Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 2 – Tempat yang tidak biasa | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Tidaak!.. tempat
apa ini! katamu saya harus cepat pulang!” teriak pemuda tersebut panik, ia mundur,
lalu bersiap untuk lari.
“Disini bukan
dunia Manusia,” ucap Galuh dingin.
“Diluar sana
terdapat banyak monster buas yang kelaparan, rawa penghisap, akar beracun,
pohon pemakan daging dalam jalur hutan linglung. Maka, sekali kamu masuk
kedalam jalur hutan linglung, selamanya pula tidak pernah keluar dari hutan
tersebut sampai terhisap mati oleh pohon pemakan daging!” Ucap Galuh sambil
menyilangkan tangannya, ia benar-benar tahu jawaban apa yang akan ia dapatkan.
“ Ba..baiklah..”
ucap pemuda tersebut pasrah, lalu Galuh mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Lalu untuk apa
saya dibawa ke tempat seperti ini?” tanya pemuda tersebut sambil memandang
sekeliling dengan ngeri. Tempat tersebut benar-benar menakutkan! Sedangkan satu-satunya
cahaya yang ada disana hanya sinar bulan, itupun dari balik rimbunnya pepohonan
sehingga sangat temaram.
Alih-alih
menjawab, Galuh malah langsung menuju sisi tebing gunung. Saat Galuh menyentuh
dinding tebing, pemuda tersebut langsung tersentak! Tiba-tiba saja muncul sebuah
pintu rahasia, dengan bagian dalam lebih gelap dari suasana luar.
Saat pemuda tersebut
hendak melarikan diri ke arah hutan, ia malah teringat kembali dengan apa yang
baru saja di ucapkan Galuh padanya. Dengan pasrah, pemuda tersebut
mengembalikan posisi kakinya ketempat semula, setelah itu ia malah berjongkok
sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, karena tidak tahu harus mengambil
tindakan apa.
“Masuk!” ucap
Galuh tegas sambil berjalan mendahului. Dengan ngeri, pemuda tersebut akhirnya bangun,
lalu berjalan pasrah mengikuti Galuh masuk kedalam gua yang sangat gelap.
Namun saat sudah
melewati pintu, “ini tidak mungkiin..!” Teriak pemuda tersebut dengan raut tidak
percaya. Suasana didalam tiba-tiba begitu terang dan hangat.
Padahal dari luar,
bagian dalam gua tampak sangat gelap dan pekat. Pemuda ini bahkan sampai
melongokan kepalanya keluar masuk lagi pintu untuk memastikan apa yang lihat
adalah nyata, kejadian Ini benar-benar sangat diluar nalarnya.
Namun, begitu sampai
ke tempat yang lebih dalam, pemuda ini semakin terbelalak tidak percaya. Dengan
pandangan berkeliling, ia tidak berhenti berdecak.
Kini ia mendapati dirinya berada
ditengah-tengah sebuah Aula kuno dengan ukuran super mega besar! Aula ini tidak
menggunakan obor seperti yang biasanya diceritakan dalam dongeng rakyat,
melainkan menggunakan bebatuan melayang yang bercahaya.
Langit-langitnya
sendiri membuat pemuda ini tertegun, terdapat lukisan raksasa menyerupai batik
singa barong khas Cirebon, menempel pada langit-langit dengan sangat indah.
Bercerita
tentang sebuah perjalanan yang dipimpin seorang manusia berpakaian seperti
penebang kayu kuno, kakek tua berjanggut dan seorang anak muda berpakaian
seperti cendikiawan yang juga sama kunonya. Yang setelah itu, di ikuti
banyaknya binatang berdiri dan berpakaian seperti layaknya manusia dimasa itu.
Mata pemuda
tersebut menelusuri kebawah langit-langit gua tersebut. Kini ia mendapati
tiang-tiang batu besar yang begitu gagah dan megah, menyangga langit-langit gua dan beberapa
balkon. Satu tema dengan lukisan yang ada di langit-langit gua, tiang-tiang dan
beberapa balkon tersebut dipahat menyerupai ukiran kayu khas Cirebon, sehingga menciptakan
sebuah harmoni dengan keindahan yang luar biasa.
Namun tiba-tiba
perhatiannya tersedot pada beberapa tanaman yang merambat pada beberapa balkon
tersebut. Beberapa bunga yang tumbuh disisi balkon tiba-tiba dikunjungi
kupu-kupu, serangga warna warni dan burung-burung kecil yang terbang saling
bertaut. Lalu mereka menciptakan tarian udara yang sangat memikat.
Pemuda itu
memegang kepalanya sendiri yang mulai berdenyut karena terlalu banyak terkejut.
Segala hal yang ada disini benar-benar sangat indah, namun tidak masuk akal! Ia
seperti terjebak pada kuil hutan kuno yang amat tersembunyi, kuil kuno indah
yang hanya terdapat dalam dunia dongeng.
Saat hendak
bertanya, pemuda tersebut baru menyadari bahwa sudah tertinggal jauh dari Galuh.
dengan segera ia berlari agar bisa sejajar dengan langkah Galuh yang semakin
menjauh. Namun saat telah dekat, kini ia malah kembali tertegun.
Didalam gua
yang telah dipenuhi cahaya, pemuda itu baru menyadari bahwa ternyata wanita yang
telah menyelamatkannya mempunyai paras yang sangat cantik, namun bukan hanya cantik
biasa.
Galuh mempunyai wajah oval yang menarik, sepasang
alis elang yang menaungi mata bulatnya yang bersorot tegas, lalu diperindah hidung
mancung kecil dan bibir mungil yang ranum kemerahan. Membuat setiap centi wajah
Galuh begitu melekat dalam ingatan pemuda tersebut.
“Tidak akan ada
yang mempercayainya bila ia bisa seperkasa itu saat melawan Dwasa si mahluk
asap,” pikir pemuda tersebut sambil tersenyum.
“Namamu kalau
tidak salah dengar Galuh kan? saya Adhit.. Adhitya Putera,” ucap pemuda tersebut
memberanikan diri. Namun langkah Galuh yang terlalu cepat, membuat pemuda yang
bernama Adhit ini terpaksa menarik tangannya kembali karena tidak mendapat
respon apa-apa.
“Kaku sekali”
pikir pemuda yang bernama Adhit ini heran.
Galuh akhirnya
berhenti pada sebuah pintu kayu kokoh yang amat besar. Adhit terkesima dengan ukiran
etniknya yang sedikit unik. Saat tangannya hampir menyentuhnya, Adhit malah
terlompat karena ukiran–ukiran tersebut tiba-tiba bergerak, lalu membentuk
wajah yang amat sangat besar!
“Aah.. selamat
datang Nona Galuh,” ucap pintu tersebut seakan terbangun dari tidur. “Anda
membawa tamu?” ucap pintu tersebut heran namun tetap sopan, “aah.. Manusia!”
ucap pintu itu lagi yang kini dengan nada hampir berteriak.
“Bukalah, ada
hal penting yang harus saya tunjukkan pada Kakek,” ucap Galuh serius. “Oh..
tentu Nona, silahkan masuk..” ucap pintu tersebut berusaha kembali sopan,
setelah itu ia membuka pintunya pelan dengan mata yang mengekori gerak-gerik
Adhit.
Dalam sekejap
terciumlah aroma dupa kayu wangi dan rempah bakar. Adhit kembali was-was, karena
didalam begitu temaram. Lalu.. “Bumm!” ucap sang pintu yang sontak membuat
Adhit meloncat dengan posisi sangat aneh. Sang pintu refleks tergelak melihat
Adhit menempel pada salah satu tiang persis seperti cicak, namun segera
berhenti tertawa karena Galuh meliriknya dengan galak.
“Ba.. baiklah Nona..”
ucap sang pintu takut, lalu ia segera mengembalikan wajahnya kembali menjadi seperti
ukiran seperti semula.
Adhit lalu mengikuti
Galuh masuk kedalam ruangan. Ternyata ketika sudah didalam, ruangan ini tidak
segelap yang ia kira dari luar. Ada satu batu cahaya kecil melayang diujung
ruangan membuat Adhit kini bisa meraba beberapa benda dengan matanya.
Setelah matanya
mulai terbiasa, terlihatlah beberapa tumpuk buku tua, satu set peralatan ramuan
dan beberapa jenis tanaman diatas sebuah meja kerja besar. Adhit kini tahu dari
mana aroma rempah bakar tersebut berasal. Tak lama, terlihatlah seorang Kakek
tua saat ia menutup pintu dari lemari buku yang amat sangat besar.
“Kakek, saya datang.”
Ucap Galuh sambil memberi salam hormat pada seorang Kakek tua tersebut. Tetapi Kakek
tua tersebut memberikan tanda tunggu dengan tangannya, sambil membuka salah
satu buku yang ia ambil dari lemari, lalu Galuh menaatinya.
Namun tiba-tiba
Kakek tua tersebut mengangkat kepalanya, lalu menyadari bahwa Galuh ternyata
membawa orang lain. “Kamu membawa tamu? Manusia?” tanya kakek tua tersebut
dengan nada terkejut karena tadi tidak menyadari kehadiran Adhit.
“Dwasa
melanggar wilayah kita kek, ia bukan hanya mengacau di wilayah selatan, tetapi
juga melahap kawan–kawan dari pemuda ini.“ Ucap Galuh dengan tangan mengepal
keras.
“Hmm.. aneh
sekali, mengapa tiba–tiba Dwasa mempunyai nyali yang sangat besar untuk
melanggar wilayah, bahkan menantang dirimu? bukankah ia hanya kecoak kecil yang
tidak berguna?“ ucap Kakek tua tersebut sambil mengerutkan keningnya karena
heran.
“Lalu, apa yang
membuatmu membawa anak muda ini ke tempat kita, bukankah tempat ini sangat
dirahasiakan Galuh? apalagi ia seorang Manusia,” tanya Kakek tua tersebut
sambil meletakan buku tua yang tengah ia pegang.
“Dwasa meninggalkan
tanda pada anak ini kek,“ ucap Galuh sambil menyingkapkan lengan panjang baju
Adhit. Kakek tua tersebut mendadak terkejut!
“Tanda apa?”
tanya Adhit panik. Ia tidak melihat sesuatu yang aneh dari lengannya, kecuali
segel kebiruan yang diberikan Galuh saat ia hendak dibawa kembali dari dunia Manusia.
“Saya baru
menyadarinya saat hendak memulangkannya di gerbang selatan kek, energinya mulai
terasa saat anak ini sudah diseberangkan menuju dunia manusia,” ucap Galuh
dengan nada bersalah.
“Tidak, ini
bukan salahmu, saya sendiri baru mengetahui saat kamu memperlihatkan segel
tersebut. Energi penyelubungnya benar-benar sangat kuat, bahkan tadi saya baru
menyadari kehadirannya setelah beberapa saat ada disini. “Ucap Kakek tua
tersebut sambil mengelus janggutnya beberapa kali.
“Sepertinya ada
yang membantu Dwasa sehingga energinya tidak terdeteksi dengan cepat. Seseorang
yang memiliki energi hitam sangat kuat!“ ucap Kakek tua itu lagi sambil
berjalan mendekati Adhit.
Dengan refleks,
pandangan Adhit beralih pada lengan kirinya lagi. “Kamu tidak akan menemukan
apapun nak, hanya kaum kami yang bisa merasakannya.” Ucap Kakek tua tersebut sambil membuka segel
dengan hati-hati. Tak lama dari itu, Adhit merasakan genggaman Kakek tua ini mulai
menjadi panas, sehingga refleks membuat Adhit berontak.
“Tahan!” ucap
Galuh cepat sambil memegang bahu dan lengan Adhit dengan sigap. Benar saja, tak
lama dari itu, keluarlah sebuah bayangan gelap yang menyerupai monster asap. Ia
menyeringai sambil membuka mulutnya yang bertaring seakan hendak melahap Adhit
dengan buas.
Dengan cepat Kakek
tua tersebut segera menghalau, lalu menghempaskan bayangan tersebut sehingga
terpecah seperti pasir yang terbuar, lalu setelah itu hilang terbawa angin.
“Tadi itu
mahluk apa!” Adhit setengah berteriak sambil bergidik ngeri. Ia tidak menyangka
ada mahluk mengerikan bersarang dalam pergelangan tangannya.
“Kami
menyebutnya kaum Mudria, sejenis Ruh hutan buatan. Mereka berasal dari
jiwa–jiwa manusia yang dibelenggu setelah terikat perjanjian dengan Kaum hitam.”
Ucap Galuh sambil mencari sesuatu dari tas kulit yang terselempang di
pinggangnya.
“Jiwa mereka
akan diambil sesuai tengat waktu yang telah disetujui kedua belah pihak, lalu
dijadikan semacam budak suruhan untuk melancarkan segala urusan para Kaum Hitam.”
Ucap Galuh lagi, yang lalu melanjutkan meronggoh tas pinggangnya lebih dalam lagi.
“Menjadi Mudria?,
memangnya perjanjian seperti apa sehingga manusia rela saja menjadi budak
mereka?” ucap Adhit keheranan.
“Para pemalas
yang ingin menjadi kaya, hebat, berwibawa dengan cara instan. Dan untuk wanita,
biasanya digunakan menjadi pemegang kekuasaan, membalas dendam atau semacam penggoda.”
Ucap Galuh dengan nada dan pandangan meremehkan.
“Perjanjian
mereka yang kelak akan dijadikan semacam Mudria, diletakan pada barisan paling
bawah dengan bentuk tulisan yang amat kecil dan buruk. Tentu saja, mereka yang
serakah dan tamak tak akan membaca seluruh isi perjanjian, dan segera menyetujui
menggunakan segel darah dengan suka rela “ucap Galuh lagi sambil kembali membuka
salah satu kantong kecil dalam tas kulitnya.
Galuh akhirnya
menemukan apa yang ia cari. Dengan segera, Galuh menyerahkan sebuah botol kristal
klasik berisi cairan bening kuning kehijauan pada Adhit.
“Ini untuk
apa?” tanya Adhit penasaran. “Ini sari pati bunga kilalang, penetral berbagai
jenis racun gaib. Ruh tadi dikeluarkan secara paksa dari nadi mu, pasti
gerakannya telah merobek beberapa serat ruh mu. Tubuhmu tidak akan apa-apa,
tetapi Ruh mu tentu terluka,” ucap Galuh lagi.
“Tapi saya
tidak merasakan sakit apa-apa,” tolak Adhit.
“Sekarang
memang belum terasa, namun bila tidak segera diobati, maka kamu akan mengalami
sejenis radang pada serat Ruh. Kamu akan tergeletak tidak berdaya selama
beberapa hari, menahan sakit yang berpidah–pindah secara acak. Dan perlu kamu
tahu, itu sangat menyiksa!” Ucap Galuh sambil memaksa Adhit menerima botol
tersebut, lalu bergegas menuju pintu keluar.
“Tunggu!, kamu
akan meninggalkan saya ditempat gelap seperti ini? lalu isi botol ini harus saya
apakan?” ucap Adhit mulai panik.
“Oleskan saja sampai
sebatas siku lengan, lalu tunggulah sampai saya datang. Saya khawatir Dwasa berhasil
mengikuti kita. Setelah memeriksa keadaan luar dan beberapa segel sekitar gua,
saya akan segera kembali!” ucap Galuh cepat yang lalu cepat bergegas.
“Tunggu! segel?
apa lagi itu?” tanya Adhit pada dirinya sendiri.
“Gua ini di
halangi beberapa segel sehingga tempat kami tidak bisa terdeteksi oleh siapapun.
Jadi, selama segel tersebut tidak rusak, maka kamu tetap aman disini nak,” ucap
Kakek tua tersebut sambil kembali memeriksa tanaman yang tadi ia letakan di
meja. Sesekali mata tuanya melihat petunjuk dalam buku dengan hati-hati.
Mendengar hal
tersebut, Adhit hanya bisa duduk pada pinggiran batu yang terletak di pojok
ruangan, seakan–akan ia bagian dari beberapa akar yang menyembul dari
dinding–dinding gua yang gelap.
Adhit menatap
botol kristal yang diberikan Galuh dengan seksama. Bentuk botolnya sendiri sangat
indah dan berkilau, ia bahkan dapat melihat kebeningan cairannya melalui pendaran
batu cahaya yang terletak jauh darinya, ada gemerlap kuning kehijauan kecil
yang membuat Adhit semakin terkesima.
Namun begitu
tutup botol tersebut dibuka, wajah Adhit langsung berubah, “Astagaaa…! aromanya
buruk sekali!” pikir Adhit dengan wajah menyesal. Aroma pedas menyeruak paksa
masuk melalui hidung hingga terasa sampai belakang matanya, setelah itu ia
bersin berkali-kali.
Dengan terpaksa Adhit mengoleskan isi botol tersebut seperlunya, setelah menutupnya, ia segera meletakan di tempat yang sangat jauh dari dirinya. Ketika selesai, Adhit malah terkejut karena mendapati kakek tua tadi kini sedang menatapnya dengan sangat seksama
- Bersambung - Desya Saghir-
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar