Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 14 - Awal yang baru| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat terbangun, Galuh terkejut
karena sudah tersedia satu stel kebaya kutubaru dengan pinggiran bordir, yang dipadukan
kain batik sebatas pertengahan betis dengan warna senada.
“Biruu
lauuut.. ” Galuh hampir berteriak karena
senang. Ia terharu, karena ternyata Bi Nai masih ingat warna favoritnya. Galuh
menyentuh bordiran halus yang menempel pada pinggiran kebaya kutubarunya. “Hmm..
aroma kain baru,” ucap Galuh sambil memeluk kebaya kutubarunya dengan sangat
senang.
Setelah selesai membersihkan diri, dengan
tidak sabar Galuh segera memakai kebaya kutubarunya. Ia lalu mematut dirinya di
depan cermin, mengamati penampilannya dari jarak dekat dan jauh, lalu berputar-putar
untuk melihat detail sulaman pada kutubarunya dari segala arah. Setelah itu Galuh
berjingkrak senang benar-benar menyukai baju barunya.
Begitu keluar kamar, Galuh
mendapati kejutan yang kedua. Dua cangkir bandrek hangat, satu keranjang rotan makanan
dengan ukuran cukup besar, dan sepucuk surat telah tersedia di meja tengah. Tak
lama saat Galuh membaca surat dari Bi Nai, pintu kamar tempat Adhit tidur
terbuka.
“Bi Nai tadi datang sebentar untuk
menaruh sarapan ini. Dalam surat ia mengatakan, ia harus pergi lagi untuk
menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan kelak nanti di istana,” ucap Galuh
pada Adhit yang baru keluar kamar. Namun saat Galuh menoleh, Galuh malah terkesima
melihat Adhit yang sudah berpakaian rapi.
Adhit memakai pangsi, pakaian pria
khas sunda pada umumnya dengan sedikit sentuhan Astamaya. Namun karena proporsi
tubuhnya yang nyaris sempurna, ditambah ikat khas sunda yang begitu pas
dikepala. Adhit terlihat begitu gagah, sekalipun pakaian yang dipakainya tergolong
jenis tipe yang paling sederhana.
Namun disisi lain, Adhit pun sama
terkesimanya. Selama ini ia selalu mendapati Galuh selalu memakai pakaian pria khas
Astamaya, lalu ditambah rambutnya yang tergelung acak dan sorot mata yang
terkesan tegas, membuat Adhit tidak percaya bahwa Galuh kini bisa tampil sefeminin
ini.
Galuh kini bukan hanya terlihat
begitu cantik, melainkan juga anggun dan begitu bersinar, padahal pakaian yang
dipakai juga sama sederhananya dengan Adhit.
Setelah itu munculah suara para
Ajag yang mulai saling berdeham jahil. Sebagian lagi melagukan siulan dan lirik
lagu cinta yang nadanya benar-benar gagal total. Membuat Galuh berbalik untuk membuka
sedikit kabut segel para Ajag, hanya untuk mengetapel satu persatu para Ajag
yang jahil sampai mengaduh satu persatu.
Adhit yang tadi terkejut dengan
tindakan spontan Galuh, kini tergelak. “Hati-hati Dhit, dia perempuan brutal
yang…” ucap salah satu Ajag, yang lalu suaranya terpotong karena Galuh langsung
mengunci kembali segelnya dengan sangat erat. Karena hal tersebut, Adhit malah
jadi semakin tergelak.
“Katanya selesai sarapan, kita
diminta untuk menunggu Bi Nai dulu. Akan mencurigakan bila tiba-tiba kita
keluar dari rumah yang jarang ditempati,” ucap Galuh sambil berusaha menetralkan
kembali emosinya, sambil membuka bingkisan berisi dua cangkir bandrek hangat,
agar mereka bisa sarapan secepatnya.
Namun saat tutup bandrek terbuka, mereka
langsung terkejut! Aroma tajam jahe yang begitu menggugah selera, tiba-tiba menyergap
hidung mereka dengan tanpa ampun. Begitu Galuh dan Adhit menyesap bandrek
hangatnya sedikit, mata mereka langsung refleks terpejam. Adhit terkejut karena
rasanya lebih enak dibandingkan bandrek sachetan yang pernah ia beli di
minimarket!
Manisnya gula aren dan
rempah-rempah segar, menyapa lidah dengan perpaduan unik yang begitu harmonis. Setiap
tegukan, terasa seperti pelukan hangat yang menjalar dari tenggorokan hingga
keseluruh tubuh. “Aah.. rasanya benar-benar sangat menenangkan...” ucap Galuh
yang di iyakan oleh Adhit.
Setelah itu, mereka semakin terbelalak
saat keranjang yang dibawakan Bi Nai dibuka, ternyata makanan yang dibawakan Bi
Nai benar-benar sangat banyak.
Perut Galuh langsung bersuara
ketika mencium harumnya getuk lindri, getuk warna-warni yang ditaburi gurihnya parutan
kelapa dengan sangat melimpah. Pada gigitan pertama, mata Galuh kembali terpejam.
Ia benar-benar terlena dengan rasa manis gurih, yang menyatu dengan rasa khas
singkong kukus yang begitu lembut, harum dan sangat lezat.
Sedangkan Adhit, ia juga sama terkejutnya.
Saat klepon masuk ke dalam mulutnya, Gula aren cairnya yang meledak dimulut benar-benar
menumpahkan rasa manis menyenangkan. Setelah itu mereka menemukan misro, combro,
bandros hingga arem-arem ketan. Saking lahapnya, mereka berdua kini lebih
tampak seperti sepasang bocah kelaparan.
Setelah kenyang, sambil menunggu kedatangan
Bi Nai, mereka mengisi waktu dengan saling bercerita banyak hal, termasuk tentang
kenangan dari semua makanan tadi. Kadang mereka agak berdebat, tapi lalu
tertawa bersama.
Tanpa mereka berdua sadari, dari
balik kabut segel yang sangat transparan, NaRaja mengintip mereka yang lalu tersenyum
tipis, setelah itu, kabut segelpun hilang kembali.
Tak lama pintu terbuka, “Neng Galuh..
Den Adhit.. sudah siap?” bisik Bi Nai sopan, namun setelah itu Bi Nai malah terkesima.
“Neng Galuuuh cantik sekaliii.. Den
Adhit juga gagah sekali!….” ucap Bi Nai hampir berteriak, “Saya sudah
memilihkan model yang paling sederhana, tetapi saat dipakai anda berdua, malah jadi
terlihat sangat bagus!” ucap Bi Nai sambil menutup mulutnya seakan tidak
percaya dengan matanya sendiri.
Setelah berhasil mengendalikan
diri, Bi Nai kembali berkata, “bila ada yang bertanya, anda berdua cukup
mengangguk saja, biar Bibi nanti yang menjawab,“ ucap Bi Nai yang lalu
diangguki oleh Galuh dan Adhit.
Beberapa saat ketika mereka sudah berjalan,
Adhit heran karena Galuh tampak sedang menandai beberapa pelosok tempat. “Sepertinya
kamu sangat mengenali tempat ini?” Mendengar hal tersebut, Galuh menganggapinya
dengan tersenyum.
“Saat kecil, Neng Galuh sering sekali
menyelinap keluar istana. Melalui pintu rahasia istana, cucian kotor para
bangsawan, bahkan gorong-gorong istana. Lalu untuk menyeberangi parit istana,
ia menyelinap kendaraan pengantar barang kebutuhan logistik istana,” ucap Bi
Nai sambil menggeleng-geleng kepala. Adhit yang lalu menatap Galuh dengan
terkejut, disambut Galuh yang terkekeh geli.
“Benar-benar membuat Bibi kalang
kabut, tetapi setelah itu Neng Galuh biasanya kembali setelah ditemukan oleh
prajurit kepercayaan Tuan Mahesa, ayah Neng Galuh.” Lanjut Bi Nai sambil
menatap balik Galuh dengan gemas. Galuh kembali terkekeh karena melihat
ekspresi Bi Nai yang sangat gregetan.
“Apa yang kamu cari diluar istana?
bukankah lebih menyenangkan berada ditempat dimana segala yang kamu butuhkan dilayani
dan selalu terpenuhi?” tanya Adhit heran. Mendengar hal tersebut Galuh kembali tersenyum.
“Saat itu banyak sekali selentingan
yang menceritakan penderitaan di luar istana. Maka untuk membuktikannya, saya harus
melihat dengan mata kepala sendiri.” Ucap Galuh sambil menoleh sebentar pada
Adhit, setelah itu ia kembali melihat sekeliling lagi dengan antusias.
Adhit terkejut. “Dengan usia
sekecil itu, ia sudah memiliki pemikiran yang melewati batas usianya sendiri,”
pikir Adhit sambil menggeleng takjub.
Sedangkan Bi Nai memandang Galuh
tidak percaya, “mengapa dulu Neng Galuh tidak mengatakan kepada saya? Neng
Galuh bisa pergi keluar istana ditemani saya dan beberapa orang kepercayaan Tuan
Maharaja,” ucap bi Nai tidak mengerti.
Galuh tersenyum lagi, “disamping
ayah ibu terdapat banyak sekali orang-orang yang tidak bisa kita percaya Bi... saya
pernah memergoki salah satu pelayan ibu, sedang menyampaikan informasi pada
Sadya Agracarana, si lidah ular dari Klan Merah!” ucapan Galuh sontak membuat Bi
Nai langsung terkejut.
“Jadi, mereka bisa saja memanfaatkan
momen perjalanan saya karena harinya telah diketahui. Sedangkan bila saya pergi
sendiri, maka tidak akan ada yang pernah tahu kapan saya akan keluar istana,” lanjut
Galuh dengan dalam.
“Saya di usia enam tahun masih
bergelantungan di atas pohon, bahkan sering dihukum karena amat sangat nakal. Sedangkan
kamu? sudah berpikir tentang cara berhati-hati bertindak dan memikirkan
kemaslahatan rakyat?” ucap Adhit dengan menggeleng takjub. Galuh hanya menanggapinya
dengan tersenyum, yang lalu memandang kembali ke arah sekitar.
“Ah.. kita
hampir sampai di tugu pembatas,” ucap Bi Nai lega. “Ah Neng, hampir terlupa,”
ucap Bi Nai lagi sambil menghentikan langkahnya.
“Setelah batas tugu depan, semua
rumah yang ada disana adalah rumah dinas keluarga abdi dalam istana, jadi
sedikit berhati-hatilah saat kita berbicara. Banyak telinga yang kelak bisa membahayakan
anda berdua disana,” bisik Bi Nai hati-hati.
“Semua hal yang anda berdua kelak
butuhkan di istana sudah saya siapkan, dan semuanya telah diamankan oleh anak
angkat saya, Subhita.“ ucap Bi Nai lagi.
“Dan mulai hari ini, selama di
istana, saya akan memanggil Neng Galuh sebagai Naya. Nama favorit Neng Galuh kecil
ketika bermain peran menjadi prajurit istana, agar Neng tidak terlihat kikuk
saat dipanggil nama selain nama sendiri ya Neng..” bisik Bi Nai sambil kembali membimbing
jalan.
“Ah.. Bi Nai nama itu..” ucap Galuh
terharu, pandangannya menerawang mengenang sesuatu yang sepertinya amat indah.
“Naya?” ucap Adhit mengulang.
“Naya adalah potongan dari nama
Kanaya Galuh, dan memang, Naya adalah nama umum yang sering dipergunakan rakyat
jelata.” Jelas Bi Nai yang diangguki mengerti oleh Adhit.
“Sejak kecil, Neng Galuh sangat
tidak suka dengan rumitnya protokol istana. Merubah namanya menjadi Naya saat
bermain peran, membantunya menyelami masuk dalam kehidupan rakyat jelata,
dimana semua orang akan bersikap dengan apa adanya.” ucapan Bi Nai membuat
senyum Galuh terkembang lagi, karena pengasuhnya ini, ternyata benar-benar
tidak melupakan setiap detail dari dirinya.
“Tapi Neng.. saya sendiri lebih
menyukai nama Galuh dibandingkan nama Naya, Ayah anda memberikan nama tersebut
karena mempunyai arti yang sangat indah,” protes Bi Nai yang sontak membuat
Galuh tertawa, ternyata Bi Nai juga masih secerewet dulu.
“Di Astamaya, ‘Galuh’ adalah nama
yang lazim digunakan oleh para kalangan besar, yang mempunyai arti ‘permata’. Sementara
Kanaya, adalah nama yang disandang generasi turun temurun dari ibu Neng Galuh, yang
mempunyai arti, ‘perempuan sunda’,” protes Bi Nai memihak pada ayah Galuh.
“Bi Nai ini, apapun yang dikatakan
Ayah, pasti akan selalu dibela sampai kapanpun,” goda Galuh sambil tergelak.
“Bukan seperti itu, bukaaan…” ucap
Bi Nai dengan panik, wajahnya menjadi merah seketika, melihat hal tersebut,
Galuh semakin tergelak.
“Tuan Maharaja menyematkan nama tersebut
karena ia menginginkan agar Neng Galuh kelak menjadi permata indah yang berasal
dari tanah Sunda, nama itu doa Neng Galuuuh.. “ protes Bi Nai lagi dengan
begitu greget. Galuh semakin tertawa saat Bi Nai mencubit sedikit lengannya
karena sangat gregetan. Setelah itu mereka meneruskan langkah menuju Tugu Pembatas.
“Kita hampir sampai, bila ada Bangsawan
melewati kita, menunduklah dengan sopan. Jangan terlihat mencolok, dan pastikan
gerakan anda berdua adalah gerakan yang selayaknya diacuhkan,” ucap Bi Nai lagi
dengan hati-hati.
“Dan yang paling penting, tidak ada
yang boleh ada yang mendengar geraman teman-teman Neng! cerita tentang
kawan–kawan Neng Galuh yang bersemayam dalam tubuh Neng, telah menjadi semacam
legenda disini,” bisik Bi Nai dengan khawatir, namun sekaligus bangga.
“Legenda?” tanya Galuh dan Adhit
bersamaan.
Bi Nai menghentikan langkahnya lagi.
“Anak–anak muda disini begitu terbius oleh kisah tentang Neng Galuh. Mereka
begitu terpesona akan cerita para Ajag, jangankan oleh para Tetua Putih, oleh
para pemiliknya sendiri yaitu para Tetua Hitam, para Ajag sangat sulit
dikendalikan. Namun Neng Galuh yang kala itu masih berusia enam tahun, bukan
hanya mampu mengendalikan mereka dengan sangat mudah, tetapi juga mengajak
bermain bersama,” Ucap Bi Nai dengan nada bergetar bangga. Sontak hal tersebut
membuat Galuh dan Adhit saling melirik tidak percaya.
“Ah, hampir saja Bibi lupa. Bila Neng
Galuh dipanggil dengan nama Naya, Den Adhit sendiri masih bisa tetap
menggunakan nama Aden sendiri, karena hampir mirip dengan nama yang sering
digunakan oleh Kaum Wilayah Rangeh,” kini ucapan Bi Nai agak sedikit berbisik.
“Kaum Wilayah Rangeh?” ucap Adhit sambil
menoleh pada Galuh.
“Ah iya, Tuan Rahyata memang belum
menerangkan sampai di soal itu,” jawab Galuh sambil mengingat-ingat.
“Baiklah, dengarkan ini.” ucap
Galuh dengan nada serius.
“Saat Batu Hyang Sawarga jatuh di
atas tanah Sunda, saat itu pula Batu tersebut retak dan membagi energinya menjadi
lima bagian; Tanah, Udara, Ether, Air dan Api. Kaum Astamaya di masa lalu, menamakan
lima elemen tersebut sebagai Panca Maha Bhuta, yang berarti lima unsur agung.” Ucap
Galuh yang didengarkan Adhit dengan seksama.
“Saat Batu Hyang Sawarga menyentuh
tanah dan retak terbagi lima, saat itu pula, radiasi yang menyentuh Wilayah
Astamaya terbagi lima wilayah, berdasarkan unsur yang menyentuh tanah tersebut.
Tanah menjadi Wilayah Bumi, Udara menjadi Wilayah Hawa, Ether menjadi Wilayah
Ruh, Air menjadi Wilayah Banyu, Api menjadi Wilayah Rangeh,” Jelas Galuh yang
diangguki lagi oleh Adhit.
“Benar, seperti yang dikatakan Neng
Galuh. Dan mengapa saya memilih asal tempat anda berdua dari Kaum Wilayah Rangeh?
karena Kaum Wilayah Rangeh, adalah kaum yang hilang dalam longsor besar yang
cukup aneh. Satu desa hilang dalam semalam, lalu menewaskan seluruh penduduknya.
Maka, siapapun tidak akan mendapatkan informasi apapun tentang kebenaran anda
berdua.” Ucap Bi Nai dengan masih hati-hati.
“Malam sebelum longsor besar terjadi,
seluruh utusan Kaum wilayah Rangeh yang bisa dihitung jari dipanggil dari semua
penjuru untuk menghadiri Ritual Adat, Ritual yang dilaksanakan setiap sepuluh
tahun sekali. Dan Longsor hari itu, benar-benar menghabiskan Desa kaum wilayah Rangeh
hingga kaumnya tidak tersisa sama sekali,” ucap Bi Nai lagi.
“Ada lagi yang saya khawatirkan, saya
adalah manusia biasa, tidak bisa mengendalikan partikel melawan gravitasi, apa
tidak akan ada yang curiga?” tanya Adhit lagi.
“Beberapa dari kalangan kami ada
yang terlahir tanpa energi seperti kamu Dhit. Ada yang menyebutkan semacam
cacat genetika yang langka. Mereka biasa dinamakan golongan Asmaja, dari kata A
yang artinya ‘tidak’, dan Smaja, yang artinya ‘hidup/nafas/jiwa’ dalam konteks spiritual
atau jiwa. Saya rasa kita bisa memakai alasan itu," ucapan Galuh kini membuat
Adhit menjadi agak lega.
“Ah iya, Bibi lupa memberitahu, kita
harus menyamakan suara. Keterangan di lembar penerimaan pelayan baru adalah, anda
berdua ikut dengan suami saya karena terpilih sebagai pengawas luar desa
selanjutnya. Tetapi tidak bisa pulang, karena saat itu, Neng Galuh panas demam
hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur. Lalu Den Adhit terpaksa menemani
Neng Galuh disini. Setelah itu musibah longsorpun terjadi,” Jelas Bi Nai yang
segera diangguki Galuh dan Adhit.
“Satu lagi, saya mengatakan bahwa, saya
menyembunyikan fakta bahwa anda berdua adalah Kaum Wilayah Rangeh yang tersisa
hingga remaja. Karena saya khawatir, kecerdasan Kaum Wilayah Rangeh yang masih
sangat muda, akan disalahgunakan oleh Kaum Hitam.” Ucap bi Nai yang di jawab
anggukan lagi dari Galuh dan Adhit.
“Bagaimanapun, jadikan itu seolah-olah
adalah masa lalu anda berdua. Nanti, saya akan titipkan pada anak angkat saya, Subhita,
beberapa buku sejarah Kaum Wilayah Rangeh dari perpustakaan istana untuk segera
anda berdua pelajari,” ucap Bi Nai lagi yang lalu diangguki lagi oleh Galuh dan
Adhit.
Begitu mereka sampai di perbatasan
Tugu, Adhit kini terkejut luar biasa! Ternyata untuk menuju Istana, mereka harus
menggunakan kendaraan terbang!
“Saya kira sudah sampai, apa Istana
memang masih jauh?” tanya Adhit heran.
“Istana masih agak jauh, kita harus
melewati tiga lapisan kota, setelah itu baru sampai di Istana”
“Apa? Tiga lapisan kota!” ucap
Adhit hampir berteriak.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar