Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 14 - Awal yang baru| By: Desya Saghir

Saat terbangun, Galuh terkejut karena sudah tersedia satu stel kebaya kutubaru dengan pinggiran bordir, yang dipadukan kain batik sebatas pertengahan betis dengan warna senada.

              “Biruu lauuut..  ” Galuh hampir berteriak karena senang. Ia terharu, karena ternyata Bi Nai masih ingat warna favoritnya. Galuh menyentuh bordiran halus yang menempel pada pinggiran kebaya kutubarunya. “Hmm.. aroma kain baru,” ucap Galuh sambil memeluk kebaya kutubarunya dengan sangat senang.

Setelah selesai membersihkan diri, dengan tidak sabar Galuh segera memakai kebaya kutubarunya. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin, mengamati penampilannya dari jarak dekat dan jauh, lalu berputar-putar untuk melihat detail sulaman pada kutubarunya dari segala arah. Setelah itu Galuh berjingkrak senang benar-benar menyukai baju barunya.

Begitu keluar kamar, Galuh mendapati kejutan yang kedua. Dua cangkir bandrek hangat, satu keranjang rotan makanan dengan ukuran cukup besar, dan sepucuk surat telah tersedia di meja tengah. Tak lama saat Galuh membaca surat dari Bi Nai, pintu kamar tempat Adhit tidur terbuka.

“Bi Nai tadi datang sebentar untuk menaruh sarapan ini. Dalam surat ia mengatakan, ia harus pergi lagi untuk menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan kelak nanti di istana,” ucap Galuh pada Adhit yang baru keluar kamar. Namun saat Galuh menoleh, Galuh malah terkesima melihat Adhit yang sudah berpakaian rapi.

Adhit memakai pangsi, pakaian pria khas sunda pada umumnya dengan sedikit sentuhan Astamaya. Namun karena proporsi tubuhnya yang nyaris sempurna, ditambah ikat khas sunda yang begitu pas dikepala. Adhit terlihat begitu gagah, sekalipun pakaian yang dipakainya tergolong jenis tipe yang paling sederhana.

Namun disisi lain, Adhit pun sama terkesimanya. Selama ini ia selalu mendapati Galuh selalu memakai pakaian pria khas Astamaya, lalu ditambah rambutnya yang tergelung acak dan sorot mata yang terkesan tegas, membuat Adhit tidak percaya bahwa Galuh kini bisa tampil sefeminin ini.

Galuh kini bukan hanya terlihat begitu cantik, melainkan juga anggun dan begitu bersinar, padahal pakaian yang dipakai juga sama sederhananya dengan Adhit.

Setelah itu munculah suara para Ajag yang mulai saling berdeham jahil. Sebagian lagi melagukan siulan dan lirik lagu cinta yang nadanya benar-benar gagal total. Membuat Galuh berbalik untuk membuka sedikit kabut segel para Ajag, hanya untuk mengetapel satu persatu para Ajag yang jahil sampai mengaduh satu persatu.

Adhit yang tadi terkejut dengan tindakan spontan Galuh, kini tergelak. “Hati-hati Dhit, dia perempuan brutal yang…” ucap salah satu Ajag, yang lalu suaranya terpotong karena Galuh langsung mengunci kembali segelnya dengan sangat erat. Karena hal tersebut, Adhit malah jadi semakin tergelak.

“Katanya selesai sarapan, kita diminta untuk menunggu Bi Nai dulu. Akan mencurigakan bila tiba-tiba kita keluar dari rumah yang jarang ditempati,” ucap Galuh sambil berusaha menetralkan kembali emosinya, sambil membuka bingkisan berisi dua cangkir bandrek hangat, agar mereka bisa sarapan secepatnya.

Namun saat tutup bandrek terbuka, mereka langsung terkejut! Aroma tajam jahe yang begitu menggugah selera, tiba-tiba menyergap hidung mereka dengan tanpa ampun. Begitu Galuh dan Adhit menyesap bandrek hangatnya sedikit, mata mereka langsung refleks terpejam. Adhit terkejut karena rasanya lebih enak dibandingkan bandrek sachetan yang pernah ia beli di minimarket!

Manisnya gula aren dan rempah-rempah segar, menyapa lidah dengan perpaduan unik yang begitu harmonis. Setiap tegukan, terasa seperti pelukan hangat yang menjalar dari tenggorokan hingga keseluruh tubuh. “Aah.. rasanya benar-benar sangat menenangkan...” ucap Galuh yang di iyakan oleh Adhit.

              Setelah itu, mereka semakin terbelalak saat keranjang yang dibawakan Bi Nai dibuka, ternyata makanan yang dibawakan Bi Nai benar-benar sangat banyak.

Perut Galuh langsung bersuara ketika mencium harumnya getuk lindri, getuk warna-warni yang ditaburi gurihnya parutan kelapa dengan sangat melimpah. Pada gigitan pertama, mata Galuh kembali terpejam. Ia benar-benar terlena dengan rasa manis gurih, yang menyatu dengan rasa khas singkong kukus yang begitu lembut, harum dan sangat lezat.

Sedangkan Adhit, ia juga sama terkejutnya. Saat klepon masuk ke dalam mulutnya, Gula aren cairnya yang meledak dimulut benar-benar menumpahkan rasa manis menyenangkan. Setelah itu mereka menemukan misro, combro, bandros hingga arem-arem ketan. Saking lahapnya, mereka berdua kini lebih tampak seperti sepasang bocah kelaparan.

Setelah kenyang, sambil menunggu kedatangan Bi Nai, mereka mengisi waktu dengan saling bercerita banyak hal, termasuk tentang kenangan dari semua makanan tadi. Kadang mereka agak berdebat, tapi lalu tertawa bersama.

Tanpa mereka berdua sadari, dari balik kabut segel yang sangat transparan, NaRaja mengintip mereka yang lalu tersenyum tipis, setelah itu, kabut segelpun hilang kembali.

Tak lama pintu terbuka, “Neng Galuh.. Den Adhit.. sudah siap?” bisik Bi Nai sopan, namun setelah itu Bi Nai malah terkesima.

“Neng Galuuuh cantik sekaliii.. Den Adhit juga gagah sekali!….” ucap Bi Nai hampir berteriak, “Saya sudah memilihkan model yang paling sederhana, tetapi saat dipakai anda berdua, malah jadi terlihat sangat bagus!” ucap Bi Nai sambil menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan matanya sendiri.

Setelah berhasil mengendalikan diri, Bi Nai kembali berkata, “bila ada yang bertanya, anda berdua cukup mengangguk saja, biar Bibi nanti yang menjawab,“ ucap Bi Nai yang lalu diangguki oleh Galuh dan Adhit.

Beberapa saat ketika mereka sudah berjalan, Adhit heran karena Galuh tampak sedang menandai beberapa pelosok tempat. “Sepertinya kamu sangat mengenali tempat ini?” Mendengar hal tersebut, Galuh menganggapinya dengan tersenyum.

“Saat kecil, Neng Galuh sering sekali menyelinap keluar istana. Melalui pintu rahasia istana, cucian kotor para bangsawan, bahkan gorong-gorong istana. Lalu untuk menyeberangi parit istana, ia menyelinap kendaraan pengantar barang kebutuhan logistik istana,” ucap Bi Nai sambil menggeleng-geleng kepala. Adhit yang lalu menatap Galuh dengan terkejut, disambut Galuh yang terkekeh geli.

“Benar-benar membuat Bibi kalang kabut, tetapi setelah itu Neng Galuh biasanya kembali setelah ditemukan oleh prajurit kepercayaan Tuan Mahesa, ayah Neng Galuh.” Lanjut Bi Nai sambil menatap balik Galuh dengan gemas. Galuh kembali terkekeh karena melihat ekspresi Bi Nai yang sangat gregetan.  

“Apa yang kamu cari diluar istana? bukankah lebih menyenangkan berada ditempat dimana segala yang kamu butuhkan dilayani dan selalu terpenuhi?” tanya Adhit heran. Mendengar hal tersebut Galuh kembali tersenyum.

“Saat itu banyak sekali selentingan yang menceritakan penderitaan di luar istana. Maka untuk membuktikannya, saya harus melihat dengan mata kepala sendiri.” Ucap Galuh sambil menoleh sebentar pada Adhit, setelah itu ia kembali melihat sekeliling lagi dengan antusias.

Adhit terkejut. “Dengan usia sekecil itu, ia sudah memiliki pemikiran yang melewati batas usianya sendiri,” pikir Adhit sambil menggeleng takjub.

Sedangkan Bi Nai memandang Galuh tidak percaya, “mengapa dulu Neng Galuh tidak mengatakan kepada saya? Neng Galuh bisa pergi keluar istana ditemani saya dan beberapa orang kepercayaan Tuan Maharaja,” ucap bi Nai tidak mengerti.

Galuh tersenyum lagi, “disamping ayah ibu terdapat banyak sekali orang-orang yang tidak bisa kita percaya Bi... saya pernah memergoki salah satu pelayan ibu, sedang menyampaikan informasi pada Sadya Agracarana, si lidah ular dari Klan Merah!” ucapan Galuh sontak membuat Bi Nai langsung terkejut.

“Jadi, mereka bisa saja memanfaatkan momen perjalanan saya karena harinya telah diketahui. Sedangkan bila saya pergi sendiri, maka tidak akan ada yang pernah tahu kapan saya akan keluar istana,” lanjut Galuh dengan dalam.

“Saya di usia enam tahun masih bergelantungan di atas pohon, bahkan sering dihukum karena amat sangat nakal. Sedangkan kamu? sudah berpikir tentang cara berhati-hati bertindak dan memikirkan kemaslahatan rakyat?” ucap Adhit dengan menggeleng takjub. Galuh hanya menanggapinya dengan tersenyum, yang lalu memandang kembali ke arah sekitar.

              “Ah.. kita hampir sampai di tugu pembatas,” ucap Bi Nai lega. “Ah Neng, hampir terlupa,” ucap Bi Nai lagi sambil menghentikan langkahnya.

“Setelah batas tugu depan, semua rumah yang ada disana adalah rumah dinas keluarga abdi dalam istana, jadi sedikit berhati-hatilah saat kita berbicara. Banyak telinga yang kelak bisa membahayakan anda berdua disana,” bisik Bi Nai hati-hati.

“Semua hal yang anda berdua kelak butuhkan di istana sudah saya siapkan, dan semuanya telah diamankan oleh anak angkat saya, Subhita.“ ucap Bi Nai lagi.

“Dan mulai hari ini, selama di istana, saya akan memanggil Neng Galuh sebagai Naya. Nama favorit Neng Galuh kecil ketika bermain peran menjadi prajurit istana, agar Neng tidak terlihat kikuk saat dipanggil nama selain nama sendiri ya Neng..” bisik Bi Nai sambil kembali membimbing jalan.

“Ah.. Bi Nai nama itu..” ucap Galuh terharu, pandangannya menerawang mengenang sesuatu yang sepertinya amat indah.

“Naya?” ucap Adhit mengulang.

“Naya adalah potongan dari nama Kanaya Galuh, dan memang, Naya adalah nama umum yang sering dipergunakan rakyat jelata.” Jelas Bi Nai yang diangguki mengerti oleh Adhit.

“Sejak kecil, Neng Galuh sangat tidak suka dengan rumitnya protokol istana. Merubah namanya menjadi Naya saat bermain peran, membantunya menyelami masuk dalam kehidupan rakyat jelata, dimana semua orang akan bersikap dengan apa adanya.” ucapan Bi Nai membuat senyum Galuh terkembang lagi, karena pengasuhnya ini, ternyata benar-benar tidak melupakan setiap detail dari dirinya.

“Tapi Neng.. saya sendiri lebih menyukai nama Galuh dibandingkan nama Naya, Ayah anda memberikan nama tersebut karena mempunyai arti yang sangat indah,” protes Bi Nai yang sontak membuat Galuh tertawa, ternyata Bi Nai juga masih secerewet dulu.

“Di Astamaya, ‘Galuh’ adalah nama yang lazim digunakan oleh para kalangan besar, yang mempunyai arti ‘permata’. Sementara Kanaya, adalah nama yang disandang generasi turun temurun dari ibu Neng Galuh, yang mempunyai arti, ‘perempuan sunda’,” protes Bi Nai memihak pada ayah Galuh.

“Bi Nai ini, apapun yang dikatakan Ayah, pasti akan selalu dibela sampai kapanpun,” goda Galuh sambil tergelak.

“Bukan seperti itu, bukaaan…” ucap Bi Nai dengan panik, wajahnya menjadi merah seketika, melihat hal tersebut, Galuh semakin tergelak.

 “Tuan Maharaja menyematkan nama tersebut karena ia menginginkan agar Neng Galuh kelak menjadi permata indah yang berasal dari tanah Sunda, nama itu doa Neng Galuuuh.. “ protes Bi Nai lagi dengan begitu greget. Galuh semakin tertawa saat Bi Nai mencubit sedikit lengannya karena sangat gregetan. Setelah itu mereka meneruskan langkah menuju Tugu Pembatas.

“Kita hampir sampai, bila ada Bangsawan melewati kita, menunduklah dengan sopan. Jangan terlihat mencolok, dan pastikan gerakan anda berdua adalah gerakan yang selayaknya diacuhkan,” ucap Bi Nai lagi dengan hati-hati.

“Dan yang paling penting, tidak ada yang boleh ada yang mendengar geraman teman-teman Neng! cerita tentang kawan–kawan Neng Galuh yang bersemayam dalam tubuh Neng, telah menjadi semacam legenda disini,” bisik Bi Nai dengan khawatir, namun sekaligus bangga.

“Legenda?” tanya Galuh dan Adhit bersamaan.

Bi Nai menghentikan langkahnya lagi. “Anak–anak muda disini begitu terbius oleh kisah tentang Neng Galuh. Mereka begitu terpesona akan cerita para Ajag, jangankan oleh para Tetua Putih, oleh para pemiliknya sendiri yaitu para Tetua Hitam, para Ajag sangat sulit dikendalikan. Namun Neng Galuh yang kala itu masih berusia enam tahun, bukan hanya mampu mengendalikan mereka dengan sangat mudah, tetapi juga mengajak bermain bersama,” Ucap Bi Nai dengan nada bergetar bangga. Sontak hal tersebut membuat Galuh dan Adhit saling melirik tidak percaya.

“Ah, hampir saja Bibi lupa. Bila Neng Galuh dipanggil dengan nama Naya, Den Adhit sendiri masih bisa tetap menggunakan nama Aden sendiri, karena hampir mirip dengan nama yang sering digunakan oleh Kaum Wilayah Rangeh,” kini ucapan Bi Nai agak sedikit berbisik.

“Kaum Wilayah Rangeh?” ucap Adhit sambil menoleh pada Galuh.

“Ah iya, Tuan Rahyata memang belum menerangkan sampai di soal itu,” jawab Galuh sambil mengingat-ingat.

“Baiklah, dengarkan ini.” ucap Galuh dengan nada serius.

“Saat Batu Hyang Sawarga jatuh di atas tanah Sunda, saat itu pula Batu tersebut retak dan membagi energinya menjadi lima bagian; Tanah, Udara, Ether, Air dan Api. Kaum Astamaya di masa lalu, menamakan lima elemen tersebut sebagai Panca Maha Bhuta, yang berarti lima unsur agung.” Ucap Galuh yang didengarkan Adhit dengan seksama.

“Saat Batu Hyang Sawarga menyentuh tanah dan retak terbagi lima, saat itu pula, radiasi yang menyentuh Wilayah Astamaya terbagi lima wilayah, berdasarkan unsur yang menyentuh tanah tersebut. Tanah menjadi Wilayah Bumi, Udara menjadi Wilayah Hawa, Ether menjadi Wilayah Ruh, Air menjadi Wilayah Banyu, Api menjadi Wilayah Rangeh,” Jelas Galuh yang diangguki lagi oleh Adhit.

“Benar, seperti yang dikatakan Neng Galuh. Dan mengapa saya memilih asal tempat anda berdua dari Kaum Wilayah Rangeh? karena Kaum Wilayah Rangeh, adalah kaum yang hilang dalam longsor besar yang cukup aneh. Satu desa hilang dalam semalam, lalu menewaskan seluruh penduduknya. Maka, siapapun tidak akan mendapatkan informasi apapun tentang kebenaran anda berdua.” Ucap Bi Nai dengan masih hati-hati.

“Malam sebelum longsor besar terjadi, seluruh utusan Kaum wilayah Rangeh yang bisa dihitung jari dipanggil dari semua penjuru untuk menghadiri Ritual Adat, Ritual yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Dan Longsor hari itu, benar-benar menghabiskan Desa kaum wilayah Rangeh hingga kaumnya tidak tersisa sama sekali,” ucap Bi Nai lagi.

“Ada lagi yang saya khawatirkan, saya adalah manusia biasa, tidak bisa mengendalikan partikel melawan gravitasi, apa tidak akan ada yang curiga?” tanya Adhit lagi.

“Beberapa dari kalangan kami ada yang terlahir tanpa energi seperti kamu Dhit. Ada yang menyebutkan semacam cacat genetika yang langka. Mereka biasa dinamakan golongan Asmaja, dari kata A yang artinya ‘tidak’, dan Smaja, yang artinya ‘hidup/nafas/jiwa’ dalam konteks spiritual atau jiwa. Saya rasa kita bisa memakai alasan itu," ucapan Galuh kini membuat Adhit menjadi agak lega.

“Ah iya, Bibi lupa memberitahu, kita harus menyamakan suara. Keterangan di lembar penerimaan pelayan baru adalah, anda berdua ikut dengan suami saya karena terpilih sebagai pengawas luar desa selanjutnya. Tetapi tidak bisa pulang, karena saat itu, Neng Galuh panas demam hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur. Lalu Den Adhit terpaksa menemani Neng Galuh disini. Setelah itu musibah longsorpun terjadi,” Jelas Bi Nai yang segera diangguki Galuh dan Adhit.

“Satu lagi, saya mengatakan bahwa, saya menyembunyikan fakta bahwa anda berdua adalah Kaum Wilayah Rangeh yang tersisa hingga remaja. Karena saya khawatir, kecerdasan Kaum Wilayah Rangeh yang masih sangat muda, akan disalahgunakan oleh Kaum Hitam.” Ucap bi Nai yang di jawab anggukan lagi dari Galuh dan Adhit.

“Bagaimanapun, jadikan itu seolah-olah adalah masa lalu anda berdua. Nanti, saya akan titipkan pada anak angkat saya, Subhita, beberapa buku sejarah Kaum Wilayah Rangeh dari perpustakaan istana untuk segera anda berdua pelajari,” ucap Bi Nai lagi yang lalu diangguki lagi oleh Galuh dan Adhit.

Begitu mereka sampai di perbatasan Tugu, Adhit kini terkejut luar biasa! Ternyata untuk menuju Istana, mereka harus menggunakan kendaraan terbang!

“Saya kira sudah sampai, apa Istana memang masih jauh?”  tanya Adhit heran.

“Istana masih agak jauh, kita harus melewati tiga lapisan kota, setelah itu baru sampai di Istana”

“Apa? Tiga lapisan kota!” ucap Adhit hampir berteriak.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir