Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | BAB 27 – Kejutan besar dari Taphilli.| By: Desya Saghir

 Mereka semua tercekat! mata mereka kini benar-benar dibanjiri kemewahan yang tidak terduga. “Ini.. ini benar-benar sangat diluar dugaan!” ucap Galuh sambil menyentuh salah satu gorden sutra batik garutan, bermotif flora dan fauna anggun, yang terbingkai sulaman benang emas dengan detail menakjubkan.

Kilau cahaya matahari dari luar yang menembus gorden, membuat detail benang emas tersebut berkilat sehingga membuat Galuh semakin terpesona. Namun, tiba-tiba sebuah hembusan angin sepoi dari balik gorden membuat Galuh cukup penasaran. Setelah gorden ia sibak, seketika Galuh langsung tersentak!

Dari balik jendela jati tua kokoh yang begitu besar, Galuh mendapati pemandangan jauh berupa pegunungan dengan panorama yang menantang logika imaginasinya sendiri. Mataharinya yang terlihat begitu nyata, melapisi pegunungan tersebut dengan semburat cahaya keemasan yang tidak terdefinisi. Indah, hangat, namun menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia percaya.

Saat melongok kebawah, Galuh semakin terkejut. Kini matanya dimanjakan visual aliran sungai berkelok dengan lekukan penuh estetika. Air kebiruan yang berkilat tertempa matahari, bebatuan yang tersusun seakan alam sedang bermain dengan estetika, dan susunan indah pepohonan seakan mereka pelengkap sejati dari semua keindahan ini.

Galuh bahkan bisa menyentuh dan merasakan awan-awan yang terbang mengambang melewati sisi luar jendela, seakan istana ini benar-benar berada di atas tebing yang begitu tinggi. Kini Galuh bingung, apakah yang terdapat di dalam Istana Tujuh Pintu adalah ilusi, atau memang benar-benar nyata?

Adhit, Ragadewa dan Gada Sangkara juga tidak kalah terkejutnya. Mereka memandang keseluruhan bagian dalam istana dengan tidak percaya.

“Semuanya benar-benar terlapisi emas dan aneka permata, apa benar ini semua ilusi?” tanya Adhit sambil menyentuh Zamrud, Ruby, dan Safir diantara ratusan yang terserak begitu saja, diatas meja jati bundar besar yang terlapisi detail uliran emas dengan begitu menakjubkan. Setelah itu Adhit berdecak karena teksurnya benar-benar terasa nyata.

“Jika Ini ilusi, semuanya terasa terlalu nyata!” ucap Gada Sangkara sambil menyentuh salah satu kursi yang juga terlapisi ratusan permata berkilau. “Benar.. ini gila! semua ini dibuat dengan detail karakter menyerupai bebatuan aslinya,” ucap Ragadewa sambil berdecak, setelah memeriksa keaslian salah satu batu permata dengan energinya.

Jinn Si Kelinci menoleh pada Taphilli, namun Taphilli malah mengedikan bahunya. “Selama ini, saya hanya mengikuti dan hidup di dekatnya saja, bukan memasukinya.” Ucap Taphilli dengan sama herannya. Lalu iringi decihan iri dari dalam Kalung segel dimana Soma Wisesa bersemayam. Jelas sekali ia iri karena kemurahan hati Candrakara dibandingkan pada dirinya sendiri, yang sontak membuat semua tersenyum dengan geli.

Tiba-tiba salah satu gorden jendela tersibak, yang lalu memunculkan salah satu Dewi penjaga yang tengah mereka tunggu.

Galuh dan kawan-kawan sempat terhenyak sebentar, karena sekalipun Dewi penjaga ini menggunakan topeng, aura magis dari kecantikan Dewi ini menggaung dengan sangat kuat! Bukan hanya sekedar pesona, tetapi keberadaanya seperti mantera yang menawan sukma.

Dari mulai tekanan intonasi suara, keanggunannya dalam bergerak, hingga kibasan kain mewah yang seakan menari dalam dimensi yang ia ciptakan sendiri, membuat siapapun yang melihat seakan tenggelam kedalam irama pesona yang mengalun tiada akhir.

“Syarat utama dalam menebak setiap teka-teki adalah, tetap berfikir secara bersih,” bisikan Taphilli membuat semua tersadar, yang setelahnya segera diangguki oleh yang lainnya.

Sekalipun awalnya alot, akhirnya mereka berhasil menebak teka-teki tersebut dengan benar. Tiba-tiba, salah satu gorden tersibak, yang lalu memunculkan sebuah pintu besar untuk masuk ke tahap selanjutnya.

“Apa yang ada di dalam kitab mini ini, lebih indah dari apa yang ada di Istana Astamaya,” ucap Galuh yang diangguki juga oleh yang lainnya.

 “Benar.. Candrakara benar-benar sangat luar biasa!, sedangkan saya sahabatnya hanya diberikan seluas kamar tidur?“ decih Soma Wisesa sambil yang kali ini agak terkekeh. “Terimalah Soma, Guru Candrakara hanya mengikuti naluri alami pria untuk melindungi wanita, memangnya kamu wanita yang perlu dilindungi?” ucapan Adhit langsung disambut gelak tawa dari semua, termasuk Soma Wisesa sendiri.

Saat pintu ke dua terbuka, kali ini mereka memasuki suasana ditengah hutan dengan sungai mengalir yang begitu asri. Adhit yang penasaran, segera menyentuh airnya, setelah itu ia tersentak karena tangannya benar-benar basah!

Ragadewa memandang langit cerah dari balik pepohonan rindang yang menaungi mereka. “Ini benar-benar sangat diluar nalar, ternyata Guru Candrakara memang sehebat yang dituliskan dalam literatur sejarah,“ ucap Ragadewa sambil mengeleng takjub.

Dari dalam kalung Soma Wisesa terkekeh, “kalau kamu bertemu langsung dengannya, kamu akan sadar bahwa kegeniusanya paling hanya di dua puluh persen, sisanya dia itu tidak waras!”  Semua yang mendengarnya langsung refleks terkekeh sambil menggeleng.

Cahaya matahari yang menyelusuk masuk dari balik rimbunnya dedaunan, menyentuh lembut permukaan air sungai yang sejernih kristal. Semua sempat terpesona ketika ikan-ikan berwarna-warni berkilauan datang secara bergerombol, lalu berenang sambil membuat pola dengan alur yang menakjubkan.

Namun setelah itu, muncul sosok Dewi ke dua yang muncul dari dalam air. Sekalipun ia juga menggunakan topeng, kehadirannya seakan seperti bunga yang tengah mekar di musim penghujan pertama. Segar, hidup, dan membawa hawa yang mengingatkan tentang dongeng kehidupan dunia kahyangan.

Teka-teki yang diungkapkan Dewi ke dua benar-benar sangat sulit dan alot. Galuh dan kawan-kawan hampir saja tergulung air sungai yang tiba-tiba naik mengancam. Namun untungnya, Jinn Si Kelinci berhasil menebak dengan benar.

Dengan kesal, Dewi ke dua terpaksa membuka pintu ke tiga untuk mereka.

Kali ini mereka memasuki pulau kecil yang mengambang diatas pegunungan yang benar-benar indah. Dari atas pulau kecil ini mereka baru sadar, bila dari atas sini mereka bisa melihat Istana utama milik Dewi ke satu, tempat dimana mereka semua pertama kali masuk. Lalu setelah itu mereka juga melihat hutan indah milik Dewi ke dua.

Kini mereka semua mulai menyimpulkan, semua tempat ini berasal dari satu dimensi yang sama, dan pintu yang mereka lewati adalah jalan pintas menuju masing-masing tempat dimana para Dewi berada.

Teka-teki dari Dewi ke tiga benar-benar membuat mereka semua harus berpikir semakin alot! Namun berkat keberanian Galuh, kecerdasan Adhit, dan keakuratan Ragadewa, mereka berhasil menebak teka-teki tahap awal.

Lalu berkat pengalaman yang dimiliki Gada Sangkara, sejarah yang dimiliki Soma Wisesa, pemahaman Jinn Si Kelinci tentang Astamaya, dan daya ingat Taphilli akan literatur sejarah, membuat mereka berhasil lolos, bahkan hingga sampai di pintu ke tujuh!

Semua teka teki para Dewi telah berhasil terjawab. Namun entah mengapa, para Dewi ini terkesan mempersulit untuk bertemu dengan Dewi ke tujuh.

Sambil mengeluarkan energinya, dengan emosi Soma Wisesa tiba-tiba keluar dari segel kalung dengan raut wajah yang sangat marah! Dengan posisi yang masih bersiaga, para Dewi yang tadinya hendak melawan malah terhenyak!

“Soma Wisesa?” ucap salah satu Dewi sambil menjatuhkan kipasnya karena saking terkejut.

Para pemilik elemen saling memandang heran, termasuk Soma Wisesa sendiri. Namun ketika para Dewi ini serempak membuka topeng mereka secara bersamaan, kini malah Soma Wisesa yang ganti terhenyak.

“Kalian? Mengapa ada disini?” pertanyaan spontan Soma Wisesa membuat para pemilik elemen semakin bingung.

“Kamu mengenal mereka?” tanya Adhit heran.

“Tentu saja ia mengenal kami, bahkan sangat mengenal kami!” ucap Dewi tertua sambil tersenyum. Dengan tanpa menggunakan topeng, ketika Dewi ini tersenyum, rasanya kelelahan dunia tersedot, lalu menyisakan ketakjuban akan kecantikan yang agung luar biasa.

“Kami adalah putri dari pertapa sakti yang tinggal di gunung Selatan Astamaya.” Ucap Dewi kedua yang segera menyadarkan mereka semua, setelah itu ia mengeluarkan sebuah gambaran melalui energinya.

Terlihatlah gambaran sepasang orang tua tengah tertawa bahagia, sambil dikelilingi tujuh remaja perempuan yang tertawa begitu ceria.

“Saat itu masa dimana kami sangat bahagia,” kenang salah satu Dewi sambil tersenyum.

“Hingga suatu saat, kami diserang!” Gambaran berubah drastis! penyerangan membabi buta yang datang dari segala arah, menyebabkan kedua orang tua mereka yang tidak siaga langsung tewas seketika, sedangkan ketujuh Dewi yang saat itu masih remaja berhasil disandera.

“Kedua orang tua kami ditewaskan, karena Kaum Hitam menginginkan energi milik adik bungsu kami, Nawang Wulan. Sebab hanya hawa murni yang bisa menembus segel ruang batu Hyang Sawarga, yang saat itu masih terletak dibawah istana.” ucap salah satu Dewi geram.

“Berbeda dengan Nawang Wulan, kami berenam hanya menguasai energi manipulasi. Sehingga menurut perintah, yang seharusnya yang dibiarkan hidup adalah Nawang wulan saja, sedangkan sisanya harus dibinasakan karena dianggap berbahaya,” ucap Dewi ketiga dengan nada yang tertahan.

“Tetapi, Jenderal Hitam yang ditugaskan saat itu adalah mahluk mesum menjijikan!” Ucap Dewi ke lima dengan sorot mata berkilat jijik.

“Benar! Ia memutuskan tidak membunuh kami, karena ia berencana setelah menyerahkan Nawang Wulan pada salah satu Tetua Hitam yang berwenang saat itu, kami akan dijadikan selir-selirnya! Hiih..!” tambah Dewi ke enam dengan nada yang tidak kalah jijik.

“Kami selamat, karena saat itu Soma Wisesa kebetulan lewat saat sedang berkelana mencari bahan ramuan,” ucap Dewi tertua dengan pandangan penuh terimakasih.

“Karena kami masih diburu, maka Soma menyembunyikan kami di dunia Manusia, dengan kamuflase menjadi semacam penunggu sungai, namun akhirnya malah menjadi cerita legenda Di Jawa Timur,” Ucap Dewi tertua sambil tersenyum menggeleng.

“Cerita Jaka Tarub? Tentang tujuh Dewi kahyangan yang mandi di sungai?” tebak Adhit dengan terkejut.

“Benar..” ucap salah satu Dewi membenarkan. “Namun, setelah ditemukan Guru Candrakara dan setuju untuk masuk ke dalam segel Istana Tujuh Pintu, kami dipindahkan ke Merapi karena ternyata posisi kami disana mulai diketahui Kaum Hitam,” ucap Dewi ke tiga sedih.

“Apa yang membuat kalian menyetujui rencana si gila itu?” tanya Soma penasaran. Semua langsung tersenyum dengan pertanyaan refleks Soma yang blak-blakan. Sepertinya Soma Wisesa memang benar-benar sahabat dekat Guru Cadrakara, karena ia selalu mengucapkan banyak sumpah serapah bila melibatkan nama Guru Candrakara.

“Guru Candrakara berkata, bahwa ia tengah menyusun rencana untuk membumi hanguskan Kaum Hitam dari muka bumi. Guru Candrakara meminta ijin agar Nawang Wulan mau menjadi pembuka segel dari lima retakan Batu Hyang Sawarga yang telah ia sembunyikan.” Ucap Dewi pertama bijak.

“Setelah itu Guru Candrakara mengatakan, saat kamu terbebas dari segel, pasti semua yang kamu kenal dahulu telah wafat. Guru Candrakara yang tidak ingin hal tersebut terjadi, ia segera memutuskan memakai energi Nawang Wulan sebagai pembuka segel batu elemen. Selain memang pemilik energi murni, juga agar saat kamu keluar dari segel dan meneruskan hidup, kamu tidak sendirian, kamu akan meneruskan hidup bersama kekasih yang selalu kamu rindukan,” Soma Wisesa tertegun saat mendengarkan penjabaran Dewi pertama.

“Candrakra merencanakan itu?” tanya Soma Wisesa hampir tidak percaya.

Para Dewi membenarkan sambil berkata, “Benar..” jawab Dewi pertama mengiyakan.

Tak lama, munculah segel pelindung, menyerupai kuncup melati putih yang dipenuhi ukiran khas Astamaya. Satu persatu kelopaknya yang berpendar perlahan merekah, lalu melepaskan cahaya lembut yang terasa begitu sakral. Dari pusat kelopak yang tengah bermekaran tersebut, munculah Dewi ke tujuh, Nawang Wulan.

Ekspresi Soma Wisesa yang biasanya begitu dingin, saat melihat Nawang Wulan muncul, kini senyumnya merekah dengan begitu bahagia. Nawang sendiri, begitu melihat Soma Wisesa, ia berlari dan memeluk Soma Wisesa dengan sangat erat.

Para pemilik elemen terkejut! Selain Nawang wulan ternyata memiliki kecantikan yang berkali lipat dari ke enam kakaknya, energinya yang terasa sakral dan murni, menyeruak hingga menembus sukma semua yang ada disana, pantas saja Soma Wisesa terlihat tidak bisa berpaling kelain hati.

Melihat hal itu, semua kakak Nawang Wulan begitu bersuka cita. “Penantian Nawang selama seribu tahun terbayar sudah,” ucap salah satu Kakak Nawang Wulan dengan hampir menangis.

“Dasar si gila Candrakra..” ucap Soma Wisesa tersenyum sambil memeluk Nawang dengan dalam, lalu Nawang Wulan membalas pelukannya dengan penuh kerinduan.

“Romantis sekali.. benar-benar seperti novel cinta SMA!” ucap Gada Sangkara senang, “benarr.. kamu membacanya juga?” ucap Galuh refleks. Tiba-tiba mereka berdua sadar, ocehan refleks mereka membuat kacau suasana syahdu, yang setelah itu membuat mereka semua refleks tergelak.

Setelah Istana Tujuh Pintu berhasil ditemukan, maka tidak ada lagi tempat yang aman untuk Taphilli. Maka atas perintah Galuh, Taphilli ikut bersama Jinn Si Kelinci pulang ke Astamaya, untuk tinggal di tempat para Kaum Luhur yang sekarang. Selain ia akan lebih aman, Taphilli juga bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya bersama para Kaum Luhur.

Begitu Jinn Si Kelinci dan Taphilli menghilang dari pandangan, Ragadewa membawa mereka ke tempat yang lebih aman.

Seperti biasa, Ragadewa selalu mempunyai tempat tersembunyi yang benar-benar indah. Tempat dimana waktu seakan berhenti berjalan, hanya ada kedamaian, keindahan dan kehangatan yang menyelimuti  tempat itu.

Soma Wisesa duduk di tepi jendela dengan pemandangan pegunungan yang sangat indah. Namun kali ini, ia ditemani Nawang Wulan. Soma Wisesa yang biasanya terlihat dingin seperti es yang mencekam, kini mengembangkan senyum dengan begitu kebahagiaan.

Para kakak Nawang Wulan memilih kembali ke dalam Istana Tujuh Pintu karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan Adik mereka, Nawang Wulan.

Karena tidak ingin mengganggu juga, mereka berempat ikut masuk kembali ke dalam Istana Tujuh Pintu, yang lalu untuk menjelajahi segala keindahan yang ada dibalik masing-masing pintu. Sedangkan Ragadewa, saat telah melewati pintu ke dua dari Istana Tujuh Pintu, ia memilih duduk di tepi sungai jernih untuk meneruskan tulisan novel fiksinya. Setelah sore, Soma Wisesa dan Nawang Wulan menyusul masuk ke dalam Istana Tujuh Pintu.

Sambil beristirahat, mereka segera melanjutkan menterjemahkan Kitab Candrakara dengan segala sajian ilusi milik ke enam Kakak Nawang Wulan. Pemandangan kahyangan yang begitu indah, para pemain musik yang melantunkan lagu-lagu yang menenangkan jiwa, disertai makanan-makanan lezat yang menggugah selera,

Hingga akhirnya satu mantera berhasil terpecahkan, dan terbukalah segel yang menyelubungi para pemilik energi elemen. Ternyata, masing-masing retakan batu elemen saling memanggil sari pati energi yang terdapat dalam tubuh  masing-masing pemilik elemen!

Karena Galuh memiliki pendaran energi yang paling kuat, mereka menyimpulkan bahwa batu elemen air adalah tempat yang paling dekat dengan mereka. Atas Keputusan bersama, akhirnya mereka memutuskan istirahat dulu satu hari, lalu esoknya melanjutkan perjalanan saat matahari belum tinggi.

- Bersambung - Desya Saghir -

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir