Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 30 – Memetakan letak Sang Api | By: Desya Saghir

Di tengah perjalanan mencari Sang Api, pecahan dari batu dari Hyang Sawarga. Mereka malah tidak sengaja bertemu dengan Jinn Si Kelinci, yang tengah mengendap sambil membawa sekotak penuh botol ramuan pesanan Kakek Addar.  

“Jinn!” Teriak Galuh dan Adhit kaget bersamaan, mereka berdua tampak bahagia ketika menemukan Jinn Si Kelinci ditengah semua kelelahan yang terjadi.

“Aah.. Nona Galuh! Adhit! Dan semuanya, senang sekali bisa bertemu anda semua disini!” Ucap Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak senang.

Setelah saling memeluk, Jinn Si Kelinci bercerita banyak hal, termasuk kabar bahwa Taphilli yang telah sampai dengan selamat. Bahkan kabarnya, Taphilli menjadi salah satu kandidat yang membantu paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati. Ia menjadi orang penting dalam lingkaran sesepuh Kaum Luhur, dalam membuka kecurangan para Bangsawan licik melalui ramuan-ramuan miliknya.

“Rasakan para Bangsawan licik! kalian semakin mati kutu sekarang!” ucap Galuh puas. Semua yang mendengar umpatan Galuh, langsung ikut tertawa, bahkan para Ajag malah sangat terpingkal.

“Ah iya Jinn, menurut penuturan Soma Wisesa, untuk menemukan sang Api, kami harus bertemu dengan seseorang dimasa lalu. Lalu setelah bertemu, saya harus memperlihatkan kujang yang selama ini saya pakai bertarung. Apa ada yang kamu ketahui tentang kata dari, kembali ke masa lalu Jinn?” Tanya Galuh sambil memperlihatkan kujang yang selalu ia pakai bertarung selama ini.

Jinn Si Kelinci menerima Kujang yang perlihatkan Galuh, lalu menelitinya dengan penuh rasa ingin tahu. Tanpa sengaja, Jinn Si Kelinci menyenggol salah satu ornament yang menjadikan kujang tersebut terbagi dua. Mata Jinn Si Kelinci membulat, karena akhirnya ia mengerti, mengapa saat bertarung, Galuh seperti mengambil satu kujang, tetapi tiba-tiba saat dilesatkan, akan ada sepasang kujang yang merobek serentetan lawan dengan sangat brutal.

“Benar! apa maksudnya bertemu seseorang di masa lalu? Jangan-jangan itu hanya sebuah kata istilah? Karena tidak mungkin kita bisa kembali ke masa lalu, itu mustahil!” tanya Adhit sama bingungnya.

“Ah! Memang ada yang bisa membantu kita!” jawaban Jinn Si Kelinci membuat semua menoleh terkejut, terutama Soma Wisesa!

Malam itu, para pemilik elemen diajak Jinn Si Kelinci menyelinap pada sebuah galeri barang antik yang super eksklusif. Begitu melangkah masuk, mereka langsung terperangah dengan ratusan koleksi barang antik unik kualitas terbaik. Terutama Gada Sangkara, sebagai penggemar berat barang antik, jelas ia yang paling terkesima luar biasa.

Saat tengah terpukau, tiba-tiba mereka dipergoki seorang pria berusia tiga puluhan, yang langsung menghajar mereka dengan berbagai serangan energi tajam. Bukan hanya itu, bila tidak ditarik oleh Adhit, tentu Galuh sudah hangus tersambar energi yang keluar secara membabi buta.

 

“Jinn?” ucap pria tersebut heran saat mendapati Jinn Si Kelinci menengahi disana. “Ah, Cahya!” ucap Jinn Si Kelinci senang akhirnya dikenali.

“Perkenalkan, ia adalah Cahya Natraprawira. Di dunia Manusia, ia menyamar sebagai pemilik galeri antik kelas atas. Namun sebenarnya, ia adalah Kaum Astamaya yang berkekuatan Istimewa.” Ucap Jinn Si Kelinci,  senang. Sontak perkataan Jinn Si Kelinci, membuat pria tersebut menoleh terkejut! Karena indetitas yang selama ini ia rahasiakan dengan sangat rapat, tiba-tiba dibongkar begitu saja.

“Jangan khawatir Cahya, dihadapan kita adalah Nona Galuh, putri tunggal Maharaja Mahesa. Dan ia sekarang sedang membutuhkan bantuan dirimu.” Pria yang disebut Cahya semakin terkejut.

“Putri tunggal Maharaja Mahesa Agung? Bukankah Nona Galuh telah lama mangkat?” ucapnya hampir tidak percaya. Namun ketika Cahya mendengar NaRaja menggeram pelan, ia terkejut dan langsung menunduk hormat.

“Nona Galuh, ternyata anda masih hidup.. maafkan saya tidak mengenali anda,” ucap pria yang disebut Cahya tersebut dengan langsung menunduk hormat. Setelah itu, mereka semua dipersilahkan duduk di sofa ruang tengah, yang dipenuhi barang antik yang jauh lebih berkelas, lalu Cahya Natraprawira pun mulai bercerita.

“Saya memutuskan lari ke dunia Manusia, karena Kaum Hitam menginginkan hal ini dari saya,” ucap Cahya sambil membuka tabir pada salah satu benda antik.

Semua langsung terkesima, ketika muncul semburat cahaya berkilau keluar dari barang antik yang tengah Cahya pegang. Karena bukan sekedar cahaya biasa, melainkan pantulan kilasan waktu yang begitu hidup.

Setelah itu, Cahya menggeser-geser pantulan waktu tersebut. Cahya bukan hanya bisa membuka tabir menuju masa lalu, melainkan juga ia dapat memilih masa yang akan ditembusnya. Dari mulai kapan barang tersebut awal dibuat, hingga menuju masa sekarang. Meskipun hal tersebut hanya dapat dilakukan  dalam waktu yang cukup terbatas, bagi mereka semua, ini sangat cukup untuk memenuhi syarat, hal yang dikatakan dalam Kitab Candrakara.

“Berarti Cahya sama dengan Ragadewa dan Kahiyang Raga, dicari karena akan dijadikan pengganti dari salah satu Tetua Hitam yang dulu tewas!” tebak Adhit yang segera di iyakan oleh para pemilik elemen lain.

“Tentu saja ia akan sangat dicari, energinya hampir menyerupai Si Merah Gila! Tetapi Cahya bisa masuk ke dalam waktu yang sesungguhnya, dan itu tentu membuat Kaum Hitam akan mempertaruhkan apapun sampai mereka setengah gila!” ucap Gada Sangkara dengan tidak kalah takjub. Semuapun mengangguk setuju lagi.

Setelah itu, Jinn Si Kelinci segera memberikan kujang yang dipegang Galuh. Begitu Cahya menerima kujang tersebut sepenuhnya, tanpa menunggu lama, dengan seketika mereka melihat tabir masa dimana kujang tersebut masih awal dibuat. Cahya menggeser-geser masa lebih kedepan lagi, hingga mereka menemukan masa yang diperkirakan seperti yang tertulis dalam Kitab Candrakara.

Ketika Cahya membuka tabir dari masa yang telah terpilih, mereka merasakan udara disekitar mereka mulai bergetar halus. Tak lama seberkas cahaya keemasan muncul, yang lalu menyelubungi mereka hingga tertelan cahaya.

Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba saja mereka sudah di dalam sebuah tempat yang begitu asing. Tempat yang dipenuhi dengan rak-rak buku jati kokoh lawas, dengan ketinggian yang bahkan sampai menyentuh langit-langit tinggi di ruangan besar tersebut.

“Kita di Astamaya masa lalu!” tebak Ragadewa sambil memandang sekeliling dengan takjub. “Benar, dulu pemandangan ini hanya bisa saya lihat dari gambaran yang dibuat oleh energi para guru kami. Tetapi sekarang, saya benar-benar menginjakan kaki didalamnya, ini sangat luar biasa!” ucap Gada Sangkara sambil tersenyum senang. Gada Sangkara bahkan menyentuh beberapa barang yang telah menjadi barang kuno antik dimasa Gada hidup.

Semua kini berjalan menuju arah dalam, tetapi Soma Wisesa malah diam terpaku. Dengan mata nanar, sepertinya Soma Wisesa mulai menyadari sesuatu.

Tiba-tiba seseorang masuk dari salah satu pintu sambil mengambil beberapa buku besar dengan energinya. Belum hilang rasa terkejut mereka, Soma Wisesa tiba-tiba berlari, yang lalu memeluk orang tersebut hingga buku yang hampir dipegang orang tersebut berhamburan.

Soma Wisesa menangis sambil terus meminta maaf. Ia tersedu, karena setelah tersegel, ia jadi tidak bisa melakukan apa-apa saat pria yang ia peluk terbunuh. Pria tersebut agak terkejut ketika menyadari, “Soma Wisesa?” tanya pria tersebut memastikan.

Setelah mengetahui bahwa yang menangis dipelukannya adalah Soma Wisesa, pria itu tersenyum dengan dalam. Bukan salahmu Soma, ini satu-satunya jalan agar misi saya berhasil, dan ini adalah jalan yang saya pilih sendiri!” Ucap pria itu bijak.

Saat Soma Wisesa selesai memeluk, para pemilik elemen baru mengetahui, bahwa orang yang harus mereka temui dimasa lalu adalah Guru Candrakara sendiri!

Guru Candrakara lalu memandang para pemilik elemen dengan pandangan lega. “Ternyata semua usaha yang telah saya lakukan selama ini tidak sia-sia, sama sekali tidak sia-sia.. hahahaha….!” ucap Guru Candrakara sambil tertawa senang.

Guru Candrakara tidak seseram dari apa yang telah diceritakan. Ia tidak tampan, tetapi memiliki wajah lembut dan dipenuhi garis tawa yang kharismatik. Intonasi yang dimiliki olehnya juga benar-benar membuat nyaman telinga, terutama bagi kaum hawa! Pantas saja Atisaya, Dewi Air yang menjaga Sang Air, saat mendengar bahwa Guru Candrakara telah lama wafat, ia menangis begitu histeris.

Bukan hanya Galuh yang terkesima, melainkan ketujuh Dewi yang ada didalam Istana Tujuh Pintu! Begitu Guru Candrakara tertawa, tiba-tiba saja para Dewi keluar dari Istana Tujuh Pintu dan duduk di segala penjuru ruangan, lalu mereka melambai pada Guru Candrakara dengan pandangan lekat yang penuh terimakasih.

Kalian? Aah… padahal dimasa ini, baru kemarin kalian masuk ke dalam segel Istana Tujuh Pintu. Berapa lama kalian menunggu?” tanya Guru Candrakara terkejut.

“Seribu tahun Candrakara.. seribu tahun..” ucap Dewi tertua sambil tersenyum. Garis senyum lembut Dewi tertua, benar-benar melemahkan hati pria manapun yang berani menatapnya dengan lama.

Guru Candrakara langsung tertawa sambil menepuk keningnya sendiri. “Hahahaha.. tepat seperti ramalan saya, setidaknya ini sudah setengah jalan, saya mulai agak lega sekarang..” ucap Guru Candrakra dengan raut bahagia.

Lalu Guru Candrakara mendekati Nawang Wulan yang duduk disamping Soma Wisesa, setelah itu ia tempelkan tangan Nawang Wulan diatas tangan Soma Wisesa.

“Saya seorang yang menepati janji bukan?” ucap Guru Candrakara pada Nawang dengan lembut, yang setelah itu ia menoleh pada Soma Wisesa dengan tersenyum lega. Sambil memegang erat tangan Nawang Wulan, Soma Wisesa menatap Guru Candrakara dengan tatapan penuh rasa terimakasih.

Tanpa menunggu lama, dengan sigap Guru Candrakara membuka sandi kujang menggunakan darahnya sendiri. Semua begitu terkesima saat melihat darah Guru Candrakara menyentuh kujang tersebut, tiba-tiba darah tersebut berubah menjadi beberapa aksara Sunda Kuno yang berputar disekitar Kujang.

Persis seperti yang dilakukan Taphilli, Guru Candrakra menyusun ulang aksara sunda kuno tersebut, menjadi sebuah salah satu kata sakral dalam literasi Astamaya, dan “Blash!” sebuah sandi kordinat terpecahkan.

“Aargh.. ternyata benar dugaan saya! Anda membuat kujang ini sebagai peta menuju sang Api, selain agar siapapun yang datang bisa terfilter dengan mudah, sekaligus juga, anda bisa melihat sendiri perkembangan jalur yang selama ini anda recanakan untuk dimasa depan!” ucap Adhit hampir berteriak senang.

“Semuanya terencana dengan detail luar biasa!, Ini benar-benar sangat gilaa!” Ucap Adhit lagi sambil memegang kepalanya, karena tidak dapat menahan kekaguman pemikiran Guru Candrakra.

Lalu Guru Candrakara tertawa sambil memandang Adhit dengan pandangan takjub. “Hahaha.. tebakanmu benar sekali Adhitya! ” Ucap Guru Candrakara sambil tertawa senang.

“Kamu memanggil dia Adhitya? Kamu tahu namanya? Apa masa mereka adalah bagian dari rencana kamu Candrakara? Dulu kamu bilang, kamu tidak pernah tahu ramalan ini akan datang dimasa yang mana!” Tanya Soma Wisesa terkejut.

“Adhitya adalah bagian dari alur rencana saya,” ucapan Guru Candrakara membuat semuanya tersentak kaget. “Saya membutuhkan seseorang seperti saya, untuk hadir menemani kamu dalam menterjemahkan kitab ini.” Jelas Guru Candrakara dengan santai.

“Maksudmu Candrakara?” tanya Soma Wisesa tidak mengerti.

“Saya merahasiakan masa ini akan terjadi kapan, karena ada seseorang yang selalu mengintip lewat pemikiran kita Soma.” jelas Guru Candrakra yang kini dengan nada lebih dalam. Semua memandang Guru Candrakara dengan penuh tanya, termasuk Soma Wisesa.

Sambil memberikan gambaran menggunakan energinya, Guru Candrakra berkata. “Dulu, sebelum saya bertemu dengan kamu Soma, saya adalah salah satu dari tiga serangkai yang berguru pada ayahmu “Terang Guru Candrakra pada Soma Wisesa. Melihat keterkejutan wajah Soma, bisa dipastikan bahwa ia baru mendengar hal ini.

“Saya, Rakha Sadeli, dan Aria Wiraja, untuk Aria mungkin kalian mengenalnya di masa kalian sebagai Saguri.” Ucapan Guru Candrakara sontak membuat semuanya terkejut. “Saguri?.. jadi ia…”ucap Galuh dengan terkejut luar biasa.

“Benar, Saguri adalah seseorang yang lebih tua dari yang kalian perkirakan. Dia sepertinya menggunakan ilmu tua terlarang, sehingga bisa hidup sampai di masa kalian,” ucap Guru Candrakara membenarkan.

Saya berbakat dalam Navigator Takdir, seperti yang kalian lihat sekarang bagaimana Kitab Candrakara bekerja, itu adalah pekerjaan Navigator Takdir. Rakha Sadeli, Sejak masa janin, tubuhnya mempunyai bakat alami dalam menghasilkan energi hitam yang luar biasa besar. Lalu Aria Wiraja atau Saguri, ia berbakat dalam lintas ilmu pengetahuan yang belum ada saat itu. Dalam dunia Manusia, Saguri bisa dikatakan sebagai ilmuan dalam teknologi Astamaya.” Ucap Guru Candrakara sambil menoleh pada Adhit.

“Kebiasaan saya dalam mengeluarkan uneg-uneg secara rasional, ternyata justru menyebabkan kesalahan yang sangat fatal.” Ucap Guru Candrakara dengan raut sangat menyesal.

“Salah satu dari kami, Saguri, justru menanggapi keluhan saya dengan serius. Bahkan, membuat dia malah berpikir, perbudakan adalah satu-satunya cara dalam mengendalikan Manusia.” Ucap Guru Candrakara lagi yang kali ini sambil memperlihatkan sebuah gambaran dengan energinya.

“Tadinya saya pikir, yang ada pada Saguri hanya berupa pemikiran saja. Namun pada suatu ketika, setelah Guru kami mangkat, ada tindakan Saguri yang membuat saya agak curiga. Saguri sering sekali menghilang, lalu tak sengaja bertemu di tempat-tempat terlarang. Bahkan, dalam labnya sering ditemukan bahan-bahan yang jelas-jelas dilarang pihak Istana. Karena Rakha Sadeli lebih dekat Saguri, maka saya meminta Rakha Sadeli untuk menyelidiki apa yang sedang direncanakan teman kami tersebut saat itu.” Ucap Guru Candrakara yang kini rautnya sedikit berubah.

“Namun Rakha Sadeli malah tewas di tangan Saguri, saat diketahui bahwa Saguri sedang menggodok ribuan Ruh manusia jahat yang kelak kalian akan mengenalnya sebagai para Ajag. Setelah mendapat informasi terakhir dari Rakha Sadeli, Saya segera turun tangan untuk menghalau segala rencana gila Saguri,” Semua sontak langsung tercengang. “Jadi Saguri adalah peramu kelahiran para Ajag?” ucap Adhit yang dibarengi keterkejutan dari yang lainnya.

“Benar sekali, dan Itulah alasan saya mengapa saya begitu mati-matian mengakali agar Kaum Hitam tidak menang. Karena awalnya, pemikiran Saguri berasal dari kesalahan saya dalam berbicara,” ucap Guru Candrakara dengan pandangan sangat menyesal. Wajah Soma Wisesa adalah raut yang paling terkejut dari semuanya, sepertinya dia juga tidak pernah mengetahui tentang hal ini.

“Soma Wisesa, setelah ini saya akan tewas, saya akan sangat menyesal bila sebelumnya tidak mengatakan ini kepadamu,” Soma lalu memandang Guru Candrakara dengan tidak mengerti.

“Soma, kamu tahu mengapa selama ini mengapa saya selalu ada didekatmu?” Tanya Guru Candrakara dengan pandangan menyelidik. Soma Wisesa menganggapinya dengan heran sambil menggeleng tidak tahu, karena yang ia tahu selama ini, mereka berdua bertemu secara kebetulan.

“Karena Rakha Sadeli adalah kakak kandungmu, kakak yang sengaja disembunyikan ayahmu sendiri.” Soma Wisesa memandang Guru Candrakara dengan terkejut, namun Ia masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

“Saat dalam kandungan ibumu, janin Rakha Sadeli menghasilkan energi hitam yang besarnya sangat luar biasa. Tadinya Ayahmu hendak membunuhnya ketika lahir. Namun saat Rakha lahir, ayahmu malah tidak sanggup melakukannya. Ayahmu kemudian menyebarkan berita, bahwa Rakha meninggal beberapa saat setelah lahir. Namun yang terjadi, ayahmu membesarkan Rakha diam-diam, agar menjadi anak hebat yang welas asih. Lalu sepuluh tahun kemudian, ibu kamu mengandung lagi, dan kamu lahir Soma”

Guru Candrakra menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “Rakha benar-benar tumbuh menjadi pemuda hebat yang penuh welas asih. Rakha tahu ia mempunyai adik dan ibu, namun ia tetap patuh terhadap permintaan ayahnya untuk hidup dalam bayang-bayang. Rakha juga adalah seseorang yang selalu ada dibelakangmu untuk selalu menyelamatkanmu diam-diam.” Ucapan Guru Candrakara membuat Soma Wisesa kini agak mengerti, memang dulu ada beberapa hal yang membuat ia selamat dengan cara yang tidak ia pahami.

“Sayangnya karena kesalahan saya, ia malah tewas ditangan Saguri! “ ucap Guru Candrakara penuh sesal.”

“Maka setelah kematian Rakha Sadeli, saya menggantikan dia untuk selalu ada ketika kamu sangat membutuhkannya.“ Ucapan Guru Candrakra kini membuat Soma Wisesa mulai mengerti, mengapa sebelum mengenal Guru Candrakara, semua kesalahan fatal akibat rasa ingin tahunya yang berlebihan, tiba-tiba selalu beres begitu saja. Ternyata, itu adalah perbuatan kakak yang tidak pernah ia ketahui sejak lahir.

“Saya tidak marah sama sekali Candrakara, karena bila kamu tidak meminta kakak saya untuk menyelidiki hal yang dilakukan Saguri, tentu saat ini Astamaya dan dunia Manusia sudah diporak porendakan sejak lama,” jawab Soma Wisesa bijak. Sontak hal tersebut membuat wajah Guru Candrakra lebih tenang.

“Pola yang sangat luar biasa, Anda bahkan merencanakan tentang hal ini juga? Selain dari pembukaan segel kujang secara langsung agar anda bisa mengamati perkembangan perjalanan kami, hari ini juga anda rencanakan untuk membicarakan tentang segala misteri pembuatan Kitab Candrakara?.” ucapan refleks Adhit, membuat Guru Candrakara kembali tertawa.

“Hahaha… sekali lagi benar sekali Adhitya. Dulu sempat ada sedikit sesal, karena sibuk mempersiapkan alur untuk Kitab Candrakara, saya jadi tidak sempat menikah untuk mempunyai keturunan. Tapi kini, saya merasa lega. Ada seseorang yang bukan keturunan saya secara biologis, melainkan warisan ingatan yang tanamkan lewat jejak genetika, menjadikan memiliki serat-serat pemikiran seperti saya hahahaa… ” ucap Guru Candrakara dengan raut kembali lega.

“Aah.. tiba-tiba saya penasaran, apakah ketika kami mencari cermin kembar, tempat dimana Sang Air berada. Saya yang tiba-tiba menyanyikan lagu anak-anak Astamaya, itu adalah bagian dari sematan memori anda?” tanya Adhit begitu penasaran. “Begitulah…” ucap Guru Candrakara sambil tersenyum santai.

“Kamu benar-benar orang gila Candrakara!” ucap Soma Wisesa terkejut yang lalu tertawa. Mendengar hal tersebut, Guru Candrakara refleks ikut tertawa. “Setelah seribu tahun terkurung, tabiat kamu sama sekali tidak berubah Soma Hahahaha…” ucap Guru Candrakra sambil tertawa senang, lalu mereka malah tertawa bersama.

Setelah waktunya hampir habis, saat para Dewi telah kembali kedalam Istana Tujuh Pintu, Soma Wisesa memeluk kembali Guru Candrakara dengan sangat erat. Begitu selesai, tiba-tiba saja mereka semua kembali pada masa yang semula.

Saat Cahya mendengar apa yang terjadi dengan kondisi Istana sekarang, dimana paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati banyak dipersulit oleh para Bangsawan licik. Cahya Natrapawira malah memilih ikut bersama Jinn Si Kelinci menuju Istana di Astamaya. Katanya, disana ia akan ikut membantu Maharaja Ranji Raspati, dengan membuka segala kebenaran yang bisa digali dari memori semua barang yang terdapat di ruang Pusaka Istana.

“Setelah disana ada Taphilli, sekarang Cahya Nataprawira juga akan ikut membantu, rasakan itu para Bangsawan Licik!” ucapan spontan Galuh membuat semua tertawa sambil menggeleng. Kecuali Soma Wisesa yang masih terbawa suasana tadi.

Setelah berpisah dengan Jinn Si Kelinci dan Cahya Nataptawira, Soma Wisesa tiba-tiba menangis tidak berhenti. Hilang sudah citra pemuda bengal yang sulit di pahami. Bahkan Nawang Wulan harus keluar dari Istana Tujuh Pintu lagi untuk menangkan Soma Wisesa.

Begitu tangisnya mereda, Soma Wisesa baru berkata, “maafkan saya, beban rasa bersalah tentang kematian Candrakara telah menggantung di hati dan jantung saya selama seribu tahun. Ini selalu membuat sesak setiap mengingat bahwa saya tidak bisa melakukan apa-apa saat Candrakra terbunuh. Namun kini, setelah Candrakra mengatakan bahwa itu adalah memang rencananya, saya merasa amat sangat lega.. hingga akhirnya menangis tidak terkendali,” ucap Soma Wisesa dengan sorot mata yang lebih lega. Bahkan, kemurungan yang selalu menggantung di wajahnya, kini telah sirna.

Setelah situasi mulai tenang, akhirnya Nawang kembali masuk kedalam Istana Tujuh Pintu, dan Soma Wisesa juga kembali pada segel kalung yang dipakai Galuh.

Namun begitu mereka keluar dari Gedung galeri antik milik Cahya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan satu bayangan besar!

- Bersambung - Desya Saghir -

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir