Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 11 – Bertemu para Ruh Terkutuk! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat didekati, ternyata
Galuh sedang bertengkar dengan salah satu Ajag. Dari suaranya yang terdengar paling
berat, Adhit menebak, itu pasti NaRaja.
“Hai Dhit!” Ditengah pertengkaran, suara berat itu malah menyapa
Adhit dengan sangat ramah. Galuh yang tidak menyadari Adhit telah sampai,
langsung menoleh dengan terkejut. Setelah itu ia heran, mengapa NaRaja bisa
seterbuka ini dengan orang lain, apalagi Adhit yang hanya Manusia biasa.
“Galuh, bukalah
pintu segel dan biarkan Adhitya masuk ke dunia kami,” rayu NaRaja lagi. “Tidak!”
tadi katamu hanya berbicara saja! Jangan pernah libatkan siapapun masuk kedalam
dunia pemikiranmu, terutama Adhit! Biarkan dia tetap dalam dunia Manusia yang
aman terkendali!” tolak Galuh tegas. Kini Adhit mengerti apa yang membuat
mereka berdua bertengkar.
Sekalipun Galuh
terus menolak dengan ketus, para Ajag lain malah ikut memohon seakan-akan salah
satu kawanannya pulang kerumah. Galuh semakin heran, mengapa para Ajag begitu
terkait terhadap Adhit. Maka dengan sangat keberatan, akhirnya Galuh mengiyakan
permintaan para Ajag.
Tiba-tiba muncul kabut
tipis dari belakang Galuh, lalu membesar, setelah itu langsung melingkupi
seluruh tubuh Adhit beserta Galuh.
“Ini.. dimana..?”
tanya Adhit terkejut. Dengan seketika, hatinya mencelos saat menyadari bahwa ia
kini tengah berada di sebuah tempat antah berantah. Tidak ada apapun disana kecuali
kekosongan yang tertutup kabut putih. Untung Galuh masih disampingnya, kalau
tidak, Adhit pasti sudah berteriak tidak karuan seperti saat hendak di tangkap
Dwasa Si Mahluk asap dulu.
“Kamu berada di
dalam dunia kami Adhitya..” ucap Ajag yang bersuara paling berat ramah. Kabut
tipis mulai memudar, lalu munculah empat Ajag duduk diantara gumpalan kabut putih
yang semakin menipis. Tak lama setelah itu, memudarlah kabut dari belakang ke
empat Ajag tersebut, dan terlihatlah, satu Ajag yang besarnya dua kali lipat
lebih besar dari ke empat Ajag sebelumnya.
Adhit menebak dari
suaranya, pasti inilah NaRaja. Namun setelah itu Adhit malah terkesima. NaRaja
bukan hanya besar, gagah dan berkharisma kuat. Tetapi aura gelap mengerikan
yang ia miliki, melibas begitu saja aura seram dari para Ajag lainnya.
Adhit lalu
memandangi para Ajag satu persatu. Sekalipun dalam posisi diam, mereka masih
terlihat sangat berbahaya. Namun disisi lain, para Ajag justru merasa
tersanjung dengan cara Adhit memandang mereka. Mereka tahu Adhit pasti terkejut
dan waspada, tetapi postur tubuhnya tidak mundur sama sekali.
“Sebelumnya akan
saya perkenalkan mereka satu persatu,” lanjut NaRaja membuka pembicaraan.
“Yang pertama
adalah Aral, yang berarti selalu tidak pernah puas dengan apa yang ia dapat.” Kabut
asap disekitar Aral yang semakin menipis, membuat Adhit kini bisa melihat Aral
secara keseluruhan. Adhit terkejut karena mengenal Ajag ini, Aral adalah Ajag
yang dibawa Galuh saat membawa lari dirinya dari kejaran Dwasa Si Mahluk Asap!
Namun kali ini, ukurannya jauh lebih besar dari pertama kali ia lihat.
“Kamu pasti
terkejut, ini adalah ukuran tubuh Aral yang sebenarnya. kami bisa menyesuaikan
besar sesuai yang kami inginkan sampai batas tertentu,” ucap NaRaja lagi. Sekalipun
merasa sedikit bergidik, Adhit memaksa tetap memandangi sosok keseluruhan Aral,
baginya kesempatan ini belum tentu akan datang dua kali.
Aral
memiliki sorot mata bengis dan tidak mengenal ampun. Saat Aral menatap Adhit dari
mata ke mata, hawa ngeri seakan merayap perlahan diantara mereka, lalu melibas keberanian
Adhit dengan brutal. Tetapi Adhit tetap bertahan demi bisa memandang Aral secara
keseluruhan.
Aral memiliki bulu abu bergaris hitam acak
yang membuatnya kontras dengan suasana sekitar, ia juga memiliki bahu depan yang
besar dan otot yang kasar. Namun yang menarik, dua kaki depan Aral dihiasi
gelang logam dengan ukiran etnik yang cukup unik.
NaRaja yang
memahami arah pandangan Adhit segera berkata, “kedua gelang tersebut ada, karena
para Ruh asal muasal dari terciptanya tubuh Aral, adalah para penjahat bengis yang
selalu keluar masuk penjara tanpa henti.” Ucapan NaRaja membuat Adhit terkejut.
Adhit baru menyadari, NaRaja sekalipun terlihat tenang, ternyata ia memperhatikan
detail dari setiap gerak-gerik Adhit.
“Ia
dinamai Aral karena berasal dari kumpulan Ruh yang tidak puas dengan dirinya.
Mereka rela hidup sebagai penjahat bengis yang selalu menyerang tanpa belas
kasihan demi mencapai adrenalin yang mereka inginkan.” Ucap NaRaja lagi sambil
menelisik Adhit dengan seksama.
“Saya
kagum padamu Adhitya, tidak ada seorangpun yang mampu menatap mata bengisnya
dengan lama,“ ucap NaRaja tiba-tiba dengan sunggingan senang.
“Hahahaha….
Sudah saya bilang, jangan–jangan ia adalah Ajag yang terbentuk bersama kita,
tetapi sengaja disembunyikan oleh para Tetua Hitam karena berhasil menjadi
wujud manusia.. Hahahaha…” ucap Aral sambil tertawa senang, yang setelah itu disusuk
tawa senang para Ajag lain sebagai tanda mengiyakan.
Galuh sendiri
kini memandang Adhit dengan heran. “Adhit adalah Manusia biasa, bagaimana bisa
nyalinya bisa begitu kuat dalam menghadapi energi gelap dari sorot mata Aral?” Pikir
Galuh tidak percaya, sontak saja hal ini menggeser pandangan Galuh selama ini tentang
Adhit.
NaRaja
meneruskan, “kamu bisa datang kepadanya bila ingin mewujudkan apa yang
menurutmu mustahil, ia akan dengan senang hati menerjang semua hambatan tanpa
ampun, sehingga kamu bisa mencapai apa yang kamu tuju.” Karena kalimat ini,
Adhit mulai memahami maksud NaRaja ingin bertemu. Galuh menatap NaRaja tidak
setuju, sekalipun NaRaja memang menangkap arti pandangan Galuh, tetapi ia tidak
mengidahkannya.
“Cukup
NaRaja!” teriak Galuh lantang. Lalu dengan segera Galuh membuka kabut untuk
membawa Adhit keluar segel dan kembali pada ruang pertemuan. Namun, dengan
hanya menatap kabut yang terbuka, NaRaja membuat kabut yang terbuka kembali menutup.
Kabut tersebut tidak bergeming saat Galuh mencoba membukanya lagi. Galuh kini
menatap NaRaja dengan emosi yang memuncak!
“Tetap
tinggal Galuh, percayalah dengan yang saya lakukan,” ucap NaRaja pada Galuh
yang kini menatapnya dengan sangat marah.
“Lalu yang
kedua adalah Agul, yang berarti tinggi hati.” Kepulan kabut putih disekitar
Agul memudar kesemua sisi.
Pandangan
Adhit kini beralih pada sosok yang kini berdiri disamping Aral. Agul mempunyai badan
agak lebih kecil dibandingkan Ajag lainnya, namun ia selalu membusungkan
dadanya dengan pongah. Kedua telinganya yang runcing, tampak sengaja
ditinggikan agar sejajar dengan Ajag lainnya.
Yang
menarik, Agul memiliki warna bulu yang unik, bulu hitam dengan garis emas yang
sedikit acak. Disertai dengan kalung dan anting-anting emas permata yang ia pakai,
menjadikan ia terlihat begitu hebat dan bergelimang kemewahan.
NaRaja
yang masih terus mengikuti kemana arah mata Adhit kembali berkata, “Agul
berasal dari jiwa–jiwa berbakat dan hebat, namun terpinggirkan, atau sengaja
dipinggirkan karena dianggap menghalangi jalan seseorang yang berkepentingan, “
ucap NaRaja disertai Agul yang kini menyeringai marah. Sepertinya, Agul teringat
pada memori yang membuat jiwanya dan raganya terasa mendidih.
“Jadi
jangan pernah membuat ia merasa terhina, ia memiliki tekad yang melebihi dari
apa yang bisa kamu pikirkan,” ucap NaRaja lagi yang lalu disambut sorakan heboh
Ajag lain, sehingga membuat dada Agul semakin membusung.
“Bila kamu
di rendahkan untuk mundur, lalu tidak punya kekuatan apapun untuk melawan, ia
akan dengan sukarela meminjamkan kekuatannya demi bisa membalaskan dendammu.”
ucap NaRaja dengan tatapan sedang menebak ekspresi Adhit. Agul menganggukan
kepalanya seakan ia adalah teman, namun sorot matanya adalah sorot yang tidak
layak dipercaya.
Galuh
masih memperhatikan dengan tangan mengepal. Namun, melihat ekspresi Adhit yang
tampak tidak terbahwa suasana, Galuh merasa sedikit lega.
“Yang ketiga, ia bernama Neluh, yang
berarti selalu mengeluh.” Kabut tipis tampak memudar saat Neluh berdiri, Adhit
tampak tertarik melihat garis mata Neluh yang selalu tampak tidak baik-baik
saja.
Adhit lalu
memandangi Neluh dengan seksama. Neluh memiliki bulu coklat jabrik, namun tidak
acak. Ada tiga garis putih di atas kepalanya menyerupai sigung. Sekalipun tertutup
bulu, otot–ototnya tetap tersembul dengan jelas. Lalu disertai cakarnya selalu
mengepal–ngepal dengan agak gelisah, ia terlihat tidak stabil dan lebih spontan
diantara Ajag lainnya.
NaRaja
meneruskan, “ia adalah jelmaan dari ribuan jiwa yang selalu iri, tidak
bersyukur dan tamak. Namun inilah yang membuatnya selalu mendapatkan
yang ia mau. Saat teman-temanmu telah jauh di depan, sedangkan kamu tidak punya
akses apapun untuk melampaui mereka, Neluh akan sukarela mengantarmu hingga
kamu berada di atas tak terjamah.” ucap NaRaja yang diamini Neluh dengan bangga.
“Tetapi
dia buta tentang wanita hahahaha! ”potong Aral yang lalu disusul tawa Ajag
lainnya dengan tidak kalah lebar. “Huh… Bangkarwarah saja yang bodoh, malah jatuh
hati pada Saguri yang lembeknya tidak lebih dari perkedel basi!” ucap Neluh
dengan nada yang menggema. Mendengar hal tersebut, para Ajag kini malah
menertawakannya semakin lebar.
Adhit
mengenal nama Bangkarwarah, ia adalah Ajag milik Saguri. “Jadi itu sebabnya
Bangkarwarah begitu tunduk saat diperintah mundur oleh Saguri,” pikir Adhit
saat mengingat cerita Kakek Addar soal peristiwa penjebakan para Tetua Hitam di
istana. NaRaja menangkap mata Adhit yang terlihat berpikir, NaRaja hanya tersenyum
tipis, lalu setelah itu ia meneruskan.
“Sekalipun
ia selalu gagal mendapatkan Bangkarwarah, tetapi ia hebat dalam menaklukan hal
lainnya. Neluh memiliki naluri dan strategi yang tajam dalam menghabisi
lawannya melalui kelemahannya sendiri. Bersamanya kamu akan strategi terbaik
yang pernah ada di dunia,” ucap NaRaja yang membuat Adhit terkejut lagi. sedangkan
Galuh terlihat kembali melotot kepada NaRaja, karena Galuh tahu bahwa Neluh
adalah Ajag paling brengsek dibandingkan Ajag lainnya.
Adhit
menangkap bahwa NaRaja memang sedang membaca apa yang berjalan di pikirannya. Dengan
segera Adhit merapikan kembali ekspresinya, ia tidak boleh terlihat menjadi
lawan saat didekat mereka. NaRaja tersenyum sangat tipis, lalu segera mengalihkan
pandangannya terhadap Ajag selanjutnya.
“Yang keempat
adalah Sasab, yang berarti tersesat!” Kabut tipis yang mulai menipis, membuat
Adhit terkejut dengan sosok Sasab saat berdiri.
Sasab mempunyai
tubuh yang begitu besar. ia memang lebih besar dari Ajag yang lainnya, tetapi
tidak mendekati besarnya NaRaja. Dengan bulu hitam pekat tanpa corak, mata
bercelak merah dan geraman yang paling kasar, ia terlihat paling brutal dari
diantara ketiga Ajag bawahan NaRaja.
“Ia
berasal dari jiwa–jiwa yang rela melakukan apa saja sekalipun salah, demi hebatnya
kekuasaan. Bila kamu menginginkan sebuah tampuk kekuasaan, datanglah pada Sasab
dengan imbalan yang menguntungkan dirinya, maka kamu akan mendapatkan hasil
yang setimpal,” ucap NaRaja yang disambut kekehan tawa senang Sasab, tawa yang
membuat Adhit merasa Sasab begitu licik dan sangat berbahaya.
Dan yang
terakhir adalah saya, NaRaja.. yang berarti.. sang Raja, saya
adalah pemimpin mereka.” Ucap NaRaja singkat. Setelah itu kabut putih
menghilang, Adhit dan Galuh tiba-tiba telah kembali berada diruang pertemuan.
“Ia sama
sekali tidak memperkenalkan dia seperti apa? “licik!” pikir Adhit.
“Berhati-hatilah!
Mereka setara dengan iblis licik!” bisik Galuh yang lalu segera berbalik pergi,
“NaRaja brengsek!” umpat Galuh sambil berjalan pergi menjauh, tak lama dari
kejauhan terdengar kembali teriakan Galuh pada NaRaja, ia terdengar sangat
kesal luar biasa.
Tidak terasa satu
bulan berlalu, entah mengapa para Ajag malah semakin erat dengan Adhit. Mereka bahkan
mulai sering mempersilahkan Adhit masuk ke dunia mereka dan berbicara tentang
banyak hal. Namun seperti biasa, NaRaja hanya berkata satu dua patah kata, atau
kadang diam mengawasi.
Ini kadang membuat
Adhit bertanya-tanya dimanakah NaRaja berpihak, apakah ini cara untuk
menggiringnya masuk kedalam dunia pemikiran NaRaja? bila iya, mengapa NaRaja
membiarkan saja para Ajag lain mendapatkan wawasan kebajikan dari Adhit.
Namun bukan itu
saja yang mengejutkan. Walau samar, Galuh sendiri kini mulai melunak. Kadang
bila Adhit belum datang, untuk menyembunyikan ketidak sabarannya, Galuh akan
membaca berbagai buku sebagai pengalihan, atau malah bertengkar dengan NaRaja yang
menanggapi Galuh dengan kalem dan kadang seakan tidak perduli.
Lalu ditambah
dengan adanya Jinn Si Kelinci yang agak bengal dan sering konyol, membuat para
Ajag semakin senang saja. Dan hal yang tidak terduga, para Ajag sering mengajak
Adhit dan Jinn si kelinci masuk ke dalam dunia mereka! Yang lalu setelah itu, Galuh,
Adhit dan Jinn si kelinci akan bertukar pemikiran dengan para Ajag didalam
ruang segel para Ajag.
Awalnya Kakek
Addar dan Tuan Monyet Rahyata sedikit khawatir, namun melihat Adhit dan Jinn Si
Kelinci baik–baik saja, bahkan Galuh dan Kaum Luhur kini terlihat malah bisa
ditengahi bersama para Ajag dengan baik, Kakek Addar dan Tuan Monyet Rahyata menjadi
sedikit lega.
Dengan ini pula,
Kakek Addar dan para Tetua Kaum Luhur juga mulai mengerti setiap maksud dari
perkataan para Ajag. Ini membuat segala teka-teki mereka tentang dunia hitam
kini mulai terbuka dengan luas.
Lalu Adhit
sendiri? Hal ini justru membuat pengetahuannya meningkat dengan sangat pesat. Apalagi
ditambah dengan adanya Jinn Si Kelinci, bukan hanya mempermudah Adhit dalam
memahami banyak hal yang harus ia pelajari, tetapi perilaku Jinn Si Kelinci
membuat suasana belajar yang membosankan menjadi penuh warna.
Namun pada suatu
pagi, tanpa sengaja Adhit dan Jinn Si Kelinci berpapasan dengan Galuh yang
tergesa masuk ke dalam perpustakaan besar. Saat itu, Adhit dan Jinn Si Kelinci
tengah mempelajari sejarah Astamaya dengan sudut pandang lebih dalam.
“Galuh?” tanya
Adhit heran.
Galuh menoleh,
kedua tangannya tampak mengendalikan energinya ketika memilih beberapa buku
besar di rak paling atas.
“Nona Galuh,
selamat pagi..” ucap Jinn Si Kelinci dengan senang. Galuh melemparkan senyum
pada mereka berdua, lalu setelah berhasil membawa beberapa buku, ia segera
berlalu.
“Untuk apa buku–buku sebanyak ini?” tanya
Adhit mengikuti sambil berusaha membuka pembicaraan. Sudah satu minggu ini
Galuh terdiam, ia tampak tengah memikirkan sesuatu namun entah apa. Lalu anehnya,
para Ajag yang biasanya sangat berisik dalam membongkar rahasia, mereka tidak
membahas apapun soal ini.
”Kakek Addar
hendak membuat ramuan baru, beberapa anak–anak terkena demam yang aneh,”
akhirnya Galuh bersuara. “Biar saya bantu bawakan Nona..” ucap Jinn Si Kelinci
sambil mengambil alih buku–buku yang dibawa Galuh dengan energinya, lalu
menyisakan dua buku besar untuk dibawa oleh tangan Adhit.
Galuh sedikit terkejut,
namun akhirnya membiarkan mereka berdua membantunya membawakan buku–buku tebal
tersebut menuju ruangan Kakek Addar.
Begitu sampai di
ruang pertemuan, Kakek Addar tampak tengah berbicara penting dengan beberapa sesepuh
Kaum Luhur. Namun ketika melihat Galuh datang disertai Adhit dan Jinn Si Kelinci,
Kakek Addar tersenyum, lalu dengan segera berdiri untuk menghampiri mereka.
“Baru saja saya
hendak meminta seseorang untuk memanggil kalian berdua juga,” ucap Kakek Addar
pada Adhit dan Jinn Si Kelinci.
“Kalian bertiga duduk
sebentar disini, setelah saya selesai dengan para sesepuh Kaum Luhur, saya
ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan kalian, “ucap Kakek Addar
yang langsung disambut anggukan dari Galuh. Adhit dan Jinn Si Kelinci,
sekalipun masih bingung, mereka berdua ikut mengangguk tanda setuju.
Tak lama,
tiba-tiba Tuan Monyet Rahyata datang terburu sambil meletakan buku–buku yang ia
bawa di antara buku-buku yang dibawa Galuh.
“Ini gawat sekali Tuan
Addar,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menunjuk pada beberapa tulisan yang di garis
bawahi dalam buku yang tampak sangat tua.
“Jinn bantu saya
cepat!” ucap Tuan Monyet Rahyata yang lalu di bantu Jinn Si Kelinci dengan sangat
cekatan. Adhit terkejut, dengan kalimat sesingkat itu, Jinn Si Kelinci tampak
hafal dengan apa saja yang saat itu dibutuhkan Tuan Monyet Rahyata.
“Jinn tampak
sangat mengenal anda Tuan Rahyata?” ucap Adhit heran, Tuan monyet Rahyata yang terkejut
dengan kejelian Adhit segera berkata, “nanti akan saya jelaskan,” ucapnya yang
masih agak panik.
Kakek Addar, yang
tadinya masih berbicara dengan sesepuh para Kaum Luhur, langsung segera datang bersama
para sesepuh Kaum Luhur untuk melihat apa yang terjadi.
“Sekarang dengarlah ini, beberapa anak muda Kaum
Luhur terkena demam aneh, ternyata dikarenakan terkena serbuk bunga bakung
angin. Mereka sepertinya diam–diam berhasil menyelinap keluar dari pintu
rahasia gua yang ada di bagian Selatan, karena bunga itu tidak pernah ada di
gua ini.
“Hhh.. bagaimana mereka bisa menemukan pintu
itu? dasar anak-anak nakal!” ucap Tuan Monyet Rahyata kesal.
“Tuan Rahyata.. bunga
bakung angin adalah bunga beracun yang hanya terdapat di pedalaman bukit utara,
wilayah Hawa dan itu sangat jauh dari sini. Sekalipun mereka menyelinap keluar,
mereka tidak akan sampai pada tempat itu, jaraknya terlalu jauh Tuan..” ucap Jinn
Si Kelinci heran.
Adhit mengenal
kata wilayah Hawa, itu adalah wilayah elemen angin! ia pernah membaca, bahwa wilayah
Astamaya terbagi lima wilayah, berdasarkan radiasi yang terpancar Batu Hyang
Sawarga saat menyentuh tanah wilayah Jawa Barat. Batu tersebut kemudian retak menjadi
lima bagian, karena bertabrakan dengan energi bumi.
Adhit kembali menoleh
heran karena Jinn Si Kelinci terlalu banyak tahu, padahal ia adalah pelajar
pemula, “nanti akan saya jelaskan” ucap Jinn Si Kelinci ketika menangkap
ekspresi Adhit yang semakin kebingungan.
“Ini perlu
diselidiki, Galuh.. apa selama diluar, kamu tidak menemukan sesuatu yang
mencurigakan?” ucap Kakek Addar penasaran. Galuh berpikir sebentar, “hanya
beberapa struktur tanah yang menggembur tidak biasanya, saya pikir itu
dikarenakan perilaku akar–akar pohon pemakan daging yang sedang menggeser
posisi,” jelas Galuh.
“Pohon pemakan
daging yang ada di hutan linglung bisa menggeser posisi? Saya pikir ia hanya
membuat korbannya terhalusinasi, lalu digiring mendekati pohon untuk dimakan?”
ucap Adhit secara refleks, sebab yang baru ia pelajari baru berkisar, Kaum
Astamaya, Ruh dan para Monster perwilayah dan ramuan-ramuan penting. Sedangkan jenis
tanamannya sendiri baru sebagian kecil, karena baru berkisar di pembuatan
ramuan inti saja.
“Pohon pemakan
daging bisa menggeser posisi hanya saat sangat dibutuhkan saja, karena hal
tersebut akan banyak sekali menguras energi mereka,” ucap Galuh yang membuat
Adhit kini mengangguk mengerti.
“Hehehe.. sepertinya
benar, mereka sedang membangun lumbung bawah tanah,” ucap salah satu Ajag
secara tiba-tiba. Tentu hal ini membuat seluruh yang ada di ruangan tersebut
menoleh ke arah Galuh. Aral apa maksudmu?” tanya Galuh pada salah satu Ajag.
“Dulu sekali, saat
kami masih dalam raga para Tetua Hitam, Saguri pernah ketahuan mencari
informasi tentang pembangunan lumbung bawah tanah. Namun bukan lumbung seperti
yang kalian semua pikirkan, melainkan sebuah pertanian kecil dibarengi laboratorium
untuk persilangan genetik tanaman, sayangnya.. Saguri tidak pernah meyebutkan untuk
apa,” ucap Agul tidak mau kalah.
“Persilangan
genetik? tetapi untuk apa?” tanya Tuan Monyet Rahyata sambil berpikir.
“Saya pernah
membaca, bunga Bakung Angin adalah tanaman dengan ketahanan diri yang sangat
rentan, ia hanya sanggup hidup di pedalaman bukit utara. Saya pikir, tanpa
persilangan genetik, ia tidak akan tumbuh baik apabila ditanam disini,” ucap
Adhit tiba-tiba.
Ucapan Adhit
membuat riuh para Ajag, “sudah kubilang, dia adalah salah satu dari kita,
pemikirannya benar-benar sama dengan kita hahahaha…” ucap Aral dengan bangga.
“Ssst..diamlah!”
potong Galuh membuat para Ajag lain malah sengaja tertawa heboh, setelah NaRaja
berdeham, para Ajag baru kembali tidak berisik.
“Sejak masalah ini
datang, kami menunggu pendapatmu Adhit.. hahaha…” ucap Neluh sambil tertawa
senang. “Kalian ini! mengapa tidak memberitahu saja awal, masalah sepelik ini
masih saja dianggap permainan!” ucap Galuh kesal.
“Saya pikir.. saya
tahu mengapa mereka menanam bunga Bakung Angin disini,” ucap salah satu
Kura-kura sepuh, sambil menunjuk pada salah satu tulisan yang terdapat dalam
salah satu buku tua. Sontak semua yang ada di ruang pertemuan langsung mendekat
pada buku tua tersebut.
“Pohon pemakan
daging akan menggila saat terkena serbuk bunga Bakung Angin? bila ini terjadi, maka
para pohon pemakan daging akan bergerak liar secara acak, akan sangat berbahaya
bila mereka menuju segel gua dan menabraknya dengan paksa!” ucap Tuan Monyet
Rahyata kaget.
“Benar sekali, dalam
keadaan tersebut, para pohon pemakan daging akan menggila, sehingga mereka juga
tidak akan merasakan sakitnya sengatan segel pelindung!” ucap Jinn Si Kelinci ikut
terkejut.
“Sedangkan hutan
ini adalah pusatnya tumbuh kembang pohon pemakan daging, ini sangat berbahaya, segel
tidak dapat menahan serangan ratusan pohon pemakan daging yang menggila,” ucap Kakek
Addar sambil mengelus jenggotnya dengan hati-hati.
“Sepertinya benar pekerjaan
Saguri! selama ini yang menurut Nona Galuh terlihat bolak balik di wilayah ini,
menurut Tuan Addar, bukankah ciri-cirinya menyerupai Saguri?” ucap Tuan Monyet
Rahyata me.
“Saat beberapa
kali melihatnya bersama Galuh, saya tidak mengenalinya karena ia mempunyai
energi yang jauh berbeda. Tetapi bila melihat teori ini, ini memang menyerupai strategi
yang sering digunakan Saguri.” ucap NaRaja tiba-tiba.
Adhit menoleh
kaget, ia semakin heran dengan tindak tanduk NaRaja. “Dimanakah sebenarnya dia
berpihak? Apakah ini hanya sekedar tipu muslihatnya? atau semua ajaran
kebijakan sudah mulai terserap?” pikir Adhit sambil terkejut.
“Duaarr!!!”
tiba-tiba muncul sebuah suara dentuman besar hingga menggetarkan gua, semua langsung
terkejut. Dengan cepat Kakek Addar segera mengetuk sesuatu pada meja bundar
besar di ruang pertemuan, dan terlihatlah apa yang terjadi diluar gua, “Segel
Gua diserang pohon pemakan daging!” teriak Kakek Addar dengan kencang.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar