Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 21 – Perjalanan menuju dunia Manusia. | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Maksud anda.. jadi ramalan itu sudah mulai terjadi? Ramalan tentang akan adanya sebuah perang besar di Astamaya?” Tanya salah satu Tetua Putih hampir tidak percaya, Kakek Addar mengiyakan.
“Kitab Candrakara bukan hanya
membahas tentang akan adanya sebuah perang besar, melainkan juga dimana letak
pecahan Batu Hyang Sawarga disembunyikan,” sontak hal tersebut membuat Para
Tetua Putih terkejut.
“Tuan Addar.. apa keseluruhan Kitab
tersebut telah berhasil diterjemahkan?” tanya Tetua Putih lain dengan penuh
rasa ingin tahu.
“Hanya sebagian kecil. Beberapa
paragraf yang berhasil diterjemahkan berisikan tentang; Perang besar, ciri-ciri
para pemilik elemen, dan perintah tentang membawa pulang kembali Batu Hyang
Sawarga, untuk di hancurkan di dalam ruang penyimpanannya dulu.” Jelas Kakek
Addar.
“Mengapa harus dihancurkan?
Bukankah justru kita bisa memanfaatkannya untuk melawan Kaum Hitam? Selama ini
kita selalu bergerak seimbang. Dengan adanya Batu Hyang Sawarga, itu sebuah
terobosan besar!” ucap Tetua Putih yang lain heran.
“Guru Candrakra juga pernah
berpikir demikian. Sayangnya, dari semua penerawangan yang ia lakukan, Apapun
yang berasal dari bantuan Batu Hyang Sawarga, semuanya selalu berakhir dengan
perebutan kekuasaan yang mengakibatkan kehancuran dimana-mana.” Terang Kakek
Addar dengna penuh sesal.
“Setelah berdiskusi alot dengan
para Tetua Putih dan Maharaja yang menjabat saat itu, maka tercetuslah Keputusan,
agar Batu Hyang Sawarga memang harus dilenyapkan.” Jawaban Kakek Addar membuat sebagian
Tetua Putih terkejut, namun sebagian lagi mengangguk-angguk mengerti.
“Ternyata, ruang penyimpanan Batu
Hyang Sawarga diperbaharui segelnya, bukan untuk menyimpannya kembali,
melainkan agar kuat menahan ledakan yang amat besar saat batu tersebut
dihancurkan.” Ucap salah satu Tetua Putih sambil mengangguk-angguk mengerti.
“Tapi Tuan Addar.. Nona Galuh
adalah pewaris tahta selanjutnya, mengapa Nona Galuh yang harus mencari. Lagi
pula, apa tidak berbahaya membiarkannya masuk kedalam dunia Manusia. Sedangkan
Kaum Hitam sudah menyebar di beberapa pelosok Dunia.” Ucap Gada Sangkara
khawatir. Hal tersebut diangguki pula oleh Paman Galuh, Ranji Raspati.
“Ini karena, dalam salah satu
paragraf Kitab Candrakara yang berhasil diterjemahkan oleh ayah saya, isinya
menyebutkan; hanya pemilik elemen yang akan saling mengenali dimana letak batu
Hyang Sawarga yang mewakili energi mereka,” jawab Kakek Addar dengan nada bijak.
“Ya, saya ingat itu,” ucap salah
satu Tetua Putih mengiyakan, namun setelah itu para Tetua Putih menoleh pada
Galuh dengan kaget.
“Jadi.. Nona Galuh adalah salah
satu pemilik elemen tersebut?” tanya salah satu Tetua Putih dengan terkejut.
Anggukan Kakek Addar membuat semua Tetua Putih semakin terkejut.
“Kalau memang Nona Galuh harus
memasuki dunia Manusia, kita harus memastikan ia ditemani orang kepercayaan
kita yang paling hebat.” Ucap salah satu Tetua Putih dengan nada siaga.
“Kita percaya Nona Galuh bisa
melindungi dirinya sendiri, apalagi ia ditemani para Ajag yang begitu gagah
perkasa dan Soma Wisesa yang kita kenal begitu hebat. Tetapi mereka hanya
muncul saat segel mereka dibuka. Sedangkan dunia Manusia adalah dunia yang berbeda
dengan Astamaya,” ucap Tetua Putih lain yang kali ini begitu khawatir.
“Benar Tuan, ditambah tindakan para
Kaum Hitam dengan segala kelicikannya yang meresahkan, kita tidak mungkin
membiarkan Nona Galuh masuk ke dunia Manusia sendirian begitu saja,“ ucap Gada Sangkara
yang juga khawatir.
“Ia akan pergi bersama salah satu pemilik
elemen lain,” ucap Kakek Addar sambil melirik seseorang yang membuat Gada Sangkara
terhenyak.
“Ini adalah Adhitya Putera, salah
seorang keturunan Surya Suradana. Seorang manusia yang telah membantu Kaum
Luhur menyelamatkan diri dari serangan para Kaum Hitam.” Ucap Kakek Addar
sambil membuka segel energi yang menyelubungi tubuh Adhit. Gada Sangkara dan para
Tetua Putih kembali terhenyak, karena baru menyadari ternyata ada Manusia di
antara mereka.
“Maksudmu tentang saat penyerangan
di pulau Bagjarupa? Jadi Kaum Luhur selamat?” ucap salah satu Tetua Putih
kaget,
“Ya! Mereka Selamat!” jawab Kakek
Addar, yang lalu dengan energinya, ia membuka salah satu pintu menuju lorong rahasia.
Tiba-tiba terlihatkan Jinn Si Kelinci yang sepertinya tadi sedang ikut
mendengarkan dari lubang dinding rahasia. Sontak membuat semua Tetua Putih
langsung terkejut.
Lalu para Tetua Putih kembali
dikejutkan oleh gambaran yang diperlihatkan oleh energi milik Kakek Addar.
Mulai dari proses melarikan diri para Kaum Luhur, hingga penyelamatan yang di
lakukan Surya Suradana, kakek buyut Adhit.
“Maafkan bila selama ini saya
bungkam, tetapi saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh leluhur
saya, Guru Candrakara. Bila rahasia perjalanan ini diketahui Kaum Hitam, maka
ramalan akan berbelok seketika,” Begitu mendengarnya, para Tetua Putihpun akhirnya
menggangguk mengerti.
“Alih-alih membawa ksatria terbaik
kita, mengapa Adhitya yang justru ikut dalam perjalanan Nona Galuh?, Sekalipun
ia memang keturunan penyelamat Kaum Luhur di masa lalu, tetapi ia adalah Manusia
biasa, sedangkan perjalanan ini akan sangat berbahaya.” ucap salah satu Tetua
Putih heran.
“Karena ini..” Lalu Kakek Addar
menunjukan dua bola cahaya sebesar pupil mata manusia, sontak hal tersebut
membuat seluruh Tetua Putih terhenyak.
“Satu hari sebelum penyerangan ditempat
kami, saya mendapat kiriman berupa mata Ruh dari seorang pertapa yang saat itu tengah
di serang oleh Kaum Hitam.” Jelas Kakek Addar lagi.
“Benda ini ternyata benar–benar ada,”
ucap salah seorang Tetua Putih yang diangguki oleh yang lain dengan pandangan
tidak percaya.
“Pertapa tersebut mengirimkan pesan
dan mata Ruh ini melalui burung Mahui miliknya. Dalam pesannya ia mengatakan, tiba-tiba
Kaum Hitam datang untuk merebut mata Ruh ini, namun entah untuk tujuan apa. Sejak
saat itu, saya tidak mengetahui kabarnya lagi. Tempat persembunyiannya juga
kini telah luluh lantah,” ucap Kakek Addar sedih.
“Malam sebelum penyerangan di
persembunyian kami dimulai, saya menggunakan mata Ruh tersebut untuk memastikan
apakah Adhit adalah salah satu pemilik elemen, dan ternyata benar!” ucap Kakek
Addar sambil meminjamkan mata Ruh tersebut pada sebagian Tetua Putih yang masih
penasaran. Setelah melihat jantung Adhit yang dipenuhi batu api yang dipenuhi
bara, para Tetua Putih kini mengangguk percaya.
“Berarti tinggal tiga pemilik
elemen lagi yang harus kita cari,” ucap salah seorang Tetua Putih yang
diangguki Kakek addar.
“Bukan tiga, tetapi dua lagi,“ ucap
seseorang dengan suara yang sangat mereka kenal. Soma Wisesa yang lalu keluar
dari kalung segel dengan senyum khasnya yang menyebalkan.
“Saya adalah perwakilan dari kaum
Ruh, pemilik elemen Ether.” Tentu saja berdasarkan reputasi sebelumnya, para Tetua
Putih memandang Soma Wisesa dengan tidak percaya.
“Pembuat Kitab Ramalan ini,
Candrakara, selain adalah salah satu Tetua Putih yang paling disegani dimasanya,
dia adalah sahabat saya yang paling berharga. Saya tersegel didalam kalung,
bukan karena dikalahkan Tetua Putih seperti yang selalu diceritakan turun
temurun, tetapi karena atas permintaan Candrakara,” ucapan Soma Wisesa sontak
membuat semua memandangnya semakin tidak percaya.
Soma Wisesa mengeluarkan energinya,
ia lalu memperlihatkan sebuah gambaran tentang dirinya yang mengalahkan semua
Tetua Putih di masa itu. Namun saat ia harus berduel dengan Candrakara,
tiba-tiba Candrakara mengatakan sesuatu dalam pikiran mereka berdua.
“Kamu tahu tentang ramalan yang
sering saya perlihatkan dalam alam pikiran kita?” Soma Wisesa mengangguk.
“Bantulah saya agar saya bisa membelokan ramalan. Semua cara sudah saya coba
dalam penerawangan yang saya lakukan, tetapi semua menuju pada kemenangan Kaum
Hitam, dan ini hampir membuat saya gila!” ucap Candrakara lagi dalam alam
pikiran mereka.
Semua Tetua Putih yang kalah tidak
mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka hanya melihat Candrakara berduel bersama
Soma Wisesa dengan sangat alot.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan?”
tanya Soma Wisesa dalam alam pikiran mereka. “Ada satu cara, jadilah salah satu
pemilik elemen, lalu bimbinglah pemilik elemen lain di generasi selanjutnya. Hanya
kamu yang paling mengerti alur dari ramalan, karena karena kita berdua yang
mengerjakan isi dari Kitab ini,” mohon Guru Candrakara yang kali ini cukup
memelas.
Setelah Candrakara melepaskan
energinya hingga Soma Wisesa terpental, Para Tetua Putih di masa itu bersorak
karena Soma Wisesa berhasil di kalahkan. Padahal yang Candrakara lepaskan bukan
energi penghancur, melainkan elemen Ether. Setelah Soma Wisesa tersegel, gambaran
tersebut menghilang.
“Karena itu pula saya dengan suka
rela masuk ke dalam segel sialan ini!” tunjuk Soma pada kalung tersebut dengan nada
angkuh. Para Tetua Putih kini terdiam, sedangkan Kakek Addar, kini ia mulai
mengerti alur dari misteri perintah leluhurnya, Guru Candrakara.
Adhit menggelengkan kepala, “orang
ini benar-benar gila! Candrakara seorang jenius gila!” pikir Adhit dengan tidak
percaya.
“Sekalipun terkurung di dalam
segel, saya terus memasang mata dan telinga tentang kehadiran para pemilik
elemen, hingga akhirnya saat Galuh terasuki, dari sanalah saya tahu bahwa ia
adalah salah satu pemilik elemen yang dikatakan Candrakara,” ucap Soma Wisesa sambil
memandang Galuh dengan yakin.
“Bila anda tahu, mengapa anda
membiarkan saja saat Nona Galuh dipaksa untuk tewas?” ucap salah seorang tetua putih
kesal sekaligus menyesali dengan Soma Wisesa yang tidak bertindak apa-apa.
“Karena Candrakara mengatakan,
semua pemilik tahta hanya akan mangkat ketika usia tua di istananya sendiri ,
lalu saya harus melakukan apa?” jawab Soma Wisesa sambil memandang para Tetua
Putih dengan tampang menyebalkan.
“Jadi, saya biarkan semua terjadi. Termasuk
keputusan bodoh kalian, dan kejelian Addar serta ayahnya sehingga memutuskan
untuk menyelamatkan Galuh,” ucap Soma Wisesa dengan senyum sinisnya.
“Apakah Anda tahu tentang ini juga?”
tanya salah seorang Tetua Putih pada Kakek Addar dengan nada yang masih tidak
percaya
“Untuk tentang Soma Wisesa adalah
salah satu pemilik elemen, saya sendiri baru tahu.” Ucap Kakek Addar takjub,
karena ia baru sadar bahwa Soma Wisesa memang sesuai dengan ciri-ciri yang
dikatakan Kitab Candrakara.
“Addar.. mereka masih ragu, gunakan
mata Ruh milikmu agar kepala bebal mereka segera teratasi,“ ucap Soma Wisesa
dengan nada mencibir. “Kakek Addar terhenyak sebentar, lalu segera meminjamkan
lagi mata Ruh tersebut untuk membuktikan perkataan Soma Wisesa.
“Ternyata apa yang ia katakan
benar, Soma adalah salah satu dari pemilik elemen itu! “ucap salah seorang Tetua
Putih membenarkan.
Saat mencoba memfokuskan mata
Ruhnya pada Soma Wisesa, secara tidak sengaja, Kakek Addar melihat Gada Sangkara
yang berdiri dibelakang Soma Wisesa.
“Ini adalah takdir! Gada Sangkara,
saya melihatmu sejak kecil, bagaimana bisa saya tidak melihat ciri-ciri
tersebut!” Ucap Kakek Addar dengan terkejut. “Gada Sangkara juga?” ucap para Tetua
Putih sambil ikut melihat menggunakan Mata Ruhnya tersebut, lalu mereka kembali
terkejut.
“Gada sangkara adalah pemilik
elemen tanah. Seperti yang kalian lihat, melalui mata Ruh ini kita
diperlihatkan gambaran bumi yang berputar hidup di dalam jantungnya “ucap Kakek
Addar takjub.
“Bila Gada Sangkara tidak ada
disini, lalu bagaimana dengan nasib saya Tuan Addar. saya tidak bisa menghadapi
para Mentri dan tokoh Bangsawan sendirian, “ucap Paman Galuh, Ranji Raspati, yang
akhirnya bersuara namun dengan nada panik.
“Biarkan Gada pergi, anda akan aman bersama
saya,” sebuah suara berat bersahaja muncul dari balik pintu belakang ruang
pertemuan. Saat menoleh ke arah suara tersebut, semua terkejut bukan main.
“Tuan Baharyu! Anda telah bangun
dari koma!” semua berkata dengan serempak.
“Lebih tepatnya, tidak pernah
koma,” jawab Panglima Besar Baharyu sambil tersenyum. “Saya tidak koma seperti
yang di kabarkan. Benar seseorang telah meracuni saya, tetapi berkat ramuan
Tuan Addar, tubuh saya pulih dalam hitungan hari,” ucap Tuan Baharyu yang lalu
mengangguk pada Kakek Addar dengan penuh rasa terima.
“Maafkan saya merahasiakan ini, semakin
sedikit orang tahu bahwa Tuan Baharyu masih segar dan sehat, itu semakin baik,
“ucap Kakek Addar pada para Tetua Putih dengan bijak.
Melihat hal tersebut, Ranji Raspati,
tentu saja merasakan lega luar biasa. Bagi Ranji Raspati, sekalipun Gada
Sangkara sangat berbakat, tetap saja ia adalah anak generasi baru. Karena ini
pula, para Bangsawan licik selalu menyanggah dengan sangat tidak sopan untuk
menjegal Gada Sangkara.
Tetapi kali ini yang akan mereka
hadapi adalah Panglima Besar Baharyu, selain ia adalah panglima yang paling
disegani, ia adalah salah satu sesepuh yang paling dihormati di kalangan
Istana.
“Selain Panglima Besar Baharyu,
anda juga akan ditemani oleh kami Tuan Maharaja Ranji Raspati,” ucap seseorang
dari pintu tempat Jinn Si Kelinci muncul tadi. Tiba-tiba saja muncul Tuan
Monyet Rahyata dan serombongan sesepuh Kaum Luhur!
Melihat hal tersebut, rasanya ada
ribuan kembang api pasar malam meledak di dalam dada Ranji Raspati.
“Rasakan kalian nanti para Bangsawan
licik! pertemuan selanjutnya, kalian semua akan mati berdiri!” pikir Ranji
Raspati dengan puas.
“Sepertinya semua telah siap. Bersiaplah,
kalian pergi dari pintu rahasia, kami disini yang akan melawan sebisanya bila
serangan baru datang,” ucap Kakek Addar sambil memberikan Kitab Candrakara asli,
setelah itu, semua yang di dalam ruangan tersebut memberikan restu untuk mereka
berempat.
Sebelum pergi, Subhita memeluk
Galuh dengan sangat erat. “Jaga dirimu baik-baik.. jangan lupa makan dan
istirahat yang cukup!” bisik Subhita dengan hampir menangis. Setelah Soma
Wisesa masuk kembali ke dalam kalung segel yang dipakai Galuh. Dipandu oleh
Jinn Si Kelinci, Galuh, Adhit dan Gada Sangkara segera bergegas pergi menuju
dunia Manusia.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar