Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Jejak Hyang Sawarga | Bab 23 – Hyang Sawarga | By: Desya Saghir

 Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya awan yang mereka tumpangi berhenti. Mereka terkesima, karena dihadapan mereka kini terdapat sebuah Villa besar yang menyembul dari ceruk sisi gunung yang cukup tersembunyi.

Saat awan yang mereka tumpangi mendarat, Galuh dan kawan-kawan semakin terkesima. Visual mereka langsung disambut dengan lantai, dinding hingga plafon teras depan, yang semuanya terbuat dari susunan artistik batuan andesit. Lalu ditambah beberapa aksen kayu jati, pot tembikar dan lampu antik di berbagai sudut, menjadikan suasana teras bukan hanya terasa hangat, tetapi juga elegan secara estetik.

Satu persatu dari mereka turun. Namun begitu Gada Sangkara mengulurkan tangannya untuk membantu Galuh turun, ditambah gaya aristrokratnya yang sangat suamiable, sontak membuat dada Adhit terasa gerah.

Bagi Adhit, Gada sangkara meskipun terlihat sangat maskulin, Gada mempunyai kepribadian lembut dan sangat hangat. Jenis kepribadian yang membuat wanita manapun pasti akan luluh. Adhit lumayan ketar ketir saat Galuh tersenyum pada Gada, tetapi Adhit bisa apa, dia sendiri bukan kekasih Galuh.                                                                                                                                                                                                                                                

“Kita aman disini, sekarang kalian semua bisa mengeluarkan energi sesuka hati tanpa takut terdeteksi oleh siapapun, karena tempat ini dilapisi perisai energi yang cukup kuat.” Ucap Ragadewa sambil membuka pintu Villa dengan energinya. Setelah itu ia menuntun semua untuk masuk kedalam Villa.

Setelah Ragadewa melesatkan energinya untuk membuka beberapa tirai, lalu cahaya matahari masuk dan mulai menyoroti beberapa bagian dalam Villa, kini mereka semua semakin terkesima.

“Dewa.. sekarang kita berada dimana?” tanya Adhit sambil menatap bawah tebing dari balik jendela yang amat besar.

“Kita di Tebing Citatah, Padalarang,” jawab Ragadewa sambil membuka beberapa jendela lain dengan energinya. Sehingga kini, udara di dalam ruangan jadi terasa lebih segar.

“Para pendaki kadang melewati beberapa jendela Villa ini, abaikan saja, karena dari arah luar, permukaan yang sedang mereka panjat hanya terlihat seperti tebing biasa.” Ucap Ragadewa lagi sambil membuka beberapa tirai lain dengan santai.

Soma Wisesa akhirnya keluar dari kalung, sambil merenggangkan kedua tangannya dengan sangat lebar. “Akhirnya bisa keluar tanpa rasa khawatir,” ucap Soma Wisesa yang lalu mencoba beberapa macam energi miliknya. Setelah itu, ia melangkah menuju jendela besar untuk duduk menikmati keindahan bawah tebing.

”Tempat ini benar–benar sangat indah Dewa,” ucap Galuh sambil berdecak kagum. Ia kembali terkesima, saat menyadari bagian dalam Villa ternyata sangatlah besar. Beberapa pilar besar batuan andesit, yang tadinya Galuh kira hanya sebagai pemanis ruangan, ternyata berfungsi menyangga beberapa balkon mini untuk beberapa kamar tidur.

Adhit juga mengakui bila Villa ini memang indah. Ruangan yang sangat besar ini, didominasi satu set sofa besar yang melingkari meja jati dengan ukiran khas jawa barat yang cukup unik. Tepat dibelakang sofa, terdapat satu lukisan antik yang sangat besar sebagai sentral. Lalu beberapa lukisan lebih kecil, memenuhi sekitar lukisan besar dengan interior yang tidak kalah apik.

Sedangkan Gada Sangkara, ia malah tertarik pada interior dapur bersih yang sebagian besar gabungan tatahan batu andesit dan kayu jati. Namun yang membuat Gada terkejut, ia menemukan banyak alat masak antik masih terawat dengan baik.

“Melihatmu hidup baik seperti ini, saya benar-benar lega Dewa. Kamu benar–benar telah merealisasikan mimpimu untuk jadi penulis. Tidak seperti paman Ranji, ia harus mengubur mimpinya dalam–dalam,” ucap Galuh sedih.

“Maharaja Ranji Raspati?” tanya Gada Sangkara memastikan.

“Benar, Paman Ranji harus mengubur mimpinya dalam-dalam karena diharuskan mengemban tugas yang tidak ia inginkan sama sekali.” ucap Galuh sedih, Gada Sangkara lalu memandang Galuh dengan simpatik.

“Bila misi kita berhasil, begitu kamu naik tahta, maka Maharaja Ranji Raspati bisa kembali pada dunia yang dulu ia cintai. Ia akan kembali menulis dan berkelana seperti dulu,” ucap Gada Sangkara dengan lembut menenangkan. “Terimakasih Gada, kamu memang yang terbaik!” ucap Galuh dengan begitu terenyuh.

Adhit memandang Galuh dan Gada Sangkara diam-diam. Baginya, Galuh dan Gada memang tampak serasi bersama. Galuh yang berbakat memimpin dengan kebijaksanaan yang baik, lalu Gada Sangkara dengan kemampuan diplomasinya hingga membuat posisi paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati tetap aman selama di Astamaya, itu cukup membuat hatinya tergelitik semakin cemburu.

“Ah iya, Dewa.. apa semua ini berasal dari hasil penjualan novelmu juga?” tanya Adhit untuk mengalihkan perasaannya

“Ini semua baru didapatkan setelah novel saya diakui dan selalu ada di rating penjualan terbaik.” Jawab Ragadewa dengan pandangan menerawang. Galuh menangkap sekilas sorot mata Ragadewa yang menyiratkan perih, namun segera tergantikan oleh ekspresi tenang, seperti yang selalu ia tampilkan selama bersama mereka. Setelah menghela napas, Ragadewa kembali berkata.

“Di awal pelarian saya menuju dunia Manusia, jangankan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, untuk tetap bertahan hidup, saya sampai harus mengais tempat sampah agar terlepas dari kelaparan.” ucapan Ragadewa langsung membuat semua terkejut.

“Kamu tidak menggunakan energi kamu? setidaknya mencuri satu atau dua makanan dari toko?” pertanyaan Adhit sontak membuat para Ajag tertawa sangat keras. Galuh yang tidak enak hati langsung mencubit hingga Adhit berteriak, sontak semua langsung tersenyum dengan perilaku Galuh dan Adhit.

“Saat itu, saya terlalu ketakutan akan ditemukan oleh kakek dan anak buahnya. Jadi selama satu bulan, saya tidak menggunakan energi saya sama sekali.” Jelas Ragadewa dengan dalam.

“Saya baru bisa membeli makanan layak saat menjadi kuli angkut toko. Hingga suatu ketika, saya mendengar sebuah percakapan tentang jasa untuk menjadi penulis bayangan,” ucapan Ragadewa malah membuat Galuh dan Gada heran.

“Penulis bayangan?” tanya Galuh penasaran.

“Penulis bayangan adalah istilah bagi penulis yang menulis sebuah karya atas nama orang lain, lalu karya mereka akan dipublikasikan dengan nama orang yang membayar mereka,” jelas Adhit, yang membuat Galuh dan Gada Sangkara kini menangguk-angguk mengerti.

“Benar sekali, karena waktu yang sangat terbatas, saya nekat menggunakan energi saya untuk mandi singkat, mencuri laptop dan satu stel baju yang terpajang di toko,” ucap Ragadewa lagi.  

“Naaah… ceritanya kini mulai tidak membosankan hahaha.. ” ucap salah satu Ajag senang dibarengi lolongan senang dari Ajag yang lain. “Kalian ini!” tegur Galuh kesal. “Ayolah Galuuuh… ini sa…” tiba-tiba protes para Ajag hilang, ternyata segel para Ajag langsung ditutup paksa oleh Galuh. Sontak hal tersebut malah membuat Ragadewa sendiri dan yang lainnya jadi tertawa.

Setelah itu Ragadewa melanjutkan. “Tetapi ketika saya berhasil mendapatkan uang, saya langsung kembalikan pada pemiliknya, berupa laptop baru dengan isi file dari laptop lama, disertai beberapa hadiah lain.” Hal tersebut membuat Galuh dan yang lainnya langsung mengangguk-angguk setuju.

“Setelah mempunyai cukup pengalaman, saya mencoba naik dengan nama saya sendiri, dan inilah hasilnya.” Selesai berbicara, dengan energinya Ragadewa membuka kain putih yang masih tersisa. Terlihatlah kini beberapa lemari jati besar yang berisi banyaknya barang antik kuaitas terbaik. Sontak semua yang melihat jadi semakin berdecak sangat kagum. Karena kini, keindahan ruang tengah telah lengkap sempurna.

“Dengan nama sebesar itu, apa kakekmu tidak curiga?” tanya Adhit dengan penasaran.

Lalu Ragadewa memandang pegunungan dari jendela dengan helaan napas yang dalam. “Saya menggunakan nama pena. Lalu editor, fans dan para wartawan, mereka hanya bertemu dengan asisten saya yang terbuat dari energi saya sendiri. Sedangkan saya hanya mengawasi dari kejauhan, kadang jadi tamu yang kebetulan duduk disana, atau bahkan jadi OB setempat.” Setelah itu, dengan energinya Ragadewa membuat dirinya menjadi ada lima Ragadewa!

Satu replika membuka lemari pendingin yang dipenuhi makanan beku, lalu dengan energinya, ia menghangatkan suhu makanan beku tersebut menjadi suhu ruang dan memasukannya ke dalam oven. Replika satu lagi, menyiapkan meja hingga siap. Sedangkan tiga lagi sibuk mencuci dan mengolah sayuran segar hingga semua sampai di meja dengan bersamaan.

Galuh, Adhit dan Gada Sangkara terkesima dengan yang mereka lihat, karena semua terlalu luar biasa. Sedangkan Soma Wisesa, ia tersenyum dengan sangat bangga. Ia tidak menyangka bahwa anak yang ia tahu saja kecil bisa sehebat ini.

Tiba-tiba Gada Sangkara bertanya. “Dewa, ini mengingatkan saya ketika terjadi penyerangan pagi tadi. Saat para pasukan hitam tiba-tiba diserang oleh replika dari tubuhnya sendiri, apa semua ini energi yang dicari oleh kakekmu?” tanya Gada Sangkara begitu takjub.

“Benar, terutama energi yang ini,” lalu Ragadewa membuat replika pasir Gada Sangkara dengan posisi hendak memukul. Saat Gada Sangkara refleks menangkis, energi replika buatan Ragadewa yang dibuat melawan Gada Sangkara, sama persis dengan jurus yang biasa Gada Sangkara gunakan. Dan itu membuat perkelahianpun menjadi sangat alot. Gada Sangkara semakin kewalahan karena replikanya sendiri membelah diri sehingga kini muncul jadi empat replika Gada Sangkara.

Ketika pukulan hampir mengenai wajah Gada Sangkara, tiba-tiba replika tersebut membuar jadi pasir, yang setelah itu menghilang. Sontak hal itu membuat semua yang ada disana berdecak dengan sangat kagum. Gada Sangkara sendiri terlihat sangat takjub luar biasa. Ia baru melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana luar biasanya anak Istimewa mempergunakan energinya.

“Kita sarapan dulu” tawar Ragadewa sambil mempersilahkan pada meja yang telah siap. Semua yang sudah kelaparan, sontak langsung menyerbu hidangan khas Sunda lengkap dengan sangat sukacita, kecuali Soma Wisesa.

“Soma, kamu tidak makan?” tanya Adhit heran.

“Semuanya terlihat lezat,” ucap Soma Wisesa sambil menatap pada semua hidangan.  “Sayangnya.. kalung segel telah membuat tubuh saya terjebak pada ruang dan waktu yang terhenti, sehingga semua segala pergerakan dalam tubuh saya juga ikut berhenti. Sedangkan yang kamu lihat sekarang ini, adalah manifestasi dari Ruh milik saya.” ucap Soma Wisesa sambil tersenyum.

“Ragadewa, Energimu telah berkembang sangat luar biasa, pantas saja kakekmu begitu mati-matian untuk menguasai kamu!” Sebelum Adhit berbicara, Soma Wisesa segera mengalihkan pembicaraan agar Adhit tidak mengasihaninya sama sekali.

“Hanya teknik sederhana,” jawab Ragadewa sambil membuka nasi bakarnya dengan perlahan. “Replika ini saya buat dari muatan sekitar, yang tercampur dari uap air hasil dari respirasi tubuh mahluk yang saya tuju. Bagi energi saya, hasil respirasi adalah perekam memori keseharian terbaik. Sehingga saat uap air ini tersentuh energi saya, saat itu pula saya membaca jurus dan kelemahan mereka dengan mudah.” Jelas Ragadewa yang membuat mereka semua semakin takjub.

“Ah iya.. Soma, saat perjalanan tadi, bukankah kamu mengatakan mengetahui dimana Kitab Cadrakara asli disimpan?” tanya Ragadewa tiba-tiba.

“Ini..” tiba-tiba Soma Wisesa mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya! Sebuah buku tebal kumal yang dipenuhi coretan dimana-mana. Sontak hal tersebut membuat semuanya langsung terkejut! Ternyata, selama ini Kitab Candrakara ada di dekat mereka. Kecuali Ragadewa, ada raut ragu yang sepertinya sedang memastikan bila Soma Wisesa bukan sedang menghiburnya.

Melihat hal tersebut, Soma Wisesa langsung menyentuh titik tengah buku, yang lalu membuat buku kumal tersebut melayang dalam balutan cairan kemerahan. Setelah itu, cairan kemerahan tersebut membentuk wajah seorang pria.

“Ternyata benar, Kitab ini diselimuti segel darah milik Candrakara!” ucap Gada Sangkara spontan.

Ragadewa yang terkejut, langsung terpekur sambil berkata, “Syukurlaah!!!” kini matanya menyiratkan kelegaan yang amat sangat dalam.

“Barusan itu apa?” Tanya Adhit kaget. “Itu segel darah, jika di duniamu menggunakan hak paten, maka di Astamaya, kami menggunakan segel darah. Tidak dapat dipalsukan oleh apapun karena mencakup keunikan karakter energi masing-masing pemilik darah tersebut,” jelas Gada Sangkara yang membuat Adhit kini menangguk mengerti.

“Bila ini adalah Kitab Cadrakara yang asli, maka yang tadi pagi dicuri itu apa?” tanya Adhit heran, yang membuat semuanya kini ikut menatap Soma Wisesa penuh tanda tanya.

“Itu hanya berisi senda gurau saya dan Candrakara.” Ucapan Soma Wisesa membuat semua menatap kaget, terutama Galuh.

“Candrakara sudah melihat hal ini akan terjadi.” ucap Soma sambil tersenyum menyebalkan, “Agar terlihat meyakinkan, kami menyelipkan ramalan yang benar di beberapa paragraf saja, sisanya hanya kutipan yang menyesatkan,” ucap Soma Wisesa sambil tertawa.

“Sekian lama kamu menyimpan kitab ini sendirian! Dan kamu tidak mengatakan apapun! kamu tahu? kakek Addar dan ayahnya, sepanjang hidupnya mencoba menterjemahkan kitab ini! yang ternyata itu hanyalah kitab palsu!” ucap Galuh hampir berteriak.

“hei.., jangan kesal dulu, Candrakara sendiri yang memberi ide ini.. hahaha…” ucap Soma Wisesa lagi sambil tertawa. Tentu hal tersebut membuat Galuh semakin kesal.

Adhit dan Gada sangkara mulai khawatir karena kemarahan Galuh membuka sedikit segel para Ajag. Saat Gada Sangkara menghampiri untuk menenangkan Galuh, Adhit tidak sengaja melihat NaRaja menghembuskan angin untuk menutup segel dari arah dalam. Adhit terkejut, ia semakin heran dengan dimana sebenarnya NaRaja berpihak.

Setelah meminta maaf, Soma Wisesa pun bercerita. “Setelah Maharaja dan para Tetua Putih yang menjabat saat itu setuju kalau batu Hyang Sawarga harus dihancurkan. Maka, secara diam-diam mereka segera merenovasi segel ruang penyimpanan batu Hyang Sawarga di istana.” ucap Soma Wisesa yang memperlihatkan gambaran yang terjadi saat itu dengan energinya.

“Namun, karena terus menerus berusaha dicuri Kaum Hitam. Maka untuk sementara, Cadrakara segera membagi batu Hyang Sawarga sesuai retakannya, lalu menyembunyikannya disuatu tempat yang sangat tersembunyi.” Ucap Soma Wisesa sambil memberikan gambaran ketika para Kaum Hitam sedang menerobos masuk Istana.

“Sayangnya, Candrakara tewas terbunuh sebelum segel ruang penyimpanan Batu Hyang Sawarga selesai direnovasi.” Ucap Soma Wisesa yang kini dengan sangat menyesal.

“Lahirnya para pemilik elemen juga hasil pekerjaan Candrakara. Sebelum menyembunyikan batu Hyang Sawarga, Candrakara mengambil sedikit sari pati batu Hyang Sawarga dari masing-masing retakannya. Untuk dikirim secara sembunyi-sembunyi menggunakan Burung Mahui miliknya,” ucap Soma Wisesa lagi.

“Dikirim sembunyi-sembunyi menggunakan burung Mahui? Berarti Guru Candrakara sudah menargetkan siapa saja yang akan menjadi calon pemilik elemen?” tanya Adhit dengan terkejut.

“Ya, mereka adalah seseorang yang pernah Candrakara temui selama masa perjalanan dalam menyembunyikan retakan batu Hyang Sawarga, seseorang dengan level kemurnian hatinya yang paling tinggi,” jawab Soma Wisesa mengiyakan.

“Candrakara itu gila, dia seorang peramal ambisius yang sering bertingkah gila. Kadang saya merasa, demi terealisasikan rencana dia dalam membelokan ramalan, jangan-jangan ia yang merencanakan kematiannya sendiri.” Ucap Soma Wisesa lagi.

Semua terkejut dengan perkataan Soma Wisesa, termasuk Adhit, karena ia juga pernah menebak ini saat bertanya pada Kakek Addar.

“Bila berpihak pada Kaum Putih, mengapa sejak dulu tidak pernah membantu kami sama sekali?” Tanya Gada Sangkara heran.

Soma tersenyum, “karena ini juga adalah permintaan Candrakara.” Lalu semua menatap Soma Wisesa dengan pandangan tidak mengerti.

“Bila saya mati, dan penerus saya yang melanjutkan, maka akan memakan waktu lama sekali dalam menterjemahkan Kitab Cadrakara, karena akan dimulai dari nol lagi. Candrakara membuat kitab ini hanya bersama saya, maka hanya saya yang tahu apa yang ingin disampaikan Candrakara dalam Kitab Candrakara.“ Jelas Soma Wisesa.

Selesai makan, mereka semua berkumpul di sofa tengah untuk menterjemahkan Kitab Candrakara. Adhit menatap Kitab bersampul kulit coklat kehitaman yang sudah termakan usia tersebut dengan penuh antusias.

Benar yang dikatakan Soma Wisesa tadi, ia begitu hafal berbagai pesan rahasia yang ingin disampaikan Candrakra. Sayangnya, sayangnya tidak semua detail dibuka oleh Guru Candrakara, karena isi kitab selanjutnya akan muncul, bila mereka berhasil menyelesaikan misi sebelumnya. Karena menurut Guru Candrakara, hal ini sangat berpengaruh besar dengan rencana pembelokan ramalan.

“Misi awal kita sebelum menemukan pecahan dari batu Hyang Sawarga adalah, kita harus menemukan Istana Tujuh Pintu yang di huni oleh tujuh dewi.” Ucap Soma Wisesa dengan mata yang tidak lepas dari halaman Kitab Candrakara.

“Untuk apa?” tanya Adhit ingin tahu.

“Karena kita membutuhkan kekuatan dewi ke tujuh, dewi bungsu pemilik kekuatan hawa murni. Hawa yang ia miliki mampu menjernihkan apapun termasuk pemikiran terburuk yang pernah dimiliki seseorang. Dan segel dari masing-masing retakan batu Hyang Sawarga yang disembunyikan, dirancang oleh Guru Candrakara agar hanya bisa dibuka oleh seseorang yang berhati bersih dan murni, seperti bayi yang baru terlahir.” Jelas Soma Wisesa yang diangguki mengerti oleh semua.

“Istana Tujuh Pintu itu seperti apa?” tanya Adhit lagi.

“Entahlah, saya memang membantunya menyusun Kitab Candrakara melalui alam pikiran, namun yang mengerjakan keseluruhan rencananya adalah Candrakara sendirian.” Jawab Soma Wisesa sambil mengedikan bahunya.

“Sendirian?” ucap Galuh terkejut. “Sudah saya bilang, Candrakara itu gila. Ia akan melakukan apapun demi mencapai apa yang ia tuju,” ucap Soma Wisesa lagi sambil tertawa.

“Namun yang saya ketahui adalah, ke lima retakan batu Hyang Sawarga dijaga oleh masing – masing penjaga yang sudah dipilih Candrakra sendiri. Tujuannya adalah, agar bila salah satu retakan Hyang Sawarga ditemukan oleh Kaum Hitam, maka para penjaga yang lain akan menerima berita dari sonar khusus yang terhubung, sehingga mereka jadi lebih waspada.” Jelas Soma Wisesa.

“Ia hanya meninggalkan ini dalam Kitab Candrakara,” ucap Soma Wisesa sambil menunjuk pada sebuah kode.” Melihat kode yang diperlihatkan Soma Wisesa, mata Adhit langsung membulat!

“Ini kode kordinat!” Ucap Adhit sangat senang, “Ternyata disekitar Gunung Merapi,” serunya saat menemukan Lokasi yang dimaksud dengan Kalung Sura Suradana miliknya.

“Bagus sekali! besok Kita akan mencari Istana tujuh pintu di Merapi,” Tegas Soma Wisesa yang disambut tatapan bersemangat dari semua yang ada disana. 

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir