Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! |BAB 12 – Perjalanan | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Seluruh isi gua
awalnya terkejut. Namun dengan sigap, para Kaum Luhur langsung berbaris
perkelompok dengan barisan yang sangat teratur.
Ini mengejutkan!
Karena sangat jauh berbeda dengan Manusia yang akan langsung kacau. Kaum Luhur
benar-benar sangat disiplin, mereka benar-benar tahu hal apa saja yang harus
diutamakan terlebih dahulu.
Laki-laki
dewasa sigap menyiapkan perlengkapan pertahanan diri. Lalu para wanita dewasa, sigap
melindungi serta mengarahkan anak-anak dan lansia, untuk masuk terlebih dahulu ke
beberapa pintu dari semua penjuru menuju gua perlindungan.
Di ruang
pertemuan sendiri, Kakek Addar dengan segera menyentuh salah satu ornamen lantai
yang terletak di bawah kakinya. Galuh terhenyak, ia baru tahu bahwa selama ini terdapat
lorong rahasia dibawah ruang pertemuan Aula atas.
Langit-langit
gua bergetar sekali lagi. Sebongkah besar potongan langit-langit gua tiba-tiba runtuh
dari atas, membuat Adhit langsung spontan menarik Galuh kepelukannya.
Namun ketika
Galuh membuka mata dari sisi bahu Adhit, Galuh tercekat, karena bongkahan besar
tersebut tepat setengah centimeter didepan matanya. Galuh menoleh lagi pada
Adhit yang masih memeluknya dengan konsentrasi menatap sekitar. Dalam sekejap, ada
sesuatu yang merambat lembut pada hatinya diantara ketegangan yang terjadi.
“Kalian berdua masuk
lalu ikuti Jinn, cepat! teriak Kakek Addar pada Galuh dan Adhit, kemudian ia
berbalik menuju arah pintu keluar menuju Aula tengah. Galuh yang tersadar
segera melepaskan pelukan Adhit dengan cepat.
“Kakek mau
kemana!” teriak Galuh saat mendapati Kakek Addar bukannya ikut bersama mereka, melainkan
malah menuju Aula tengah mengikuti para sesepuh Kaum Luhur. “Saya harus menahan
para penyerang sekuat mungkin, penduduk disini harus tetap dalam perlindungan. Kamu
dan Adhit ikuti Jinn cepat!” teriak Kakek Addar lagi semakin kencang.
“Kakek!” teriak
Galuh lagi. “Nona, bila anda tetap disini, justru akan membahayakan penduduk dalam
gua ini. Suasana kacau akan membuat kawan–kawan anda terpancing keluar, lalu
menghancurkan segala hal yang mereka temukan disini.” Ucap Jinn Si Kelinci
sambil menginjakan langkah pertama pada tangga menuju lorong bawah.
Galuh tersadar,
para Ajag sampai sekarang memang belum dapat dikendalikan sama sekali. Apabila
ia terdesak, maka begitu para Ajag lepas dari segel, mereka akan meluluh
lantahkan apapun yang mereka temukan disini dengan membabi buta. Dengan
terpaksa, Galuh mengiyakan dan ikut masuk kedalam lorong rahasia bersama Adhit.
Baru berlari
sebentar, tiba-tiba saja mereka menemukan pintu keluar. Namun saat sudah berada
diluar, Galuh dan Adhit tersentak luar biasa.
Kini mereka menemukan
diri mereka tengah berada di padang bunga yang amat luas. Ratusan jenis bunga aneka
warna bermekaran dengan sangat indah. Disertai suasana hening dan kabut tipis
yang sedikit mengawang, padang bunga ini lebih tampak seperti dongeng nirwana
klasik yang selalu diceritakan dalam literatur kuno.
“Jinn ini dimana?
tanya Galuh sambil menatap sekeliling dengan heran, ia sering ditugaskan Kakek
Addar untuk mengawasi daerah sekitar gua, tetapi ia tidak pernah melihat padang
bunga seluas ini di sekitar Gua.
“Ini wilayah
yang paling dihindari Kaum Hitam, hutan seribu bunga. Hutan tersembunyi milik
para Ruh!“ ucap Jinn Si Kelinci yang diiringi pandangan kaget dari Galuh.
“Hutan seribu
bunga? bukankah ini sangat jauh sekali dari gua, bagaimana bisa sampai disini
begitu cepat?” ucap Galuh heran.
“Yang tadi kita
lewati adalah pintu buatan leluhur Tuan Addar. Begitu terbuka, maka pintu tersebut
hanya berlaku dilewati untuk satu kali. Setelah ini, mereka yang hendak mengikuti
kita, hanya akan melewati lorong biasa dengan banyak cabang yang tidak mengarah
kemanapun, kecuali jalan sekitar luar gua atau tembok buntu yang dipenuhi
jebakan.” Ucapan Jinn Si Kelinci yang membuat Adhit menoleh terkejut.
“Buatan leluhur
Kakek Addar? apa Guru Candrakra?” Tanya Adhit dengan raut terkejut.
“Menurut
pembicaraan yang saya dengar kemarin, pintu ini memang peninggalan Guru Candrakara,”
jawab Jinn Si Kelinci membenarkan. “Gila.. benar-benar gila! Dia mempersiapkan
semua ini dengan sangat detail, benar-benar seorang jenius gila!” ucap Adhit sambil
menggeleng takjub.
“Jadi kamu
sudah tahu bahwa penyerangan di gua tadi akan terjadi? mengapa sebelumnya kamu
tidak mengatakan apapun tentang ini?” tanya Galuh merasa dibodohi.
“Tidak Nona,
kejadian tadi benar-benar diluar dugaan kami. Sejak Adhit diketahui adalah
salah satu pemilik elemen, Tuan Addar langsung memilih saya untuk menjadi
pemandu anda berdua bila sesuatu hal terjadi di dalam Gua. Saya terpilih, karena
saya adalah salah satu utusan Tuan Rahyata, yang sering ditugaskan ke tempat
banyak tempat untuk mencari bahan ramuan, termasuk bukit Ruh.” Jelas Jinn dengan
hati-hati.
“Pantas saja,
ketika Tuan Rahyata membutuhkan sesuatu, kamu mengenalnya seakan tangan
kanannya sendiri, “ucap Adhit sambil tertawa.
“Saya tidak
bermaksud membohongi anda, selain ditugaskan untuk tetap berada di dekat anda
dan Nona Galuh, saya juga ditugaskan Tuan Addar agar anda bisa mempelajari
semua hal yang ada di gua tanpa merasa terbebani,” ucap Jinn Si Kelinci merasa
tidak enak hati.
“Saya tidak
tersinggung sama sekali Jinn, justru yang di lakukan Kakek Addar adalah keputusan
tepat! Dengan adanya kamu, suasana belajar jadi terasa sangat menyenangkan! Tidak
seperti ini..” ucap Adhit sambil menirukan beberapa mimik para pengajar yang
rata-rata memang aneh dan membosankan. Melihat hal tersebut, Jinn Si Kelinci dan
Galuh langsung tertawa terbahak-bahak.
Adhit lalu memandang
sekeliling dengan sangat terkesima. “Kakek Addar memilih tempat pelarian yang hebat!
lihatlah, disini semuanya sangat indah dan begitu menakjubkan,” ucap Adhit sambil
terkesima luar biasa, tetapi tidak dengan Jinn Si Kelinci.
“Sekalipun
indah, tempat ini penuh dengan rahasia. Disini adalah tempat dimana sering
berkelebatan para Ruh hutan,” ucap Jinn Si Kelinci dengan pandangan berkeliling.
Mendengar ucapan Jinn Si Kelinci, Galuh kini kembali waspada. Namun, Adhit yang
belum mengetahui segala kejutan yang ada didalam Astamaya, ia malah terlihat seperti
bocah nakal yang tersesat di negeri ajaib.
Namun, karena itu
perjalanan mereka jadi lebih berwarna karena segala kebodohan yang dilakukan
Adhit. Bahkan Galuh dan Jinn Si Kelinci harus turun tangan menolong Adhit
dengan sangat terpingkal.
Namun tiba-tiba,
berhembus sebuah angin kecil membelai wajah mereka dengan lembut. Jinn Si Kelinci
yang sudah ratusan kali melewati wilayah ini terkejut, Ia sangat mengenali hawa
yang menyertai angin tersebut. Lalu dengan segera, ia bersiap sambil
mengepalkan tangannya dengan cepat.
Galuh yang
sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Kaum Ruh, ikut memasang kuda-kuda
mengikuti Jinn Si Kelinci, namun setelah itu hawanya hilang entah kemana.
Sedangkan Adhit
yang masih terlena malah keheranan. “Ada apa?” bisik Adhit kaget. “Tadi kita
kedatangan salah satu Ruh penghuni hutan, namun sepertinya sudah pergi,” ucap
Jinn Si Kelinci kembali lega. Adhit lalu memandang sekeliling, namun ia tidak
menemukan sesuatu yang aneh.
“Mau tidak mau
kita harus masuk ke dalam Hutan Ruh, ini satu-satunya jalan yang di jauhi Kaum
Hitam dan tercepat menuju istana,” ucap Jinn Si Kelinci sambil bergegas.
“Istana? untuk
apa kita kesana?” tanya Galuh terkejut. “Ini adalah perintah langsung dari Tuan
Addar. Bila Kaum Hitam sampai menyerang Gua, itu artinya keberadaan anda sudah
diketahui. Istana adalah tempat dimana para Kaum Hitam tidak dapat seenaknya keluar
masuk, sehingga disana Nona akan lebih aman,” ucap Jinn Si Kelinci sambil tidak
berhenti melangkah.
Begitu
mendengar ini adalah perintah langsung dari Kakek Addar, Galuh hanya dapat
mengikuti dengan pasrah. Sedangkan Adhit, ia hanya mengangguk-angguk, lalu
kembali berjalan sambil bermain-main dengan segala keanehan yang ada diwilayah
ini.
Sepanjang
perjalanan, Galuh dan Jinn Si Kelinci berjalan dengan kewaspadaan penuh. Sedangkan
Adhit, ia malah semakin terlena bermain-main dengan segala keajaiban disekitar
mereka.
Tiba-tiba ada
hembusan angin yang berkelebat lagi, sekalipun sedikit dingin dan mengawang,
kali ini Jinn Si Kelinci merasakan hawanya sedikit lebih berat.
“Sepertinya
kita sedang diawasi salah satu Ruh tua,” bisik Jinn Si kelinci sambil memberi
aba-aba untuk tetap tenang. “Sekalipun para Ruh sendiri penuh dengan tipu muslihat,
tujuan mereka hanya untuk kesenangan saja, tidak lebih.” Bisik Jinn Si Kelinci lagi
dengan sikap masih bersiaga. Sedangkan Adhit, ia kini malah tampak seperti
anak–anak yang tersesat di tengah hutan ajaib.
“Jinn.. apakah
perjalanan kita masih jauh?” bisik Galuh ingin tahu. “Kita masih agak lumayan
jauh, mohon bersabar dan tetap waspada Nona, sepertinya kita diawasi setidaknya
ada lima Ruh muda dan satu Ruh tua,“ ucap Jinn Si Kelinci yang lalu diangguki
Galuh sebagai tanda mengerti.
Namun tak lama
dari itu, perjalanan mereka mulai terganggu angin kecil yang membelai
ranting–ranting sekitar. Dimulai dari ranting yang seakan tengah diduduki
seseorang yang tidak berwujud, hembusan angin dingin menerpa wajah, hingga bisikan-bisikan
kecil yang membuat bulu tengkuk berdiri.
Galuh dan Jinn Si
Kelinci terus berjalan dengan waspada. Sedangkan Adhit yang mulai menyadari, segera
berhenti bermain-main, lalu mendekat pada Jinn Si Kelinci karena ngeri. “Apa
mereka semacam si asap hitam yang mengejar saya dulu?” bisik Adhit sedikit gelisah.
“Aah.. jadi kau
sudah bertemu dengan si kecoak Dwasa?” ucap sebuah suara lembut dari sekelebat bayangan
tak berwujud.
Tak lama,
bayangan tersebut perlahan menjelma, lalu menampakan sosoknya yang begitu muda dan
amat sangat cantik. Wanita Ruh ini bukan hanya sangat cantik, keindahan lekukan
tubuh yang begitu memikat mata, benar-benar membuat siapa saja yang memandang
seakan tersedot ke dalam pusaran keindahan yang tidak terelakan.
Namun, sekalipun
daya tarik sensualnya mengguar ke segala arah. Wanita Ruh ini juga diselimuti aura
yang begitu mengerikan. Ini menjadikan sosoknya yang sangat memikat terasa begitu
mematikan.
“Kamu mengenal Dwasa?”
ucap Galuh heran, ia mulai khawatir bila Kaum Ruh mulai bekerjasama dengan Kaum
Hitam.
“Tentu saja, disini
siapa yang tidak mengenalnya. Kecoak busuk lemah yang sering sekali mengemis
agar diberi kemurahan hati kami,” ucap wanita Ruh ini dengan nada yang merendahkan.
“Apa kalian sedang
lari dari si kecoak Dwasa? Hmm..tidak mengherankan, setelah mendapatkan bantuan
dari Saguri brengsek! Lihatlah sekarang, Dwasa menjadi pongah dan berani
bertidak seenaknya. Kami para Ruh saja jadi sering kesulitan dalam menghadapi
setiap serangannya, apalagi kalian para Astamaya muda.” Ucap wanita Ruh
tersebut sambil menggoyang–goyangkan kakinya di atas ranting seperti remaja
tanggung.
“Tidak, ia
tetap kecoak kecil yang tidak berguna!” ucap sebuah suara yang lalu memunculkan
diri menjadi mahluk kabut asap transparan yang mempunyai wajah. “Yaa.. sekali
remas saja, ia pasti akan hancur berantakan!” Ucap salah satu yang lain sambil
meremas salah satu ranting hingga menjadi serpihan. “Ya.. itu benar!” ucap dua
lagi dengan wujud yang sama.
Benar seperti
yang dikatakan Jinn Si Kelinci, ternyata ada satu Ruh tua dan empat Ruh lainnya
disini.
“Jadi kalian
tidak bekerjasama dengan Saguri?” tanya Galuh penasaran. “Tentu saja tidak..“ jawabnya
sambil melayangkan tubuhnya dengan indah. Wanita Ruh ini kemudian mengelilingi
Galuh dan kawan-kawannya dengan sangat gemulai. Juntaian kain batik sutra yang
melilit tubuh wanita Ruh ini, melambai–lambai lambat seakan ia tengah melandai
di dalam air.
“jadi kalian
juga musuh dari Dwasa?” ucap Adhit spontan.
“Aah.. anak
muda pemberani… Aah.. Manusia…? “ ucap Wanita Ruh tersebut terkejut yang lalu
mundur sedikit. Namun setelah itu, ia kembali melayang mendekat penuh ingin
tahu. “Tidak mungkin! Bara itu! Kamu memiliki bara yang sangat indah anak muda!”
ucap Wanita Ruh tersebut dengan mata penuh takjub.
Lalu Wanita Ruh
ini kembali mendekat dengan sedikit agresif. Sisi kain sutra panjangnya
berkelebat mengikuti alur gerak tubuhnya, seakan gravitasi dan anginpun tunduk
dalam setiap gerakannya yang maha indah.
Saat semakin
mendekat, Galuh dan Jinn Si Kelinci dengan sigap menghalangi dari depan,
seketika itu pula, muncul beberapa geraman seakan ikut bersedia menjadi tameng
bagi Adhit.
“Aah.. energi
ini!… NaRaja? “ ucap Wanita Ruh tersebut terkejut sambil mundur sedikit. “Jangan–jangan..
anda Nona Kanaya Galuh, pemilik para Ajag! ini sangat menarik..” ucap Wanita
Ruh ini lagi sambil melayang mengelilingi Galuh dengan pandangan penuh rasa
ingin tahu.
“Dari mana anda
tahu nama saya?” ucap Galuh mencoba menahan diri.
“Saya Hailana”
ucap Wanita Ruh tersebut sambil terus mengelilingi Galuh dengan pandangan
menyelidik.
“Anda.. anda
Hailana sang Dewi Ruh?” ucap Jinn Si Kelinci terkejut. “Nona Hailana, kami
hanya menumpang lewat, tidak bermaksud jahat, tolong ijinkan kami lewat dengan
selamat.” Ucap Jinn Si Kelinci tiba-tiba dengan sangat bersopan santun. Galuh heran,
karena tubuh Jinn Si Kelinci terlihat sedikit bergetar.
Kakek Addar
belum pernah bercerita apapun tentang Wanita Ruh ini pada Galuh, namun mengapa
Jinn Si Kelinci bersikap seakan-akan wanita Ruh dihadapannya benar–benar sangat
berbahaya.
“Ya, saya Hailana, Dewi para Ruh. Namun kalian
tenang saja, kami tidak akan mengganggu perjalanan kalian, apa lagi untuk seorang
Galuh… Kanaya Galuh..” ucap sang Dewi sambil mundur, lalu duduk kembali di atas
ranting sambil memain–mainkan kakinya seperti remaja tanggung. Kain batik sutra
yang melilit tubuhnya masih berkibar-kibar dengan indah sempurna.
Mereka terpaku,
terhisap oleh pancaran keindahan yang ditampilkan sosok Dewi Ruh ini. Hailana
mempunyai wajah bentuk hati yang menarik, sepasang mata garis berkelopak tajam yang
dibingkai alis tipis yang melengkung sempurna, hidung mancung kecil tetapi
serasi, dan bibir yang menyerupai gendewa para dewi yang indah dan menyesatkan.
Semua itu cukup membuat mereka terpaku dalam sesaat.
Dari mana anda
tahu tentang nama itu?” ucap Galuh sedikit gusar, Jinn Si Kelinci panik sambil
menyentuh lengan Galuh agar tetap menahan diri.
“Karena saya
hidup seribu tahun sebelum kamu lahir sayang..” ucap Hailana sang Dewi Ruh
sambil kembali terbang mendekati Galuh.
Galuh
tersentak, ternyata dihadapan mereka bukan hanya Ruh Tua, melainkah Ruh dengan
kekuatan yang mungkin sebanding dengan para Ajag. Kini Galuh mengerti mengapa
tubuh Jinn Si Kelinci bergetar saat mengetahui nama dari wanita Ruh ini.
“Kanaya Galuh,
putri tunggal pewaris tahta kerajaan Astamaya. Ternyata rumor itu benar, kamu
masih hidup..” ucap Hailana sang Dewi ruh dengan nada tertarik.
Hailana terbang
mengelilingi Galuh dengan sangat perlahan, kain batik sutra yang melilit
tubuhnya bergerak mengikuti arah terbang Hailana dengan sangat memukau mata.
“Pergilah
sebelum kami mencabikmu!” ucap salah satu Ajag memotong pembicaraan. “ Aaah…
akhirnya segel sedikit terbuka..! ” ucap Hailana sang Dewi Ruh, yang lalu
secara tiba–tiba masuk begitu saja menembus segel para Ajag dengan cepat.
Galuh dan Jinn Si
Kelinci panik, Adhit sendiri tidak tau harus berbuat apa. “ Kau! apa–apaan
ini!, lancang sekali masuk ke dalam wilayah kami! ucap para Ajag dengan gaduh
dan marah. Segel sempat terbuka, namun setelah itu tertutup lagi disertai
teriakan mengaduh dari NaRaja dan teriakan Hailana yang genit dan manja.
Tak lama
Hailana sang Dewi Ruh keluar dengan wajah sangat senang. “saya berhasil
mengecup NaRaja, aaah… ternyata dia gagah sekali!” ucap Hailana sang Dewi Ruh
mengedip genit.
Galuh terkejut, selama ini tidak ada yang bisa
menembus segel dan menaklukan NaRaja dengan mudah. Galuh semakin ngeri dengan
kekuatan wanita Ruh ini, Hailana ternyata benar-benar sangat berbahaya.
“Demi NaRaja,
kali ini Hailana berbaik hati pada kalian. Jalanlah lurus kedepan, bila bertemu
dengan pohon besar dengan juntaian empat lantera, kalian belok kanan dan terus
berjalan lurus kedepan.” Ucap Hailana dengan nada suara lembut, namun berintonasi
tegas.
“Bila bertemu
dengan Ruh lain, kalian akan tetap aman karena telah atas restu dari Hailana
sang Dewi Ruh,” ucap Hailana sang Dewi ruh, sambil menuliskan mantera singkat
berupa aksara buhun, atau aksara Sunda kuno dengan jarinya. Setelah aksara
tersebut lenyap, Hailanapun menghilang dengan misterius.
“Dia telah
pergi” ucap Jinn Si Kelinci lega. “Jinn, dia itu siapa? mengapa tidak ada yang
membicarakan tentang dia di gua?” tanya Galuh heran.
“Tuan Addar
tidak pernah berbicara apapun tentang Nona Hailana?” ucap Jinn Si Kelinci
heran, Galuh menggeleng pasti.
“Nona Hailana
adalah Dewinya para Ruh. Konon katanya, saat dalam kandungan, ia adalah janin manusia
biasa. Nona Hailana berubah menjadi salah satu bagian dari Kaum Ruh, karena saat
dikandung, Ibunya tiba–tiba melahirkan ditengah hutan dalam perjalanan menuju
desa ayahnya,” ucap Jinn Si Kelinci serius.
“Saat berhasil
lahir, tarikan napasnya yang pertama kali di bumi telah menarik masuk bayi Ruh
keturunan murni, yang lahir di dalam pohon besar tempat ibu Nona Hailana
bersandar. ini yang membuat Ruh murni tersebut menyatu dengan tubuhnya.” Ucap
Jinn Si Kelinci lagi.
“Sayangnya saat
berusia tujuh tahun, begitu ibu Nona Hailana sakit keras dan wafat, ia malah dibuang
oleh sukunya sendiri di hutan ini.” ucap Jinn Si Kelinci sedih, membuat Galuh
dan Adhit terkejut.
“Para penduduk
desa ketakutan karena keanehan yang dimiliki Nona Hailana. Ia bukan hanya
sering dikunjungi ibu dari Ruh yang tersedot ke dalam dirinya, ia juga bisa
berbicara bahasa mereka dan mengobati para Ruh dengan hanya menyentuhnya,”
mendengar hal tersebut, Galuh dan Adhit merasa kaget sekaligus takjub.
“Namun, hal
tersebut justru membuat para Ruh jadi selalu datang ke desa tempat Nona Hailana
tinggal. Maka sejak dibuang, sejak saat itu pula ia tumbuh di asuh oleh ibu Ruh
tersebut, lalu menghabiskan hidup sebagai salah seorang dari mereka.” Galuh dan
Adhit begitu takjub mendengar hal tersebut.
“Namun bukan
itu saja kemampuan yang dimilikinya. Semakin dewasa, Nona Hailana ternyata
memiliki kemampuan lain. Tembang kecapi kawihnya, mampu mengikat Ruh inti dari para
Ruh, sehingga para Ruh akan kehilangan energi saat berhadapan dengannya. Dengan
berjalannya waktu, ia kini berhasil menguasai para Ruh kuat dari berbagai
penjuru bukit Ruh,” ucap Jinn si kelinci sambil mengendus udara sekitar.
“Ada apa?” tanya
Adhit penasaran, “ada aroma mahluk rawa, sebaiknya kita meneruskan perjalanan,”
ucap Jinn Si Kelinci dengan hati–hati. “Aneh sekali, seharusnya mereka tidak berani
melewati tempat ini, mereka paling takut dengan penghuni hutan Ruh,” ucap Jinn Si
Kelinci seakan berbicara dengan pikirannya sendiri.
“Bagaimana bila
mereka bukan melewati, melainkan dibawa dengan paksa, persis seperti pohon
pemakan daging yang pagi tadi menyerang gua.” Ucap Adhit sambil membuka buku
agenda kecilnya untuk mencari beberapa keterangan.
“Wuuaaahh…. dia menebaknya dengan benaarrr…
hahahaha..!” salah satu Ajag yang di iringi sorak sorai para Ajag lain.
“Apa maksud
kalian?” ucap Galuh terkejut.
“Istana dikelilingi
parit yang amat besar, suruh saja para monster rawa untuk menyelam dalam menyeberangi
paritnya, maka Kaum Hitam bisa bersembunyi di dalam tubuh mahluk rawa tanpa
takut diketahui dan tersengat segel istana. “ucap salah satu Ajag dengan senang.
“Hahaha… sudah saya bilang kan, pasti anak ini bisa menjawabnya” ucap Ajag yang
lainnya ikut senang.
“Kalian ini,
selalu saja semua dianggap permainan” ucap Galuh kesal.
“Ini gawat!”
ucap Jin Si Kelinci, sebaiknya kita harus cepat masuk ke istana sebelum para Kaum
Hitam berbuat onar. Jangan sampai begitu kita datang, pintu benteng istana
telah di tutup!“ ucap Jinn Si Kelinci mempercepat langkahnya, yang lalu segera
diikuti Galuh dan Adhit dengan langkah sama cepatnya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar