Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Kakek Addar terkejut dengan pertanyaan Adhit. Bahkan, dia begitu bingung sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Para Kaum Luhur juga sama terkejutnya, mereka bahkan saling menoleh satu sama lain. Namun sama saja, mereka juga tidak tahu harus menjawab apa. Setelah merasa menemukan kata yang tepat, Kakek Addar memberi tanda berupa anggukan pada Kaum Luhur, sehingga wajah mereka menjadi lega yang lalu ikut merestui. “Baiklah Adhitya, mengingat kamu akan tinggal cukup lama bersama kami, memang seharusnya kamu tahu tentang ini,” ucap Kakek Addar mencoba tenang. Setelah mengambil napas yang cukup dalam, iapun kembali berkata. “Kita mulai dari awal.” ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan energinya, untuk menampilkan gambaran pertengkaran dua kubu di ruang pertemuan istana. “Di waktu yang lampau, ada sebagian dari Kaum Astamaya yang mulai menentang keputusan mutlak Istana.” Terlihatlah sebuah gambaran pertengkaran dua kubu yang semakin memanas. “Pihak ini merasa bahwa Kaum Astam...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 5 – Asal usul Adhit | By: Desya Saghir

Kakek Addar meneruskan. “Tiga ratus tahun yang lalu, ada sebuah pulau indah dan makmur, terletak ditengah danau yang sangat besar.” Ucap Kakek Addar yang lalu dengan energinya, ia membuat sebuah gambaran ilusi tentang gambaran pulau tersebut. “Pulau ini selalu dilimpahi panen yang sangat melimpah, infrastruktur terbaik, penduduknya cerdas lagi ramah, dan kemajuan inovasi dalam teknologinya yang sangat begitu pesat. Kami Kaum Astamaya biasa menyebutnya sebagai, Pulau Bagjarupa. dalam istilah sunda mempunyai arti, Bagja yang berarti bahagia, dan Rupa adalah tampilan dalam sebuah wajah,” ucap Kakek Addar bangga. Benar seperti yang dikatakan Kakek Addar. Pulau Bagjarupa mempunyai infrastruktur perkotaan etnik modern yang menarik. Konsep bangunan-bangunan yang menyembul diantara pegunungan dan bebatuan besar, disertai kondisi alamnya yang sangat asri, keindahan pulau ini benar-benar tidak tergantikan oleh apapun. Pertaniannya sendiri tidak kalah menarik. Adhit melihat bahwa sistem iri...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 4 – Terjawabnya sebuah pertanyaan | By: Desya Saghir

 Adhit tiba-tiba terbangun di tengah hutan yang begitu gelap. Namun saat menoleh, ia malah menemukan Dwasa si mahluk asap sangat dekat, bahkan dengan posisi siap menerkam! Adhit loncat dengan panik, setelah itu ia langsung lari pontang panting tidak karuan. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya menabrak ubi kukus dengan ukuran sangat besar! Serabi hangat, lalu disusul aneka makanan lain dengan ukuran yang juga super besaaar.. “Aaaaaa…!!” Teriak Adhit sampai bangun terduduk, ia benar-benar sangat terkejut! Saat telah berhasil mengatur napasnya, Adhit baru sadar, bila disamping tempat tidurnya ternyata telah tersaji menu yang sama persis dengan mimpinya. Setelah itu Adhit tertawa, karena ternyata, yang menyelamatkan dia dari mimpi buruknya sendiri adalah aroma lezat yang tersaji disamping tempat tidurnya. Dengan tidak sabar, Adhit menyesap dulu teh hangatnya sambil menatap hidangan lezat yang sudah ada dihadapannya. Namun saat menyesap, ia malah terkejut dengan aroma unik tehnya. “Teh...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir

“Anak muda, dari mana kamu berasal?” Kakek Tua tersebut akhirnya bersuara kembali. “Jakarta Kek..” jawab Adhit gugup, karena Kakek tua tersebut kini memandangnya semakin seksama. Mendengar jawaban Adhit, kening kakek tua tersebut kini malah berkerut heran. “Pendahulu kami telah membuat wilayah kami tersegel dengan sangat kuat. Tidak ada yang dapat memasuki wilayah ini kecuali kaum kami sendiri. Bagaimana bisa, kalian para Manusia, dapat masuk dengan mudah kedalam segel wilayah kami?” ucap Kakek Tua tersebut sambil meletakan tanaman yang ia pegang, keningnya semakin berkerut karena tidak mengerti. Mendengar hal tersebut, Adhit malah ikut terkejut. “Ini adalah Wilayah tersegel?” ucapnya refleks, lalu ia mencoba mengingat-ingat yang terjadi hari itu. “Entahlah Kek, setelah tour band kami selesai dan sangat sukses, kami diberi bonus berupa perjalanan dari sponsor kami.” Ucap Adhit sambil terus mengingat-ingat. “Saat kedatangan pertama kali, tidak ada sesuatu yang aneh. Kami datang ...