Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 24 – Ada apa dengan Kitab Sembilan?| By: Desya Saghir

Akhirnya mereka sampai di Merapi. Suasana begitu hening dan tenang. Galuh hanya melihat ada beberapa pendaki yang terlihat sangat jauh, lalu asap putih yang mengepul sebagai tanda aktivitas vulkanik yang terus berlangsung. Selebihnya, hanya aroma udara yang berbau belerang dan udara yang dingin menusuk, seakan mengisi kekosongan jeda antara mereka dengan alam sekitar. Pandangan Galuh beralih pada langit, lalu merasa lega karena tidak menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan. Disisi lain, karena ditempat pencarian mereka masih ada beberapa pendaki, maka Gada Sangkara dan Ragadewa berinisiatif berkeliling untuk memasang segel benteng pemantul disekitar mereka. Selain agar tidak ada satu mahluk pun yang masuk dalam wilayah yang mereka batasi, segel benteng tersebut juga akan membuat kehadiran mereka disana jadi tak kasat mata. Sedangkan Soma Wisesa, setelah meminjam mata Ruh yang dipegang Galuh, ia segera mengeluarkan energinya untuk membuka tabir Kitab Candrakara. Lalu Adhit, ia ...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 23 – Hyang Sawarga | By: Desya Saghir

 Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya awan yang mereka tumpangi berhenti. Mereka terkesima, karena dihadapan mereka kini terdapat sebuah Villa besar yang menyembul dari ceruk sisi gunung yang cukup tersembunyi. Saat awan yang mereka tumpangi mendarat, Galuh dan kawan-kawan semakin terkesima. Visual mereka langsung disambut dengan lantai, dinding hingga plafon teras depan, yang semuanya terbuat dari susunan artistik batuan andesit. Lalu ditambah beberapa aksen kayu jati, pot tembikar dan lampu antik di berbagai sudut, menjadikan suasana teras bukan hanya terasa hangat, tetapi juga elegan secara estetik. Satu persatu dari mereka turun. Namun begitu Gada Sangkara mengulurkan tangannya untuk membantu Galuh turun, ditambah gaya aristrokratnya yang sangat suamiable, sontak membuat dada Adhit terasa gerah. Bagi Adhit, Gada sangkara meskipun terlihat sangat maskulin, Gada mempunyai kepribadian lembut dan sangat hangat. Jenis kepribadian yang membuat wanita manapun pasti ak...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 22 – Pertemuan tak terduga! | By: Desya Saghir

Pintu gerbang menuju dunia Manusia yang terletak di dalam lorong rahasia Istana, ternyata mengarah pada jantung kota Jakarta. Lebih tepatnya, mereka keluar dari pintu tugu Monas! Adhit mengenal pemandangan luar itu, dari balik pintu berdinding marmer tersebut, terdengarlah suara Jakarta yang begitu familiar di telinganya. Suara klakson, sayup riuh suara orang sekitar, disertai angin yang membawa aroma aspal hangat, seakan menyatu dan menjadi simfoni yang sangat dikenali oleh Adhit. Galuh memandang Adhit yang tengah tersenyum. “Jakarta! Ini adalah kota yang selalu Adhit ceritakan saat di Gua Bawah tanah dulu,” pikir Galuh, yang lalu memandang arah luar dengan penuh rasa ingin tahu. Selesai mengantar, Jinn Si Kelinci kembali masuk ke dalam lorong rahasia. Lalu setelah itu, pintu yang menghubungkan mereka dengan Astamaya pun menghilang. Gada Sangkara mengamati pakaian beberapa orang yang lewat. Lalu dengan energinya, ia mengubah jalur jalinan tenun benang pakaiannya sehingga membe...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 21 – Perjalanan menuju dunia Manusia. | By: Desya Saghir

                 “Maksud anda.. jadi ramalan itu sudah mulai terjadi? Ramalan tentang akan adanya sebuah perang besar di Astamaya?” Tanya salah satu Tetua Putih hampir tidak percaya, Kakek Addar mengiyakan. “Kitab Candrakara bukan hanya membahas tentang akan adanya sebuah perang besar, melainkan juga dimana letak pecahan Batu Hyang Sawarga disembunyikan,” sontak hal tersebut membuat Para Tetua Putih terkejut. “Tuan Addar.. apa keseluruhan Kitab tersebut telah berhasil diterjemahkan?” tanya Tetua Putih lain dengan penuh rasa ingin tahu. “Hanya sebagian kecil. Beberapa paragraf yang berhasil diterjemahkan berisikan tentang; Perang besar, ciri-ciri para pemilik elemen, dan perintah tentang membawa pulang kembali Batu Hyang Sawarga, untuk di hancurkan di dalam ruang penyimpanannya dulu.” Jelas Kakek Addar. “Mengapa harus dihancurkan? Bukankah justru kita bisa memanfaatkannya untuk melawan Kaum Hitam? Selama ini kita selalu bergerak s...