Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 20 – Kebenaran yang terungkap | By: Desya Saghir

               Saat Spathika dan Sundara berteriak, saat itu juga Kakek Addar dan para Tetua putih terkejut bukan main. Namun bukan karena teriakan kedua Nona ini, melainkan hawa energi besar yang para Tetua Putih rasakan saat itu. “Tidak mungkin!” ucap salah satu Tetua Putih terkejut. “Dia keluar dari segelnya dengan suka rela? Bagaimana mungkin?” Ucap Kakek Addar yang juga merasakan energinya. Lalu dengan sigap, para Tetua Putih segera pergi menuju arah teriakan. Semua orang di dekat ruang pertemuan heran, mengapa para Tetua Putih tiba-tiba berhamburan keluar dari ruang pertemuan. Karena penasaran, mereka pun segera bergegas mengikuti para Tetua Putih yang telah jauh di depan. Namun saat para Tetua Putih melihat langsung apa yang sedang terjadi, saat itu pula mereka sangat terkejut. Benar seperti dugaan mereka, energi tersebut berasal dari seorang pria muda separuh albino yang sangat mereka kenal. Ketika para Tetua Putih begitu ke...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 19 – Awal Kericuhan | By: Desya Saghir

             Nona Naya?” ucap Gada sangkara setelah dekat, suara beratnya yang lembut, membuat Galuh tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan Subhita, ia semakin mengipas-ngipas wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Galuh sedikit terkejut saat mendapati Gada Sangkara dari dekat. Ia baru menyadari bila Gada Sangkara memiliki otot liat dan juga kekar. Ditambah Gada yang sengaja membungkukan punggungnya agar bisa melihat wajah Galuh dari dekat, membuat ia semakin semakin panik karena takut indetitasnya diketahui. Karena Gada ketika kecil, mungkin ia anak penakut dan cengeng, tetapi Galuh kecil selalu dikejutkan oleh segala kecerdasannya.   Subhita sendiri, karena mengipasi wajahnya dengan semakin keras, begitu Gada menoleh pada Subhita dan tersenyum, tiba-tiba kipas yang sedang dipakai Subhita terpental karena di kipas terlalu kuat. Perhatian Gada Sangkara terhadap dua pelayan ini, membuat sebagian besar para Nona Bangsawan mengerny...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 18 – Kejutan yang sangat mengejutkan!| By: Desya Saghir

                 “Ini dari siapa?” Tanya Galuh dengan sangat terkejut! “Kamu yang bawa? Subhitaa.. jangan lakukan ini, kita makan di dapur saja seperti kemarin, mereka bisa curiga bila kamu memperlakukan saya dengan Istimewa,” ucap Galuh khawatir. Namun Subhita hanya tersenyum. “Itu bukan dari saya kok, tapi dari Adhit.” Jelas Subhita yang membuat Galuh terkejut. “Adhit?” ucap Galuh tidak mengerti. “Adhit bilang, tadi malam ia diketahui menyelinap keluar oleh salah satu teman sekamarnya, lalu… “ ucapan Subhita berhenti sebentar. ”Agar tidak dicurigai, Adhit memberikan alasan bahwa ia ingin bertemu sebentar karena merindukanmu.. jadi ia… Aiih…” lanjut Subhita sambil memeluk buket bunga tersebut dengan wajah malu-malu. “Subhita!.. itu kan hanya pura–puraaa!” seru Galuh sambil buru-buru menutup wajahnya dengan bantal. Begitu Galuh mengangkat wajah, Subhita langsung tergelak karena wajah Galuh kini jadi semerah kepiting rebus! “iyaa,...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 17 - Petualangan pun dimulai!| By: Desya Saghir

Saat tengah malam tiba, Adhit yang pura–pura sudah tertidur, kini perlahan membuka matanya lalu bangun dengan amat sangat perlahan. Dengan hati-hati, ia memastikan bila teman-teman sekerjanya memang sudah sangat terlelap. Begitu merasa suasana telah aman, Adhit langsung mengendap, lalu keluar lewat jendela. Diseberang sana, Galuh dan Subhita juga menanti kedatangan Adhit dengan tidak sabar. Tiba-tiba Subhita beranjak dan mematikan semua penerangan di dalam kamar. “Ini akan membuat kamar ini akan terabaikan dari perhatian, dan semua yang melewati kamar ini akan mengira kita sudah benar-benar terlelap,” bisik Subhita hati-hati.   “Aah.. betul juga!” ucap Galuh setuju, Ia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Subhita. Ia selalu memahami apa yang dibutuhkannya, bahkan sebelum Galuh menyadarinya. Adhit akhirnya sampai, dengan wajah bengalnya, ia masuk melalui jendela yang sengaja sedikit dibuka. Namun, karena kedatangan Adhit yang agak lama, Subhita yang tadinya mau ikut ...