Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 29 – Sang Air | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setelah terkejut, Gada Sangkara
memberi kode pada yang lain untuk menahan diri dulu. Ia merasa pernah mendengar
ciri-ciri tentang pertapa merah ini, namun entah dimana.
“Si Merah Gila?” ucap Gada Sangkara terkejut
saat pertapa tersebut menyebutkan namanya. “Berarti anda adalah orang yang
sering disebutkan Tuan Addar dalam rapat Istana! Sebuah kehormatan besar bisa
bertemu Anda secara langsung!” ucap Gada Sangkara lagi sambil menjabat tangan
pertapa tersebut dengan penuh antusias.
Gada kini merasa tenang, pria
dihadapannya ternyata bukan musuh! melainkan pertapa yang justru selalu dipuji
oleh para Tetua Putih, terutama Kakek Addar. Si Merah Gila sendiri, ia tertawa begitu
senang karena ternyata dirinya dikenali.
Melihat penampilan Si Merah Gila yang
cukup kontroversial, sontak semua yang mendengarnya langsung terkejut.
“Kamu yakin ia seorang pertapa sakti?”
Bisik Adhit ragu.
“Dulu ia tidak seperti itu, menurut
yang saya dengar, ada sesuatu hal yang merubahnya hingga seperti ini,” bisik
Gada Sangkara dengan hati-hati. Tiba-tiba, tanpa mereka sadari, Si Merah Gila sudah
ada di dekat pepohonan rimbun sejauh tiga meter dari mereka.
“Hahahaha… maafkan saya.. tapi para
pepohonan berkata, kalian sudah mengitari wilayah ini ketiga kali nya hahahaha…”
ucap Si Merah Gila sambil menepuk salah satu pohon dengan terpingkal.
Melihat caranya tertawa yang tidak
waras, para pemilik elemen kini kembali ragu. Namun, yang membuat mereka
kembali yakin, hanya orang dengan energi luar biasa yang bisa melesat secepat
itu tanpa mereka semua sadari, termasuk sekelas Soma Wisesa.
“Terutama
kamu, Adhit!“ Saat nama Adhit terucap, sontak semua langsung menatap terkejut.
“Kamu beberapa
kali selalu tersandung di akar ini,” ucap Si Merah Gila sambil menyentuh salah
satu akar yang menjulur dari pepohonan tersebut. “para pepohonan sampai terbahak,
karena kamu selalu terjatuh ditempat yang sama.. hahahaha..!” Lanjut Si Merah
Gila lagi dengan tawa yang amat pecah, sontak hal tersebut membuat semua
semakin terkejut.
“Dia tahu nama kamu?” ucap Galuh sambil
menoleh kaget pada Adhit.
“Sudah saya bilang, ia bukan pertapa
sembarangan,” ucap Gada Sangkara sambil mengangkat alisnya.
“Benar, pertama.. disini bukan
Astamaya, tidak mungkin ada pepohonan bisa berbicara. Kedua.. yang dikatakan Si
Merah Gila memang benar! saya memang tersandung pada akar pohon itu beberapa
kali!” Ucap Adhit sambil menunjuk tanda yang tadi sempat disematkan Gada
Sangkara. Mereka kemudian terkejut, karena tanda yang ditunjuk Adhit, memang tanda
yang disematkan Gada saat curiga telah melewati tempat itu beberapa kali.
Gada lalu menatap semuanya dengan alis
yang kembali mengangkat. “Sudah saya bilang kan.. hahaha…” ucap Gada senang.
Semua kini kembali menatap Si Merah
Gila yang tengah bercengkrama dengan pepohonan sekitar, lalu setelahnya saling
memandang satu sama lain dengan isi pikiran mereka masing-masing.
Namun ternyata perkataan Si Merah Gila
kembali benar! Saat ditengah perjalanan, tiba-tiba mereka dihadang Kakeknya
Ragadewa beserta pasukan hitamnya! Namun anehnya, yang terlihat oleh Kakek
Ragadewa beserta para Prajurit Hitamnya malah hanya Galuh dan kawan-kawan saja?
Sedangkan Si Merah Gila? sekalipun
bertingkah konyol dan menari-nari dengan tidak waras, mereka sama sekali tidak ada
yang menyadari kehadirannya!
Galuh dan kawan-kawan semakin berdecak
heran, ketika Si Merah Gila tampak leluasa mengerjai para bawahan Kakeknya
Ragadewa. Menjitak, mengajak beberapa prajurit berdansa, bahkan melepaskan
celana para prajurit hitam satu persatu sambil terpingkal-pingkal. Hingga
akhirnya, Kakek Ragadewa dan prajurit hitamnya kabur karena kewalahan.
“Bodoh!” ucap Ragadewa puas saat
melihat Kakeknya lari dengan sangat tunggang langgang.
Ternyata benar apa yang dikatakan Gada
Sangkara, dibalik perilakunya yang terlihat tidak waras, Si Merah Gila lebih
berbahaya dibandingkan Kaum Astamaya yang pernah mereka temui.
“Bagaimana mungkin ia bisa tidak
terlihat sama sekali?” pikir Adhit tidak mengerti, lalu menatap sosok Si Merah
Gila dengan tampilan yang serba mencolok mata.
Bagi Adhit, Si Merah Gila adalah
seorang pria paruh baya seperti pada umumnya. Tetapi yang menarik, selain perilakunya
yang terlihat tidak waras, ia juga berpakaian merah mencolok. Namun bukan hanya
itu, pakaian tersebut juga dihiasi manik-manik aneka bentuk yang terus berkelap-kelip
saat tersorot matahari.
Di kepalanya sendiri, melingkar ikat
kepala batik khas Sunda yang juga merah mencolok. Yang lalu disematkan satu
lembar bulu merak merah yang cukup lebat dan besar, itu sangat aneh bila para
Kaum Hitam mengabaikannya begitu saja.
“Tentu saja bisa anak muda.. “ ucap Si
Gila Merah sambil berputar-putar untuk memperlihatkan pakaiannya dengan bangga.
Adhit tersentak! Karena Si Merah Gila ternyata bisa membaca pikirannya.
“Karena pakaian ini saya rancang
khusus, agar hanya bisa di lihat oleh orang-orang mempunyai niat baik dan
mulia, seperti kalian semua..” ucap Si Merah Gila sambil mengedipkan mata.
Setelah mengucapkan
itu, tiba-tiba saja Si Merah Gila duduk di atas batu besar. Belum hilang rasa
terkejut dari Galuh dan kawan-kawan, tiba-tiba saja Si Merah Gila membuka tas
kulit merahnya yang dipenuhi banyak sekali barang aneh. Ada kacamata aneka
bentuk yang sebagian retak, syal usang, topi yang gepeng sebelah, anting bengkok,
bahkan kipas wanita yang sudah sobek!
Satu persatu, barang-barang tersebut ia
keluarkan seakan-akan harta miliknya yang paling berharga. Saat salah satu
barang ia pakai, tiba-tiba Si Merah Gila berbicara sendiri, monolog dengan
berbagai dialek dan karakter.
Kadang berdialog alot, kadang tertawa-tawa
seakan bercanda dengan seseorang, kadang berpikir serius lalu berteriak seperti
dikejutkan.
Galuh dan kawan-kawan hanya bisa
menatap heran sambil saling menoleh, namun tidak ada yang berani menyela. Selain
karena kejadian tadi, juga karena Gada Sangkara berkata bahwa yang dilakukan Si
Merah Gila sekarang bukan sedang bermain-main.
Setelah Si Merah Gila berhasil
menemukan petunjuk, ia segera memasukan barang-barang tersebut ke dalam tasnya kembali
dengan sangat hati-hati, lalu mendekati Galuh dan kawan-kawan seakan hal tadi
adalah hal yang awam. Tingkahnya benar-benar sangat membingungkan!
“Hahaha… saya suka melihat raut kalian
yang kebingungan.. hahaha…,” ucap Si Merah Gila sambil terpingkal lepas.
“Tenang saja, barusan yang saya lakukan adalah
membuka tabir memori dari semua barang ini, untuk mencari Sang Air yang tengah kalian
cari,” ucap Si Merah Gila sambil memperlihatkan lagi isi tasnya. Sontak Galuh
dan kawan-kawan terkejut, karena Si Merah Gila tahu tujuan mereka ke tempat
ini.
“Dengan saya menyentuhnya, maka pikiran saya langsung
terhubung dengan ingatan pemilik barang-barang ini sebelumnya. Setelah itu, lewat
pemikiran saya, terciptalah sebuah dialog visual antara saya dan para pemilik
barang ini.” Ucap Si Merah Gila yang kali ini dengan nada bijak.
Namun setelah itu, matanya kembali
menatap isi tas tersebut dengan pandangan sedih. “Semua barang-barang ini..
adalah milik para sahabat saya yang tewas oleh Kaum Hitam...” Ucapnya sambil
mengelus barang dalam tas tersebut dengan perlahan. Sorot mata cerianya kini
berganti dengan tatapan perih.
“Seandainya saja.. saya tidak memberitahu
tentang teori penyatuan Kitab Sembilan yang akan menghasilkan energi luar biasa..
mereka tentu saat ini masih hidup.. ” sesal Si Merah Gila sambil menutup tas
kulitnya penuh kasih sayang, yang lalu memeluk tas tersebut dengan sangat dalam.
Sebuah pelukan dengan rasa sesal yang luar biasa.
Karena penuturannya, tiba-tiba
semuanya jadi teringat tentang penuturan Kahiyang Raga tentang rahasia Kitab
Sembilan.
“Ternyata Si Merah Gila adalah penyebab
para Pertapa diburu habis-habisan oleh Kaum Hitam.” Bisik Adhit yang di iyakan
Gada Sangkara.
“Ternyata itu alasannya ia menjadi
seperti ini,” jawab Gada Sangkara, yang setelah itu mereka semua kini terenyuh melihat
sorot mata kosong Si Merah Gila yang begitu perih, namun setelah itu ia kembali
tertawa-tawa seperti tidak waras.
“Jadi, saat anda bilang semua
pepohonan ini berbicara pada anda, mereka tidak benar-benar berbicara secara
harfiah? Melainkan, anda membaca lalu berdialog dengan tabir memorinya?” tanya
Adhit berusaha meredakan suasana hati Si Gila Merah.
“Benar sekali, kamu benar-benar detail,
Candrakara muda!” ucap Si Merah Gila takjub sekaligus gembira, rautnya pun cerah seketika. Namun hal tersebut
membuat semua terkejut dua kali, Karena bagaimana bisa Si Merah Gila tahu bahwa
Adhit adalah keturunan Candrakara?
“Tentu saja saya tahu!” Kata Si Merah
Gila lagi yang membuat semuanya langsung tercengang. Kini bukan Adhit saja yang
merasa bahwa pikiran yang sempat mereka lontarkan dalam benak mereka, terus
menerus dijawab Si Merah Gila.
“Tetapi, Adhitya bukan keturunan
Candrakara,” ucapan Si Merah Gila yang kini lebih tenang, membuat semua menatap
Si Merah Gila dengan penuh tanya.
“Leluhur Adhitya, adalah seorang yang
disusupi paksa DNA milik Candrakra oleh Candrakara sendiri. Dengan tujuan, ketika
segel darah Candrakara muncul, ia bisa langsung mengenali dan memberi ijin
untuk memakai segala fasilitas yang pernah dibuat Candrakra,” ucap Si Merah
Gila dengan tersenyum bijak.
Kini mereka semua mengerti, mengapa
segel darah Candrakara mengenali Adhit, tetapi ia tidak memiliki energi seperti
umumnya Kaum Astamaya. Semua kini menggeleng takjub dengan semua ide gila Guru
Candrakara.
“Saya telah lama menanti kalian.. setiap
kali bertemu, Candrakara selalu saja mengingatkan tanda-tanda tentang kalian,
ia seorang laki-laki, tapi cerewetnya melebihi perempuan!” ucapan Si Merah Gila
membuat semua terhenyak lagi.
“Candrakara masih hidup?” tanya Soma
Wisesa dengan terkejut luar biasa.
“Ya.. tetapi melalui barang warisan ini
hahahaha.. ,” Kemudian Si Merah Gila menunjukan jam saku milik Candrakara
sambil tertawa-tawa
“Dasar tidak waras!” umpat Soma Wisesa
yang kini kecewa. Ternyata Si Merah Gila bertemu Candrakara melalui barang
peninggalan Candrakara.
“Barang warisan?” tanya Adhit begitu
penasaran.
“Sesuai perkiraan kamu Adhitya, Candrakara
memberikan pada leluhur saya untuk dijaga turun temurun,” jawaban Si Merah Gila
membuat Adhit terkejut sekaligus kagum.
“Candrakara benar-benar jenius gila
kan?” perkataan Si Merah Gila yang membuat Adhit jadi tertawa sambil mengangguk
senang, Si Merah Gila sepertinya memang benar-benar bisa membaca isi kepala seseorang.
Lalu setelah menunjukan dimana tebing yang membentuk wajah
manusia, Si Merah Gila yang sedang memakai kaca mata salah satu sahabatnya yang
tewas, tiba-tiba berdebat sendiri dan pergi begitu saja.
Akhirnya, Berdasarkan petunjuk yang
diberikan Si Merah Gila sebelum pergi, Galuh dan kawan-kawan memutuskan mencari
secara mandiri.
Mereka menyusuri sendiri sungai yang mengalir
diantara tebing-tebing tingga Grand Canyon Pangandaran. Airnya yang jernih, namun
arusnya yang cukup deras, membuat para pemilik elemen harus memperhitungkan
langkahnya dengan hati-hati. Namun ditengah perjalanan, Soma Wisesa seperti
mengenali sesuatu.
“Tunggu.. saya pernah melihat wilayah
ini melalui cawan asap yang diperlihatkan Candrakara dalam alam pikiran!” ucap
Soma Wisesa dengan mata yang berkeliling yakin. Dan benar saja, tak lama, mereka
menemukan ciri-ciri yang persis dengan yang digambarkan dalam Kitab Candrakra! sisi
tebing dengan tonjolan alami yang membentuk hampir menyerupai wajah manusia!
Galuh berhenti sejenak, menahan napas,
lalu menyentuh permukaan kasar tebing tersebut dengan tegang. Namun, sentuhan
Galuh ternyata tidak memberikan reaksi apapun, kecuali suasana tebing yang
begitu sunyi, diselingi suara gemercik sungai mengalir yang mengikuti alur
alaminya.
Soma Wisesa mundur beberapa langkah sambil
membuka Kitab Candrakara kembali. “Seharusnya tepat disini!” ucap Soma Wisesa
sambil menunjuk tebing menyerupai wajah tersebut dengan tidak mengerti.
“Galuh, karena sekarang yang dicari
adalah elemen milikmu, cobalah menyelam sebentar. Siapa tahu ada yang
teraktivasi saat kamu berada didekatnya,” pinta Soma Wisesa sambil membolak
balikan Kitab Candrakara seakan tidak mengerti. Sayangnya, setelah beberapa
lama menyelam, mereka tidak menemukan ada tanda-tanda apapun.
Galuh yang naik kembali ke permukaan,
ia segera duduk disamping Adhit yang sepertinya mulai merasa bosan. Adhit menghibur
Galuh dengan menyenandungkan lagu yang sering di dendangkan anak-anak Kaum
Luhur saat bermain, yang lalu diikuti Galuh untuk menenangkan hatinya yang
sedikit lelah.
Namun, saat lirik lagu menyebutkan
kata air di dalamnya, tiba-tiba saja permukaan air sungai dibawah tebing ini beriak
lemah. Semua terkejut! Galuh sempat terkejut, ia lalu mengulanginya karena ia
adalah perwakilan dari elemen air.
Tiba–tiba saja, permukaan air yang
tadinya hanya riakan lemah, kini mulai bergerak liar. Memunculkan gelombang air
yang berputar seakan mengikuti hentakan dari intonasi lagu yang tengah Galuh nyanyikan.
Tak lama kemudian, naiklah cermin berbahan air dari gelombang tersebut, yang lalu
melayang di atas permukaan sungai.
“Cermin Kembar!” ucap mereka semua
bersamaan. Mereka baru menyadari mengapa dikatakan cermin kembar. Karena,
cermin air tersebut jadi tampak kembar bersama bayangannya yang terpantul dari
permukaan sungai yang tiba-tiba sudah kembali tenang.
Karena mewakili elemen air, maka Galuh
masuk kedalam cermin air tersebut terlebih dahulu. Setelah disusul para pemilik
elemen lainnya, cermin air tersebut kembali tenggelam ke dalam Sungai. Menyisakan
permukaan sungai yang kembali tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi apapun
hari itu.
Begitu semuanya sudah masuk kedalam
cermin air, mereka kini dibuat terkejut luar biasa!
Didalam cermin air yang mereka masuki,
ternyata tersembunyi danau kecil indah, yang tidak pernah mereka lihat seperti
ini sebelumnya. Gemerlap bebatuan kristal aneka warna, berpendar dalam
kedalaman danau jernih dengan kemilau memikat. Ikan–ikan kecil keperakan dengan
bentuk dan pendaran aneka warna menarik, berenang berkelompok perwarna,
sehingga ketika antar kelompok ini saling bertemu, mereka menciptakan harmoni
warna yang menciptakan keindahan mahakarya visual yang sangat luar biasa.
“Saya semakin terkesima dengan kegilaan
tingkat energi yang dimiliki Guru Candrakara, kita beberapa kali diperlihatkan
ruang dimensi yang ia buat. Mulai dari kalung segel tempat Soma Wisesa bernaung
dan Istana Tujuh Pintu. Lalu kini, ruang dimensi yang ia pergunakan untuk
menyimpan pecahan batu Hyang Sawarga?” ucap Adhit dengan pandangan berkeliling
takjub luar biasa.
“Benar sekali, Guru Candrakara bukan
hanya membuat sebuah ruang rahasia semata, melainkan sebuah ruang dimensi yang
dipenuhi misteri dengan kedalaman yang begitu indah luar biasa.” Sambung Gada Sangkara
yang diangguki juga oleh Galuh dan Ragadewa.
“Semua ini terbentuk, bukan hanya
berasal dari tingkat energinya saja yang gila, melainkan juga karena Candrakara
sendiri yang sering dipenuhi ide tidak waras,” ucap Soma Wisesa sambil terkekeh
senang. Dari cara seringnya ia menertawakan perilaku Guru Cadrakara, Soma
terlihat terbiasa memaklumi polah gila Guru Candrakra di masa lalu, itu
sebabnya semua yang mendengarnya langsung menggeleng sambil tertawa.
Ditengah tawa, Galuh dan kawan – kawan
tersentak, karena tiba-tiba muncul sesuatu dari tengah danau! Sebuah sosok transparan,
samar, dengan membentuk perawakan wanita berambut panjang yang muncul secara perlahan.
Ketika sosok tersebut semakin
mendekat, kini wajah dan leher miliknya mulai terlihat jelas saat rambut
panjangnya yang membuat kamuflase transparan agak sedikit tersibak. Setelah
itu, saat keseluruhan wajahnya mulai terlihat, Galuh dan kawan-kawan langsung tersentak
akan wajah yang begitu indah, namun sekaligus dipenuhi misteri yang memikat.
Diatas hidung dan bibir mungil sosok
tersebut, terdapat sepasang bola mata ungu kebiruan bercorak nebula menatap
mereka dengan penuh selidik. Saat sosok tersebut menegadahkan kepala untuk
melihat Galuh dan Kawan-kawan lebih jelas, saat itu pula terlihatlah pinggiran
dahi dan pelipis sosok ini terbingkai sisik koi berwarna biru keunguan yang
begitu indah. Menjadikan sosoknya seperti mustika berharga yang selama ini
tersembunyi dalam kedalaman penuh rahasia.
Sedangkan sisanya tertutup oleh
rambutnya yang semi transparan, yang semakin kebawah, semakin transparan, lalu
menyatu dengan air danau.
Namun sayangnya ia tidak ramah! Bila saat
di Istana Tujuh Pintu mereka disambut teka-teki terlebih dahulu, ditempat ini mereka
malah langsung disambut serangan air yang dilontarkan oleh Dewi air ini, untung
mereka berhasil menghindarinya.
“Dewi Air ini sangat tidak ramah!” Ucap
Adhit yang hampir terjerat simpul air yang dibuat Dewi air tersebut, untungnya segera
tertangkis segel hologram dari Kalung
Sura Suradana miliknya.
Karena mereka semua berhasil melewati
semua rintangan, Dewi air tersebut mulai menampakan amarahnya. Dengan wajah
murka, ia mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi sisik ikan koi ungu
kebiruan, seakan tengah mengangkat sebuah benda yang amat sangat berat.
Tiba-tiba, dari dalam danau muncul bongkahan-bongkahan
cermin air yang amat besar, lalu terbang dan mendarat dan mengelilingi para
pemilik elemen. Permukaannya yang berkilau, memantulkan seluruh masa lalu para
pemilik elemen, dan disana pula lah dibuka seluruh trauma dan ketakutan terbesar
yang menghantui mereka selama ini.
Dimulai Adhit, saat kawan–kawan satu
Band nya yang tengah ditelan Dwasa Si Mahluk Asap, lalu tewas tergerus oleh
para Monster Astamaya. Ragadewa saat ayah ibunya ditewaskan kakeknya sendiri,
lalu kakeknya akhirnya menemukannya, menjadikannya semacam boneka marionette,
lalu memanfaatkan kekuatannya untuk membantu Kaum Hitam. Gada Sangkara ketika
melihat ibunya melarikan diri dengan petinggi Kaum Hitam, Ayahnya yang akhirnya
sempat diracuni oleh Kaum Hitam, sehingga membuat Astamaya tanpa perlindungan.
Sedangkan Soma Wisesa, ia ternyata takut dengan dirinya yang ditelan oleh
kekuatannya sendiri.
Dewi Air terkejut dengan visualisasi
yang di tampilkan cermin-cermin air yang ia buat, lalu memandang para pemilik
elemen dengan heran.
Namun, sang Dewi air lebih terkejut luar
biasa saat melihat ketakutan Galuh, yaitu melihat para Ajag keluar dari
tubuhnya, mengacaukan Astamaya, dan bergabung dengan Kaum Hitam yang lalu menghancurkan
dunia Manusia.
Tiba – tiba sang Dewi air tunduk
seraya berkata, “panjang umur sang pemimpin besar, maafkan bila saya tidak
mengenali anda dengan cepat,” sontak mereka semua langsung terperanjat.
“Anda mengenali saya?” Tanya Galuh
heran.
“Anda adalah seseorang yang selalu
disebutkan Guru Candrakara setiap waktu,” ucap Dewi Air tersebut dengan kepala
yang masih menunduk.
“Bangunlah, jangan seperti ini,” ucap
Galuh sambil mengangkat Dewi air tersebut bangun. Galuh terkejut! Dari tampak
dekat, Dewi air ini memiliki kecantikan luar biasa yang begitu unik.
“Nama saya Atiyasa,” ucap Dewi Air itu
memperkenalkan diri.
“Dulu, saya adalah salah satu murid Guru
Candrakara. Karena kesetiaan saya dan ilmu manipulasi yang saya miliki, maka Guru
Candrakara meminta saya untuk menjadi pelindung Sang Air, salah satu retakan batu
Hyang Sawarga” ucap Dewi Air tersebut sambil memperlihatkan gambaran dengan
energinya. Maka terlihatlah, Atiyasa sang Dewi Air yang dimasukan kedalam dunia
Ruh oleh Guru Candrakra.
“Lalu disinilah saya, dunia penuh
kekosongan,” ucap Atisaya sang Dewi Air sambil memperlihatkan sekeliling, “Untuk
menjaga hingga seseorang yang telah diramalkan membawa kembali Sang Air ke
Istana” Lanjut Atiyasa sang Dewi air tersebut dengan ramah.
“Kamu tadi langsung menyerang kami,
apa kamu tidak mengenal Soma Wisesa? Dia adalah sahabat dari Guru Candrakara,”
Tanya Adhit heran. Namun Atiyasa sang Dewi Air menggeleng. “Saya hanya mengenal
namanya saja, karena Guru Candrakara pernah membicarakannya beberapa kali,
namun saya tidak pernah bertemu dengannya,” ucap Atiyasa sang Dewi Air memastikan.
“Tentu saja ia tidak mengenali wajah
saya, saat itu saya masih menjadi buronan istana. Saya bertemu dengan
Candrakara untuk merumuskan Kitab Candrakra hanya melalui alam pikiran saja.” Jelas
Soma Wisesa yang kini membuat semuanya mengerti, mengapa saat pertama kali
masuk, Atisaya sang Dewi Air tidak mengenali Soma Wisesa sama sekali.
Setelah itu, Atiyasa, Sang Dewi Air mengangkat
sesuatu dari kedalaman danau. Batu bening berkilau yang tertutup oleh segel
kristal.
“Itu Sang Air! Salah satu retakan Batu
Hyang Sawarga!” ucap Soma Wisesa begitu antusias.
Semua kini menatap Sang Air yang selama
ini mereka cari. Sang Air tidak seperti bebatuan bening berkilau seperti yang
mereka bayangakan selama ini. Riak dan gelombang kecil air yang muncul
dipermukaan batu, membuat Sang Air memiliki denyut kehidupan sendiri! DIdalamnya
sendiri, ada gaung samar dari harmoni air yang begitu menenangkan. Membuat Galuh
dan kawan-kawan tertegun sejenak oleh keindahan yang tidak terbantahkan.
Begitu tersadar, Adhit segera mengangkat
Kalung Sura Suradana miliknya yang sudah tercengkram bandul Istana Tujuh Pintu.
Tak lama, munculah bunga melati transparan
yang begitu besar, bermekaran perlahan. Dari sanalah Nawang Wulan muncul dalam
balutan energi sakral yang begitu murni. Kain Batik Sutra yang melekat sempurna
pada tubuh rampingnya yang putih semampai, membuat Soma Wisesa sampai tidak
berkedip melihat Nawang Wulan muncul dengan segala keindahannya yang begitu
sakral.
Saat jemarinya menyentuh segel yang
melingkupi Sang Air dengan lembut, tiba-tiba, “Blash!” segel tersebut memencar
menjadi serpihan pasir kristal, yang lalu lenyap terbawa angin. Setelah itu
barulah Sang Air bisa tersentuh oleh Nawang Wulan.
Kecantikan Nawang yang begitu sakral
dan murni, berpadu dengan jemarinya memegang
Sang Air yang diliputi segala keindahannya, melahirkan sebuah harmoni yang menggetarkan
hingga serat-serat sukma. Jangankan para pemilik elemen lain, Soma Wisesa
sendiri yang biasanya begitu dingin dan tak tergoyahkan, kini menatap kekasihnya
dengan pandangan yang tidak berkedip sama sekali.
Begitu misi mereka selesai, mereka
semua keluar dari dunia cermin kembar, tentu saja beserta Atisaya sang Dewi Air
yang sudah menjadi kaum Astamaya pada umumnya.
Atisaya menangis bahagia ketika menjadi
sosok yang ia rindukan kembali, air matanya mengalir deras karena sekarang bisa
melihat lagi matahari dan merasakan keindahan alam yang selalu ia cintai.
Atisaya bahkan menyentuh rerumputan dengan penuh suka cita seolah memastikan
bahwa semua yang terjadi adalah nyata.
Seiring dengan sirnanya semua sisik
dari tubuhnya, Atisaya menjelma menjadi perempuan manis yang dinaungi sepasang
mata bersorot cerdas. Namun, kebahagiaanya seketika sirna ketika Atisaya diberitahu
bahwa Guru Candrakara yang sangat ia hormati, telah lama wafat.
Atisaya tertegun agak lama, bulir air
mata menetes kembali yang kali ini disertai sorot mata yang begitu sakit dan perih.
Namun tangisnya mereda, Atisaya berkata bahwa ia tidak jadi kembali ke Astamaya.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
tanya Galuh heran.
“Dalam ruang segel, saya tidak tahu
bila seribu tahun telah berlalu, jadi bila saya pulangpun, tidak akan ada
siapapun lagi yang saya kenali disana, termasuk Guru Candrakara yang paling
saya hormati.” Jawab Atisaya sedikit sedih.
“Jadi, yang saya bisa lakukan saat ini
adalah, meneruskan misi yang selama ini Guru Candrakara usahakan, yaitu menjaga
wilayah Manusia dari ancaman Kaum Hitam.” Ucap Atisaya lagi dengan nada bijak,
yang lalu disambut pelukan Galuh untuk sebuah ucapan empati yang sangat dalam.
“Tugas saya telah selesai. Jika suatu
hari kalian kembali ke tempat ini, lalu membutuhkan pertolongan, tepuklah permukaan
sungai disekitar wilayah Grand Canyon, sambil menyanyikan lagu air yang kalian
pakai untuk membuka segel cermin kembar. Maka dengan segera, saya akan datang
membantu. ” Ucap Atisaya bijak. Setelah mengucapkan perpisahan, Atisayapun melebur
dan menyatu bersama aliranan sungai Grand Canyon.
Setelah Galuh memberikan Sang Air untuk
disimpan dalam kalung segel tempat dimana Soma Wisesa tersegel, tiba-tiba saja
Kitab Candrakara berpendar, yang sontak membuat Soma Wisesa segera membuka
Kitab Candrakra.
Saat Kitab Candrakara terbuka, saat
itu pula lembar yang berisi petunjuk menuju retakan batu Hyang Sawarga
selanjutnya berubah. Yang tadinya hanya berupa gambar motif tidak jelas, kini munculah
banyak tulisan dan petunjuk disana.
“Kita telah menemukan petunjuk selanjutnya
untuk menemukan sang Api, kita berangkat sekarang!” ucap Soma Wisesa senang.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar