Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 11 – Bertemu para Ruh Terkutuk! | By: Desya Saghir

Saat didekati, ternyata Galuh sedang bertengkar dengan salah satu Ajag. Dari suaranya yang terdengar paling berat, Adhit menebak, itu pasti NaRaja.

“Hai Dhit!”  Ditengah pertengkaran, suara berat itu malah menyapa Adhit dengan sangat ramah. Galuh yang tidak menyadari Adhit telah sampai, langsung menoleh dengan terkejut. Setelah itu ia heran, mengapa NaRaja bisa seterbuka ini dengan orang lain, apalagi Adhit yang hanya Manusia biasa.

“Galuh, bukalah pintu segel dan biarkan Adhitya masuk ke dunia kami,” rayu NaRaja lagi. “Tidak!” tadi katamu hanya berbicara saja! Jangan pernah libatkan siapapun masuk kedalam dunia pemikiranmu, terutama Adhit! Biarkan dia tetap dalam dunia Manusia yang aman terkendali!” tolak Galuh tegas. Kini Adhit mengerti apa yang membuat mereka berdua bertengkar.

Sekalipun Galuh terus menolak dengan ketus, para Ajag lain malah ikut memohon seakan-akan salah satu kawanannya pulang kerumah. Galuh semakin heran, mengapa para Ajag begitu terkait terhadap Adhit. Maka dengan sangat keberatan, akhirnya Galuh mengiyakan permintaan para Ajag.

Tiba-tiba muncul kabut tipis dari belakang Galuh, lalu membesar, setelah itu langsung melingkupi seluruh tubuh Adhit beserta Galuh.

“Ini.. dimana..?” tanya Adhit terkejut. Dengan seketika, hatinya mencelos saat menyadari bahwa ia kini tengah berada di sebuah tempat antah berantah. Tidak ada apapun disana kecuali kekosongan yang tertutup kabut putih. Untung Galuh masih disampingnya, kalau tidak, Adhit pasti sudah berteriak tidak karuan seperti saat hendak di tangkap Dwasa Si Mahluk asap dulu.

“Kamu berada di dalam dunia kami Adhitya..” ucap Ajag yang bersuara paling berat ramah. Kabut tipis mulai memudar, lalu munculah empat Ajag duduk diantara gumpalan kabut putih yang semakin menipis. Tak lama setelah itu, memudarlah kabut dari belakang ke empat Ajag tersebut, dan terlihatlah, satu Ajag yang besarnya dua kali lipat lebih besar dari ke empat Ajag sebelumnya.

Adhit menebak dari suaranya, pasti inilah NaRaja. Namun setelah itu Adhit malah terkesima. NaRaja bukan hanya besar, gagah dan berkharisma kuat. Tetapi aura gelap mengerikan yang ia miliki, melibas begitu saja aura seram dari para Ajag lainnya.

Adhit lalu memandangi para Ajag satu persatu. Sekalipun dalam posisi diam, mereka masih terlihat sangat berbahaya. Namun disisi lain, para Ajag justru merasa tersanjung dengan cara Adhit memandang mereka. Mereka tahu Adhit pasti terkejut dan waspada, tetapi postur tubuhnya tidak mundur sama sekali.

“Sebelumnya akan saya perkenalkan mereka satu persatu,” lanjut NaRaja membuka pembicaraan.

“Yang pertama adalah Aral, yang berarti selalu tidak pernah puas dengan apa yang ia dapat.” Kabut asap disekitar Aral yang semakin menipis, membuat Adhit kini bisa melihat Aral secara keseluruhan. Adhit terkejut karena mengenal Ajag ini, Aral adalah Ajag yang dibawa Galuh saat membawa lari dirinya dari kejaran Dwasa Si Mahluk Asap! Namun kali ini, ukurannya jauh lebih besar dari pertama kali ia lihat.

“Kamu pasti terkejut, ini adalah ukuran tubuh Aral yang sebenarnya. kami bisa menyesuaikan besar sesuai yang kami inginkan sampai batas tertentu,” ucap NaRaja lagi. Sekalipun merasa sedikit bergidik, Adhit memaksa tetap memandangi sosok keseluruhan Aral, baginya kesempatan ini belum tentu akan datang dua kali.

Aral memiliki sorot mata bengis dan tidak mengenal ampun. Saat Aral menatap Adhit dari mata ke mata, hawa ngeri seakan merayap perlahan diantara mereka, lalu melibas keberanian Adhit dengan brutal. Tetapi Adhit tetap bertahan demi bisa memandang Aral secara keseluruhan.

 Aral memiliki bulu abu bergaris hitam acak yang membuatnya kontras dengan suasana sekitar, ia juga memiliki bahu depan yang besar dan otot yang kasar. Namun yang menarik, dua kaki depan Aral dihiasi gelang logam dengan ukiran etnik yang cukup unik.

NaRaja yang memahami arah pandangan Adhit segera berkata, “kedua gelang tersebut ada, karena para Ruh asal muasal dari terciptanya tubuh Aral, adalah para penjahat bengis yang selalu keluar masuk penjara tanpa henti.” Ucapan NaRaja membuat Adhit terkejut. Adhit baru menyadari, NaRaja sekalipun terlihat tenang, ternyata ia memperhatikan detail dari setiap gerak-gerik Adhit.

“Ia dinamai Aral karena berasal dari kumpulan Ruh yang tidak puas dengan dirinya. Mereka rela hidup sebagai penjahat bengis yang selalu menyerang tanpa belas kasihan demi mencapai adrenalin yang mereka inginkan.” Ucap NaRaja lagi sambil menelisik Adhit dengan seksama.

“Saya kagum padamu Adhitya, tidak ada seorangpun yang mampu menatap mata bengisnya dengan lama,“ ucap NaRaja tiba-tiba dengan sunggingan senang.

“Hahahaha…. Sudah saya bilang, jangan–jangan ia adalah Ajag yang terbentuk bersama kita, tetapi sengaja disembunyikan oleh para Tetua Hitam karena berhasil menjadi wujud manusia.. Hahahaha…” ucap Aral sambil tertawa senang, yang setelah itu disusuk tawa senang para Ajag lain sebagai tanda mengiyakan.

Galuh sendiri kini memandang Adhit dengan heran. “Adhit adalah Manusia biasa, bagaimana bisa nyalinya bisa begitu kuat dalam menghadapi energi gelap dari sorot mata Aral?” Pikir Galuh tidak percaya, sontak saja hal ini menggeser pandangan Galuh selama ini tentang Adhit.

NaRaja meneruskan, “kamu bisa datang kepadanya bila ingin mewujudkan apa yang menurutmu mustahil, ia akan dengan senang hati menerjang semua hambatan tanpa ampun, sehingga kamu bisa mencapai apa yang kamu tuju.” Karena kalimat ini, Adhit mulai memahami maksud NaRaja ingin bertemu. Galuh menatap NaRaja tidak setuju, sekalipun NaRaja memang menangkap arti pandangan Galuh, tetapi ia tidak mengidahkannya.

“Cukup NaRaja!” teriak Galuh lantang. Lalu dengan segera Galuh membuka kabut untuk membawa Adhit keluar segel dan kembali pada ruang pertemuan. Namun, dengan hanya menatap kabut yang terbuka, NaRaja membuat kabut yang terbuka kembali menutup. Kabut tersebut tidak bergeming saat Galuh mencoba membukanya lagi. Galuh kini menatap NaRaja dengan emosi yang memuncak!

“Tetap tinggal Galuh, percayalah dengan yang saya lakukan,” ucap NaRaja pada Galuh yang kini menatapnya dengan sangat marah.

“Lalu yang kedua adalah Agul, yang berarti tinggi hati. Kepulan kabut putih disekitar Agul memudar kesemua sisi.

Pandangan Adhit kini beralih pada sosok yang kini berdiri disamping Aral. Agul mempunyai badan agak lebih kecil dibandingkan Ajag lainnya, namun ia selalu membusungkan dadanya dengan pongah. Kedua telinganya yang runcing, tampak sengaja ditinggikan agar sejajar dengan Ajag lainnya.

Yang menarik, Agul memiliki warna bulu yang unik, bulu hitam dengan garis emas yang sedikit acak. Disertai dengan kalung dan anting-anting emas permata yang ia pakai, menjadikan ia terlihat begitu hebat dan bergelimang kemewahan.

NaRaja yang masih terus mengikuti kemana arah mata Adhit kembali berkata, “Agul berasal dari jiwa–jiwa berbakat dan hebat, namun terpinggirkan, atau sengaja dipinggirkan karena dianggap menghalangi jalan seseorang yang berkepentingan, “ ucap NaRaja disertai Agul yang kini menyeringai marah. Sepertinya, Agul teringat pada memori yang membuat jiwanya dan raganya terasa mendidih.

“Jadi jangan pernah membuat ia merasa terhina, ia memiliki tekad yang melebihi dari apa yang bisa kamu pikirkan,” ucap NaRaja lagi yang lalu disambut sorakan heboh Ajag lain, sehingga membuat dada Agul semakin membusung.

“Bila kamu di rendahkan untuk mundur, lalu tidak punya kekuatan apapun untuk melawan, ia akan dengan sukarela meminjamkan kekuatannya demi bisa membalaskan dendammu.” ucap NaRaja dengan tatapan sedang menebak ekspresi Adhit. Agul menganggukan kepalanya seakan ia adalah teman, namun sorot matanya adalah sorot yang tidak layak dipercaya.

Galuh masih memperhatikan dengan tangan mengepal. Namun, melihat ekspresi Adhit yang tampak tidak terbahwa suasana, Galuh merasa sedikit lega.

“Yang ketiga, ia bernama Neluh, yang berarti selalu mengeluh.” Kabut tipis tampak memudar saat Neluh berdiri, Adhit tampak tertarik melihat garis mata Neluh yang selalu tampak tidak baik-baik saja.

Adhit lalu memandangi Neluh dengan seksama. Neluh memiliki bulu coklat jabrik, namun tidak acak. Ada tiga garis putih di atas kepalanya menyerupai sigung. Sekalipun tertutup bulu, otot–ototnya tetap tersembul dengan jelas. Lalu disertai cakarnya selalu mengepal–ngepal dengan agak gelisah, ia terlihat tidak stabil dan lebih spontan diantara Ajag lainnya.

NaRaja meneruskan, “ia adalah jelmaan dari ribuan jiwa yang selalu iri, tidak bersyukur dan tamak. Namun inilah yang membuatnya selalu mendapatkan yang ia mau. Saat teman-temanmu telah jauh di depan, sedangkan kamu tidak punya akses apapun untuk melampaui mereka, Neluh akan sukarela mengantarmu hingga kamu berada di atas tak terjamah.” ucap NaRaja yang diamini Neluh dengan bangga.

“Tetapi dia buta tentang wanita hahahaha! ”potong Aral yang lalu disusul tawa Ajag lainnya dengan tidak kalah lebar. “Huh… Bangkarwarah saja yang bodoh, malah jatuh hati pada Saguri yang lembeknya tidak lebih dari perkedel basi!” ucap Neluh dengan nada yang menggema. Mendengar hal tersebut, para Ajag kini malah menertawakannya semakin lebar.

Adhit mengenal nama Bangkarwarah, ia adalah Ajag milik Saguri. “Jadi itu sebabnya Bangkarwarah begitu tunduk saat diperintah mundur oleh Saguri,” pikir Adhit saat mengingat cerita Kakek Addar soal peristiwa penjebakan para Tetua Hitam di istana. NaRaja menangkap mata Adhit yang terlihat berpikir, NaRaja hanya tersenyum tipis, lalu setelah itu ia meneruskan.

“Sekalipun ia selalu gagal mendapatkan Bangkarwarah, tetapi ia hebat dalam menaklukan hal lainnya. Neluh memiliki naluri dan strategi yang tajam dalam menghabisi lawannya melalui kelemahannya sendiri. Bersamanya kamu akan strategi terbaik yang pernah ada di dunia,” ucap NaRaja yang membuat Adhit terkejut lagi. sedangkan Galuh terlihat kembali melotot kepada NaRaja, karena Galuh tahu bahwa Neluh adalah Ajag paling brengsek dibandingkan Ajag lainnya.

Adhit menangkap bahwa NaRaja memang sedang membaca apa yang berjalan di pikirannya. Dengan segera Adhit merapikan kembali ekspresinya, ia tidak boleh terlihat menjadi lawan saat didekat mereka. NaRaja tersenyum sangat tipis, lalu segera mengalihkan pandangannya terhadap Ajag selanjutnya.

“Yang keempat adalah Sasab, yang berarti tersesat!” Kabut tipis yang mulai menipis, membuat Adhit terkejut dengan sosok Sasab saat berdiri.

Sasab mempunyai tubuh yang begitu besar. ia memang lebih besar dari Ajag yang lainnya, tetapi tidak mendekati besarnya NaRaja. Dengan bulu hitam pekat tanpa corak, mata bercelak merah dan geraman yang paling kasar, ia terlihat paling brutal dari diantara ketiga Ajag bawahan NaRaja.

“Ia berasal dari jiwa–jiwa yang rela melakukan apa saja sekalipun salah, demi hebatnya kekuasaan. Bila kamu menginginkan sebuah tampuk kekuasaan, datanglah pada Sasab dengan imbalan yang menguntungkan dirinya, maka kamu akan mendapatkan hasil yang setimpal,” ucap NaRaja yang disambut kekehan tawa senang Sasab, tawa yang membuat Adhit merasa Sasab begitu licik dan sangat berbahaya.

Dan yang terakhir adalah saya, NaRaja.. yang berarti.. sang Raja, saya adalah pemimpin mereka.” Ucap NaRaja singkat. Setelah itu kabut putih menghilang, Adhit dan Galuh tiba-tiba telah kembali berada diruang pertemuan.

“Ia sama sekali tidak memperkenalkan dia seperti apa? “licik!” pikir Adhit.

“Berhati-hatilah! Mereka setara dengan iblis licik!” bisik Galuh yang lalu segera berbalik pergi, “NaRaja brengsek!” umpat Galuh sambil berjalan pergi menjauh, tak lama dari kejauhan terdengar kembali teriakan Galuh pada NaRaja, ia terdengar sangat kesal luar biasa.

Tidak terasa satu bulan berlalu, entah mengapa para Ajag malah semakin erat dengan Adhit. Mereka bahkan mulai sering mempersilahkan Adhit masuk ke dunia mereka dan berbicara tentang banyak hal. Namun seperti biasa, NaRaja hanya berkata satu dua patah kata, atau kadang diam mengawasi.

Ini kadang membuat Adhit bertanya-tanya dimanakah NaRaja berpihak, apakah ini cara untuk menggiringnya masuk kedalam dunia pemikiran NaRaja? bila iya, mengapa NaRaja membiarkan saja para Ajag lain mendapatkan wawasan kebajikan dari Adhit.

Namun bukan itu saja yang mengejutkan. Walau samar, Galuh sendiri kini mulai melunak. Kadang bila Adhit belum datang, untuk menyembunyikan ketidak sabarannya, Galuh akan membaca berbagai buku sebagai pengalihan, atau malah bertengkar dengan NaRaja yang menanggapi Galuh dengan kalem dan kadang seakan tidak perduli.

Lalu ditambah dengan adanya Jinn Si Kelinci yang agak bengal dan sering konyol, membuat para Ajag semakin senang saja. Dan hal yang tidak terduga, para Ajag sering mengajak Adhit dan Jinn si kelinci masuk ke dalam dunia mereka! Yang lalu setelah itu, Galuh, Adhit dan Jinn si kelinci akan bertukar pemikiran dengan para Ajag didalam ruang segel para Ajag.

Awalnya Kakek Addar dan Tuan Monyet Rahyata sedikit khawatir, namun melihat Adhit dan Jinn Si Kelinci baik–baik saja, bahkan Galuh dan Kaum Luhur kini terlihat malah bisa ditengahi bersama para Ajag dengan baik, Kakek Addar dan Tuan Monyet Rahyata menjadi sedikit lega.

Dengan ini pula, Kakek Addar dan para Tetua Kaum Luhur juga mulai mengerti setiap maksud dari perkataan para Ajag. Ini membuat segala teka-teki mereka tentang dunia hitam kini mulai terbuka dengan luas.

Lalu Adhit sendiri? Hal ini justru membuat pengetahuannya meningkat dengan sangat pesat. Apalagi ditambah dengan adanya Jinn Si Kelinci, bukan hanya mempermudah Adhit dalam memahami banyak hal yang harus ia pelajari, tetapi perilaku Jinn Si Kelinci membuat suasana belajar yang membosankan menjadi penuh warna.

Namun pada suatu pagi, tanpa sengaja Adhit dan Jinn Si Kelinci berpapasan dengan Galuh yang tergesa masuk ke dalam perpustakaan besar. Saat itu, Adhit dan Jinn Si Kelinci tengah mempelajari sejarah Astamaya dengan sudut pandang lebih dalam.

“Galuh?” tanya Adhit heran.

Galuh menoleh, kedua tangannya tampak mengendalikan energinya ketika memilih beberapa buku besar di rak paling atas.

“Nona Galuh, selamat pagi..” ucap Jinn Si Kelinci dengan senang. Galuh melemparkan senyum pada mereka berdua, lalu setelah berhasil membawa beberapa buku, ia segera berlalu.

 “Untuk apa buku–buku sebanyak ini?” tanya Adhit mengikuti sambil berusaha membuka pembicaraan. Sudah satu minggu ini Galuh terdiam, ia tampak tengah memikirkan sesuatu namun entah apa. Lalu anehnya, para Ajag yang biasanya sangat berisik dalam membongkar rahasia, mereka tidak membahas apapun soal ini.

”Kakek Addar hendak membuat ramuan baru, beberapa anak–anak terkena demam yang aneh,” akhirnya Galuh bersuara. “Biar saya bantu bawakan Nona..” ucap Jinn Si Kelinci sambil mengambil alih buku–buku yang dibawa Galuh dengan energinya, lalu menyisakan dua buku besar untuk dibawa oleh tangan Adhit.

Galuh sedikit terkejut, namun akhirnya membiarkan mereka berdua membantunya membawakan buku–buku tebal tersebut menuju ruangan Kakek Addar.

Begitu sampai di ruang pertemuan, Kakek Addar tampak tengah berbicara penting dengan beberapa sesepuh Kaum Luhur. Namun ketika melihat Galuh datang disertai Adhit dan Jinn Si Kelinci, Kakek Addar tersenyum, lalu dengan segera berdiri untuk menghampiri mereka.

“Baru saja saya hendak meminta seseorang untuk memanggil kalian berdua juga,” ucap Kakek Addar pada Adhit dan Jinn Si Kelinci.

“Kalian bertiga duduk sebentar disini, setelah saya selesai dengan para sesepuh Kaum Luhur, saya ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan kalian, “ucap Kakek Addar yang langsung disambut anggukan dari Galuh. Adhit dan Jinn Si Kelinci, sekalipun masih bingung, mereka berdua ikut mengangguk tanda setuju.

Tak lama, tiba-tiba Tuan Monyet Rahyata datang terburu sambil meletakan buku–buku yang ia bawa di antara buku-buku yang dibawa Galuh.

“Ini gawat sekali Tuan Addar,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menunjuk pada beberapa tulisan yang di garis bawahi dalam buku yang tampak sangat tua.

“Jinn bantu saya cepat!” ucap Tuan Monyet Rahyata yang lalu di bantu Jinn Si Kelinci dengan sangat cekatan. Adhit terkejut, dengan kalimat sesingkat itu, Jinn Si Kelinci tampak hafal dengan apa saja yang saat itu dibutuhkan Tuan Monyet Rahyata.

“Jinn tampak sangat mengenal anda Tuan Rahyata?” ucap Adhit heran, Tuan monyet Rahyata yang terkejut dengan kejelian Adhit segera berkata, “nanti akan saya jelaskan,” ucapnya yang masih agak panik.

Kakek Addar, yang tadinya masih berbicara dengan sesepuh para Kaum Luhur, langsung segera datang bersama para sesepuh Kaum Luhur untuk melihat apa yang terjadi.

 “Sekarang dengarlah ini, beberapa anak muda Kaum Luhur terkena demam aneh, ternyata dikarenakan terkena serbuk bunga bakung angin. Mereka sepertinya diam–diam berhasil menyelinap keluar dari pintu rahasia gua yang ada di bagian Selatan, karena bunga itu tidak pernah ada di gua ini.

 “Hhh.. bagaimana mereka bisa menemukan pintu itu? dasar anak-anak nakal!” ucap Tuan Monyet Rahyata kesal.

“Tuan Rahyata.. bunga bakung angin adalah bunga beracun yang hanya terdapat di pedalaman bukit utara, wilayah Hawa dan itu sangat jauh dari sini. Sekalipun mereka menyelinap keluar, mereka tidak akan sampai pada tempat itu, jaraknya terlalu jauh Tuan..” ucap Jinn Si Kelinci heran.

Adhit mengenal kata wilayah Hawa, itu adalah wilayah elemen angin! ia pernah membaca, bahwa wilayah Astamaya terbagi lima wilayah, berdasarkan radiasi yang terpancar Batu Hyang Sawarga saat menyentuh tanah wilayah Jawa Barat. Batu tersebut kemudian retak menjadi lima bagian, karena bertabrakan dengan energi bumi.

Adhit kembali menoleh heran karena Jinn Si Kelinci terlalu banyak tahu, padahal ia adalah pelajar pemula, “nanti akan saya jelaskan” ucap Jinn Si Kelinci ketika menangkap ekspresi Adhit yang semakin kebingungan.

“Ini perlu diselidiki, Galuh.. apa selama diluar, kamu tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan?” ucap Kakek Addar penasaran. Galuh berpikir sebentar, “hanya beberapa struktur tanah yang menggembur tidak biasanya, saya pikir itu dikarenakan perilaku akar–akar pohon pemakan daging yang sedang menggeser posisi,” jelas Galuh.

“Pohon pemakan daging yang ada di hutan linglung bisa menggeser posisi? Saya pikir ia hanya membuat korbannya terhalusinasi, lalu digiring mendekati pohon untuk dimakan?” ucap Adhit secara refleks, sebab yang baru ia pelajari baru berkisar, Kaum Astamaya, Ruh dan para Monster perwilayah dan ramuan-ramuan penting. Sedangkan jenis tanamannya sendiri baru sebagian kecil, karena baru berkisar di pembuatan ramuan inti saja.

“Pohon pemakan daging bisa menggeser posisi hanya saat sangat dibutuhkan saja, karena hal tersebut akan banyak sekali menguras energi mereka,” ucap Galuh yang membuat Adhit kini mengangguk mengerti.

“Hehehe.. sepertinya benar, mereka sedang membangun lumbung bawah tanah,” ucap salah satu Ajag secara tiba-tiba. Tentu hal ini membuat seluruh yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah Galuh. Aral apa maksudmu?” tanya Galuh pada salah satu Ajag.

“Dulu sekali, saat kami masih dalam raga para Tetua Hitam, Saguri pernah ketahuan mencari informasi tentang pembangunan lumbung bawah tanah. Namun bukan lumbung seperti yang kalian semua pikirkan, melainkan sebuah pertanian kecil dibarengi laboratorium untuk persilangan genetik tanaman, sayangnya.. Saguri tidak pernah meyebutkan untuk apa,” ucap Agul tidak mau kalah.

“Persilangan genetik? tetapi untuk apa?” tanya Tuan Monyet Rahyata sambil berpikir.

“Saya pernah membaca, bunga Bakung Angin adalah tanaman dengan ketahanan diri yang sangat rentan, ia hanya sanggup hidup di pedalaman bukit utara. Saya pikir, tanpa persilangan genetik, ia tidak akan tumbuh baik apabila ditanam disini,” ucap Adhit tiba-tiba.

Ucapan Adhit membuat riuh para Ajag, “sudah kubilang, dia adalah salah satu dari kita, pemikirannya benar-benar sama dengan kita hahahaha…” ucap Aral dengan bangga.

“Ssst..diamlah!” potong Galuh membuat para Ajag lain malah sengaja tertawa heboh, setelah NaRaja berdeham, para Ajag baru kembali tidak berisik.

“Sejak masalah ini datang, kami menunggu pendapatmu Adhit.. hahaha…” ucap Neluh sambil tertawa senang. “Kalian ini! mengapa tidak memberitahu saja awal, masalah sepelik ini masih saja dianggap permainan!” ucap Galuh kesal.

“Saya pikir.. saya tahu mengapa mereka menanam bunga Bakung Angin disini,” ucap salah satu Kura-kura sepuh, sambil menunjuk pada salah satu tulisan yang terdapat dalam salah satu buku tua. Sontak semua yang ada di ruang pertemuan langsung mendekat pada buku tua tersebut.

“Pohon pemakan daging akan menggila saat terkena serbuk bunga Bakung Angin? bila ini terjadi, maka para pohon pemakan daging akan bergerak liar secara acak, akan sangat berbahaya bila mereka menuju segel gua dan menabraknya dengan paksa!” ucap Tuan Monyet Rahyata kaget.

“Benar sekali, dalam keadaan tersebut, para pohon pemakan daging akan menggila, sehingga mereka juga tidak akan merasakan sakitnya sengatan segel pelindung!” ucap Jinn Si Kelinci ikut terkejut.

“Sedangkan hutan ini adalah pusatnya tumbuh kembang pohon pemakan daging, ini sangat berbahaya, segel tidak dapat menahan serangan ratusan pohon pemakan daging yang menggila,” ucap Kakek Addar sambil mengelus jenggotnya dengan hati-hati.

“Sepertinya benar pekerjaan Saguri! selama ini yang menurut Nona Galuh terlihat bolak balik di wilayah ini, menurut Tuan Addar, bukankah ciri-cirinya menyerupai Saguri?” ucap Tuan Monyet Rahyata me.

“Saat beberapa kali melihatnya bersama Galuh, saya tidak mengenalinya karena ia mempunyai energi yang jauh berbeda. Tetapi bila melihat teori ini, ini memang menyerupai strategi yang sering digunakan Saguri.” ucap NaRaja tiba-tiba.

Adhit menoleh kaget, ia semakin heran dengan tindak tanduk NaRaja. “Dimanakah sebenarnya dia berpihak? Apakah ini hanya sekedar tipu muslihatnya? atau semua ajaran kebijakan sudah mulai terserap?” pikir Adhit sambil terkejut.

              “Duaarr!!!” tiba-tiba muncul sebuah suara dentuman besar hingga menggetarkan gua, semua langsung terkejut. Dengan cepat Kakek Addar segera mengetuk sesuatu pada meja bundar besar di ruang pertemuan, dan terlihatlah apa yang terjadi diluar gua, “Segel Gua diserang pohon pemakan daging!” teriak Kakek Addar dengan kencang.

 - Bersambung - Desya Saghir -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir