Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 35 – Akhirnya dia ditemukan! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ditengah kepanikan, Hailana sang Dewi
Ruh tiba-tiba mengangkat tangan dan berkata, “Ragadewa tidak sengaja menyentuh
wilayah persembunyian Sang Ether, salah satu pecahan dari Batu Hyang Sawarga!” Sontak
ucapan Hailana membuat semua menatap Hailana dengan terkejut.
“Menyentuh Wilayah Ether? Dalam Kitab Candrakara
disebutkan, Sang Ether disembunyikan dalam wilayah yang tidak terdeteksi,
apakah sebuah wilayah yang dilingkupi segel seperti Astamaya?” Tanya Soma
Wisesa bingung, karena ia tidak menemukan tanda apapun yang berkaitan dengan Ether,
namun Hailana menggeleng.
Lalu, Hailana Sang Dewi Ruh segera mengeluarkan
energinya, untuk memperlihatkan rekaan gambaran yang tadi sempat ia lihat
sekilas. Terlihatlah Ragadewa yang tadi sedang berdiri ikut mencari petunjuk. Saat
angin menghembuskan angin sepoi berpasir, lengan Ragadewa tertumbuk salah satu
butiran pasir yang ternyata berisi wilayah Sang Ether!
“Sang Ether ternyata ada diatas salah
satu butiran pasir? Ini gila!” ucap Adhit yang membuat semua terkejut tidak
percaya. Bahkan saking terkejutnya, Adhit meremas rambutnya dengan sangat
gemas.
“Pantas saja saya tidak bisa
menemukannya” pikir Soma Wisesa sambil tersenyum menggeleng, “Saya akui bila Candrakara
memang gila, tapi idenya kali ini benar-benar melebihi kata sangat tidak
waras!” Ucapan Soma Wisesa tersebut langsung mengundang anggukan takjub dan kekeh
dari yang lainnya.
“Kalau begitu, kita segera masuk
kedalam realitas gila yang diciptakan Cadrakara!” ucap Hailana Sang Dewi Ruh
dengan semangat sangat menyala.
Tanpa membuang waktu, Hailana segera merapalkan
bahasa buhun/bahasa sunda kuno, yang dilantunkan menyerupai kidung sunda yang
terdengar sangat magis. Suara Hailana yang menyayat indah menelusuk sukma, membuat
tubuh mereka tiba-tiba terberai seperti pasir, yang lalu kembali utuh di atas salah
satu butiran pasir, tempat dimana sang Ether berada.
Begitu sampai, mereka menemukan
Ragadewa dalam keadaan yang masih berdiri terkejut dihadapan sebuah kuil pasir.
Kuil pasir megah yang dihiasi dengan ukiran sunda kuno yang begitu otentik
mempesona.
Sebuah karya abadi yang seakan ditatah
oleh para leluhur kuno. Tatahan harimau Garang gagah perkasa, yang terlilit motif-motif
halus seperti daun hanjuang, sayap garuda dan motif Galura. Mereka saling
melilit dalam harmoni yang membuat tercekat. Disekitarnya terpahat pula,
banyaknya burung cangkurileung kecil berterbangan diantara pola kawung dan bunga
tanjung yang bermekaran disetiap sisi. Membuat ukiran ini bukan sekedar ukiran
kuno, melainkan bahasa dan permohonan doa dalam melindungi isi dari dalam kuil
pasir ini.
“Kalian!” ucap Ragadewa yang akhirnya merasa
lega.
“Nanti kami jelaskan, sekarang kita
masuk kedalam kuil pasir ini untuk mencari petunjuk selanjutnya.” Jawab Galuh
yang berjalan terlebih dahulu menuju pintu besar kuil tersebut.
Adhit cukup terkesima, ternyata Galuh
telah berubah! Galuh kini berani untuk mengeluarkan karakter aslinya sebagai
pemimpin. Disisi lain, Ragadewa juga memperhatikan reaksi terkejut Adhit dengan
perubahan Galuh. Setelah itu Ragadewa tersenyum, kini ia tahu bahwa
keputusannya untuk melepaskan Galuh pada Adhit memang tepat.
Begitu mereka semua masuk, semuanya
langsung terperanjat luar biasa, karena mereka seakan-akan tengah masuk kedalam
suasana sebuah lubang hitam! Dimana kegelapan yang melingkar seakan tidak
memiliki awal ataupun akhir. Langit-langitnya sendiri seakan begitu tinggi
sehingga tampak tidak terhingga.
Pemandangan tersebut membuat leher
mereka meremang. Karena selain tempat ini sunyi, tempat ini juga dilingkupi
hawa kosong yang begitu menakutkan.
“Apa akan ada monster keluar dari
sana?” tanya Adhit yang langsung spontan dicubit oleh Galuh. “Kamu sembarangan
sekali, pamali! bagaimana bila apa yang kamu ucapkan terjadi!” ucap Galuh galak.
Gada Sangkara sampai tergelak karena reaksi Galuh terhadap celotehan asal Adhit.
“Kalian ini seperti sepasang suami
istri yang telah lama menikah Hahaha…” ucap Gada sambil tertawa, yang setelah
itu giliran Gada yang dicubit Galuh sehingga ditertawakan Adhit dengan sangat
puas. Ragadewa hanya terkekeh sambil menggeleng.
Galuh dan Soma Wisesa masuk lebih
kedalam terlebih dahulu, yang lalu diikuti oleh yang lainnya. Lalu, “Brak!” Tiba-tiba
pintu kuil tertutup, setelah itu pintu tersebut menghilang begitu saja. Kini mereka
seakan-akan ada didalam ruang hampa yang tidak berbatas.
Gada Sangkara segera menempelkan
tangannya dimana pintu tersebut menghilang, karena mengira itu hanya dinding
yang tertutup ilusi. Namun, saat tangannya menempel, justru malah seakan sedang
menepak angin. Lalu leher merekapun meremang untuk kedua kalinya, mereka
benar-benar didalam ruang hampa kosong yang tidak berbatas.
Disini baru juga baru disadari, bahwa bagian
dalam kuil ini tampak seperti langit malam yang dingin dan hening. Namun tubuh
mereka tertempa sinar lembut yang entah dari mana, sehingga membuat mereka bisa
melihat satu sama lain.
Tiba-tiba ratusan obor menyala, sontak
membuat semua yang ada disana langsung terkejut luar biasa. Namun setelahnya, kini
mulai terlihat bahwa kegelapan ini ternyata mempunyai ruang yang samar, namun
dengan cara yang cukup aneh.
Hal pertama yang terlihat adalah,
obor-obor ini menempel pada tiang-tiang granit hitam besar yang menjulang
sangat tinggi. Namun, ujung bawah dan ujung atas tiang tersebut, semakin
keujung, semakin transparan. Benar-benar pemandangan yang sangat aneh.
Hal ke dua adalah, munculnya sebuah
lorong, yang membuat mereka semua merasa akan melintasi sebuah batas paradigma yang
sarat misteri.
Semakin masuk kedalam, mereka malah
terperanjat. Mereka kini dihadapkan pada labirin cermin yang begitu berliku dan
membingungkan. Namun bukan puluhan, melainkan ribuan cermin yang beberapa selalu
memecah menjadi angin, lalu berganti tempat dengan sudut kemiringan berbeda.
Di Labirin ini, para pemilik elemen sangat
sering tersesat, bahkan sangat sering membentur cermin dari segala sisi. Mereka
benar-benar tidak dapat membedakan, mana lorong, mana yang ternyata hanya
berupa pantulan cermin saja.
Namun bukan itu saja. Disini terdapat
aliran embun yang mengalir seperti air, lalu angin yang berhembus kesana kemari.
Namun embun dan angin tersebut bergerak menembus kedalam cermin, sehingga hal
tersebut benar-benar mengecohkan arah perjalanan mereka.
Melihat hal tersebut, Hailana Sang
Dewi Ruh memutuskan melayang ke atas untuk mengawasi arah dari atas labirin
cermin. Sedangkan yang lainnya, tetap mengikuti alur yang diarahkan Hailana
dari atas.
Hailana yang melayang anggun seolah
tidak terikat oleh hukum alam, disertai gemulai lembut penuh magis dari kain
batik sutra yang membalut kemolekan tubuhnya yang maha indah, malah membuat
para pria disana jadi hilang konsentrasi.
Kecuali Soma Wisesa, pria satu ini
tetap tenang tidak tergoyahkan. Hatinya yang hanya terpaut pada Nawang Wulan
seorang, membuat pesona Hailana hanya sekedar angin lalu yang tidak membekas
sama sekali. Padahal Galuh sendiri sebagai perempuan mengakui, bila gemulai
Hailana memang keindahan visual yang tidak terbantahkan.
“Indah sekali..” ucap Galuh refleks,
“Tapi gak seindah kamu,” jawab Adhit sambil tersenyum usil. Sontak hal tersebut
membuat Adhit terkena cubitan spontan dari Galuh, sehingga semua langsung terkekeh
geli. Ragadewa juga terkekeh, namun masih ada sedikit iri melihat Galuh yang bisa
bersikap sangat terbuka pada Adhit.
“Menurut petunjuk Kitab Candrakara,
ada satu cermin yang terselip diantara ribuan cermin. Namun bila disentuh,
cermin tersebut ternyata sebuah ruang berceruk dan hanya bisa dikenali oleh
pemilik elemen Ether. Tetapi cermin yang mana?” Ucap Soma Wisesa merasa kesal. Sebagai
Kaum Astamaya yang ditakuti di masa lampau, semua hal yang disiapkan
Candrakara, benar-benar menonjok egonya sendiri.
Ragadewa yang mengerti, ia langsung membuat
replika dirinya jadi lima, yang lalu berjalan duluan mencari cermin yang mereka
cari.
Galuh dan Gada Sangkara ikut memeriksa
di sisi kanan, sedangkan Adhit dan Soma Wisesa di sisi kiri. Adhit bahkan menyoroti
satu persatu cermin yang dia temui dengan senter miliknya, namun tidak ada yang
berceruk, semuanya menyerupai cermin biasa!
“Kalian mencari sesuatu?” tanya
seseorang dari dalam cermin, yang sontak membuat semua yang ada disana terkejut
bukan main.
“Benda? Kebenaran? Atau lebih jelasnya..
sesuatu yang bukan milik kalian?” ucap seseorang yang menyeringai perlahan dari
balik kegelapan salah satu cermin.
Lalu dengan perlahan, sebuah cahaya lembut
menyingkap sosok tersebut. Galuh dan kawan-kawan terkejut, karena ternyata sosok
tersebut ternyata adalah wanita dengan wajah yang begitu tenang. Seseorang yang
seakan-akan mengetahui rahasia tentang semesta ini, namun enggan untuk mengucap.
Mereka semakin terkesima karena wanita
berwajah pucat ini mempunyai bola mata seperti nebula, berwarna ungu muda
dengan irisnya yang menyerupai galaksi yang tengah bergerak.
“Kamu penjaga sang Ether?” Tanya Galuh
penuh waspada. Wanita itu hanya tersenyum, lalu menatap semua satu persatu
seakan sedang melihat intisari dari masing-masing pemilik elemen.
“Apa yang ingin kalian lakukan dengan
sang Ether?” Tanya wanita ini lagi dengan nada lembut namun ritmis, seakan-akan
setiap kata yang dia ucapkan adalah mantera menuju realitas.
Leher para pemilik elemen mulai
meremang. Namun anehnya, sekalipun Galuh sedikit panik, para Ajag tidak
bereaksi apapun. Galuh mengintip sebentar pada segel para Ajag, dan ia
menemukan para Ajag tampak mati suri didalam segel. Sontak hal tersebut membuat
Galuh semakin panik, tanpa para Ajag, Galuh merasa sangat kosong.
Galuh lalu memandang kembali wanita
didalam cermin tersebut, ia kini ngeri dengan kekuatan yang dimiliki wanita misterius
tersebut.
Para pemilik elemenpun mulai terlihat
resah, namun tidak dengan Hailana Sang Dewi Ruh. Sekalipun ia tidak menampakan wajah
bersahabat, wajah Hailana masih terlihat sangat tenang.
Wanita cermin ini malah terus
menyesatkan mereka, memberi mereka pertanyaan – pertanyaan menjebak, lalu muncul
dan menghilang dari balik berbagai cermin. Bahkan saat mereka bilang bahwa
mereka adalah yang ditugaskan Candrakara, wanita tersebut tetap tidak percaya, bahkan
meneruskan semua muslihatnya sehingga menciptakan sebuah terror yang
menakutkan.
“Citraloka.. hentikan semua sandiwara
ini, kami semua datang atas permintaan Candrakara!” ucap Hailana dengan gema suara
yang menakutkan.
Gema yang dipenuhi energi menakutkan
tersebut, membuat wanita yang dipanggil Citraloka langsung terkejut. Lalu tiba-tiba
saja pupil matanya berubah menjadi seperti pupil mata para Kaum Ruh, yang
setelah itu ia terkejut melihat dihadapannya ternyata adalah Hailana Sang Dewi
Ruh.
“Hailana? Apa yang sedang kau lakukan
disini? Apa sekarang Kaum Ruh telah bekerja sama dengan Kaum Hitam?” tanya
Citraloka terkejut. Lalu dengan rambut yang mulai menggerai marah, ia mulai
dengan posisi siaga, namun Hailana menanggapinya hanya menggeleng tenang.
Tiba-tiba saja Citraloka menyerang
semua yang ada disana secara membabi buta. Cermin-cermin berterbangan dan pecah
karena saling membentur. Embun dan angin didalam ruangan itu juga menyerang
mereka semua tanpa ampun.
Semua pemilik elemen panik dan berusaha
untuk melindungi diri dengan energinya. lalu Adhit sendiri yang sudah
terbungkus segel yang dikeluarkan oleh kalung Sura Suradana miliknya, berusaha
untuk membuka informasi tentang wanita yang dipanggil Hailana sebagai Citraloka.
Namun, serangan dari Citraloka ternyata terlalu brutal, membuat Adhit yang masih
terlindungi segel dari kalungnya terpontang-panting kesana kemari.
Akhirnya Hailana Sang Dewi Ruh terbang
kearah Citraloka, namun tetap dengan sikap tubuh yang tenang, seakan-akan semua
serangan yang dilempar Citraloka adalah angin lalu. Namun, ketika Hailana
merentangkan kedua lengannya, semua serangan Citraloka langsung membeku
seketika, dan ini membuat semua yang ada disana langsung ngeri seketika.
“Ini Gila!” ucap Soma Wisesa hampir
tidak percaya. Galuh menoleh pada Soma Wisesa dengan pandangan penuh tanya.
“Energi Citraloka adalah energi kuno, energi yang tidak dapat ditandinggi
siapapun dimasa ini. Namun, Hailana bisa menghalau energinya dengan mudah? Usia
Hailana ternyata lebih tua dari yang kita perkirakan!” ucap Soma Wisesa yang
kini membuat Galuh dan Gada Sangkara yang sudah mendekat pada mereka terkejut
luar biasa.
“Sudah berapa lama kita tidak
bertemu.. Aahh.. seribu tahun? Apa kamu pikir seribu tahun bisa mengubah
pemikiran saya tentang sepak terjang Kaum Hitam! Itu sebuah penghinaan besar
untuk saya Citraloka!” ucap Hailana mengingatkan sopan, namun nadanya kali ini malah
terasa bergaung ditengah suasana senyap mematikan.
Citraloka hendak menyerang Hailana
kembali, namun Hailana segera mengeluarkan energinya sehingga Citraloka terikat
oleh energi yang tidak bisa ia putuskan sama sekali. Dalam keadaan terikat,
Citraloka tertawa lalu berkata, “Cermin itu hanya akan ditemukan oleh pemilik
elemen sesungguhnya! Bukan replika kelas teri seperti kalian Hahaha!” cerca
Citraloka dengan kasar.
“Hentikan semua kegilaan ini
Citraloka!” teriak Hailana sambil mengibaskan sebelah tangannya yang mengakibatkan
tabir diruang cermin ini terbuka.
Sebuah tabir yang memperlihatkan
sebuah dunia yang diciptakan Citraloka agar selama menunggu, agar ia tidak merasa
sendirian. Tetapi dunia yang ia ciptakan justru menggiringnya pada opini
menyesatkan, sehingga ia tergiring pada cerita bahwa Kaum Hitam telah menang
dan tinggal Sang Ether yang masih aman terlindungi.
Kini semua yang ada disana mengerti,
Citraloka terbawa opini dalam pemikirannya sendiri, sehingga realitas yang
telah ia ciptakan, membuatnya ia tidak bisa membedakan mana nyata dan ilusinya
sendiri.
“Kini kita mengerti mengapa Candrakara
menggiring Hailana untuk ikut dengan kita, karena yang bisa menghadapi
Citraloka hanya Hailana sendiri,” ucap Adhit yang ternyata sudah mendekat pada
Galuh.
Soma Wisesa semakin tersenyum sambil
menggeleng, “Candrakara sudah menyembunyikan Sang Ether di atas butiran pasir,
setelah itu menggiring Hailana untuk ikut dengan kita agar bisa mengimbangi
Citraloka? Candrakara sudah melewati kata sangat tidak waras!” ucap Soma Wisesa
sambil tersenyum tidak percaya.
Ragadewa yang masih agak jauh, ketika
berjalan mendekat pada pemilik elemen lain, malah membuat salah satu cermin
memendar.
“Sang Ether!” ucap Soma Wisesa senang.
Salah satu cermin memendar tersebut membuat
Citraloka terperanjat tidak percaya, lalu tiba-tiba luruhlah keseluruhan ilusi
yang dibuat Citraloka, dan para Ajagpun kembali siuman dan bersuara.
Ketika Ragadewa menyentuh cermin
tersebut, tiba-tiba segel cermin tersebut terbuka dan memperlihatkan ceruknya.
Dengan tidak menunggu lama, Adhit segera
datang membawa kalung Istana Tujuh Pintu yang berisi Nawang Wulan.
Kehadiran Nawang Wulan membuat Sang
Ether mau memunculkan diri, lalu kembali bersatu dengan retakan lain yang telah
berhasil mereka kumpulkan, membuat Citraloka langsung menangis bahagia.
“Akhirnyaaa… akhirnya penantian ini….
akhirnya saya bisa bertemu dengan Candrakara….” isak Citraloka dengan sangat
dalam. Persembunyiannya ternyata membuatnya lupa berapa lama ia berada didalam kuil
pasir tersebut.
Ketika Citraloka mengetahui Candrakara
telah lama tewas, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Ditengah tangis
Citraloka yang menyarat hati, seluruh langit-langit Kuil yang tadinya berisi
ilusi, memperlihatkan gambaran-gambaran kacau tentang semua pertemuan Citraloka
dengan Candrakara.
Disini mereka semua baru mengetahui,
bahwa Candrakara adalah pria kharismatik yang membuat Citraloka sangat jatuh hati.
Bahkan Citraloka mau saja ketika Candrakara menawarkannya untuk menjaga Sang
Ether.
Begitu tangisnya mereda, Akhirnya
Citraloka memutuskan untuk ikut pulang bersama Hailana Sang Dewi Ruh menuju
bukit Ruh.
Ketika hendak kembali pulang ke Astamaya,
Tiba-tiba NaRaja bertanya tentang tujuan sebenarnya kedatangan Hailana Sang
Dewi Ruh.
Hailana menanggapinya dengan tersenyum
lalu berkata, “Batu tunggal itu sebenarnya titipan Candrakara. Tadinya, saya memenuhi
permintaan Candrakara, sebagai bentuk balas budi karena pertolongannya saat
itu. Namun, setelah melihatmu saat itu, biarpun tidak dititipi batu tersebut,
saya akan tetap datang menyusul kamu.. hahaha.. ” Sontak hal tersebut membuat
NaRaja menggeram sambil berbalik sebal, terlihat sekali bahwa NaRaja menyesal mengajukan
pertanyaan tersebut.
Perkataan Hailana membuat semua
terhenyak, bahkan Soma Wisesa tidak dapat menahan komentarnya. “Candrakara,
sekalipun telah lama wafat, ia tetap berhasil membuat saya sering terkejut!” Perkataan
sarkas Soma Wisesa malah membuat semua yang ada disana jadi tertawa lepas.
Sebelum pergi mengikuti Hailana Sang
Dewi Ruh, Citraloka berpesan, “Batu Hyang Sawarga memiliki daya kehancuran yang
luar biasa, siapapun yang berhasil memegangnya, akan memiliki kekuatan yang
tidak tertandingi. Candrakara berpesan, hancurkan selagi bisa!” Sepertinya
Candrakara sangat khawatir, bila para pemilik elemen akan berubah pikiran
mengingat kekuatan batu ini memiliki daya kehancuran berskala sangat besar.
Setelah ke empat retakan batu
terkumpul, Galuh dan kawan-kawan malah terkejut dengan petunjuk yang tertera
dalam Kitab Candrakara yang tiba-tiba yang mengharuskan mereka kembali pulang
ke Astamaya!
Begitu mereka berhasil menyeberangi
pintu batas antara dunia Manusia dan Astamaya, tiba-tiba mereka sudah dihadang Dwasa
Si Mahluk Asap!
Mereka terkejut, ketika tiba-tiba Galuh
roboh oleh lesatan kerikil asap milik Dwasa yang begitu senyap!
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar