Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 19 – Awal Kericuhan | By: Desya Saghir

          Nona Naya?” ucap Gada sangkara setelah dekat, suara beratnya yang lembut, membuat Galuh tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan Subhita, ia semakin mengipas-ngipas wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Galuh sedikit terkejut saat mendapati Gada Sangkara dari dekat. Ia baru menyadari bila Gada Sangkara memiliki otot liat dan juga kekar. Ditambah Gada yang sengaja membungkukan punggungnya agar bisa melihat wajah Galuh dari dekat, membuat ia semakin semakin panik karena takut indetitasnya diketahui. Karena Gada ketika kecil, mungkin ia anak penakut dan cengeng, tetapi Galuh kecil selalu dikejutkan oleh segala kecerdasannya.  

Subhita sendiri, karena mengipasi wajahnya dengan semakin keras, begitu Gada menoleh pada Subhita dan tersenyum, tiba-tiba kipas yang sedang dipakai Subhita terpental karena di kipas terlalu kuat.

Perhatian Gada Sangkara terhadap dua pelayan ini, membuat sebagian besar para Nona Bangsawan mengernyitkan wajah tidak suka, terutama Spathika dan Sundara. Spathika merasa sangat terhina, karena pada saat berusaha menyapa, Gada Sangkara malah memanggil nama seorang wanita dengan sebuah profesi yang ia anggap sangat tidak berharga.

“Jadi pelayan itu bernama Naya? Lihat saja nanti!” gerutu Spathika sambil menahan malu luar biasa.

“Kelihatannya anda sangat menyukai karya–karya milik Hyang Senirani?“ ucap Gada Sangkara senang. Galuh yang masih bingung, ia mencoba mencerna apa maksud perkataan Gada Sangkara. Namun setelah itu Galuh baru menyadari, bahwa ternyata terdapat banyak sekali lukisan buatan Hyang Senirani tepat dimana ia berdiri.

“Lain kali saat anda tidak sibuk, anda mau membahas beberapa lukisan dengan saya?” pinta Gada Sangkara sopan. “Ah iya Tuan,” ucap Galuh singkat sambil mencoba menghindar. Namun Gada malah menghalangi dan membuka pembicaraan.

 “Saya mulai kelelahan dengan segala permasalahan politik, berbicara tentang seni sangat membantu saya lepas dari stress walau sebentar, anda bisa membantu saya kan?” pinta Gada lagi yang kali ini dengan nada memelas, Galuh semakin bingung bersikap.

“Tentu Tuan, Naya tahu banyak tentang lukisan terbaik,” jawab Subhita karena Galuh terlihat begitu panik, walau sebenarnya, Subhita juga sama paniknya.

Sebagian dari Nona Bangsawan menatap Galuh dan Subhita semakin sebal. Galuh yang tadinya akan menolak, kini malah jadi tidak tega. Sekalipun Gada sangkara tidak mengenalinya, tetapi ia mengenali siapa pria yang ada dihadapannya ini.

Gada Sangkara kecil adalah anak lemah, kurus dan cengeng. Anak yang sering dikerjai anak–anak Bangsawan lain sehingga Galuh harus sering turun tangan. Bahkan tak jarang, Gada kecil selalu bersembunyi dibelakang bahunya saat mulai hendak dikerjai. Maka karena hal tersebutlah, Galuh mulai menanggapi Gada Sangkara.

Spathika yang saat itu merasa kehilangan muka karena diabaikan Gada Sangkara, ia nekat melangkah angkuh, lalu menyusup masuk kedalam pembicaraan antara Gada Sangkara dan Galuh. Sayangnya, Spathika tidak memahami yang sedang dibicarakan Gada Sangkara dan Galuh, bahkan ketika diberi ruang berbicara oleh Gada Sangkara, Spathika seketika jadi seperti keledai bisu. Hingga akhirnya karena malu, ia menyingkir dengan raut yang amat sangat sebal.

Sedangkan adiknya, Sundara, yang ikut-ikutan juga masuk kedalam pembicaraan, akhirnya lebih tampak seperti kambing bodoh yang tidak tahu kemana arah kalimatnya. Ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, malah memancing Bangsawan lain yang kebetulan ada di dekat mereka. Hingga akhirnya, ia mengikuti Spathika kakaknya sambil menggerutu sebal.

Subhita begitu puas melihat kedua kakak beradik pongah ini kini benar-benar tidak berkutik. Namun ternyata bukan hanya Subhita, beberapa para pelayan wanita yang pernah diteriaki bahkan dikasari oleh dua kakak beradik ini, mereka kini tersenyum dengan begitu sangat puas.

“Nanti setelah jamuan ini selesai, kita hadiahi anak baru itu dengan banyak makanan enak,” bisik salah satu pelayan, yang langsung diangguki oleh pelayan lainnya, karena sakit hati mereka terhadap Spathika dan Sundara akhirnya terbalaskan.

Ditengah keramaian, Adhit mencari Galuh. Namun ketika menemukan Galuh sedang berbicara serius dengan Gada Sangkara, ia perlahan mundur. Adhit tahu, dengan membiarkan Galuh berbicara dengan Gada Sangkara, Galuh justru akan mendapatkan tambahan informasi yang bahkan mungkin lebih berharga dari yang Adhit punya.

Namun ketika menoleh pada mereka berdua lagi, saat Galuh dan Gada Sangkara terlihat begitu dekat, rasanya ada segumpal api cemburu yang perlahan menyala dalam dadanya. Namun tiba–tiba, Adhit dikejutkan serombongan besar yang datang tergopoh.

“Maaf atas keterlambatannya, kami sudah mencoba datang secepat mungkin, namun kami bermasalah dengan gerbang masuk. Ada yang mencoba menghambat kedatangan kami dengan merusak segel gerbang.” Ucap salah seorang dari mereka yang sepertinya Delegasi yang ditempatkan di dunia Manusia.

Wajah blasteran Rusianya yang keras benar–benar kontras dengan wajah asia Gada Sangkara yang maskulin tetapi hangat. Galuh dan Adhit memandangi mereka satu persatu. Benar seperti yang diceritakan Subhita, sebagian besar dari mereka yang datang rata-rata mempunyai wajah blasteran dari berbagai Negara.

Para Delegasi menggunakan pakaian layaknya Manusia biasa. Namun yang membedakan, saat mereka menggunakan energinya untuk melayangkan jaketnya pada pelayan terdekat, jelas–jelas mereka bukan Manusia biasa.

Delegasi yang berbicara tadi, wajahnya mulai mengeras saat beberapa Bangsawan mulai mendekat. Jelas sekali ia tidak menyukai kalangan Bangsawan.

“Apakah Maharaja Ranji Raspati telah ada di ruang pertemuan?” Tanya Delegasi tersebut cepat, terlihat sekali ia menghindari terlibat pembicaraan dengan para Bangsawan. “Maharaja Ranji Raspati telah menunggu di ruangan pertemuan, silahkan anda semua ikut dengan saya.” Jawab Gada Sangkara sopan, namun berkharisma kuat.

“Pembicaraaan ini masih bersambung, jangan lupakan topik kita barusan.” bisik Gada Sangkara lembut pada Galuh, yang lalu memimpin para Delegasi menuju ruang dimana Maharaja Ranji Raspati berada. Sekalipun sopan, Gada Sangkara benar-benar begitu gagah dan berwibawa saat memandu para Delegasi untuk mengikutinya. Benar-benar berbanding terbalik saat berbicara dengan Galuh, nada suara Gada begitu lembut dan merangkul.

“Katanya pembicaraan ini masih tersambung? Berarti kita masih bisa bertemu dengan Tuan Gada Sangkara? Aaaah…” bisik Subhita pada Galuh sambil berteriak genit, membuat Galuh tersenyum seketika.

Setelah para Delegasi masuk ke dalam ruangan beserta para Tokoh Bangsawan yang berpengaruh dalam politik kerajaan, Adhit mulai bertanya-tanya.

“Apa benar ini hanya sekedar pesta perjamuan?” pikir Adhit heran, lalu ia memberi kode dari jauh pada Galuh. Galuh yang mengerti langsung berimprovisasi.

“Tuan, perut saya mulas sekali, sepertinya sarapan tadi pagi belum cocok di perut saya, saya hanyalah anak desa biasa..” ucap Galuh pada kepala pelayan sambil memegangi perutnya, lalu setelahnya, ia mengedip pada Subhita. Subhita yang sebenarnya masih bingung, karena melihat kedipan Galuh, ia langsung berakting seolah-olah sangat khawatir luar biasa.

Sebelum kepala pelayan tersebut membuka mulutnya, dengan cepat Adhit mendekat, “astagaa.. kamu makan terlalu banyak lagi?” sambil dengan cepat merangkul Galuh.

“Maaf Tuan, sejak pagi dia sudah saya peringatkan. Sepertinya ia tidak mendengarkan, saya akan membawanya untuk di obati,” ucap Adhit sopan. Setelah diijinkan, mereka segera menyelinap menuju kamar Subhita, lalu masuk ke dalam lorong tadi malam.

Dari balik lubang dinding, Galuh dan Adhit melihat para Delegasi duduk mengelilingi meja setengah bundar yang luar biasa besar.  Sedangkan para Tokoh Bangsawan, ada di meja lingkaran kedua, dibelakang para Delegasi. Tak lama masuklah para Tetua Putih yang mengisi bagian meja yang setengah lingkaran lagi, termasuk Kakek Addar, Ia duduk di kursi jejeran paling depan.

Lalu tepat ditengah lingkaran meja tersebut, Galuh melihat pamannya, Ranji Raspati, duduk dikursinya sambil meremas secarik kertas dengan raut wajah lelah yang begitu resah.

“Bagaimana bisa! “ucap Ranji Raspati mulai meninggi, intonasi tersebut membuat para Delegasi sedikit terhenyak. “Tuan Maharaja, kami mulai sangat kerepotan! Kaum Hitam sekarang mulai gencar dalam mempengaruhi anak–anak muda di dunia Manusia, mereka direkrut hanya untuk dijadikan umpan dalam mengacaukan tugas kami semua! “Ucap salah satu Delegasi dengan rahang yang mengeras.

Lalu Delegasi tersebut mengeluarkan energinya untuk memberikan sebuah gambaran visual. Benar yang dikatakan Delegasi tersebut, semua sangat kacau balau. Para Delegasi dan bawahannya dibuat tidak berkutik, karena Kaum Hitam menggunakan Manusia yang telah mereka kuasai sebagai tameng mereka.

Ranji Raspati menatap gambaran tersebut dengan pandangan marah yang tertahan. “Tuan Maharaja, salah satu cara yang berhasil kami ketahui adalah; selagi mereka memasangkan tattoo, mereka juga menyisipkan Ruh hitam untuk mengalir dalam aliran darah mereka.” tambah Delegasi lain yang juga membenarkan.

Sebuah gambaran yang membuat semua orang yang ada disana terhenyak. Saat seniman tatoo tersebut tengah membuat gambar, secara bersamaan ia juga menyisipkan energi halus. Energi tersebut perlahan meresap, menyatu dengan darah, dan mengendap dibawah lapisan kesadaran pemilik tatoo tersebut.

“Kini para Manusia tidak bisa kami selamatkan seperti biasanya lagi. Para Ruh hitam yang telah tertanam dalam aliran darah mereka menjadi sulit untuk dilacak, para Mudria ini tersegel hingga batas waktu yang telah ditentukan Kaum Hitam, “ucap salah satu Delegasi lain lagi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan keras.

“Apa itu sejenis Mudria yang dulu ditanam di lengan saya?” bisik Adhit pada Galuh. “Bisa jadi sama, namun sepertinya telah dikembangkan lebih kompleks, sehingga kini para Kaum Putih tidak bisa mendeteksinya lebih cepat,” bisik Galuh mengiyakan.

Ranji Raspati menggeser punggungnya dengan gelisah, raut wajahnya semakin mengeras. Isi kepalanya kembali pada beberapa tahun silam, saat Maharaja Mahesa Agung, Mendiang Kakaknya yang masih menjabat sebagai Raja.

Saat itu hidupnya begitu sangat tenang. Ia juga masih menikmati dirinya menjadi penulis, lalu berkelana mencari inspirasi disemua pelosok tempat–tempat baru, termasuk dunia Manusia.

“Tuan..” ucap salah seorang Delegasi berusaha menyadarkannya seramah mungkin. Ini sudah kesekian kalinya sang Maharaja menerawang entah kemana. Sontak hal tersebut membuat pada Delegasi dan sebagian Tetua Putih gelisah.

Galuh menatap pamannya dengan sedih, ia mengetahui betul bahwa pamannya tidak pernah menginginkan posisi ini.

Namun, bila pamannya nekat melepaskan tahta, dalam keadaaan Paman Baharyu yang masih dalam keadaan koma, sedangkan Gada Sangkara masih terlalu muda untuk mempunyai pengaruh di Astamaya, maka Istana akan dikendalikan sepenuhnya oleh Klan Merah.

Rahadyan Sayuga dengan pengaruh politiknya yang tidak main-main. Ditambah adiknya, otak dari Klan Merah, Sadya Agracarana, yang bukan hanya sangat cerdas, tetapi juga manipulatif sekaligus licik! belum lagi beberapa adik lain dari Rahadyan sayuga yang sudah mempunyai cakar di beberapa wilayah, akan membuat keberadaan Kaum Putih benar-benar sangat berbahaya.

Ranji Raspati masih tetap terdiam, ini membuat para Delegasi semakin gelisah. Galuh tidak mengerti mengapa Kakek Addar tampak menahan diri untuk tidak ikut campur, padahal Pamannya sedang dalam keadaan yang sangat terjepit.

Namun Gada Sangkara segera menengahi, “Tuan? Apakah Tuan Maharaja sakit kepala lagi?” Lalu Maharaja Ranji Raspati mengangguk pelan. “Sudah sejak lama Tuan Maharaja menderita sakit kepala agak parah, sedangkan para tabib belum menemukan sebabnya.” Ucap Gada mendinginkan suasana, ia benar–benar mengerti dengan situasi yang terjadi. Sang Maharaja kini tengah kebingungan.

“Perihal ini saya berikan pada Gada Sangkara, sakitnya benar–benar sangat tidak tertahankan.” Dalih Ranji Raspati sambil beranjak minta dibantu beberapa pelayan menuju kamar tidurnya. Setelah itu Gada Sangkara segera mengambil alih situasi.

Galuh dan Adhit terkesima dengan kecerdasan Gada Sangkara dalam mengatasi situasi, ia bahkan sekarang telah mengambil hati para Delegasi. Kemampuan diplomasi Gada Sangkara yang luar biasa, menjadikan raut gelisah para Delegasi kini mulai sedikit membaik.

Namun, para pemimpin Klan Bangsawan licik merasa kecewa karena tidak dapat mengambil keuntungan dari ini, terutama pemimpin Klan Merah, Rahadyan sayuga. Ditambah Sadya Agracarana tidak dapat ikut karena sesuatu hal, membuat Rahadyan Sayuga saat itu benar–benar mati kutu.

Kini Galuh mengerti mengapa Kakek Addar tidak berbuat apapun, rupanya ia sedang membuat Gada Sangkara jadi mempunyai pengaruh politik yang kuat seperti ayahnya.

Setelah itu Galuh memperhatikan Gada Sangkara yang telah menjadi pribadi berbeda. Benar seperti yang dikatakan Subhita, Gada Sangkara, bukan hanya memiliki paras dan tubuh yang menawan, ia pun kini benar–benar sehebat ayahnya, Panglima Besar Baharyu. Ditambah ia juga mempunyai empati selembut ibunya, bagi Galuh, ia memang sosok yang paling cocok bila harus menggantikan Maharaja Ranji Raspati.

“Baiklah, pertemuan ini telah selesai, silahkan anda semua bergabung dengan keluarga anda di aula untuk menikmati hidangan yang telah kami sajikan,” ucap Gada Sangkara menyudahi pertemuan tersebut.

Para Delegasi dan para Tetua Putih sepertinya puas dengan keputusan yang telah diambil, lalu beranjak dari ruangan tersebut dengan wajah tidak setegang ketika pertama kali datang.

Namun berbeda dengan para tokoh Bangsawan licik, sebagian ada yang merengut bahkan menggerutu, dan yang paling kesal adalah pemimpin Klan Klan Merah, Rahadyan Sayuga. “Sial!” gerutunya yang segera pergi meninggalkan ruangan dengan wajah masam.

Ketika para Delegasi keluar, Galuh dan Adhit pun segera keluar dari lorong dan kembali ke arah Subhita.

“Kalian lama sekali, saya sampai khawatir takut kalian ketahuan,“ bisik Subhita begitu panik. “Kami tidak apa–apa,” ucap Galuh dan Adhit sambil menatap Subhita dengan pandangan penuh terimakasih.

“Karena tadi begitu tegang, bagaimana kalau kita menyelinap dulu ke tempat pak Koki Engkus, pasti masih banyak makanan disana!” ucap Subhita sambil menaikan alisnya berkali-kali.

“Ya! Saya sudah lapar sekali!” ucap Adhit refleks, membuat Galuh dan Subhita tidak bisa menahan tawa. “Saya menguping sesuatu dari salah satu keluarga Delegasi, nanti kita bicarakan di dapur istana,” bisik Subhita yang segera di amini oleh Galuh dan Adhit.

Setelah kenyang, Subhita berbisik. “Dunia Manusia sedang dimasuki Kaum Hitam besar-besaran, bahkan beberapa Delegasi ada yang terbunuh karena mencoba menyelamatkan beberapa anak Manusia,” ucapan Subhita membuat Galuh dan Adhit terhenyak.

“Menurut yang saya dengar, para Delegasi dan bawahannya telah kewalahan karena Kaum Hitam menggunakan banyak strategi baru,” bisik Subhita lagi.

“Ya.. kami juga mendengarnya dari lorong rahasia, tetapi kabar tentang ada Delegasi yang terbunuh? Itu baru kami dengar, sepertinya itu telah diutarakan saat kami belum sampai di lorong rahasia, apa kamu yakin mereka berbicara seperti itu? ”bisik Galuh penuh tanya.

“ya, sekalipun mereka berbisik, saya ada dibelakang mereka sehingga terdengar sangat jelas,” jawab Subhita membenarkan. “Namun, mereka tidak mengatakan Kaum Hitam memakai strategi baru apa yang membuat para Delegasi kewalahan,” bisik Subhita lagi.

“Yang kami dengar, mereka menyusupkan Ruh Mudria melalui pembuatan Tattoo, karena mengalir dalam aliran darah, itu yang membuat sangat sulit terlacak oleh para Delegasi,” jawaban Adhit membuat Subhita terlonjak kaget.

 “Namun hebatnya, Gada Sangkara berhasil memberikan solusi yang sepertinya cukup efektif,” bisik Adhit lagi yang diamini Galuh juga dengan seksama.

Selesai makan, mereka bertiga kembali pada Aula perjamuan. Adhit memilih ke perpustakaan istana dulu, katanya akan mengambil sesuatu yang hendak ia perlihatkan pada Galuh.

Sedangkan Galuh dan Subhita, memilih memotong jalan melewati ruang pusaka kuno agar lebih cepat sampai. Namun saat keluar dari ruang pusaka kuno, mereka malah bertemu dengan Spathika dan Sundara.

“Lihat ini! duo kumal sedang melarikan diri dari tugas! apa saya bilang, selain tidak berguna, sepertinya mereka hendak mencuri sesuatu disini!” Ucap Spathika sambil memeriksa sekeliling ruangan penyimpanan barang kuno dengan matanya.

Spathika benar-benar menumpahkan segala kejengkelannya yang ia tahan selama pembahasan lukisan bersama Gada Sangkara.

Subhita segera berdiri didepan Galuh agar kedua Nona Bangsawan ini tidak macam-macam dengan Galuh.

“Kak, beri pelajaran saja, toh ia hanya pelayan! Bila terjadi sesuatu, ayah dan paman Sadya akan selalu melindungi kita!” ucap Sundara yang semakin mengipasi kemarahan Spathika.

“Dengan spontan Spathika melempar isi minumannya hingga Galuh dan Subhita basah kuyup. Galuh masih diam sekalipun dalam pikiran Galuh, para Ajag terdengar mulai saling menggeram marah.

“Nona Spathika!” Teriak Subhita secara spontan, lalu dengan sigap ia mengelap wajah dan baju Galuh dengan sapu tangannya. Spathika lalu memandang Galuh dan Subhita dengan sangat merendahkan.

“Siapa namamu pelayan baru? Ah iya..Gada bilang, Naya? Ingat! kamu hanya anak desa yang tidak lebih dari sampah murahan tidak berharga! jangan harap bisa menarik hati orang sehebat Gada Sangkara!” Teriak Spathika dengan marah. Lengkingan suaranya yang tidak enak didengar, benar-benar membuyarkan segala kelembutan yang Spathika pancarkan selama perjamuan tadi.

“Seseorang yang pantas bersanding dengannya adalah seseorang yang setara, seseorang yang berasal dari garis keturunan keluarga Istana, “tambah Spathika sambil menunjuk dadanya dengan angkuh. “juga saya!” ucap Sundara mengekor sambil menunjuk dadanya juga. Kedua kakak beradik ini membuat Subhita jadi sangat muak.

“Dasar sampah tidak berguna, kabarnya kamu anak Kaum Rangeh yang tersisa? Dan kamu masih hidup? Jangan-jangan kamu masih hidup karena kamu berbakat membawa kesialan pada orang lain! sepertinya apapun yang bersentuhan denganmu hanya akan berakhir mati sia-sia! Hahaha… ”ucap Spathika dengan tawa yang sangat menjengkelkan.

Kalimat sederhana ini ternyata sangat menusuk pada hati Galuh. karena hal ini membuatnya teringat tentang kematian ibunya karena terus mengkhawatirkannya, lalu kematian ayahnya karena merasa kehilangan permaisuri dan putri satu-satunya. Dengan emosi yang mulai tidak terkendali, segelpun sedikit rusak dan para Ajagpun mulai berusaha menerobos segel.

Saat Spathika hendak menumpahkan minuman yang di pegang Sundara pada kepala Galuh lagi, tiba–tiba sebuah tangan bercahaya menampik minuman tersebut.

Lalu dengan entengnya, minuman tersebut diguyurkan balik pada wajah Spathika dan Sundara. Sontak mereka langsung berteriak kaget, namun saat mereka menoleh marah ke arah sang penampik, Spathika dan Sundara malah berteriak kaget dengan lengkingan yang semakin keras.

 - Bersambung - Desya Saghir -

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir