Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga |Bab 25 – Petunjuk Istana Tujuh Pintu | By: Desya Saghir

            Di tengah perjalanan menuju petunjuk selanjutnya, mereka malah kembali dihadang oleh Kakeknya Ragadewa.  Sepertinya mereka terlacak karena mobil yang mereka tumpangi terbuat dari energi milik Ragadewa.

Dengan sekali mengangkat tangan, prajurit yang dibawa Kakeknya Ragadewa seketika menerjang tanpa ampun. Gerakan terstruktur mereka yang begitu terlatih, sempat membuat para pemilik elemen kalang kabut bahkan kehilangan kendali.

“Sepertinya para prajurit hitam yang bersama kakeknya Ragadewa kali ini bukan prajurit sembarangan, mereka jauh lebih kuat!” ucap Galuh dengan napas terengah.  

“Ragadewa!” seru Gada Sangkara, “Kakekmu kini mengerahkan prajurit hitam elit tingkat satu, yang dipimpin tiga komandan hitam yang terkenal berbahaya! Berhati-hatilah!” seruan Gada Sangkara langsung diangguki Ragadewa dengan cepat.

Saat Ragadewa hendak membuat replika dari para prajurit hitam, tiba-tiba serangannya diblokir oleh Kakek Ragadewa, yang lalu Ragaewa diserang habis-habisan sehingga tergiring agak terpisah dari yang lainnya.

Saat hampir mundur, tiba-tiba Ragadewa teringat keberanian Kahiyang Raga dalam melawan traumanya terhadap Kaum Hitam. Ragadewa kini menghadapi Kakeknya dengan gagah berani. Ragadewa bahkan tidak keberatan saat mereka saling baku hantam dengan menggunakan tambang energi yang identik!

Ditengah pertarungan, Kakek Ragadewa terkejut saat semua serangan yang ia lontarkan terpental begitu saja. Bahkan pertarungan mereka kini jadi benar-benar sangat alot!

Disisi lain, Galuh maju dengan mengendalikan laju layang sepasang kujang miliknya. Sabetan acak yang dihasilkan sepasang kujang milik Galuh, membuat satu rentetan prajurit hitam roboh dengan robekan luka yang cukup parah. Ditambah pukulan kepalan besar dari energi milik Gada Sangkara, sontak membuat sekumpulan prajurit hitam yang sudah terluka, semakin tidak karuan karena terpental kesemua arah.

Sedangkan Soma Wisesa, ia bertarung alot melawan tiga komandan hitam sekaligus. Lalu Jinn Si Kelinci, Ia berdiri melindungi Adhit sambil memeriksa keadaan melalui teropong Ruh miliknya. Jinn memeriksa, apakah para prajurit hitam beserta tiga komandan hitam tersebut, mempunyai kasus yang sama dengan monster batu buatan Dwasa Si Mahluk Asap atau tidak.

Melihat semua itu, Adhit yang berdiri dibelakang perlindungan Jinn Si Kelinci jadi merasa sangat tidak berguna. “Mereka semua terlihat sangat hebat sekali..” ucap Adhit sambil mengelus kalung Sura Suradana miliknya dengan lesu.

Namun tiba-tiba, kalung Sura Suradana milik Adhit mengeluarkan energi berupa bola Hologram dengan relief yang sangat aneh! Adhit yang masih kebingungan, malah dikejutkan lagi karena tiba-tiba bola hologram tersebut membesar, yang lalu membuat ia kini berada di dalam bola hologram tersebut.

 Sebuah segel darah muncul. Adhit mengenalinya sebagai segel darah Candrakara, karena identik dengan yang pernah ditunjukan Soma Wisesa dulu.

Namun anehnya, tiba-tiba segel darah tersebut merespon Adhit. Belum hilang terkejutnya, segel darah Candrakara malah memaksa masuk melalui pori-pori telapak tangan Adhit, lalu membuka beberapa titik tersegel dalam warisan epigenetik milik Adhit.

Setelah itu, semua grafik dan gambaran yang tertera dalam bola hologram tersebut terasa seperti dejavu. Ada sekelebatan memori yang berupa gambaran tangan yang bukan miliknya, tangan sedang mengoperasikan seluruh fasilitas yang tersedia dari bola hologram tersebut.

Karena teropong Ruh masih bertengger di matanya, otomatis Jinn Si Kelinci melihat sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati.

“Bila segel darah milik Guru Candrakara tiba-tiba merespon warisan epigenetik milik Adhit, berarti Adhit adalah salah satu keturunan dari Guru Candrakara! Sulit dipercaya! Ini terlalu hebaaat!..” teriak Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak senang.

Mendengar hal tersebut, dari kejauhan Galuh dan Gada Sangkara juga terkejut. Namun yang paling terkejut adalah Soma Wisesa. “Si Gila Candrakra, setelah kamu mati pun, kamu tetap terus memberi kejutan!” pikir Soma Wisesa sambil tersenyum. Sedangkan Ragadewa masih belum tahu apa-apa karena terpisah jauh dari mereka.

“Adhitya.. bukankah Tuan Addar pernah berkata, Guru Candrakara pasti punya alasan mengapa anda bersama kami,” ucapan Jinn Si Kelinci yang sontak membuat Adhit ingat lalu terkejut luar biasa. “Bila ini bagian dari alurnya pembelokan ramalannya, Guru Candrakara benar-benar jenius gila!.. alur rencananya benar-benar tidak bisa ditebak!..” ucap Adhit senang karena akhirnya ia merasa berguna.

Adhit lalu mengikuti dejavu yang muncul dalam ingatannya, dan “Soma! Tiga komandan ini mempunyai energi yang saling terkait, bila kamu memecah mereka hingga jauh, maka energi mereka akan terpecah dan mengacaukan satu sama lain!” Teriak Adhit dengan sangat bersemangat!

Kerjasama yang apik antara Galuh dan Gada Sangkara,  menghasilkan tumbangnya para prajurit hitam hingga tidak berdaya.

Tanpa menunggu lama, mereka langsung membantu Soma Wisesa dalam memisahkan posisi ketiga komandan hitam tersebut. Setelah tiga komandan hitam tersebut terpisah, benar saja, energi besar mereka tiba-tiba kolaps. Hal itu langsung dimanfaatkan Soma Wisesa untuk melemparkan serangan telak hingga para komandan hitam semakin terdesak.

Dari kejauhan, Kakek Ragadewa melihat tiga komandan hitam yang dibawanya mulai kewalahan. Maka, sekalipun ia tengah bertarung dengan Ragadewa, Kakek Ragadewa menyisipkan serangan energi kearah Adhit.

Namun, bola hologram yang melingkupi Adhit segera membentuk perisai dan langsung memantulkan serangan tersebut. Ironisnya,  serangan yang dipantulkan malah mengenai Gada Sangkara, sontak membuat Gada tersungkur, yang lalu mengalami luka dalam yang amat parah.

Adhit segera berlari menuju Gada Sangkara yang terluka. Lalu dibawah kontrolnya, ia memasukan Gada Sangkara ke dalam bola hologram agar terlidungi dari serangan.

Dengan cepat, Adhit mengobati Gada Sangkara menggunakan ramuan lima botol kristal ramuan yang pernah diberikan Tuan Monyet Rahyata dulu. Luka-luka luar Gada Sangkara memang menghilang, namun Gada tidak bisa kembali berdiri karena ia ternyata terluka dalam dengan sangat hebat.

Konsentrasi Galuh yang terpecah karena kondisi Gada Sangkara yang masih mengkhawatirkan, membuat Galuh tersengat energi hitam milik salah satu komandan hitam. Sontak hal tersebut membuat segel para Ajag malah kembali terbuka.

“Nona!” teriak Jinn Si Kelinci sambil berlari mendekat pada Galuh. “Mundurlah dulu, Komandan hitam yang satu ini ternyata membawa kendi Ruh! Tempat para Ruh Ajag dulu di godok. Tutup kembali segel para Ajag atau mereka akan tersedot keluar dan anda akan mati!” bisik Jinn Si Kelinci, yang lalu ke depan Galuh untuk berdiri disamping Soma Wisesa.

Galuh terkejut, ia baru sadar bila  kendi logam yang diselempangkan komandan hitam tersebut, benar-benar sesuai seperti yang selalu digambarkan NaRaja pada Galuh.

Namun, segel para Ajag tidak menutup juga. Kepanikan Galuh malah membuat segel para Ajag menganga semakin lebar. Untung Kakek Ragadewa masih sibuk meladeni serangan dari Ragadewa, sehingga ia tidak tahu tentang hal yang sedang terjadi.

Namun, komandan hitam dihadapannya mulai curiga karena pandangannya pada Galuh terus dihalangi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, komandan hitam tersebut langsung menyerang Soma Wisesa dan Jinn Si Kelinci secara membabi buta.  Karena sudah sangat terdesak, demi indetitas Galuh yang menopang para Ajag tidak diketahui, Jinn Si Kelinci segera mengeluarkan energi berupa gerbang pintu yang sangat besar.

Namun bukan itu saja yang membuat semua terkejut. Saat pintu energi milik Jinn Si Kelinci terbuka, keluarlah beberapa tokoh perwayangan Alengka yang begitu dikenal Adhit. Mulai dari Hanuman, Rahwana hingga tokoh perwayangan lain dalam cerita Ramayana.  

Dalam sekejap, semua ketiga komandan hitam terkepung! Dua habis di babat para tokoh perwayangan milik energi Jinn Si Kelinci. Namun komandan hitam yang membawa kendi Ruh, setelah kendi yang ia bawa retak, ia mundur dan melarikan diri entah kemana.

 Semua terkesima, terutama Adhit yang tidak menyangka bahwa Jinn Si Kelinci mempunyai energi sebesar itu.

“Energi apa itu? Mengapa energinya sekompleks Kahiyang Raga dan Ragadewa? Apa Kaum Luhur juga terdapat anak istimewa?” tanya Adhit terkejut.

“Saya tidak mengerti, sejauh yang saya tahu, tidak ada anak istimewa dalam sejarah Kaum Luhur,” ucap Gada Sangkara tidak mengerti.

“Jinn menggunakan ilmu gerbang dewa,” Jawab Galuh dengan posisi masih siaga. “Visualisasi energi yang keluar dari tubuh kami, berasal dari apa selama ini kami paling sukai. Jinn sangat menyukai cerita perwayangan, sehingga itulah yang terjadi,” terang Galuh lagi.

Karena pasukannya habis tidak tersisa, kakek Ragadewa langsung tunggang langgang melarikan diri. Ragadewa memandang kakeknya dengan pandangan merendahkan. “Pengecut!” ucap Ragadewa yang lalu segera membantu Adhit memapah Gada Sangkara.

Sedangkan Jinn Si Kelinci, setelah mengeluarkan energi sebesar itu dengan hebat, ia kini jatuh terduduk. Seluruh tubuhnya kaku, namun masih setengah sadar diri. Karena Gada Sangkara sudah di papah Ragadewa, maka Adhit segera berlari untuk memberikan ramuan yang membuat Jinn Si Kelinci kembali sadar, namun tubuhnya masih lemas tidak berdaya.

“Jinn.. berhati-hatilah, kita bukan anak istimewa, pemakaian energi terlalu kompleks dapat menyebabkan kelumpuhan otak total! ” ucap Galuh khawatir. Adhit kini mengerti, Jinn Si Kelinci bukanlah anak istimewa, melainkan ia ternyata memaksakan diri hingga di titik batas kemampunya sendiri.

Soma Wisesa mendekat, lalu menekan beberapa titik tubuh Jinn Si Kelinci dengan energi miliknya,   sehingga Jinn Si Kelinci kini bisa bernapas kembali dengan agak lega. Selanjutnya, Soma Wisesa juga memeriksa kondisi Gada Sangkara. “Energi yang dilesatkan kakek Ragadewa diselipi racun yang sangat mematikan, ini diluar kemampuan saya,” ucap Soma Wisesa menggeleng sedih.

Setelah merasa agak lebih baik, Jinn Si Kelinci perlahan duduk dan berkata, “Saya tahu dimana Tuan Gada bisa di obati. Tolong gendong saya, kita akan memasuki tempat dimana penuh akan hiruk pikuknya dunia manusia.” Lalu dengan sisa energinya, Jinn Si Kelinci segera merubah dirinya jadi sebuah tas ransel kelinci, yang lalu segera digendong oleh Galuh.

Setelah menempuh perjalanan memakai mobil yang dihasilkan dari energi Ragadewa. Mereka heran karena dibawa Jinn Si Kelinci pada sisi pasar yang penuh dengan hiruk pikuk.

“Berhenti! Itu Taphilli!” ucap Jinn Si Kelinci sambil menunjuk pada seseorang.

Dari dalam mobil, pandangan mereka terarah pada seorang remaja penjual obat herbal keliling. Sekalipun kakinya pincang sebelah, remaja tersebut tampak ceria dan sangat bersemangat menjajakan obat herbal miliknya.

“Gada akan di obati obat herbal keliling? apa tidak salah?” tanya Adhit heran.

“Taphilli adalah seorang anak istimewa yang melarikan diri kedalam dunia Manusia, ia mempunyai pengetahuan tentang ramuan yang membuat Kaum Hitam mencarinya setengah mati.” Ucapan Jinn Si Kelinci, kini membuat para pemilik elemen kembali menoleh pada remaja dengan sangat terkejut.

Perawakan Taphilli yang sama sekali tidak mencerminkan jenius peracik ramuan, membuat mereka semua agak sangsi. “Di usia semuda itu?” tanya Adhit memastikan.

“Taphilli mungkin baru berusia lima belas tahun, tetapi ia pernah membuat ramuan untuk mengobati monster besar wilayah Rangeh, dan ramuan tersebut berhasil!”

Soma Wisesa terkejut, “Monster besar wilayah Rangeh adalah mahluk paling kasar dan bebal, bagaimana bisa mengobatinya, baru mendekatinya saja kita sudah mati terlebih dahulu,” ucap Soma Wisesa tidak percaya.

“Bila Kaum Hitam mencarinya setengah mati, maka itu sepertinya benar,” ucapan Ragadewa yang diangguki Jinn Si Kelinci, membuat semua yang ada didalam mobil kini memandangnya dengan takjub.

“Anda semua tahu, apa yang membuat Kaum Hitam terus mencari Taphilli hingga ke dunia Manusia? Taphilli bukan hanya disegani, para Monster dibeberapa wilayah Astamaya kini menganggapnya sebagai dewa penyembuh, yang lalu membuat para Monster ini akan melakukan apa saja untuk Taphilli,” ucap Jinn Si Kelinci lagi yang kini membuat semua semakin takjub.

              Remaja bernama Taphilli tersebut akhirnya menyadari ada beberapa orang memperhatikannya dari dalam mobil.

Saat hendak berlari, tiba-tiba ia melihat ada tas punggung menyerupai Jinn Si Kelinci, terletak di pangkuan Galuh yang duduk di kursi depan. Lalu ketika ia melihat seseorang dibelakang kursi Galuh dengan wajah penuh kepayahan, Taphilli langsung terkejut.

 “Tuan Gada Sangkara?” ucap Taphilli terkejut. Lalu dengan terpincang, Taphilli berusaha mendekati mereka secepat mungkin.

              “Jinn.. apa yang terjadi dengan Tuan Gada Sangkara?” tanya Taphilli kaget yang lalu membuka pintu mobil untuk memeriksa kondisi Gada Sangkara. Setelah itu itu ia memberi aba-aba, agar Ragadewa membawa mobil yang mereka tumpangi pada tempat yang lebih aman.

Begitu sampai ditempat aman, Gada Sangkara bertanya.  “Bagaimana kamu mengenali saya?” tanya Gada Sangkara sambil tersengal. Wajahnya menunjukan kepayahan yang amat sangat.

“Saya mengenali anda berkat ayah anda, Panglima besar Baharyu,” jawab Taphilli, sambil menekan beberapa titik dari tubuh Gada Sangkara sehingga napas Gada jadi lebih baik. Setelah itu, ia memilih beberapa ramuan dari tas selempang anyaman serat kayu miliknya.

“Taphilli pernah mengobati ayah anda,” ucapan Jinn Si Kelinci membuat Gada Sangkara sangat terkejut. “Kapan?” tanya Gada lagi, karena ia merasa tidak pernah melihat Taphilli sama sekali.

Sambil mengobati, Taphilli bercerita “Saat saya masih tinggal di Astamaya, saya pernah ditipu salah seorang pemesan yang mengaku sebagai petani sekitar.” ucap Taphilli sambil mencampur beberapa ramuan, lalu mengaturnya agar konsentrasi ramuannya tepat.

“Mereka memesan racun kuat, yang katanya akan digunakan untuk mematikan gulma air yang menyedot energi dari tanaman sekitar. Namun tanpa sengaja, saya malah mendengar bahwa ramuan tersebut justru untuk dipakai meracuni ayah anda, Panglima Besar Baharyu.” Ucap Taphilli sambil meneteskan beberapa tetes ramuan yang membuat Gada bisa bernapas sedikit lebih lega. Mendengar hal tersebut Gada Sangkara terkejut.

Taphilli lalu membuka tas selempangnya lagi untuk memilih beberapa botol ramuan tambahan. “Saat ada kesempatan, saya langsung melarikan diri sambil membawa racun tersebut melalui jalur sungai putih.

“Aah.. tentu saja, penghuni sungai putih adalah Kaum lelembut air yang sangat memusuhi Kaum Hitam. Kabarnya, beberapa Kaum Hitam yang nekat menyeberang, akan tewas diserang oleh penghuni sungai putih,” ucap Gada Sangkara yang dibenarkan juga oleh Soma Wisesa.

“Lalu mereka melepaskan kamu begitu saja? Untuk racun yang bisa mematikan gulma penyedot energi dengan mudah, mereka pasti rela melakukan apapun demi mendapatkannya kembali.” Ucap Gada Sangkara heran, rasa ingin tahunya kini mengalahkan sakit yang sedang ia derita.

“Saat itu, para bawahan Kaum Hitam memang masih tetap mengejar saya Tuan.” Jawab Taphilli membenarkan sambil mencampur beberapa ramuan baru ke dalam satu wadah.

“Karena saat itu tidak mungkin menumpahkannya ke dalam sungai yang dihuni Kaum Lelembut, karena sebelumnya saya telah meminum penawarnya, maka saya tumpahkan pada kaki saya sendiri.” Ucap Taphilli sambil menunjuk kakinya yang telah hilang sampai sebatas lutut. Pengabdian remaja ini pada Kaum Putih, membuat Gada Sangkara langsung kagum luar biasa.

“Akibatnya saya pingsan diperahu, namun karena para Kaum Hitam menganggap saya mati, dan ramuan tersebut juga telah hilang tidak berbekas, maka akhirnya saya di tinggalkan begitu saja.” Jelas Taphilli sambil meneteskan beberapa ramuan hingga membuat Gada Sangkara mengaduh sebentar.

Namun setelah itu Gada Sangkara kembali terkejut, karena rasa sakitnya langsung menghilang, dan kondisi tubuhnya kembali seperti semula. “Anak ini benar-benar hebat!” pikir Gada Sangkara semakin takjub.

“Setelah itu, saya mencari Tuan Addar untuk menyampaikan pesan bahwa Panglima Baharyu sedang diincar untuk diracun. Sayangnya saat saya sampai, Tuan Baharyu telah kolaps teracuni.”ucap Taphilli dengan nada sangat menyesal.

 “Akhirnya saya menawarkan diri  untuk membantu Tuan Addar membuatkan penawar racun tersebut, dan disanalah saya mengenali anda.” Ucap Taphilli yang kali ini menotok beberapa titik tubuh Gada Sangkara dengan energinya, sehingga kini kondisi tubuhnya kembali seperti sedia kala. Gada Sangkara semakin terkejut dengan kehebatan yang dikuasai Taphilli, pantas saja Kaum Hitam sampai mencarinya setengah mati.

“Aah saya ingat sekarang, saat ayah saya koma, ada seorang anak berusia sekitar dua belas tahun, membantu Tuan Addar dalam mengobati ayah saya. Apakah itu kamu?” tanya Gada Sangkara dengan raut terkejut, karena di usia dua belas tahun, anak ini sudah mahir meracik ramuan penawar dengan sangat hebat!

“Benar sekali Tuan, saya meminta Tuan Addar untuk merahasiakan kemampuan saya agar tidak terendus oleh Kaum Hitam. Bahkan pelarian saya menuju Dunia Manusia, juga atas bantuan dari Tuan Addar,” jelas Taphilli yang membuat mereka semua takjub.

“Bahkan untuk Tabib ramuan sehebat dia, racun ini mematikan serabut syaraf kakinya sehingga tidak mampu ditumbuhkan kembali, itu sebabnya racun yang diberikan pada Tuan Baharyu tidak terlalu berbahaya.” Tambah Jinn Si Kelinci yang membuat semua semakin berdecak kagum.

Mendengar hal tersebut, Gada Sangkara sangat berterimakasih sekali, lalu berjanji akan memberikan bantuan apapun yang dibutuhkan Taphilli.

“Apa yang membuat kalian semua sampai datang ke dunia Manusia?” tanya Taphilli heran. Disini Jinn Si Kelinci menerangkan maksud dan tujuan masuknya mereka ke dalam dunia Manusia. “Untuk apa anda semua mencari Istana Tujuh Pintu?” tanya Taphilli lagi, namun kali ini dengan sangat terkejut.

Ketika Taphilli mengetahui bahwa dihadapan dirinya ada Kanaya Galuh, sang pewaris tahta, Taphilli terkejut dan langsung menunduk hormat pada Galuh dengan khidmat.

“Nama saya Taphilli, menyamar menjadi tukang obat jalanan dan bertahan hidup di dunia Manusia dari ramuan–ramuan herbal yang saya racik sendiri,” ucap Taphilli penuh hormat.

“Tetapi nama saya yang sebenarnya adalah Sutrisna Prawiraharja,” ucapan Taphilli membuat Gada Sangkara seperti teringat sesuatu. “Prawiraharja? Nama ini seperti familiar di telinga saya?” ucap Gada Sangkara sambil mengingat-ingat.

“Prawiraharja adalah keturunan pemahat mantera pembuat Istana Tujuh Pintu,” ucap Soma Wisesa yang lalu keluar dari kalung segel yang dipakai Galuh. Sontak semua yang ada disana langsung terkejut luar biasa, terutama Jinn Si Kelinci, karena ia sama sekali tidak tahu tentang ini.

“Pantas saja saya begitu mengenali energi yang kamu miliki,” ucap Soma Wisesa lagi sambil memandang Taphilli dengan seksama.

Disini Taphilli mengatakan, bahwa sebenarnya ia adalah keturunan para pemahat mantera dari garis keturunan keluarga Prawiraharja. Leluhurnya adalah yang membantu Guru Candrakara untuk Istana Tujuh Pintu.

Ia menggunakan nama Taphilli, karena nama itu tidak merujuk pada makna apapun, sehingga bila Kaum Hitam mencari karena kemampuannya dalam meracik ramuan, mereka tidak bisa menerka dia berasal dari keturunan manapun. Sontak semua pemilik Elemen langsung terkejut luar biasa!

“Apakah kamu bisa melacak dimana letak Istana Tujuh Pintu?” tanya Adhit ingin tahu.

“Ya..” jawaban pasti dari Taphilli, membuat semua terkejut dan lega secara bersamaan!

“Antarkan kami kesana sekarang..” pinta Galuh dengan sangat bersemangat!

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir