Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 2: Hyang Sawarga | Bab 34 – Sang Ether? | By: Desya Saghir

"Nona Galuh!" Jawab Kahiyang Raga sambil berlari menuju Galuh dan kawan-kawan.


Setelah sampai, Kahiyang Raga berkata, "Tadinya saya berniat hanya melintas saja, namun saya terhenti, curiga karena mahluk asap ini membawa energi yang tidak biasa, bahkan terlampau besar!" Ucap Kahiyang sambil menyerahkan Sang Angin yang ia rebut dari Dwasa Si Mahluk Asap. Sontak Kahiyang langsung mendapat pelukan penuh terimakasih dari Galuh. 


"Pilih kasih sekali, saya juga sering membantu kamu, tapi kamu tidak pernah memeluk saya sekalipun," ucap Adhit, yang sontak membuat Galuh langsung mencubit Adhit sampai mengaduh kesakitan. Gara-gara itu pula, suasana yang tadinya tegang, kini langsung dipenuhi gelak awa.


Setelah tugasnya selesai, Sang Pertapa justru lebih memilih untuk tetap menjadi Ruh dulu agar bisa tinggal di Istana Tujuh Pintu, karena ia ingin menemani anak-anaknya sampai tugas mereka selesai. Begitu Galuh mengijinkan, para Dewi, termasuk Nawang Wulan langsung memeluk Galuh dengan sangat penuh terimakasih. 


"Nona Galuh, apapun yang anda butuhkan, kami akan berusaha mewujudkannya sekalipun nyawa kami adalah taruhannya, "ucap Dewi tertua, yang langsung diiyakan oleh semua adik-adiknya, termasuk Nawang Wulan. Galuh yang terharu, langsung memeluk mereka lagi dengan sangat penuh terimakasih.


Setelah sang Pertapa dan ketujuh putrinya sudah masuk kedalam Istana Tujuh Pintu, Galuh justru menyerahkan pecahan Kitab Sembilan yang sudah ada ditangannya pada Kahiyang Raga. 


"NaRaja mengatakan bahwa setiap pecahan Kitab Sembilan itu selalu saling memanggil satu sama lain, karena awalnya mereka berasal dari satu energi. Maka, semakin banyak pecahan Kitab Sembilan yang ada ditangannya, semakin mudah pula Kahiyang Raga dalam melacak sisanya." Penjelasan itu membuat yang lainnya mengangguk mengerti, dan memahami keputusan Galuh saat itu.


Begitu Kahiyang mendengar hal tersebut, saking antusiasnya, ia bahkan hampir berteriak kegirangan. Setelah itu Kahiyang langsung memeluk Galuh dengan pelukan yang sangat erat. 


"Saat semuanya lengkap, saya akan segera menyerahkannya kepadamu. Terserah istana akan menjadikannya apa, mau dihancurkan atau dimanfaatkan, saya tetap akan menyerahkannya kepadamu Galuh," Ucap Kahiang Raga dengan penuh rasa percaya yang amat dalam. Lalu, Galuh menyepakatinya dengan mengangguk sebagai tanda setuju. 


Adhit memandang Galuh sambil tersenyum bangga. "Dia benar-benar memiliki bakat alami sebagai pemimpin kharismatik, benar kan Dewa?" bisik Adhit pada Ragadewa.


Ragadewa sedikit tertegun, namun setelah itu ia mengiyakan. "Benar sekali.. " jawab Ragadewa sambil ikut tersenyum bangga. 


Ragadewa baru sadar, selama ini ia selalu sibuk mengukur bagaimana perasaan Galuh terhadap dirinya, namun ia lupa dalam memahami Galuh seutuhnya. Kemudian Ragadewa melirik Adhit sambil tersenyum tipis. Hati kecilnya seperti menyadari, bahwa ternyata sosok seperti Adhitlah yang kelak bisa membuat Galuh tumbuh menjadi lebih baik.


Begitu pecahan dari Kitab Sembilan yang diberikan Galuh disatukan, Kahiyang langsung menemukan sinyal panggilan dari pecahan Kitab Sembilan lain dengan lebih jelas. Saking senangnya, Kahiyang sampai memeluk Galuh dengan erat sekali lagi, yang setelah itu ia segera berpamitan untuk segera melanjutkan pencariannya.


Begitu Kahiyang Raga sudah hilang dari pandangan, tiba-tiba petunjuk baru dalam Kitab Candrakara muncul. Soma Wisesa yang agak terkejut, kini duduk sebentar untuk sedikit menterjemahkan petunjuk selanjutnya. 


"Disini dituliskan, untuk menemukan Sang Ether, kita harus menuju Barat Daya," ucap Soma dengan tatapan lekat pada Kitab Candrakara.


"Barat Daya? Memangnya disana ada apa?" tanya Adhit penasaran. Mendengar pertanyaan Adhit, Soma Wisesa hanya menatap Adhit dengan alis terangkat. 


"Ah.. iya, sebagian petunjuk ada di memori Candrakara yang terdapat di kepala saya ya, harusnya saya yang menjawab itu.. hahaha..!" Ralat Adhit sambil menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. Sontak hal tersebut membuat semuanya kembali tertawa.


Ditengah perjalanan dalam mencari tempat disembunyikannya Sang Ether, mereka malah tak sengaja menemukan Dharma yang tengah bertarung dengan Panglima Hitam! 


Galuh dan kawan-kawan heran, karena biarpun ia seorang Panglima Hitam yang sedang tanpa pasukan, ia tampak tidak ketakutan sama sekali dalam menghadapi kekuatan Dharma. Energi Dharma yang tidak umum, memang membuat Panglima Hitam ini terkejut beberapa kali, namun hal itu justru tidak membuatnya mundur sama sekali, bahkan ia bisa melempar balik energi tersebut dengan energi yang setara!


"Dia bukan Panglima Hitam biasa, melainkan salah satu panglima dari pasukan Elit Hitam. "Bisik NaRaja tiba-tiba. "Selain kuat, ia juga pewaris dari pemegang kendi penggodok ruh yang dulu dipakai membuat enam ajag. Bila kalian sekarang membantu Dharma, Galuh tidak boleh mengeluarkan kami sama sekali, karena hanya akan membuat kami tersedot kedalam kendi penggodok Ruh," bisik NaRaja lagi yang membuat Galuh dan Adhit terkejut.


Ternyata benar, saat membantu Dharma, para pemilik elemen benar-benar kewalahan sehingga akhirnya semua terpojok. bahkan Soma Wisesa yang justru tersedot kedalam kendi Ruh.


"Orang ini tidak bisa diremehkan sama sekali!" bisik Gada Sangkara pada Adhit sambil menahan sakit pada bahunya yang cedera. 


Adhit, yang masih berusaha mengenali jenis energi Panglima Hitam melalui Bola Hologram yang dikeluarkan Kalung Sura Suradana miliknya, justru mendapati bola hologram tersebut tidak mengenali jenis energi milik Panglima Hitam ini.


"Bagaimana bisa?" ucap Adhit tidak percaya."


"Kendi Ruh yang disadang Panglima Hitam itu, pernah dipakai menggodok ribuan Ruh dengan rentang waktu yang amat sangat lama." Jelas Gada Sangkara. "Itulah sebabnya, bola hologram milikmu tidak bisa mendeteksinya, karena energi Panglima Hitam ini tersamarkan oleh ribuan energi Ruh yang penah digodok disana," ucap Gada Sangkara lagi yang membuat Adhit kini mengerti.


Namun mereka berdua menoleh terkejut, karena serangan Panglima Hitam dalam melawan Galuh dan Ragadewa menimbulkan dentuman suara yang hebat. Setelah itu, Ragadewa malah terpental, lalu menyisakan Galuh dan Dharma yang masih terus bertahan.


Dharma yang semula hanya bertarung dengan energi yang relatif aman, tersentak saat melihat keadaan Galuh yang terpojok. 


Galuh yang kepayahan, malah membuat segel para Ajag mengendur. Sesuai tabiat para Ajag yang gampang terbawa emosi, begitu melihat Galuh terpojok, Para Ajag bawahan NaRaja langsung menerjang keluar untuk mengamuk. Hal tersebut justru membuat Panglima Hitam tersebut menyadari identitas Galuh. Maka, dengan cepat ia arahkan Kendi Ruh miliknya ke arah Galuh, yang sontak langsung membuat para Ajag tersedot menuju Kendi Ruh tersebut.


Dengan cepat, Dharma langsung memasang segel dinding yang hanya mengurung dirinya dan Panglima Hitam tersebut. Sehingga para Ajag yang tadinya tersedot, menabrak segel dinding bagian luar, lalu kembali pada tubuh Galuh.


Saat Panglima Hitam tersebut marah karena usahanya digagalkan Dharma, lalu ia melepaskan kekesalannya dengan menyerang Dharma dengan sangat brutal. Namun ia tidak tahu bahwa kekuatan Dharma yang ia hadapi sebelumnya bukan kekuatan Dharma yang sesungguhnya.


Dalam segel dinding yang ia buat, Dharma melewati semua serangan brutal Panglima Hitam tersebut dengan langkah yang begitu tenang. Bahkan, semua serangan yang dilontarkan Panglima Hitam tersebut seakan hanya pukulan kosong!


Dan begitu sudah dekat, dengan satu tepakan tangan yang mengenai kepala Panglima Hitam tersebut. tiba-tiba saja Panglima Hitam tersebut tampak jatuh terduduk dalam kondisi mata yang menatap kosong, lalu Dharma duduk tepat didepannya secara berhadapan.


Ditengah posisi hening Dharma dan Panglima Hitam tersebut yang duduk saling berhadapan, tiba-tiba tubuh Panglima Hitam tersebut bergetar seakan tengah menerima pukulan hebat yang benar-benar mengguncang. Karena hal itu pula, Kendi Ruh yang diselempangkan Panglima Hitam tersebut retak, yang menyebabkan Soma Wisesa terpental kembali keluar dari Kendi Ruh. Lalu dengan sekali kibasan tangan, Dharma membuka segel untuk menghempaskan Soma Wisesa keluar segel, lalu setelah itu Dharma menutupnya kembali.


"Apa yang terjadi?" tanya Adhit tidak mengerti. 


"Dharma memaksa Panglima Hitam tersebut untuk bertarung didalam alam pikiran mereka." Jelas NaRaja penuh antusias, terlihat sekali bahwa NaRaja menikmati pertarungan ini. 


"Seperti yang dilakukan Guru Candrakara dan Soma Wisesa ketika membuat Kitab Candrakra?" tanya Adhit lagi. 


"Benar, namun Guru Candrakara menggabungkan ilmu alam pikiran dengan ilmu mahui, sehingga jarak tidak mempermasalahkan mareka untuk saling bertemu dalam Alam Pikiran. Namun Dharma, ia hanya menggunakan ilmu dalam Kitab Alam pikiran saja, sehingga hanya bisa dilakukan dalam jarak dekat," jelas NaRaja lagi.


Soma Wisesa mendekati mereka sambil tersenyum. "Candrakara itu antara jenius dan tidak waras. Ilmu Kitab Sembilan itu susah dipelajari, dan bila menguasainya, ia hanya mampu menguasai satu jenis saja, seperti yang dilakukan Dharma. Tetapi Candrakara menggabung-gabungkan ilmu dengan seenak jidatnya," ucap Soma Wisesa sembarangan. Mereka langsung tersenyum mendengar ocehan sarkas Soma Wisesa.


Adhit terkejut, karena pukulan yang dilesatkan Dharma dalam dunia alam pikiran, justru membuat efek nyata pada Panglima Hitam tersebut. Sekalipun tidak saling menyentuh, memar dan luka-luka keduanya, tergores begitu nyata.


"Saya pikir, Dharma memilih pertarungan didalam alam pikiran, agar pertarungan tersebut hanya antara dia dan musuhnya saja. Sedangkan mahluk hidup disekitarnya tidak terkena efek apapun," ucap Adhit yang kini disadari oleh yang lainnya.


"Benar, dan setiap pantulan energi yang keluar dari salah satu tubuh yang tengah bertarung, energi tersebut akan terpantul pada dinding segel saja, sehingga tidak akan melukai mahluk apapun didekatnya," sambung Gada Sangkara dengan takjub.


Para pemilik elemen sempat khawatir karena Dharma yang sepertinya tengah terpojok. Namun, tiba-tiba Dharma bersuara, "Saya sudah memberi kamu banyak kesempatan agar kamu tetap hidup, baiklah bila ini memang keputusan kamu," Ucap Dharma dengan tubuh yang masih bersila dihadapan Panglima Hitam tersebut.


Setelah itu, tubuh Dharma tiba-tiba melayang sedikit, lalu mengeluarkan biasan energi yang membuat segel bergetar menggelegar. Begitu gelegar selesai, mereka kini mendapati tubuh Panglima Hitam yang sempat membuat Galuh dan kawan-kawan kewalahan, kini koyak dan dengan darah yang menciprat hingga bagian dalam dinding segel.


Setelah selesai bertarung, Darma tersadar seakan kembali siuman. Disini para pemilik Elemen ingat akan sebuah gambaran runtuhnya Kuil Pertapa yang pernah diperlihatkan Dharma. Saat Dharma menangis pilu mendapatkan para Pertapa dan sahabat-sahabatnya tewas mengenaskan, lalu secara tidak sadar Dharma melayang dan membiaskan energi yang membuat Kuil Pertapa langsung hancur menjadi debu.


Rumput dan tanaman yang ada didalam segel menjadi sangat rusak. Dharma mengambil sari-sari dari mayat Panglima Hitam tersebut dengan energinya, lalu ia sebarkan pada seluruh hal yang rusak didalam batas dinding segel yang ia buat. Lalu tiba-tiba saja, semua tanaman rusak tersebut kembali segar, seakan tidak pernah tersentuh apapun.


Saat meregenerasi semua tanaman yang rusak, Dharma berkata khidmat. "Kini, hiduplah lagi demi kebaikan untuk semua mahluk." Lalu setelahnya, Dharma menoleh pada Galuh dan Kawan-kawan dengan ekspresi remaja sopan pada umumnya.


Namun setelah itu, Dharma malah memutuskan berpisah. Ia mengatakan, pertarungan barusan tentu akan secepatnya terendus, maka ia memutuskan berpisah agar konsentrasi Kaum Hitam terpecah, sehingga Galuh dan kawan–kawan tenang dalam masa pencariannya untuk menemukan pecahan Batu Hyang Sawarga selanjutnya.


Saat Dharma hendak pergi, tiba-tiba NaRaja keluar dari segel yang sontak membuat para pemilik elemen terkejut luar biasa. Selain energi gelap yang seakan membludak keluar dari tubuhnya besarnya. Sosoknya yang benar-benar sangat gagah dan besar, benar-benar sangat mengerikan saat tersorot matahari.


"Saya mengagumi keindahan energimu anak muda," ucap NaRaja yang lalu menunduk, setelah itu ia menghilang masuk ke dalam segel tubuh Galuh.


Semua terhenyak, terutama Galuh. Karena sepanjang yang ia tahu, para Ajag adalah mahluk tersombong yang pernah ia ketahui, terutama NaRaja. Selain sangat menyebalkan, NaRaja adalah sosok yang benar-benar bebal luar biasa.


Satu-satunya yang disambut baik oleh para Ajag adalah Adhit. Itu juga karena selain sama bar-barnya dengan mereka, Adhit juga pemilik energi sang Api, energi yang umumnya disukai para Kaum Hitam. Tetapi Dharma, seorang anak muda sopan dan penuh tata krama, sosok yang sering disebut para Ajag sebagai mental agar-agar, tiba-tiba membuat Sesosok NaRaja menunduk hormat? Galuh menggeleng karena benar-benar semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Akhirnya munculah sekelebat memori Guru Candrakara yang ada di kepala Adhit. "Saya melihat hamparan pasir sejauh mata memandang, seperti lautan kering yang bergelombang tanpa air." Ucap Adhit dengan mata terpejam. 


"Hamparan pasir? Apa kita harus menuju timur tengah?" ucap Gada Sangkara keheranan.


"Sepertinya bukan, karena petunjuk di Kitab Candrakara mengatakan, Pasir Vulkanik yang berpindah dari lereng Merapi" ucap Soma Wisesa menegaskan.


"Aaah...Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta!" Ucap Adhit dan Ragadewa bersamaan. Setelah itu Adhit dan Ragadewa menoleh bersamaan yang setelah itu tergelak juga bersamaan.


"Ada yang hendak menuju Gumuk Pasir Parangkusumo?" tanya seseorang yang membuat semuanya menoleh, namun langsung terhenyak luar biasa!


"Hailana Sang Dewi Ruh? Bagaimana bisa anda disini?" ucap Adhit dan Galuh bersamaan.


Adhit sampai menggunakan teropong Ruh untuk memastikan bahwa dihadapan mereka benar-benar Hailana Sang Dewi Ruh.


"Apa yang membuat anda datang dari jauh Nona Hailana?" tanya Galuh berusaha sopan. 


"Karena saya tidak bisa menahan rindu pada NaRajaa.." jawab Hailana enteng. "Narajaa sayaaang...." Teriak Hailana, yang lalu dengan agresif masuk menembus segel para Ajag dengan tanpa usaha apapun. 


Galuh terkejut dan merasa tidak nyaman, namun ia tidak bisa bertindak sembarangan. Bila Hailana bisa memasuki segel para Ajag dengan sangat sesuka hati, itu berarti Hailana adalah jenis Ruh yang lebih kuat dari NaRaja dan kawanannya.


Setelah di dalam segel para Ajag, Hailana malah membuat banyak kegaduhan. Ia bahkan menggoda NaRaja dengan banyak kalimat dan tindakan genit yang membuat NaRaja mati kutu. Namun sontak malah memancing ledakan tawa dari para Ajag lainnya. 


"Akhirnya, yang Mulia NaRaja menemukan pawangnya Hahahaha...." Ledek Aral, salah satu Ajag yang memang paling bengal dan sembarangan dalam berbicara.


Para Ajag tertawa, karena biasanya, kata yang terucap dari mulut NaRaja pasti sudah terolah matang dalam kepalanya. Namun begitu berhadapan dengan Hailana, NaRaja malah gugup, bahkan kalimat yang dikeluarkannya sangat meracau.


Setelah puas mengacau, Hailana keluar tersenyum dengan wajah penuh kemenangan. Sebuah senyum yang mendeklarasikan bahwa NaRaja kini adalah kekasih miliknya seorang.


Galuh tertegun. Rambut Hailana yang kini agak sedikit acak, justru tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Kain batik sutra yang tersobek di beberapa sisi pun, kini malah memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang indah tidak terbantahkan dengan sangat estetik. Sehingga semua kekacauan yang terjadi, malah menambah aura kecantikan Hailana menjadi semakin maha dasyat!


Setelah itu, dengan santainya Hailana membuka kembali segel para ajag yang terletak dibelakang Galuh, lalu memberikan tanda cium yang ditiup ke arah NaRaja. Setelah itu ia menutupnya kembali seakan-akan sedang bermain-main, padahal energi yang ia gunakan justru kekuatan skala berbahaya. 


Hailana melafalkan sebuah mantera, dan dalam sekejap tampilannya berubah kembali menjadi seperti semula. Semua hal tersebut, sukses membuat yang ada disana menatap Hailana dengan ngeri.


"Hailana itu sangat sakti dan cantik, bahkan terlalu cantik, tetapi ia sedikit tidak waras!" pikir Galuh kagum sekaligus was-was. 


"Bagaimana anda mengetahui posisi kami?" Tanya Galuh heran namun tetap sopan. 


"Saat dulu pertama kali masuk untuk menemui NaRaja, tidak sengaja saya menjatuhkan salah satu pasangan dari batu tunggal," Ucap Hailana enteng sambil memperlihatkan satu buah batu kerikil bercahaya. Sontak kehadiran batu tersebut kini mengundang keterkejutan dari Kaum Astamaya yang ada disana.


Galuh kemudian teringat saat pertama kali bertemu Hailana di Bukit Ruh. Ketika ingat bahwa Hailana memang pernah masuk secara sembarang seperti itu dulu, Galuh langsung mengangguk-angguk mengerti.


"Batu ini, sekalipun terpisah jauh sekali, mereka akan selalu saling menemukan, seperti cinta kami berdua," ucap Hailana dengan tidak tahu malu. Para Ajag kembali saling bersorak riuh, yang lalu segera ditimpali umpatan meracau lagi dari NaRaja.


"Pasangan batu tunggal ini, saya biarkan satu lagi tetap didalam sana ya.. agar bila suatu saat saya rindu NaRaja, saya akan datang dan mengacau lagi di dalam hahaha..," ucap Hailana sambil tertawa senang.


"Dia benar-benar sangat diluar prediksi," pikir Galuh yang kali ini tersenyum sambil menggeleng. 


"Ah, ternyata legenda tentang batu tunggal itu benar adanya," ucap Soma Wisesa sambil mendekati batu yang dipegang Hailana sang Dewi Ruh. Terlihat sekali bahwa Soma Wisesa sangat tertarik untuk mempelajari lebih lanjut. 


Galuh terkesima, melihat dua sosok yang lebih tampak seperti lukisan hidup yang dipenuhi unsur magis. Wajah Hailana yang beraura cantik mematikan, berpadu kontras dengan wajah pucat Soma Wisesa yang hampir albino, namun setiap raut dan garis wajahnya seakan sengaja dipahat khusus oleh tangan para Dewa. Mereka ini lebih tampak seperti dua entitas yang bukan berasal dari muka bumi. Indah, tetapi mematikan. Dingin, namun menyedot perhatian yang hanya untuk terarah pada mereka berdua.


"Batu tunggal?" tanya Adhit membuyarkan pandangan Galuh yang saat itu tertegun. 


"Ketika wilayah Astamaya dipisahkan dari dunia Manusia, tidak semua materi tercerai sempurna. beberapa pecahan tanah yang seharusnya tetap tinggal di dunia Manusia, malah masih menempel dengan kembarannya yang lalu ikut masuk kedalam wilayah Astamaya." Jawab Soma Wisesa, sambil terus menatap batu tunggal yang masih dipegang Hailana dengan takjub. 


"Mengapa mereka bisa melacak satu sama lain, karena material tersebut dan pasangannya berasal dari satu materi yang sama, seperti tubuh dan jiwa." Lanjut Soma Wisesa, yang membuat Adhit kini mengangguk-angguk mengerti dengan sama takjubnya.


Sekalipun yang lainnya tampak mempercayai maksud kedatangan Hailana Sang Dewi Ruh, Galuh dan Ragadewa sama sekali tidak mempercayainya. 


Untuk Ruh sekelas Hailana, disertai dengan segudang tanggung jawab di bukit Ruh, alasan ini terdengar agak remeh. Tetapi Galuh tetap membiarkan Hailana untuk ikut, karena ia ingin mengetahui maksud Hailana yang sebenarnya.


Kehadiran Hailana sang Dewi Ruh, tak disangka ternyata membuat perjalanan mereka menjadi lebih berwarna. 


Teriakan genit Hailana, keluhan beruntun dari NaRaja, disertai celetukan iseng Adhit dengan para Ajag dalam mengompori, membentuk harmoni kekacauan yang membuat yang lainnya jadi sering terkekeh geli, termasuk Soma Wisesa!


"Soma Wisesa? Pria yang selalu tampak seperti es abadi itu bisa terkekeh?" Pikir Galuh nyaris tak percaya. Pandanganpun beralih alami ke arah Adhit. "Ia benar-benar membuat semua orang nyaman untuk mengeluarkan karakter aslinya, termasuk si es abadi Soma WIsesa!" pikir Galuh sambil melirik Adhit dengan takjub. 


Ragadewa, yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Galuh kini agak terkejut. Ia memang sering melihat Galuh melirik diam-diam pada Adhit. Namun, baru kali ini Galuh melirik Adhit dengan wajah agak memerah. Ragadewa kemudian mengalihkan tatapannya pada kabut sekitar, seolah berharap kesejukan kabut saat itu masuk dan mendinginkan hatinya yang mulai memanas kembali.


Begitu mereka sampai di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta. Angin laut Selatan langsung menyapa mereka dengan belaian lembut. Hamparan pasir yang membentang luas tidak terhalang apapun, membuat mereka seakan masuk kedalam dunia yang hanya ada mereka saja disana. Dalam kesunyian, angin padang pasir sunyi ini seakan membisikan sebuah rahasia yang telah hancur termakan waktu.


Sekalipun Hailana sering mengacau didalam Segel Ruh para Ajag, Namun justru berdasarkan pengetahuan Hailana sang Dewi Ruh, mereka malah menemukan titik pasti dimana Sang Angin disembunyikan.


"Apapun rencana Hailana menemui kita semua, bisa jadi kedatangan Hailana atas rencana Guru Candrakara." Bisikan Adhit yang tiba-tiba membuat Galuh tersentak pelan. "Hailana terlihat begitu familiar dalam menemukan setiap petunjuk, tetap waspada saja." Saat Galuh menoleh, Adhit hanya mengedip, lalu kembali bergabung dengan Gada Sangkara yang sedang menatap keheningan hamparan pasir bersama Hailana Sang Dewi Ruh.


Ragadewa, yang tidak sengaja mendengar bisikan Adhit pada Galuh dari belakang langsung terkejut, ternyata Adhit tidak sepolos yang ia kira. 


Namun dibalik keterkejutannya, pandangannya terhadap Adhit kini berubah. Ragadewa melihat bahwa secara diam-diam, Adhit bukan hanya melihat Galuh secara seutuhnya, ia begitu memperhatikan apapun yang berpengaruh pada keselamatan Galuh, tanpa memperdulikan bagaimana pandangan Galuh pada Adhit. 


Ragadewa lalu tersenyum pahit namun tulus. Akhirnya ada suatu alasan yang mulai berdamai dengan hatinya sendiri. Baginya, bila cintanya akhirnya tidak berbalas, setidaknya Galuh menemukan seseorang yang memang layak untuk ia cintai.


"Candrakara pernah menunjukan gambaran sekilas tentang tempat ini. Dulu, saya tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia memperlihatkan gambaran tersebut, benar-benar perilaku yang tidak jelas, ternyata tempat ini benar-benar ada!" ucap Hailana sang Dewi Ruh sambil tersenyum dan menggeleng seakan menyadari sesuatu.


Galuh dan Ragadewa saling melirik, benar yang dikatakan Adhit, sepertinya Hailana Sang Dewi Ruh memang ditugaskan Candrakara untuk menemani mereka dalam perjalanan ini. 


"Lalu apakah maksud anda kesini bukan hanya untuk menemui NaRaja saja?" tanya Adhit tiba-tiba. Hailana cukup terkejut, namun setelah itu ia malah tersenyum.


"Kamu jeli sekali anak muda.. saya melakukan ini karena berhutang budi besar pada Candrakra, tetapi ia tidak mau apapun dari saya, kecuali permintaan bahwa saya harus menjatuhkan batu tunggal titipannya saat bertemu Nona Kanaya Galuh." Jawab Hailana sambil menoleh pada Galuh.


"Jadi, karena itu anda langsung mengenali saya ketika di Bukit Ruh?" ucap Galuh refleks. Hailana tersenyum.


"Begitu pertama bertemu saya belum mengenali, saya baru mengenali kamu sebagai Kanaya Galuh ketika saat si tampan NaRaja dan kawananya menggeram." Jawab Hailana sambil mengedip genit.


Soma Wisesa hanya menggeleng dengan tidak percaya, sekelas Hailana saja bisa Candrakara manfaatkan untuk mengikuti arahannya. "Candrakara benar-benar tidak waras," ucap Soma Wisesa menggeleng sambil tidak percaya.


Ketika sudah sangat mendekati petunjuk, tiba-tiba tubuh Ragadewa terpecah menjadi butiran pasir dan menghilang. 


Sontak semua terkejut sekaligus panik!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir