Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 4 – Terjawabnya sebuah pertanyaan | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Adhit tiba-tiba terbangun di tengah hutan yang begitu gelap. Namun saat menoleh, ia malah menemukan Dwasa si mahluk asap sangat dekat, bahkan dengan posisi siap menerkam!
Adhit loncat dengan panik, setelah
itu ia langsung lari pontang panting tidak karuan. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya
menabrak ubi kukus dengan ukuran sangat besar! Serabi hangat, lalu disusul aneka
makanan lain dengan ukuran yang juga super besaaar..
“Aaaaaa…!!” Teriak Adhit sampai bangun
terduduk, ia benar-benar sangat terkejut! Saat telah berhasil mengatur
napasnya, Adhit baru sadar, bila disamping tempat tidurnya ternyata telah tersaji
menu yang sama persis dengan mimpinya. Setelah itu Adhit tertawa, karena ternyata,
yang menyelamatkan dia dari mimpi buruknya sendiri adalah aroma lezat yang
tersaji disamping tempat tidurnya.
Dengan tidak sabar, Adhit menyesap dulu
teh hangatnya sambil menatap hidangan lezat yang sudah ada dihadapannya. Namun
saat menyesap, ia malah terkejut dengan aroma unik tehnya.
“Teh merah gunung halimun? Ini kan
teh khas jawa barat!” ucap Adhit penuh antusias. Ia lalu menyesap tehnya lagi, lagi,
dan lagi sampai kedua matanya terpejam. Aromanya benar-benar menangkan
kegelisahan tadi. Setelah merasa lega, kini matanya kembali terbuka, yang lalu kembali
menatap pada hidangan yang tersedia.
Dari sekian banyak hidangan yang
ada, Adhit mengambil serabi kinca hangat sebagai pembuka. Begitu tercicip, mata
Adhit langsung terpejam karena begitu lezatnya. Serabi yang begitu lembut dan
gurih, menyatu dengan siraman gula aren kental yang sangat memperkaya rasa, lalu
ditambah aroma kayu bakar yang memanjakan hidungnya, Adhit langsung memberikan
dua jempol untuk pembuatnya.
Setelah itu Ia membuka hidangan
yang terbalut daun pisang yang terbakar. Saat terbuka, “Aah.. nasi bakar ayam
suwir!” ucap Adhit sangat senang. Aroma sedapnya membuat perut Adhit protes
untuk di isi kembali.
Dan benar saja! Rasa
dari nasi bakar ini membuat mata Adhit kembali terpejam. Rasa yang menembus
pori-pori lidahnya, benar-benar menghasilkan perpaduan lezat yang sangat
menggoyang lidah. Adhit benar-benar puas dengan kualitas dan kelezatannya.
Hidangan
sampingannya juga tidak kalah lezat. Ada tempe goreng serundeng, lalapan segar
dan sambal peda yang sukses, semua ini benar-benar melengkapi hari Adhit dengan
sangat menyenangkan.
Selesai sarapan, saat
sedang membersihkan diri Adhit terkejut. Ia mendapati semua lukanya telah hilang
dan tidak berbekas sama sekali.
Setelah Adhit
melepas semua sisa perban, kini ia memandang tubuhnya dengan sangat tidak
percaya. Semua luka sembuh tidak bersisa, kecuali yang terdapat di lengan
tempat Mudria pernah bersarang, masih tersisa sedikit urat yang berwarna agak
menghitam samar. Adhit kembali berdecak dengan tidak percaya.
Belum hilang
terkejutnya, saat masih bercermin tiba–tiba pintu terbuka seketika. Begitu
melihat kearah pintu, Adhit hampir terjungkal tersandung kursi.
Tiba-tiba muncul kura–kura
tua berjenggot didepan pintu kamarnya. Mereka saling pandang agak lama, hingga
akhirnya buku tebal yang dipegang kura-kura tersebut terjatuh yang membuat keduanya
tersadar.
“Maaf.. sepertinya saya salah ruangan,” ucap
kura–kura tua tersebut sopan sambil memegangi kakinya tertimpa buku. Lalu dengan
kakinya yang pincang, ia segera berbalik sambil menggerutu, mengapa ia selalu saja
salah memasuki ruangan.
Ketika Adhit
mengejar kura-kura tua tersebut keluar kamar, ia malah mendengar ada suara riuh
bertahap dari arah bawah balkon. Perhatiannya langsung teralih untuk melihat ke
bawah balkon, setelah itu rasa terkejutnya kini menjadi semakin berkali lipat.
Dari atas
balkon, Adhit melihat banyak sekali binatang yang keluar dari balik pintu yang amat
sangat besar. Mereka berlalu lalang menggunakan pakaian tradisional khas masyarakat
sunda, dan mereka mengawali hari dengan sangat ribut sekali.
Para kura–kura
tua dan muda, disertai beberapa binatang jenis lain, berbaris memasuki ruang
pertemuan. Tempat dimana Adhit dipertemukan Galuh pada Kakek Addar tadi malam.
Adhit terkesima
karena para Binatang yang keluar dari pintu besar itu menggunakan berbagai
macam batik khas jawa barat. Dari mulai mega mendungnya Cirebon, Dermayon batik
indramayu, motif gunung dan daun khas batik garut, motif awan dan burung milik batik
tasikmalaya, hingga motif gunungan dan dedaunan khas batik bogorpun juga ada.
Di sisi lain, satu
kelompok kelinci berseragam seperti tadi malam, membawa beberapa alat
bersih–bersih sambil tidak berhenti bergosip. Setelah itu mereka memecah menjadi
masing-masing kelompok, dan memasuki beberapa pintu lain di sepanjang Aula besar
tersebut.
Lalu disusul satu
kelompok kucing yang juga berseragam seperti tadi malam. Mereka membawa
beberapa botol ramuan dan tumpukan buku tua, yang lalu dibawa masuk keruang pertemuan.
Berbanding terbalik dengan para kelinci yang begitu heboh, para kucing ini
memasang wajah begitu tenang dan kalem.
Lalu setelah
itu, menyusul lebih banyak lagi jenis binatang lain yang menyebar menuju
ruangan-ruangan besar lain dengan tidak kalah sibuknya.
Tiba–tiba dari arah
belakang seseorang menepuk pundak Adhit dengan pelan. “Ikutlah, Tuan Addar
menunggu anda di ruang pertemuan.” Sebuah suara berat menyadarkan Adhit
seketika.
Ketika Adhit menoleh,
ia hampir saja terloncat. Sesosok monyet tinggi besar berdiri dihadapan Adhit
dengan tegap. Namun ia tidak seperti monyet lain yang ia lihat dibawah balkon. Monyet
besar ini gerakannya begitu berwibawa, ditambah ikat kepala yang dicantoli
beberapa batu akik, baju pangsi yang dijubahi kain menjuntai, disertai sebuah
tongkat kayu tinggi berukir antik, sosok monyet besar ini mempunyai kharisma seperti
pertapa sakti dalam dongeng–dongeng cerita rakyat Sunda.
Monyet besar
tersebut tersenyum begitu ramah, sehingga membuat Adhit jadi tidak enak hati karena
menatapnya dari atas kepala hingga kaki. “Kamu terkejut ada monyet besar bisa
berbicara? Hahaha…” ucap monyet besar tersebut sambil tertawa senang.
“Maafkan saya,
saya tidak bermaksud tidak sopan,” ucap Adhit semakin tidak enak hati. Tetapi monyet
besar tersebut malah tertawa semakin kencang. “Jangan kuatirkan itu, bila saya di
posisi anda, saya juga akan bersikap sama, atau mungkin lebih parah.” Ucapan
monyet besar ini begitu santai, membuat Adhit kini merasa sedikit lega.
“Ikutlah, Tuan
Addar meminta anda bergabung dalam pertemuan kami,” ucap monyet besar tersebut
yang berjalan mendahuluinya. Mendengat hal tersebut, Adhit segera mengikuti
Tuan Monyet menuruni tangga balkon dengan patuh.
Dalam
perjalanan menuju lantai bawah, Adhit terpana saat menatap sekeliling. Aula
besar ini benar-benar terlihat lebih indah saat ada cahaya matahari menyorot masuk
kedalam gua.
Saat Adhit menelusuri
arah cahaya, ternyata bukan berasal dari cahaya matahari. Melainkan batu cahaya
yang ukurannya lebih besar dari batu cahaya tadi malam, lalu disimpan dalam
sebuah kotak melayang yang dibuat menyerupai jendela.
Sorotan
cahayanya benar-benar sangat alami. Bila Adhit tidak menelusuri arahnya, ia
akan menyangka bahwa itu berasal dari cahaya matahari yang menembus jendela.
Adhit semakin terpana
saja, banyaknya cahaya yang ada membuat isi gua kini menjadi semakin kaya warna.
“Batu cahaya yang lebih besar, sangat berguna
supaya kami bisa membedakan mana siang, dan mana malam” ucap Tuan Monyet sambil
menunjuk batu cahaya yang melayang lebih tinggi di atas langit-langit gua,
Adhit lalu mengangguk-angguk dengan takjub.
Akhirnya mereka
berdua sampai di ruang pertemuan dengan pintu yang sudah terbuka. Tuan Monyet
masuk terlebih dahulu, setelah itu diikuti Adhit yang sedikit gugup. Saat
masuk, Adhit jadi salah tingkah karena semua mata tertuju padanya.
“Ah.. Tuan
Rahyata dan anak muda ini sudah datang. Kemarilah anak muda, duduklah bersama
kami,” ucap Kakek Addar saat menyadari Adhit telah ada di pintu masuk.
Lalu dengan
sopan, monyet besar yang dipanggil sebagai Tuan Rahyata, membawa Adhit untuk
ikut duduk pada kursi kosong yang telah disediakan untuknya.
Adhit kini dapat
melihat jelas meja yang tadi malam ia tebak bentuknya dari balik kegelapan. Meja
jati bundar ini ternyata mempunyai ukuran sangat besar dan kokoh. Ditambah ukiran
ragam hias khas Jawa barat yang mengelilingi keseluruhan meja bundar tersebut,
benar–benar membuat bentuknya semakin terlihat gagah dan megah. Kursinya sendiri
juga sangat enak diduduki.
Lalu Adhit
memandang sekeliling, disana telah duduk para binatang berpakaian dan batik khas
jawa barat dengan detail unik perdaerah. Sebagian besar terdiri dari para kura–
kura, ada yang tua sekali, ada juga kura–kura muda dengan tidak kalah
berwibawanya. Kura-kura tua yang tadi salah memasuki kamarnya juga ada, ia
melambai-lambai kikuk sambil berkata, “maaf” dengan tanpa suara.
Lalu setelah
itu beberapa gelintir monyet, kucing dan kelinci dan yang lainnya, yang kini
telah membuka buku–buku tua yang benar-benar tebal. Mereka yang ada disana tampak
berwibawa dan sangat terpelajar.
“Jadi inikah
tentang hal yang anda maksud Tuan Addar?” ucap salah seorang kura–kura tua disamping
Adhit. Ia menatap lengan Adhit yang masih tertutup baju dengan serius.
“Ya..” ucap kakek
Addar sambil menyingkap lengan baju Adhit, lalu Kakek Addar memperlihatkan tangan
Adhit yang kini telah dipenuhi dengan urat menghitam. Semua yang ada disana
spontan mengernyit ngeri, termasuk Adhit sendiri, karena saat membersihkan
tubuh pagi tadi, uratnya tidak sehitam ini.
“Ini yang
dikatakan Galuh tentang luka serat Ruh nak, bila tadi malam tidak segera
diolesi sari bunga kilalang, tentu kamu sudah tergeletak tidak berdaya hari ini,”
ucap Kakek Addar pada Adhit dengan bijak.
“Apa para Tetua
Putih lain sudah tahu tentang ini Tuan?” tanya salah satu kura-kura sambil
membetulkan letak kaca matanya. “Belum, ini adalah kasus pertama yang saya
temukan kemarin. Bila Galuh tidak membawa anak muda ini kesini, saya tidak akan
mengira bahwa gerakan Kaum Hitam akan sampai sejauh ini,” ucap kakek Addar
menyesali.
“Sebenarnya, saya membawa anak muda ini masuk
ke dalam pertemuan kita, karena ada hal yang lebih besar dari hal ini,” ucap Kakek
Addar meneruskan. Para kura-kura dan binatang lain mulai gelisah, lalu mereka saling
menoleh pada satu sama lain.
“Apakah ada
perilaku lain dari Kaum Hitam selain penyusupan Mudria ini Tuan?” ucap salah
satu kelinci yang duduk agak jauh dari Adhit, rautnya begitu khawatir.
“Apalagi yang
mereka lakukan? hampir lolosnya Mudria menuju dunia Manusia saja ini sudah
sangat mengkhawatirkan,” ucap salah satu kucing dengan kesal, ia meremas
tangannya dengan penuh geram.
“Ini bukan
tentang perilaku Kaum Hitam,” ucap Kakek Addar sambil menenangkan keadaan,
sehingga keriuhan kembali senyap.
“Siapa namamu
anak muda?” tanya kakek Addar sopan. “Adhit.. Adhitya Putera… “ jawab Adhit
sedikit gugup, “Aah.. Adhit..” ucap Kakek Addar mengerti, lalu ia berbalik pada
para binatang yang ada disana.
“Adhit.. adalah
keturunan salah seorang Manusia, yang dulu ikut menyelamatkan kalian bersamaku,
Sura Suradana.” ucap Kakek Addar yang seketika membuat seluruh para binatang yang
ada diruangan tersebut terkejut, termasuk Tuan Monyet Rahyata.
Tuan Monyet Rahyata memandang Adhit dengan
tidak percaya, sedangkan Adhit memandang Kakek Addar dengan tidak mengerti,
“ikut menyelamatkan?” tanya Adhit tidak kalah heran.
Kakek Addar
menangkap gelagat Adhit yang mulai kebingungan. Ia lalu berdiri menghadap Adhit
dan berkata. “Kamu tahu lukisan langit-langit gua yang kamu lihat saat pertama
kali datang ke gua ini?” Adhit teringat dengan lukisan mega besar batik singa barong
yang terletak di langit-langit gua, lalu Adhit pun mengangguk.
“Ada gambar
satu orang manusia biasa, ia berpakaian seperti penebang kayu diantara para
kaum ini,” Adhit menggangguk sekali lagi. “Ia adalah kakekmu, namanya Sura
Suradana, ”ucapan Kakek Addar sontak membuat Adhit terpaku seketika.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar