Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 19 – Awal Kericuhan | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nona Naya?” ucap Gada sangkara setelah dekat, suara beratnya yang lembut, membuat Galuh tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan Subhita, ia semakin mengipas-ngipas wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.
Galuh sedikit
terkejut saat mendapati Gada Sangkara dari dekat. Ia baru menyadari bila Gada
Sangkara memiliki otot liat dan juga kekar. Ditambah Gada yang sengaja
membungkukan punggungnya agar bisa melihat wajah Galuh dari dekat, membuat ia
semakin semakin panik karena takut indetitasnya diketahui. Karena Gada ketika
kecil, mungkin ia anak penakut dan cengeng, tetapi Galuh kecil selalu
dikejutkan oleh segala kecerdasannya.
Subhita sendiri,
karena mengipasi wajahnya dengan semakin keras, begitu Gada menoleh pada
Subhita dan tersenyum, tiba-tiba kipas yang sedang dipakai Subhita terpental
karena di kipas terlalu kuat.
Perhatian Gada
Sangkara terhadap dua pelayan ini, membuat sebagian besar para Nona Bangsawan
mengernyitkan wajah tidak suka, terutama Spathika dan Sundara. Spathika merasa sangat
terhina, karena pada saat berusaha menyapa, Gada Sangkara malah memanggil nama
seorang wanita dengan sebuah profesi yang ia anggap sangat tidak berharga.
“Jadi pelayan
itu bernama Naya? Lihat saja nanti!” gerutu Spathika sambil menahan malu luar
biasa.
“Kelihatannya
anda sangat menyukai karya–karya milik Hyang Senirani?“ ucap Gada Sangkara
senang. Galuh yang masih bingung, ia mencoba mencerna apa maksud perkataan Gada
Sangkara. Namun setelah itu Galuh baru menyadari, bahwa ternyata terdapat banyak
sekali lukisan buatan Hyang Senirani tepat dimana ia berdiri.
“Lain kali saat
anda tidak sibuk, anda mau membahas beberapa lukisan dengan saya?” pinta Gada
Sangkara sopan. “Ah iya Tuan,” ucap Galuh singkat sambil mencoba menghindar. Namun
Gada malah menghalangi dan membuka pembicaraan.
“Saya mulai kelelahan dengan segala permasalahan
politik, berbicara tentang seni sangat membantu saya lepas dari stress walau
sebentar, anda bisa membantu saya kan?” pinta Gada lagi yang kali ini dengan
nada memelas, Galuh semakin bingung bersikap.
“Tentu Tuan,
Naya tahu banyak tentang lukisan terbaik,” jawab Subhita karena Galuh terlihat
begitu panik, walau sebenarnya, Subhita juga sama paniknya.
Sebagian dari Nona
Bangsawan menatap Galuh dan Subhita semakin sebal. Galuh yang tadinya akan
menolak, kini malah jadi tidak tega. Sekalipun Gada sangkara tidak
mengenalinya, tetapi ia mengenali siapa pria yang ada dihadapannya ini.
Gada Sangkara kecil
adalah anak lemah, kurus dan cengeng. Anak yang sering dikerjai anak–anak Bangsawan
lain sehingga Galuh harus sering turun tangan. Bahkan tak jarang, Gada kecil selalu
bersembunyi dibelakang bahunya saat mulai hendak dikerjai. Maka karena hal
tersebutlah, Galuh mulai menanggapi Gada Sangkara.
Spathika yang
saat itu merasa kehilangan muka karena diabaikan Gada Sangkara, ia nekat melangkah
angkuh, lalu menyusup masuk kedalam pembicaraan antara Gada Sangkara dan Galuh.
Sayangnya, Spathika tidak memahami yang sedang dibicarakan Gada Sangkara dan
Galuh, bahkan ketika diberi ruang berbicara oleh Gada Sangkara, Spathika seketika
jadi seperti keledai bisu. Hingga akhirnya karena malu, ia menyingkir dengan
raut yang amat sangat sebal.
Sedangkan adiknya,
Sundara, yang ikut-ikutan juga masuk kedalam pembicaraan, akhirnya lebih tampak
seperti kambing bodoh yang tidak tahu kemana arah kalimatnya. Ucapan apapun
yang keluar dari mulutnya, malah memancing Bangsawan lain yang kebetulan ada di
dekat mereka. Hingga akhirnya, ia mengikuti Spathika kakaknya sambil menggerutu
sebal.
Subhita begitu
puas melihat kedua kakak beradik pongah ini kini benar-benar tidak berkutik. Namun
ternyata bukan hanya Subhita, beberapa para pelayan wanita yang pernah
diteriaki bahkan dikasari oleh dua kakak beradik ini, mereka kini tersenyum dengan
begitu sangat puas.
“Nanti setelah
jamuan ini selesai, kita hadiahi anak baru itu dengan banyak makanan enak,”
bisik salah satu pelayan, yang langsung diangguki oleh pelayan lainnya, karena
sakit hati mereka terhadap Spathika dan Sundara akhirnya terbalaskan.
Ditengah
keramaian, Adhit mencari Galuh. Namun ketika menemukan Galuh sedang berbicara serius
dengan Gada Sangkara, ia perlahan mundur. Adhit tahu, dengan membiarkan Galuh
berbicara dengan Gada Sangkara, Galuh justru akan mendapatkan tambahan
informasi yang bahkan mungkin lebih berharga dari yang Adhit punya.
Namun ketika
menoleh pada mereka berdua lagi, saat Galuh dan Gada Sangkara terlihat begitu dekat,
rasanya ada segumpal api cemburu yang perlahan menyala dalam dadanya. Namun tiba–tiba,
Adhit dikejutkan serombongan besar yang datang tergopoh.
“Maaf atas
keterlambatannya, kami sudah mencoba datang secepat mungkin, namun kami
bermasalah dengan gerbang masuk. Ada yang mencoba menghambat kedatangan kami
dengan merusak segel gerbang.” Ucap salah seorang dari mereka yang sepertinya Delegasi
yang ditempatkan di dunia Manusia.
Wajah blasteran
Rusianya yang keras benar–benar kontras dengan wajah asia Gada Sangkara yang
maskulin tetapi hangat. Galuh dan Adhit memandangi mereka satu persatu. Benar seperti
yang diceritakan Subhita, sebagian besar dari mereka yang datang rata-rata mempunyai
wajah blasteran dari berbagai Negara.
Para Delegasi
menggunakan pakaian layaknya Manusia biasa. Namun yang membedakan, saat mereka menggunakan
energinya untuk melayangkan jaketnya pada pelayan terdekat, jelas–jelas mereka
bukan Manusia biasa.
Delegasi yang
berbicara tadi, wajahnya mulai mengeras saat beberapa Bangsawan mulai mendekat.
Jelas sekali ia tidak menyukai kalangan Bangsawan.
“Apakah Maharaja
Ranji Raspati telah ada di ruang pertemuan?” Tanya Delegasi tersebut cepat, terlihat
sekali ia menghindari terlibat pembicaraan dengan para Bangsawan. “Maharaja
Ranji Raspati telah menunggu di ruangan pertemuan, silahkan anda semua ikut
dengan saya.” Jawab Gada Sangkara sopan, namun berkharisma kuat.
“Pembicaraaan
ini masih bersambung, jangan lupakan topik kita barusan.” bisik Gada Sangkara
lembut pada Galuh, yang lalu memimpin para Delegasi menuju ruang dimana Maharaja
Ranji Raspati berada. Sekalipun sopan, Gada Sangkara benar-benar begitu gagah
dan berwibawa saat memandu para Delegasi untuk mengikutinya. Benar-benar
berbanding terbalik saat berbicara dengan Galuh, nada suara Gada begitu lembut
dan merangkul.
“Katanya
pembicaraan ini masih tersambung? Berarti kita masih bisa bertemu dengan Tuan
Gada Sangkara? Aaaah…” bisik Subhita pada Galuh sambil berteriak genit, membuat
Galuh tersenyum seketika.
Setelah para Delegasi
masuk ke dalam ruangan beserta para Tokoh Bangsawan yang berpengaruh dalam
politik kerajaan, Adhit mulai bertanya-tanya.
“Apa benar ini hanya
sekedar pesta perjamuan?” pikir Adhit heran, lalu ia memberi kode dari jauh
pada Galuh. Galuh yang mengerti langsung berimprovisasi.
“Tuan, perut
saya mulas sekali, sepertinya sarapan tadi pagi belum cocok di perut saya, saya
hanyalah anak desa biasa..” ucap Galuh pada kepala pelayan sambil memegangi
perutnya, lalu setelahnya, ia mengedip pada Subhita. Subhita yang sebenarnya
masih bingung, karena melihat kedipan Galuh, ia langsung berakting seolah-olah
sangat khawatir luar biasa.
Sebelum kepala
pelayan tersebut membuka mulutnya, dengan cepat Adhit mendekat, “astagaa.. kamu
makan terlalu banyak lagi?” sambil dengan cepat merangkul Galuh.
“Maaf Tuan,
sejak pagi dia sudah saya peringatkan. Sepertinya ia tidak mendengarkan, saya
akan membawanya untuk di obati,” ucap Adhit sopan. Setelah diijinkan, mereka segera
menyelinap menuju kamar Subhita, lalu masuk ke dalam lorong tadi malam.
Dari balik
lubang dinding, Galuh dan Adhit melihat para Delegasi duduk mengelilingi meja
setengah bundar yang luar biasa besar. Sedangkan
para Tokoh Bangsawan, ada di meja lingkaran kedua, dibelakang para Delegasi. Tak
lama masuklah para Tetua Putih yang mengisi bagian meja yang setengah lingkaran
lagi, termasuk Kakek Addar, Ia duduk di kursi jejeran paling depan.
Lalu tepat
ditengah lingkaran meja tersebut, Galuh melihat pamannya, Ranji Raspati, duduk
dikursinya sambil meremas secarik kertas dengan raut wajah lelah yang begitu
resah.
“Bagaimana
bisa! “ucap Ranji Raspati mulai meninggi, intonasi tersebut membuat para Delegasi
sedikit terhenyak. “Tuan Maharaja, kami mulai sangat kerepotan! Kaum Hitam sekarang
mulai gencar dalam mempengaruhi anak–anak muda di dunia Manusia, mereka direkrut
hanya untuk dijadikan umpan dalam mengacaukan tugas kami semua! “Ucap salah
satu Delegasi dengan rahang yang mengeras.
Lalu Delegasi
tersebut mengeluarkan energinya untuk memberikan sebuah gambaran visual. Benar
yang dikatakan Delegasi tersebut, semua sangat kacau balau. Para Delegasi dan
bawahannya dibuat tidak berkutik, karena Kaum Hitam menggunakan Manusia yang
telah mereka kuasai sebagai tameng mereka.
Ranji Raspati
menatap gambaran tersebut dengan pandangan marah yang tertahan. “Tuan Maharaja,
salah satu cara yang berhasil kami ketahui adalah; selagi mereka memasangkan
tattoo, mereka juga menyisipkan Ruh hitam untuk mengalir dalam aliran darah
mereka.” tambah Delegasi lain yang juga membenarkan.
Sebuah gambaran
yang membuat semua orang yang ada disana terhenyak. Saat seniman tatoo tersebut
tengah membuat gambar, secara bersamaan ia juga menyisipkan energi halus.
Energi tersebut perlahan meresap, menyatu dengan darah, dan mengendap dibawah
lapisan kesadaran pemilik tatoo tersebut.
“Kini para Manusia
tidak bisa kami selamatkan seperti biasanya lagi. Para Ruh hitam yang telah
tertanam dalam aliran darah mereka menjadi sulit untuk dilacak, para Mudria ini
tersegel hingga batas waktu yang telah ditentukan Kaum Hitam, “ucap salah satu Delegasi
lain lagi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan keras.
“Apa itu
sejenis Mudria yang dulu ditanam di lengan saya?” bisik Adhit pada Galuh. “Bisa
jadi sama, namun sepertinya telah dikembangkan lebih kompleks, sehingga kini para
Kaum Putih tidak bisa mendeteksinya lebih cepat,” bisik Galuh mengiyakan.
Ranji Raspati
menggeser punggungnya dengan gelisah, raut wajahnya semakin mengeras. Isi
kepalanya kembali pada beberapa tahun silam, saat Maharaja Mahesa Agung, Mendiang
Kakaknya yang masih menjabat sebagai Raja.
Saat itu
hidupnya begitu sangat tenang. Ia juga masih menikmati dirinya menjadi penulis,
lalu berkelana mencari inspirasi disemua pelosok tempat–tempat baru, termasuk
dunia Manusia.
“Tuan..” ucap
salah seorang Delegasi berusaha menyadarkannya seramah mungkin. Ini sudah
kesekian kalinya sang Maharaja menerawang entah kemana. Sontak hal tersebut membuat
pada Delegasi dan sebagian Tetua Putih gelisah.
Galuh menatap
pamannya dengan sedih, ia mengetahui betul bahwa pamannya tidak pernah
menginginkan posisi ini.
Namun, bila pamannya
nekat melepaskan tahta, dalam keadaaan Paman Baharyu yang masih dalam keadaan
koma, sedangkan Gada Sangkara masih terlalu muda untuk mempunyai pengaruh di Astamaya,
maka Istana akan dikendalikan sepenuhnya oleh Klan Merah.
Rahadyan Sayuga
dengan pengaruh politiknya yang tidak main-main. Ditambah adiknya, otak dari
Klan Merah, Sadya Agracarana, yang bukan hanya sangat cerdas, tetapi juga manipulatif
sekaligus licik! belum lagi beberapa adik lain dari Rahadyan sayuga yang sudah
mempunyai cakar di beberapa wilayah, akan membuat keberadaan Kaum Putih
benar-benar sangat berbahaya.
Ranji Raspati
masih tetap terdiam, ini membuat para Delegasi semakin gelisah. Galuh tidak
mengerti mengapa Kakek Addar tampak menahan diri untuk tidak ikut campur,
padahal Pamannya sedang dalam keadaan yang sangat terjepit.
Namun Gada
Sangkara segera menengahi, “Tuan? Apakah Tuan Maharaja sakit kepala lagi?” Lalu
Maharaja Ranji Raspati mengangguk pelan. “Sudah sejak lama Tuan Maharaja
menderita sakit kepala agak parah, sedangkan para tabib belum menemukan
sebabnya.” Ucap Gada mendinginkan suasana, ia benar–benar mengerti dengan
situasi yang terjadi. Sang Maharaja kini tengah kebingungan.
“Perihal ini saya
berikan pada Gada Sangkara, sakitnya benar–benar sangat tidak tertahankan.” Dalih
Ranji Raspati sambil beranjak minta dibantu beberapa pelayan menuju kamar
tidurnya. Setelah itu Gada Sangkara segera mengambil alih situasi.
Galuh dan Adhit
terkesima dengan kecerdasan Gada Sangkara dalam mengatasi situasi, ia bahkan
sekarang telah mengambil hati para Delegasi. Kemampuan diplomasi Gada Sangkara
yang luar biasa, menjadikan raut gelisah para Delegasi kini mulai sedikit
membaik.
Namun, para
pemimpin Klan Bangsawan licik merasa kecewa karena tidak dapat mengambil
keuntungan dari ini, terutama pemimpin Klan Merah, Rahadyan sayuga. Ditambah
Sadya Agracarana tidak dapat ikut karena sesuatu hal, membuat Rahadyan Sayuga saat
itu benar–benar mati kutu.
Kini Galuh
mengerti mengapa Kakek Addar tidak berbuat apapun, rupanya ia sedang membuat Gada
Sangkara jadi mempunyai pengaruh politik yang kuat seperti ayahnya.
Setelah itu
Galuh memperhatikan Gada Sangkara yang telah menjadi pribadi berbeda. Benar
seperti yang dikatakan Subhita, Gada Sangkara, bukan hanya memiliki paras dan
tubuh yang menawan, ia pun kini benar–benar sehebat ayahnya, Panglima Besar
Baharyu. Ditambah ia juga mempunyai empati selembut ibunya, bagi Galuh, ia
memang sosok yang paling cocok bila harus menggantikan Maharaja Ranji Raspati.
“Baiklah,
pertemuan ini telah selesai, silahkan anda semua bergabung dengan keluarga anda
di aula untuk menikmati hidangan yang telah kami sajikan,” ucap Gada Sangkara menyudahi
pertemuan tersebut.
Para Delegasi dan
para Tetua Putih sepertinya puas dengan keputusan yang telah diambil, lalu
beranjak dari ruangan tersebut dengan wajah tidak setegang ketika pertama kali
datang.
Namun berbeda
dengan para tokoh Bangsawan licik, sebagian ada yang merengut bahkan
menggerutu, dan yang paling kesal adalah pemimpin Klan Klan Merah, Rahadyan
Sayuga. “Sial!” gerutunya yang segera pergi meninggalkan ruangan dengan wajah
masam.
Ketika para Delegasi
keluar, Galuh dan Adhit pun segera keluar dari lorong dan kembali ke arah
Subhita.
“Kalian lama
sekali, saya sampai khawatir takut kalian ketahuan,“ bisik Subhita begitu panik.
“Kami tidak apa–apa,” ucap Galuh dan Adhit sambil menatap Subhita dengan pandangan
penuh terimakasih.
“Karena tadi
begitu tegang, bagaimana kalau kita menyelinap dulu ke tempat pak Koki Engkus,
pasti masih banyak makanan disana!” ucap Subhita sambil menaikan alisnya
berkali-kali.
“Ya! Saya sudah
lapar sekali!” ucap Adhit refleks, membuat Galuh dan Subhita tidak bisa menahan
tawa. “Saya menguping sesuatu dari salah satu keluarga Delegasi, nanti kita
bicarakan di dapur istana,” bisik Subhita yang segera di amini oleh Galuh dan
Adhit.
Setelah
kenyang, Subhita berbisik. “Dunia Manusia sedang dimasuki Kaum Hitam
besar-besaran, bahkan beberapa Delegasi ada yang terbunuh karena mencoba
menyelamatkan beberapa anak Manusia,” ucapan Subhita membuat Galuh dan Adhit
terhenyak.
“Menurut yang
saya dengar, para Delegasi dan bawahannya telah kewalahan karena Kaum Hitam
menggunakan banyak strategi baru,” bisik Subhita lagi.
“Ya.. kami juga
mendengarnya dari lorong rahasia, tetapi kabar tentang ada Delegasi yang
terbunuh? Itu baru kami dengar, sepertinya itu telah diutarakan saat kami belum
sampai di lorong rahasia, apa kamu yakin mereka berbicara seperti itu? ”bisik
Galuh penuh tanya.
“ya, sekalipun
mereka berbisik, saya ada dibelakang mereka sehingga terdengar sangat jelas,”
jawab Subhita membenarkan. “Namun, mereka tidak mengatakan Kaum Hitam memakai strategi
baru apa yang membuat para Delegasi kewalahan,” bisik Subhita lagi.
“Yang kami
dengar, mereka menyusupkan Ruh Mudria melalui pembuatan Tattoo, karena mengalir
dalam aliran darah, itu yang membuat sangat sulit terlacak oleh para Delegasi,”
jawaban Adhit membuat Subhita terlonjak kaget.
“Namun hebatnya, Gada Sangkara berhasil
memberikan solusi yang sepertinya cukup efektif,” bisik Adhit lagi yang diamini
Galuh juga dengan seksama.
Selesai makan,
mereka bertiga kembali pada Aula perjamuan. Adhit memilih ke perpustakaan
istana dulu, katanya akan mengambil sesuatu yang hendak ia perlihatkan pada
Galuh.
Sedangkan Galuh
dan Subhita, memilih memotong jalan melewati ruang pusaka kuno agar lebih cepat
sampai. Namun saat keluar dari ruang pusaka kuno, mereka malah bertemu dengan
Spathika dan Sundara.
“Lihat ini! duo kumal sedang melarikan
diri dari tugas! apa saya bilang, selain tidak berguna, sepertinya mereka
hendak mencuri sesuatu disini!” Ucap Spathika sambil memeriksa sekeliling ruangan
penyimpanan barang kuno dengan matanya.
Spathika benar-benar menumpahkan
segala kejengkelannya yang ia tahan selama pembahasan lukisan bersama Gada
Sangkara.
Subhita segera berdiri didepan
Galuh agar kedua Nona Bangsawan ini tidak macam-macam dengan Galuh.
“Kak, beri pelajaran saja, toh
ia hanya pelayan! Bila terjadi sesuatu, ayah dan paman Sadya akan selalu melindungi
kita!” ucap Sundara yang semakin mengipasi kemarahan Spathika.
“Dengan spontan Spathika
melempar isi minumannya hingga Galuh dan Subhita basah kuyup. Galuh masih diam
sekalipun dalam pikiran Galuh, para Ajag terdengar mulai saling menggeram marah.
“Nona Spathika!” Teriak Subhita
secara spontan, lalu dengan sigap ia mengelap wajah dan baju Galuh dengan sapu
tangannya. Spathika lalu memandang Galuh dan Subhita dengan sangat merendahkan.
“Siapa namamu pelayan baru? Ah
iya..Gada bilang, Naya? Ingat! kamu hanya anak desa yang tidak lebih dari
sampah murahan tidak berharga! jangan harap bisa menarik hati orang sehebat Gada
Sangkara!” Teriak Spathika dengan marah. Lengkingan suaranya yang tidak enak didengar,
benar-benar membuyarkan segala kelembutan yang Spathika pancarkan selama perjamuan
tadi.
“Seseorang yang pantas bersanding
dengannya adalah seseorang yang setara, seseorang yang berasal dari garis keturunan
keluarga Istana, “tambah Spathika sambil menunjuk dadanya dengan angkuh. “juga saya!”
ucap Sundara mengekor sambil menunjuk dadanya juga. Kedua kakak beradik ini
membuat Subhita jadi sangat muak.
“Dasar sampah tidak berguna,
kabarnya kamu anak Kaum Rangeh yang tersisa? Dan kamu masih hidup? Jangan-jangan
kamu masih hidup karena kamu berbakat membawa kesialan pada orang lain!
sepertinya apapun yang bersentuhan denganmu hanya akan berakhir mati sia-sia! Hahaha…
”ucap Spathika dengan tawa yang sangat menjengkelkan.
Kalimat sederhana ini ternyata sangat
menusuk pada hati Galuh. karena hal ini membuatnya teringat tentang kematian
ibunya karena terus mengkhawatirkannya, lalu kematian ayahnya karena merasa
kehilangan permaisuri dan putri satu-satunya. Dengan emosi yang mulai tidak
terkendali, segelpun sedikit rusak dan para Ajagpun mulai berusaha menerobos
segel.
Saat Spathika hendak menumpahkan
minuman yang di pegang Sundara pada kepala Galuh lagi, tiba–tiba sebuah tangan
bercahaya menampik minuman tersebut.
Lalu dengan entengnya, minuman
tersebut diguyurkan balik pada wajah Spathika dan Sundara. Sontak mereka langsung
berteriak kaget, namun saat mereka menoleh marah ke arah sang penampik, Spathika
dan Sundara malah berteriak kaget dengan lengkingan yang semakin keras.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar