Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 28 – Perjalanan Mencari Sang Air | By: Desya Saghir

Diperjalanan, mereka malah tidak sengaja bertemu seorang pemandu wisata cantik bernama Dahayu. Persis seperti namanya, perempuan ini bukan hanya cantik, ia juga periang, cerdas dan juga sangat ramah.

Semua pria seakan terpana dengan pesona Dahayu. Selain mempunyai gummy smile yang amat sangat manis, ia juga mempunyai kulit yang eksotis dan rambut bergelombang sepunggung, yang menjadikan ia semakin cantik menggigit.

Sekalipun NaRaja sering berdecih dalam pikiran Galuh, namun Galuh sendiri juga mengakui, selain cantik, karakter Dahayu yang begitu periang dan penuh canda tawa, menjadikan siapapun akan selalu betah berlama-lama dengan Dahayu.

“Iya, saya tahu kok NaRajaa.. hanya Hailana sang Dewi Ruh yang menurutmu wanita paling terrrbaiiiik!” goda Galuh jahil. Sontak ucapan tersebut membuat NaRaja panik dan langsung meracau. Para Ajag yang mendengar semua itu, langsung terbahak hingga gaduhnya memenuhi alam pikiran Galuh.

Sedangkan Soma Wisesa, begitu Nawang Wulan kembali masuk kedalam Istana Tujuh Pintu, ia kembali ke mode awal, wajah tampannya yang kembali hanya dihiasi raut sedingin es.

Namun kini, gaya bahasa sarkas Soma agak sedikit terkendali! sontak hal tersebut membuat Galuh langsung ingin mengacungkan dua jempol untuk Nawang Wulan. Gadis itu, sekalipun begitu feminin dan sangat lemah lembut, ia justru sanggup menundukan perilaku buruk Soma Wisesa, sesuatu yang tidak sanggup para Tetua Putih lakukan sejak seribu tahun yang lalu.

Soma bahkan memilih diam dalam kalung dengan tanpa bersuara apapun, sehingga Dahayu sendiri tidak menyadari bahwa ada Soma Wisesa diantara mereka.

“Jadi kalian ingin berkeliling sekitar? Hmm.. karena pekerjaan saya sudah selesai satu jam yang lalu, saya akan temani kalian secara gratis! Jadi kita bisa berkeliling sambil bersenang-senaaang!” tawar Dahayu dengan ceria.

“Memangnya tidak apa-apa?” tanya Galuh heran, “Tentu tidak, beberapa turis yang terakhir saya bawa benar-benar melelahkan jiwa, selain banyak maunya, mereka sangat cerewet!” ucap Dahayu sambil tertawa. Sebaris gigi rapinya benar-benar membuat Dahayu semakin mempesona.

“Tapi tidak akan menyenangkan bila hanya berkeliling sendirian, jadi.. ijinkan saya jadi travel guide kalian, hitung-hitung.. kalian juga menemani saya melepaskan penat juga, bagaimana?” Tawar Dahayu ramah, yang langsung diangguki oleh mereka semua.

Dahayu yang sangat mengerti seluk beluk kota, benar-benar membantu mereka dalam mencari beberapa tempat yang mereka tuju.

Mereka bahkan sempat menikmati jajanan sekitar dengan suka cita. Galuh dan Gada Sangkara benar-benar kalap, sehingga tangan mereka sangat penuh dengan aneka jajanan.

Suasana semakin ramai, karena dengan jahilnya Adhit mencomoti satu persatu jajanan Galuh sampai tidak tersisa, yang berakhir dengan tawa terbahak Gada Sangkara, melihat Adhit yang tiba-tiba berteriak karena dijewer gemas oleh Galuh. Bahkan Ragadewa yang biasanya jarang tersenyum, kini malah ikut terbahak melihat tingkah Galuh dan Adhit.

Sekalipun tertawa, Ragadewa sebenarnya agak mengelus dada ketika melihat chemistry Galuh dan Adhit. Kedekatan mereka benar-benar sangat alami, mengalir tanpa paksaan apapun. Dari mulai cara Adhit memandang ketika menjahili Galuh, hingga Galuh yang marah-marah namun pipinya agak bersemu merah, ini jelas-jelas keduanya saling tertarik.

Namun disisi lain, Adhit juga agak cemburu, ketika Gada Sangkara menyerahkan semua jajanan miliknya setelah Galuh marah-marah jajanan miliknya dihabiskan Adhit, dan Galuh benar-benar seperti anak kecil ketika menerima semua makanan itu dari Gada.

Namun ketika sampai ditempat terakhir, tiba-tiba turun serombongan orang dengan posisi siaga, Galuh dan kawan-kawan kini terjebak dalam kepungan Pasukan Hitam!

“Ini sekarang miliku!” ucap Dahayu sambil merebut kalung Sura Suradana dari leher Adhit. Sontak semuanya langsung terkejut! Mereka tidak percaya bahwa Dahayu bagian dari Kaum Hitam!

Ketika Dahayu hendak pergi, ia terkejut! Karena kalung yang telah ia rebut, tiba-tiba hilang dari genggamannya. Dahayu lebih terkejut lagi, karena mendapati kalung tersebut sudah ada di leher Adhit kembali.

Dahayu lalu merebutnya kembali beberapa kali, tetapi tetap saja, kalung tersebut selalu ada dileher Adhit lagi. Emosi Dahayu semakin memuncak karena melihat Adhit menyunggingkan senyum. Hilang sudah Dahayu yang selalu bersikap manis selembut sutra, rautnya cerianya kini berganti menjadi raut kasar dan sangat bengis.

Perlahan Galuh mendengar tawa sarkas NaRaja dari pikirannya, yang sontak membuat Galuh menyesal karena mengapa tadi ia tidak memperdulikan umpatan NaRaja tentang Dahayu.

Adhit sendiri tersenyum bukan karena menertawakan Dahayu, melainkan karena ini benar sesuai dugaanya. Guru Candrakara sengaja menyatukan kalung Istana Tujuh Pintu dengan kalung Sura Suradana, agar saat kalung tersebut hilang secara acak, akan selalu dibawa kembali oleh kalung Sura Suradana pada Adhit.

“Guru Candrakara memang sangat gila! Idenya benar-benar gila!” pikir Adhit dengan sangat tidak percaya.

Karena kalung tersebut selalu kembali pada Adhit, Dahayu yang kesal langsung menuju pada para Prajurit Hitam, lalu memimpin mereka dalam melawan Galuh dan kawan-kawan.

Dalam sekejap, Dahayu berubah! Ia kini memakai pakaian penari jaipongan lengkap dengan topeng catrik, tokoh perwayangan yang biasanya selalu ada ketika pagelaran wayang dibuka pertama kali. Dipinggulnya, Dahayu juga menyelempangkan banyak topeng tokoh perwayangan dengan banyak karakter antagonis. Sontak para pemilik elemen terkejut, tetapi yang paling terkejut adalah Gada Sangkara!

“Dahayu adalah Si Seribu Topeng? ucap Gada Sangkara dengan heran. “Bagaimana bisa, perempuan selembut itu adalah seseorang yang paling sering dikeluhkan para Tetua Putih!” ucap Gada Sangkara lagi seakan tidak percaya.

“Si Seribu topeng?” tanya Adhit ingin tahu. “Ia dijuluki Si Seribu Topeng, karena begitu ia merubah topengnya, berubah pula jurusnya sesuai tokoh-tokoh dalam perwayangan. Di kalangan Tetua Putih, Ia terkenal karena kebengisannya! Berhati-hatilah!” Jelas Gada Sangkara dengan khawatir.

Namun berbekal pengalaman sebelumnya, pemilik elemen kini menjadi lebih terlatih. Mereka kini melawan para Pasukan Hitam dengan terbagi beberapa formasi.

Disisi kanan, Galuh yang melawan terlebih dahulu, dengan melesatkan sepasang kujangnya hingga merobek lengan dan kaki serentetan Prajurit Hitam. Disusul pukulan energi dari kepalan besar milik Gada Sangkara, sehingga satu jejer Prajurit Hitam terbanting ke berbagai arah.

Disisi kiri, Ragadewa mengeluarkan tambang energinya untuk mengikat para Prajurit Hitam hingga tidak bisa bergerak, lalu mengaliri tambang energinya dengan energi Listrik yang cuukup besar, sehingga mereka langsung terduduk lemas. Disusul Soma Wisesa yang keluar dari kalung sambil membereskan sisanya.

Melihat prajurit hitam yang ia bawa kewalahan, Dahayu yang tadinya memakai topeng catrik, kini ia mengganti topengnya menjadi tokoh Kumbhakarna, adik dari Rahwana.

Dahayu menari penuh magis, yang setelah itu, ia lemparkan energi pada para bawahannya sehingga mereka jadi besar dan kuat seperti Kumbhakarna. Karena begitu kuat, akhirnya Ragadewa mengeluarkan jurus replika lawan, yang membuat para bawahan Dahayu yang telah menjadi besar, kini sibuk melawan replikanya sendiri, yang setelah itu tumbang tidak karuan karena lesatan energi susulan dari Ragadewa.

Melihat itu, Dahayu segera mengganti topengnya. Ia lalu menari sambil menghembuskan asap ilusi hasrat yang membelokan realitas. Dimulai dari Adhit, karena ia paling mudah tergoda dengan makanan, maka ketika melihat rerumputan, Adhit melihat seakan-akan rerumputan tersebut sangat lezat menggoda. Sedangkan Galuh, ia melihat ranting seakan-akan adalah lawan untuk di tandingi. Lalu Ragadewa, ia melihat semua hal yang ia lihat adalah inspirasi terbaik dari semua ide yang pernah tercetus dari kepalanya. Soma Wisesa sendiri terkejut karena semua hal yang terlihat melambai, seperti dedaunan, kain jemuran yang terjuntai hingga kantung plastik yang tertiup angin, semua berubah menjadi Nawang Wulan yang melambai padanya.

Gada Sangkara berteriak, “ini ilusi, salah satu kepribadian dari tokoh Surpanakha, Adik Rahwana! Ia memakai nafsu dan hasrat untuk melawan kita, hati-hati!” Semua langsung tersadar yang lalu mengangguk mengerti, sekali lagi sisa bawahan Dahayu yang masih ada, tumbang oleh Galuh dan kawan-kawan! Dahayu kini sangat marah!

Lalu Dahayu mengganti topengnya memakai topeng Rahwana dengan menarikan sebuah tarian yang begitu gagah dan atraktif.

“Gawat, ia mengeluarkan tarian untuk rawarontek!” Teriak Gada Sangkara mengingatkan semua.

Benar saja, seluruh pasukannya yang tumbang bangkit kembali. Dahayu mengendalikan tubuh prajuritnya yang sudah hampir mati. Setiap menyentuh tanah, maka tubuh para Prajurit Hitam kembali utuh. Semakin diserang, malah semakin kuat! karena terdesak, Galuh akhirnya mengeluarkan para Ajag.

”Tidak ada yang boleh menyentuh tanaaah!!!” Teriak NaRaja yang yang disambut lolongan Ajag yang lain dari balik segel.

Begitu pintu segel terbuka, para Ajag langsung menerjang dan merobek para Prajurit Hitam hingga tidak terbentuk, lalu menelan mereka satu persatu. Dahayu sempat terperanjat karena kebrutalan para Ajag ternyata benar-benar mengerikan!

Dahayu kewalahan karena pasukannya telah hilang, dan kini dihadapannya ada juga para Ajag. Tetapi Dahayu tidak menyerah, lalu ia mengganti topengnya menjadi topeng Kresna, setelah itu menari seperti kesurupan. Ia menggunakan salah satu kekuatan Kresna, yaitu membuat lawannya kaku tidak bisa bergerak!

Saat Ragadewa hendak mengeluarkan energinya, tiba-tiba tubuh semua pemilik elemen kaku, termasuk Soma Wisesa!

“Kita dikurung dalam segel Ruh!” ucap Soma Wisesa dengan terkejut.

“Dahayu memiliki energi penguasa Sukma? Tidak mungkin, Itu adalah ilmu tua yang telah hilang saja lama!” Ucap Gada Sangkara terkejut.

“Tidak, sepertinya kasus ini sama dengan yang di alami Dwasa. Ada seseorang yang membantunya dari jauh. Bila mengingat kasus yang diceritakan Taphilli, tentang Ruh yang dipaksa bicara karena sukmanya yang ditekan paksa, besar kemungkinan ini adalah ulah orang yang sama, Saguri!” tebak Adhit yang diangguki juga oleh Soma Wisesa.

Karena tubuh para pemilik elemen kini tidak bisa bergerak, Galuh segera menstabilkan emosinya agar segel para Ajag otomatis tertutup. Karena kalau tidak, para Ajag akan semakin menggila, lalu mengakibatkan para pemilik elemen yang telah kaku  akan mati terlebih dahulu karena tidak bisa menghindar.

Dahayu yang merasa di atas angin, dengan energinya ia membuat para pemilik elemen sesak napas, yang setelah itu ia longgarkan lagi secara berulang agar mereka tersiksa! Setelah melihat semuanya tersiksa, Dahayu mengancam Adhit agar diberitahu, bagaimana caranya kalung Sura Suradana tidak menghilang lagi saat direbut oleh Dahayu.

Adhit segera berpikir cepat. “Baiklah.. saya menyerah” ucap Adhit dengan tatapan memelas palsu.

“Tetapi hanya Ragadewa yang bisa membuka segelnya, karena ia seorang pemahat mantera,” perkataan Adhit membuat semua memandang tidak mengerti, terutama Ragadewa, karena ia jelas bukan pemahat mantera.

“Ragadewa, tolong buka segel kalung saya.. oh tidak! Radang ruh kamu kambuh lagi? Ayolah, jangan sedang Dewa! Kami bisa mati!” ucap Adhit pura-pura panik.

Ragadewa yang belum mengerti, langsung segera berpura-pura seperti terkena radang Ruh mengikuti sandiwara Adhit. Matanya ke atas dengan raut hampir tidak sadarkan diri. Tentu saja Dahayu panik, dengan cepat Dahayu segera melonggarkan sedikit segel pengikat sukmanya agar Ragadewa bisa tertangani. Adhit senang, karena Dahayu benar-benar bernafsu mendapatkan Istana Tujuh Pintu, ia jadi lengah dengan logikanya sendiri.

Ketika Dahayu melonggarkan ikatan mantera yang ia buat, Ragadewa segera membuat replika Dahayu sehingga ia langsung sibuk melawan replikanya sendiri. Hingga akhirnya, Ragadewa berhasil menyelinapkan salah satu totokan batu diantara kesibukan Dahayu melawan replikanya sendiri, Dahayupun kalah telak! Ia langsung lemas, lalu jatuh sambil terduduk.

Karena sudah tidak berdaya, dengan tubuh yang terikat tambang energi milik Ragadewa, Dahayu menangis dan meminta ampun. Ia bersumpah mau melakukan semua hal tersebut karena dibawah ancaman Saguri. Tangisannya meledak, suara lirihnya benar-benar membuat terenyuh hati.

Saat Gada Sangkara hendak membantu Dahayu berdiri, Ragadewa menarik Gada cepat sambil menepis jarum kecil yang dilayangkan Dahayu pada Gada Sangkara. Sayangnya jarum tersebut malah berbalik mengenai Dahayu sendiri, membuat ia langsung tewas di tempat.

“Tipu daya wanita!” ucap Ragadewa sambil menaikan alis pada Gada Sangkara. Gada yang tadinya terkejut, kini tersenyum dengan sangat berterimakasih pada Ragadewa.

“Tipu daya wanita!” ulang Adhit, tapi sambil menoleh pada Galuh yang lalu menaikan alisnya berkali-kali. Sontak hal tersebut membuat Galuh refleks menggeplak wajah Adhit dengan gemas. Gara-gara itu pula, semua langsung tertawa dan suasanapun kembali cair seketika. Karena tidak ada yang bisa di lakukan lagi, mereka segera pergi dari tempat tersebut.

Tak lama Soma Wisesa malah menemukan petunjuk secara mandiri!

Petunjuk pertama dalam coretan Kitab Candrakara, meminta mereka untuk mencari cermin kembar yang berada di sungai sisi tebing batu yang menyerupai wajah manusia, lokasi tepatnya berada di kelokan Green Canyon, pangandaran - Jawa Barat.

Namun sesampainya di wilayah bagian atas Green Canyon, Galuh dan Kawan-kawan terkejut karena berpapasan dengan salah seorang Kaum Astamaya berpenampilan eksentrik. Seorang pria paruh baya yang menggunakan baju dan jubah serba merah menyala! Namun bukan itu saja, pria paruh baya ini juga menyisipkan bulu burung merak merah ditopinya dengan ukuran yang cukup besar, benar-benar pemandangan mencolok ditengah suasana yang dipenuhi alam sekitar yang serba hijau.

“Siapa dia?” Tanya Adhit heran, semua malah balik menatap Adhit karena sama – sama tidak tahu.

Ditengah keanehan itu, Pertapa merah tersebut malah bangga, sambil tertawa-tawa ia mengatakan bahwa baju serba merahnya itulah yang membuatnya tetap selamat karena tidak terlihat.

Saat mereka mengira telah bertemu dengan Pertapa gila, tiba-tiba Pertapa Merah tersebut berbalik dan berkata, “Kalian para pencari retakan Hyang Sawarga kan? Ikutlah dengan saya!” Sontak hal tersebut membuat Galuh dan kawan-kawan langsung terkejut luar biasa!

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir