Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 24 – Ada apa dengan Kitab Sembilan?| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Akhirnya mereka sampai di Merapi. Suasana
begitu hening dan tenang. Galuh hanya melihat ada beberapa pendaki yang
terlihat sangat jauh, lalu asap putih yang mengepul sebagai tanda aktivitas
vulkanik yang terus berlangsung. Selebihnya, hanya aroma udara yang berbau
belerang dan udara yang dingin menusuk, seakan mengisi kekosongan jeda antara mereka
dengan alam sekitar.
Pandangan Galuh beralih pada langit,
lalu merasa lega karena tidak menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan.
Disisi lain, karena ditempat
pencarian mereka masih ada beberapa pendaki, maka Gada Sangkara dan Ragadewa berinisiatif
berkeliling untuk memasang segel benteng pemantul disekitar mereka. Selain agar
tidak ada satu mahluk pun yang masuk dalam wilayah yang mereka batasi, segel benteng
tersebut juga akan membuat kehadiran mereka disana jadi tak kasat mata.
Sedangkan Soma Wisesa, setelah
meminjam mata Ruh yang dipegang Galuh, ia segera mengeluarkan energinya untuk membuka
tabir Kitab Candrakara. Lalu Adhit, ia mendampingi Soma dalam mencari arah dengan
kalung Sura Suradana miliknya.
Namun saat segel benteng pemantul hampir
terpasang, mereka malah dikejutkan oleh kehadiran Dwasa si Mahluk Asap yang tiba-tiba
menyembul dari bawah tanah! Melihat ekspresi Dwasa yang sangat terkejut, bisa
dipastikan bahwa Dwasa tidak sedang mengikuti mereka.
“Aaah.. Ghaluhh shayaang…” Sapa
Dwasa menutupi keterkejutannya.
“Diam kamu!” teriak Galuh dengan
nada tajam. Mendengar intonasi galak dari Galuh, Dwasa Si Mahluk Asap malah
terbahak dengan keras. Dwasa lalu melihat pada semua teman Galuh.
“Uuh..Shoma Wisheesaa!” ucap Dwasa yang
kini kaget, namun dengan segera Dwasa merubah ekspresinya kembali, berusaha
bersikap tenang sekalipun bahu dan lengannya terlihat sedikit bergetar. Dwasa perlahan
mendekat ke arah Galuh. Namun tanpa di duga, tiba-tiba Dwasa Si Mahluk Asap malah
berbelok cepat ke arah Adhit, sepertinya Dwasa berusaha menjadikan Adhit sebagai
sandera.
Untung Gada Sangkara dan Ragadewa sangat
sigap. Saat tangan Dwasa Si Mahluk Asap hampir menyentuh rambut Adhit, saat itu
pula Gada Sangkara langsung membelokan segel pemantul yang masih ia pegang
tepat ke hadapan wajah Adhit.
Sontak Dwasa yang melesat secara
terburu, wajahnya langsung penyok karena menabrak segel pemantul dengan sangat
keras. Disusul Ragadewa yang langsung mengikat Dwasa dengan energinya yang
berbentuk tambang, membuat Dwasa langsung tidak bisa berkutik karena terbelit
dengan sangat kuat.
Sayangnya Soma Wisesa sendiri tidak
bisa membantu bertarung, karena sebagian besar energinya sedang dipakai untuk
membuka tabir Kitab Candrakara. Bila ia memaksa untuk memakai tenaga yang
lumayan besar, maka Soma akan terluka dalam dengan sangat parah.
Maka setelah kejadian itu, Soma
Wisesa memakai sisa energinya untuk memasang segel pelindung bagi Adhit dan dirinya,
lalu kembali berkonsentrasi membuka tabir.
“Thambang energiii? khamuu phastii
Ragadheewaaa, cucu shang phembelot isthanaaa.. … Huahahaha!” Ejekan Dwasa Si
Mahluk Asap membuat Ragadewa muak sekaligus sangat marah.
Ragadewa membenci Kakeknya melebihi
dari apapun yang ada di muka bumi. Ironisnya, saat Ragadewa terdesak, energi
spontan yang muncul pertama kali malah persis seperti yang dimiliki kakeknya,
tambang energi!
Maka dengan amarah yang memuncak,
Ragadewa menarik tambang energinya hingga Dwasa Si Mahluk Asap langsung melengkingkan
teriakan dengan sangat menggema. Karena beberapa tulang dari tubuh Dwasa yang
tinggal tulang terbalut kulit terdengar patah secara menyakitkan.
Meski dalam keadaan terikat dan meringis menahan
nyeri, Dwasa Si Mahluk Asap ternyata berhasil mengeluarkan paksa kerikil-kerikil
berasap dari jemarinya. Dalam sekejap, begitu kerikil tersebut menyentuh tanah,
tiba-tiba beberapa bebatuan di sekeliling kerikil tersebut menyatu, yang lalu
membentuk jadi beberapa monster batu besar besar dengan bentuk sangat menakutkan.
Dengan tanpa aba-aba, para monster
batu ini langsung menyerang mereka secara membabi buta. Sontak hal tersebut membuat
tambang energi milik Ragadewa terlepas.
Memanfaatkan ksempatan tersebut, Dwasa
Si Mahluk Asap langsung melesat keatas sambil mengikik senang. Setelah itu, dari
atas Dwasa Si Mahluk Asap langsung menggerakan monster batu buatannya dengan
sangat leluasa.
Gada Sangkara segera merampungkan
segel benteng pemantul, agar para pendaki tidak tahu apa yang terjadi dan tetap
selamat, karena Dwasa dan para monster batu juga terkurung bersama para pemilik
elemen didalam segel pemantul.
Sedangkan Ragadewa, dengan tanpa
membuang waktu, ia segera memakai energinya untuk membuat replika para monster
batu. Namun ketika hampir jadi, replika pasirnya tiba-tiba meluruh dan kembali
membuar, dan itu terjadi berkali-kali.
“Mereka bukan mahluk hidup, saya
tidak bisa membaca informasi apapun karena tidak ada hasil respirasi apapun dari
mereka!” Teriak Ragadewa terkejut. Mendengar hal tersebut, Galuh dan Gada
Sangkara memutuskan untuk menyerang para monster batu terlebih dahulu.
Galuh melayangkan sepasang kujang miliknya,
yang lalu membelah rentetan para monster batu secara brutal. Namun yang membuat
Galuh sangat terkejut, ketika sudah terbelah, para monster batu ini kembali
menyatu dan utuh kembali.
Di saat yang sama, Gada Sangkara
yang juga menyerang para monster batu tersebut. Dengan energi miliknya yang
membentuk dua kepalan tangan raksasa yang sangat besar, para monster batu yang
dipukul dengan sangat keras, langsung terbuar dengan ganas! Namun setelah itu,
para moster batu ini kembali menjadi wujud semula.
Dwasa si Mahluk Asap semakin mengikik
bahagia, ekspresi bahagianya yang sangat mengejek, membuat Galuh benar-benar sangat
kesal.
Dengan kemarahan yang memuncak, Galuh
melesatkan sepasang kujangnya untuk merobek Dwasa dari segala arah. Dwasa tidak
tinggal diam, setelah berhasil menghindar, dari atas Dwasa mengendalikan para monster
batunya untuk mengeroyok Galuh hingga sangat terpojok.
Gada Sangkara dan Ragadewa yang
terkejut melihat Galuh menahan banyak pukulan. Maka dengan segera, Gada
Sangkara masuk kedalam pertarungan dan menahan segala serangan agar Galuh tidak
terluka.
Lalu Ragadewa sendiri, ia segera melesat
menuju Dwasa Si Mahluk Asap sambil membuat replika pasir tubuh Dwasa. Namun
begitu jadi, replika Dwasa Si Mahluk Asap sama sekali tidak bergerak! Bahkan
mematung seperti boneka kosong! Ragadewa yang kebingungan karena energi
miliknya tidak bisa mengendalikan replika Dwasa sama sekali, membuat Dwasa
mengikik semakin menjadi.
“Sayha hanyha bothol koshong…. enhergi
yhang sayha Milikhii, Bhukan Energhi sayhaaa…. Jadhii kamhuuu tidhak bhisa memnhiru
apapuuun dari dhirii sayaa.. hahahahaha…!” Ejek Dwasa sambil terbahak senang, deretan
gigi jeleknya semakin terpampang menyebalkan.
Adhit mencoba melihat melalui
teropong Ruh yang dulu diberikan Jinn Si Kelinci. “Kekuatan Dwasa di topang seseorang! Putuskanlah
sesuatu yang mengalir pada Dwasa dan para Monster Batu!” Teriak Adhit dari
balik segel pelindung, yang kemudian diangguki mengerti oleh yang lainnya.
Namun nihil, tanpa teropong Ruh dan
Mata Ruh, mereka tidak bisa menemukan penghubung apapun yang mengalir pada
Dwasa dan para monster batu. Sedangkan Adhit tidak bisa keluar dari segel
pelindung yang dibuat Soma, karena konsentrasi Soma Wisesa tidak boleh terputus
saat membaca tabir Kitab Candrakra, atau ia akan terluka dalam dengan parah.
Ketika mereka semua benar-benar
terpojok, tiba-tiba segel Galuh malah terbuka. Galuh panik, dikarenakan sekalipun
jaraknya jauh, disekitar Merapi masih terdapat beberapa pendaki yang sama
sekali tidak tahu apa-apa. Saat para Ajag hampir keluar mengamuk, tiba-tiba
seseorang berteriak, “Tungguu!!”
Mereka mendapati seorang perempuan langsing
berambut gelombang, datang berlari sambil berusaha mengeluarkan energinya.
Saat para pemilik elemen bersiaga
melawan, tiba-tiba dari belakang perempuan tersebut muncul puluhan malaikat gagah
bersayap besar dan sangat kokoh. Para malaikat ini memakai armor besi. Lalu
dari kepala, wajah sampai dada, tertutup kain putih. Sehingga para malakat ini
tampak sangat dingin. Mereka bergerombol menjebol segel benteng pemantul hingga
pecah berkeping-keping, yang lalu membabat para monster batu dengan keganasan tanpa
ampun.
Dalam sekejap, para monster batu langsung
terbuar dan tidak kembali lagi seperti semula. Melihat seluruh pasukannya
habis, Dwasa Si Mahluk Asap segera lari seperti pengecut, lalu hilang entah
kemana.
“Kalian baik-baik saja!” Teriak
perempuan tersebut sambil berlari mendekat, lalu setelah itu ia menghilangkan
para malaikat bertudung dibelakangnya dengan kibasan tangan sekejap.
“Bagaimana kamu bisa memutus energi
dari penopang Dwasa? Siapa kamu?” tanya Ragadewa heran.
“Dengan ini,” Ucap wanita tersebut sambil
memperlihatkan teropong yang mirip teropong Ruh. Intonasi tegas dari wanita ini,
sangat menggambarkan sebuah karakter kuat lagi tangguh.
“Saya Kahiyang Raga, putri dari
Delegasi Istana yang pernah ditugaskan di daerah ini.” ucap wanita yang
menolong mereka dengan tegas.
Setelah dekat, para pemilik elemen terkejut
dengan paras dan perawakan wanita yang bernama Kahiyang ini. Mengingatkan
mereka akan gambaran malaikat yang selalu di lukiskan dalam dongeng-dongeng
Nirwana. Benar-benar sangat berbanding terbalik dengan energi yang dimilikinya.
Dengan hanya beberapa kali tebasan, para monster batu yang sebelumnya membuat para
pemilik elemen sangat kewalahan, justru dibawah kendali energi Kahiyang Raga langsung
hancur dengan sangat brutal.
Melihat dari kemampuannya dalam
mengatur energi yang sekompleks ini, Galuh dan Kawan-kawan, menerka bahwa Kahiyang
Raga adalah salah satu dari para anak Istimewa.
“Dwasa mengendalikan para monster
batu menggunakan benang energi, sistem kerjanya persis seperti memainkan boneka
Marionette. Jadi, ketika energi saya yang berbentuk malaikat menyerang para
monster batu dari segala sisi, di saat yang sama, saya memotong benang energi
sehingga para monster batu kehilangan pemasok energinya,” jelas Kahiyang dengan
nada tegas lagi.
“Sayangnya, benang energi dari
pemasok Dwasa tidak terlihat sama sekali,” Sesal Kahiyang. “Ah.. Nona Galuh..”
ucap Kahiyang saat menyadari Galuh ada disampingnya, setelah itu ia menunduk
hormat.
“Kamu mengenali saya?” Galuh
terkejut karena ia dikenali.
“Seseorang baru saja menunjukan gambaran
anda dan bertanya apakah pernah melihat anda selama dalam perjalanan saya,
sepertinya ia benar-benar khawatir. “Jawab Kahiyang Raga tersenyum sambil melayangkan
teropong Ruh pada seseorang dibelakangnya.
“Jiiiinnn!!!” teriak Galuh dan
Adhit bersamaan.
“Nona Galuh.. Adhitya, akhirnya bisa
menemukan anda berdua disini! Syukurlah melihat anda berdua baik-baik sajaa.… ”
jawab Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak lega.
“Jinn..? apa yang sedang terjadi?”
tanya Galuh heran.
“Ketika saya ditugaskan Tuan Addar
untuk menemui Nona Kahiyang Raga, kami malah melihat Dwasa Si Mahluk Asap sedang
mengendap di sekitar sini, jadi kami mengikuti Dwasa sampai tempat ini.
“Apa kamu tahu apa yang Dwasa cari disini?”
tanya Galuh heran. “Justru hal tersebut yang sedang kami cari tahu,” ucap Jinn
Si Kelinci yang dibenarkan Kahiyang Raga.
“Memangnya Kakek Addar menugaskan
apa?” tanya Adhit ingin tahu.
“Saya diminta bertanya pada Nona
Kahiyang Raga, sudah berapa banyak Kitab Sembilan yang berhasil ia rebut dari
Kaum Hitam,” ucapan Jinn Si Kelinci membuat semua terhenyak, terutama Ragadewa.
“Nekat merebut sesuatu dari Kaum
Hitam sendirian adalah usaha bunuh diri, apalagi benda sehebat Kitab Sembilan, sedangkan
Kahiyang berhasil merebut lebih dari satu? Perempuan ini benar-benar tidak
waras!” Pikir Ragadewa heran.
”Saya diminta menemui Nona
Kahiyang, karena Tuan Addar berhasil mendapatkan informasi dari tiga adik
Rahadyan Sayuga dan Sadya Agracarana, ternyata para Kaum hitam sedang
mengumpulkan Kitab Sembilan untuk merebut batu Hyang Sawarga di Istana.”
Jawaban Jinn Si Kelinci sontak membuat Galuh dan kawan-kawan terkejut.
“Untuk apa?” tanya Ragadewa heran. “Nanti
akan saya jelaskan, namun tidak disini,” jawab Jinn Si Kelinci hati-hati.
“Sepertinya Kaum Hitam terbagi dalam
dua kubu, satu mencari petunjuk batu Hyang Sawarga, satu lagi mengumpulkan
Kitab Sembilan.” Ucap Adhit yang dibenarkan oleh semua yang ada disana, kecuali
Kahiyang Raga yang terkejut.
Namun sebelum Kahiyang bertanya, Soma
Wisesa tiba-tiba menemukan sinyal Istana Tujuh Pintu, yang setelah itu segel
yang melindungi dia dan Adhitpun akhirnya terbuka.
Setelah berdiri ditempat yang
ditunjukan Kitab Candrakara, Soma Wisesa mengelus pasir yang ditunjukan Kitab
Candrakara sambil berkata, “ada bekas energi Istana tujuh pintu disini, sepertinya
pernah disini, tetapi sudah kabur menghilang,” ucap Soma Wisesa kesal.
“Kabur menghilang?” tanya Adhit
heran.
“Istana tujuh pintu dirancang
Candrakara untuk menghilang bila ada energi hitam yang mendekat, lalu muncul di
tempat yang terpilih secara acak. Bisa jadi ia hilang saat Dwasa tadi datang,”
jawab Soma Wisesa sambil meremas pasir tempat dimana Istana Tujuh Pintu
sebelumnya berada. Soma terlihat benar-benar sangat kesal.
“Soma.. setidaknya Istana Tujuh
Pintu belum ditemukan Kaum Hitam, berarti peluang kita menemukannya lebih dulu
masih ada,” ucap Gada Sangkara yang kemudian diangguki oleh Soma Wisesa yang
kini sedikit lebih tenang.
“Kalau begitu, ikutlah dengan saya.
Disini ada tempat yang cukup aman, sehingga kalian bisa istirahat sambil
membicarakan semua ini dengan tenang.” Ucap Kahiyang Raga yang lalu berjalan
duluan untuk memandu jalan. Karakter Kahiyang yang unik, justru membuat
Ragadewa dan Galuh saling berpandangan.
“Seleramu sekali, cantik.. dan
sedikit mengintimidasi!” bisik Galuh yang sontak membuat Ragadewa terkejut,
Galuh benar-benar ingat apa yang pernah ia katakan kepadanya saat kecil dulu. “Tetapi
saya mengatakan itu, untuk memberi kode bahwa itu adalah kamu! Bukan wanita
lain!” pikir Ragadewa sambil menggeleng pasrah dengan ketidak pekaan Galuh.
Sesampainya di tempat yang ditunjuk
Kahiyang, para pemilik elemen kini bingung. Karena mereka dibawa pada sebuah
tanah kosong, tidak ada apapun kecuali banyaknya pohon dan tanaman perdu tidak
terawat.
Namun, begitu Kahiyang menuntun
mereka masuk, barulah mereka menyadari bahwa apa yang tampak didepan mata,
hanyalah kamuflase segel pelindung yang menyembunyikan tempat ini dari padangan
biasa.
Semua terkesima, karena ternyata dibalik
segel pelindung kamuflase, terdapat rumah panggung kayu yang terbuat dari kayu jati
yang dipoles dengan sangat halus. Tiang-tiang penyangganya sendiri, di ukir dengan
motif sulur dan merak khas Sunda. Lalu ditambah beberapa pot yang dipenuhi
tanaman hijau yang asri, benar-benar membuat suasana keseluruhan rumah ini jadi
terasa begitu nyaman dan sangat menenangkan.
Namun yang membuat Galuh dan kawan-kawan
semakin terperangah, tepat dibawah rumah panggung kayu tersebut, terdapat kolam
besar jernih yang menampung ratusan ikan Koi yang hilir mudik dengan sangat menakjubkan.
“Disini indah sekali Kahiyang..”
ucap Galuh sambil melihat berkeliling tidak percaya. Kahiyang menanggapinya
dengan senyum penuh arti.
Setelah masuk kedalam, semuanya
kembali berdecak kagum. Selain semua perabotan yang terbuat dari kayu jati dan mahoni,
diukir dengan ukiran merak yang senada dengan rumah panggung kayu tersebut. Mereka
juga mendapati bahwa setiap sudut ruangan dihiasi pot-pot kecil gantung
menambahkan keasrian.
Namun yang membuat mereka semua
benar-benar terperangah adalah, suara kicau burung-burung kecil, yang berasal
dari para burung kecil yang tengah bersantai di kandang burung gantung, dengan
pintunya yang terbuka. Sehingga para burung kecil ini bisa leluasa keluar masuk
kandang, dan tidak kabur sama sekali.
Setelah itu, mereka semua langsung dipersilahkan
duduk mengelilingi meja lesehan dengan ukuran yang cukup besar.
“Tadinya ini milik mendiang ke dua
orang tua saya,” ucap Kahiyang sambil menghidangkan teh Telang dengan tenang.
“Ah.. maafkan saya..” ucap Galuh
tidak enak hati.
“Tenang saja Nona Galuh, itu sudah
lama sekali. Penyerangan itu terjadi saat saya masih berusia dua belas tahun.
Mereka tewas karena selain menginginkan salah satu Kitab Sembilan yang ada ditangan
ayah, mereka juga menginginkan energi yang saya miliki.” Ucap Kahiyang sambil
membuka lemari makan yang dipenuhi camilan khas Jawa Barat.
Mereka terkejut setelah Kahiyang bercerita
panjang lebar. Berbeda dengan Ragadewa yang memilih bersembunyi dari kejaran
kakeknya, setelah kedua orang tua Kahiyang terbunuh, sekalipun usianya masih
dua belas tahun, Kahiyang Raga justru memilih mengejar untuk merebut pecahan
Kitab Sembilan, lalu mengacak-acak gerakan Kaum Hitam sekalipun harus mengarungi
seluruh dunia.
“Kamu benar-benar nekat Kahiyang,” ucap
Gada Sangkara sambil tertawa dengan takjub.
“Namun karena hal itu, saya justru
mempunyai banyak akses untuk masuk ke dalam lingkungan Kaum Hitam.” Jawab
Kahiyang sambil menghadiahi Galuh buku catatan kecil milik salah satu jenderal
Hitam, buku yang berisi kode-kode yang biasa digunakan Kaum Hitam!
“Ia benar-benar perempuan gila!”
batin Ragadewa dengan sama takjubnya.
“Kahiyang, mengapa kamu sangat
terobsesi mengumpulkan Kitab Sembilan?” tanya Galuh ingin tahu. “Benar, untuk
apa?” tanya Ragadewa ikut heran.
“Awalnya dikarenakan Kitab Sembilan
adalah yang menyebabkan kedua orang tua saya terbunuh. Saya hanya ingin mengacaukan
segala misi mereka yang berhubungan dengan Kitab Sembilan,” Ucap Kahiyang
dengan tenang. Mereka semua kagum karena tidak ada intonasi ketakutan apapun
yang tercermin dari suaranya.
“Namun, setelah saya gali banyak informasi
tentang Kitab Sembilan, ada rahasia besar mengapa Kaum Hitam sangat terobsesi
mengumpulkannya.” Ucapan Kahiyang Raga membuat Galuh dan kawan-kawan jadi
sangat penasaran..
“Kitab Sembilan, awalnya adalah
satu energi yang diciptakan salah satu pertapa hebat Astamaya. Karena satu
energi ini sangat berbahaya, maka pembuatnya memecah energi ini jadi sembilan
agar bisa dimanfaatkan untuk kebaikan Kaum Astamaya,” ucap Kahiyang lagi yang
disambut tatapan terkejut dari semua yang ada disana.
“Jadi awalnya adalah satu kitab?” tanya
Adhit memastikan.
“Bukan satu kitab, melainkan satu
energi.” Ralat Kahiyang bijak. “Setelah energi tersebut dipecah menjadi
sembilan, maka pertapa tersebut merubah sedikit kode rumusnya agar energi
tersebut bisa dimanfaatkan oleh Kaum Astamaya,” jelas Kahiyang.
“Apa saja?” tanya Adhit semakin
penasaran.
“Kitab Sembilan itu terdiri dari;
“Kitab Pemahat mantera; ilmu
tentang membuat kode mantera dalam pembuatan segel sebuah wilayah. Contohnya,
segel Wilayah Astamaya dan segel ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga di
istana.” Lalu dengan energinya, Kahiyang Raga memperlihatkan gambaran ketika
para pemahat mantera bekerja. Mereka bekerja merumuskan banyak kode sehingga
membentuk segel pelindung yang amat sangat kuat.
“Kitab Ilusi partikel; Ilmu
tentang memanfaatkan energi elektromagnetik, pengolahan energi dasar yang
dimiliki semua Kaum Astamaya. Ini adalah ilmu pengendalian energi yang dikenal
seluruh Kaum Astamaya,” lalu Kahiyang membuat objek dengan energi yang
dimilikinya, membuat Adhit teringat, saat bagaimana Kakek Addar memperlihatkan pengendalian
energi miliknya saat ia pertama kali datang.
“Kitab Gerbang Cermin; Ilmu
tentang membuat refleksi ruang dari alam sekitar dengan radius tertentu,
lalu dimasukan kedalam sebuah objek yang di inginkan,” Kahiyang lalu menunjuk
kalung tempat Soma Wisesa tersegel.
“Kitab Sangkar Ruh : Ilmu
tentang merubah mahluk menjadi golongan Ruh, ilmu ini juga yang digunakan Guru
Candrakara saat menyegel Soma Wisesa ke dalam segel kalung.”ucap Kahiyang lagi sambil
menunjuk kalung segel Soma Wisesa yang dipakai Galuh.
“Jadi, Guru Candrakara menggunakan
ilmu dari dua kitab?” ucapan Adhit diangguki Kahiyang dengan jelas. Soma Wisesa
tersenyum, “Dasar si gila Candrakara,” ucap Soma sambil menggeleng pelan.
“Kitab Matera Ramuan; Ilmu mantera yang digunakan menggunakan bahasa
sunda kuno atau Aksara Buhun yang sudah terselipi partikel ramuan yang sudah
teracik.” Ucapan Kahiyang membuat para pemilik elemen sulit menggambarkan dalam
kepalanya.
“Persis yang di lakukan Hailana
Sang Dewi Ruh saat melindungi selama perjalanan di bukit Ruh.” Ucap Jinn Si
Kelinci sambil mengeluarkan gambaran kilas balik dengan energinya. Gambaran
saat Hailana Sang Dewi Ruh menuliskan sesuatu dalam aksara Buhun. Aksara Sunda
Kuno, untuk melindungi Galuh, Adhit dan Jinn Si Kelinci saat harus melewati Bukit
Ruh. Kini semua yang melihat mengangguk-angguk mengerti.
“Kitab Alam pikiran; ilmu
memasuki alam pikiran seseorang dan melakukan interaksi hingga pertarungan
rahasia, tanpa merusak alam sekitar. Mereka tiba-tiba ingat cerita Soma Wisesa
tentang bagaimana ia bisa membantu Guru Candrakara dalam menyusun Kitab
Candrakara tanpa bertemu langsung. Lalu mereka semua kembali mengangguk-angguk
mengerti.
“Kitab Kamus alam; ilmu
membaca informasi berdasarkan apa saja yang terjadi berada di alam sekitar.
Jadi, anda hanya perlu menyentuh objek yang dituju, biasanya dengan telapak
tangan, maka anda bisa mereka ulang sebuah peristiwa.”
“Kitab peracik Ruh; ilmu ini
tentang bagaimana meleburkan sebuah Ruh sehingga kembali seperti bayi baru
terlahir. Pencipta Kitab ini berharap, apabila ada seorang yang kuat tetapi
jahat, bisa dimanfaatkan ilmunya tanpa khawatir akan terbunuh sia-sia. Ironisnya,
Kitab ini ada di tangan Kaum Hitam, menurut rumor yang beredar, ilmu ini yang
dipergunakan untuk mencuci Ruh para anak Istimewa agar hanya bisa dimanfaatkan
energinya,” ucap Kahiyang Raga sebal.
“Ini juga yang digunakan dalam
pembuatan Ruh para Ajag hahaha…,” timpal NaRaja yang membuat semua yang ada
disana kaget. “Jadi Saguri menggodok para Ruh Jahat dalam kendi Ruh, adalah
berdasarkan ilmu dari Kitab peracik Ruh? Tanya Adhit terkejut. “Benar yang
dikatakan olehmu anak muda,” jawab NaRaja membenarkan.
Adhit semakin terkejut, mengapa
NaRaja kini semakin terang-terangan dalam mendukung perjalanan ini. “Apa ia
memang benar-benar berbalik arah, atau ini hanya strateginya agak para pemilik
elemen mulai mempercayainya?” pikir Adhit yang mulai pusing dengan segala
prasangka dikepalanya sendiri.
“Yang terakhir Kitab Mahui;
ilmu mengambil kode genetika seseorang, sehingga ia bisa saling berkirim kabar
tanpa salah alamat, contohnya burung Mahui.” Ucapan Kahiyang membuat Adhit terperanjat,
“jadi.. Mahui itu jenis energinya? Bukan nama burung tersebut?” tanya Adhit kembali
terkejut. “Bukan, ada banyak sekali turunan dari ilmu energi Mahui, tetapi yang
paling populer bagi Kaum Astamaya adalah burung Mahui,” jawab Kahiyang membuat
Adhit semakin takjub sekaligus terkejut.
“Identifikasi energi milik
seseorang, akses wilayah yang tersegel, dan segel darah juga menggunakan
prinsip energi yang dituliskan oleh Kitab Mahui. Sebenarnya masih banyak lagi,
tetapi saya belum menemukannya dengan pasti, karena informasi tentang energi
ini dijaga cukup hati-hati,” ucap Kahiyang Raga yang kali ini bukan hanya Adhit
yang terkejut, semua yang ada disana juga.
“Masing-masing dari sembilan kitab
ini dipegang oleh sembilan muridnya yang diminta hidup bersembunyi. Mereka
diminta menyebarkan ilmu tersebut pada para Kaum Astamaya tanpa memperlihatkan
dari mana ilmu tersebut berasal.” Jelas Kahiyang Raga sambil meminum kembali the
telangnya.
Adhit lalu meminum juga teh telang yang
disajikan Kahiyang. Rasanya yang ringan, lembut, agak hambar mirip teh tanpa kafein, cukup membuat
kelelahan saat tadi terlibat dalam konflik Galuh dan Dwasa, hilang seketika.
“Sayangnya enam dari pertapa ini,
tewas secara mengenaskan, sepertinya para Kaum Hitam merebut paksa kitab ini.
Salah satunya yang mengirimkan Mata Ruh pada Tuan Addar.” tambah Jinn Si
Kelinci yang membuat Galuh dan Adhit kini mengerti, mengapa ada seorang pertapa
tiba-tiba mengirimkan mata Ruh miliknya pada kakek Addar.
Kahiyang terkejut saat mendengar
Kaum Hitam mengejar mereka karena menginginkan Batu Hyang Sawarga, ia kira batu
tersebut masih tersimpan baik di Istana. Karena selama ini, kasus yang ia
temukan adalah sejak mereka kehilangan para Ajag, Kaum Hitam mengincar Kitab
Sembilan untuk merebut batu Hyang Sawarga dari Istana.
Disini Galuh dan Adhit mulai
mengerti, mengapa Saguri menyerang Gua bawah tanah dengan tidak melibatkan
pasukan kaum Hitam, tetapi malah memanfaatkan kekuatan Dwasa dan kekuatan yang
dibuat alam, ternyata dia bergerak untuk kepentingannya sendiri.
Setelah beberapa misteri dari
tindak tanduk Kaum Hitam mulai tercerahkan, Mereka semua memutuskan untuk
menginap sehari dulu disana, lalu pergi mengikuti petunjuk bersama Kahiyang. Namun
paginya, ternyata rencana berubah, mereka harus berpisah jalan dengan Kahiyang
Raga karena ia mendapatkan informasi terbaru tentang Kitab Sembilan lainnya.
Sebelum berpisah, Ragadewa memutuskan
menyerahkan Kitab Sembilan seri Pemahat
Mantera pada Kahiyang Raga. Karena masing-masing kitab tersebut tadinya adalah
satu, maka energi mereka saling memanggil satu sama lain, dan ini akan mempermudah
pencarian Kahiyang Raga pada Kitab Sembilan selanjutnya.
Setelah Kahiyang Raga pergi terlebih
dahulu, karena merasa pernah melewati wilayah yang ditunjukan Kitab Candrakara,
Jinn Si kelinci memutuskan untuk mengantar Galuh dan kawan-kawan dulu dalam memecahkan
petunjuk tentang pencarian Istana Tujuh Pintu.
“Mari ikut dengan saya..” ajak Jinn
Si Kelinci, yang membuat Galuh dan Kawan-kawan jadi sangat bersemangat dalam
menuntaskan petunjuk dari Guru Candrakara.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar