Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Anak muda,
dari mana kamu berasal?” Kakek Tua tersebut akhirnya bersuara kembali. “Jakarta
Kek..” jawab Adhit gugup, karena Kakek tua tersebut kini memandangnya semakin
seksama. Mendengar jawaban Adhit, kening kakek tua tersebut kini malah berkerut
heran.
“Pendahulu kami
telah membuat wilayah kami tersegel dengan sangat kuat. Tidak ada yang dapat memasuki
wilayah ini kecuali kaum kami sendiri. Bagaimana bisa, kalian para Manusia, dapat
masuk dengan mudah kedalam segel wilayah kami?” ucap Kakek Tua tersebut sambil
meletakan tanaman yang ia pegang, keningnya semakin berkerut karena tidak
mengerti.
Mendengar hal tersebut,
Adhit malah ikut terkejut. “Ini adalah Wilayah tersegel?” ucapnya refleks, lalu
ia mencoba mengingat-ingat yang terjadi hari itu.
“Entahlah Kek,
setelah tour band kami selesai dan sangat sukses, kami diberi bonus berupa perjalanan
dari sponsor kami.” Ucap Adhit sambil terus mengingat-ingat.
“Saat kedatangan
pertama kali, tidak ada sesuatu yang aneh. Kami datang menggunakan mobil yang juga
disediakan pihak sponsor, setelah itu kami tertidur. Begitu terbangun, kami sudah
berada didepan sebuah Villa kecil yang dikelilingi pemandangan pegunungan yang
sangat indah.” Ucap Adhit lagi sambil terus mengingat-ingat.
“Kalian semua
tertidur? begitu terbangun langsung melihat pemandangan pegunungan? jadi dalam
perjalanan, kalian tidak melihat dibawa masuk kedalam wilayah Baduy luar?”
tanya Kakek Tua tersebut heran.
“Wilayah Baduy
luar? Tidak Kek, kami semua tertidur pulas.” Jawab Adhit yakin. “Kamu yakin
anak muda?” tanya kakek tua itu sekali lagi. “Yakin sekali kek..” ucap Adhit
semakin yakin.
“Pihak label justru
menyampaikan, untuk menghargai kerja keras kami karena berhasil meraih
kesuksesan di awal debut, kami diundang untuk berlibur di tanah milik seorang
sponsor kami, seorang milyuner muda, dan itu bukan Wilayah Baduy.” Jawab Adhit lagi
dengan yakin.
Kakek Tua
tersebut tampak mengulang kata-kata Adhit dikepalanya, seakan sedang mencoba
menerka apa yang telah terjadi.
“Namun
malamnya, ketika sedang mengobrol santai di ruang tengah. Penjaga Villa yang
kami tempati, tiba-tiba berubah menjadi mahluk berasap yang sangat menakutkan. Dengan
brutal ia menelan kawan-kawan saya satu persatu, lalu mengejar saya seperti
hewan buruan.” Adhit berhenti sebentar karena bergidik ngeri.
“Hmm.. saya
mengerti sekarang, sepertinya ini semua sudah direncanakan. Mereka benar-benar ingin
membuat dunia manusia kacau balau.” terka kakek Addar seakan mendapatkan titik
terang.
“Dunia manusia?
apa anda bukan manusia?” tanya Adhit kaget.
“Kami manusia,
hanya saja ada sesuatu hal membuat kami dianugrahi energi lebih besar dari
kalian. Kami biasa disebut sebagai, Kaum Astamaya, yang artinya kaum dari tanah
yang hilang.” Ucap Kakek Tua tersebut bijak, lalu ia berjalan menghampiri Adhit.
“Energi yang
lebih besar? maksudnya apa Kek?” tanya Adhit lagi semakin penasaran. “Lihatlah
ini,“ kemudian Kakek Tua tersebut menggerakan kedua tangannya perlahan. Botol
obat yang tadi Adhit letakan, tiba-tiba terbang melayang bebas kekanan dan kiri,
sesuai arahan tangan Kakek Tua tersebut.
“Woah..!” mata
Adhit membulat karena takjub.
“Lalu ini,”
ucap Kakek Tua itu lagi sambil merentangkan kesepuluh jari jemarinya. Membuat
debu sekitar menjadi Monster dengan seringai yang siap melahap. Adhit yang saat
itu tidak siaga, langsung terjungkal kebelakang.
Setelah itu Kakek
Tua tersebut malah terkekeh sambil mengibaskan kedua tangannya. Bayangan
monster tersebut kembali menjadi debu, lalu setelah itu menghilang terbawa
angin.
“Apa itu
sejenis Mudria?” ucap Adhit dengan panik, rautnya begitu ketakutan.
“Bukan” jawab
Kakek Tua tersebut dengan tenang. “Ini energi murni dasar yang dihasilkan tubuh
kami. Gelombang dari kepala kami dapat mengendalikan beberapa partikel yang ada
di bumi, lalu membentuknya menjadi objek yang kami inginkan, “ucap Kakek Tua
tersebut sambil memperagakan pengambilan energi dasar dengan sangat menakjubkan.
“Maka, semakin besar
energi seseorang dari kaum kami, semakin kompleks pula sistem pengaturan yang
mereka punya dalam mengendalikan partikel. “Ucap Kakek Tua tersebut, yang lalu berubah
objek yang tadinya sederhana, menjadi beberapa bentuk yang lebih kompleks.
“Jadi.. para
Anjing hutan besar yang muncul dibelakang Galuh, adalah partikel yang dikendalikan
juga? Itu hebat sekali!” ucap Adit sangat takjub.
“Aah.. bukan,
mereka bukan berasal partikel dari alam sekitar, tetapi berasal dari Ruh Hitam.
Hampir sedikit mirip Mudria, namun energinya lebih spesifik dan sangat besar. Mereka
adalah energi hitam yang seharusnya tidak dimiliki Galuh,“ ucap Kakek tersebut
dengan pandangan menerawang, namun setelah itu ia malah terkejut dengan
kata–katanya sendiri.
Kakek Tua ini seakan
menyesali apa yang baru saja ia ucapkan pada Adhit. Dengan segera ia beranjak untuk
segera pergi. Namun saat melewati Adhit, Kakek ini malah terpaku pada kalung
yang tersembul dari balik kemeja Adhit.
Saat Kakek tua
tersebut seperti hendak bertanya, namun entah mengapa ia malah memilih meneruskan
jalan menuju pintu keluar.
“Maksudnya Kek?”
tanya Adhit penasaran karena kalimat yang menggantung begitu saja. Ditanya
seperti itu, Kakek tua tersebut malah terus berjalan, lalu meninggalkan Adhit sendirian
dalam ruang yang gelap.
Kini Adhit sendirian.
Namun, rasa takutnya kini teralihkan oleh berbagai pertanyaan yang mulai menjejali
kepalanya. “Energi yang seharusnya tidak dimiliki Galuh? apakah sebuah energi
terlarang?” tanya Adhit pada dirinya sendiri. Akhirnya Adhit memilih menunggu Galuh
di luar ruangan karena lebih hangat dan terang.
Begitu Galuh
datang menjemput, bukannya senang, mata Adhit malah terbelalak kaget. “Apa yang
kamu sudah lakukan ditengah malam begini?” tanya Adhit heran begitu mendapati
Galuh datang dengan sangat basah kuyup.
Lumpur menempel
dihampir diseluruh tubuh Galuh, kecuali wajah dan rambutnya. Bahkan ada ular merayap
dibelakang punggung Galuh.
“Hanya memeriksa
beberapa segel di dalam Sungai,” ucap Galuh tenang sambil menghempaskan ular
tersebut kearah samping, yang lalu berlari masuk kedalam sela-sela tanaman hias
sekitar aula.
“Masuk kedalam
sungai? malam-malam begini?” ucap Adhit semakin terbelalak tidak percaya.
“Ayo ikut, akan
saya tunjukkan di mana kamu tidur malam ini,” ucap Galuh seakan tidak
mengidahkan reaksi Adhit. “Apa tidak sebaiknya kamu ganti baju dulu sebelum
menjemput saja?” namun Galuh tetap tidak mengidahkannya sambil kembali menuntun
jalan di depan, sontak Adhit langsung berlari untuk mensejajari langkah Galuh
yang agak cepat.
Ketika hendak
bertanya lagi, entah mengapa Adhit merasa ada yang bergerak dibelakang mereka. Ketika
Adhit menoleh kebelakang, ia hampir terlonjak karena mendapati beberapa kelinci
betina berkebaya mojang, begitu sibuk membersihkan lantai dengan cepat.
Belum hilang
kagetnya, ia malah ditegur oleh salah satu kelinci. “Ayo.. teruslah berjalan,
lantainya mau kami pel nih!” ucapan kelinci tersebut, sontak membuat Adhit refleks
berlari menyusul Galuh yang sudah berjalan agak jauh.
“Lama-lama saya
bisa mati karena terkejut, oh Tuhan..mereka itu sejenis binatang atau apa sih?”
ucap Adhit sangat kaget, namun Galuh tidak berkata satu patah katapun. Galuh
naik ke atas tangga, menuju balkon indah yang sempat Adhit kagumi saat pertama
kali datang.
Tiba-tiba Galuh
berhenti di salah satu pintu dan membukanya, “ini tempat untuk kamu tidur malam
ini, selamat malam!” ucap Galuh dingin. Setelah itu ia segera berlalu
meninggalkan Adhit begitu saja.
Mendapati hal
itu, Adhit hanya bisa pasrah melihat Galuh yang berjalan semakin menjauh. Hembusan
angin yang terasa semakin dingin, memaksa Adhit untuk segera masuk ke dalam ruangan.
Namun, saat
berada di dalam kamar, Adhit kembali terkejut! Untuk ukuran sebuah kamar yang berada
dalam gua antah berantah, kamar ini benar-benar amat sangat nyaman. Bagaimana
tidak, setelah Adhit terkesima dengan dekorasi kamar yang dihiasi ukir etnik khas
Cirebon. Matanya kini malah terpaku pada sebuah tempat tidur kayu jati tua yang
berukiran senada.
“Akhirnyaaa..!!”
teriak Adhit senang karena seluruh tubuhnya sudah terlalu lelah.
Kasur tebal dan
bantal-bantal besar lagi empuk, lalu ditambah balutan seprai dan sarung bantal
katun halus bercorak batik ciamis yang beraneka warna, benar-benar menggodanya
untuk segera melepas lelah.
Namun saat
kulitnya menyentuh kain seprai, “ah.. !” ucap Adhit refleks. Ia baru sadar
bahwa lengan dan kakinya ternyata dipenuhi banyak luka gores.
“Pasti ini
karena jatuh terguling saat dikejar Dwasa si mahluk asap tadi. Aaah.. ini perih
sekali!” ucap Adhit ketika menyentuh beberapa luka.
“Maaf.. biar
kami obati,” sebuah suara membuat Adhit terkejut.
Namun saat
menoleh, Adhit malah lebih terkejut lagi. Tiba–tiba dari luar ruangan muncul
beberapa kucing memakai seragam kebaya encim polos, yang dipadukan dengan
bawahan selutut dari kain batik cerah khas Indramayu. Mereka memasuki ruangan sambil
membawa beberapa nampan kayu ukuran sedang dan besar.
“Oh Tuhan, apa
lagi ini?” ucap Adhit pelan sambil mengelus dadanya perlahan.
Ia melongokan
kepalanya sehingga terlihatlah apa yang dibawa oleh para kucing ini. Satu
nampan berisi botol obat, kapas, dan beberapa gulungan perban. Satu nampan lagi
dua baskom kecil berisi air hangat berbau rempah, lalu sisanya membawa satu
baskom besar berisi air hangat dengan aroma rempah lembut menenangkan.
“Kalian siapa?”
ucap Adhit setelah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.
“Kami perawat yang
bertugas hari ini, Tuan Addar menugaskan kami untuk segera mengobati anda,”
ucap salah satu kucing sambil memeriksa luka pada lengan dan lutut Adhit dengan
teliti.
Adhit semakin
terpana, para kucing ini bukan hanya berbicara dan berjalan seperti layaknya
manusia, tetapi juga begitu cekatan dan sangat terlatih.
“Tuan Addar.. siapa
dia?” tanya Adhit lagi dan membuat para kucing jadi saling menoleh.
“Anda tidak
tahu? yang tadi anda temui diruang pertemuan besar adalah Tuan Addar, seorang
kakek berjanggut putih,” ucap mereka heran. “Ooh.. Kakek Tua tadi.. “ ucap Adhit
sambil mengangguk-angguk.
“Jangan takut, ini
hanya perih sebentar.“ Ucap salah satu kucing, yang lalu menyeka kulit agar
bersih sebelum ditetesi obat herbal yang mereka bawa. Saat para kucing tengah
sibuk menyeka luka dan mengobati, tiba–tiba Adhit teringat perkataan Kakek
Addar tadi.
“Boleh saya tanya
sesuatu yang penting?” ucap Adhit memberanikan diri. ”Silahkan, semua tamu Nona
Galuh danTuan Addar, adalah tamu kehormatan untuk kami.“ Ucap salah satu kucing
ramah sambil menyeka lengan dan kaki Adit yang kotor karena terguling tadi.
Perih sebentar
namun setelah itu hilang. Adhit agak terkejut dengan efek obatnya, namun
kepalanya mengingatkan untuk segera kembali pada tujuan awal.
“Kakek tua eh..
maksud saya, Kakek Addar tadi berkata, energi yang Galuh miliki adalah energi
terlarang, maksudnya apa ya?” tanya Adhit penasaran.
“Tuan Addar mengatakan hal itu pada anda? “ucap salah satu kucing dengan
mata membulat. Kemudian ke empat kucing yang lain saling memandang dengan
terkejut.
Salah satu kucing berbisik kepada yang lain, “ini adalah rahasia,
seharusnya orang asing tidak pernah tahu.” Empat diantaranya mengangguk setuju.
Lalu salah satu kucing yang tidak ikut mengangguk berkata, “bukankah Tuan Addar
memberitahunya, itu tandanya ia memang layak dipercaya,” lalu tiga diantaranya
mengangguk setuju. Karena ucapan inilah, akhirnya salah satu kucing mendekati
Adhit sambil setengah berbisik.
“Ketika Nona
Galuh kecil, ia disisipi Ruh hitam milik lima Tetua Hitam yang berhasil tertangkap
oleh pihak Istana. Para Tetua ini ditangkap karena berusaha merampas Batu Hyang
Sawarga yang disimpan di Istana, untuk menaklukan Astamaya dan menguasai dunia Manusia.”
Ucap kucing tersebut sambil menetesi kapas dengan ramuan beraroma lebih kaya rempah
dari ramuan sebelumnya.
“Kabar yang
berhembus, Nona Galuh hendak dijadikan semacam alat untuk mengantarkan lima Ruh
hitam untuk mengacau didalam istana.” Ucap salah satu kucing yang lain perlahan,
sesekali ia menoleh seakan takut diketahui oleh seseorang diluar kamar.
Adhit sangat
terkejut, “disisipi Ruh hitam? seperti yang terjadi pada lengan saya sekarang?”
tanya Adhit semakin penasaran.
“Tidak Tuan, Mudria
yang diselipkan pada anda hanya berupa satu Ruh kecil. Hanya bisa membuat
orang–orang yang dirasukinya berperilaku seperti kerasukan, marah tidak
terkendali sampai anarki,” ucap salah satu kucing sambil membalut lengan dan
dada Adhit dengan perban.
“Benar, Mudria
di lengan anda hanya sanggup menulari sampai seratus orang saja. Setelah itu ia
akan hilang menguap, tidak lebih.” ucap kucing disebelahnya sambil melihat ke
arah pintu. Setelah merasa masih aman, ia pun melanjutkan bisikannya lagi.
“Tetapi milik
Nona Galuh, adalah lima Ruh monster anjing hutan yang berasal dari ribuan Ruh
jahat yang telah dipadatkan. Kami kaum di tanah sunda biasa memanggilnya sebagai
Ajag. Para Ajag raksasa ini bukan hanya mempora–porandakan saja, tetapi seluruh
isi kota akan rata menjadi serpihan debu dalam hitungan waktu yang amat
sebentar,” bisiknya lagi sambil membalut kaki Adhit dengan hati–hati, tangan
mereka tampak sangat terlatih.
Saat Adhit hendak
bertanya lagi, tiba–tiba mereka berkata,“maaf, pekerjaan kami telah selesai,
kami mohon diri,” ucap para kucing sambil menunduk sopan sambil berbenah, setelah
itu mereka segera berlalu.
Rasanya
segudang pertanyaan mulai menjejali kepala Adhit, namun sumber informasinya
kini telah menghilang dengan cepat. Kini yang bisa ia lakukan hanya melihat
seluruh lukanya telah terbalut dengan sangat rapi.
Saat Adhit
menoleh kearah samping, matanya langsung terbelalak. Ternyata ada satu nampan
lagi yang terlewatkan oleh matanya.
Satu nampan
yang berisi satu gelas bajigur hangat, kukusan ubi madu cilembu yang masih
mengepul, dan satu stel pakaian bersih. Sepertinya tadi, Adhit terlalu terpana
melihat para kucing ini, membuat hidangan selezat ini terlewat begitu saja.
Tanpa menunggu
lama, dengan cepat Adit segera mengganti pakaian. Setelah itu meminum bajigur
hangatnya dengan suka cita, dan memakan sedikit ubi madu cilembu, lalu tak lama
rasa kantuk datang menghebat.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar