Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! |BAB 12 – Perjalanan | By: Desya Saghir

Seluruh isi gua awalnya terkejut. Namun dengan sigap, para Kaum Luhur langsung berbaris perkelompok dengan barisan yang sangat teratur.

Ini mengejutkan! Karena sangat jauh berbeda dengan Manusia yang akan langsung kacau. Kaum Luhur benar-benar sangat disiplin, mereka benar-benar tahu hal apa saja yang harus diutamakan terlebih dahulu.

Laki-laki dewasa sigap menyiapkan perlengkapan pertahanan diri. Lalu para wanita dewasa, sigap melindungi serta mengarahkan anak-anak dan lansia, untuk masuk terlebih dahulu ke beberapa pintu dari semua penjuru menuju gua perlindungan.

Di ruang pertemuan sendiri, Kakek Addar dengan segera menyentuh salah satu ornamen lantai yang terletak di bawah kakinya. Galuh terhenyak, ia baru tahu bahwa selama ini terdapat lorong rahasia dibawah ruang pertemuan Aula atas.

Langit-langit gua bergetar sekali lagi. Sebongkah besar potongan langit-langit gua tiba-tiba runtuh dari atas, membuat Adhit langsung spontan menarik Galuh kepelukannya.

Namun ketika Galuh membuka mata dari sisi bahu Adhit, Galuh tercekat, karena bongkahan besar tersebut tepat setengah centimeter didepan matanya. Galuh menoleh lagi pada Adhit yang masih memeluknya dengan konsentrasi menatap sekitar. Dalam sekejap, ada sesuatu yang merambat lembut pada hatinya diantara ketegangan yang terjadi.

“Kalian berdua masuk lalu ikuti Jinn, cepat! teriak Kakek Addar pada Galuh dan Adhit, kemudian ia berbalik menuju arah pintu keluar menuju Aula tengah. Galuh yang tersadar segera melepaskan pelukan Adhit dengan cepat.

“Kakek mau kemana!” teriak Galuh saat mendapati Kakek Addar bukannya ikut bersama mereka, melainkan malah menuju Aula tengah mengikuti para sesepuh Kaum Luhur. “Saya harus menahan para penyerang sekuat mungkin, penduduk disini harus tetap dalam perlindungan. Kamu dan Adhit ikuti Jinn cepat!” teriak Kakek Addar lagi semakin kencang.

“Kakek!” teriak Galuh lagi. “Nona, bila anda tetap disini, justru akan membahayakan penduduk dalam gua ini. Suasana kacau akan membuat kawan–kawan anda terpancing keluar, lalu menghancurkan segala hal yang mereka temukan disini.” Ucap Jinn Si Kelinci sambil menginjakan langkah pertama pada tangga menuju lorong bawah.

Galuh tersadar, para Ajag sampai sekarang memang belum dapat dikendalikan sama sekali. Apabila ia terdesak, maka begitu para Ajag lepas dari segel, mereka akan meluluh lantahkan apapun yang mereka temukan disini dengan membabi buta. Dengan terpaksa, Galuh mengiyakan dan ikut masuk kedalam lorong rahasia bersama Adhit.

Baru berlari sebentar, tiba-tiba saja mereka menemukan pintu keluar. Namun saat sudah berada diluar, Galuh dan Adhit tersentak luar biasa.

Kini mereka menemukan diri mereka tengah berada di padang bunga yang amat luas. Ratusan jenis bunga aneka warna bermekaran dengan sangat indah. Disertai suasana hening dan kabut tipis yang sedikit mengawang, padang bunga ini lebih tampak seperti dongeng nirwana klasik yang selalu diceritakan dalam literatur kuno.

“Jinn ini dimana? tanya Galuh sambil menatap sekeliling dengan heran, ia sering ditugaskan Kakek Addar untuk mengawasi daerah sekitar gua, tetapi ia tidak pernah melihat padang bunga seluas ini di sekitar Gua. 

“Ini wilayah yang paling dihindari Kaum Hitam, hutan seribu bunga. Hutan tersembunyi milik para Ruh!“ ucap Jinn Si Kelinci yang diiringi pandangan kaget dari Galuh.

“Hutan seribu bunga? bukankah ini sangat jauh sekali dari gua, bagaimana bisa sampai disini begitu cepat?” ucap Galuh heran.

“Yang tadi kita lewati adalah pintu buatan leluhur Tuan Addar. Begitu terbuka, maka pintu tersebut hanya berlaku dilewati untuk satu kali. Setelah ini, mereka yang hendak mengikuti kita, hanya akan melewati lorong biasa dengan banyak cabang yang tidak mengarah kemanapun, kecuali jalan sekitar luar gua atau tembok buntu yang dipenuhi jebakan.” Ucapan Jinn Si Kelinci yang membuat Adhit menoleh terkejut.

“Buatan leluhur Kakek Addar? apa Guru Candrakra?” Tanya Adhit dengan raut terkejut.

“Menurut pembicaraan yang saya dengar kemarin, pintu ini memang peninggalan Guru Candrakara,” jawab Jinn Si Kelinci membenarkan. “Gila.. benar-benar gila! Dia mempersiapkan semua ini dengan sangat detail, benar-benar seorang jenius gila!” ucap Adhit sambil menggeleng takjub.

“Jadi kamu sudah tahu bahwa penyerangan di gua tadi akan terjadi? mengapa sebelumnya kamu tidak mengatakan apapun tentang ini?” tanya Galuh merasa dibodohi.

“Tidak Nona, kejadian tadi benar-benar diluar dugaan kami. Sejak Adhit diketahui adalah salah satu pemilik elemen, Tuan Addar langsung memilih saya untuk menjadi pemandu anda berdua bila sesuatu hal terjadi di dalam Gua. Saya terpilih, karena saya adalah salah satu utusan Tuan Rahyata, yang sering ditugaskan ke tempat banyak tempat untuk mencari bahan ramuan, termasuk bukit Ruh.” Jelas Jinn dengan hati-hati.

“Pantas saja, ketika Tuan Rahyata membutuhkan sesuatu, kamu mengenalnya seakan tangan kanannya sendiri, “ucap Adhit sambil tertawa.

“Saya tidak bermaksud membohongi anda, selain ditugaskan untuk tetap berada di dekat anda dan Nona Galuh, saya juga ditugaskan Tuan Addar agar anda bisa mempelajari semua hal yang ada di gua tanpa merasa terbebani,” ucap Jinn Si Kelinci merasa tidak enak hati.

“Saya tidak tersinggung sama sekali Jinn, justru yang di lakukan Kakek Addar adalah keputusan tepat! Dengan adanya kamu, suasana belajar jadi terasa sangat menyenangkan! Tidak seperti ini..” ucap Adhit sambil menirukan beberapa mimik para pengajar yang rata-rata memang aneh dan membosankan. Melihat hal tersebut, Jinn Si Kelinci dan Galuh langsung tertawa terbahak-bahak.

Adhit lalu memandang sekeliling dengan sangat terkesima. “Kakek Addar memilih tempat pelarian yang hebat! lihatlah, disini semuanya sangat indah dan begitu menakjubkan,” ucap Adhit sambil terkesima luar biasa, tetapi tidak dengan Jinn Si Kelinci.

“Sekalipun indah, tempat ini penuh dengan rahasia. Disini adalah tempat dimana sering berkelebatan para Ruh hutan,” ucap Jinn Si Kelinci dengan pandangan berkeliling. Mendengar ucapan Jinn Si Kelinci, Galuh kini kembali waspada. Namun, Adhit yang belum mengetahui segala kejutan yang ada didalam Astamaya, ia malah terlihat seperti bocah nakal yang tersesat di negeri ajaib.

Namun, karena itu perjalanan mereka jadi lebih berwarna karena segala kebodohan yang dilakukan Adhit. Bahkan Galuh dan Jinn Si Kelinci harus turun tangan menolong Adhit dengan sangat terpingkal.

Namun tiba-tiba, berhembus sebuah angin kecil membelai wajah mereka dengan lembut. Jinn Si Kelinci yang sudah ratusan kali melewati wilayah ini terkejut, Ia sangat mengenali hawa yang menyertai angin tersebut. Lalu dengan segera, ia bersiap sambil mengepalkan tangannya dengan cepat.

Galuh yang sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Kaum Ruh, ikut memasang kuda-kuda mengikuti Jinn Si Kelinci, namun setelah itu hawanya hilang entah kemana.

Sedangkan Adhit yang masih terlena malah keheranan. “Ada apa?” bisik Adhit kaget. “Tadi kita kedatangan salah satu Ruh penghuni hutan, namun sepertinya sudah pergi,” ucap Jinn Si Kelinci kembali lega. Adhit lalu memandang sekeliling, namun ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

“Mau tidak mau kita harus masuk ke dalam Hutan Ruh, ini satu-satunya jalan yang di jauhi Kaum Hitam dan tercepat menuju istana,” ucap Jinn Si Kelinci sambil bergegas.

“Istana? untuk apa kita kesana?” tanya Galuh terkejut. “Ini adalah perintah langsung dari Tuan Addar. Bila Kaum Hitam sampai menyerang Gua, itu artinya keberadaan anda sudah diketahui. Istana adalah tempat dimana para Kaum Hitam tidak dapat seenaknya keluar masuk, sehingga disana Nona akan lebih aman,” ucap Jinn Si Kelinci sambil tidak berhenti melangkah.

Begitu mendengar ini adalah perintah langsung dari Kakek Addar, Galuh hanya dapat mengikuti dengan pasrah. Sedangkan Adhit, ia hanya mengangguk-angguk, lalu kembali berjalan sambil bermain-main dengan segala keanehan yang ada diwilayah ini.

Sepanjang perjalanan, Galuh dan Jinn Si Kelinci berjalan dengan kewaspadaan penuh. Sedangkan Adhit, ia malah semakin terlena bermain-main dengan segala keajaiban disekitar mereka.

Tiba-tiba ada hembusan angin yang berkelebat lagi, sekalipun sedikit dingin dan mengawang, kali ini Jinn Si Kelinci merasakan hawanya sedikit lebih berat.

“Sepertinya kita sedang diawasi salah satu Ruh tua,” bisik Jinn Si kelinci sambil memberi aba-aba untuk tetap tenang. “Sekalipun para Ruh sendiri penuh dengan tipu muslihat, tujuan mereka hanya untuk kesenangan saja, tidak lebih.” Bisik Jinn Si Kelinci lagi dengan sikap masih bersiaga. Sedangkan Adhit, ia kini malah tampak seperti anak–anak yang tersesat di tengah hutan ajaib.

“Jinn.. apakah perjalanan kita masih jauh?” bisik Galuh ingin tahu. “Kita masih agak lumayan jauh, mohon bersabar dan tetap waspada Nona, sepertinya kita diawasi setidaknya ada lima Ruh muda dan satu Ruh tua,“ ucap Jinn Si Kelinci yang lalu diangguki Galuh sebagai tanda mengerti.

Namun tak lama dari itu, perjalanan mereka mulai terganggu angin kecil yang membelai ranting–ranting sekitar. Dimulai dari ranting yang seakan tengah diduduki seseorang yang tidak berwujud, hembusan angin dingin menerpa wajah, hingga bisikan-bisikan kecil yang membuat bulu tengkuk berdiri.

Galuh dan Jinn Si Kelinci terus berjalan dengan waspada. Sedangkan Adhit yang mulai menyadari, segera berhenti bermain-main, lalu mendekat pada Jinn Si Kelinci karena ngeri. “Apa mereka semacam si asap hitam yang mengejar saya dulu?” bisik Adhit sedikit gelisah.

“Aah.. jadi kau sudah bertemu dengan si kecoak Dwasa?” ucap sebuah suara lembut dari sekelebat bayangan tak berwujud.

Tak lama, bayangan tersebut perlahan menjelma, lalu menampakan sosoknya yang begitu muda dan amat sangat cantik. Wanita Ruh ini bukan hanya sangat cantik, keindahan lekukan tubuh yang begitu memikat mata, benar-benar membuat siapa saja yang memandang seakan tersedot ke dalam pusaran keindahan yang tidak terelakan.

Namun, sekalipun daya tarik sensualnya mengguar ke segala arah. Wanita Ruh ini juga diselimuti aura yang begitu mengerikan. Ini menjadikan sosoknya yang sangat memikat terasa begitu mematikan.

“Kamu mengenal Dwasa?” ucap Galuh heran, ia mulai khawatir bila Kaum Ruh mulai bekerjasama dengan Kaum Hitam.

“Tentu saja, disini siapa yang tidak mengenalnya. Kecoak busuk lemah yang sering sekali mengemis agar diberi kemurahan hati kami,” ucap wanita Ruh ini dengan nada yang merendahkan.

“Apa kalian sedang lari dari si kecoak Dwasa? Hmm..tidak mengherankan, setelah mendapatkan bantuan dari Saguri brengsek! Lihatlah sekarang, Dwasa menjadi pongah dan berani bertidak seenaknya. Kami para Ruh saja jadi sering kesulitan dalam menghadapi setiap serangannya, apalagi kalian para Astamaya muda.” Ucap wanita Ruh tersebut sambil menggoyang–goyangkan kakinya di atas ranting seperti remaja tanggung.

“Tidak, ia tetap kecoak kecil yang tidak berguna!” ucap sebuah suara yang lalu memunculkan diri menjadi mahluk kabut asap transparan yang mempunyai wajah. “Yaa.. sekali remas saja, ia pasti akan hancur berantakan!” Ucap salah satu yang lain sambil meremas salah satu ranting hingga menjadi serpihan. “Ya.. itu benar!” ucap dua lagi dengan wujud yang sama.

Benar seperti yang dikatakan Jinn Si Kelinci, ternyata ada satu Ruh tua dan empat Ruh lainnya disini.

“Jadi kalian tidak bekerjasama dengan Saguri?” tanya Galuh penasaran. “Tentu saja tidak..“ jawabnya sambil melayangkan tubuhnya dengan indah. Wanita Ruh ini kemudian mengelilingi Galuh dan kawan-kawannya dengan sangat gemulai. Juntaian kain batik sutra yang melilit tubuh wanita Ruh ini, melambai–lambai lambat seakan ia tengah melandai di dalam air.

“jadi kalian juga musuh dari Dwasa?” ucap Adhit spontan.

“Aah.. anak muda pemberani… Aah.. Manusia…? “ ucap Wanita Ruh tersebut terkejut yang lalu mundur sedikit. Namun setelah itu, ia kembali melayang mendekat penuh ingin tahu. “Tidak mungkin! Bara itu! Kamu memiliki bara yang sangat indah anak muda!” ucap Wanita Ruh tersebut dengan mata penuh takjub.

Lalu Wanita Ruh ini kembali mendekat dengan sedikit agresif. Sisi kain sutra panjangnya berkelebat mengikuti alur gerak tubuhnya, seakan gravitasi dan anginpun tunduk dalam setiap gerakannya yang maha indah.

Saat semakin mendekat, Galuh dan Jinn Si Kelinci dengan sigap menghalangi dari depan, seketika itu pula, muncul beberapa geraman seakan ikut bersedia menjadi tameng bagi Adhit.

“Aah.. energi ini!… NaRaja? “ ucap Wanita Ruh tersebut terkejut sambil mundur sedikit. “Jangan–jangan.. anda Nona Kanaya Galuh, pemilik para Ajag! ini sangat menarik..” ucap Wanita Ruh ini lagi sambil melayang mengelilingi Galuh dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

“Dari mana anda tahu nama saya?” ucap Galuh mencoba menahan diri.

“Saya Hailana” ucap Wanita Ruh tersebut sambil terus mengelilingi Galuh dengan pandangan menyelidik.

“Anda.. anda Hailana sang Dewi Ruh?” ucap Jinn Si Kelinci terkejut. “Nona Hailana, kami hanya menumpang lewat, tidak bermaksud jahat, tolong ijinkan kami lewat dengan selamat.” Ucap Jinn Si Kelinci tiba-tiba dengan sangat bersopan santun. Galuh heran, karena tubuh Jinn Si Kelinci terlihat sedikit bergetar.

Kakek Addar belum pernah bercerita apapun tentang Wanita Ruh ini pada Galuh, namun mengapa Jinn Si Kelinci bersikap seakan-akan wanita Ruh dihadapannya benar–benar sangat berbahaya.

 “Ya, saya Hailana, Dewi para Ruh. Namun kalian tenang saja, kami tidak akan mengganggu perjalanan kalian, apa lagi untuk seorang Galuh… Kanaya Galuh..” ucap sang Dewi sambil mundur, lalu duduk kembali di atas ranting sambil memain–mainkan kakinya seperti remaja tanggung. Kain batik sutra yang melilit tubuhnya masih berkibar-kibar dengan indah sempurna.

Mereka terpaku, terhisap oleh pancaran keindahan yang ditampilkan sosok Dewi Ruh ini. Hailana mempunyai wajah bentuk hati yang menarik, sepasang mata garis berkelopak tajam yang dibingkai alis tipis yang melengkung sempurna, hidung mancung kecil tetapi serasi, dan bibir yang menyerupai gendewa para dewi yang indah dan menyesatkan. Semua itu cukup membuat mereka terpaku dalam sesaat.

Dari mana anda tahu tentang nama itu?” ucap Galuh sedikit gusar, Jinn Si Kelinci panik sambil menyentuh lengan Galuh agar tetap menahan diri.

“Karena saya hidup seribu tahun sebelum kamu lahir sayang..” ucap Hailana sang Dewi Ruh sambil kembali terbang mendekati Galuh.

Galuh tersentak, ternyata dihadapan mereka bukan hanya Ruh Tua, melainkah Ruh dengan kekuatan yang mungkin sebanding dengan para Ajag. Kini Galuh mengerti mengapa tubuh Jinn Si Kelinci bergetar saat mengetahui nama dari wanita Ruh ini.

“Kanaya Galuh, putri tunggal pewaris tahta kerajaan Astamaya. Ternyata rumor itu benar, kamu masih hidup..” ucap Hailana sang Dewi ruh dengan nada tertarik.

Hailana terbang mengelilingi Galuh dengan sangat perlahan, kain batik sutra yang melilit tubuhnya bergerak mengikuti arah terbang Hailana dengan sangat memukau mata.

“Pergilah sebelum kami mencabikmu!” ucap salah satu Ajag memotong pembicaraan. “ Aaah… akhirnya segel sedikit terbuka..! ” ucap Hailana sang Dewi Ruh, yang lalu secara tiba–tiba masuk begitu saja menembus segel para Ajag dengan cepat.

Galuh dan Jinn Si Kelinci panik, Adhit sendiri tidak tau harus berbuat apa. “ Kau! apa–apaan ini!, lancang sekali masuk ke dalam wilayah kami! ucap para Ajag dengan gaduh dan marah. Segel sempat terbuka, namun setelah itu tertutup lagi disertai teriakan mengaduh dari NaRaja dan teriakan Hailana yang genit dan manja.

Tak lama Hailana sang Dewi Ruh keluar dengan wajah sangat senang. “saya berhasil mengecup NaRaja, aaah… ternyata dia gagah sekali!” ucap Hailana sang Dewi Ruh mengedip genit.

 Galuh terkejut, selama ini tidak ada yang bisa menembus segel dan menaklukan NaRaja dengan mudah. Galuh semakin ngeri dengan kekuatan wanita Ruh ini, Hailana ternyata benar-benar sangat berbahaya.

“Demi NaRaja, kali ini Hailana berbaik hati pada kalian. Jalanlah lurus kedepan, bila bertemu dengan pohon besar dengan juntaian empat lantera, kalian belok kanan dan terus berjalan lurus kedepan.” Ucap Hailana dengan nada suara lembut, namun berintonasi tegas.

“Bila bertemu dengan Ruh lain, kalian akan tetap aman karena telah atas restu dari Hailana sang Dewi Ruh,” ucap Hailana sang Dewi ruh, sambil menuliskan mantera singkat berupa aksara buhun, atau aksara Sunda kuno dengan jarinya. Setelah aksara tersebut lenyap, Hailanapun menghilang dengan misterius.

“Dia telah pergi” ucap Jinn Si Kelinci lega. “Jinn, dia itu siapa? mengapa tidak ada yang membicarakan tentang dia di gua?” tanya Galuh heran.

“Tuan Addar tidak pernah berbicara apapun tentang Nona Hailana?” ucap Jinn Si Kelinci heran, Galuh menggeleng pasti.

“Nona Hailana adalah Dewinya para Ruh. Konon katanya, saat dalam kandungan, ia adalah janin manusia biasa. Nona Hailana berubah menjadi salah satu bagian dari Kaum Ruh, karena saat dikandung, Ibunya tiba–tiba melahirkan ditengah hutan dalam perjalanan menuju desa ayahnya,” ucap Jinn Si Kelinci serius.

“Saat berhasil lahir, tarikan napasnya yang pertama kali di bumi telah menarik masuk bayi Ruh keturunan murni, yang lahir di dalam pohon besar tempat ibu Nona Hailana bersandar. ini yang membuat Ruh murni tersebut menyatu dengan tubuhnya.” Ucap Jinn Si Kelinci lagi.

“Sayangnya saat berusia tujuh tahun, begitu ibu Nona Hailana sakit keras dan wafat, ia malah dibuang oleh sukunya sendiri di hutan ini.” ucap Jinn Si Kelinci sedih, membuat Galuh dan Adhit terkejut.

“Para penduduk desa ketakutan karena keanehan yang dimiliki Nona Hailana. Ia bukan hanya sering dikunjungi ibu dari Ruh yang tersedot ke dalam dirinya, ia juga bisa berbicara bahasa mereka dan mengobati para Ruh dengan hanya menyentuhnya,” mendengar hal tersebut, Galuh dan Adhit merasa kaget sekaligus takjub.

“Namun, hal tersebut justru membuat para Ruh jadi selalu datang ke desa tempat Nona Hailana tinggal. Maka sejak dibuang, sejak saat itu pula ia tumbuh di asuh oleh ibu Ruh tersebut, lalu menghabiskan hidup sebagai salah seorang dari mereka.” Galuh dan Adhit begitu takjub mendengar hal tersebut.

“Namun bukan itu saja kemampuan yang dimilikinya. Semakin dewasa, Nona Hailana ternyata memiliki kemampuan lain. Tembang kecapi kawihnya, mampu mengikat Ruh inti dari para Ruh, sehingga para Ruh akan kehilangan energi saat berhadapan dengannya. Dengan berjalannya waktu, ia kini berhasil menguasai para Ruh kuat dari berbagai penjuru bukit Ruh,” ucap Jinn si kelinci sambil mengendus udara sekitar.

“Ada apa?” tanya Adhit penasaran, “ada aroma mahluk rawa, sebaiknya kita meneruskan perjalanan,” ucap Jinn Si Kelinci dengan hati–hati. “Aneh sekali, seharusnya mereka tidak berani melewati tempat ini, mereka paling takut dengan penghuni hutan Ruh,” ucap Jinn Si Kelinci seakan berbicara dengan pikirannya sendiri. 

“Bagaimana bila mereka bukan melewati, melainkan dibawa dengan paksa, persis seperti pohon pemakan daging yang pagi tadi menyerang gua.” Ucap Adhit sambil membuka buku agenda kecilnya untuk mencari beberapa keterangan.

 “Wuuaaahh…. dia menebaknya dengan benaarrr… hahahaha..!” salah satu Ajag yang di iringi sorak sorai para Ajag lain.

“Apa maksud kalian?” ucap Galuh terkejut.

“Istana dikelilingi parit yang amat besar, suruh saja para monster rawa untuk menyelam dalam menyeberangi paritnya, maka Kaum Hitam bisa bersembunyi di dalam tubuh mahluk rawa tanpa takut diketahui dan tersengat segel istana. “ucap salah satu Ajag dengan senang. “Hahaha… sudah saya bilang kan, pasti anak ini bisa menjawabnya” ucap Ajag yang lainnya ikut senang.

“Kalian ini, selalu saja semua dianggap permainan” ucap Galuh kesal.

“Ini gawat!” ucap Jin Si Kelinci, sebaiknya kita harus cepat masuk ke istana sebelum para Kaum Hitam berbuat onar. Jangan sampai begitu kita datang, pintu benteng istana telah di tutup!“ ucap Jinn Si Kelinci mempercepat langkahnya, yang lalu segera diikuti Galuh dan Adhit dengan langkah sama cepatnya.

 - Bersambung - Desya Saghir-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir