Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 9 - kota bawah tanah yang luar biasa!.| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat Galuh
hendak mengetuk kamar Adhit, secara bersamaan, Adhit juga membuka pintu sehingga
mereka berdua terlonjak bersama.
Ternyata Adhit
telah siap! Galuh terkesima melihat Adhit yang sudah rapi. Kali ini Adhit mengenakan
setelan pangsi berwarna coklat tua, pakaian setelan khas adat Sunda. Tetapi tentu
saja dengan sedikit sentuhan khas Astamaya.
Ada jahitan khas
Astamaya yang melingkari sekitar bola bahu. Jahitan pola batik barong dengan warna
benang senada pangsi, memberikan sedikit kesan cultural armor sederhana, namun
sukses membuat bahu Adhit yang bidang menjadi terlihat semakin gagah.
Ditambah sabuk
lebar yang terbuat dari kulit tebal dengan sedikit tatahan motif batik barong, lalu
ditambahkan sedikit lilitan beberapa sabuk tipis dengan warna senada, ada yang polos,
ada yang menggunakan motif barong senada disertai gesper logam matte, membuat karakter
pangsi yang dikenakan Adhit terlihat semakin gagah.
Namun, Galuh lebih
terhenyak saat Adhit memakai ikat kepalanya. Tiba-tiba saja aura lelaki Adhit
jadi terpancar lebih kuat.
Desiran hangat mulai
mengalir lembut masuk ke dalam hati Galuh, bahkan perut Galuh mulai tergelitik
sensasi kibasan kupu-kupu kecil. Entah karena warna dan potongan pakaiannya
yang benar-benar pas, atau ikat kepala yang mempertegas setiap sudut wajahnya,
atau mungkin sorot mata Adhit yang menelusuk hingga jantung dan kalbunya. Namun
yang jelas, dimata Galuh, Adhit kini benar-benar terlihat begitu gagah
sekarang.
“Kamu sudah
ditunggu Tuan Monyet Rahyata di kota bawah tanah.” Ucap Galuh singkat untuk
menutupi kegugupannya. Namun dengan tiba-tiba, Adhit berjingkrak lalu berlari
secepat kilat menuju Tuan Monyet Rahyata. Belum hilang terkejut Galuh, Adhit
malah kembali lalu berkata. “Terimakasih nona cantik!” ucap Adhit sambil
mengedip, Lalu Adhit segera berlari lagi menuju Tuan Monyet Rahyata.
Galuh yang terkejut
dengan reaksi Adhit, kini malah terkekeh geli. Bahkan ia meneruskan langkah
menuju ruang pertemuan Aula atas sambil tidak berhenti tersenyum.
“Ternyata hati Tuan
Putri telah tertawan hahahaha…” ucap salah satu Ajag yang disambut lolongan dan
tawa riuh dari para Ajag lain. Bahkan beberapa Ajag lain menyenandungkan lagu
cinta dengan suara parau yang benar-benar jelek.
Dengan menahan
sebal, Galuh segera masuk ke dalam segel para Ajag, hanya untuk menjewer dan
mengacak-acak satu persatu para Ajag yang meledeknya, kecuali NaRaja. Setelah merasa
puas, Galuh keluar lagi sambil membersihkan kedua telapak tangannya dengan hati
yang amat sangat lega!
Galuh meneruskan
langkahnya tanpa memperdulikan protes para Ajag yang saling mengaduh. Sementara
NaRaja, sang pemimpin para Ajag, ia tertawa sampai terpingkal melihat kekacauan
yang telah dibuat Galuh.
Di sisi lain, sepanjang
perjalanan menuju Tuan Monyet Rahyata, Adhit sendiri tidak bisa berhenti
tersenyum. Bagaimana tidak, karena baginya, hari ini adalah hari terhebat!
Pagi-pagi
sekali, ia sudah disambut Galuh, perempuan cantik yang membuat hatinya berdesir
sejak pertama kali bertemu.
Galuh mungkin
memakai pakaian laki-laki, bahkan tipe pakaian yang sama dengan yang dipakai
Adhit sekarang. Tetapi kini Adhit menangkap rona merah pada pipi Galuh saat
menatap dirinya. Bahkan, tadi Adhit sempat menangkap gelagat kikuk dari tatapan
Galuh kepadanya, ini membuat ada letupan hangat dalam dadanya.
Lalu ditambah
akan ada petualangan baru yang dijanjikan Tuan Monyet Rahyata, tentu saja membuat
hari ini adalah hari terhebat dalam sepanjang hidupnya!
Tak lama Adhit
sampai di kota bawah tanah, namun kini ia tersengal karena menahan jantungnya
yang hampir terasa meledak.
“Ini.. inii.. terlalu
hebaaat!” teriaknya dengan sangat tidak percaya.
Hal yang
terjadi saat Adhit keluar dari lift, tiba-tiba saja melintas beberapa kendaraan
terbang dengan bentuk aneka rupa. Mereka berlalu lalang di atas kepala Adhit
dengan jalur lalu lintas yang sudah ditetapkan. Bahkan, Lalu lintas tersebut
juga dilengkapi beberapa lampu pemberhentian dan rambu jalan yang juga melayang.
“Kemarin semua
ini tidak ada? Bagaimana bisa?” ucap Adhit takjub tidak percaya.
“Kemarin adalah
hari festival pasar, kendaraan terbang dilarang melintas di atas pasar, karena
akan membuat atap tenda–tenda lapak kecil berterbangan.” Ucap seseorang, sambil
mengeluarkan energinya untuk menangkap ikat kepala Adhit yang terbawa hembusan
kendaraan terbang. Ternyata Tuan Monyet Rahyata telah sampai di tempat yang
dijanjikan.
Adhit baru
sadar kalau lapak-lapak kecil di sekitar pasar kini memang sudah tidak ada, lalu
setelah itu, ia menjadi takjub dengan ketertiban para Kaum Luhur.
Baru kemarin
mereka menggelar lapak dengan segala macam aneka barang, namun kini tidak ada
bekasnya sama sekali. Menyisakan halaman kios pasar yang benar-benar bersih, sangat
berbeda jauh dengan kaum Manusia yang katanya lebih beradab.
“Ikutlah, kita
akan menuju Balai Ilmu Pengetahuan,” ucap Tuan Monyet Rahyata lagi, sambil
menyerahkan ikat kepala yang berhasil ia tangkap.
Adhit kembali
terkejut saat pertama kali memasuki pintu Balai ilmu pengetahuan. Bagaimana
tidak, saat melangkah masuk kedalam, ia disambut dengan banyaknya Kaum Luhur
yang berlalu lalang dengan sangat sibuk.
Kaum Luhur memakai
bentuk pakaian yang berbeda dengan Adhit dan Galuh. Untuk yang lelaki, mereka
menggunakan pangsi yang ditambahkan batik khas jawa barat dengan warna yang
senada yang dililitkan dengan pangsi mereka. Sedangkan wanitanya, mereka menggunakan
kebaya encim yang dipadukan dengan celana pangsi yang dililitkan kain batik
Khas Jawa Barat dengan warna senada.
Belum hilang
takjubnya, Adhit kembali dikejutkan oleh air berbentuk gelembung yang
mengambang seakan melawan gravitasi. Saat Adhit mencolek salah satu gelembung
air yang paling besar, tiba-tiba saja gelembungnya pecah dan menumpahkan air
yang begitu banyak kesegala arah, sontak Adhit langsung panik.
Tuan Monyet Rahyata
malah terkekeh melihat reaksi Adhit yang begitu panik. Setelah tawanya reda, ia
segera berkata, “kami mengembangkan kantung gelembung berisi air, agar mudah
membawa air pada tempat yang membutuhkan diseluruh pelosok dunia. Tapi sejauh
ini, masih belum berhasil karena kantungnya masih sangat rapuh,” ucap Tuan Monyet
Rahyata ringan, lalu dengan santai ia meneruskan jalan untuk memandu di depan.
“Oh.. ternyata
masih sangat rapuh…” ucap Adhit sambil mengusap dadanya sendiri dengan sangat lega.
Setelah itu ia berlari kecil menyusul Tuan Monyet Rahyata.
Saat menoleh ke
kanan, kini Adhit mendapati ada bunga-bunga bermahkota besar, yang bergerak
kesana kemari sambil menggembuskan angin yang begitu segar. Adhit ingat bunga
ini, “ini bunga yang terdapat di kompleks rumah tradisional, tempat kemarin saya
bertemu dengan anda kan?” tanya Adhit memastikan.
“Benar, ini
adalah bunga Binulus, tanaman yang hanya menghasilkan oksigen dan beberapa
senyawa yang bisa memperbaiki keluhan di sekitar kebutuhan respirasi,” jelas
Tuan Monyet Rahyata dengan tangan memetakan sesuatu di atas dadanya.
Adhit lalu berdiri
di dekatnya sebentar, untuk mencoba kesegarannya. Ternyata benar, ia merasa
takjub karena kelelahan diseluruh tubuhnya kini seakan hilang begitu saja.
Lalu saat melihat
ke sisi yang lain, Adhit terhenti dengan pandangan tidak percaya. Kali ini Ia
melihat salah satu kelinci terjun kedalam kolam oval transparan dengan ukuran
super besar dan sangat dalam!.
Saat kelinci
tersebut terjun dan menyentuh air, pakaian yang dipakainya tiba-tiba mengembang,
lalu berubah menyerupai sebuah ban berenang yang amat besar. Setelah itu,
kelinci tersebut mengambang dengan santai dan tenang.
“Pakaian ini nanti
akan digunakan oleh para lansia yang ingin menikmati suasana diatas perahu, namun
tetap aman. Karena para Kaum Astamaya, ketika menginjak usia yang amat sangat
tua, energinya akan semakin surut. Tetapi ini masih dikembangkan lagi, agar
lebih aman dan nyaman digunakan para lansia.” Jelas Tuan Monyet Rahyata yang
membuat Adhit kembali mengangguk–angguk.
Tiba-tiba
pandangan Adhit tertuju pada kendaraan terbang persis seperti yang ia lihat di
pasar tadi. “Kendaraan terbaaang…!“ teriak Adhit sambil berlari.
Setelah dekat, ia
meraba seluruh permukaan kendaraan tersebut dengan amat senang. Adhit
benar-benar jadi seperti bocah. Bahkan Tuan Monyet Rahyata sampai tergelak
renyah saat melihat tingkah Adhit yang sangat kekanakan.
“Yang ini juga masih
ada beberapa hal yang sedang dikembangkan, tetapi sudah aman digunakan. Anda
mau mencobanya Adhitya?” Tawaran Tuan Monyet Rahyata membuat mata Adhit langsung
membulat antusias.
Melihat hal
tersebut, Tuan Monyet Rahyata terkekeh sangat senang. Adhit mengingatkan ia
ketika muda dahulu, begitu enerjik dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Begitu masuk, Adhit
langsung terkesima dengan interior bagian dalam. Agak kuno, tapi tidak
membosankan. Kursinya sendiri begitu empuk dan nyaman. “Apa kendaraan seperti
ini pernah ada yang digunakan di dunia Manusia?” tanya Adhit sambil meraba
sekitar kursi penumpang.
“Para Delegasi
dari Kaum Astamaya menggunakan ini untuk segala keperluan mereka selama di
dunia Manusia” ucap Tuan Monyet Rahyata, sambil memasukan bandul yang hampir
sama dengan bandul logam yang diberikan pada Adhit kemarin.
Namun saat bandul
logam tersebut masuk ke dalam laci khusus, bandul tersebut membuka cangkangnya,
lalu memperlihatkan kristal bulat yang memendarkan cahaya hijau lembut. Setelah
itu, mobil terbangpun menyala, dan membuat Adhit senang bukan main.
“Jadi sekalipun
para Kaum Luhur bersembunyi, semua ilmu pengetahuan yang diciptakan Kaum Luhur tetap
bisa digunakan para Kaum Astamaya? Bukankah katanya keberadaan gua ini sangat
rahasia? lalu para Delegasi itu, siapa mereka?” tanya Adhit semakin ingin tahu.
“Tenang anak
muda, satu persatu,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil terkekeh senang.
“Untuk
pertanyaan anda tentang pengetahuan yang kami ciptakan, semua yang anda lihat
ini tidak terkubur begitu saja di dalam gua ini. Justu kami Kaum Luhur, ditugaskan
menemukan dan membuat segala sesuatu yang dibutuhkan istana tanpa diketahui
oleh yang lain kecuali Raja, Panglima utama dan sebagian kecil Tetua Putih,” jelas
Tuan Monyet Rahyata.
“Bukankah semua
benda di Gedung Balai Pengetahuan berukuran sangat besar, bagaimana kalian bisa
membawa ke dalam istana tanpa diketahui?” tanya Adhit semakin ingin tahu.
“Tuan Addar memasukan
semua hasil pekerjaan kami ke dalam wadah khusus, sehingga mudah dibawa, bahkan
diselundupkan kedalam Istana. Lalu dengan dalih bahwa ini adalah buatan dari
tim rahasia miliknya, semua hasil yang kami buat dapat masuk, tanpa hambatan
sedikitpun. Jadi, tidak ada yang sia-sia.” Jelas Tuan Monyet Rahyata bangga,
Adhit kini mengangguk-angguk mengerti.
“Wadah seperti
apa?” tanya Adhit semakin penasaran. “Nanti juga anda akan mengetahuinya,”
jawab Tuan Monyet Rahyata sambil tersenyum, ini membuat Adhit semakin penasaran
saja.
“Lalu untuk
pertanyaan tentang siapa para Delegasi? Mereka adalah orang-orang terbaik
istana yang ditugaskan menjaga dan memperbaiki segala kerusakan yang dilakukan
para Kaum Hitam di dunia Manusia.” Potong Tuan Monyet Rahyata sebelum Adhit
bertanya lagi.
“Para Kaum
Hitam telah masuk ke dunia Manusia? saya pikir, yang mereka lakukan terhadap
saya itu adalah yang pertama kali,” ucap Adhit dengan sangat terkejut.
“Sebelumnya Kaum
Hitam memang sudah bergerak di dunia manusia, tetapi menyusupkan Mudria lewat
manusia, itu memang baru pertama kali.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi sembari menaikan
kendaraan terbang hingga mengambang setinggi lutut.
Adhit terkejut,
lalu melongokan kepalanya untuk memastikan kendaraan yang mereka tumpangi
benar-benar terbang. Setelah itu, ekspresi kagetnya benar-benar seperti bocah.
“Ini sangat
membuat terkejut, Kaum Astamaya telah disekitar kami sudah sejak lama? Dan kami
para manusia benar-benar tidak menyadarinya sama sekali?” Ucap Adhit heran, lalu
ia kembali duduk sambil menggeser punggungnya agar lebih nyaman.
“Tuan Rahyata,
boleh anda ceritakan siapakah Saguri? Mengapa kakek Addar begitu khawatir saat
menyebutkan namanya kemarin?” tanya Adhit tiba-tiba.
Dengan tanpa
pemberitahuan, tiba-tiba saja Tuan Monyet Rahyata membawa kendaraan terbang
mereka terbang melesat keluar Gedung Balai Pengetahuan. Adhit yang terkejut
sekalipun telah menggunakan sabuk pengaman, ia memegangi pinggiran kursi dengan
sangat erat. Kontan hal tersebut membuat Tuan Monyet Rahyata semakin terkekeh
senang.
“Saguri adalah
salah satu dari enam Tetua Hitam yang berkuasa saat itu. Berbeda dari para Tetua
Hitam yang lain, ia lebih cerdas dan bisa mengendalikan Ajagnya Bangkarwarah dengan
baik. Itu sebabnya, Tuan Addar menjadi cemas ketika Galuh menyebutkan seseorang
yang ciri-cirinya menyerupai Saguri di dekat wilayah ini. Tuan Addar khawatir,
Saguri telah menemukan tempat ini.” Ucap Tuan Monyet Rahyata yang lalu
membelokan setirnya menuju atas pasar.
“Iya, saya
mendengar itu kemarin, tentang Saguri yang berhasil mengendalikan Ajagnya
sehingga tidak ikut masuk jebakan.” Ucap Adhit mengangguk-angguk, Tuan Monyet
Rahyata sangat senang karena ternyata Adhit menyimak pembicaraan mereka di
pertemuan kemarin.
“Menurut Kakek
Addar kemarin, Saguri beberapa kali melewati bagian luar segel gua dari sebelah
selatan hanya bersama Bangkarwarah saja. Bukankah ia adalah salah satu Tetua Hitam,
mengapa ia tidak bersama para bawahannya?” ucap Adhit semakin ingin tahu.
“Ini juga
membuat saya heran, sepertinya ia mencoba menyelidiki sesuatu hanya untuk
kepentingannya sendiri. Saguri itu cermat dan licik, ia pasti sedang
merencanakan sesuatu.” Ucap Tuan Monyet Rahyata sambil membelokan stirnya lagi
untuk masuk kembali ke dalam Gedung Balai Ilmu Pengetahuan.
“Mengingat
Saguri muncul dan hanya sendirian, saya menebak bisa jadi dia juga yang jadi
penopang kekuatan Dwasa si mahluk asap. Tidak mungkin kecoak kecil itu tiba-tiba
bisa mengetahui bahwa Galuh adalah pemilik para Ajag, ini benar-benar sangat
mengkhawatirkan.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi sambil mendaratkan kendaraan
terbangnya di tempat semula dengan hati-hati.
“Mengapa Dwasa selalu
dikatakan sebagai kecoak? Dan Saguri kan sudah mempunyai Bangkarwarah, mengapa
ia malah menggunakan mahluk tidak berguna seperti Dwasa?” tanya Adhit semakin
penasaran.
“Karena di
tanah Astamaya, Dwasa memang hanya kecoak tidak berguna, pesuruh rendahan milik
Kaum Hitam. Dan Ajag bukan pesuruh rendahan!” Mendengar suara yang begitu
mereka kenal, membuat Adhit dan Tuan Monyet Rahyata refleks menoleh terkejut.
“Mengapa kamu
begitu penasaran tentang Dwasa dan Saguri?” tanya Galuh pada Adhit dengan tidak
senang. “ Itu.. itu..” Tuan Monyet Rahyata mencoba menolong Adhit untuk menjawab,
namun tiba-tiba kehilangan kata–kata begitu saja. Dengan kikuk, ia segera keluar
dari kendaraan terbangnya untuk menjelaskan, namun tidak ada satupun kata yang
keluar.
“Tidak apa–apa Tuan Rahyata, tujuan saya datang
karena NaRaja ingin bertemu dengan Adhit, nanti waktunya akan diberi tahu.” Mendengar
hal tersebut, Tuan Monyet Rahyata semakin terkejut saja. Sehingga semakin
hilang saja kata-kata yang sedang ia susun di kepala.
“NaRaja hanya berkata,
bahwa dibandingkan dari semua yang ia temui, hanya Adhit yang mampu memahami
pemikiran para Ajag. Akan lebih baik, bila Adhit menjadi jembatan antara mereka
dengan saya dan semua yang disini, untuk memahami jelas alur pemikiran mereka.”
ucap Galuh yang disambut pandangan Tuan Monyet Rahyata yang semakin tidak
percaya.
Dari luar Tuan Monyet
Rahyata tampak hanya tersenyum mengiyakan dengan biasa, tetapi di dalam hatinya,
rasanya seperti saat ada ratusan kembang api festival perayaan yang meledak
bersamaan. Dengan sekuat tenaga, Tuan Monyet Rahyata tetap berusaha menampilkan
ekspresi tenang.
“Maksud anda
Nona?” Tuan Monyet Rahyata mencoba memastikan lagi.
“NaRaja ingin
Adhit menjadi jembatan antara para Ajag dan anda semua. Baiklah, saya sudah
menyampaikan. Saya akan kembali ke aula besar untuk sebuah urusan, saya pamit.”
singkat Galuh dengan sopan, setelah itu ia berlalu begitu saja.
Setelah Galuh
benar–benar menghilang dari pandangan, Tuan Monyet Rahyata berteriak girang
hingga semua yang ada di sana menoleh dengan terkejut. Menyadari itu, Tuan Monyet
Rahyata segera kembali membetulkan postur tubuhnya. Dengan gugup, ia segera membawa
Adhit keluar dari Balai Ilmu Pengetahuan.
“Ini sangat di luar
dugaan, saat kita sedang mencari bagaimana caranya agar kamu bisa terus berada
disamping Galuh, justru NaRaja sendiri yang memintanya. Tuan Addar harus tahu
tentang ini secepatnya! Ia harus tahu!” ucap Tuan Monyet sangat berapa-api.
“Adhitya.. ini adalah
kabar yang sangat baik, namun berhati–hatilah. Selama kamu bersama Galuh, tetap
ingat! Lima Ajag ini, berasal dari kumpulan ribuan ruh para manusia yang sangat
jahat di masanya. Jangan sampai terperdaya!” ucap Tuan Monyet Rahyata mengingatkan
sekali lagi, Adhit menyimak baik–baik perkataan Tuan Monyet Rahyata.
“Ini kendaraan
terbang milik saya, naiklah, kita akan mencari beberapa barang yang anda
butuhkan selama disini” ucap Tuan Monyet Rahyata, yang kini memasuki kendaraan
terbang berbeda dari sebelumnya yang terparkir disamping Gedung Balai Ilmu Pengetahuan.
Selama
perjalanan, Adhit benar–benar terkejut. Karena ternyata, kota bawah tanah mempunyai
wilayah yang amat luas. Saking terpesonanya, Adhit melongokan badannya hingga sampai
batas pinggang. Kalau saja tidak ditangkap oleh Tuan Monyet Rahyata, Adhit yang
tiba-tiba kehilangan keseimbangan mungkin sudah jatuh kebawah.
“Hati-hati anak
muda,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil terkekeh senang, karena Adhit benar-benar
seperti dirinya dimasa lalu.
Begitu sampai,
mulut Adhit kini semakin menganga saja. “Ini dimanaaa?.....” teriak Adhit tidak
percaya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar