Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 24 – Ada apa dengan Kitab Sembilan?| By: Desya Saghir

Akhirnya mereka sampai di Merapi. Suasana begitu hening dan tenang. Galuh hanya melihat ada beberapa pendaki yang terlihat sangat jauh, lalu asap putih yang mengepul sebagai tanda aktivitas vulkanik yang terus berlangsung. Selebihnya, hanya aroma udara yang berbau belerang dan udara yang dingin menusuk, seakan mengisi kekosongan jeda antara mereka dengan alam sekitar. Pandangan Galuh beralih pada langit, lalu merasa lega karena tidak menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan. Disisi lain, karena ditempat pencarian mereka masih ada beberapa pendaki, maka Gada Sangkara dan Ragadewa berinisiatif berkeliling untuk memasang segel benteng pemantul disekitar mereka. Selain agar tidak ada satu mahluk pun yang masuk dalam wilayah yang mereka batasi, segel benteng tersebut juga akan membuat kehadiran mereka disana jadi tak kasat mata. Sedangkan Soma Wisesa, setelah meminjam mata Ruh yang dipegang Galuh, ia segera mengeluarkan energinya untuk membuka tabir Kitab Candrakara. Lalu Adhit, ia ...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 23 – Hyang Sawarga | By: Desya Saghir

 Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya awan yang mereka tumpangi berhenti. Mereka terkesima, karena dihadapan mereka kini terdapat sebuah Villa besar yang menyembul dari ceruk sisi gunung yang cukup tersembunyi. Saat awan yang mereka tumpangi mendarat, Galuh dan kawan-kawan semakin terkesima. Visual mereka langsung disambut dengan lantai, dinding hingga plafon teras depan, yang semuanya terbuat dari susunan artistik batuan andesit. Lalu ditambah beberapa aksen kayu jati, pot tembikar dan lampu antik di berbagai sudut, menjadikan suasana teras bukan hanya terasa hangat, tetapi juga elegan secara estetik. Satu persatu dari mereka turun. Namun begitu Gada Sangkara mengulurkan tangannya untuk membantu Galuh turun, ditambah gaya aristrokratnya yang sangat suamiable, sontak membuat dada Adhit terasa gerah. Bagi Adhit, Gada sangkara meskipun terlihat sangat maskulin, Gada mempunyai kepribadian lembut dan sangat hangat. Jenis kepribadian yang membuat wanita manapun pasti ak...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 22 – Pertemuan tak terduga! | By: Desya Saghir

Pintu gerbang menuju dunia Manusia yang terletak di dalam lorong rahasia Istana, ternyata mengarah pada jantung kota Jakarta. Lebih tepatnya, mereka keluar dari pintu tugu Monas! Adhit mengenal pemandangan luar itu, dari balik pintu berdinding marmer tersebut, terdengarlah suara Jakarta yang begitu familiar di telinganya. Suara klakson, sayup riuh suara orang sekitar, disertai angin yang membawa aroma aspal hangat, seakan menyatu dan menjadi simfoni yang sangat dikenali oleh Adhit. Galuh memandang Adhit yang tengah tersenyum. “Jakarta! Ini adalah kota yang selalu Adhit ceritakan saat di Gua Bawah tanah dulu,” pikir Galuh, yang lalu memandang arah luar dengan penuh rasa ingin tahu. Selesai mengantar, Jinn Si Kelinci kembali masuk ke dalam lorong rahasia. Lalu setelah itu, pintu yang menghubungkan mereka dengan Astamaya pun menghilang. Gada Sangkara mengamati pakaian beberapa orang yang lewat. Lalu dengan energinya, ia mengubah jalur jalinan tenun benang pakaiannya sehingga membe...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 21 – Perjalanan menuju dunia Manusia. | By: Desya Saghir

                 “Maksud anda.. jadi ramalan itu sudah mulai terjadi? Ramalan tentang akan adanya sebuah perang besar di Astamaya?” Tanya salah satu Tetua Putih hampir tidak percaya, Kakek Addar mengiyakan. “Kitab Candrakara bukan hanya membahas tentang akan adanya sebuah perang besar, melainkan juga dimana letak pecahan Batu Hyang Sawarga disembunyikan,” sontak hal tersebut membuat Para Tetua Putih terkejut. “Tuan Addar.. apa keseluruhan Kitab tersebut telah berhasil diterjemahkan?” tanya Tetua Putih lain dengan penuh rasa ingin tahu. “Hanya sebagian kecil. Beberapa paragraf yang berhasil diterjemahkan berisikan tentang; Perang besar, ciri-ciri para pemilik elemen, dan perintah tentang membawa pulang kembali Batu Hyang Sawarga, untuk di hancurkan di dalam ruang penyimpanannya dulu.” Jelas Kakek Addar. “Mengapa harus dihancurkan? Bukankah justru kita bisa memanfaatkannya untuk melawan Kaum Hitam? Selama ini kita selalu bergerak s...