Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 38 – Sang Cahaya | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Langit tiba-tiba mencekam, namun bukan
itu saja. Dari kejauhan terdengar suara lirih saling berdesing, yang tak lama
kemudian, satu.. dua… bahkan tiga elang jawa terbang melingkar seakan sedang
menunggu sebuah peristiwa besar.
“Kumpulan Elang Jawa? Jangan-jangan..
Si Tengkorak Beruang!” bisik Gada Sangkara yang langsung menatap sekitar dengan
waspada.
Benar saja! Baru saja Gada Sangara
menebak, tiba-tiba dari balik pepohonan yang tertutupi kabut, datanglah sosok tinggi,
kekar dan besar seperti gunung berjalan.
Langkahnya yang berdebam, jubah bulu
beruang dengan sepasang pelindung bahu berukiran kepala beruang, ditambah satu
tengkorak beruang yang tersemat diatas kepalanya, membuat semuanya kini yakin, bahwa
orang dihadapan mereka adalah benar Si Tengorak Beruang.
Adhit sedikit terkesima, saat melihat
sarung punggung tangan dan sepatu Si Tengkorak Beruang yang terbuat dari tangan
dan kaki beruang dengan cakarnya yang masih utuh. Adhit semakin terkesima, saat
Si Tengorak Beruang meremas-remas jari jemarinya sebagai persiapan untuk
menghadapi Galuh dan kawan – kawan, sarung tangan yang bercakar itu bergerak
secara alami, seolah-olah memang benar adalah tangan Si Tengkorak Beruang
sendiri
“Apa dia sangat berbahaya?” tanya
Adhit kemudian, karena melihat Gada Sangkara kini lebih gelisah dibandingkan saat
berhadapan dengan dua Jenderal Hitam sebelumnya.
“Saguri benar-benar serius dalam
usahanya merebut Batu Hyang Sawarga! Si Tengkorak Beruang bukan Jenderal Hitam
sembarangan,” ucap Gada Sangkara lagi yang kini dengan nada khawatir.
“Maksudmu?” tanya Ragadewa heran.
“Selain kekuatannya yang sangat besar,
ia juga memiliki energi raungan beruang yang amat keras. Bukan hanya telinga
saja yang ikut bergetar, jiwapun ikut bergeser saat gelombang raungan sampai
pada kita. Jadi, sebesar apapun energi yang kita keluarkan dalam melawannya, justru
akan memantul pada diri kita sendiri apabila saat itu jiwa kita tiba-tiba bergeser.”
Jelas Gada Sangkara sedikit gelisah
“Kalian lihat semua elang diatas kita,
mereka selalu ada dimanapun Si Tengkorak Beruang berada. Karena mereka tahu, dimanapun
Si Tengkorak Beruang berada, disanalah mereka akan mendapatkan jamuan besar,” Penjelasan
Gada Sangkara kini membuat semua ikut waspada.
Si Tengkorak Beruang sepertinya bukan
tipe berbasa-basi seperti dua Jenderal hitam sebelumnya. Dengan tanpa aba-apa,
tiba-tiba ia menyerang Galuh dan kawan-kawan dengan kasar dan sangat brutal. Kecepatan
yang ia miliki benar-benar sangat menakutkan. Bahkan, tubuh besarnya seakan
bukan penghalang dalam pergerakan yang super cepat. Hal Ini membuat semuanya kini
mengerti, mengapa Gada Sangkara terlihat begitu gelisah saat harus berhadapan
dengannya.
Ditengah pertarungan, tiba-tiba Si
Tengkorak Beruang melesatkan kuku-kuku tajam dari cakar beruang yang berasal
dari tangannya, untung saja Kalung Sura Suradana Adhit sigap melindungi semua
dengan perisai hologram yang dimilikinya.
Namun bukan itu saja, saat Gada
Sangkara melawan dengan energinya yang berupa pukulan dari kepalan tangan raksasa.
Si Tengkorak Beruang langsung menahannya dengan hanya satu tangan!
“Ini Gila!” Teriak Gada Sangkara
terkejut! Baru kali ini ia melihat seseorang yang bisa dengan mudah menghalau
serangannya, apalagi dengan hanya satu tangan saja!
Galuh membantu Gada Sangkara dengan
lesatan sepuluh kujang melayang yang bergerak secara acak. Namun, jubah bulu Si
Tengkorak Beruang ternyata bisa menahan serangan tersebut dengan sangat mudah. Bahkan,
kesepuluh kujang melayang milik Galuh serentak terpental seakan tidak ada artinya
sama sekali.
Ragadewa bangkit lalu menggandakan
diri menjadi lima orang, yang lalu masing-masing dari replikanya, mengikat Si
Tengkorak Beruang dengan masing-masing tambang energi. Dengan tanpa menunggu
lama, Gada Sangkara segera melayangkan energinya yang berupa kepalan besar pada
dada Si Tengkorak Beruang, sehingga menyebabkan suara kretak sangat keras dari
rusuknya.
Namun, bukannya roboh, Jenderal
beruang tersebut tiba-tiba menarik semua tambang energi Ragadewa, sehingga kelima
replika dari Ragadewa terpental kesemua arah. Lalu pukulan kepalan besar dari
energi milik Gada Sangkara, kembali ditahan dengan satu tangan! Sedangkan Gada
Sangkara sendiri terpental ketanah dengan dentuman yang sangat mengguncang.
Jinn Si Kelinci ikut menyerang, dengan
mengaktifkan ilmu gerbang Dewa miliknya. Lalu setelahnya, ia memunculkan lima
ksatria legendaris Pandawa dalam perwayangan Mahabarata.
Namun, pukulan Bima, dipatahkan Si
Tengkorak Beruang dengan satu tangan! Serangan panah Arjuna, ia kibaskan
menggunakan jubah beruangnya, bahkan Pasopati legendaris milik Arjuna terpental
dengan sekali kibasan Jubah.
Sedangkan Yudhistira, ia menutup mata
sambil mengucapkan mantera pangruwat jagat, untuk membersihkan energi gelap
milik Si Tengkorak Beruang. Namun, jubah Si Tengkorak Beruang malah menyerap
semua cahaya yang tersebar oleh mantera milik Yudhistira, lalu memantul kembali
pada Yudhistira sehingga ia kembali menjadi energi milik Jinn Si Kelinci.
Si kembar Nakula dan Sadewa kini dimunculkan.
Nakula menedang Si Tengkorak Beruang dengan kudanya, lalu Sadewa melepaskan
lembingnya saat Si Tengkorak Beruang lengah karena tendangan kuda milik Nakula.
Tetapi Si Tengkorak Beruang kembali bangkit dan memukul keduanya sehingga
mereka berderai kembali menjadi energi sebelum mereka terbentuk.
Jinn Si Kelinci tidak menyerah, ia
lalu memanggil empat tokoh legendaris dari kisah Ramayana. Rahwana beserta
ketiga adiknya, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana.
Namun, dengan gerakan yang super
cepat, Ajian pancasona milik Rahwana pecah saat Si Tengkorak Beruang memukul
keras tepat dijantung Rahwana, inti dari energi Ajian pancasona miliknya. Racun
sihir Sarkapenaka sendiri terkibas oleh jubah Si Tengkorak Beruang sehingga
ajian racun milik Sarkapenaka melibas dirinya sendiri. Lalu Kumbakarna, ia
roboh karena ketika baru sadar karena terbangun dari tidur panjangnya, serangan
tiba-tiba dari Tengkorak Beruang, sontak menghancurkan leburkan tubuhnya yang
seperti raksasa.
Terakhir Wibisana, dengan memanfaatkan
kekuatan para Dewa, Wibisana membuat Si Tengkorak Beruang mundur satu langkah. Namun,
Si Tengkorak beruang segera mengeluarkan raungan beruang andalannya, sehingga semua
energi yang dilesatkan Wibisana kini berbalik pada dirinya, mengakibatan
Wibisana langsung terberai seperti pasir.
Sontak semuanya langsung terdiam!
Gerakan Si Tengkorak Beruang yang super cepat, membuat mereka semua jadi
bergidik ngeri.
Si Tengkorak Beruang langsung tertawa sangat
puas, ia terlihat sangat menikmati raut kaget dari Galuh dan kawan-kawan.
“Saya sangat kuat bukan! Tentu saja, karena
saya memang pantas untuk menjadi pengganti salah satu Tetua Hitam.. Hahahaha!” ucap
Jenderal Beruang dengan mata berdelik penuh kesombongan.
Namun tanpa diduga, tiba-tiba Adhit maju
ke medan laga, lalu berhadapan dengan Si Tengkorak Beruang satu lawan satu. Sontak
semuanya terkejut, karena selain hanya manusia biasa, Adhit tidak memakai pelindung
apapun yang disediakan oleh Kalung Sura Suradana miliknya.
“Adhit! Jangan Gila!” Seru Galuh dengan
panik. Namun, ketika hendak dibantu, tiba-tiba Galuh ditahan Ragadewa yang
menggeleng sambil tersenyum.
Adhit ternyata bisa menangkis serangan
milik Jenderal Beruang, Sontak semuanya terkejut! Kecuali Ragadewa, “Apa yang
diucapkan Adhit benar!” ucap Ragadewa senang.
“Ragadewa!” Teriak Adhit memberi kode.
Ragadewa yang mengerti, tiba-tiba saja ia melayangkan sebongkah kerikil kecil,
lalu dilesatkan untuk memantul dulu pada batu dan pepohonan dengan sudut
derajat yang sudah diperhitungkan. Lalu, “Pletak!” kerikil tersebut mengenai
titik syaraf Si Tengkorak Beruang yang sontak membuat tubuh Jenderal Beruang
kram seketika.
Tanpa menunggu lama, Adhit langsung
menyerang Jenderal Beruang dengan teknik pencak silat Cimande yang ia latih
sejak kelas satu SD. Beberapa pukulan telak, tangkisan dalam, hingga jurus tangkapan
harimau membuat Jenderal Beruang langsung terkapar tidak berdaya.
“Bagaimana bisa!” ucap Galuh heran, Gada
Sangkara pun bereaksi sama. Namun Soma Wisesa kini malah tergelak, “Kini saya
mengerti mengapa Candrakara membawa seorang anak Manusia bersama kita
Hahahaha!” Soma Wisesa menyadari sesuatu sambil tergelak dengan sangat keras.
Galuh dan Gada Sangkara yang masih juga
belum mengerti, segera didekati Jinn Si Kelinci yang lalu berkata.
“Dari Kalung Sura Suradana miliknya,
Adhit mendapatkan informasi bahwa Si Tengkorak Beruang menggunakan energi
cermin. Jadi, energi apapun yang bersentuhan dengannya, akan terpantul kembali sesuai
kadar energi yang ia terima. Mengapa ia jauh lebih unggul, karena begitu
lawannya seimbang, baru ia menggunakan jurus menggunakan tenaganya sendiri.”
Jelas Jinn Si Kelinci dengan raut senang.
“Jadi selama ini ia menggunakan energi
kita?” ucap Gada Sangkara merasa dibodohi.
“Aah.. saya mengerti, Adhit maju karena bila Si
Tengkorak Beruang berhadapan dengannya,
maka tenaga dan kondisi fisiknya akan menjadi seperti dirinya, hanya Manusia
biasa?” ucap Galuh yang lalu terkejut dengan bentuk perkataanya sendiri.
“Lalu Ragadewa, dengan memantulkan
kerikil pada beberapa sudut dulu, membuat energi Ragadewa tidak terdeteksi,
malah energi sebelumnya, yaitu milik Adhit yang hanya Manusia biasa. Jadi, ketika
Si Tengkorak Beruang menerima totokan dari kerikil Ragadewa, ia langsung roboh
karena tubuhnya jadi setara dengan tubuh milik Adhit.” Ucap Jinn Si Kelinci
lagi dengan bangga. “ Ini Gila!” Sambung Gada Sangkara takjub.
Kini Galuh dan Gada Sangkara menoleh
pada Adhit takjub. Ragadewa sendiri memandang Adhit dengan pandangan terkesima.
“Manusia ini gila! Benar-benar gila! Bagaimana ia bisa terpikir sampai sejauh
itu!” pikir Ragadewa tidak kalah takjubnya.
Tiba-tiba saja Si Tengorak Beruang
siuman, lalu mencengkram kaki Adhit hingga menimbulkan kepanikan sesaat. Namun,
sepertinya Si Tengkorak Beruang masih belum sadar bahwa Adhit hanya Manusia
biasa, sehingga tenaga yang ia keluarkan hanyalah tenaga manusia biasa juga. Maka
dengan mudah, dengan hanya menendang tangan Si Tengkorak Beruang, cengkramannya
bisa langsung terlepas dengan cepat.
Si Tengkorak Beruang akhirnya menyadari,
bahwa Adhit tidak memiliki energi apapun. Maka setelah itu, ia melepaskan energi
cermin yang selama ini ia pakai, lalu menggantinya dengan energi miliknya
sendiri. Si Tengkorak Beruang berlari cepat mendatangi Adhit, lalu berusaha
merobek Adhit dengan menggunakan cakar beruangnya miliknya.
Untungnya, saat itu Adhit tidak
sengaja beralih tempat karena hendak mendekat pada Galuh, sebuah kebetulan yang
mengakibatkan cakar milik Si Tengkorak Beruang malah mengenai dirinya sendiri. Sehingga
setelah itu, Si Tengkorak Beruang tewas dengan robek tubuh yang menganga sangat
mengenaskan.
Tanpa menunggu lama, Soma Wisesa segera
melepaskan energi besar sehingga tubuh Si Tengkorak Beruang hancur terberai, agar
mereka semua yakin bahwa Si Tengkora Beruang memang telah benar-benar tewas.
Begitu memastikan semuanya aman, Gada
Sangkara yang hafal wilayah ini, segera membawa mereka semua ketempat yang lebih
aman untuk duduk sebentar.
Hal tersebut kemudian dimanfaatkan Soma
Wisesa dan Adhit dalam mencari petunjuk Kitab Candrakara. Sesekali Soma Wisesa termenung
sebentar, seakan-akan tengah mengingat sesuatu. Namun, setelah Adhit mengatakan
sesuatu berdasarkan kilasan memori yang ditinggalkan Guru Candrakara dalam DNA leluhurnya,
Soma Wisesa kembali tersenyum seakan menemukan sisi puzzle petunjuk yang hilang.
Ragadewa sendiri malah memandang
sekeliling Astamaya dengan pikiran menerawang entah kemana. Sesekali, ia memberi
masukan jawaban tentang petunjuk-petunjuk Kitab Candrakara, berdasarkan
pengalamannya sebagai Kaum Astamaya di dunia Manusia. Namun, setelah itu ia duduk
dan kembali termenung, seakan sedang mengulang kembali memori masa remajanya
ketika masih di Astamaya.
Sedangkan Gada Sangkara dan Galuh, karena
mereka berdua memang hobby memasak, mereka bersikeras memasak menggunakan
alat-alat yang terdapat dalam tas Kakek Addar yang diberikannya pada Adhit.
Mereka berdua benar-benar seperti
bocah ketika melihat isi tas Adhit. Tawa mereka tiba-tiba pecah saat menemukan
novel cinta remaja didalamnya. Adhit yang malu campur kaget, malah membuat
Galuh dan Gada Sangkara semakin tergelak.
Berhasil menemukan alat masak yang
mereka butuhkan, selama memasak Galuh dan Gada Sangkara benar-benar sangat rusuh,
panci yang saling beradu, berebut bumbu, bahkan saling menertawakan ketika
salah satunya terkena apes saat memasak.
Untungnya, hidangan yang dibuat Galuh
dan Gada Sangkara benar-benar sangat lezat! Adhit dan semuanya bahkan terus
menerus memuji masakan Galuh. Gada Sangkara langsung protes, karena ia juga
ikut andil memasak, tetapi tidak ada pujian apapun untuknya. Sontak hal
tersebut membuat semuanya jadi tergelak kembali. Sembari makan, mereka kini membahas
isi Kitab Candrakara lebih dalam.
“Disini disebutkan, bahwa Sang Cahaya adalah
benda yang berpendar terang, namun tidak menyilaukan, astaga apalagi ini!“ Umpat
Soma Wisesas kesal. Semua tertawa kembali karena Guru Candrakara yang membuat
misi, namun semua petunjuknya yang setengah-setengah, malah membuat Soma sebagai
sahabatnya frustasi setengah mati.
“Itu terdengar seperti mata Ruh?” tebak
Ragadewa yang diamini Galuh. Dengan segera, Galuh mengeluarkan mata Ruh yang ia
kantongi. Soma Wisesa, karena mewakili
elemen cahaya, ia meraba mata Ruh dari segala sisi, namun mereka malah tidak
menemukan reaksi apapun.
“Bola Cahaya yang berpendar terang,
namun tidak menyilaukan? gambarannya seperti bola matahari buatan yang terdapat
di dalam gua tempat Kaum Luhur berada, ah.. tapi ukurannya terlalu besar,”
tebak Adhit merasa tidak mungkin, tapi tebakan Adhit justru membuat Galuh
menoleh kaget.
“Itu memang batu bercahaya yang tidak
menyilaukan!” Ucap Galuh sambil menepuk keningnya karena melupakan hal tersebut.
“Kakek Addar pernah mengatakan, cahaya
matahari buatan dalam gua, berasal dari batu cahaya pemberian Guru Candrakara
yang diturunkan secara turun temurun! Aah.. mengapa saya tidak ingat semua
itu!” ucapan Galuh membuat semua seakan mendapat pencerahan.
“Tapi ketika masa pelarian saat gua yang
lama diserang Saguri, apa batu cahaya tersebut sempat diambil?” tanya Adhit
yang kini membuat Galuh dan yang lainnya jadi saling berpandangan.
“Di Gua bawah tanah yang baru, saya
melihat Tuan Addar memasukan sesuatu pada matahari buatan yang sama persis
dengan Gua persembunyian kami yang lama.” Ucap Jinn Si Kelinci dengan yakin. Sontak
semuanya kini jadi sangat lega. Dengan tanpa menunggu lama, mereka segera pergi
menuju tempat Kaum Luhur berada, yaitu tepat dibawah Istana.
Setelah semuanya sudah cukup istirahat,
Jinn Si Kelinci memimpin mereka untuk menyusuri rute rahasia menuju gua bawah
tanah. Karena dengan begitu, tidak akan ada yang mengetahui bahwa Galuh telah
pulang kembali menuju Istana. Namun begitu mereka sampai di gua bawah tanah, Gada
Sangkara, Ragadewa dan Soma Wisesa tercekat luar biasa!
“Ini….” ucapan Gada Sangkara terhenti
begitu saja, napas mereka hampir tercekik karena mereka disuguhi pemandangan
yang sangat luar biasa.
Ragadewa dan Soma Wisesa berdecak
kagum dengan isi gua yang mirip dengan kuil kuno. Galuh dan Adhit, sekalipun
mereka berdua dulu pernah masuk kedalam sini saat bersama Subhita, namun saat
itu gua bawah tanah masih awal ditinggali, sehingga masih dalam bentuk standar
biasa.
Namun, kini suasana Gua dibawah Istana
benar-benar telah berjalan seperti di Gua tempat tinggal Kaum Luhur sebelumnya,
bahkan lebih hebat!
Sebuah Aula interior kuno dengan
ukuran super mega besar! Aula yang diberi penerangan menggunakan bebatuan
melayang yang bercahaya ini, membuat ide dalam kepala Ragadewa untuk tulisannya
selanjutnya seakan siap meledak.
Soma Wisesa cukup tertegun lama. Sebagai
sahabat dimasa lalu, ia tahu bila Guru Candrakara memang agak gila, tetapi
semua hal yang direalisasikan oleh Guru Candrakara sekarang melebihi kata tidak
waras!
Gada Sangkara kini tersenyum
senang, karena melihat isi cerita dibalik lukisan raksasa menyerupai batik
singa barong khas Cirebon.
Kisah yang pernah diceritakan Jinn
Si Kelinci. Lukisan yang bercerita tentang sebuah perjalanan yang dipimpin
seorang Manusia berpakaian seperti penebang kayu kuno, kakek tua berjanggut, dan
seorang anak muda berpakaian seperti cendikiawan yang juga sama kunonya. Yang
setelah itu, di ikuti banyaknya binatang berdiri dan berpakaian seperti
layaknya manusia dimasa itu. Setelahnya Gada Sangkara menggeleng dengan sangat
senang luar biasa.
Ragadewa sendiri, ikut tersenyum
karena mengenali kisah lukisan langit-langit gua. Ketika mata Ragadewa menelusuri
kebawah langit-langit gua tersebut, kini ia kembali tercekat.
Ia mendapati tiang-tiang batu besar
yang begitu gagah dan megah, menyangga langit-langit gua dan beberapa balkon
yang sama megahnya. Satu tema dengan lukisan yang ada di langit-langit gua,
tiang-tiang dan beberapa balkon tersebut dipahat menyerupai ukiran kayu khas
Cirebon, sehingga menciptakan sebuah harmoni dengan keindahan yang luar biasa.
Soma Wisesa yang juga terkejut
dengan keindahan yang ada di langit-langit Aula gua, tiba-tiba perhatiannya
tersedot pada beberapa tanaman yang merambat pada beberapa balkon tersebut.
Beberapa bunga yang tumbuh disisi balkon tiba-tiba dikunjungi kupu-kupu,
serangga warna warni dan burung-burung kecil yang terbang saling bertaut. Lalu
mereka menciptakan tarian udara yang sangat memikat.
Lalu Soma Wisesa memegang kepalanya
sendiri yang mulai berdenyut karena terlalu banyak terkejut. “Candrakara itu
gila! Gila dan sangat tidak waras!” ucap Soma Wisesa dengan sangat tidak
percaya.
Saat Jinn Si kelinci memandu mereka
memasuki area pasar tradisional khas Jawa Barat di masa lalu. Mereka terkejut
karena banyaknya kendaraan terbang berseliweran di atas tanpa henti. Adhit sedikit
heran karena kendaraan terbang bisa begitu bebas melintasi wilayah pasar, namun
saat menyadari bahwa wilayahnya lebih
besar dari Gua persembunyian Kaum Luhur sebelumnya, maka pasar tradisional dan
beberapa lapak yang digelar di bawahnya masih aman terkendali.
Galuh rasanya hampir menangis saat
melihat Kaum Luhur baik-baik saja. Lalu dari kejauhan, Kakek Addar yang tengah
membeli sesuatu, langsung terkejut mendapati Galuh dan kawan-kawan ada di gua
Kaum Luhur, yang setelah itu dibawa masuk kedalam ruang pertemuan milik kakek
Addar. Galuh dan Adhit terkejut karena lebih megah daru ruangan Gua lama.
Mereka bahkan bertemu Taphilli yang
sedang membuka buku ramuan diantara tumpukan buku-buku tua lagi tebal. Aroma
tanaman herbal kering memenuhi ruangan tersebut.
Namun bukan hanya Taphilli, mereka juga
mendapati Cahya Natraprawira, yang tengah membantu Taphilli untuk berbicara
dengan orang-orang dimasa lampau, dalam melihat sejarah ramuan yang sedang
Taphilli racik. Mereka berdua terkejut saat melihat para pemilik elemen tiba-tiba
masuk ke ruang pertemuan.
Galuh dan Kawan-kawan terkejut, Taphilli
kini tidak pincang! Kakinya kini disangga oleh penemuan salah satu Kaum Luhur.
Begitu melihat Galuh dan kawan-kawan, Taphilli langsung berlari dan memeluk
mereka sambil menangis. Ia benar-benar lega bila Galuh dan kawan-kawan masih
baik-baik saja. Taphilli bahkan memperlihatkan bahwa ia kini bisa menari diatas
kakinya sendiri.
Cahya Natraprawira juga memeluk mereka
dengan sangat erat. Ia berterimakasih banyak karena selain hidupnya sudah lebih
tenang, ia juga bisa memanfaatkan kemampuan yang ia miliki untuk kebaikan bagi
Kaum Astamaya.
Dengan bangga, mereka berdua memperlihatkan telah menciptakan ramuan-ramuan
hebat, untuk menawarkan berbagai racun yang selama ini ditebarkan Kaum Hitam di
seluruh pelosok Astamaya.
Tiba-tiba dari balik pintu, muncul
Subhita, yang begitu melihat Galuh, ia lalu berlari kencang ke arah Galuh sambil
berteriak senang.
“Akhirnya kamu pulang Na… eh, Nona
Galuh….!” Ucap Subhita sambil kegirangan. Lalu, Subhita memeluk Galuh
berkali-kali.
Ternyata, sejak kepergian Galuh,
Subhita langsung ditarik oleh Kakek Addar untuk tinggal di gua bawah tanah,
tempat para Kaum Luhur tinggal. Selain agar menjadi lebih aman, Subhita juga menjadi
penghubung antara Paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati, dengan Kaum Luhur.
Sedangkan Bi Nai, ibu angkat Subhita
yang juga pengasuh Galuh dulu, tetap di Istana. Namun, kini ia ditempatkan
sebagai pelayan khusus Maharaja Ranji Raspati. Selain agar tetap aman, juga
karena ia orang lama, maka Bi Nai mempunyai jaringan mata-mata khusus untuk
mengawasi gerak gerik para Bangsawan agar bisa lebih dikendalikan Istana.
“Setelah semua ini selesai, kamu harus
menceritakan dari semua perjalanan ini, bahkan kamu harus menjadikannya novel
petualangan, agar bisa saya ceritakan pada anak-anak saya nanti!” ucap Subhita dengan
nada bergetar.
“Aah.. saya juga punya banyak cerita
yang tidak sabar saya sampaikan, terutama Paman Nona, Maharaja Ranji Raspati!
Sekarang para bangsawan licik dan para Menteri yang bekerja sama dengan mereka
mulai hati-hati bertindak apapun. Karena dibelakang Maharaja Ranji Raspati, ada
Tuan Addar, para sesepuh Kaum Luhur, dan bantuan dari pengetahuan Taphilli dan
Tuan Cahya Natraprawira.” Ucap Subhita dengan nada senang yang berapi-api.
“Mereka yang hendak jahat pada
Maharaja dan Istana, kini bungkam karena takut bernasib sama seperti Klan Merah!
Aah.. rasakan para Bangsawan jahat!” ucap Subhita sangat puas, sontak hal itu
membuat Galuh dan yang lainnya tertawa sekaligus lega luar biasa.
Disisi lain, Gada Sangkara mulai
berani mendekati Subhita, bahkan mengajak Subhita bicara walaupun dengan wajah
memerah karena malu. Subhita yang terkejut, menanggapi Gada Sangkara dengan
jawaban terbata-bata sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan sangat kencang. Bahkan
saking kencangnya, kipasnya tiba-tiba terlempar entah kemana.
Hal tersebut sontak membuat Adhit
terkejut. “Selama ini Gada Sangkara dekat dengan Galuh, bukan karena jatuh hati
pada Galuh, tetapi jatuh hati pada sahabat Galuh. Gada sampai bertanya semua
hal yang menjadi favorit Subhita,” Bisik Ragadewa sambil menahan senyum. “Jadi,
selama ini saya salah paham?” tanya Adhit terkejut. Ragadewa menanggapinya
dengan tersenyum mengiyakan.
Ditengah suasana haru dan penuh syukur
ini, Kakek Addar sangat terkejut saat Galuh menerangkan tentang isi dari Kitab
Candrakara. Karena ternyata, Sang Cahaya, adalah salah satu retakan dari Batu
Hyang Sawarga selalu ada bersama Kakek Addar.
Dengan tanpa menunggu lama, Kakek
Addar segera mengajak mereka semua pergi menuju Sang Cahaya berada.
Setelah memberikan pemberitahuan
darurat pada seluruh Kaum Luhur. Kakek Addar segera menghidupkan suasana langit
malam yang diterangi bulan dan bintang buatan. Sehingga, saat matahari buatan
diredupkan, suasana dalam gua masih ada cahaya sekalipun agak temaram.
Kaum Luhur sendiri, ikut bekerjasama
dengan menghidupkan lampu-lampu di masing-masing rumah mereka. Galuh dan kawan-kawan
benar-benar sangat terpana akan kesantunan Kaum Luhur dalam memahami situasi.
Kakek Addar membuka segel yang
terdapat dalam Matahari buatan mereka. Adhit terkesima saat matahari buatan
tersebut terbuka dengan lipatan origami yang begitu rumit. Dan saat sudah
terbuka, Galuh dan kawan-kawan langsung terpesona dengan keindahan sang cahaya.
Benar yang dikatakan Kitab Candrakara, Sang Cahaya begitu terang berderang,
namun cahayanya yang membias acak, justru tidak menyilaukan sama sekali.
Dengan segera, Adhit mendekatkan bandul
Istana Tujuh Pintu yang menempel pada kalung Sura Suradana miliknya. Lalu munculah
kelopak bunga Melati putih transparan, yang memunculkan Nawang Wulan dengan
sangat indah.
Seperti biasa, begitu Nawang Wulan
muncul, pandangan Soma Wisesa langsung melembut, lalu hilang sudah tampilan pria
sarkas yang selalu meluapkan kalimat tajam itu. Semua berjalan dengan sangat lancar,
Sang Cahaya telah mereka temukan, lengkaplah sudah!
Setelah itu, mereka naik ke atas
menuju Istana, tempat dimana ruang segel Batu Hyang Sawarga dulu pernah disimpan,
lalu dirancang agar bisa menahan ledakan maha dasyat Batu Hyang
Subhita membawa Galuh dan kawan-kawan ke
tempat dimana ia sering bertemu dengan paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati. Mereka
memasuki ruang pertemuan Istana melalui pintu ruang rahasia.
“Paman?” ucap Galuh lembut pada paman
kesayangannya yang tengah termenung memandang lukisan besar Kakaknya, Maharaja
Mahesa Agung, Ayah Galuh.
Saat pamannya menoleh, Galuh terkejut!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar