Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 16 – Pagi yang merepotkan!|

Saat masuk, langkah Galuh langsung terhenti karena aroma mawar yang menyeruak sangat keras. Lalu Galuh menatap Subhita dengan mata yang mengernyit.

“Ini.. dikarenakan Tuan Rahadyan sering mengeluhkan aroma tidak sedap dari kamar Nona Spathika,” bisik Subhita sambil menunjuk ke satu dupa diruang tengah, yang setelah itu ia lanjut menunjuk pada beberapa pojokan tempat yang membuat Galuh tersentak.

Tumpukan gaun adat dan selendang bekas berserakan dibeberapa tempat. Beberapa botol kosmetik dan perawatan kulit mahal juga tergeletak sangat sembarang. Belum lagi, kapas pembersih bekas yang berhamburan dari atas sampai kolong meja rias, benar-benar seperti kapal pecah. “Jorok sekali!” pikir Galuh dengan terkejut.

Melangkah ke arah lebih dalam, Galuh kembali tersentak. Spathika memasang lukisan dirinya disemua sudut dengan ukuran sangat besar. Dalam setiap lukisan, Spathika tampak berpose anggun sambil memamerkan perhiasan berkilau dan deretan barang mewah yang paling terkenal di Astamaya.

Namun yang paling membuat Galuh terperangah adalah, sebuah lukisan yang menggambarkan Spathika duduk di singgasana, seakan dia adalah ratu Astamaya. Sementara disekelilingnya menunduk beberapa pelayan bak hamba sahaya miliknya.

Galuh menatap lukisan besar Spathika sambil menggeleng dengan heran, “Spathika dari Klan Merah, dia bukan hanya tidak berubah, tetapi lebih parah dari sebelumnya!” bisik Galuh pada dirinya sendiri.

“Kamu mengenalnya Na?” bisik Subhita hati-hati. “Tentu saja.. siapa yang tidak mengenal Spathika, salah satu anak bangsawan dengan keangkuhan paling menyebalkan!” bisik Galuh sebal.

Mendengar hal tersebut, Subhita agak panik dan langsung melihat sekeliling. “Nona Spathika ada dimana?” tanya Subhita pada pelayan yang berdiri agak jauh dari mereka, ia mencoba memastikan bahwa di kamar ini hanya tinggal pelayan tersebut.

“Nona sedang berendam ramuan bunga bersama teman–temannya,” ucap pelayan tersebut sambil menunjuk pada kolam besar dari balik jendela. Dari kejauhan, Galuh dan Subhita melihat sekumpulan anak perempuan dari bangsawan terkemukan Astamaya, tengah berendam ratusan bunga putih sambil bersenang-senang.

“Baiklah” ucap Subhita lega. “Kami akan membereskan semua ini dengan segera,” ucap Subhita yang segera diangguki oleh pelayan tersebut. Tak lama, pelayan tersebut berlari karena mendengar Spathika berteriak memanggil, lengkingan suaranya benar-benar sangat tidak enak di dengar.

Setelah pelayan tadi sudah terlihat ada disamping Spathika, Subhita berbisik, ”Na.. carilah apapun yang kamu butuhkan disini, saya akan membereskan semua ini seakan kita berdua yang telah mengerjakannya,” ucap Subhita sambil bersiap-siap.  

Galuh menatap Subhita heran, mereka baru berkenalan satu hari, tetapi Subhita begitu tahu apa yang memang saat ini ia butuhkan.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Galuh tidak enak hati.

“Tidak merepotkan sama sekali, ruangan Nona Spathika adalah yang paling dihindari para pelayan, maka mudah untuk saya untuk meminta bertukar tempat. Jadi jangan khawatir, saya bekerja agar kita berdua selamat. Tetapi kamu bekerja, agar Kaum Putih selamat, tugasmu lebih besar Na!” bisik Subhita sambil mengedip, setelah itu ia bekerja dengan sangat cekatan.

Saat Galuh sedang mencari beberapa informasi, tidak sengaja beberapa bunga terbawa sampai pinggir kolam dekat dengan jendela. Ketika Galuh mengenali jenisnya, ia langsung terkejut!

“Ratusan bunga melati angin dipakai hanya untuk berendam? benar-benar tidak punya pikiran!” bisik Galuh geram, ia benar-benar kesal melihat sekumpulan gadis-gadis egois, yang memanfaatkan posisi orang tua mereka demi ego dan kesenangan diri sendiri.

“Bunga melati angin? bunga macam apa itu?” tanya Subhita heran yang lalu berhenti bekerja untuk ikut melihat pada jendela.

“Melati angin tidak seperti bunga melati pada umumnya, ia termasuk tanaman langka karena hanya hidup di wilayah Hawa, wilayah elemen angin. Bunga ini mempunyai segudang khasiat, terutama memperbaiki jaringan organ dalam yang sulit diobati, “ ucap Galuh yang lalu berhenti sebentar, ia mengatur napasnya dulu, agar segumpal emosi yang sedang coba ia tahan tidak meledak begitu saja.

Setelah cukup tenang, Galuh kembali meneruskan. ”Seharusnya, bunga ini disalurkan untuk rakyat kecil yang sakit keras tapi tidak memiliki biaya. Tetapi mereka menghamburkan tanaman langka ini demi kecantikan kulit? egois sekali!” ucap Galuh dengan marah yang tertahan. Mendengar hal tersebut Subhita langsung terkejut bukan main.

“Nona Spathika benar-benar memanfaatkan kekuasaan ayahnya, Tuan Rahadyan Sayuga!” bisik Subhita ikut marah namun tetap hati-hati.

Mendengar nama Rahadyan Sayuga, memori Galuh kembali pada masa kecilnya. Rahadyan Sayuga, pria perlente berlidah ular, sedikit penjilat, namun kekuasaannya bukan sebuah omong kosong. Perpaduan yang sulit menghempaskan dirinya dari istana.

“Tidak mengherankan bila putrinya tumbuh seperti ini, ia benar-benar mewarisi karakter jelek ayahnya,” pikir Galuh geram.

“Oh iya Na, tempat tidur sudah saya selesaikan, sekarang saya akan membereskan kamar mandi, kamu mau ikut melihat apa yang bisa kamu temukan disana?” tanya Subhita yang membuyarkan lamunan Galuh.

Setelah di iyakan, Galuh mengekori Subhita masuk ke kamar mandi. Namun, ternyata disana lebih parah. Pakaian dalam bekas berserakan diseluruh pojokan lantai kamar mandi. Perlengkapan mandinya sendiri berjatuhan dari mulai rak hingga lantai kamar mandi.

“Spathika bukannya memiliki beberapa pelayan pribadi, mengapa masih berantakan bahkan sampai separah ini?” tanya Galuh heran, namun Subhita malah tertawa ketika melihat reaksi kaget Galuh.

 “Mereka tidak sempat sama sekali, Nona Spathika benar–benar manja seperti bayi. Ia harus dilayani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Belum lagi dengan permintaan–permintaan yang tidak masuk akalnya,” ucap Subhita sambil membereskan beberapa alat mandi yang terjatuh.

“Permintaan tidak masuk akal? Seperti apa?” tanya Galuh penasaran,

“Demi tampil premium di jamuan makan malam bersama para pembesar Istana, Nona Spathika pernah memaksa ayahnya agar diracikan parfum yang terbuat dari tanaman yang hanya tumbuh di dekat bukit Ruh. Aromanya memang sangat membius dan meninggalkan jejak harum yang sangat memabukan, tetapi itu tanaman yang teramat sangat langka. Prosesnya sendiri memakan biaya yang setara dengan persediaan makan penduduk desa selama berbulan-bulan. Sedangkan saat itu rakyat sedang terkena wabah serius buatan Kaum Hitam,” ucap Subhita sambil terus bekerja.

Galuh sangat terkejut, “seburuk itukah perangainya?” pikir Galuh dengan tidak percaya. “Lalu bagaimana dengan Sundara, adiknya Spathika?” tanya Galuh yang lalu ikut membantu Subhita.

“Tidak jauh berbeda, kejadiannya baru enam bulan lalu. Saat akan diadakan pesta tahunan istana, kabarnya Nona Sundara minta diambilkan air tetesan embun pertama dari kelopak anggrek muara sekitar bukit Ruh.” Jawab Subhita yang kini beralih membereskan beberapa rak yang isinya berceceran tidak karuan.

“Kulitnya memang jadi pusat perhatian karena berpendar dengan indah, tetapi hal tersebut membuat beberapa prajurit dan salah satu pelayan pribadinya bukan hanya tidak tidur semalaman, mereka hampir mati karena berurusan dengan para Ruh,” ucap Subhita yang membuat Galuh semakin terkejut.

“Benar-benar sangat egois!” ucap Galuh geram.

Lalu pandangan Galuh kembali pada keadaan sekitar, “pantas saja kamar ini yang paling dihindari para pelayan, benar-benar membuat stress! lalu kamu sendiri?” tanya Galuh heran melihat Subhita yang tampak sangat menikmati pekerjaanya. “Kalau saya, yaa.. sedikiiit.. hahaha.. ” ucap Subhita sambil tertawa.

“Saat panti asuhan kami terbakar, saya dan anak-anak lain berlarian untuk menyelamatkan diri. Namun ditengah kekacauan tersebut, muncul beberapa orang Kaum Hitam mendorong kembali ibu panti dan beberapa pengurus kami ke dalam kobaran api, lalu menculik kami satu persatu. Namun saya lolos karena disembunyikan Ibu Nai yang kebetulan lewat disana,” ucap Subhita yang berhenti bekerja sebentar. Ada sekilas memori perih yang membekas dalam sorot mata Subhita, namun setelah tersadar, Subhita kembali tersenyum dengan ceria.

“Kalau dulu ibu Nai tidak menyelamatkan saya, mungkin saat ini, saya sudah dengan kondisi entah seperti apa. Jadi.. inilah cara saya bersyukur,“ tambah Subhita yang lalu meneruskan membereskan meja rias seakan adalah miliknya sendiri. Galuh semakin takjub dengan karakter Subhita yang luar biasa.

“Kaum Hitam menculik anak-anak panti? Untuk apa?” tanya Galuh heran. “Kabar yang beredar, mereka sedang menciptakan bibit pasukan baru. Mereka menyerang serempak dalam satu malam, setelah itu hilang tanpa jejak.” Ucap Subhita sambil bergidik.

“Saat itu banyak sekali panti asuhan yang terbakar, dan hanya sebagian kecil yang berhasil meloloskan diri seperti saya,” ucap Subhita agak murung, namun setelah itu Subhita menarik napas dalam, dan kembali tersenyum seperti biasa.

“Na, nanti kita bicarakan ini saat tugas kita selesai. Sekarang, konsentrasilah dengan yang akan kamu lakukan,” ucap Subhita mengingatkan. Galuh mengangguk lalu kembali berkeliling kamar.

Tiba-tiba Galuh menemukan lukisan yang begitu dikenalnya. “Tidak mungkin!” pikirnya sedikit tidak percaya. Saat Galuh menyentuh, lalu menggeser salah satu ukiran tembok disamping lukisan tersebut, ternyata ukiran tersebut bergeser, yang setelah itu memperlihatkan lubang yang begitu kecil.

Lalu Galuh melihat cermin rias diseberang lukisan tersebut, akhirnya ia ingat. “Dulu, lukisan ini yang pernah terlihat melalui pantulan cermin meja rias, namun saat itu ini masih kamar milik Rahadyan Sayuga,” pikir Galuh terkejut sekaligus senang. Ia baru ingat bila istana memiliki lorong rahasia!

Dengan cepat ia menghampiri Subhita untuk membantu pekerjaanya agar cepat selesai, lalu setelah selesai, Galuh menarik Subhita untuk segera menemukan Adhit.

Karena Galuh menarik Subhita begitu terburu, saat baru keluar dari pintu, Galuh malah tidak sengaja bertabrakan dengan Adhit yang kebetulan lewat hingga jatuh terjungkal. Sontak, buku-buku dalam kereta dorong yang Adhit bawa, kini berhamburan ke semua arah. Saat tersadar, Galuh malah mendapati bibirnya sudah menempel di atas bibir Adhit.

“Aiih… romantis sekaliiiii..!!” teriak Subhita heboh.

Galuh yang tersadar, segera menarik tubuhnya dengan wajah sangat merah padam. sedangkan Adhit malah tertawa sehingga Galuh mencubit lengan Adhit dengan sangat keras, namun hal itu malah membuat Adhit tertawa semakin senang.

“Nanti di saat waktu bekerja berakhir, kita bertemu di taman bunga selatan, penting!” ucap Galuh yang lalu menarik Subhita untuk segera berlalu, ia benar-benar tidak bisa memandang wajah Adhit karena menahan malu.

Sedangkan Adhit, kini memandang Galuh yang berlari semakin menjauh. “Memang dia menemukan apa?” pikir Adhit sambil merapikan seluruh buku yang tadi berhamburan. Lalu pergi dari sana sambil tersenyum mengenang kejadian barusan.

Setelah jam bekerja Adhit selesai, dan semua buku juga sudah dikembalikan pada perpustakaan istana, ia segera menuju tempat yang di janjikan, taman bunga selatan.

Adhit yang sedari tadi kelelahan karena terus bolak balik mengantar buku, merasa cukup terobati dengan suasana pemandangan sekitar. Ia bahkan berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan sekeliling yang ternyata sangat menakjubkan.

“Benar-benar taman bunga yang sangat luas dan memukau,” pikir Adhit dengan tidak berhenti berdecak. Matanya begitu terpesona dengan hamparan ratusan bunga rimbun, yang menyebar dengan cantik dibawah langit sore yang begitu indah. Disana juga terdapat beberapa kubah mini yang sengaja ditempatkan dibawah pepohonan rindang.

Ketika cahaya matahari sore menyelusuk masuk dari sela-sela rindangnya daun pepohonan, keindahan taman yang dipenuhi hamparan bunga ini jadi terasa semakin berkali lipat.

Dari sudut jauh, Adhit melihat Galuh dan Subhita ternyata sudah sampai. Mereka tengah duduk di salah satu kubah mini sambil membuka beberapa bungkusan makanan.

Adhit sedikit tertegun saat melihat mereka berdua tertawa begitu akrab. Selama ini, tidak ada yang pernah bisa sedekat ini dengan Galuh, bahkan Jinn Si Kelinci yang jenaka sekalipun. Tetapi Subhita? ia bisa melewati benteng Galuh dengan sangat mudah.

Tiba–tiba terpikir hal jahil di kepala Adhit, ia segera merunduk di antara bunga–bunga dan.. “ Hoaaa!!!..” teriak Adhit sambil menyembul jahil dari belakang bunga-bunga. Galuh dan Subhita terperanjat hingga beberapa kue kering terpental.

“Adhit!” teriak Galuh terkejut, tetapi para Ajag tertawa sangat senang. Saat berada jauh dari orang–orang, Galuh memang sengaja melonggarkan segelnya sedikit untuk istirahat sebentar. tawa para Ajag membuat Adhit dan Subhita refleks menoleh.

“Hai.. apa kabar, lama sekali tidak mendengar suara kalian?” ucap Adhit santai.

“Hehehe.. kami sedari tadi menunggumu Dhit!” ucap para Ajag senang. “Ya kami menunggumu, kami bosan karena pembicaraan dua wanita ini hanya berkisar makanan, camilan, dan semua hal yang ditempeli renda… Aaargh….” Ucap salah satu Ajag kesal yang disambut teriakan sebal yang sama dari pada Ajag lain.

“Hai Subhitaa…” ucap salah satu Ajag diluar perkiraan, lalu para Ajag lain mulai terbahak kembali.

“Agul berani menyapaaa… Hahahahaha….” ucap salah satu Ajag sehingga sorakan semakin riuh, mendengar celotehan para Ajag, Adhit dan Subhita tertawa semakin lepas.

Galuh juga tertawa, namun ia merasa sedikit aneh. Selama para Ajag bersemayam ditubuhnya, tidak ada satupun dari orang–orang disampingnya disambut dengan ramah. Mereka selalu mendapat ucapan menyebalkan dari para Ajag, tidak terkecuali Kakek Addar. namun dengan Adhit dan Subhita, para Ajag justru bisa berbicara dengan begitu lepas dan santai.

“Baiklah, kalian sudah dulu bicaranya, saya ada pembicaraan serius bersama Adhit, jadi.. jangan mengganggu!” ucap Galuh galak. “ Hhh.. baiklaah nona bawel!” ucap salah satu Ajag dengan nada sedikit kesal, yang lalu disambut tawa Ajag yang lain dengan kekeh menertawakan. Setelah Galuh mengencangkan kembali segel para Ajag, barulah ia bicara.

“Apa sudah ada kabar dari Jinn tentang Kakek Addar?” tanya Galuh khawatir. “Jinn belum datang sampai saat ini,” jawab Adhit yang justru membuat Galuh semakin khawatir. “Semoga saja ia selamat dan Kakek dan para penghuni gua baik-baik saja,” ucap Galuh penuh harap.

“Ah iya, Dhit.. ketika saya dan Subhita merapikan kamar Spathika, anak dari petinggi Klan Merah, Rahadyan Sayuga, saya menemukan sesuatu!” ucap Galuh berapi-api.

“Apa yang kamu temukan?” tanya Adhit terkejut penasaran. “Kamu ingat kisah yang diceritakan Kakek Addar, tentang bagaimana saya bisa masuk ke dalam tempat para Tetua Hitam disegel?” ucap Galuh lagi.

“Ya, saya ingat,” ucap Adhit semakin tidak sabar.

“Ini dikarenakan, saat kecil dulu saya pernah mencuri dengar pembicaraan rahasia antara ayah dan paman Ranji. Tentang bahwa semua kamar–kamar yang dibangun di istana ini, sebenarnya telah disertai lorong rahasia untuk berlari saat terdesak.” Mendengar hal tersebut, Adhit dan Subhita langsung terkejut.

“Jadi itu yang membuatmu tiba-tiba menyelesaikan pekerjaan dengan cepat?” tanya Subhita memastikan. “Benar sekali!” jawab Galuh mengiyakan.

“Semua kamar di istana ini, juga telah disisipi lubang tersembunyi untuk mengintip musuh,” ucap Galuh membuat Adhit dan Subhita semakin terkejut. “Saya baru mengingatnya, saat mengenali beberapa barang yang ada di kamar Spathika!” ucap Galuh berapa-api.

“Luar biasa!, ini merupakan sebuah keuntungan buat kita. Jadi, kita bisa tahu, mana yang berada di pihak kita, dan mana dipihak lawan!” ucap Adhit tidak percaya. Sedangkan Subhita mengangguk-angguk serius sambil terus mengunyah.

“Kamu yakin tidak tahu tentang lorong ini selain kita? jangan–jangan malah ternyata mereka sudah menggunakannya untuk rapat rahasia,” ucap Adhit penasaran sambil menggigit satu kue lapis dengan satu gigitan besar.

“Untuk memastikannya, nanti malam kita check dari kamar Subhita,” ucap Galuh yang akhirnya menggigit juga kue basah yang ia pegang sejak tadi.

“Dari kamar saya juga ada pintu menuju lorong rahasia?” ucap Subhita tidak percaya. “Menurut pembicaraan Ayah dan Paman Ranji, semua ruangan di istana ini dilewati lorong rahasia, termasuk toilet umum bahkan dapur,” ucap Galuh mengiyakan.

“Waah.. itu bagus, nanti malam saya akan menyelinap ke kamar kalian, lalu kita bicarakan rencana selanjutnya disana. Kamar tempat saya tidur selalu saja dipenuhi banyak orang, sedangkan tempat lain sangat tidak aman, “jelas Adhit yang diangguki mengerti oleh Galuh dan Subhita.

Namun tiba-tiba terdengar terkekeh senang, padahal Galuh sudah mengunci kembali segel para Ajag.

“Bagaimana kalian?” tanya Galuh dengan terkejut.

“Wanita Ruh itu telah mengacaukan mantera segel!” jelas NaRaja dengan kesal. “Sudahlah, nanti saya bantu mengunci dari dalam,” ucap NaRaja lagi. Kali ini Adhit yang heran, “sebenarnya NaRaja itu di pihak siapa sih, mengapa ia malah memberitahu kelemahan dari segelnya?” pikir Adhit semakin tidak mengerti.

“Hehehe… ngomong-ngomong, tadi ada yang membicarakan soal malam–malam akan menyelinap kamar wanita, itu rencana yang mencurigakan sekali.. hehehe” ucap Aral Sang Ajag yang dibarengi lolongan–lolongan Ajag yang lain dengan lolongan mengejek, Adhit diledek malah tertawa lepas.

“Hahaha.. hei.. hei.. kalian, harap ingat, bukankah Galuh ini lebih buas dari kalian! Saya mana berani macam-macam dengan seseorang yang bisa mengetapel kalian sesuka hati.” Seru Adhit sambil terkekeh, sontak hal tersebut disambut gelak tawa para Ajag dengan sangat senang sekali.

“Dia benar sekali hahahaha…!” ucap salah satu Ajag membenarkan. Galuh hanya bisa memandang Adhit dengan sebal. Sedangkan Subhita yang sedang asik makan, tiba-tiba langsung menyembur dan tergelak sangat kencang.

Setelah puas tertawa, mereka segera beralih untuk membicarakan rencana nanti malam. Galuh yang benar-benar tahu dalam memimpin arah narasi dalam pembicaraan, bukan hanya  memimpin pembicaraan dengan sangat tenang dan terkendali, ia bahkan bisa membagi tugas, menimbang resiko, menutup celah kelemahan rencana, sekaligus memastikan bahwa setiap detail tidak akan terlewat sama sekali.

Lalu Adhit sendiri, dengan kecerdasan taktisnya dalam membangun strategi, ia membuat ide-ide cerdas sehingga rencana tersebut jadi semakin matang. Sambil menyimak, Subhita diam-diam langsung kagum pada keduanya.

“Begitu tugas ini selesai, kalian menikah saja ya, supaya Astamaya tetap aman dan tentram,” ucap Subhita jahil, sontak Galuh yang mendengar langsung mencubit Subhita dengan gemas. Diantara gelak tawa Subhita, Adhit sendiri mengakui, bahwa Galuh memang wanita yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun.

“Jadi bagaimana?” tanya Galuh memastikan. “Oke, sampai ketemu nanti malam!” jawab Adhit dengan yakin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir