Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 17 - Petualangan pun dimulai!| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Saat tengah malam tiba, Adhit yang pura–pura sudah tertidur, kini perlahan membuka matanya lalu bangun dengan amat sangat perlahan. Dengan hati-hati, ia memastikan bila teman-teman sekerjanya memang sudah sangat terlelap. Begitu merasa suasana telah aman, Adhit langsung mengendap, lalu keluar lewat jendela.
Diseberang sana, Galuh dan Subhita juga menanti kedatangan Adhit dengan tidak sabar. Tiba-tiba Subhita beranjak dan mematikan semua penerangan di dalam kamar. “Ini akan membuat kamar ini akan terabaikan dari perhatian, dan semua yang melewati kamar ini akan mengira kita sudah benar-benar terlelap,” bisik Subhita hati-hati.
“Aah.. betul juga!” ucap Galuh setuju, Ia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Subhita. Ia selalu memahami apa yang dibutuhkannya, bahkan sebelum Galuh menyadarinya.
Adhit akhirnya sampai, dengan wajah bengalnya, ia masuk melalui jendela yang sengaja sedikit dibuka. Namun, karena kedatangan Adhit yang agak lama, Subhita yang tadinya mau ikut kini malah tertidur duluan di kursi panjang.
“Sst.. Subhita jangan dibangunkan.. ia sudah terlalu lelah karena mengerjakan pekerjaan untuk dua orang sekaligus, kita masuk berdua saja,” bisik Galuh yang lalu segera diangguki oleh Adhit.
Setelah Galuh menyelimuti Subhita yang tertidur di kursi panjang, Adhit berbisik pada Galuh. “Ini peta istana yang berhasil saya bawa dari perpustakaan istana, jadi kita akan mulai dari mana?” tanya Adhit sambil membuka peta. Galuh yang senang, segera mempelajarinya dibawah sinar bulan temaram yang masuk melalui ventilasi jendela.
“Banyak sekali penambahan, namun dinding lama tetap tidak berubah. Kita bisa masuk dari sini!” bisik Galuh sambil menunjuk peta, setelah itu ia menunjuk pada salah satu dinding dengan yakin.
“Disini?” bisik Adhit sambil menyentuh dinding yang ditunjuk Galuh.
“Ya!” bisik Galuh sambil merunut beberapa tembok tebal dari peta yang Adhit bawa. “Lihat, semua tembok tebal ini sebenarnya adalah kamuflase dari lorong rahasia. Dan semua lorong ini, mempunyai pintu ke seluruh bagian istana. Temasuk kamar ayah, bahkan menuju semua kamar pelayan dan toilet!” bisik Galuh lagi sambil menunjuk beberapa titik dalam peta. Adhit segera mencari tombol rahasia yang selalu ada dalam film–film yang pernah ia tonton, tetapi nihil.
“Bukan seperti itu Dhit, lihatlah!” bisik Galuh, lalu menggeser salah satu ukiran yang menempel pada dinding. Dan Voila! dindingpun terbuka! Adhit yang terkesima langsung berbisik, “Ah.. Nona cantik ini selalu dipenuhi kejutan manis.. “ Sontak Galuh langsung menoleh galak. “Oke, dan petualangan pun.. dimulai!” bisik Adhit lagi sambil lari duluan ke dalam lorong untuk menghidari cubitan Galuh.
“Ayo mulaaaiii… duluan ya nona maniiis….. hahahahaha….” ledek para Ajag yang lalu tertawa sangat keras dalam pikiran Galuh. “Kalian memang sama berandalnya,” pikir Galuh sambil menggelengkan kepala. Sekalipun Adhit hanya mengucap singkat, namun menyematkan getaran hangat yang menelusuk semakin dalam pada hati Galuh.
Adhit sempat tertahan, karena aroma lembab jamur dinding yang menyeruak dari arah dalam. Semakin ia berjalan ke dalam, aroma lembab ini terasa semakin mengganggu. Namun karena Galuh sudah berjalan mendahului, maka mau tidak mau Adhit ikut masuk sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan miliknya.
Didalam Galuh menyalakan sebuah pematik kecil dengan api yang berwarna kebiruan. Sekalipun warnanya biru samar, namun mempunyai efek bisa melihat hingga lima meter kedepan. Galuh menaikan pematiknya agar bisa melihat lebih baik. Ia lega saat melihat lorong tersebut masih dipenuhi sarang laba-laba yang belum rusak sama sekali.
“Kamu lihat semua sarang laba-laba ini? mereka tidak rusak sama sekali, berarti selama kepergian saya, lorong ini belum dimasuki lagi oleh siapapun.” bisik Galuh pada Adhit dengan lega.
Namun saat menoleh, Galuh terkejut melihat Adhit ternyata menutup hidungnya dengan sehelai sapu tangan. “Dhit! kamu punya kalung batu sari bunga binulus kan? Cepat dipakai!” ucap Galuh kaget. Adhit baru ingat, dari lima set botol kristal yang pernah dibelikan Tuan Monyet Rahyata, salah satunya memang ada sari bunga binulus!
“Ah iya!.. ini?” bisik Adhit sambil memperlihatkan sebuah botol berisi cairan hijau kebiruan tersebut. “Itu versi cair, agak merepotkan! Aah.. Tuan Rahyata pasti lupa,“ bisik Galuh sambil menggelengkan kepala. Setelah meronggoh tas kecilnya, akhirnya Galuh menemukan yang ia cari.
Dengan sigap, Galuh memakaikan kalung batu tersebut pada Adhit yang sudah kewalahan bernapas. Namun, karena jarak mereka begitu dekat, Adhit malah tertegun menatap wajah serius Galuh. Sepasang alis elangnya, lekuk hidungnya, terutama bibirnya yang ranum kemerahan, membuat jantung Adhit kini berdegup kacau, karena berjuang menahan diri agar tidak mengecupnya.
“Apa!” bisik Galuh galak
“Ini sari bunga binulus? apa seperti batu menthol yang terdapat pada inhaler?“ tanya Adhit mengalihkan pembicaraan. “Hampir mirip. Ini masih baru, jadi mungkin cukup untuk pemakaian selama setahun,” bisik Galuh sambil beralih untuk mengintip beberapa lubang pada dinding. Sekalipun bersikap dingin, sebenarnya hati Galuh juga tidak karuan mendapat tatapan dalam dari Adhit.
Saat Adhit hendak berbisik, “Shht..” bisik Galuh tiba-tiba. Galuh menemukan pemandangan yang cukup menarik dari balik celah rahasia. Para petinggi Bangsawan Klan Merah tengah berkumpul! mereka berbicara dengan nada yang terdengar jelas karena posisi meja mereka sangat dekat dengan dinding.
Galuh dan Adhit melihat dari lubang rahasia secara bergantian, setelah itu mereka saling memandang. “Ini bagus sekali!” bisik Adhit senang, “Ssst..” bisik Galuh agar Adhit tetap berkonsentrasi mendengarkan.
“Maharaja Ranji Raspati harus bisa kita kendalikan, kita tidak mungkin membiarkan para bangsawan lain melampaui nama besar Klan kita!” ucap salah satu dari mereka sambil memutar-mutar cangkirnya dengan gusar, lalu meminumnya dengan kasar.
“Jangan lupa juga untuk tetap hati–hati dengan sekeliling Panglima Besar Baharyu! mungkin kita berhasil meracuninya hingga ia koma. Tetapi putra tunggalnya, Gada Sangkara, sekilas ia terlihat ramah dan menyenangkan, namun ternyata ia benar–benar melaksanakan semua pemikiran ayahnya!“ ucap salah seorang lain dari mereka dengan menahan marah.
“Gada Sangkara!” ucap Rahadyan Sayuga sambil meremas tangan dengan keras. ”Ia membuat Maharaja Ranji Raspati sama sekali tidak bisa kita sentuh, kecerdasannya malah lebih berbahaya dari ayahnya sendiri.” ucap Rahadyan lagi dengan kesal.
“Rahadyan, nikahkan saja putrimu dengan Gada Sangkara! siapa yang bisa menolak kecantikan Spathika. Lalu jadikan putrimu sebagai mata–mata disana. Setelah itu, sedikit demi sedikit, kita pengaruhi dia dengan pemikiran-pemikiran kita! Lalu setelahnya, kita kendalikan Astamaya!” Ucap salah seorang dari mereka dengan pandangan licik, yang lalu diikuti pandangan berbinar dari semua yang terlihat dari balik lubang rahasia tersebut.
Spathika menoleh senang, “iya, benar Ayah.. saya rela karena dia sangat gagah dan tampan! Semua wanita akan iri bila melihat saya berhasil mendapatkan Gada Sangkara.. ” ucap Spathika sambil memilin–milin rambutnya dengan genit. Lalu mematut diri didepan cermin sebagai pengukuhan dirinya yang luar biasa.
“Hhh.. Spathika? yang dia tahu hanya cara bersolek didepan cermin! Selebihnya, NOL BESAR!” dengus Rahadyan Sayuga kesal. “Tapi Ayah.. ” Spathika tidak meneruskan karena Rahadyan kini memandangnya dengan galak.
“Saya pernah memberikan tugas kecil untuk Spathika. Bayangkan! hanya merayu dan memberikan minuman pada Gada Sangkara, hanya itu! Minumannya malah tertukar dengan minumannya sendiri, lalu seharian Spathika tidak berhenti buang air besar! ucap Rahadyan dengan nada hampir berteriak.
Spathika hanya bisa merengut saat adiknya Sundara mengikik dengan sangat puas. “Bagaimana dengan saya ayah.., Sundara sang mawar jelita dari Klan Merah. Saya memang belum bisa meraih perhatian Gada Sangkara seratus persen, namun kami beberapa kali terlibat pembicaraan cukup akrab,” ucap adik dari Spathika dengan pose sangat percaya diri.
Spathika memandang Sundara dengan jijik, “pembicaraan akrab? yang isinya hanya halo, bagaimana kabarmu, lalu di jawab Gada dengan kalimat ramah basa basi, setelah itu dia segera berlalu.. hahaha.. khayalanmu sangat luar biasa Sundara!” ucap Spathika dengan pandangan mengejek.
“Kau!” Sundara geram lalu menjambak rambut Spathika, setelah itu mereka saling menarik rambut hingga membuat ayahnya marah sampai berdiri.
“Cukup!” Rahadyan kini terlihat sangat marah. “Hhh.. “ setelah itu Rahadyan duduk kembali sambil menghela napas dengan sangat dalam, ia lalu memegangi dahinya yang kini terasa berdenyut.
“Sadya.. lalu bagaimana dengan rencanamu tentang Gada Sangkara?” tanya Rahadyan sambil mencoba mengembalikan kesabarannya. Galuh terkejut saat mengenali pria perlente yang dipanggil Sadya oleh Rahadyan Sayuga. “Sadya Agracarana, pria licik itu ternyata masih hidup dengan enak!” bisik Galuh kesal.
Pria yang dipanggil Sadya oleh Rahadyan Sayuga segera berpikir sejenak. ”Berikan saya waktu satu hari, Gada Sangkara ternyata lebih cerdas dari yang kita perkirakan, kita tidak bisa bertindak gegabah.” Ucap Sadya Agracarana yang lalu segera berbalik keluar ruangan.
Rahadyan yang frustasi karena belum menemukan solusi tepat akan Gada Sangkara, tiba-tiba saja ia menggebrak meja hingga membuat semua orang terkejut. Lalu membanting barang secara membabi buta.
Tak lama seorang wanita seusia Rahadyan Sayuga muncul dari balik pintu, “sayaang, ada apa?” ucap wanita tersebut mendekat. setelah memberikan kode agar semua orang meninggalkan ruangan, dengan segera ia memberikan ramuan penenang untuk Rahadyan.
“Nyonya Sayuga, wanita bangsawan terangkuh yang pernah saya temui,” bisik Galuh ketus. Setelah itu, Galuh memberi Isyarat pada Adhit untuk beranjak dulu dari sana. Setelah agak jauh, baru ia mulai menerangkan siapa saja yang barusan mereka lihat dari balik lubang rahasia.
“Jadi, tadi itu ternyata Sadya Agracarana dan Rahadyan Sayuga yang pernah kamu peringatkan?” ucap Adhit sambil mengikuti Galuh dari belakang. “ Ya.. kamu pernah bertemu dengan mereka?” tanya Galuh heran karena Adhit tampak sangat mengenali mereka. “Baru kemarin mereka memesan beberapa buku, dan sepertinya mereka suka dengan beberapa refrensi yang saya bawakan,” ucap Adhit yakin.
“Jangan terlihat terlalu pintar dihadapan mereka, terutama Sadya Agracarana. Sebagai anak Kaum Rangeh yang mereka bilang terkenal cerdas, saya khawatir kamu malah dijebak untuk menjadi bagian dari mereka Dhit.” Ucap Galuh khawatir.
“Sadya Agracarana itu ular! sekali kamu masuk dalam lingkup dunia mereka, bila kamu diketahui membelot, maka seumur hidupmu tidak akan pernah baik-baik saja.” bisik Galuh mengingatkan. “Baiklah, saya akan lebih berhati–hati,” ucap Adhit mengerti.
Saat berbicara, Galuh terkejut saat melihat sarang laba-laba di lorong belakang Adhit ternyata sebagian telah rusak. Namun yang lebih membuat terkejut, sebuah kelebatan tiba-tiba muncul dari belakang Adhit.
“Aah.. ternyata benar, ini memang adalah anda berdua!” bisik seseorang dari belakang Adhit.
“Jinn? Jiin!!!... Bagaimana.. bagaimana bisa kamu ada disini!” Teriak Galuh dalam bisik, namun setelah itu Galuh kehilangan kata-kata.
“Jinn?” ucap Adhit heran sambil berbalik, “Astagaa Jinn!.. kamu selamat! Bagaimana keadaan Kakek Addar dan Kaum Luhur?” teriak Adhit dalam bisik juga, ia hampir tidak percaya bisa bertemu Jinn Si Kelinci di tempat ini.
“Kami baik-baik saja..” sebuah suara sontak membuat Galuh dan Adhit menoleh dan hampir berteriak histeris. “Kakek.. Kakek selamat!” bisik Galuh dengan hampir menangis, yang setelah itu ia segera menghampiri dan memeluk Kakek Addar dengan erat.
“Tidak usah berbisik, tempat ini diselubungi segel khusus sehingga tidak ada seorangpun yang mampu mengendus keberadaan kita,”ucap Kakek Addar sambil terkekeh. Mengingat dari usaha keras mereka saat saling berbisik tadi, Galuh dan Adhit refleks tergelak sambil saling memandang.
“Ikutlah dengan kami,“ ajak Kakek Addar untuk menuruni tangga kebawah tanah, dibawah lorong rahasia.
Galuh terkejut, seingat dia, di lorong ia tidak pernah menemukan ada tangga menuju bawah sama sekali. Bahkan dalam pembicaraan ayahnya dan Paman Ranji Raspati yang ia curi dengar, mereka tidak pernah membahas tentang tangga bawah tanah di dalam lorong rahasia ini.
“Tunggu!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka semua.
“Subhita!” ucap Galuh dan Adhit terkejut. Ternyata Subhita menyusul mereka sambil menggunakan sapu tangan yang amat tebal, sekalipun begitu, Subhita tetap terbatuk-batuk karena udara yang begitu bau dan lembab.
Lalu dengan sigap, Galuh berlari untuk segera mengalungkan kalung batu binulus miliknya yang sudah ia belah dua. Sehingga begitu Subhita sudah bisa bernapas lega, batu yang sebelah lagi, Galuh kantungi agar efek pembersih udaranya tetap ada didekatnya.
“Bagaimana bisa kalian pergi tanpa saya? Sedangkan Nona Galuh masih ada dalam tanggung jawab saya, “ ucap Subhita hampir menangis. “Maafkan kami, melihatmu yang tertidur kelelahan, kami tidak tega untuk membangunkan kamu,” jawab Galuh merasa bersalah.
Setelah itu, Subhita malah terkejut ketika menyadari bukan hanya Galuh dan Adhit saja disini. “Kaum Luhur?.. Kaum Luhur!..ternyata benar! kalian memang benar-benar ada!” ucap Subhita hampir berteriak tidak percaya. Ia bahkan menyentuh telinga dan menarik pipi Jinn Si Kelinci untuk memastikan bahwa Kaum Luhur dihadapannya benar-benar nyata, sontak hal tersebut membuat semuanya langsung tergelak.
Begitu melihat ada Kakek Addar juga, ia semakin heran. “Ada apa ini? mengapa kalian semua berkumpul ditempat seperti ini?” tanyanya heran.
“Ikutlah dengan kami, nanti akan saya terangkan keseluruhannya.” jawab Kakek Addar yang lalu mengajak mereka bertiga untuk ikut bersamanya.
Saat Galuh, Adhit dan Subhita menuruni tangga dibawah lorong rahasia, lalu dibawa turun oleh lift khusus yang terbuat dari kaca. Sepanjang perjalanan mereka menuju bawah, mereka bertiga berteriak karena disuguhi pemandangan yang membuat mereka terperangah sangat luar biasa.
“Ada sebuah kota yang berjalan hidup di bawah Istana Kerajaan Astamaya? Ini sangat menakjubkaaan!” seru Subhita dengan nada yang hampir berteriak. Galuh dan Adhit sendiri tercengang memandang kota bawah tanah tersebut.
“Ini lebih hebat dari kota bawah tanah sebelumnya! Apa yang terjadi Kek?” tanya Adhit dengan sangat takjub.
“Saat Gua diserang oleh para pohon pemakan daging yang menggila, karena tidak ada persiapan apapun, maka kami langsung menyelamatkan diri masuk ke dalam Gua perlindungan. Namun setelah itu, kejutan pun datang..” Lalu Kakek Addar mengeluarkan energinya untuk memperlihatkan sebuah gambaran visual yang terjadi saat itu.
Galuh, Adhit dan Subhita kini melihat gambaran berupa Kaum Luhur yang sedang berbondong-bondong masuk ke dalam Gua Perlindungan. Setelah pintu Gua perlindungan sudah tertutup dan aman, saat itu pula, dinding dibelakang para Kaum Luhur terbuka, lalu terlihatlah beberapa kereta beserta gerbong-gerbongnya dengan ukuran yang amat sangat besar.
“Sesuai arahan petunjuk Guru Candrakara yang sepertinya telah lama tertera disana, kami langsung menaikinya. Lalu kereta tersebut membawa kami menuju kota bawah tanah ini yang ternyata lebih hebat dari sebelumnya,” ucap Kakek Addar sambil merentangkan tangan pada kehebatan kota bawah tanah saat ini.
Mereka bertiga terpana, karena setelah beberapa kereta besar ini melaju, tanah dibelakang jejak rel tiba-tiba menggembur, seakan menelan setiap tanda kepergian dari beberapa kereta besar tersebut.
“Persis seperti ketika Pulau Bagjarupa diserang dulu” ucap Adhit penuh antusias. “Jejak terakhir Kaum Luhur yang meninggalkan pulau juga dihilangkan seperti ini, sehingga Kaum Hitam tidak dapat menelusuri kemana arah perginya Kaum Luhur saat itu.” Ucapan Adhit membuat Kakek Addar tersenyum senang. “Anak ini benar-benar menyimaknya saat itu” pikir Kakek Addar dengan bangga.
“Mengapa begitu sampai Kakek tidak langsung memberi kabar? Bukankah saya dan Adhit tinggal di atas kalian?” tanya Galuh yang hampir menangis lagi.
“Saya justru baru tahu bahwa kota bawah tanah ternyata terletak dibawah istana, tepat ketika Jinn menemukan kami,” ucapan Kakek Addar membuat Galuh dan Adhit terkejut.
“Ketika saya ditunjuk untuk mengantarkan anda berdua ke istana bila terjadi sesuatu, saya dibekali ini oleh Tuan Addar.” Ucap Jinn Si Kelinci sambil memperlihatkan kalung batu dengan semburat keemasan yang indah.
“Apa ini?” tanya Adhit heran.
“Ini adalah batu tunggal, bebatuan langka yang katanya berasal pembentukan wilayah Astamaya saat pertama kali terbentuk. Apabila batu ini sampai terbelah, maka mereka akan saling memberikan sinyal untuk menemukan satu sama lain.” jawab Galuh sambil memandang batu tersebut dengan takjub. “Saya pikir ini hanya legenda, ternyata batu ini memang benar-benar ada!” jawab Galuh sambil memandang batu tersebut dengan takjub.
“Benar, ini adalah batuan yang benar-benar langka, dan Ini adalah milik Guru Candrakara yang diturunkan dengan amanat secara turun temurun.” Ucapan Kakek Addar membuat Adhit semakin terkejut. “Ini juga bagian dari rencananya? Ini benar-benar gila!” Kakek Addar spontan terkekeh saat mendengar ucapan Adhit.
“Setelah Jinn menemukan kami dan memberi kabar bahwa kalian baik-baik saja, saya langsung kembali konsentrasi untuk memastikan dulu seluruh kebutuhan Kaum Luhur tercukupi, karena hanya saya yang bisa membuka berbagai segel buatan Guru Candrakara.” Jelas Kakek Addar sambil mengeluarkan gambaran menggunakan energinya. Terlihatlah gambaran visual tentang bagaimana semua fasilitas di kota bawah tanah ini dibuka oleh sentuhan telapak tangannya saja.
“Baru setelah itu, saya naik ke atas, yang ternyata malah bertemu dengan kalian dilorong rahasia. ” Ucapan Kakek Addar akhirnya membuat Galuh mengerti. Sedangkan Adhit, ia tidak henti-hentinya berdecak tidak percaya, baginya, pemikiran Guru Candrakara benar-benar diluar batas nalar.
Lalu dengan menggunakan kendaraan terbang, mereka dibawa Kakek Addar dan Jinn Si Kelinci untuk berkeliling kota bawah tanah yang baru. Jangankan Galuh, Adhit dan Subhita, para Ajagpun berdecak dengan sangat tidak percaya.
Tiba-tiba Adhit mendengar suara yang amat sangat tipis, “Dasar si gila Candrakara.. hehehe…” kekehan tipis tersebut membuat Adhit terkejut, mengapa NaRaja berkata seakan-akan ia sangat mengenal Guru Candrakara?
Setelah itu, merekapun bertemu dengan Tuan Monyet Rahyata dan Para Sesepuh Kaum Luhur. Semua menyambut mereka dengan sukacita. Terutama Tuan Monyet Rahyata, ia bersikeras untuk menggantikan Jinn Si Kelinci dalam membawa kendaraan terbang, lalu membawa mereka untuk memamerkan Gedung Balai Pengetahuannya yang baru. Adhit begitu terperangah karena Gedung barunya kini lebih besar dan lebih canggih.
“Apa yang terjadi dengan penemuan-penemuan yang ada di Gedung Balai Pengetahuan lama? Apakah tidak berbahaya bila Kaum Hitam menemukannya?” tanya Adhit dengan sangat penasaran.
“Semula saya kira seperti itu. Namun, saat kami sampai di kota bawah tanah yang baru, saat itu pula muncul sebuah rekaman tentang keadaan terakhir saat pintu Gua perlindungan tertutup. Semua ruangan menghancurkan diri sendiri hingga hilang tidak tersisa. Terutama Gedung Balai Pengetahuann lama, tidak ada satupun hasil peninggalan kami yang tersisa.” Ucap Tuan Monyet Rahyata dengan begitu lega.
“Namun anda tahu apa yang paling menakjubkan? Ternyata.. selama ini semua penemuan kami direkam oleh Gedung Balai Pengetahuan disini, sehingga saat kami membuka Gedung ini, kami tinggal meneruskan semua hasil riset kami!” ucap Tuan Monyet Rahyata dengan sangat berapi-api.
Adhit semakin berdecak tidak percaya, “Guru Candrakara benar-benar jenius gila!” ucapnya refleks. “Benar! ia memang seorang jenius yang gila! Bahkan sangat gila!” jawab Tuan Monyet Rahyata dengan nada sama takjubnya.
Setelah puas berkeliling, mereka kembali pulang dan keluar dari pintu rahasia di kamar Subhita. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah mereka alami hari itu, bahkan Subhita tidak bisa berhenti berdecak sekalipun mereka sudah kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya saat Galuh terbangun, Ia terkejut karena langit sudah hampir pagi. namun yang lebih membuat terkejut adalah, meja disamping tempat tidurnya dipenuhi dengan satu kantung roti panggang dengan varian isian super menggiurkan, dua botol susu segar, dan satu buket bunga yang benar-benar cantik.
“Ini dari siapa?” Tanya Galuh dengan sangat terkejut!
- Bersambung - Desya Saghir -- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar