Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 10 - Teman yang Menyenangkan | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Begitu keluar
dari kendaraan terbang, Adhit terkejut. Matanya lalu menatap sekeliling dengan
tidak percaya. “Bagaiman bisa…ini…” setelah itu ia kehilangan kata-kata.
Adhit kini mendapati
dirinya berada di tengah-tengah lingkungan pertokoan tradisional lawas, namun terpoles
kecanggihan teknologi yang sangat luar biasa. Adhit terkesima saat mendapati papan-papan
reklame vintage dibubuhi hologram gaya sembilan puluhan memeriahkan suasana.
Adhit semakin terhenyak
saat melihat deretan barang di beberapa etalase. Ternyata ada juga barang
sehari-hari yang pernah ia gunakan. Namun disini, semua barang itu bekerja
dengan sangat ajaib! Dari mulai wadah bekal yang bisa memasak sendiri, agenda
kecil yang menjawab setiap pertanyaan yang dituliskan, hingga sapu yang bisa
mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga.
Kepala Adhit
mulai terasa berdenyut lagi. ia merasa terjebak dalam sesuatu yang tidak nyata,
dimana realitas dan khayalan menjadi saling terkait satu sama lain. Tuan Monyet
Rahyata sampai dibuat tertawa berulang kali, karena Adhit bereaksi seperti
bocah yang tersesat di negeri ajaib.
Namun begitu
semua barang yang dibutuhkan berhasil didapatkan, kini tampaklah Adhit yang terseok
kerepotan membawa kantong barang yang sangat bertumpuk. Sedangkan Tuan Monyet
Rahyata, dengan enaknya ia berbicara sambil melenggang sendirian di depan.
Setelah
kendaraan terbang milik Tuan Monyet Rahyata terlihat. Dengan secepat kilat Adhit
berlari mendahului, lalu segera masuk kedalam dan berteriak, “akhirnyaaa..!!!”
Tuan Monyet
Rahyata terkejut, “anda membawa semua kantong belanja itu sendirian? saya pikir
anda menggunakan tas yang diberikan Tuan Addar?” ucap Tuan Monyet Rahyata
heran.
Mendengar itu, Adhit
menoleh dengan terkejut juga. “Apa yang bisa dilakukan tas sekecil ini?” tanyanya
heran sambil memperlihatkan tas yang sedari tadi ia selempangkan. “Tas ini
hanya berukuran dua puluh lima centi kali tiga puluh centi, sedangkan semua
barang ini ada lima kantong besar,” lanjut Adhit lagi masih dengan nada heran.
“Sepertinya
kami lupa memberitahu anda,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menepuk keningnya
dengan keras. “Lihatlah ini..” lalu dengan energinya, Tuan Monyet Rahyata memasukan
semua barang yang baru mereka beli ke dalam tas tersebut. Anehnya, sekalipun
barang yang dimasukan sangat banyak, tas tersebut tidak menggembung sama
sekali.
“Ini luar biasa!
Tas ini seperti mempunyai ruang dimensi!” teriak Adhit dengan mata membulat
senang.
Kemudian Adhit
lagi mencoba sendiri dengan beberapa barang yang tersisa. Semua tas belanja
telah habis, tetapi tas pemberian Kakek Addar masih belum menggembung juga. Tuan
Monyet Rahyata sampai tertawa lagi melihat reaksi Adhit, ia benar-benar seperti
bocah baru mendapatkan atraksi sulap.
Dalam perjalanan
pulang, dari atas Adhit memandangi takjub para Kaum Luhur yang tengah beraktifitas.
Tata kota yang tertata dengan serasi, pengairan
setiap rumah dengan teratur dan mumpuni, penduduk dengan toleransi tinggi, ditambah
taman-taman kecil disetiap pelosok membuat Adhit semakin tidak mempercayai
matanya sendiri.
“Enaknya menjadi bagian
dari Kaum Astamaya, semua bisa dilakukan dengan mudah. Hanya dengan menggunakan
energinya, selesailah semua.” Ucap Adhit memperagakan gerakan bagaimana Kaum
Luhur dalam mengeluarkan energinya, setelah itu ia berekspresi dengan takjub.
Mendengar hal
tersebut, Tuan Monyet Rahyata tersenyum lalu berkata, “kadang, apa yang
terlihat, tidak seperti yang terlihat anak muda.” Ucap Tuan Monyet Rahyata, sambil
mendaratkan kendaraan terbangnya karena sudah sampai.
Ketika hendak
bertanya lagi, Tuan Monyet Rahyata malah berkata, “ungkapan yang baru saya
ucapkan adalah PR pertama Anda. Sekarang beristirahatlah dulu, besok kita
bertemu di ruang pertemuan Aula atas.” Ucap Tuan Monyet Rahyata bijak.
Mereka berpisah
di lorong Aula atas. Tuan Monyet Rahyata menuju Kakek Addar di ruang pertemuan,
sedangkan Adhit kembali ke kamarnya, untuk mempelajari semua barang yang telah
dibeli tadi.
Di kamar, Adhit
dahulukan dulu mencari sesuatu yang bisa membantunya menemukan jawaban, dari PR
yang diberikan Tuan Monyet Rahyata.
“Aah..!” ucap
Adhit saat menemukan buku agenda kecil dari salah satu kantong belanja. Ia
memang sangat tertarik saat agenda tersebut diperagakan di etalase toko. Dengan
tidak sabar, Adhit segera mempraktekan apa yang diajarkan penjual tadi.
“Berikan saya
sejarah Kaum Astamaya” tulis Adhit pada agenda kecilnya. Benar saja, setelah
itu muncul tulisan balasan.
“Apa anda ingin sejarah lengkap atau hanya
beberapa cuplikan saja Tuan?” jawab buku tersebut dengan bentuk tulisan juga.
Adhit merasa sangat senang, ia seperti mendapatkan satu perpustakaan besar tentang
Astamaya seukuran genggaman tangan.
“Cuplikannya
saja,” tulis Adhit singkat. Setelah itu turun beberapa tabel yang dengan judul;
Kaum Astamaya, Kaum Luhur, Kaum lima wilayah, Pembagian Astamaya perwilayah,
dan banyak lagi.
“Banyak sekali!
ini cangkupannya terlalu besar!” ucap Adhit dengan kaget, ia tidak menyangka
bahwa cuplikannya akan sebanyak ini.
Lalu Adhit menulis
lagi. “Terangkan saja penjabaran tentang energi anti gravitasi milik para Kaum
yang tinggal di Astamaya.” Setelah itu turunlah beberapa detail keterangan,
dari mana energi mereka berasal, resiko apa saja bila energi tersebut digunakan
secara berlebihan.
“Ternyata para Kaum
Astamaya memiliki energi listrik tubuh yang lebih besar dari Kaum Manusia, dan
energi tersebut dikendalikan sepenuhnya oleh otak mereka. Semakin kompleks
pengendalian yang dihasilkan struktur otak mereka, maka semakin kompleks pula tingkatan
pengendalian dan jenis energi yang bisa mereka hasilkan,” baca Adhit dengan
takjub.
“Namun, bila
energi tersebut dipaksa keluar melebihi kapasitas, maka akan mengakibatkan
kematian. Penyebab utama adalah, kerusakan total pada otak mereka karena
terlalu dipaksa,” ucap Adhit terkejut. Ia kini mengerti mengapa Tuan Monyet Rahyata
mengatakan, “kadang, apa yang terlihat, tidak seperti yang terlihat.”
Setelah merasa PR
nya selesai, Adhit baru membuka kantong belanja lain. Di kantong pertama, Adhit
mendapatkan beberapa helai pakaian pria sunda kuno dengan tambahan sentuhan khas
Astamaya. Baju luaran saat udara dingin, Adhit ingat baju luaran ini, persis
yang dikenakan luaran baju Kaum Luhur saat ia bertemu dengan para sesepuh Kaum
Luhur diruang tertemuan.
Ikat kepala
khas suku sunda yang senada dengan pakaiannya sendiri. Sambil memakai salah
satu ikat kepala, Adhit membuka kantong belanja selanjutnya.
Kini ia menemukan
lima kantong kain serut berwarna warni dengan motif batik Cirebon yang beragam.
Adhit terkesima karena isinya tidak kalah menarik.
Ada lima botol
kristal yang terpahat begitu indah. Setiap botol kristal, dihiasi lilitan dari tatahan
ukiran batik logam bersepuh emas yang dibuat dengan sangat teliti. Adhit kemudian
mengambil salah satu botol untuk dipelajari.
Botol pertama,
memiliki isi berupa cairan berwarna merah gelap, hampir seperti minuman anggur
beralkohol. Namun saat hendak dihirup, ia malah menemukan tulisan besar yang
tertera pada label botol, “JANGAN DIHIRUP KECUALI SAAT DIBUTUHKAN!” secara
refleks Adhit tidak jadi membuka tutupnya.
Lalu ia membaca
lagi, “sari jelaga pohon pemakan daging! Apa ini! menjijikan!” teriaknya sambil
melotot. Tetapi, karena teringat Tuan Monyet Rahyata berkeras agar ia
mempelajari semua barang yang dibelikan olehnya. Maka dengan terpaksa, Adhit mengambil
kembali botol tersebut.
“Efeknya mampu
membuat halusinasi kuat bagi yang menghirupnya, digunakan saat terkena racun Ruh
yang sangat kuat, disertai rasa sakit yang tidak tertahankan.” Baca Adhit
sambil mengangguk-angguk. Lalu Adhit membaca tulisan kecil yang terletak
dibawahnya.
“Ramuan ini mampu
menghasilkan halusinasi yang sangat baik, persis seperti kinerja pohon pemakan
daging, ia akan membuat korbannya berhalusinasi sehingga mudah digiring menuju
pohon tersebut untuk dimakan, apa!!!” baca Adhit sambil mengernyit, setelah itu
ia mengangguk–angguk mengerti.
Adhit mengambil
botol selanjutnya. “Sari bunga lembah Pelangi,” baca Adhit sambil memeriksa
apakah ada tulisan peringatan lagi.
“Hmm.. sepertinya
aman” ucap Adhit lebih tenang. Adhit menatap botol yang berisi cairan pastel
bening tersebut dengan takjub. Karena bila botolnya dimiringkan sedikit, maka akan
menimbulkan kerlip warna-warna pastel berkilauan.
“Penawar racun
terbaik, berasal dari racikan bunga–bunga langka yang berasal dari lembah Pelangi?
hmm.. nama tempat yang unik,” ucap Adhit sambil membuka tutupnya, lalu mencium
aromanya.
“Uugh..!” ucap
Adhit sambil segera menutup kembali tutupnya. Ia benar-benar merasa tertipu dengan
penampilannya yang begitu manis dan memanjakan mata. Ternyata, ramuan ini
memiliki aroma yang sangat buruk! bahkan lebih buruk dari aroma sari bunga
kilalang yang kemarin diberikan Galuh.
“Untuk mengobati serat Ruh yang terluka dalam?
ooh.. jadi ini dosis yang lebih tinggi dari sari bunga kilalang,” baca Adhit sambil
mengangguk mengerti.
“Sari bunga
Kilalang, naah ini…” ucap Adhit senang karena mengenali ramuan ini. Kemudian ia
membandingkan aromanya dengan sari bunga lembah pelangi, setelah itu ia kembali
mengernyit sambil berteriak. “Bodoh!” Teriaknya penuh sesal.
Setelah itu, pandangan
Adhit beralih pada botol berisi cairan kuning yang cukup unik. Saat tak sengaja
tertimpa cahaya, cairan ini sekilas membiaskan pantulan cahaya indah dengan
sangat mengejutkan. Saking terkesimanya, Adhit sampai terpana selama beberapa
detik.
“Sari batu kuning?”
baca Adhit dengan antusias. “Berasal dari batuan kuning yang hanya terdapat dalam
bukit Ruh. Sangat langka karena selalu digagalkan oleh gangguan dari para Ruh
saat masa penggalian. Pereda sakit karena kelelahan berjalan, memar, hingga
mengembalikan patah tulang yang sangat parah,” baca Adhit sambil membolak balik
botolnya karena merasa familiar.
“Aah.. ini yang dipakai oleh para kucing
perawat saat merawat saya kemarin!” teriak Adhit senang. Dengan cepat ia
mengoleskan cairan tersebut pada punggung dan lututnya. Lalu dengan ajaib,
seluruh sisa pegal saat membawa tas belanjaan yang bertumpuk tadi, hilang
begitu saja. “Ini benar-benar hebat!” ucap Adhit sambil membolak balik botolnya
dengan sangat senang.
“Dan yang terakhir,
sari bunga binulus!” ucap Adhit sangat senang. Baru tadi pagi ia diterangkan
tentang bunga berkelopak besar ini oleh Tuan Monyet Rahyata, kini ia
mendapatkan sari patinya yang dikemas dengan begitu istimewa.
Adhit menatap isi dari
botol sari bunga binulus dengan takjub. Cairan ini mempunyai dua warna yang
silih berganti, kadang terlihat biru, namun saat digeser ke sisi yang lain,
maka akan berubah menjadi hijau.
“Berasal dari
getah bunga binulus. Bunga yang hanya menghasilkan oksigen, dan respirasi
utamanya adalah karbon dioksida,” ucap seseorang dari luar kamar.
Adhit terkejut,
saat menoleh ia mendapatkan sesosok Kaum Luhur muda berpakaian khas suku buhun,
suku sunda kuno. Kelinci tersebut berbicara sambil menyender pada kusen pintu
depan kamar dengan santai.
“Ah.. ada Kaum
Luhur, waktunya tepat sekali! masuklah.. bila tidak keberatan, banyak sekali
yang ingin saya tanyakan dengan semua barang ini,” ucap Adhit senang.
Dengan antusias, Kelinci
muda tersebut masuk dan segera duduk disamping Adhit. Setelah itu, ia malah
terkesima dengan semua barang yang berserakan di atas meja kamar Adhit.
“Anda telah mendapatkan
semua barang-barang terbaik yang ada di gua ini, sungguh beruntung sekali!” Ucap
kelinci muda tersebut terkejut sekaligus senang.
Lalu kelinci tersebut mengambil lima
botol kristal ke dalam genggamannya, “anda harus membawa lima botol ini
kemanapun anda pergi, ini sangat ampuh, namun sekaligus langka. Astamaya adalah
tanah penuh kejutan, apapun bisa terjadi disini.” Lalu Adhit mengangguk-angguk
mengerti.
“Ah iya, saya
Adhit, Adhitya Putera,” ucap Adhit sambil mengulurkan tangannya. “Jinn..” ucap
kelinci muda tersebut sama senangnya
“Jinn?” ucap Adhit
lagi sedikit heran, kelinci muda tersebut malah terkekeh, “saya sudah mengira
anda akan berekspresi seperti ini,” ucapnya lagi sambil tertawa.
“Nama saya yang
sebenarnya adalah Tangguh Pratama, namun karena diantara pasukan muda Kaum Luhur,
sayalah yang paling cepat, maka semua yang berada di gua ini menjuluki saya
Jinn!” ucap Kelinci muda tersebut sambil memperagakan silat dengan sangat
lincah, Adhit sendiri sampai terperangah karena Gerakan Jinn memang sangat
lihai dan cepat.
“Melihat beberapa gerakan
yang kamu tunjukan tadi, kamu memang pantas di juluki Jinn, kamu lincah dan sangat
cepat!” ucap Adhit kagum sekaligus senang.
“Sebenarnya
kedatangan saya kesini karena diminta menyerahkan ini oleh Nona Galuh,” ucap
Jinn si Kelinci sambil memberikan secarik kertas.
“Tepat jam lima
sore, kami tunggu di ruang pertemuan Aula atas,” baca Adhit pelan, “aah..
ternyata waktunya untuk bertemu dengan para Ajag,” pikir Adhit sambil mengangguk
mengerti.
Mengingat Adhit
diminta Tuan Monyet Rahyata mempelajari semua barang yang dibelikan olehnya,
maka Jinn si kelinci memutuskan untuk tinggal sebentar, lalu menerangkan semua
fungsi dari barang-barang tersebut hingga Adhit mengerti.
Setelah semua barang selesai diterangkan, Adhit
kembali memasukan semua barang pada tas kulit polos pemberian Kakek Addar.
Namun mata Jinn si kelinci langsung membulat.
“Anda mendapatkan
tas ini? hebat sekali!” ucap Jinn si kelinci hampir setengah berteriak. “Bukankah
benda seperti ini sangat umum di Astamaya?” ucap Adhit heran. “Untuk yang satu
ini? tidak!” ucap Jinn si kelinci menegaskan.
“Anda beruntung
sekali mendapatkannya, ini adalah tas legendaris yang biasanya dibawa Tuan
Addar saat ke istana, dipakai untuk membawa barang-barang hasil temuan Kaum
Luhur,” ucap Jinn si kelinci sambil mengelus tas tersebut seakan barang yang amat
sangat berharga.
Mendengar hal
tersebut, Adhit langsung terkejut, “mengapa benda seberharga ini diberikan pada
saya?” ucapnya heran. “Tuan Addar pasti mempunyai alasan yang tepat, mengapa
tas ini sekarang ada di tangan anda,” ucap Jinn si kelinci bijak.
“Tas ini dulunya
milik leluhur Tuan Addar yang diturunkan secara turun temurun. Tuan Addar telah
meminta Kaum Luhur untuk membuat yang serupa seperti ini. Tetapi sampai saat
ini, belum ada yang berhasil membuat replikanya. Beruntung sekali kini saya
bisa melihatnya dari dekat, bahkan menyentuhnya,” ucap Jinn si kelinci lagi
sambil membolak balik tas tersebut dengan takjub.
“Lihatlah ini!” ucap
Jinn si kelinci sambil menarik tali tas tersebut. Dengan otomatis, tas tersebut
melipat sendiri hingga setipis sabuk, bahkan ada kail penguncinya. “Ini hebat
sekali! “ teriak Adhit sambil memasangkan tas tersebut sebagai sabuk, setelah
itu Adhit terkesima bukan main.
Adhit kini
mengerti bagaimana caranya barang-barang temuan Kaum Luhur bisa dibawa Kakek
Addar ke istana tanpa mengundang perhatian apapun.
“Tunggu! milik
leluhur Kakek Addar? Apakah milik Guru Candrakara?” tanya Adhit penasaran. “Saya
kurang tahu pasti, tetapi yang saya dengar, ini adalah milik leluhur Tuan
Addar, hanya itu.” Ucap Jinn si kelinci yakin. Adhit mengangguk-angguk
mengerti, ia berencana nanti saat bertemu Galuh dan para Ajag, ia akan menanyakan
ini bila bertemu Kakek Addar.
Akhirnya setelah sore, Jinn si kelinci pamit
karena ada janji yang harus ia tepati. Sedangkan Adhit, karena teringat bahwa sore
ini ia juga ada janji dengan Galuh di ruang pertemuan, maka setelah Jinn si kelinci
pergi, ia segera memasukan kembali semua barang yang dibelikan Tuan Monyet
Rahyata kedalam tas kulitnya, lalu dengan segera, ia bergegas menuju ruang
pertemuan.
Tak lama setelah
sampai di ruang pertemuan, ia melihat Galuh sudah ada disana, namun ia tampak tengah
bertengkar hebat entah dengan siapa.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar