Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 22 – Pertemuan tak terduga! | By: Desya Saghir

Pintu gerbang menuju dunia Manusia yang terletak di dalam lorong rahasia Istana, ternyata mengarah pada jantung kota Jakarta. Lebih tepatnya, mereka keluar dari pintu tugu Monas!

Adhit mengenal pemandangan luar itu, dari balik pintu berdinding marmer tersebut, terdengarlah suara Jakarta yang begitu familiar di telinganya. Suara klakson, sayup riuh suara orang sekitar, disertai angin yang membawa aroma aspal hangat, seakan menyatu dan menjadi simfoni yang sangat dikenali oleh Adhit.

Galuh memandang Adhit yang tengah tersenyum. “Jakarta! Ini adalah kota yang selalu Adhit ceritakan saat di Gua Bawah tanah dulu,” pikir Galuh, yang lalu memandang arah luar dengan penuh rasa ingin tahu.

Selesai mengantar, Jinn Si Kelinci kembali masuk ke dalam lorong rahasia. Lalu setelah itu, pintu yang menghubungkan mereka dengan Astamaya pun menghilang.

Gada Sangkara mengamati pakaian beberapa orang yang lewat. Lalu dengan energinya, ia mengubah jalur jalinan tenun benang pakaiannya sehingga membentuk pakaian Manusia pada umumnya. Gada bahkan mengambil beberapa pigmen warna dari benda sekitar yang membuat penyamarannya jadi tampak lebih sempurna.

Kini Gada Sangkara terlihat seperti Manusia para umumnya. Tubuhnya yang tinggi kekar, begitu pas saat menggunakan kaus coklat muda, yang dilapisi jaket coklat tua dengan bagian lengan yang sedikit ditarik ke atas. Dipadu dengan celana jeans coklat gelap yang lurus ke bawah, membuat tampilan Gada yang tinggi kekar jadi terlihat lebih kasual dan ramah.

Melihat hal tersebut, Galuh pun segera mengikuti. Menyisakan tinggal Adhit yang kebingungan, karena Ia tidak memiliki energi seperti yang dimiliki Kaum Astamaya. Galuh yang menyadari, dengan segera ia mengubah jalur jalinan tenun benang pakaian Adhit, sehingga mereka semua kini tampak seperti anak Jakarta pada umumnya. Sedangkan Soma Wisesa, Ia lebih memilih tetap diam di dalam kalung segelnya. Soma merasa bahwa penampilannya yang mencolok, hanya akan mengganggu perjalanan rahasia mereka.

Setelah merasa sudah siap, mereka semua berjalan keluar dari wilayah Monas dengan pandangan penuh antusias.

“Selama ini, saya hanya membayangkannya dari buku dan beberapa novel di perpustakaan gua kota bawah tanah. Lalu sekarang, bukan hanya melihatnya langsung, saya bahkan bisa menyentuhnyaaa…!” ucap Galuh tidak percaya. Galuh benar-benar seperti bocah, hampir semua hal yang Galuh lewati ia sentuh.

“Apa dunia Manusia setenang ini?” tanya Gada Sangkara tak kalah takjub. “Tindak kejahatan tetap ada, tetapi tidak sebrutal di Astamaya.” Ucap Adhit sambil menatap sekitar. Ia tidak mengira bahwa kota yang dulu ia anggap paling sibuk, kini jadi terlihat tenang dibandingkan dengan segala kejutan yang ditimbulkan Astamaya.

Tiba-tiba seakan teringat sesuatu, Galuh menoleh pada Adhit. “Wajah kamu belum dirubah Dhit! Kamu sudah diberi tahu fungsi lain dari kalung milik leluhurmu kan?” ucap Galuh lagi sambil menatap kalung warisan Surya Suradana yang tergantung di leher Adhit. “Tentu!” jawab Adhit sambil menekan tombol bandul kalung tersebut, lalu tiba-tiba wajah Adhit berubah jadi alien.

“Adhit, ini bukan candaan!” teriak Galuh sambil menarik Adhit pada sisi terpencil agar tidak terlihat orang. “Disini wajah kamu telah dikenal dimana–mana, bandul kalung ini menjaga agar beberapa kontur wajahmu dirubah sedikit agar terlihat berbeda!” ucap Galuh sambil menekan tombol kalung tersebut.

Ternyata tombol tersebut harus ditekan beberapa kali, karena Adhit memasukan beberapa wajah tidak berguna ke dalam kalung tersebut. Seperti ikan, monyet, donat, hingga akhirnya ditemukan wajah Adhit dengan beberapa kontur wajah yang telah dirubah. Hal tersebut membuat Gada Sangkara tertawa terpingkal-pingkal.

Karena kesal, Galuh memilih mengikuti Gada Sangkara yang tiba-tiba tertarik pada sesuatu. Tetapi perilaku Gada malah lebih norak. Galuh bahkan langsung berbalik kembali pada Adhit, karena Gada tiba-tiba mencoba naik mainan anak yang ada di depan minimarket. Tubuh tinggi kekarnya benar-benar kontras dengan kuda-kudaan koin warna merah muda.

Adhit semakin tertawa dengan ekspresi Galuh, saat melihat Gada Sangkara memaksa naik Bajaj. Tubuh tinggi kekarnya membuat bajaj hanya bisa ia duduki seorang diri. Namun saking bahagianya, Gada tidak perduli bila kakinya terlipat tidak tentu arah.

Galuh dan Adhit akhirnya mengikuti Gada dengan naik bajaj satu lagi. Sekalipun turun dengan kaki tremor, bukannya kapok, Gada malah ingin melanjutkan menaiki angkot, delman sekitar Monas, lalu ojek online yang kali ini dibayar untuk berkeliling Monas saja sendirian. Galuh yang hanya bisa menggeleng, dan akhirnya mengikuti Adhit yang sabar menunggu Gada Sangkara puas naik ojek online sambil makan bakso pinggir jalan.

“Kamu tidak keberatan dengan makanan pinggir jalan seperti ini?” tanya Adhit khawatir. “Tidak! malah sangat senang! Kamu tahu? suasana sekarang ini, sama persis dengan yang sering diceritakan dalam novel–novel Manusia, terutama novel remajaaa… ” ucap Galuh antusias. Adhit kembali tertawa karena saat makan bakso pun, Galuh masih sempat membeli beberapa makanan lain yang kebetulan melewati mereka.

Tanpa embel-embel pemilik para Ajag, Galuh ternyata seperti perempuan remaja pada umumnya. Periang, menyukai es krim, bakso, keripik, seblak pedas, bahkan novel remaja.

Gada Sangkara yang telah puas naik ojek online, ketika hendak ingin menaiki bis umum, Adhit segera mengingatkan bahwa kedatangan mereka kesini bukan untuk berwisata.

“Maafkan saya,” ucap Gada dengan gembira yang tidak bisa ia tahan. “Tetapi semua ini benar-benar sama persis dengan yang di ceritakan dalam buku dan novel!.. hahaha..” ucap Gada Sangkara dengan tawa yang sangat senang. Gambaran sosok Panglima Besar yang berkharisma kuat, kini beralih menjadi sosok anak–anak yang baru pertama kali memasuki taman bermain.

“Seorang Panglima Besar yang paling ditakuti para Menteri korup dan Bangsawan licik, ternyata menyukai Novel remaja?” ucap Adhit tidak percaya, namun Gada menanggapinya dengan tertawa. “Bukan hanya novel remaja, selain mempelajari politik dan strategi perang, saya juga suka memasak dan merapikan rumah hahaha..” jawab Gada dengan polos, yang setelah itu, ia juga ikut memesan bakso.

Setelah mereka kenyang, tiba–tiba Galuh menoleh pada sisi belokan jalan kecil. “Apa kalian merasakan juga? Ia salah satu dari Kaum Astamaya, namun energinya selaras dengan kita,” ucap Galuh serius.

“Energinya berasal dari belokan sebelah sana, tetap waspada dan tahan emosi kalian. Ini memang milik salah seorang dari Kaum Astamaya, namun energinya lebih mirip kita berempat,“ ucap Gada Sangkara serius.

 “Jadi ini yang dimaksud Kakek Addar tentang para pemilik elemen akan saling mengenali? Pantas saja, saat bertemu Galuh dan Gada Sangkara, tiba-tiba tergelitik sengatan getaran yang sangat aneh!” pikir Adhit takjub.

“Apa menurut kalian dia salah satu pemilik elemen?” tanya Adhit ingin tahu. “Semoga saja. Kalian berdua, tetap tenangkan diri agar dia tidak merasakan kedatangan kita. Kita tidak tahu ia ada di pihak mana,” ucap Gada Sangkara sambil berjalan mendahului dengan langkah yang mencoba tenang.

Mereka mengikuti kemana arah energi tersebut terasa. Diantara hiruk pikuk yang berlalu lalang, pandangan mereka langsung terarah pada pertengkaran sepasang kekasih. Lelaki tinggi besar dengan tubuh yang dipenuhi dengan tattoo, tampak sibuk berteriak sambil menjambak kekasihnya dengan kasar. Sekalipun wanita tersebut sangat kesakitan, sayangnya tidak ada seorangpun yang berani melerai.

Tak lama, mata Galuh dan Gada Sangkara tertuju pada sebuah energi sayup di dekat sepasang kekasih tersebut. Seorang pria muda berkacamata, berpakaian rapi, tampak tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam sambil menatap gadgetnya.

“Energinya memang sedikit aneh, Galuh.. lihatlah dengan mata Ruh!” sebuah suara muncul dari kalung tempat Soma Wisesa berada.

Tanpa membuang waktu, perlahan Galuh segera memakai mata Ruh tersebut. “Kita menemukannya! ia salah satu dari kita, salah satu pemilik elemen!” ucap Galuh senang.

Pria berkacamata tersebut hanya melirik Galuh sebentar, lalu menggeser cangkirnya sehingga kopinya terpercik ke atas. Dengan kibasan seulas, bulir air kopi yang terpercik tiba-tiba melesat, menotok salah satu syaraf penting leher pria kasar bertatoo yang sedang menyiksa tersebut. Lalu setelahnya, pria bertatoo tersebut kejang tidak berdaya.

Saat mereka kembali menoleh pada pria berkacamata tersebut, ia telah hilang meninggalkan kopi yang masih belum berhenti dari riaknya.

“Ikuti energinya!” ucap Gada Sangkara yang di iyakan Galuh dan Adhit dengan cepat. Namun mereka malah berakhir di sudut gang buntu! Tiba-tiba, dari arah atas turun ratusan kerikil tajam menghujam mereka tanpa ampun. Untung Gada Sangkara sigap melindungi Galuh dan Adhit dengan perisai energinya.

Disambung Soma Wisesa, yang keluar dari kalung Galuh untuk menangkis serangan kerikil tambahan yang tiba-tiba saja berbelok liar seperti bumerang.

Setelah suasana reda, tiba-tiba pria muda berkacamata tersebut turun dari arah atas dengan wajah heran.

“Anda.. Soma Wisesa? sedang apa anda disini?” tanyanya heran.

“Soma Wisesa menatap sejenak pemuda tersebut, yang setelah itu segera mengenalinya. Dengan menyedekapkan tangannya Soma berkata.  “Ragadewa, anak kecil angkuh ini ternyata telah berubah menjadi pemuda dengan energi yang lumayan hebat!” ucapnya bangga.

“Dewa… itu kamu Dewa?” tanya Galuh tidak percaya. Lalu Galuh memeluk pria muda tersebut, seakan bertemu kembali dengan seseorang yang telah lama hilang. Setelah itu, Galuh mencecarnya dengan banyak sekali pertanyaan.

“Siapa dia?” bisik Adhit pada Gada Sangkara. ”Ia adalah sahabat Galuh saat kecil, anak pendiam dan sangat misterius. Tidak ada yang mau berteman dengannya kecuali Galuh. “Jawab Gada Sangkara pelan, namun reaksi wajah Gada Sangkara cukup membingungkan.

“Kamu tidak menyukainya?” tanya Adhit heran. “Ia cucu yang ternyata salah seorang bawahan Tetua Hitam, kita tidak bisa mempercayainya seratus persen!” ucap Gada lagi dengan raut wajah semakin tidak suka. Mendengar hal tersebut, Soma Wisesa mendekati Adhit dan Gada Sangkara.

“Anak malang ini, saat remaja memutuskan kabur ke dunia Manusia, bukan untuk mengikuti kakeknya yang melarikan diri dari Istana, melainkan karena ia menemukan kebenaran bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh kakeknya sendiri.” Ucapan Soma Wisesa sontak membuat Adhit dan Gada Sangkara terkejut luar biasa.

“Kalian tahu alasan mengapa kakeknya tega membunuh menantu dan darah dagingnya sendiri? Ragadewa adalah salah satu anak Astamaya yang di anugrahi energi Istimewa. Ia adalah salah satu kandidat, yang kelak bisa menggantikan posisi salah satu Tetua Hitam yang telah lama tewas.” Adhit dan Gada Sangkara kini semakin terhenyak.

“Anak Astamaya yang di anugrahi energi Istimewa?” tanya Adhit penasaran.

“Semua Kaum Astamaya mempunyai anugrah unik. Mereka bisa mengontrol energi listrik tubuhnya melalui impuls syaraf yang dikendalikan otaknya. Dengan konsentrasi yang tepat, Kaum Astamaya mampu memanipulasi elektromagnetik sekitar mereka, sehingga partikel udara disekitar bisa mereka bentuk menjadi objek yang mereka inginkan.” ucapan Gada Sangkara, mengingatkan Adhit saat dulu Kakek Addar memperlihatkan cara ia mengendalikan energinya.

“Sedangkan anak Istimewa adalah; seorang anak Astamaya yang memiliki pengaturan konsetrasi yang lebih kompleks. Bila Kaum Astamaya biasa hanya mengendalikan partikel udara menjadi satu objek. Maka anak Istimewa, mampu mengendalikan puluhan objek dengan puluhan gerakan yang tidak seragam. Dan itu baru salah satu contoh bentuk energi, ada banyak lagi bentuk penyaluran energi unik yang dikuasai para anak Istimewa.” Mendengar hal tersebut, Adhit langsung terkejut bukan main.

“Semacam jenius Astamaya?” tanya Adhit lagi memastikan. “Ya! semacam itu.” Jawab Gada Sangkara yang membuat Adhit semakin berdecak kaget.

“Benar yang dikatakan Gada, bila kakeknya berhasil menjadikan Ragadewa pengganti salah satu Tetua Hitam yang tewas, maka posisinya akan berubah, yang awalnya hanya bawahan Tetua Hitam, maka akan naik menjadi penasihat para Tetua Hitam, dan itu posisi tertinggi dalam Jajaran Kaum Hitam.” Jelas Soma Wisesa yang kini membuat Adhit dan Gada Sangkara mengangguk-angguk mengerti.

 “Kedua orang tua Ragadewa sangat setia pada Maharaja Mahesa Agung, yaitu ayah Galuh. Bila mereka masih hidup, maka selain reputasi kakeknya yang saat itu menjabat sebagai Ksatria Agung akan hancur, kakeknya juga akan kesulitan untuk menguasai energi milik Ragadewa.” Adhit dan Gada kembali menangguk-angguk.

“Kamu tahu sebanyak itu?” tanya Adhit pada Soma Wisesa dengan heran.

“Tentu saja, sebelumnya mereka tinggal di sayap kiri Istana, tempat para Ksatria tertinggi tinggal. Saat dikejar oleh kakeknya, Ragadewa kecil bersembunyi di ruang penyimpanan barang kuno.” Jelas Soma Wisesa, sambil melirik pada Ragadewa yang masih dicecar pertanyaan oleh Galuh.

“Keputusan yang sangat cerdas! karena disana, energinya akan tersamarkan oleh energi barang-barang pusaka. Disanalah kami bertemu, bahkan saya sendirilah yang menyarankan dia untuk kabur ke dunia Manusia, “lanjut Soma Wisesa, yang setelah itu ia segera beranjak menemui Galuh yang sedang bersuka cita.  

“Selama ini saya telah berburuk sangka terhadap Ragadewa,” ucap Gada Sangkara penuh sesal.

Berkat Ragadewa, hari ini mereka mendapatkan tempat terbaik untuk bermalam. “Hebat sekali bisa bermalam di tempat seperti ini!” ucap Adhit tidak percaya.

Mereka kini berada di dalam suite mewah seluas 150 meter persegi dengan pemandangan panorama menakjubkan. Lantai dan perabotan antik yang terbuat dari kayu mahoni kualitas terbaik, satu set sofa berlapis kulit yang begitu besar, disertai satu buah lukisan antik dengan goresan pisau palette yang cukup unik, membuat Adhit terkesima dengan kesatuan harmoni visual yang begitu estetik.

“Ini semua hasil penjualan dari novel fiksi ilmiah yang saya tulis” jelas Ragadewa saat melihat Adhit begitu terpana pada isi ruangan tersebut.  “Aah..oke.. ternyata semua sudah siap, ayo kita makan malam.” lanjut Ragadewa sambil membuka sekat ruang makan dengan energinya.

Adhit semakin terhenyak, semua yang tersaji adalah hidangan kelas atas! “Galuh yang awalnya terkejut, kini malah mencicipi satu persatu dengan sangat suka cita. Sedangkan Gada Sangkara, ia ikut heboh mencicipi semua makanan yang ada, padahal Gada sendiri sebenarnya terbiasa dengan hidangan terbaik di Istana.

“Lihat.. ada dua anak gadis sedang menikmati lezatnya makan malam.. hehehe..” bisik Soma sambil memandangi Galuh dan Gada dengan senang. Setelah itu, ia pergi menuju jendela sambil memandang pemandangan indah dari atas gedung yang super tinggi.

Adhit dan Gada Sangkara tertawa saat Galuh bertengkar dengan para Ajag karena begitu berisik dalam memilih makanan. Sedangkan Ragadewa, ia melintas sambil tersenyum, yang lalu kembali membawa beberapa jenis kopi kapsul. Setelah semuanya siap, ia ikut makan malam bersama mereka.

Selesai makan malam, Ragadewa disibukan banyak sekali pertanyaan dari Galuh dan Gada Sangkara. Hingga akhirnya, saat malam semakin larut, satu persatu mulai merasakan kantuk dan tertidur pulas di sofa tengah yang super besar. Kecuali Soma Wisesa, dalam keheningan, ia masih saja terus menatap jendela dengan pikiran yang menerawang entah kemana.

Namun menjelang pagi, mereka terbangun karena kaca disekeliling mereka tiba-tiba pecah! Lalu disusul kepungan pasukan kecil berpakaian serba hitam dari segala arah.

“Pasukan Kaum Hitam! bagaimana mereka tahu kita disini?” ucap Gada Sangkara tidak percaya. “Tidak mungkin di ikuti, sejak semalam, saya juga tidak merasakan energi apapun,” ucap Galuh yang juga tidak mengerti. “Benar, Ini aneh sekali,” Ucap Soma Wisesa sambil keluar dari kalung segel.

“Ini kesalahan saya. Saat masih pagi buta, saya mencoba menterjemahkan Kitab Candrakara menggunakan petunjuk dari Kitab Sembilan, sepertinya mereka mendeteksi energi saya saat melintas di sekitar, biar saya tebus kesalahan ini!” ucap Ragadewa yang lalu melangkah ke depan.

Lalu dengan sedikit kepakan tangan, tiba–tiba muncul replika pasir dari tubuh masing-masing para pasukan hitam, yang lalu menyerang tubuh asli para pasukan hitam yang telah direplika. Galuh dan Gada Sangkara terperangah dengan teknik yang digunakan Ragadewa. Mereka baru pertama kali melihat bagaimana energi anak Istimewa bekerja.

“Benar-benar luar biasa!” ucap Gada Sangkara dengan takjub.

Wajah Galuh menegang saat ternyata Kitab Candrakara masih tergeletak di meja. Saat ia mencoba mendekat, saat itu pula dari arah yang tidak di duga, pemimpin pasukan hitam tiba-tiba membawa kabur Kitab Candrakara.

Ditengah kepanikan para pemilik elemen, Ragadewa berteriak. “Bahaya! Cepat ikuti saya!” ucapnya yang langsung melompat jendela yang sudah dirusak pasukan hitam, semua mengikuti kecuali Adhit. Ia langsung mengerem ketika hampir terjatuh ditepian gedung. Lalu Adhit memandang ngeri, karena menyadari bahwa ia ternyata ada di ketinggian yang bisa membuatnya mati saat itu juga.

Melihat hal tersebut, Gada Sangkara menyadari bahwa Adhit hanya manusia biasa. Ia segera berbalik dan menggendong Adhit, yang lalu loncat dan mengikuti yang lain berlari ke bawah menapaki dinding Gedung.

Namun setelah berlari agak jauh, dari arah bawah mereka di tahan seorang Pria Tua. “Kakek!” teriak Ragadewa dengan terkejut. Pria yang ia panggil Kakek tersenyum sambil mengikat mereka mengunakan tambang energi. Namun saat tambang energi di kencangkan, Galuh dan kawan-kawan malah hancur menjadi pasir. Membuat pria tua tersebut tersenyum kecut sambil berkata, “sial! saya dikadali bocah ingusan lagi!”

 Melalui netranya, pria tua tersebut akhirnya menemukan cucunya ternyata ada di atas awan terbang beserta para pemilik elemen lain. Namun sayangnya, mereka terbang begitu cepat dan menghilang dari balik awan besar sekitar.

Ternyata selagi mereka melompat berjalan kebawah gedung, Ragadewa melihat kakeknya dari kejauhan. Lalu dengan segera, Ragadewa mengambil tindakan cepat. Sembari berlari, ia menarik awan terdekat, yang lalu segera ia padatkan agar bisa dinaiki. Setelah itu, dari balik awan ia menarik Galuh dan kawan–kawannya menaiki awan sambil menciptakan replika mereka untuk terus berlari ke bawah.

“Apa itu kakekmu Dewa!” tanya Galuh sambil melihat kakek Ragadewa yang terlihat semakin menjauh.

“Ya!, dia benar-benar berambisi untuk menguasai energi yang saya miliki! “ucap Ragadewa sambil mengepal kedua tangannya dengan keras.

“Maafkan saya, bila saya tidak membuka salah satu Kitab Sembilan untuk membuka tabir Kitab Candrakara, semua ini tidak akan terjadi. Karena kecerobohan saya, kalian semua kini kehilangan Kitab Cadrakara! ” ucap Ragadewa penuh sesal, yang lalu memperlihatkan salah satu dari kitab Sembilan.

“Kamu bisa memiliki kitab langka ini? seri Pemahat Mantera lagi, dari mana kamu bisa mendapatkan ini?” ucap Galuh hampir tidak percaya.

“Kitab apa ini?” tanya Adhit ingin tahu.

“Kitab sembilan adalah sembilan kitab yang berisi riset tentang berbagai ilmu yang dikuasai Kaum Astamaya. Salah satunya adalah yang ini, Seri Pemahat Mantera, isinya penjabaran tentang ilmu pemahat mantera.” jelas Galuh,

“Pemahat mantera?” tanya Adhit semakin penasaran,

“Pemahat mantera adalah ilmu tentang bagaimana cara membuat segel menjadi rumit dan kompleks. Seperti segel yang melingkup Gua bawah tanah dan segel yang melindungi Tanah Astamaya, itu semua adalah buatan para Pemahat Mantera. Dalam kitab tersebut, bukan hanya tentang cara membuat, tetapi juga dijabarkan tentang membuka segel dari tahap awal sampai tahap yang paling kompleks,” jelas Galuh lagi, setelah itu, Adhitpun mengangguk mengerti.

“Seandainya saja Kitab Sembilan ini tidak saya buka..” sesal Ragadewa lagi.

“Sudahlah… yang penting kita semua sekarang selamat,” ucap Gada Sangkara menangkan. Saat Galuh hendak bertanya lagi, segera ditahan oleh sinyal tangan Gada Sangkara, agar Ragadewa tidak terlalu bersedih.

Sebagai gantinya, Galuh memeluknya dan Gada Sangkara memegang pundaknya dengan dalam. sedangkan Adhit bingung mau melakukan apa, ia maju mundur hingga Soma Wisesa tertawa dari segelnya, lalu di ikuti tawa dari yang lainnya karena menyadari perilaku rancu Adhit.

“Jangan bersedih, saya tahu dimana Kitab Candrakra yang asli disimpan,” ucapan Soma Wisesa yang tiba-tiba. Sontak membuat semua terperanjat, “Kitab Candrakara asli! Maksudnya, yang selama di terjemahkan oleh Kakek Addar dan para Kaum Luhur adalah Kitab Palsu?” Tanya Galuh kaget.

“Sstt.. setelah menemukan tempat aman, kita istirahat dulu. Baru setelah itu saya akan beritahu, kita akan melakukan perjalanan yang cukup panjang..” ucapan Soma Wisesa sontak membuat semua yang disana langsung terkejut luar biasa.

- Bersambung - Desya Saghir -

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir