Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 39 – Hyang Sawarga yang menakutkan! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Wajah Maharaja Ranji Raspati jadi separuh ular! Semua orang spontan menahan napas. Bi Nai yang baru memasuki ruangan untuk memberikan informasi terbaru, malah berteriak histeris. Lalu setelahnya malah pingsan ditempat.
Ditengah kekalutan, Kakek Addar segera
memfokuskan energinya untuk melayangkan tubuh paman Galuh menuju tempat tidur.
Sedangkan Galuh, dengan tubuh yang
gemetar hebat, ia segera memegang erat tangan Adhit untuk menahan tangis. Ia yang
telah kehilangan ibunya, lalu ayahnya. Kini malah dihadapkan dengan kondisi
paman kesayangannya yang tidak bisa dijelaskan sama sekali. Disatu sisi hatinya
perih luar biasa, namun disisi lainnya, Galuh harus berusaha agar tetap kuat, agar
segel para Ajag dalam tubuhnya tetap terjaga penuh.
Disaat yang sama, Subhita yang panik
karena ibunya tidak sadarkan diri, segera dibantu oleh energi Gada Sangkara dalam
memapah ibunya yang pingsan keatas sofa. Setelah berterimakasih dengan hangat, Subhita
langsung menghubungi Taphilli dan Cahya Natraprawira agar segera naik ke
Istana.
“Apa yang terjadi paman?” tanya Galuh
dengan nada suara yang masih gemetar.
“Tidak tahu, saya bahkan baru menyadari
kondisi saya setelah diberitahu oleh kalian,” jawab Maharaja Ranji Raspati dengan
nada melemah. Tangan yang tadinya masih kuat memegang catatan istana, kini
setelah tubuhnya diatas kasur, tangannya menglunglai seperti tanaman layu.
Tak lama kemudian, terdengar langkah
cepat dari arah lorong rahasia yang menuju bawah tanah. Taphilli dan Cahya
Natraprawira akhirnya sampai juga di kamar Maharaja Ranji Raspati.
Dengan sigap, Taphilli dibantu Adhit
dengan kalung Sura Suradana miliknya, mereka segera memeriksa kondisi Maharaja
Ranji Raspati dengan sangat seksama. Taphilli memeriksa denyut nadi dan kondisi
respirasi Maharaja, sedangkan Adhit memindai seluruh tubuh Maharaja dengan
kalung Sura Suradana miliknya.
“Ini racun kuno, seharusnya racun ini
telah lama punah,” Ucap Taphilli terkejut. “Bagaimana Maharaja bisa teracuni?
Sedangkan tempat ini dijaga dengan sangat ketat!” ucap Kakek Addar dengan nada
penuh kekecewaan.
Namun, Cahya Natraprawira tiba-tiba terkejut,
ketika ia menemukan sebuah cawan kuno berusia seribu tahun lebih, ada di atas
meja kerja sang Maharaja.
“Benar, cawan model ini memang sudah
hilang sejak tujuh ratus tahun yang lalu. Sengaja dimusnahkan karena sering disisipi
Mudria,” ucap Soma Wisesa membenarkan. Sebagai seseorang yang dulu hidup dimasa
lampau, ia benar-benar tahu tentang banyaknya kasus dikarenakan cawan kuno ini.
Dengan energinya, Cahya Natraprawira segera
membuka tabir masa lalu dari cawan kuno tersebut. Setelah ia menggeser-geser
masa waktu dari cawan yang melayang ditangannya, akhirnya mereka menemukan
sesuatu!
“Saguri? Cawan ini ditempa khusus oleh
Saguri?” ucap Kakek Addar saat melihat jubah khas yang begitu ia kenal.
“kemudian Cahya Natraprawira menggeser-geser dari berbagai waktu, untuk
menemukan petunjuk selanjutnya. “Sadya Agracarana? Jadi cawan ini disisipkan Sadya
saat masa Maharaja Mahesa Agung masih hidup.” Ucap Gada Sangkara dengan sama
terkejutnya.
“Sadya Agracarana, otak dalam mengompori para
bangsawan agar Galuh yang tengah terasuki untuk dilenyapkan, dan dia pula yang
meracuni Maharaja Mahesa Agung? Seharusnya orang ini dilenyapkan sejak diketahui
bahwa ia adalah otak dari pemberontakan para Bangsawan saat itu!” Ucap Kakek
Addar dengan raut luar biasa marah.
“Saya menemukan cawan tersebut di rak
atas, karena menurut para pelayan, itu adalah cawan yang terakhir dipakai oleh Mahesa…
saya hanya ingin mengenang kakak tercinta yang terlalu cepat pergi,” jelas Maharaja
Ranji Raspati dengan napas yang semakin tidak berdaya. Galuh kini memandang
pamannya yang memang berhati lembut itu dengan iba.
“Sepertinya, cawan ini dipergunakan
Sadya Agracarana untuk meracuni mendiang ayah Galuh, Maharaja Mahesa Agung.
Ketika Maharaja Ranji Raspati tidak sengaja menggunakannya, ia juga mendapat
efek yang serupa,” ucap Adhit yang membuat semua mengangguk-angguk mengerti.
“Tetapi Maharaja Mahesa Agung tidak
pernah memperlihatkan efek seperti sekarang, Ia hanya tiba-tiba ditemukan wafat
dalam keadaan tertidur pulas.” Ucap Kakek Addar tidak mengerti.
“Racun ini mempunyai fungsi untuk
mengontrol perilaku seseorang yang meminumnya. Jadi, mengapa dengan Maharaja
Ranji Raspati, cawan ini membuat beliau menjadi separuh ular, namun mendiang
Maharaja Mahesa Agung tidak? Karena, sepertinya Maharaja Mahesa Agung berhasil menahan
semua kendali yang terjadi pada dirinya, membuat Mudria tersebut kembali lagi pada
cawan kuno ini. Kekuatan Maharaja Mahesa mungkin bisa mengalahkan kendali itu,
tapi tubuhnya tidak, sehingga Beliau akhirnya wafat.
Galuh menangis perih karena mengetahui
bahwa ayahnya menderita dalam kesendirian. Segel para Ajag akhirnya terbuka
juga, namun dari arah dalam, NaRaja malah menutupnya kembali, itu membuat Kakek
Addar memandang Adhit dengan penuh tanda tanya.
“Ini sudah terjadi beberapa kali dalam
perjalanan kami,” bisik Adhit yang membuat Kakek Addar cukup terperanjat.
“Tiba-tiba Taphilli datang mendekat pada
Maharaja Ranji Raspati untuk meneteskan ramuan racikannya. Lalu dengan Ajaib, kulit
wajah Maharaja Ranji Raspati yang separuh ular, kini terlepas! Lalu kulit ular
yang terlepas tersebut, berubah menjadi Mudria berbentuk ular dengan taring
yang sangat mengerikan.
Karena panik, ular tersebut menyerang
semua orang yang ada didalam kamar tersebut dengan secara membabi buta. Ketika ular
tersebut hendak masuk kedalam tubuh Bi Nai yang masih dalam keadaan pingsan,
Ragadewa segera menjerat Mudria berbentuk ular tersebut dengan tambang
energinya.
Tanpa menunggu lama, Kakek Addar langsung
bertindak persis seperti saat mengeluarkan Mudria dari lengan Adhit dulu.
Membekukan asapnya, membantingnya hingga pecah berkeping-keping, lalu setelah
itu membuar dan menghilang bersama angin. Bau amis yang memuakan tercium sebentar,
lalu kemudian menghilang.
“Mudria tersebut telah bersarang dalam
cawan ini cukup lama, sehingga Ruh asal yang menjadi Mudria tersebut akhirnya membusuk,
karena terendam dosa-dosa yang disandangnya selama hidup sebagai penjahat keji
dimasanya dulu.” Jelas Kakek Addar sehingga Adhit mengerti.
“Aah begitu..” jawab Adhit kini
mengerti. “Apakah penemu penyusupan Mudria ada mahluk hidup adalah ciptaan
Saguri juga?” ucap Adhit membuat Kakek Addar menoleh pada Adhit dengan
terkejut. “Pemikiran yang jeli anak muda. Bisa jadi, karena sebelum era Saguri,
belum pernah ada kasus permasalahan tentang Mudria,” jawab Kakek Addar
membenarkan.
Begitu Maharaja Ranji Raspati sudah
baikan, keadaan sudah terkendali, maka mereka segera kembali pada tujuan awal.
Begitu seluruh Tetua Putih telah
berkumpul, prosesi penyerahan Batu Hyang Sawarga kini dimulai. Namun, saat
mereka baru saja hendak menyerahkan retakan Batu Hyang Sawarga yang telah
lengkap kepada para Tetua Putih yang telah berkumpul di Istana, tiba-tiba terjadilah
serangan dadakan dari luar Istana!
Kekacauan masuk melalui segala arah,
disertai bantuan dari para Moster yang sudah diberi mantera. Serangan mendadak
itu membuat prajurit istana banyak sekali yang terluka, bahkan termasuk pasukan
khusus pelindung Maharaja Ranji Raspati.
Pasukan Saguri yang tengah menyerang
Istana ternyata sangatlah besar. Sepertinya Saguri telah memutuskan untuk tidak
bergerak sendirian lagi, terbukti beberapa Panglima Hitam yang dulu hanya
terfokus mencari Kitab Sembilan, kini ternyata ikut menyerang bersama pasukan
yang biasanya membantu Saguri.
Soma Wisesa curiga ada penghianat dari
para Tetua Putih, karena semua berita tentang mereka hanya disampaikan pada kakek
Addar.
Namun, ketika Saguri menampakan diri,
kalung emas yang dipakai salah satu sesepuh Tetua Putih, tiba-tiba turun dan
menjelma menjadi wanita eksotis yang terbalut gaun ketat berwarna emas, lalu pergi
menuju Saguri.
“Bagaimana bisa?...” ucap Tetua Putih
tersebut terkejut dan hampir oleng terjatuh. Karena ia dan kakek Addar sempat mencurigai ada
penghianat diantara para Tetua Putih. Namun ternyata, yang berkhianat adalah
kalungnya yang selama ini ia pakai.
“Tentu saja bisa, Hahahaha..!” ucap
Saguri tertawa dengan sangat puas!
“Rencana ini sudah dipersiapkan sejak
lama. Seseorang menukar kalung kesayangan mendiang istri anda, tentu tidak ada
yang curiga ke arah sana bukan?”ucap Saguri dengan nada mengejek. Tetua putih
tersebut kini jatuh terduduk.
“Licik!” Ucap Tetua Putih tersebut
dengan wajah yang begitu marah.
“Tentu saja, dengan menyusupkan wanita
bergaun emas itu menjadi kalung yang dipakai Tetua Putih tersebut, Saguri bisa
memperoleh banyakt informasi tentang rencana-rencana yang dibicarakan Kaum
Putih,” bisik Ragadewa membenarkan.
“Apa itu yang membuat ayahmu, Panglima
Besar Baharyu, yang dulu berpura-pura koma, selain agar para Bangsawan yang
bekerjasama dengan Kaum Hitam menjadi tidak waspada, juga menghindari rahasia
dari pihak militer tidak tembus
“Benar sekali.” Jawab Gada Sangkara
membenarkan.
“Setelah Tetua Putih tersebut selalu
membawa kalung mendiang istrinya, Saguri bisa mendengarkan banyak informasi
bahkan lebih lengkap.” Ucap Gada Sangkara yang membuat para pemilik elemen
menoleh kaget, terutama Kakek Addar.
“Bagaimana kamu bisa mengetahui
sedetail itu?” Tanya Galuh heran.
Gada Sangkara tersenyum, lalu dengan
tangan yang masih membawa Batu Hyang Sawarga yang sudah terkumpul lengkap,
tiba-tiba ia melesat cepat dan bergabung diantara jejeran Kaum Hitam.
Tiba-tiba Saguri memberikan aba-aba
agar anak buahnya mundur dulu, lalu ia menunduk hormat pada Gada Sangkara
sambil berkata. “Tuan Saguri.. selamat datang kembali,” Sontak semua yang ada
disana terkejut, terutama Panglima besar utama Istana, Ayah Gada Sangara
sendiri.
“Gada Sangkara adalah Saguri?” ucap Ragadewa
tidak percaya. “Bagaimana mungkin?” sambung Galuh dengan rasa kecewa yang cukup
dalam. “Gada Sangkara yang begitu perhatian dan lembut, ternyata adalah Saguri?”
Pikir Galuh dengan sangat tidak mengerti.
“Kita benar-benar terkecoh.. sangat
terkecoh!” ucap Soma Wisesa marah. Soma marah, karena ia merasa gagal tidak
dapat mengenali bahwa Gada Sangkara adalah musuh, padahal tingkatan ilmunya sudah
sangat tidak diragukan lagi.
“Cerdas sekali, dengan selalu berada
ditengah-tengah kita, Saguri bisa mengawasi gerak-gerik kita setiap saat.
Bahkan ia tidak perlu bersusah payah mendapatkan informasi keberadaan batu Hyang
Sawarga. Ia memanfaatkan kita hingga semuanya terkumpul, lalu merebutnya dengan
cara seperti ini,” ucap Ragadewa sambil menggeleng tidak percaya.
“Saya mengenal Gada Sangkara sejak
lahir, dan ketika tak sengaja terkena sorotan dari mata Ruh saat menjelang
keberangkatan kalian menuju dunia Manusia, jelas-jelas ia dikenali sebagai
keturunan pemilik elemen tanah yang terpilih, itu tidak mungkin tergantikan
oleh orang lain!” ucap Kakek Addar yang masih tidak percaya dengan apa yang
sedang terjadi.
“Kecuali, bila saat terteropong oleh
mata Ruh yang tidak sengaja, ia masih Gada Sangkara yang asli.” Ucapan Adhit
membuat semua menoleh penuh tanya dengan terkejut.
Dari kejauhan, Gada Sangkara tiba-tiba
menoleh pada mereka. “Adhitya.. kamu memang sejeli Candrakara.. Hahahaha!” ucapan Gada Sangkara membuat semua terkejut.
Setelah Gada Sangkara berubah wujud,
mereka semua akhirnya mengerti bahwa perkataan Adhit benar. Itu bukan Gada
Sangkara, melainkan Saguri yang sedang menyamar menjadi Gada Sangkara.
Dalam jarak yang terlihat, tanpa jubah
yang biasa ia kenakan, Saguri tidak seperti tokoh penjahat bengis yang selalu
digambarkan dalam setiap dongeng rakyat.
Saguri mempunyai wajah tegas yang
hangat. Mata bersorot dalam yang dinaungi alisnya yang tebal di atas lapisan yang
berotot, membentuk lengkungan tajam, mempertegas karakter wajah yang sulit dibaca.
Saguri juga mempunyai tulang pipi yang
tinggi, hidung lurus elegan khas garis keturunan bangsawan Astamaya, bibir
tipis tenang yang memunculkan senyum tipis saat ia menginginkannya. Lalu dibingkai
oleh rahang tajam yang tegas, membuat semua itu seakan menyiratkan bahwa ia adalah lelaki cerdas yang teguh pada
pemikirannya.
“Lalu dimana Gada berada?” bisik Galuh
yang kini berganti khawatir. Adhit segera memasang segel pelindung dari kalung
Sura Suradana miliknya yang lalu berkata.
“Sebenarnya.. ketika di Istana, saya
tidak pernah melihat Gada Sangkara memakai aksesoris apapun, bahkan selama
perjalanan kita dalam mencari retakan Batu Hyang Sawarga. Namun, satu hari sebelum
kita sampai menuju Gua tempat Kaum Luhur kemarin, Gada memakai kalung tersebut!”
ucap Adhit sambil melirik pada kalung yang dipakai Saguri.
“Saat itu, saya pikir mungkin sekedar
barang biasa saja. Tapi sekarang? Kalung Itu jadi terlihat mencurigakan!” Bisik
Adhit yang membuat Galuh menyadari. Mendengar hal tersebut, Kakek Addar kini
terkejut. “Benar katamu anak muda! Gada Sangkara memang tidak suka menggunakan Aksesoris
apapun!” Bisik Kakek Addar membenarkan.
Dari kejauhan, Saguri mulai kesal
karena tidak dapat mencuri dengar lagi. Kecurigaanya tampak memuncak, saat
Galuh dan kawan-kawan tampak membicarakan sesuatu dibalik pelindung bola
hologram kalung Sura Suradana milik Adhit. Tanpa menunggu lama, Saguri langsung
mengerahkan kembali semua pasukannya untuk segera menguasai Istana.
Suasana semakin kacau, karena para Bangsawan
ternyata banyak juga yang memihak Kaum Hitam, terutama Klan Merah! Bahkan, banyak
dari mereka yang berdiri dan bertarung demi melindungi Saguri.
Galuh menatap Klan Merah dengan penuh rasa
sebal. “Gerombolan pengkhianat itu seharusnya telah dibasmi sejak lama!” Teriak
Galuh yang dengan penuh kemarahan, membuat geraman para Ajag yang sempat
terkunci, kini mulai terdengar kembali.
Pertarunganpun dimulai. Semua Kaum
Hitam bawahan Saguri yang turun tangan, ternyata bukan pasukan sembarangan, mereka
bisa langsung membuat pasukan pelindung Istana terkapar dalam hitungan detik!.
Jenderal Hitam mereka juga rata – rata sehebat Si Tengkorak Tikus, Si Tengkorak
Ular, namun masih jauh di bawah Si Tengkorak Beruang.
Yang mengejutkan, saat pada Jenderal
Hitam ini mulai terpukul mundur oleh para Tetua Putih, tiba-tiba dibelakang
para Jenderal Hitam yang terpukul mundur, muncul para kaum Astamaya berkekuatan
Istimewa. Namun, ada satu orang yang yang ikut yang membuat Galuh dan Kawan-kawan
terkejut luar biasa!
“Kahiyang Raga!” Teriak Galuh tidak
percaya.
“Tunggu dulu! Lihat, Kahiyang Raga dan
semua anak Istimewa tampak tidak sadarkan diri, mata mereka begitu kosong! Sepertinya
mereka semua sedang dijadian boneka Kaum Hitam.” ucap Adhit mengingatkan.
“Benar sekali!” ucap Galuh saat
menyadari. “Kalau begitu gawat! Kahiyang Raga adalah anak Istimewa yang
kekuatannya sangat mengerikan!” ucap Ragadewa khawatir.
Benar saja, serangan dari Kahiyang
Raga bukan hanya membuat para Jendral Putih beserta pasukannya terkapar, ia
juga membuat para Tetua Putih sampai kewalahan dan terluka parah. Bahkan, puluhan
malaikat buatan Kahiyang, berhasil membuat tiga orang Tetua Putih tewas
ditempat.
Saat Galuh hendak maju, Adhit
menariknya dan berkata. “Jangan lupa, Gada Sangkara ada dalam kalung Saguri.”
Ucap Adhit sambil memperlihatkan hologram kecil dari kalung Sura Suradananya,
yang kemudian segera diangguki Galuh.
“Biar saya yang tangani Kahiyang,
Galuh.. kecohlah Saguri hingga saya berhasil mendapatkan Kahiyang Raga, lalu
kita menyerang Saguri bersama-sama!” ucap Ragadewa yang segera maju bertarung melawan
Kahiyang Raga.
Mereka semua bertarung dengan
menyebar. Soma Wisesa bergerak membantu Kakek Addar dan Tetua Putih lain yang masih
terus mempertahankan Istana.
Ragadewa konsentrasi merebut
kembali Kahiyang Raga dulu. Karena bila Kahiyang
berhasil ia rebut, maka persentase kekuatan Kaum Hitam akan berkurang sangat
banyak, sehingga kesempatan menyadarkan anak Istimewa lain jadi lebih besar.
Melihat Ragadewa sudah maju, Adhit
dan Jinn Si Kelinci langsung bergerak cepat dalam menyelamatkan para Tetua
Putih yang terluka.
Adhit bertugas mengaktifkan segel
pelindung dari kalung Sura Suradana miliknya, agar Tetua Putih yang tengah terluka
jadi terlindungi, sekaligus mengaktifkan arahan holografis petunjuk jenis luka
yang diderita Tetua Putih tersebut, agar bisa memberikan pertolongan pertama
dulu sebelum benar-benar diobati Taphilli dan Cahya Natraprawira didalam
Istana nanti.
Sementara itu, Jinn Si Kelinci
menjaga area di sekitar Adhit. Ia mengusir setiap Kaum Hitam yang mendekat agar
Adhit bisa konsentrasi dalam pertolongna pertama. Berkat ilmu Gerbang Dewa
milik Jinn Si Kelinci, semua Kaum Hitam yang nekat mendekat, jadi langsung terkapar
kewalahan.
Lalu Galuh, ia lawan para bawahan
Saguri menggunakan kelima Ajagnya. Selagi para
Ajag muncul membela Kaum Putih, Adhit dan Jinn Si Kelinci membawa Tetua Putih yang
berhasil diselamatkan pada pertolongan pertama, untuk diserahkan pada Taphilli
& Cahya Natraprawira yang ada di Istana.
Satu persatu Ajag keluar dan siap bertarung
melawan para bawahan Saguri. Galuh berdiri dengan gagah di atas kepala NaRaja. Sedangkan
para Ajag lain, mereka menggeram buas seakan tidak sabar untuk merobek satu
persatu para bawahan Saguri.
Sementara Saguri sendiri, ia menikmati
pertarungan Galuh dengan para bawahannya sambil menunggangi Ajag betina miliknya,
yaitu Bangkarwarah.
“Saguri kan sudah memiliki Batu Hyang
Sawarga, mengapa ia tidak langsung menggunakannya saja, malah duduk
mengunggangi Ajagnya seakan menunggu sesuatu,” ucap Adhit heran, sambil
mengobati salah satu Tetua Putih yang masih terluka. Jinn Si Kelinci yang
kebetulan ada di dekatnya, ia hanya menggedikan bahunya karena sama herannya.
“Karena saya telah menyelimuti Batu
Hyang Sawarga dengan segel darah milik leluhur dari garis keturunan ayah Galuh.
Batu tersebut bisa diaktifkan dengan aman, apabila darah Galuh menyentuh batu
tersebut dengan kondisi Galuh yang telah menyerahkan diri. Bila tidak, maka
separuh energi orang yang mengaktifkannya akan hilang sia-sia.” Bayangan
sekilas dari Guru Candrakara yang melintas pada memori Adhit membuat ia
langsung terhenyak.
Jinn Si Kelinci sendiri ketika mengetahui
hal tersebut dari Adhit, ia langsung terkejut luar biasa. “Guru Candrakara itu
gila! Ia benar-benar melindungi kita semua dengan berbagai lapisan cara!” Seru
Jinn Si Kelinci sangat terkejut.
“Jinn.. sebisa mungkin tetap didekat
Galuh, Saguri ternyata mengincar Galuh!” permintaan khawatir Adhit segera
diangguki Jinn Si Kelinci.
Namun, mereka kini dikejutkan oleh pihak
Kaum Putih yang terdesak. Pasukan Kaum Hitam yang terlalu banyak dan sangat
hebat, membuat para prajurit dan Jenderal Putih terkapar kewalahan. Kakek Addar
yang kini juga terluka, kini terpaksa dibawa masuk kedalan Istana. Ia
benar-benar tidak mengira bahwa Saguri ternyata sudah mengumpulkan Kaum Hitam sebanyak
itu.
Karena sebagian besar para Tetua Putih
telah berhasil diselamatkan sudah masuk kedalam Istana, Soma Wisesa yang juga
telah diberitahu Adhit, segera beralih untuk membantu Galuh yang berhasil
menghabisi para bawahan Saguri, dan kini tengah hendak melawan Saguri
sendirian.
Belum juga membantu, Soma Wisesa
ternyata ditarik Saguri dari jarak yang sangat jauh. Soma melawan, namun ternyata
Saguri menguasai ilmu kuno yang dikira telah punah.
Melihat hal tersebut, Adhit dan Jinn
Si Kelinci yang tengah menuju Galuh, kini segera berlari secepat mungkin untuk
melindungi Galuh. “Ilmu Bayang Jiwa! Itu salah satu ilmu yang terdapat pada
pecahan Kitab Sembilan, seharusnya ilmu tersebut telah dihancurkan sejak lama!”
ucap Jinn Si Kelinci heran. “Ilmu Bayang Jiwa?” ulang Galuh tidak mengerti.
“Ilmu Bayang Jiwa, adalah ilmu
mengontrol jiwa atau sukma seseorang sesuai kehendak penguasanya. Setahu saya, Kitab
ilmu Bayang Jiwa ini sudah lama dihancurkan karena dianggap sangat berbahaya.
Namun, sepertinya Saguri berhasil menemukan salinannya bahkan menguasainya,”
ucap Jinn Si kelinci lagi seakan tidak percaya.
Mendengar hal tersebut, Galuh
segera memasukan para Ajag kembali pada segel tubuhnya. Galuh takut, bila
Saguri juga mengendalikan para Ajag seperti yang ia lakukan pada Soma Wisesa,
maka posisi Kaum Putih akan semakin terpojok.
Melihat Galuh yang terburu
mengembalikan para Ajag pada segelnya, Saguri tertawa dengan sangat puas! Ia
senang karena tidak perlu menggunakan energi dari Batu Hyang Sawarga yang belum
terbuka segelnya.
Ditengah kekalutan, tiba-tiba muncul Pertapa
muda dengan ratusan Monster yang berasal dari segala penjuru Astamaya. Dengan
tanpa basa-basi, ratusan Monster ini langsung menghabisi tiga perempat pasukan
Hitam hebat yang dibawa Saguri ke Istana hingga terkapar tewas mengenaskan.
“Dharma! Pertapa muda yang pernah
bertemu kita dulu!” Ucap Galuh dengan terkejut luar biasa!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar