Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 8 - Dia yang tertulis dalam kitab kuno.| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat keluar dari ruang pertemuan, saya dan Tuan Addar merasa pernah melihat kalung anda saat cakramnya terbuka.” Jelas Tuan Monyet Rahyata, sambil menatap kalung yang dipakai Adhit. “Namun, saat itu kami masih belum ingat dimana kami pernah melihatnya.” Ucap Tuan Monyet Rahyata lagi dengan tatapan yang kembali pada Adhit.
Mendengar hal tersebut, Adhit kembali teringat kejadian di ruang pertemuan pagi tadi. Ia memang menangkap ekspresi kaget dari Kakek Addar, namun karena samar, maka Adhit merasa bahwa ia hanya salah kira. Adhit mengangkat bandul kalung yang ia tengah pakai kedalam genggamannya, lalu memperhatikan detail bandul kalung tersebut dengan lebih seksama.
"Setelah lama mencari, ternyata saya malah menemukan informasi kalung ini dalam salinan Kitab Candrakara. Ada pada salah satu paragraf yang dulu berhasil diterjemahkan sedikit oleh ayah dari Tuan Addar dan para sesepuh Kaum Luhur,” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menunjukan perkamen tua yang sedari tadi ia pegang erat.
“Salinan Kitab ramalan Guru Candrakara? Bukankah Kitab tersebut yang meramalkan masa depan Galuh? Lalu, apa hubungannya dengan saya?” Ucap Adhit terkejut. Ia lalu memandang isi dari perkamen tua yang diperlihatkan Tuan Monyet Rahyata, yang setelah itu Adhit malah dibuat terkesima.
Lembaran tua ini bukan hanya berupa salinan perkamen usang biasa. Selain dipenuhi banyak coretan dari beberapa tulisan tangan berbeda yang muncul silih berganti, ia juga akan memunculkan pop up sketsa dan catatan kaki bila salah satu coretan tangan tersebut disentuh. Menandakan bahwa perkamen ini sudah ditelusuri oleh banyak orang.
“Saya rasa, anda adalah salah satu pemilik elemen, yaitu seseorang yang diwariskan elemen Hyang Sawarga setelah Nona Galuh.” Ucapan Tuan Monyet Rahyata membuat Adhit terkejut seketika.
“Itu tidak mungkin Tuan, saya hanya Manusia biasa. Buktinya, saya tidak bisa menyelamatkan Kawan-kawan satu band saya saat ditelan Dwasa Si Mahluk Asap!” Ucap Adhit tidak percaya. “Sebaiknya kita bicarakan ini dengan Tuan Addar,” ucap Tuan Monyet Rahyata agar Adhit lebih tenang.
“Lalu, apa maksudnya tentang kitab yang berhasil diterjemahkan Tuan Rahyata? Bukankah isinya menggunakan bahasa sunda biasa?” tanya Adhit lagi sambil membuka beberapa pop up lagi dari perkamen tersebut.
“Kitab Candrakara, dituliskan dengan berbagai istilah kuno dan kode-kode dalam istilah penulisan yang amat sangat sulit. Membuat kami para Kaum Luhur yang membantu ayah dari Tuan Addar, harus membuka kembali beberapa kitab tua dan literatur kuno.” Ucap Tuan Monyet Rahyata serius.
Adhit lalu memandang kembali pada salinan kitab tersebut. “Ahh.. tentu saja, bila Kitab Candrakara sampai tercuri oleh Kaum Hitam, maka Kaum Putih mempunyai waktu untuk merebutnya kembali.” tebak Adhit sambil mengangguk-angguk.
“Tepat sekali!” ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menoleh terkejut, lalu berpikir, Adhit mungkin tidak mempunyai kekuatan yang dimiliki Kaum Astamaya, tetapi ia bisa menebak alur pemikiran Guru Candrakara dengan akurat! “Bila anak muda ini bagian dari rencananya, Guru Candrakara memang benar-benar jenius!” pikir Tuan Monyet Rahyata semakin yakin.
“Ikutlah dengan saya untuk kembali ke ruang pertemuan Aula atas. Kita harus segera bertemu dengan Tuan Addar, banyak sekali yang harus kita ketahui anak muda..” ucap Tuan Monyet Rahyata yang diangguki Adhit dengan kepala yang mulai diliputi berjuta pertanyaan.
Sambil menunggu lift mereka turun menjemput, mereka bertemu beberapa Kaum Luhur yang ikut menunggu Lift juga. Adhit terkesima bagaimana Kaum Luhur saling menyapa dan berinteraksi, mereka begitu sopan dan terpelajar.
Kain batik khas jawa barat yang digunakan para Kaum Luhur juga sangat beragam, ada batik mega mendungnya khas Cirebon, batik merak ngibingnya khas Tasikmalaya, ada juga yang memakai batik Ganasan khas Subang dengan warna yang begitu elegan. Mereka menjadikan batik tersebut sebagai luaran baju pangsi khas jawa barat. Namun tidak hanya itu, mereka juga menggunakan batik senada untuk ikat khas jawa barat di kepala. Sehingga menampilkan kharisma dari keserasian visual dan kultural yang begitu kuat.
Pandangan Adhit kembali pada Tuan Monyet Rahyata yang masih membuka lembaran perkamen terjemahan tersebut dengan serius. Ia adalah Kaum Luhur yang membuat Adhit cukup kagum.
Tuan Monyet Rahyata adalah sosok Kaum Luhur dengan wibawa penuh. Ditambah batu akik yang bertengger pada ikat polos kepala khas sunda miliknya, lalu kain jubah polos menjuntai yang menjadi luaran pangsinya, disertai tongkat kayu berukir antik dengan hiasan beberapa batu akik berukuran besar, membuat ia tampak seperti pertapa bijak yang berkharisma sangat kuat.
Setelah itu, akhirnya dua lift turun. Para Kaum Luhur lain memilih Lift satu lagi karena mereka tahu bahwa Tuan Monyet Rahyata hendak membahas sesuatu yang penting dengan Adhit.
“Bila menurut Tuan Addar semua teori yang saya katakan benar, berarti waktunya memang telah tiba,” ucap Tuan Monyet Rahyata saat sudah berada dalam lift dengan pintu yang sudah terutup. Ucapan Tuan Monyet Rahyata yang tiba-tiba, membuat Adhit sontak menoleh dengan raut penuh tanya.
“Maksudnya tentang kata telah tiba itu, apa ya Tuan Rahyata?” tanya Adhit penasaran.
“Akan terjadi sebuah perang besar yang akan menentukan nasib kita semua, nasib Kaum Astamaya dan Kaum Manusia,” jelas Tuan Monyet Rahyata lagi yang kini ditanggapi Adhit dengan wajah lebih serius.
“Perang besar?” ucap Adhit yang lalu berpikir sebentar. “Lalu apa yang membuat anda yakin perwakilan dari Kaum Manusia adalah saya? jangankan ikut bertarung dengan anda semua, menyelamatkan teman-teman saya dari lahapan Dwasa si mahluk asap saja, saya tidak mampu.” Ucap Adhit yang kini berganti heran.
“Banyak sekali anak muda. Selain kalung yang anda pakai, hal yang membuat saya yakin adalah hubungan anda dengan para Ajag,” ucap Tuan Monyet Rahyata yakin.
“Para Ajag adalah pembangkang, yang selalu berbicara dengan sindiran-sindiran pedas lagi jahat. Tetapi pagi tadi berbeda, anda dengan tanpa bersusah payah apapun, para Ajag malah memuji anda dengan sangat suka rela, terutama NaRaja.” Ucapan Tuan Monyet Rahyata kini membuat Adhit semakin bertanya-tanya.
“NaRaja adalah sosok pemimpin yang sangat pelit berbicara. Namun sekalinya berbicara, ia hanya akan mengeluarkan perkataan tidak sopan dan sangat menyinggung perasaan.” Jelas Tuan Monyat Rahyata, yang kini membuat Adhit semakin bertanya-tanya apa hubungan semua ini dengan dirinya.
Melihat ekspresi tersebut, Tuan Monyet Rahyata segera membuka beberapa lembar dari perkamen tersebut, lalu berhenti pada satu lembar halaman. “Nah ini dia.. “ ucap Tuan Monyet Rahyata sambil menunjuk, pada sebuah halaman perkamen terjemahan yang dipenuhi coretan tangan lebih banyak.
Adhit terkejut saat melihat hal yang ditunjuk oleh Tuan Monyet Rahyata. Ternyata benar, semua ciri–ciri yang tertulis tentang Kaum Manusia, benar–benar seperti dirinya. Selain tokoh yang digambarkan menggunakan kalung yang ia kenakan saat cakramnya terbuka, disana juga diceritakan bahwa pemilik elemen api adalah bagian yang disambut kawanan para Ajag.
“Guru Candrakara, selain sangat cerdas dan akurat, ia adalah seorang yang paling dihormati sekaligus ditakuti pada masanya. Ia pasti mempunyai sebuah alasan tepat, mengapa ada seorang anak Manusia kelak ikut bertarung bersama kami.” Ucap Tuan Monyet Rahyata bijak.
“Aah.. kita sudah sampai,” ucap Tuan Monyet Rahyata lagi sambil berjalan keluar dari lift, lalu menunggu Adhit, agar mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang pertemuan Aula atas.
Adhit benar-benar terkesima saat Tuan Monyet Rahyata meminta ijin masuk pada pintu besar di ruang pertemuan. Tata krama para Kaum Luhur, selain terpelajar, mereka sangat ramah dan begitu sopan.
Setelah Kakek Addar mendengarkan semua yang diberi tahu oleh Tuan Monyet Rahyata, ia kini memandangi kalung yang dipakai Adhit sambil tertegun.
“Kini mulai masuk akal, mengapa Kakek Buyutmu Sura Suradana, bisa dengan mudah memasuki wilayah Astamaya, bahkan memperbaiki letak batu segel gua ini tanpa kendala apapun,” ucap Kakek Addar tiba-tiba.
“Ternyata, kedua segel ini mengenalinya sebagai pembawa energi dari pemilik elemen. bagaimana bisa hal sepenting ini bisa terlewat begitu saja dari pemikiran saya!” Sesal kakek Addar lagi seakan berbicara dengan dirinya sendiri. Sontak hal tersebut membuat Tuan Monyet Rahyata memandang Kakek Addar dengan penuh pertanyaan.
“Maksud anda.. segel gua ini adalah energi yang sama dengan yang ada ditubuh para pemilik elemen dan yang melingkupi wilayah Astamaya? sama-sama berasal dari sari pati Batu Hyang Sawarga juga?” tanya Tuan Monyet Rahyata memastikan.
“Benar sekali Tuan Rahyata” ucap Kakek Addar sambil mengangguk mengiyakan.
“Dalam penerawangannya, sebelum Guru Candrakara melihat Kaum Hitam menguasai Kaum Astamaya dan dunia Manusia, sebenarnya.. Guru Candrakara terlebih dahulu melihat para Kaum Hitam berhasil menguasai tempat tinggal Kaum Luhur, yaitu pulau Bagjarupa.” Sontak ucapan Kakek Addar membuat Tuan Monyet Rahyata langsung terkejut.
“Mendapati hal tersebut, dengan segera Guru Candrakara membuat gua perlindungan untuk Kaum Luhur terlebih dahulu.” Ucap Kakek Addar, sambil mengeluarkan energinya dalam memperlihatkan gambaran kejadian saat itu pada Adhit dan Tuan Monyet Rahyata.
“Setelah segel gua selesai dibuat, Guru Candrakara mengambil lagi sedikit sari pati batu tersebut, untuk di letakan pada lima orang yang kelak akan turun para pemilik elemen. Setelah itu, barulah ia sembunyikan Batu Hyang Sawarga di lima tempat berbeda.” Jelas Kakek Addar yang membuat Tuan Monyet Rahyata semakin terkejut.
“Maafkan saya Tuan Rahyata, Guru Candrakara berpesan kepada keturunannya, agar rahasia tersebut hanya dipegang secara turun temurun hingga pemilik elemen api diketahui. Ia sangat khawatir, karena beberapa hal kecil saja, bisa merubah rencananya dalam membelokan ramalan,” ucap Kakek Addar hati-hati.
“Dalam penerawangan Guru Candrakara, salah satu penyebab Tanah Astamaya dan seisinya jatuh pada Kaum Hitam adalah, ketika mereka berhasil meluluh lantahkan Pulau Bagjarupa, lalu mengendalikan para Kaum Luhur.” Ucapan Kakek Addar membuat raut wajah Tuan Monyet Rahyata seketika berubah.
“Kaum Luhur dikendalikan? tidak mungkin kami akan membantu para Kaum Hitam, anda tahu sendiri, kejahatan dan keserakahan tidak ada dalam tabiat kami para Kaum Luhur.” Ucap Tuan Monyet Rahyata tidak mengerti.
“Kami tahu itu Tuan Rahyata. Namun Guru Candrakara melihat, bahwa ada seseorang dari Kaum Hitam yang mampu mengendalikan Kaum Luhur. Saat menerima perintah, tubuh kalian memang bergerak, namun mata kalian begitu kosong.” Ucapan Kakek Addar, akhirnya membuat Tuan Monyet Rahyata mengerti sekaligus merasa lega, karena Kaum Luhur bukan membelot, melainkan dikendalikan tanpa sadar.
“Sekali lagi, maafkan saya Tuan Rahyata” ucap Kakek Addar tidak enak hati.
“Bila itu alasannya, tentu Kaum Luhur akan sangat mengerti Tuan Addar. Kami sudah di selamatkan saat penyerangan di Pulau Bagjarupa saat itu saja sudah sangat berterimakasih, apalagi bila mereka semua mendengar tentang hal ini Tuan Addar,” ucap Tuan Monyet Rahyata dengan nada penuh terimakasih.
“Semua terencana begitu kompleks, pemikiran Guru Candrakara benar-benar sangat gila!” ucap Adhit tidak percaya.
“Namun ada yang tidak saya mengerti disini, mengapa Batu Hyang Sawarga harus disembunyikan dahulu, mengingat ia memiliki energi yang sangat luar biasa, bukankah akan lebih baik bila energinya langsung dimanfaatkan saja untuk melawan para Kaum Hitam?” tanya Adhit kembali heran.
“Dalam penerawangannya, Guru Candrakara sudah berkali-kali mencoba mencari cara untuk memanfaatkan energi Batu Hyang Sawarga, namun hasilnya selalu sama. Setiap batu Hyang Sawarga digunakan, kerusakan yang ditimbulkan justru lebih besar dari manfaatnya sendiri,” jelas Kakek Addar dengan sedih.
“Maka setelah Guru Candrakara berdiskusi alot dengan Raja dan para Tetua Putih di masa itu, akhirnya mereka sepakat. Demi kebaikan kita semua, Batu Hyang Sawarga memang sebaiknya harus lenyap. ”ucap Kakek Addar lagi yang disambut anggukan mengerti dari Adhit.
“Lalu mengapa Batu Hyang Sawarga tidak langsung dihancurkan saat itu? karena sebelumnya, segel untuk ruang Batu Hyang Sawarga hanya dirancang untuk melindungi dari usaha Kaum Hitam dalam mencurinya, bukan untuk menahan ledakan energi dari Batu Hyang Sawarga saat dihancurkan.” Jelas Kakek Addar yang membuat Adhit mengangguk-angguk mengerti.
“Sayangnya, saat segel ruang penyimpanan Batu Hyang Sawarga selesai, Guru Candrakara malah tewas terbunuh oleh salah satu petinggi Kaum Hitam di masa itu. Kini satu-satunya petunjuk kita dalam menemukan Batu Hyang Sawarga hanya dari Kitab Candrakara,” lanjut Kakek Addar dengan sedih.
“Melihat dari rumitnya rencana pembelokan ramalan yang direncanakan Guru Candrakara, lalu informasi umum bahwa Kitab Candrakara hanya berisi ramalan akan datangnya sebuah perang besar, apakah kematiannya adalah bagian dari rencananya juga?” tanya Adhit semakin ingin tahu.
Kakek Addar sedikit terkejut, “hmm.. Itu mungkin saja anak muda,” ucap Kakek Addar sambil mengelus janggut panjangnya yang hampir menyentuh dada.
“Guru Candrakara terkenal dengan pemikirannya yang rumit dan akurat. Bisa jadi kematiannya adalah kelalaian kami dalam menjaga beliau, atau mungkin, ini berupa pembelokan opini tentang maksud dari dibuatnya Kitab Candrakara.” jawab Kakek Addar dengan kening yang berkerut.
“Apa yang membuatmu perpikir demikian anak muda?” tanya Kakek Addar seakan mendapatkan sebuah opsi baru.
“Saya melihat semua yang diceritakan oleh anda seperti sebuah sekenario kedalam satu arah. Dimulai ketika Guru Candrakara membuat segel ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga, segel gua ini dan elemen yang dimasukan kedalam tubuh kami, sama persis dengan segel yang melingkupi sekitar wilayah Astamaya yang dibuat leluhur Astamaya sebelumnya, yaitu sari pati batu Hyang Sawarga.” Jelas Adhit dengan antusias.
“Saya pikir, ia menggunakan cara ini agar Galuh kecil bisa menembus segel ruang perlindungan Batu Hyang Sawarga di Istana, dan kakek buyut saya yaitu Sura Suradana, bisa masuk menembus segel Astamaya dengan mudah, lalu memperbaiki salah satu letak batu yang menjadi segel gua ini. Bila memang benar bahwa kematian Guru Candrakara adalah bagian dari rencananya juga, agar semua mengira bahwa Kitab Candrakara hanya berisi tentang ramalan saja, maka ia memang seorang jenius gila.” Ucap Adhit dengan nada yang bergetar takjub.
Kakek Addar terkesiap mendengar penuturan Adhit. “Sangat masuk akan anak muda.. sangat masuk akal..” ucap Kakek Addar seakan mendapat pencerahan. Selama ini, ia memang sering dibuat bingung dari alur pemikiran Guru Candrakara dalam memberikan petunjuk turun temurun yang hanya sepotong-sepotong saja.
Kini Kakek Addar mengerti, mengapa Guru Candrakara menyertakan seorang manusia dalam perjalanan mencari Batu Hyang Sawarga. Ia memang tidak memiliki energi seperti Kaum Astamaya, namun anak Manusia di hadapannya benar-benar sangat cerdas, dan bisa membaca alur pemikiran Guru Candrakara dengan cukup akurat.
Adhit sendiri, kini ia malah sangat penasaran dengan sosok Guru Candrakara. Sosok yang membuat nada Kakek Addar dan Tuan Monyet Rahyata bergetar saat menyebutkan namanya, sosok yang membuat dia sendiri selalu dibuat terkejut dan terkagum-kagum dengan segala alur rencana gilanya.
“Hhh.. Sepertinya kita sudah tidak punya banyak waktu lagi,” ucap Kakek Addar sambil menghela napas berat.
“Lakukan apa saja yang bisa anda persiapkan Tuan Rahyata, saya sendiri akan mempersiapkan agar Galuh dan Adhit juga siap ketika saatnya tiba,” ucap Kakek Addar yang segera di angguki Tuan Monyet Rahyata.
“Kitab Candrakara adalah satu-satunya petunjuk kita, tetapi kitab ini belum selesai diterjemahkan. Lalu, ditambah pemilik elemen lain yang belum diketahui keberadaanya sama sekali, ini benar-benar membuat saya sangat khawatir dengan berjalannya ramalan ini.” Ucap kakek Addar lagi sambil mengusap keningnya dengan gelisah.
“Kami tidak mengira bahwa kedatangan anda akan secepat ini Adhitya, “ujar Tuan Monyet Rahyata dengan nada sedikit gelisah. “Bila kami tahu, tentu hari-hari kemarin akan kami pakai untuk mendidik para Ajag melalui Galuh lebih keras. Karakter para Ajag selalu membuat kami cemas, terutama NaRaja, membuat saya sangsi akan mulusnya jalan dalam menapaki ramalan Guru Candrakara,” sambung Tuan Monyet Rahyata lagi, yang kali ini dengan nada penuh sesal.
“Benar sekali, untuk sementara, rahasiakan dahulu pembicaraan hari ini dari Galuh. Kita harus bergerak secara halus, agar para Ajag tidak menyadarinya bahwa sedang dijejali pengetahuan tentang kebaikan. Waktu kita sudah sangat sedikit.” Ucap Kakek Addar penuh harap, Adhit lalu mengangguk-angguk mengerti.
“Ah iya.. bawalah ini, kelak sangat berguna saat kalian keluar dari gua ini,” ucap Kakek Addar lagi sambil meletakan beberapa barang pada sebuah tas kulit polos, lalu menyerahkannya pada Adhit.
Adhit meraba tas tersebut dengan terkagum, tas ini memiliki permukaan kulit polos dengan tekstur coklat tua yang sangat klasik. Jahitannya manual, tetapi sangat rapi, menjadikan tas kulit ini seakan menonjolkan sebuah karakter sederhana, namun megitu mengakar kuat dari ketegasan pemiliknya.
“Selama bersama Galuh, tetaplah bersabar. ia bukan hanya setangguh ayahnya, tetapi juga lembut, sangat bijak serta welas asih seperti ibunya. Perpaduan yang membuat Astamaya saat di tangannya tentu akan menjadi sangat luar biasa,” jawab Kakek Addar dengan pandangan menerawang penuh harap.
“Namun setelah para Ajag merasukinya, karakter mereka kadang bercampur baur, sehingga kadang menjadi sangat rumit dan menyebalkan,” ucap Kakek Addar lagi, yang membuat Adhit langsung tersenyum. Kini ia mengerti. mengapa tindak tanduk Galuh seperti arah angin yang tidak bisa diprediksi.
“Ada satu lagi yang cukup mengkhawatirkan saya,” ucap Kakek Addar tiba-tiba. “Tentang Saguri, Tetua hitam yang dulu berhasil kabur” ucap Kakek Addar lagi sambil mengusap janggutnya.
“Mengapa anda mengkhawatirkan Saguri? bukankah setelah tertangkapnya lima Tetua Hitam yang lain, sejak itu ia tidak pernah muncul lagi?” tanya Tuan Monyet Rahyata dengan heran.
“Saya menerima informasi dari Galuh, bahwa ia melihat seseorang yang saya kira ciri-cirinya menyerupai Saguri. Ia berkeliling disekitar luar segel pelindung Gua,” Mendengar hal tersebut, Tuan Monyet Rahyata sangat terkejut. Namun ketika hendak bertanya lagi, tiba-tiba ia terseling seorang pelayan kelinci yang datang sangat terburu.
“Sisanya, carilah beberapa buku di perpustakaan kami!” ucap Kakek Addar sambil setengah berteriak, setelah itu ia langsung berjalan terburu menuju pintu keluar menuju Aula besar. Adhit dan Tuan Monyet Rahyata menoleh satu sama lain karena tidak mengerti.
“Aah.. Galuh kebetulan sekali, Kakek membutuhkan informasi tentang wilayah selatan, bisakah kamu memberikan beberapa hal yang Kakek butuhkan?” ucap Kakek Addar yang segera membawa Galuh pergi saat hampir mencapai pintu, membuat Adhit dan Tuan Monyet Rahyata langsung mengerti dengan Tindakan aneh Kakek Addar. Setelah Tuan Addar dan Galuh menghilang dari pandangan, mereka berdua akhirnya malah tertawa.
Setelah itu Tuan Monyet Rahyata menyerahkan sesuatu yang menyerupai gantungan kunci dengan bandul logam yang dituliskan menggunakan aksara sunda kuno.
“Ini apa Tuan Rahyata?” ucap Adhit penasaran. “Disini tidak menggunakan uang sebagai alat tukar, melainkan ini. Jadi, setiap anda memesan makan, membeli sesuatu, dan memakai segala fasilitas yang ada disini. Scan bandul ini, lalu anda akan mendapatkan apa yang anda butuhkan.” Lalu Adhit menerima bandul logam tersebut dengan sangat senang.
“Saya akan pergi dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang anda butuhkan besok. Nikmatilah hari ini, karena besok anda akan menemukan beberapa hal yang lebih besar dari yang pernah anda temukan di dunia Manusia, bersiaplah!” Setelah itu Tuan Monyet Rahyata berlalu, meninggalkan Adhit yang menjadi sangat tidak sabar untuk mencapai hari esok.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar