Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 18 – Kejutan yang sangat mengejutkan!| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Ini dari siapa?” Tanya Galuh dengan sangat terkejut! “Kamu yang bawa? Subhitaa.. jangan lakukan ini, kita makan di dapur saja seperti kemarin, mereka bisa curiga bila kamu memperlakukan saya dengan Istimewa,” ucap Galuh khawatir. Namun Subhita hanya tersenyum.
“Itu bukan dari saya kok, tapi dari Adhit.”
Jelas Subhita yang membuat Galuh terkejut. “Adhit?” ucap Galuh tidak mengerti.
“Adhit bilang, tadi malam ia diketahui
menyelinap keluar oleh salah satu teman sekamarnya, lalu… “ ucapan Subhita
berhenti sebentar. ”Agar tidak dicurigai, Adhit memberikan alasan bahwa ia
ingin bertemu sebentar karena merindukanmu.. jadi ia… Aiih…” lanjut Subhita
sambil memeluk buket bunga tersebut dengan wajah malu-malu.
“Subhita!.. itu kan hanya pura–puraaa!”
seru Galuh sambil buru-buru menutup wajahnya dengan bantal. Begitu Galuh
mengangkat wajah, Subhita langsung tergelak karena wajah Galuh kini jadi
semerah kepiting rebus!
“iyaa, saya tahu itu hanya untuk
alibi, tapi tetap saja.. bertemu diam-diam karena rindu, lalu paginya
diantarkan sarapan dan seikat besar bunga seperti ini…. aiiihh…benar-benar
romantiiiis…” ucap Subhita yang langsung tergelak karena dilempar bantal oleh
Galuh.
Tiba-tiba segel Ajag terbuka dari
dalam, tak lama terdengarlah suara para Ajag yang menyanyikan lagu cinta dengan
nada parau yang benar-benar jelek. Tidak
cukup disitu, mereka lalu menambahkan dialog hiperbola, dari rekontruksi adegan
saat Galuh tidak sengaja mencium Adhit, membuat Galuh semakin malu.
“Kalian ini! saya tidak semurah ituu!”
teriak Galuh sambil mengepal tangan dengan keras. Tanpa membuang waktu, Galuh
langsung mengetapel para Ajag satu persatu hingga membuat Subhita semakin
tergelak. NaRaja sendiri yang biasanya hanya diam dan melirik kalem, kini
tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Setelah Segel para Ajag Galuh kunci
dobel, ia kini menelungkupkan wajahnya pada bantal karena tidak tahu harus
menyanggah apa lagi.
Selesai sarapan di kamar, mereka
berlari menuju ruang apel pagi yang mulai terisi penuh para pelayan, rupanya sebagian
dari pelayan telah selesai sarapan. Tak lama Adhit datang, yang lalu menyela
beberapa orang agar bisa duduk disamping Galuh.
“Hai.. dan.. maaf..” ucap Adhit pada
Galuh, lalu melambai–lambai pada empat kawan sekamarnya diseberang sana. Setelah
itu, empat kawan sekamarnya tampak memberikan kode semangat dari jauh.
“Gossip apa yang kamu sebarkan!” bisik
Galuh sebal, rasanya ingin menjitak kepala Adhit saat itu juga. “Saya terpaksa,
karena salah seorang dari mereka terbangun tengah malam dan tidak menemukan
saya disana,” bisik Adhit menyesal.
“Kamu kan bisa bilang ke toilet!”
bisik Galuh lagi. “Nona besar.. saya meninggalkan kamar selama empat jam,
dengan waktu sepanjang itu, itu bukan lagi terkena sembelit, tapi hernia!”,
bisik Adhit gemas. Mendengar hal tersebut, Subhita tergelak dan hampir
menyemburkan camilannya.
“Tapi tenang saja, saya hanya bilang
sedang mencoba mendekati kamu, tetapi masih belum ada kejelasan apapun dari kamu,”
bisik Adhit sambil mencomot sedikit camilan Subhita. “Bisa-bisanya dengan
keadaan seperti ini kamu masih bisa makan!” ucap Galuh sambil menghela napas.
“Bagusnya, mereka tidak perlu bertanya
ini dan itu mengapa kamu selalu ingin bertemu saya hahaha..,” lanjut Adhit lagi
sambil tertawa. Lalu dengan gemas Galuh menjejalkan camilan yang hendak dilahap
Adhit. Dengan seketika tawa Subhita meledak, sedangkan Galuh memalingkan wajah
karena sebal.
Apel pagi pun selesai, Galuh dan
Subhita mendapat tugas merapikan beberapa kamar di lorong delapan, tempat
kalangan Ksatria tertinggi.
“Padahal, kemarin saya berhasil mendapatkan
kamar milik Tuan Rahadyan Sayuga, sayangnya ia sedang kurang sehat dan tidak
mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Lain kali, kita harus bisa masuk
ke kamarnya!” Bisik Subhita sambil menggepal tangan dengan gemas.
“Na, kali ini kamu harus bersabar.
Kamar para Ksatria lebih buruk dari arena perang, dan aromanyaaa… uugh…” ucap
Subhita lagi dengan mata membelalak lucu. “Kecuali kamar Tuan Gada Sangkara!” ralat
Subhita tiba-tiba.
”Semua serba bersih! pakaian kotor
terletak pada tempatnya. Gelas dan piring bekas camilan tertumpuk rapi dan siap
diangkat. Kamar mandi dengan alat mandi yang selalu pada tempatnya. Aah.. ia
bukan hanya kesayangan para wanita bangsawan, tetapi kami para pelayan..
aiih….” ucap Subhita dengan gerakan genit malu-malu, “hush..” ucap Galuh sambil
tertawa geli.
Benar saja, ketika mereka sampai di kamar
milik Gada Sangkara, semua benar-benar serba bersih. Pakaian kotor terletak
rapi ditempatnya, tidak ada pakaian bekas menggantung, handuk bekas mandi
menggantung di rak handuk, bahkan kasurnya pun seakan baru ditiduri selama lima
menit tanpa bergerak.
Dan yang paling membuat rileks, aroma
kamarnya yang beraroma lemon mint, berpadu serasi dengan aroma parfum yang
begitu hangat dan maskulin. Rasa lelah mereka berdua seakan langsung lenyap dari
kekacauan empat kamar sebelumnya.
“Saya sengaja memilih kamar terakhir
adalah kamar Tuan Gada, ya karena ini! lihat semua ini, benar-benar melepaskan
segala lelah,” ucap Subhita sambil menghirup aroma kamar dengan sangat dalam, lalu
ia berpura-pura pingsan di atas sofa besar lagi empuk. Galuh langsung tergelak melihat
tingkah Subhita yang lucu menggemaskan.
Sambil merapikan ruangan, Galuh
tertarik pada beberapa foto kecil yang memperlihatkan beberapa aktifitas Gada
Sangkara yang sekarang. Galuh terkejut, Gada ternyata telah jauh berbeda
dibandingkan ingatannya dulu.
Gada yang Galuh ingat, adalah seorang
anak kecil kerempeng yang selalu terkena ejekan dari anak Bangsawan lain. Bahkan
tak jarang, Galuh harus turun tangan karena tindakan anak-anak bangsawan lain
yang cukup keterlaluan. Namun anehnya, Gada kecil tidak pernah melaporkan ini
pada kedua orang tuanya.
Namun sekarang lihatlah, Ia menjadi
sangat gagah dan sangat berwibawa. Gada Sangkara mewarisi alis, hidung, garis
rahang dan bentuk tubuh milik ayahnya, Panglima Besar Baharyu. Namun mata dan
bibirnya benar-benar menyerupai ibunya, seorang wanita anggun yang menurut
Galuh adalah wanita tercantik yang pernah ia temui.
“Ayo Na, kita sudah beres, masih
banyak hal lain yang harus dikerjakan. Kepala Pelayan kita benar–benar pencari
masalah! Begitu menemukan ada keluhan, sekalipun tidak masuk akal, ia akan
menghukum kita dengan tugas yang menyebalkan!” Gerutu Subhita yang membuat
Galuh tersenyum geli.
“Sebentar..” ucap Galuh yang tiba-tiba
tertarik pada sebuah lukisan yang tergantung dalam ruangan yang pintunya
setengah terbuka. “Kamu menemukan sesuatu? Baiklah, saya akan merapikan rak
sebelah tempat tidur, carilah apapun yang kamu perlukan,” ucap Subhita yang
segera menuju rak yang sebenarnya sudah rapi.
Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, “Ternyata
lukisan Paman Baharyu!” pikir Galuh dengan tertarik. ia merasa Gada Sangkara benar–benar
sangat menghormati ayahnya.
“Ini adalah bangsal pribadinya, tetapi
lukisan ayahnya tergantung begitu besar di ruang kerja miliknya pribadi?
Karakter yang luar biasa!” Pikir Galuh lagi dengan takjub.
“Ada apa dengan lukisan itu?” tanya sebuah
suara berat tetapi lembut dari balik pintu lemari. Galuh yang terkejut, langsung
menjatuhkan kemoceng yang sedang sedari tadi ia pegang.
“Tidak, saya hanya terpesona melihat
karya Senirani ada disini,” ucap Galuh refleks. Pria dihadapannya tertegun
seketika, “kamu tahu pelukisnya adalah Senirani? Hyang Senirani?” ucap pria ini
tertarik sekaligus heran. Ketika Galuh menaikan wajahnya, ia baru menyadari
bahwa pria dihadapannya adalah Gada sangkara!
Lebih terkejut lagi, karena sosok Gada
Sangkara benar-benar jauh berbeda dari bayangan masa kecilnya dulu. Gada kecil
yang dulu kerempeng, kini telah menjelma menjadi pria gagah lagi tinggi besar. Selain
telah berubah menjadi pria tampan. Gada juga mempunyai otot liat yang terbingkai
rapi oleh pakaian sederhananya, menegaskan sebuah karakter bangsawan yang
berwibawa, namun tetap terbalut kesederhanaan yang tidak dibuat-buat.
“Maaf Tuan bila saya lancang, semua
sudah kami rapikan, kami mohon diri,” ucap Galuh gugup yang segera menarik
Subhita keluar kamar.
Begitu sudah agak jauh Galuh baru
berkata, “tadi Gada Sangkara memergoki saya sedang menatap lukisan paman
Baharyu,” ucap Galuh sambil mengatur napasnya yang hampir meledak. “Tuan Gada masih
di kamar? Gawat! apa Tuan Gada curiga?” tanya Subhita yang mulai panik.
“Tidak tahu, gawatnya saya malah
mengatakan bahwa saya terkejut mendapatkan karya Hyang Senirani disana,” ucap
Galuh gugup. “Bukankah itu lebih aman, jadi ia tidak perlu curiga bahwa kamu
mengenal ayahnya kan?” ucap Subhita agak lega.
“Itu sama buruknya! Menebak karya
melalui goresan lukisan, para Bangsawan pun tidak semuanya mengerti tentang ini.
Bagaimana bila ia curiga bahwa saya bukan rakyat jelata, ini lebih buruk dari
yang dilakukan Adhit tadi pagi!” ucap Galuh penuh rasa sesal.
Subhita tampak berpikir sebentar,
dan.. “Tunggu! Bukankah kamu disini dikenal sebagai keturunan Kaum Rangeh yang
terkenal cerdas kan? Saya rasa, kamu bisa bersembunyi dalam alasan itu,” ucapan
Subhita membuat Galuh terbelalak.
“Ah! Benar juga!” jawab Galuh sambil menepuk
keningnya. “Bagaimana saya lupa hal sepenting itu!” sesal Galuh. “Itu wajar
Na.. siapapun yang berada di posisi kamu, pasti panik. Apalagi dihadapan pria
setampan Tuan Gada Sangkara, Aaaah…. ” Jawab Subhita sambil berpose genit.
Galuh yang tadinya sangat tegang, kini bisa kembali tergelak.
“Aah iya.. saya baru ingat! Kata Pak
Koki Engkus kemarin, ia akan membuat pesanan seblak ceker untuk camilan siang
ini. Katanya sih, untuk pesta kecil salah satu Nona Bangsawan, Ah.. seleranya
benar-benar sangat rendah hati,” ucap Subhita senang.
“Jadii.., bagaimana kalau sekarang kita
ke dapur istana, lalu mencicipi sedikit dengan kepedasan level lima! Itu pasti akan
sangat melegakan hati!” tawar Subhita tiba-tiba. Tentu saja langsung di iyakan
oleh Galuh. Lalu dengan segera, mereka berlomba lari menuju dapur sambil
tertawa berdua.
Setelah jam bekerja selesai, Galuh,
Adhit dan Subhita kembali berkumpul di taman belakang istana. Kali ini makanan
yang dibawa agak lebih banyak, sebab Pak Koki Engkus sangat memaksa untuk
dibawa.
“Katanya salah satu Bangsawan mendadak
mengganti menu, karena tamu yang berkunjung beserta keluarganya alergi kacang! Uuh..
sering-sering saja ya pak Engkusss… jadinya kita bisa pesta kecil tiap hariii… ”
celetukan Subhita sontak membuat Galuh dan Adhit langsung tertawa geli.
Namun begitu keranjang makanan dibuka,
mata mereka bertiga langsung membulat tidak percaya. “Ini luar biasaa!” ucap
Subhita tidak percaya. Mereka terpana akan lotek bumbu kacang kental, yang disertai
beberapa bungkus besar rempeyeknya yang super gurih, nasi tutug tempe teri rawit
dengan aroma yang benar-benar menggiurkan selera, bahkan ada juga ayam bekakak
bakar komplit dengan lalapan dan sambal kacangnya.
“Ini sih pesta besar!” celetuk Adhit
dengan air liurnya bahkan hampir menetes.
Saat beberapa bungkusannya telah dibuka.
Aroma makanan yang menyeruak, benar-benar membuat tiga orang ini begitu panik.
Galuh lalu membuka segelnya sedikit
agar lebih rileks. Namun setelah segelnya agak longgar, para Ajag ternyata
sudah sangat riuh. Karena apapun yang dimakan Galuh, maka para Ajag
mencicipinya juga.
“Nasi tutug tempe dulu Galuh! Ah..
empingnya juga!” ucap Aral si Ajag tidak sabar. Lalu Neluh si Ajag protes
karena ingin mencicipi lotek bumbu kacang dahulu, mereka benar-benar sangat
ribut! Tetapi Galuh tetap tenang, lalu memakan apa saja yang ia ingin makan
terlebih dahulu tanpa mengidahkan protes para Ajag.
Kekehan NaRaja terdengar agak samar,
namun Adhit langsung menoleh karena mengenali suaranya. “NaRaja, mana yang
ingin kamu cicipi terlebih dahulu?” tanya Adhit spontan. Tawa NaRaja tampak
berhenti sebentar, sepertinya terkejut, namun setelah itu ia menjawab. “Telingamu
benar–benar tajam Dhit hahaha... Saya dan Galuh satu selera, jadi tidak masalah.”
Ucap NaRaja dengan tenang.
Selesai
makan Galuh mulai membicarakan tentang kejadian tadi siang di kamar milik Gada
Sangkara, lalu Adhit berpikir sebentar.
“Benar
yang dikatakan Subhita sebelumnya, semua orang mengenal kita sebagai Kaum Rangeh,
Kaum yang terkenal karena kecerdasannya, tentu Gada Sangkara juga pasti telah
tahu tentang itu. Saya pikir, kita masih dalam kondisi aman kok,” ucap Adhit
membenarkan perkataan Subhita.
“Benar kan..,
saya sering mendengar keluhan panjang para Bangsawan saat keluar dari ruang
pertemuan. Mereka sebal karena Tuan Gada sangat sering membela pamanmu Na, Maharaja
Ranji Raspati. Bila indetitasmu iketahui, kondisi masih aman karena ia ada di
pihak kita. Ditambah lagi kata ibu Nai, ayah Tuan Gada adalah Panglima Besar
Baharyu, selain seorang yang hebat, jujur sekaligus bijak, ia juga sahabat
ayahmu sejak kecil,” jelas Subhita bijak.
Galuh
sedikit berpikir, “Benar juga..” ucap Galuh dengan perasaan yang mulai lega.
“Bila memang
sampai diketahui, kamu bisa memikatnya dengan wajahmu kan. Pria akan sedikit
bodoh saat bertemu wanita cantik.. Hahaha..
” potong salah satu Ajag yang dibarengi tawa serta lolongan dari Ajag yang lain.
Mendengar
hal tersebut, Adhit dan Subhita tertawa begitu lepas. Sedangkan Galuh sedikit menyesal
sudah melonggarkan segel para Ajag saat itu.
“Kapan
kita bisa berkunjung lagi ke kota bawah?” tanya Subhita tiba-tiba. “Ah iya,
hampir terlupa. Saya mendapatkan pesan lewat burung Mahui milik Jinn,” ucap
Adhit yang membuat Galuh dan Subhita menoleh penasaran.
“Kita
diminta menunggu, sampai Kota bawah tanah pengaturannya benar-benar telah
selesai. Dikhawatirkan bila kita sering bolak balik ke bawah sana,
persembunyian mereka yang tepat dibawah Istana akan diketahui,” jelas Adhit yang
langsung diangguki mengerti oleh Galuh dan Subhita.
Begitu
mereka sudah kembali ke kamar masing-masing, Galuh merebahkan diri dikamar
sambil melihat Subhita yang tengah menyisir rambut keritingnya dengan heboh.
Galuh sering
dibuat tertawa oleh polah Subhita. Kadang Subhita seperti musuh bebuyutan
dengan rambutnya sendiri, kadang ia juga merawatnya dengan sepenuh hati, sambil
mengajak rambutnya bicara seakan pada bayi kecil yang super manis.
“Besok
akan ada jamuan penting dalam istana, jadi kita harus tidur cepat, karena besok
pasti akan sangat melelahkan,” ucap Subhita sambil terus berusaha menyisir
rambutnya yang terus menggimbal.
“Jamuan penting?”
tanya Galuh heran.
“Saat kita
selesai makan di taman belakang istana, kita berpisah di depan perpustakaan
istana. kamu dan Adhit masuk ke dalam perpustakaan untuk membawa beberapa hal, sedangkan
saya ke dapur sebentar untuk mengembalikan beberapa alat makan yang telah kita
gunakan,” Galuh lalu mengangguk mengiyakan.
“Disana
saya mendengar pemberitaan mendadak, tentang kedatangan tamu dari perwakilan
istana. Mereka adalah para Delegasi istana yang ditugaskan untuk mengawasi
dunia Manusia dari Kaum Hitam.” Galuh terkejut.
“Selagi
para Delegasi masuk ke dalam ruang pertemuan bersama para petinggi istana. Kita
akan disibukan oleh keluarga mereka yang ikut dan menunggu di Aula besar Istana.
Aah.. Kita akan melihat perjamuan yang
begitu mewah dan elegan, gaun-gaun adat indah sepanjang perjamuan, lalu penari-penari
yang lemah gemulai,“ ucap Subhita dengan pandangan menerawang senang.
“Tapi hal terbaiknya adalah, berkumpulnya para
bawahan Tuan Gada Sangkara dengan baju perangnya yang membuat hati.. Aaah!!… ”
teriak Subhita sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan sangat genit, matanya
yang berkedip dengan penuh antusias, membuat Galuh tergelak kesekian kalinya lagi.
“Apa kamu
mendengar kabar mengapa yang datang hanya para Delegasi, biasanya bila istana
mengadakan sebuah perjamuan, maka yang datang adalah para petinggi dari seluruh
wilayah Astamaya,“ tanya Galuh yang kini sedikit heran.
“Entahlah,
ketika di dapur, saya tidak ada kabar apapun selain kedatangan para Delegasi
saja,” ucap Subhita sambil mengingat-ingat.
“Tapi sudahlah,
besok kita bisa coba gali informasi lebih banyak. Sekarang lekas tidur, karena besok
kita akan sibuk sekali, supaya tetap semangaaat!” ucap Subhita bersemangat,
yang lalu tak lama segera tertidur.
Galuh
hanya bisa menggeleng, tak habis pikir dengan karakter Subhita yang dijejali
sisi unik. Dalam beberapa detik semangatnya berapa-api seakan tidak pernah
pudar. Tetapi dalam hitungan detik setelahnya, tanpa ritual tidur apapun, Subhita
tiba-tiba langsung tertidur pulas. Galuh hanya bisa tersenyum memandang Subhita
yang tiba-tiba menggumankan nama Gada Sangkara dalam tidur, entah apa yang
sedang ia impikan.
Esoknya,
pagi-pagi sekali Galuh dan Subhita telah siap. Bahkan kini Galuh bisa
mengikat rambutnya secepat Subhita.
“Semoga kita di
tempatkan di dekat Aula bawah ruang utama, bila tidak disana, yaah.. setidaknya
ruangannya bersampingan.” Ucap Subhita penuh harap. “Kenapa harus Aula bawah
ruang utama?” tanya Galuh ingin tahu. “Karenaaa.. para ksatria tampan selalu
berkumpul di sana, mereka benar–benar vitamin terbaik untuk kesehatan mata..
Aaah… ,” ucap Subhita genit, mendengar hal tersebut, Galuh tergelak sambil
menggeleng gemas.
Saat mereka
berdua tengah berlari menuju ruang pelayan, “Subhita!” Tiba-tiba seseorang memanggil
dengan sangat kencang. Ternyata salah satu pelayan wanita istana.
“Saya membawa
beberapa helai daun mint dari kebun istana, lima lembar untukmu Subhita, lima
lembar juga untukmu anak baru, dan saya menyimpan satu kantung penuh
ahahahaha…. kita akan bertemu para ksatria tampan, siapkan diri kalian!” ucap
pelayan wanita tersebut dengan tak kalah genitnya dari Subhita.
“Memangnya kita
di tempatkan di mana? bukannya pengumumannya belum di sampaikan? “tanya Subhita
penasaran.
“Saya yang
bertugas mencatat urutan para pelayan yang akan bertugas, dan saya menukar nama
saya beserta lima orang lainnya di tempat yang paling strategis, termasuk
kalian berdua! Kita akan berada di Aula bawah ruang utamaaa!” ucap pelayan itu
pada Subhita dan Galuh, setelah itu ia berlari duluan dengan genit.
“Kita akan berada di tempat para Ksatria muda
berkumpul?.. Aaaaaa!!!” teriak Subhita sambil berjingkrak kegirangan. “Ingatkan
saya, besok akan saya bawakan dia makanan yang sangat banyaaak!” ucap Subhita
lagi sambil merentangkan tangannya dengan lebar. Tanpa menunggu lama, Subhita
menarik Galuh untuk segera berlari menuju Aula bawah ruang utama.
Begitu sampai,
mereka melihat para Kepala Pelayan sudah mulai sibuk mengatur anak buahnya
masing-masing. “Beruntungnya kita tidak ditempat di bagian sayap kiri, tempat
itu hanya dipenuhi para sepuh dan sangat membosankan. Sedangkan di sayap kanan,
terdiri dari para Bangsawan dengan segudang karakter yang membuat kita segera
mati muda.” Ucap Subhita dengan raut yang membuat Galuh tergelak.
“Bagaimana
dengan kamar-kamar yang ditugaskan untuk kita?” tanya Galuh penasaran. “Saat
ada acara perjamuan seperti ini, para wanita Bangsawan akan sibuk berkutat di
depan cermin disertai para pelayan pribadi mereka, kehadiran kita hanya akan
mengganggu mereka.” Galuh mengangguk-angguk mengerti.
“Namun setelah
ini selesai, bersiaplah dengan kekacauan habis perang dunia,” ucap Subhita yang
membuat Galuh kembali refleks tergelak, Bahkan Adhit yang sedang memasang
dekorasi bunga di atas mereka saja hampir jatuh dari tangga karena ikut
tergelak.
Perjamuan pun akhirnya
dimulai. Gaun kebaya adat indah milik para Nona dan Nyonya Bangsawan mulai
bertebaran di sekeliling Galuh dan Subhita. Keelokan bagai bunga-bunga yang
tengah bermekaran dalam sebuah taman istana.
Ada yang
menggunakan bahan tule transparan yang dihiasi sulaman payet. Ada yang merancang
leher kebayanya berbentuk sweethart neckline, menambah sentuhan anggun
sekaligus sensual secara bersamaan. Ada juga yang menggunakan corak flora yang
dipenuhi kilau payet yang menciptakan ilusi kemewahan, namun tetap mengakar
pada keindahan budaya jawa barat sendiri.
Namun mata Galuh
terpaut pada salah satu gaun kebaya yang menurutnya benar-benar sangat indah.
Sebuah kebaya yang memadukan kemewahan klasik dan keberanian modern.
Bagian atas
kebaya adalah bentuk tradisional dengan detail bordir merah marun dan emas yang
cukup rumit. Lengan panjang kebaya yang dibalut kain tipis transparan dengan
sedikit bordir, memberikan kesan anggun dan halus. Sementara bagian depan
dihiasi bordiran bunga yang diterapkan secara geometris, membuat kesan langsing
padat jadi lebih terasa.
Bagian
bawahnya, ia menggunakan kain motif batik perpaduan coklat, marun dan emas yang
menjuntai dengan indah. Benar-benar memancarkan aura megah, namun tetap terasa hangat.
Kombinasi ini benar-benar memberikan kesan kuat dan berani, namun tetap anggun
dan elegan.
“Kamu tahu Na,
suatu saat saya akan memakai pakaian-pakaian indah seperti mereka,” ucap
Subhita membuyarkan pandangan Galuh. Ia melihat Subhita yang masih dengan
pandangan berkeliling dengan penuh takjub. Namun mata Subhita tiba-tiba membulat
penuh semangat, ternyata rombongan kalangan Ksatria sudah mulai berdatangan.
“Aaah..
benar-benar vitamin mata terhebat!” ucap Subhita yang dibarengi Galuh yang
tergelak lagi. Terutama saat Gada Sangkara muncul, Subhita mengipas-ngipas
wajahnya yang mulai gerah dan kemerahan. “Kamu sangat menyukai Gada Sangkara ya?”
goda Galuh yang membuat wajah Subhita semakin memerah.
“Siapa yang
tidak menyukainya, ketampanannya dan tubuh atletisnya, ia bagaikan gula
ditengah semut betina kelaparan,” ucapnya sambil menunjuk Gada Sangkara yang
mulai dikerubuti para Nona Bangsawan.
Tiba-tiba mata
Galuh bertemu dengan mata Gada Sangkara. “Aah Nona Naya!” Teriak Gada Sangkara
yang lalu berjalan cepat menuju Galuh.
“Kamu dikenali
Gada Sangkara? Itu hebaaat!” ucap Subhita terkejut senang, sedangkan Galuh kini
malah menjadi panik.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar