Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 15 - Istana | By: Desya Saghir

                 Melihat Adhit begitu terkejut, Bi Nai segera menjelaskan. “Setelah dari sini, kita akan memasuki beberapa lapisan tempat. Tugu dalam adalah pemisah antara tempat tinggal rakyat sipil dan para abdi istana.” Jelas Bi Nai dengan hati-hati. Melihat Adhit yang bisa memahami, Bi Kai kembali melanjutkan.   “Selanjutnya kita akan melewati tempat tinggal keluarga para Bangsawan, para bawahan Menteri, lalu setelah itu, baru istana,” ucap Bi Nai sambil menyalakan kendaraan terbangnya. Mendengar hal tersebut, Adhit malah kembali terkejut!                “Istana juga terbagi jadi beberapa sayap. Sayap kanan adalah tempat tinggal para Menteri utama, Bangsawan kerabat Raja dan Permaisuri yang aktif dalam politik istana. Sayap kiri adalah Panglima besar dan prajurit tertinggi. sedangkan belakang istana adalah asrama pekerja dari para pelayan istana apapun profesin...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 14 - Awal yang baru| By: Desya Saghir

Saat terbangun, Galuh terkejut karena sudah tersedia satu stel kebaya kutubaru dengan pinggiran bordir, yang dipadukan kain batik sebatas pertengahan betis dengan warna senada.               “Biruu lauuut..   ” Galuh hampir berteriak karena senang. Ia terharu, karena ternyata Bi Nai masih ingat warna favoritnya. Galuh menyentuh bordiran halus yang menempel pada pinggiran kebaya kutubarunya. “Hmm.. aroma kain baru,” ucap Galuh sambil memeluk kebaya kutubarunya dengan sangat senang. Setelah selesai membersihkan diri, dengan tidak sabar Galuh segera memakai kebaya kutubarunya. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin, mengamati penampilannya dari jarak dekat dan jauh, lalu berputar-putar untuk melihat detail sulaman pada kutubarunya dari segala arah. Setelah itu Galuh berjingkrak senang benar-benar menyukai baju barunya. Begitu keluar kamar, Galuh mendapati kejutan yang kedua. Dua cangkir bandrek hangat, satu keranj...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 13 – Menuju Istana | By: Desya Saghir

Sesuai dengan arahan Hailana sang Dewi Ruh, tepat di atas bukit Ruh, akhirnya mereka berhasil menemukan pohon besar bercabang yang disertai empat lantera. Adhit memandang pohon besar tersebut dengan sangat takjub. Kulit batangnya yang coklat tua dan bertekstur kasar, disertai guratan dan kelokan urat yang begitu kuat, Adhit menebak bahwa pohon ini adalah pohon yang sudah berumur sangat tua.   Adhit semakin terkejut, ketika mengetahui bahwa empat lantera yang menggantung disemua penjuru arah, ternyata bukan hanya sekedar hiasan, melainkan sebagai penanda letak utara dan selatan dalam wilayah tersebut. Mengikuti petunjuk Hailana selanjutnya, mereka belok kanan untuk menuruni bukit, lalu berjalan lurus untuk menuju istana. “Kenapa harus naik dulu ke bukit bila akhirnya kita turun lagi? bukankah kita bisa memutari pinggiran bukit? Itu lebih menghemat waktu,” tanya Adhit heran. “Memasuki bukit Ruh, adalah seperti memasuki labirin penuh ilusi. Salah belok sedikit, kita malah ak...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! |BAB 12 – Perjalanan | By: Desya Saghir

Seluruh isi gua awalnya terkejut. Namun dengan sigap, para Kaum Luhur langsung berbaris perkelompok dengan barisan yang sangat teratur. Ini mengejutkan! Karena sangat jauh berbeda dengan Manusia yang akan langsung kacau. Kaum Luhur benar-benar sangat disiplin, mereka benar-benar tahu hal apa saja yang harus diutamakan terlebih dahulu. Laki-laki dewasa sigap menyiapkan perlengkapan pertahanan diri. Lalu para wanita dewasa, sigap melindungi serta mengarahkan anak-anak dan lansia, untuk masuk terlebih dahulu ke beberapa pintu dari semua penjuru menuju gua perlindungan. Di ruang pertemuan sendiri, Kakek Addar dengan segera menyentuh salah satu ornamen lantai yang terletak di bawah kakinya. Galuh terhenyak, ia baru tahu bahwa selama ini terdapat lorong rahasia dibawah ruang pertemuan Aula atas. Langit-langit gua bergetar sekali lagi. Sebongkah besar potongan langit-langit gua tiba-tiba runtuh dari atas, membuat Adhit langsung spontan menarik Galuh kepelukannya. Namun ketika Galuh ...