Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 35 – Akhirnya dia ditemukan! | By: Desya Saghir

Ditengah kepanikan, Hailana sang Dewi Ruh tiba-tiba mengangkat tangan dan berkata, “Ragadewa tidak sengaja menyentuh wilayah persembunyian Sang Ether, salah satu pecahan dari Batu Hyang Sawarga!” Sontak ucapan Hailana membuat semua menatap Hailana dengan terkejut.

“Menyentuh Wilayah Ether? Dalam Kitab Candrakara disebutkan, Sang Ether disembunyikan dalam wilayah yang tidak terdeteksi, apakah sebuah wilayah yang dilingkupi segel seperti Astamaya?” Tanya Soma Wisesa bingung, karena ia tidak menemukan tanda apapun yang berkaitan dengan Ether, namun Hailana menggeleng.

Lalu, Hailana Sang Dewi Ruh segera mengeluarkan energinya, untuk memperlihatkan rekaan gambaran yang tadi sempat ia lihat sekilas. Terlihatlah Ragadewa yang tadi sedang berdiri ikut mencari petunjuk. Saat angin menghembuskan angin sepoi berpasir, lengan Ragadewa tertumbuk salah satu butiran pasir yang ternyata berisi wilayah Sang Ether!

“Sang Ether ternyata ada diatas salah satu butiran pasir? Ini gila!” ucap Adhit yang membuat semua terkejut tidak percaya. Bahkan saking terkejutnya, Adhit meremas rambutnya dengan sangat gemas.

“Pantas saja saya tidak bisa menemukannya” pikir Soma Wisesa sambil tersenyum menggeleng, “Saya akui bila Candrakara memang gila, tapi idenya kali ini benar-benar melebihi kata sangat tidak waras!” Ucapan Soma Wisesa tersebut langsung mengundang anggukan takjub dan kekeh dari yang lainnya.

“Kalau begitu, kita segera masuk kedalam realitas gila yang diciptakan Cadrakara!” ucap Hailana Sang Dewi Ruh dengan semangat sangat menyala.

Tanpa membuang waktu, Hailana segera merapalkan bahasa buhun/bahasa sunda kuno, yang dilantunkan menyerupai kidung sunda yang terdengar sangat magis. Suara Hailana yang menyayat indah menelusuk sukma, membuat tubuh mereka tiba-tiba terberai seperti pasir, yang lalu kembali utuh di atas salah satu butiran pasir, tempat dimana sang Ether berada.

Begitu sampai, mereka menemukan Ragadewa dalam keadaan yang masih berdiri terkejut dihadapan sebuah kuil pasir. Kuil pasir megah yang dihiasi dengan ukiran sunda kuno yang begitu otentik mempesona.

Sebuah karya abadi yang seakan ditatah oleh para leluhur kuno. Tatahan harimau Garang gagah perkasa, yang terlilit motif-motif halus seperti daun hanjuang, sayap garuda dan motif Galura. Mereka saling melilit dalam harmoni yang membuat tercekat. Disekitarnya terpahat pula, banyaknya burung cangkurileung kecil berterbangan diantara pola kawung dan bunga tanjung yang bermekaran disetiap sisi. Membuat ukiran ini bukan sekedar ukiran kuno, melainkan bahasa dan permohonan doa dalam melindungi isi dari dalam kuil pasir ini.

“Kalian!” ucap Ragadewa yang akhirnya merasa lega.

“Nanti kami jelaskan, sekarang kita masuk kedalam kuil pasir ini untuk mencari petunjuk selanjutnya.” Jawab Galuh yang berjalan terlebih dahulu menuju pintu besar kuil tersebut.

Adhit cukup terkesima, ternyata Galuh telah berubah! Galuh kini berani untuk mengeluarkan karakter aslinya sebagai pemimpin. Disisi lain, Ragadewa juga memperhatikan reaksi terkejut Adhit dengan perubahan Galuh. Setelah itu Ragadewa tersenyum, kini ia tahu bahwa keputusannya untuk melepaskan Galuh pada Adhit memang tepat.

Begitu mereka semua masuk, semuanya langsung terperanjat luar biasa, karena mereka seakan-akan tengah masuk kedalam suasana sebuah lubang hitam! Dimana kegelapan yang melingkar seakan tidak memiliki awal ataupun akhir. Langit-langitnya sendiri seakan begitu tinggi sehingga tampak tidak terhingga.

Pemandangan tersebut membuat leher mereka meremang. Karena selain tempat ini sunyi, tempat ini juga dilingkupi hawa kosong yang begitu menakutkan.

“Apa akan ada monster keluar dari sana?” tanya Adhit yang langsung spontan dicubit oleh Galuh. “Kamu sembarangan sekali, pamali! bagaimana bila apa yang kamu ucapkan terjadi!” ucap Galuh galak. Gada Sangkara sampai tergelak karena reaksi Galuh terhadap celotehan asal Adhit.

“Kalian ini seperti sepasang suami istri yang telah lama menikah Hahaha…” ucap Gada sambil tertawa, yang setelah itu giliran Gada yang dicubit Galuh sehingga ditertawakan Adhit dengan sangat puas. Ragadewa hanya terkekeh sambil menggeleng.

Galuh dan Soma Wisesa masuk lebih kedalam terlebih dahulu, yang lalu diikuti oleh yang lainnya. Lalu, “Brak!” Tiba-tiba pintu kuil tertutup, setelah itu pintu tersebut menghilang begitu saja. Kini mereka seakan-akan ada didalam ruang hampa yang tidak berbatas.

Gada Sangkara segera menempelkan tangannya dimana pintu tersebut menghilang, karena mengira itu hanya dinding yang tertutup ilusi. Namun, saat tangannya menempel, justru malah seakan sedang menepak angin. Lalu leher merekapun meremang untuk kedua kalinya, mereka benar-benar didalam ruang hampa kosong yang tidak berbatas.

Disini baru juga baru disadari, bahwa bagian dalam kuil ini tampak seperti langit malam yang dingin dan hening. Namun tubuh mereka tertempa sinar lembut yang entah dari mana, sehingga membuat mereka bisa melihat satu sama lain.

Tiba-tiba ratusan obor menyala, sontak membuat semua yang ada disana langsung terkejut luar biasa. Namun setelahnya, kini mulai terlihat bahwa kegelapan ini ternyata mempunyai ruang yang samar, namun dengan cara yang cukup aneh.

Hal pertama yang terlihat adalah, obor-obor ini menempel pada tiang-tiang granit hitam besar yang menjulang sangat tinggi. Namun, ujung bawah dan ujung atas tiang tersebut, semakin keujung, semakin transparan. Benar-benar pemandangan yang sangat aneh.

Hal ke dua adalah, munculnya sebuah lorong, yang membuat mereka semua merasa akan melintasi sebuah batas paradigma yang sarat misteri.

Semakin masuk kedalam, mereka malah terperanjat. Mereka kini dihadapkan pada labirin cermin yang begitu berliku dan membingungkan. Namun bukan puluhan, melainkan ribuan cermin yang beberapa selalu memecah menjadi angin, lalu berganti tempat dengan sudut kemiringan berbeda.

Di Labirin ini, para pemilik elemen sangat sering tersesat, bahkan sangat sering membentur cermin dari segala sisi. Mereka benar-benar tidak dapat membedakan, mana lorong, mana yang ternyata hanya berupa pantulan cermin saja.  

Namun bukan itu saja. Disini terdapat aliran embun yang mengalir seperti air, lalu angin yang berhembus kesana kemari. Namun embun dan angin tersebut bergerak menembus kedalam cermin, sehingga hal tersebut benar-benar mengecohkan arah perjalanan mereka.

Melihat hal tersebut, Hailana Sang Dewi Ruh memutuskan melayang ke atas untuk mengawasi arah dari atas labirin cermin. Sedangkan yang lainnya, tetap mengikuti alur yang diarahkan Hailana dari atas.

Hailana yang melayang anggun seolah tidak terikat oleh hukum alam, disertai gemulai lembut penuh magis dari kain batik sutra yang membalut kemolekan tubuhnya yang maha indah, malah membuat para pria disana jadi hilang konsentrasi.

Kecuali Soma Wisesa, pria satu ini tetap tenang tidak tergoyahkan. Hatinya yang hanya terpaut pada Nawang Wulan seorang, membuat pesona Hailana hanya sekedar angin lalu yang tidak membekas sama sekali. Padahal Galuh sendiri sebagai perempuan mengakui, bila gemulai Hailana memang keindahan visual yang tidak terbantahkan.

“Indah sekali..” ucap Galuh refleks, “Tapi gak seindah kamu,” jawab Adhit sambil tersenyum usil. Sontak hal tersebut membuat Adhit terkena cubitan spontan dari Galuh, sehingga semua langsung terkekeh geli. Ragadewa juga terkekeh, namun masih ada sedikit iri melihat Galuh yang bisa bersikap sangat terbuka pada Adhit.

“Menurut petunjuk Kitab Candrakara, ada satu cermin yang terselip diantara ribuan cermin. Namun bila disentuh, cermin tersebut ternyata sebuah ruang berceruk dan hanya bisa dikenali oleh pemilik elemen Ether. Tetapi cermin yang mana?” Ucap Soma Wisesa merasa kesal. Sebagai Kaum Astamaya yang ditakuti di masa lampau, semua hal yang disiapkan Candrakara, benar-benar menonjok egonya sendiri.

Ragadewa yang mengerti, ia langsung membuat replika dirinya jadi lima, yang lalu berjalan duluan mencari cermin yang mereka cari.

Galuh dan Gada Sangkara ikut memeriksa di sisi kanan, sedangkan Adhit dan Soma Wisesa di sisi kiri. Adhit bahkan menyoroti satu persatu cermin yang dia temui dengan senter miliknya, namun tidak ada yang berceruk, semuanya menyerupai cermin biasa!

“Kalian mencari sesuatu?” tanya seseorang dari dalam cermin, yang sontak membuat semua yang ada disana terkejut bukan main.

“Benda? Kebenaran? Atau lebih jelasnya.. sesuatu yang bukan milik kalian?” ucap seseorang yang menyeringai perlahan dari balik kegelapan salah satu cermin.

Lalu dengan perlahan, sebuah cahaya lembut menyingkap sosok tersebut. Galuh dan kawan-kawan terkejut, karena ternyata sosok tersebut ternyata adalah wanita dengan wajah yang begitu tenang. Seseorang yang seakan-akan mengetahui rahasia tentang semesta ini, namun enggan untuk mengucap.

Mereka semakin terkesima karena wanita berwajah pucat ini mempunyai bola mata seperti nebula, berwarna ungu muda dengan irisnya yang menyerupai galaksi yang tengah bergerak.

“Kamu penjaga sang Ether?” Tanya Galuh penuh waspada. Wanita itu hanya tersenyum, lalu menatap semua satu persatu seakan sedang melihat intisari dari masing-masing pemilik elemen.

“Apa yang ingin kalian lakukan dengan sang Ether?” Tanya wanita ini lagi dengan nada lembut namun ritmis, seakan-akan setiap kata yang dia ucapkan adalah mantera menuju realitas.

Leher para pemilik elemen mulai meremang. Namun anehnya, sekalipun Galuh sedikit panik, para Ajag tidak bereaksi apapun. Galuh mengintip sebentar pada segel para Ajag, dan ia menemukan para Ajag tampak mati suri didalam segel. Sontak hal tersebut membuat Galuh semakin panik, tanpa para Ajag, Galuh merasa sangat kosong.

Galuh lalu memandang kembali wanita didalam cermin tersebut, ia kini ngeri dengan kekuatan yang dimiliki wanita misterius tersebut.

Para pemilik elemenpun mulai terlihat resah, namun tidak dengan Hailana Sang Dewi Ruh. Sekalipun ia tidak menampakan wajah bersahabat, wajah Hailana masih terlihat sangat tenang.

Wanita cermin ini malah terus menyesatkan mereka, memberi mereka pertanyaan – pertanyaan menjebak, lalu muncul dan menghilang dari balik berbagai cermin. Bahkan saat mereka bilang bahwa mereka adalah yang ditugaskan Candrakara, wanita tersebut tetap tidak percaya, bahkan meneruskan semua muslihatnya sehingga menciptakan sebuah terror yang menakutkan.

“Citraloka.. hentikan semua sandiwara ini, kami semua datang atas permintaan Candrakara!” ucap Hailana dengan gema suara yang menakutkan.

Gema yang dipenuhi energi menakutkan tersebut, membuat wanita yang dipanggil Citraloka langsung terkejut. Lalu tiba-tiba saja pupil matanya berubah menjadi seperti pupil mata para Kaum Ruh, yang setelah itu ia terkejut melihat dihadapannya ternyata adalah Hailana Sang Dewi Ruh.

“Hailana? Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa sekarang Kaum Ruh telah bekerja sama dengan Kaum Hitam?” tanya Citraloka terkejut. Lalu dengan rambut yang mulai menggerai marah, ia mulai dengan posisi siaga, namun Hailana menanggapinya hanya menggeleng tenang.

Tiba-tiba saja Citraloka menyerang semua yang ada disana secara membabi buta. Cermin-cermin berterbangan dan pecah karena saling membentur. Embun dan angin didalam ruangan itu juga menyerang mereka semua tanpa ampun.

Semua pemilik elemen panik dan berusaha untuk melindungi diri dengan energinya. lalu Adhit sendiri yang sudah terbungkus segel yang dikeluarkan oleh kalung Sura Suradana miliknya, berusaha untuk membuka informasi tentang wanita yang dipanggil Hailana sebagai Citraloka. Namun, serangan dari Citraloka ternyata terlalu brutal, membuat Adhit yang masih terlindungi segel dari kalungnya terpontang-panting kesana kemari.

Akhirnya Hailana Sang Dewi Ruh terbang kearah Citraloka, namun tetap dengan sikap tubuh yang tenang, seakan-akan semua serangan yang dilempar Citraloka adalah angin lalu. Namun, ketika Hailana merentangkan kedua lengannya, semua serangan Citraloka langsung membeku seketika, dan ini membuat semua yang ada disana langsung ngeri seketika.

“Ini Gila!” ucap Soma Wisesa hampir tidak percaya. Galuh menoleh pada Soma Wisesa dengan pandangan penuh tanya. “Energi Citraloka adalah energi kuno, energi yang tidak dapat ditandinggi siapapun dimasa ini. Namun, Hailana bisa menghalau energinya dengan mudah? Usia Hailana ternyata lebih tua dari yang kita perkirakan!” ucap Soma Wisesa yang kini membuat Galuh dan Gada Sangkara yang sudah mendekat pada mereka terkejut luar biasa.

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu.. Aahh.. seribu tahun? Apa kamu pikir seribu tahun bisa mengubah pemikiran saya tentang sepak terjang Kaum Hitam! Itu sebuah penghinaan besar untuk saya Citraloka!” ucap Hailana mengingatkan sopan, namun nadanya kali ini malah terasa bergaung ditengah suasana senyap mematikan.

Citraloka hendak menyerang Hailana kembali, namun Hailana segera mengeluarkan energinya sehingga Citraloka terikat oleh energi yang tidak bisa ia putuskan sama sekali. Dalam keadaan terikat, Citraloka tertawa lalu berkata, “Cermin itu hanya akan ditemukan oleh pemilik elemen sesungguhnya! Bukan replika kelas teri seperti kalian Hahaha!” cerca Citraloka dengan kasar.

“Hentikan semua kegilaan ini Citraloka!” teriak Hailana sambil mengibaskan sebelah tangannya yang mengakibatkan tabir diruang cermin ini terbuka.

Sebuah tabir yang memperlihatkan sebuah dunia yang diciptakan Citraloka agar selama menunggu, agar ia tidak merasa sendirian. Tetapi dunia yang ia ciptakan justru menggiringnya pada opini menyesatkan, sehingga ia tergiring pada cerita bahwa Kaum Hitam telah menang dan tinggal Sang Ether yang masih aman terlindungi.

Kini semua yang ada disana mengerti, Citraloka terbawa opini dalam pemikirannya sendiri, sehingga realitas yang telah ia ciptakan, membuatnya ia tidak bisa membedakan mana nyata dan ilusinya sendiri.

“Kini kita mengerti mengapa Candrakara menggiring Hailana untuk ikut dengan kita, karena yang bisa menghadapi Citraloka hanya Hailana sendiri,” ucap Adhit yang ternyata sudah mendekat pada Galuh.

Soma Wisesa semakin tersenyum sambil menggeleng, “Candrakara sudah menyembunyikan Sang Ether di atas butiran pasir, setelah itu menggiring Hailana untuk ikut dengan kita agar bisa mengimbangi Citraloka? Candrakara sudah melewati kata sangat tidak waras!” ucap Soma Wisesa sambil tersenyum tidak percaya.

Ragadewa yang masih agak jauh, ketika berjalan mendekat pada pemilik elemen lain, malah membuat salah satu cermin memendar.

“Sang Ether!” ucap Soma Wisesa senang.

Salah satu cermin memendar tersebut membuat Citraloka terperanjat tidak percaya, lalu tiba-tiba luruhlah keseluruhan ilusi yang dibuat Citraloka, dan para Ajagpun kembali siuman dan bersuara.

Ketika Ragadewa menyentuh cermin tersebut, tiba-tiba segel cermin tersebut terbuka dan memperlihatkan ceruknya. Dengan tidak menunggu lama,  Adhit segera datang membawa kalung Istana Tujuh Pintu yang berisi Nawang Wulan.

Kehadiran Nawang Wulan membuat Sang Ether mau memunculkan diri, lalu kembali bersatu dengan retakan lain yang telah berhasil mereka kumpulkan, membuat Citraloka langsung menangis bahagia.

“Akhirnyaaa… akhirnya penantian ini…. akhirnya saya bisa bertemu dengan Candrakara….” isak Citraloka dengan sangat dalam. Persembunyiannya ternyata membuatnya lupa berapa lama ia berada didalam kuil pasir tersebut.

Ketika Citraloka mengetahui Candrakara telah lama tewas, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Ditengah tangis Citraloka yang menyarat hati, seluruh langit-langit Kuil yang tadinya berisi ilusi, memperlihatkan gambaran-gambaran kacau tentang semua pertemuan Citraloka dengan Candrakara.

Disini mereka semua baru mengetahui, bahwa Candrakara adalah pria kharismatik yang membuat Citraloka sangat jatuh hati. Bahkan Citraloka mau saja ketika Candrakara menawarkannya untuk menjaga Sang Ether.

Begitu tangisnya mereda, Akhirnya Citraloka memutuskan untuk ikut pulang bersama Hailana Sang Dewi Ruh menuju bukit Ruh.

Ketika hendak kembali pulang ke Astamaya, Tiba-tiba NaRaja bertanya tentang tujuan sebenarnya kedatangan Hailana Sang Dewi Ruh.

Hailana menanggapinya dengan tersenyum lalu berkata, “Batu tunggal itu sebenarnya titipan Candrakara. Tadinya, saya memenuhi permintaan Candrakara, sebagai bentuk balas budi karena pertolongannya saat itu. Namun, setelah melihatmu saat itu, biarpun tidak dititipi batu tersebut, saya akan tetap datang menyusul kamu.. hahaha.. ” Sontak hal tersebut membuat NaRaja menggeram sambil berbalik sebal, terlihat sekali bahwa NaRaja menyesal mengajukan pertanyaan tersebut.

Perkataan Hailana membuat semua terhenyak, bahkan Soma Wisesa tidak dapat menahan komentarnya. “Candrakara, sekalipun telah lama wafat, ia tetap berhasil membuat saya sering terkejut!” Perkataan sarkas Soma Wisesa malah membuat semua yang ada disana jadi tertawa lepas.

Sebelum pergi mengikuti Hailana Sang Dewi Ruh, Citraloka berpesan, “Batu Hyang Sawarga memiliki daya kehancuran yang luar biasa, siapapun yang berhasil memegangnya, akan memiliki kekuatan yang tidak tertandingi. Candrakara berpesan, hancurkan selagi bisa!” Sepertinya Candrakara sangat khawatir, bila para pemilik elemen akan berubah pikiran mengingat kekuatan batu ini memiliki daya kehancuran berskala sangat besar.

Setelah ke empat retakan batu terkumpul, Galuh dan kawan-kawan malah terkejut dengan petunjuk yang tertera dalam Kitab Candrakara yang tiba-tiba yang mengharuskan mereka kembali pulang ke Astamaya!

Begitu mereka berhasil menyeberangi pintu batas antara dunia Manusia dan Astamaya, tiba-tiba mereka sudah dihadang Dwasa Si Mahluk Asap!

Mereka terkejut, ketika tiba-tiba Galuh roboh oleh lesatan kerikil asap milik Dwasa yang begitu senyap!

- Bersambung - Desya Saghir -

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir