Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 33 – Dimanakah Sang Tanah? | By: Desya Saghir

 Mereka kini terkepung oleh Dwasa Si Mahluk Asap dan pasukannya! Mata para pemilik elemen terkejut karena melihat Kitab Candrakara tergeletak begitu saja di atas meja!

“Kemana Soma Wisesa, mengapa ia meninggalkan Kitab Candrakara begitu saja!” bisik Galuh panik. “Sepertinya Soma sedang mengunjungi kekasihnya didalam Istana Tujuh Pintu,” bisik Ragadewa sambil mengisyaratkan mata pada kalung Adhit.

Adhit yang berada diposisi terdekat langsung bersiap untuk merebut Kitab Candrakara. Namun Dwasa Si Mahluk Asap yang mengenali momen, dengan secepat kilat ia rebut Kitab Candrakara, lalu menertawakan raut panik Galuh dan Adhit dengan sangat puas!

“Sejak Kakeknya Ragadewa menyerahkan Kitab Candrakara yang berhasil ia curi dari kalian, Tuan Saguri langsung memujinya, bahkan menganugrahinya dengan energi yang berkali-kali lipat besarnya.” Ucap Dwasa dengan raut mengeras.

“Namun untungnya.. isinya hanya sampah! Sehingga energi tersebut tidak jadi diberikan.. Huahahaha..!” ucap Dwasa lagi sambil tergelak puas. Terlihat sekali bila Dwasa sangat iri dengan kesuksesan Kakeknya Ragadewa saat itu.

“Kini saya menemukan Kitab yang asli disini? Ini sungguh menarik! Aah.. Tuan Saguri pasti akan memberikan saya penghargaan yang luar biasa besar.. disertai jabatan yang luar biasa mungkin? hahahahaa!” Ucap Dwasa lagi dengan lengkingan tawa menyebalkan.

Galuh sempat tertegun, heran mengapa kini suara Dwasa tidak seburuk biasanya. Namun Galuh langsung bergidik saat menyadari bahwa mulut Dwasa yang dulu sobek tak karuan, kini terjahit benang hitam dengan alur sangat acak. Mungkin suaranya terdengar sedikit lebih baik, namun justru semakin membuka segala kengerian dari tampilan mulut tersobeknya.

Soma Wisesa, saat baru keluar dari kalung Istana Tujuh Pintu, Ia heran karena menemukan Kitab Candrakara justru tengah dipeluk Dwasa Si Mahluk Asap! Namun, akibat kemunculan Soma Wisesa yang tiba-tiba, Dwasa yang terkejut, langsung melarikan diri yang diikuti seluruh anak buahnya tanpa tersisa.

Semua begitu kesal dan putus asa. Galuh sendiri, karena menahan marah, membuat segel longgar dan suara para Ajag yang menggeram pun jadi ikut terdengar keluar. Namun Ragadewa menunjuk sesuatu yang tersembul dari balik jubah Soma Wisesa.

“Kitab Candrakara!” Semua berkata dengan serempak. “Tidak mungkin Soma Wisesa bertindak segegabah itu,” ucap Ragadewa dengan hampir tertawa. Suasana yang sebelumnya tegang, kini mencair sehingga semuanya jadi kembali bernapas lega.

Dibalik tawanya Ragadewa, Galuh sedikit terkejut, “Ragadewa yang biasanya terlihat dingin, kini mulai berani merekahkan senyum? Ini perubahan luar biasa!” Pikir Galuh heran, lalu pandangan Galuh beralih pada Adhit. Entah mengapa hatinya menghangat. Galuh mengakui, bila ternyata kehadiran Adhit memang membawa perubahan baik yang bukan hanya pada dirinya saja, melainkan semua yang ada bersamanya sekarang, termasuk para Ajag.

Disisi lain, Ragadewa yang menangkap lirikan Galuh pada Adhit, merasakan sedikit rasa cemburu mulai menyelusuk lagi kedalam rongga dadanya. Hatinya sedikit perih dan memanas, namun ia bisa apa? Toh Galuh hanya menganggapnya sebagai teman akrab semasa kecil, hanya itu.

Ragadewa sedikit mengelus dada. Dia yang berhasil mengalihkan perhatian musuh, bisa kalah telak dengan Adhit yang kehilangan momen saat mencoba merebut Kitab Candrakara sekalipun Kitab tersebut palsu. Kemudian Ragadewa mengalihan pandangan pada yang lainnya agar hatinya mendingin.

“Saat menyadari tempat kita dikepung, dengan secepat kilat saya membuat replika Kitab Candrakra agar pelarian kita segera teralihkan. Sayangnya, gerakan Dwasa dan prajuritnya terlalu cepat, sehingga kita terperangkap dalam kepungan Dwasa dan bawahannya. Untung Dwasa bisa tertipu oleh Kitab Candrakara palsu.” Jelas Ragadewa dengan senang.

“Sebelum Dwasa menyadarinya, lebih baik kita segera pergi,” ajak Ragadewa lagi yang langsung diiyakan oleh semua. Setelah itu mereka melesat menggunakan mobil buatan energi Ragadewa.

Disisi lain, Dwasa Si Mahluk Asap tengah mengamuk. Karena setelah melarikan diri agak jauh, Kitab Candrakara yang ia rebut malah berubah jadi pasir. Semua anak buahnya ia tendangi hingga mereka semua kocar kacir meninggalkannya. Setelah itu, Dwasa memukul kepalanya sendiri karena merasa telah berbuat bodoh dua kali. Tertipu Kitab Candrakara palsu dan kini kehilangan pasukannya sendiri.

 Sementara itu, dalam mobil Ragadewa yang tengah melaju kencang, “Kita sama sekali belum sarapan apa-apa, ah.. ini menyiksa sekali..” ucap Gada Sangkara sambil memegang perutnya yang berbunyi sangat keras. Hal tersebut membuat semuanya langsung tertawa, karena perut yang lainnya juga ikut menyusul berbunyi.

Baru saja Gada Sangkara mengatakan perutnya lapar, mobil mereka malah melewati satu mobil Mini Motorhome yang disulap menjadi kafe barista gaya sunda klasik. Ragadewa yang juga sudah sangat kelaparan, langsung memundurkan kembali mobilnya untuk berhenti tepat didepan kafe berjalan tersebut.

Dari dalam mobil saja, semuanya sudah terkesima dengan bentuk interior dari kafe berjalan tersebut. Namun begitu turun dari mobil, mereka lebih terkesima karena disambut aroma camilan dan kopi yang sangat menggugah selera.

Kecuali Soma Wisesa, ia memilih tetap tinggal di kalung, selain karena tidak membutuhkan makanan, juga karena ia merasa penampilannya yang mencolok, sangat berbahaya bila ia dikenali di tempat umum.

Gada Sangkara terkejut, Mini Motorhome ini ternyata dilapisi kayu jati tipis sebagai material dominan. Anyaman rotan yang menjadi rak camilan, pembatas ruangan mini, hingga detail dekorasi lain, membuat Gada merasakan kesan hangat dan solid pada interiornya.

Adhit sendiri malah terpukau pada dekorasi beberapa topeng Cirebon yang menempel pada dinding Mini Motorhome. Setelah itu ia semakin terkesima, karena cangkir-cangkir yang terpampang di rak anyaman rotan, berbentuk berbagai kepala tokoh dalam perwayangan dalam wayang golek. Alunan degung sunda yang mengalir lembut dan memanjakan telinga, membuat nuansa kedai berjalan ini terasa semakin dalam dan otentik.

Sedangkan Galuh dan Gada Sangkara, mereka malah terpukau dengan berbagai macam jenis biji kopi dan camilan khas jawa barat terpajang di etalase. Mereka ribut sekali saat memilih camilan mana saja yang akan dibeli. Lalu tak lama, masuklah Adhit yang ikut menggerecoki pesanan sambil mengganggu Galuh. Mereka benar-benar seperti tiga bocah kelaparan.

Ragadewa semakin menggeleng melihat kesalahpahaman Adhit akan kedekatan Galuh dan Gada Sangkara. Setelah itu, Ragadewa mengalihkan pandangannya pada sebuah rak, yang ternyata berisi buku-buku cerita sunda klasik, khusus untuk dipinjamkan selama menikmati kopi disana.

Ragadewa yang sudah memesan dua serabi hangat terlebih dahulu, ia kini duduk dan membuka-buka beberapa buku cerita tradisional sambil menunggu pesanannya jadi. Beberapa judul membuat memori masa kecil kembali. Saat ayah ibunya masih hidup, mereka sangat sering menceritakan semua judul ini sebagai pengantar tidur. Dari mulai Sangkuriang, Lutung Kasarung, bahkan asal usul Talaga warnapun ada! Ragadewa begitu terkesima dengan koleksi pemilik Mini Motorhome ini.

Tak lama, keluarlah satu orang perempuan muda berambut ikal dengan senyum ramah menyenangkan.

“Hai.. saya Aleiyah.. pramusaji disini, dan itu kakak saya Adiba, dia Chef dan barista disini. Mau pesan kopi? Kami punya berbagai kopi yang enak banget khas jawa barat loh,” tawar perempuan berambut ikal tersebut sangat ramah. Ia tampak lebih supel dibandingkan kakaknya yang hanya tersenyum kalem, bekerja dari balik meja.

“Ah.. boleh, ada rekomendasi kopi yang enak banget menurut kamu?” tanya Adhit dengan tertarik.

“Kopi pangalengan,” ucap Aleiyah sambil mengangkat satu stoples yang berisi biji kopi yang begitu mengkilap. ”aromanya wangi, smooth, dan sedikit fruity.” Ucap Aleiyah lagi sambil memperlihatkan stoples tersebut sebentar, lalu menaruhnya kembali ditempatnya.

“Naah.. kalau Kopi Garut, rasanya bold, ada notes rempahnya, dan earthy yang kuat!” Ucap Aleiyah lagi sambil memerlihatkan stoples biji kopi disebelahnya dengan penuh semangat.

“Setelah itu, ada kopi Ciwidey, sedikit asam cerah dengan aroma bunga dan coklat. Lalu.. ah, kopi sukabumi, rasa bold, sedikit manis, ada aftertaste herbalnya. Gimana? Tertarik yang mana nih? Tawar Aleiyah lagi dengan ceria.

“Saya mau Kopi giling pangalengan,” ucap Adhit dengan antusias.

“Ah.. kalau saya.. Kopi Ciwidey,” ucap Gada Sangkara setelah agak berpikir.

“Saya mau double espresso dengan biji kopi sukabumi bisa?” tanya Ragadewa serius.

“Tentu saja bisa! Kakak saya barista terbaik yang pernah ada! Tentu saja, dibantu oleh saya hahaha.. ” jawab Aleiyah dengan tawa yang renyah. Kakaknya Adiba tampak tersenyum menggeleng sambil mempersiapkan biji kopi yang hendak digiling.

Adiba mungkin terlihat lebih kalem dibandingkan Aleiyah adiknya, tetapi mata bulatnya yang cerah, membuat dia juga tampak bersinar sekalipun hanya tersenyum lembut.

“Ah, kakak cantik, mau pesan kopi atau minuman hangat? Ada bandrek, bajigur, sari kacang hijau, atau es cingcau hijau?” tawar Aleiyah ramah. Galuh sedikit berpikir. “Saya mau bajigur hangat aja,” ucap Galuh senang.

“Okee… segera dibuat! Kalau sudah memutuskan mau camilan yang mana, langsung panggil saya aja ya..” ucap Aleiyah dengan sangat ceria.

Setelah terlibat beberapa pembicaraan, mereka baru tahu bahwa Adiba dan Aleiyah adalah jurnalis budaya. Mereka mengelilingi seluruh Indonesia untuk mempelajari budaya dan mendokumentasikannya di situs website mereka.

Para pemilik elemen semakin terkejut, karena Adiba dan Aleiyah telah melintasi seluruh Nusantara dengan mini motorhome unik mereka.

Adhit dan Ragadewa melihat tulisan kakak beradik ini dengan terpaku. Kelihaian mereka dalam merangkum tulisan yang begitu detail, membuat Adhit dan Ragadewa memperoleh banyak keterangan tanpa perlu membuat otak pembaca kesulitan.

Gada Sangkara tak kalah takjubnya saat melihat sesuatu di artikel web kakak beradik ini. ternyata, mini motorhome yang mereka tumpangi ini selalu disulap menjadi kedai sesuai dengan khas daerah masing-masing.

“Ini mempermudah kami untuk menggali banyak informasi tentang budaya,” terang Adiba sambil memasukan biji kopi kedalam grinder dengan gerakan lembut namun cekatan. Setelah itu dibantu Aleiyah adiknya untuk diproses dimesin kopi.

Namun, setelah berbicara banyak dengan kedua pemilik kedai berjalan ini, tanpa Adiba dan Aleiyah sadari, para pemilik elemen malah mendapatkan informasi bahwa tempat Sang Tanah, salah satu pecahan Batu Hyang Sawarga yang mereka cari, yang ternyata berada di pulau Belitung!

Tanpa membuang waktu, akhirnya mereka memilih kopi dan camilan yang telah dipesan untuk dibawa saja. Agar kepergian mereka hanya disangka sebagai turis domestik biasa. Mereka menaiki kembali mobil buatan Ragadewa. Tetapi begitu sudah agak jauh dan situasi aman, mereka semua segera menaiki perahu transparan yang dipinjami Damar Agung, lalu menghilang dibalik awan-awan yang bergerak perlahan.

Sepanjang perjalanan, Soma Wisesa terus mempelajari segala petunjuk yang tercantum dari Kitab Candrakara. Dengan sambil mengunyah, Adhit membantu dengan mengandalkan sekelebat memori-memori yang ditinggalkan Guru Candrakara. Lalu Ragadewa, membantu lewat pengetahuan yang ia dapatkan selama tinggal di dunia Manusia. Sedangkan Galuh dan Gada Sangkara, mereka membantu melalui buku-buku yang mereka pernah baca diperpustakaan yang pernah mereka temui.

Kadang Adhit menggerecoki Galuh dan Gada Sangkara bila tampak akrab atau duduk bersampingan. Namun, setelah itu Adhit ditarik paksa oleh energi Soma Wisesa, dan meminta ia berkonsentrasi, karena isi Kitab Candrakara sangat berkaitan erat dengan potongan-potongan memori yang ada dikepala Adhit.

Ragadewa jadi sering menggeleng bahkan terkekeh, karena kapal yang mereka tumpangi jadi selalu riuh karena perilaku acak Adhit dan omelan Galuh. Disatu sisi, Ragadewa ingin memiliki Galuh. Namun disatu sisi, Galuh seperti memiliki chemistri kuat bila bersama Adhit. Sesuatu yang tidak pernah ada bila bersamanya, dan itu membuat Ragadewa kadang cukup bimbang.

Hingga akhirnya, sampailah mereka di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung.

Begitu memastikan tidak ada seorangpun disana, mereka semua turun dari perahu dengan sangat hati-hati.

Dan berbekal ide dari perjalanan Adiba dan Aleiyah, mereka menyamar menjadi turis domestik yang tengah meliput wilayah sekitar. Mereka bahkan menginap di rumah penduduk yang disewakan. Lalu agar yang mereka lakukan tidak menarik banyak perhatian, mereka melakukan syuting palsu sampai malam agak larut.

Saat malam semakin gelap, di luar dugaan, Gada Sangkara yang tengah duduk pada sebuah batu besar, malah merasakan ada sebuah getaran halus yang merambat pada tubuhnya. Gada Sangkara segera memberi kode pada yang lainnya dengan perlahan, yang kemudian mengikuti arah sinyal dengan penuh kehati-hatian.

Setelah menyusuri perlahan, ternyata getaran tersebut berasal dari salah satu batu besar. Saat Gada menyentuh batu besar tersebut, pantulan getaran dari batu tersebut terasa semakin kuat, bahkan berpendar seperti sebuah detakan jantung!

Lalu, “Blash!”. Sebuah gelombang cahaya memendar seolah mengenali Gada Sangkara. Tak lama, batu besar tersebut mengeluarkan titik–titik cahaya yang memunculkan motif khas Astamaya, yang lalu membuat rongga kedalam batu tersebut, dengan rongga yang menyerupai lorong tikus besar yang memanjang kedalam.

“Candrakara menggunakan ilmu dalam Kitab Sembilan lagi, Ilmu menciptakan ruang yang terdapat dalam Kitab Gerbang Cermin,” terang Soma Wisesa sambil menggeleng takjub.

“Benar.. dan Guru Candrakara, menjadikan perjalanan kita seperti petualangan yang luar biasa tanpa henti!” jawab Adhit yang tak kalah takjub.

“Hahaha.. benar sekali, dari perjalanan ini, kita mulai mengerti sisi lain Guru Candrakara. Kharismatik adalah sisi yang selalu ia tampilkan, termasuk yang tercatat dalam literasi sejarah. Namun, melalui alur perjalanan ini, terutama kemarin saat ia bermain-main dengan Tangguh Ragasuci, bocah penjaga Sang Api, kita jadi tahu sisi lain dari Guru Candrakara,” ucap Gada Sangkaran senang.

“Sekarang kalian semua mengerti kan, mengapa saya selalu menjuluki dia Si Gila Candrakara, karena dia memang tidak waras hahaha!!” sambung Soma Wisesa sambil tertawa, yang lalu disambut tawa mengiyakan dari semuanya.

Sekalipun peristiwa ini hampir sama dengan keberadaan tempat dimana Sang Air dan Sang Api disembunyikan, Adhit tetap saja kembali terkesima.

Adhit menyentuh bagian luar batu yang berdiameter hanya sepanjang satu meter. Tetapi lorong yang menuju kedalamnya benar-benar sangat panjang kedalam, benar-benar menyerupai lorong tikus.

Saat mereka tengah dalam perjalanan, tiba-tiba lorong tersebut bergeser, sehingga memisahkan satu persatu dari mereka dengan dinding yang terbuat akar bahar liat. Kini masing-masing terjebak dalam ruangan tersendiri. Bahkan mereka semua dibuat saling tersesat oleh jembatan akar rambat, dinding – dinding batu, bahkan dinding akar selalu bergeser tidak tentu arah.

Kadar jiwa mereka benar–benar diuji disini. Karena kedekatan mereka dengan tempat tujuan ditentukan oleh kadar kemurnian jiwa mereka, maka Galuh lah yang mendapat tempat terjauh karena menyandang para Ajag.

Sedangkan, Gada Sangkara dan Adhit justru yang pertama sampai. Gada Sangkara, karena ia memang pemilik elemen tersebut. Sedangkan Adhit, karena jiwanya begitu murni, dan juga karena membawa kalung istana tujuh pintu. Energi murni Nawang Wulan menjadikan tempat tersebut jadi sangat ramah terhadap Adhit.

Setelah Gada Sangkara dan Adhit bertemu, kini mereka melihat seorang Kakek tua yang tengah duduk bertapa diatas batu yang begitu besar. Alih-alih menyerang seperti penjaga sebelumnya, tanpa diduga, sang Kakek Pertapa malah turun mendekat dan mempersilahkan mereka masuk.

“Bila kamu bisa mengulang satu hari ini, apa yang akan kamu lakukan,” tanya Kakek tersebut ditengah kebingungan Gada Sangkara dan Adhit.

“Saya akan melakukan hal yang sama, karena kedatangan saya demi kemaslahatan kita semua.” Jawab Gada Sangkara yakin. Sebagai pemilik elemen yang berkaitan dengan Sang Tanah, Gada merasa bertanggung jawab untuk tetap di garda depan. Kemudian Pertapa tersebut tersenyum seakan puas dengan jawaban Gada Sangkara.  

“Apa tujuanmu hingga masuk wilayah ini anak muda?” tanya Kakek itu lagi pada Gada Sangkara. “Saya hendak membawa pulang Sang Tanah, pecahan dari Hyang Sawarga ke Istana.” Jawaban tersebut membuat Sang Pertapa terkejut.

Namun, karena sepertinya Kakek Pertapa ini masih tidak percaya bahwa mereka benar-benar utusan Guru Candrakra. Maka Adhit membuktikan dengan meminta Nawang Wulan keluar dari Istana Tujuh Pintu.

Sang Pertapa kali ini sangat terkejut, lalu dengan cepat ia menurunkan semua dinding yang memisahkan jarak para pemilik elemen kembali. Tetapi bukan itu saja, seluruh lantai para para pemilik elemen lain digeser untuk berkumpul dengan Gada sangkara dan Adhit, termasuk Galuh.

Namun yang lebih mengejutkan, Nawang Wulan malah berekspresi sangat terkejut. Ia bahkan berlari memeluk Kakek Pertapa tersebut dengan tangis yang sangat dalam.

“Ayah! Ayah masih hidup!” teriak Nawang Wulan dengan suara bergetar. Tak lama, semua kakak Nawang Wulan melayang keluar dari kalung Istana Tujuh pintu, yang lalu berlarian memeluk Pertapa Tua tersebut sambil ikut mengangis.

“Apa yang terjadi Ayah!” ucap Kakak tertua Nawang dengan heran.

Setelah memeluk semua putrinya dengan erat, Kakek Pertapa tersebut berkata. “Ketika ayah siuman, ibu kalian ternyata telah tewas, sedangkan kalian telah menghilang entah kemana,” jawab Kakek Pertapa tersebut yang kali ini terisak sangat perih.

“Dalam keadaan terluka parah, Ayah ditemukan oleh Candrakara dan diobati hingga sembuh. Ayah bersedia membantu Candrakara, selain karena balas budi, Ayah pikir kalian semua telah tewas! Sehingga Ayah tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi!” Lanjut Kakek Pertapa tersebut dengan semakin terisak.

Setelah Nawang Wulan mengatakan tujuan mereka semua datang ke gua ini, Kakek tersebut menatap Galuh, setelah itu tersadar yang lalu segera menunduk hormat.

“Maafkan jika diawal saya tidak mengenali anda Nona Galuh,” ucap Kakek Pertapa tersebut hormat dengan nada masih serak karena terisak.

“Anda mengenali saya sebagai Galuh?” tanya Galuh heran.

“Tentu saja, Candrakara berkata, bahwa sang pewaris tahta memiliki mata yang hanya dimiliki seorang pemimpin sejati, dan yang memiliki itu semua hanya anda,” ucap sang Kakek Pertapa tersebut bijak, yang setelah itu mempersilahkan rongga yang ditutupi akar bahar raksasa untuk didekati.

“Nama saya Baiksa, penjaga Sang Tanah, salah satu pecahan dari batu Hyang Sawarga.” Ucap Kakek Pertapa tersebut memperkenalkan diri dengan sangat hormat, lalu membuka sesuatu yang tertutupi akar bahar raksasa yang sepertinya sangat liat. Lalu terlihatlah, sebuah rongga berisi Sang Tanah, yang tampak seperti ongokan tanah liat yang terlapisi lumut dan akar bahar kehitaman.

Setelah itu, Nawang Wulan mengerjakan sisanya. Membuka segel Sang Tanah dengan segala keindahan menakjubkan yang dimilikinya. Setelah segel Sang Tanah berhasil dibuka, lalu mendarat di tangan Gada Sangkara. Tiba-tiba batu tersebut direbut ratusan kerikil berasap!

Saat mereka semua menoleh, ternyata batu tersebut sudah ada didalam genggaman Dwasa Si Mahluk Asap! Rupanya emosi Kakek Pertapa saat melihat anak-anaknya masih hidup, menjadikan segel wilayah Sang Tanah menjadi tidak siaga.

Dwasa Si Mahluk Asap tertawa dengan lengkingan puas. Sembari menggenggam pecahan batu elemen tersebut, ia menarik napas karena merasakan energi merayap yang begitu dasyat!

Semua menyerang Dwasa dan mencoba merebut kembali batu tersebut. Namun Dwasa menggunakan sebuah ilmu langka, ilmu yang menyegel waktu yang menghentikan semua pergerakan partikel dalam satu ruang, hingga semuanya langsung berhenti seketika.

Kalung Sura Suradana yang mengenali hal tersebut, segera membungkus Adhit dalam bola hologram sehingga Adhit masih bisa bernapas. Sedangkan Kaum Astamaya lain, mereka masih bisa bertahan karena tubuh mereka mempunyai sistem respirasi yang berbeda.

“Apa ini!” teriak Adhit panik.

“Ini ilmu langka, ilmu menghentikan partikel seketika, termasuk udara. Kita terpaku karena semua yang ada disekitar kita membeku, tidak bergerak!” Jawab Gada Sangkara berusaha menangkan Adhit.

“Ilmu langka ini bukan milik Dwasa, ada energi yang menopangnya! Saya sebagai Ruh saja tidak dapat bergerak! Itu artinya, ada energi yang sangat besar menopang kekuatan Dwasa!” Adhit memandang Soma Wisesa dengan heran.

“Hahahaha… Tuanku Saguri bilang, ini adalah ilmu segel waktu yang berasal dari Kitab Ilusi Partikel, digabungkan dengan ilmu yang berasal dari Kitab bayang jiwa. Dan ternyata benar! ini menyebabkan kalian tidak dapat bergerak sama sekali.. Hahahaha! Ini sangat hebaaat!!!.. ” Terang Dwasa Si Mahluk Asap dengan lengkingan tawa yang membuat telinga terasa teracuni.

“Kitab Bayang Jiwa! Itu Ilmu yang mengontrol jiwa atau sukma seseorang sesuai kehendak penguasanya.  ”Ucap Soma Wisesa dengan terkejut luar biasa!

Sang Kakek Pertapa ternyata bisa membebaskan diri! Dengan tanpa membuang waktu, kakek pertapa tersebut bukan hanya membalas serangan, bahkan ia juga mengurung Dwasa dengan akar bahar yang sangat keras dan liat. Begitu Dwasa terkurung, para pemilik elemen akhirnya kembali bebas bergerak.

Saat batu elemen tersebut hendak direbut kembali oleh Kakek Pertapa tersebut, tiba-tiba Dwasa Si Mahluk Asap meremas kalungnya kristalnya hingga pecah, membuat energi yang keluar dari dalam kalung tersebut masuk kedalam lubang hidung, mata, telinga, hingga mulutnya yang tersobek. Sontak hal tersebut membuat Dwasa seperti kerasukan, dan dengan seketika, akar bahar besar yang melilitnya patah hingga berkeping-keping.

Pukulan pertama Dwasa mengenai Kakek Pertapa hingga membuatnya terpental dan terluka parah.

Lalu dengan sigap, Galuh memerintahkan Nawang Wulan dan para kakak Nawang segera membawa pertapa tersebut kedalam kalung Istana Tujuh Pintu agar segera bisa diobati.

Namun, karena Kakak-kakak Nawang Wulan sudah terlanjur marah, mereka membalas serangan dengan energi ilusi mereka dengan gelegar yang maha dasyat. Sehingga yang membawa Kakek Pertapa tersebut hanya Nawang Wulan sendiri.

Galuh dan kawan-kawan sempat terpesona luar biasa dengan ilmu manipulasi milik para kakak dari Nawang Wulan. Kengerian ilmu milik ke enam Kakak Nawang Wulan,  membuat Dwasa Si Mahluk Asap terpental kewalahan.

Namun kekuatan Dwasa yang kini diluar perkiraan mereka. Membuat ke enam kakak Nawang terpojok, bahkan tiga diantaranya terluka cukup parah, membuat Galuh memerintahkan tegas para Kakak Nawang untuk masuk kedalam Kalung Istana Tujuh Pintu, yang lalu digantikan para pemilik elemen maju untuk membantu.

Dwasa kewalahan, ditambah energi dari batu kristal tersebut semakin meredup, membuat Dwasa nekat melompati Gauh dan kawan-kawan, lalu melarikan diri keluar gua. Galuh menyesali tidak dapat mengeluarkan para Ajag karena ruang dibawah tanah begitu sempit, bisa-bisa mereka malah terkubur hidup-hidup disini.

Salah satu retakan Batu Hyang Sawarga, sang tanah telah tercuri. Dengan sekuat tenaga mereka berlari mengejar, namun sepertinya Dwasa Si Mahluk asap telah lari jauh.

Ditengah keputusasaan mereka, tiba-tiba mereka mendengar teriakan dari arah balik batu. Lalu munculah puluhan malaikat berbaju besi, melempar, lalu mencabik Dwasa si Mahluk Asap hingga jadi terpotong beberapa bagian. Sesuai perkiraan mereka, lalu munculah Kahiyang Raga yang dengan gagah perkasa membawa Sang Tanah, pecahan batu Hyang Sawarga dalam genggamannya.

“Kahiyang Raga!” Teriak Galuh Terkejut!


- Besambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir