakek tua tersebut kini memandangnya semakin seksama. Mendengar jawaban Adhit, kening kakek tua tersebut kini malah berkerut heran.

“Pendahulu kami telah membuat wilayah kami tersegel dengan sangat kuat. Tidak ada yang dapat memasuki wilayah ini kecuali kaum kami sendiri. Bagaimana bisa, kalian para Manusia, dapat masuk dengan mudah kedalam segel wilayah kami?” ucap Kakek Tua tersebut sambil meletakan tanaman yang ia pegang, keningnya semakin berkerut karena tidak mengerti.

Mendengar hal tersebut, Adhit malah ikut terkejut. “Ini adalah Wilayah tersegel?” ucapnya refleks, lalu ia mencoba mengingat-ingat yang terjadi hari itu.

“Entahlah Kek, setelah tour band kami selesai dan sangat sukses, kami diberi bonus berupa perjalanan dari sponsor kami.” Ucap Adhit sambil terus mengingat-ingat.

“Saat kedatangan pertama kali, tidak ada sesuatu yang aneh. Kami datang menggunakan mobil yang juga disediakan pihak sponsor, setelah itu kami tertidur. Begitu terbangun, kami sudah berada didepan sebuah Villa kecil yang dikelilingi pemandangan pegunungan yang sangat indah.” Ucap Adhit lagi sambil terus mengingat-ingat.

“Kalian semua tertidur? begitu terbangun langsung melihat pemandangan pegunungan? jadi dalam perjalanan, kalian tidak melihat dibawa masuk kedalam wilayah Baduy luar?” tanya Kakek Tua tersebut heran.

“Wilayah Baduy luar? Tidak Kek, kami semua tertidur pulas.” Jawab Adhit yakin. “Kamu yakin anak muda?” tanya kakek tua itu sekali lagi. “Yakin sekali kek..” ucap Adhit semakin yakin.

“Pihak label justru menyampaikan, untuk menghargai kerja keras kami karena berhasil meraih kesuksesan di awal debut, kami diundang untuk berlibur di tanah milik seorang sponsor kami, seorang milyuner muda, dan itu bukan Wilayah Baduy.” Jawab Adhit lagi dengan yakin.

Kakek Tua tersebut tampak mengulang kata-kata Adhit dikepalanya, seakan sedang mencoba menerka apa yang telah terjadi.

“Namun malamnya, ketika sedang mengobrol santai di ruang tengah. Penjaga Villa yang kami tempati, tiba-tiba berubah menjadi mahluk berasap yang sangat menakutkan. Dengan brutal ia menelan kawan-kawan saya satu persatu, lalu mengejar saya seperti hewan buruan.” Adhit berhenti sebentar karena bergidik ngeri.

“Hmm.. saya mengerti sekarang, sepertinya ini semua sudah direncanakan. Mereka benar-benar ingin membuat dunia manusia kacau balau.” terka kakek Addar seakan mendapatkan titik terang.

“Dunia manusia? apa anda bukan manusia?” tanya Adhit kaget.

“Kami manusia, hanya saja ada sesuatu hal membuat kami dianugrahi energi lebih besar dari kalian. Kami biasa disebut sebagai, Kaum Astamaya, yang artinya kaum dari tanah yang hilang.” Ucap Kakek Tua tersebut bijak, lalu ia berjalan menghampiri Adhit.

“Energi yang lebih besar? maksudnya apa Kek?” tanya Adhit lagi semakin penasaran. “Lihatlah ini,“ kemudian Kakek Tua tersebut menggerakan kedua tangannya perlahan. Botol obat yang tadi Adhit letakan, tiba-tiba terbang melayang bebas kekanan dan kiri, sesuai arahan tangan Kakek Tua tersebut.

“Woah..!” mata Adhit membulat karena takjub.

“Lalu ini,” ucap Kakek Tua itu lagi sambil merentangkan kesepuluh jari jemarinya. Membuat debu sekitar menjadi Monster dengan seringai yang siap melahap. Adhit yang saat itu tidak siaga, langsung terjungkal kebelakang.

Setelah itu Kakek Tua tersebut malah terkekeh sambil mengibaskan kedua tangannya. Bayangan monster tersebut kembali menjadi debu, lalu setelah itu menghilang terbawa angin.

“Apa itu sejenis Mudria?” ucap Adhit dengan panik, rautnya begitu ketakutan.

“Bukan” jawab Kakek Tua tersebut dengan tenang. “Ini energi murni dasar yang dihasilkan tubuh kami. Gelombang dari kepala kami dapat mengendalikan beberapa partikel yang ada di bumi, lalu membentuknya menjadi objek yang kami inginkan, “ucap Kakek Tua tersebut sambil memperagakan pengambilan energi dasar dengan sangat menakjubkan.

“Maka, semakin besar energi seseorang dari kaum kami, semakin kompleks pula sistem pengaturan yang mereka punya dalam mengendalikan partikel. “Ucap Kakek Tua tersebut, yang lalu berubah objek yang tadinya sederhana, menjadi beberapa bentuk yang lebih kompleks.

“Jadi.. para Anjing hutan besar yang muncul dibelakang Galuh, adalah partikel yang dikendalikan juga? Itu hebat sekali!” ucap Adit sangat takjub.

“Aah.. bukan, mereka bukan berasal partikel dari alam sekitar, tetapi berasal dari Ruh Hitam. Hampir sedikit mirip Mudria, namun energinya lebih spesifik dan sangat besar. Mereka adalah energi hitam yang seharusnya tidak dimiliki Galuh,“ ucap Kakek tersebut dengan pandangan menerawang, namun setelah itu ia malah terkejut dengan kata–katanya sendiri.

Kakek Tua ini seakan menyesali apa yang baru saja ia ucapkan pada Adhit. Dengan segera ia beranjak untuk segera pergi. Namun saat melewati Adhit, Kakek ini malah terpaku pada kalung yang tersembul dari balik kemeja Adhit.

Saat Kakek tua tersebut seperti hendak bertanya, namun entah mengapa ia malah memilih meneruskan jalan menuju pintu keluar.

“Maksudnya Kek?” tanya Adhit penasaran karena kalimat yang menggantung begitu saja. Ditanya seperti itu, Kakek tua tersebut malah terus berjalan, lalu meninggalkan Adhit sendirian dalam ruang yang gelap.

Kini Adhit sendirian. Namun, rasa takutnya kini teralihkan oleh berbagai pertanyaan yang mulai menjejali kepalanya. “Energi yang seharusnya tidak dimiliki Galuh? apakah sebuah energi terlarang?” tanya Adhit pada dirinya sendiri. Akhirnya Adhit memilih menunggu Galuh di luar ruangan karena lebih hangat dan terang.

Begitu Galuh datang menjemput, bukannya senang, mata Adhit malah terbelalak kaget. “Apa yang kamu sudah lakukan ditengah malam begini?” tanya Adhit heran begitu mendapati Galuh datang dengan sangat basah kuyup.

Lumpur menempel dihampir diseluruh tubuh Galuh, kecuali wajah dan rambutnya. Bahkan ada ular merayap dibelakang punggung Galuh.

“Hanya memeriksa beberapa segel di dalam Sungai,” ucap Galuh tenang sambil menghempaskan ular tersebut kearah samping, yang lalu berlari masuk kedalam sela-sela tanaman hias sekitar aula.

“Masuk kedalam sungai? malam-malam begini?” ucap Adhit semakin terbelalak tidak percaya.

“Ayo ikut, akan saya tunjukkan di mana kamu tidur malam ini,” ucap Galuh seakan tidak mengidahkan reaksi Adhit. “Apa tidak sebaiknya kamu ganti baju dulu sebelum menjemput saja?” namun Galuh tetap tidak mengidahkannya sambil kembali menuntun jalan di depan, sontak Adhit langsung berlari untuk mensejajari langkah Galuh yang agak cepat.

Ketika hendak bertanya lagi, entah mengapa Adhit merasa ada yang bergerak dibelakang mereka. Ketika Adhit menoleh kebelakang, ia hampir terlonjak karena mendapati beberapa kelinci betina berkebaya mojang, begitu sibuk membersihkan lantai dengan cepat.

Belum hilang kagetnya, ia malah ditegur oleh salah satu kelinci. “Ayo.. teruslah berjalan, lantainya mau kami pel nih!” ucapan kelinci tersebut, sontak membuat Adhit refleks berlari menyusul Galuh yang sudah berjalan agak jauh.

“Lama-lama saya bisa mati karena terkejut, oh Tuhan..mereka itu sejenis binatang atau apa sih?” ucap Adhit sangat kaget, namun Galuh tidak berkata satu patah katapun. Galuh naik ke atas tangga, menuju balkon indah yang sempat Adhit kagumi saat pertama kali datang.

Tiba-tiba Galuh berhenti di salah satu pintu dan membukanya, “ini tempat untuk kamu tidur malam ini, selamat malam!” ucap Galuh dingin. Setelah itu ia segera berlalu meninggalkan Adhit begitu saja.

Mendapati hal itu, Adhit hanya bisa pasrah melihat Galuh yang berjalan semakin menjauh. Hembusan angin yang terasa semakin dingin, memaksa Adhit untuk segera masuk ke dalam ruangan.

Namun, saat berada di dalam kamar, Adhit kembali terkejut! Untuk ukuran sebuah kamar yang berada dalam gua antah berantah, kamar ini benar-benar amat sangat nyaman. Bagaimana tidak, setelah Adhit terkesima dengan dekorasi kamar yang dihiasi ukir etnik khas Cirebon. Matanya kini malah terpaku pada sebuah tempat tidur kayu jati tua yang berukiran senada.

“Akhirnyaaa..!!” teriak Adhit senang karena seluruh tubuhnya sudah terlalu lelah.

Kasur tebal dan bantal-bantal besar lagi empuk, lalu ditambah balutan seprai dan sarung bantal katun halus bercorak batik ciamis yang beraneka warna, benar-benar menggodanya untuk segera melepas lelah.

Namun saat kulitnya menyentuh kain seprai, “ah.. !” ucap Adhit refleks. Ia baru sadar bahwa lengan dan kakinya ternyata dipenuhi banyak luka gores.

“Pasti ini karena jatuh terguling saat dikejar Dwasa si mahluk asap tadi. Aaah.. ini perih sekali!” ucap Adhit ketika menyentuh beberapa luka.

“Maaf.. biar kami obati,” sebuah suara membuat Adhit terkejut.

Namun saat menoleh, Adhit malah lebih terkejut lagi. Tiba–tiba dari luar ruangan muncul beberapa kucing memakai seragam kebaya encim polos, yang dipadukan dengan bawahan selutut dari kain batik cerah khas Indramayu. Mereka memasuki ruangan sambil membawa beberapa nampan kayu ukuran sedang dan besar.

“Oh Tuhan, apa lagi ini?” ucap Adhit pelan sambil mengelus dadanya perlahan.

Ia melongokan kepalanya sehingga terlihatlah apa yang dibawa oleh para kucing ini. Satu nampan berisi botol obat, kapas, dan beberapa gulungan perban. Satu nampan lagi dua baskom kecil berisi air hangat berbau rempah, lalu sisanya membawa satu baskom besar berisi air hangat dengan aroma rempah lembut menenangkan.

“Kalian siapa?” ucap Adhit setelah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.

“Kami perawat yang bertugas hari ini, Tuan Addar menugaskan kami untuk segera mengobati anda,” ucap salah satu kucing sambil memeriksa luka pada lengan dan lutut Adhit dengan teliti.

Adhit semakin terpana, para kucing ini bukan hanya berbicara dan berjalan seperti layaknya manusia, tetapi juga begitu cekatan dan sangat terlatih.

“Tuan Addar.. siapa dia?” tanya Adhit lagi dan membuat para kucing jadi saling menoleh.

“Anda tidak tahu? yang tadi anda temui diruang pertemuan besar adalah Tuan Addar, seorang kakek berjanggut putih,” ucap mereka heran. “Ooh.. Kakek Tua tadi.. “ ucap Adhit sambil mengangguk-angguk.

“Jangan takut, ini hanya perih sebentar.“ Ucap salah satu kucing, yang lalu menyeka kulit agar bersih sebelum ditetesi obat herbal yang mereka bawa. Saat para kucing tengah sibuk menyeka luka dan mengobati, tiba–tiba Adhit teringat perkataan Kakek Addar tadi.

“Boleh saya tanya sesuatu yang penting?” ucap Adhit memberanikan diri. ”Silahkan, semua tamu Nona Galuh danTuan Addar, adalah tamu kehormatan untuk kami.“ Ucap salah satu kucing ramah sambil menyeka lengan dan kaki Adit yang kotor karena terguling tadi.

Perih sebentar namun setelah itu hilang. Adhit agak terkejut dengan efek obatnya, namun kepalanya mengingatkan untuk segera kembali pada tujuan awal.

“Kakek tua eh.. maksud saya, Kakek Addar tadi berkata, energi yang Galuh miliki adalah energi terlarang, maksudnya apa ya?” tanya Adhit penasaran.

“Tuan Addar mengatakan hal itu pada anda? “ucap salah satu kucing dengan mata membulat. Kemudian ke empat kucing yang lain saling memandang dengan terkejut.

Salah satu kucing berbisik kepada yang lain, “ini adalah rahasia, seharusnya orang asing tidak pernah tahu.” Empat diantaranya mengangguk setuju.

Lalu salah satu kucing yang tidak ikut mengangguk berkata, “bukankah Tuan Addar memberitahunya, itu tandanya ia memang layak dipercaya,” lalu tiga diantaranya mengangguk setuju. Karena ucapan inilah, akhirnya salah satu kucing mendekati Adhit sambil setengah berbisik.

“Ketika Nona Galuh kecil, ia disisipi Ruh hitam milik lima Tetua Hitam yang berhasil tertangkap oleh pihak Istana. Para Tetua ini ditangkap karena berusaha merampas Batu Hyang Sawarga yang disimpan di Istana, untuk menaklukan Astamaya dan menguasai dunia Manusia.” Ucap kucing tersebut sambil menetesi kapas dengan ramuan beraroma lebih kaya rempah dari ramuan sebelumnya.

“Kabar yang berhembus, Nona Galuh hendak dijadikan semacam alat untuk mengantarkan lima Ruh hitam untuk mengacau didalam istana.” Ucap salah satu kucing yang lain perlahan, sesekali ia menoleh seakan takut diketahui oleh seseorang diluar kamar.

Adhit sangat terkejut, “disisipi Ruh hitam? seperti yang terjadi pada lengan saya sekarang?” tanya Adhit semakin penasaran.

“Tidak Tuan, Mudria yang diselipkan pada anda hanya berupa satu Ruh kecil. Hanya bisa membuat orang–orang yang dirasukinya berperilaku seperti kerasukan, marah tidak terkendali sampai anarki,” ucap salah satu kucing sambil membalut lengan dan dada Adhit dengan perban.

“Benar, Mudria di lengan anda hanya sanggup menulari sampai seratus orang saja. Setelah itu ia akan hilang menguap, tidak lebih.” ucap kucing disebelahnya sambil melihat ke arah pintu. Setelah merasa masih aman, ia pun melanjutkan bisikannya lagi.

“Tetapi milik Nona Galuh, adalah lima Ruh monster anjing hutan yang berasal dari ribuan Ruh jahat yang telah dipadatkan. Kami kaum di tanah sunda biasa memanggilnya sebagai Ajag. Para Ajag raksasa ini bukan hanya mempora–porandakan saja, tetapi seluruh isi kota akan rata menjadi serpihan debu dalam hitungan waktu yang amat sebentar,” bisiknya lagi sambil membalut kaki Adhit dengan hati–hati, tangan mereka tampak sangat terlatih.

Saat Adhit hendak bertanya lagi, tiba–tiba mereka berkata,“maaf, pekerjaan kami telah selesai, kami mohon diri,” ucap para kucing sambil menunduk sopan sambil berbenah, setelah itu mereka segera berlalu.

Rasanya segudang pertanyaan mulai menjejali kepala Adhit, namun sumber informasinya kini telah menghilang dengan cepat. Kini yang bisa ia lakukan hanya melihat seluruh lukanya telah terbalut dengan sangat rapi.

Saat Adhit menoleh kearah samping, matanya langsung terbelalak. Ternyata ada satu nampan lagi yang terlewatkan oleh matanya.

Satu nampan yang berisi satu gelas bajigur hangat, kukusan ubi madu cilembu yang masih mengepul, dan satu stel pakaian bersih. Sepertinya tadi, Adhit terlalu terpana melihat para kucing ini, membuat hidangan selezat ini terlewat begitu saja.

Tanpa menunggu lama, dengan cepat Adit segera mengganti pakaian. Setelah itu meminum bajigur hangatnya dengan suka cita, dan memakan sedikit ubi madu cilembu, lalu tak lama rasa kantuk datang menghebat.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir