Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 13 – Menuju Istana | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sesuai dengan
arahan Hailana sang Dewi Ruh, tepat di atas bukit Ruh, akhirnya mereka berhasil
menemukan pohon besar bercabang yang disertai empat lantera.
Adhit memandang
pohon besar tersebut dengan sangat takjub. Kulit batangnya yang coklat tua dan bertekstur
kasar, disertai guratan dan kelokan urat yang begitu kuat, Adhit menebak bahwa
pohon ini adalah pohon yang sudah berumur sangat tua.
Adhit semakin
terkejut, ketika mengetahui bahwa empat lantera yang menggantung disemua
penjuru arah, ternyata bukan hanya sekedar hiasan, melainkan sebagai penanda letak
utara dan selatan dalam wilayah tersebut.
Mengikuti
petunjuk Hailana selanjutnya, mereka belok kanan untuk menuruni bukit, lalu berjalan
lurus untuk menuju istana.
“Kenapa harus naik
dulu ke bukit bila akhirnya kita turun lagi? bukankah kita bisa memutari pinggiran
bukit? Itu lebih menghemat waktu,” tanya Adhit heran.
“Memasuki bukit
Ruh, adalah seperti memasuki labirin penuh ilusi. Salah belok sedikit, kita malah
akan tersesat lalu terjebak dalam ceruk dimensi. Belum lagi jebakan-jebakan
milik para Kaum Ruh, atau bahkan tergiring menjadi sumber makanan bagi
tanaman-tanaman menyerupai pohon pemakan daging.” Jelas Jinn Si Kelinci sambil
tidak berhenti berjalan.
“Lihatlah ini,”
ucap Jinn Si Kelinci lagi sambil mengeluarkan peta dari sakunya. “Ini adalah
jalur yang biasa dilewati Tuan Addar saat menuju istana. Bila mengikuti
petunjuk jalur ini, kita bisa tertahan di bukit ini sampai dua hari. Namun
berkat bantuan Nona Hailana, kita bisa sampai diwilayah Istana dengan lebih
cepat,” jelas Jinn Si Kelinci dengan sangat bersyukur.
“Kamu
mempercayai Nona Ruh itu? Bukankah Kaum Ruh adalah kaum jahil?” tanya Adhit
heran.
“Nona Hailana bukan
sepenuhnya Ruh. Beberapa kali utusan Tuan Addar yang ditugaskan mencari
beberapa bahan ramuan di bukit ini, diselamatkan Nona Hailana tanpa meminta
imbalan apapun. Ini menandakan bahwa ia masih memiliki hati Kaum Astamaya.
Karena itulah, saya mempercayainya.” ucap Jinn Si Kelinci yang kini diangguki
mengerti oleh Galuh dan Adhit.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali mereka
bertemu Ruh yang kebetulan lewat. Namun saat para Ruh ini hendak mengganggu, tiba-tiba
saja muncul mantera aksara Buhun yang dituliskan Hailana untuk mereka. Dengan tanpa
menunggu lama, para Ruh ini langsung menghilang tanpa jejak. Galuh dan Adhit
terkejut! Hailana sang Dewi Ruh ternyata benar-benar sangat ditakuti disini.
“Kekasihmu ini sangat
luar biasa NaRaja,” ucap Galuh sambil tertawa senang, ia begitu puas bisa
membalas perlakuan NaRaja yang selama ini selalu semena-mena. Lalu NaRaja sendiri,
yang biasanya hanya berbicara singkat atau malah tidak perduli, kini mengumpat
dengan sangat panjang dan lebar.
“NaRaja sepertinya
jatuh cintaaa…. Hahahaha…!!” seru Aral salah satu Ajag tertawa senang, ia
memang Ajag yang paling bengal. Sambutan geraman kesal NaRaja pada Aral sang
Ajag, sontak membuat Galuh tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Jinn Si Kelinci
dan Adhit juga ikut terpingkal, namun tarikan tawa Galuh berhasil menyentuh
sudut rahasia dalam hati Adhit, seolah ada yang bergetar disana, namun tak
terucapkan.
“Ayolah.. siapa
yang tidak bisa menolak pesona Nona Hailana, selain amat sangat cantik, ia juga
sangat kuat dan berkuasa!” ucap Ajag yang bernama Agul ikut menggoda. “Lihaaat!
Wajah NaRaja memerah hahahaha…!!!” ucap Ajag yang bernama Neluh sambil terbahak.
NaRaja menggeram tidak suka, tetapi justru hal tersebut membuat Galuh terpingkal
lagi dengan begitu senang.
Dengan sambil
tertawa, Adhit melirik Galuh sebentar, setelah itu ia memandang ke arah lain dengan
hati yang tersenyum. Adhit senang, Galuh kini lebih terbuka dan ekspresif. Ia
juga kini tidak segan menunjukan sikap welas asihnya tanpa merasa terhakimi.
Disisi lain,
Galuh juga melirik Adhit sebentar, ia bersyukur telah mengenal Adhit. Berkat
jasanya, ia kini bisa membangun komunikasi yang lebih baik dengan para Ajag.
Saat mata mereka bertemu, saat itu pula, para Ajag tiba-tiba koor menyanyikan
lagu cinta dengan suara yang amat parau dan sangat jelek. Muka Galuh yang memerah
seketika, membuat NaRaja membalasnya tertawa terbahak-bahak dengan sangat puas.
Selama
perjalanan menuju Istana, mata mereka disuguhi keindahan bukit Ruh yang amat sangat
memukau. Bukit yang indah memikat sekaligus penuh dengan misteri, benar-benar
seperti kediaman para Dewa gunung yang selalu tersaji dalam setiap dongeng
rakyat.
Namun bukan itu
saja yang membuat perjalanan mereka menarik, pertengkaran beserta ledekan antara
Galuh dan NaRaja membuat Adhit dan Jinn Si Kelinci jadi sering tertawa sampai
terbahak-bahak. Lalu ditambah provokasi nyeleneh Ajag lain yang tidak tahu
berpihak ke arah siapa, membuat suasana tawa mewarnai perjalanan mereka dengan
sangat menyenangkan.
Saat matahari
mulai tenggelam, akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan. Dengan sigap, Jinn
Si Kelinci mengeluarkan sebuah teropong kecil dengan ukiran aneh dari sakunya.
“Ini teropong tipu
daya Ruh, saya harus memastikan apakah kita benar-benar sampai, atau ini semua
hanya ilusi para Ruh,” ucap Jinn Si Kelinci saat melihat Adhit yang begitu
penasaran.
Setelah Jinn Si
Kelinci selesai menggunakan teropong tersebut, ia berkata, “ternyata benar, kita
telah sampai,” ucap Jinn Si Kelinci sambil menyerahkan teropong tersebut kepada
Adhit.
Melihat Adhit
yang kebingungan, Jinn Si Kelinci berkata lagi, “Ini untuk anda, suatu saat
anda pasti membutuhkannya. Tenang saja, saya masih punya satu lagi,” ucap Jinn
Si Kelinci sambil memperlihatkan cadangan teropong dari kantung satunya lagi.
Sontak hal
tersebut membuat Adhit berjingkrak kegirangan. Galuh tertawa melihat reaksi spontan
Adhit yang benar-benar seperti anak-anak.
Adhit adalah
remaja pria pertama yang ditemui Galuh sejak ia diselamatkan Kakek Addar dan menetap
di Gua Kaum Luhur. Ditambah sifat dan karakter Adhit yang selalu berhasil menarik
perhatiannya, membangkitkan rasa rumit yang tidak bisa Galuh jelaskan dengan
kata-kata.
“Maafkan bila saya
hanya dapat mengantar anda berdua sampai disini. Para Kaum Luhur sudah
dinyatakan hilang selama dua ratus tahun, bila tersiar kabar ada Kaum Luhur yang
terlihat masuk kedalam kawasan Istana, Saguri akan mengendus bahwa Nona Galuh ada
disini,“ ucap Jinn Si Kelinci dengan tatapan merasa bersalah.
“Tidak apa-apa,
saya mengerti Jinn..” jawab Galuh bijak.
“Tiga ratus
meter lurus dari sini, anda berdua akan menemukan rumah tua yang letaknya tepat
di depan Kedai Mak Lailah. Papan tokonya sendiri sangat besar, jadi anda berdua
akan mudah menemukannya. Masuklah lewat pintu belakang, dan ini kuncinya.” Ucap
Jinn Si Kelinci sambil menyerahkan sebuah kunci kuningan klasik persis di dunia
Manusia.
Lalu setelah
itu, Jinn Si Kelinci mengeluarkan energinya untul membuat burung Mahui, lalu berbisik
pada burung Mahui buatannya. Ada sebuah bisikan kalimat yang membuat Galuh
terkejut, “Nona Galuh dan temannya ada dirumah anda, tolong secepatnya datang,
mereka belum makan sama sekali.” Galuh begitu tersentuh. Para Kaum Luhur masih
tetap mengkhawatirkannya, sekalipun para Ajag sering bertindak amat sangat
menyebalkan.
“Saya akan
kembali untuk memeriksa keadaan Tuan Addar dan para Kaum Luhur, bila keadaan disana
sudah baik-baik saja, saya akan datang untuk mengabari secepatnya.” Janji Jinn
Si Kelinci meyakinkan mereka berdua.
“Jinn..
hati–hati, dan.. terimakasih..” ucap Galuh sungguh sungguh. Jinn Si Kelinci
hanya menganggukan kepala dan segera berlalu. Lalu dalam hitungan detik, kini
ia telah hilang entah kemana. Setelah itu, Galuh segera mempererat segel para
Ajag, agar suara para Ajag tidak bocor saat mereka berdua mengendap.
“Sepertinya kita
akan kesulitan masuk ke dalam desa tanpa diketahui,” ucapan Adhit yang tiba-tiba,
membuat Galuh kini menatap suasana desa dengan bingung. Ia tidak melihat apapun
yang akan mengancam kedatangan mereka.
“Sepertinya.. ketampanan
saya akan menarik perhatian penduduk desa yang masih berlalu lalang, Menjadi tampan
itu memang paling merepotkan!” tambah Adhit sambil menyeringai menyebalkan.
Galuh melirik sebal. “Tentu saja bisa! Lihat ini!”
ucap Galuh yang dengan cepat menarik kerah Adhit, lalu membawanya melompat
melintasi beberapa pepohonan dan atap beberapa rumah. Setelah mereka berhenti
pada salah satu atap, Adhit yang masih terkejut segera berkata, “kamu mau saya mati
ya..!” bisik Adhit yang lalu tertawa. Ia cukup terkejut dengan reaksi spontan
Galuh. Tetapi Adhit senang, kini Galuh tidak sekaku seperti saat mereka pertama
kali bertemu.
“Maaf, tapi
tadi kamu benar-benar sangat menyebalkan!” bisik Galuh sambil terkekeh.
Adhit terkejut
kedua kalinya, baru kali ini ia melihat Galuh terkekeh dengan raut bebas dan
begitu bahagia. Dengan jarak yang cukup dekat, Galuh ternyata memiliki garis
senyum ceria yang sangat cantik, sontak hal tersebut membuat Adhit sangat
terkesima kesekian kalinya.
Galuh yang
menyadari pandangan Adhit segera mengalihkan pembicaraan, “Lihatlah itu!” Ucap Galuh
sambil menunjuk seberang mereka dari atas atap rumah, ternyata dihadapan mereka
adalah kedai dengan papan toko bertuliskan Kedai Mak Lailah.
Lalu sambil memandang
atap rumah yang mereka berdua injak, Adhit berkata, “berarti rumah di bawah
kita adalah tempat yang kita tuju? cepat sekali!” ucap Adhit sambil memandang
Galuh dengan takjub.
“Kita turun
perlahan,” ucap Galuh sambil turun mengendap terlebih dahulu menuju pintu
belakang rumah tua tersebut. Berbekal kunci yang diberikan Jinn Si Kelinci, akhirnya
mereka bisa masuk dengan aman.
Adhit mengikuti
Galuh dengan hati-hati. Setelah itu, matanya mulai tertuju pada setiap detail
dari rumah tersebut. Dinding kayu yang berusia tua, memancarkan aroma nostalgia
yang hanya bisa Adhit temukan pada buku-buku sejarah masa lalu. Ukiran-ukiran
halus pada kusen jendela dan pintu sendiri, seolah bercerita tenang keahlian
para leluhur yang begitu menghormati seni dan budaya kelas tinggi.
Cahaya remang
lantera kuno yang menebar cahaya lembut, memperjelas suasana rumah tersebut.
Lantai kayu yang kokoh, anyaman bambu pada dinding dan plafon, perabot kayu
dari kayu dan tembikar melengkapi segala keindahan nostalgia yang terangkum
saat itu.
Setelah lima
belas menit menunggu didalam, tiba-tiba pintu depan terbuka perlahan, Lalu Galuh
terkejut saat mengetahui siapa yang datang.
“Bi Naaiii…!” bisik
Galuh terkejut sambil berlari menuju pengasuhnya dulu. “Neng Galuh sayaang..”
bisik wanita ini sambil menyambut pelukan Galuh dengan memeluk dengan tak kalah
erat.
Galuh memandang
wajah pengasuhnya yang kini sudah termakan usia. Berbeda saat terakhir ia
melihat pengasuhnya, wajah manis itu, kini sudah dihiasi kerutan dan rambut
yang sebagian memutih.
“Bagaimana
keadaan didalam istana?” ucap Galuh setelah tangis Bi Nai mereda.
“Semua serba
kacau balau Neng, para petinggi mulai saling berebut kekuasaan. Kecuali para
golongan ksatria. Mereka masih setia pada Almarhum Ayah Neng Galuh, terutama Panglima
besar utama, Tuan Baharyu bersama putranya yang bernama Tuan Gada Sangkara.” Ucap
Bi Nai sambil berusaha menahan tangis.
“Ayah? Ayah telah
tiada?” tanya Galuh terkejut, lalu tubuhnya lemas seketika. Namun saat geraman
para Ajag mulai muncul, dengan segera Galuh mengendalikan diri dan mengunci
segelnya kembali. Kalau tidak, para Ajag akan mendapatkan celah untuk keluar
dan mengacau.
“Tuan Addar tidak
mengatakan tentang hal tersebut?” tanya Bi Nai dengan terkejut, Galuh lalu menggeleng
sambil menahan tangis. Bi Nai lalu memeluk Galuh lagi karena sangat merasa
bersalah, ia benar-benar tidak tahu bila Kakek Addar masih merahasiakan hal
tersebut sampai hari ini.
Dalam pelukan
pengasuhnya, Galuh merasakan rasa sakit yang menyelimuti bilik hatinya paling
terdalam. Namun Galuh tetap mencoba tegar, ia sadar, ada lima Ajag yang masih
tersimpan dalam tubuhnya, maka ia harus terus tetap berhati-hati dalam menjaga
emosinya.
“Sepeninggal Neng
Galuh, Tuan Mahesa sering terlihat melamun dan mulai sakit-sakitan. Lalu di tambah
tekanan politik dari beberapa Klan, membuat kesehatannya semakin hari semakin memburuk.
Hingga akhirnya.. tiga tahun yang lalu.. Beliau mangkat.” Ucap Bi Nai lagi yang
kini disambung tangis yang amat perih.
Hati Galuh begitu
sakit mendengar keadaan ayahnya yang ternyata tidak baik-baik saja. Namun dengan
tegar, Galuh tetap menahan air matanya yang hampir merembes keluar. Ia harus
tetap kuat, demi segel para Ajag agar tetap terjaga dengan baik. Galuh yakin, Kakek
Addar mempunyai alasan yang kuat mengapa ia menyembunyikan berita sepenting ini.
Setelah tangis Bi
Nai mereda, ia kembali berkata, “setelah itu kekuasaan sementara dipegang oleh
paman Neng Galuh, Tuan Ranji Raspati,”
ucap Bi Nai sambil sedikit terisak.
“Paman Ranji? Paman
Ranji mau memangku jabatan? syukurlah.. “ucap Galuh dengan rasa lega yang amat
sangat.
“Paman Ranji
adalah orang yang sangat baik, sayangnya ia terlalu baik.” Ucap Galuh yang
kini kembali resah. “Lalu, bagaimana
kekuasaan di tangan Beliau?“ tanya Galuh lagi yang kini agak sedikit khawatir,
karena karakter Ranji Raspati sangat berbanding terbalik dengan Mahesa Agung, ayah
Galuh yang terkenal sangat tegas dan berani.
Ranji Raspati berhati
sangat lembut dan penyayang, Ia tidak pernah mau bergabung dalam politik istana.
Jangankan terlibat, duduk menemani kakaknya saat rapat istana saja, ia tidak
pernah mau. Ia sangat membenci para Bangsawan, yang menurutnya sekumpulan penjilat
arogan yang kotor. Itu sebabnya Galuh sangat mengkhawatirkan Paman kesayangannya
ini.
“Justru ditangannya,
para Bangsawan mulai berebut kekuasaan. Mereka menganggap bahwa Tuan Ranji
terlalu lemah, keputusan–keputusannya terlalu plin plan. Sehingga banyak dari keluarga
Bangsawan yang memanfaatkan keadaan, terutama Klan Merah.” Ucap Bi Nai sedih.
“Mereka merasa
bahwa Klan Merah adalah kerabat terdekat kerajaan, maka bila suatu saat Paman
anda mangkat, mereka berkoar-koar bahwa garis keluarga mereka yang kelak menjadi
penggantinya.” Ucapan Bi Nai membuat Galuh geram, ia sudah mengira hal tersebut
akan terjadi.
“Para bangsawan Klan
Merah, sejak kecil saya memang tidak menyukai tata krama mereka yang terlalu
palsu, tapi tindakan mereka untuk yang satu ini benar-benar sangat keterlaluan!
Apa mereka tidak melihat silsilah keluarga? bila Paman Ranji mangkat, tentu saja
dimulai dari silsilah keluarga Paman Baharyu, Gada Sangkara lah yang lebih berhak!”
ucap Galuh dengan nada tidak suka.
“Bangsawan Klan
merah?” tanya Adhit penasaran.
“Bangsawan Klan Merah
adalah kerabat terdekat dari Ayahanda Raja, setelah dari garis keluarga Panglima
tertinggi Istana, yaitu keluarga Paman Baharyu. Sayangnya, sebagian besar dari Klan
Merah tidak menghasilkan apapun kecuali sebuah lidah penjilat dari mulut besar,
terutama Rahadyan Sayuga,” ucap Galuh
dengan nada tidak suka.
“Rahadyan Sayuga?” tanya Adhit lagi.
“Rahadyan Sayuga, adalah salah satu Tokoh Klan
Merah yang paling berpengaruh dalam politik Kerajaan, ia memiliki jaringan
seperti lengan gurita. Tetapi isi kepalanya hanya berisi tentang cara meraup
keuntungan untuk dia dan Klannya. Berbeda dengan adiknya Sadya Agracana, ia satu-satunya
Klan Merah yang sangat cerdas. Namun sayangnya, ia seperti Klan Merah lainnya, sangat
licik!” Galuh menyebut kata licik dengan intonasi yang cukup dalam.
“Saya pernah mendengar dari pembicaraan
Ayahanda Raja dengan Paman Baharyu, semua hal yang didapatkan oleh Rahadyan
Sayuga sebenarnya adalah hasil pemikiran Sadya, lalu Rahadyan tinggal mengerahkan
seluruh koneksinya untuk mengurus semua pekerjaan kotor tersebut. berhati–hatilah
bila kamu bertemu dengan Sadya Agracarana, ia benar-benar ular!” ucap Galuh memperingatkan
Adhit.
“Rahadyan Sayuga dan Sadya Agracarana, saya
akan ingat dua nama itu,” ucap Adhit meyakinkan Galuh.
“Aah.. jadi
teringat, Bi Nai, bagaimana dengan kabar Paman Baharyu sekarang?” ucap Galuh ingin
tahu.
“Tuan Baharyu koma
karena terkena racun Ruh yang sangat kuat saat berperang. Ada rumor yang
mengatakan, bahwa sebenarnya ia justru diracun sebelum berperang. Untuk
sementara jabatannya dipegang oleh putra tunggalnya, Tuan Gada Sangkara,” ucap
Bi Nai sambil membuka sesuatu yang sedari tadi ia bawa.
“Gada Sangkara? Si
cengeng itu?” ucap Galuh terkejut sekaligus heran.
“Dia tidak
secengeng dulu Neng Galuh sayang.. Tuan Gada bukan hanya tumbuh menjadi gagah
dan tampan, ia kini menjadi sehebat ayahnya,” ucap Bi Nai Berapi-api.
“Tuan Gada bisa
memangku sementara jabatan Tuan Baharyu, bukan karena ia anak dari Tuan
Baharyu. Melainkan ia berhasil menyingkirkan kandidat berpengalaman lain yang rata-rata
seusia ayahnya. Berkat jasanya pula, Istana tetap aman terkendali sampai saat
ini.” Mendengar hal tersebut, Galuh terkejut tidak percaya namun sekaligus lega.
“Saya tahu
karakter Gada Sangkara ketika kecil, sekalipun lemah, ia adalah anak laki-laki
yang benar-benar jujur. Bila ia telah sehebat ayahnya, saya lega sekarang,
setidaknya Paman Ranji masih dalam kondisi aman,” ucap Galuh dengan sangat lega.
“Ah iya, hampir
lupa, saya membawa makanan kesukaan Neng Galuh,” ucap Bi Nai sambil menyerahkan
sesuatu dari kantung yang ia bawa.
“Bi Naii.. surabi
kinca dan pisang kukus siram maduu buatan Bi Naiiii… ini sudah lama sekali! di
gua memang ada menu yang sama, tapi berbeda dengan buatan bi Naiiii… “ucap
Galuh terkejut.
Adhit kembali
terkesima saat melihat Galuh tersenyum begitu lepas. Memang benar apa yang dikatakan
Kakek Addar, Galuh mungkin tegas, tetapi ia juga seorang perempuan yang baik
dan welas asih.
“Dan ini siapa Neng
Galuh, calonnya ya neng,” tanya Bi Nai sambil memandang Adhit dengan penasaran.
Galuh tertawa sambil memperkuat segel para Ajag yang tiba-tiba memaksa untuk
terbuka, setelah itu ia menjelaskan.
“Ini adalah
Adhitya, salah seorang manusia yang dipercayakan Kakek Addar untuk mengantar
saya kesini,” ucap Galuh sambil tertawa. Ternyata Bi Nai yang ia kenal dulu
tidak pernah berubah, selalu membuatnya banyak tertawa.
“Aah.. Manusia?”
ucap Bi Nai heran. “Saya lupa, saya tidak boleh bertanya tentang ini. Perkenalkan,
saya Bi Nai pengasuh Neng Galuh sejak kecil,” ralat Bi Nai yang lalu menyapa
Adhit dengan hangat.
“Saya bawakan juga beberapa makanan, tidak
banyak yang bisa saya bawa karena begitu mendengar kabar, saya langsung membawa
seperlunya dari dapur agar bisa segera datang,” ucap Bi Nai menyesal.
“Bi Nai, ini sudah
lebih dari cukup,” ucap Galuh sambil menyodorkan keranjangnya agar bisa makan
berdua bersama Adhit, lalu Galuh mencicipi semua yang dibawa Bi Nai dengan
lahap.
“Malam ini beristirahatlah
dulu disini, burung Mahui yang dikirimkan utusan Tuan Addar, sudah menerangkan
tentang tujuan kedatangan kalian berdua kemari.” Ucap Bi Nai sambil membuka dua
pintu kamar dengan cepat.
“Neng Galuh tidur
di kamar bibi ya, Den Adhit bisa tidur di kamar sebelahnya. Semuanya bersih
karena setiap dua minggu sekali pasti bibi pulang untuk membersihkan rumah,”
ucap Bi Nai lagi sambil membuka salah satu lemari yang ada disudut rumah.
“Ini pakaian ganti
buat Neng Galuh, pakaian bibi waktu masih langsing.. hehehe” ucap Bi Nai tertawa
dengan malu, Galuh menerima sambil membolak balik pakaian tersebut dengan
sangat senang.
“Ini pakaian ganti
buat Den Adhit, pakaian Almarhum suami bibi sewaktu masih muda, waktu masih
ganteng kaya Den Adhit.. ” ucap Bi Nai sambil tertawa, lalu ia menyerahkan
pakaian tersebut pada Adhit dengan hati-hati. Adhit ikut tertawa sambil menerima
pakaian tersebut dengan senang.
“Besok bibi
carikan pakaian yang baru ya Neng, soalnya tadi tidak sempat,” ucap Bi Nai
merasa bersalah. “Tidak usah Bi, pakaian Bi Nai bagus-bagus kok, saya pinjam
dulu saja yang ada ya bi,” tolak Galuh bijak. “Pokoknya besok Bi Nai akan carikan,
Neng Galuh harus keliatan anggun!” protes Bi Nai agak memaksa.
“Tapi Neng, kedatangan
Neng Galuh hari ini benar-benar kebetulan yang sangat tepat,” ucap Bi Nai lagi yang
membuat Galuh dan Adhit heran.
“Menurut kabar
yang Bibi dengar dari burung Mahui yang dikirimkan utusan Tuan Addar, Neng
Galuh harus secepatnya masuk ke dalam istana bukan? Ini sangat kebetulan sekali!”
ucap Bi Nai kembali berapa-api.
“Saat ini kami memang
sedang kekurangan orang di bagian kebersihan kamar para Bangsawan. Jadi, bibi bisa
menyusupkan kalian berdua kedalam istana melalui penerimaan pelayan istana,”
ucap Bi Nai semakin berapi-api.
“Bila berhasil,
nanti bibi usahakan agar Neng Galuh dan Den Adhit dapat tempat istirahat yang
bagus dan aman,” ucapan Bi Nai disambut tatapan antusias dari Galuh dan Adhit.
“Tapi Neng Galuh tidak
usah kuatir, selama disana Neng Galuh tidur di kamar anak angkat saya, Subhita.
Neng Galuh juga akan selalu ditemani Subhita. Biar dia yang mengerjakan seluruh
pekerjaan. Apapun yang Neng butuhkan, katakan saja, maka dia akan mencarikannya
segera,” ucap Bi Nai semakin bersemangat.
“Maafkan bibi,
untuk saat ini hanya cara tersebut yang paling cepat,” ucap Bi Nai dengan nada
menyesal.
“Tidak Bi Nai, itu
cara yang paling tepat! dengan begitu saya bisa masuk ke seluruh ruangan Istana
tanpa dicurigai, dan Subhita jangan diberi tanggung jawab terlalu berat,
menjadi kawan saya selama disana saja, itu sudah cukup. “Ucap Galuh senang. Mendengar
hal tersebut, kini Bi Nai terlihat sangat lega.
Untuk Den Adhit, mungkin
nanti akan tidur dengan beberapa pegawai lain, tetapi Bibi akan carikan kamar
yang letaknya paling dekat dengan kamar yang ditempati Neng Galuh,” ucap Bi Nai
lagi meyakinkan.
Setelah mereka
berbicara panjang lebar, Bi Nai segera kembali ke Istana untuk mempersiapkan
segala sesuatu yang dibutuhkan, terutama ijin membawa dua orang untuk bekerja
di istana. Sedangkan di rumah Bi Nai, Galuh dan Adhit sendiri segera menyiapkan
segala yang sekiranya dibutuhkan nanti di istana, setelah itu mereka segera
beristirahat agar siap untuk hari besok.
“Istana itu
seperti apa?” Tanya Adhit ketika Galuh hendak beranjak ke kamarnya karena sudah
mulai ngantuk. “Nanti juga kamu tahu,” jawaban Galuh yang singkat, membuat
Adhit jadi semakin penasaran.
- Bersambung - Desya saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar