Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 13 – Menuju Istana | By: Desya Saghir

Sesuai dengan arahan Hailana sang Dewi Ruh, tepat di atas bukit Ruh, akhirnya mereka berhasil menemukan pohon besar bercabang yang disertai empat lantera.

Adhit memandang pohon besar tersebut dengan sangat takjub. Kulit batangnya yang coklat tua dan bertekstur kasar, disertai guratan dan kelokan urat yang begitu kuat, Adhit menebak bahwa pohon ini adalah pohon yang sudah berumur sangat tua.  

Adhit semakin terkejut, ketika mengetahui bahwa empat lantera yang menggantung disemua penjuru arah, ternyata bukan hanya sekedar hiasan, melainkan sebagai penanda letak utara dan selatan dalam wilayah tersebut.

Mengikuti petunjuk Hailana selanjutnya, mereka belok kanan untuk menuruni bukit, lalu berjalan lurus untuk menuju istana.

“Kenapa harus naik dulu ke bukit bila akhirnya kita turun lagi? bukankah kita bisa memutari pinggiran bukit? Itu lebih menghemat waktu,” tanya Adhit heran.

“Memasuki bukit Ruh, adalah seperti memasuki labirin penuh ilusi. Salah belok sedikit, kita malah akan tersesat lalu terjebak dalam ceruk dimensi. Belum lagi jebakan-jebakan milik para Kaum Ruh, atau bahkan tergiring menjadi sumber makanan bagi tanaman-tanaman menyerupai pohon pemakan daging.” Jelas Jinn Si Kelinci sambil tidak berhenti berjalan.  

“Lihatlah ini,” ucap Jinn Si Kelinci lagi sambil mengeluarkan peta dari sakunya. “Ini adalah jalur yang biasa dilewati Tuan Addar saat menuju istana. Bila mengikuti petunjuk jalur ini, kita bisa tertahan di bukit ini sampai dua hari. Namun berkat bantuan Nona Hailana, kita bisa sampai diwilayah Istana dengan lebih cepat,” jelas Jinn Si Kelinci dengan sangat bersyukur.

“Kamu mempercayai Nona Ruh itu? Bukankah Kaum Ruh adalah kaum jahil?” tanya Adhit heran.

“Nona Hailana bukan sepenuhnya Ruh. Beberapa kali utusan Tuan Addar yang ditugaskan mencari beberapa bahan ramuan di bukit ini, diselamatkan Nona Hailana tanpa meminta imbalan apapun. Ini menandakan bahwa ia masih memiliki hati Kaum Astamaya. Karena itulah, saya mempercayainya.” ucap Jinn Si Kelinci yang kini diangguki mengerti oleh Galuh dan Adhit.

 Sepanjang perjalanan, beberapa kali mereka bertemu Ruh yang kebetulan lewat. Namun saat para Ruh ini hendak mengganggu, tiba-tiba saja muncul mantera aksara Buhun yang dituliskan Hailana untuk mereka. Dengan tanpa menunggu lama, para Ruh ini langsung menghilang tanpa jejak. Galuh dan Adhit terkejut! Hailana sang Dewi Ruh ternyata benar-benar sangat ditakuti disini.

“Kekasihmu ini sangat luar biasa NaRaja,” ucap Galuh sambil tertawa senang, ia begitu puas bisa membalas perlakuan NaRaja yang selama ini selalu semena-mena. Lalu NaRaja sendiri, yang biasanya hanya berbicara singkat atau malah tidak perduli, kini mengumpat dengan sangat panjang dan lebar.

“NaRaja sepertinya jatuh cintaaa…. Hahahaha…!!” seru Aral salah satu Ajag tertawa senang, ia memang Ajag yang paling bengal. Sambutan geraman kesal NaRaja pada Aral sang Ajag, sontak membuat Galuh tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Jinn Si Kelinci dan Adhit juga ikut terpingkal, namun tarikan tawa Galuh berhasil menyentuh sudut rahasia dalam hati Adhit, seolah ada yang bergetar disana, namun tak terucapkan.

“Ayolah.. siapa yang tidak bisa menolak pesona Nona Hailana, selain amat sangat cantik, ia juga sangat kuat dan berkuasa!” ucap Ajag yang bernama Agul ikut menggoda. “Lihaaat! Wajah NaRaja memerah hahahaha…!!!” ucap Ajag yang bernama Neluh sambil terbahak. NaRaja menggeram tidak suka, tetapi justru hal tersebut membuat Galuh terpingkal lagi dengan begitu senang.

Dengan sambil tertawa, Adhit melirik Galuh sebentar, setelah itu ia memandang ke arah lain dengan hati yang tersenyum. Adhit senang, Galuh kini lebih terbuka dan ekspresif. Ia juga kini tidak segan menunjukan sikap welas asihnya tanpa merasa terhakimi.

Disisi lain, Galuh juga melirik Adhit sebentar, ia bersyukur telah mengenal Adhit. Berkat jasanya, ia kini bisa membangun komunikasi yang lebih baik dengan para Ajag. Saat mata mereka bertemu, saat itu pula, para Ajag tiba-tiba koor menyanyikan lagu cinta dengan suara yang amat parau dan sangat jelek. Muka Galuh yang memerah seketika, membuat NaRaja membalasnya tertawa terbahak-bahak dengan sangat puas.

Selama perjalanan menuju Istana, mata mereka disuguhi keindahan bukit Ruh yang amat sangat memukau. Bukit yang indah memikat sekaligus penuh dengan misteri, benar-benar seperti kediaman para Dewa gunung yang selalu tersaji dalam setiap dongeng rakyat.

Namun bukan itu saja yang membuat perjalanan mereka menarik, pertengkaran beserta ledekan antara Galuh dan NaRaja membuat Adhit dan Jinn Si Kelinci jadi sering tertawa sampai terbahak-bahak. Lalu ditambah provokasi nyeleneh Ajag lain yang tidak tahu berpihak ke arah siapa, membuat suasana tawa mewarnai perjalanan mereka dengan sangat menyenangkan.

Saat matahari mulai tenggelam, akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan. Dengan sigap, Jinn Si Kelinci mengeluarkan sebuah teropong kecil dengan ukiran aneh dari sakunya.

“Ini teropong tipu daya Ruh, saya harus memastikan apakah kita benar-benar sampai, atau ini semua hanya ilusi para Ruh,” ucap Jinn Si Kelinci saat melihat Adhit yang begitu penasaran.

Setelah Jinn Si Kelinci selesai menggunakan teropong tersebut, ia berkata, “ternyata benar, kita telah sampai,” ucap Jinn Si Kelinci sambil menyerahkan teropong tersebut kepada Adhit.

Melihat Adhit yang kebingungan, Jinn Si Kelinci berkata lagi, “Ini untuk anda, suatu saat anda pasti membutuhkannya. Tenang saja, saya masih punya satu lagi,” ucap Jinn Si Kelinci sambil memperlihatkan cadangan teropong dari kantung satunya lagi.

Sontak hal tersebut membuat Adhit berjingkrak kegirangan. Galuh tertawa melihat reaksi spontan Adhit yang benar-benar seperti anak-anak.

Adhit adalah remaja pria pertama yang ditemui Galuh sejak ia diselamatkan Kakek Addar dan menetap di Gua Kaum Luhur. Ditambah sifat dan karakter Adhit yang selalu berhasil menarik perhatiannya, membangkitkan rasa rumit yang tidak bisa Galuh jelaskan dengan kata-kata.

“Maafkan bila saya hanya dapat mengantar anda berdua sampai disini. Para Kaum Luhur sudah dinyatakan hilang selama dua ratus tahun, bila tersiar kabar ada Kaum Luhur yang terlihat masuk kedalam kawasan Istana, Saguri akan mengendus bahwa Nona Galuh ada disini,“ ucap Jinn Si Kelinci dengan tatapan merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, saya mengerti Jinn..” jawab Galuh bijak.

“Tiga ratus meter lurus dari sini, anda berdua akan menemukan rumah tua yang letaknya tepat di depan Kedai Mak Lailah. Papan tokonya sendiri sangat besar, jadi anda berdua akan mudah menemukannya. Masuklah lewat pintu belakang, dan ini kuncinya.” Ucap Jinn Si Kelinci sambil menyerahkan sebuah kunci kuningan klasik persis di dunia Manusia.

Lalu setelah itu, Jinn Si Kelinci mengeluarkan energinya untul membuat burung Mahui, lalu berbisik pada burung Mahui buatannya. Ada sebuah bisikan kalimat yang membuat Galuh terkejut, “Nona Galuh dan temannya ada dirumah anda, tolong secepatnya datang, mereka belum makan sama sekali.” Galuh begitu tersentuh. Para Kaum Luhur masih tetap mengkhawatirkannya, sekalipun para Ajag sering bertindak amat sangat menyebalkan.

“Saya akan kembali untuk memeriksa keadaan Tuan Addar dan para Kaum Luhur, bila keadaan disana sudah baik-baik saja, saya akan datang untuk mengabari secepatnya.” Janji Jinn Si Kelinci meyakinkan mereka berdua.

“Jinn.. hati–hati, dan.. terimakasih..” ucap Galuh sungguh sungguh. Jinn Si Kelinci hanya menganggukan kepala dan segera berlalu. Lalu dalam hitungan detik, kini ia telah hilang entah kemana. Setelah itu, Galuh segera mempererat segel para Ajag, agar suara para Ajag tidak bocor saat mereka berdua mengendap.

“Sepertinya kita akan kesulitan masuk ke dalam desa tanpa diketahui,” ucapan Adhit yang tiba-tiba, membuat Galuh kini menatap suasana desa dengan bingung. Ia tidak melihat apapun yang akan mengancam kedatangan mereka.

“Sepertinya.. ketampanan saya akan menarik perhatian penduduk desa yang masih berlalu lalang, Menjadi tampan itu memang paling merepotkan!” tambah Adhit sambil menyeringai menyebalkan.

 Galuh melirik sebal. “Tentu saja bisa! Lihat ini!” ucap Galuh yang dengan cepat menarik kerah Adhit, lalu membawanya melompat melintasi beberapa pepohonan dan atap beberapa rumah. Setelah mereka berhenti pada salah satu atap, Adhit yang masih terkejut segera berkata, “kamu mau saya mati ya..!” bisik Adhit yang lalu tertawa. Ia cukup terkejut dengan reaksi spontan Galuh. Tetapi Adhit senang, kini Galuh tidak sekaku seperti saat mereka pertama kali bertemu.

“Maaf, tapi tadi kamu benar-benar sangat menyebalkan!” bisik Galuh sambil terkekeh.

Adhit terkejut kedua kalinya, baru kali ini ia melihat Galuh terkekeh dengan raut bebas dan begitu bahagia. Dengan jarak yang cukup dekat, Galuh ternyata memiliki garis senyum ceria yang sangat cantik, sontak hal tersebut membuat Adhit sangat terkesima kesekian kalinya.

Galuh yang menyadari pandangan Adhit segera mengalihkan pembicaraan, “Lihatlah itu!” Ucap Galuh sambil menunjuk seberang mereka dari atas atap rumah, ternyata dihadapan mereka adalah kedai dengan papan toko bertuliskan Kedai Mak Lailah.

Lalu sambil memandang atap rumah yang mereka berdua injak, Adhit berkata, “berarti rumah di bawah kita adalah tempat yang kita tuju? cepat sekali!” ucap Adhit sambil memandang Galuh dengan takjub.

“Kita turun perlahan,” ucap Galuh sambil turun mengendap terlebih dahulu menuju pintu belakang rumah tua tersebut. Berbekal kunci yang diberikan Jinn Si Kelinci, akhirnya mereka bisa masuk dengan aman.

Adhit mengikuti Galuh dengan hati-hati. Setelah itu, matanya mulai tertuju pada setiap detail dari rumah tersebut. Dinding kayu yang berusia tua, memancarkan aroma nostalgia yang hanya bisa Adhit temukan pada buku-buku sejarah masa lalu. Ukiran-ukiran halus pada kusen jendela dan pintu sendiri, seolah bercerita tenang keahlian para leluhur yang begitu menghormati seni dan budaya kelas tinggi.

Cahaya remang lantera kuno yang menebar cahaya lembut, memperjelas suasana rumah tersebut. Lantai kayu yang kokoh, anyaman bambu pada dinding dan plafon, perabot kayu dari kayu dan tembikar melengkapi segala keindahan nostalgia yang terangkum saat itu.

Setelah lima belas menit menunggu didalam, tiba-tiba pintu depan terbuka perlahan, Lalu Galuh terkejut saat mengetahui siapa yang datang.

“Bi Naaiii…!” bisik Galuh terkejut sambil berlari menuju pengasuhnya dulu. “Neng Galuh sayaang..” bisik wanita ini sambil menyambut pelukan Galuh dengan memeluk dengan tak kalah erat.

Galuh memandang wajah pengasuhnya yang kini sudah termakan usia. Berbeda saat terakhir ia melihat pengasuhnya, wajah manis itu, kini sudah dihiasi kerutan dan rambut yang sebagian memutih.

“Bagaimana keadaan didalam istana?” ucap Galuh setelah tangis Bi Nai mereda.

“Semua serba kacau balau Neng, para petinggi mulai saling berebut kekuasaan. Kecuali para golongan ksatria. Mereka masih setia pada Almarhum Ayah Neng Galuh, terutama Panglima besar utama, Tuan Baharyu bersama putranya yang bernama Tuan Gada Sangkara.” Ucap Bi Nai sambil berusaha menahan tangis.

“Ayah? Ayah telah tiada?” tanya Galuh terkejut, lalu tubuhnya lemas seketika. Namun saat geraman para Ajag mulai muncul, dengan segera Galuh mengendalikan diri dan mengunci segelnya kembali. Kalau tidak, para Ajag akan mendapatkan celah untuk keluar dan mengacau.

“Tuan Addar tidak mengatakan tentang hal tersebut?” tanya Bi Nai dengan terkejut, Galuh lalu menggeleng sambil menahan tangis. Bi Nai lalu memeluk Galuh lagi karena sangat merasa bersalah, ia benar-benar tidak tahu bila Kakek Addar masih merahasiakan hal tersebut sampai hari ini.

Dalam pelukan pengasuhnya, Galuh merasakan rasa sakit yang menyelimuti bilik hatinya paling terdalam. Namun Galuh tetap mencoba tegar, ia sadar, ada lima Ajag yang masih tersimpan dalam tubuhnya, maka ia harus terus tetap berhati-hati dalam menjaga emosinya.

“Sepeninggal Neng Galuh, Tuan Mahesa sering terlihat melamun dan mulai sakit-sakitan. Lalu di tambah tekanan politik dari beberapa Klan, membuat kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Hingga akhirnya.. tiga tahun yang lalu.. Beliau mangkat.” Ucap Bi Nai lagi yang kini disambung tangis yang amat perih.

Hati Galuh begitu sakit mendengar keadaan ayahnya yang ternyata tidak baik-baik saja. Namun dengan tegar, Galuh tetap menahan air matanya yang hampir merembes keluar. Ia harus tetap kuat, demi segel para Ajag agar tetap terjaga dengan baik. Galuh yakin, Kakek Addar mempunyai alasan yang kuat mengapa ia menyembunyikan berita sepenting ini.

Setelah tangis Bi Nai mereda, ia kembali berkata, “setelah itu kekuasaan sementara dipegang oleh paman Neng Galuh, Tuan Ranji Raspati,” ucap Bi Nai sambil sedikit terisak.

“Paman Ranji? Paman Ranji mau memangku jabatan? syukurlah.. “ucap Galuh dengan rasa lega yang amat sangat.

“Paman Ranji adalah orang yang sangat baik, sayangnya ia terlalu baik.” Ucap Galuh yang kini  kembali resah. “Lalu, bagaimana kekuasaan di tangan Beliau?“ tanya Galuh lagi yang kini agak sedikit khawatir, karena karakter Ranji Raspati sangat berbanding terbalik dengan Mahesa Agung, ayah Galuh yang terkenal sangat tegas dan berani.

Ranji Raspati berhati sangat lembut dan penyayang, Ia tidak pernah mau bergabung dalam politik istana. Jangankan terlibat, duduk menemani kakaknya saat rapat istana saja, ia tidak pernah mau. Ia sangat membenci para Bangsawan, yang menurutnya sekumpulan penjilat arogan yang kotor. Itu sebabnya Galuh sangat mengkhawatirkan Paman kesayangannya ini.

“Justru ditangannya, para Bangsawan mulai berebut kekuasaan. Mereka menganggap bahwa Tuan Ranji terlalu lemah, keputusan–keputusannya terlalu plin plan. Sehingga banyak dari keluarga Bangsawan yang memanfaatkan keadaan, terutama Klan Merah.” Ucap Bi Nai sedih.

“Mereka merasa bahwa Klan Merah adalah kerabat terdekat kerajaan, maka bila suatu saat Paman anda mangkat, mereka berkoar-koar bahwa garis keluarga mereka yang kelak menjadi penggantinya.” Ucapan Bi Nai membuat Galuh geram, ia sudah mengira hal tersebut akan terjadi.

“Para bangsawan Klan Merah, sejak kecil saya memang tidak menyukai tata krama mereka yang terlalu palsu, tapi tindakan mereka untuk yang satu ini benar-benar sangat keterlaluan! Apa mereka tidak melihat silsilah keluarga? bila Paman Ranji mangkat, tentu saja dimulai dari silsilah keluarga Paman Baharyu, Gada Sangkara lah yang lebih berhak!” ucap Galuh dengan nada tidak suka.

“Bangsawan Klan merah?” tanya Adhit penasaran.

“Bangsawan Klan Merah adalah kerabat terdekat dari Ayahanda Raja, setelah dari garis keluarga Panglima tertinggi Istana, yaitu keluarga Paman Baharyu. Sayangnya, sebagian besar dari Klan Merah tidak menghasilkan apapun kecuali sebuah lidah penjilat dari mulut besar, terutama Rahadyan Sayuga,” ucap Galuh dengan nada tidak suka.

“Rahadyan Sayuga?” tanya Adhit lagi.

“Rahadyan Sayuga, adalah salah satu Tokoh Klan Merah yang paling berpengaruh dalam politik Kerajaan, ia memiliki jaringan seperti lengan gurita. Tetapi isi kepalanya hanya berisi tentang cara meraup keuntungan untuk dia dan Klannya. Berbeda dengan adiknya Sadya Agracana, ia satu-satunya Klan Merah yang sangat cerdas. Namun sayangnya, ia seperti Klan Merah lainnya, sangat licik!” Galuh menyebut kata licik dengan intonasi yang cukup dalam.

“Saya pernah mendengar dari pembicaraan Ayahanda Raja dengan Paman Baharyu, semua hal yang didapatkan oleh Rahadyan Sayuga sebenarnya adalah hasil pemikiran Sadya, lalu Rahadyan tinggal mengerahkan seluruh koneksinya untuk mengurus semua pekerjaan kotor tersebut. berhati–hatilah bila kamu bertemu dengan Sadya Agracarana, ia benar-benar ular!” ucap Galuh memperingatkan Adhit.

“Rahadyan Sayuga dan Sadya Agracarana, saya akan ingat dua nama itu,” ucap Adhit meyakinkan Galuh.

“Aah.. jadi teringat, Bi Nai, bagaimana dengan kabar Paman Baharyu sekarang?” ucap Galuh ingin tahu.

“Tuan Baharyu koma karena terkena racun Ruh yang sangat kuat saat berperang. Ada rumor yang mengatakan, bahwa sebenarnya ia justru diracun sebelum berperang. Untuk sementara jabatannya dipegang oleh putra tunggalnya, Tuan Gada Sangkara,” ucap Bi Nai sambil membuka sesuatu yang sedari tadi ia bawa.

“Gada Sangkara? Si cengeng itu?” ucap Galuh terkejut sekaligus heran.

“Dia tidak secengeng dulu Neng Galuh sayang.. Tuan Gada bukan hanya tumbuh menjadi gagah dan tampan, ia kini menjadi sehebat ayahnya,” ucap Bi Nai Berapi-api.

“Tuan Gada bisa memangku sementara jabatan Tuan Baharyu, bukan karena ia anak dari Tuan Baharyu. Melainkan ia berhasil menyingkirkan kandidat berpengalaman lain yang rata-rata seusia ayahnya. Berkat jasanya pula, Istana tetap aman terkendali sampai saat ini.” Mendengar hal tersebut, Galuh terkejut tidak percaya namun sekaligus lega.

“Saya tahu karakter Gada Sangkara ketika kecil, sekalipun lemah, ia adalah anak laki-laki yang benar-benar jujur. Bila ia telah sehebat ayahnya, saya lega sekarang, setidaknya Paman Ranji masih dalam kondisi aman,” ucap Galuh dengan sangat lega.

“Ah iya, hampir lupa, saya membawa makanan kesukaan Neng Galuh,” ucap Bi Nai sambil menyerahkan sesuatu dari kantung yang ia bawa.

“Bi Naii.. surabi kinca dan pisang kukus siram maduu buatan Bi Naiiii… ini sudah lama sekali! di gua memang ada menu yang sama, tapi berbeda dengan buatan bi Naiiii… “ucap Galuh terkejut.

Adhit kembali terkesima saat melihat Galuh tersenyum begitu lepas. Memang benar apa yang dikatakan Kakek Addar, Galuh mungkin tegas, tetapi ia juga seorang perempuan yang baik dan welas asih.

“Dan ini siapa Neng Galuh, calonnya ya neng,” tanya Bi Nai sambil memandang Adhit dengan penasaran. Galuh tertawa sambil memperkuat segel para Ajag yang tiba-tiba memaksa untuk terbuka, setelah itu ia menjelaskan.

“Ini adalah Adhitya, salah seorang manusia yang dipercayakan Kakek Addar untuk mengantar saya kesini,” ucap Galuh sambil tertawa. Ternyata Bi Nai yang ia kenal dulu tidak pernah berubah, selalu membuatnya banyak tertawa.

“Aah.. Manusia?” ucap Bi Nai heran. “Saya lupa, saya tidak boleh bertanya tentang ini. Perkenalkan, saya Bi Nai pengasuh Neng Galuh sejak kecil,” ralat Bi Nai yang lalu menyapa Adhit dengan hangat.

 “Saya bawakan juga beberapa makanan, tidak banyak yang bisa saya bawa karena begitu mendengar kabar, saya langsung membawa seperlunya dari dapur agar bisa segera datang,” ucap Bi Nai menyesal.

“Bi Nai, ini sudah lebih dari cukup,” ucap Galuh sambil menyodorkan keranjangnya agar bisa makan berdua bersama Adhit, lalu Galuh mencicipi semua yang dibawa Bi Nai dengan lahap.

“Malam ini beristirahatlah dulu disini, burung Mahui yang dikirimkan utusan Tuan Addar, sudah menerangkan tentang tujuan kedatangan kalian berdua kemari.” Ucap Bi Nai sambil membuka dua pintu kamar dengan cepat.

“Neng Galuh tidur di kamar bibi ya, Den Adhit bisa tidur di kamar sebelahnya. Semuanya bersih karena setiap dua minggu sekali pasti bibi pulang untuk membersihkan rumah,” ucap Bi Nai lagi sambil membuka salah satu lemari yang ada disudut rumah.

“Ini pakaian ganti buat Neng Galuh, pakaian bibi waktu masih langsing.. hehehe” ucap Bi Nai tertawa dengan malu, Galuh menerima sambil membolak balik pakaian tersebut dengan sangat senang.

“Ini pakaian ganti buat Den Adhit, pakaian Almarhum suami bibi sewaktu masih muda, waktu masih ganteng kaya Den Adhit.. ” ucap Bi Nai sambil tertawa, lalu ia menyerahkan pakaian tersebut pada Adhit dengan hati-hati. Adhit ikut tertawa sambil menerima pakaian tersebut dengan senang.

“Besok bibi carikan pakaian yang baru ya Neng, soalnya tadi tidak sempat,” ucap Bi Nai merasa bersalah. “Tidak usah Bi, pakaian Bi Nai bagus-bagus kok, saya pinjam dulu saja yang ada ya bi,” tolak Galuh bijak. “Pokoknya besok Bi Nai akan carikan, Neng Galuh harus keliatan anggun!” protes Bi Nai agak memaksa.

“Tapi Neng, kedatangan Neng Galuh hari ini benar-benar kebetulan yang sangat tepat,” ucap Bi Nai lagi yang membuat Galuh dan Adhit heran.

“Menurut kabar yang Bibi dengar dari burung Mahui yang dikirimkan utusan Tuan Addar, Neng Galuh harus secepatnya masuk ke dalam istana bukan? Ini sangat kebetulan sekali!” ucap Bi Nai kembali berapa-api.

“Saat ini kami memang sedang kekurangan orang di bagian kebersihan kamar para Bangsawan. Jadi, bibi bisa menyusupkan kalian berdua kedalam istana melalui penerimaan pelayan istana,” ucap Bi Nai semakin berapi-api.

“Bila berhasil, nanti bibi usahakan agar Neng Galuh dan Den Adhit dapat tempat istirahat yang bagus dan aman,” ucapan Bi Nai disambut tatapan antusias dari Galuh dan Adhit.

“Tapi Neng Galuh tidak usah kuatir, selama disana Neng Galuh tidur di kamar anak angkat saya, Subhita. Neng Galuh juga akan selalu ditemani Subhita. Biar dia yang mengerjakan seluruh pekerjaan. Apapun yang Neng butuhkan, katakan saja, maka dia akan mencarikannya segera,” ucap Bi Nai semakin bersemangat.

“Maafkan bibi, untuk saat ini hanya cara tersebut yang paling cepat,” ucap Bi Nai dengan nada menyesal.

“Tidak Bi Nai, itu cara yang paling tepat! dengan begitu saya bisa masuk ke seluruh ruangan Istana tanpa dicurigai, dan Subhita jangan diberi tanggung jawab terlalu berat, menjadi kawan saya selama disana saja, itu sudah cukup. “Ucap Galuh senang. Mendengar hal tersebut, kini Bi Nai terlihat sangat lega.

Untuk Den Adhit, mungkin nanti akan tidur dengan beberapa pegawai lain, tetapi Bibi akan carikan kamar yang letaknya paling dekat dengan kamar yang ditempati Neng Galuh,” ucap Bi Nai lagi meyakinkan.

Setelah mereka berbicara panjang lebar, Bi Nai segera kembali ke Istana untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, terutama ijin membawa dua orang untuk bekerja di istana. Sedangkan di rumah Bi Nai, Galuh dan Adhit sendiri segera menyiapkan segala yang sekiranya dibutuhkan nanti di istana, setelah itu mereka segera beristirahat agar siap untuk hari besok.

“Istana itu seperti apa?” Tanya Adhit ketika Galuh hendak beranjak ke kamarnya karena sudah mulai ngantuk. “Nanti juga kamu tahu,” jawaban Galuh yang singkat, membuat Adhit jadi semakin penasaran.

- Bersambung - Desya saghir -

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir