Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | BAB 26 – Energi tersembunyi Sang Pemahat Mantera!| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Selama perjalanan, Taphilli bercerita. Ia memang
menguasai ilmu pemahat mantera karena memang dari garis keluarga. Namun bakatnya
sendiri, malah lebih condong menuju arah peracikan ramuan.
Sekalipun dulu sempat dianggap hanya keinginan
sesaat, namun seiring waktu, keahliannya berkembang cepat hingga level yang membuat
ayah dan ketiga kakaknya tercengang. Maka sejak saat itu, Ayah dan ketiga
kakaknya yang mulai menyadari bahwa Taphilli adalah anak Istimewa, dan selalu
sigap melindungi indetitas Taphilli dengan sangat ketat.
“Saat kami di serang, Ayah menyisipkan sebuah
surat, yang lalu memaksa saya untuk segera bersembunyi dibalik pintu rahasia
yang mengarah keluar. Kata Ayah, Jika keadaan memburuk, saya harus segera memberikan
surat rahasia tersebut pada Kuil tersembunyi di hutan belakang, tempat dimana para
pertapa muda sedang di tempa oleh para Mahaguru Pertapa.” Ucap Taphilli serius.
“Namun setelah mereka berhasil menyandera ayah
dan ketiga kakak saya, dari balik pintu rahasia, saya baru tahu bahwa ternyata Kaum
Hitam menyerang tempat kami bukan untuk mencari saya, melainkan untuk melacak keberadaan
Istana Tujuh Pintu.” Ucapan Taphilli membuat Soma Wisesa terkejut!
“Dari mana Kaum Hitam memperoleh informasi
tentang Istana Tujuh Pintu? Kitab palsu Candrakara tidak menuliskan apapun
tentang Istana Tujuh Pintu?” tanya Soma Wisesa yang keluar melayang dari kalung
dengan ukuran tubuh lebih kecil. Soma Wisesa terkejut, karena seingat dia, tidak
ada satu orangpun yang pernah melihat isi dari Kitab Candrakara asli selain dia
dan Candrakara sendiri.
“Sebelum saya lari meminta bantuan, saya sempat
mendengar Saguri menggali informasi dari salah satu Ruh Tua,” ucapan Taphilli
membuat semua terkejut.
“Saguri?” ucap mereka semua bersamaan. “Pantas
saja kita bertemu Dwasa di Merapi, ternyata Saguri sedang mencari dimana letak
Istana Tujuh Pintu!” ucap Adhit yang membuat semua yang ada disana terkejut menyadari.
“Ah iya.. saya baru ingat! Candrakara pernah berkata,
ia pernah meminta bantuan salah satu Ruh tua untuk mencari informasi tentang sesuatu
hal yang berhubungan dengan energi murni. Apa Ruh tua tersebut membelot?” ucap Soma
Wisesa dengan nada heran,
“Tapi ini sangat tidak mungkin, Kaum Ruh tidak
punya ambisi apapun dalam kekuasaan, kecuali hanya untuk bersenang-senang.”
Ucap Soma Wisesa lagi dengan nada semakin heran.
“Tidak Tuan, Sekalipun disiksa berkali-kali, Ruh
tua tersebut sangat setia terhadap perjanjiannya pada Guru Candrakara. Informasi
baru tergali karena Saguri menggunakan ilmu yang bisa memaksa inti sukma
berbicara,” penjelasan Taphilli bukan hanya membuat Soma Wisesa mengerti apa
yang terjadi, namun juga sekaligus dia dan yang lainnya jadi terkejut.
“Saguri menguasai ilmu semengerikan itu?
Bukankah ia Tetua Hitam yang paling lemah?” ucap Gada Sangkara heran.
“Sepertinya, Saguri memang sejak lama mempunyai
agenda tersendiri. Ia mungkin sengaja berpura-pura menjadi yang paling lemah
agar misinya tidak terendus oleh Tetua Hitam lainnya,” ucap Adhit yang kembali menyadarkan
semua yang hadir.
“Taphilli, Lalu bagaimana kisah selanjutnya?”
tanya Adhit penasaran.
“Namun, ketika saya telah berhasil sampai di
kuil para Pertapa, ternyata isi suratnya hanya meminta agar para Mahaguru
Pertapa melindungi saya.” lanjut Taphilli yang kini membuat semua menoleh
terkejut.
“Keluargamu mengorbankan diri?” tanya Galuh
dengan terkejut.
“Ya.., Ayah hanya menuliskan bahwa ia khawatir
bila potensi bakat saya dalam ramuan diketahui, lalu Kaum Hitam akan
memanfaatkan bakat yang saya miliki untuk membuat Astamaya semakin kacau,” ucap
Taphilli sangat sedih.
“Sekalipun tidak meminta bantuan, Tetua Mahaguru
Pertapa tetap mengerahkan bantuan terbaik untuk membantu Keluarga Prawiraharja.
Namun satu jam setelahnya, mereka kembali dengan membawa kabar..” Taphilli
berhenti sejenak, ia tampak mengatur napasnya yang terasa sedikit tercekat.
”Saguri dan bawahannya ternyata telah pergi, menyisakan
seluruh anggota keluarga saya yang ditinggalkan dalam keadaan tewas.” Ucap
Taphilli dengan sorot mata yang perih. Mendengar hal tersebut, semua yang ada
disana langsung mengepal geram.
“Namun, baru tinggal di kuil pertapa selama tiga
hari, tiba-tiba Kaum Hitam menyerang, namun ternyata bukan untuk mencari saya.
Mereka justru hendak membawa salah satu pertapa terkecil yang bernama Dharma, karena
ia ternyata adalah salah satu anak Istimewa yang disembunyikan disana.” Jelas
Taphilli lagi.
“Jadi mereka masih belum tahu bahwa ada satu
keturunan Prawiraharja yang masih hidup?” tanya Galuh ingin tahu.
“Belum, bahkan hingga saat ini. Karena sejak
leluhur kami membantu Guru Candrakara membuat Istana Tujuh Pintu, demi keamanan
rahasia tentang Istana Tujuh Pintu, keluarga Prawiraharja memutuskan untuk mengasingkan
diri dari lingkungan luar.” Jelas Taphilli,yang sontak membuat semua takjub
akan dedikasi keluarga ini pada Kaum Putih.
“Aah.. jadi itu sebabnya Keluarga Prawiraharja
begitu sangat tertutup, saya mengerti sekarang.” Ucap Gada Sangkara yang lalu
di angguki oleh Taphilli.
“Setelah lari dari reruntuhan Kuil, saya bersembunyi
ke dalam hutan selama satu bulan. Begitu keadaan dirasa telah aman, saya keluar
hutan untuk tinggal di perbatasan desa sebagai Taphilli, peracik ramuan untuk menghalau
hama pertanian.” Ucap Taphilli lagi.
“Saya pikir saat itu posisi saya telah aman,
ternyata tidak! Saya kembali dikejar, namun bukan sebagai keturunan Prawiraharja,
tetapi sebagai Taphilli.” Ucapan Taphilli kembali membuat semua heran. “Sebagai
Taphilli?” ulang Adhit memastikan.
“Benar, saya tidak mengira bila Kaum Hitam
berhasil mengetahui bahwa sayalah yang menyembuhkan Monster wilayah Rangeh,” ucap
Taphilli sambil mengepal kesal.
Mendengar hal tersebut, kini mereka mengerti
mengapa Taphilli sangat diinginkan Kaum Hitam. Monster wilayah Rangeh adalah
Monster yang paling bebal dan tidak bisa dikendalikan. Jangankan diobati,
berani mendekati saja itu artinya telah siap mati sia-sia.
“Maka setelah saya berhasil menyembuhkan ayah
dari Tuan Gada, saya memutuskan bersembunyi di dunia Manusia, lalu tinggal berdekatan
dengan Istana Tujuh Pintu. Karena dimana Istana Tujuh Pintu berada, disanalah
tempat terjauh dari jangkauan Kaum Hitam.” Jelas Taphilli yang membuat semua
yang ada didalam mobil mengangguk-angguk setuju.
Sesuai arahan Taphilli, mereka akhirnya berhenti
di sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang sepertinya sudah lama ditinggalkan.
“Istana Tujuh Pintu mempunyai hawa yang khas. Bila
kalian menemukan hawa sekitarnya begitu kelam dan jernih, suasana ramai tetapi
masih terasa senyap, maka disanalah Istana Tujuh Pintu bersembunyi,” jelas
Taphilli, yang lalu dengan sigap ia menyiapkan segel untuk melapisi Galuh.
“Maafkan saya Nona Galuh, sekalipun anda telah
menutup segel para Ajag serapat mungkin, tetapi Istana Tujuh Pintu sangat
sensitif dalam mendeteksi energi hitam.” Pinta Taphilli sopan.
“Saya khawatir, Istana Tujuh Pintu akan
kembali menghilang karena merasakan energi para Ajag yang berasal dari tubuh
anda.” Jelas Taphilli yang segera disetujui Galuh. Setelah selesai, mereka
turun dari mobil dengan naungan suasana matahari sore yang mulai meredup.
Benar yang dikatakan Taphilli, hawa Istana
Tujuh Pintu terasa menyelimuti rumah besar tersebut dengan suasana yang kelam
dan sedikit dingin. Ditambah Atapnya yang tinggi menjulang, dinding-dindingnya
yang berkesan tebal, disertai jendela jati yang tertutup rapat, memperkuat
kesan dingin dan sunyi yang sebelumnya memang sudah membalut rumah ini.
Namun ketika mereka sudah didalam, mereka malah
terkejut! Berbeda dengan suasana luar, sekalipun berhawa kelam dan dingin,
bagian dalam rumah ini begitu luas dan nyaman.
“Ini sepertinya akan jadi inspirasi rumah kita
berdua,” goda Adhit sambil menatap jahil, yang sontak membuat Galuh refleks
mencubit Adhit sambil melotot galak. Adhit yang sempat mengaduh keras, kini
terbahak senang melihat Galuh yang begitu kesal. Semua hanya bisa menggeleng sambil
terkekeh, termasuk Ragadewa yang diiringi sedikit iri, karena Adhit bisa
seterus terang itu dalam mengungkapkan perasaanya pada Galuh.
Mereka lalu memandang setiap sisi ruangan dipenuhi
perabotan lawas dengan selera yang otentik. Bahkan, beberapa furnitur seperti satu
set kursi tengah yang terlihat nyaman, membuat mereka sempat tenggelam dalam
indahnya setiap detail kemewahan yang sempat berjaya dimasa lampau.
Lantai tegel berpola halus memantulkan cahaya
lembut dari jendela-jendela besar yang berjejer. Ditengah ruangan, terdapat
sofa bergaya kolonial sandaran tinggi dengan bantalan empuk, memberi kesan elegan
namun tetap nyaman diduduki. Namun, yang berhasil mencuri hati di pandangan pertama
adalah, lampu gantung mewah yang dipenuhi ratusan kristal yang berkelap-kelip saat
tertimpa sorot matahari dari arah jendela.
Taphilli lalu memulai dengan mengeluarkan
energinya sambil memejamkan mata. Tiba-tiba seluruh rumah terbiaskan cahaya
merambat yang berjalan seperti gelombang sonar! Begitu selesai menyelimuti
seluruh rumah, cahaya tersebut kembali seakan terserap balik pada Taphilli, yang
lalu menyisakan satu gumpalan cahaya di tengah rumah dengan bentuk ireguler.
Taphilli mendekati cahaya tersebut, yang lalu disusul
yang lainnya dengan penuh rasa ingin tahu. Dari kejauhan, Taphilli tampak
seperti sedang menempa cahaya tersebut menjadi berbagai bentuk. Merapikan
bentuknya, menyesuaikan lengkungannya, lalu membolak balikan cahaya tersebut
seakan sedang menyesuaikan secara estetik.
Namun bila dilihat dari dekat, sebenarnya
Taphilli sedang memindahkan beberapa labirin kode acak, dari aksara Sunda Kuno yang
teruntai seperti benang kusut dengan besar sepanjang jangkauan lengannya.
Setiap Taphilli memindahkan susunan dari
aksara kuno tersebut, maka setelah itu bentuk cahaya ireguler ini akan berubah
menjadi bentuk yang lain. “Pantas saja dikatakan sebagai ilmu Pemahat Mantera,”
ucap Adhit takjub. Galuh yang disebelah Adhit langsung mengiyakan dengan
sangat.
Semua juga begitu terkesima, terutama Gada
Sangkara, karena baru kali ini mereka melihat langsung bagaimana Pemahat Mantera
bekerja.
“Dari yang pernah saya baca, semua Aksara Sunda
kuno ini bukan hanya sekedar estetika visual, melainkan beberapa pecahan kata dari
literatur kuno, yang biasanya berasal dari literasi sejarah Astamaya.” Jelas
Gada Sangkara pada Adhit dengan pandangan yang tidak beralih dari cara Taphilli
bekerja.
“Benar sekali, seperti menyatukan beberapa labirin
kata. Bila saya berhasil membuat aksara kuno ini jadi kesatuan kalimat yang
tepat, maka benang kusut ini akan terurai, dan segel pun terbuka.” sambung
Taphilli sambil tetap bekerja. Sontak perkataan tersebut membuat Adhit terkejut.
“Berarti untuk memecahkan ini, para Pemahat
Mantera harus mempunyai wawasan seluas itu?” ucap Adhit kaget, yang lalu diangguki
Gada Sangkara dengan mantap.
Adhit lalu memandang Taphilli dengan tidak
percaya, dibalik penampilannya yang tampak seperti anak jalanan biasa, Taphilli
ternyata menyimpan segudang kemampuan yang diluar nalar Adhit sendiri.
Soma Wisesa sendiri menggeleng dengan sangat
tidak percaya. “Dulu saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa menguasai ilmu ini.
Namun, bila bakat saya memang bukan disana, akhirnya saya hanya bisa menonton
sedang dikalahkan anak yang belum mencapai usia enam belas tahun.” Decih Soma
Wisesa yang disambut kekeh Ragadewa dan yang lainnya dengan sangat geli.
Begitu Taphilli berhasil memecahkan labirin
kata dalam segel tersebut, setelah terurai, benang cahaya tersebut menuntun
mereka pada salah satu ruangan. Dengan sigap, mereka semua berjalan mengikuti
kemana benang cahaya tersebut membentang. Namun saat menemukannya, mereka semua
malah semua langsung terkejut!
Yang tadinya mereka kira akan menemukan semacam
pintu misterius menuju ruang dimensi, Istana Tujuh Pintu ternyata berbentuk
sebuah kitab mini sebesar bandul kalung!
Karena penasaran, Adhit menunduk untuk menatapnya
dari dekat. Namun dengan tidak terduga, tiba-tiba Istana Tujuh Pintu terseret,
lalu menempel begitu saja pada kalung milik kakek buyut Adhit, yaitu kalung
Sura Suradana miliknya!
Setelah itu, tibatiba saja segel darah milik
Guru Candrakara muncul. Segel tersebut tampak seperti memperhatikan Kalung Sura
Suradana sejenak, setelah mengenalinya, Istana Tujuh Pintu langsung memasang
cakram dan melekat kuat pada Kalung Sura Suradana milik Adhit. Sontak hal itu
membuat semua terkejut.
“Guru Candrakara merencanakan semua ini dengan
detail yang gila! Dengan menempel seperti ini, bila Istana Tujuh Pintu kembali
menghilang karena tersentuh energi hitam, ia akan kembali kepada saya karena
Kalung Sura Suradana dirancang untuk selalu kembali kepada saya!” ucapan Adhit
membuat semua yang mendengarnya semakin terkejut, namun sekaligus takjub dan lega.
“Tapi, bagaimana kita memasukinya?” Tanya
Adhit bingung sambil membolak balik Istana Tujuh Pintu yang sudah menempel pada
kalungnya.
“Tentu saja kita akan membuka sebuah tabir
yang akan merubah sistem dalam tubuh kasat kita.” Jawab Taphilli sambil membuka
energinya lagi.
Lalu Taphilli meminta Adhit untuk memegang
kalung Sura Suradana di atas kedua tangannya. Dengan energi yang sudah siap, Taphilli
membungkus kalung Adhit sehingga melayang dalam bulatan segel yang dipenuhi
Aksara Sunda Kuno yang berputar acak perlahan. Setelah itu, Adhit diminta menurunkan
tangannya, tapi tetap berdiri di dekat kalung tersebut.
Dengan penuh konsentrasi, Taphilli menggeser
labirin kata dalam bulatan energi tersebut, persis ketika ia tadi membuka segel
petunjuk letak Istana Tujuh Pintu berada.
Begitu terpecahkan, Istana Tujuh Pintu yang
berbentuk kitab mini membuka halamannya, dan dengan cepat menyedot mereka semua
masuk! Lalu menyisakan kalung yang melayang sendirian. Setelah mendarat di atas
meja ukir antik dengan sangat perlahan, suasana kembali setenang ketika rumah
ini kosong, seakan tidak pernah terjadi sesuatu apapun disini.
“Kita sepertinya memasuki tempat yang konsepnya
mirip dengan tempat Soma tersegel!” ucap Adhit sambil melihat ke sekeliling
lorong menuju pintu masuk, semua yang mendengarnya juga mengangguk setuju
dengan pandangan yang juga berkeliling penasaran.
Soma Wisesa yang juga melihat berkeliling, kini
mendecih dengan kesal. “Dasar Si Gila Candrakra, ia membuatkan tempat segel saya
sesempit ini, tapi membuatkan tempat semegah ini untuk orang lain!” gerutu Soma
Wisesa yang sonta membuat semua jadi refleks tertawa.
Mereka melewati lorong pendek dengan dinding
yang dipenuhi ukiran-ukiran khas sunda kuno. Namun begitu telah melewati pintu, semua langsung tersentak ! Mereka
memasuki bagian dalam istana yang dipenuhi manifesti kemewahan yang luar biasa!
“Ini sangat tidak
mungkin..” Pikir mereka semua bersamaan!
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar