Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 33 – Dimanakah Sang Tanah? | By: Desya Saghir

  Mereka kini terkepung oleh Dwasa Si Mahluk Asap dan pasukannya! Mata para pemilik elemen terkejut karena melihat Kitab Candrakara tergeletak begitu saja di atas meja! “Kemana Soma Wisesa, mengapa ia meninggalkan Kitab Candrakara begitu saja!” bisik Galuh panik. “Sepertinya Soma sedang mengunjungi kekasihnya didalam Istana Tujuh Pintu,” bisik Ragadewa sambil mengisyaratkan mata pada kalung Adhit. Adhit yang berada diposisi terdekat langsung bersiap untuk merebut Kitab Candrakara. Namun Dwasa Si Mahluk Asap yang mengenali momen, dengan secepat kilat ia rebut Kitab Candrakara, lalu menertawakan raut panik Galuh dan Adhit dengan sangat puas! “Sejak Kakeknya Ragadewa menyerahkan Kitab Candrakara yang berhasil ia curi dari kalian, Tuan Saguri langsung memujinya, bahkan menganugrahinya dengan energi yang berkali-kali lipat besarnya.” Ucap Dwasa dengan raut mengeras. “Namun untungnya.. isinya hanya sampah! Sehingga energi tersebut tidak jadi diberikan.. Huahahaha..!” ucap Dwasa l...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 15 - Istana | By: Desya Saghir

                 Melihat Adhit begitu terkejut, Bi Nai segera menjelaskan. “Setelah dari sini, kita akan memasuki beberapa lapisan tempat. Tugu dalam adalah pemisah antara tempat tinggal rakyat sipil dan para abdi istana.” Jelas Bi Nai dengan hati-hati. Melihat Adhit yang bisa memahami, Bi Kai kembali melanjutkan.   “Selanjutnya kita akan melewati tempat tinggal keluarga para Bangsawan, para bawahan Menteri, lalu setelah itu, baru istana,” ucap Bi Nai sambil menyalakan kendaraan terbangnya. Mendengar hal tersebut, Adhit malah kembali terkejut!                “Istana juga terbagi jadi beberapa sayap. Sayap kanan adalah tempat tinggal para Menteri utama, Bangsawan kerabat Raja dan Permaisuri yang aktif dalam politik istana. Sayap kiri adalah Panglima besar dan prajurit tertinggi. sedangkan belakang istana adalah asrama pekerja dari para pelayan istana apapun profesin...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 14 - Awal yang baru| By: Desya Saghir

Saat terbangun, Galuh terkejut karena sudah tersedia satu stel kebaya kutubaru dengan pinggiran bordir, yang dipadukan kain batik sebatas pertengahan betis dengan warna senada.               “Biruu lauuut..   ” Galuh hampir berteriak karena senang. Ia terharu, karena ternyata Bi Nai masih ingat warna favoritnya. Galuh menyentuh bordiran halus yang menempel pada pinggiran kebaya kutubarunya. “Hmm.. aroma kain baru,” ucap Galuh sambil memeluk kebaya kutubarunya dengan sangat senang. Setelah selesai membersihkan diri, dengan tidak sabar Galuh segera memakai kebaya kutubarunya. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin, mengamati penampilannya dari jarak dekat dan jauh, lalu berputar-putar untuk melihat detail sulaman pada kutubarunya dari segala arah. Setelah itu Galuh berjingkrak senang benar-benar menyukai baju barunya. Begitu keluar kamar, Galuh mendapati kejutan yang kedua. Dua cangkir bandrek hangat, satu keranj...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 13 – Menuju Istana | By: Desya Saghir

Sesuai dengan arahan Hailana sang Dewi Ruh, tepat di atas bukit Ruh, akhirnya mereka berhasil menemukan pohon besar bercabang yang disertai empat lantera. Adhit memandang pohon besar tersebut dengan sangat takjub. Kulit batangnya yang coklat tua dan bertekstur kasar, disertai guratan dan kelokan urat yang begitu kuat, Adhit menebak bahwa pohon ini adalah pohon yang sudah berumur sangat tua.   Adhit semakin terkejut, ketika mengetahui bahwa empat lantera yang menggantung disemua penjuru arah, ternyata bukan hanya sekedar hiasan, melainkan sebagai penanda letak utara dan selatan dalam wilayah tersebut. Mengikuti petunjuk Hailana selanjutnya, mereka belok kanan untuk menuruni bukit, lalu berjalan lurus untuk menuju istana. “Kenapa harus naik dulu ke bukit bila akhirnya kita turun lagi? bukankah kita bisa memutari pinggiran bukit? Itu lebih menghemat waktu,” tanya Adhit heran. “Memasuki bukit Ruh, adalah seperti memasuki labirin penuh ilusi. Salah belok sedikit, kita malah ak...