Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | BAB 26 – Energi tersembunyi Sang Pemahat Mantera!| By: Desya Saghir

Selama perjalanan, Taphilli bercerita. Ia memang menguasai ilmu pemahat mantera karena memang dari garis keluarga. Namun bakatnya sendiri, malah lebih condong menuju arah peracikan ramuan.

Sekalipun dulu sempat dianggap hanya keinginan sesaat, namun seiring waktu, keahliannya berkembang cepat hingga level yang membuat ayah dan ketiga kakaknya tercengang. Maka sejak saat itu, Ayah dan ketiga kakaknya yang mulai menyadari bahwa Taphilli adalah anak Istimewa, dan selalu sigap melindungi indetitas Taphilli dengan sangat ketat.

“Saat kami di serang, Ayah menyisipkan sebuah surat, yang lalu memaksa saya untuk segera bersembunyi dibalik pintu rahasia yang mengarah keluar. Kata Ayah, Jika keadaan memburuk, saya harus segera memberikan surat rahasia tersebut pada Kuil tersembunyi di hutan belakang, tempat dimana para pertapa muda sedang di tempa oleh para Mahaguru Pertapa.” Ucap Taphilli serius.

“Namun setelah mereka berhasil menyandera ayah dan ketiga kakak saya, dari balik pintu rahasia, saya baru tahu bahwa ternyata Kaum Hitam menyerang tempat kami bukan untuk mencari saya, melainkan untuk melacak keberadaan Istana Tujuh Pintu.” Ucapan Taphilli membuat Soma Wisesa terkejut!

“Dari mana Kaum Hitam memperoleh informasi tentang Istana Tujuh Pintu? Kitab palsu Candrakara tidak menuliskan apapun tentang Istana Tujuh Pintu?” tanya Soma Wisesa yang keluar melayang dari kalung dengan ukuran tubuh lebih kecil. Soma Wisesa terkejut, karena seingat dia, tidak ada satu orangpun yang pernah melihat isi dari Kitab Candrakara asli selain dia dan Candrakara sendiri.

“Sebelum saya lari meminta bantuan, saya sempat mendengar Saguri menggali informasi dari salah satu Ruh Tua,” ucapan Taphilli membuat semua terkejut.

“Saguri?” ucap mereka semua bersamaan. “Pantas saja kita bertemu Dwasa di Merapi, ternyata Saguri sedang mencari dimana letak Istana Tujuh Pintu!” ucap Adhit yang membuat semua yang ada disana terkejut menyadari.

“Ah iya.. saya baru ingat! Candrakara pernah berkata, ia pernah meminta bantuan salah satu Ruh tua untuk mencari informasi tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan energi murni.  Apa Ruh tua tersebut membelot?” ucap Soma Wisesa dengan nada heran,

“Tapi ini sangat tidak mungkin, Kaum Ruh tidak punya ambisi apapun dalam kekuasaan, kecuali hanya untuk bersenang-senang.” Ucap Soma Wisesa lagi dengan nada semakin heran.

“Tidak Tuan, Sekalipun disiksa berkali-kali, Ruh tua tersebut sangat setia terhadap perjanjiannya pada Guru Candrakara. Informasi baru tergali karena Saguri menggunakan ilmu yang bisa memaksa inti sukma berbicara,” penjelasan Taphilli bukan hanya membuat Soma Wisesa mengerti apa yang terjadi, namun juga sekaligus dia dan yang lainnya jadi terkejut.

“Saguri menguasai ilmu semengerikan itu? Bukankah ia Tetua Hitam yang paling lemah?” ucap Gada Sangkara heran.

“Sepertinya, Saguri memang sejak lama mempunyai agenda tersendiri. Ia mungkin sengaja berpura-pura menjadi yang paling lemah agar misinya tidak terendus oleh Tetua Hitam lainnya,” ucap Adhit yang kembali menyadarkan semua yang hadir.

“Taphilli, Lalu bagaimana kisah selanjutnya?” tanya Adhit penasaran.

“Namun, ketika saya telah berhasil sampai di kuil para Pertapa, ternyata isi suratnya hanya meminta agar para Mahaguru Pertapa melindungi saya.” lanjut Taphilli yang kini membuat semua menoleh terkejut.

“Keluargamu mengorbankan diri?” tanya Galuh dengan terkejut.

“Ya.., Ayah hanya menuliskan bahwa ia khawatir bila potensi bakat saya dalam ramuan diketahui, lalu Kaum Hitam akan memanfaatkan bakat yang saya miliki untuk membuat Astamaya semakin kacau,” ucap Taphilli sangat sedih.

“Sekalipun tidak meminta bantuan, Tetua Mahaguru Pertapa tetap mengerahkan bantuan terbaik untuk membantu Keluarga Prawiraharja. Namun satu jam setelahnya, mereka kembali dengan membawa kabar..” Taphilli berhenti sejenak, ia tampak mengatur napasnya yang terasa sedikit tercekat.

”Saguri dan bawahannya ternyata telah pergi, menyisakan seluruh anggota keluarga saya yang ditinggalkan dalam keadaan tewas.” Ucap Taphilli dengan sorot mata yang perih. Mendengar hal tersebut, semua yang ada disana langsung mengepal geram.

“Namun, baru tinggal di kuil pertapa selama tiga hari, tiba-tiba Kaum Hitam menyerang, namun ternyata bukan untuk mencari saya. Mereka justru hendak membawa salah satu pertapa terkecil yang bernama Dharma, karena ia ternyata adalah salah satu anak Istimewa yang disembunyikan disana.” Jelas Taphilli lagi.

“Jadi mereka masih belum tahu bahwa ada satu keturunan Prawiraharja yang masih hidup?” tanya Galuh ingin tahu.

“Belum, bahkan hingga saat ini. Karena sejak leluhur kami membantu Guru Candrakara membuat Istana Tujuh Pintu, demi keamanan rahasia tentang Istana Tujuh Pintu, keluarga Prawiraharja memutuskan untuk mengasingkan diri dari lingkungan luar.” Jelas Taphilli,yang sontak membuat semua takjub akan dedikasi keluarga ini pada Kaum Putih.

“Aah.. jadi itu sebabnya Keluarga Prawiraharja begitu sangat tertutup, saya mengerti sekarang.” Ucap Gada Sangkara yang lalu di angguki oleh Taphilli.

“Setelah lari dari reruntuhan Kuil, saya bersembunyi ke dalam hutan selama satu bulan. Begitu keadaan dirasa telah aman, saya keluar hutan untuk tinggal di perbatasan desa sebagai Taphilli, peracik ramuan untuk menghalau hama pertanian.” Ucap Taphilli lagi.

“Saya pikir saat itu posisi saya telah aman, ternyata tidak! Saya kembali dikejar, namun bukan sebagai keturunan Prawiraharja, tetapi sebagai Taphilli.” Ucapan Taphilli kembali membuat semua heran. “Sebagai Taphilli?” ulang Adhit memastikan.

“Benar, saya tidak mengira bila Kaum Hitam berhasil mengetahui bahwa sayalah yang menyembuhkan Monster wilayah Rangeh,” ucap Taphilli sambil mengepal kesal.

Mendengar hal tersebut, kini mereka mengerti mengapa Taphilli sangat diinginkan Kaum Hitam. Monster wilayah Rangeh adalah Monster yang paling bebal dan tidak bisa dikendalikan. Jangankan diobati, berani mendekati saja itu artinya telah siap mati sia-sia.

“Maka setelah saya berhasil menyembuhkan ayah dari Tuan Gada, saya memutuskan bersembunyi di dunia Manusia, lalu tinggal berdekatan dengan Istana Tujuh Pintu. Karena dimana Istana Tujuh Pintu berada, disanalah tempat terjauh dari jangkauan Kaum Hitam.” Jelas Taphilli yang membuat semua yang ada didalam mobil mengangguk-angguk setuju.   

Sesuai arahan Taphilli, mereka akhirnya berhenti di sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang sepertinya sudah lama ditinggalkan.

“Istana Tujuh Pintu mempunyai hawa yang khas. Bila kalian menemukan hawa sekitarnya begitu kelam dan jernih, suasana ramai tetapi masih terasa senyap, maka disanalah Istana Tujuh Pintu bersembunyi,” jelas Taphilli, yang lalu dengan sigap ia menyiapkan segel untuk melapisi Galuh.

“Maafkan saya Nona Galuh, sekalipun anda telah menutup segel para Ajag serapat mungkin, tetapi Istana Tujuh Pintu sangat sensitif dalam mendeteksi energi hitam.” Pinta Taphilli sopan.

“Saya khawatir, Istana Tujuh Pintu akan kembali menghilang karena merasakan energi para Ajag yang berasal dari tubuh anda.” Jelas Taphilli yang segera disetujui Galuh. Setelah selesai, mereka turun dari mobil dengan naungan suasana matahari sore yang mulai meredup.

Benar yang dikatakan Taphilli, hawa Istana Tujuh Pintu terasa menyelimuti rumah besar tersebut dengan suasana yang kelam dan sedikit dingin. Ditambah Atapnya yang tinggi menjulang, dinding-dindingnya yang berkesan tebal, disertai jendela jati yang tertutup rapat, memperkuat kesan dingin dan sunyi yang sebelumnya memang sudah membalut rumah ini.

Namun ketika mereka sudah didalam, mereka malah terkejut! Berbeda dengan suasana luar, sekalipun berhawa kelam dan dingin, bagian dalam rumah ini begitu luas dan nyaman.

“Ini sepertinya akan jadi inspirasi rumah kita berdua,” goda Adhit sambil menatap jahil, yang sontak membuat Galuh refleks mencubit Adhit sambil melotot galak. Adhit yang sempat mengaduh keras, kini terbahak senang melihat Galuh yang begitu kesal. Semua hanya bisa menggeleng sambil terkekeh, termasuk Ragadewa yang diiringi sedikit iri, karena Adhit bisa seterus terang itu dalam mengungkapkan perasaanya pada Galuh.

Mereka lalu memandang setiap sisi ruangan dipenuhi perabotan lawas dengan selera yang otentik. Bahkan, beberapa furnitur seperti satu set kursi tengah yang terlihat nyaman, membuat mereka sempat tenggelam dalam indahnya setiap detail kemewahan yang sempat berjaya dimasa lampau.

Lantai tegel berpola halus memantulkan cahaya lembut dari jendela-jendela besar yang berjejer. Ditengah ruangan, terdapat sofa bergaya kolonial sandaran tinggi dengan bantalan empuk, memberi kesan elegan namun tetap nyaman diduduki. Namun, yang berhasil mencuri hati di pandangan pertama adalah, lampu gantung mewah yang dipenuhi ratusan kristal yang berkelap-kelip saat tertimpa sorot matahari dari arah jendela.

Taphilli lalu memulai dengan mengeluarkan energinya sambil memejamkan mata. Tiba-tiba seluruh rumah terbiaskan cahaya merambat yang berjalan seperti gelombang sonar! Begitu selesai menyelimuti seluruh rumah, cahaya tersebut kembali seakan terserap balik pada Taphilli, yang lalu menyisakan satu gumpalan cahaya di tengah rumah dengan bentuk ireguler.

Taphilli mendekati cahaya tersebut, yang lalu disusul yang lainnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dari kejauhan, Taphilli tampak seperti sedang menempa cahaya tersebut menjadi berbagai bentuk. Merapikan bentuknya, menyesuaikan lengkungannya, lalu membolak balikan cahaya tersebut seakan sedang menyesuaikan secara estetik.

Namun bila dilihat dari dekat, sebenarnya Taphilli sedang memindahkan beberapa labirin kode acak, dari aksara Sunda Kuno yang teruntai seperti benang kusut dengan besar sepanjang jangkauan lengannya.

Setiap Taphilli memindahkan susunan dari aksara kuno tersebut, maka setelah itu bentuk cahaya ireguler ini akan berubah menjadi bentuk yang lain. “Pantas saja dikatakan sebagai ilmu Pemahat Mantera,” ucap Adhit takjub. Galuh yang disebelah Adhit langsung mengiyakan dengan sangat.

Semua juga begitu terkesima, terutama Gada Sangkara, karena baru kali ini mereka melihat langsung bagaimana Pemahat Mantera bekerja.

“Dari yang pernah saya baca, semua Aksara Sunda kuno ini bukan hanya sekedar estetika visual, melainkan beberapa pecahan kata dari literatur kuno, yang biasanya berasal dari literasi sejarah Astamaya.” Jelas Gada Sangkara pada Adhit dengan pandangan yang tidak beralih dari cara Taphilli bekerja.

“Benar sekali, seperti menyatukan beberapa labirin kata. Bila saya berhasil membuat aksara kuno ini jadi kesatuan kalimat yang tepat, maka benang kusut ini akan terurai, dan segel pun terbuka.” sambung Taphilli sambil tetap bekerja. Sontak perkataan tersebut membuat Adhit terkejut.

“Berarti untuk memecahkan ini, para Pemahat Mantera harus mempunyai wawasan seluas itu?” ucap Adhit kaget, yang lalu diangguki Gada Sangkara dengan mantap.

Adhit lalu memandang Taphilli dengan tidak percaya, dibalik penampilannya yang tampak seperti anak jalanan biasa, Taphilli ternyata menyimpan segudang kemampuan yang diluar nalar Adhit sendiri.

Soma Wisesa sendiri menggeleng dengan sangat tidak percaya. “Dulu saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa menguasai ilmu ini. Namun, bila bakat saya memang bukan disana, akhirnya saya hanya bisa menonton sedang dikalahkan anak yang belum mencapai usia enam belas tahun.” Decih Soma Wisesa yang disambut kekeh Ragadewa dan yang lainnya dengan sangat geli.

Begitu Taphilli berhasil memecahkan labirin kata dalam segel tersebut, setelah terurai, benang cahaya tersebut menuntun mereka pada salah satu ruangan. Dengan sigap, mereka semua berjalan mengikuti kemana benang cahaya tersebut membentang. Namun saat menemukannya, mereka semua malah semua langsung terkejut!

Yang tadinya mereka kira akan menemukan semacam pintu misterius menuju ruang dimensi, Istana Tujuh Pintu ternyata berbentuk sebuah kitab mini sebesar bandul kalung!

Karena penasaran, Adhit menunduk untuk menatapnya dari dekat. Namun dengan tidak terduga, tiba-tiba Istana Tujuh Pintu terseret, lalu menempel begitu saja pada kalung milik kakek buyut Adhit, yaitu kalung Sura Suradana miliknya!

Setelah itu, tibatiba saja segel darah milik Guru Candrakara muncul. Segel tersebut tampak seperti memperhatikan Kalung Sura Suradana sejenak, setelah mengenalinya, Istana Tujuh Pintu langsung memasang cakram dan melekat kuat pada Kalung Sura Suradana milik Adhit. Sontak hal itu membuat semua terkejut.

“Guru Candrakara merencanakan semua ini dengan detail yang gila! Dengan menempel seperti ini, bila Istana Tujuh Pintu kembali menghilang karena tersentuh energi hitam, ia akan kembali kepada saya karena Kalung Sura Suradana dirancang untuk selalu kembali kepada saya!” ucapan Adhit membuat semua yang mendengarnya semakin terkejut, namun sekaligus takjub dan lega.

“Tapi, bagaimana kita memasukinya?” Tanya Adhit bingung sambil membolak balik Istana Tujuh Pintu yang sudah menempel pada kalungnya.

“Tentu saja kita akan membuka sebuah tabir yang akan merubah sistem dalam tubuh kasat kita.” Jawab Taphilli sambil membuka energinya lagi.

Lalu Taphilli meminta Adhit untuk memegang kalung Sura Suradana di atas kedua tangannya. Dengan energi yang sudah siap, Taphilli membungkus kalung Adhit sehingga melayang dalam bulatan segel yang dipenuhi Aksara Sunda Kuno yang berputar acak perlahan. Setelah itu, Adhit diminta menurunkan tangannya, tapi tetap berdiri di dekat kalung tersebut.

Dengan penuh konsentrasi, Taphilli menggeser labirin kata dalam bulatan energi tersebut, persis ketika ia tadi membuka segel petunjuk letak Istana Tujuh Pintu berada.

Begitu terpecahkan, Istana Tujuh Pintu yang berbentuk kitab mini membuka halamannya, dan dengan cepat menyedot mereka semua masuk! Lalu menyisakan kalung yang melayang sendirian. Setelah mendarat di atas meja ukir antik dengan sangat perlahan, suasana kembali setenang ketika rumah ini kosong, seakan tidak pernah terjadi sesuatu apapun disini.

“Kita sepertinya memasuki tempat yang konsepnya mirip dengan tempat Soma tersegel!” ucap Adhit sambil melihat ke sekeliling lorong menuju pintu masuk, semua yang mendengarnya juga mengangguk setuju dengan pandangan yang juga berkeliling penasaran.

Soma Wisesa yang juga melihat berkeliling, kini mendecih dengan kesal. “Dasar Si Gila Candrakra, ia membuatkan tempat segel saya sesempit ini, tapi membuatkan tempat semegah ini untuk orang lain!” gerutu Soma Wisesa yang sonta membuat semua jadi refleks tertawa.

Mereka melewati lorong pendek dengan dinding yang dipenuhi ukiran-ukiran khas sunda kuno. Namun begitu telah melewati pintu, semua langsung tersentak ! Mereka memasuki bagian dalam istana yang dipenuhi manifesti kemewahan yang luar biasa!

“Ini sangat tidak mungkin..” Pikir mereka semua bersamaan!

- Bersambung - Desya Saghir -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir