Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 11 – Bertemu para Ruh Terkutuk! | By: Desya Saghir

Saat didekati, ternyata Galuh sedang bertengkar dengan salah satu Ajag. Dari suaranya yang terdengar paling berat, Adhit menebak, itu pasti NaRaja. “Hai Dhit!”   Ditengah pertengkaran, suara berat itu malah menyapa Adhit dengan sangat ramah. Galuh yang tidak menyadari Adhit telah sampai, langsung menoleh dengan terkejut. Setelah itu ia heran, mengapa NaRaja bisa seterbuka ini dengan orang lain, apalagi Adhit yang hanya Manusia biasa. “Galuh, bukalah pintu segel dan biarkan Adhitya masuk ke dunia kami,” rayu NaRaja lagi. “Tidak!” tadi katamu hanya berbicara saja! Jangan pernah libatkan siapapun masuk kedalam dunia pemikiranmu, terutama Adhit! Biarkan dia tetap dalam dunia Manusia yang aman terkendali!” tolak Galuh tegas. Kini Adhit mengerti apa yang membuat mereka berdua bertengkar. Sekalipun Galuh terus menolak dengan ketus, para Ajag lain malah ikut memohon seakan-akan salah satu kawanannya pulang kerumah. Galuh semakin heran, mengapa para Ajag begitu terkait terhadap Adhit....

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 10 - Teman yang Menyenangkan | By: Desya Saghir

Begitu keluar dari kendaraan terbang, Adhit terkejut. Matanya lalu menatap sekeliling dengan tidak percaya. “Bagaiman bisa…ini…” setelah itu ia kehilangan kata-kata. Adhit kini mendapati dirinya berada di tengah-tengah lingkungan pertokoan tradisional lawas, namun terpoles kecanggihan teknologi yang sangat luar biasa. Adhit terkesima saat mendapati papan-papan reklame vintage dibubuhi hologram gaya sembilan puluhan memeriahkan suasana. Adhit semakin terhenyak saat melihat deretan barang di beberapa etalase. Ternyata ada juga barang sehari-hari yang pernah ia gunakan. Namun disini, semua barang itu bekerja dengan sangat ajaib! Dari mulai wadah bekal yang bisa memasak sendiri, agenda kecil yang menjawab setiap pertanyaan yang dituliskan, hingga sapu yang bisa mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga. Kepala Adhit mulai terasa berdenyut lagi. ia merasa terjebak dalam sesuatu yang tidak nyata, dimana realitas dan khayalan menjadi saling terkait satu sama lain. Tuan Monyet Rahyata s...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 9 - kota bawah tanah yang luar biasa!.| By: Desya Saghir

Saat Galuh hendak mengetuk kamar Adhit, secara bersamaan, Adhit juga membuka pintu sehingga mereka berdua terlonjak bersama. Ternyata Adhit telah siap! Galuh terkesima melihat Adhit yang sudah rapi. Kali ini Adhit mengenakan setelan pangsi berwarna coklat tua, pakaian setelan khas adat Sunda. Tetapi tentu saja dengan sedikit sentuhan khas Astamaya. Ada jahitan khas Astamaya yang melingkari sekitar bola bahu. Jahitan pola batik barong dengan warna benang senada pangsi, memberikan sedikit kesan cultural armor sederhana, namun sukses membuat bahu Adhit yang bidang menjadi terlihat semakin gagah. Ditambah sabuk lebar yang terbuat dari kulit tebal dengan sedikit tatahan motif batik barong, lalu ditambahkan sedikit lilitan beberapa sabuk tipis dengan warna senada, ada yang polos, ada yang menggunakan motif barong senada disertai gesper logam matte, membuat karakter pangsi yang dikenakan Adhit terlihat semakin gagah. Namun, Galuh lebih terhenyak saat Adhit memakai ikat kepalanya. Tiba...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 8 - Dia yang tertulis dalam kitab kuno.| By: Desya Saghir

Saat keluar dari ruang pertemuan, saya dan Tuan Addar merasa pernah melihat kalung anda saat cakramnya terbuka.” Jelas Tuan Monyet Rahyata, sambil menatap kalung yang dipakai Adhit. “Namun, saat itu kami masih belum ingat dimana kami pernah melihatnya.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi dengan tatapan yang kembali   pada Adhit. Mendengar hal tersebut, Adhit kembali teringat kejadian di ruang pertemuan pagi tadi. Ia memang menangkap ekspresi kaget dari Kakek Addar, namun karena samar, maka Adhit merasa bahwa ia hanya salah kira. Adhit mengangkat bandul kalung yang ia tengah pakai kedalam genggamannya, lalu memperhatikan detail bandul kalung tersebut dengan lebih seksama. "Setelah lama mencari, ternyata saya malah menemukan informasi kalung ini dalam salinan Kitab Candrakara. Ada pada salah satu paragraf yang dulu berhasil diterjemahkan sedikit oleh ayah dari Tuan Addar dan para sesepuh Kaum Luhur,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menunjukan perkamen tua yang sedari tadi ia pegang erat....