Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 38 – Sang Cahaya | By: Desya Saghir

Langit tiba-tiba mencekam, namun bukan itu saja. Dari kejauhan terdengar suara lirih saling berdesing, yang tak lama kemudian, satu.. dua… bahkan tiga elang jawa terbang melingkar seakan sedang menunggu sebuah peristiwa besar.

“Kumpulan Elang Jawa? Jangan-jangan.. Si Tengkorak Beruang!” bisik Gada Sangkara yang langsung menatap sekitar dengan waspada.

Benar saja! Baru saja Gada Sangara menebak, tiba-tiba dari balik pepohonan yang tertutupi kabut, datanglah sosok tinggi, kekar dan besar seperti gunung berjalan.

Langkahnya yang berdebam, jubah bulu beruang dengan sepasang pelindung bahu berukiran kepala beruang, ditambah satu tengkorak beruang yang tersemat diatas kepalanya, membuat semuanya kini yakin, bahwa orang dihadapan mereka adalah benar Si Tengorak Beruang.

Adhit sedikit terkesima, saat melihat sarung punggung tangan dan sepatu Si Tengkorak Beruang yang terbuat dari tangan dan kaki beruang dengan cakarnya yang masih utuh. Adhit semakin terkesima, saat Si Tengorak Beruang meremas-remas jari jemarinya sebagai persiapan untuk menghadapi Galuh dan kawan – kawan, sarung tangan yang bercakar itu bergerak secara alami, seolah-olah memang benar adalah tangan Si Tengkorak Beruang sendiri

“Apa dia sangat berbahaya?” tanya Adhit kemudian, karena melihat Gada Sangkara kini lebih gelisah dibandingkan saat berhadapan dengan dua Jenderal Hitam sebelumnya.

“Saguri benar-benar serius dalam usahanya merebut Batu Hyang Sawarga! Si Tengkorak Beruang bukan Jenderal Hitam sembarangan,” ucap Gada Sangkara lagi yang kini dengan nada khawatir.

“Maksudmu?” tanya Ragadewa heran.

“Selain kekuatannya yang sangat besar, ia juga memiliki energi raungan beruang yang amat keras. Bukan hanya telinga saja yang ikut bergetar, jiwapun ikut bergeser saat gelombang raungan sampai pada kita. Jadi, sebesar apapun energi yang kita keluarkan dalam melawannya, justru akan memantul pada diri kita sendiri apabila saat itu jiwa kita tiba-tiba bergeser.” Jelas Gada Sangkara sedikit gelisah

“Kalian lihat semua elang diatas kita, mereka selalu ada dimanapun Si Tengkorak Beruang berada. Karena mereka tahu, dimanapun Si Tengkorak Beruang berada, disanalah mereka akan mendapatkan jamuan besar,” Penjelasan Gada Sangkara kini membuat semua ikut waspada.

Si Tengkorak Beruang sepertinya bukan tipe berbasa-basi seperti dua Jenderal hitam sebelumnya. Dengan tanpa aba-apa, tiba-tiba ia menyerang Galuh dan kawan-kawan dengan kasar dan sangat brutal. Kecepatan yang ia miliki benar-benar sangat menakutkan. Bahkan, tubuh besarnya seakan bukan penghalang dalam pergerakan yang super cepat. Hal Ini membuat semuanya kini mengerti, mengapa Gada Sangkara terlihat begitu gelisah saat harus berhadapan dengannya.

Ditengah pertarungan, tiba-tiba Si Tengkorak Beruang melesatkan kuku-kuku tajam dari cakar beruang yang berasal dari tangannya, untung saja Kalung Sura Suradana Adhit sigap melindungi semua dengan perisai hologram yang dimilikinya.

Namun bukan itu saja, saat Gada Sangkara melawan dengan energinya yang berupa pukulan dari kepalan tangan raksasa. Si Tengkorak Beruang langsung menahannya dengan hanya satu tangan!

“Ini Gila!” Teriak Gada Sangkara terkejut! Baru kali ini ia melihat seseorang yang bisa dengan mudah menghalau serangannya, apalagi dengan hanya satu tangan saja!

Galuh membantu Gada Sangkara dengan lesatan sepuluh kujang melayang yang bergerak secara acak. Namun, jubah bulu Si Tengkorak Beruang ternyata bisa menahan serangan tersebut dengan sangat mudah. Bahkan, kesepuluh kujang melayang milik Galuh serentak terpental seakan tidak ada artinya sama sekali.

Ragadewa bangkit lalu menggandakan diri menjadi lima orang, yang lalu masing-masing dari replikanya, mengikat Si Tengkorak Beruang dengan masing-masing tambang energi. Dengan tanpa menunggu lama, Gada Sangkara segera melayangkan energinya yang berupa kepalan besar pada dada Si Tengkorak Beruang, sehingga menyebabkan suara kretak sangat keras dari rusuknya.

Namun, bukannya roboh, Jenderal beruang tersebut tiba-tiba menarik semua tambang energi Ragadewa, sehingga kelima replika dari Ragadewa terpental kesemua arah. Lalu pukulan kepalan besar dari energi milik Gada Sangkara, kembali ditahan dengan satu tangan! Sedangkan Gada Sangkara sendiri terpental ketanah dengan dentuman yang sangat mengguncang.

Jinn Si Kelinci ikut menyerang, dengan mengaktifkan ilmu gerbang Dewa miliknya. Lalu setelahnya, ia memunculkan lima ksatria legendaris Pandawa dalam perwayangan Mahabarata.

Namun, pukulan Bima, dipatahkan Si Tengkorak Beruang dengan satu tangan! Serangan panah Arjuna, ia kibaskan menggunakan jubah beruangnya, bahkan Pasopati legendaris milik Arjuna terpental dengan sekali kibasan Jubah.

Sedangkan Yudhistira, ia menutup mata sambil mengucapkan mantera pangruwat jagat, untuk membersihkan energi gelap milik Si Tengkorak Beruang. Namun, jubah Si Tengkorak Beruang malah menyerap semua cahaya yang tersebar oleh mantera milik Yudhistira, lalu memantul kembali pada Yudhistira sehingga ia kembali menjadi energi milik Jinn Si Kelinci.

Si kembar Nakula dan Sadewa kini dimunculkan. Nakula menedang Si Tengkorak Beruang dengan kudanya, lalu Sadewa melepaskan lembingnya saat Si Tengkorak Beruang lengah karena tendangan kuda milik Nakula. Tetapi Si Tengkorak Beruang kembali bangkit dan memukul keduanya sehingga mereka berderai kembali menjadi energi sebelum mereka terbentuk.

Jinn Si Kelinci tidak menyerah, ia lalu memanggil empat tokoh legendaris dari kisah Ramayana. Rahwana beserta ketiga adiknya, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana.

Namun, dengan gerakan yang super cepat, Ajian pancasona milik Rahwana pecah saat Si Tengkorak Beruang memukul keras tepat dijantung Rahwana, inti dari energi Ajian pancasona miliknya. Racun sihir Sarkapenaka sendiri terkibas oleh jubah Si Tengkorak Beruang sehingga ajian racun milik Sarkapenaka melibas dirinya sendiri. Lalu Kumbakarna, ia roboh karena ketika baru sadar karena terbangun dari tidur panjangnya, serangan tiba-tiba dari Tengkorak Beruang, sontak menghancurkan leburkan tubuhnya yang seperti raksasa.

Terakhir Wibisana, dengan memanfaatkan kekuatan para Dewa, Wibisana membuat Si Tengkorak Beruang mundur satu langkah. Namun, Si Tengkorak beruang segera mengeluarkan raungan beruang andalannya, sehingga semua energi yang dilesatkan Wibisana kini berbalik pada dirinya, mengakibatan Wibisana langsung terberai seperti pasir.

Sontak semuanya langsung terdiam! Gerakan Si Tengkorak Beruang yang super cepat, membuat mereka semua jadi bergidik ngeri.

Si Tengkorak Beruang langsung tertawa sangat puas, ia terlihat sangat menikmati raut kaget dari Galuh dan kawan-kawan.

“Saya sangat kuat bukan! Tentu saja, karena saya memang pantas untuk menjadi pengganti salah satu Tetua Hitam.. Hahahaha!” ucap Jenderal Beruang dengan mata berdelik penuh kesombongan.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba Adhit maju ke medan laga, lalu berhadapan dengan Si Tengkorak Beruang satu lawan satu. Sontak semuanya terkejut, karena selain hanya manusia biasa, Adhit tidak memakai pelindung apapun yang disediakan oleh Kalung Sura Suradana miliknya.

“Adhit! Jangan Gila!” Seru Galuh dengan panik. Namun, ketika hendak dibantu, tiba-tiba Galuh ditahan Ragadewa yang menggeleng sambil tersenyum.

Adhit ternyata bisa menangkis serangan milik Jenderal Beruang, Sontak semuanya terkejut! Kecuali Ragadewa, “Apa yang diucapkan Adhit benar!” ucap Ragadewa senang.

“Ragadewa!” Teriak Adhit memberi kode. Ragadewa yang mengerti, tiba-tiba saja ia melayangkan sebongkah kerikil kecil, lalu dilesatkan untuk memantul dulu pada batu dan pepohonan dengan sudut derajat yang sudah diperhitungkan. Lalu, “Pletak!” kerikil tersebut mengenai titik syaraf Si Tengkorak Beruang yang sontak membuat tubuh Jenderal Beruang kram seketika.

Tanpa menunggu lama, Adhit langsung menyerang Jenderal Beruang dengan teknik pencak silat Cimande yang ia latih sejak kelas satu SD. Beberapa pukulan telak, tangkisan dalam, hingga jurus tangkapan harimau membuat Jenderal Beruang langsung terkapar tidak berdaya.

“Bagaimana bisa!” ucap Galuh heran, Gada Sangkara pun bereaksi sama. Namun Soma Wisesa kini malah tergelak, “Kini saya mengerti mengapa Candrakara membawa seorang anak Manusia bersama kita Hahahaha!” Soma Wisesa menyadari sesuatu sambil tergelak dengan sangat keras.

Galuh dan Gada Sangkara yang masih juga belum mengerti, segera didekati Jinn Si Kelinci yang lalu berkata.

“Dari Kalung Sura Suradana miliknya, Adhit mendapatkan informasi bahwa Si Tengkorak Beruang menggunakan energi cermin. Jadi, energi apapun yang bersentuhan dengannya, akan terpantul kembali sesuai kadar energi yang ia terima. Mengapa ia jauh lebih unggul, karena begitu lawannya seimbang, baru ia menggunakan jurus menggunakan tenaganya sendiri.” Jelas Jinn Si Kelinci dengan raut senang.

“Jadi selama ini ia menggunakan energi kita?” ucap Gada Sangkara merasa dibodohi.

“Aah..  saya mengerti, Adhit maju karena bila Si Tengkorak  Beruang berhadapan dengannya, maka tenaga dan kondisi fisiknya akan menjadi seperti dirinya, hanya Manusia biasa?” ucap Galuh yang lalu terkejut dengan bentuk perkataanya sendiri.

“Lalu Ragadewa, dengan memantulkan kerikil pada beberapa sudut dulu, membuat energi Ragadewa tidak terdeteksi, malah energi sebelumnya, yaitu milik Adhit yang hanya Manusia biasa. Jadi, ketika Si Tengkorak Beruang menerima totokan dari kerikil Ragadewa, ia langsung roboh karena tubuhnya jadi setara dengan tubuh milik Adhit.” Ucap Jinn Si Kelinci lagi dengan bangga. “ Ini Gila!” Sambung Gada Sangkara takjub.

Kini Galuh dan Gada Sangkara menoleh pada Adhit takjub. Ragadewa sendiri memandang Adhit dengan pandangan terkesima. “Manusia ini gila! Benar-benar gila! Bagaimana ia bisa terpikir sampai sejauh itu!” pikir Ragadewa tidak kalah takjubnya.

Tiba-tiba saja Si Tengorak Beruang siuman, lalu mencengkram kaki Adhit hingga menimbulkan kepanikan sesaat. Namun, sepertinya Si Tengkorak Beruang masih belum sadar bahwa Adhit hanya Manusia biasa, sehingga tenaga yang ia keluarkan hanyalah tenaga manusia biasa juga. Maka dengan mudah, dengan hanya menendang tangan Si Tengkorak Beruang, cengkramannya bisa langsung terlepas dengan cepat.

Si Tengkorak Beruang akhirnya menyadari, bahwa Adhit tidak memiliki energi apapun. Maka setelah itu, ia melepaskan energi cermin yang selama ini ia pakai, lalu menggantinya dengan energi miliknya sendiri. Si Tengkorak Beruang berlari cepat mendatangi Adhit, lalu berusaha merobek Adhit dengan menggunakan cakar beruangnya miliknya.

Untungnya, saat itu Adhit tidak sengaja beralih tempat karena hendak mendekat pada Galuh, sebuah kebetulan yang mengakibatkan cakar milik Si Tengkorak Beruang malah mengenai dirinya sendiri. Sehingga setelah itu, Si Tengkorak Beruang tewas dengan robek tubuh yang menganga sangat mengenaskan.

Tanpa menunggu lama, Soma Wisesa segera melepaskan energi besar sehingga tubuh Si Tengkorak Beruang hancur terberai, agar mereka semua yakin bahwa Si Tengkora Beruang memang  telah benar-benar tewas.

Begitu memastikan semuanya aman, Gada Sangkara yang hafal wilayah ini, segera membawa mereka semua ketempat yang lebih aman untuk duduk sebentar.

Hal tersebut kemudian dimanfaatkan Soma Wisesa dan Adhit dalam mencari petunjuk Kitab Candrakara. Sesekali Soma Wisesa termenung sebentar, seakan-akan tengah mengingat sesuatu. Namun, setelah Adhit mengatakan sesuatu berdasarkan kilasan memori yang ditinggalkan Guru Candrakara dalam DNA leluhurnya, Soma Wisesa kembali tersenyum seakan menemukan sisi puzzle petunjuk yang hilang.

Ragadewa sendiri malah memandang sekeliling Astamaya dengan pikiran menerawang entah kemana. Sesekali, ia memberi masukan jawaban tentang petunjuk-petunjuk Kitab Candrakara, berdasarkan pengalamannya sebagai Kaum Astamaya di dunia Manusia. Namun, setelah itu ia duduk dan kembali termenung, seakan sedang mengulang kembali memori masa remajanya ketika masih di Astamaya.

Sedangkan Gada Sangkara dan Galuh, karena mereka berdua memang hobby memasak, mereka bersikeras memasak menggunakan alat-alat yang terdapat dalam tas Kakek Addar yang diberikannya pada Adhit.

Mereka berdua benar-benar seperti bocah ketika melihat isi tas Adhit. Tawa mereka tiba-tiba pecah saat menemukan novel cinta remaja didalamnya. Adhit yang malu campur kaget, malah membuat Galuh dan Gada Sangkara semakin tergelak.

Berhasil menemukan alat masak yang mereka butuhkan, selama memasak Galuh dan Gada Sangkara benar-benar sangat rusuh, panci yang saling beradu, berebut bumbu, bahkan saling menertawakan ketika salah satunya terkena apes saat memasak.

Untungnya, hidangan yang dibuat Galuh dan Gada Sangkara benar-benar sangat lezat! Adhit dan semuanya bahkan terus menerus memuji masakan Galuh. Gada Sangkara langsung protes, karena ia juga ikut andil memasak, tetapi tidak ada pujian apapun untuknya. Sontak hal tersebut membuat semuanya jadi tergelak kembali. Sembari makan, mereka kini membahas isi Kitab Candrakara lebih dalam.

“Disini disebutkan, bahwa Sang Cahaya adalah benda yang berpendar terang, namun tidak menyilaukan, astaga apalagi ini!“ Umpat Soma Wisesas kesal. Semua tertawa kembali karena Guru Candrakara yang membuat misi, namun semua petunjuknya yang setengah-setengah, malah membuat Soma sebagai sahabatnya frustasi setengah mati.

“Itu terdengar seperti mata Ruh?” tebak Ragadewa yang diamini Galuh. Dengan segera, Galuh mengeluarkan mata Ruh yang ia kantongi.  Soma Wisesa, karena mewakili elemen cahaya, ia meraba mata Ruh dari segala sisi, namun mereka malah tidak menemukan reaksi apapun.

“Bola Cahaya yang berpendar terang, namun tidak menyilaukan? gambarannya seperti bola matahari buatan yang terdapat di dalam gua tempat Kaum Luhur berada, ah.. tapi ukurannya terlalu besar,” tebak Adhit merasa tidak mungkin, tapi tebakan Adhit justru membuat Galuh menoleh kaget.

“Itu memang batu bercahaya yang tidak menyilaukan!” Ucap Galuh sambil menepuk keningnya karena melupakan hal tersebut.

“Kakek Addar pernah mengatakan, cahaya matahari buatan dalam gua, berasal dari batu cahaya pemberian Guru Candrakara yang diturunkan secara turun temurun! Aah.. mengapa saya tidak ingat semua itu!” ucapan Galuh membuat semua seakan mendapat pencerahan.

“Tapi ketika masa pelarian saat gua yang lama diserang Saguri, apa batu cahaya tersebut sempat diambil?” tanya Adhit yang kini membuat Galuh dan yang lainnya jadi saling berpandangan.

“Di Gua bawah tanah yang baru, saya melihat Tuan Addar memasukan sesuatu pada matahari buatan yang sama persis dengan Gua persembunyian kami yang lama.” Ucap Jinn Si Kelinci dengan yakin. Sontak semuanya kini jadi sangat lega. Dengan tanpa menunggu lama, mereka segera pergi menuju tempat Kaum Luhur berada, yaitu tepat dibawah Istana.

Setelah semuanya sudah cukup istirahat, Jinn Si Kelinci memimpin mereka untuk menyusuri rute rahasia menuju gua bawah tanah. Karena dengan begitu, tidak akan ada yang mengetahui bahwa Galuh telah pulang kembali menuju Istana. Namun begitu mereka sampai di gua bawah tanah, Gada Sangkara, Ragadewa dan Soma Wisesa tercekat luar biasa!

“Ini….” ucapan Gada Sangkara terhenti begitu saja, napas mereka hampir tercekik karena mereka disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa.

Ragadewa dan Soma Wisesa berdecak kagum dengan isi gua yang mirip dengan kuil kuno. Galuh dan Adhit, sekalipun mereka berdua dulu pernah masuk kedalam sini saat bersama Subhita, namun saat itu gua bawah tanah masih awal ditinggali, sehingga masih dalam bentuk standar biasa.

Namun, kini suasana Gua dibawah Istana benar-benar telah berjalan seperti di Gua tempat tinggal Kaum Luhur sebelumnya, bahkan lebih hebat!

Sebuah Aula interior kuno dengan ukuran super mega besar! Aula yang diberi penerangan menggunakan bebatuan melayang yang bercahaya ini, membuat ide dalam kepala Ragadewa untuk tulisannya selanjutnya seakan siap meledak.

Soma Wisesa cukup tertegun lama. Sebagai sahabat dimasa lalu, ia tahu bila Guru Candrakara memang agak gila, tetapi semua hal yang direalisasikan oleh Guru Candrakara sekarang melebihi kata tidak waras!

Gada Sangkara kini tersenyum senang, karena melihat isi cerita dibalik lukisan raksasa menyerupai batik singa barong khas Cirebon.

Kisah yang pernah diceritakan Jinn Si Kelinci. Lukisan yang bercerita tentang sebuah perjalanan yang dipimpin seorang Manusia berpakaian seperti penebang kayu kuno, kakek tua berjanggut, dan seorang anak muda berpakaian seperti cendikiawan yang juga sama kunonya. Yang setelah itu, di ikuti banyaknya binatang berdiri dan berpakaian seperti layaknya manusia dimasa itu. Setelahnya Gada Sangkara menggeleng dengan sangat senang luar biasa.

Ragadewa sendiri, ikut tersenyum karena mengenali kisah lukisan langit-langit gua. Ketika mata Ragadewa menelusuri kebawah langit-langit gua tersebut, kini ia kembali tercekat.

Ia mendapati tiang-tiang batu besar yang begitu gagah dan megah, menyangga langit-langit gua dan beberapa balkon yang sama megahnya. Satu tema dengan lukisan yang ada di langit-langit gua, tiang-tiang dan beberapa balkon tersebut dipahat menyerupai ukiran kayu khas Cirebon, sehingga menciptakan sebuah harmoni dengan keindahan yang luar biasa.

Soma Wisesa yang juga terkejut dengan keindahan yang ada di langit-langit Aula gua, tiba-tiba perhatiannya tersedot pada beberapa tanaman yang merambat pada beberapa balkon tersebut. Beberapa bunga yang tumbuh disisi balkon tiba-tiba dikunjungi kupu-kupu, serangga warna warni dan burung-burung kecil yang terbang saling bertaut. Lalu mereka menciptakan tarian udara yang sangat memikat.

Lalu Soma Wisesa memegang kepalanya sendiri yang mulai berdenyut karena terlalu banyak terkejut. “Candrakara itu gila! Gila dan sangat tidak waras!” ucap Soma Wisesa dengan sangat tidak percaya.

Saat Jinn Si kelinci memandu mereka memasuki area pasar tradisional khas Jawa Barat di masa lalu. Mereka terkejut karena banyaknya kendaraan terbang berseliweran di atas tanpa henti. Adhit sedikit heran karena kendaraan terbang bisa begitu bebas melintasi wilayah pasar, namun saat menyadari bahwa  wilayahnya lebih besar dari Gua persembunyian Kaum Luhur sebelumnya, maka pasar tradisional dan beberapa lapak yang digelar di bawahnya masih aman terkendali.

Galuh rasanya hampir menangis saat melihat Kaum Luhur baik-baik saja. Lalu dari kejauhan, Kakek Addar yang tengah membeli sesuatu, langsung terkejut mendapati Galuh dan kawan-kawan ada di gua Kaum Luhur, yang setelah itu dibawa masuk kedalam ruang pertemuan milik kakek Addar. Galuh dan Adhit terkejut karena lebih megah daru ruangan Gua lama.

Mereka bahkan bertemu Taphilli yang sedang membuka buku ramuan diantara tumpukan buku-buku tua lagi tebal. Aroma tanaman herbal kering memenuhi ruangan tersebut.

Namun bukan hanya Taphilli, mereka juga mendapati Cahya Natraprawira, yang tengah membantu Taphilli untuk berbicara dengan orang-orang dimasa lampau, dalam melihat sejarah ramuan yang sedang Taphilli racik. Mereka berdua terkejut saat melihat para pemilik elemen tiba-tiba masuk ke ruang pertemuan.

Galuh dan Kawan-kawan terkejut, Taphilli kini tidak pincang! Kakinya kini disangga oleh penemuan salah satu Kaum Luhur. Begitu melihat Galuh dan kawan-kawan, Taphilli langsung berlari dan memeluk mereka sambil menangis. Ia benar-benar lega bila Galuh dan kawan-kawan masih baik-baik saja. Taphilli bahkan memperlihatkan bahwa ia kini bisa menari diatas kakinya sendiri.

Cahya Natraprawira juga memeluk mereka dengan sangat erat. Ia berterimakasih banyak karena selain hidupnya sudah lebih tenang, ia juga bisa memanfaatkan kemampuan yang ia miliki untuk kebaikan bagi Kaum Astamaya.

Dengan bangga, mereka berdua  memperlihatkan telah menciptakan ramuan-ramuan hebat, untuk menawarkan berbagai racun yang selama ini ditebarkan Kaum Hitam di seluruh pelosok Astamaya.

Tiba-tiba dari balik pintu, muncul Subhita, yang begitu melihat Galuh, ia lalu berlari kencang ke arah Galuh sambil berteriak senang.

“Akhirnya kamu pulang Na… eh, Nona Galuh….!” Ucap Subhita sambil kegirangan. Lalu, Subhita memeluk Galuh berkali-kali.

Ternyata, sejak kepergian Galuh, Subhita langsung ditarik oleh Kakek Addar untuk tinggal di gua bawah tanah, tempat para Kaum Luhur tinggal. Selain agar menjadi lebih aman, Subhita juga menjadi penghubung antara Paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati, dengan Kaum Luhur.

Sedangkan Bi Nai, ibu angkat Subhita yang juga pengasuh Galuh dulu, tetap di Istana. Namun, kini ia ditempatkan sebagai pelayan khusus Maharaja Ranji Raspati. Selain agar tetap aman, juga karena ia orang lama, maka Bi Nai mempunyai jaringan mata-mata khusus untuk mengawasi gerak gerik para Bangsawan agar bisa lebih dikendalikan Istana.

“Setelah semua ini selesai, kamu harus menceritakan dari semua perjalanan ini, bahkan kamu harus menjadikannya novel petualangan, agar bisa saya ceritakan pada anak-anak saya nanti!” ucap Subhita dengan nada bergetar.

“Aah.. saya juga punya banyak cerita yang tidak sabar saya sampaikan, terutama Paman Nona, Maharaja Ranji Raspati! Sekarang para bangsawan licik dan para Menteri yang bekerja sama dengan mereka mulai hati-hati bertindak apapun. Karena dibelakang Maharaja Ranji Raspati, ada Tuan Addar, para sesepuh Kaum Luhur, dan bantuan dari pengetahuan Taphilli dan Tuan Cahya Natraprawira.” Ucap Subhita dengan nada senang yang berapi-api.

“Mereka yang hendak jahat pada Maharaja dan Istana, kini bungkam karena takut bernasib sama seperti Klan Merah! Aah.. rasakan para Bangsawan jahat!” ucap Subhita sangat puas, sontak hal itu membuat Galuh dan yang lainnya tertawa sekaligus lega luar biasa.

Disisi lain, Gada Sangkara mulai berani mendekati Subhita, bahkan mengajak Subhita bicara walaupun dengan wajah memerah karena malu. Subhita yang terkejut, menanggapi Gada Sangkara dengan jawaban terbata-bata sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan sangat kencang. Bahkan saking kencangnya, kipasnya tiba-tiba terlempar entah kemana.

Hal tersebut sontak membuat Adhit terkejut. “Selama ini Gada Sangkara dekat dengan Galuh, bukan karena jatuh hati pada Galuh, tetapi jatuh hati pada sahabat Galuh. Gada sampai bertanya semua hal yang menjadi favorit Subhita,” Bisik Ragadewa sambil menahan senyum. “Jadi, selama ini saya salah paham?” tanya Adhit terkejut. Ragadewa menanggapinya dengan tersenyum mengiyakan.

Ditengah suasana haru dan penuh syukur ini, Kakek Addar sangat terkejut saat Galuh menerangkan tentang isi dari Kitab Candrakara. Karena ternyata, Sang Cahaya, adalah salah satu retakan dari Batu Hyang Sawarga selalu ada bersama Kakek Addar.

Dengan tanpa menunggu lama, Kakek Addar segera mengajak mereka semua pergi menuju Sang Cahaya berada.

Setelah memberikan pemberitahuan darurat pada seluruh Kaum Luhur. Kakek Addar segera menghidupkan suasana langit malam yang diterangi bulan dan bintang buatan. Sehingga, saat matahari buatan diredupkan, suasana dalam gua masih ada cahaya sekalipun agak temaram.

Kaum Luhur sendiri, ikut bekerjasama dengan menghidupkan lampu-lampu di masing-masing rumah mereka. Galuh dan kawan-kawan benar-benar sangat terpana akan kesantunan Kaum Luhur dalam memahami situasi.

Kakek Addar membuka segel yang terdapat dalam Matahari buatan mereka. Adhit terkesima saat matahari buatan tersebut terbuka dengan lipatan origami yang begitu rumit. Dan saat sudah terbuka, Galuh dan kawan-kawan langsung terpesona dengan keindahan sang cahaya. Benar yang dikatakan Kitab Candrakara, Sang Cahaya begitu terang berderang, namun cahayanya yang membias acak, justru tidak menyilaukan sama sekali.

Dengan segera, Adhit mendekatkan bandul Istana Tujuh Pintu yang menempel pada kalung Sura Suradana miliknya. Lalu munculah kelopak bunga Melati putih transparan, yang memunculkan Nawang Wulan dengan sangat indah.

Seperti biasa, begitu Nawang Wulan muncul, pandangan Soma Wisesa langsung melembut, lalu hilang sudah tampilan pria sarkas yang selalu meluapkan kalimat tajam itu. Semua berjalan dengan sangat lancar, Sang Cahaya telah mereka temukan, lengkaplah sudah!

Setelah itu, mereka naik ke atas menuju Istana, tempat dimana ruang segel Batu Hyang Sawarga dulu pernah disimpan, lalu dirancang agar bisa menahan ledakan maha dasyat Batu Hyang

Subhita membawa Galuh dan kawan-kawan ke tempat dimana ia sering bertemu dengan paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati. Mereka memasuki ruang pertemuan Istana melalui pintu ruang rahasia.

“Paman?” ucap Galuh lembut pada paman kesayangannya yang tengah termenung memandang lukisan besar Kakaknya, Maharaja Mahesa Agung, Ayah Galuh.

Saat pamannya menoleh, Galuh terkejut!

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir