Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 39 – Hyang Sawarga yang menakutkan! | By: Desya Saghir

 Wajah Maharaja Ranji Raspati jadi separuh ular! Semua orang spontan menahan napas. Bi Nai yang baru memasuki ruangan untuk memberikan informasi terbaru, malah berteriak histeris. Lalu setelahnya malah pingsan ditempat.

Ditengah kekalutan, Kakek Addar segera memfokuskan energinya untuk melayangkan tubuh paman Galuh menuju tempat tidur.

Sedangkan Galuh, dengan tubuh yang gemetar hebat, ia segera memegang erat tangan Adhit untuk menahan tangis. Ia yang telah kehilangan ibunya, lalu ayahnya. Kini malah dihadapkan dengan kondisi paman kesayangannya yang tidak bisa dijelaskan sama sekali. Disatu sisi hatinya perih luar biasa, namun disisi lainnya, Galuh harus berusaha agar tetap kuat, agar segel para Ajag dalam tubuhnya tetap terjaga penuh.

Disaat yang sama, Subhita yang panik karena ibunya tidak sadarkan diri, segera dibantu oleh energi Gada Sangkara dalam memapah ibunya yang pingsan keatas sofa. Setelah berterimakasih dengan hangat, Subhita langsung menghubungi Taphilli dan Cahya Natraprawira agar segera naik ke Istana.

“Apa yang terjadi paman?” tanya Galuh dengan nada suara yang masih gemetar.

“Tidak tahu, saya bahkan baru menyadari kondisi saya setelah diberitahu oleh kalian,” jawab Maharaja Ranji Raspati dengan nada melemah. Tangan yang tadinya masih kuat memegang catatan istana, kini setelah tubuhnya diatas kasur, tangannya menglunglai seperti tanaman layu.

Tak lama kemudian, terdengar langkah cepat dari arah lorong rahasia yang menuju bawah tanah. Taphilli dan Cahya Natraprawira akhirnya sampai juga di kamar Maharaja Ranji Raspati.

Dengan sigap, Taphilli dibantu Adhit dengan kalung Sura Suradana miliknya, mereka segera memeriksa kondisi Maharaja Ranji Raspati dengan sangat seksama. Taphilli memeriksa denyut nadi dan kondisi respirasi Maharaja, sedangkan Adhit memindai seluruh tubuh Maharaja dengan kalung Sura Suradana miliknya.

“Ini racun kuno, seharusnya racun ini telah lama punah,” Ucap Taphilli terkejut. “Bagaimana Maharaja bisa teracuni? Sedangkan tempat ini dijaga dengan sangat ketat!” ucap Kakek Addar dengan nada penuh kekecewaan.

Namun, Cahya Natraprawira tiba-tiba terkejut, ketika ia menemukan sebuah cawan kuno berusia seribu tahun lebih, ada di atas meja kerja sang Maharaja.

“Benar, cawan model ini memang sudah hilang sejak tujuh ratus tahun yang lalu. Sengaja dimusnahkan karena sering disisipi Mudria,” ucap Soma Wisesa membenarkan. Sebagai seseorang yang dulu hidup dimasa lampau, ia benar-benar tahu tentang banyaknya kasus dikarenakan cawan kuno ini.

Dengan energinya, Cahya Natraprawira segera membuka tabir masa lalu dari cawan kuno tersebut. Setelah ia menggeser-geser masa waktu dari cawan yang melayang ditangannya, akhirnya mereka menemukan sesuatu!

“Saguri? Cawan ini ditempa khusus oleh Saguri?” ucap Kakek Addar saat melihat jubah khas yang begitu ia kenal. “kemudian Cahya Natraprawira menggeser-geser dari berbagai waktu, untuk menemukan petunjuk selanjutnya. “Sadya Agracarana? Jadi cawan ini disisipkan Sadya saat masa Maharaja Mahesa Agung masih hidup.” Ucap Gada Sangkara dengan sama terkejutnya.

 “Sadya Agracarana, otak dalam mengompori para bangsawan agar Galuh yang tengah terasuki untuk dilenyapkan, dan dia pula yang meracuni Maharaja Mahesa Agung? Seharusnya orang ini dilenyapkan sejak diketahui bahwa ia adalah otak dari pemberontakan para Bangsawan saat itu!” Ucap Kakek Addar dengan raut luar biasa marah.

“Saya menemukan cawan tersebut di rak atas, karena menurut para pelayan, itu adalah cawan yang terakhir dipakai oleh Mahesa… saya hanya ingin mengenang kakak tercinta yang terlalu cepat pergi,” jelas Maharaja Ranji Raspati dengan napas yang semakin tidak berdaya. Galuh kini memandang pamannya yang memang berhati lembut itu dengan iba.

“Sepertinya, cawan ini dipergunakan Sadya Agracarana untuk meracuni mendiang ayah Galuh, Maharaja Mahesa Agung. Ketika Maharaja Ranji Raspati tidak sengaja menggunakannya, ia juga mendapat efek yang serupa,” ucap Adhit yang membuat semua mengangguk-angguk mengerti.

“Tetapi Maharaja Mahesa Agung tidak pernah memperlihatkan efek seperti sekarang, Ia hanya tiba-tiba ditemukan wafat dalam keadaan tertidur pulas.” Ucap Kakek Addar tidak mengerti.

“Racun ini mempunyai fungsi untuk mengontrol perilaku seseorang yang meminumnya. Jadi, mengapa dengan Maharaja Ranji Raspati, cawan ini membuat beliau menjadi separuh ular, namun mendiang Maharaja Mahesa Agung tidak? Karena, sepertinya Maharaja Mahesa Agung berhasil menahan semua kendali yang terjadi pada dirinya, membuat Mudria tersebut kembali lagi pada cawan kuno ini. Kekuatan Maharaja Mahesa mungkin bisa mengalahkan kendali itu, tapi tubuhnya tidak, sehingga Beliau akhirnya wafat.

Galuh menangis perih karena mengetahui bahwa ayahnya menderita dalam kesendirian. Segel para Ajag akhirnya terbuka juga, namun dari arah dalam, NaRaja malah menutupnya kembali, itu membuat Kakek Addar memandang Adhit dengan penuh tanda tanya.

“Ini sudah terjadi beberapa kali dalam perjalanan kami,” bisik Adhit yang membuat Kakek Addar cukup terperanjat.

“Tiba-tiba Taphilli datang mendekat pada Maharaja Ranji Raspati untuk meneteskan ramuan racikannya. Lalu dengan Ajaib, kulit wajah Maharaja Ranji Raspati yang separuh ular, kini terlepas! Lalu kulit ular yang terlepas tersebut, berubah menjadi Mudria berbentuk ular dengan taring yang sangat mengerikan.

Karena panik, ular tersebut menyerang semua orang yang ada didalam kamar tersebut dengan secara membabi buta. Ketika ular tersebut hendak masuk kedalam tubuh Bi Nai yang masih dalam keadaan pingsan, Ragadewa segera menjerat Mudria berbentuk ular tersebut dengan tambang energinya.

Tanpa menunggu lama, Kakek Addar langsung bertindak persis seperti saat mengeluarkan Mudria dari lengan Adhit dulu. Membekukan asapnya, membantingnya hingga pecah berkeping-keping, lalu setelah itu membuar dan menghilang bersama angin. Bau amis yang memuakan tercium sebentar, lalu kemudian menghilang.

“Mudria tersebut telah bersarang dalam cawan ini cukup lama, sehingga Ruh asal yang menjadi Mudria tersebut akhirnya membusuk, karena terendam dosa-dosa yang disandangnya selama hidup sebagai penjahat keji dimasanya dulu.” Jelas Kakek Addar sehingga Adhit mengerti.

“Aah begitu..” jawab Adhit kini mengerti. “Apakah penemu penyusupan Mudria ada mahluk hidup adalah ciptaan Saguri juga?” ucap Adhit membuat Kakek Addar menoleh pada Adhit dengan terkejut. “Pemikiran yang jeli anak muda. Bisa jadi, karena sebelum era Saguri, belum pernah ada kasus permasalahan tentang Mudria,” jawab Kakek Addar membenarkan.

Begitu Maharaja Ranji Raspati sudah baikan, keadaan sudah terkendali, maka mereka segera kembali pada tujuan awal.

Begitu seluruh Tetua Putih telah berkumpul, prosesi penyerahan Batu Hyang Sawarga kini dimulai. Namun, saat mereka baru saja hendak menyerahkan retakan Batu Hyang Sawarga yang telah lengkap kepada para Tetua Putih yang telah berkumpul di Istana, tiba-tiba terjadilah serangan dadakan dari luar Istana!

Kekacauan masuk melalui segala arah, disertai bantuan dari para Moster yang sudah diberi mantera. Serangan mendadak itu membuat prajurit istana banyak sekali yang terluka, bahkan termasuk pasukan khusus pelindung Maharaja Ranji Raspati.

Pasukan Saguri yang tengah menyerang Istana ternyata sangatlah besar. Sepertinya Saguri telah memutuskan untuk tidak bergerak sendirian lagi, terbukti beberapa Panglima Hitam yang dulu hanya terfokus mencari Kitab Sembilan, kini ternyata ikut menyerang bersama pasukan yang biasanya membantu Saguri.

Soma Wisesa curiga ada penghianat dari para Tetua Putih, karena semua berita tentang mereka hanya disampaikan pada kakek Addar.

Namun, ketika Saguri menampakan diri, kalung emas yang dipakai salah satu sesepuh Tetua Putih, tiba-tiba turun dan menjelma menjadi wanita eksotis yang terbalut gaun ketat berwarna emas, lalu pergi menuju Saguri.

“Bagaimana bisa?...” ucap Tetua Putih tersebut terkejut dan hampir oleng terjatuh. Karena  ia dan kakek Addar sempat mencurigai ada penghianat diantara para Tetua Putih. Namun ternyata, yang berkhianat adalah kalungnya yang selama ini ia pakai.

“Tentu saja bisa, Hahahaha..!” ucap Saguri tertawa dengan sangat puas!

“Rencana ini sudah dipersiapkan sejak lama. Seseorang menukar kalung kesayangan mendiang istri anda, tentu tidak ada yang curiga ke arah sana bukan?”ucap Saguri dengan nada mengejek. Tetua putih tersebut kini jatuh terduduk.

“Licik!” Ucap Tetua Putih tersebut dengan wajah yang begitu marah.

“Tentu saja, dengan menyusupkan wanita bergaun emas itu menjadi kalung yang dipakai Tetua Putih tersebut, Saguri bisa memperoleh banyakt informasi tentang rencana-rencana yang dibicarakan Kaum Putih,” bisik Ragadewa membenarkan.

“Apa itu yang membuat ayahmu, Panglima Besar Baharyu, yang dulu berpura-pura koma, selain agar para Bangsawan yang bekerjasama dengan Kaum Hitam menjadi tidak waspada, juga menghindari rahasia dari pihak militer tidak tembus

“Benar sekali.” Jawab Gada Sangkara membenarkan.

“Setelah Tetua Putih tersebut selalu membawa kalung mendiang istrinya, Saguri bisa mendengarkan banyak informasi bahkan lebih lengkap.” Ucap Gada Sangkara yang membuat para pemilik elemen menoleh kaget, terutama Kakek Addar.

“Bagaimana kamu bisa mengetahui sedetail itu?” Tanya Galuh heran.

Gada Sangkara tersenyum, lalu dengan tangan yang masih membawa Batu Hyang Sawarga yang sudah terkumpul lengkap, tiba-tiba ia melesat cepat dan bergabung diantara jejeran Kaum Hitam.

Tiba-tiba Saguri memberikan aba-aba agar anak buahnya mundur dulu, lalu ia menunduk hormat pada Gada Sangkara sambil berkata. “Tuan Saguri.. selamat datang kembali,” Sontak semua yang ada disana terkejut, terutama Panglima besar utama Istana, Ayah Gada Sangara sendiri.

“Gada Sangkara adalah Saguri?” ucap Ragadewa tidak percaya. “Bagaimana mungkin?” sambung Galuh dengan rasa kecewa yang cukup dalam. “Gada Sangkara yang begitu perhatian dan lembut, ternyata adalah Saguri?” Pikir Galuh dengan sangat tidak mengerti.

“Kita benar-benar terkecoh.. sangat terkecoh!” ucap Soma Wisesa marah. Soma marah, karena ia merasa gagal tidak dapat mengenali bahwa Gada Sangkara adalah musuh, padahal tingkatan ilmunya sudah sangat tidak diragukan lagi.

“Cerdas sekali, dengan selalu berada ditengah-tengah kita, Saguri bisa mengawasi gerak-gerik kita setiap saat. Bahkan ia tidak perlu bersusah payah mendapatkan informasi keberadaan batu Hyang Sawarga. Ia memanfaatkan kita hingga semuanya terkumpul, lalu merebutnya dengan cara seperti ini,” ucap Ragadewa sambil menggeleng tidak percaya.

“Saya mengenal Gada Sangkara sejak lahir, dan ketika tak sengaja terkena sorotan dari mata Ruh saat menjelang keberangkatan kalian menuju dunia Manusia, jelas-jelas ia dikenali sebagai keturunan pemilik elemen tanah yang terpilih, itu tidak mungkin tergantikan oleh orang lain!” ucap Kakek Addar yang masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

“Kecuali, bila saat terteropong oleh mata Ruh yang tidak sengaja, ia masih Gada Sangkara yang asli.” Ucapan Adhit membuat semua menoleh penuh tanya dengan terkejut.

Dari kejauhan, Gada Sangkara tiba-tiba menoleh pada mereka. “Adhitya.. kamu memang sejeli Candrakara.. Hahahaha!”  ucapan Gada Sangkara membuat semua terkejut.

Setelah Gada Sangkara berubah wujud, mereka semua akhirnya mengerti bahwa perkataan Adhit benar. Itu bukan Gada Sangkara, melainkan Saguri yang sedang menyamar menjadi Gada Sangkara.

Dalam jarak yang terlihat, tanpa jubah yang biasa ia kenakan, Saguri tidak seperti tokoh penjahat bengis yang selalu digambarkan dalam setiap dongeng rakyat.

Saguri mempunyai wajah tegas yang hangat. Mata bersorot dalam yang dinaungi alisnya yang tebal di atas lapisan yang berotot, membentuk lengkungan tajam, mempertegas karakter wajah  yang sulit dibaca.

Saguri juga mempunyai tulang pipi yang tinggi, hidung lurus elegan khas garis keturunan bangsawan Astamaya, bibir tipis tenang yang memunculkan senyum tipis saat ia menginginkannya. Lalu dibingkai oleh rahang tajam yang tegas, membuat semua itu seakan menyiratkan  bahwa ia  adalah lelaki cerdas yang teguh pada pemikirannya.

“Lalu dimana Gada berada?” bisik Galuh yang kini berganti khawatir. Adhit segera memasang segel pelindung dari kalung Sura Suradana miliknya yang lalu berkata.

“Sebenarnya.. ketika di Istana, saya tidak pernah melihat Gada Sangkara memakai aksesoris apapun, bahkan selama perjalanan kita dalam mencari retakan Batu Hyang Sawarga. Namun, satu hari sebelum kita sampai menuju Gua tempat Kaum Luhur kemarin, Gada memakai kalung tersebut!” ucap Adhit sambil melirik pada kalung yang dipakai Saguri.

“Saat itu, saya pikir mungkin sekedar barang biasa saja. Tapi sekarang? Kalung Itu jadi terlihat mencurigakan!” Bisik Adhit yang membuat Galuh menyadari. Mendengar hal tersebut, Kakek Addar kini terkejut. “Benar katamu anak muda! Gada Sangkara memang tidak suka menggunakan Aksesoris apapun!” Bisik Kakek Addar membenarkan.

Dari kejauhan, Saguri mulai kesal karena tidak dapat mencuri dengar lagi. Kecurigaanya tampak memuncak, saat Galuh dan kawan-kawan tampak membicarakan sesuatu dibalik pelindung bola hologram kalung Sura Suradana milik Adhit. Tanpa menunggu lama, Saguri langsung mengerahkan kembali semua pasukannya untuk segera menguasai Istana.

Suasana semakin kacau, karena para Bangsawan ternyata banyak juga yang memihak Kaum Hitam, terutama Klan Merah! Bahkan, banyak dari mereka yang berdiri dan bertarung demi melindungi Saguri.  

Galuh menatap Klan Merah dengan penuh rasa sebal. “Gerombolan pengkhianat itu seharusnya telah dibasmi sejak lama!” Teriak Galuh yang dengan penuh kemarahan, membuat geraman para Ajag yang sempat terkunci, kini mulai terdengar kembali.

Pertarunganpun dimulai. Semua Kaum Hitam bawahan Saguri yang turun tangan, ternyata bukan pasukan sembarangan, mereka bisa langsung membuat pasukan pelindung Istana terkapar dalam hitungan detik!. Jenderal Hitam mereka juga rata – rata sehebat Si Tengkorak Tikus, Si Tengkorak Ular, namun masih jauh di bawah Si Tengkorak Beruang.

Yang mengejutkan, saat pada Jenderal Hitam ini mulai terpukul mundur oleh para Tetua Putih, tiba-tiba dibelakang para Jenderal Hitam yang terpukul mundur, muncul para kaum Astamaya berkekuatan Istimewa. Namun, ada satu orang yang yang ikut yang membuat Galuh dan Kawan-kawan terkejut luar biasa!

“Kahiyang Raga!” Teriak Galuh tidak percaya.

“Tunggu dulu! Lihat, Kahiyang Raga dan semua anak Istimewa tampak tidak sadarkan diri, mata mereka begitu kosong! Sepertinya mereka semua sedang dijadian boneka Kaum Hitam.” ucap Adhit mengingatkan.

“Benar sekali!” ucap Galuh saat menyadari. “Kalau begitu gawat! Kahiyang Raga adalah anak Istimewa yang kekuatannya sangat mengerikan!” ucap Ragadewa khawatir.

Benar saja, serangan dari Kahiyang Raga bukan hanya membuat para Jendral Putih beserta pasukannya terkapar, ia juga membuat para Tetua Putih sampai kewalahan dan terluka parah. Bahkan, puluhan malaikat buatan Kahiyang, berhasil membuat tiga orang Tetua Putih tewas ditempat.

Saat Galuh hendak maju, Adhit menariknya dan berkata. “Jangan lupa, Gada Sangkara ada dalam kalung Saguri.” Ucap Adhit sambil memperlihatkan hologram kecil dari kalung Sura Suradananya, yang kemudian segera diangguki Galuh.

“Biar saya yang tangani Kahiyang, Galuh.. kecohlah Saguri hingga saya berhasil mendapatkan Kahiyang Raga, lalu kita menyerang Saguri bersama-sama!” ucap Ragadewa yang segera maju bertarung melawan Kahiyang Raga.

Mereka semua bertarung dengan menyebar. Soma Wisesa bergerak membantu Kakek Addar dan Tetua Putih lain yang masih terus mempertahankan Istana.

Ragadewa konsentrasi merebut kembali Kahiyang Raga dulu.  Karena bila Kahiyang berhasil ia rebut, maka persentase kekuatan Kaum Hitam akan berkurang sangat banyak, sehingga kesempatan menyadarkan anak Istimewa lain jadi lebih besar.

Melihat Ragadewa sudah maju, Adhit dan Jinn Si Kelinci langsung bergerak cepat dalam menyelamatkan para Tetua Putih yang terluka.

Adhit bertugas mengaktifkan segel pelindung dari kalung Sura Suradana miliknya, agar Tetua Putih yang tengah terluka jadi terlindungi, sekaligus mengaktifkan arahan holografis petunjuk jenis luka yang diderita Tetua Putih tersebut, agar bisa memberikan pertolongan pertama dulu sebelum benar-benar diobati Taphilli dan Cahya Natraprawira didalam Istana nanti.

Sementara itu, Jinn Si Kelinci menjaga area di sekitar Adhit. Ia mengusir setiap Kaum Hitam yang mendekat agar Adhit bisa konsentrasi dalam pertolongna pertama. Berkat ilmu Gerbang Dewa milik Jinn Si Kelinci, semua Kaum Hitam yang nekat mendekat, jadi langsung terkapar kewalahan.

Lalu Galuh, ia lawan para bawahan Saguri menggunakan kelima  Ajagnya. Selagi para Ajag muncul membela Kaum Putih, Adhit dan Jinn Si Kelinci membawa Tetua Putih yang berhasil diselamatkan pada pertolongan pertama, untuk diserahkan pada Taphilli & Cahya Natraprawira yang ada di Istana.

Satu persatu Ajag keluar dan siap bertarung melawan para bawahan Saguri. Galuh berdiri dengan gagah di atas kepala NaRaja. Sedangkan para Ajag lain, mereka menggeram buas seakan tidak sabar untuk merobek satu persatu para bawahan Saguri.

Sementara Saguri sendiri, ia menikmati pertarungan Galuh dengan para bawahannya sambil menunggangi Ajag betina miliknya, yaitu Bangkarwarah.

“Saguri kan sudah memiliki Batu Hyang Sawarga, mengapa ia tidak langsung menggunakannya saja, malah duduk mengunggangi Ajagnya seakan menunggu sesuatu,” ucap Adhit heran, sambil mengobati salah satu Tetua Putih yang masih terluka. Jinn Si Kelinci yang kebetulan ada di dekatnya, ia hanya menggedikan bahunya karena sama herannya.

“Karena saya telah menyelimuti Batu Hyang Sawarga dengan segel darah milik leluhur dari garis keturunan ayah Galuh. Batu tersebut bisa diaktifkan dengan aman, apabila darah Galuh menyentuh batu tersebut dengan kondisi Galuh yang telah menyerahkan diri. Bila tidak, maka separuh energi orang yang mengaktifkannya akan hilang sia-sia.” Bayangan sekilas dari Guru Candrakara yang melintas pada memori Adhit membuat ia langsung terhenyak.

Jinn Si Kelinci sendiri ketika mengetahui hal tersebut dari Adhit, ia langsung terkejut luar biasa. “Guru Candrakara itu gila! Ia benar-benar melindungi kita semua dengan berbagai lapisan cara!” Seru Jinn Si Kelinci sangat terkejut.

“Jinn.. sebisa mungkin tetap didekat Galuh, Saguri ternyata mengincar Galuh!” permintaan khawatir Adhit segera diangguki Jinn Si Kelinci.

Namun, mereka kini dikejutkan oleh pihak Kaum Putih yang terdesak. Pasukan Kaum Hitam yang terlalu banyak dan sangat hebat, membuat para prajurit dan Jenderal Putih terkapar kewalahan. Kakek Addar yang kini juga terluka, kini terpaksa dibawa masuk kedalan Istana. Ia benar-benar tidak mengira bahwa Saguri ternyata sudah mengumpulkan Kaum Hitam sebanyak itu.

Karena sebagian besar para Tetua Putih telah berhasil diselamatkan sudah masuk kedalam Istana, Soma Wisesa yang juga telah diberitahu Adhit, segera beralih untuk membantu Galuh yang berhasil menghabisi para bawahan Saguri, dan kini tengah hendak melawan Saguri sendirian.

Belum juga membantu, Soma Wisesa ternyata ditarik Saguri dari jarak yang sangat jauh. Soma melawan, namun ternyata Saguri menguasai ilmu kuno yang dikira telah punah.

Melihat hal tersebut, Adhit dan Jinn Si Kelinci yang tengah menuju Galuh, kini segera berlari secepat mungkin untuk melindungi Galuh. “Ilmu Bayang Jiwa! Itu salah satu ilmu yang terdapat pada pecahan Kitab Sembilan, seharusnya ilmu tersebut telah dihancurkan sejak lama!” ucap Jinn Si Kelinci heran. “Ilmu Bayang Jiwa?” ulang Galuh tidak mengerti.

Ilmu Bayang Jiwa, adalah ilmu mengontrol jiwa atau sukma seseorang sesuai kehendak penguasanya. Setahu saya, Kitab ilmu Bayang Jiwa ini sudah lama dihancurkan karena dianggap sangat berbahaya. Namun, sepertinya Saguri berhasil menemukan salinannya bahkan menguasainya,” ucap Jinn Si kelinci lagi seakan tidak percaya.

Mendengar hal tersebut, Galuh segera memasukan para Ajag kembali pada segel tubuhnya. Galuh takut, bila Saguri juga mengendalikan para Ajag seperti yang ia lakukan pada Soma Wisesa, maka posisi Kaum Putih akan semakin terpojok.

Melihat Galuh yang terburu mengembalikan para Ajag pada segelnya, Saguri tertawa dengan sangat puas! Ia senang karena tidak perlu menggunakan energi dari Batu Hyang Sawarga yang belum terbuka segelnya.

Ditengah kekalutan, tiba-tiba muncul Pertapa muda dengan ratusan Monster yang berasal dari segala penjuru Astamaya. Dengan tanpa basa-basi, ratusan Monster ini langsung menghabisi tiga perempat pasukan Hitam hebat yang dibawa Saguri ke Istana hingga terkapar tewas mengenaskan.

“Dharma! Pertapa muda yang pernah bertemu kita dulu!” Ucap Galuh dengan terkejut luar biasa!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir