Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Kakek Addar terkejut dengan pertanyaan Adhit. Bahkan, dia begitu bingung sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Para Kaum Luhur juga sama terkejutnya, mereka bahkan saling menoleh satu sama lain. Namun sama saja, mereka juga tidak tahu harus menjawab apa. Setelah merasa menemukan kata yang tepat, Kakek Addar memberi tanda berupa anggukan pada Kaum Luhur, sehingga wajah mereka menjadi lega yang lalu ikut merestui. “Baiklah Adhitya, mengingat kamu akan tinggal cukup lama bersama kami, memang seharusnya kamu tahu tentang ini,” ucap Kakek Addar mencoba tenang. Setelah mengambil napas yang cukup dalam, iapun kembali berkata. “Kita mulai dari awal.” ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan energinya, untuk menampilkan gambaran pertengkaran dua kubu di ruang pertemuan istana. “Di waktu yang lampau, ada sebagian dari Kaum Astamaya yang mulai menentang keputusan mutlak Istana.” Terlihatlah sebuah gambaran pertengkaran dua kubu yang semakin memanas. “Pihak ini merasa bahwa Kaum Astam...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 5 – Asal usul Adhit | By: Desya Saghir

Kakek Addar meneruskan. “Tiga ratus tahun yang lalu, ada sebuah pulau indah dan makmur, terletak ditengah danau yang sangat besar.” Ucap Kakek Addar yang lalu dengan energinya, ia membuat sebuah gambaran ilusi tentang gambaran pulau tersebut. “Pulau ini selalu dilimpahi panen yang sangat melimpah, infrastruktur terbaik, penduduknya cerdas lagi ramah, dan kemajuan inovasi dalam teknologinya yang sangat begitu pesat. Kami Kaum Astamaya biasa menyebutnya sebagai, Pulau Bagjarupa. dalam istilah sunda mempunyai arti, Bagja yang berarti bahagia, dan Rupa adalah tampilan dalam sebuah wajah,” ucap Kakek Addar bangga. Benar seperti yang dikatakan Kakek Addar. Pulau Bagjarupa mempunyai infrastruktur perkotaan etnik modern yang menarik. Konsep bangunan-bangunan yang menyembul diantara pegunungan dan bebatuan besar, disertai kondisi alamnya yang sangat asri, keindahan pulau ini benar-benar tidak tergantikan oleh apapun. Pertaniannya sendiri tidak kalah menarik. Adhit melihat bahwa sistem iri...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 4 – Terjawabnya sebuah pertanyaan | By: Desya Saghir

 Adhit tiba-tiba terbangun di tengah hutan yang begitu gelap. Namun saat menoleh, ia malah menemukan Dwasa si mahluk asap sangat dekat, bahkan dengan posisi siap menerkam! Adhit loncat dengan panik, setelah itu ia langsung lari pontang panting tidak karuan. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya menabrak ubi kukus dengan ukuran sangat besar! Serabi hangat, lalu disusul aneka makanan lain dengan ukuran yang juga super besaaar.. “Aaaaaa…!!” Teriak Adhit sampai bangun terduduk, ia benar-benar sangat terkejut! Saat telah berhasil mengatur napasnya, Adhit baru sadar, bila disamping tempat tidurnya ternyata telah tersaji menu yang sama persis dengan mimpinya. Setelah itu Adhit tertawa, karena ternyata, yang menyelamatkan dia dari mimpi buruknya sendiri adalah aroma lezat yang tersaji disamping tempat tidurnya. Dengan tidak sabar, Adhit menyesap dulu teh hangatnya sambil menatap hidangan lezat yang sudah ada dihadapannya. Namun saat menyesap, ia malah terkejut dengan aroma unik tehnya. “Teh...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir

“Anak muda, dari mana kamu berasal?” Kakek Tua tersebut akhirnya bersuara kembali. “Jakarta Kek..” jawab Adhit gugup, karena Kakek tua tersebut kini memandangnya semakin seksama. Mendengar jawaban Adhit, kening kakek tua tersebut kini malah berkerut heran. “Pendahulu kami telah membuat wilayah kami tersegel dengan sangat kuat. Tidak ada yang dapat memasuki wilayah ini kecuali kaum kami sendiri. Bagaimana bisa, kalian para Manusia, dapat masuk dengan mudah kedalam segel wilayah kami?” ucap Kakek Tua tersebut sambil meletakan tanaman yang ia pegang, keningnya semakin berkerut karena tidak mengerti. Mendengar hal tersebut, Adhit malah ikut terkejut. “Ini adalah Wilayah tersegel?” ucapnya refleks, lalu ia mencoba mengingat-ingat yang terjadi hari itu. “Entahlah Kek, setelah tour band kami selesai dan sangat sukses, kami diberi bonus berupa perjalanan dari sponsor kami.” Ucap Adhit sambil terus mengingat-ingat. “Saat kedatangan pertama kali, tidak ada sesuatu yang aneh. Kami datang ...