Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | BAB 27 – Kejutan besar dari Taphilli.| By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mereka semua tercekat! mata mereka kini benar-benar dibanjiri kemewahan yang tidak terduga. “Ini.. ini benar-benar sangat diluar dugaan!” ucap Galuh sambil menyentuh salah satu gorden sutra batik garutan, bermotif flora dan fauna anggun, yang terbingkai sulaman benang emas dengan detail menakjubkan.
Kilau cahaya matahari
dari luar yang menembus gorden, membuat detail benang emas tersebut berkilat sehingga
membuat Galuh semakin terpesona. Namun, tiba-tiba sebuah hembusan angin sepoi dari
balik gorden membuat Galuh cukup penasaran. Setelah gorden ia sibak, seketika Galuh
langsung tersentak!
Dari balik jendela jati
tua kokoh yang begitu besar, Galuh mendapati pemandangan jauh berupa pegunungan
dengan panorama yang menantang logika imaginasinya sendiri. Mataharinya yang
terlihat begitu nyata, melapisi pegunungan tersebut dengan semburat cahaya keemasan
yang tidak terdefinisi. Indah, hangat, namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa
ia percaya.
Saat melongok kebawah,
Galuh semakin terkejut. Kini matanya dimanjakan visual aliran sungai berkelok
dengan lekukan penuh estetika. Air kebiruan yang berkilat tertempa matahari, bebatuan
yang tersusun seakan alam sedang bermain dengan estetika, dan susunan indah pepohonan
seakan mereka pelengkap sejati dari semua keindahan ini.
Galuh bahkan bisa
menyentuh dan merasakan awan-awan yang terbang mengambang melewati sisi luar
jendela, seakan istana ini benar-benar berada di atas tebing yang begitu tinggi.
Kini Galuh bingung, apakah yang terdapat di dalam Istana Tujuh Pintu adalah
ilusi, atau memang benar-benar nyata?
Adhit, Ragadewa dan
Gada Sangkara juga tidak kalah terkejutnya. Mereka memandang keseluruhan bagian
dalam istana dengan tidak percaya.
“Semuanya benar-benar terlapisi emas dan aneka
permata, apa benar ini semua ilusi?” tanya Adhit sambil menyentuh Zamrud, Ruby,
dan Safir diantara ratusan yang terserak begitu saja, diatas meja jati bundar besar
yang terlapisi detail uliran emas dengan begitu menakjubkan. Setelah itu Adhit
berdecak karena teksurnya benar-benar terasa nyata.
“Jika Ini ilusi,
semuanya terasa terlalu nyata!” ucap Gada Sangkara sambil menyentuh salah satu
kursi yang juga terlapisi ratusan permata berkilau. “Benar..
ini gila! semua ini dibuat dengan detail karakter menyerupai bebatuan aslinya,”
ucap Ragadewa sambil berdecak, setelah memeriksa keaslian salah satu batu
permata dengan energinya.
Jinn Si Kelinci menoleh pada Taphilli, namun
Taphilli malah mengedikan bahunya. “Selama ini, saya hanya mengikuti dan hidup
di dekatnya saja, bukan memasukinya.” Ucap Taphilli dengan sama herannya. Lalu
iringi decihan iri dari dalam Kalung segel dimana Soma Wisesa bersemayam. Jelas
sekali ia iri karena kemurahan hati Candrakara dibandingkan pada dirinya
sendiri, yang sontak membuat semua tersenyum dengan geli.
Tiba-tiba salah satu gorden
jendela tersibak, yang lalu memunculkan salah satu Dewi penjaga yang tengah
mereka tunggu.
Galuh dan kawan-kawan sempat
terhenyak sebentar, karena sekalipun Dewi penjaga ini menggunakan topeng, aura
magis dari kecantikan Dewi ini menggaung dengan sangat kuat! Bukan hanya sekedar
pesona, tetapi keberadaanya seperti mantera yang menawan sukma.
Dari mulai tekanan
intonasi suara, keanggunannya dalam bergerak, hingga kibasan kain mewah yang
seakan menari dalam dimensi yang ia ciptakan sendiri, membuat siapapun yang
melihat seakan tenggelam kedalam irama pesona yang mengalun tiada akhir.
“Syarat utama dalam
menebak setiap teka-teki adalah, tetap berfikir secara bersih,” bisikan
Taphilli membuat semua tersadar, yang setelahnya segera diangguki oleh yang
lainnya.
Sekalipun awalnya alot,
akhirnya mereka berhasil menebak teka-teki tersebut dengan benar. Tiba-tiba, salah
satu gorden tersibak, yang lalu memunculkan sebuah pintu besar untuk masuk ke
tahap selanjutnya.
“Apa yang ada di dalam
kitab mini ini, lebih indah dari apa yang ada di Istana Astamaya,” ucap Galuh yang
diangguki juga oleh yang lainnya.
“Benar.. Candrakara benar-benar sangat luar
biasa!, sedangkan saya sahabatnya hanya diberikan seluas kamar tidur?“ decih
Soma Wisesa sambil yang kali ini agak terkekeh. “Terimalah Soma, Guru
Candrakara hanya mengikuti naluri alami pria untuk melindungi wanita, memangnya
kamu wanita yang perlu dilindungi?” ucapan Adhit langsung disambut gelak tawa
dari semua, termasuk Soma Wisesa sendiri.
Saat pintu ke dua
terbuka, kali ini mereka memasuki suasana ditengah hutan dengan sungai mengalir
yang begitu asri. Adhit yang penasaran, segera menyentuh airnya, setelah itu ia
tersentak karena tangannya benar-benar basah!
Ragadewa memandang
langit cerah dari balik pepohonan rindang yang menaungi mereka. “Ini
benar-benar sangat diluar nalar, ternyata Guru Candrakara memang sehebat yang dituliskan
dalam literatur sejarah,“ ucap Ragadewa sambil mengeleng takjub.
Dari dalam kalung Soma
Wisesa terkekeh, “kalau kamu bertemu langsung dengannya, kamu akan sadar bahwa
kegeniusanya paling hanya di dua puluh persen, sisanya dia itu tidak waras!” Semua yang mendengarnya langsung refleks terkekeh
sambil menggeleng.
Cahaya matahari yang menyelusuk
masuk dari balik rimbunnya dedaunan, menyentuh lembut permukaan air sungai yang
sejernih kristal. Semua sempat terpesona ketika ikan-ikan berwarna-warni
berkilauan datang secara bergerombol, lalu berenang sambil membuat pola dengan
alur yang menakjubkan.
Namun setelah itu,
muncul sosok Dewi ke dua yang muncul dari dalam air. Sekalipun ia juga
menggunakan topeng, kehadirannya seakan seperti bunga yang tengah mekar di
musim penghujan pertama. Segar, hidup, dan membawa hawa yang mengingatkan
tentang dongeng kehidupan dunia kahyangan.
Teka-teki yang
diungkapkan Dewi ke dua benar-benar sangat sulit dan alot. Galuh dan
kawan-kawan hampir saja tergulung air sungai yang tiba-tiba naik mengancam.
Namun untungnya, Jinn Si Kelinci berhasil menebak dengan benar.
Dengan kesal, Dewi ke
dua terpaksa membuka pintu ke tiga untuk mereka.
Kali ini mereka
memasuki pulau kecil yang mengambang diatas pegunungan yang benar-benar indah. Dari
atas pulau kecil ini mereka baru sadar, bila dari atas sini mereka bisa melihat
Istana utama milik Dewi ke satu, tempat dimana mereka semua pertama kali masuk.
Lalu setelah itu mereka juga melihat hutan indah milik Dewi ke dua.
Kini mereka semua mulai
menyimpulkan, semua tempat ini berasal dari satu dimensi yang sama, dan pintu
yang mereka lewati adalah jalan pintas menuju masing-masing tempat dimana para
Dewi berada.
Teka-teki dari Dewi ke
tiga benar-benar membuat mereka semua harus berpikir semakin alot! Namun berkat
keberanian Galuh, kecerdasan Adhit, dan keakuratan Ragadewa, mereka berhasil
menebak teka-teki tahap awal.
Lalu berkat pengalaman
yang dimiliki Gada Sangkara, sejarah yang dimiliki Soma Wisesa, pemahaman Jinn
Si Kelinci tentang Astamaya, dan daya ingat Taphilli akan literatur sejarah, membuat
mereka berhasil lolos, bahkan hingga sampai di pintu ke tujuh!
Semua teka teki para
Dewi telah berhasil terjawab. Namun entah mengapa, para Dewi ini terkesan
mempersulit untuk bertemu dengan Dewi ke tujuh.
Sambil mengeluarkan
energinya, dengan emosi Soma Wisesa tiba-tiba keluar dari segel kalung dengan raut
wajah yang sangat marah! Dengan posisi yang masih bersiaga, para Dewi yang
tadinya hendak melawan malah terhenyak!
“Soma Wisesa?” ucap
salah satu Dewi sambil menjatuhkan kipasnya karena saking terkejut.
Para pemilik elemen saling
memandang heran, termasuk Soma Wisesa sendiri. Namun ketika para Dewi ini serempak
membuka topeng mereka secara bersamaan, kini malah Soma Wisesa yang ganti
terhenyak.
“Kalian? Mengapa ada
disini?” pertanyaan spontan Soma Wisesa membuat para pemilik elemen semakin
bingung.
“Kamu mengenal
mereka?” tanya Adhit heran.
“Tentu saja ia
mengenal kami, bahkan sangat mengenal kami!” ucap Dewi tertua sambil tersenyum.
Dengan tanpa menggunakan topeng, ketika Dewi ini tersenyum, rasanya kelelahan
dunia tersedot, lalu menyisakan ketakjuban akan kecantikan yang agung luar
biasa.
“Kami adalah putri
dari pertapa sakti yang tinggal di gunung Selatan Astamaya.” Ucap Dewi kedua yang
segera menyadarkan mereka semua, setelah itu ia mengeluarkan sebuah gambaran
melalui energinya.
Terlihatlah gambaran sepasang
orang tua tengah tertawa bahagia, sambil dikelilingi tujuh remaja perempuan
yang tertawa begitu ceria.
“Saat itu masa dimana
kami sangat bahagia,” kenang salah satu Dewi sambil tersenyum.
“Hingga suatu saat,
kami diserang!” Gambaran berubah drastis! penyerangan membabi buta yang datang dari
segala arah, menyebabkan kedua orang tua mereka yang tidak siaga langsung tewas
seketika, sedangkan ketujuh Dewi yang saat itu masih remaja berhasil disandera.
“Kedua orang tua kami ditewaskan,
karena Kaum Hitam menginginkan energi milik adik bungsu kami, Nawang Wulan. Sebab
hanya hawa murni yang bisa menembus segel ruang batu Hyang Sawarga, yang saat
itu masih terletak dibawah istana.” ucap salah satu Dewi geram.
“Berbeda dengan Nawang
Wulan, kami berenam hanya menguasai energi manipulasi. Sehingga menurut
perintah, yang seharusnya yang dibiarkan hidup adalah Nawang wulan saja,
sedangkan sisanya harus dibinasakan karena dianggap berbahaya,” ucap Dewi ketiga
dengan nada yang tertahan.
“Tetapi, Jenderal Hitam
yang ditugaskan saat itu adalah mahluk mesum menjijikan!” Ucap Dewi ke lima
dengan sorot mata berkilat jijik.
“Benar! Ia memutuskan tidak
membunuh kami, karena ia berencana setelah menyerahkan Nawang Wulan pada salah
satu Tetua Hitam yang berwenang saat itu, kami akan dijadikan selir-selirnya!
Hiih..!” tambah Dewi ke enam dengan nada yang tidak kalah jijik.
“Kami selamat, karena
saat itu Soma Wisesa kebetulan lewat saat sedang berkelana mencari bahan ramuan,”
ucap Dewi tertua dengan pandangan penuh terimakasih.
“Karena kami masih
diburu, maka Soma menyembunyikan kami di dunia Manusia, dengan kamuflase
menjadi semacam penunggu sungai, namun akhirnya malah menjadi cerita legenda Di
Jawa Timur,” Ucap Dewi tertua sambil tersenyum menggeleng.
“Cerita Jaka Tarub?
Tentang tujuh Dewi kahyangan yang mandi di sungai?” tebak Adhit dengan terkejut.
“Benar..” ucap salah
satu Dewi membenarkan. “Namun, setelah ditemukan Guru Candrakara dan setuju
untuk masuk ke dalam segel Istana Tujuh Pintu, kami dipindahkan ke Merapi
karena ternyata posisi kami disana mulai diketahui Kaum Hitam,” ucap Dewi ke
tiga sedih.
“Apa yang membuat
kalian menyetujui rencana si gila itu?” tanya Soma penasaran. Semua langsung
tersenyum dengan pertanyaan refleks Soma yang blak-blakan. Sepertinya Soma
Wisesa memang benar-benar sahabat dekat Guru Cadrakara, karena ia selalu mengucapkan
banyak sumpah serapah bila melibatkan nama Guru Candrakara.
“Guru Candrakara berkata,
bahwa ia tengah menyusun rencana untuk membumi hanguskan Kaum Hitam dari muka
bumi. Guru Candrakara meminta ijin agar Nawang Wulan mau menjadi pembuka segel
dari lima retakan Batu Hyang Sawarga yang telah ia sembunyikan.” Ucap Dewi
pertama bijak.
“Setelah itu Guru
Candrakara mengatakan, saat kamu terbebas dari segel, pasti semua yang kamu
kenal dahulu telah wafat. Guru Candrakara yang tidak ingin hal tersebut terjadi,
ia segera memutuskan memakai energi Nawang Wulan sebagai pembuka segel batu
elemen. Selain memang pemilik energi murni, juga agar saat kamu keluar dari
segel dan meneruskan hidup, kamu tidak sendirian, kamu akan meneruskan hidup
bersama kekasih yang selalu kamu rindukan,” Soma Wisesa tertegun saat mendengarkan
penjabaran Dewi pertama.
“Candrakra merencanakan
itu?” tanya Soma Wisesa hampir tidak percaya.
Para Dewi membenarkan
sambil berkata, “Benar..” jawab Dewi pertama mengiyakan.
Tak lama, munculah
segel pelindung, menyerupai kuncup melati putih yang dipenuhi ukiran khas
Astamaya. Satu persatu kelopaknya yang berpendar perlahan merekah, lalu melepaskan
cahaya lembut yang terasa begitu sakral. Dari pusat kelopak yang tengah
bermekaran tersebut, munculah Dewi ke tujuh, Nawang Wulan.
Ekspresi Soma Wisesa
yang biasanya begitu dingin, saat melihat Nawang Wulan muncul, kini senyumnya
merekah dengan begitu bahagia. Nawang sendiri, begitu melihat Soma Wisesa, ia
berlari dan memeluk Soma Wisesa dengan sangat erat.
Para pemilik elemen
terkejut! Selain Nawang wulan ternyata memiliki kecantikan yang berkali lipat
dari ke enam kakaknya, energinya yang terasa sakral dan murni, menyeruak hingga
menembus sukma semua yang ada disana, pantas saja Soma Wisesa terlihat tidak
bisa berpaling kelain hati.
Melihat hal itu, semua
kakak Nawang Wulan begitu bersuka cita. “Penantian Nawang selama seribu tahun
terbayar sudah,” ucap salah satu Kakak Nawang Wulan dengan hampir menangis.
“Dasar si gila
Candrakra..” ucap Soma Wisesa tersenyum sambil memeluk Nawang dengan dalam,
lalu Nawang Wulan membalas pelukannya dengan penuh kerinduan.
“Romantis sekali..
benar-benar seperti novel cinta SMA!” ucap Gada Sangkara senang, “benarr.. kamu
membacanya juga?” ucap Galuh refleks. Tiba-tiba mereka berdua sadar, ocehan
refleks mereka membuat kacau suasana syahdu, yang setelah itu membuat mereka
semua refleks tergelak.
Setelah Istana Tujuh Pintu
berhasil ditemukan, maka tidak ada lagi tempat yang aman untuk Taphilli. Maka atas
perintah Galuh, Taphilli ikut bersama Jinn Si Kelinci pulang ke Astamaya, untuk
tinggal di tempat para Kaum Luhur yang sekarang. Selain ia akan lebih aman, Taphilli
juga bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya bersama para Kaum Luhur.
Begitu Jinn Si Kelinci
dan Taphilli menghilang dari pandangan, Ragadewa membawa mereka ke tempat yang
lebih aman.
Seperti biasa,
Ragadewa selalu mempunyai tempat tersembunyi yang benar-benar indah. Tempat
dimana waktu seakan berhenti berjalan, hanya ada kedamaian, keindahan dan
kehangatan yang menyelimuti tempat itu.
Soma Wisesa duduk di
tepi jendela dengan pemandangan pegunungan yang sangat indah. Namun kali ini,
ia ditemani Nawang Wulan. Soma Wisesa yang biasanya terlihat dingin seperti es
yang mencekam, kini mengembangkan senyum dengan begitu kebahagiaan.
Para kakak Nawang
Wulan memilih kembali ke dalam Istana Tujuh Pintu karena tidak ingin mengganggu
kebahagiaan Adik mereka, Nawang Wulan.
Karena tidak ingin
mengganggu juga, mereka berempat ikut masuk kembali ke dalam Istana Tujuh
Pintu, yang lalu untuk menjelajahi segala keindahan yang ada dibalik
masing-masing pintu. Sedangkan Ragadewa, saat telah melewati pintu ke dua dari
Istana Tujuh Pintu, ia memilih duduk di tepi sungai jernih untuk meneruskan
tulisan novel fiksinya. Setelah sore, Soma Wisesa dan Nawang Wulan menyusul
masuk ke dalam Istana Tujuh Pintu.
Sambil beristirahat, mereka
segera melanjutkan menterjemahkan Kitab Candrakara dengan segala sajian ilusi
milik ke enam Kakak Nawang Wulan. Pemandangan kahyangan yang begitu indah, para
pemain musik yang melantunkan lagu-lagu yang menenangkan jiwa, disertai makanan-makanan
lezat yang menggugah selera,
Hingga akhirnya satu
mantera berhasil terpecahkan, dan terbukalah segel yang menyelubungi para
pemilik energi elemen. Ternyata, masing-masing retakan batu elemen saling
memanggil sari pati energi yang terdapat dalam tubuh masing-masing pemilik elemen!
Karena Galuh memiliki
pendaran energi yang paling kuat, mereka menyimpulkan bahwa batu elemen air
adalah tempat yang paling dekat dengan mereka. Atas Keputusan bersama, akhirnya
mereka memutuskan istirahat dulu satu hari, lalu esoknya melanjutkan perjalanan
saat matahari belum tinggi.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar