Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 15 - Istana | By: Desya Saghir

             Melihat Adhit begitu terkejut, Bi Nai segera menjelaskan. “Setelah dari sini, kita akan memasuki beberapa lapisan tempat. Tugu dalam adalah pemisah antara tempat tinggal rakyat sipil dan para abdi istana.” Jelas Bi Nai dengan hati-hati. Melihat Adhit yang bisa memahami, Bi Kai kembali melanjutkan.

 “Selanjutnya kita akan melewati tempat tinggal keluarga para Bangsawan, para bawahan Menteri, lalu setelah itu, baru istana,” ucap Bi Nai sambil menyalakan kendaraan terbangnya. Mendengar hal tersebut, Adhit malah kembali terkejut!

              “Istana juga terbagi jadi beberapa sayap. Sayap kanan adalah tempat tinggal para Menteri utama, Bangsawan kerabat Raja dan Permaisuri yang aktif dalam politik istana. Sayap kiri adalah Panglima besar dan prajurit tertinggi. sedangkan belakang istana adalah asrama pekerja dari para pelayan istana apapun profesinya. “Tambah Galuh, yang lalu kembali mengamati Bi Nai memencet beberapa tombol dari kendaraan terbang yang mereka hendak tumpangi. 

“Benar sekali, nanti.. untuk sementara anda berdua akan tinggal di asrama pekerja. Neng Galuh nanti akan satu kamar dengan Subhita, anak angkat saya. Lalu Adhit, saya akan mencarikan kamar yang paling dekat dengan Neng Galuh ya.. “ Ucap Bi Nai sambil menaikan kendaraannya, lalu setelah itu, kendaraan terbang tersebut melesat menuju Istana.

Selama perjalanan, Adhit tak henti-hentinya dibuat terkejut. Ternyata benar yang dikatakan Bi Nai, wilayah ini terbagi tiga lapisan. Dari ketinggian, Adhit bisa melihat banyaknya atap rumah tradisional yang dilengkapi halaman yang begitu luas dan indah. Semakin mendekati istana, semakin mewah dan megah pula bentuk tempat tinggal yang ada disana.

              Adhit heran, sekalipun Kaum Astamaya memiliki fasilitas kendaraan terbang, masyarakatnya sendiri malah menggunakan jalanan darat seperti Manusia biasa pada umumnya. Ia melihat beberapa kendaraan terbang yang melintas hanya ambulans dan kendaraan milik kementrian, itupun bisa dihitung oleh jari.

“Di atas sini kosong sekali, tidak seperti lalu lintas dunia Manusia yang selalu padat merayap,” ucap Adhit heran. “Kami menggunakan lalu lintas atas, hanya untuk kebutuhan darurat. Bila tidak tergesa, kami akan menggunakan jalan biasa agar yang membutuhkan bisa teratasi dengan cepat.” Ucapan Bi Nai membuat Adhit takjub sekaligus memulai pertanyaan baru dikepalanya.

“Kesadaran toleransi Kaum Astamaya benar-benar sangat luar biasa, lalu mengapa Kaum Hitam sampai berniat menguasai dunia Manusia?” Tanya Adhit tiba-tiba.

“Karena dua pihak sama-sama merasa di jalur yang paling benar.” Jawab Galuh tenang. “Kaum Hitam melihat Kaum Manusia semakin lama perilakunya semakin merusak bumi. Kaum Putih juga berpikir demikian. Namun mereka juga berpikir bahwa Manusia belum siap dengan kehadiran kami, dan perbudakan tidak menyelesaikan permasalahan apapun,” jelas Galuh membuat Adhit kini mengangguk-angguk mengerti.

Sesampainya di tempat tujuan, Galuh dan Adhit diantar Bi Nai masuk lewat belakang istana, pintu khusus bagi para playan. Namun, sekalipun begitu Adhit tetap saja melihat sekeliling sambil berdecak tidak percaya.

Bila saat memasuki Gua tempat Kaum Luhur dan Kakek Addar berada, Adhit sampai tidak mempercayai matanya sendiri. Kini saat di Istana, jantung Adhit terasa terlempar begitu saja.

Meskipun ini hanyalah ruang belakang Istana, dinding-dinding batu yang mereka lewati justru memamerkan kemegahan yang tidak terduga. Relief-relief besar dari ukiran khas dari semua penjuru Jawa Barat, terpahat gagah dengan kualitas sempurna. Bahkan di depan beberapa relief, terdapat patung-patung tokoh perwayangan sunda, ditampilkan dengan kerumitan yang begitu indah dan sangat gagah perkasa.

Adhit berdecak takjub, saat bagaimana tatahan tersebut menggambarkan persahabatan Gatot Kaca dan Cepot dengan begitu hidup, setia dalam membela Pandawa dalam kisah epik Mahabarata. Adhit semakin berdecak saat melihat penokohan Ramayana, Rama ditonjolkan begitu gagah perkasa saat bertarung melawan bengisnya Rahwana. Lalu Shinta sendiri, diukir dengan detail yang memikat jiwa, menangkap momen ketika ia diuji oleh Agni, dewa api, dalam menjaga kesuciannya untuk Rama.

Adhit bahkan sempat berhenti sebentar saat penokohan Hanoman, digambarkan begitu detail dan nyaris sempurna, dan benar-benar tepat seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng perwayangan. Semakin mereka berjalan kedalam, semakin terasa keindahan dan kemegahan yang tidak terduga. Hingga akhirnya, mereka sampai di ruang penerimaan pelayan baru.

Sementara Galuh dan Adhit diminta untuk duduk menunggu di dalam, Bi Nai tampak berbicara sebentar dengan salah satu pelayan, yang setelah itu ia pergi keluar lagi namun entah kemana.

Karena lama, mereka berdua yang mulai bosan menunggu, kini memilih untuk melihat-lihat sekeliling. Adhit berjalan mendekat pada sederetan lemari jati besar, ia lalu melihat tumpukan buku-buku pembukuan yang besarnya tidak masuk akal.

Sementara Galuh yang juga bosan, ia memilih melihat-lihat meja kerja yang ada dihadapannya. Meja jati yang dipenuhi stoples kaca aneka camilan manis, data-data berkas dan tumpukan catatan berbagai tulisan tangan.

Galuh membaca salah satu tumpukan catatan belanja, ternyata milik beberapa bangsawan yang dulu menurut Galuh sangat arogan dan menyebalkan. Saat membaca isinya, wajah Galuh kini menjadi geram.

“Hhh… mereka masih saja meminta hal–hal yang tidak perlu, seharusnya fasilitas ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan rakyat! Egois!” keluh Galuh saat mengintip beberapa catatan tersebut. Adhit yang menoleh terkejut, kini tersenyum. “Benar-benar bibit seorang pemimpin sejati!” pikir Adhit sambil menggeleng senang.

Tak lama orang yang mereka tunggu datang juga.“Benar kaan!” pikir Adhit sambil tersenyum, perawakan orang yang mengisi ruangan ini benar-benar mencerminkan isi ruangannya. Kuno, kolot dan agak aneh. Tapi yang menarik adalah, ia memiliki kumis yang unik. Kumis sebagian tebal sebagian lagi sangat tipis. Sekalipun begitu, orang tersebut seakan tidak menyadari keanehannya sendiri.

Dengan tenang, ia memeriksa catatan yang diberikan Bi Nai sambil menyisiri kumis sisi kirinya yang hampir tidak ada. Setelah selesai, ia baru menatap Galuh dan Adhit.

“Perkenalkan.. saya Daryana..” suara Kepala Pelayan ini hampir membuat Galuh dan Adhit tergelak, intonasi suaranya benar-benar bergelombang dengan ritme yang aneh.

Lalu mereka berdua menahan tawa dengan kompak menunduk, Galuh bangun pertama kali dengan berpura-pura terbatuk. “Maaf Tuan, tadi ada debu angin utara.” Dalih Galuh dengan mimik wajah yang kembali seperti biasa.

“Debu angin utara? Bukankah itu debu yang dihasilkan sejenis binatang yang berasal dari wilayah utara? Cerdas juga!” Pikir Adhit yang mengikuti Galuh sedikit terbatuk, lalu mengembalikan mimik wajahnya juga seperti biasa.

“Debu angin utara? Kemarin tungau terbang yang membuat beberapa gorden sutra dan kain para Bangsawan berlubang parah. Sekarang debu angin utara juga muncul disini? Aargh..! Para Bangsawan pasti akan kembali mengeluh menyebalkan, membuat pekerjaan saya semakin banyak saja! sungguh merepotkan!” ucap Kepala Pelayan tersebut mengumpat kesal.

“Baiklah.. Saya Daryana!” Adhit hampir terjungkal karena terkejut. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Kepala Pelayan tersebut berbalik lalu mengubah topik tanpa aba-aba. 

“Saya adalah salah satu Kepala pelayan yang juga bertugas menyeleksi para pelamar baru. Saya mau menemui kalian, karena selain Bi Nai adalah kepercayaan terbaik Istana, dalam surat rekomendasi dari Bi Nai, kalian adalah Kaum Wilayah Rangeh yang tersisa? Ini menarik!” ucap Kepala Pelayan tersebut dengan lirikan antusias. “Semoga kecerdasan Kaum Rangeh bisa kalian pakai disini,” ucapnya tertarik, namun agak sedikit dingin.

“Baik Tuan,” jawab Adhit cepat. Sedangkan Galuh yang masih berusaha menahan tawa, ia hanya menahan ekspresi setenang mungkin.

Berbagai tes mereka lakukan. Karena Galuh cekatan dan cerdas dalam memilih mana yang harus didahulukan, maka Galuh ditempatkan bagian merapikan kamar dan membawa pakaian kotor, khusus Bangsawan kelas paling atas sekaligus paling menyebalkan.

“Saya menempatkan kamu disini, karena kamu benar-benar cekatan. Pelayan-pelayan sebelumnya sering bertindak bodoh, lalu keluhanpun bertebaran seperti kembang api pasar malam, benar–benar merepotkan!” ucap Kepala pelayan Daryana sambil menyisir kembali kumis kirinya yang hampir tidak ada.

Sedangkan Adhit, ia ditugaskan membawakan harian pagi dan buku–buku pesanan para bangsawan dari perpustakaan Istana. Kepala Pelayan Daryana terkejut, baginya, sekalipun Adhit adalah golongan Asmaja, yaitu golongan tidak berkemampuan seperti Kaum Astamaya lainnya karena kelainan genetik, Adhit begitu cerdas dan cepat tanggap. Satu hal lagi yang membuat ia semakin terkejut, Adhit hafal banyak buku–buku bagus.

“Kaum Rangeh memang benar–benar tidak mengecewakan, jarang sekali orang baru langsung masuk di bagian perpustakaan Istana. Para pelamar baru kebanyakan bodoh dan lambat. Lalu pelayan lama, mereka memang telah terlatih, tetapi selera bukunya kebanyakan buruk, dan keluhan mereka lebih luar biasa dari para Bangsawan sendiri.” Ucap kepala pelayan Daryana dengan mimik sebal.

Lalu tiba-tiba Kepala Pelayan Daryana berbalik sehingga mengagetkan Adhit dan Galuh. “Besok pagi kalian mulai bekerja, tetapi tetap ingat!, jangan kecewakan saya!” ucap Kepala pelayan Daryana dengan pandangan mata yang tajam. Setelah itu, ia tiba-tiba berlalu dan pergi begitu saja.

Galuh dan Adhit saling berpandangan, “orang ini benar–benar aneh,” ucap Adhit yang disambut gelak tawa dari Galuh.

Tak lama Bi Nai bersama seseorang masuk dengan raut sama-sama khawatir. ”Bagaimana?” tanya Bi Nai dengan sangat penasaran, “Kami mulai bekerja besok pagi Bi,” ucap Galuh yang disambut Bi Nai dengan sangat senang.

“Syukurlah, ah iya.. perkenalkan, ini putri angkat saya.. Subhita.” Bi Nai memperkenalkan mereka pada seorang perempuan lima belas tahun dengan perawakan berisi.

Awal melihat saja, Galuh dan Adhit langsung suka. Subhita memiliki raut wajah ceria dan menyenangkan. Ditambah mata bulat ceria, pipi kemerahan dan rambut ikalnya yang tergelung sedikit acak, Subhita benar-benar sangat imut menggemaskan.

“Haiii.. saya Subhita, akhirnya saya bisa bertemu yang telah menjadi legenda selama bertahun-tahun disiniii… Aaaa….!” ucap Subhita sambil menahan tubuhnya agar tidak berjingkrak senang.

“Ssstt.. jangan berkata sembarangan Subhita!” bisik Bi Nai khawatir, yang lalu disambut tindakan Subhita menutup mulutnya sendiri. Galuh dan Adhit langsung tertawa melihat ekspresi Subhita yang benar-benar sangat menggemaskan.

“Karena anda berdua akan mulai beraktifitas besok, sekarang saya langsung antar kalian ke kamar masing–masing untuk beristirahat. Sederhana, namun bersih dan sangat nyaman.” Ucap Bi Nai dengan hangat keibuan.

Neng Ga.. ah.. Naya akan tidur di kamar milik Subhita, sehingga apapun yang Naya butuhkan, katakan saja pada Subhita. Dan Den.. aduuh.. bibi lupa terus, Subhita langsung terpingkal menanggapi kegugupan ibu angkatnya. “Hush! Subhita!” ucap Bi Nai sambil tertawa dan mencubit kecil Subhita karena gregetan, lalu disambut tawa dari Galuh dan Adhit dengan sangat geli.

“Kita kembali pada yang tadi, Adhit.. kamu akan tidur bersama empat orang pelayan lama. Jangan percaya siapapun disini kecuali saya dan Subhita, ucap Bi Nai mengingatkan sekali lagi. Setelah itu mereka berpencar jalan, Galuh mengikuti Subhita, sedangkan Adhit mengikuti Bi Nai.

Begitu Galuh masuk ke dalam kamar Subhita, sekalipun itu adalah kamar pelayan yang amat sangat sederhana, namun Subhita berhasil menatanya dengan sangat apik. Galuh sendiri sampai tidak berkedip karena saking terpesona.

“Disini nyaman sekali Subhitaa…” ucap Galuh dengan senyuman merekah lebar. Kamar ini benar-benar surga bagi remaja perempuan. Seprai dan sarung bantal batik berenda menghiasi ranjang jati sederhana, pot bunga mini dengan bunga aneka warna menghiasi setiap sudut, terutama kusen jendela dan rak-rak mungil yang tersebar rapi. Lalu ditambah nuasa coklat dan hijau yang mendominasi, atmosfir dalam kamar ini benar-benar sangat positif, membuat mata dan hati terasa nyaman.

“Aiiih…senang sekali mendengarnya, terimakasiiiiih….” Jawab Subhita senang, yang lalu mengambil beberapa camilan keringan dari kotak anyaman bambu yang terletak di samping meja rias.

“Sekarang adalah hari libur saya, jadiii.. sambil beristirahat, kita bisa ngobrol sambil makan camilan enak!” ucapan Subhita yang disambut Galuh dengan sangat senang. Setelah itu, mereka berbicara tentang banyak hal.

Bagi Galuh, ini adalah hal pertama bertemu dengan gadis seusianya. Obrolan mereka benar-benar lancar dan sangat tersambung, hingga akhirnya mereka berdua tertidur karena lelah berbicara dan tertawa. Pintu kabut segel para Ajag terbuka dengan sangat transparan, NaRaja mengintip lalu tersenyum melihat Galuh tertidur dengan sangat pulas, setelah itu pintu segel kembali tertutup.

Jam empat pagi Galuh terbangun, tidurnya terganggu karena mendengar para Ajag begitu ribut dalam pikirannya. Saat membuka mata, ternyata Subhita telah bersiap–siap, ini membuat Galuh sedikit tidak enak.

              “Tidak apa–apa, saya yang bangun terlalu pagi. Ini dikarenakan saya tidak percaya bila Nona Galuh yang melegenda sekarang ada didepan sayaaa.. Aaa!!!” ucap Subhita sambil berjingkrak lucu, melihat hal tersebut Galuh langsung tergelak.

Sekalipun baru saja kenal kemarin, Galuh merasa bahwa mereka telah berteman lama sekali.  Galuh tertawa ketika Subhita begitu heboh merapikan rambutnya yang ikal lagi lebat. Apalagi saat anak- anak rambutnya selalu berlomba keluar dari rambut yang berusaha ia ikat.

“Ah iya, hampir terlupa. Ibu berpesan, selama menunggu kabar tentang keadaan Tuan Addar, tetap buka mata dan telinga anda lebar–lebar Nona… ah Naya, saya kualat karena kemarin menertawakan ibu hahaha..!” ucap Subhita tertawa sambil menepuk keningnya sendiri, karena hal itu, Galuhpun ikut kembali tertawa.

“Segala informasi yang anda dapatkan hari ini, akan sangat berguna saat anda kelak memerintah kerajaan ini,” ucap Subhita serius.

“Sejak paman anda, Tuan Ranji Raspati memangku jabatan, banyak sekali yang memanfaatkan kelemahannya,” ucap Subhita sedih. “Tetapi untung ada Tuan Gada Sangkara! Panglima utama yang tampan, gagah, lagi pemberani! Begitu ia datang, maka saat itu pula, semua niatan buruk dari para Bangsawan dan Menteri korup terhempas sia-sia, sehingga Tuan Ranji selalu selamat!” ucap Subhita dengan mimik berapa-api.

“Gada Sangkara? Gagah dan Pemberani?” pikir Galuh semakin heran. Kemarin Bi Nai berkata seperti ini, sekarang Subhita. Yang Galuh terakhir ingat, Gada adalah anak kurus, cengeng dan selalu menjadi bahan ledekan anak bangsawan lain. Ia sangat berbeda dengan ayahnya yang memang hebat, gagah dan pemberani, ini membuat Galuh semakin penasaran.

“Galuh bukalah segelmu, ada yang menatap Subhita terus menerus ini!” ucap salah satu Ajag dalam pikiran Galuh, sehingga pikiran Galuh teralihkan. Tak lama munculah tawa keras dari para Ajag lainnya

“Ayolah Galuh, Agul menatap Subhita terus menerus. Biarkan ia berbicara dengan dengannya.. hahahaha!” Galuh mengenali suara Ajag ini. “Aral diamlah!” ucapan galak Galuh, membuat Subhita yang ada disampingnya refleks terkejut, namun ekspresinya kembali seperti semua.

“Apa para Ajag sedang mengodamu Na?” tanya Subhita santai, yang lalu melanjutkan merapikan riasan tipisnya dengan tenang. Galuh terkejut melihat Subhita malah bersikap biasa saja. Semua yang pernah bertemu dengannya terutama para penghuni gua, pasti akan segera menjauh saat ia bicara dengan para Ajag.

“Kamu tidak takut?” tanya Galuh heran. Sambil mengikat rambutnya Subhita berbicara lagi, “jangan khawatir, ibu sudah berbicara tentang ini kok. Lagi pula, sejak kecil saya sering mendengar cerita tentang teman–teman anda yang hebat ini, jadi.. ya sudah terbiasa,“ ucap Subhita sambil mengedipkan mata.

Sebelum Galuh berbicara lagi, Subhita segera memotongnya agar Galuh tidak terlalu khawatir. “Mulai hari ini, saya akan selalu disamping kamu Na, jadi jangan kuatir. Ayo mandi dulu, selesai mandi, ada yang hendak saya perlihatkan pada kamu Na.. “ ucapnya sambil mengedip, yang lalu menyerahkan sapu tangan kecil yang harus digunakan para pelayan agar rambut mereka terlihat sedikit rapi.

Cara Subhita tersenyum benar–benar membuat siapa saja pasti akan berkata iya, dan keceriaan Subhita, menjadikan kekhawatiran Galuh sirna seketika. Lalu Galuh mendengar gedebukan dalam alam pikirannya.

“Melihat Subhita mengedip, Agul terjatuh! Hahahahaha…. Luar biasa!” ucap salah satu Ajag yang di iringi tawa terbahak dari Ajag–ajag lainnya. Galuh yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sambil mengeleng– geleng kepala.

Setelah mereka berdua selesai bersiap–siap, Subhita mengajak Galuh untuk segera keluar kamar, padahal saat itu langit masih gelap. Galuh masih heran, malah dibawa Subhita mengarah ke dapur istana.

“Dapur Istana?” ucap Galuh saat Subhita berhenti di depan pintu dapur yang tingginya dua kali lebih besar dari tubuh mereka.

“Bila kita sarapan di tempat para pelayan, kita akan terjebak pada antrian panjang membosankan. Menu yang datar, wajah-wajah lelah, disertai gosip dan keluhan yang tidak berhenti. Kamu bisa mati muda disana Na!” ucap Subhita jenaka. Mendengar hal tersebut, Galuh refleks tertawa dengan sangat lepas.

 “Jangan khawatir! Dalam satu minggu, setiap pelayan akan mendapatkan libur satu hari. Saat para pelayan lain menggunakannya untuk bersenang-senang diluar istana, saya justru menggunakan waktu tersebut untuk membantu di dapur istana. Karena suatu saat nanti, saya akan menjadi salah satu koki terbaik disini,” ucap Subhita berapa-api.

“Oleh sebab itu, Pak koki Engkus mengijinkan saya mendapatkan sarapan disini. Jadi kita tidak usah antri dan bisa bebas memilih makanan. Dan jugaa..Pak Koki Engkus kelihatannya naksir ibu Nai, jadi karena sekarang kamu adalah kerabat ibu.. sebanyak apapun yang kamu makan, kamu tetap ammaaan…” ucap Subhita mengedip disambut tawa Galuh yang tidak berhenti.

Setelah mereka masuk kedalam dapur Istana, “Pak Engkuuus, saya lapaaar..!” ucap Subhita yang disambut seorang kepala koki istana yang tertawa sangat renyah. Beberapa bawahan pak koki Engkus juga tertawa dengan polah Subhita yang menggemaskan.

“Kamu beruntung, hari ini banyak sekali pesanan menu yang menarik. Makanlah yang banyak agar tidak cepat lelah saat bekerja,” ucap Pak Koki Engkus, sambil menyodorkan lebih banyak lagi makanan dari meja dapur.

“Lalu ini siapa Subhita? Saya baru melihat kamu membawa seseorang?” ucap Pak Koki Engkus sambil memberikan camilan ringan pada Galuh.

“Perkenalkan Pak Engkus, ini Naya.. pelayan kebersihan baru. ia keponakan dari mendiang suami ibu Nai,” ucap Subhita sambil menggandeng Galuh dengan senang. “Waah benarkah? Aah.. siapapun kerabat ibu Nai, pasti akan disambut dengan hangat disini, “ucap Pak Koki Engkus sambil menyodorkan semakin banyak camilan enak.

Ekspresi pak Koki Engkus membuat Subhita tidak tahan untuk berbisik, “benar kaaan.. dia itu naksir sama ibuu..” bisikan Subhita yang diiringi tawa kecil, sontak langsung di iyakan Galuh.

Mata Galuh kini beralih pada semua makanan yang disodorkan Pak Koki Engkus. Ada kupat tahu dengan bumbu kacang yang benar-benar melimpah. Nasi tutug bakar disertai ayam goreng dan sambal peda limau dengan aroma yang sangat memanjakan hidung. Ada juga mie kocok dengan topping melimpah ruah.

Melihat semua ini, perut Galuh tiba–tiba berteriak kencang. Subhita dan Pak Koki Engkus yang memang berada tepat disamping Galuh, kini tertawa begitu renyah.

“Ini semua adalah menu pesanan para bangsawan yang tiba-tiba dibatalkan, jadi jangan khawatir, makanlah yang banyak.

Saat Galuh mengambil satu mangkok Mie kocok, tiba-tiba Pak Koki Engkus berkata, “Ini adalah sarapan kesukaan Nona Galuh, Putri satu-satunya Tuan Maharaja yang telah mangkat. Seandainya ia masih ada, saya akan membuatkannya setiap hari sampai saya tidak sanggup lagi bekerja di dapur,“ ucapan Pak koki Engkus membuat Galuh menatap Pak koki dengan terkejut.

Ia baru tahu siapa pembuat mie kocok kesukaanya saat ia kecil dulu. Subhita yang menyadari ada sedikit bulir air mata menggenang di mata Galuh segera berkata, “Pak Engkuuus, Naya juga penggemar Nona Galuh, jangan dibikin sedih doong…” ucap Subhita manja.

“Kamu pasti terkejut kan kalau ini sarapan favorit Nona Galuh,” ucap Subhita menutupi reaksi refleks Galuh.

Galuh yang tersadar, segera membetulkan ekspresinya sambil berkata. “Saya merasa terhormat bisa mencicipi hidangan favorit Nona Galuh, selama ini saya hanya mendengar kisahnya dari beberapa orang saja,” ucap Galuh sambil tersenyum. Dari luar Galuh tampak biasa saja, namun dalam hati terdalam, ia benar-benar terharu karena masih di ingat sampai hari ini. Ternyata Istana masih menyimpan orang-orang yang begitu setia pada dia dan Ayahnya.

“Siapa yang tidak sayang kepadanya, sekalipun Nona Galuh masih sangat kecil, sikap welas asihnya membuat kami para pelayan begitu menyayanginya, “ucap koki bawahan pak Koki Engkus dengan tiba-tiba.

Semua bawahan pak Koki Engkus membenarkan. Ternyata, hampir semua dari mereka dulu pernah mendapat banyak kebaikan dari Galuh kecil. Setelah itu, mereka melontarkan banyak sekali pujian untuk Galuh kecil yang membuat Subhita melirik Galuh dengan takjub.

“Ah iya.. makanlah yang banyak, bila ia dewasa, ia pasti sudah sebesarmu nak,” ucap Pak Koki Engkus hangat. Semua ungkapan dari semua koki yang ada di dapur istana, benar-benar membuat Galuh merasa terenyuh sekali. Bila tidak ada seorangpun disini, tentu Galuh sudah menangis tanpa henti.

Selesai sarapan, Subhita mengajak Galuh menuju ruangan khusus para pelayan untuk apel pagi. Sambil berjalan melewati lorong, Subhita bercerita tentang banyak hal, terutama yang terjadi di istana selama ini.

“Tuan Ranji Raspati benar-benar kewalahan menghadapi para Menteri dan Bangsawan yang sangat memanfaatkan situasi. Bila tidak ada Tuan Gada Sangkara, entah seperti apa keadaan Istana sekarang,” ucap Subhita dengan sangat berapi-api. “Seburuk itukah?” tanya Galuh terkejut. “Sangat buruk Na.. sangat buruk..” jawab Subhita dengan raut penuh rasa tidak suka.

Begitu sampai, Galuh mendapati sebagian para pelayan sudah datang. Tiba-tiba ia melihat Adhit sudah dalam barisan. Ketika mata mereka bertemu, Adhit malah menyembul sambil melambai-lambai dengan konyol, sontak hal tersebut membuat beberapa pelayan disampingnya terkekeh sangat geli.

“Bodoh” ucap Galuh sambil memalingkan wajah. Melihat reaksi Galuh, para pelayan laki-laki disamping Adhit jadi semakin tergelak.

Begitu apel pagi selesai, Subhita tampak mencari-cari sesuatu dari sakunya. “Saya lupa, ini adalah pin sensor. Kamar para bangsawan dilarang menggunakan kamera pengawas, jadi kita menggunakan ini, semacam radar untuk membaca dimana saja kita berada,” jelasnya sambil menyematkan pin di seragam Galuh. Setelah itu, Galuh mengekori Subhita yang tiba-tiba menarik lengannya untuk berlari cepat menuju ruangan yang diperintahkan.

Sepanjang perjalanan, beberapa kali hati Galuh tersentak. Semua sudut tempat disini benar–benar sarat memori. Saat ia yang bermain perang–perangan sendirian, ia yang bersembunyi saat dicari bi Nai dan ibunya, ia yang sedang membicarakan sejarah salah satu lukisan yang terpampang bersama ayahnya, lalu tiba-tiba ia menabrak Subhita yang telah berhenti disalah satu pintu.

Subhita terkejut namun segera menyadari. “Pasti seluruh pelosok ruangan ini sarat akan memori bagimu, kuatkan dirimu ya Na, kamu bisa!” ucap Subhita menyemangati sambil memegang erat tangan Galuh. Begitu emosi Galuh sudah lebih baik, Subhita baru meletakan pin miliknya pada ukiran lonceng yang terdapat pada pintu.

Begitu ukiran lonceng tersebut bergerak dan mendentangkan suara, “bersiap-siaplah, kita akan merapikan kamar milik Nona Spathika, putri dari Tokoh besar Klan Merah, Tuan Rahadyan Sayuga,” ucap Subhita hati-hati.

“Si arogan Spathika?” ucap Galuh dengan tercekat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir