Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 18 – Kejutan yang sangat mengejutkan!| By: Desya Saghir

             “Ini dari siapa?” Tanya Galuh dengan sangat terkejut! “Kamu yang bawa? Subhitaa.. jangan lakukan ini, kita makan di dapur saja seperti kemarin, mereka bisa curiga bila kamu memperlakukan saya dengan Istimewa,” ucap Galuh khawatir. Namun Subhita hanya tersenyum.

“Itu bukan dari saya kok, tapi dari Adhit.” Jelas Subhita yang membuat Galuh terkejut. “Adhit?” ucap Galuh tidak mengerti.

“Adhit bilang, tadi malam ia diketahui menyelinap keluar oleh salah satu teman sekamarnya, lalu… “ ucapan Subhita berhenti sebentar. ”Agar tidak dicurigai, Adhit memberikan alasan bahwa ia ingin bertemu sebentar karena merindukanmu.. jadi ia… Aiih…” lanjut Subhita sambil memeluk buket bunga tersebut dengan wajah malu-malu.

“Subhita!.. itu kan hanya pura–puraaa!” seru Galuh sambil buru-buru menutup wajahnya dengan bantal. Begitu Galuh mengangkat wajah, Subhita langsung tergelak karena wajah Galuh kini jadi semerah kepiting rebus!

“iyaa, saya tahu itu hanya untuk alibi, tapi tetap saja.. bertemu diam-diam karena rindu, lalu paginya diantarkan sarapan dan seikat besar bunga seperti ini…. aiiihh…benar-benar romantiiiis…” ucap Subhita yang langsung tergelak karena dilempar bantal oleh Galuh.

Tiba-tiba segel Ajag terbuka dari dalam, tak lama terdengarlah suara para Ajag yang menyanyikan lagu cinta dengan nada parau yang  benar-benar jelek. Tidak cukup disitu, mereka lalu menambahkan dialog hiperbola, dari rekontruksi adegan saat Galuh tidak sengaja mencium Adhit, membuat Galuh semakin malu.

“Kalian ini! saya tidak semurah ituu!” teriak Galuh sambil mengepal tangan dengan keras. Tanpa membuang waktu, Galuh langsung mengetapel para Ajag satu persatu hingga membuat Subhita semakin tergelak. NaRaja sendiri yang biasanya hanya diam dan melirik kalem, kini tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Setelah Segel para Ajag Galuh kunci dobel, ia kini menelungkupkan wajahnya pada bantal karena tidak tahu harus menyanggah apa lagi.

Selesai sarapan di kamar, mereka berlari menuju ruang apel pagi yang mulai terisi penuh para pelayan, rupanya sebagian dari pelayan telah selesai sarapan. Tak lama Adhit datang, yang lalu menyela beberapa orang agar bisa duduk disamping Galuh.

“Hai.. dan.. maaf..” ucap Adhit pada Galuh, lalu melambai–lambai pada empat kawan sekamarnya diseberang sana. Setelah itu, empat kawan sekamarnya tampak memberikan kode semangat dari jauh.

“Gossip apa yang kamu sebarkan!” bisik Galuh sebal, rasanya ingin menjitak kepala Adhit saat itu juga. “Saya terpaksa, karena salah seorang dari mereka terbangun tengah malam dan tidak menemukan saya disana,” bisik Adhit menyesal.

“Kamu kan bisa bilang ke toilet!” bisik Galuh lagi. “Nona besar.. saya meninggalkan kamar selama empat jam, dengan waktu sepanjang itu, itu bukan lagi terkena sembelit, tapi hernia!”, bisik Adhit gemas. Mendengar hal tersebut, Subhita tergelak dan hampir menyemburkan camilannya.

“Tapi tenang saja, saya hanya bilang sedang mencoba mendekati kamu, tetapi masih belum ada kejelasan apapun dari kamu,” bisik Adhit sambil mencomot sedikit camilan Subhita. “Bisa-bisanya dengan keadaan seperti ini kamu masih bisa makan!” ucap Galuh sambil menghela napas.

“Bagusnya, mereka tidak perlu bertanya ini dan itu mengapa kamu selalu ingin bertemu saya hahaha..,” lanjut Adhit lagi sambil tertawa. Lalu dengan gemas Galuh menjejalkan camilan yang hendak dilahap Adhit. Dengan seketika tawa Subhita meledak, sedangkan Galuh memalingkan wajah karena sebal.

Apel pagi pun selesai, Galuh dan Subhita mendapat tugas merapikan beberapa kamar di lorong delapan, tempat kalangan Ksatria tertinggi.

“Padahal, kemarin saya berhasil mendapatkan kamar milik Tuan Rahadyan Sayuga, sayangnya ia sedang kurang sehat dan tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Lain kali, kita harus bisa masuk ke kamarnya!” Bisik Subhita sambil menggepal tangan dengan gemas.

“Na, kali ini kamu harus bersabar. Kamar para Ksatria lebih buruk dari arena perang, dan aromanyaaa… uugh…” ucap Subhita lagi dengan mata membelalak lucu. “Kecuali kamar Tuan Gada Sangkara!” ralat Subhita tiba-tiba.

”Semua serba bersih! pakaian kotor terletak pada tempatnya. Gelas dan piring bekas camilan tertumpuk rapi dan siap diangkat. Kamar mandi dengan alat mandi yang selalu pada tempatnya. Aah.. ia bukan hanya kesayangan para wanita bangsawan, tetapi kami para pelayan.. aiih….” ucap Subhita dengan gerakan genit malu-malu, “hush..” ucap Galuh sambil tertawa geli.

Benar saja, ketika mereka sampai di kamar milik Gada Sangkara, semua benar-benar serba bersih. Pakaian kotor terletak rapi ditempatnya, tidak ada pakaian bekas menggantung, handuk bekas mandi menggantung di rak handuk, bahkan kasurnya pun seakan baru ditiduri selama lima menit tanpa bergerak.

Dan yang paling membuat rileks, aroma kamarnya yang beraroma lemon mint, berpadu serasi dengan aroma parfum yang begitu hangat dan maskulin. Rasa lelah mereka berdua seakan langsung lenyap dari kekacauan empat kamar sebelumnya.

“Saya sengaja memilih kamar terakhir adalah kamar Tuan Gada, ya karena ini! lihat semua ini, benar-benar melepaskan segala lelah,” ucap Subhita sambil menghirup aroma kamar dengan sangat dalam, lalu ia berpura-pura pingsan di atas sofa besar lagi empuk. Galuh langsung tergelak melihat tingkah Subhita yang lucu menggemaskan.

Sambil merapikan ruangan, Galuh tertarik pada beberapa foto kecil yang memperlihatkan beberapa aktifitas Gada Sangkara yang sekarang. Galuh terkejut, Gada ternyata telah jauh berbeda dibandingkan ingatannya dulu.

Gada yang Galuh ingat, adalah seorang anak kecil kerempeng yang selalu terkena ejekan dari anak Bangsawan lain. Bahkan tak jarang, Galuh harus turun tangan karena tindakan anak-anak bangsawan lain yang cukup keterlaluan. Namun anehnya, Gada kecil tidak pernah melaporkan ini pada kedua orang tuanya.

Namun sekarang lihatlah, Ia menjadi sangat gagah dan sangat berwibawa. Gada Sangkara mewarisi alis, hidung, garis rahang dan bentuk tubuh milik ayahnya, Panglima Besar Baharyu. Namun mata dan bibirnya benar-benar menyerupai ibunya, seorang wanita anggun yang menurut Galuh adalah wanita tercantik yang pernah ia temui.

“Ayo Na, kita sudah beres, masih banyak hal lain yang harus dikerjakan. Kepala Pelayan kita benar–benar pencari masalah! Begitu menemukan ada keluhan, sekalipun tidak masuk akal, ia akan menghukum kita dengan tugas yang menyebalkan!” Gerutu Subhita yang membuat Galuh tersenyum geli.

“Sebentar..” ucap Galuh yang tiba-tiba tertarik pada sebuah lukisan yang tergantung dalam ruangan yang pintunya setengah terbuka. “Kamu menemukan sesuatu? Baiklah, saya akan merapikan rak sebelah tempat tidur, carilah apapun yang kamu perlukan,” ucap Subhita yang segera menuju rak yang sebenarnya sudah rapi.

Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, “Ternyata lukisan Paman Baharyu!” pikir Galuh dengan tertarik. ia merasa Gada Sangkara benar–benar sangat menghormati ayahnya.

“Ini adalah bangsal pribadinya, tetapi lukisan ayahnya tergantung begitu besar di ruang kerja miliknya pribadi? Karakter yang luar biasa!” Pikir Galuh lagi dengan takjub.

“Ada apa dengan lukisan itu?” tanya sebuah suara berat tetapi lembut dari balik pintu lemari. Galuh yang terkejut, langsung menjatuhkan kemoceng yang sedang sedari tadi ia pegang.

“Tidak, saya hanya terpesona melihat karya Senirani ada disini,” ucap Galuh refleks. Pria dihadapannya tertegun seketika, “kamu tahu pelukisnya adalah Senirani? Hyang Senirani?” ucap pria ini tertarik sekaligus heran. Ketika Galuh menaikan wajahnya, ia baru menyadari bahwa pria dihadapannya adalah Gada sangkara!

Lebih terkejut lagi, karena sosok Gada Sangkara benar-benar jauh berbeda dari bayangan masa kecilnya dulu. Gada kecil yang dulu kerempeng, kini telah menjelma menjadi pria gagah lagi tinggi besar. Selain telah berubah menjadi pria tampan. Gada juga mempunyai otot liat yang terbingkai rapi oleh pakaian sederhananya, menegaskan sebuah karakter bangsawan yang berwibawa, namun tetap terbalut kesederhanaan yang tidak dibuat-buat.

“Maaf Tuan bila saya lancang, semua sudah kami rapikan, kami mohon diri,” ucap Galuh gugup yang segera menarik Subhita keluar kamar.

Begitu sudah agak jauh Galuh baru berkata, “tadi Gada Sangkara memergoki saya sedang menatap lukisan paman Baharyu,” ucap Galuh sambil mengatur napasnya yang hampir meledak. “Tuan Gada masih di kamar? Gawat! apa Tuan Gada curiga?” tanya Subhita yang mulai panik.

“Tidak tahu, gawatnya saya malah mengatakan bahwa saya terkejut mendapatkan karya Hyang Senirani disana,” ucap Galuh gugup. “Bukankah itu lebih aman, jadi ia tidak perlu curiga bahwa kamu mengenal ayahnya kan?” ucap Subhita agak lega.

“Itu sama buruknya! Menebak karya melalui goresan lukisan, para Bangsawan pun tidak semuanya mengerti tentang ini. Bagaimana bila ia curiga bahwa saya bukan rakyat jelata, ini lebih buruk dari yang dilakukan Adhit tadi pagi!” ucap Galuh penuh rasa sesal.

Subhita tampak berpikir sebentar, dan.. “Tunggu! Bukankah kamu disini dikenal sebagai keturunan Kaum Rangeh yang terkenal cerdas kan? Saya rasa, kamu bisa bersembunyi dalam alasan itu,” ucapan Subhita membuat Galuh terbelalak.

 “Ah! Benar juga!” jawab Galuh sambil menepuk keningnya. “Bagaimana saya lupa hal sepenting itu!” sesal Galuh. “Itu wajar Na.. siapapun yang berada di posisi kamu, pasti panik. Apalagi dihadapan pria setampan Tuan Gada Sangkara, Aaaah…. ” Jawab Subhita sambil berpose genit. Galuh yang tadinya sangat tegang, kini bisa kembali tergelak.

“Aah iya.. saya baru ingat! Kata Pak Koki Engkus kemarin, ia akan membuat pesanan seblak ceker untuk camilan siang ini. Katanya sih, untuk pesta kecil salah satu Nona Bangsawan, Ah.. seleranya benar-benar sangat rendah hati,” ucap Subhita senang.

“Jadii.., bagaimana kalau sekarang kita ke dapur istana, lalu mencicipi sedikit dengan kepedasan level lima! Itu pasti akan sangat melegakan hati!” tawar Subhita tiba-tiba. Tentu saja langsung di iyakan oleh Galuh. Lalu dengan segera, mereka berlomba lari menuju dapur sambil tertawa berdua.

Setelah jam bekerja selesai, Galuh, Adhit dan Subhita kembali berkumpul di taman belakang istana. Kali ini makanan yang dibawa agak lebih banyak, sebab Pak Koki Engkus sangat memaksa untuk dibawa.

“Katanya salah satu Bangsawan mendadak mengganti menu, karena tamu yang berkunjung beserta keluarganya alergi kacang! Uuh.. sering-sering saja ya pak Engkusss… jadinya kita bisa pesta kecil tiap hariii… ” celetukan Subhita sontak membuat Galuh dan Adhit langsung tertawa geli.

Namun begitu keranjang makanan dibuka, mata mereka bertiga langsung membulat tidak percaya. “Ini luar biasaa!” ucap Subhita tidak percaya. Mereka terpana akan lotek bumbu kacang kental, yang disertai beberapa bungkus besar rempeyeknya yang super gurih, nasi tutug tempe teri rawit dengan aroma yang benar-benar menggiurkan selera, bahkan ada juga ayam bekakak bakar komplit dengan lalapan dan sambal kacangnya.

“Ini sih pesta besar!” celetuk Adhit dengan air liurnya bahkan hampir menetes.

Saat beberapa bungkusannya telah dibuka. Aroma makanan yang menyeruak, benar-benar membuat tiga orang ini begitu panik.

Galuh lalu membuka segelnya sedikit agar lebih rileks. Namun setelah segelnya agak longgar, para Ajag ternyata sudah sangat riuh. Karena apapun yang dimakan Galuh, maka para Ajag mencicipinya juga.

“Nasi tutug tempe dulu Galuh! Ah.. empingnya juga!” ucap Aral si Ajag tidak sabar. Lalu Neluh si Ajag protes karena ingin mencicipi lotek bumbu kacang dahulu, mereka benar-benar sangat ribut! Tetapi Galuh tetap tenang, lalu memakan apa saja yang ia ingin makan terlebih dahulu tanpa mengidahkan protes para Ajag.

Kekehan NaRaja terdengar agak samar, namun Adhit langsung menoleh karena mengenali suaranya. “NaRaja, mana yang ingin kamu cicipi terlebih dahulu?” tanya Adhit spontan. Tawa NaRaja tampak berhenti sebentar, sepertinya terkejut, namun setelah itu ia menjawab. “Telingamu benar–benar tajam Dhit hahaha... Saya dan Galuh satu selera, jadi tidak masalah.” Ucap NaRaja dengan tenang.

Selesai makan Galuh mulai membicarakan tentang kejadian tadi siang di kamar milik Gada Sangkara, lalu Adhit berpikir sebentar.

“Benar yang dikatakan Subhita sebelumnya, semua orang mengenal kita sebagai Kaum Rangeh, Kaum yang terkenal karena kecerdasannya, tentu Gada Sangkara juga pasti telah tahu tentang itu. Saya pikir, kita masih dalam kondisi aman kok,” ucap Adhit membenarkan perkataan Subhita.

“Benar kan.., saya sering mendengar keluhan panjang para Bangsawan saat keluar dari ruang pertemuan. Mereka sebal karena Tuan Gada sangat sering membela pamanmu Na, Maharaja Ranji Raspati. Bila indetitasmu iketahui, kondisi masih aman karena ia ada di pihak kita. Ditambah lagi kata ibu Nai, ayah Tuan Gada adalah Panglima Besar Baharyu, selain seorang yang hebat, jujur sekaligus bijak, ia juga sahabat ayahmu sejak kecil,” jelas Subhita bijak.

Galuh sedikit berpikir, “Benar juga..” ucap Galuh dengan perasaan yang mulai lega.

“Bila memang sampai diketahui, kamu bisa memikatnya dengan wajahmu kan. Pria akan sedikit bodoh saat bertemu wanita cantik..  Hahaha.. ” potong salah satu Ajag yang dibarengi tawa serta lolongan dari Ajag yang lain.

Mendengar hal tersebut, Adhit dan Subhita tertawa begitu lepas. Sedangkan Galuh sedikit menyesal sudah melonggarkan segel para Ajag saat itu.

“Kapan kita bisa berkunjung lagi ke kota bawah?” tanya Subhita tiba-tiba. “Ah iya, hampir terlupa. Saya mendapatkan pesan lewat burung Mahui milik Jinn,” ucap Adhit yang membuat Galuh dan Subhita menoleh penasaran.

“Kita diminta menunggu, sampai Kota bawah tanah pengaturannya benar-benar telah selesai. Dikhawatirkan bila kita sering bolak balik ke bawah sana, persembunyian mereka yang tepat dibawah Istana akan diketahui,” jelas Adhit yang langsung diangguki mengerti oleh Galuh dan Subhita.

Begitu mereka sudah kembali ke kamar masing-masing, Galuh merebahkan diri dikamar sambil melihat Subhita yang tengah menyisir rambut keritingnya dengan heboh.

Galuh sering dibuat tertawa oleh polah Subhita. Kadang Subhita seperti musuh bebuyutan dengan rambutnya sendiri, kadang ia juga merawatnya dengan sepenuh hati, sambil mengajak rambutnya bicara seakan pada bayi kecil yang super manis.

“Besok akan ada jamuan penting dalam istana, jadi kita harus tidur cepat, karena besok pasti akan sangat melelahkan,” ucap Subhita sambil terus berusaha menyisir rambutnya yang terus menggimbal.

“Jamuan penting?” tanya Galuh heran.

“Saat kita selesai makan di taman belakang istana, kita berpisah di depan perpustakaan istana. kamu dan Adhit masuk ke dalam perpustakaan untuk membawa beberapa hal, sedangkan saya ke dapur sebentar untuk mengembalikan beberapa alat makan yang telah kita gunakan,” Galuh lalu mengangguk mengiyakan.

“Disana saya mendengar pemberitaan mendadak, tentang kedatangan tamu dari perwakilan istana. Mereka adalah para Delegasi istana yang ditugaskan untuk mengawasi dunia Manusia dari Kaum Hitam.” Galuh terkejut.

“Selagi para Delegasi masuk ke dalam ruang pertemuan bersama para petinggi istana. Kita akan disibukan oleh keluarga mereka yang ikut dan menunggu di Aula besar Istana. Aah.. Kita akan melihat  perjamuan yang begitu mewah dan elegan, gaun-gaun adat indah sepanjang perjamuan, lalu penari-penari yang lemah gemulai,“ ucap Subhita dengan pandangan menerawang senang.

 “Tapi hal terbaiknya adalah, berkumpulnya para bawahan Tuan Gada Sangkara dengan baju perangnya yang membuat hati.. Aaah!!… ” teriak Subhita sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan sangat genit, matanya yang berkedip dengan penuh antusias, membuat Galuh tergelak kesekian kalinya lagi.

“Apa kamu mendengar kabar mengapa yang datang hanya para Delegasi, biasanya bila istana mengadakan sebuah perjamuan, maka yang datang adalah para petinggi dari seluruh wilayah Astamaya,“ tanya Galuh yang kini sedikit heran.

“Entahlah, ketika di dapur, saya tidak ada kabar apapun selain kedatangan para Delegasi saja,” ucap Subhita sambil mengingat-ingat.

“Tapi sudahlah, besok kita bisa coba gali informasi lebih banyak. Sekarang lekas tidur, karena besok kita akan sibuk sekali, supaya tetap semangaaat!” ucap Subhita bersemangat, yang lalu tak lama segera tertidur.

Galuh hanya bisa menggeleng, tak habis pikir dengan karakter Subhita yang dijejali sisi unik. Dalam beberapa detik semangatnya berapa-api seakan tidak pernah pudar. Tetapi dalam hitungan detik setelahnya, tanpa ritual tidur apapun, Subhita tiba-tiba langsung tertidur pulas. Galuh hanya bisa tersenyum memandang Subhita yang tiba-tiba menggumankan nama Gada Sangkara dalam tidur, entah apa yang sedang ia impikan.

Esoknya, pagi-pagi sekali Galuh dan Subhita telah siap. Bahkan kini Galuh bisa mengikat rambutnya secepat Subhita.

“Semoga kita di tempatkan di dekat Aula bawah ruang utama, bila tidak disana, yaah.. setidaknya ruangannya bersampingan.” Ucap Subhita penuh harap. “Kenapa harus Aula bawah ruang utama?” tanya Galuh ingin tahu. “Karenaaa.. para ksatria tampan selalu berkumpul di sana, mereka benar–benar vitamin terbaik untuk kesehatan mata.. Aaah… ,” ucap Subhita genit, mendengar hal tersebut, Galuh tergelak sambil menggeleng gemas.

Saat mereka berdua tengah berlari menuju ruang pelayan, “Subhita!” Tiba-tiba seseorang memanggil dengan sangat kencang. Ternyata salah satu pelayan wanita istana.

“Saya membawa beberapa helai daun mint dari kebun istana, lima lembar untukmu Subhita, lima lembar juga untukmu anak baru, dan saya menyimpan satu kantung penuh ahahahaha…. kita akan bertemu para ksatria tampan, siapkan diri kalian!” ucap pelayan wanita tersebut dengan tak kalah genitnya dari Subhita.

“Memangnya kita di tempatkan di mana? bukannya pengumumannya belum di sampaikan? “tanya Subhita penasaran.

“Saya yang bertugas mencatat urutan para pelayan yang akan bertugas, dan saya menukar nama saya beserta lima orang lainnya di tempat yang paling strategis, termasuk kalian berdua! Kita akan berada di Aula bawah ruang utamaaa!” ucap pelayan itu pada Subhita dan Galuh, setelah itu ia berlari duluan dengan genit.

 “Kita akan berada di tempat para Ksatria muda berkumpul?.. Aaaaaa!!!” teriak Subhita sambil berjingkrak kegirangan. “Ingatkan saya, besok akan saya bawakan dia makanan yang sangat banyaaak!” ucap Subhita lagi sambil merentangkan tangannya dengan lebar. Tanpa menunggu lama, Subhita menarik Galuh untuk segera berlari menuju Aula bawah ruang utama.

Begitu sampai, mereka melihat para Kepala Pelayan sudah mulai sibuk mengatur anak buahnya masing-masing. “Beruntungnya kita tidak ditempat di bagian sayap kiri, tempat itu hanya dipenuhi para sepuh dan sangat membosankan. Sedangkan di sayap kanan, terdiri dari para Bangsawan dengan segudang karakter yang membuat kita segera mati muda.” Ucap Subhita dengan raut yang membuat Galuh tergelak.

“Bagaimana dengan kamar-kamar yang ditugaskan untuk kita?” tanya Galuh penasaran. “Saat ada acara perjamuan seperti ini, para wanita Bangsawan akan sibuk berkutat di depan cermin disertai para pelayan pribadi mereka, kehadiran kita hanya akan mengganggu mereka.” Galuh mengangguk-angguk mengerti.

“Namun setelah ini selesai, bersiaplah dengan kekacauan habis perang dunia,” ucap Subhita yang membuat Galuh kembali refleks tergelak, Bahkan Adhit yang sedang memasang dekorasi bunga di atas mereka saja hampir jatuh dari tangga karena ikut tergelak.

Perjamuan pun akhirnya dimulai. Gaun kebaya adat indah milik para Nona dan Nyonya Bangsawan mulai bertebaran di sekeliling Galuh dan Subhita. Keelokan bagai bunga-bunga yang tengah bermekaran dalam sebuah taman istana.

Ada yang menggunakan bahan tule transparan yang dihiasi sulaman payet. Ada yang merancang leher kebayanya berbentuk sweethart neckline, menambah sentuhan anggun sekaligus sensual secara bersamaan. Ada juga yang menggunakan corak flora yang dipenuhi kilau payet yang menciptakan ilusi kemewahan, namun tetap mengakar pada keindahan budaya jawa barat sendiri.

Namun mata Galuh terpaut pada salah satu gaun kebaya yang menurutnya benar-benar sangat indah. Sebuah kebaya yang memadukan kemewahan klasik dan keberanian modern.

Bagian atas kebaya adalah bentuk tradisional dengan detail bordir merah marun dan emas yang cukup rumit. Lengan panjang kebaya yang dibalut kain tipis transparan dengan sedikit bordir, memberikan kesan anggun dan halus. Sementara bagian depan dihiasi bordiran bunga yang diterapkan secara geometris, membuat kesan langsing padat jadi lebih terasa.

Bagian bawahnya, ia menggunakan kain motif batik perpaduan coklat, marun dan emas yang menjuntai dengan indah. Benar-benar memancarkan aura megah, namun tetap terasa hangat. Kombinasi ini benar-benar memberikan kesan kuat dan berani, namun tetap anggun dan elegan.

“Kamu tahu Na, suatu saat saya akan memakai pakaian-pakaian indah seperti mereka,” ucap Subhita membuyarkan pandangan Galuh. Ia melihat Subhita yang masih dengan pandangan berkeliling dengan penuh takjub. Namun mata Subhita tiba-tiba membulat penuh semangat, ternyata rombongan kalangan Ksatria sudah mulai berdatangan.

“Aaah.. benar-benar vitamin mata terhebat!” ucap Subhita yang dibarengi Galuh yang tergelak lagi. Terutama saat Gada Sangkara muncul, Subhita mengipas-ngipas wajahnya yang mulai gerah dan kemerahan. “Kamu sangat menyukai Gada Sangkara ya?” goda Galuh yang membuat wajah Subhita semakin memerah.

“Siapa yang tidak menyukainya, ketampanannya dan tubuh atletisnya, ia bagaikan gula ditengah semut betina kelaparan,” ucapnya sambil menunjuk Gada Sangkara yang mulai dikerubuti para Nona Bangsawan.

Tiba-tiba mata Galuh bertemu dengan mata Gada Sangkara. “Aah Nona Naya!” Teriak Gada Sangkara yang lalu berjalan cepat menuju Galuh.

“Kamu dikenali Gada Sangkara? Itu hebaaat!” ucap Subhita terkejut senang, sedangkan Galuh kini malah menjadi panik.

- Bersambung - Desya Saghir -

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir