Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 7 - Kota yang penuh kejutan.| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Galuh.. kamu sudah kembali,
bagaimana keadaan bagian utara?” tanya Kakek Addar sambil mengubah arah
pembicaraan dengan gugup. “Semuanya masih terkendali Kek,” jawab Galuh singkat.
Galuh lalu menoleh pada para Kaum Luhur.
”Apa anda semua sedang membicarakan kawan–kawan saya pada orang asing?” Sekalipun
sopan, tetap saja terselip sebuah nada keras yang agak kentara.
Seketika terdengar beberapa lolongan
dan geraman garang dari belakang Galuh. geraman yang saling bersahutan
tersebut, sontak membuat para Kaum Luhur gelisah dan menoleh cemas. Namun,
Kakek Addar masih berusaha tetap tenang. Lalu dengan lembut, ia membawa Galuh mendekat
pada Adhit.
“Anak muda ini ternyata adalah
turunan keempat dari Sura Suradana, bukankah dulu Kakek pernah bercerita, “ucap
Kakek Addar lembut sambil memperlihatkan kalung yang dipakai Adhit. Melihat hal
tersebut, Galuh langsung terkejut. Ekspresi spontan Galuh, kini membuat Kakek
Addar tenang dalam melanjutkan perkataanya.
“Dulu, Tuan kura-kura Din saat
memberikan kalung ini pada Tuan Sura Suradana pernah berjanji, bila keturunan Sura
membutuhkan bantuan, maka kami akan segera membantu. Apalagi bila ia sampai berurusan
dengan para Kaum Hitam.” Jelas Kakek Addar yang diangguki salah satu kura-kura paling
tua. Adhit terkejut, bahwa pemberi kalung pada kakek buyutnya ternyata masih ada
dan masih sangat sehat.
“Kami tidak mungkin membantunya
bila ia tidak mengetahui sejarah tentang gua ini. Ada batas wilayah yang tidak
boleh dilanggar, rahasia yang tidak boleh tersebar. Dan yang paling terpenting,
iapun harus tahu bahwa selama ini kamu selalu berusaha menjaga segel emosi, agar
kawan–kawan yang bersamayam dalam tubuhmu tetap aman dalam segelnya.” Ucap Kakek
Addar lagi, yang lalu diangguki mengerti oleh Galuh.
Mendengar suara para Ajag yang kini
perlahan mulai mereda. Kakek Addar dan para Kaum Luhur kini menjadi sedikit
lega.
Kali ini, Adhit memandang Galuh lebih
lama. Untuk seseorang yang baru pertama kali melihat dengan seksama, Galuh
tampak seperti gadis muda pada umumnya. Ia cantik, manis namun sekaligus
bersahaja. Ditambah rambut yang tergelung acak dan tubuh yang begitu ramping menarik,
Galuh benar-benar terlihat menarik dengan cara yang sulit dijelaskan.
“Ada apa anak muda?” ucap Kakek
Addar membuyarkan lamunan Adhit seketika.
“Tidak Kek, untuk orang yang sama
sekali tidak tahu, tidak akan ada yang percaya bahwa Galuh memiliki kawan–kawan
yang sanggup menghancurkan satu kota dalam hitungan detik,” ucap Adhit jujur.
Galuh mengernyit karena tidak
menyukai kalimat tersebut. Namun diluar dugaan, para Ajag malah saling melolong
dan tertawa senang.
“Kami berterimakasih atas pujianmu
anak muda..hahahaha!” Ucap sebuah suara tanpa bentuk, lalu setelah itu timbulah
beberapa kekehan tawa senang dari para Ajag yang lain. Tawa mereka benar-benar terdengar
seperti sekumpulan penjahat yang berhasil membawa pulang harta rampasan.
Adhit terkejut,
tetapi Kakek Addar dan para Kaum Luhur jauh lebih terkejut, karena yang berbicara
adalah NaRaja, pemimpin para Ajag!
“Itu suara
NaRaja?” bisik salah satu Kaum Luhur pada yang lainnya. “Tidak mungkin! NaRaja
adalah Ajang yang paling angkuh dan pelit bicara!” bisik Kaum Luhur lainnya
tidak percaya.
Lalu Kakek
Addar menepuk pundak Adhit sambil berbisik, “disini tak ada seorangpun yang
mendapatkan pujian dari mereka kecuali sindiran kejam, terutama NaRaja, sepertinya
mereka menyukaimu nak..” bisik Kakek Addar pelan sambil mengedipkan mata.
Setelah
pembicaraan mereka berakhir, Kakek Addar berbicara sebentar pada Galuh, yang
setelah itu ia mengikuti para Kaum Luhur yang sudah terlebih dahulu keluar
ruangan.
“Kakek meminta
saya untuk membawamu berkeliling,“ ucap Galuh setengah enggan, tapi Adhit malah
menyambutnya dengan sangat bersemangat. “Oh ya? saya memang penasaran dengan
isi gua ini sejak semalam!” Ucapan spontan Adhit malah membuat Galuh semakin
enggan, sambil berbalik, mata Galuh mendelik dengan malas.
Adhit dibawa
menuju pintu yang paling besar dari semua pintu yang ada di aula gua. Setelah masuk,
mata Adhit terbelalak tidak percaya. “Ternyata benar! dibalik pintu besar ini
terdapat ruangan sangat besaaar sekaliii..!” ucap Adhit dengan nada yang hampir
berteriak, wajahnya dipenuhi ekspresi terkejut luar biasa.
Sejak ia melihat
pintu besar ini dari atas balkon pagi tadi, ia sudah curiga. Mengapa para Kaum Luhur
bisa keluar dari pintu ini secara berbondong-bondong? Namun saat ia melihatnya
sendiri, ternyata bagian dalamnya sangat diluar dari apa yang dia perkirakan
sendiri tadi pagi.
Mata Adhit
menjelajah ke semua arah dengan penuh minat. Semua area dinding tertutup batu
granit yang ditatah dengan ukir etnik khas Subang.
Saat
diperhatikan lebih dalam, ternyata tatahan tersebut bercerita tentang para Kaum
Luhur, yang saat itu saling membantu satu sama lain saat selama dalam pelarian
dari Pulau Bagjarupa. Adhit menebak, pasti ini adalah salah satu kisah dari yang
diceritakan oleh Kakek Addar tadi.
Semakin keatas,
semakin berkembang cerita yang terkandung dalam tatahan granit tersebut. Namun
begitu sampai dipaling atas, Adhit semakin terperangah.
Di tengah langit-langitnya
yang menjulang tinggi, terdapat satu lampu gantung yang amat besar. Batu-batu
mulia berwarna warni, menghiasi setiap sisinya yang dipenuhi ukiran dengan tema
ukir etnik khas Subang yang sama. Adhit semakin terkesima, karena perpaduan semua
keindahan tersebut benar-benar menawan kedua netranya.
“Dari sejak
kemarin, saya perhatikan budaya Etnik sunda menempel dimana-mana, ada yang bisa
kamu ceritakan mengapa? Tanya Adhit sambil terus memandang sekeliling dengan
takjub.
“Kaum Astamaya
adalah kaum yang sangat menghargai budayanya sendiri. Secanggih dan semaju apapun
inovasi dari teknologi sedang mereka kembangkan, mereka tetap menjadikan budaya
sebagai indetitas utama. Agar mereka selalu ingat akan asal usul, akar dari filosofi
indetitas mereka.” Ucapan Galuh membuat Adhit berdecak kagum, ini merupakan pelajaran
baru bagi Adhit.
Setelah
berjalan agak kedepan, Adhit kini menemukan ada tangga menuju bawah dengan anak
kaki yang amat sangat banyak.
Namun untungnya,
disisi kanan dan kiri tangga terdapat beberapa lift terbuka berbentuk oval unik,
dengan reel yang mengikuti alur pegangan tangga. Sangat masuk akal, karena bila
melihat kearah bawah, bila naik turun melalui tangga tentu akan amat sangat
melelahkan.
Galuh masuk lift
terlebih dahulu, lalu di ikuti Adhit dengan sangat bersemangat. Dari
pertengahan tangga saja, Adhit sudah mendengar
suara lalu lalang suasana bawah tanah yang super sibuk. Namun begitu adhit
sampai di tangga paling bawah, ia keluar lift dengan mulut yang menganga sangat
lebar.
Ini bukan hanya
berupa ruang bawah tanah, melainkan sebuah kota bawah tanah dengan kehidupan
yang benar–benar berjalan dibawah sini.
Hal pertama yang
membuatnya takjub setelah melihat sibuknya kota bawah tanah adalah, adanya batu
besar bercahaya yang melayang seakan menggantikan fungsi matahari. Berbeda dari
batu cahaya yang berada di aula atas yang masih berbentuk batuan.
Batu cahaya ini
begitu besar dan membentuk hampir mirip matahari. Yang membedakan adalah,
sekalipun sangat terang, tetapi saat dipandang sama sekali tidak menyilaukan
mata, ini benar-benar membuat Adhit heran.
Namun bukan itu
saja yang membuat Adhit terperangah, disamping batu cahaya tersebut, beriringan
awan buatan yang memenuhi langit-langit kota bawah, yang berjalan melayang
dengan sangat tenang.
Pandangan Adhit
kembali pada sekitar, ia terkesima melihat semua binatang bukan hanya berbicara
dan bergerak layaknya manusia. Tetapi mereka mengenakan pakaian tradisional sunda
dengan lengkap, sederhana, namun tetap terlihat berkelas.
Apalagi ketika
para Kaum Luhur saling bertegur sapa, mereka sangat sopan sekaligus begitu
terpelajar.
Saat melihat
berkeliling, Adhit berhenti pada kedai kopi tradisional yang hanya bisa ditemukan
saat ia kecil dulu. Atap jerami, dinding kayu setengah yang disambung bilik, disertai
meja-meja lesehan yang nyaman. Namun, matanya langsung terbelalak kaget karena
meja lesehannya ternyata adalah layar sentuh. “Apa-apaa ini!” ucap Adhit secara
refleks.
Disamping kedai
kopi, terdapat kedai soto yang juga dengan bentuk tradisional. Namun begitu
Adhit melongok kedalam, ia melihat para pelanggan memesan menu dengan menyentuh
hologram, kini ia semakin pusing.
Adhit melihat Harimau
sebagai koki utama, sibuk merajang beberapa bumbu, lalu dilayangkan menggunakan
energi miliknya, untuk masuk kedalam panci yang menumis sendiri dengan cepat. Beberapa
pelayan kelinci sibuk membawa beberapa pesanan yang sudah siap dihidangkan. Ini
seperti berada didalam dunia sihir yang dipadukan dengan kecanggihan teknologi,
benar-benar sangat diluar nalar.
Menoleh kearah
pasar, Adhit melihat sesosok kijang penjual kelontong, memasang poster diskon lalu
berteriak–teriak memasarkan panci canggih terbaru. Ia juga memasarkannya dengan
beberapa atraksi akrobatik yang unik. Sontak langsung diserbu sekelompok ibu–ibu
kelinci yang tertarik akan diskon besar dan tontonan menarik, mereka
benar-benar sangat ribut.
Adhit benar–benar
terkesima, “ini benar–benar kota yang hidup!” Ucap Adhit dengan nada yang
hampir meledak, rasanya semua yang ia lihat sama sekali tidak masuk akal.
Galuh menoleh
pada Adhit, “Apa di duniamu tidak ada pasar?” tanya Galuh heran. “Ada, tetapi
tidak ada toko kelontong yang menjual peralatan memasak, sambil melayangkan
barang jualannya seperti itu. Atau, kedai soto dengan alat masak yang bisa bekerja
sendiri,” jawaban Adhit, membuat Galuh tiba-tiba refleks menepuk jidatnya sendiri.
Galuh baru ingat kalau Adhit berasal dari dunia Manusia.
“Tiba-tiba ada
yang menarik ujung baju Adhit. “Tuan, maukah Anda mengambilkan layangan yang
tersangkut dekat kepala Tuan?” Saat menoleh, Adhit menemukan anak kelinci imut lagi
gembul dengan mata penuh harap.
Disamping anak
kelinci tersebut, terdapat anak kelinci lain yang lebih gembul dengan posisi masih
berusaha meraih balon. Namun, karena masih terlalu kecil, energinya tdak bisa
sampai atas, ia hanya bisa menyentuh ranting-ranting terdekat saja. Kelinci
gembul tersebut kini ikut menatap Adhit dengan wajah hampir menangis, benar-benar
membuat gemas.
“Baiklah..” ucap
Adhit sambil menyerahkan balon tersebut, yang lalu mengelus lembut kepala dua anak
kelinci tersebut dengan lembut. Galuh sedikit terpana dengan sikap Adhit, tanpa
sadar ia melengkungkan senyum yang sangat tipis sekali.
“Pria yang manis
bukan.. hahaha…!” ucap salah satu Ajag yang berbicara lewat pikiran Galuh. Ia
mengenal suara itu, suara milik NaRaja, pemimpin para Ajag.
Setelah itu ucapan
NaRaja malah disambut tawa kekeh dari beberapa Ajag yang lain. Tawa mereka yang
mengejek membuat Galuh tiba-tiba menjadi kesal.“Menyebalkan!” ucap Galuh sambil
segera berbalik meninggalkan Adhit sendirian disana.
“Dia itu kenapa
sih..” ucap Adhit terkejut karena tiba-tiba mendapati Galuh mengumpat sendiri, lalu
pergi begitu saja. Karena ditinggal begitu saja, akhirnya Adhit memutuskan melihat
semua ini sendirian saja.
Semua penduduk yang
tinggal disini mempunyai kemampuan penyaluran energi khas Kaum Astamaya. Benda-benda
melayang kesana kemari secara terkendali, disertai budaya Sunda yang kental dan
kecanggihan teknologi yang diluar nalar, membuat Adhit merasa terjebak dalam
desa sihir kuno dengan atmosfir kecanggihan yang sangat unik.
Setelah berjalan
agak lama, Adhit menemukan sebuah pintu gerbang, menuju kompleks perumahan. Namun
setelah itu Adhit terkesiap, karena semua jenis rumah yang ada di dalam, adalah
rumah dengan arsitektur yang benar-benar kuno. Arstektur yang hanya ia bisa
dapatkan dalam buku sejarah budaya.
Saat mendekati
gerbang masuknya, Adhit malah dikejutkan hembusan angin segar dari beberapa bunga
besar. Ia terperangah karena beberapa bunga besar tersebut, mahkotanya bergerak
kesemua arah seakan hidup. Sedangkan akarnya menempel kuat pada beberapa pohon
besar yang ada didalam gerbang.
Namun bukan itu
saja yang membuat ia semakin terkejut. Saat sudah masuk ke dalam kompleks
tersebut, Adhit seperti masuk kedalam sebuah tempat dengan atmosfir berbeda
dibandingkan pasar tadi.
Disini begitu
tenang dan damai, bisingnya pasar sama sekali tidak terdengar saat ia melewati
pintu gerbang kompleks rumah kuno tersebut. Sejumlah rumah tampak begitu mewah
dan luas, sementara beberapa yang lain lebih sederhana, namun beberapa pohon
besar melindungi atapnya sehingga begitu teduh dan asri.
Pagar kayunya
sendiri, ditumbuhi bunga aneka warna, yang lalu dihinggapi beberapa burung dan
kupu-kupu yang terbang saling bertaut dengan sangat indah. Selokannya juga
sangat terjaga bersih dan baik, Adhit bahkan bisa melihat ikan berwarna warni
hidup ceria didalam beberapa selokan. Ini membuat Adhit kehilangan kata-kata.
Hingga tiba-tiba,
Adhit menghentikan langkahnya. Ada sebuah rumah sederhana yang berhasil
menyedot perhatiannya.
Rumah bilik kayu,
memiliki teras berupa sanggar yang dipenuhi oleh sekelompok penari yang begitu lincah.
Ketertarikannya semakin meningkat, ketika ia melihat beberapa kucing, kelinci
dan rubah wanita menarikan tarian dengan gerakan luwes dan begitu indah. Sementara
kijang, harimau dan beberapa hewan lain memainkan kendang dan alat musik
lainnya dengan penuh kelincahan.
Suara kendang yang memukul jantung, rebab yang terkesan
manja, ditambah suara suling yang seperti merayu telinga, benar-benar membuat
Adhit terpaku didepan pertunjukan hebat tersebut.
“Itu namanya tari
Jaipong” ucap seseorang dari belakang. Saat Adhit menoleh, ternyata Tuan Monyet
Rahyata yang tadi membawanya ke ruang utama.
“Ah.. anda Tuan
Rahyata” ucap Adhit sopan, Tuan Monyet Rahyata begitu senang saat mengetahui namanya
di ingat.
“Saya seperti
terjebak disebuah desa sihir yang amat kuno, namun sekaligus kecanggihan
melebihi kami para Manusia,” ucap Adhit dengan takjub. Mendengar hal tersebut,
Tuan Monyet Rahyata tersenyum begitu senang.
“Kami para Kaum
Luhur amat sangat menjaga jiwa dalam sebuah tradisi. Jadi, sekalipun inovasi
yang kami kembangkan sangat maju pesat, kami tetap ingat siapa kami, dan dari
mana kami berasal. agar setinggi apapun kami terbang, kami tidak lupa untuk tetap
menjejak tanah.” ucap Tuan Monyet Rahyata bijak.
“Indah sekali
bukan?” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil ikut melihat para penari dari balik
pagar. “Semua tentang yang ada di rumah ini menyedot perhatian saya,” ucap
Adhit sambil tidak berhenti melihat para penari yang seakan tenggelam dalam
tariannya. “Bentuk rumahnya juga menarik, saya belum pernah melihat seperti
ini?” lanjut Adhit sambil menatap atap rumah yang agak unik.
“Ini adalah imah
Badah Heuay, mempuyai FIlosofi tentang kekuatan dan ketahanan,” jelas Tuan
Monyet Rahyata bijak. “Apa semua rumah ini mempunyai filosofi?” ucap Adhit
dengan terkejut.
“Tentu saja, semua
rumah tradisional bukan sekedar indah dipandang, tetapi menyimpan makna yang
dalam dari setiap detailnya,” ucap Tuan Monyet Rahyata bangga.
“Seperti yang
sebelah sini, ini adalah Kasepuhan, rumah adat ini merupakan symbol sari
kearifan lokal. Lalu disebelahnya adalah Capit Gunting, melambangkan keagungan
dan kejayaan. Nah yang disana, itu Togog Anjing, memiliki filosofi tentang
kebersamaan dan gotong royong.
Tuan Monyet
Rahyata tampak mencari lagi, “nah, yang itu Julang Ngapak, melambangkan
keharmonisan dan keseimbangan. Lalu disebelahnya Jolopong, memiliki filosofi
tentang kehidupan yang dinamis dan penuh perubahan. Dan yang terakhir Jolotong,
melambangkan kebersamaan dan kerukunan dalam masyarakat,” jelas Tuan Monyet
Rahyata yang diangguki Adhit dengan antusias.
“Semua yang ada
disini benar-benar membuat saya terkejut, saya tidak mengira budaya Jawa Barat
bisa sekaya ini,” ucap Adhit takjub.
“Ini baru sedikit
nak, bila anda ada waktu, kita akan melihat lebih banyak lagi.” Janji Tuan
Monyet Rahyata yang ditanggapi Adhit dengan sangat antusias.
“Ah iya,
sebenarnya pertemuan kita sekarang bukan secara tidak sengaja, sejak tadi saya memang
sedang mencari anda, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan,” ucap Tuan Monyet
Rahyata tiba-tiba,
“Anda mencari
saya?” tanya Adhit dengan heran.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar