Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 32 – Ternyata dia penjaga Sang Api! | By: Desya Saghir
Anehnya, semua hewan purba justru seakan tunduk pada remaja ini. Tak lama, Monster yang seharusnya ada di Astamaya malah berbondong-bondong ikut datang bermunculan.
Sontak, Galuh dan kawan-kawan langsung
mundur karena terkejut. Namun, begitu para Monster melihat remaja pertapa ini
ada dikerumunan para hewan purba, tiba-tiba mereka langsung terdiam, bahkan
menunduk hormat seakan pada induk semang mereka. Sontak hal tersebut membuat Galuh
dan kawan-kawan menatap pertapa muda ini dengan raut semakin terkejut.
“Maafkan mereka,” ucap remaja tersebut
sopan sambil turun dari salah satu predator purba terbang. Disusul Gada
Sangkara yang ikut turun dengan wajah yang masih terkejut.
“Kamu penjaga Sang Api?” tebak Soma
Wisesa tanpa basa basi.
“Sang Api?” tanya anak remaja ini
heran.
“Nama saya Dharma, dan saya hanya
pertapa biasa.” Ucap remaja tersebut sopan dengan raut heran. Sesekali tangan
anak itu menyambut beberapa Monster yang datang sambil menunjukan luka yang ia
derita. Lalu dengan ajaibnya, dengan hanya mengandalkan energinya saja, luka beberapa
Monster ini seketika langsung sembuh! Energi remaja ini begitu senyap, namun reaksinya
sangat mencengangkan!
“Keberadaan saya disini, untuk menjaga
semua Monster Astamaya yang saya ungsikan hingga benar-benar sembuh. Begitu mereka sudah baik-baik saja, saya
segera mengembalikan mereka ke Astamaya,” lanjut Dharma yang disahuti para Monster
dan Mahluk purba dengan riuh. Karena benar-benar sangat berisik, tiba-tiba saja
para Ajag menggeram dan itu Dharma langsung terkejut!
“Anda.. Nona Galuh? Anda masih hidup?”
Ucap remaja yang bernama Dharma tersebut sangat terkejut.
“Kamu mengenali saya?” ucap Galuh
heran.
“Tentu saja, kisah anda dengan para
Ajag begitu terkenal di Astamaya. Lagi pula, nama dan kisah anda juga tertulis
dalam salah satu Kitab Sembilan yang saya temukan di tempat terlarang para
Tetua Pertapa.” Ucap Dharma sambil mengeluarkan pecahan salah satu Kitab
Sembilan dari balik bajunya. Isi Kitab lusuh ini diteliti mata Soma Wisesa
dengan seksama.
“Ini coretan Cadrakara! Bukan hanya Adhitya, Ia
juga telah mengetahui tentang Galuh sejak seribu tahun yang lalu? Dasar si Gila
Candrakara!” ucap Soma Wisesa dengan terkejut.
Menurut cerita dari Dharma, mereka akhirnya
menyadari bahwa inilah Pertapa yang pernah diceritakan Taphilli saat Kuil
tempatnya bernaung diserang. Setelah itu mereka menggeleng, pantas saja ia sangat
dicari oleh Kaum Hitam, selain kharismanya sendiri diantara para Monster
Astamaya dan predator purba yang membuatnya disambut luar biasa, ia juga
memiliki energi senyap yang mempunyai efek mencengangkan. Ia bahkan mengobati
memar tubuh para pemilik elemen dengan sekali jentikan jari!
Ini membuat mereka semua penasaran
dengan kemampuan apa saja yang Dharma miliki, kemampuan yang membuat Kaum Hitam
nekat meluluh lantahkan kuil para Pertapa dan ratusan muridnya hanya demi
menemukan satu orang dirinya.
“Kami pernah mendengar tentangmu dari
salah seorang yang selamat dari reruntuhan Kuil tersebut. Ia bilang, sampai
Kuil Luluh lantah kamu tetapi tidak ditemukan? Kemana kamu saat itu?” tanya
Galuh heran.
“Ada yang selamat?” tanya Dharma
terkejut.
“Ada, Taphilli.. “ jawab Galuh. “ah.. maaf,
nama aslinya Sutrisna Prawiraharja, ” ralat Galuh lagi.
“Anak baru itu selamat?” ucap Dharma
terkejut, namun setelah itu ia tersenyum. “Sudah saya kira, sejak dia memasuki
gerbang kuil dengan tergesa, memang terasa energi yang tidak biasa darinya.
Energi yang begitu kompleks dan rumit, energi yang biasanya hanya dimiliki para
anak Istimewa,” jawab Dharma sambil menggeleng senang.
Sekalipun Taphilli bilang ia tidak
mengenalnya, rupanya Dharma telah mengetahui siapa Taphilli sejak pertama kali
ia datang.
Para Kaum Astamaya terkejut dengan
ucapan Dharma, mereka kini tahu bahwa remaja ini bukan anak biasa. “Kamu salah
satu anak Istimewa?” Tebak Ragadewa penuh penasaran.
“Benar, sama seperti anda,” ucap
Dharma yang membuat semua kembali terkejut. Anak setenang ini ternyata
mempunyai kedalaman ilmu yang luar biasa.
Setelah itu, Dharma memperlihatkan
sebuah gambaran penyerangan kuil pertapa yang dulu pernah diceritakan Taphilli.
Saat itu suasana begitu kacau balau. Dharma sendiri tengah digiring salah satu
Tetua Pertapa sambil berpesan, “Jangan keluar dari sini sebelum salah satu dari
Tetua Pertapa menjemput kamu!” Setelah itu, Pertapa tua tersebut mendorong
Dharma masuk kedalam ruang bawah tanah dan menguncinya dari luar. Dharma hanya
bisa diam kebingungan sampai suasana luar kembali hening.
Sekalipun diluar sudah hening, Dharma tampak
tidak berani keluar dari ruang bawah tanah karena pesan Tetua Pertapa tersebut.
Ia bahkan menunggu sampai dua bulan
penuh! Bertahan hidup dari sari-sari yang ada di udara. Partikel sari-sari
tersebut ia padatkan, sehingga membentuk bongkahan yang bisa ia makan. Sementara
untuk minum, Damar terlihat mengandalkan mata air yang mengalir di ruang bawah
tanah tersebut.
Untuk mengusir kebosanannya, Dharma memberanikan
diri membaca kitab-kitab yang sebenarnya ia tahu, bahwa Kitab yang disimpan
disana adalah kitab terlarang. Kitab yang tujuannya karena hendak mengambil
ilmu baiknya oleh para Tetua Pertapa, dan setelah Kitab baru yang telah
disaring isinya selesai dibuat, Kitab lama yang merusak segera mereka hancurkan.
Keingintahuannya sebagai remaja, dan karena
ia pemilik energi Istimewa, justru
menjadikan Dharma bukan hanya membacanya untuk mengusir bosan, melainkan juga
isi dalam Kitab terlarang yang ia baca malah meresap cepat ke dalam memori
terdalamnya.
Hingga suatu ketika, Dharma terbalik dalam
membaca susunan dari Kitab terakhir, yang seketika membuat energinya keluar liar
tidak terkendali. Aliran energi yang bergejolak liar tersebut, membuat ruangan tersebut
meledak dan dirinya terpental keras keluar.
Namun begitu Dharma sudah ada diluar,
ia baru sadar bila ternyata Kuil telah luluh lantah, dan semuanya telah tewas
dengan sangat mengenaskan. Dharma tertegun melihat sisa jasad para Tetua
Pertapa dan sahabat-sahabatnya selama di Kuil yang sudah tinggal kerangka dan
jaringan kering. Mereka bahkan tewas dengan posisi menghalangi Kaum Hitam untuk
mendekati ruang Dharma disembunyikan.
Pemandangan tersebut membuat Dharma
saat itu berteriak dengan panik dan tidak terkendali, sontak semua yang melihat
gambaran yang diberikan Dharma ikut merasakan perih yang dirasakan Dharma saat
itu.
Rasa bersalah yang mencengkram hatinya,
justru membuat Energi Dharma jadi kembali keluar bahkan kali ini semakin tidak
terkendali. Sebuah energi luar biasa besar, yang membuat Kuil dan isinya rata langsung
menjadi serpihan debu.
Dalam rasa terkejut, rasa penasaran
para pemilik elemen kini terpenuhi. Ternyata benar, energi Dharma memang sangat
luar biasa!
Setelah itu, Dharma memberikan gambaran
baru. Dimana saat ia siuman, dan mendapati bahwa semuanya telah rata. Dharma akhirnya
memutuskan pergi berkelana untuk terus menjauh dari para Kaum Hitam.
Karena Dharma telah membaca dan
menyerap seluruh pengetahuan dalam Kitab terlarang yang ada diruang bawah
tanah. Maka ia memutuskan hanya berkonsentrasi meneruskan jejak para Tetua
Pertapa saat mereka masih hidup. Yaitu, menulis ulang Kitab terlarang yang telah
hancur oleh ledakan energinya tapi ilmunya telah terserap dikepalanya, lalu menyaring
isinya agar kelak berguna bagi Kaum Astamaya.
Lalu agar tetap aman, Selama masa
pemilahan, Dharma menyimpan proses revisi kitabnya dalam perpustakaan yang
terletak di alam pikirannya, hingga Kitab yang telah ia revisi siap
diperkenalkan pada Kaum Astamaya.
Namun, ketika ia menemukan berita, bahwa
para Kaum Hitam mulai menggunakan para Monster dari seluruh wilayah Astamaya untuk
disisipkan Mudria, Dharma langsung berbalik. Ia bergerilya senyap membebaskan para
Monster dari kejaran Kaum Hitam.
Para Monster yang terlanjur
terjangkiti, ia obati. Bila para Monster yang sempat terjangkiti masih
menggila, karena bekas-bekas Mudria yang disusupkan paksa masih mempengaruhi
mereka. Maka Dharma membawa para Monster ke dalam wilayah ini sampai mereka
benar-benar sembuh, lalu membawanya kembali ke Astamaya.
“Wilayah Astamaya akan sangat tidak
aman untuk para para Monster ini. mereka akan diburu dan dibinasakan oleh para Kaum
Astamaya. Maka selama penyembuhan, saya membawa mereka kesini dulu,” ucap
Dharma dengan dalam.
“Dari Astamaya ke merapi kan jarak
yang sangat jauh, lagi pula, bagaimana kamu bisa menemukan tempat ini? tempat
ini buatan Candrakara, tidak ada yang tahu kecuali Candrakara sendiri?” Tanya
Soma Wisesa heran.
“Tempat ini, ada dalam catatan Guru
Candrakara dalam pecahan Kitab Sembilan, yang saya temukan saat disembunyikan
di ruang bawah tanah,” ucap Dharma sambil menunjukan kode kordinat yang ada
dalam salah satu halaman Kitab Sembilan tersebut.
“Dan soal jarak tempuh antara Astamaya
ke Merapi, saya menguasai teleportasi dari salah satu kitab terlarang di ruang rahasia
para Pertapa,” Selain terkejut, kini semua mengerti bagaimana Dharma bisa
membawa para Monster raksasa ini dengan aman.
Adhit tiba-tiba melihat sebuah
bayangan sekilas dikepalanya, bayangan Guru Candrakara dari cermin yang
berkata, “Adhitya.. Kitab Gerbang Cermin ini saya sembunyian disini, agar selamat
dari ledakan kecerobohan Dharma, dan kelak ditemukan dalam serpihan debu oleh Dharma.
Tolong sampaikan terimakasih dari saya karena telah menjaga Kitab ini dengan
baik. Tolong sampaikan lagi, agar dikembalikan pada Nona Galuh, agar Kitab ini bisa
dikembangkan oleh Kaum Luhur.” Sontak hal tersebut membuat Adhit terkejut luar
biasa.
Ketika Adhit mengatakan hal tersebut
pada pemilik elemen lainnya, langsung membuat semua menggeleng tidak percaya.
“Dasar si gila Candrakara, ia merencanakan sampai sedetail ini, bahkan Dharma juga
adalah bagian dari rencananya!” ucap Soma Wisesa sambil menggeleng takjub.
Dan benar saja, ketika Soma Wisesa membuka
Kitab Gerbang Cermin, Kitab pecahan dari Kitab Sembilan, ternyata memang memuat
banyak sekali coretan Guru Candrakra. Kini Soma Wisesa mengerti, Candrakara
membuat tempat persembunyian pecahan batu elemen ini dengan berbagai cara,
termasuk memakai ilmu dari pecahan Kitab Sembilan.
Mendengar nama Guru Candrakara
disebut, Dharma teringat sesuatu. Selama di Kuil Pertapa, secara tidak sengaja,
ia pernah menguping dengar tentang kisah Guru Candrakra dalam pembicaraan
senyap para Pertapa.
Dharma berkata, bahwa seribu tahun
yang lalu, Guru Candrakara pernah disana untuk membuat sesuatu yang para Pertapa
sendiri saja tidak diberitahu. Ijin Istanalah yang membuat para Pertapa masa
lalu menyediakan tempat di ruang Kitab Terlarang. Bahkan akses menggunakan beberapa
Kitab didalamnya, termasuk Kitab Sembilan yang mereka rahasiakan. Setelah itu,
Guru Candrakara mengurung diri dalam ruangan itu selama dua bulan. Dan begitu
selesai, Guru Candrakara pergi begitu saja meninggalkan ruang Kitab Terlarang seperti
tidak tersentuh.
Namun, saat ditanya soal tempat
penyimpanan salah satu retakan dari Batu Hyang Sawarga, yaitu Sang Api, Dharma
malah tidak tahu. Menurut penuturannya, sepanjang ia keluar masuk daerah ini
untuk membawa para Monster sakit, ia tidak menemukan tempat yang seperti
diceritakan dalam Kitab Candrakara.
“Maaf, setelah ini saya tidak bisa
membantu lebih jauh. Setelah saya salah menterjemahkan Kitab terlarang yang terakhir,
saya tidak mampu mengendalikan energi saya lagi bila kekuatan yang keluar
terlalu besar. Karena yang hancur bukan hanya lawan, tetapi juga kawan.” Ucap
Dharma dengan penuh sesal.
Pecahan kitab Sembilan, seri Kitab
gerbang cermin. Dharma menyerahkan Kitab tersebut karena Guru Candrakara
meminta ini disimpan sang pewaris tahta. Setelah Galuh menerimanya, Dharma
pergi karena ada yang harus ia selesaikan di Astamaya.
“Saya hanya singgah sebentar karena
harus menyembunyikan para Monster Astamaya dan mengobatinya dulu disini.” Jelas
Dharma sopan.
Setelah itu, Dharma segera kembali ke
Astamaya, karena beberapa Monster wilayah Banyu banyak yang masih ditawan
Kaum Hitam. Ketika Dharma bersiap teleportasi,
semua sampai menahan napas karena penasaran dengan proses Dharma bersiap. Tubuh
Dharma yang perlahan dipenuhi cahaya kebiruan, tiba-tiba saja, “Blash!” Dharma
menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Sontak setelahnya semua saling
menoleh karena terkesima luar biasa.
Sesuai alur petunjuk Kitab Candrakara,
Akhirnya mereka menemukan kawah gunung Api yang dicari, disalah satu pulau yang
melayang. Adhit merasa ngeri, karena sekilas, memang tampak seperti kawah
dengan lahar yang masih aktif.
Namun karena petunjuk mengarah kedalam
kawah tersebut, mereka akhirnya nekat turun. Hawa panas yang mulai mengganggu
mereka, membuat mereka sedikit ragu akan petunjuk dari Kitab tersebut. Namun
tiba-tiba, mereka menemukan sebuah akar rambat mati yang ternyata menutupi
sebuah gua besar. Sebuah gua dengan gerbang, yang diukir pahatan menyerupai
bunga kaca piring denga ukuran yang sangat besar. Benar-benar persis seperti
yang digambarkan dalam Kitab Candrakara!
Baru memasuki pintu gerbangnya saja, mereka
langsung disambut beberapa Monster lahar yang menakutkan. Disusul akar – akar hidup
yang melilit kesana kemari, dan bangkitnya monster kerikil bebatuan yang
benar-benar sulit dikalahkan.
Galuh maju duluan, dengan
menghancurkan para Monster menggunakan sabetan sepasang kujangnya. Dulu, saat
kembali ke masa lalu, Kujang tersebut sempat di utak-atik oleh Guru Candrakara,
sehingga membuat sepasang kujangnya kini bisa membelah lagi menjadi sepuluh
kujang, dengan daya merusak yang lebih brutal. Aksi tersebut semua terkesima
luar biasa, bahkan termasuk Galuh sendiri.
Disusul kepalan tangan besar milik energi
Gada Sangkara, yang dipakai memukul rentetan para Monster lahar. Namun sayang, sekalipun
hancur lebih dalam setiap dipukulan, para Monster yang sudah hancur ini akan
kembali utuh seperti semula.
Adhit segera memakai perisai bola
energi yang dihasilkan kalungnya, untuk mencari kelemahan setiap Monster yang
menyerang mereka.
“Gada Sangkara! Para Monster ini
mempunyai inti energi dalam setiap gejolak serangannya, serang titik cahayanya
ketika mereka bergerak!
Teriakan Adhit, disambut Gada Sangkara
dengan memberikan serangan energi kepalan besar lagi. Namun kali ini, serangan
itu dipusatkan pada inti energi para Monster lahar tersebut. Dan benar! para
Monster lahar ini tidak bangkit lagi.
Disisi lain, Ragadewa yang telah mengikat
para akar-akar hidup dengan tambang energinya. Berdasarkan keterangan Adhit
tadi, Ragadewa segera menyerang inti energi dari akar-akar hidup ini, sehingga mereka
langsung lunglai tidak berdaya.
Begitu semua Monster yang menyambut
mereka habis. Tiba-tiba saja muncul, seorang anak kecil berusia tujuh tahun,
dengan wajah sangat bengal. Badan gempal, rambut Jabrik kemerahan, mata sedikit
sipit keatas memandang mereka dengan menyelidik. Setelah itu anak tersebut
tertawa, lalu lari dan menghilang diantara serabut akar yang menjuntai didalam
gua.
“Saya tahu anak ini! Dia adalah
Tangguh Ragasuci. Candrakara pernah bercerita sedikit tentang anak ini!” ucap
Soma Wisesa seakan mendapatkan titik terang.
“Oh ya..? tahu apa kamu tentang saya?
Hahahaha..” ucap anak tersebut sambil tiba-tiba muncul diatas langit-langit gua
dengan sangat mengejutkan.
“Kamu adalah anak yang dulu sering
Candrakara temui saat ia ditugaskan mencari beberapa ramuan dihutan oleh
gurunya. Karena sering membantu Candrakara mencari bahan ramuan yang
benar-benar langka, kalian langsung akrab, lalu tak lama menjadi teman
Candrakara.” Ucap Soma Wisesa yakin. Anak tersebut mengangguk-angguk terkejut, lalu
ia tersenyum bengal dan menghilang lagi.
“Ah, tapi semua orang juga tahu itu,”
ucap Anak bengal tersebut yang tiba-tiba muncul disamping Soma Wisesa.
“Candrakara mengatakan, ia heran
karena kamu ini tidak tumbuh dewasa seperti dirinya. lalu kamu baru berterus
terang bahwa umur kamu telah seratus tahun.” Ucapan Soma Wisesa embuat bocah
itu terkejut lagi, tapi ia malah menghilang lagi.
“Kamu awalnya adalah anak kecil bengal
biasa. Saat itu tengah dikejar polisi desa, karena sudah mengacaukan satu isi kampung.
Ketika menemukan sumur dekat gubuk ditengah hutan, kamu segera meminum air yang
ada di ember sumur. Setelah terteguk habis, kamu baru sadar bila air tersebut
mempunyai rasa yang aneh.” Tiba-tiba Anak tersebut menyembul dari dalam lava, dan
itu mengejutkan semua yang ada disana. “Teruskan, saya ingin mendengar kisah
lengkapnya,” ucap anak tersebut sambil berenang gaya punggung didalam lava.
“Diwaktu yang sama, kamu mendengar
sebuah suara dari dalam gubuk. saat kamu mengintip, ternyata seorang Pertapa
tua tergeletak tewas, disertai beberapa orang berpakaian hitam yang pergi
sambil mengumpat karena tidak menemukan ramuan yang diperintahkan. Disana, kamu
menebak bahwa yang kamu minum bukan air sumur, melainkan ramuan yang mereka
cari,” ucap Soma Wisesa yang malah disambut tawa cekikian anak tersebut.
“Benar! Setelah itu, banyak hal yang
aneh yang terjadi pada tubuh saya. Bukan
hanya menghambat pertumbuhannya saja, melainkan regenerasi sel yang sangat
cepat, luka yang mudah sembuh, dan bisa berkamuflase menjadi benda yang saya
sentuh!” ucap anak kecil tersebut yang tiba-tiba muncul dari balik dinding gua,
memamerkan segala kelebihan yang ia miliki, lalu menghilang lagi entah kemana.
“Berhati-hatilah, wataknya mungkin
tidak bertumbuh, tetap menjadi anak–anak yang haus permainan, namun
pengetahuannya bertambah seiring usianya,” bisik Soma Wisesa memperingatkan
semuanya.
“Kalian utusan Candrakra kan? Ah.. si
bodoh itu, bukannya mengambil sendiri, malah menugaskan anak-anak bau kencur
Hahaha!” ucap anak tersebut dengan kurang ajar. Semua kini terkejut, ternyata
anak ini sudah mengetahui bahwa mereka bukan lawan.
“Tangguh! Candrakara telah lama
tewas..” ucap Soma Wisesa yang membuat bocah bernama Tangguh muncul dari dalam
lava dan tertegun sebentar. “Tidak mungkin! Ia seorang yang amat hebat! Tidak
mungkin ia mati semudah itu!” Rajuk anak itu marah. Tiba-tiba seluruh lahar
yang mengalir bergejolak liar dan membuat para pemilik elemen kembali bersiaga.
“Tangguh.. Ia tewas karena
merencanakan semua ini, agar retakan Batu Hyang Sawarga ditemukan bercadarkan
alur rencananya. Lagi pula, ini sudah berlangsung seribu tahun yang lalu. Bila
ia hidup pun, tentu ia sudah lama wafat, karena ia Kaum Astamaya pada umumnya,”
ucap Soma Wisesa lagi mengingatkan.
Bocah tersebut kini tertegun lagi,
lalu setelahnya menangis tersedu. “Saya sudah lama menyiapkan semua permainan
ini untuk Candrakara! Si bodoh itu berbohong pada saya… dia meminta dibuatkan
permainan terbaik dan berjanji akan kembali untuk bermain bersama saya… Huaaaaa!!!”
kini tangis bocah itu meledak.
“Karena terlanjur permainan ini saya
buat, bermainlah bersama saya sebentar. baru setelahnya, saya berikan Sang Api
pada kalian!” ucap bocah itu sambil berjingkrak senang. Setelah itu, tiba-tiba menyembul
semua permainan yang ia katakan, dan semuanya sangat mengerikan untuk dicoba.
“Ayolaaah… telah beratus tahun saya
selalu main sendirian, terkurung disini benar-benar sangat membosankan, dan para
Monster juga sudah bosan bermain dengan saya..” Rajuk anak itu lagi.
“Tangguh Ragasuci! Saya datang untuk
menepati janti, bermainlah dengan saya!” ucap Adhit dengan bola mata yang berubah
putih, dan seluruh tubunnya diselubungi segel hologram dari kalung Sura
Suradana milik Adhi. Sontak semua langsung terkejut, termasuk Soma Wisesa.
“Candrakra!.. Candrakaraaaa!! Kamu
benar-benar menepati janjiii!!.. Yihaaa!!” ucap anak itu berjingkrak sangat
senang.
Soma Wisesa menahan semua dan
membiarkan anak itu bermain dengan Adhit yang tampaknya tidak sadarkan diri.
“Candrakara seorang yang selalu
menepati janji, sepertinya ia menyelipkan memori tentang ini pada DNA Adhit,
biarkan mereka berdua menyelesaikan janji yang mereka buat sejak seribu tahun
yang lalu,” ucap Soma Wisesa, yang langsung diangguki semua dengan mengerti.
Galuh sempat khawatir karena Adhit
hanya manusia biasa, namun ternyata Kalung Sura Suradana yang dipakai Adhit
benar-benar melindunginya dari permainan gila buatan bocah tersebut. Mereka
berdua melewati semua rintangan dengan tertawa sangat bahagia.
Kini semua mengerti mengapa Soma
Wisesa selalu menyebut Guru Candrakara dengan julukan Si Gila Candrakara. Berbeda
dengan garis wajah dan aura kharismatik yang mereka temui saat kembali ke masa
lalu, dalam tubuh Adhit, Guru Candrakara terlihat begitu menikmati permainan ekstrim
yang bukan hanya berbahaya, tetapi juga sangat mengancam jiwa.
Namun karena saking bersemangatnya, tiba-tiba
seluruh dinding merapat, membuat para pemilik elemen hampir terhimpit dinding
gua dan tersiram Lava. Karena terkejut, tiba-tiba para Ajag menggeram marah.
Lalu dengan segera, anak ini menghentikan permainannya.
Setelah anak ini dan Guru Candrakara
yang ada dalam tubuh Adhit saling menoleh, mereka berdua saling menggangguk dan
Guru Candrakarapun menghilang. Lalu dengan cepat, anak ini muncul dihadapan
Galuh dengan posisi tunduk dengan hormat.
“Akhirnya anda muncul juga Nona
Pewaris Tahta, saya harus benar-benar memastikan bahwa yang datang adalah
kalian. Menurut Candrakara, sang pewaris tahta akan mengambilnya sendiri,
dengan tanda bahwa ia akan datang
dikawal oleh para Ajag, ” ucap anak tersebut sambil menunduk hormat, lalu seluruh
dinding kini kembali ke tempat semula.
Adhit yang tersadar dan masih bingung,
segera dibisiki Gada Sangkara sehingga akhirnya ia mengangguk mengerti.
“Segelnya berada dalam kawah penuh
lahar, dan kuncinya satu, kepercayaan!” ucap anak tersebut sambil mengedip.
“Hei, kamu mau kemana!” teriak Galuh
ketika anak tersebut tiba-tiba lari keluar Gua.
“Saya mau maaaiiiin, seribu tahun
tidak keluar gua karena harus menjaga batu sialan itu! Membuat saya bosan luar
biasaaaa…. Dadaaah…!!!” tiba-tiba anak tersebut pergi meninggalkan semua
pemilik elemen dengan wajah bingung.
“Sekarang bagaimana?” Tanya Gada
Sangkara ikut bingung.
“Katanya, kuncinya satu, kepercayaan..
Guru Candrakra tidak akan pernah mencelakakan kita, jadi..” ucap Adhit yang tiba-tiba
saja turun ke dalam lubang penuh lahar yang ditunjuk anak tadi, sontak tindakan
spontan membuat semua terkejut!
Ketika semua berteriak, kawah tersebut
tiba-tiba memendarkan percikan dan cahaya yang begitu hebat. Sepertinya segel
Sang Api mengenali Adhit sebagai pemilik elemen Api.
“Hei.. lava ini seperti lem, lengket,
tapi dingin!” ucap Adhit Santai. Melihat itu semua kini merasa lega, kecuali
Galuh, ia ingin sekali meneriaki Adhit dengan sumpah serapah karena bertindak begitu
gegabah. Ragadewa menggeleng senyap saat melihat reaksi Galuh. Ia benar-benar
iri pada Adhit, namun ia juga bisa apa, Galuh sendiri yang telah memilih Adhit
sebagai pemilik hatinya.
Tak lama, Nawang Wulan muncul untuk
membuka segel sang Api dengan sangat indah. Galuh tersenyum saat melihat Soma
Wisesa memandang Nawang Wulan yang tengah membawa Sang Api untuk digenggam
Adhit. Mata itu, mata Soma yang memandang Nawang dengan penuh cinta.
Setelah batu tersebut mereka dapatkan,
anak penjaga gua kawah ini kembali lagi dan malah berjingkrak senang.
“Akhirnyaaa saya terbebaaaas!” teriaknya dengan lega.
“Baiklah.. karena tugas saya selesai,
saya akan pulang dulu ke Astamaya, kembali setelah puas bermain-main mengerjai Kaum
Hitam disana.. Dadaaah…” Setelah itu anak tersebut pergi lagi, meninggalkan
semuanya dalam keadaan terkejut. Lalu setelahnya, mereka tertawa karena
karakter anak tersebut benar-benar seperti bocah nakal pada umumnya.
Mereka pulang menggunakan perahu
transparan milik Damar Agung. Dan seperti biasa, mereka istirahat di tempat
persembunyian milik Ragadewa.
Begitu sampai, langsung tertidur
sangat pulas. Kecuali Soma, ia duduk sendiri sambil memandang jendela menuju
jalan pedesaan yang begitu lenggang. Lalu tak lama ia memandang kalung Sura
Suradana yang tergantung di leher Adhit. Setelah itu ia melesat memasuki Istana
Tujuh Pintu yang menempel erat pada Kalung Sura Suradana tersebut, sepertinya Soma
sangat merindukan Nawang Wulan.
Paginya saat terbangun, mereka malah mendapatkan
Kaum Hitam sudah ada disekitar penginapan!
Komentar