Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 5 – Asal usul Adhit | By: Desya Saghir

Kakek Addar meneruskan. “Tiga ratus tahun yang lalu, ada sebuah pulau indah dan makmur, terletak ditengah danau yang sangat besar.” Ucap Kakek Addar yang lalu dengan energinya, ia membuat sebuah gambaran ilusi tentang gambaran pulau tersebut.

“Pulau ini selalu dilimpahi panen yang sangat melimpah, infrastruktur terbaik, penduduknya cerdas lagi ramah, dan kemajuan inovasi dalam teknologinya yang sangat begitu pesat. Kami Kaum Astamaya biasa menyebutnya sebagai, Pulau Bagjarupa. dalam istilah sunda mempunyai arti, Bagja yang berarti bahagia, dan Rupa adalah tampilan dalam sebuah wajah,” ucap Kakek Addar bangga.

Benar seperti yang dikatakan Kakek Addar. Pulau Bagjarupa mempunyai infrastruktur perkotaan etnik modern yang menarik. Konsep bangunan-bangunan yang menyembul diantara pegunungan dan bebatuan besar, disertai kondisi alamnya yang sangat asri, keindahan pulau ini benar-benar tidak tergantikan oleh apapun.

Pertaniannya sendiri tidak kalah menarik. Adhit melihat bahwa sistem irigasi pulau ini begitu canggih. Air terdistribusi tepat sasaran, sehingga meminimalkan pemborosan dan memaksimalkan hasil panen. Pantas saja hasil panennya sangat melimpah ruah.

Hingga pada saat gambaran tersebut memperlihatkan para penduduknya yang terlihat begitu bahagia. Adhit kini mengerti, mengapa pulau ini dinamai pulau Bagjarupa, semua yang dihadirkan di pulau tersebut benar-benar membawa kebahagiaan bagi penghuninya.

“Pulau yang paling indah dan damai dari semua yang pernah saya temui,” ucap Kakek Addar sambil memandang takjub pada gambaran yang ia buat.

 “Dan seperti yang kamu lihat anak muda, para Kaum Luhur ini, dulu adalah penghuni pulau Bagjarupa, “ucap Kakek Addar sambil merentangkan tangan untuk menunjuk semua hewan yang hadir disana. Mendengar hal tersebut, para hewan yang disebut Kaum Luhur ini langsung mengangguk sopan pada Adhit.

“Luhur mempunyai arti kata tinggi. Panggilan ini disematkan dari Kaum Astamaya, karena mereka semua adalah kaum yang dianugrahi kecerdasan luar biasa dibandingkan kaum Astamaya sendiri. Karena ini pula, para Kaum Hitam berhasrat untuk menguasai pulau Bagjarupa beserta isinya,” ucap Kakek Addar sedih.

Kakek Addar berhenti untuk meminum tehnya sebentar, lalu ia meneruskan lagi. “Suatu hari, secara mendadak, pulau Bagjarupa diserang secara brutal oleh Kaum Hitam,” ucap Kakek Addar sambil menampilkan gambaran pulau Bagjarupa yang diserang secara membabi buta.

“Namun, Kaum Luhur bukan kaum yang tidak cermat. Dari luar mereka mungkin tampak terobsesi pada ilmu pengetahuan, sehingga tampak tidak waspada. Padahal, mereka memiliki mata dan telinga di semua tempat,” ucap Kakek Addar wajah berseri. Mendengar hal tersebut, para Kaum Luhur mengangguk-angguk sangat senang.

“Sejak lama, para Kaum Luhur telah mempersiapkan terowongan bawah tanah disetiap rumah mereka. begitu mendapatkan informasi pulau Bagjarupa akan diserang, Tetua Kaum Luhur langsung mengirimkan kabar kepada ayah saya melalui burung Mahui,” ucap Kakek Addar semakin bersemangat.

Gambaran beralih pada Kaum Luhur yang turun melalui lantai rumah masing-masing yang tiba-tiba ambruk. Ternyata, dibawah lantai yang ambruk tersebut terdapat lorong rahasia. Setelah para penghuni rumah sudah turun, lantai tersebut kembali menutup rapi seakan tidak pernah ambruk sama sekali.

“Lalu, mereka semua melarikan diri melalui terowongan–terowongan yang telah dipersiapkan sejak lama.” Ucap Kakek Addar sambil mengeluarkan kembali gambaran melalui energinya.

 Kakek Addar, memperlihatkan sebuah gambaran berupa jejak kaki dari Kaum Luhur yang terakhir melarikan diri, sisa jejaknya menyala dan tiba-tiba membuat tanah menggembur, lalu menutup terowongan seolah-olah terowongan tersebut tidak pernah ada.

“Setelah itu, mereka hilang bagai ditelan bumi,” Ucap Kakek Addar dengan nada sangat bangga.

“Lalu burung Mahui?” ucap Adhit secara refleks. Kakek Addar tersenyum, ia baru sadar bahwa Adhit bukan Kaum Astamaya.

“Burung Mahui, adalah energi buatan kami dengan bentuk menyerupai burung. Digunakan para Kaum Astamaya untuk berkirim kabar,“ jelas Kakek Addar, yang setelah itu ia tampak membisikan sesuatu pada angin.

Adhit terkesima saat ratusan partikel di udara tiba-tiba berkumpul, lalu membentuk diri menjadi burung kaca dengan ujung bulu yang berkilau keperakan, lalu bergerak seperti layaknya burung kecil yang hinggap di tangan Kakek Addar.

 Kakek Addar memakai energinya lagi. Ia dengan energinya mencabut satu buah rambut Adhit, lalu diberikan pada burung Mahuinya untuk ditelan. Setelah itu, burung Mahui yang tadinya bertengger di lengan Kakek Addar, kini terbang menuju bahu Adhit. Kini ekspresi Adhit benar-benar tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Sejak saat ini, dimanapun kamu berada, saya dapat mengirimi burung Mahui karena energi saya telah mengenali kamu Adhitya,” ucap Kakek Addar dengan nada bijak.

“Pesan yang dikirimkan burung Mahui lebih aman, coba lihat ini.” Ucap Tuan Monyet Rahyata sambil mengambil paksa burung Mahui yang bertengger di lengan Adhit.

Ternyata, burung tersebut sebelum sampai tergenggam oleh Tuan Monyet Rahyata, ia segera membuarkan partikelnya dan menyatu kembali ditempat lain. Lalu terbang dan kembali hinggap di lengan Adhit.

Ketika Adhit membawa burung Mahui kedalam genggaman tangannya, burung kaca keperakan tersebut bergelung manja, lalu menyampaikan pesan yang hanya bisa di dengar oleh Adhit, setelah itu ia membuar terbawa angin.

“Wuaah!” reaksi Adhit dengan mata terbelalak karena terkesima.

Kakek Addar menekan salah satu ukiran dari meja bundar besar yang mereka tempati. Dengan segera, bagian atas meja terbuka melipat-lipat secara origami, lalu tampaklah satu bulatan kaca besar yang lalu melayang mengambang diatas meja.

Belum hilang rasa terkejut Adhit, Kakek Addar menyentuh bulatan kaca tersebut dengan energinya sehingga menimbulkan semacam riak air. Lalu munculah gambaran wilayah Baduy luar seperti hologram. Adhit semakin terkejut dengan fungsi sebenarnya meja bundar ini, ia pikir ini hanya meja jati biasa, ternyata semacam CTTV jarak jauh.

“Wilayah ini, kalian para manusia menyebutnya adalah wilayah Baduy luar.“ Lalu Kakek Addar memutar–mutar gambaran samping wilayah, seperti sedang mengelilingi pinggiran wilayah Baduy luar.

“Namun, yang para Manusia tidak ketahui adalah, dari setiap sisi menuju Baduy luar ada lima pintu menuju wilayah kami.” Ucap Kakek Addar lagi yang lalu menunjukan salah pintu gerbang transparan yang terletak di pintu masuk Baduy luar.

Adhit baru menyadari, mengapa tadi malam Kakek Addar bertanya apakah ia melihat pintu luar Baduy luar. “Ternyata pintu gerbang menuju masuk ke Baduy luar, adalah salah satu gerbang menuju Astamaya!” ucap Adhit dalam pikirannya sendiri.

 “Sejak pertama kali wilayah Astamaya disembunyikan oleh sesepuh kami, belum pernah ada satu Manusia pun yang mampu memasukinya. Namun entah mengapa, Kakek buyutmu, Sura Suradana berhasil memasukinya sendirian,” Kakek Addar mengatakan ini dengan ekspresi takjub, para Kaum Luhur yang ada disana juga mengangguk setuju.

“Disinilah Sura Suradana bertemu dengan Kaum Luhur,” ucap Kakek Addar sambil menunjukan gambaran sebuah wilayah. Lalu Kakek Addar mengeluarkan energinya, sehingga gambaran wilayah yang ada di atas meja, tertambahkan gambaran baru berupa seorang pemuda mirip seperti dirinya. Ia terlihat sedang berbincang dengan beberapa sesepuh Kaum Luhur beserta dua orang kaum Astamaya.

Adhit terkejut saat teringat bahwa gambaran yang Kakek Addar sampaikan di meja bundar, ini adalah gambaran yang sama persis dengan lukisan langit-langit gua.

“Itu adalah Kakek buyutmu,” tunjuk Kakek Addar pada seseorang yang sama persis dengan dirinya, hanya saja kulitnya lebih legam dan kekar.  

“Lalu, yang ada disebelahnya itu adalah ayah saya.” Ucap Kakek Addar, sambil menunjuk seorang pria usia enam puluhan dengan janggut panjang. Hampir mirip seperti Kakek Addar sekarang, namun ia memiliki tubuh besar dan rahang yang kuat.

“Dan pria muda itu, adalah saya.” Adhit terkejut, Kakek Addar saat muda ternyata mempunyai wajah yang sama sekali tidak bisa dikatakan jelek.

“Dulu saya tampan sekali bukan hahaha..” ucapan Kakek Addar membuat para Kaum Luhur terkekeh senang, ini membuat suasana agak sedikit mencair. Sedangkan Adhit tertawa malu karena ekspresinya benar-benar sangat terbaca.

“Awalnya, Kakek buyutmu Sura terkejut, karena menemukan banyaknya binatang yang tengah berbondong–bondong. Namun sepertinya Sura lebih kaget lagi, karena mereka bukan berdiri dan bisa berbicara saja, tetapi juga mengumpat,” ucap Kakek Addar sambil melirik pada para Kaum Luhur.

Salah satu kura–kura berdehem agar pembicaraan tidak berbelok arah, namun para Kaum Luhur yang lain malah riuh terkekeh senang mengiyakan. Kakek Addar kembali melanjutkan dengan wajah menahan senyum.

“Dentuman dari penyerangan yang terjadi pada pulau Bagjarupa, ternyata membuat getaran besar yang berdampak pada beberapa wilayah sekitar, termasuk gua ini.” lalu Kakek Addar memperlihatkan sebuah Gambaran paniknya para Kaum Luhur saat itu.

“Kami yang sudah sampai didepan wilayah gua otomatis panik, karena segel bergeser dan tidak dapat ditembus sama sekali,” ucap Tuan Monyet Rahyata dibarengi anggukan-anggukan dari para Kaum Luhur lainnya.

“Sura Suradana, begitu melihat kami kesulitan, bukannya malah berlari, ia malah keluar dari persembunyiannya dan langsung membantu kami masuk memperbaiki letak batu segel.” Ucap Kakek Addar dengan nada takjub, para Kaum Luhur lain mengangguk-angguk tak kalah takjubnya.

“Perlu diketahui, batu segel yang melindungi bukit ini, berupa elemen murni yang dibuat khusus oleh pemahat mantera terhebat dari kaum Astamaya. Namun, disaat kami semua tidak bisa menyentuhnya sama sekali, Kakek buyutmu bisa masuk bahkan menyentuhnya dengan mudah, padahal ia manusia biasa. Ini yang masih menjadi misteri sampai sekarang,” ucap Kakek Addar semakin takjub.

“Kakek bilang tiga ratus tahun yang lalu? bagaimana anda bisa mengenali bahwa saya adalah salah seorang keturunan dari Sura Suradana?“ ucap Adhit heran.

“Kalung yang kamu pakai,” jawab kakek Addar singkat.

Adhit secara refleks memegang kalung yang ia pakai sambil teringat, ternyata ini sebabnya, mengapa tadi malam Kakek Addar begitu terkejut saat melihat dirinya dari dekat. Kakek Addar sepertinya hendak menanyakan kalung ini, namun entah mengapa ia malah bergegas pergi.

Kakek Addar pun meneruskan, “kalung ini diberikan agar kelak kami tetap bisa mengenali keturunannya kelak, untuk terus berterimakasih.” Ucap Kakek Addar yang diangguki oleh para Kaum Luhur yang ada disana. 

“Lalu bagaimana anda tahu bahwa saya adalah benar–benar keturunannya, bisa saja kalung ini berpindah tangan karena sesuatu hal, dijual atau bahkan dicuri misalnya?” ucap Adhit masih tidak percaya.

“Lihat ini,“ dengan cepat Kakek Addar merebut paksa kalung Adhit hingga terlepas, setelah itu ia kalungkan pada lehernya sendiri. Saat bergeser sedikit, kalung tersebut hilang, dan tiba–tiba Adhit menyadari bahwa kalung tersebut telah kembali dilehernya.

Kakek Addar merebutnya kembali dan menahannya didalam segel energi miliknya, kalung tersebut berontak dan membuka cakramnya untuk melawan, lalu kembali muncul di leher Adhit.

“ini?” ucap Adhit sambil menggenggam bandul kalung tersebut dengan kaget, akhirnya ia percaya.

“Pemiliknya tidak pernah akan tertukar. Bila ia wafat, kalung ini akan menuju penerus selanjutnya. Bila tidak mempunyai keturunan, maka ia akan mencari mana garis keturunan terdekat dengan karakter yang sama dengan Sura Suradana,” ucap kakek Addar lagi. Mendengar hal tersebut, Adhit malah menatap kalung yang ia genggam dengan sedih.

“Menurut ibu panti, ini adalah satu–satunya barang yang ditinggalkan kedua orang tua saya saat dititipkan di panti asuhan. Mereka pergi begitu saja, dengan luka yang tidak sempat dibersihkan.” ucap Adhit sambil berhenti sebentar sambil mengendalikan emosinya.

“Kini saya tahu, mereka bukan sengaja meninggalkan ini agar suatu saat kami bisa saling menemukan,” ucap Adhit terhenti lagi sebentar, ada bulir kecil yang jatuh dari sudut matanya, “tetapi ternyata, kalung ini menemui pemilik selanjutnya” ucap Adhit sedih. Ia sudah berusaha tegar, tetapi rasa perih benar-benar meremukan hatinya.

“Sudahlah, apapun yang dulu terjadi, sekarang anda memiliki keluarga disini,” ucap kura–kura disamping Adhit sambil menepuk pundaknya dengan lembut, lalu diamini oleh Tuan Monyet Rahyata dan Kaum Luhur lainnya. Mendengar hal tersebut, mata Adhitpun perlahan mulai cerah. Tiba-tiba Adhit seakan teringat sesuatu yang ia ingin tanyakan sejak malam tadi.

“Kakek, pertanyaan ini terus memenuhi kepala saya sejak tadi malam, tentang kalimat anda yang terputus. Soal energi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Galuh?” tanya Adhit penasaran, mendengar hal itu sontak wajah Kakek Addar dan para Kaum Luhur menjadi sangat terkejut!

 - Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir