Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | Bab 15 - Istana | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Melihat Adhit begitu terkejut, Bi Nai segera menjelaskan. “Setelah dari sini, kita akan memasuki beberapa lapisan tempat. Tugu dalam adalah pemisah antara tempat tinggal rakyat sipil dan para abdi istana.” Jelas Bi Nai dengan hati-hati. Melihat Adhit yang bisa memahami, Bi Kai kembali melanjutkan.
“Selanjutnya kita akan melewati tempat tinggal
keluarga para Bangsawan, para bawahan Menteri, lalu setelah itu, baru istana,”
ucap Bi Nai sambil menyalakan kendaraan terbangnya. Mendengar hal tersebut,
Adhit malah kembali terkejut!
“Istana juga terbagi jadi beberapa
sayap. Sayap kanan adalah tempat tinggal para Menteri utama, Bangsawan kerabat Raja
dan Permaisuri yang aktif dalam politik istana. Sayap kiri adalah Panglima
besar dan prajurit tertinggi. sedangkan belakang istana adalah asrama pekerja
dari para pelayan istana apapun profesinya. “Tambah Galuh, yang lalu kembali mengamati
Bi Nai memencet beberapa tombol dari kendaraan terbang yang mereka hendak
tumpangi.
“Benar sekali, nanti.. untuk
sementara anda berdua akan tinggal di asrama pekerja. Neng Galuh nanti akan
satu kamar dengan Subhita, anak angkat saya. Lalu Adhit, saya akan mencarikan
kamar yang paling dekat dengan Neng Galuh ya.. “ Ucap Bi Nai sambil menaikan
kendaraannya, lalu setelah itu, kendaraan terbang tersebut melesat menuju
Istana.
Selama perjalanan, Adhit tak
henti-hentinya dibuat terkejut. Ternyata benar yang dikatakan Bi Nai, wilayah
ini terbagi tiga lapisan. Dari ketinggian, Adhit bisa melihat banyaknya atap rumah
tradisional yang dilengkapi halaman yang begitu luas dan indah. Semakin
mendekati istana, semakin mewah dan megah pula bentuk tempat tinggal yang ada disana.
Adhit
heran, sekalipun Kaum Astamaya memiliki fasilitas kendaraan terbang, masyarakatnya
sendiri malah menggunakan jalanan darat seperti Manusia biasa pada umumnya. Ia
melihat beberapa kendaraan terbang yang melintas hanya ambulans dan kendaraan milik
kementrian, itupun bisa dihitung oleh jari.
“Di atas sini kosong sekali, tidak
seperti lalu lintas dunia Manusia yang selalu padat merayap,” ucap Adhit heran.
“Kami menggunakan lalu lintas atas, hanya untuk kebutuhan darurat. Bila tidak
tergesa, kami akan menggunakan jalan biasa agar yang membutuhkan bisa teratasi
dengan cepat.” Ucapan Bi Nai membuat Adhit takjub sekaligus memulai pertanyaan
baru dikepalanya.
“Kesadaran toleransi Kaum Astamaya
benar-benar sangat luar biasa, lalu mengapa Kaum Hitam sampai berniat menguasai
dunia Manusia?” Tanya Adhit tiba-tiba.
“Karena dua pihak sama-sama merasa
di jalur yang paling benar.” Jawab Galuh tenang. “Kaum Hitam melihat Kaum
Manusia semakin lama perilakunya semakin merusak bumi. Kaum Putih juga berpikir
demikian. Namun mereka juga berpikir bahwa Manusia belum siap dengan kehadiran
kami, dan perbudakan tidak menyelesaikan permasalahan apapun,” jelas Galuh membuat
Adhit kini mengangguk-angguk mengerti.
Sesampainya di tempat tujuan, Galuh
dan Adhit diantar Bi Nai masuk lewat belakang istana, pintu khusus bagi para
playan. Namun, sekalipun begitu Adhit tetap saja melihat sekeliling sambil berdecak
tidak percaya.
Bila saat memasuki Gua tempat Kaum
Luhur dan Kakek Addar berada, Adhit sampai tidak mempercayai matanya sendiri. Kini
saat di Istana, jantung Adhit terasa terlempar begitu saja.
Meskipun ini hanyalah ruang
belakang Istana, dinding-dinding batu yang mereka lewati justru memamerkan kemegahan
yang tidak terduga. Relief-relief besar dari ukiran khas dari semua penjuru
Jawa Barat, terpahat gagah dengan kualitas sempurna. Bahkan di depan beberapa
relief, terdapat patung-patung tokoh perwayangan sunda, ditampilkan dengan kerumitan
yang begitu indah dan sangat gagah perkasa.
Adhit berdecak takjub, saat bagaimana
tatahan tersebut menggambarkan persahabatan Gatot Kaca dan Cepot dengan begitu
hidup, setia dalam membela Pandawa dalam kisah epik Mahabarata. Adhit semakin
berdecak saat melihat penokohan Ramayana, Rama ditonjolkan begitu gagah perkasa
saat bertarung melawan bengisnya Rahwana. Lalu Shinta sendiri, diukir dengan
detail yang memikat jiwa, menangkap momen ketika ia diuji oleh Agni, dewa api, dalam
menjaga kesuciannya untuk Rama.
Adhit bahkan sempat berhenti
sebentar saat penokohan Hanoman, digambarkan begitu detail dan nyaris sempurna,
dan benar-benar tepat seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng
perwayangan. Semakin mereka berjalan kedalam, semakin terasa keindahan dan kemegahan
yang tidak terduga. Hingga akhirnya, mereka sampai di ruang penerimaan pelayan
baru.
Sementara Galuh dan Adhit diminta
untuk duduk menunggu di dalam, Bi Nai tampak berbicara sebentar dengan salah
satu pelayan, yang setelah itu ia pergi keluar lagi namun entah kemana.
Karena lama, mereka berdua yang
mulai bosan menunggu, kini memilih untuk melihat-lihat sekeliling. Adhit berjalan
mendekat pada sederetan lemari jati besar, ia lalu melihat tumpukan buku-buku
pembukuan yang besarnya tidak masuk akal.
Sementara Galuh yang juga bosan, ia
memilih melihat-lihat meja kerja yang ada dihadapannya. Meja jati yang dipenuhi
stoples kaca aneka camilan manis, data-data berkas dan tumpukan catatan
berbagai tulisan tangan.
Galuh membaca salah satu tumpukan
catatan belanja, ternyata milik beberapa bangsawan yang dulu menurut Galuh
sangat arogan dan menyebalkan. Saat membaca isinya, wajah Galuh kini menjadi geram.
“Hhh… mereka masih saja meminta
hal–hal yang tidak perlu, seharusnya fasilitas ini dipakai untuk memenuhi
kebutuhan rakyat! Egois!” keluh Galuh saat mengintip beberapa catatan tersebut.
Adhit yang menoleh terkejut, kini tersenyum. “Benar-benar bibit seorang
pemimpin sejati!” pikir Adhit sambil menggeleng senang.
Tak lama orang yang mereka tunggu datang
juga.“Benar kaan!” pikir Adhit sambil tersenyum, perawakan orang yang mengisi
ruangan ini benar-benar mencerminkan isi ruangannya. Kuno, kolot dan agak aneh.
Tapi yang menarik adalah, ia memiliki kumis yang unik. Kumis sebagian tebal
sebagian lagi sangat tipis. Sekalipun begitu, orang tersebut seakan tidak
menyadari keanehannya sendiri.
Dengan tenang, ia memeriksa catatan
yang diberikan Bi Nai sambil menyisiri kumis sisi kirinya yang hampir tidak ada.
Setelah selesai, ia baru menatap Galuh dan Adhit.
“Perkenalkan.. saya Daryana..” suara
Kepala Pelayan ini hampir membuat Galuh dan Adhit tergelak, intonasi suaranya benar-benar
bergelombang dengan ritme yang aneh.
Lalu mereka berdua menahan tawa
dengan kompak menunduk, Galuh bangun pertama kali dengan berpura-pura terbatuk.
“Maaf Tuan, tadi ada debu angin utara.” Dalih Galuh dengan mimik wajah yang
kembali seperti biasa.
“Debu angin utara? Bukankah itu
debu yang dihasilkan sejenis binatang yang berasal dari wilayah utara? Cerdas
juga!” Pikir Adhit yang mengikuti Galuh sedikit terbatuk, lalu mengembalikan
mimik wajahnya juga seperti biasa.
“Debu angin utara? Kemarin tungau
terbang yang membuat beberapa gorden sutra dan kain para Bangsawan berlubang
parah. Sekarang debu angin utara juga muncul disini? Aargh..! Para Bangsawan
pasti akan kembali mengeluh menyebalkan, membuat pekerjaan saya semakin banyak
saja! sungguh merepotkan!” ucap Kepala Pelayan tersebut mengumpat kesal.
“Baiklah.. Saya Daryana!” Adhit
hampir terjungkal karena terkejut. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba
saja Kepala Pelayan tersebut berbalik lalu mengubah topik tanpa aba-aba.
“Saya adalah salah satu Kepala pelayan
yang juga bertugas menyeleksi para pelamar baru. Saya mau menemui kalian,
karena selain Bi Nai adalah kepercayaan terbaik Istana, dalam surat rekomendasi
dari Bi Nai, kalian adalah Kaum Wilayah Rangeh yang tersisa? Ini menarik!” ucap
Kepala Pelayan tersebut dengan lirikan antusias. “Semoga kecerdasan Kaum Rangeh
bisa kalian pakai disini,” ucapnya tertarik, namun agak sedikit dingin.
“Baik Tuan,” jawab Adhit cepat. Sedangkan
Galuh yang masih berusaha menahan tawa, ia hanya menahan ekspresi setenang
mungkin.
Berbagai tes mereka lakukan. Karena
Galuh cekatan dan cerdas dalam memilih mana yang harus didahulukan, maka Galuh
ditempatkan bagian merapikan kamar dan membawa pakaian kotor, khusus Bangsawan
kelas paling atas sekaligus paling menyebalkan.
“Saya menempatkan kamu disini,
karena kamu benar-benar cekatan. Pelayan-pelayan sebelumnya sering bertindak
bodoh, lalu keluhanpun bertebaran seperti kembang api pasar malam, benar–benar
merepotkan!” ucap Kepala pelayan Daryana sambil menyisir kembali kumis kirinya
yang hampir tidak ada.
Sedangkan Adhit, ia ditugaskan
membawakan harian pagi dan buku–buku pesanan para bangsawan dari perpustakaan
Istana. Kepala Pelayan Daryana terkejut, baginya, sekalipun Adhit adalah
golongan Asmaja, yaitu golongan tidak berkemampuan seperti Kaum Astamaya
lainnya karena kelainan genetik, Adhit begitu cerdas dan cepat tanggap. Satu
hal lagi yang membuat ia semakin terkejut, Adhit hafal banyak buku–buku bagus.
“Kaum Rangeh memang benar–benar tidak
mengecewakan, jarang sekali orang baru langsung masuk di bagian perpustakaan
Istana. Para pelamar baru kebanyakan bodoh dan lambat. Lalu pelayan lama,
mereka memang telah terlatih, tetapi selera bukunya kebanyakan buruk, dan keluhan
mereka lebih luar biasa dari para Bangsawan sendiri.” Ucap kepala pelayan Daryana
dengan mimik sebal.
Lalu tiba-tiba Kepala Pelayan
Daryana berbalik sehingga mengagetkan Adhit dan Galuh. “Besok pagi kalian mulai
bekerja, tetapi tetap ingat!, jangan kecewakan saya!” ucap Kepala pelayan
Daryana dengan pandangan mata yang tajam. Setelah itu, ia tiba-tiba berlalu dan
pergi begitu saja.
Galuh dan Adhit saling
berpandangan, “orang ini benar–benar aneh,” ucap Adhit yang disambut gelak tawa
dari Galuh.
Tak lama Bi Nai bersama seseorang masuk
dengan raut sama-sama khawatir. ”Bagaimana?” tanya Bi Nai dengan sangat
penasaran, “Kami mulai bekerja besok pagi Bi,” ucap Galuh yang disambut Bi Nai dengan
sangat senang.
“Syukurlah, ah iya.. perkenalkan,
ini putri angkat saya.. Subhita.” Bi Nai memperkenalkan mereka pada seorang
perempuan lima belas tahun dengan perawakan berisi.
Awal melihat saja, Galuh dan Adhit langsung
suka. Subhita memiliki raut wajah ceria dan menyenangkan. Ditambah mata bulat
ceria, pipi kemerahan dan rambut ikalnya yang tergelung sedikit acak, Subhita
benar-benar sangat imut menggemaskan.
“Haiii.. saya Subhita, akhirnya
saya bisa bertemu yang telah menjadi legenda selama bertahun-tahun disiniii…
Aaaa….!” ucap Subhita sambil menahan tubuhnya agar tidak berjingkrak senang.
“Ssstt.. jangan berkata sembarangan
Subhita!” bisik Bi Nai khawatir, yang lalu disambut tindakan Subhita menutup
mulutnya sendiri. Galuh dan Adhit langsung tertawa melihat ekspresi Subhita
yang benar-benar sangat menggemaskan.
“Karena anda berdua akan mulai
beraktifitas besok, sekarang saya langsung antar kalian ke kamar masing–masing
untuk beristirahat. Sederhana, namun bersih dan sangat nyaman.” Ucap Bi Nai
dengan hangat keibuan.
Neng Ga.. ah.. Naya akan tidur di
kamar milik Subhita, sehingga apapun yang Naya butuhkan, katakan saja pada
Subhita. Dan Den.. aduuh.. bibi lupa terus, Subhita langsung terpingkal
menanggapi kegugupan ibu angkatnya. “Hush! Subhita!” ucap Bi Nai sambil tertawa
dan mencubit kecil Subhita karena gregetan, lalu disambut tawa dari Galuh dan
Adhit dengan sangat geli.
“Kita kembali pada yang tadi, Adhit..
kamu akan tidur bersama empat orang pelayan lama. Jangan percaya siapapun
disini kecuali saya dan Subhita, ucap Bi Nai mengingatkan sekali lagi. Setelah
itu mereka berpencar jalan, Galuh mengikuti Subhita, sedangkan Adhit mengikuti
Bi Nai.
Begitu Galuh masuk ke dalam kamar
Subhita, sekalipun itu adalah kamar pelayan yang amat sangat sederhana, namun
Subhita berhasil menatanya dengan sangat apik. Galuh sendiri sampai tidak
berkedip karena saking terpesona.
“Disini nyaman sekali Subhitaa…”
ucap Galuh dengan senyuman merekah lebar. Kamar ini benar-benar surga bagi remaja
perempuan. Seprai dan sarung bantal batik berenda menghiasi ranjang jati
sederhana, pot bunga mini dengan bunga aneka warna menghiasi setiap sudut, terutama
kusen jendela dan rak-rak mungil yang tersebar rapi. Lalu ditambah nuasa coklat
dan hijau yang mendominasi, atmosfir dalam kamar ini benar-benar sangat positif,
membuat mata dan hati terasa nyaman.
“Aiiih…senang sekali mendengarnya,
terimakasiiiiih….” Jawab Subhita senang, yang lalu mengambil beberapa camilan
keringan dari kotak anyaman bambu yang terletak di samping meja rias.
“Sekarang adalah hari libur saya, jadiii..
sambil beristirahat, kita bisa ngobrol sambil makan camilan enak!” ucapan
Subhita yang disambut Galuh dengan sangat senang. Setelah itu, mereka berbicara
tentang banyak hal.
Bagi Galuh, ini adalah hal pertama bertemu
dengan gadis seusianya. Obrolan mereka benar-benar lancar dan sangat tersambung,
hingga akhirnya mereka berdua tertidur karena lelah berbicara dan tertawa.
Pintu kabut segel para Ajag terbuka dengan sangat transparan, NaRaja mengintip
lalu tersenyum melihat Galuh tertidur dengan sangat pulas, setelah itu pintu
segel kembali tertutup.
Jam empat pagi Galuh terbangun, tidurnya
terganggu karena mendengar para Ajag begitu ribut dalam pikirannya. Saat
membuka mata, ternyata Subhita telah bersiap–siap, ini membuat Galuh sedikit
tidak enak.
“Tidak apa–apa, saya yang bangun
terlalu pagi. Ini dikarenakan saya tidak percaya bila Nona Galuh yang melegenda
sekarang ada didepan sayaaa.. Aaa!!!” ucap Subhita sambil berjingkrak lucu, melihat
hal tersebut Galuh langsung tergelak.
Sekalipun baru saja kenal kemarin, Galuh
merasa bahwa mereka telah berteman lama sekali. Galuh tertawa ketika Subhita begitu heboh
merapikan rambutnya yang ikal lagi lebat. Apalagi saat anak- anak rambutnya
selalu berlomba keluar dari rambut yang berusaha ia ikat.
“Ah iya, hampir terlupa. Ibu
berpesan, selama menunggu kabar tentang keadaan Tuan Addar, tetap buka mata dan
telinga anda lebar–lebar Nona… ah Naya, saya kualat karena kemarin menertawakan
ibu hahaha..!” ucap Subhita tertawa sambil menepuk keningnya sendiri, karena
hal itu, Galuhpun ikut kembali tertawa.
“Segala informasi yang anda
dapatkan hari ini, akan sangat berguna saat anda kelak memerintah kerajaan ini,”
ucap Subhita serius.
“Sejak paman anda, Tuan Ranji
Raspati memangku jabatan, banyak sekali yang memanfaatkan kelemahannya,” ucap
Subhita sedih. “Tetapi untung ada Tuan Gada Sangkara! Panglima utama yang
tampan, gagah, lagi pemberani! Begitu ia datang, maka saat itu pula, semua niatan
buruk dari para Bangsawan dan Menteri korup terhempas sia-sia, sehingga Tuan
Ranji selalu selamat!” ucap Subhita dengan mimik berapa-api.
“Gada Sangkara? Gagah dan Pemberani?”
pikir Galuh semakin heran. Kemarin Bi Nai berkata seperti ini, sekarang
Subhita. Yang Galuh terakhir ingat, Gada adalah anak kurus, cengeng dan selalu
menjadi bahan ledekan anak bangsawan lain. Ia sangat berbeda dengan ayahnya
yang memang hebat, gagah dan pemberani, ini membuat Galuh semakin penasaran.
“Galuh bukalah segelmu, ada yang
menatap Subhita terus menerus ini!” ucap salah satu Ajag dalam pikiran Galuh,
sehingga pikiran Galuh teralihkan. Tak lama munculah tawa keras dari para Ajag
lainnya
“Ayolah Galuh, Agul menatap Subhita
terus menerus. Biarkan ia berbicara dengan dengannya.. hahahaha!” Galuh
mengenali suara Ajag ini. “Aral diamlah!” ucapan galak Galuh, membuat Subhita
yang ada disampingnya refleks terkejut, namun ekspresinya kembali seperti semua.
“Apa para Ajag sedang mengodamu Na?”
tanya Subhita santai, yang lalu melanjutkan merapikan riasan tipisnya dengan
tenang. Galuh terkejut melihat Subhita malah bersikap biasa saja. Semua yang
pernah bertemu dengannya terutama para penghuni gua, pasti akan segera menjauh
saat ia bicara dengan para Ajag.
“Kamu tidak takut?” tanya Galuh
heran. Sambil mengikat rambutnya Subhita berbicara lagi, “jangan khawatir, ibu
sudah berbicara tentang ini kok. Lagi pula, sejak kecil saya sering mendengar
cerita tentang teman–teman anda yang hebat ini, jadi.. ya sudah terbiasa,“ ucap
Subhita sambil mengedipkan mata.
Sebelum Galuh berbicara lagi,
Subhita segera memotongnya agar Galuh tidak terlalu khawatir. “Mulai hari ini,
saya akan selalu disamping kamu Na, jadi jangan kuatir. Ayo mandi dulu, selesai
mandi, ada yang hendak saya perlihatkan pada kamu Na.. “ ucapnya sambil
mengedip, yang lalu menyerahkan sapu tangan kecil yang harus digunakan para
pelayan agar rambut mereka terlihat sedikit rapi.
Cara Subhita tersenyum benar–benar
membuat siapa saja pasti akan berkata iya, dan keceriaan Subhita, menjadikan
kekhawatiran Galuh sirna seketika. Lalu Galuh mendengar gedebukan dalam alam
pikirannya.
“Melihat Subhita mengedip, Agul
terjatuh! Hahahahaha…. Luar biasa!” ucap salah satu Ajag yang di iringi tawa
terbahak dari Ajag–ajag lainnya. Galuh yang mendengarnya hanya bisa tersenyum
sambil mengeleng– geleng kepala.
Setelah mereka berdua selesai
bersiap–siap, Subhita mengajak Galuh untuk segera keluar kamar, padahal saat
itu langit masih gelap. Galuh masih heran, malah dibawa Subhita mengarah ke
dapur istana.
“Dapur Istana?” ucap Galuh saat
Subhita berhenti di depan pintu dapur yang tingginya dua kali lebih besar dari
tubuh mereka.
“Bila kita sarapan di tempat para
pelayan, kita akan terjebak pada antrian panjang membosankan. Menu yang datar,
wajah-wajah lelah, disertai gosip dan keluhan yang tidak berhenti. Kamu bisa
mati muda disana Na!” ucap Subhita jenaka. Mendengar hal tersebut, Galuh
refleks tertawa dengan sangat lepas.
“Jangan khawatir! Dalam satu minggu, setiap
pelayan akan mendapatkan libur satu hari. Saat para pelayan lain menggunakannya
untuk bersenang-senang diluar istana, saya justru menggunakan waktu tersebut
untuk membantu di dapur istana. Karena suatu saat nanti, saya akan menjadi
salah satu koki terbaik disini,” ucap Subhita berapa-api.
“Oleh sebab itu, Pak koki Engkus
mengijinkan saya mendapatkan sarapan disini. Jadi kita tidak usah antri dan
bisa bebas memilih makanan. Dan jugaa..Pak Koki Engkus kelihatannya naksir ibu
Nai, jadi karena sekarang kamu adalah kerabat ibu.. sebanyak apapun yang kamu
makan, kamu tetap ammaaan…” ucap Subhita mengedip disambut tawa Galuh yang
tidak berhenti.
Setelah mereka masuk kedalam dapur
Istana, “Pak Engkuuus, saya lapaaar..!” ucap Subhita yang disambut seorang kepala
koki istana yang tertawa sangat renyah. Beberapa bawahan pak koki Engkus juga tertawa
dengan polah Subhita yang menggemaskan.
“Kamu beruntung, hari ini banyak
sekali pesanan menu yang menarik. Makanlah yang banyak agar tidak cepat lelah
saat bekerja,” ucap Pak Koki Engkus, sambil menyodorkan lebih banyak lagi
makanan dari meja dapur.
“Lalu ini siapa Subhita? Saya baru
melihat kamu membawa seseorang?” ucap Pak Koki Engkus sambil memberikan camilan
ringan pada Galuh.
“Perkenalkan Pak Engkus, ini Naya..
pelayan kebersihan baru. ia keponakan dari mendiang suami ibu Nai,” ucap
Subhita sambil menggandeng Galuh dengan senang. “Waah benarkah? Aah.. siapapun
kerabat ibu Nai, pasti akan disambut dengan hangat disini, “ucap Pak Koki
Engkus sambil menyodorkan semakin banyak camilan enak.
Ekspresi pak Koki Engkus membuat
Subhita tidak tahan untuk berbisik, “benar kaaan.. dia itu naksir sama ibuu..”
bisikan Subhita yang diiringi tawa kecil, sontak langsung di iyakan Galuh.
Mata Galuh kini beralih pada semua
makanan yang disodorkan Pak Koki Engkus. Ada kupat tahu dengan bumbu kacang
yang benar-benar melimpah. Nasi tutug bakar disertai ayam goreng dan sambal
peda limau dengan aroma yang sangat memanjakan hidung. Ada juga mie kocok
dengan topping melimpah ruah.
Melihat semua ini, perut Galuh
tiba–tiba berteriak kencang. Subhita dan Pak Koki Engkus yang memang berada
tepat disamping Galuh, kini tertawa begitu renyah.
“Ini semua adalah menu pesanan para
bangsawan yang tiba-tiba dibatalkan, jadi jangan khawatir, makanlah yang banyak.
Saat Galuh mengambil satu mangkok
Mie kocok, tiba-tiba Pak Koki Engkus berkata, “Ini adalah sarapan kesukaan Nona
Galuh, Putri satu-satunya Tuan Maharaja yang telah mangkat. Seandainya ia masih
ada, saya akan membuatkannya setiap hari sampai saya tidak sanggup lagi bekerja
di dapur,“ ucapan Pak koki Engkus membuat Galuh menatap Pak koki dengan
terkejut.
Ia baru tahu siapa pembuat mie
kocok kesukaanya saat ia kecil dulu. Subhita yang menyadari ada sedikit bulir
air mata menggenang di mata Galuh segera berkata, “Pak Engkuuus, Naya juga
penggemar Nona Galuh, jangan dibikin sedih doong…” ucap Subhita manja.
“Kamu pasti terkejut kan kalau ini sarapan
favorit Nona Galuh,” ucap Subhita menutupi reaksi refleks Galuh.
Galuh yang tersadar, segera
membetulkan ekspresinya sambil berkata. “Saya merasa terhormat bisa mencicipi
hidangan favorit Nona Galuh, selama ini saya hanya mendengar kisahnya dari
beberapa orang saja,” ucap Galuh sambil tersenyum. Dari luar Galuh tampak biasa
saja, namun dalam hati terdalam, ia benar-benar terharu karena masih di ingat
sampai hari ini. Ternyata Istana masih menyimpan orang-orang yang begitu setia
pada dia dan Ayahnya.
“Siapa yang tidak sayang kepadanya,
sekalipun Nona Galuh masih sangat kecil, sikap welas asihnya membuat kami para
pelayan begitu menyayanginya, “ucap koki bawahan pak Koki Engkus dengan
tiba-tiba.
Semua bawahan pak Koki Engkus membenarkan.
Ternyata, hampir semua dari mereka dulu pernah mendapat banyak kebaikan dari
Galuh kecil. Setelah itu, mereka melontarkan banyak sekali pujian untuk Galuh
kecil yang membuat Subhita melirik Galuh dengan takjub.
“Ah iya.. makanlah yang banyak,
bila ia dewasa, ia pasti sudah sebesarmu nak,” ucap Pak Koki Engkus hangat. Semua
ungkapan dari semua koki yang ada di dapur istana, benar-benar membuat Galuh
merasa terenyuh sekali. Bila tidak ada seorangpun disini, tentu Galuh sudah
menangis tanpa henti.
Selesai sarapan, Subhita mengajak
Galuh menuju ruangan khusus para pelayan untuk apel pagi. Sambil berjalan
melewati lorong, Subhita bercerita tentang banyak hal, terutama yang terjadi di
istana selama ini.
“Tuan Ranji Raspati benar-benar
kewalahan menghadapi para Menteri dan Bangsawan yang sangat memanfaatkan
situasi. Bila tidak ada Tuan Gada Sangkara, entah seperti apa keadaan Istana
sekarang,” ucap Subhita dengan sangat berapi-api. “Seburuk itukah?” tanya Galuh
terkejut. “Sangat buruk Na.. sangat buruk..” jawab Subhita dengan raut penuh
rasa tidak suka.
Begitu sampai, Galuh mendapati sebagian
para pelayan sudah datang. Tiba-tiba ia melihat Adhit sudah dalam barisan. Ketika
mata mereka bertemu, Adhit malah menyembul sambil melambai-lambai dengan
konyol, sontak hal tersebut membuat beberapa pelayan disampingnya terkekeh
sangat geli.
“Bodoh” ucap Galuh sambil
memalingkan wajah. Melihat reaksi Galuh, para pelayan laki-laki disamping Adhit
jadi semakin tergelak.
Begitu apel pagi selesai, Subhita
tampak mencari-cari sesuatu dari sakunya. “Saya lupa, ini adalah pin sensor. Kamar
para bangsawan dilarang menggunakan kamera pengawas, jadi kita menggunakan ini,
semacam radar untuk membaca dimana saja kita berada,” jelasnya sambil
menyematkan pin di seragam Galuh. Setelah itu, Galuh mengekori Subhita yang tiba-tiba
menarik lengannya untuk berlari cepat menuju ruangan yang diperintahkan.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali
hati Galuh tersentak. Semua sudut tempat disini benar–benar sarat memori. Saat
ia yang bermain perang–perangan sendirian, ia yang bersembunyi saat dicari bi
Nai dan ibunya, ia yang sedang membicarakan sejarah salah satu lukisan yang
terpampang bersama ayahnya, lalu tiba-tiba ia menabrak Subhita yang telah berhenti
disalah satu pintu.
Subhita terkejut namun segera menyadari.
“Pasti seluruh pelosok ruangan ini sarat akan memori bagimu, kuatkan dirimu ya
Na, kamu bisa!” ucap Subhita menyemangati sambil memegang erat tangan Galuh. Begitu
emosi Galuh sudah lebih baik, Subhita baru meletakan pin miliknya pada ukiran
lonceng yang terdapat pada pintu.
Begitu ukiran lonceng tersebut
bergerak dan mendentangkan suara, “bersiap-siaplah, kita akan merapikan kamar
milik Nona Spathika, putri dari Tokoh besar Klan Merah, Tuan Rahadyan Sayuga,”
ucap Subhita hati-hati.
“Si arogan Spathika?” ucap Galuh
dengan tercekat!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar