Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 29 – Sang Air | By: Desya Saghir

Setelah terkejut, Gada Sangkara memberi kode pada yang lain untuk menahan diri dulu. Ia merasa pernah mendengar ciri-ciri tentang pertapa merah ini, namun entah dimana.

“Si Merah Gila?” ucap Gada Sangkara terkejut saat pertapa tersebut menyebutkan namanya. “Berarti anda adalah orang yang sering disebutkan Tuan Addar dalam rapat Istana! Sebuah kehormatan besar bisa bertemu Anda secara langsung!” ucap Gada Sangkara lagi sambil menjabat tangan pertapa tersebut dengan penuh antusias.

Gada kini merasa tenang, pria dihadapannya ternyata bukan musuh! melainkan pertapa yang justru selalu dipuji oleh para Tetua Putih, terutama Kakek Addar. Si Merah Gila sendiri, ia tertawa begitu senang karena ternyata dirinya dikenali.

Melihat penampilan Si Merah Gila yang cukup kontroversial, sontak semua yang mendengarnya langsung terkejut.

“Kamu yakin ia seorang pertapa sakti?” Bisik Adhit ragu.

“Dulu ia tidak seperti itu, menurut yang saya dengar, ada sesuatu hal yang merubahnya hingga seperti ini,” bisik Gada Sangkara dengan hati-hati. Tiba-tiba, tanpa mereka sadari, Si Merah Gila sudah ada di dekat pepohonan rimbun sejauh tiga meter dari mereka.

“Hahahaha… maafkan saya.. tapi para pepohonan berkata, kalian sudah mengitari wilayah ini ketiga kali nya hahahaha…” ucap Si Merah Gila sambil menepuk salah satu pohon dengan terpingkal.

Melihat caranya tertawa yang tidak waras, para pemilik elemen kini kembali ragu. Namun, yang membuat mereka kembali yakin, hanya orang dengan energi luar biasa yang bisa melesat secepat itu tanpa mereka semua sadari, termasuk sekelas Soma Wisesa.

“Terutama kamu, Adhit!“ Saat nama Adhit terucap, sontak semua langsung menatap terkejut.

“Kamu beberapa kali selalu tersandung di akar ini,” ucap Si Merah Gila sambil menyentuh salah satu akar yang menjulur dari pepohonan tersebut. “para pepohonan sampai terbahak, karena kamu selalu terjatuh ditempat yang sama.. hahahaha..!” Lanjut Si Merah Gila lagi dengan tawa yang amat pecah, sontak hal tersebut membuat semua semakin terkejut.

“Dia tahu nama kamu?” ucap Galuh sambil menoleh kaget pada Adhit.

“Sudah saya bilang, ia bukan pertapa sembarangan,” ucap Gada Sangkara sambil mengangkat alisnya.

“Benar, pertama.. disini bukan Astamaya, tidak mungkin ada pepohonan bisa berbicara. Kedua.. yang dikatakan Si Merah Gila memang benar! saya memang tersandung pada akar pohon itu beberapa kali!” Ucap Adhit sambil menunjuk tanda yang tadi sempat disematkan Gada Sangkara. Mereka kemudian terkejut, karena tanda yang ditunjuk Adhit, memang tanda yang disematkan Gada saat curiga telah melewati tempat itu beberapa kali.

Gada lalu menatap semuanya dengan alis yang kembali mengangkat. “Sudah saya bilang kan.. hahaha…” ucap Gada senang.

Semua kini kembali menatap Si Merah Gila yang tengah bercengkrama dengan pepohonan sekitar, lalu setelahnya saling memandang satu sama lain dengan isi pikiran mereka masing-masing.

Namun ternyata perkataan Si Merah Gila kembali benar! Saat ditengah perjalanan, tiba-tiba mereka dihadang Kakeknya Ragadewa beserta pasukan hitamnya! Namun anehnya, yang terlihat oleh Kakek Ragadewa beserta para Prajurit Hitamnya malah hanya Galuh dan kawan-kawan saja?

Sedangkan Si Merah Gila? sekalipun bertingkah konyol dan menari-nari dengan tidak waras, mereka sama sekali tidak ada yang menyadari kehadirannya!

Galuh dan kawan-kawan semakin berdecak heran, ketika Si Merah Gila tampak leluasa mengerjai para bawahan Kakeknya Ragadewa. Menjitak, mengajak beberapa prajurit berdansa, bahkan melepaskan celana para prajurit hitam satu persatu sambil terpingkal-pingkal. Hingga akhirnya, Kakek Ragadewa dan prajurit hitamnya kabur karena kewalahan.

“Bodoh!” ucap Ragadewa puas saat melihat Kakeknya lari dengan sangat tunggang langgang.

Ternyata benar apa yang dikatakan Gada Sangkara, dibalik perilakunya yang terlihat tidak waras, Si Merah Gila lebih berbahaya dibandingkan Kaum Astamaya yang pernah mereka temui.

“Bagaimana mungkin ia bisa tidak terlihat sama sekali?” pikir Adhit tidak mengerti, lalu menatap sosok Si Merah Gila dengan tampilan yang serba mencolok mata.

Bagi Adhit, Si Merah Gila adalah seorang pria paruh baya seperti pada umumnya. Tetapi yang menarik, selain perilakunya yang terlihat tidak waras, ia juga berpakaian merah mencolok. Namun bukan hanya itu, pakaian tersebut juga dihiasi manik-manik aneka bentuk yang terus berkelap-kelip saat tersorot matahari.

Di kepalanya sendiri, melingkar ikat kepala batik khas Sunda yang juga merah mencolok. Yang lalu disematkan satu lembar bulu merak merah yang cukup lebat dan besar, itu sangat aneh bila para Kaum Hitam mengabaikannya begitu saja.

“Tentu saja bisa anak muda.. “ ucap Si Gila Merah sambil berputar-putar untuk memperlihatkan pakaiannya dengan bangga. Adhit tersentak! Karena Si Merah Gila ternyata bisa membaca pikirannya.

“Karena pakaian ini saya rancang khusus, agar hanya bisa di lihat oleh orang-orang mempunyai niat baik dan mulia, seperti kalian semua..” ucap Si Merah Gila sambil mengedipkan mata.

Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba saja Si Merah Gila duduk di atas batu besar. Belum hilang rasa terkejut dari Galuh dan kawan-kawan, tiba-tiba saja Si Merah Gila membuka tas kulit merahnya yang dipenuhi banyak sekali barang aneh. Ada kacamata aneka bentuk yang sebagian retak, syal usang, topi yang gepeng sebelah, anting bengkok, bahkan kipas wanita yang sudah sobek!

Satu persatu, barang-barang tersebut ia keluarkan seakan-akan harta miliknya yang paling berharga. Saat salah satu barang ia pakai, tiba-tiba Si Merah Gila berbicara sendiri, monolog dengan berbagai dialek dan karakter.

Kadang berdialog alot, kadang tertawa-tawa seakan bercanda dengan seseorang, kadang berpikir serius lalu berteriak seperti dikejutkan.

Galuh dan kawan-kawan hanya bisa menatap heran sambil saling menoleh, namun tidak ada yang berani menyela. Selain karena kejadian tadi, juga karena Gada Sangkara berkata bahwa yang dilakukan Si Merah Gila sekarang bukan sedang bermain-main.

Setelah Si Merah Gila berhasil menemukan petunjuk, ia segera memasukan barang-barang tersebut ke dalam tasnya kembali dengan sangat hati-hati, lalu mendekati Galuh dan kawan-kawan seakan hal tadi adalah hal yang awam. Tingkahnya benar-benar sangat membingungkan!

“Hahaha… saya suka melihat raut kalian yang kebingungan.. hahaha…,” ucap Si Merah Gila sambil terpingkal lepas.

 “Tenang saja, barusan yang saya lakukan adalah membuka tabir memori dari semua barang ini, untuk mencari Sang Air yang tengah kalian cari,” ucap Si Merah Gila sambil memperlihatkan lagi isi tasnya. Sontak Galuh dan kawan-kawan terkejut, karena Si Merah Gila tahu tujuan mereka ke tempat ini.

 “Dengan saya menyentuhnya, maka pikiran saya langsung terhubung dengan ingatan pemilik barang-barang ini sebelumnya. Setelah itu, lewat pemikiran saya, terciptalah sebuah dialog visual antara saya dan para pemilik barang ini.” Ucap Si Merah Gila yang kali ini dengan nada bijak.

Namun setelah itu, matanya kembali menatap isi tas tersebut dengan pandangan sedih. “Semua barang-barang ini.. adalah milik para sahabat saya yang tewas oleh Kaum Hitam...” Ucapnya sambil mengelus barang dalam tas tersebut dengan perlahan. Sorot mata cerianya kini berganti dengan tatapan perih.

“Seandainya saja.. saya tidak memberitahu tentang teori penyatuan Kitab Sembilan yang akan menghasilkan energi luar biasa.. mereka tentu saat ini masih hidup.. ” sesal Si Merah Gila sambil menutup tas kulitnya penuh kasih sayang, yang lalu memeluk tas tersebut dengan sangat dalam. Sebuah pelukan dengan rasa sesal yang luar biasa.

Karena penuturannya, tiba-tiba semuanya jadi teringat tentang penuturan Kahiyang Raga tentang rahasia Kitab Sembilan.

“Ternyata Si Merah Gila adalah penyebab para Pertapa diburu habis-habisan oleh Kaum Hitam.” Bisik Adhit yang di iyakan Gada Sangkara.

“Ternyata itu alasannya ia menjadi seperti ini,” jawab Gada Sangkara, yang setelah itu mereka semua kini terenyuh melihat sorot mata kosong Si Merah Gila yang begitu perih, namun setelah itu ia kembali tertawa-tawa seperti tidak waras.

“Jadi, saat anda bilang semua pepohonan ini berbicara pada anda, mereka tidak benar-benar berbicara secara harfiah? Melainkan, anda membaca lalu berdialog dengan tabir memorinya?” tanya Adhit berusaha meredakan suasana hati Si Gila Merah.

“Benar sekali, kamu benar-benar detail, Candrakara muda!” ucap Si Merah Gila takjub sekaligus gembira,  rautnya pun cerah seketika. Namun hal tersebut membuat semua terkejut dua kali, Karena bagaimana bisa Si Merah Gila tahu bahwa Adhit adalah keturunan Candrakara?

“Tentu saja saya tahu!” Kata Si Merah Gila lagi yang membuat semuanya langsung tercengang. Kini bukan Adhit saja yang merasa bahwa pikiran yang sempat mereka lontarkan dalam benak mereka, terus menerus dijawab Si Merah Gila.

“Tetapi, Adhitya bukan keturunan Candrakara,” ucapan Si Merah Gila yang kini lebih tenang, membuat semua menatap Si Merah Gila dengan penuh tanya.  

“Leluhur Adhitya, adalah seorang yang disusupi paksa DNA milik Candrakra oleh Candrakara sendiri. Dengan tujuan, ketika segel darah Candrakara muncul, ia bisa langsung mengenali dan memberi ijin untuk memakai segala fasilitas yang pernah dibuat Candrakra,” ucap Si Merah Gila dengan tersenyum bijak.

Kini mereka semua mengerti, mengapa segel darah Candrakara mengenali Adhit, tetapi ia tidak memiliki energi seperti umumnya Kaum Astamaya. Semua kini menggeleng takjub dengan semua ide gila Guru Candrakara.

“Saya telah lama menanti kalian.. setiap kali bertemu, Candrakara selalu saja mengingatkan tanda-tanda tentang kalian, ia seorang laki-laki, tapi cerewetnya melebihi perempuan!” ucapan Si Merah Gila membuat semua terhenyak lagi.

“Candrakara masih hidup?” tanya Soma Wisesa dengan terkejut luar biasa.

“Ya.. tetapi melalui barang warisan ini hahahaha.. ,” Kemudian Si Merah Gila menunjukan jam saku milik Candrakara sambil tertawa-tawa

“Dasar tidak waras!” umpat Soma Wisesa yang kini kecewa. Ternyata Si Merah Gila bertemu Candrakara melalui barang peninggalan Candrakara.

“Barang warisan?” tanya Adhit begitu penasaran.

“Sesuai perkiraan kamu Adhitya, Candrakara memberikan pada leluhur saya untuk dijaga turun temurun,” jawaban Si Merah Gila membuat Adhit terkejut sekaligus kagum.

“Candrakara benar-benar jenius gila kan?” perkataan Si Merah Gila yang membuat Adhit jadi tertawa sambil mengangguk senang, Si Merah Gila sepertinya memang benar-benar bisa membaca isi kepala seseorang.

Lalu setelah menunjukan dimana tebing yang membentuk wajah manusia, Si Merah Gila yang sedang memakai kaca mata salah satu sahabatnya yang tewas, tiba-tiba berdebat sendiri dan pergi begitu saja.

Akhirnya, Berdasarkan petunjuk yang diberikan Si Merah Gila sebelum pergi, Galuh dan kawan-kawan memutuskan mencari secara mandiri.

Mereka menyusuri sendiri sungai yang mengalir diantara tebing-tebing tingga Grand Canyon Pangandaran. Airnya yang jernih, namun arusnya yang cukup deras, membuat para pemilik elemen harus memperhitungkan langkahnya dengan hati-hati. Namun ditengah perjalanan, Soma Wisesa seperti mengenali sesuatu.

“Tunggu.. saya pernah melihat wilayah ini melalui cawan asap yang diperlihatkan Candrakara dalam alam pikiran!” ucap Soma Wisesa dengan mata yang berkeliling yakin. Dan benar saja, tak lama, mereka menemukan ciri-ciri yang persis dengan yang digambarkan dalam Kitab Candrakra! sisi tebing dengan tonjolan alami yang membentuk hampir menyerupai wajah manusia!

Galuh berhenti sejenak, menahan napas, lalu menyentuh permukaan kasar tebing tersebut dengan tegang. Namun, sentuhan Galuh ternyata tidak memberikan reaksi apapun, kecuali suasana tebing yang begitu sunyi, diselingi suara gemercik sungai mengalir yang mengikuti alur alaminya.

Soma Wisesa mundur beberapa langkah sambil membuka Kitab Candrakara kembali. “Seharusnya tepat disini!” ucap Soma Wisesa sambil menunjuk tebing menyerupai wajah tersebut dengan tidak mengerti.

“Galuh, karena sekarang yang dicari adalah elemen milikmu, cobalah menyelam sebentar. Siapa tahu ada yang teraktivasi saat kamu berada didekatnya,” pinta Soma Wisesa sambil membolak balikan Kitab Candrakara seakan tidak mengerti. Sayangnya, setelah beberapa lama menyelam, mereka tidak menemukan ada tanda-tanda apapun.

Galuh yang naik kembali ke permukaan, ia segera duduk disamping Adhit yang sepertinya mulai merasa bosan. Adhit menghibur Galuh dengan menyenandungkan lagu yang sering di dendangkan anak-anak Kaum Luhur saat bermain, yang lalu diikuti Galuh untuk menenangkan hatinya yang sedikit lelah.

Namun, saat lirik lagu menyebutkan kata air di dalamnya, tiba-tiba saja permukaan air sungai dibawah tebing ini beriak lemah. Semua terkejut! Galuh sempat terkejut, ia lalu mengulanginya karena ia adalah perwakilan dari elemen air.

Tiba–tiba saja, permukaan air yang tadinya hanya riakan lemah, kini mulai bergerak liar. Memunculkan gelombang air yang berputar seakan mengikuti hentakan dari intonasi lagu yang tengah Galuh nyanyikan. Tak lama kemudian, naiklah cermin berbahan air dari gelombang tersebut, yang lalu melayang di atas permukaan sungai.

“Cermin Kembar!” ucap mereka semua bersamaan. Mereka baru menyadari mengapa dikatakan cermin kembar. Karena, cermin air tersebut jadi tampak kembar bersama bayangannya yang terpantul dari permukaan sungai yang tiba-tiba sudah kembali tenang.

Karena mewakili elemen air, maka Galuh masuk kedalam cermin air tersebut terlebih dahulu. Setelah disusul para pemilik elemen lainnya, cermin air tersebut kembali tenggelam ke dalam Sungai. Menyisakan permukaan sungai yang kembali tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi apapun hari itu.

Begitu semuanya sudah masuk kedalam cermin air, mereka kini dibuat terkejut luar biasa!  

Didalam cermin air yang mereka masuki, ternyata tersembunyi danau kecil indah, yang tidak pernah mereka lihat seperti ini sebelumnya. Gemerlap bebatuan kristal aneka warna, berpendar dalam kedalaman danau jernih dengan kemilau memikat. Ikan–ikan kecil keperakan dengan bentuk dan pendaran aneka warna menarik, berenang berkelompok perwarna, sehingga ketika antar kelompok ini saling bertemu, mereka menciptakan harmoni warna yang menciptakan keindahan mahakarya visual yang sangat luar biasa.

“Saya semakin terkesima dengan kegilaan tingkat energi yang dimiliki Guru Candrakara, kita beberapa kali diperlihatkan ruang dimensi yang ia buat. Mulai dari kalung segel tempat Soma Wisesa bernaung dan Istana Tujuh Pintu. Lalu kini, ruang dimensi yang ia pergunakan untuk menyimpan pecahan batu Hyang Sawarga?” ucap Adhit dengan pandangan berkeliling takjub luar biasa.

“Benar sekali, Guru Candrakara bukan hanya membuat sebuah ruang rahasia semata, melainkan sebuah ruang dimensi yang dipenuhi misteri dengan kedalaman yang begitu indah luar biasa.” Sambung Gada Sangkara yang diangguki juga oleh Galuh dan Ragadewa.

“Semua ini terbentuk, bukan hanya berasal dari tingkat energinya saja yang gila, melainkan juga karena Candrakara sendiri yang sering dipenuhi ide tidak waras,” ucap Soma Wisesa sambil terkekeh senang. Dari cara seringnya ia menertawakan perilaku Guru Cadrakara, Soma terlihat terbiasa memaklumi polah gila Guru Candrakra di masa lalu, itu sebabnya semua yang mendengarnya langsung menggeleng sambil tertawa.

Ditengah tawa, Galuh dan kawan – kawan tersentak, karena tiba-tiba muncul sesuatu dari tengah danau! Sebuah sosok transparan, samar, dengan membentuk perawakan wanita berambut panjang yang muncul secara perlahan.

Ketika sosok tersebut semakin mendekat, kini wajah dan leher miliknya mulai terlihat jelas saat rambut panjangnya yang membuat kamuflase transparan agak sedikit tersibak. Setelah itu, saat keseluruhan wajahnya mulai terlihat, Galuh dan kawan-kawan langsung tersentak akan wajah yang begitu indah, namun sekaligus dipenuhi misteri yang memikat.

Diatas hidung dan bibir mungil sosok tersebut, terdapat sepasang bola mata ungu kebiruan bercorak nebula menatap mereka dengan penuh selidik. Saat sosok tersebut menegadahkan kepala untuk melihat Galuh dan Kawan-kawan lebih jelas, saat itu pula terlihatlah pinggiran dahi dan pelipis sosok ini terbingkai sisik koi berwarna biru keunguan yang begitu indah. Menjadikan sosoknya seperti mustika berharga yang selama ini tersembunyi dalam kedalaman penuh rahasia.

Sedangkan sisanya tertutup oleh rambutnya yang semi transparan, yang semakin kebawah, semakin transparan, lalu menyatu dengan air danau.

Namun sayangnya ia tidak ramah! Bila saat di Istana Tujuh Pintu mereka disambut teka-teki terlebih dahulu, ditempat ini mereka malah langsung disambut serangan air yang dilontarkan oleh Dewi air ini, untung mereka berhasil menghindarinya.

“Dewi Air ini sangat tidak ramah!” Ucap Adhit yang hampir terjerat simpul air yang dibuat Dewi air tersebut, untungnya segera  tertangkis segel hologram dari Kalung Sura Suradana miliknya.

Karena mereka semua berhasil melewati semua rintangan, Dewi air tersebut mulai menampakan amarahnya. Dengan wajah murka, ia mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi sisik ikan koi ungu kebiruan, seakan tengah mengangkat sebuah benda yang amat sangat berat.

Tiba-tiba, dari dalam danau muncul bongkahan-bongkahan cermin air yang amat besar, lalu terbang dan mendarat dan mengelilingi para pemilik elemen. Permukaannya yang berkilau, memantulkan seluruh masa lalu para pemilik elemen, dan disana pula lah dibuka seluruh trauma dan ketakutan terbesar yang menghantui mereka selama ini.

Dimulai Adhit, saat kawan–kawan satu Band nya yang tengah ditelan Dwasa Si Mahluk Asap, lalu tewas tergerus oleh para Monster Astamaya. Ragadewa saat ayah ibunya ditewaskan kakeknya sendiri, lalu kakeknya akhirnya menemukannya, menjadikannya semacam boneka marionette, lalu memanfaatkan kekuatannya untuk membantu Kaum Hitam. Gada Sangkara ketika melihat ibunya melarikan diri dengan petinggi Kaum Hitam, Ayahnya yang akhirnya sempat diracuni oleh Kaum Hitam, sehingga membuat Astamaya tanpa perlindungan. Sedangkan Soma Wisesa, ia ternyata takut dengan dirinya yang ditelan oleh kekuatannya sendiri.

Dewi Air terkejut dengan visualisasi yang di tampilkan cermin-cermin air yang ia buat, lalu memandang para pemilik elemen dengan heran.

 

Namun, sang Dewi air lebih terkejut luar biasa saat melihat ketakutan Galuh, yaitu melihat para Ajag keluar dari tubuhnya, mengacaukan Astamaya, dan bergabung dengan Kaum Hitam yang lalu menghancurkan dunia Manusia.

Tiba – tiba sang Dewi air tunduk seraya berkata, “panjang umur sang pemimpin besar, maafkan bila saya tidak mengenali anda dengan cepat,” sontak mereka semua langsung terperanjat.

“Anda mengenali saya?” Tanya Galuh heran.

“Anda adalah seseorang yang selalu disebutkan Guru Candrakara setiap waktu,” ucap Dewi Air tersebut dengan kepala yang masih menunduk.

“Bangunlah, jangan seperti ini,” ucap Galuh sambil mengangkat Dewi air tersebut bangun. Galuh terkejut! Dari tampak dekat, Dewi air ini memiliki kecantikan luar biasa yang begitu unik.

“Nama saya Atiyasa,” ucap Dewi Air itu memperkenalkan diri.

“Dulu, saya adalah salah satu murid Guru Candrakara. Karena kesetiaan saya dan ilmu manipulasi yang saya miliki, maka Guru Candrakara meminta saya untuk menjadi pelindung Sang Air, salah satu retakan batu Hyang Sawarga” ucap Dewi Air tersebut sambil memperlihatkan gambaran dengan energinya. Maka terlihatlah, Atiyasa sang Dewi Air yang dimasukan kedalam dunia Ruh oleh Guru Candrakra.

“Lalu disinilah saya, dunia penuh kekosongan,” ucap Atisaya sang Dewi Air sambil memperlihatkan sekeliling, “Untuk menjaga hingga seseorang yang telah diramalkan membawa kembali Sang Air ke Istana” Lanjut Atiyasa sang Dewi air tersebut dengan ramah.

“Kamu tadi langsung menyerang kami, apa kamu tidak mengenal Soma Wisesa? Dia adalah sahabat dari Guru Candrakara,” Tanya Adhit heran. Namun Atiyasa sang Dewi Air menggeleng. “Saya hanya mengenal namanya saja, karena Guru Candrakara pernah membicarakannya beberapa kali, namun saya tidak pernah bertemu dengannya,” ucap Atiyasa sang Dewi Air memastikan.

“Tentu saja ia tidak mengenali wajah saya, saat itu saya masih menjadi buronan istana. Saya bertemu dengan Candrakara untuk merumuskan Kitab Candrakra hanya melalui alam pikiran saja.” Jelas Soma Wisesa yang kini membuat semuanya mengerti, mengapa saat pertama kali masuk, Atisaya sang Dewi Air tidak mengenali Soma Wisesa sama sekali.

Setelah itu, Atiyasa, Sang Dewi Air mengangkat sesuatu dari kedalaman danau. Batu bening berkilau yang tertutup oleh segel kristal.  

“Itu Sang Air! Salah satu retakan Batu Hyang Sawarga!” ucap Soma Wisesa begitu antusias.

Semua kini menatap Sang Air yang selama ini mereka cari. Sang Air tidak seperti bebatuan bening berkilau seperti yang mereka bayangakan selama ini. Riak dan gelombang kecil air yang muncul dipermukaan batu, membuat Sang Air memiliki denyut kehidupan sendiri! DIdalamnya sendiri, ada gaung samar dari harmoni air yang begitu menenangkan. Membuat Galuh dan kawan-kawan tertegun sejenak oleh keindahan yang tidak terbantahkan.

 

 

Begitu tersadar, Adhit segera mengangkat Kalung Sura Suradana miliknya yang sudah tercengkram bandul Istana Tujuh Pintu.

Tak lama, munculah bunga melati transparan yang begitu besar, bermekaran perlahan. Dari sanalah Nawang Wulan muncul dalam balutan energi sakral yang begitu murni. Kain Batik Sutra yang melekat sempurna pada tubuh rampingnya yang putih semampai, membuat Soma Wisesa sampai tidak berkedip melihat Nawang Wulan muncul dengan segala keindahannya yang begitu sakral.

Saat jemarinya menyentuh segel yang melingkupi Sang Air dengan lembut, tiba-tiba, “Blash!” segel tersebut memencar menjadi serpihan pasir kristal, yang lalu lenyap terbawa angin. Setelah itu barulah Sang Air bisa tersentuh oleh Nawang Wulan.

Kecantikan Nawang yang begitu sakral dan murni, berpadu dengan jemarinya  memegang Sang Air yang diliputi segala keindahannya, melahirkan sebuah harmoni yang menggetarkan hingga serat-serat sukma. Jangankan para pemilik elemen lain, Soma Wisesa sendiri yang biasanya begitu dingin dan tak tergoyahkan, kini menatap kekasihnya dengan pandangan yang tidak berkedip sama sekali.

Begitu misi mereka selesai, mereka semua keluar dari dunia cermin kembar, tentu saja beserta Atisaya sang Dewi Air yang sudah menjadi kaum Astamaya pada umumnya.

Atisaya menangis bahagia ketika menjadi sosok yang ia rindukan kembali, air matanya mengalir deras karena sekarang bisa melihat lagi matahari dan merasakan keindahan alam yang selalu ia cintai. Atisaya bahkan menyentuh rerumputan dengan penuh suka cita seolah memastikan bahwa semua yang terjadi adalah nyata.

Seiring dengan sirnanya semua sisik dari tubuhnya, Atisaya menjelma menjadi perempuan manis yang dinaungi sepasang mata bersorot cerdas. Namun, kebahagiaanya seketika sirna ketika Atisaya diberitahu bahwa Guru Candrakara yang sangat ia hormati, telah lama wafat.

Atisaya tertegun agak lama, bulir air mata menetes kembali yang kali ini disertai sorot mata yang begitu sakit dan perih. Namun tangisnya mereda, Atisaya berkata bahwa ia tidak jadi kembali ke Astamaya.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Galuh heran.

“Dalam ruang segel, saya tidak tahu bila seribu tahun telah berlalu, jadi bila saya pulangpun, tidak akan ada siapapun lagi yang saya kenali disana, termasuk Guru Candrakara yang paling saya hormati.” Jawab Atisaya sedikit sedih.

“Jadi, yang saya bisa lakukan saat ini adalah, meneruskan misi yang selama ini Guru Candrakara usahakan, yaitu menjaga wilayah Manusia dari ancaman Kaum Hitam.” Ucap Atisaya lagi dengan nada bijak, yang lalu disambut pelukan Galuh untuk sebuah ucapan empati yang sangat dalam.

“Tugas saya telah selesai. Jika suatu hari kalian kembali ke tempat ini, lalu membutuhkan pertolongan, tepuklah permukaan sungai disekitar wilayah Grand Canyon, sambil menyanyikan lagu air yang kalian pakai untuk membuka segel cermin kembar. Maka dengan segera, saya akan datang membantu. ” Ucap Atisaya bijak. Setelah mengucapkan perpisahan, Atisayapun melebur dan menyatu bersama aliranan sungai Grand Canyon.

Setelah Galuh memberikan Sang Air untuk disimpan dalam kalung segel tempat dimana Soma Wisesa tersegel, tiba-tiba saja Kitab Candrakara berpendar, yang sontak membuat Soma Wisesa segera membuka Kitab Candrakra.

Saat Kitab Candrakara terbuka, saat itu pula lembar yang berisi petunjuk menuju retakan batu Hyang Sawarga selanjutnya berubah. Yang tadinya hanya berupa gambar motif tidak jelas, kini munculah banyak tulisan dan petunjuk disana.

“Kita telah menemukan petunjuk selanjutnya untuk menemukan sang Api, kita berangkat sekarang!” ucap Soma Wisesa senang.

- Bersambung - Desya Saghir - 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir