Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | BAB 24 – Ada apa dengan Kitab Sembilan?| By: Desya Saghir

Akhirnya mereka sampai di Merapi. Suasana begitu hening dan tenang. Galuh hanya melihat ada beberapa pendaki yang terlihat sangat jauh, lalu asap putih yang mengepul sebagai tanda aktivitas vulkanik yang terus berlangsung. Selebihnya, hanya aroma udara yang berbau belerang dan udara yang dingin menusuk, seakan mengisi kekosongan jeda antara mereka dengan alam sekitar.

Pandangan Galuh beralih pada langit, lalu merasa lega karena tidak menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan.

Disisi lain, karena ditempat pencarian mereka masih ada beberapa pendaki, maka Gada Sangkara dan Ragadewa berinisiatif berkeliling untuk memasang segel benteng pemantul disekitar mereka. Selain agar tidak ada satu mahluk pun yang masuk dalam wilayah yang mereka batasi, segel benteng tersebut juga akan membuat kehadiran mereka disana jadi tak kasat mata.

Sedangkan Soma Wisesa, setelah meminjam mata Ruh yang dipegang Galuh, ia segera mengeluarkan energinya untuk membuka tabir Kitab Candrakara. Lalu Adhit, ia mendampingi Soma dalam mencari arah dengan kalung Sura Suradana miliknya.

Namun saat segel benteng pemantul hampir terpasang, mereka malah dikejutkan oleh kehadiran Dwasa si Mahluk Asap yang tiba-tiba menyembul dari bawah tanah! Melihat ekspresi Dwasa yang sangat terkejut, bisa dipastikan bahwa Dwasa tidak sedang mengikuti mereka.

“Aaah.. Ghaluhh shayaang…” Sapa Dwasa menutupi keterkejutannya.

“Diam kamu!” teriak Galuh dengan nada tajam. Mendengar intonasi galak dari Galuh, Dwasa Si Mahluk Asap malah terbahak dengan keras. Dwasa lalu melihat pada semua teman Galuh.

“Uuh..Shoma Wisheesaa!” ucap Dwasa yang kini kaget, namun dengan segera Dwasa merubah ekspresinya kembali, berusaha bersikap tenang sekalipun bahu dan lengannya terlihat sedikit bergetar. Dwasa perlahan mendekat ke arah Galuh. Namun tanpa di duga, tiba-tiba Dwasa Si Mahluk Asap malah berbelok cepat ke arah Adhit, sepertinya Dwasa berusaha menjadikan Adhit sebagai sandera.

Untung Gada Sangkara dan Ragadewa sangat sigap. Saat tangan Dwasa Si Mahluk Asap hampir menyentuh rambut Adhit, saat itu pula Gada Sangkara langsung membelokan segel pemantul yang masih ia pegang tepat ke hadapan wajah Adhit.

Sontak Dwasa yang melesat secara terburu, wajahnya langsung penyok karena menabrak segel pemantul dengan sangat keras. Disusul Ragadewa yang langsung mengikat Dwasa dengan energinya yang berbentuk tambang, membuat Dwasa langsung tidak bisa berkutik karena terbelit dengan sangat kuat.

Sayangnya Soma Wisesa sendiri tidak bisa membantu bertarung, karena sebagian besar energinya sedang dipakai untuk membuka tabir Kitab Candrakara. Bila ia memaksa untuk memakai tenaga yang lumayan besar, maka Soma akan terluka dalam dengan sangat parah.

Maka setelah kejadian itu, Soma Wisesa memakai sisa energinya untuk memasang segel pelindung bagi Adhit dan dirinya, lalu kembali berkonsentrasi membuka tabir.

“Thambang energiii? khamuu phastii Ragadheewaaa, cucu shang phembelot isthanaaa.. … Huahahaha!” Ejekan Dwasa Si Mahluk Asap membuat Ragadewa muak sekaligus sangat marah.

Ragadewa membenci Kakeknya melebihi dari apapun yang ada di muka bumi. Ironisnya, saat Ragadewa terdesak, energi spontan yang muncul pertama kali malah persis seperti yang dimiliki kakeknya, tambang energi!

Maka dengan amarah yang memuncak, Ragadewa menarik tambang energinya hingga Dwasa Si Mahluk Asap langsung melengkingkan teriakan dengan sangat menggema. Karena beberapa tulang dari tubuh Dwasa yang tinggal tulang terbalut kulit terdengar patah secara menyakitkan.

 Meski dalam keadaan terikat dan meringis menahan nyeri, Dwasa Si Mahluk Asap ternyata berhasil mengeluarkan paksa kerikil-kerikil berasap dari jemarinya. Dalam sekejap, begitu kerikil tersebut menyentuh tanah, tiba-tiba beberapa bebatuan di sekeliling kerikil tersebut menyatu, yang lalu membentuk jadi beberapa monster batu besar besar dengan bentuk sangat menakutkan.

Dengan tanpa aba-aba, para monster batu ini langsung menyerang mereka secara membabi buta. Sontak hal tersebut membuat tambang energi milik Ragadewa terlepas.

Memanfaatkan ksempatan tersebut, Dwasa Si Mahluk Asap langsung melesat keatas sambil mengikik senang. Setelah itu, dari atas Dwasa Si Mahluk Asap langsung menggerakan monster batu buatannya dengan sangat leluasa.

Gada Sangkara segera merampungkan segel benteng pemantul, agar para pendaki tidak tahu apa yang terjadi dan tetap selamat, karena Dwasa dan para monster batu juga terkurung bersama para pemilik elemen didalam segel pemantul.

Sedangkan Ragadewa, dengan tanpa membuang waktu, ia segera memakai energinya untuk membuat replika para monster batu. Namun ketika hampir jadi, replika pasirnya tiba-tiba meluruh dan kembali membuar, dan itu terjadi berkali-kali.

“Mereka bukan mahluk hidup, saya tidak bisa membaca informasi apapun karena tidak ada hasil respirasi apapun dari mereka!” Teriak Ragadewa terkejut. Mendengar hal tersebut, Galuh dan Gada Sangkara memutuskan untuk menyerang para monster batu terlebih dahulu.

Galuh melayangkan sepasang kujang miliknya, yang lalu membelah rentetan para monster batu secara brutal. Namun yang membuat Galuh sangat terkejut, ketika sudah terbelah, para monster batu ini kembali menyatu dan utuh kembali.

Di saat yang sama, Gada Sangkara yang juga menyerang para monster batu tersebut. Dengan energi miliknya yang membentuk dua kepalan tangan raksasa yang sangat besar, para monster batu yang dipukul dengan sangat keras, langsung terbuar dengan ganas! Namun setelah itu, para moster batu ini kembali menjadi wujud semula.

Dwasa si Mahluk Asap semakin mengikik bahagia, ekspresi bahagianya yang sangat mengejek, membuat Galuh benar-benar sangat kesal.

Dengan kemarahan yang memuncak, Galuh melesatkan sepasang kujangnya untuk merobek Dwasa dari segala arah. Dwasa tidak tinggal diam, setelah berhasil menghindar, dari atas Dwasa mengendalikan para monster batunya untuk mengeroyok Galuh hingga sangat terpojok.

Gada Sangkara dan Ragadewa yang terkejut melihat Galuh menahan banyak pukulan. Maka dengan segera, Gada Sangkara masuk kedalam pertarungan dan menahan segala serangan agar Galuh tidak terluka.

Lalu Ragadewa sendiri, ia segera melesat menuju Dwasa Si Mahluk Asap sambil membuat replika pasir tubuh Dwasa. Namun begitu jadi, replika Dwasa Si Mahluk Asap sama sekali tidak bergerak! Bahkan mematung seperti boneka kosong! Ragadewa yang kebingungan karena energi miliknya tidak bisa mengendalikan replika Dwasa sama sekali, membuat Dwasa mengikik semakin menjadi.

“Sayha hanyha bothol koshong…. enhergi yhang sayha Milikhii, Bhukan Energhi sayhaaa…. Jadhii kamhuuu tidhak bhisa memnhiru apapuuun dari dhirii sayaa.. hahahahaha…!” Ejek Dwasa sambil terbahak senang, deretan gigi jeleknya semakin terpampang menyebalkan.

Adhit mencoba melihat melalui teropong Ruh yang dulu diberikan Jinn Si Kelinci.  “Kekuatan Dwasa di topang seseorang! Putuskanlah sesuatu yang mengalir pada Dwasa dan para Monster Batu!” Teriak Adhit dari balik segel pelindung, yang kemudian diangguki mengerti oleh yang lainnya.

Namun nihil, tanpa teropong Ruh dan Mata Ruh, mereka tidak bisa menemukan penghubung apapun yang mengalir pada Dwasa dan para monster batu. Sedangkan Adhit tidak bisa keluar dari segel pelindung yang dibuat Soma, karena konsentrasi Soma Wisesa tidak boleh terputus saat membaca tabir Kitab Candrakra, atau ia akan terluka dalam dengan parah.

Ketika mereka semua benar-benar terpojok, tiba-tiba segel Galuh malah terbuka. Galuh panik, dikarenakan sekalipun jaraknya jauh, disekitar Merapi masih terdapat beberapa pendaki yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Saat para Ajag hampir keluar mengamuk, tiba-tiba seseorang berteriak, “Tungguu!!”

Mereka mendapati seorang perempuan langsing berambut gelombang, datang berlari sambil berusaha mengeluarkan energinya.

Saat para pemilik elemen bersiaga melawan, tiba-tiba dari belakang perempuan tersebut muncul puluhan malaikat gagah bersayap besar dan sangat kokoh. Para malaikat ini memakai armor besi. Lalu dari kepala, wajah sampai dada, tertutup kain putih. Sehingga para malakat ini tampak sangat dingin. Mereka bergerombol menjebol segel benteng pemantul hingga pecah berkeping-keping, yang lalu membabat para monster batu dengan keganasan tanpa ampun.

Dalam sekejap, para monster batu langsung terbuar dan tidak kembali lagi seperti semula. Melihat seluruh pasukannya habis, Dwasa Si Mahluk Asap segera lari seperti pengecut, lalu hilang entah kemana.

“Kalian baik-baik saja!” Teriak perempuan tersebut sambil berlari mendekat, lalu setelah itu ia menghilangkan para malaikat bertudung dibelakangnya dengan kibasan tangan sekejap.

“Bagaimana kamu bisa memutus energi dari penopang Dwasa? Siapa kamu?” tanya Ragadewa heran.

“Dengan ini,” Ucap wanita tersebut sambil memperlihatkan teropong yang mirip teropong Ruh. Intonasi tegas dari wanita ini, sangat menggambarkan sebuah karakter kuat lagi tangguh.

“Saya Kahiyang Raga, putri dari Delegasi Istana yang pernah ditugaskan di daerah ini.” ucap wanita yang menolong mereka dengan tegas.

Setelah dekat, para pemilik elemen terkejut dengan paras dan perawakan wanita yang bernama Kahiyang ini. Mengingatkan mereka akan gambaran malaikat yang selalu di lukiskan dalam dongeng-dongeng Nirwana. Benar-benar sangat berbanding terbalik dengan energi yang dimilikinya. Dengan hanya beberapa kali tebasan, para monster batu yang sebelumnya membuat para pemilik elemen sangat kewalahan, justru dibawah kendali energi Kahiyang Raga langsung hancur dengan sangat brutal.

Melihat dari kemampuannya dalam mengatur energi yang sekompleks ini, Galuh dan Kawan-kawan, menerka bahwa Kahiyang Raga adalah salah satu dari para anak Istimewa.

“Dwasa mengendalikan para monster batu menggunakan benang energi, sistem kerjanya persis seperti memainkan boneka Marionette. Jadi, ketika energi saya yang berbentuk malaikat menyerang para monster batu dari segala sisi, di saat yang sama, saya memotong benang energi sehingga para monster batu kehilangan pemasok energinya,” jelas Kahiyang dengan nada tegas lagi.

“Sayangnya, benang energi dari pemasok Dwasa tidak terlihat sama sekali,” Sesal Kahiyang. “Ah.. Nona Galuh..” ucap Kahiyang saat menyadari Galuh ada disampingnya, setelah itu ia menunduk hormat.

“Kamu mengenali saya?” Galuh terkejut karena ia dikenali.  

“Seseorang baru saja menunjukan gambaran anda dan bertanya apakah pernah melihat anda selama dalam perjalanan saya, sepertinya ia benar-benar khawatir. “Jawab Kahiyang Raga tersenyum sambil melayangkan teropong Ruh pada seseorang dibelakangnya.

“Jiiiinnn!!!” teriak Galuh dan Adhit bersamaan.

“Nona Galuh.. Adhitya, akhirnya bisa menemukan anda berdua disini! Syukurlah melihat anda berdua baik-baik sajaa.… ” jawab Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak lega.

“Jinn..? apa yang sedang terjadi?” tanya Galuh heran.

“Ketika saya ditugaskan Tuan Addar untuk menemui Nona Kahiyang Raga, kami malah melihat Dwasa Si Mahluk Asap sedang mengendap di sekitar sini, jadi kami mengikuti Dwasa sampai tempat ini.

“Apa kamu tahu apa yang Dwasa cari disini?” tanya Galuh heran. “Justru hal tersebut yang sedang kami cari tahu,” ucap Jinn Si Kelinci yang dibenarkan Kahiyang Raga.

“Memangnya Kakek Addar menugaskan apa?” tanya Adhit ingin tahu.

“Saya diminta bertanya pada Nona Kahiyang Raga, sudah berapa banyak Kitab Sembilan yang berhasil ia rebut dari Kaum Hitam,” ucapan Jinn Si Kelinci membuat semua terhenyak, terutama Ragadewa. 

“Nekat merebut sesuatu dari Kaum Hitam sendirian adalah usaha bunuh diri, apalagi benda sehebat Kitab Sembilan, sedangkan Kahiyang berhasil merebut lebih dari satu? Perempuan ini benar-benar tidak waras!” Pikir Ragadewa heran.

”Saya diminta menemui Nona Kahiyang, karena Tuan Addar berhasil mendapatkan informasi dari tiga adik Rahadyan Sayuga dan Sadya Agracarana, ternyata para Kaum hitam sedang mengumpulkan Kitab Sembilan untuk merebut batu Hyang Sawarga di Istana.” Jawaban Jinn Si Kelinci sontak membuat Galuh dan kawan-kawan terkejut.

“Untuk apa?” tanya Ragadewa heran. “Nanti akan saya jelaskan, namun tidak disini,” jawab Jinn Si Kelinci hati-hati.

“Sepertinya Kaum Hitam terbagi dalam dua kubu, satu mencari petunjuk batu Hyang Sawarga, satu lagi mengumpulkan Kitab Sembilan.” Ucap Adhit yang dibenarkan oleh semua yang ada disana, kecuali Kahiyang Raga yang terkejut.

Namun sebelum Kahiyang bertanya, Soma Wisesa tiba-tiba menemukan sinyal Istana Tujuh Pintu, yang setelah itu segel yang melindungi dia dan Adhitpun akhirnya terbuka.

Setelah berdiri ditempat yang ditunjukan Kitab Candrakara, Soma Wisesa mengelus pasir yang ditunjukan Kitab Candrakara sambil berkata, “ada bekas energi Istana tujuh pintu disini, sepertinya pernah disini, tetapi sudah kabur menghilang,” ucap Soma Wisesa kesal.

“Kabur menghilang?” tanya Adhit heran.

“Istana tujuh pintu dirancang Candrakara untuk menghilang bila ada energi hitam yang mendekat, lalu muncul di tempat yang terpilih secara acak. Bisa jadi ia hilang saat Dwasa tadi datang,” jawab Soma Wisesa sambil meremas pasir tempat dimana Istana Tujuh Pintu sebelumnya berada. Soma terlihat benar-benar sangat kesal.

“Soma.. setidaknya Istana Tujuh Pintu belum ditemukan Kaum Hitam, berarti peluang kita menemukannya lebih dulu masih ada,” ucap Gada Sangkara yang kemudian diangguki oleh Soma Wisesa yang kini sedikit lebih tenang.

“Kalau begitu, ikutlah dengan saya. Disini ada tempat yang cukup aman, sehingga kalian bisa istirahat sambil membicarakan semua ini dengan tenang.” Ucap Kahiyang Raga yang lalu berjalan duluan untuk memandu jalan. Karakter Kahiyang yang unik, justru membuat Ragadewa dan Galuh saling berpandangan.

“Seleramu sekali, cantik.. dan sedikit mengintimidasi!” bisik Galuh yang sontak membuat Ragadewa terkejut, Galuh benar-benar ingat apa yang pernah ia katakan kepadanya saat kecil dulu. “Tetapi saya mengatakan itu, untuk memberi kode bahwa itu adalah kamu! Bukan wanita lain!” pikir Ragadewa sambil menggeleng pasrah dengan ketidak pekaan Galuh.

Sesampainya di tempat yang ditunjuk Kahiyang, para pemilik elemen kini bingung. Karena mereka dibawa pada sebuah tanah kosong, tidak ada apapun kecuali banyaknya pohon dan tanaman perdu tidak terawat.

Namun, begitu Kahiyang menuntun mereka masuk, barulah mereka menyadari bahwa apa yang tampak didepan mata, hanyalah kamuflase segel pelindung yang menyembunyikan tempat ini dari padangan biasa.

Semua terkesima, karena ternyata dibalik segel pelindung kamuflase, terdapat rumah panggung kayu yang terbuat dari kayu jati yang dipoles dengan sangat halus. Tiang-tiang penyangganya sendiri, di ukir dengan motif sulur dan merak khas Sunda. Lalu ditambah beberapa pot yang dipenuhi tanaman hijau yang asri, benar-benar membuat suasana keseluruhan rumah ini jadi terasa begitu nyaman dan sangat menenangkan.

Namun yang membuat Galuh dan kawan-kawan semakin terperangah, tepat dibawah rumah panggung kayu tersebut, terdapat kolam besar jernih yang menampung ratusan ikan Koi yang hilir mudik dengan sangat menakjubkan.

“Disini indah sekali Kahiyang..” ucap Galuh sambil melihat berkeliling tidak percaya. Kahiyang menanggapinya dengan senyum penuh arti.

Setelah masuk kedalam, semuanya kembali berdecak kagum. Selain semua perabotan yang terbuat dari kayu jati dan mahoni, diukir dengan ukiran merak yang senada dengan rumah panggung kayu tersebut. Mereka juga mendapati bahwa setiap sudut ruangan dihiasi pot-pot kecil gantung menambahkan keasrian.

Namun yang membuat mereka semua benar-benar terperangah adalah, suara kicau burung-burung kecil, yang berasal dari para burung kecil yang tengah bersantai di kandang burung gantung, dengan pintunya yang terbuka. Sehingga para burung kecil ini bisa leluasa keluar masuk kandang, dan tidak kabur sama sekali.

Setelah itu, mereka semua langsung dipersilahkan duduk mengelilingi meja lesehan dengan ukuran yang cukup besar.

“Tadinya ini milik mendiang ke dua orang tua saya,” ucap Kahiyang sambil menghidangkan teh Telang dengan tenang.

“Ah.. maafkan saya..” ucap Galuh tidak enak hati.

“Tenang saja Nona Galuh, itu sudah lama sekali. Penyerangan itu terjadi saat saya masih berusia dua belas tahun. Mereka tewas karena selain menginginkan salah satu Kitab Sembilan yang ada ditangan ayah, mereka juga menginginkan energi yang saya miliki.” Ucap Kahiyang sambil membuka lemari makan yang dipenuhi camilan khas Jawa Barat.

 Mereka terkejut setelah Kahiyang bercerita panjang lebar. Berbeda dengan Ragadewa yang memilih bersembunyi dari kejaran kakeknya, setelah kedua orang tua Kahiyang terbunuh, sekalipun usianya masih dua belas tahun, Kahiyang Raga justru memilih mengejar untuk merebut pecahan Kitab Sembilan, lalu mengacak-acak gerakan Kaum Hitam sekalipun harus mengarungi seluruh dunia.

“Kamu benar-benar nekat Kahiyang,” ucap Gada Sangkara sambil tertawa dengan takjub.

“Namun karena hal itu, saya justru mempunyai banyak akses untuk masuk ke dalam lingkungan Kaum Hitam.” Jawab Kahiyang sambil menghadiahi Galuh buku catatan kecil milik salah satu jenderal Hitam, buku yang berisi kode-kode yang biasa digunakan Kaum Hitam!

“Ia benar-benar perempuan gila!” batin Ragadewa dengan sama takjubnya.

“Kahiyang, mengapa kamu sangat terobsesi mengumpulkan Kitab Sembilan?” tanya Galuh ingin tahu. “Benar, untuk apa?” tanya Ragadewa ikut heran.

“Awalnya dikarenakan Kitab Sembilan adalah yang menyebabkan kedua orang tua saya terbunuh. Saya hanya ingin mengacaukan segala misi mereka yang berhubungan dengan Kitab Sembilan,” Ucap Kahiyang dengan tenang. Mereka semua kagum karena tidak ada intonasi ketakutan apapun yang tercermin dari suaranya.

“Namun, setelah saya gali banyak informasi tentang Kitab Sembilan, ada rahasia besar mengapa Kaum Hitam sangat terobsesi mengumpulkannya.” Ucapan Kahiyang Raga membuat Galuh dan kawan-kawan jadi sangat penasaran..

“Kitab Sembilan, awalnya adalah satu energi yang diciptakan salah satu pertapa hebat Astamaya. Karena satu energi ini sangat berbahaya, maka pembuatnya memecah energi ini jadi sembilan agar bisa dimanfaatkan untuk kebaikan Kaum Astamaya,” ucap Kahiyang lagi yang disambut tatapan terkejut dari semua yang ada disana.

“Jadi awalnya adalah satu kitab?” tanya Adhit memastikan.

“Bukan satu kitab, melainkan satu energi.” Ralat Kahiyang bijak. “Setelah energi tersebut dipecah menjadi sembilan, maka pertapa tersebut merubah sedikit kode rumusnya agar energi tersebut bisa dimanfaatkan oleh Kaum Astamaya,” jelas Kahiyang.

“Apa saja?” tanya Adhit semakin penasaran.

“Kitab Sembilan itu terdiri dari;

Kitab Pemahat mantera; ilmu tentang membuat kode mantera dalam pembuatan segel sebuah wilayah. Contohnya, segel Wilayah Astamaya dan segel ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga di istana.” Lalu dengan energinya, Kahiyang Raga memperlihatkan gambaran ketika para pemahat mantera bekerja. Mereka bekerja merumuskan banyak kode sehingga membentuk segel pelindung yang amat sangat kuat.

Kitab Ilusi partikel; Ilmu tentang memanfaatkan energi elektromagnetik, pengolahan energi dasar yang dimiliki semua Kaum Astamaya. Ini adalah ilmu pengendalian energi yang dikenal seluruh Kaum Astamaya,” lalu Kahiyang membuat objek dengan energi yang dimilikinya, membuat Adhit teringat, saat bagaimana Kakek Addar memperlihatkan pengendalian energi miliknya saat ia pertama kali datang.

Kitab Gerbang Cermin; Ilmu tentang membuat refleksi ruang dari alam sekitar dengan radius tertentu, lalu dimasukan kedalam sebuah objek yang di inginkan,” Kahiyang lalu menunjuk kalung tempat Soma Wisesa tersegel.

Kitab Sangkar Ruh : Ilmu tentang merubah mahluk menjadi golongan Ruh, ilmu ini juga yang digunakan Guru Candrakara saat menyegel Soma Wisesa ke dalam segel kalung.”ucap Kahiyang lagi sambil menunjuk kalung segel Soma Wisesa yang dipakai Galuh.  

“Jadi, Guru Candrakara menggunakan ilmu dari dua kitab?” ucapan Adhit diangguki Kahiyang dengan jelas. Soma Wisesa tersenyum, “Dasar si gila Candrakara,” ucap Soma sambil menggeleng pelan.

Kitab Matera Ramuan;  Ilmu mantera yang digunakan menggunakan bahasa sunda kuno atau Aksara Buhun yang sudah terselipi partikel ramuan yang sudah teracik.” Ucapan Kahiyang membuat para pemilik elemen sulit menggambarkan dalam kepalanya. 

“Persis yang di lakukan Hailana Sang Dewi Ruh saat melindungi selama perjalanan di bukit Ruh.” Ucap Jinn Si Kelinci sambil mengeluarkan gambaran kilas balik dengan energinya. Gambaran saat Hailana Sang Dewi Ruh menuliskan sesuatu dalam aksara Buhun. Aksara Sunda Kuno, untuk melindungi Galuh, Adhit dan Jinn Si Kelinci saat harus melewati Bukit Ruh. Kini semua yang melihat mengangguk-angguk mengerti.

Kitab Alam pikiran; ilmu memasuki alam pikiran seseorang dan melakukan interaksi hingga pertarungan rahasia, tanpa merusak alam sekitar. Mereka tiba-tiba ingat cerita Soma Wisesa tentang bagaimana ia bisa membantu Guru Candrakara dalam menyusun Kitab Candrakara tanpa bertemu langsung. Lalu mereka semua kembali mengangguk-angguk mengerti.

Kitab Kamus alam; ilmu membaca informasi berdasarkan apa saja yang terjadi berada di alam sekitar. Jadi, anda hanya perlu menyentuh objek yang dituju, biasanya dengan telapak tangan, maka anda bisa mereka ulang sebuah peristiwa.”

Kitab peracik Ruh; ilmu ini tentang bagaimana meleburkan sebuah Ruh sehingga kembali seperti bayi baru terlahir. Pencipta Kitab ini berharap, apabila ada seorang yang kuat tetapi jahat, bisa dimanfaatkan ilmunya tanpa khawatir akan terbunuh sia-sia. Ironisnya, Kitab ini ada di tangan Kaum Hitam, menurut rumor yang beredar, ilmu ini yang dipergunakan untuk mencuci Ruh para anak Istimewa agar hanya bisa dimanfaatkan energinya,” ucap Kahiyang Raga sebal.

“Ini juga yang digunakan dalam pembuatan Ruh para Ajag hahaha…,” timpal NaRaja yang membuat semua yang ada disana kaget. “Jadi Saguri menggodok para Ruh Jahat dalam kendi Ruh, adalah berdasarkan ilmu dari Kitab peracik Ruh? Tanya Adhit terkejut. “Benar yang dikatakan olehmu anak muda,” jawab NaRaja membenarkan.

Adhit semakin terkejut, mengapa NaRaja kini semakin terang-terangan dalam mendukung perjalanan ini. “Apa ia memang benar-benar berbalik arah, atau ini hanya strateginya agak para pemilik elemen mulai mempercayainya?” pikir Adhit yang mulai pusing dengan segala prasangka dikepalanya sendiri.

“Yang terakhir Kitab Mahui; ilmu mengambil kode genetika seseorang, sehingga ia bisa saling berkirim kabar tanpa salah alamat, contohnya burung Mahui.” Ucapan Kahiyang membuat Adhit terperanjat, “jadi.. Mahui itu jenis energinya? Bukan nama burung tersebut?” tanya Adhit kembali terkejut. “Bukan, ada banyak sekali turunan dari ilmu energi Mahui, tetapi yang paling populer bagi Kaum Astamaya adalah burung Mahui,” jawab Kahiyang membuat Adhit semakin takjub sekaligus terkejut.

“Identifikasi energi milik seseorang, akses wilayah yang tersegel, dan segel darah juga menggunakan prinsip energi yang dituliskan oleh Kitab Mahui. Sebenarnya masih banyak lagi, tetapi saya belum menemukannya dengan pasti, karena informasi tentang energi ini dijaga cukup hati-hati,” ucap Kahiyang Raga yang kali ini bukan hanya Adhit yang terkejut, semua yang ada disana juga.

“Masing-masing dari sembilan kitab ini dipegang oleh sembilan muridnya yang diminta hidup bersembunyi. Mereka diminta menyebarkan ilmu tersebut pada para Kaum Astamaya tanpa memperlihatkan dari mana ilmu tersebut berasal.” Jelas Kahiyang Raga sambil meminum kembali the telangnya.

Adhit lalu meminum juga teh telang yang disajikan Kahiyang. Rasanya yang ringan, lembut,  agak hambar mirip teh tanpa kafein, cukup membuat kelelahan saat tadi terlibat dalam konflik Galuh dan Dwasa, hilang seketika.

“Sayangnya enam dari pertapa ini, tewas secara mengenaskan, sepertinya para Kaum Hitam merebut paksa kitab ini. Salah satunya yang mengirimkan Mata Ruh pada Tuan Addar.” tambah Jinn Si Kelinci yang membuat Galuh dan Adhit kini mengerti, mengapa ada seorang pertapa tiba-tiba mengirimkan mata Ruh miliknya pada kakek Addar.

Kahiyang terkejut saat mendengar Kaum Hitam mengejar mereka karena menginginkan Batu Hyang Sawarga, ia kira batu tersebut masih tersimpan baik di Istana. Karena selama ini, kasus yang ia temukan adalah sejak mereka kehilangan para Ajag, Kaum Hitam mengincar Kitab Sembilan untuk merebut batu Hyang Sawarga dari Istana.

Disini Galuh dan Adhit mulai mengerti, mengapa Saguri menyerang Gua bawah tanah dengan tidak melibatkan pasukan kaum Hitam, tetapi malah memanfaatkan kekuatan Dwasa dan kekuatan yang dibuat alam, ternyata dia bergerak untuk kepentingannya sendiri.

Setelah beberapa misteri dari tindak tanduk Kaum Hitam mulai tercerahkan, Mereka semua memutuskan untuk menginap sehari dulu disana, lalu pergi mengikuti petunjuk bersama Kahiyang. Namun paginya, ternyata rencana berubah, mereka harus berpisah jalan dengan Kahiyang Raga karena ia mendapatkan informasi terbaru tentang Kitab Sembilan lainnya.

Sebelum berpisah, Ragadewa memutuskan  menyerahkan Kitab Sembilan seri Pemahat Mantera pada Kahiyang Raga. Karena masing-masing kitab tersebut tadinya adalah satu, maka energi mereka saling memanggil satu sama lain, dan ini akan mempermudah pencarian Kahiyang Raga pada Kitab Sembilan selanjutnya.

Setelah Kahiyang Raga pergi terlebih dahulu, karena merasa pernah melewati wilayah yang ditunjukan Kitab Candrakara, Jinn Si kelinci memutuskan untuk mengantar Galuh dan kawan-kawan dulu dalam memecahkan petunjuk tentang pencarian Istana Tujuh Pintu.

“Mari ikut dengan saya..” ajak Jinn Si Kelinci, yang membuat Galuh dan Kawan-kawan jadi sangat bersemangat dalam menuntaskan petunjuk dari Guru Candrakara.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir