Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 20 – Kebenaran yang terungkap | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat Spathika dan Sundara berteriak, saat itu juga Kakek Addar dan para Tetua putih terkejut bukan main. Namun bukan karena teriakan kedua Nona ini, melainkan hawa energi besar yang para Tetua Putih rasakan saat itu.
“Tidak mungkin!” ucap salah satu Tetua
Putih terkejut.
“Dia keluar dari segelnya dengan
suka rela? Bagaimana mungkin?” Ucap Kakek Addar yang juga merasakan energinya. Lalu
dengan sigap, para Tetua Putih segera pergi menuju arah teriakan.
Semua orang di dekat ruang pertemuan
heran, mengapa para Tetua Putih tiba-tiba berhamburan keluar dari ruang pertemuan.
Karena penasaran, mereka pun segera bergegas mengikuti para Tetua Putih yang
telah jauh di depan.
Namun saat para Tetua Putih melihat
langsung apa yang sedang terjadi, saat itu pula mereka sangat terkejut. Benar
seperti dugaan mereka, energi tersebut berasal dari seorang pria muda separuh albino
yang sangat mereka kenal.
Ketika para Tetua Putih begitu
ketakutan, beberapa wanita yang tidak mengetahui sejarah dari pria muda ini, malah
terpesona dengan keindahan yang tengah mereka lihat.
Sekalipun separuh albino, pria muda
ini memiliki wajah dingin yang begitu cantik sekaligus tampan. Garis kuat dari
setiap lekukan tulang wajahnya, seolah senagaja dipahat khusus oleh para Dewa.
Wajahnya sendiri memiliki struktur
yang nyaris simetris. Pipinya yang tirus, rahangnya yang tegas dengan lingkar
wajah yang begitu sempurna. Lalu ditambah kulit putih pucat, bola mata coklat
keabuan, dan alis serta rambut panjang yang berwarna pirang keperakan. Membuat ia
tidak tampak seperti Kaum Astamaya pada umumnya.
Pria setengah albino ini juga
memilihi proporsi tubuh lelaki yang tinggi, ramping, disertai balutan otot liat
yang membuat semua wanita muda disana tidak berkedip. Sehingga sukses membuat
para tamu wanita yang ada disana saling berbisik penuh kekaguman
“Soma.. Soma Wisesa…. bagaimana
bisa!” teriak salah satu Tetua Putih dengan wajah pucat.
“Siapa dia?” bisik salah seorang Delegasi
muda pada ayahnya yang juga seorang Delegasi.
“Dia adalah seorang ilmuan muda Astamaya,”
bisik seorang Delegasi tua dengan bisikan lemah. “Ia disegel dalam kalung,
karena menguasai berbagai ilmu terlarang. Mungkin saat ini usianya telah
mencapai seribu tahun lebih.” Lanjut Delegasi tua tersebut yang membuat
Delegasi muda tersebut langsung terbelalak kaget.
“Di dalam kalung, ia terjebak pada
sebuah dimensi dimana waktu tidak berlaku, itu yang membuat ia sampai saat ini masih
tetap hidup. “Jelas Delegasi tua itu lagi yang kini disambut raut lebih terkejut
dari Delegasi muda tersebut.
“Jadi, dia adalah ? yang pernah ayah
ceritakan? seseorang yang dipaksa masuk kedalam segel untuk menjadi Ruh”
bisiknya spontan, lalu Delegasi tua tersebut mengangguk.
“Sayang sekali, usaha Kaum Putih
dalam menyegelnya menjadi sia-sia. Dia sangat keras kepala, sehingga Istana
tidak dapat memanfaatkan segala ilmu pengetahuan dan energi yang dimiliki Soma
Wisesa sama sekali,” ucap Delegasi tua tersebut penuh sesal.
“Bukannya ayah bilang Soma Wisesa
sama sekali tidak tunduk pada siapapun, mengapa pelayan tersebut malah ia
lindungi?” bisik Delegasi muda itu pada ayahnya sekali lagi, ayahnya kali ini hanya
mengedikan bahu.
“Soma Wisesa! apa yang sedang kamu
rencanakan!” teriak Kakek Addar khawatir, dia menduga bahwa Soma Wisesa telah
mengendus bahwa Galuh adalah pemilik para Ajag.
Soma Wisesa tersenyum. “Ayolah Addar..
saya hanya bermain–main sebentar, didalam kalung rasanya sangat membosankan,” jawab
Soma ringan, yang lalu merentangkan kedua tangannya seolah habis keluar dari ruangan
yang amat sempit.
Kakek Addar yang terkejut karena
mengira Soma Wisesa akan menyerang, membuat Soma Wisesa melirik dengan
tersenyum mengejek. “Saya mengenal kamu sejak kecil Addar, saya tidak mungkin
menyerang kamu tanpa alasan.” Ucap Soma Wisesa dengan tarikan senyum menyebalkan.
“Soma Wisesa, sekalipun mempunyai wajah
seperti anak muda berusia 18 tahun, ia adalah seseorang yang telah berusia lebih
dari seribu tahun lebih. Di masa lalu, ia begitu di takuti karena kecerdasan
dan banyaknya ilmu terlarang yang telah ia pelajari. Maka, sekalipun tersegel
di dalam kalung, beberapa kekuatannya masih bisa ia keluarkan bila ia mau,”
bisik Gada Sangkara saat mendapati Adhit mendekat pada Kakek Addar dan dirinya.
“Usianya lebih dari seribu tahun?”
pikir Adhit dengan terkejut. Setelah itu, rasa terkejut Adhit malah teralihkan karena
gaya eksentrik Soma yang tidak biasa.
Soma Wisesa memakai banyak sekali
aksesori. Dari mulai berbahan logam, kayu, manik-manik hingga kulit binatang. Sekalipun
banyak dan bertumpuk, entah kenapa semua yang ia kenakan memiliki harmoni yang
memikat. Telinganya sendiri memiliki beberapa tindik dengan bentuk anting manik-manik
yang begitu eksentrik, sontak hal tersebut membuat jantung para wanita muda semakin
berdebar.
“Apa kalian sekarang kesulitan
menghadapi perilaku para Kaum Hitam? Bukankah telah saya beritahu sejak sebelum
tersegel, mereka itu duri dalam daging! Karena kesombongan kalian, Nona muda
ini harus menanggung akibatnya! Ia seharusnya bisa menjalani hidup remajanya
sesuai dengan kadar usianya!“ gerutu Soma Wisesa sambil menatap para Tetua Putih
dengan sebal.
Para Tetua Putih kebingungan dengan
kalimat Soma Wisesa, tetapi Kakek Addar malah menjadi panik. Ia kini tahu bahwa
Soma Wisesa telah mengendus kehadiran para Ajag dalam tubuh Galuh.
Rahadyan Sayuga yang hendak berkata
sesuatu, langsung di halangi oleh adiknya, Sadya Agracana yang baru datang. “Jangan
gegabah!” bisik Sadya yang sontak membuat Rahadyan mengurungkan niatnya
seketika.
Disaat yang sama, mata Soma Wisesa mendelik
pada mereka berdua. Sadya Agracarana seketika membeku, sedangkan Rahadyan Sayuga
malah terkencing di celana. Soma Wisesa yang menyunggingkan senyum mengejek, kini
kembali mengalihkan pandangannya pada Galuh.
Soma Wisesa mengambil kalung tempat
ia di segel, lalu mengalungkannya pada Galuh. “Nona, bila anda membutuhkan saya
lagi, dengan senang hati saya akan selalu datang membantu,” ucap Soma Wisesa
sambil membungkuk hormat, lalu menghilang masuk ke dalam kalung yang sudah tersemat
di leher Galuh.
Semua terhenyak, “ini benar-benar
tidak masuk akal? Mengapa Soma Wisesa begitu melindungi anak ini?” bisik salah
satu Tetua Putih pada Kakek Addar yang kebetulan tepat disebelahnya. Kakek
Addar hanya menjawab dengan tatapan tidak mengerti.
Tentu saja semua terkejut! Sejak Soma
Wisesa tersegel, tidak sedetikpun ia tunduk pada pihak manapun, termasuk pihak
Istana. Ia memunculkan diri hanya untuk menertawakan atau menyampaikan ejekan pedas,
tidak lebih dari itu. Dengan pandangan tidak percaya, para Tetua putih kini
menatap Galuh dengan seksama.
“Siapa kamu sebenarnya? mengapa
Soma Wisesa begitu sangat menghormati kamu?” tanya salah seorang Tetua Putih
sambil menatap Galuh dari ujung kepala ke ujung kaki. Galuh diam karena tidak
tahu harus mengatakan apa.
Gada Sangkara yang sempat terhenyak,
ia malah menghampiri Galuh dan Subhita untuk memberikan baju luarannya karena Galuh
dan Subhita begitu basah kuyup. Galuh tersenyum tipis, Gada Sangkara ternyata
masih seperti yang dulu. Sekalipun keadaan terasa mencekam, karakter welas asih
Gada Sangkara mengalahkan rasa takutnya terhadap Soma Wisesa.
Mendapati Galuh yang tersenyum
tipis, Spathika seketika meradang. “Gada! mereka hanya pelayan, tidak sejajar
dengan kita!” Bentak Spathika yang tiba-tiba lupa akan tata krama. Rasa panas
dan cemburu yang telah membutakan ketakutannya sendiri. “Plak!” Sebuah tangan bercahaya
muncul dari dalam kalung, Spathika ditampar Soma Wisesa! Adhit dan Subhita menahan
tawa karena tingkah Soma yang sangat seenaknya.
“Ayaaaaaaahhhh!!!” Spathika
histeris, tetapi Rahadyan tidak bergeming, ia begitu ketakutan hingga
terkencing kedua kalinya.
Semua
masih menunggu apa yang di katakan Galuh, namun tidak ada sepatah kata apapun
yang keluar dari Galuh. Maka dengan segera, Kakek Addar mengambil tindakan
cepat. Setelah Kakek Addar berdiri didekat Galuh, Kakek Addar segera berseru
dengan tegas.
“Beliau adalah Nona Kayana Galuh,
pewaris tahta selanjutnya dari kerajaan ini!” Sontak semua yang ada disana terhenyak!
Termasuk Spathika dan Sundara, wajah mereka begitu pucat seperti mayat.
“Tidak mungkin, bukankah.. bukankah
Nona Galuh telah mangkat! buktikan kalau dia memang Nona Kayana Galuh!” teriak
Rahadyan Sayuga tidak terkendali, ia panik!
Klan Merah sedang dalam proses
menyingkirkan Gada Sangkara. Bila berhasil, Rahadyan akan menikahkan salah satu
dari kedua putrinya dengan paman Galuh, Ranji Raspati. Bila Galuh memang benar
masih hidup, maka hancurlah rencana yang telah ia usahakan sejak lama.
Tiba–tiba munculah segel kabut para
Ajag tanpa persetujuan Galuh. Satu persatu para Ajag memperlihatkan diri sambil
menggeram tidak terima. Lalu mereka berdiri di belakang Galuh dengan begitu garang
dan gagah perkasa. Sedangkan NaRaja, sekalipun hanya berdiri di dalam pintu
segel, namun energi kegelapannya membuat semua orang disana tersentak dengan
amat sangat.
Ini membuat Para Tetua Putih beserta
semua yang ada disana terkejut dan baru percaya. Termasuk Spathika dengan wajah
yang semakin, disusul lemasnya kedua kaki yang membuatnya oleng lalu terjatuh. Sedangkan
Sundara, ia langsung pingsan seketika.
Setelah mereka semua menyadari
bahwa di hadapan mereka adalah sang pewaris tahta, para Tetua Putih disusul
semua yang ada disana menunduk hormat pada Galuh.
Gada Sangkara yang disebelahnya pun
ikut menunduk dengan sangat khidmat. Spathika yang pucat, kini dengan kikuk
terpaksa mengikuti apa yang dilakukan oleh semua yang ada disana, ia
benar-benar merasakan malu yang tidak tertahankan.
Para pelayan yang dulu selalu ditindas
Spathika dan Sundara, mereka menunduk dengan sangat khidmat. Karena dendam yang
terlampiaskan, merekapun berjanji untuk setia pada Galuh sampai mati. Setelah
semua menunduk, Para Ajagpun kembali masuk ke dalam segel.
Saya sembunyikan fakta bahwa Nona
Galuh belum mangkat, karena ia adalah seseorang yang diramalkan Guru Candrakara
menjadi pemimpin, yang kelak bukan hanya memimpin Kaum Astamaya saja, melainkan
semua yang hidup di tanah Astamaya dan dunia Manusia.” Ucapan Kakek Addar
membuat semua yang ada disana semakin terkejut.
“Saya memang pernah membaca hal tersebut
di beberapa Kitab buatan Guru Candrakara,” ucap salah seorang Tetua Putih
sambil membuka energinya untuk memperlihatkan visual beberapa kitab hasil
tulisan Guru Candrakara yang membahas tentang ini.
Tetapi saya baru tahu bahwa yang
diramalkan ternyata Nona Galuh, Putri dari Maharaja Mahesa Agung. Mengapa anda
merahasiakannya dari kami?” Tanya seorang Tetua Putih lain pada Kakek Addar
dengan terkejut.
“Ayah saya baru menyadari ketika
Nona Galuh terasuki para Ajag. Semua ciri-ciri yang ditampilkan benar-benar
sama dengan yang di tuliskan Guru Candrakara dalam beberapa kitab
penerawangannya dimasa lampau.” Ucap Kakek Addar sambil memperlihatkan visual
beberapa kitab tulisan Guru Candrakara dengan energinya.
“Namun, suasana saat itu begitu
kacau karena banyaknya tudingan dari para Menteri dan Tokoh Bangsawan. Ditambah
kesepakatan para Tetua Putih yang mengharuskan menewaskan Nona Galuh saat
terasuki para Ajag, tidak memberikan Ayah saya waktu untuk menjelaskan,” Jelas Kakek
Addar membuat para merasa sangat bersalah.
“Tadinya, saya berencana membawa
Nona Galuh kembali saat telah siap mengemban tugas. Namun, baru-baru ini tempat
kami diserang oleh Kaum Hitam, sehingga saya terpaksa harus mengungsikan Beliau
ke istana dulu agar tetap selamat. Karena tempat kami kini telah aman, saya
akan membawa kembali Nona Galuh, lalu mengembalikannya ke istana saat ia sudah benar-benar
siap,” ucap Kakek Addar dengan penuh wibawa.
Salah seorang Tokoh Bangsawan besar
yang sama liciknya dengan Rahadyan Sayuga berbicara, “bukankah sang pewaris
tahta telah pulang, kita tahu Maharaja Ranji Raspati tidak pernah menginginkan
jabatan ini, mengapa tidak langsung diambil alih oleh Nona Galuh!” Kakek Addar
menatap Bangsawan tersebut dengan dalam, ia sudah menduga hal ini akan terjadi.
“Untuk saat ini, Nona Galuh masih
berada di tahap mempelajari untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, usianya baru
15 tahun. Sesuai amanat ayahnya, Maharaja Mahesa Agung, ia akan menggantikan
tahta saat telah benar–benar matang,” ucap Kakek Addar menegaskan.
“Bagaimana kami bisa mempercayai
bahwa Nona Galuh akan kembali menuju pelatihan, selama ini Anda menyembunyikan
fakta bahwa ternyata Nona Galuh masih hidup! Lalu membiarkan Maharaja Ranji
Raspati yang tidak pernah mau masuk ke dalam ranah politik Kerajaan naik tahta?
Apa yang sedang anda rencanakan?” ucap Sadya Agracarana, adik dari Rahadyan
Sayuga dengan nada tidak suka. Kakek Addar mencium ada rencana busuk yang sedang
dilancarkan oleh Sadya.
“Iya, bagaimana bila anda ternyata
akan memanfaatkan Nona Galuh, bukankah akan lebih aman bila ia berada di istana?
“ucap salah seorang Tokoh Bangsawan lain dengan reputasi yang sama buruknya
dengan Klan Merah, Kakek Addar mulai mencium aroma perebutan kekuasaan.
“Bagaimanapun, Tuan Addar adalah
salah satu Tetua Putih paling berpengaruh diantara kami semua. Ia bahkan
mengenal seluruh sesepuh dan pertapa dari seluruh penjuru Astamaya. Bila ia
mau, ia bisa menguasai Istana tanpa memanfaatkan para Ajag yang bersemayam
dalam tubuh Nona Galuh!” Bela salah satu Tetua Putih hingga membuat rahang
Sadya Agracarana mengeras seketika.
Para Tokoh Bangsawan licik terdiam,
sedangkan yang lainnya mengangguk setuju. Sadya Agracarana memandang sekitar
dengan tidak suka, ia kesal karena rencananya dipatahkan begitu saja.
Gada Sangkara segera bertindak
untuk meredakan suasana. “Baiklah, pertemuan kita akan dilanjutkan besok, ada
yang ingin disampaikan para Tetua Putih untuk Nona Galuh, silahkan kembali untuk
mencicipi hidangan yang telah disediakan,” ucap Gada Sangkara sopan. Setelah
itu ia membawa Galuh ke dalam ruang pertemuan yang di ikuti Adhit, Subhita dan para
Tetua Putih.
“Tunggu!” Teriak Sadya Agracarana sambil
memperlihatkan sebuah gambaran melalui energi yang ia keluarkan. Sebuah gambaran
tentang Kakek Addar yang terus menerus berkomunikasi dengan Gada Sangkara.
“Persekongkolan apa yang sedang
anda rencanakan bersama Gada Sangkara?” ucap Sadya Agracarana sambil memandang
Kakek Addar dengan senyum kemenangan.
“Itu gambaran Asli!” ucap salah
satu Tetua Putih dengan terkejut. Sontak hal tersebut membuat semua yang ada
disana mulai kisruh dan memandang Kakek Addar dengan tidak percaya.
Kakek Addar malah tersenyum, “kamu
pikir saya tidak tahu kamu sedang melakukan apa Sadya Agracarana?” Ucap Kakek
Addar yang membuat Sadya Agracarana memandang tidak mengerti.
Kakek Addar lalu mengeluarkan
sebuah gambaran melalui energinya. Yang ternyata berisi beberapa kegiatan Klan
Merah yang ia ambil dari lubang pengintip yang ada di lorong rahasia.
Rapat Rahasia Klan Merah, dari
mulai Sadya Agracarana yang tengah berencana menggulingkan nama baik Gada
Sangkara. Agar Maharaja Ranji Raspati bisa mereka kuasai, lalu mereka kendalikan
sesuka hati. Lalu Pembicaraan Rahadyan Sayuga dengan ketiga adiknya yang lain,
tentang segala kegiatan suap menyuapnya agar rencana adiknya, Sadya Agracarana terlaksana
dengan sangat mulus.
“Itu juga gambaran asli,” ucap
salah satu Tetua Putih dibarengi anggukan Tetua yang lain. Kini Sadya
Agracarana panik.
Saat Gada Sangkara memerintahkan
agar Rahadyan Sayuga dan Sadya Agracarana segera di tahan, Sadya Agracarana melawan.
Namun ditengah perlawanan, tiba-tiba mereka diserang energi dingin yang tidak
tertahankan.
“Dwasa Si Mahluk Asap!!!” Teriak
Galuh dan Adhit secara bersamaan.
Tiba-tiba Dwasa Si Mahluk asap
menyerang siapapun yang mendekati Sadya Agracarana dan Rahadyan Sayuga secara
membabi buta. Setelah Dwasa Si Mahluk asap berhenti menyerang, lalu kabur entah
kemana. Ternyata Sadya Agracarana dan Rahadyan Sayuga juga telah menghilang.
“Bagaimana bisa Dwasa tiba-tiba
muncul disini?” tanya Adhit heran. “Di tengah perlawanan, Sadya Agracara memanggil
seseorang menggunakan Burung Mahui,” jawab Kakek Addar yang membuat Adhit
semakin terkejut.
“Rupanya selama ini Rahadyan Sayuga
dan Sadya Agracarana bekerjasama dengan Kaum Hitam!” Ucap salah satu Tetua Putih
sambil mengepal dengan geram.
Setelah situasi dirasa aman, Gada
Sangkara meminta semua orang untuk kembali ke Aula agar lebih aman. Ketiga adik
dari Rahadyan Sayuga dibawa untuk di interogasi, termasuk Spathika dan Sundara.
Rusak sudah pencitraan Spathika yang cantik dan lembut mempesona, kini ia
berteriak-teriak seperti orang gila. Sundara sendiri yang baru sadar dari pingsannya,
kini kebingungan karena tiba-tiba tangannya diborgol paksa untuk di interogasi
di penjara bawah tanah.
Mendengar kabar bahwa keponakannya
masih hidup dan sudah ada di ruang pertemuan bersama Kakek Addar dan para Tetua
Putih, Ranji Raspati langsung berlari masuk kedalam ruang pertemuan. Ia sama
sekali lupa bahwa tadi saat meninggalkan ruangan, ia beralasan sakit kepala
hebat.
Ikatan batin antara paman dan
keponakan ini sangat kuat. Tanpa diberitahu, Ranji Raspati langsung mengenali
Galuh, Ia bahkan memeluk sambil menangis histeris. Ranji benar-benar bersyukur bahwa
keponakan kesayangannya ternyata masih hidup.
Namun raut wajah Ranji Raspati langsung
berubah ketika mendengar bahwa Galuh tidak akan tinggal di Istana.
“Galuh akan saya bawa kembali,
namun bukan untuk dilatih kembali. Tetapi ia akan mencari sisa pemilik elemen
dalam Kitab Candrakara, kitab hasil dari ramalan Guru Candrakara.” Perkataan
Kakek Addar membuat semua yang ada diruangan tersebut terhenyak luar biasa,
termasuk Adhit, bahkan Galuh sendiri!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar