Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 28 – Perjalanan Mencari Sang Air | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Diperjalanan,
mereka malah tidak sengaja bertemu seorang pemandu wisata cantik bernama Dahayu.
Persis seperti namanya, perempuan ini bukan hanya cantik, ia juga periang,
cerdas dan juga sangat ramah.
Semua pria seakan
terpana dengan pesona Dahayu. Selain mempunyai gummy smile yang amat sangat manis,
ia juga mempunyai kulit yang eksotis dan rambut bergelombang sepunggung, yang menjadikan
ia semakin cantik menggigit.
Sekalipun
NaRaja sering berdecih dalam pikiran Galuh, namun Galuh sendiri juga mengakui, selain
cantik, karakter Dahayu yang begitu periang dan penuh canda tawa, menjadikan siapapun
akan selalu betah berlama-lama dengan Dahayu.
“Iya, saya
tahu kok NaRajaa.. hanya Hailana sang Dewi Ruh yang menurutmu wanita paling terrrbaiiiik!”
goda Galuh jahil. Sontak ucapan tersebut membuat NaRaja panik dan langsung meracau.
Para Ajag yang mendengar semua itu, langsung terbahak hingga gaduhnya memenuhi
alam pikiran Galuh.
Sedangkan
Soma Wisesa, begitu Nawang Wulan kembali masuk kedalam Istana Tujuh Pintu, ia
kembali ke mode awal, wajah tampannya yang kembali hanya dihiasi raut sedingin
es.
Namun kini, gaya
bahasa sarkas Soma agak sedikit terkendali! sontak hal tersebut membuat Galuh langsung
ingin mengacungkan dua jempol untuk Nawang Wulan. Gadis itu, sekalipun begitu
feminin dan sangat lemah lembut, ia justru sanggup menundukan perilaku buruk Soma
Wisesa, sesuatu yang tidak sanggup para Tetua Putih lakukan sejak seribu tahun
yang lalu.
Soma bahkan memilih
diam dalam kalung dengan tanpa bersuara apapun, sehingga Dahayu sendiri tidak
menyadari bahwa ada Soma Wisesa diantara mereka.
“Jadi kalian
ingin berkeliling sekitar? Hmm.. karena pekerjaan saya sudah selesai satu jam
yang lalu, saya akan temani kalian secara gratis! Jadi kita bisa berkeliling
sambil bersenang-senaaang!” tawar Dahayu dengan ceria.
“Memangnya tidak
apa-apa?” tanya Galuh heran, “Tentu tidak, beberapa turis yang terakhir saya
bawa benar-benar melelahkan jiwa, selain banyak maunya, mereka sangat cerewet!”
ucap Dahayu sambil tertawa. Sebaris gigi rapinya benar-benar membuat Dahayu
semakin mempesona.
“Tapi tidak
akan menyenangkan bila hanya berkeliling sendirian, jadi.. ijinkan saya jadi
travel guide kalian, hitung-hitung.. kalian juga menemani saya melepaskan penat
juga, bagaimana?” Tawar Dahayu ramah, yang langsung diangguki oleh mereka
semua.
Dahayu yang
sangat mengerti seluk beluk kota, benar-benar membantu mereka dalam mencari beberapa
tempat yang mereka tuju.
Mereka
bahkan sempat menikmati jajanan sekitar dengan suka cita. Galuh dan Gada
Sangkara benar-benar kalap, sehingga tangan mereka sangat penuh dengan aneka
jajanan.
Suasana
semakin ramai, karena dengan jahilnya Adhit mencomoti satu persatu jajanan
Galuh sampai tidak tersisa, yang berakhir dengan tawa terbahak Gada Sangkara,
melihat Adhit yang tiba-tiba berteriak karena dijewer gemas oleh Galuh. Bahkan Ragadewa
yang biasanya jarang tersenyum, kini malah ikut terbahak melihat tingkah Galuh
dan Adhit.
Sekalipun
tertawa, Ragadewa sebenarnya agak mengelus dada ketika melihat chemistry Galuh
dan Adhit. Kedekatan mereka benar-benar sangat alami, mengalir tanpa paksaan
apapun. Dari mulai cara Adhit memandang ketika menjahili Galuh, hingga Galuh
yang marah-marah namun pipinya agak bersemu merah, ini jelas-jelas keduanya
saling tertarik.
Namun disisi
lain, Adhit juga agak cemburu, ketika Gada Sangkara menyerahkan semua jajanan
miliknya setelah Galuh marah-marah jajanan miliknya dihabiskan Adhit, dan Galuh
benar-benar seperti anak kecil ketika menerima semua makanan itu dari Gada.
Namun ketika
sampai ditempat terakhir, tiba-tiba turun serombongan orang dengan posisi
siaga, Galuh dan kawan-kawan kini terjebak dalam kepungan Pasukan Hitam!
“Ini
sekarang miliku!” ucap Dahayu sambil merebut kalung Sura Suradana dari leher
Adhit. Sontak semuanya langsung terkejut! Mereka tidak percaya bahwa Dahayu
bagian dari Kaum Hitam!
Ketika
Dahayu hendak pergi, ia terkejut! Karena kalung yang telah ia rebut, tiba-tiba hilang
dari genggamannya. Dahayu lebih terkejut lagi, karena mendapati kalung tersebut
sudah ada di leher Adhit kembali.
Dahayu lalu merebutnya
kembali beberapa kali, tetapi tetap saja, kalung tersebut selalu ada dileher
Adhit lagi. Emosi Dahayu semakin memuncak karena melihat Adhit menyunggingkan
senyum. Hilang sudah Dahayu yang selalu bersikap manis selembut sutra, rautnya cerianya
kini berganti menjadi raut kasar dan sangat bengis.
Perlahan
Galuh mendengar tawa sarkas NaRaja dari pikirannya, yang sontak membuat Galuh
menyesal karena mengapa tadi ia tidak memperdulikan umpatan NaRaja tentang
Dahayu.
Adhit
sendiri tersenyum bukan karena menertawakan Dahayu, melainkan karena ini benar
sesuai dugaanya. Guru Candrakara sengaja menyatukan kalung Istana Tujuh Pintu
dengan kalung Sura Suradana, agar saat kalung tersebut hilang secara acak, akan
selalu dibawa kembali oleh kalung Sura Suradana pada Adhit.
“Guru
Candrakara memang sangat gila! Idenya benar-benar gila!” pikir Adhit dengan
sangat tidak percaya.
Karena kalung
tersebut selalu kembali pada Adhit, Dahayu yang kesal langsung menuju pada para
Prajurit Hitam, lalu memimpin mereka dalam melawan Galuh dan kawan-kawan.
Dalam
sekejap, Dahayu berubah! Ia kini memakai pakaian penari jaipongan lengkap
dengan topeng catrik, tokoh perwayangan yang biasanya selalu ada ketika
pagelaran wayang dibuka pertama kali. Dipinggulnya, Dahayu juga menyelempangkan
banyak topeng tokoh perwayangan dengan banyak karakter antagonis. Sontak para
pemilik elemen terkejut, tetapi yang paling terkejut adalah Gada Sangkara!
“Dahayu
adalah Si Seribu Topeng? ucap Gada Sangkara dengan heran. “Bagaimana bisa, perempuan
selembut itu adalah seseorang yang paling sering dikeluhkan para Tetua Putih!” ucap
Gada Sangkara lagi seakan tidak percaya.
“Si Seribu
topeng?” tanya Adhit ingin tahu. “Ia dijuluki Si Seribu Topeng, karena begitu ia
merubah topengnya, berubah pula jurusnya sesuai tokoh-tokoh dalam perwayangan.
Di kalangan Tetua Putih, Ia terkenal karena kebengisannya! Berhati-hatilah!”
Jelas Gada Sangkara dengan khawatir.
Namun
berbekal pengalaman sebelumnya, pemilik elemen kini menjadi lebih terlatih.
Mereka kini melawan para Pasukan Hitam dengan terbagi beberapa formasi.
Disisi
kanan, Galuh yang melawan terlebih dahulu, dengan melesatkan sepasang kujangnya
hingga merobek lengan dan kaki serentetan Prajurit Hitam. Disusul pukulan
energi dari kepalan besar milik Gada Sangkara, sehingga satu jejer Prajurit Hitam
terbanting ke berbagai arah.
Disisi kiri,
Ragadewa mengeluarkan tambang energinya untuk mengikat para Prajurit Hitam
hingga tidak bisa bergerak, lalu mengaliri tambang energinya dengan energi Listrik
yang cuukup besar, sehingga mereka langsung terduduk lemas. Disusul Soma Wisesa
yang keluar dari kalung sambil membereskan sisanya.
Melihat
prajurit hitam yang ia bawa kewalahan, Dahayu yang tadinya memakai topeng
catrik, kini ia mengganti topengnya menjadi tokoh Kumbhakarna, adik dari
Rahwana.
Dahayu
menari penuh magis, yang setelah itu, ia lemparkan energi pada para bawahannya
sehingga mereka jadi besar dan kuat seperti Kumbhakarna. Karena begitu kuat, akhirnya
Ragadewa mengeluarkan jurus replika lawan, yang membuat para bawahan Dahayu yang
telah menjadi besar, kini sibuk melawan replikanya sendiri, yang setelah itu tumbang
tidak karuan karena lesatan energi susulan dari Ragadewa.
Melihat itu,
Dahayu segera mengganti topengnya. Ia lalu menari sambil menghembuskan asap
ilusi hasrat yang membelokan realitas. Dimulai dari Adhit, karena ia paling mudah
tergoda dengan makanan, maka ketika melihat rerumputan, Adhit melihat seakan-akan
rerumputan tersebut sangat lezat menggoda. Sedangkan Galuh, ia melihat ranting
seakan-akan adalah lawan untuk di tandingi. Lalu Ragadewa, ia melihat semua hal
yang ia lihat adalah inspirasi terbaik dari semua ide yang pernah tercetus dari
kepalanya. Soma Wisesa sendiri terkejut karena semua hal yang terlihat
melambai, seperti dedaunan, kain jemuran yang terjuntai hingga kantung plastik
yang tertiup angin, semua berubah menjadi Nawang Wulan yang melambai padanya.
Gada Sangkara
berteriak, “ini ilusi, salah satu kepribadian dari tokoh Surpanakha, Adik
Rahwana! Ia memakai nafsu dan hasrat untuk melawan kita, hati-hati!” Semua langsung
tersadar yang lalu mengangguk mengerti, sekali lagi sisa bawahan Dahayu yang
masih ada, tumbang oleh Galuh dan kawan-kawan! Dahayu kini sangat marah!
Lalu Dahayu
mengganti topengnya memakai topeng Rahwana dengan menarikan sebuah tarian yang
begitu gagah dan atraktif.
“Gawat, ia
mengeluarkan tarian untuk rawarontek!” Teriak Gada Sangkara mengingatkan semua.
Benar saja,
seluruh pasukannya yang tumbang bangkit kembali. Dahayu mengendalikan tubuh
prajuritnya yang sudah hampir mati. Setiap menyentuh tanah, maka tubuh para Prajurit
Hitam kembali utuh. Semakin diserang, malah semakin kuat! karena terdesak,
Galuh akhirnya mengeluarkan para Ajag.
”Tidak ada
yang boleh menyentuh tanaaah!!!” Teriak NaRaja yang yang disambut lolongan Ajag
yang lain dari balik segel.
Begitu pintu
segel terbuka, para Ajag langsung menerjang dan merobek para Prajurit Hitam
hingga tidak terbentuk, lalu menelan mereka satu persatu. Dahayu sempat
terperanjat karena kebrutalan para Ajag ternyata benar-benar mengerikan!
Dahayu
kewalahan karena pasukannya telah hilang, dan kini dihadapannya ada juga para
Ajag. Tetapi Dahayu tidak menyerah, lalu ia mengganti topengnya menjadi topeng Kresna,
setelah itu menari seperti kesurupan. Ia menggunakan salah satu kekuatan Kresna,
yaitu membuat lawannya kaku tidak bisa bergerak!
Saat
Ragadewa hendak mengeluarkan energinya, tiba-tiba tubuh semua pemilik elemen
kaku, termasuk Soma Wisesa!
“Kita
dikurung dalam segel Ruh!” ucap Soma Wisesa dengan terkejut.
“Dahayu
memiliki energi penguasa Sukma? Tidak mungkin, Itu adalah ilmu tua yang telah
hilang saja lama!” Ucap Gada Sangkara terkejut.
“Tidak,
sepertinya kasus ini sama dengan yang di alami Dwasa. Ada seseorang yang
membantunya dari jauh. Bila mengingat kasus yang diceritakan Taphilli, tentang
Ruh yang dipaksa bicara karena sukmanya yang ditekan paksa, besar kemungkinan
ini adalah ulah orang yang sama, Saguri!” tebak Adhit yang diangguki juga oleh
Soma Wisesa.
Karena tubuh
para pemilik elemen kini tidak bisa bergerak, Galuh segera menstabilkan
emosinya agar segel para Ajag otomatis tertutup. Karena kalau tidak, para Ajag
akan semakin menggila, lalu mengakibatkan para pemilik elemen yang telah kaku akan mati terlebih dahulu karena tidak bisa
menghindar.
Dahayu yang merasa
di atas angin, dengan energinya ia membuat para pemilik elemen sesak napas,
yang setelah itu ia longgarkan lagi secara berulang agar mereka tersiksa! Setelah
melihat semuanya tersiksa, Dahayu mengancam Adhit agar diberitahu, bagaimana
caranya kalung Sura Suradana tidak menghilang lagi saat direbut oleh Dahayu.
Adhit segera
berpikir cepat. “Baiklah.. saya menyerah” ucap Adhit dengan tatapan memelas
palsu.
“Tetapi hanya
Ragadewa yang bisa membuka segelnya, karena ia seorang pemahat mantera,” perkataan
Adhit membuat semua memandang tidak mengerti, terutama Ragadewa, karena ia jelas
bukan pemahat mantera.
“Ragadewa,
tolong buka segel kalung saya.. oh tidak! Radang ruh kamu kambuh lagi? Ayolah,
jangan sedang Dewa! Kami bisa mati!” ucap Adhit pura-pura panik.
Ragadewa yang
belum mengerti, langsung segera berpura-pura seperti terkena radang Ruh
mengikuti sandiwara Adhit. Matanya ke atas dengan raut hampir tidak sadarkan
diri. Tentu saja Dahayu panik, dengan cepat Dahayu segera melonggarkan sedikit
segel pengikat sukmanya agar Ragadewa bisa tertangani. Adhit senang, karena Dahayu
benar-benar bernafsu mendapatkan Istana Tujuh Pintu, ia jadi lengah dengan
logikanya sendiri.
Ketika
Dahayu melonggarkan ikatan mantera yang ia buat, Ragadewa segera membuat
replika Dahayu sehingga ia langsung sibuk melawan replikanya sendiri. Hingga
akhirnya, Ragadewa berhasil menyelinapkan salah satu totokan batu diantara
kesibukan Dahayu melawan replikanya sendiri, Dahayupun kalah telak! Ia langsung
lemas, lalu jatuh sambil terduduk.
Karena sudah
tidak berdaya, dengan tubuh yang terikat tambang energi milik Ragadewa, Dahayu
menangis dan meminta ampun. Ia bersumpah mau melakukan semua hal tersebut
karena dibawah ancaman Saguri. Tangisannya meledak, suara lirihnya benar-benar
membuat terenyuh hati.
Saat Gada Sangkara
hendak membantu Dahayu berdiri, Ragadewa menarik Gada cepat sambil menepis
jarum kecil yang dilayangkan Dahayu pada Gada Sangkara. Sayangnya jarum tersebut
malah berbalik mengenai Dahayu sendiri, membuat ia langsung tewas di tempat.
“Tipu daya
wanita!” ucap Ragadewa sambil menaikan alis pada Gada Sangkara. Gada yang
tadinya terkejut, kini tersenyum dengan sangat berterimakasih pada Ragadewa.
“Tipu daya
wanita!” ulang Adhit, tapi sambil menoleh pada Galuh yang lalu menaikan alisnya
berkali-kali. Sontak hal tersebut membuat Galuh refleks menggeplak wajah Adhit dengan
gemas. Gara-gara itu pula, semua langsung tertawa dan suasanapun kembali cair
seketika. Karena tidak ada yang bisa di lakukan lagi, mereka segera pergi dari
tempat tersebut.
Tak lama
Soma Wisesa malah menemukan petunjuk secara mandiri!
Petunjuk pertama dalam coretan Kitab
Candrakara, meminta mereka untuk mencari cermin kembar yang berada di sungai
sisi tebing batu yang menyerupai wajah manusia, lokasi tepatnya berada di kelokan
Green Canyon, pangandaran - Jawa Barat.
Namun sesampainya di wilayah bagian
atas Green Canyon, Galuh dan Kawan-kawan terkejut karena berpapasan dengan salah
seorang Kaum Astamaya berpenampilan eksentrik. Seorang pria paruh baya yang menggunakan
baju dan jubah serba merah menyala! Namun bukan itu saja, pria paruh baya ini
juga menyisipkan bulu burung merak merah ditopinya dengan ukuran yang cukup
besar, benar-benar pemandangan mencolok ditengah suasana yang dipenuhi alam sekitar
yang serba hijau.
“Siapa dia?” Tanya Adhit heran, semua
malah balik menatap Adhit karena sama – sama tidak tahu.
Ditengah keanehan itu, Pertapa merah
tersebut malah bangga, sambil tertawa-tawa ia mengatakan bahwa baju serba
merahnya itulah yang membuatnya tetap selamat karena tidak terlihat.
Saat mereka mengira telah bertemu
dengan Pertapa gila, tiba-tiba Pertapa Merah tersebut berbalik dan berkata, “Kalian
para pencari retakan Hyang Sawarga kan? Ikutlah dengan saya!” Sontak hal
tersebut membuat Galuh dan kawan-kawan langsung terkejut luar biasa!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar