Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga |Bab 25 – Petunjuk Istana Tujuh Pintu | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di tengah perjalanan menuju petunjuk selanjutnya, mereka malah kembali dihadang oleh Kakeknya Ragadewa. Sepertinya mereka terlacak karena mobil yang mereka tumpangi terbuat dari energi milik Ragadewa.
Dengan sekali
mengangkat tangan, prajurit yang dibawa Kakeknya Ragadewa seketika menerjang
tanpa ampun. Gerakan terstruktur mereka yang begitu terlatih, sempat membuat
para pemilik elemen kalang kabut bahkan kehilangan kendali.
“Sepertinya
para prajurit hitam yang bersama kakeknya Ragadewa kali ini bukan prajurit
sembarangan, mereka jauh lebih kuat!” ucap Galuh dengan napas terengah.
“Ragadewa!”
seru Gada Sangkara, “Kakekmu kini mengerahkan prajurit hitam elit tingkat satu,
yang dipimpin tiga komandan hitam yang terkenal berbahaya! Berhati-hatilah!” seruan
Gada Sangkara langsung diangguki Ragadewa dengan cepat.
Saat
Ragadewa hendak membuat replika dari para prajurit hitam, tiba-tiba serangannya
diblokir oleh Kakek Ragadewa, yang lalu Ragaewa diserang habis-habisan sehingga
tergiring agak terpisah dari yang lainnya.
Saat
hampir mundur, tiba-tiba Ragadewa teringat keberanian Kahiyang Raga dalam
melawan traumanya terhadap Kaum Hitam. Ragadewa kini menghadapi Kakeknya dengan
gagah berani. Ragadewa bahkan tidak keberatan saat mereka saling baku hantam dengan
menggunakan tambang energi yang identik!
Ditengah pertarungan,
Kakek Ragadewa terkejut saat semua serangan yang ia lontarkan terpental begitu
saja. Bahkan pertarungan mereka kini jadi benar-benar sangat alot!
Disisi
lain, Galuh maju dengan mengendalikan laju layang sepasang kujang miliknya. Sabetan
acak yang dihasilkan sepasang kujang milik Galuh, membuat satu rentetan
prajurit hitam roboh dengan robekan luka yang cukup parah. Ditambah pukulan
kepalan besar dari energi milik Gada Sangkara, sontak membuat sekumpulan
prajurit hitam yang sudah terluka, semakin tidak karuan karena terpental kesemua
arah.
Sedangkan Soma
Wisesa, ia bertarung alot melawan tiga komandan hitam sekaligus. Lalu Jinn Si
Kelinci, Ia berdiri melindungi Adhit sambil memeriksa keadaan melalui teropong
Ruh miliknya. Jinn memeriksa, apakah para prajurit hitam beserta tiga komandan
hitam tersebut, mempunyai kasus yang sama dengan monster batu buatan Dwasa Si
Mahluk Asap atau tidak.
Melihat
semua itu, Adhit yang berdiri dibelakang perlindungan Jinn Si Kelinci jadi merasa
sangat tidak berguna. “Mereka semua terlihat sangat hebat sekali..” ucap Adhit
sambil mengelus kalung Sura Suradana miliknya dengan lesu.
Namun tiba-tiba, kalung Sura Suradana
milik Adhit mengeluarkan energi berupa bola Hologram dengan relief yang sangat
aneh! Adhit yang masih kebingungan, malah dikejutkan lagi karena tiba-tiba bola
hologram tersebut membesar, yang lalu membuat ia kini berada di dalam bola
hologram tersebut.
Sebuah segel darah muncul. Adhit mengenalinya sebagai
segel darah Candrakara, karena identik dengan yang pernah ditunjukan Soma
Wisesa dulu.
Namun anehnya, tiba-tiba segel darah tersebut
merespon Adhit. Belum hilang terkejutnya, segel darah Candrakara malah memaksa masuk
melalui pori-pori telapak tangan Adhit, lalu membuka beberapa titik tersegel dalam
warisan epigenetik milik Adhit.
Setelah
itu, semua grafik dan gambaran yang tertera dalam bola hologram tersebut terasa
seperti dejavu. Ada sekelebatan memori yang berupa gambaran tangan yang bukan
miliknya, tangan sedang mengoperasikan seluruh fasilitas yang tersedia dari
bola hologram tersebut.
Karena teropong Ruh masih bertengger
di matanya, otomatis Jinn Si Kelinci melihat sesuatu yang membuatnya terkejut
setengah mati.
“Bila segel darah milik Guru
Candrakara tiba-tiba merespon warisan epigenetik milik Adhit, berarti Adhit
adalah salah satu keturunan dari Guru Candrakara! Sulit dipercaya! Ini terlalu
hebaaat!..” teriak Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak senang.
Mendengar hal tersebut, dari kejauhan Galuh
dan Gada Sangkara juga terkejut. Namun yang paling terkejut adalah Soma Wisesa.
“Si Gila Candrakra, setelah kamu mati pun, kamu tetap terus memberi kejutan!”
pikir Soma Wisesa sambil tersenyum. Sedangkan Ragadewa masih belum tahu apa-apa
karena terpisah jauh dari mereka.
“Adhitya..
bukankah Tuan Addar pernah berkata, Guru Candrakara pasti punya alasan mengapa
anda bersama kami,” ucapan Jinn Si Kelinci yang sontak membuat Adhit ingat lalu
terkejut luar biasa. “Bila ini bagian dari alurnya pembelokan ramalannya, Guru
Candrakara benar-benar jenius gila!.. alur rencananya benar-benar tidak bisa
ditebak!..” ucap Adhit senang karena akhirnya ia merasa berguna.
Adhit lalu
mengikuti dejavu yang muncul dalam ingatannya, dan “Soma! Tiga komandan ini mempunyai
energi yang saling terkait, bila kamu memecah mereka hingga jauh, maka energi
mereka akan terpecah dan mengacaukan satu sama lain!” Teriak Adhit dengan
sangat bersemangat!
Kerjasama
yang apik antara Galuh dan Gada Sangkara, menghasilkan tumbangnya para prajurit hitam
hingga tidak berdaya.
Tanpa
menunggu lama, mereka langsung membantu Soma Wisesa dalam memisahkan posisi
ketiga komandan hitam tersebut. Setelah tiga komandan hitam tersebut terpisah,
benar saja, energi besar mereka tiba-tiba kolaps. Hal itu langsung dimanfaatkan
Soma Wisesa untuk melemparkan serangan telak hingga para komandan hitam semakin
terdesak.
Dari
kejauhan, Kakek Ragadewa melihat tiga komandan hitam yang dibawanya mulai kewalahan.
Maka, sekalipun ia tengah bertarung dengan Ragadewa, Kakek Ragadewa menyisipkan
serangan energi kearah Adhit.
Namun, bola
hologram yang melingkupi Adhit segera membentuk perisai dan langsung memantulkan
serangan tersebut. Ironisnya, serangan
yang dipantulkan malah mengenai Gada Sangkara, sontak membuat Gada tersungkur,
yang lalu mengalami luka dalam yang amat parah.
Adhit
segera berlari menuju Gada Sangkara yang terluka. Lalu dibawah kontrolnya, ia
memasukan Gada Sangkara ke dalam bola hologram agar terlidungi dari serangan.
Dengan
cepat, Adhit mengobati Gada Sangkara menggunakan ramuan lima botol kristal ramuan
yang pernah diberikan Tuan Monyet Rahyata dulu. Luka-luka luar Gada Sangkara
memang menghilang, namun Gada tidak bisa kembali berdiri karena ia ternyata
terluka dalam dengan sangat hebat.
Konsentrasi
Galuh yang terpecah karena kondisi Gada Sangkara yang masih mengkhawatirkan, membuat
Galuh tersengat energi hitam milik salah satu komandan hitam. Sontak hal
tersebut membuat segel para Ajag malah kembali terbuka.
“Nona!”
teriak Jinn Si Kelinci sambil berlari mendekat pada Galuh. “Mundurlah dulu, Komandan
hitam yang satu ini ternyata membawa kendi Ruh! Tempat para Ruh Ajag dulu di
godok. Tutup kembali segel para Ajag atau mereka akan tersedot keluar dan anda
akan mati!” bisik Jinn Si Kelinci, yang lalu ke depan Galuh untuk berdiri
disamping Soma Wisesa.
Galuh
terkejut, ia baru sadar bila kendi logam
yang diselempangkan komandan hitam tersebut, benar-benar sesuai seperti yang
selalu digambarkan NaRaja pada Galuh.
Namun,
segel para Ajag tidak menutup juga. Kepanikan Galuh malah membuat segel para
Ajag menganga semakin lebar. Untung Kakek Ragadewa masih sibuk meladeni serangan
dari Ragadewa, sehingga ia tidak tahu tentang hal yang sedang terjadi.
Namun, komandan
hitam dihadapannya mulai curiga karena pandangannya pada Galuh terus dihalangi.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, komandan hitam tersebut langsung menyerang
Soma Wisesa dan Jinn Si Kelinci secara membabi buta. Karena sudah sangat terdesak, demi indetitas
Galuh yang menopang para Ajag tidak diketahui, Jinn Si Kelinci segera mengeluarkan
energi berupa gerbang pintu yang sangat besar.
Namun
bukan itu saja yang membuat semua terkejut. Saat pintu energi milik Jinn Si
Kelinci terbuka, keluarlah beberapa tokoh perwayangan Alengka yang begitu
dikenal Adhit. Mulai dari Hanuman, Rahwana hingga tokoh perwayangan lain dalam
cerita Ramayana.
Dalam
sekejap, semua ketiga komandan hitam terkepung! Dua habis di babat para tokoh
perwayangan milik energi Jinn Si Kelinci. Namun komandan hitam yang membawa
kendi Ruh, setelah kendi yang ia bawa retak, ia mundur dan melarikan diri entah
kemana.
Semua terkesima, terutama Adhit yang tidak
menyangka bahwa Jinn Si Kelinci mempunyai energi sebesar itu.
“Energi
apa itu? Mengapa energinya sekompleks Kahiyang Raga dan Ragadewa? Apa Kaum
Luhur juga terdapat anak istimewa?” tanya Adhit terkejut.
“Saya
tidak mengerti, sejauh yang saya tahu, tidak ada anak istimewa dalam sejarah
Kaum Luhur,” ucap Gada Sangkara tidak mengerti.
“Jinn menggunakan
ilmu gerbang dewa,” Jawab Galuh dengan posisi masih siaga. “Visualisasi energi
yang keluar dari tubuh kami, berasal dari apa selama ini kami paling sukai.
Jinn sangat menyukai cerita perwayangan, sehingga itulah yang terjadi,” terang Galuh
lagi.
Karena
pasukannya habis tidak tersisa, kakek Ragadewa langsung tunggang langgang melarikan
diri. Ragadewa memandang kakeknya dengan pandangan merendahkan. “Pengecut!”
ucap Ragadewa yang lalu segera membantu Adhit memapah Gada Sangkara.
Sedangkan
Jinn Si Kelinci, setelah mengeluarkan energi sebesar itu dengan hebat, ia kini
jatuh terduduk. Seluruh tubuhnya kaku, namun masih setengah sadar diri. Karena
Gada Sangkara sudah di papah Ragadewa, maka Adhit segera berlari untuk memberikan
ramuan yang membuat Jinn Si Kelinci kembali sadar, namun tubuhnya masih lemas
tidak berdaya.
“Jinn.. berhati-hatilah, kita bukan
anak istimewa, pemakaian energi terlalu kompleks dapat menyebabkan kelumpuhan
otak total! ” ucap Galuh khawatir. Adhit kini mengerti, Jinn Si Kelinci
bukanlah anak istimewa, melainkan ia ternyata memaksakan diri hingga di titik
batas kemampunya sendiri.
Soma
Wisesa mendekat, lalu menekan beberapa titik tubuh Jinn Si Kelinci dengan
energi miliknya, sehingga Jinn Si Kelinci kini bisa bernapas kembali
dengan agak lega. Selanjutnya, Soma Wisesa juga memeriksa kondisi Gada Sangkara.
“Energi yang dilesatkan kakek Ragadewa diselipi racun yang sangat mematikan,
ini diluar kemampuan saya,” ucap Soma Wisesa menggeleng sedih.
Setelah
merasa agak lebih baik, Jinn Si Kelinci perlahan duduk dan berkata, “Saya tahu
dimana Tuan Gada bisa di obati. Tolong gendong saya, kita akan memasuki tempat
dimana penuh akan hiruk pikuknya dunia manusia.” Lalu dengan sisa energinya, Jinn
Si Kelinci segera merubah dirinya jadi sebuah tas ransel kelinci, yang lalu
segera digendong oleh Galuh.
Setelah
menempuh perjalanan memakai mobil yang dihasilkan dari energi Ragadewa. Mereka heran
karena dibawa Jinn Si Kelinci pada sisi pasar yang penuh dengan hiruk pikuk.
“Berhenti!
Itu Taphilli!” ucap Jinn Si Kelinci sambil menunjuk pada seseorang.
Dari dalam
mobil, pandangan mereka terarah pada seorang remaja penjual obat herbal
keliling. Sekalipun kakinya pincang sebelah, remaja tersebut tampak ceria dan sangat
bersemangat menjajakan obat herbal miliknya.
“Gada akan
di obati obat herbal keliling? apa tidak salah?” tanya Adhit heran.
“Taphilli
adalah seorang anak istimewa yang melarikan diri kedalam dunia Manusia, ia
mempunyai pengetahuan tentang ramuan yang membuat Kaum Hitam mencarinya
setengah mati.” Ucapan Jinn Si Kelinci, kini membuat para pemilik elemen kembali
menoleh pada remaja dengan sangat terkejut.
Perawakan Taphilli
yang sama sekali tidak mencerminkan jenius peracik ramuan, membuat mereka semua
agak sangsi. “Di usia semuda itu?” tanya Adhit memastikan.
“Taphilli mungkin
baru berusia lima belas tahun, tetapi ia pernah membuat ramuan untuk mengobati
monster besar wilayah Rangeh, dan ramuan tersebut berhasil!”
Soma
Wisesa terkejut, “Monster besar wilayah Rangeh adalah mahluk paling kasar dan
bebal, bagaimana bisa mengobatinya, baru mendekatinya saja kita sudah mati
terlebih dahulu,” ucap Soma Wisesa tidak percaya.
“Bila Kaum
Hitam mencarinya setengah mati, maka itu sepertinya benar,” ucapan Ragadewa
yang diangguki Jinn Si Kelinci, membuat semua yang ada didalam mobil kini memandangnya
dengan takjub.
“Anda
semua tahu, apa yang membuat Kaum Hitam terus mencari Taphilli hingga ke dunia
Manusia? Taphilli bukan hanya disegani, para Monster dibeberapa wilayah Astamaya
kini menganggapnya sebagai dewa penyembuh, yang lalu membuat para Monster ini
akan melakukan apa saja untuk Taphilli,” ucap Jinn Si Kelinci lagi yang kini membuat
semua semakin takjub.
Remaja
bernama Taphilli tersebut akhirnya menyadari ada beberapa orang
memperhatikannya dari dalam mobil.
Saat
hendak berlari, tiba-tiba ia melihat ada tas punggung menyerupai Jinn Si
Kelinci, terletak di pangkuan Galuh yang duduk di kursi depan. Lalu ketika ia
melihat seseorang dibelakang kursi Galuh dengan wajah penuh kepayahan, Taphilli
langsung terkejut.
“Tuan Gada Sangkara?” ucap Taphilli terkejut. Lalu
dengan terpincang, Taphilli berusaha mendekati mereka secepat mungkin.
“Jinn..
apa yang terjadi dengan Tuan Gada Sangkara?” tanya Taphilli kaget yang lalu
membuka pintu mobil untuk memeriksa kondisi Gada Sangkara. Setelah itu itu ia memberi
aba-aba, agar Ragadewa membawa mobil yang mereka tumpangi pada tempat yang
lebih aman.
Begitu
sampai ditempat aman, Gada Sangkara bertanya.
“Bagaimana kamu mengenali saya?” tanya Gada Sangkara sambil tersengal. Wajahnya
menunjukan kepayahan yang amat sangat.
“Saya
mengenali anda berkat ayah anda, Panglima besar Baharyu,” jawab Taphilli, sambil
menekan beberapa titik dari tubuh Gada Sangkara sehingga napas Gada jadi lebih
baik. Setelah itu, ia memilih beberapa ramuan dari tas selempang anyaman serat
kayu miliknya.
“Taphilli
pernah mengobati ayah anda,” ucapan Jinn Si Kelinci membuat Gada Sangkara
sangat terkejut. “Kapan?” tanya Gada lagi, karena ia merasa tidak pernah
melihat Taphilli sama sekali.
Sambil
mengobati, Taphilli bercerita “Saat saya masih tinggal di Astamaya, saya pernah
ditipu salah seorang pemesan yang mengaku sebagai petani sekitar.” ucap
Taphilli sambil mencampur beberapa ramuan, lalu mengaturnya agar konsentrasi ramuannya
tepat.
“Mereka memesan
racun kuat, yang katanya akan digunakan untuk mematikan gulma air yang menyedot
energi dari tanaman sekitar. Namun tanpa sengaja, saya malah mendengar bahwa ramuan
tersebut justru untuk dipakai meracuni ayah anda, Panglima Besar Baharyu.” Ucap
Taphilli sambil meneteskan beberapa tetes ramuan yang membuat Gada bisa
bernapas sedikit lebih lega. Mendengar hal tersebut Gada Sangkara terkejut.
Taphilli
lalu membuka tas selempangnya lagi untuk memilih beberapa botol ramuan tambahan.
“Saat ada kesempatan, saya langsung melarikan diri sambil membawa racun tersebut
melalui jalur sungai putih.
“Aah..
tentu saja, penghuni sungai putih adalah Kaum lelembut air yang sangat memusuhi
Kaum Hitam. Kabarnya, beberapa Kaum Hitam yang nekat menyeberang, akan tewas diserang
oleh penghuni sungai putih,” ucap Gada Sangkara yang dibenarkan juga oleh Soma
Wisesa.
“Lalu
mereka melepaskan kamu begitu saja? Untuk racun yang bisa mematikan gulma penyedot
energi dengan mudah, mereka pasti rela melakukan apapun demi mendapatkannya
kembali.” Ucap Gada Sangkara heran, rasa ingin tahunya kini mengalahkan sakit
yang sedang ia derita.
“Saat itu,
para bawahan Kaum Hitam memang masih tetap mengejar saya Tuan.” Jawab Taphilli
membenarkan sambil mencampur beberapa ramuan baru ke dalam satu wadah.
“Karena saat
itu tidak mungkin menumpahkannya ke dalam sungai yang dihuni Kaum Lelembut,
karena sebelumnya saya telah meminum penawarnya, maka saya tumpahkan pada kaki
saya sendiri.” Ucap Taphilli sambil menunjuk kakinya yang telah hilang sampai
sebatas lutut. Pengabdian remaja ini pada Kaum Putih, membuat Gada Sangkara langsung
kagum luar biasa.
“Akibatnya
saya pingsan diperahu, namun karena para Kaum Hitam menganggap saya mati, dan
ramuan tersebut juga telah hilang tidak berbekas, maka akhirnya saya di
tinggalkan begitu saja.” Jelas Taphilli sambil meneteskan beberapa ramuan
hingga membuat Gada Sangkara mengaduh sebentar.
Namun
setelah itu Gada Sangkara kembali terkejut, karena rasa sakitnya langsung
menghilang, dan kondisi tubuhnya kembali seperti semula. “Anak ini benar-benar
hebat!” pikir Gada Sangkara semakin takjub.
“Setelah
itu, saya mencari Tuan Addar untuk menyampaikan pesan bahwa Panglima Baharyu
sedang diincar untuk diracun. Sayangnya saat saya sampai, Tuan Baharyu telah
kolaps teracuni.”ucap Taphilli dengan nada sangat menyesal.
“Akhirnya saya menawarkan diri untuk membantu Tuan Addar membuatkan penawar
racun tersebut, dan disanalah saya mengenali anda.” Ucap Taphilli yang kali ini
menotok beberapa titik tubuh Gada Sangkara dengan energinya, sehingga kini kondisi
tubuhnya kembali seperti sedia kala. Gada Sangkara semakin terkejut dengan
kehebatan yang dikuasai Taphilli, pantas saja Kaum Hitam sampai mencarinya
setengah mati.
“Aah saya
ingat sekarang, saat ayah saya koma, ada seorang anak berusia sekitar dua belas
tahun, membantu Tuan Addar dalam mengobati ayah saya. Apakah itu kamu?” tanya
Gada Sangkara dengan raut terkejut, karena di usia dua belas tahun, anak ini
sudah mahir meracik ramuan penawar dengan sangat hebat!
“Benar
sekali Tuan, saya meminta Tuan Addar untuk merahasiakan kemampuan saya agar
tidak terendus oleh Kaum Hitam. Bahkan pelarian saya menuju Dunia Manusia, juga
atas bantuan dari Tuan Addar,” jelas Taphilli yang membuat mereka semua takjub.
“Bahkan
untuk Tabib ramuan sehebat dia, racun ini mematikan serabut syaraf kakinya
sehingga tidak mampu ditumbuhkan kembali, itu sebabnya racun yang diberikan
pada Tuan Baharyu tidak terlalu berbahaya.” Tambah Jinn Si Kelinci yang membuat
semua semakin berdecak kagum.
Mendengar
hal tersebut, Gada Sangkara sangat berterimakasih sekali, lalu berjanji akan
memberikan bantuan apapun yang dibutuhkan Taphilli.
“Apa yang
membuat kalian semua sampai datang ke dunia Manusia?” tanya Taphilli heran.
Disini Jinn Si Kelinci menerangkan maksud dan tujuan masuknya mereka ke dalam
dunia Manusia. “Untuk apa anda semua mencari Istana Tujuh Pintu?” tanya
Taphilli lagi, namun kali ini dengan sangat terkejut.
Ketika
Taphilli mengetahui bahwa dihadapan dirinya ada Kanaya Galuh, sang pewaris
tahta, Taphilli terkejut dan langsung menunduk hormat pada Galuh dengan khidmat.
“Nama saya
Taphilli, menyamar menjadi tukang obat jalanan dan bertahan hidup di dunia Manusia
dari ramuan–ramuan herbal yang saya racik sendiri,” ucap Taphilli penuh hormat.
“Tetapi
nama saya yang sebenarnya adalah Sutrisna Prawiraharja,” ucapan Taphilli
membuat Gada Sangkara seperti teringat sesuatu. “Prawiraharja? Nama ini seperti
familiar di telinga saya?” ucap Gada Sangkara sambil mengingat-ingat.
“Prawiraharja
adalah keturunan pemahat mantera pembuat Istana Tujuh Pintu,” ucap Soma Wisesa
yang lalu keluar dari kalung segel yang dipakai Galuh. Sontak semua yang ada
disana langsung terkejut luar biasa, terutama Jinn Si Kelinci, karena ia sama
sekali tidak tahu tentang ini.
“Pantas
saja saya begitu mengenali energi yang kamu miliki,” ucap Soma Wisesa lagi sambil
memandang Taphilli dengan seksama.
Disini
Taphilli mengatakan, bahwa sebenarnya ia adalah keturunan para pemahat mantera
dari garis keturunan keluarga Prawiraharja. Leluhurnya adalah yang membantu
Guru Candrakara untuk Istana Tujuh Pintu.
Ia
menggunakan nama Taphilli, karena nama itu tidak merujuk pada makna apapun,
sehingga bila Kaum Hitam mencari karena kemampuannya dalam meracik ramuan,
mereka tidak bisa menerka dia berasal dari keturunan manapun. Sontak semua
pemilik Elemen langsung terkejut luar biasa!
“Apakah
kamu bisa melacak dimana letak Istana Tujuh Pintu?” tanya Adhit ingin tahu.
“Ya..”
jawaban pasti dari Taphilli, membuat semua terkejut dan lega secara bersamaan!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar