Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 5 – Asal usul Adhit | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kakek Addar
meneruskan. “Tiga ratus tahun yang lalu, ada sebuah pulau indah dan makmur, terletak
ditengah danau yang sangat besar.” Ucap Kakek Addar yang lalu dengan energinya,
ia membuat sebuah gambaran ilusi tentang gambaran pulau tersebut.
“Pulau ini
selalu dilimpahi panen yang sangat melimpah, infrastruktur terbaik, penduduknya
cerdas lagi ramah, dan kemajuan inovasi dalam teknologinya yang sangat begitu
pesat. Kami Kaum Astamaya biasa menyebutnya sebagai, Pulau Bagjarupa. dalam
istilah sunda mempunyai arti, Bagja yang berarti bahagia, dan Rupa adalah
tampilan dalam sebuah wajah,” ucap Kakek Addar bangga.
Benar seperti
yang dikatakan Kakek Addar. Pulau Bagjarupa mempunyai infrastruktur perkotaan etnik
modern yang menarik. Konsep bangunan-bangunan yang menyembul diantara pegunungan
dan bebatuan besar, disertai kondisi alamnya yang sangat asri, keindahan pulau
ini benar-benar tidak tergantikan oleh apapun.
Pertaniannya sendiri
tidak kalah menarik. Adhit melihat bahwa sistem irigasi pulau ini begitu
canggih. Air terdistribusi tepat sasaran, sehingga meminimalkan pemborosan dan
memaksimalkan hasil panen. Pantas saja hasil panennya sangat melimpah ruah.
Hingga pada saat
gambaran tersebut memperlihatkan para penduduknya yang terlihat begitu bahagia.
Adhit kini mengerti, mengapa pulau ini dinamai pulau Bagjarupa, semua yang dihadirkan
di pulau tersebut benar-benar membawa kebahagiaan bagi penghuninya.
“Pulau yang paling
indah dan damai dari semua yang pernah saya temui,” ucap Kakek Addar sambil
memandang takjub pada gambaran yang ia buat.
“Dan seperti yang kamu lihat anak muda, para Kaum
Luhur ini, dulu adalah penghuni pulau Bagjarupa, “ucap Kakek Addar sambil merentangkan
tangan untuk menunjuk semua hewan yang hadir disana. Mendengar hal tersebut, para
hewan yang disebut Kaum Luhur ini langsung mengangguk sopan pada Adhit.
“Luhur
mempunyai arti kata tinggi. Panggilan ini disematkan dari Kaum Astamaya, karena
mereka semua adalah kaum yang dianugrahi kecerdasan luar biasa dibandingkan
kaum Astamaya sendiri. Karena ini pula, para Kaum Hitam berhasrat untuk
menguasai pulau Bagjarupa beserta isinya,” ucap Kakek Addar sedih.
Kakek Addar
berhenti untuk meminum tehnya sebentar, lalu ia meneruskan lagi. “Suatu hari, secara
mendadak, pulau Bagjarupa diserang secara brutal oleh Kaum Hitam,” ucap Kakek
Addar sambil menampilkan gambaran pulau Bagjarupa yang diserang secara membabi
buta.
“Namun, Kaum Luhur
bukan kaum yang tidak cermat. Dari luar mereka mungkin tampak terobsesi pada
ilmu pengetahuan, sehingga tampak tidak waspada. Padahal, mereka memiliki mata
dan telinga di semua tempat,” ucap Kakek Addar wajah berseri. Mendengar hal
tersebut, para Kaum Luhur mengangguk-angguk sangat senang.
“Sejak lama, para
Kaum Luhur telah mempersiapkan terowongan bawah tanah disetiap rumah mereka. begitu
mendapatkan informasi pulau Bagjarupa akan diserang, Tetua Kaum Luhur langsung
mengirimkan kabar kepada ayah saya melalui burung Mahui,” ucap Kakek Addar
semakin bersemangat.
Gambaran
beralih pada Kaum Luhur yang turun melalui lantai rumah masing-masing yang
tiba-tiba ambruk. Ternyata, dibawah lantai yang ambruk tersebut terdapat lorong
rahasia. Setelah para penghuni rumah sudah turun, lantai tersebut kembali menutup
rapi seakan tidak pernah ambruk sama sekali.
“Lalu, mereka
semua melarikan diri melalui terowongan–terowongan yang telah dipersiapkan
sejak lama.” Ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan kembali gambaran melalui energinya.
Kakek Addar, memperlihatkan sebuah gambaran
berupa jejak kaki dari Kaum Luhur yang terakhir melarikan diri, sisa jejaknya
menyala dan tiba-tiba membuat tanah menggembur, lalu menutup terowongan
seolah-olah terowongan tersebut tidak pernah ada.
“Setelah itu,
mereka hilang bagai ditelan bumi,” Ucap Kakek Addar dengan nada sangat bangga.
“Lalu burung
Mahui?” ucap Adhit secara refleks. Kakek Addar tersenyum, ia baru sadar bahwa
Adhit bukan Kaum Astamaya.
“Burung Mahui,
adalah energi buatan kami dengan bentuk menyerupai burung. Digunakan para Kaum
Astamaya untuk berkirim kabar,“ jelas Kakek Addar, yang setelah itu ia tampak membisikan
sesuatu pada angin.
Adhit terkesima
saat ratusan partikel di udara tiba-tiba berkumpul, lalu membentuk diri menjadi
burung kaca dengan ujung bulu yang berkilau keperakan, lalu bergerak seperti
layaknya burung kecil yang hinggap di tangan Kakek Addar.
Kakek Addar memakai energinya lagi. Ia dengan
energinya mencabut satu buah rambut Adhit, lalu diberikan pada burung Mahuinya untuk
ditelan. Setelah itu, burung Mahui yang tadinya bertengger di lengan Kakek
Addar, kini terbang menuju bahu Adhit. Kini ekspresi Adhit benar-benar tidak
dapat dijelaskan dengan kata-kata.
“Sejak saat
ini, dimanapun kamu berada, saya dapat mengirimi burung Mahui karena energi
saya telah mengenali kamu Adhitya,” ucap Kakek Addar dengan nada bijak.
“Pesan yang
dikirimkan burung Mahui lebih aman, coba lihat ini.” Ucap Tuan Monyet Rahyata
sambil mengambil paksa burung Mahui yang bertengger di lengan Adhit.
Ternyata,
burung tersebut sebelum sampai tergenggam oleh Tuan Monyet Rahyata, ia segera
membuarkan partikelnya dan menyatu kembali ditempat lain. Lalu terbang dan kembali
hinggap di lengan Adhit.
Ketika Adhit
membawa burung Mahui kedalam genggaman tangannya, burung kaca keperakan
tersebut bergelung manja, lalu menyampaikan pesan yang hanya bisa di dengar
oleh Adhit, setelah itu ia membuar terbawa angin.
“Wuaah!” reaksi
Adhit dengan mata terbelalak karena terkesima.
Kakek Addar
menekan salah satu ukiran dari meja bundar besar yang mereka tempati. Dengan
segera, bagian atas meja terbuka melipat-lipat secara origami, lalu tampaklah
satu bulatan kaca besar yang lalu melayang mengambang diatas meja.
Belum hilang
rasa terkejut Adhit, Kakek Addar menyentuh bulatan kaca tersebut dengan
energinya sehingga menimbulkan semacam riak air. Lalu munculah gambaran wilayah
Baduy luar seperti hologram. Adhit semakin terkejut dengan fungsi sebenarnya
meja bundar ini, ia pikir ini hanya meja jati biasa, ternyata semacam CTTV
jarak jauh.
“Wilayah ini,
kalian para manusia menyebutnya adalah wilayah Baduy luar.“ Lalu Kakek Addar
memutar–mutar gambaran samping wilayah, seperti sedang mengelilingi pinggiran
wilayah Baduy luar.
“Namun, yang
para Manusia tidak ketahui adalah, dari setiap sisi menuju Baduy luar ada lima
pintu menuju wilayah kami.” Ucap Kakek Addar lagi yang lalu menunjukan salah
pintu gerbang transparan yang terletak di pintu masuk Baduy luar.
Adhit baru
menyadari, mengapa tadi malam Kakek Addar bertanya apakah ia melihat pintu luar
Baduy luar. “Ternyata pintu gerbang menuju masuk ke Baduy luar, adalah salah
satu gerbang menuju Astamaya!” ucap Adhit dalam pikirannya sendiri.
“Sejak pertama kali wilayah Astamaya
disembunyikan oleh sesepuh kami, belum pernah ada satu Manusia pun yang mampu memasukinya.
Namun entah mengapa, Kakek buyutmu, Sura Suradana berhasil memasukinya
sendirian,” Kakek Addar mengatakan ini dengan ekspresi takjub, para Kaum Luhur yang
ada disana juga mengangguk setuju.
“Disinilah Sura
Suradana bertemu dengan Kaum Luhur,” ucap Kakek Addar sambil menunjukan gambaran
sebuah wilayah. Lalu Kakek Addar mengeluarkan energinya, sehingga gambaran
wilayah yang ada di atas meja, tertambahkan gambaran baru berupa seorang pemuda
mirip seperti dirinya. Ia terlihat sedang berbincang dengan beberapa sesepuh Kaum
Luhur beserta dua orang kaum Astamaya.
Adhit terkejut
saat teringat bahwa gambaran yang Kakek Addar sampaikan di meja bundar, ini adalah
gambaran yang sama persis dengan lukisan langit-langit gua.
“Itu adalah Kakek
buyutmu,” tunjuk Kakek Addar pada seseorang yang sama persis dengan dirinya,
hanya saja kulitnya lebih legam dan kekar.
“Lalu, yang ada
disebelahnya itu adalah ayah saya.” Ucap Kakek Addar, sambil menunjuk seorang
pria usia enam puluhan dengan janggut panjang. Hampir mirip seperti Kakek Addar
sekarang, namun ia memiliki tubuh besar dan rahang yang kuat.
“Dan pria muda
itu, adalah saya.” Adhit terkejut, Kakek Addar saat muda ternyata mempunyai
wajah yang sama sekali tidak bisa dikatakan jelek.
“Dulu saya
tampan sekali bukan hahaha..” ucapan Kakek Addar membuat para Kaum Luhur
terkekeh senang, ini membuat suasana agak sedikit mencair. Sedangkan Adhit
tertawa malu karena ekspresinya benar-benar sangat terbaca.
“Awalnya, Kakek
buyutmu Sura terkejut, karena menemukan banyaknya binatang yang tengah
berbondong–bondong. Namun sepertinya Sura lebih kaget lagi, karena mereka bukan
berdiri dan bisa berbicara saja, tetapi juga mengumpat,” ucap Kakek Addar
sambil melirik pada para Kaum Luhur.
Salah satu
kura–kura berdehem agar pembicaraan tidak berbelok arah, namun para Kaum Luhur
yang lain malah riuh terkekeh senang mengiyakan. Kakek Addar kembali melanjutkan
dengan wajah menahan senyum.
“Dentuman dari
penyerangan yang terjadi pada pulau Bagjarupa, ternyata membuat getaran besar yang
berdampak pada beberapa wilayah sekitar, termasuk gua ini.” lalu Kakek Addar
memperlihatkan sebuah Gambaran paniknya para Kaum Luhur saat itu.
“Kami yang
sudah sampai didepan wilayah gua otomatis panik, karena segel bergeser dan tidak
dapat ditembus sama sekali,” ucap Tuan Monyet Rahyata dibarengi
anggukan-anggukan dari para Kaum Luhur lainnya.
“Sura Suradana,
begitu melihat kami kesulitan, bukannya malah berlari, ia malah keluar dari
persembunyiannya dan langsung membantu kami masuk memperbaiki letak batu segel.”
Ucap Kakek Addar dengan nada takjub, para Kaum Luhur lain mengangguk-angguk tak
kalah takjubnya.
“Perlu
diketahui, batu segel yang melindungi bukit ini, berupa elemen murni yang
dibuat khusus oleh pemahat mantera terhebat dari kaum Astamaya. Namun, disaat
kami semua tidak bisa menyentuhnya sama sekali, Kakek buyutmu bisa masuk bahkan
menyentuhnya dengan mudah, padahal ia manusia biasa. Ini yang masih menjadi
misteri sampai sekarang,” ucap Kakek Addar semakin takjub.
“Kakek bilang
tiga ratus tahun yang lalu? bagaimana anda bisa mengenali bahwa saya adalah
salah seorang keturunan dari Sura Suradana?“ ucap Adhit heran.
“Kalung yang
kamu pakai,” jawab kakek Addar singkat.
Adhit secara
refleks memegang kalung yang ia pakai sambil teringat, ternyata ini sebabnya,
mengapa tadi malam Kakek Addar begitu terkejut saat melihat dirinya dari dekat.
Kakek Addar sepertinya hendak menanyakan kalung ini, namun entah mengapa ia malah
bergegas pergi.
Kakek Addar pun
meneruskan, “kalung ini diberikan agar kelak kami tetap bisa mengenali
keturunannya kelak, untuk terus berterimakasih.” Ucap Kakek Addar yang diangguki
oleh para Kaum Luhur yang ada disana.
“Lalu bagaimana
anda tahu bahwa saya adalah benar–benar keturunannya, bisa saja kalung ini
berpindah tangan karena sesuatu hal, dijual atau bahkan dicuri misalnya?” ucap
Adhit masih tidak percaya.
“Lihat ini,“ dengan
cepat Kakek Addar merebut paksa kalung Adhit hingga terlepas, setelah itu ia kalungkan
pada lehernya sendiri. Saat bergeser sedikit, kalung tersebut hilang, dan
tiba–tiba Adhit menyadari bahwa kalung tersebut telah kembali dilehernya.
Kakek Addar
merebutnya kembali dan menahannya didalam segel energi miliknya, kalung
tersebut berontak dan membuka cakramnya untuk melawan, lalu kembali muncul di
leher Adhit.
“ini?” ucap
Adhit sambil menggenggam bandul kalung tersebut dengan kaget, akhirnya ia
percaya.
“Pemiliknya
tidak pernah akan tertukar. Bila ia wafat, kalung ini akan menuju penerus
selanjutnya. Bila tidak mempunyai keturunan, maka ia akan mencari mana garis
keturunan terdekat dengan karakter yang sama dengan Sura Suradana,” ucap kakek
Addar lagi. Mendengar hal tersebut, Adhit malah menatap kalung yang ia genggam
dengan sedih.
“Menurut ibu
panti, ini adalah satu–satunya barang yang ditinggalkan kedua orang tua saya saat
dititipkan di panti asuhan. Mereka pergi begitu saja, dengan luka yang tidak
sempat dibersihkan.” ucap Adhit sambil berhenti sebentar sambil mengendalikan
emosinya.
“Kini saya tahu,
mereka bukan sengaja meninggalkan ini agar suatu saat kami bisa saling
menemukan,” ucap Adhit terhenti lagi sebentar, ada bulir kecil yang jatuh dari sudut
matanya, “tetapi ternyata, kalung ini menemui pemilik selanjutnya” ucap Adhit
sedih. Ia sudah berusaha tegar, tetapi rasa perih benar-benar meremukan hatinya.
“Sudahlah,
apapun yang dulu terjadi, sekarang anda memiliki keluarga disini,” ucap kura–kura
disamping Adhit sambil menepuk pundaknya dengan lembut, lalu diamini oleh Tuan Monyet
Rahyata dan Kaum Luhur lainnya. Mendengar hal tersebut, mata Adhitpun perlahan
mulai cerah. Tiba-tiba Adhit seakan teringat sesuatu yang ia ingin tanyakan
sejak malam tadi.
“Kakek,
pertanyaan ini terus memenuhi kepala saya sejak tadi malam, tentang kalimat
anda yang terputus. Soal energi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Galuh?” tanya
Adhit penasaran, mendengar hal itu sontak wajah Kakek Addar dan para Kaum Luhur
menjadi sangat terkejut!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar