Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 35 – Akhirnya dia ditemukan! | By: Desya Saghir

Ditengah kepanikan, Hailana sang Dewi Ruh tiba-tiba mengangkat tangan dan berkata, “Ragadewa tidak sengaja menyentuh wilayah persembunyian Sang Ether, salah satu pecahan dari Batu Hyang Sawarga!” Sontak ucapan Hailana membuat semua menatap Hailana dengan terkejut. “Menyentuh Wilayah Ether? Dalam Kitab Candrakara disebutkan, Sang Ether disembunyikan dalam wilayah yang tidak terdeteksi, apakah sebuah wilayah yang dilingkupi segel seperti Astamaya?” Tanya Soma Wisesa bingung, karena ia tidak menemukan tanda apapun yang berkaitan dengan Ether, namun Hailana menggeleng. Lalu, Hailana Sang Dewi Ruh segera mengeluarkan energinya, untuk memperlihatkan rekaan gambaran yang tadi sempat ia lihat sekilas. Terlihatlah Ragadewa yang tadi sedang berdiri ikut mencari petunjuk. Saat angin menghembuskan angin sepoi berpasir, lengan Ragadewa tertumbuk salah satu butiran pasir yang ternyata berisi wilayah Sang Ether! “Sang Ether ternyata ada diatas salah satu butiran pasir? Ini gila!” ucap Adhit yan...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 34 – Sang Ether? | By: Desya Saghir

"Nona Galuh!" Jawab Kahiyang Raga sambil berlari menuju Galuh dan kawan-kawan. Setelah sampai, Kahiyang Raga berkata, "Tadinya saya berniat hanya melintas saja, namun saya terhenti, curiga karena mahluk asap ini membawa energi yang tidak biasa, bahkan terlampau besar!" Ucap Kahiyang sambil menyerahkan Sang Angin yang ia rebut dari Dwasa Si Mahluk Asap. Sontak Kahiyang langsung mendapat pelukan penuh terimakasih dari Galuh.  "Pilih kasih sekali, saya juga sering membantu kamu, tapi kamu tidak pernah memeluk saya sekalipun," ucap Adhit, yang sontak membuat Galuh langsung mencubit Adhit sampai mengaduh kesakitan. Gara-gara itu pula, suasana yang tadinya tegang, kini langsung dipenuhi gelak awa. Setelah tugasnya selesai, Sang Pertapa justru lebih memilih untuk tetap menjadi Ruh dulu agar bisa tinggal di Istana Tujuh Pintu, karena ia ingin menemani anak-anaknya sampai tugas mereka selesai. Begitu Galuh mengijinkan, para Dewi, termasuk Nawang Wulan langsung meme...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 32 – Ternyata dia penjaga Sang Api! | By: Desya Saghir

  Anehnya, semua hewan purba justru seakan tunduk pada remaja ini. Tak lama, Monster yang seharusnya ada di Astamaya malah berbondong-bondong ikut datang bermunculan. Sontak, Galuh dan kawan-kawan langsung mundur karena terkejut. Namun, begitu para Monster melihat remaja pertapa ini ada dikerumunan para hewan purba, tiba-tiba mereka langsung terdiam, bahkan menunduk hormat seakan pada induk semang mereka. Sontak hal tersebut membuat Galuh dan kawan-kawan menatap pertapa muda ini dengan raut semakin terkejut. “Maafkan mereka,” ucap remaja tersebut sopan sambil turun dari salah satu predator purba terbang. Disusul Gada Sangkara yang ikut turun dengan wajah yang masih terkejut. “Kamu penjaga Sang Api?” tebak Soma Wisesa tanpa basa basi. “Sang Api?” tanya anak remaja ini heran. “Nama saya Dharma, dan saya hanya pertapa biasa.” Ucap remaja tersebut sopan dengan raut heran. Sesekali tangan anak itu menyambut beberapa Monster yang datang sambil menunjukan luka yang ia derita. La...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 31 – Apakah dia Sang Api?| By: Desya Saghir

Mereka semakin terkejut, karena dari balik awan rendah yang menggantung separuh pekat, munculah sesosok perahu hantu transparan, besar   dan melayang menembus awan malam. Tirai putih panjang dengan bagian dalam jendela yang begitu gelap gulita, seakan menyembunyikan kegelapan yang tak terjamah cahaya, menjadikan perahu besar tersebut semakin terlihat cukup mengerikan. Namun anehnya, Gada Sangkara malah tersenyum senang. “Ini kebetulan yang baik, kita bertemu dengan perpustakaan khusus untuk para Delegasi utusan Astamaya.” Ucap Gada Sangkara yang sontak membuat semuanya menoleh terkejut.   “Kamuflase yang menarik bukan! Hahaha… kita harus segera naik ke atas, disana kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi dengan sangat lengkap.” ucap Gada Sangkara, yang sontak membuat semua kembali menoleh terkejut ke arah perahu hantu tersebut. Begitu awan terbang yang dibuat Ragadewa mendarat, hawa dingin dan kelam langsung menyergap mereka semua. Adhit sendiri sampai refleks me...