Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 9 - kota bawah tanah yang luar biasa!.| By: Desya Saghir

Saat Galuh hendak mengetuk kamar Adhit, secara bersamaan, Adhit juga membuka pintu sehingga mereka berdua terlonjak bersama.

Ternyata Adhit telah siap! Galuh terkesima melihat Adhit yang sudah rapi. Kali ini Adhit mengenakan setelan pangsi berwarna coklat tua, pakaian setelan khas adat Sunda. Tetapi tentu saja dengan sedikit sentuhan khas Astamaya.

Ada jahitan khas Astamaya yang melingkari sekitar bola bahu. Jahitan pola batik barong dengan warna benang senada pangsi, memberikan sedikit kesan cultural armor sederhana, namun sukses membuat bahu Adhit yang bidang menjadi terlihat semakin gagah.

Ditambah sabuk lebar yang terbuat dari kulit tebal dengan sedikit tatahan motif batik barong, lalu ditambahkan sedikit lilitan beberapa sabuk tipis dengan warna senada, ada yang polos, ada yang menggunakan motif barong senada disertai gesper logam matte, membuat karakter pangsi yang dikenakan Adhit terlihat semakin gagah.

Namun, Galuh lebih terhenyak saat Adhit memakai ikat kepalanya. Tiba-tiba saja aura lelaki Adhit jadi terpancar lebih kuat.

Desiran hangat mulai mengalir lembut masuk ke dalam hati Galuh, bahkan perut Galuh mulai tergelitik sensasi kibasan kupu-kupu kecil. Entah karena warna dan potongan pakaiannya yang benar-benar pas, atau ikat kepala yang mempertegas setiap sudut wajahnya, atau mungkin sorot mata Adhit yang menelusuk hingga jantung dan kalbunya. Namun yang jelas, dimata Galuh, Adhit kini benar-benar terlihat begitu gagah sekarang.

“Kamu sudah ditunggu Tuan Monyet Rahyata di kota bawah tanah.” Ucap Galuh singkat untuk menutupi kegugupannya. Namun dengan tiba-tiba, Adhit berjingkrak lalu berlari secepat kilat menuju Tuan Monyet Rahyata. Belum hilang terkejut Galuh, Adhit malah kembali lalu berkata. “Terimakasih nona cantik!” ucap Adhit sambil mengedip, Lalu Adhit segera berlari lagi menuju Tuan Monyet Rahyata.

Galuh yang terkejut dengan reaksi Adhit, kini malah terkekeh geli. Bahkan ia meneruskan langkah menuju ruang pertemuan Aula atas sambil tidak berhenti tersenyum.

“Ternyata hati Tuan Putri telah tertawan hahahaha…” ucap salah satu Ajag yang disambut lolongan dan tawa riuh dari para Ajag lain. Bahkan beberapa Ajag lain menyenandungkan lagu cinta dengan suara parau yang benar-benar jelek.

Dengan menahan sebal, Galuh segera masuk ke dalam segel para Ajag, hanya untuk menjewer dan mengacak-acak satu persatu para Ajag yang meledeknya, kecuali NaRaja. Setelah merasa puas, Galuh keluar lagi sambil membersihkan kedua telapak tangannya dengan hati yang amat sangat lega!

Galuh meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan protes para Ajag yang saling mengaduh. Sementara NaRaja, sang pemimpin para Ajag, ia tertawa sampai terpingkal melihat kekacauan yang telah dibuat Galuh.

Di sisi lain, sepanjang perjalanan menuju Tuan Monyet Rahyata, Adhit sendiri tidak bisa berhenti tersenyum. Bagaimana tidak, karena baginya, hari ini adalah hari terhebat!

Pagi-pagi sekali, ia sudah disambut Galuh, perempuan cantik yang membuat hatinya berdesir sejak pertama kali bertemu.

Galuh mungkin memakai pakaian laki-laki, bahkan tipe pakaian yang sama dengan yang dipakai Adhit sekarang. Tetapi kini Adhit menangkap rona merah pada pipi Galuh saat menatap dirinya. Bahkan, tadi Adhit sempat menangkap gelagat kikuk dari tatapan Galuh kepadanya, ini membuat ada letupan hangat dalam dadanya.

Lalu ditambah akan ada petualangan baru yang dijanjikan Tuan Monyet Rahyata, tentu saja membuat hari ini adalah hari terhebat dalam sepanjang hidupnya!

Tak lama Adhit sampai di kota bawah tanah, namun kini ia tersengal karena menahan jantungnya yang hampir terasa meledak.

“Ini.. inii.. terlalu hebaaat!” teriaknya dengan sangat tidak percaya.

Hal yang terjadi saat Adhit keluar dari lift, tiba-tiba saja melintas beberapa kendaraan terbang dengan bentuk aneka rupa. Mereka berlalu lalang di atas kepala Adhit dengan jalur lalu lintas yang sudah ditetapkan. Bahkan, Lalu lintas tersebut juga dilengkapi beberapa lampu pemberhentian dan rambu jalan yang juga melayang.

“Kemarin semua ini tidak ada? Bagaimana bisa?” ucap Adhit takjub tidak percaya.

“Kemarin adalah hari festival pasar, kendaraan terbang dilarang melintas di atas pasar, karena akan membuat atap tenda–tenda lapak kecil berterbangan.” Ucap seseorang, sambil mengeluarkan energinya untuk menangkap ikat kepala Adhit yang terbawa hembusan kendaraan terbang. Ternyata Tuan Monyet Rahyata telah sampai di tempat yang dijanjikan.

Adhit baru sadar kalau lapak-lapak kecil di sekitar pasar kini memang sudah tidak ada, lalu setelah itu, ia menjadi takjub dengan ketertiban para Kaum Luhur.

Baru kemarin mereka menggelar lapak dengan segala macam aneka barang, namun kini tidak ada bekasnya sama sekali. Menyisakan halaman kios pasar yang benar-benar bersih, sangat berbeda jauh dengan kaum Manusia yang katanya lebih beradab.

“Ikutlah, kita akan menuju Balai Ilmu Pengetahuan,” ucap Tuan Monyet Rahyata lagi, sambil menyerahkan ikat kepala yang berhasil ia tangkap.

Adhit kembali terkejut saat pertama kali memasuki pintu Balai ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak, saat melangkah masuk kedalam, ia disambut dengan banyaknya Kaum Luhur yang berlalu lalang dengan sangat sibuk.

Kaum Luhur memakai bentuk pakaian yang berbeda dengan Adhit dan Galuh. Untuk yang lelaki, mereka menggunakan pangsi yang ditambahkan batik khas jawa barat dengan warna yang senada yang dililitkan dengan pangsi mereka. Sedangkan wanitanya, mereka menggunakan kebaya encim yang dipadukan dengan celana pangsi yang dililitkan kain batik Khas Jawa Barat dengan warna senada.

Belum hilang takjubnya, Adhit kembali dikejutkan oleh air berbentuk gelembung yang mengambang seakan melawan gravitasi. Saat Adhit mencolek salah satu gelembung air yang paling besar, tiba-tiba saja gelembungnya pecah dan menumpahkan air yang begitu banyak kesegala arah, sontak Adhit langsung panik.

Tuan Monyet Rahyata malah terkekeh melihat reaksi Adhit yang begitu panik. Setelah tawanya reda, ia segera berkata, “kami mengembangkan kantung gelembung berisi air, agar mudah membawa air pada tempat yang membutuhkan diseluruh pelosok dunia. Tapi sejauh ini, masih belum berhasil karena kantungnya masih sangat rapuh,” ucap Tuan Monyet Rahyata ringan, lalu dengan santai ia meneruskan jalan untuk memandu di depan.

“Oh.. ternyata masih sangat rapuh…” ucap Adhit sambil mengusap dadanya sendiri dengan sangat lega. Setelah itu ia berlari kecil menyusul Tuan Monyet Rahyata.

Saat menoleh ke kanan, kini Adhit mendapati ada bunga-bunga bermahkota besar, yang bergerak kesana kemari sambil menggembuskan angin yang begitu segar. Adhit ingat bunga ini, “ini bunga yang terdapat di kompleks rumah tradisional, tempat kemarin saya bertemu dengan anda kan?” tanya Adhit memastikan.

“Benar, ini adalah bunga Binulus, tanaman yang hanya menghasilkan oksigen dan beberapa senyawa yang bisa memperbaiki keluhan di sekitar kebutuhan respirasi,” jelas Tuan Monyet Rahyata dengan tangan memetakan sesuatu di atas dadanya.

Adhit lalu berdiri di dekatnya sebentar, untuk mencoba kesegarannya. Ternyata benar, ia merasa takjub karena kelelahan diseluruh tubuhnya kini seakan hilang begitu saja.

Lalu saat melihat ke sisi yang lain, Adhit terhenti dengan pandangan tidak percaya. Kali ini Ia melihat salah satu kelinci terjun kedalam kolam oval transparan dengan ukuran super besar dan sangat dalam!.

Saat kelinci tersebut terjun dan menyentuh air, pakaian yang dipakainya tiba-tiba mengembang, lalu berubah menyerupai sebuah ban berenang yang amat besar. Setelah itu, kelinci tersebut mengambang dengan santai dan tenang.

“Pakaian ini nanti akan digunakan oleh para lansia yang ingin menikmati suasana diatas perahu, namun tetap aman. Karena para Kaum Astamaya, ketika menginjak usia yang amat sangat tua, energinya akan semakin surut. Tetapi ini masih dikembangkan lagi, agar lebih aman dan nyaman digunakan para lansia.” Jelas Tuan Monyet Rahyata yang membuat Adhit kembali mengangguk–angguk.

Tiba-tiba pandangan Adhit tertuju pada kendaraan terbang persis seperti yang ia lihat di pasar tadi. “Kendaraan terbaaang…!“ teriak Adhit sambil berlari.

Setelah dekat, ia meraba seluruh permukaan kendaraan tersebut dengan amat senang. Adhit benar-benar jadi seperti bocah. Bahkan Tuan Monyet Rahyata sampai tergelak renyah saat melihat tingkah Adhit yang sangat kekanakan.

“Yang ini juga masih ada beberapa hal yang sedang dikembangkan, tetapi sudah aman digunakan. Anda mau mencobanya Adhitya?” Tawaran Tuan Monyet Rahyata membuat mata Adhit langsung membulat antusias.

Melihat hal tersebut, Tuan Monyet Rahyata terkekeh sangat senang. Adhit mengingatkan ia ketika muda dahulu, begitu enerjik dan dipenuhi rasa ingin tahu.

Begitu masuk, Adhit langsung terkesima dengan interior bagian dalam. Agak kuno, tapi tidak membosankan. Kursinya sendiri begitu empuk dan nyaman. “Apa kendaraan seperti ini pernah ada yang digunakan di dunia Manusia?” tanya Adhit sambil meraba sekitar kursi penumpang.

“Para Delegasi dari Kaum Astamaya menggunakan ini untuk segala keperluan mereka selama di dunia Manusia” ucap Tuan Monyet Rahyata, sambil memasukan bandul yang hampir sama dengan bandul logam yang diberikan pada Adhit kemarin.

Namun saat bandul logam tersebut masuk ke dalam laci khusus, bandul tersebut membuka cangkangnya, lalu memperlihatkan kristal bulat yang memendarkan cahaya hijau lembut. Setelah itu, mobil terbangpun menyala, dan membuat Adhit senang bukan main.

“Jadi sekalipun para Kaum Luhur bersembunyi, semua ilmu pengetahuan yang diciptakan Kaum Luhur tetap bisa digunakan para Kaum Astamaya? Bukankah katanya keberadaan gua ini sangat rahasia? lalu para Delegasi itu, siapa mereka?” tanya Adhit semakin ingin tahu.

“Tenang anak muda, satu persatu,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil terkekeh senang.

“Untuk pertanyaan anda tentang pengetahuan yang kami ciptakan, semua yang anda lihat ini tidak terkubur begitu saja di dalam gua ini. Justu kami Kaum Luhur, ditugaskan menemukan dan membuat segala sesuatu yang dibutuhkan istana tanpa diketahui oleh yang lain kecuali Raja, Panglima utama dan sebagian kecil Tetua Putih,” jelas Tuan Monyet Rahyata.

“Bukankah semua benda di Gedung Balai Pengetahuan berukuran sangat besar, bagaimana kalian bisa membawa ke dalam istana tanpa diketahui?” tanya Adhit semakin ingin tahu.

“Tuan Addar memasukan semua hasil pekerjaan kami ke dalam wadah khusus, sehingga mudah dibawa, bahkan diselundupkan kedalam Istana. Lalu dengan dalih bahwa ini adalah buatan dari tim rahasia miliknya, semua hasil yang kami buat dapat masuk, tanpa hambatan sedikitpun. Jadi, tidak ada yang sia-sia.” Jelas Tuan Monyet Rahyata bangga, Adhit kini mengangguk-angguk mengerti.

“Wadah seperti apa?” tanya Adhit semakin penasaran. “Nanti juga anda akan mengetahuinya,” jawab Tuan Monyet Rahyata sambil tersenyum, ini membuat Adhit semakin penasaran saja.

“Lalu untuk pertanyaan tentang siapa para Delegasi? Mereka adalah orang-orang terbaik istana yang ditugaskan menjaga dan memperbaiki segala kerusakan yang dilakukan para Kaum Hitam di dunia Manusia.” Potong Tuan Monyet Rahyata sebelum Adhit bertanya lagi.

“Para Kaum Hitam telah masuk ke dunia Manusia? saya pikir, yang mereka lakukan terhadap saya itu adalah yang pertama kali,” ucap Adhit dengan sangat terkejut.

“Sebelumnya Kaum Hitam memang sudah bergerak di dunia manusia, tetapi menyusupkan Mudria lewat manusia, itu memang baru pertama kali.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi sembari menaikan kendaraan terbang hingga mengambang setinggi lutut.

Adhit terkejut, lalu melongokan kepalanya untuk memastikan kendaraan yang mereka tumpangi benar-benar terbang. Setelah itu, ekspresi kagetnya benar-benar seperti bocah.

“Ini sangat membuat terkejut, Kaum Astamaya telah disekitar kami sudah sejak lama? Dan kami para manusia benar-benar tidak menyadarinya sama sekali?” Ucap Adhit heran, lalu ia kembali duduk sambil menggeser punggungnya agar lebih nyaman.

“Tuan Rahyata, boleh anda ceritakan siapakah Saguri? Mengapa kakek Addar begitu khawatir saat menyebutkan namanya kemarin?” tanya Adhit tiba-tiba.

Dengan tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saja Tuan Monyet Rahyata membawa kendaraan terbang mereka terbang melesat keluar Gedung Balai Pengetahuan. Adhit yang terkejut sekalipun telah menggunakan sabuk pengaman, ia memegangi pinggiran kursi dengan sangat erat. Kontan hal tersebut membuat Tuan Monyet Rahyata semakin terkekeh senang.

“Saguri adalah salah satu dari enam Tetua Hitam yang berkuasa saat itu. Berbeda dari para Tetua Hitam yang lain, ia lebih cerdas dan bisa mengendalikan Ajagnya Bangkarwarah dengan baik. Itu sebabnya, Tuan Addar menjadi cemas ketika Galuh menyebutkan seseorang yang ciri-cirinya menyerupai Saguri di dekat wilayah ini. Tuan Addar khawatir, Saguri telah menemukan tempat ini.” Ucap Tuan Monyet Rahyata yang lalu membelokan setirnya menuju atas pasar.

“Iya, saya mendengar itu kemarin, tentang Saguri yang berhasil mengendalikan Ajagnya sehingga tidak ikut masuk jebakan.” Ucap Adhit mengangguk-angguk, Tuan Monyet Rahyata sangat senang karena ternyata Adhit menyimak pembicaraan mereka di pertemuan kemarin.

“Menurut Kakek Addar kemarin, Saguri beberapa kali melewati bagian luar segel gua dari sebelah selatan hanya bersama Bangkarwarah saja. Bukankah ia adalah salah satu Tetua Hitam, mengapa ia tidak bersama para bawahannya?” ucap Adhit semakin ingin tahu.

“Ini juga membuat saya heran, sepertinya ia mencoba menyelidiki sesuatu hanya untuk kepentingannya sendiri. Saguri itu cermat dan licik, ia pasti sedang merencanakan sesuatu.” Ucap Tuan Monyet Rahyata sambil membelokan stirnya lagi untuk masuk kembali ke dalam Gedung Balai Ilmu Pengetahuan.

“Mengingat Saguri muncul dan hanya sendirian, saya menebak bisa jadi dia juga yang jadi penopang kekuatan Dwasa si mahluk asap. Tidak mungkin kecoak kecil itu tiba-tiba bisa mengetahui bahwa Galuh adalah pemilik para Ajag, ini benar-benar sangat mengkhawatirkan.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi sambil mendaratkan kendaraan terbangnya di tempat semula dengan hati-hati.

“Mengapa Dwasa selalu dikatakan sebagai kecoak? Dan Saguri kan sudah mempunyai Bangkarwarah, mengapa ia malah menggunakan mahluk tidak berguna seperti Dwasa?” tanya Adhit semakin penasaran.

“Karena di tanah Astamaya, Dwasa memang hanya kecoak tidak berguna, pesuruh rendahan milik Kaum Hitam. Dan Ajag bukan pesuruh rendahan!” Mendengar suara yang begitu mereka kenal, membuat Adhit dan Tuan Monyet Rahyata refleks menoleh terkejut.

“Mengapa kamu begitu penasaran tentang Dwasa dan Saguri?” tanya Galuh pada Adhit dengan tidak senang. “ Itu.. itu..” Tuan Monyet Rahyata mencoba menolong Adhit untuk menjawab, namun tiba-tiba kehilangan kata–kata begitu saja. Dengan kikuk, ia segera keluar dari kendaraan terbangnya untuk menjelaskan, namun tidak ada satupun kata yang keluar.

 “Tidak apa–apa Tuan Rahyata, tujuan saya datang karena NaRaja ingin bertemu dengan Adhit, nanti waktunya akan diberi tahu.” Mendengar hal tersebut, Tuan Monyet Rahyata semakin terkejut saja. Sehingga semakin hilang saja kata-kata yang sedang ia susun di kepala.

“NaRaja hanya berkata, bahwa dibandingkan dari semua yang ia temui, hanya Adhit yang mampu memahami pemikiran para Ajag. Akan lebih baik, bila Adhit menjadi jembatan antara mereka dengan saya dan semua yang disini, untuk memahami jelas alur pemikiran mereka.” ucap Galuh yang disambut pandangan Tuan Monyet Rahyata yang semakin tidak percaya.

Dari luar Tuan Monyet Rahyata tampak hanya tersenyum mengiyakan dengan biasa, tetapi di dalam hatinya, rasanya seperti saat ada ratusan kembang api festival perayaan yang meledak bersamaan. Dengan sekuat tenaga, Tuan Monyet Rahyata tetap berusaha menampilkan ekspresi tenang.

“Maksud anda Nona?” Tuan Monyet Rahyata mencoba memastikan lagi.

“NaRaja ingin Adhit menjadi jembatan antara para Ajag dan anda semua. Baiklah, saya sudah menyampaikan. Saya akan kembali ke aula besar untuk sebuah urusan, saya pamit.” singkat Galuh dengan sopan, setelah itu ia berlalu begitu saja.

Setelah Galuh benar–benar menghilang dari pandangan, Tuan Monyet Rahyata berteriak girang hingga semua yang ada di sana menoleh dengan terkejut. Menyadari itu, Tuan Monyet Rahyata segera kembali membetulkan postur tubuhnya. Dengan gugup, ia segera membawa Adhit keluar dari Balai Ilmu Pengetahuan.

“Ini sangat di luar dugaan, saat kita sedang mencari bagaimana caranya agar kamu bisa terus berada disamping Galuh, justru NaRaja sendiri yang memintanya. Tuan Addar harus tahu tentang ini secepatnya! Ia harus tahu!” ucap Tuan Monyet sangat berapa-api.

“Adhitya.. ini adalah kabar yang sangat baik, namun berhati–hatilah. Selama kamu bersama Galuh, tetap ingat! Lima Ajag ini, berasal dari kumpulan ribuan ruh para manusia yang sangat jahat di masanya. Jangan sampai terperdaya!” ucap Tuan Monyet Rahyata mengingatkan sekali lagi, Adhit menyimak baik–baik perkataan Tuan Monyet Rahyata.

“Ini kendaraan terbang milik saya, naiklah, kita akan mencari beberapa barang yang anda butuhkan selama disini” ucap Tuan Monyet Rahyata, yang kini memasuki kendaraan terbang berbeda dari sebelumnya yang terparkir disamping Gedung Balai Ilmu Pengetahuan.

Selama perjalanan, Adhit benar–benar terkejut. Karena ternyata, kota bawah tanah mempunyai wilayah yang amat luas. Saking terpesonanya, Adhit melongokan badannya hingga sampai batas pinggang. Kalau saja tidak ditangkap oleh Tuan Monyet Rahyata, Adhit yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan mungkin sudah jatuh kebawah.

“Hati-hati anak muda,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil terkekeh senang, karena Adhit benar-benar seperti dirinya dimasa lalu.

Begitu sampai, mulut Adhit kini semakin menganga saja. “Ini dimanaaa?.....” teriak Adhit tidak percaya.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir