Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 4 – Terjawabnya sebuah pertanyaan | By: Desya Saghir

 Adhit tiba-tiba terbangun di tengah hutan yang begitu gelap. Namun saat menoleh, ia malah menemukan Dwasa si mahluk asap sangat dekat, bahkan dengan posisi siap menerkam!

Adhit loncat dengan panik, setelah itu ia langsung lari pontang panting tidak karuan. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya menabrak ubi kukus dengan ukuran sangat besar! Serabi hangat, lalu disusul aneka makanan lain dengan ukuran yang juga super besaaar..

“Aaaaaa…!!” Teriak Adhit sampai bangun terduduk, ia benar-benar sangat terkejut! Saat telah berhasil mengatur napasnya, Adhit baru sadar, bila disamping tempat tidurnya ternyata telah tersaji menu yang sama persis dengan mimpinya. Setelah itu Adhit tertawa, karena ternyata, yang menyelamatkan dia dari mimpi buruknya sendiri adalah aroma lezat yang tersaji disamping tempat tidurnya.

Dengan tidak sabar, Adhit menyesap dulu teh hangatnya sambil menatap hidangan lezat yang sudah ada dihadapannya. Namun saat menyesap, ia malah terkejut dengan aroma unik tehnya.

“Teh merah gunung halimun? Ini kan teh khas jawa barat!” ucap Adhit penuh antusias. Ia lalu menyesap tehnya lagi, lagi, dan lagi sampai kedua matanya terpejam. Aromanya benar-benar menangkan kegelisahan tadi. Setelah merasa lega, kini matanya kembali terbuka, yang lalu kembali menatap pada hidangan yang tersedia.

Dari sekian banyak hidangan yang ada, Adhit mengambil serabi kinca hangat sebagai pembuka. Begitu tercicip, mata Adhit langsung terpejam karena begitu lezatnya. Serabi yang begitu lembut dan gurih, menyatu dengan siraman gula aren kental yang sangat memperkaya rasa, lalu ditambah aroma kayu bakar yang memanjakan hidungnya, Adhit langsung memberikan dua jempol untuk pembuatnya.

Setelah itu Ia membuka hidangan yang terbalut daun pisang yang terbakar. Saat terbuka, “Aah.. nasi bakar ayam suwir!” ucap Adhit sangat senang. Aroma sedapnya membuat perut Adhit protes untuk di isi kembali.

Dan benar saja! Rasa dari nasi bakar ini membuat mata Adhit kembali terpejam. Rasa yang menembus pori-pori lidahnya, benar-benar menghasilkan perpaduan lezat yang sangat menggoyang lidah. Adhit benar-benar puas dengan kualitas dan kelezatannya.

Hidangan sampingannya juga tidak kalah lezat. Ada tempe goreng serundeng, lalapan segar dan sambal peda yang sukses, semua ini benar-benar melengkapi hari Adhit dengan sangat menyenangkan.

Selesai sarapan, saat sedang membersihkan diri Adhit terkejut. Ia mendapati semua lukanya telah hilang dan tidak berbekas sama sekali.

Setelah Adhit melepas semua sisa perban, kini ia memandang tubuhnya dengan sangat tidak percaya. Semua luka sembuh tidak bersisa, kecuali yang terdapat di lengan tempat Mudria pernah bersarang, masih tersisa sedikit urat yang berwarna agak menghitam samar. Adhit kembali berdecak dengan tidak percaya.

Belum hilang terkejutnya, saat masih bercermin tiba–tiba pintu terbuka seketika. Begitu melihat kearah pintu, Adhit hampir terjungkal tersandung kursi.

Tiba-tiba muncul kura–kura tua berjenggot didepan pintu kamarnya. Mereka saling pandang agak lama, hingga akhirnya buku tebal yang dipegang kura-kura tersebut terjatuh yang membuat keduanya tersadar.

 “Maaf.. sepertinya saya salah ruangan,” ucap kura–kura tua tersebut sopan sambil memegangi kakinya tertimpa buku. Lalu dengan kakinya yang pincang, ia segera berbalik sambil menggerutu, mengapa ia selalu saja salah memasuki ruangan.

Ketika Adhit mengejar kura-kura tua tersebut keluar kamar, ia malah mendengar ada suara riuh bertahap dari arah bawah balkon. Perhatiannya langsung teralih untuk melihat ke bawah balkon, setelah itu rasa terkejutnya kini menjadi semakin berkali lipat.

Dari atas balkon, Adhit melihat banyak sekali binatang yang keluar dari balik pintu yang amat sangat besar. Mereka berlalu lalang menggunakan pakaian tradisional khas masyarakat sunda, dan mereka mengawali hari dengan sangat ribut sekali.

Para kura–kura tua dan muda, disertai beberapa binatang jenis lain, berbaris memasuki ruang pertemuan. Tempat dimana Adhit dipertemukan Galuh pada Kakek Addar tadi malam.

Adhit terkesima karena para Binatang yang keluar dari pintu besar itu menggunakan berbagai macam batik khas jawa barat. Dari mulai mega mendungnya Cirebon, Dermayon batik indramayu, motif gunung dan daun khas batik garut, motif awan dan burung milik batik tasikmalaya, hingga motif gunungan dan dedaunan khas batik bogorpun juga ada.

Di sisi lain, satu kelompok kelinci berseragam seperti tadi malam, membawa beberapa alat bersih–bersih sambil tidak berhenti bergosip. Setelah itu mereka memecah menjadi masing-masing kelompok, dan memasuki beberapa pintu lain di sepanjang Aula besar tersebut.

Lalu disusul satu kelompok kucing yang juga berseragam seperti tadi malam. Mereka membawa beberapa botol ramuan dan tumpukan buku tua, yang lalu dibawa masuk keruang pertemuan. Berbanding terbalik dengan para kelinci yang begitu heboh, para kucing ini memasang wajah begitu tenang dan kalem.

Lalu setelah itu, menyusul lebih banyak lagi jenis binatang lain yang menyebar menuju ruangan-ruangan besar lain dengan tidak kalah sibuknya.

Tiba–tiba dari arah belakang seseorang menepuk pundak Adhit dengan pelan. “Ikutlah, Tuan Addar menunggu anda di ruang pertemuan.” Sebuah suara berat menyadarkan Adhit seketika.

Ketika Adhit menoleh, ia hampir saja terloncat. Sesosok monyet tinggi besar berdiri dihadapan Adhit dengan tegap. Namun ia tidak seperti monyet lain yang ia lihat dibawah balkon. Monyet besar ini gerakannya begitu berwibawa, ditambah ikat kepala yang dicantoli beberapa batu akik, baju pangsi yang dijubahi kain menjuntai, disertai sebuah tongkat kayu tinggi berukir antik, sosok monyet besar ini mempunyai kharisma seperti pertapa sakti dalam dongeng–dongeng cerita rakyat Sunda.

Monyet besar tersebut tersenyum begitu ramah, sehingga membuat Adhit jadi tidak enak hati karena menatapnya dari atas kepala hingga kaki. “Kamu terkejut ada monyet besar bisa berbicara? Hahaha…” ucap monyet besar tersebut sambil tertawa senang.

“Maafkan saya, saya tidak bermaksud tidak sopan,” ucap Adhit semakin tidak enak hati. Tetapi monyet besar tersebut malah tertawa semakin kencang. “Jangan kuatirkan itu, bila saya di posisi anda, saya juga akan bersikap sama, atau mungkin lebih parah.” Ucapan monyet besar ini begitu santai, membuat Adhit kini merasa sedikit lega.

“Ikutlah, Tuan Addar meminta anda bergabung dalam pertemuan kami,” ucap monyet besar tersebut yang berjalan mendahuluinya. Mendengat hal tersebut, Adhit segera mengikuti Tuan Monyet menuruni tangga balkon dengan patuh.

Dalam perjalanan menuju lantai bawah, Adhit terpana saat menatap sekeliling. Aula besar ini benar-benar terlihat lebih indah saat ada cahaya matahari menyorot masuk kedalam gua.

Saat Adhit menelusuri arah cahaya, ternyata bukan berasal dari cahaya matahari. Melainkan batu cahaya yang ukurannya lebih besar dari batu cahaya tadi malam, lalu disimpan dalam sebuah kotak melayang yang dibuat menyerupai jendela.

Sorotan cahayanya benar-benar sangat alami. Bila Adhit tidak menelusuri arahnya, ia akan menyangka bahwa itu berasal dari cahaya matahari yang menembus jendela.

Adhit semakin terpana saja, banyaknya cahaya yang ada membuat isi gua kini menjadi semakin kaya warna.

 “Batu cahaya yang lebih besar, sangat berguna supaya kami bisa membedakan mana siang, dan mana malam” ucap Tuan Monyet sambil menunjuk batu cahaya yang melayang lebih tinggi di atas langit-langit gua, Adhit lalu mengangguk-angguk dengan takjub.

Akhirnya mereka berdua sampai di ruang pertemuan dengan pintu yang sudah terbuka. Tuan Monyet masuk terlebih dahulu, setelah itu diikuti Adhit yang sedikit gugup. Saat masuk, Adhit jadi salah tingkah karena semua mata tertuju padanya.

“Ah.. Tuan Rahyata dan anak muda ini sudah datang. Kemarilah anak muda, duduklah bersama kami,” ucap Kakek Addar saat menyadari Adhit telah ada di pintu masuk.

Lalu dengan sopan, monyet besar yang dipanggil sebagai Tuan Rahyata, membawa Adhit untuk ikut duduk pada kursi kosong yang telah disediakan untuknya.

Adhit kini dapat melihat jelas meja yang tadi malam ia tebak bentuknya dari balik kegelapan. Meja jati bundar ini ternyata mempunyai ukuran sangat besar dan kokoh. Ditambah ukiran ragam hias khas Jawa barat yang mengelilingi keseluruhan meja bundar tersebut, benar–benar membuat bentuknya semakin terlihat gagah dan megah. Kursinya sendiri juga sangat enak diduduki.

Lalu Adhit memandang sekeliling, disana telah duduk para binatang berpakaian dan batik khas jawa barat dengan detail unik perdaerah. Sebagian besar terdiri dari para kura– kura, ada yang tua sekali, ada juga kura–kura muda dengan tidak kalah berwibawanya. Kura-kura tua yang tadi salah memasuki kamarnya juga ada, ia melambai-lambai kikuk sambil berkata, “maaf” dengan tanpa suara.

Lalu setelah itu beberapa gelintir monyet, kucing dan kelinci dan yang lainnya, yang kini telah membuka buku–buku tua yang benar-benar tebal. Mereka yang ada disana tampak berwibawa dan sangat terpelajar.

“Jadi inikah tentang hal yang anda maksud Tuan Addar?” ucap salah seorang kura–kura tua disamping Adhit. Ia menatap lengan Adhit yang masih tertutup baju dengan serius.

“Ya..” ucap kakek Addar sambil menyingkap lengan baju Adhit, lalu Kakek Addar memperlihatkan tangan Adhit yang kini telah dipenuhi dengan urat menghitam. Semua yang ada disana spontan mengernyit ngeri, termasuk Adhit sendiri, karena saat membersihkan tubuh pagi tadi, uratnya tidak sehitam ini.

“Ini yang dikatakan Galuh tentang luka serat Ruh nak, bila tadi malam tidak segera diolesi sari bunga kilalang, tentu kamu sudah tergeletak tidak berdaya hari ini,” ucap Kakek Addar pada Adhit dengan bijak.

“Apa para Tetua Putih lain sudah tahu tentang ini Tuan?” tanya salah satu kura-kura sambil membetulkan letak kaca matanya. “Belum, ini adalah kasus pertama yang saya temukan kemarin. Bila Galuh tidak membawa anak muda ini kesini, saya tidak akan mengira bahwa gerakan Kaum Hitam akan sampai sejauh ini,” ucap kakek Addar menyesali.

 “Sebenarnya, saya membawa anak muda ini masuk ke dalam pertemuan kita, karena ada hal yang lebih besar dari hal ini,” ucap Kakek Addar meneruskan. Para kura-kura dan binatang lain mulai gelisah, lalu mereka saling menoleh pada satu sama lain.

“Apakah ada perilaku lain dari Kaum Hitam selain penyusupan Mudria ini Tuan?” ucap salah satu kelinci yang duduk agak jauh dari Adhit, rautnya begitu khawatir.

“Apalagi yang mereka lakukan? hampir lolosnya Mudria menuju dunia Manusia saja ini sudah sangat mengkhawatirkan,” ucap salah satu kucing dengan kesal, ia meremas tangannya dengan penuh geram.

“Ini bukan tentang perilaku Kaum Hitam,” ucap Kakek Addar sambil menenangkan keadaan, sehingga keriuhan kembali senyap.

“Siapa namamu anak muda?” tanya kakek Addar sopan. “Adhit.. Adhitya Putera… “ jawab Adhit sedikit gugup, “Aah.. Adhit..” ucap Kakek Addar mengerti, lalu ia berbalik pada para binatang yang ada disana.

“Adhit.. adalah keturunan salah seorang Manusia, yang dulu ikut menyelamatkan kalian bersamaku, Sura Suradana.” ucap Kakek Addar yang seketika membuat seluruh para binatang yang ada diruangan tersebut terkejut, termasuk Tuan Monyet Rahyata.

 Tuan Monyet Rahyata memandang Adhit dengan tidak percaya, sedangkan Adhit memandang Kakek Addar dengan tidak mengerti, “ikut menyelamatkan?” tanya Adhit tidak kalah heran.

Kakek Addar menangkap gelagat Adhit yang mulai kebingungan. Ia lalu berdiri menghadap Adhit dan berkata. “Kamu tahu lukisan langit-langit gua yang kamu lihat saat pertama kali datang ke gua ini?” Adhit teringat dengan lukisan mega besar batik singa barong yang terletak di langit-langit gua, lalu Adhit pun mengangguk.

“Ada gambar satu orang manusia biasa, ia berpakaian seperti penebang kayu diantara para kaum ini,” Adhit menggangguk sekali lagi. “Ia adalah kakekmu, namanya Sura Suradana, ”ucapan Kakek Addar sontak membuat Adhit terpaku seketika.

 - Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir