Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 33 – Dimanakah Sang Tanah? | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mereka kini terkepung oleh Dwasa Si Mahluk Asap dan pasukannya! Mata para pemilik elemen terkejut karena melihat Kitab Candrakara tergeletak begitu saja di atas meja!
“Kemana Soma Wisesa, mengapa ia
meninggalkan Kitab Candrakara begitu saja!” bisik Galuh panik. “Sepertinya Soma
sedang mengunjungi kekasihnya didalam Istana Tujuh Pintu,” bisik Ragadewa sambil
mengisyaratkan mata pada kalung Adhit.
Adhit yang berada diposisi terdekat
langsung bersiap untuk merebut Kitab Candrakara. Namun Dwasa Si Mahluk Asap yang
mengenali momen, dengan secepat kilat ia rebut Kitab Candrakara, lalu menertawakan
raut panik Galuh dan Adhit dengan sangat puas!
“Sejak Kakeknya Ragadewa menyerahkan Kitab
Candrakara yang berhasil ia curi dari kalian, Tuan Saguri langsung memujinya, bahkan
menganugrahinya dengan energi yang berkali-kali lipat besarnya.” Ucap Dwasa
dengan raut mengeras.
“Namun untungnya.. isinya hanya sampah!
Sehingga energi tersebut tidak jadi diberikan.. Huahahaha..!” ucap Dwasa lagi sambil
tergelak puas. Terlihat sekali bila Dwasa sangat iri dengan kesuksesan Kakeknya
Ragadewa saat itu.
“Kini saya menemukan Kitab yang asli
disini? Ini sungguh menarik! Aah.. Tuan Saguri pasti akan memberikan saya
penghargaan yang luar biasa besar.. disertai jabatan yang luar biasa mungkin? hahahahaa!”
Ucap Dwasa lagi dengan lengkingan tawa menyebalkan.
Galuh sempat tertegun, heran mengapa kini
suara Dwasa tidak seburuk biasanya. Namun Galuh langsung bergidik saat menyadari
bahwa mulut Dwasa yang dulu sobek tak karuan, kini terjahit benang hitam dengan
alur sangat acak. Mungkin suaranya terdengar sedikit lebih baik, namun justru semakin
membuka segala kengerian dari tampilan mulut tersobeknya.
Soma Wisesa, saat baru keluar dari kalung
Istana Tujuh Pintu, Ia heran karena menemukan Kitab Candrakara justru tengah
dipeluk Dwasa Si Mahluk Asap! Namun, akibat kemunculan Soma Wisesa yang
tiba-tiba, Dwasa yang terkejut, langsung melarikan diri yang diikuti seluruh anak
buahnya tanpa tersisa.
Semua begitu kesal dan putus asa.
Galuh sendiri, karena menahan marah, membuat segel longgar dan suara para Ajag
yang menggeram pun jadi ikut terdengar keluar. Namun Ragadewa menunjuk sesuatu
yang tersembul dari balik jubah Soma Wisesa.
“Kitab Candrakara!” Semua berkata
dengan serempak. “Tidak mungkin Soma Wisesa bertindak segegabah itu,” ucap
Ragadewa dengan hampir tertawa. Suasana yang sebelumnya tegang, kini mencair sehingga
semuanya jadi kembali bernapas lega.
Dibalik tawanya Ragadewa, Galuh sedikit
terkejut, “Ragadewa yang biasanya terlihat dingin, kini mulai berani merekahkan
senyum? Ini perubahan luar biasa!” Pikir Galuh heran, lalu pandangan Galuh beralih
pada Adhit. Entah mengapa hatinya menghangat. Galuh mengakui, bila ternyata kehadiran
Adhit memang membawa perubahan baik yang bukan hanya pada dirinya saja,
melainkan semua yang ada bersamanya sekarang, termasuk para Ajag.
Disisi lain, Ragadewa yang menangkap
lirikan Galuh pada Adhit, merasakan sedikit rasa cemburu mulai menyelusuk lagi
kedalam rongga dadanya. Hatinya sedikit perih dan memanas, namun ia bisa apa? Toh
Galuh hanya menganggapnya sebagai teman akrab semasa kecil, hanya itu.
Ragadewa sedikit mengelus dada. Dia yang
berhasil mengalihkan perhatian musuh, bisa kalah telak dengan Adhit yang
kehilangan momen saat mencoba merebut Kitab Candrakara sekalipun Kitab tersebut
palsu. Kemudian Ragadewa mengalihan pandangan pada yang lainnya agar hatinya
mendingin.
“Saat menyadari tempat kita dikepung, dengan
secepat kilat saya membuat replika Kitab Candrakra agar pelarian kita segera
teralihkan. Sayangnya, gerakan Dwasa dan prajuritnya terlalu cepat, sehingga kita
terperangkap dalam kepungan Dwasa dan bawahannya. Untung Dwasa bisa tertipu
oleh Kitab Candrakara palsu.” Jelas Ragadewa dengan senang.
“Sebelum Dwasa menyadarinya, lebih
baik kita segera pergi,” ajak Ragadewa lagi yang langsung diiyakan oleh semua. Setelah
itu mereka melesat menggunakan mobil buatan energi Ragadewa.
Disisi lain, Dwasa Si Mahluk Asap tengah
mengamuk. Karena setelah melarikan diri agak jauh, Kitab Candrakara yang ia
rebut malah berubah jadi pasir. Semua anak buahnya ia tendangi hingga mereka semua
kocar kacir meninggalkannya. Setelah itu, Dwasa memukul kepalanya sendiri
karena merasa telah berbuat bodoh dua kali. Tertipu Kitab Candrakara palsu dan kini
kehilangan pasukannya sendiri.
Sementara itu, dalam mobil Ragadewa yang
tengah melaju kencang, “Kita sama sekali belum sarapan apa-apa, ah.. ini
menyiksa sekali..” ucap Gada Sangkara sambil memegang perutnya yang berbunyi sangat
keras. Hal tersebut membuat semuanya langsung tertawa, karena perut yang
lainnya juga ikut menyusul berbunyi.
Baru saja Gada Sangkara mengatakan
perutnya lapar, mobil mereka malah melewati satu mobil Mini Motorhome yang
disulap menjadi kafe barista gaya sunda klasik. Ragadewa yang juga sudah sangat
kelaparan, langsung memundurkan kembali mobilnya untuk berhenti tepat didepan kafe
berjalan tersebut.
Dari dalam mobil saja, semuanya sudah terkesima
dengan bentuk interior dari kafe berjalan tersebut. Namun begitu turun dari
mobil, mereka lebih terkesima karena disambut aroma camilan dan kopi yang sangat
menggugah selera.
Kecuali Soma Wisesa, ia memilih tetap
tinggal di kalung, selain karena tidak membutuhkan makanan, juga karena ia merasa
penampilannya yang mencolok, sangat berbahaya bila ia dikenali di tempat umum.
Gada Sangkara terkejut, Mini Motorhome
ini ternyata dilapisi kayu jati tipis sebagai material dominan. Anyaman rotan
yang menjadi rak camilan, pembatas ruangan mini, hingga detail dekorasi lain, membuat
Gada merasakan kesan hangat dan solid pada interiornya.
Adhit sendiri malah terpukau pada
dekorasi beberapa topeng Cirebon yang menempel pada dinding Mini Motorhome. Setelah
itu ia semakin terkesima, karena cangkir-cangkir yang terpampang di rak anyaman
rotan, berbentuk berbagai kepala tokoh dalam perwayangan dalam wayang golek. Alunan
degung sunda yang mengalir lembut dan memanjakan telinga, membuat nuansa kedai
berjalan ini terasa semakin dalam dan otentik.
Sedangkan Galuh dan Gada Sangkara,
mereka malah terpukau dengan berbagai macam jenis biji kopi dan camilan khas
jawa barat terpajang di etalase. Mereka ribut sekali saat memilih camilan mana
saja yang akan dibeli. Lalu tak lama, masuklah Adhit yang ikut menggerecoki
pesanan sambil mengganggu Galuh. Mereka benar-benar seperti tiga bocah
kelaparan.
Ragadewa semakin menggeleng melihat
kesalahpahaman Adhit akan kedekatan Galuh dan Gada Sangkara. Setelah itu, Ragadewa
mengalihkan pandangannya pada sebuah rak, yang ternyata berisi buku-buku cerita
sunda klasik, khusus untuk dipinjamkan selama menikmati kopi disana.
Ragadewa yang sudah memesan dua serabi
hangat terlebih dahulu, ia kini duduk dan membuka-buka beberapa buku cerita
tradisional sambil menunggu pesanannya jadi. Beberapa judul membuat memori masa
kecil kembali. Saat ayah ibunya masih hidup, mereka sangat sering menceritakan semua
judul ini sebagai pengantar tidur. Dari mulai Sangkuriang, Lutung Kasarung, bahkan
asal usul Talaga warnapun ada! Ragadewa begitu terkesima dengan koleksi pemilik
Mini Motorhome ini.
Tak lama, keluarlah satu orang
perempuan muda berambut ikal dengan senyum ramah menyenangkan.
“Hai.. saya Aleiyah.. pramusaji
disini, dan itu kakak saya Adiba, dia Chef dan barista disini. Mau pesan kopi?
Kami punya berbagai kopi yang enak banget khas jawa barat loh,” tawar perempuan
berambut ikal tersebut sangat ramah. Ia tampak lebih supel dibandingkan
kakaknya yang hanya tersenyum kalem, bekerja dari balik meja.
“Ah.. boleh, ada rekomendasi kopi yang
enak banget menurut kamu?” tanya Adhit dengan tertarik.
“Kopi pangalengan,” ucap Aleiyah
sambil mengangkat satu stoples yang berisi biji kopi yang begitu mengkilap. ”aromanya
wangi, smooth, dan sedikit fruity.” Ucap Aleiyah lagi sambil memperlihatkan stoples
tersebut sebentar, lalu menaruhnya kembali ditempatnya.
“Naah.. kalau Kopi Garut, rasanya
bold, ada notes rempahnya, dan earthy yang kuat!” Ucap Aleiyah lagi sambil
memerlihatkan stoples biji kopi disebelahnya dengan penuh semangat.
“Setelah itu, ada kopi Ciwidey, sedikit
asam cerah dengan aroma bunga dan coklat. Lalu.. ah, kopi sukabumi, rasa bold,
sedikit manis, ada aftertaste herbalnya. Gimana? Tertarik yang mana nih? Tawar
Aleiyah lagi dengan ceria.
“Saya mau Kopi giling pangalengan,”
ucap Adhit dengan antusias.
“Ah.. kalau saya.. Kopi Ciwidey,” ucap
Gada Sangkara setelah agak berpikir.
“Saya mau double espresso dengan biji
kopi sukabumi bisa?” tanya Ragadewa serius.
“Tentu saja bisa! Kakak saya barista
terbaik yang pernah ada! Tentu saja, dibantu oleh saya hahaha.. ” jawab Aleiyah
dengan tawa yang renyah. Kakaknya Adiba tampak tersenyum menggeleng sambil mempersiapkan
biji kopi yang hendak digiling.
Adiba mungkin terlihat lebih kalem
dibandingkan Aleiyah adiknya, tetapi mata bulatnya yang cerah, membuat dia juga
tampak bersinar sekalipun hanya tersenyum lembut.
“Ah, kakak cantik, mau pesan kopi atau
minuman hangat? Ada bandrek, bajigur, sari kacang hijau, atau es cingcau
hijau?” tawar Aleiyah ramah. Galuh sedikit berpikir. “Saya mau bajigur hangat aja,”
ucap Galuh senang.
“Okee… segera dibuat! Kalau sudah
memutuskan mau camilan yang mana, langsung panggil saya aja ya..” ucap Aleiyah
dengan sangat ceria.
Setelah terlibat beberapa pembicaraan,
mereka baru tahu bahwa Adiba dan Aleiyah adalah jurnalis budaya. Mereka
mengelilingi seluruh Indonesia untuk mempelajari budaya dan
mendokumentasikannya di situs website mereka.
Para pemilik elemen semakin terkejut,
karena Adiba dan Aleiyah telah melintasi seluruh Nusantara dengan mini
motorhome unik mereka.
Adhit dan Ragadewa melihat tulisan kakak
beradik ini dengan terpaku. Kelihaian mereka dalam merangkum tulisan yang
begitu detail, membuat Adhit dan Ragadewa memperoleh banyak keterangan tanpa
perlu membuat otak pembaca kesulitan.
Gada Sangkara tak kalah takjubnya saat
melihat sesuatu di artikel web kakak beradik ini. ternyata, mini motorhome yang
mereka tumpangi ini selalu disulap menjadi kedai sesuai dengan khas daerah
masing-masing.
“Ini mempermudah kami untuk menggali
banyak informasi tentang budaya,” terang Adiba sambil memasukan biji kopi kedalam
grinder dengan gerakan lembut namun cekatan. Setelah itu dibantu Aleiyah
adiknya untuk diproses dimesin kopi.
Namun, setelah berbicara banyak dengan
kedua pemilik kedai berjalan ini, tanpa Adiba dan Aleiyah sadari, para pemilik
elemen malah mendapatkan informasi bahwa tempat Sang Tanah, salah satu pecahan
Batu Hyang Sawarga yang mereka cari, yang ternyata berada di pulau Belitung!
Tanpa membuang waktu, akhirnya mereka memilih
kopi dan camilan yang telah dipesan untuk dibawa saja. Agar kepergian mereka
hanya disangka sebagai turis domestik biasa. Mereka menaiki kembali mobil
buatan Ragadewa. Tetapi begitu sudah agak jauh dan situasi aman, mereka semua
segera menaiki perahu transparan yang dipinjami Damar Agung, lalu menghilang
dibalik awan-awan yang bergerak perlahan.
Sepanjang perjalanan, Soma Wisesa terus
mempelajari segala petunjuk yang tercantum dari Kitab Candrakara. Dengan sambil
mengunyah, Adhit membantu dengan mengandalkan sekelebat memori-memori yang
ditinggalkan Guru Candrakara. Lalu Ragadewa, membantu lewat pengetahuan yang ia
dapatkan selama tinggal di dunia Manusia. Sedangkan Galuh dan Gada Sangkara, mereka
membantu melalui buku-buku yang mereka pernah baca diperpustakaan yang pernah
mereka temui.
Kadang Adhit menggerecoki Galuh dan
Gada Sangkara bila tampak akrab atau duduk bersampingan. Namun, setelah itu Adhit
ditarik paksa oleh energi Soma Wisesa, dan meminta ia berkonsentrasi, karena
isi Kitab Candrakara sangat berkaitan erat dengan potongan-potongan memori yang
ada dikepala Adhit.
Ragadewa jadi sering menggeleng bahkan
terkekeh, karena kapal yang mereka tumpangi jadi selalu riuh karena perilaku acak
Adhit dan omelan Galuh. Disatu sisi, Ragadewa ingin memiliki Galuh. Namun disatu
sisi, Galuh seperti memiliki chemistri kuat bila bersama Adhit. Sesuatu yang
tidak pernah ada bila bersamanya, dan itu membuat Ragadewa kadang cukup
bimbang.
Hingga akhirnya, sampailah mereka di Pantai
Tanjung Tinggi, Belitung.
Begitu memastikan tidak ada seorangpun
disana, mereka semua turun dari perahu dengan sangat hati-hati.
Dan berbekal ide dari perjalanan Adiba
dan Aleiyah, mereka menyamar menjadi turis domestik yang tengah meliput wilayah
sekitar. Mereka bahkan menginap di rumah penduduk yang disewakan. Lalu agar yang
mereka lakukan tidak menarik banyak perhatian, mereka melakukan syuting palsu sampai
malam agak larut.
Saat malam semakin gelap, di luar
dugaan, Gada Sangkara yang tengah duduk pada sebuah batu besar, malah merasakan
ada sebuah getaran halus yang merambat pada tubuhnya. Gada Sangkara segera memberi
kode pada yang lainnya dengan perlahan, yang kemudian mengikuti arah sinyal
dengan penuh kehati-hatian.
Setelah menyusuri perlahan, ternyata
getaran tersebut berasal dari salah satu batu besar. Saat Gada menyentuh batu
besar tersebut, pantulan getaran dari batu tersebut terasa semakin kuat, bahkan
berpendar seperti sebuah detakan jantung!
Lalu, “Blash!”. Sebuah gelombang cahaya
memendar seolah mengenali Gada Sangkara. Tak lama, batu besar tersebut mengeluarkan
titik–titik cahaya yang memunculkan motif khas Astamaya, yang lalu membuat
rongga kedalam batu tersebut, dengan rongga yang menyerupai lorong tikus besar
yang memanjang kedalam.
“Candrakara menggunakan ilmu dalam
Kitab Sembilan lagi, Ilmu menciptakan ruang yang terdapat dalam Kitab Gerbang
Cermin,” terang Soma Wisesa sambil menggeleng takjub.
“Benar.. dan Guru Candrakara,
menjadikan perjalanan kita seperti petualangan yang luar biasa tanpa henti!”
jawab Adhit yang tak kalah takjub.
“Hahaha.. benar sekali, dari
perjalanan ini, kita mulai mengerti sisi lain Guru Candrakara. Kharismatik
adalah sisi yang selalu ia tampilkan, termasuk yang tercatat dalam literasi
sejarah. Namun, melalui alur perjalanan ini, terutama kemarin saat ia
bermain-main dengan Tangguh Ragasuci, bocah penjaga Sang Api, kita jadi tahu
sisi lain dari Guru Candrakara,” ucap Gada Sangkaran senang.
“Sekarang kalian semua mengerti kan,
mengapa saya selalu menjuluki dia Si Gila Candrakara, karena dia memang tidak
waras hahaha!!” sambung Soma Wisesa sambil tertawa, yang lalu disambut tawa
mengiyakan dari semuanya.
Sekalipun peristiwa ini hampir sama
dengan keberadaan tempat dimana Sang Air dan Sang Api disembunyikan, Adhit
tetap saja kembali terkesima.
Adhit menyentuh bagian luar batu yang
berdiameter hanya sepanjang satu meter. Tetapi lorong yang menuju kedalamnya
benar-benar sangat panjang kedalam, benar-benar menyerupai lorong tikus.
Saat mereka tengah dalam perjalanan, tiba-tiba
lorong tersebut bergeser, sehingga memisahkan satu persatu dari mereka dengan dinding
yang terbuat akar bahar liat. Kini masing-masing terjebak dalam ruangan
tersendiri. Bahkan mereka semua dibuat saling tersesat oleh jembatan akar
rambat, dinding – dinding batu, bahkan dinding akar selalu bergeser tidak tentu
arah.
Kadar jiwa mereka benar–benar diuji
disini. Karena kedekatan mereka dengan tempat tujuan ditentukan oleh kadar
kemurnian jiwa mereka, maka Galuh lah yang mendapat tempat terjauh karena
menyandang para Ajag.
Sedangkan, Gada Sangkara dan Adhit
justru yang pertama sampai. Gada Sangkara, karena ia memang pemilik elemen
tersebut. Sedangkan Adhit, karena jiwanya begitu murni, dan juga karena membawa
kalung istana tujuh pintu. Energi murni Nawang Wulan menjadikan tempat tersebut
jadi sangat ramah terhadap Adhit.
Setelah Gada Sangkara dan Adhit bertemu,
kini mereka melihat seorang Kakek tua yang tengah duduk bertapa diatas batu yang
begitu besar. Alih-alih menyerang seperti penjaga sebelumnya, tanpa diduga,
sang Kakek Pertapa malah turun mendekat dan mempersilahkan mereka masuk.
“Bila kamu bisa mengulang satu hari
ini, apa yang akan kamu lakukan,” tanya Kakek tersebut ditengah kebingungan
Gada Sangkara dan Adhit.
“Saya akan melakukan hal yang sama,
karena kedatangan saya demi kemaslahatan kita semua.” Jawab Gada Sangkara yakin.
Sebagai pemilik elemen yang berkaitan dengan Sang Tanah, Gada merasa
bertanggung jawab untuk tetap di garda depan. Kemudian Pertapa tersebut
tersenyum seakan puas dengan jawaban Gada Sangkara.
“Apa tujuanmu hingga masuk wilayah ini
anak muda?” tanya Kakek itu lagi pada Gada Sangkara. “Saya hendak membawa
pulang Sang Tanah, pecahan dari Hyang Sawarga ke Istana.” Jawaban tersebut
membuat Sang Pertapa terkejut.
Namun, karena sepertinya Kakek Pertapa
ini masih tidak percaya bahwa mereka benar-benar utusan Guru Candrakra. Maka
Adhit membuktikan dengan meminta Nawang Wulan keluar dari Istana Tujuh Pintu.
Sang Pertapa kali ini sangat terkejut,
lalu dengan cepat ia menurunkan semua dinding yang memisahkan jarak para
pemilik elemen kembali. Tetapi bukan itu saja, seluruh lantai para para pemilik
elemen lain digeser untuk berkumpul dengan Gada sangkara dan Adhit, termasuk
Galuh.
Namun yang lebih mengejutkan, Nawang
Wulan malah berekspresi sangat terkejut. Ia bahkan berlari memeluk Kakek Pertapa
tersebut dengan tangis yang sangat dalam.
“Ayah! Ayah masih hidup!” teriak
Nawang Wulan dengan suara bergetar. Tak lama, semua kakak Nawang Wulan melayang
keluar dari kalung Istana Tujuh pintu, yang lalu berlarian memeluk Pertapa Tua
tersebut sambil ikut mengangis.
“Apa yang terjadi Ayah!” ucap Kakak
tertua Nawang dengan heran.
Setelah memeluk semua putrinya dengan
erat, Kakek Pertapa tersebut berkata. “Ketika ayah siuman, ibu kalian ternyata telah
tewas, sedangkan kalian telah menghilang entah kemana,” jawab Kakek Pertapa
tersebut yang kali ini terisak sangat perih.
“Dalam keadaan terluka parah, Ayah
ditemukan oleh Candrakara dan diobati hingga sembuh. Ayah bersedia membantu
Candrakara, selain karena balas budi, Ayah pikir kalian semua telah tewas!
Sehingga Ayah tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi!” Lanjut Kakek Pertapa
tersebut dengan semakin terisak.
Setelah Nawang Wulan mengatakan tujuan
mereka semua datang ke gua ini, Kakek tersebut menatap Galuh, setelah itu tersadar
yang lalu segera menunduk hormat.
“Maafkan jika diawal saya tidak
mengenali anda Nona Galuh,” ucap Kakek Pertapa tersebut hormat dengan nada masih
serak karena terisak.
“Anda mengenali saya sebagai Galuh?”
tanya Galuh heran.
“Tentu saja, Candrakara berkata, bahwa
sang pewaris tahta memiliki mata yang hanya dimiliki seorang pemimpin sejati,
dan yang memiliki itu semua hanya anda,” ucap sang Kakek Pertapa tersebut bijak,
yang setelah itu mempersilahkan rongga yang ditutupi akar bahar raksasa untuk
didekati.
“Nama saya Baiksa, penjaga Sang Tanah,
salah satu pecahan dari batu Hyang Sawarga.” Ucap Kakek Pertapa tersebut
memperkenalkan diri dengan sangat hormat, lalu membuka sesuatu yang tertutupi
akar bahar raksasa yang sepertinya sangat liat. Lalu terlihatlah, sebuah rongga
berisi Sang Tanah, yang tampak seperti ongokan tanah liat yang terlapisi lumut
dan akar bahar kehitaman.
Setelah itu, Nawang Wulan mengerjakan
sisanya. Membuka segel Sang Tanah dengan segala keindahan menakjubkan yang dimilikinya.
Setelah segel Sang Tanah berhasil dibuka, lalu mendarat di tangan Gada
Sangkara. Tiba-tiba batu tersebut direbut ratusan kerikil berasap!
Saat mereka semua menoleh, ternyata
batu tersebut sudah ada didalam genggaman Dwasa Si Mahluk Asap! Rupanya emosi
Kakek Pertapa saat melihat anak-anaknya masih hidup, menjadikan segel wilayah
Sang Tanah menjadi tidak siaga.
Dwasa Si Mahluk Asap tertawa dengan lengkingan
puas. Sembari menggenggam pecahan batu elemen tersebut, ia menarik napas karena
merasakan energi merayap yang begitu dasyat!
Semua menyerang Dwasa dan mencoba
merebut kembali batu tersebut. Namun Dwasa menggunakan sebuah ilmu langka, ilmu
yang menyegel waktu yang menghentikan semua pergerakan partikel dalam satu
ruang, hingga semuanya langsung berhenti seketika.
Kalung Sura Suradana yang mengenali
hal tersebut, segera membungkus Adhit dalam bola hologram sehingga Adhit masih
bisa bernapas. Sedangkan Kaum Astamaya lain, mereka masih bisa bertahan karena
tubuh mereka mempunyai sistem respirasi yang berbeda.
“Apa ini!” teriak Adhit panik.
“Ini ilmu langka, ilmu menghentikan
partikel seketika, termasuk udara. Kita terpaku karena semua yang ada disekitar
kita membeku, tidak bergerak!” Jawab Gada Sangkara berusaha menangkan Adhit.
“Ilmu langka ini bukan milik Dwasa, ada
energi yang menopangnya! Saya sebagai Ruh saja tidak dapat bergerak! Itu
artinya, ada energi yang sangat besar menopang kekuatan Dwasa!” Adhit memandang
Soma Wisesa dengan heran.
“Hahahaha… Tuanku Saguri bilang, ini adalah
ilmu segel waktu yang berasal dari Kitab Ilusi Partikel, digabungkan dengan
ilmu yang berasal dari Kitab bayang jiwa. Dan ternyata benar! ini menyebabkan kalian
tidak dapat bergerak sama sekali.. Hahahaha! Ini sangat hebaaat!!!.. ” Terang
Dwasa Si Mahluk Asap dengan lengkingan tawa yang membuat telinga terasa
teracuni.
“Kitab Bayang Jiwa! Itu Ilmu yang
mengontrol jiwa atau sukma seseorang sesuai kehendak penguasanya. ”Ucap Soma Wisesa dengan terkejut luar biasa!
Sang Kakek Pertapa ternyata bisa
membebaskan diri! Dengan tanpa membuang waktu, kakek pertapa tersebut bukan
hanya membalas serangan, bahkan ia juga mengurung Dwasa dengan akar bahar yang
sangat keras dan liat. Begitu Dwasa terkurung, para pemilik elemen akhirnya
kembali bebas bergerak.
Saat batu elemen tersebut hendak direbut
kembali oleh Kakek Pertapa tersebut, tiba-tiba Dwasa Si Mahluk Asap meremas
kalungnya kristalnya hingga pecah, membuat energi yang keluar dari dalam kalung
tersebut masuk kedalam lubang hidung, mata, telinga, hingga mulutnya yang
tersobek. Sontak hal tersebut membuat Dwasa seperti kerasukan, dan dengan
seketika, akar bahar besar yang melilitnya patah hingga berkeping-keping.
Pukulan pertama Dwasa mengenai Kakek Pertapa
hingga membuatnya terpental dan terluka parah.
Lalu dengan sigap, Galuh memerintahkan
Nawang Wulan dan para kakak Nawang segera membawa pertapa tersebut kedalam
kalung Istana Tujuh Pintu agar segera bisa diobati.
Namun, karena Kakak-kakak Nawang Wulan
sudah terlanjur marah, mereka membalas serangan dengan energi ilusi mereka dengan
gelegar yang maha dasyat. Sehingga yang membawa Kakek Pertapa tersebut hanya
Nawang Wulan sendiri.
Galuh dan kawan-kawan sempat terpesona
luar biasa dengan ilmu manipulasi milik para kakak dari Nawang Wulan. Kengerian
ilmu milik ke enam Kakak Nawang Wulan, membuat Dwasa Si Mahluk Asap terpental
kewalahan.
Namun kekuatan Dwasa yang kini diluar
perkiraan mereka. Membuat ke enam kakak Nawang terpojok, bahkan tiga
diantaranya terluka cukup parah, membuat Galuh memerintahkan tegas para Kakak
Nawang untuk masuk kedalam Kalung Istana Tujuh Pintu, yang lalu digantikan para
pemilik elemen maju untuk membantu.
Dwasa kewalahan, ditambah energi dari
batu kristal tersebut semakin meredup, membuat Dwasa nekat melompati Gauh dan kawan-kawan,
lalu melarikan diri keluar gua. Galuh menyesali tidak dapat mengeluarkan para
Ajag karena ruang dibawah tanah begitu sempit, bisa-bisa mereka malah terkubur
hidup-hidup disini.
Salah satu retakan Batu Hyang Sawarga,
sang tanah telah tercuri. Dengan sekuat tenaga mereka berlari mengejar, namun sepertinya
Dwasa Si Mahluk asap telah lari jauh.
Ditengah keputusasaan mereka, tiba-tiba
mereka mendengar teriakan dari arah balik batu. Lalu munculah puluhan malaikat berbaju
besi, melempar, lalu mencabik Dwasa si Mahluk Asap hingga jadi terpotong beberapa
bagian. Sesuai perkiraan mereka, lalu munculah Kahiyang Raga yang dengan gagah
perkasa membawa Sang Tanah, pecahan batu Hyang Sawarga dalam genggamannya.
“Kahiyang Raga!” Teriak Galuh Terkejut!
- Besambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar