Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 10 - Teman yang Menyenangkan | By: Desya Saghir

Begitu keluar dari kendaraan terbang, Adhit terkejut. Matanya lalu menatap sekeliling dengan tidak percaya. “Bagaiman bisa…ini…” setelah itu ia kehilangan kata-kata.

Adhit kini mendapati dirinya berada di tengah-tengah lingkungan pertokoan tradisional lawas, namun terpoles kecanggihan teknologi yang sangat luar biasa. Adhit terkesima saat mendapati papan-papan reklame vintage dibubuhi hologram gaya sembilan puluhan memeriahkan suasana.

Adhit semakin terhenyak saat melihat deretan barang di beberapa etalase. Ternyata ada juga barang sehari-hari yang pernah ia gunakan. Namun disini, semua barang itu bekerja dengan sangat ajaib! Dari mulai wadah bekal yang bisa memasak sendiri, agenda kecil yang menjawab setiap pertanyaan yang dituliskan, hingga sapu yang bisa mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga.

Kepala Adhit mulai terasa berdenyut lagi. ia merasa terjebak dalam sesuatu yang tidak nyata, dimana realitas dan khayalan menjadi saling terkait satu sama lain. Tuan Monyet Rahyata sampai dibuat tertawa berulang kali, karena Adhit bereaksi seperti bocah yang tersesat di negeri ajaib.

Namun begitu semua barang yang dibutuhkan berhasil didapatkan, kini tampaklah Adhit yang terseok kerepotan membawa kantong barang yang sangat bertumpuk. Sedangkan Tuan Monyet Rahyata, dengan enaknya ia berbicara sambil melenggang sendirian di depan.

Setelah kendaraan terbang milik Tuan Monyet Rahyata terlihat. Dengan secepat kilat Adhit berlari mendahului, lalu segera masuk kedalam dan berteriak, “akhirnyaaa..!!!”

Tuan Monyet Rahyata terkejut, “anda membawa semua kantong belanja itu sendirian? saya pikir anda menggunakan tas yang diberikan Tuan Addar?” ucap Tuan Monyet Rahyata heran.

Mendengar itu, Adhit menoleh dengan terkejut juga. “Apa yang bisa dilakukan tas sekecil ini?” tanyanya heran sambil memperlihatkan tas yang sedari tadi ia selempangkan. “Tas ini hanya berukuran dua puluh lima centi kali tiga puluh centi, sedangkan semua barang ini ada lima kantong besar,” lanjut Adhit lagi masih dengan nada heran.

“Sepertinya kami lupa memberitahu anda,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menepuk keningnya dengan keras. “Lihatlah ini..” lalu dengan energinya, Tuan Monyet Rahyata memasukan semua barang yang baru mereka beli ke dalam tas tersebut. Anehnya, sekalipun barang yang dimasukan sangat banyak, tas tersebut tidak menggembung sama sekali.

“Ini luar biasa! Tas ini seperti mempunyai ruang dimensi!” teriak Adhit dengan mata membulat senang.

Kemudian Adhit lagi mencoba sendiri dengan beberapa barang yang tersisa. Semua tas belanja telah habis, tetapi tas pemberian Kakek Addar masih belum menggembung juga. Tuan Monyet Rahyata sampai tertawa lagi melihat reaksi Adhit, ia benar-benar seperti bocah baru mendapatkan atraksi sulap.

Dalam perjalanan pulang, dari atas Adhit memandangi takjub para Kaum Luhur yang tengah beraktifitas.  Tata kota yang tertata dengan serasi, pengairan setiap rumah dengan teratur dan mumpuni, penduduk dengan toleransi tinggi, ditambah taman-taman kecil disetiap pelosok membuat Adhit semakin tidak mempercayai matanya sendiri.

“Enaknya menjadi bagian dari Kaum Astamaya, semua bisa dilakukan dengan mudah. Hanya dengan menggunakan energinya, selesailah semua.” Ucap Adhit memperagakan gerakan bagaimana Kaum Luhur dalam mengeluarkan energinya, setelah itu ia berekspresi dengan takjub.

Mendengar hal tersebut, Tuan Monyet Rahyata tersenyum lalu berkata, “kadang, apa yang terlihat, tidak seperti yang terlihat anak muda.” Ucap Tuan Monyet Rahyata, sambil mendaratkan kendaraan terbangnya karena sudah sampai.

Ketika hendak bertanya lagi, Tuan Monyet Rahyata malah berkata, “ungkapan yang baru saya ucapkan adalah PR pertama Anda. Sekarang beristirahatlah dulu, besok kita bertemu di ruang pertemuan Aula atas.” Ucap Tuan Monyet Rahyata bijak.

Mereka berpisah di lorong Aula atas. Tuan Monyet Rahyata menuju Kakek Addar di ruang pertemuan, sedangkan Adhit kembali ke kamarnya, untuk mempelajari semua barang yang telah dibeli tadi.

Di kamar, Adhit dahulukan dulu mencari sesuatu yang bisa membantunya menemukan jawaban, dari PR yang diberikan Tuan Monyet Rahyata.

“Aah..!” ucap Adhit saat menemukan buku agenda kecil dari salah satu kantong belanja. Ia memang sangat tertarik saat agenda tersebut diperagakan di etalase toko. Dengan tidak sabar, Adhit segera mempraktekan apa yang diajarkan penjual tadi.

“Berikan saya sejarah Kaum Astamaya” tulis Adhit pada agenda kecilnya. Benar saja, setelah itu muncul tulisan balasan.

 “Apa anda ingin sejarah lengkap atau hanya beberapa cuplikan saja Tuan?” jawab buku tersebut dengan bentuk tulisan juga. Adhit merasa sangat senang, ia seperti mendapatkan satu perpustakaan besar tentang Astamaya seukuran genggaman tangan.

“Cuplikannya saja,” tulis Adhit singkat. Setelah itu turun beberapa tabel yang dengan judul; Kaum Astamaya, Kaum Luhur, Kaum lima wilayah, Pembagian Astamaya perwilayah, dan banyak lagi.

“Banyak sekali! ini cangkupannya terlalu besar!” ucap Adhit dengan kaget, ia tidak menyangka bahwa cuplikannya akan sebanyak ini.

Lalu Adhit menulis lagi. “Terangkan saja penjabaran tentang energi anti gravitasi milik para Kaum yang tinggal di Astamaya.” Setelah itu turunlah beberapa detail keterangan, dari mana energi mereka berasal, resiko apa saja bila energi tersebut digunakan secara berlebihan.

“Ternyata para Kaum Astamaya memiliki energi listrik tubuh yang lebih besar dari Kaum Manusia, dan energi tersebut dikendalikan sepenuhnya oleh otak mereka. Semakin kompleks pengendalian yang dihasilkan struktur otak mereka, maka semakin kompleks pula tingkatan pengendalian dan jenis energi yang bisa mereka hasilkan,” baca Adhit dengan takjub.

“Namun, bila energi tersebut dipaksa keluar melebihi kapasitas, maka akan mengakibatkan kematian. Penyebab utama adalah, kerusakan total pada otak mereka karena terlalu dipaksa,” ucap Adhit terkejut. Ia kini mengerti mengapa Tuan Monyet Rahyata mengatakan, “kadang, apa yang terlihat, tidak seperti yang terlihat.”

Setelah merasa PR nya selesai, Adhit baru membuka kantong belanja lain. Di kantong pertama, Adhit mendapatkan beberapa helai pakaian pria sunda kuno dengan tambahan sentuhan khas Astamaya. Baju luaran saat udara dingin, Adhit ingat baju luaran ini, persis yang dikenakan luaran baju Kaum Luhur saat ia bertemu dengan para sesepuh Kaum Luhur diruang tertemuan.

Ikat kepala khas suku sunda yang senada dengan pakaiannya sendiri. Sambil memakai salah satu ikat kepala, Adhit membuka kantong belanja selanjutnya.

Kini ia menemukan lima kantong kain serut berwarna warni dengan motif batik Cirebon yang beragam. Adhit terkesima karena isinya tidak kalah menarik.

Ada lima botol kristal yang terpahat begitu indah. Setiap botol kristal, dihiasi lilitan dari tatahan ukiran batik logam bersepuh emas yang dibuat dengan sangat teliti. Adhit kemudian mengambil salah satu botol untuk dipelajari.

Botol pertama, memiliki isi berupa cairan berwarna merah gelap, hampir seperti minuman anggur beralkohol. Namun saat hendak dihirup, ia malah menemukan tulisan besar yang tertera pada label botol, “JANGAN DIHIRUP KECUALI SAAT DIBUTUHKAN!” secara refleks Adhit tidak jadi membuka tutupnya.

Lalu ia membaca lagi, “sari jelaga pohon pemakan daging! Apa ini! menjijikan!” teriaknya sambil melotot. Tetapi, karena teringat Tuan Monyet Rahyata berkeras agar ia mempelajari semua barang yang dibelikan olehnya. Maka dengan terpaksa, Adhit mengambil kembali botol tersebut.

“Efeknya mampu membuat halusinasi kuat bagi yang menghirupnya, digunakan saat terkena racun Ruh yang sangat kuat, disertai rasa sakit yang tidak tertahankan.” Baca Adhit sambil mengangguk-angguk. Lalu Adhit membaca tulisan kecil yang terletak dibawahnya.

“Ramuan ini mampu menghasilkan halusinasi yang sangat baik, persis seperti kinerja pohon pemakan daging, ia akan membuat korbannya berhalusinasi sehingga mudah digiring menuju pohon tersebut untuk dimakan, apa!!!” baca Adhit sambil mengernyit, setelah itu ia mengangguk–angguk mengerti.

Adhit mengambil botol selanjutnya. “Sari bunga lembah Pelangi,” baca Adhit sambil memeriksa apakah ada tulisan peringatan lagi.

“Hmm.. sepertinya aman” ucap Adhit lebih tenang. Adhit menatap botol yang berisi cairan pastel bening tersebut dengan takjub. Karena bila botolnya dimiringkan sedikit, maka akan menimbulkan kerlip warna-warna pastel berkilauan.

“Penawar racun terbaik, berasal dari racikan bunga–bunga langka yang berasal dari lembah Pelangi? hmm.. nama tempat yang unik,” ucap Adhit sambil membuka tutupnya, lalu mencium aromanya.

“Uugh..!” ucap Adhit sambil segera menutup kembali tutupnya. Ia benar-benar merasa tertipu dengan penampilannya yang begitu manis dan memanjakan mata. Ternyata, ramuan ini memiliki aroma yang sangat buruk! bahkan lebih buruk dari aroma sari bunga kilalang yang kemarin diberikan Galuh.

 “Untuk mengobati serat Ruh yang terluka dalam? ooh.. jadi ini dosis yang lebih tinggi dari sari bunga kilalang,” baca Adhit sambil mengangguk mengerti.

“Sari bunga Kilalang, naah ini…” ucap Adhit senang karena mengenali ramuan ini. Kemudian ia membandingkan aromanya dengan sari bunga lembah pelangi, setelah itu ia kembali mengernyit sambil berteriak. “Bodoh!” Teriaknya penuh sesal.

Setelah itu, pandangan Adhit beralih pada botol berisi cairan kuning yang cukup unik. Saat tak sengaja tertimpa cahaya, cairan ini sekilas membiaskan pantulan cahaya indah dengan sangat mengejutkan. Saking terkesimanya, Adhit sampai terpana selama beberapa detik.

“Sari batu kuning?” baca Adhit dengan antusias. “Berasal dari batuan kuning yang hanya terdapat dalam bukit Ruh. Sangat langka karena selalu digagalkan oleh gangguan dari para Ruh saat masa penggalian. Pereda sakit karena kelelahan berjalan, memar, hingga mengembalikan patah tulang yang sangat parah,” baca Adhit sambil membolak balik botolnya karena merasa familiar.

 “Aah.. ini yang dipakai oleh para kucing perawat saat merawat saya kemarin!” teriak Adhit senang. Dengan cepat ia mengoleskan cairan tersebut pada punggung dan lututnya. Lalu dengan ajaib, seluruh sisa pegal saat membawa tas belanjaan yang bertumpuk tadi, hilang begitu saja. “Ini benar-benar hebat!” ucap Adhit sambil membolak balik botolnya dengan sangat senang.

“Dan yang terakhir, sari bunga binulus!” ucap Adhit sangat senang. Baru tadi pagi ia diterangkan tentang bunga berkelopak besar ini oleh Tuan Monyet Rahyata, kini ia mendapatkan sari patinya yang dikemas dengan begitu istimewa.

Adhit menatap isi dari botol sari bunga binulus dengan takjub. Cairan ini mempunyai dua warna yang silih berganti, kadang terlihat biru, namun saat digeser ke sisi yang lain, maka akan berubah menjadi hijau.

“Berasal dari getah bunga binulus. Bunga yang hanya menghasilkan oksigen, dan respirasi utamanya adalah karbon dioksida,” ucap seseorang dari luar kamar.

Adhit terkejut, saat menoleh ia mendapatkan sesosok Kaum Luhur muda berpakaian khas suku buhun, suku sunda kuno. Kelinci tersebut berbicara sambil menyender pada kusen pintu depan kamar dengan santai.

“Ah.. ada Kaum Luhur, waktunya tepat sekali! masuklah.. bila tidak keberatan, banyak sekali yang ingin saya tanyakan dengan semua barang ini,” ucap Adhit senang.

Dengan antusias, Kelinci muda tersebut masuk dan segera duduk disamping Adhit. Setelah itu, ia malah terkesima dengan semua barang yang berserakan di atas meja kamar Adhit.

“Anda telah mendapatkan semua barang-barang terbaik yang ada di gua ini, sungguh beruntung sekali!” Ucap kelinci muda tersebut terkejut sekaligus senang.

Lalu kelinci tersebut mengambil lima botol kristal ke dalam genggamannya, “anda harus membawa lima botol ini kemanapun anda pergi, ini sangat ampuh, namun sekaligus langka. Astamaya adalah tanah penuh kejutan, apapun bisa terjadi disini.” Lalu Adhit mengangguk-angguk mengerti.

“Ah iya, saya Adhit, Adhitya Putera,” ucap Adhit sambil mengulurkan tangannya. “Jinn..” ucap kelinci muda tersebut sama senangnya

“Jinn?” ucap Adhit lagi sedikit heran, kelinci muda tersebut malah terkekeh, “saya sudah mengira anda akan berekspresi seperti ini,” ucapnya lagi sambil tertawa.

“Nama saya yang sebenarnya adalah Tangguh Pratama, namun karena diantara pasukan muda Kaum Luhur, sayalah yang paling cepat, maka semua yang berada di gua ini menjuluki saya Jinn!” ucap Kelinci muda tersebut sambil memperagakan silat dengan sangat lincah, Adhit sendiri sampai terperangah karena Gerakan Jinn memang sangat lihai dan cepat.

“Melihat beberapa gerakan yang kamu tunjukan tadi, kamu memang pantas di juluki Jinn, kamu lincah dan sangat cepat!” ucap Adhit kagum sekaligus senang.

“Sebenarnya kedatangan saya kesini karena diminta menyerahkan ini oleh Nona Galuh,” ucap Jinn si Kelinci sambil memberikan secarik kertas.

“Tepat jam lima sore, kami tunggu di ruang pertemuan Aula atas,” baca Adhit pelan, “aah.. ternyata waktunya untuk bertemu dengan para Ajag,” pikir Adhit sambil mengangguk mengerti.

Mengingat Adhit diminta Tuan Monyet Rahyata mempelajari semua barang yang dibelikan olehnya, maka Jinn si kelinci memutuskan untuk tinggal sebentar, lalu menerangkan semua fungsi dari barang-barang tersebut hingga Adhit mengerti.

 Setelah semua barang selesai diterangkan, Adhit kembali memasukan semua barang pada tas kulit polos pemberian Kakek Addar. Namun mata Jinn si kelinci langsung membulat.

“Anda mendapatkan tas ini? hebat sekali!” ucap Jinn si kelinci hampir setengah berteriak. “Bukankah benda seperti ini sangat umum di Astamaya?” ucap Adhit heran. “Untuk yang satu ini? tidak!” ucap Jinn si kelinci menegaskan.

“Anda beruntung sekali mendapatkannya, ini adalah tas legendaris yang biasanya dibawa Tuan Addar saat ke istana, dipakai untuk membawa barang-barang hasil temuan Kaum Luhur,” ucap Jinn si kelinci sambil mengelus tas tersebut seakan barang yang amat sangat berharga.

Mendengar hal tersebut, Adhit langsung terkejut, “mengapa benda seberharga ini diberikan pada saya?” ucapnya heran. “Tuan Addar pasti mempunyai alasan yang tepat, mengapa tas ini sekarang ada di tangan anda,” ucap Jinn si kelinci bijak.

“Tas ini dulunya milik leluhur Tuan Addar yang diturunkan secara turun temurun. Tuan Addar telah meminta Kaum Luhur untuk membuat yang serupa seperti ini. Tetapi sampai saat ini, belum ada yang berhasil membuat replikanya. Beruntung sekali kini saya bisa melihatnya dari dekat, bahkan menyentuhnya,” ucap Jinn si kelinci lagi sambil membolak balik tas tersebut dengan takjub.

“Lihatlah ini!” ucap Jinn si kelinci sambil menarik tali tas tersebut. Dengan otomatis, tas tersebut melipat sendiri hingga setipis sabuk, bahkan ada kail penguncinya. “Ini hebat sekali! “ teriak Adhit sambil memasangkan tas tersebut sebagai sabuk, setelah itu Adhit terkesima bukan main.

Adhit kini mengerti bagaimana caranya barang-barang temuan Kaum Luhur bisa dibawa Kakek Addar ke istana tanpa mengundang perhatian apapun.

“Tunggu! milik leluhur Kakek Addar? Apakah milik Guru Candrakara?” tanya Adhit penasaran. “Saya kurang tahu pasti, tetapi yang saya dengar, ini adalah milik leluhur Tuan Addar, hanya itu.” Ucap Jinn si kelinci yakin. Adhit mengangguk-angguk mengerti, ia berencana nanti saat bertemu Galuh dan para Ajag, ia akan menanyakan ini bila bertemu Kakek Addar.

               Akhirnya setelah sore, Jinn si kelinci pamit karena ada janji yang harus ia tepati. Sedangkan Adhit, karena teringat bahwa sore ini ia juga ada janji dengan Galuh di ruang pertemuan, maka setelah Jinn si kelinci pergi, ia segera memasukan kembali semua barang yang dibelikan Tuan Monyet Rahyata kedalam tas kulitnya, lalu dengan segera, ia bergegas menuju ruang pertemuan.

Tak lama setelah sampai di ruang pertemuan, ia melihat Galuh sudah ada disana, namun ia tampak tengah bertengkar hebat entah dengan siapa.

 - Bersambung - Desya Saghir -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir