Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 22 – Pertemuan tak terduga! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pintu gerbang menuju dunia
Manusia yang terletak di dalam lorong rahasia Istana, ternyata mengarah pada jantung
kota Jakarta. Lebih tepatnya, mereka keluar dari pintu tugu Monas!
Adhit mengenal pemandangan luar
itu, dari balik pintu berdinding marmer tersebut, terdengarlah suara Jakarta yang
begitu familiar di telinganya. Suara klakson, sayup riuh suara orang sekitar, disertai
angin yang membawa aroma aspal hangat, seakan menyatu dan menjadi simfoni yang sangat
dikenali oleh Adhit.
Galuh memandang Adhit yang tengah
tersenyum. “Jakarta! Ini adalah kota yang selalu Adhit ceritakan saat di Gua
Bawah tanah dulu,” pikir Galuh, yang lalu memandang arah luar dengan penuh rasa
ingin tahu.
Selesai mengantar, Jinn Si
Kelinci kembali masuk ke dalam lorong rahasia. Lalu setelah itu, pintu yang
menghubungkan mereka dengan Astamaya pun menghilang.
Gada Sangkara mengamati pakaian
beberapa orang yang lewat. Lalu dengan energinya, ia mengubah jalur jalinan
tenun benang pakaiannya sehingga membentuk pakaian Manusia pada umumnya. Gada bahkan
mengambil beberapa pigmen warna dari benda sekitar yang membuat penyamarannya jadi
tampak lebih sempurna.
Kini Gada Sangkara terlihat seperti
Manusia para umumnya. Tubuhnya yang tinggi kekar, begitu pas saat menggunakan kaus
coklat muda, yang dilapisi jaket coklat tua dengan bagian lengan yang sedikit ditarik
ke atas. Dipadu dengan celana jeans coklat gelap yang lurus ke bawah, membuat
tampilan Gada yang tinggi kekar jadi terlihat lebih kasual dan ramah.
Melihat hal tersebut, Galuh pun segera
mengikuti. Menyisakan tinggal Adhit yang kebingungan, karena Ia tidak memiliki
energi seperti yang dimiliki Kaum Astamaya. Galuh yang menyadari, dengan segera
ia mengubah jalur jalinan tenun benang pakaian Adhit, sehingga mereka semua kini
tampak seperti anak Jakarta pada umumnya. Sedangkan Soma Wisesa, Ia lebih
memilih tetap diam di dalam kalung segelnya. Soma merasa bahwa penampilannya
yang mencolok, hanya akan mengganggu perjalanan rahasia mereka.
Setelah merasa sudah siap, mereka
semua berjalan keluar dari wilayah Monas dengan pandangan penuh antusias.
“Selama ini, saya hanya membayangkannya
dari buku dan beberapa novel di perpustakaan gua kota bawah tanah. Lalu sekarang,
bukan hanya melihatnya langsung, saya bahkan bisa menyentuhnyaaa…!” ucap Galuh
tidak percaya. Galuh benar-benar seperti bocah, hampir semua hal yang Galuh
lewati ia sentuh.
“Apa dunia Manusia setenang ini?”
tanya Gada Sangkara tak kalah takjub. “Tindak kejahatan tetap ada, tetapi tidak
sebrutal di Astamaya.” Ucap Adhit sambil menatap sekitar. Ia tidak mengira
bahwa kota yang dulu ia anggap paling sibuk, kini jadi terlihat tenang
dibandingkan dengan segala kejutan yang ditimbulkan Astamaya.
Tiba-tiba seakan teringat sesuatu,
Galuh menoleh pada Adhit. “Wajah kamu belum dirubah Dhit! Kamu sudah diberi tahu
fungsi lain dari kalung milik leluhurmu kan?” ucap Galuh lagi sambil menatap kalung
warisan Surya Suradana yang tergantung di leher Adhit. “Tentu!” jawab Adhit
sambil menekan tombol bandul kalung tersebut, lalu tiba-tiba wajah Adhit
berubah jadi alien.
“Adhit, ini bukan candaan!” teriak
Galuh sambil menarik Adhit pada sisi terpencil agar tidak terlihat orang. “Disini
wajah kamu telah dikenal dimana–mana, bandul kalung ini menjaga agar beberapa
kontur wajahmu dirubah sedikit agar terlihat berbeda!” ucap Galuh sambil
menekan tombol kalung tersebut.
Ternyata tombol tersebut harus
ditekan beberapa kali, karena Adhit memasukan beberapa wajah tidak berguna ke dalam
kalung tersebut. Seperti ikan, monyet, donat, hingga akhirnya ditemukan wajah
Adhit dengan beberapa kontur wajah yang telah dirubah. Hal tersebut membuat Gada
Sangkara tertawa terpingkal-pingkal.
Karena kesal, Galuh memilih
mengikuti Gada Sangkara yang tiba-tiba tertarik pada sesuatu. Tetapi perilaku
Gada malah lebih norak. Galuh bahkan langsung berbalik kembali pada Adhit,
karena Gada tiba-tiba mencoba naik mainan anak yang ada di depan minimarket. Tubuh
tinggi kekarnya benar-benar kontras dengan kuda-kudaan koin warna merah muda.
Adhit semakin tertawa dengan
ekspresi Galuh, saat melihat Gada Sangkara memaksa naik Bajaj. Tubuh tinggi kekarnya
membuat bajaj hanya bisa ia duduki seorang diri. Namun saking bahagianya, Gada
tidak perduli bila kakinya terlipat tidak tentu arah.
Galuh dan Adhit akhirnya mengikuti
Gada dengan naik bajaj satu lagi. Sekalipun turun dengan kaki tremor, bukannya
kapok, Gada malah ingin melanjutkan menaiki angkot, delman sekitar Monas, lalu
ojek online yang kali ini dibayar untuk berkeliling Monas saja sendirian. Galuh
yang hanya bisa menggeleng, dan akhirnya mengikuti Adhit yang sabar menunggu Gada
Sangkara puas naik ojek online sambil makan bakso pinggir jalan.
“Kamu tidak keberatan dengan
makanan pinggir jalan seperti ini?” tanya Adhit khawatir. “Tidak! malah sangat
senang! Kamu tahu? suasana sekarang ini, sama persis dengan yang sering
diceritakan dalam novel–novel Manusia, terutama novel remajaaa… ” ucap Galuh
antusias. Adhit kembali tertawa karena saat makan bakso pun, Galuh masih sempat
membeli beberapa makanan lain yang kebetulan melewati mereka.
Tanpa embel-embel pemilik para
Ajag, Galuh ternyata seperti perempuan remaja pada umumnya. Periang, menyukai
es krim, bakso, keripik, seblak pedas, bahkan novel remaja.
Gada Sangkara yang telah puas
naik ojek online, ketika hendak ingin menaiki bis umum, Adhit segera mengingatkan
bahwa kedatangan mereka kesini bukan untuk berwisata.
“Maafkan saya,” ucap Gada dengan
gembira yang tidak bisa ia tahan. “Tetapi semua ini benar-benar sama persis
dengan yang di ceritakan dalam buku dan novel!.. hahaha..” ucap Gada Sangkara dengan
tawa yang sangat senang. Gambaran sosok Panglima Besar yang berkharisma kuat,
kini beralih menjadi sosok anak–anak yang baru pertama kali memasuki taman
bermain.
“Seorang Panglima Besar yang
paling ditakuti para Menteri korup dan Bangsawan licik, ternyata menyukai Novel
remaja?” ucap Adhit tidak percaya, namun Gada menanggapinya dengan tertawa. “Bukan
hanya novel remaja, selain mempelajari politik dan strategi perang, saya juga suka
memasak dan merapikan rumah hahaha..” jawab Gada dengan polos, yang setelah
itu, ia juga ikut memesan bakso.
Setelah mereka kenyang, tiba–tiba
Galuh menoleh pada sisi belokan jalan kecil. “Apa kalian merasakan juga? Ia
salah satu dari Kaum Astamaya, namun energinya selaras dengan kita,” ucap Galuh
serius.
“Energinya berasal dari belokan
sebelah sana, tetap waspada dan tahan emosi kalian. Ini memang milik salah
seorang dari Kaum Astamaya, namun energinya lebih mirip kita berempat,“ ucap
Gada Sangkara serius.
“Jadi ini yang dimaksud Kakek Addar tentang
para pemilik elemen akan saling mengenali? Pantas saja, saat bertemu Galuh dan
Gada Sangkara, tiba-tiba tergelitik sengatan getaran yang sangat aneh!” pikir
Adhit takjub.
“Apa menurut kalian dia salah
satu pemilik elemen?” tanya Adhit ingin tahu. “Semoga saja. Kalian berdua,
tetap tenangkan diri agar dia tidak merasakan kedatangan kita. Kita tidak tahu
ia ada di pihak mana,” ucap Gada Sangkara sambil berjalan mendahului dengan langkah
yang mencoba tenang.
Mereka mengikuti kemana arah
energi tersebut terasa. Diantara hiruk pikuk yang berlalu lalang, pandangan mereka
langsung terarah pada pertengkaran sepasang kekasih. Lelaki tinggi besar dengan
tubuh yang dipenuhi dengan tattoo, tampak sibuk berteriak sambil menjambak kekasihnya
dengan kasar. Sekalipun wanita tersebut sangat kesakitan, sayangnya tidak ada
seorangpun yang berani melerai.
Tak lama, mata Galuh dan Gada Sangkara
tertuju pada sebuah energi sayup di dekat sepasang kekasih tersebut. Seorang
pria muda berkacamata, berpakaian rapi, tampak tengah duduk menikmati secangkir
kopi hitam sambil menatap gadgetnya.
“Energinya memang sedikit aneh, Galuh..
lihatlah dengan mata Ruh!” sebuah suara muncul dari kalung tempat Soma Wisesa
berada.
Tanpa membuang waktu, perlahan Galuh
segera memakai mata Ruh tersebut. “Kita menemukannya! ia salah satu dari kita,
salah satu pemilik elemen!” ucap Galuh senang.
Pria berkacamata tersebut hanya
melirik Galuh sebentar, lalu menggeser cangkirnya sehingga kopinya terpercik ke
atas. Dengan kibasan seulas, bulir air kopi yang terpercik tiba-tiba melesat, menotok
salah satu syaraf penting leher pria kasar bertatoo yang sedang menyiksa tersebut.
Lalu setelahnya, pria bertatoo tersebut kejang tidak berdaya.
Saat mereka kembali menoleh pada
pria berkacamata tersebut, ia telah hilang meninggalkan kopi yang masih belum
berhenti dari riaknya.
“Ikuti energinya!” ucap Gada
Sangkara yang di iyakan Galuh dan Adhit dengan cepat. Namun mereka malah berakhir
di sudut gang buntu! Tiba-tiba, dari arah atas turun ratusan kerikil tajam
menghujam mereka tanpa ampun. Untung Gada Sangkara sigap melindungi Galuh dan
Adhit dengan perisai energinya.
Disambung Soma Wisesa, yang keluar
dari kalung Galuh untuk menangkis serangan kerikil tambahan yang tiba-tiba saja
berbelok liar seperti bumerang.
Setelah suasana reda, tiba-tiba pria
muda berkacamata tersebut turun dari arah atas dengan wajah heran.
“Anda.. Soma Wisesa? sedang apa
anda disini?” tanyanya heran.
“Soma Wisesa menatap sejenak
pemuda tersebut, yang setelah itu segera mengenalinya. Dengan menyedekapkan
tangannya Soma berkata. “Ragadewa, anak
kecil angkuh ini ternyata telah berubah menjadi pemuda dengan energi yang
lumayan hebat!” ucapnya bangga.
“Dewa… itu kamu Dewa?” tanya
Galuh tidak percaya. Lalu Galuh memeluk pria muda tersebut, seakan bertemu
kembali dengan seseorang yang telah lama hilang. Setelah itu, Galuh mencecarnya
dengan banyak sekali pertanyaan.
“Siapa dia?” bisik Adhit pada
Gada Sangkara. ”Ia adalah sahabat Galuh saat kecil, anak pendiam dan sangat misterius.
Tidak ada yang mau berteman dengannya kecuali Galuh. “Jawab Gada Sangkara
pelan, namun reaksi wajah Gada Sangkara cukup membingungkan.
“Kamu tidak menyukainya?” tanya
Adhit heran. “Ia cucu yang ternyata salah seorang bawahan Tetua Hitam, kita
tidak bisa mempercayainya seratus persen!” ucap Gada lagi dengan raut wajah semakin
tidak suka. Mendengar hal tersebut, Soma Wisesa mendekati Adhit dan Gada
Sangkara.
“Anak malang ini, saat remaja
memutuskan kabur ke dunia Manusia, bukan untuk mengikuti kakeknya yang
melarikan diri dari Istana, melainkan karena ia menemukan kebenaran bahwa kedua
orang tuanya dibunuh oleh kakeknya sendiri.” Ucapan Soma Wisesa sontak membuat
Adhit dan Gada Sangkara terkejut luar biasa.
“Kalian tahu alasan mengapa
kakeknya tega membunuh menantu dan darah dagingnya sendiri? Ragadewa adalah
salah satu anak Astamaya yang di anugrahi energi Istimewa. Ia adalah salah satu
kandidat, yang kelak bisa menggantikan posisi salah satu Tetua Hitam yang telah
lama tewas.” Adhit dan Gada Sangkara kini semakin terhenyak.
“Anak Astamaya yang di anugrahi
energi Istimewa?” tanya Adhit penasaran.
“Semua Kaum Astamaya mempunyai
anugrah unik. Mereka bisa mengontrol energi listrik tubuhnya melalui impuls
syaraf yang dikendalikan otaknya. Dengan konsentrasi yang tepat, Kaum Astamaya
mampu memanipulasi elektromagnetik sekitar mereka, sehingga partikel udara disekitar
bisa mereka bentuk menjadi objek yang mereka inginkan.” ucapan Gada Sangkara,
mengingatkan Adhit saat dulu Kakek Addar memperlihatkan cara ia mengendalikan
energinya.
“Sedangkan anak Istimewa adalah;
seorang anak Astamaya yang memiliki pengaturan konsetrasi yang lebih kompleks. Bila
Kaum Astamaya biasa hanya mengendalikan partikel udara menjadi satu objek. Maka
anak Istimewa, mampu mengendalikan puluhan objek dengan puluhan gerakan yang
tidak seragam. Dan itu baru salah satu contoh bentuk energi, ada banyak lagi
bentuk penyaluran energi unik yang dikuasai para anak Istimewa.” Mendengar hal
tersebut, Adhit langsung terkejut bukan main.
“Semacam jenius Astamaya?” tanya
Adhit lagi memastikan. “Ya! semacam itu.” Jawab Gada Sangkara yang membuat
Adhit semakin berdecak kaget.
“Benar yang dikatakan Gada, bila kakeknya
berhasil menjadikan Ragadewa pengganti salah satu Tetua Hitam yang tewas, maka
posisinya akan berubah, yang awalnya hanya bawahan Tetua Hitam, maka akan naik
menjadi penasihat para Tetua Hitam, dan itu posisi tertinggi dalam Jajaran Kaum
Hitam.” Jelas Soma Wisesa yang kini membuat Adhit dan Gada Sangkara
mengangguk-angguk mengerti.
“Kedua orang tua Ragadewa sangat setia pada Maharaja
Mahesa Agung, yaitu ayah Galuh. Bila mereka masih hidup, maka selain reputasi kakeknya
yang saat itu menjabat sebagai Ksatria Agung akan hancur, kakeknya juga akan
kesulitan untuk menguasai energi milik Ragadewa.” Adhit dan Gada kembali menangguk-angguk.
“Kamu tahu sebanyak itu?” tanya
Adhit pada Soma Wisesa dengan heran.
“Tentu saja, sebelumnya mereka
tinggal di sayap kiri Istana, tempat para Ksatria tertinggi tinggal. Saat
dikejar oleh kakeknya, Ragadewa kecil bersembunyi di ruang penyimpanan barang
kuno.” Jelas Soma Wisesa, sambil melirik pada Ragadewa yang masih dicecar
pertanyaan oleh Galuh.
“Keputusan yang sangat cerdas!
karena disana, energinya akan tersamarkan oleh energi barang-barang pusaka. Disanalah
kami bertemu, bahkan saya sendirilah yang menyarankan dia untuk kabur ke dunia Manusia,
“lanjut Soma Wisesa, yang setelah itu ia segera beranjak menemui Galuh yang
sedang bersuka cita.
“Selama ini saya telah berburuk
sangka terhadap Ragadewa,” ucap Gada Sangkara penuh sesal.
Berkat Ragadewa, hari ini mereka
mendapatkan tempat terbaik untuk bermalam. “Hebat sekali bisa bermalam di
tempat seperti ini!” ucap Adhit tidak percaya.
Mereka kini berada di dalam suite
mewah seluas 150 meter persegi dengan pemandangan panorama menakjubkan. Lantai
dan perabotan antik yang terbuat dari kayu mahoni kualitas terbaik, satu set sofa
berlapis kulit yang begitu besar, disertai satu buah lukisan antik dengan
goresan pisau palette yang cukup unik, membuat Adhit terkesima dengan kesatuan harmoni
visual yang begitu estetik.
“Ini semua hasil penjualan dari
novel fiksi ilmiah yang saya tulis” jelas Ragadewa saat melihat Adhit begitu
terpana pada isi ruangan tersebut. “Aah..oke..
ternyata semua sudah siap, ayo kita makan malam.” lanjut Ragadewa sambil membuka
sekat ruang makan dengan energinya.
Adhit semakin terhenyak, semua yang
tersaji adalah hidangan kelas atas! “Galuh yang awalnya terkejut, kini malah mencicipi
satu persatu dengan sangat suka cita. Sedangkan Gada Sangkara, ia ikut heboh
mencicipi semua makanan yang ada, padahal Gada sendiri sebenarnya terbiasa dengan
hidangan terbaik di Istana.
“Lihat.. ada dua anak gadis
sedang menikmati lezatnya makan malam.. hehehe..” bisik Soma sambil memandangi
Galuh dan Gada dengan senang. Setelah itu, ia pergi menuju jendela sambil
memandang pemandangan indah dari atas gedung yang super tinggi.
Adhit dan Gada Sangkara tertawa
saat Galuh bertengkar dengan para Ajag karena begitu berisik dalam memilih
makanan. Sedangkan Ragadewa, ia melintas sambil tersenyum, yang lalu kembali membawa
beberapa jenis kopi kapsul. Setelah semuanya siap, ia ikut makan malam bersama
mereka.
Selesai makan malam, Ragadewa
disibukan banyak sekali pertanyaan dari Galuh dan Gada Sangkara. Hingga akhirnya,
saat malam semakin larut, satu persatu mulai merasakan kantuk dan tertidur
pulas di sofa tengah yang super besar. Kecuali Soma Wisesa, dalam keheningan, ia
masih saja terus menatap jendela dengan pikiran yang menerawang entah kemana.
Namun menjelang pagi, mereka
terbangun karena kaca disekeliling mereka tiba-tiba pecah! Lalu disusul kepungan
pasukan kecil berpakaian serba hitam dari segala arah.
“Pasukan Kaum Hitam! bagaimana
mereka tahu kita disini?” ucap Gada Sangkara tidak percaya. “Tidak mungkin di
ikuti, sejak semalam, saya juga tidak merasakan energi apapun,” ucap Galuh yang
juga tidak mengerti. “Benar, Ini aneh sekali,” Ucap Soma Wisesa sambil keluar
dari kalung segel.
“Ini kesalahan saya. Saat masih
pagi buta, saya mencoba menterjemahkan Kitab Candrakara menggunakan petunjuk dari
Kitab Sembilan, sepertinya mereka mendeteksi energi saya saat melintas di
sekitar, biar saya tebus kesalahan ini!” ucap Ragadewa yang lalu melangkah ke depan.
Lalu dengan sedikit kepakan
tangan, tiba–tiba muncul replika pasir dari tubuh masing-masing para pasukan
hitam, yang lalu menyerang tubuh asli para pasukan hitam yang telah direplika. Galuh
dan Gada Sangkara terperangah dengan teknik yang digunakan Ragadewa. Mereka
baru pertama kali melihat bagaimana energi anak Istimewa bekerja.
“Benar-benar luar biasa!” ucap
Gada Sangkara dengan takjub.
Wajah Galuh menegang saat
ternyata Kitab Candrakara masih tergeletak di meja. Saat ia mencoba mendekat,
saat itu pula dari arah yang tidak di duga, pemimpin pasukan hitam tiba-tiba
membawa kabur Kitab Candrakara.
Ditengah kepanikan para pemilik
elemen, Ragadewa berteriak. “Bahaya! Cepat ikuti saya!” ucapnya yang langsung
melompat jendela yang sudah dirusak pasukan hitam, semua mengikuti kecuali
Adhit. Ia langsung mengerem ketika hampir terjatuh ditepian gedung. Lalu Adhit
memandang ngeri, karena menyadari bahwa ia ternyata ada di ketinggian yang bisa
membuatnya mati saat itu juga.
Melihat hal tersebut, Gada Sangkara
menyadari bahwa Adhit hanya manusia biasa. Ia segera berbalik dan menggendong
Adhit, yang lalu loncat dan mengikuti yang lain berlari ke bawah menapaki
dinding Gedung.
Namun setelah berlari agak jauh, dari
arah bawah mereka di tahan seorang Pria Tua. “Kakek!” teriak Ragadewa dengan
terkejut. Pria yang ia panggil Kakek tersenyum sambil mengikat mereka
mengunakan tambang energi. Namun saat tambang energi di kencangkan, Galuh dan
kawan-kawan malah hancur menjadi pasir. Membuat pria tua tersebut tersenyum kecut
sambil berkata, “sial! saya dikadali bocah ingusan lagi!”
Melalui netranya, pria tua tersebut akhirnya menemukan
cucunya ternyata ada di atas awan terbang beserta para pemilik elemen lain. Namun
sayangnya, mereka terbang begitu cepat dan menghilang dari balik awan besar sekitar.
Ternyata selagi mereka melompat
berjalan kebawah gedung, Ragadewa melihat kakeknya dari kejauhan. Lalu dengan
segera, Ragadewa mengambil tindakan cepat. Sembari berlari, ia menarik awan
terdekat, yang lalu segera ia padatkan agar bisa dinaiki. Setelah itu, dari
balik awan ia menarik Galuh dan kawan–kawannya menaiki awan sambil menciptakan
replika mereka untuk terus berlari ke bawah.
“Apa itu kakekmu Dewa!” tanya
Galuh sambil melihat kakek Ragadewa yang terlihat semakin menjauh.
“Ya!, dia benar-benar berambisi
untuk menguasai energi yang saya miliki! “ucap Ragadewa sambil mengepal kedua
tangannya dengan keras.
“Maafkan saya, bila saya tidak
membuka salah satu Kitab Sembilan untuk membuka tabir Kitab Candrakara, semua
ini tidak akan terjadi. Karena kecerobohan saya, kalian semua kini kehilangan Kitab
Cadrakara! ” ucap Ragadewa penuh sesal, yang lalu memperlihatkan salah satu
dari kitab Sembilan.
“Kamu bisa memiliki kitab langka
ini? seri Pemahat Mantera lagi, dari mana kamu bisa mendapatkan ini?” ucap
Galuh hampir tidak percaya.
“Kitab apa ini?” tanya Adhit
ingin tahu.
“Kitab sembilan adalah sembilan
kitab yang berisi riset tentang berbagai ilmu yang dikuasai Kaum Astamaya. Salah
satunya adalah yang ini, Seri Pemahat Mantera, isinya penjabaran tentang ilmu
pemahat mantera.” jelas Galuh,
“Pemahat mantera?” tanya Adhit
semakin penasaran,
“Pemahat mantera adalah ilmu
tentang bagaimana cara membuat segel menjadi rumit dan kompleks. Seperti segel
yang melingkup Gua bawah tanah dan segel yang melindungi Tanah Astamaya, itu
semua adalah buatan para Pemahat Mantera. Dalam kitab tersebut, bukan hanya tentang
cara membuat, tetapi juga dijabarkan tentang membuka segel dari tahap awal
sampai tahap yang paling kompleks,” jelas Galuh lagi, setelah itu, Adhitpun
mengangguk mengerti.
“Seandainya saja Kitab Sembilan ini
tidak saya buka..” sesal Ragadewa lagi.
“Sudahlah… yang penting kita
semua sekarang selamat,” ucap Gada Sangkara menangkan. Saat Galuh hendak
bertanya lagi, segera ditahan oleh sinyal tangan Gada Sangkara, agar Ragadewa
tidak terlalu bersedih.
Sebagai gantinya, Galuh
memeluknya dan Gada Sangkara memegang pundaknya dengan dalam. sedangkan Adhit
bingung mau melakukan apa, ia maju mundur hingga Soma Wisesa tertawa dari
segelnya, lalu di ikuti tawa dari yang lainnya karena menyadari perilaku rancu Adhit.
“Jangan bersedih, saya tahu
dimana Kitab Candrakra yang asli disimpan,” ucapan Soma Wisesa yang tiba-tiba. Sontak
membuat semua terperanjat, “Kitab Candrakara asli! Maksudnya, yang selama di
terjemahkan oleh Kakek Addar dan para Kaum Luhur adalah Kitab Palsu?” Tanya
Galuh kaget.
“Sstt.. setelah menemukan tempat
aman, kita istirahat dulu. Baru setelah itu saya akan beritahu, kita akan
melakukan perjalanan yang cukup panjang..” ucapan Soma Wisesa sontak membuat
semua yang disana langsung terkejut luar biasa.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar