Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 2 – Tempat yang tidak biasa | By: Desya Saghir

“Tidaak!.. tempat apa ini! katamu saya harus cepat pulang!” teriak pemuda tersebut panik, ia mundur, lalu bersiap untuk lari.

“Disini bukan dunia Manusia,” ucap Galuh dingin.

“Diluar sana terdapat banyak monster buas yang kelaparan, rawa penghisap, akar beracun, pohon pemakan daging dalam jalur hutan linglung. Maka, sekali kamu masuk kedalam jalur hutan linglung, selamanya pula tidak pernah keluar dari hutan tersebut sampai terhisap mati oleh pohon pemakan daging!” Ucap Galuh sambil menyilangkan tangannya, ia benar-benar tahu jawaban apa yang akan ia dapatkan.

“ Ba..baiklah..” ucap pemuda tersebut pasrah, lalu Galuh mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Lalu untuk apa saya dibawa ke tempat seperti ini?” tanya pemuda tersebut sambil memandang sekeliling dengan ngeri. Tempat tersebut benar-benar menakutkan! Sedangkan satu-satunya cahaya yang ada disana hanya sinar bulan, itupun dari balik rimbunnya pepohonan sehingga sangat temaram.

Alih-alih menjawab, Galuh malah langsung menuju sisi tebing gunung. Saat Galuh menyentuh dinding tebing, pemuda tersebut langsung tersentak! Tiba-tiba saja muncul sebuah pintu rahasia, dengan bagian dalam lebih gelap dari suasana luar.

Saat pemuda tersebut hendak melarikan diri ke arah hutan, ia malah teringat kembali dengan apa yang baru saja di ucapkan Galuh padanya. Dengan pasrah, pemuda tersebut mengembalikan posisi kakinya ketempat semula, setelah itu ia malah berjongkok sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, karena tidak tahu harus mengambil tindakan apa.

“Masuk!” ucap Galuh tegas sambil berjalan mendahului. Dengan ngeri, pemuda tersebut akhirnya bangun, lalu berjalan pasrah mengikuti Galuh masuk kedalam gua yang sangat gelap.

Namun saat sudah melewati pintu, “ini tidak mungkiin..!” Teriak pemuda tersebut dengan raut tidak percaya. Suasana didalam tiba-tiba begitu terang dan hangat.

Padahal dari luar, bagian dalam gua tampak sangat gelap dan pekat. Pemuda ini bahkan sampai melongokan kepalanya keluar masuk lagi pintu untuk memastikan apa yang lihat adalah nyata, kejadian Ini benar-benar sangat diluar nalarnya.

Namun, begitu sampai ke tempat yang lebih dalam, pemuda ini semakin terbelalak tidak percaya. Dengan pandangan berkeliling, ia tidak berhenti berdecak.

 Kini ia mendapati dirinya berada ditengah-tengah sebuah Aula kuno dengan ukuran super mega besar! Aula ini tidak menggunakan obor seperti yang biasanya diceritakan dalam dongeng rakyat, melainkan menggunakan bebatuan melayang yang bercahaya.

Langit-langitnya sendiri membuat pemuda ini tertegun, terdapat lukisan raksasa menyerupai batik singa barong khas Cirebon, menempel pada langit-langit dengan sangat indah.

Bercerita tentang sebuah perjalanan yang dipimpin seorang manusia berpakaian seperti penebang kayu kuno, kakek tua berjanggut dan seorang anak muda berpakaian seperti cendikiawan yang juga sama kunonya. Yang setelah itu, di ikuti banyaknya binatang berdiri dan berpakaian seperti layaknya manusia dimasa itu.

Mata pemuda tersebut menelusuri kebawah langit-langit gua tersebut. Kini ia mendapati tiang-tiang batu besar yang begitu gagah dan megah,  menyangga langit-langit gua dan beberapa balkon. Satu tema dengan lukisan yang ada di langit-langit gua, tiang-tiang dan beberapa balkon tersebut dipahat menyerupai ukiran kayu khas Cirebon, sehingga menciptakan sebuah harmoni dengan keindahan yang luar biasa.

Namun tiba-tiba perhatiannya tersedot pada beberapa tanaman yang merambat pada beberapa balkon tersebut. Beberapa bunga yang tumbuh disisi balkon tiba-tiba dikunjungi kupu-kupu, serangga warna warni dan burung-burung kecil yang terbang saling bertaut. Lalu mereka menciptakan tarian udara yang sangat memikat.

Pemuda itu memegang kepalanya sendiri yang mulai berdenyut karena terlalu banyak terkejut. Segala hal yang ada disini benar-benar sangat indah, namun tidak masuk akal! Ia seperti terjebak pada kuil hutan kuno yang amat tersembunyi, kuil kuno indah yang hanya terdapat dalam dunia dongeng.

Saat hendak bertanya, pemuda tersebut baru menyadari bahwa sudah tertinggal jauh dari Galuh. dengan segera ia berlari agar bisa sejajar dengan langkah Galuh yang semakin menjauh. Namun saat telah dekat, kini ia malah kembali tertegun.

Didalam gua yang telah dipenuhi cahaya, pemuda itu baru menyadari bahwa ternyata wanita yang telah menyelamatkannya mempunyai paras yang sangat cantik, namun bukan hanya cantik biasa.

 Galuh mempunyai wajah oval yang menarik, sepasang alis elang yang menaungi mata bulatnya yang bersorot tegas, lalu diperindah hidung mancung kecil dan bibir mungil yang ranum kemerahan. Membuat setiap centi wajah Galuh begitu melekat dalam ingatan pemuda tersebut.

“Tidak akan ada yang mempercayainya bila ia bisa seperkasa itu saat melawan Dwasa si mahluk asap,” pikir pemuda tersebut sambil tersenyum.

“Namamu kalau tidak salah dengar Galuh kan? saya Adhit.. Adhitya Putera,” ucap pemuda tersebut memberanikan diri. Namun langkah Galuh yang terlalu cepat, membuat pemuda yang bernama Adhit ini terpaksa menarik tangannya kembali karena tidak mendapat respon apa-apa.

“Kaku sekali” pikir pemuda yang bernama Adhit ini heran.

Galuh akhirnya berhenti pada sebuah pintu kayu kokoh yang amat besar. Adhit terkesima dengan ukiran etniknya yang sedikit unik. Saat tangannya hampir menyentuhnya, Adhit malah terlompat karena ukiran–ukiran tersebut tiba-tiba bergerak, lalu membentuk wajah yang amat sangat besar!

“Aah.. selamat datang Nona Galuh,” ucap pintu tersebut seakan terbangun dari tidur. “Anda membawa tamu?” ucap pintu tersebut heran namun tetap sopan, “aah.. Manusia!” ucap pintu itu lagi yang kini dengan nada hampir berteriak.

“Bukalah, ada hal penting yang harus saya tunjukkan pada Kakek,” ucap Galuh serius. “Oh.. tentu Nona, silahkan masuk..” ucap pintu tersebut berusaha kembali sopan, setelah itu ia membuka pintunya pelan dengan mata yang mengekori gerak-gerik Adhit.

Dalam sekejap terciumlah aroma dupa kayu wangi dan rempah bakar. Adhit kembali was-was, karena didalam begitu temaram. Lalu.. “Bumm!” ucap sang pintu yang sontak membuat Adhit meloncat dengan posisi sangat aneh. Sang pintu refleks tergelak melihat Adhit menempel pada salah satu tiang persis seperti cicak, namun segera berhenti tertawa karena Galuh meliriknya dengan galak.

“Ba.. baiklah Nona..” ucap sang pintu takut, lalu ia segera mengembalikan wajahnya kembali menjadi seperti ukiran seperti semula.

Adhit lalu mengikuti Galuh masuk kedalam ruangan. Ternyata ketika sudah didalam, ruangan ini tidak segelap yang ia kira dari luar. Ada satu batu cahaya kecil melayang diujung ruangan membuat Adhit kini bisa meraba beberapa benda dengan matanya.

Setelah matanya mulai terbiasa, terlihatlah beberapa tumpuk buku tua, satu set peralatan ramuan dan beberapa jenis tanaman diatas sebuah meja kerja besar. Adhit kini tahu dari mana aroma rempah bakar tersebut berasal. Tak lama, terlihatlah seorang Kakek tua saat ia menutup pintu dari lemari buku yang amat sangat besar.

“Kakek, saya datang.” Ucap Galuh sambil memberi salam hormat pada seorang Kakek tua tersebut. Tetapi Kakek tua tersebut memberikan tanda tunggu dengan tangannya, sambil membuka salah satu buku yang ia ambil dari lemari, lalu Galuh menaatinya.

Namun tiba-tiba Kakek tua tersebut mengangkat kepalanya, lalu menyadari bahwa Galuh ternyata membawa orang lain. “Kamu membawa tamu? Manusia?” tanya kakek tua tersebut dengan nada terkejut karena tadi tidak menyadari kehadiran Adhit.

“Dwasa melanggar wilayah kita kek, ia bukan hanya mengacau di wilayah selatan, tetapi juga melahap kawan–kawan dari pemuda ini.“ Ucap Galuh dengan tangan mengepal keras.

“Hmm.. aneh sekali, mengapa tiba–tiba Dwasa mempunyai nyali yang sangat besar untuk melanggar wilayah, bahkan menantang dirimu? bukankah ia hanya kecoak kecil yang tidak berguna?“ ucap Kakek tua tersebut sambil mengerutkan keningnya karena heran.

“Lalu, apa yang membuatmu membawa anak muda ini ke tempat kita, bukankah tempat ini sangat dirahasiakan Galuh? apalagi ia seorang Manusia,” tanya Kakek tua tersebut sambil meletakan buku tua yang tengah ia pegang.

“Dwasa meninggalkan tanda pada anak ini kek,“ ucap Galuh sambil menyingkapkan lengan panjang baju Adhit. Kakek tua tersebut mendadak terkejut!

“Tanda apa?” tanya Adhit panik. Ia tidak melihat sesuatu yang aneh dari lengannya, kecuali segel kebiruan yang diberikan Galuh saat ia hendak dibawa kembali dari dunia Manusia.

“Saya baru menyadarinya saat hendak memulangkannya di gerbang selatan kek, energinya mulai terasa saat anak ini sudah diseberangkan menuju dunia manusia,” ucap Galuh dengan nada bersalah.

“Tidak, ini bukan salahmu, saya sendiri baru mengetahui saat kamu memperlihatkan segel tersebut. Energi penyelubungnya benar-benar sangat kuat, bahkan tadi saya baru menyadari kehadirannya setelah beberapa saat ada disini. “Ucap Kakek tua tersebut sambil mengelus janggutnya beberapa kali.

“Sepertinya ada yang membantu Dwasa sehingga energinya tidak terdeteksi dengan cepat. Seseorang yang memiliki energi hitam sangat kuat!“ ucap Kakek tua itu lagi sambil berjalan mendekati Adhit.

Dengan refleks, pandangan Adhit beralih pada lengan kirinya lagi. “Kamu tidak akan menemukan apapun nak, hanya kaum kami yang bisa merasakannya.” Ucap Kakek tua tersebut sambil membuka segel dengan hati-hati. Tak lama dari itu, Adhit merasakan genggaman Kakek tua ini mulai menjadi panas, sehingga refleks membuat Adhit berontak.

“Tahan!” ucap Galuh cepat sambil memegang bahu dan lengan Adhit dengan sigap. Benar saja, tak lama dari itu, keluarlah sebuah bayangan gelap yang menyerupai monster asap. Ia menyeringai sambil membuka mulutnya yang bertaring seakan hendak melahap Adhit dengan buas.

Dengan cepat Kakek tua tersebut segera menghalau, lalu menghempaskan bayangan tersebut sehingga terpecah seperti pasir yang terbuar, lalu setelah itu hilang terbawa angin.

“Tadi itu mahluk apa!” Adhit setengah berteriak sambil bergidik ngeri. Ia tidak menyangka ada mahluk mengerikan bersarang dalam pergelangan tangannya.

“Kami menyebutnya kaum Mudria, sejenis Ruh hutan buatan. Mereka berasal dari jiwa–jiwa manusia yang dibelenggu setelah terikat perjanjian dengan Kaum hitam.” Ucap Galuh sambil mencari sesuatu dari tas kulit yang terselempang di pinggangnya.

“Jiwa mereka akan diambil sesuai tengat waktu yang telah disetujui kedua belah pihak, lalu dijadikan semacam budak suruhan untuk melancarkan segala urusan para Kaum Hitam.” Ucap Galuh lagi, yang lalu melanjutkan meronggoh tas pinggangnya lebih dalam lagi.

“Menjadi Mudria?, memangnya perjanjian seperti apa sehingga manusia rela saja menjadi budak mereka?” ucap Adhit keheranan.

“Para pemalas yang ingin menjadi kaya, hebat, berwibawa dengan cara instan. Dan untuk wanita, biasanya digunakan menjadi pemegang kekuasaan, membalas dendam atau semacam penggoda.” Ucap Galuh dengan nada dan pandangan meremehkan.

“Perjanjian mereka yang kelak akan dijadikan semacam Mudria, diletakan pada barisan paling bawah dengan bentuk tulisan yang amat kecil dan buruk. Tentu saja, mereka yang serakah dan tamak tak akan membaca seluruh isi perjanjian, dan segera menyetujui menggunakan segel darah dengan suka rela “ucap Galuh lagi sambil kembali membuka salah satu kantong kecil dalam tas kulitnya.

Galuh akhirnya menemukan apa yang ia cari. Dengan segera, Galuh menyerahkan sebuah botol kristal klasik berisi cairan bening kuning kehijauan pada Adhit.

“Ini untuk apa?” tanya Adhit penasaran. “Ini sari pati bunga kilalang, penetral berbagai jenis racun gaib. Ruh tadi dikeluarkan secara paksa dari nadi mu, pasti gerakannya telah merobek beberapa serat ruh mu. Tubuhmu tidak akan apa-apa, tetapi Ruh mu tentu terluka,” ucap Galuh lagi.

“Tapi saya tidak merasakan sakit apa-apa,” tolak Adhit.

“Sekarang memang belum terasa, namun bila tidak segera diobati, maka kamu akan mengalami sejenis radang pada serat Ruh. Kamu akan tergeletak tidak berdaya selama beberapa hari, menahan sakit yang berpidah–pindah secara acak. Dan perlu kamu tahu, itu sangat menyiksa!” Ucap Galuh sambil memaksa Adhit menerima botol tersebut, lalu bergegas menuju pintu keluar.

“Tunggu!, kamu akan meninggalkan saya ditempat gelap seperti ini? lalu isi botol ini harus saya apakan?” ucap Adhit mulai panik.

“Oleskan saja sampai sebatas siku lengan, lalu tunggulah sampai saya datang. Saya khawatir Dwasa berhasil mengikuti kita. Setelah memeriksa keadaan luar dan beberapa segel sekitar gua, saya akan segera kembali!” ucap Galuh cepat yang lalu cepat bergegas.

“Tunggu! segel? apa lagi itu?” tanya Adhit pada dirinya sendiri.

“Gua ini di halangi beberapa segel sehingga tempat kami tidak bisa terdeteksi oleh siapapun. Jadi, selama segel tersebut tidak rusak, maka kamu tetap aman disini nak,” ucap Kakek tua tersebut sambil kembali memeriksa tanaman yang tadi ia letakan di meja. Sesekali mata tuanya melihat petunjuk dalam buku dengan hati-hati.

Mendengar hal tersebut, Adhit hanya bisa duduk pada pinggiran batu yang terletak di pojok ruangan, seakan–akan ia bagian dari beberapa akar yang menyembul dari dinding–dinding gua yang gelap.

Adhit menatap botol kristal yang diberikan Galuh dengan seksama. Bentuk botolnya sendiri sangat indah dan berkilau, ia bahkan dapat melihat kebeningan cairannya melalui pendaran batu cahaya yang terletak jauh darinya, ada gemerlap kuning kehijauan kecil yang membuat Adhit semakin terkesima.

Namun begitu tutup botol tersebut dibuka, wajah Adhit langsung berubah, “Astagaaa…! aromanya buruk sekali!” pikir Adhit dengan wajah menyesal. Aroma pedas menyeruak paksa masuk melalui hidung hingga terasa sampai belakang matanya, setelah itu ia bersin berkali-kali.

Dengan terpaksa Adhit mengoleskan isi botol tersebut seperlunya, setelah menutupnya, ia segera meletakan di tempat yang sangat jauh dari dirinya. Ketika selesai, Adhit malah terkejut karena mendapati kakek tua tadi kini sedang menatapnya dengan sangat seksama

 - Bersambung - Desya Saghir-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir