Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 30 – Memetakan letak Sang Api | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di tengah perjalanan mencari Sang Api,
pecahan dari batu dari Hyang Sawarga. Mereka malah tidak sengaja bertemu dengan
Jinn Si Kelinci, yang tengah mengendap sambil membawa sekotak penuh botol
ramuan pesanan Kakek Addar.
“Jinn!” Teriak Galuh dan Adhit kaget bersamaan,
mereka berdua tampak bahagia ketika menemukan Jinn Si Kelinci ditengah semua
kelelahan yang terjadi.
“Aah.. Nona Galuh! Adhit! Dan semuanya,
senang sekali bisa bertemu anda semua disini!” Ucap Jinn Si Kelinci sambil berjingkrak
senang.
Setelah saling memeluk, Jinn Si
Kelinci bercerita banyak hal, termasuk kabar bahwa Taphilli yang telah sampai
dengan selamat. Bahkan kabarnya, Taphilli menjadi salah satu kandidat yang
membantu paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati. Ia menjadi orang penting dalam lingkaran
sesepuh Kaum Luhur, dalam membuka kecurangan para Bangsawan licik melalui
ramuan-ramuan miliknya.
“Rasakan para Bangsawan licik! kalian semakin
mati kutu sekarang!” ucap Galuh puas. Semua yang mendengar umpatan Galuh,
langsung ikut tertawa, bahkan para Ajag malah sangat terpingkal.
“Ah iya Jinn, menurut penuturan Soma
Wisesa, untuk menemukan sang Api, kami harus bertemu dengan seseorang dimasa
lalu. Lalu setelah bertemu, saya harus memperlihatkan kujang yang selama ini saya
pakai bertarung. Apa ada yang kamu ketahui tentang kata dari, kembali ke masa
lalu Jinn?” Tanya Galuh sambil memperlihatkan kujang yang selalu ia pakai bertarung
selama ini.
Jinn Si Kelinci menerima Kujang yang perlihatkan
Galuh, lalu menelitinya dengan penuh rasa ingin tahu. Tanpa sengaja, Jinn Si
Kelinci menyenggol salah satu ornament yang menjadikan kujang tersebut terbagi
dua. Mata Jinn Si Kelinci membulat, karena akhirnya ia mengerti, mengapa saat
bertarung, Galuh seperti mengambil satu kujang, tetapi tiba-tiba saat
dilesatkan, akan ada sepasang kujang yang merobek serentetan lawan dengan sangat
brutal.
“Benar! apa maksudnya bertemu
seseorang di masa lalu? Jangan-jangan itu hanya sebuah kata istilah? Karena tidak
mungkin kita bisa kembali ke masa lalu, itu mustahil!” tanya Adhit sama bingungnya.
“Ah! Memang ada yang bisa membantu
kita!” jawaban Jinn Si Kelinci membuat semua menoleh terkejut, terutama Soma
Wisesa!
Malam itu, para pemilik elemen diajak Jinn
Si Kelinci menyelinap pada sebuah galeri barang antik yang super eksklusif. Begitu
melangkah masuk, mereka langsung terperangah dengan ratusan koleksi barang antik
unik kualitas terbaik. Terutama Gada Sangkara, sebagai penggemar berat barang
antik, jelas ia yang paling terkesima luar biasa.
Saat tengah terpukau, tiba-tiba mereka
dipergoki seorang pria berusia tiga puluhan, yang langsung menghajar mereka
dengan berbagai serangan energi tajam. Bukan hanya itu, bila tidak ditarik oleh
Adhit, tentu Galuh sudah hangus tersambar energi yang keluar secara membabi
buta.
“Jinn?” ucap pria tersebut heran saat
mendapati Jinn Si Kelinci menengahi disana. “Ah, Cahya!” ucap Jinn Si Kelinci
senang akhirnya dikenali.
“Perkenalkan, ia adalah Cahya
Natraprawira. Di dunia Manusia, ia menyamar sebagai pemilik galeri antik kelas atas.
Namun sebenarnya, ia adalah Kaum Astamaya yang berkekuatan Istimewa.” Ucap Jinn
Si Kelinci, senang. Sontak perkataan Jinn
Si Kelinci, membuat pria tersebut menoleh terkejut! Karena indetitas yang selama
ini ia rahasiakan dengan sangat rapat, tiba-tiba dibongkar begitu saja.
“Jangan khawatir Cahya, dihadapan kita
adalah Nona Galuh, putri tunggal Maharaja Mahesa. Dan ia sekarang sedang
membutuhkan bantuan dirimu.” Pria yang disebut Cahya semakin terkejut.
“Putri tunggal Maharaja Mahesa Agung?
Bukankah Nona Galuh telah lama mangkat?” ucapnya hampir tidak percaya. Namun
ketika Cahya mendengar NaRaja menggeram pelan, ia terkejut dan langsung
menunduk hormat.
“Nona Galuh, ternyata anda masih
hidup.. maafkan saya tidak mengenali anda,” ucap pria yang disebut Cahya
tersebut dengan langsung menunduk hormat. Setelah itu, mereka semua dipersilahkan
duduk di sofa ruang tengah, yang dipenuhi barang antik yang jauh lebih
berkelas, lalu Cahya Natraprawira pun mulai bercerita.
“Saya memutuskan lari ke dunia
Manusia, karena Kaum Hitam menginginkan hal ini dari saya,” ucap Cahya sambil
membuka tabir pada salah satu benda antik.
Semua langsung terkesima, ketika
muncul semburat cahaya berkilau keluar dari barang antik yang tengah Cahya
pegang. Karena bukan sekedar cahaya biasa, melainkan pantulan kilasan
waktu yang begitu hidup.
Setelah itu, Cahya
menggeser-geser pantulan waktu tersebut. Cahya bukan hanya bisa membuka tabir
menuju masa lalu, melainkan juga ia dapat memilih masa yang akan ditembusnya. Dari
mulai kapan barang tersebut awal dibuat, hingga menuju masa sekarang. Meskipun hal
tersebut hanya dapat dilakukan dalam waktu
yang cukup terbatas, bagi mereka semua, ini sangat cukup untuk memenuhi syarat,
hal yang dikatakan dalam Kitab Candrakara.
“Berarti Cahya sama dengan Ragadewa
dan Kahiyang Raga, dicari karena akan dijadikan pengganti dari salah satu Tetua
Hitam yang dulu tewas!” tebak Adhit yang segera di iyakan oleh para pemilik
elemen lain.
“Tentu saja ia akan sangat dicari, energinya
hampir menyerupai Si Merah Gila! Tetapi Cahya bisa masuk ke dalam waktu yang
sesungguhnya, dan itu tentu membuat Kaum Hitam akan mempertaruhkan apapun sampai
mereka setengah gila!” ucap Gada Sangkara dengan tidak kalah takjub. Semuapun
mengangguk setuju lagi.
Setelah itu, Jinn Si Kelinci segera memberikan
kujang yang dipegang Galuh. Begitu Cahya menerima kujang tersebut sepenuhnya, tanpa
menunggu lama, dengan seketika mereka melihat tabir masa dimana kujang tersebut
masih awal dibuat. Cahya menggeser-geser masa lebih kedepan lagi, hingga mereka
menemukan masa yang diperkirakan seperti yang tertulis dalam Kitab Candrakara.
Ketika Cahya membuka tabir dari masa
yang telah terpilih, mereka merasakan udara disekitar mereka mulai bergetar halus.
Tak lama seberkas cahaya keemasan muncul, yang lalu menyelubungi mereka hingga
tertelan cahaya.
Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba
saja mereka sudah di dalam sebuah tempat yang begitu asing. Tempat yang
dipenuhi dengan rak-rak buku jati kokoh lawas, dengan ketinggian yang bahkan sampai
menyentuh langit-langit tinggi di ruangan besar tersebut.
“Kita di Astamaya masa lalu!” tebak Ragadewa
sambil memandang sekeliling dengan takjub. “Benar, dulu pemandangan ini hanya
bisa saya lihat dari gambaran yang dibuat oleh energi para guru kami. Tetapi
sekarang, saya benar-benar menginjakan kaki didalamnya, ini sangat luar biasa!”
ucap Gada Sangkara sambil tersenyum senang. Gada Sangkara bahkan menyentuh
beberapa barang yang telah menjadi barang kuno antik dimasa Gada hidup.
Semua kini berjalan menuju arah dalam,
tetapi Soma Wisesa malah diam terpaku. Dengan mata nanar, sepertinya Soma Wisesa
mulai menyadari sesuatu.
Tiba-tiba seseorang masuk dari salah
satu pintu sambil mengambil beberapa buku besar dengan energinya. Belum hilang
rasa terkejut mereka, Soma Wisesa tiba-tiba berlari, yang lalu memeluk orang
tersebut hingga buku yang hampir dipegang orang tersebut berhamburan.
Soma Wisesa menangis sambil terus
meminta maaf. Ia tersedu, karena setelah tersegel, ia jadi tidak bisa melakukan
apa-apa saat pria yang ia peluk terbunuh. Pria tersebut agak terkejut ketika
menyadari, “Soma Wisesa?” tanya pria tersebut memastikan.
Setelah mengetahui bahwa yang menangis
dipelukannya adalah Soma Wisesa, pria itu tersenyum dengan dalam. Bukan salahmu
Soma, ini satu-satunya jalan agar misi saya berhasil, dan ini adalah jalan yang
saya pilih sendiri!” Ucap pria itu bijak.
Saat Soma Wisesa selesai memeluk, para
pemilik elemen baru mengetahui, bahwa orang yang harus mereka temui dimasa lalu
adalah Guru Candrakara sendiri!
Guru Candrakara lalu memandang para
pemilik elemen dengan pandangan lega. “Ternyata semua usaha yang telah saya
lakukan selama ini tidak sia-sia, sama sekali tidak sia-sia.. hahahaha….!” ucap
Guru Candrakara sambil tertawa senang.
Guru Candrakara tidak seseram dari apa
yang telah diceritakan. Ia tidak tampan, tetapi memiliki wajah lembut dan dipenuhi
garis tawa yang kharismatik. Intonasi yang dimiliki olehnya juga benar-benar
membuat nyaman telinga, terutama bagi kaum hawa! Pantas saja Atisaya, Dewi Air
yang menjaga Sang Air, saat mendengar bahwa Guru Candrakara telah lama wafat,
ia menangis begitu histeris.
Bukan hanya Galuh yang terkesima,
melainkan ketujuh Dewi yang ada didalam Istana Tujuh Pintu! Begitu Guru
Candrakara tertawa, tiba-tiba saja para Dewi keluar dari Istana Tujuh Pintu dan
duduk di segala penjuru ruangan, lalu mereka melambai pada Guru Candrakara
dengan pandangan lekat yang penuh terimakasih.
Kalian? Aah… padahal dimasa ini, baru
kemarin kalian masuk ke dalam segel Istana Tujuh Pintu. Berapa lama kalian
menunggu?” tanya Guru Candrakara terkejut.
“Seribu tahun Candrakara.. seribu
tahun..” ucap Dewi tertua sambil tersenyum. Garis senyum lembut Dewi tertua,
benar-benar melemahkan hati pria manapun yang berani menatapnya dengan lama.
Guru Candrakara langsung tertawa
sambil menepuk keningnya sendiri. “Hahahaha.. tepat seperti ramalan saya, setidaknya
ini sudah setengah jalan, saya mulai agak lega sekarang..” ucap Guru Candrakra dengan
raut bahagia.
Lalu Guru Candrakara mendekati Nawang
Wulan yang duduk disamping Soma Wisesa, setelah itu ia tempelkan tangan Nawang
Wulan diatas tangan Soma Wisesa.
“Saya seorang yang menepati janji bukan?”
ucap Guru Candrakara pada Nawang dengan lembut, yang setelah itu ia menoleh
pada Soma Wisesa dengan tersenyum lega. Sambil memegang erat tangan Nawang
Wulan, Soma Wisesa menatap Guru Candrakara dengan tatapan penuh rasa
terimakasih.
Tanpa menunggu lama, dengan sigap Guru
Candrakara membuka sandi kujang menggunakan darahnya sendiri. Semua begitu
terkesima saat melihat darah Guru Candrakara menyentuh kujang tersebut, tiba-tiba
darah tersebut berubah menjadi beberapa aksara Sunda Kuno yang berputar
disekitar Kujang.
Persis seperti yang dilakukan Taphilli,
Guru Candrakra menyusun ulang aksara sunda kuno tersebut, menjadi sebuah salah
satu kata sakral dalam literasi Astamaya, dan “Blash!” sebuah sandi kordinat
terpecahkan.
“Aargh.. ternyata benar dugaan saya! Anda
membuat kujang ini sebagai peta menuju sang Api, selain agar siapapun yang
datang bisa terfilter dengan mudah, sekaligus juga, anda bisa melihat sendiri perkembangan
jalur yang selama ini anda recanakan untuk dimasa depan!” ucap Adhit hampir
berteriak senang.
“Semuanya terencana dengan detail luar
biasa!, Ini benar-benar sangat gilaa!” Ucap Adhit lagi sambil memegang
kepalanya, karena tidak dapat menahan kekaguman pemikiran Guru Candrakra.
Lalu Guru Candrakara tertawa sambil memandang
Adhit dengan pandangan takjub. “Hahaha.. tebakanmu benar sekali Adhitya! ” Ucap
Guru Candrakara sambil tertawa senang.
“Kamu memanggil dia Adhitya? Kamu tahu
namanya? Apa masa mereka adalah bagian dari rencana kamu Candrakara? Dulu kamu
bilang, kamu tidak pernah tahu ramalan ini akan datang dimasa yang mana!” Tanya
Soma Wisesa terkejut.
“Adhitya adalah bagian dari alur
rencana saya,” ucapan Guru Candrakara membuat semuanya tersentak kaget. “Saya
membutuhkan seseorang seperti saya, untuk hadir menemani kamu dalam
menterjemahkan kitab ini.” Jelas Guru Candrakara dengan santai.
“Maksudmu Candrakara?” tanya Soma
Wisesa tidak mengerti.
“Saya merahasiakan masa ini akan
terjadi kapan, karena ada seseorang yang selalu mengintip lewat pemikiran kita
Soma.” jelas Guru Candrakra yang kini dengan nada lebih dalam. Semua memandang
Guru Candrakara dengan penuh tanya, termasuk Soma Wisesa.
Sambil memberikan gambaran menggunakan
energinya, Guru Candrakra berkata. “Dulu, sebelum saya bertemu dengan kamu Soma,
saya adalah salah satu dari tiga serangkai yang berguru pada ayahmu “Terang
Guru Candrakra pada Soma Wisesa. Melihat keterkejutan wajah Soma, bisa
dipastikan bahwa ia baru mendengar hal ini.
“Saya, Rakha Sadeli, dan Aria Wiraja, untuk
Aria mungkin kalian mengenalnya di masa kalian sebagai Saguri.” Ucapan Guru
Candrakara sontak membuat semuanya terkejut. “Saguri?.. jadi ia…”ucap Galuh
dengan terkejut luar biasa.
“Benar, Saguri adalah seseorang yang
lebih tua dari yang kalian perkirakan. Dia sepertinya menggunakan ilmu tua
terlarang, sehingga bisa hidup sampai di masa kalian,” ucap Guru
Candrakara membenarkan.
Saya berbakat dalam Navigator Takdir,
seperti yang kalian lihat sekarang bagaimana Kitab Candrakara bekerja, itu
adalah pekerjaan Navigator Takdir. Rakha Sadeli, Sejak masa janin, tubuhnya mempunyai
bakat alami dalam menghasilkan energi hitam yang luar biasa besar. Lalu Aria
Wiraja atau Saguri, ia berbakat dalam lintas ilmu pengetahuan yang belum ada
saat itu. Dalam dunia Manusia, Saguri bisa dikatakan sebagai ilmuan dalam teknologi
Astamaya.” Ucap Guru Candrakara sambil menoleh pada Adhit.
“Kebiasaan saya dalam mengeluarkan uneg-uneg
secara rasional, ternyata justru menyebabkan kesalahan yang sangat fatal.” Ucap
Guru Candrakara dengan raut sangat menyesal.
“Salah satu dari kami, Saguri, justru
menanggapi keluhan saya dengan serius. Bahkan, membuat dia malah berpikir,
perbudakan adalah satu-satunya cara dalam mengendalikan Manusia.” Ucap Guru
Candrakara lagi yang kali ini sambil memperlihatkan sebuah gambaran dengan
energinya.
“Tadinya saya pikir, yang ada pada Saguri
hanya berupa pemikiran saja. Namun pada suatu ketika, setelah Guru kami
mangkat, ada tindakan Saguri yang membuat saya agak curiga. Saguri sering
sekali menghilang, lalu tak sengaja bertemu di tempat-tempat terlarang. Bahkan,
dalam labnya sering ditemukan bahan-bahan yang jelas-jelas dilarang pihak Istana.
Karena Rakha Sadeli lebih dekat Saguri, maka saya meminta Rakha Sadeli untuk menyelidiki
apa yang sedang direncanakan teman kami tersebut saat itu.” Ucap Guru
Candrakara yang kini rautnya sedikit berubah.
“Namun Rakha Sadeli malah tewas di
tangan Saguri, saat diketahui bahwa Saguri sedang menggodok ribuan Ruh manusia
jahat yang kelak kalian akan mengenalnya sebagai para Ajag. Setelah mendapat
informasi terakhir dari Rakha Sadeli, Saya segera turun tangan untuk menghalau
segala rencana gila Saguri,” Semua sontak langsung tercengang. “Jadi Saguri
adalah peramu kelahiran para Ajag?” ucap Adhit yang dibarengi keterkejutan dari
yang lainnya.
“Benar sekali, dan Itulah alasan saya
mengapa saya begitu mati-matian mengakali agar Kaum Hitam tidak menang. Karena
awalnya, pemikiran Saguri berasal dari kesalahan saya dalam berbicara,” ucap
Guru Candrakara dengan pandangan sangat menyesal. Wajah Soma Wisesa adalah raut
yang paling terkejut dari semuanya, sepertinya dia juga tidak pernah mengetahui
tentang hal ini.
“Soma Wisesa, setelah ini saya akan
tewas, saya akan sangat menyesal bila sebelumnya tidak mengatakan ini kepadamu,”
Soma lalu memandang Guru Candrakara dengan tidak mengerti.
“Soma, kamu tahu mengapa selama ini mengapa
saya selalu ada didekatmu?” Tanya Guru Candrakara dengan pandangan menyelidik.
Soma Wisesa menganggapinya dengan heran sambil menggeleng tidak tahu, karena
yang ia tahu selama ini, mereka berdua bertemu secara kebetulan.
“Karena Rakha Sadeli adalah kakak
kandungmu, kakak yang sengaja disembunyikan ayahmu sendiri.” Soma Wisesa memandang
Guru Candrakara dengan terkejut, namun Ia masih belum bisa mencerna apa yang
sedang terjadi.
“Saat dalam kandungan ibumu, janin
Rakha Sadeli menghasilkan energi hitam yang besarnya sangat luar biasa. Tadinya
Ayahmu hendak membunuhnya ketika lahir. Namun saat Rakha lahir, ayahmu malah tidak
sanggup melakukannya. Ayahmu kemudian menyebarkan berita, bahwa Rakha meninggal
beberapa saat setelah lahir. Namun yang terjadi, ayahmu membesarkan Rakha diam-diam,
agar menjadi anak hebat yang welas asih. Lalu sepuluh tahun kemudian, ibu kamu
mengandung lagi, dan kamu lahir Soma”
Guru Candrakra menarik napas panjang, lalu
melanjutkan, “Rakha benar-benar tumbuh menjadi pemuda hebat yang penuh welas
asih. Rakha tahu ia mempunyai adik dan ibu, namun ia tetap patuh terhadap
permintaan ayahnya untuk hidup dalam bayang-bayang. Rakha juga adalah seseorang
yang selalu ada dibelakangmu untuk selalu menyelamatkanmu diam-diam.” Ucapan
Guru Candrakara membuat Soma Wisesa kini agak mengerti, memang dulu ada
beberapa hal yang membuat ia selamat dengan cara yang tidak ia pahami.
“Sayangnya karena kesalahan saya, ia
malah tewas ditangan Saguri! “ ucap Guru Candrakara penuh sesal.”
“Maka setelah kematian Rakha Sadeli, saya
menggantikan dia untuk selalu ada ketika kamu sangat membutuhkannya.“ Ucapan
Guru Candrakra kini membuat Soma Wisesa mulai mengerti, mengapa sebelum mengenal
Guru Candrakara, semua kesalahan fatal akibat rasa ingin tahunya yang
berlebihan, tiba-tiba selalu beres begitu saja. Ternyata, itu adalah perbuatan
kakak yang tidak pernah ia ketahui sejak lahir.
“Saya tidak marah sama sekali Candrakara,
karena bila kamu tidak meminta kakak saya untuk menyelidiki hal yang dilakukan
Saguri, tentu saat ini Astamaya dan dunia Manusia sudah diporak porendakan sejak
lama,” jawab Soma Wisesa bijak. Sontak hal tersebut membuat wajah Guru
Candrakra lebih tenang.
“Pola yang sangat luar biasa, Anda bahkan
merencanakan tentang hal ini juga? Selain dari pembukaan segel kujang secara
langsung agar anda bisa mengamati perkembangan perjalanan kami, hari ini juga anda
rencanakan untuk membicarakan tentang segala misteri pembuatan Kitab Candrakara?.”
ucapan refleks Adhit, membuat Guru Candrakara kembali tertawa.
“Hahaha… sekali lagi benar sekali
Adhitya. Dulu sempat ada sedikit sesal, karena sibuk mempersiapkan alur untuk
Kitab Candrakara, saya jadi tidak sempat menikah untuk mempunyai keturunan.
Tapi kini, saya merasa lega. Ada seseorang yang bukan keturunan saya secara
biologis, melainkan warisan ingatan yang tanamkan lewat jejak genetika,
menjadikan memiliki serat-serat pemikiran seperti saya hahahaa… ” ucap Guru
Candrakara dengan raut kembali lega.
“Aah.. tiba-tiba saya penasaran, apakah
ketika kami mencari cermin kembar, tempat dimana Sang Air berada. Saya yang
tiba-tiba menyanyikan lagu anak-anak Astamaya, itu adalah bagian dari sematan
memori anda?” tanya Adhit begitu penasaran. “Begitulah…” ucap Guru Candrakara
sambil tersenyum santai.
“Kamu benar-benar orang gila Candrakara!”
ucap Soma Wisesa terkejut yang lalu tertawa. Mendengar hal tersebut, Guru
Candrakara refleks ikut tertawa. “Setelah seribu tahun terkurung, tabiat kamu
sama sekali tidak berubah Soma Hahahaha…” ucap Guru Candrakra sambil tertawa
senang, lalu mereka malah tertawa bersama.
Setelah waktunya hampir habis, saat para
Dewi telah kembali kedalam Istana Tujuh Pintu, Soma Wisesa memeluk kembali Guru
Candrakara dengan sangat erat. Begitu selesai, tiba-tiba saja mereka semua kembali
pada masa yang semula.
Saat Cahya mendengar apa yang terjadi
dengan kondisi Istana sekarang, dimana paman Galuh, Maharaja Ranji Raspati
banyak dipersulit oleh para Bangsawan licik. Cahya Natrapawira malah memilih
ikut bersama Jinn Si Kelinci menuju Istana di Astamaya. Katanya, disana ia akan
ikut membantu Maharaja Ranji Raspati, dengan membuka segala kebenaran yang bisa
digali dari memori semua barang yang terdapat di ruang Pusaka Istana.
“Setelah
disana ada Taphilli, sekarang Cahya Nataprawira juga akan ikut membantu, rasakan
itu para Bangsawan Licik!” ucapan spontan Galuh membuat semua tertawa sambil
menggeleng. Kecuali Soma Wisesa yang masih terbawa suasana tadi.
Setelah berpisah dengan Jinn Si
Kelinci dan Cahya Nataptawira, Soma Wisesa tiba-tiba menangis tidak berhenti. Hilang
sudah citra pemuda bengal yang sulit di pahami. Bahkan Nawang Wulan harus
keluar dari Istana Tujuh Pintu lagi untuk menangkan Soma Wisesa.
Begitu tangisnya mereda, Soma Wisesa baru
berkata, “maafkan saya, beban rasa bersalah tentang kematian Candrakara telah menggantung
di hati dan jantung saya selama seribu tahun. Ini selalu membuat sesak setiap
mengingat bahwa saya tidak bisa melakukan apa-apa saat Candrakra terbunuh.
Namun kini, setelah Candrakra mengatakan bahwa itu adalah memang rencananya,
saya merasa amat sangat lega.. hingga akhirnya menangis tidak terkendali,” ucap
Soma Wisesa dengan sorot mata yang lebih lega. Bahkan, kemurungan yang selalu
menggantung di wajahnya, kini telah sirna.
Setelah situasi mulai tenang, akhirnya
Nawang kembali masuk kedalam Istana Tujuh Pintu, dan Soma Wisesa juga kembali
pada segel kalung yang dipakai Galuh.
Namun begitu mereka keluar dari Gedung
galeri antik milik Cahya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan satu bayangan
besar!
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar