Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 39 – Hyang Sawarga yang menakutkan! | By: Desya Saghir

  Wajah Maharaja Ranji Raspati jadi separuh ular! Semua orang spontan menahan napas. Bi Nai yang baru memasuki ruangan untuk memberikan informasi terbaru, malah berteriak histeris. Lalu setelahnya malah pingsan ditempat. Ditengah kekalutan, Kakek Addar segera memfokuskan energinya untuk melayangkan tubuh paman Galuh menuju tempat tidur. Sedangkan Galuh, dengan tubuh yang gemetar hebat, ia segera memegang erat tangan Adhit untuk menahan tangis. Ia yang telah kehilangan ibunya, lalu ayahnya. Kini malah dihadapkan dengan kondisi paman kesayangannya yang tidak bisa dijelaskan sama sekali. Disatu sisi hatinya perih luar biasa, namun disisi lainnya, Galuh harus berusaha agar tetap kuat, agar segel para Ajag dalam tubuhnya tetap terjaga penuh. Disaat yang sama, Subhita yang panik karena ibunya tidak sadarkan diri, segera dibantu oleh energi Gada Sangkara dalam memapah ibunya yang pingsan keatas sofa. Setelah berterimakasih dengan hangat, Subhita langsung menghubungi Taphilli dan Cah...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 38 – Sang Cahaya | By: Desya Saghir

Langit tiba-tiba mencekam, namun bukan itu saja. Dari kejauhan terdengar suara lirih saling berdesing, yang tak lama kemudian, satu.. dua… bahkan tiga elang jawa terbang melingkar seakan sedang menunggu sebuah peristiwa besar. “Kumpulan Elang Jawa? Jangan-jangan.. Si Tengkorak Beruang!” bisik Gada Sangkara yang langsung menatap sekitar dengan waspada. Benar saja! Baru saja Gada Sangara menebak, tiba-tiba dari balik pepohonan yang tertutupi kabut, datanglah sosok tinggi, kekar dan besar seperti gunung berjalan. Langkahnya yang berdebam, jubah bulu beruang dengan sepasang pelindung bahu berukiran kepala beruang, ditambah satu tengkorak beruang yang tersemat diatas kepalanya, membuat semuanya kini yakin, bahwa orang dihadapan mereka adalah benar Si Tengorak Beruang. Adhit sedikit terkesima, saat melihat sarung punggung tangan dan sepatu Si Tengkorak Beruang yang terbuat dari tangan dan kaki beruang dengan cakarnya yang masih utuh. Adhit semakin terkesima, saat Si Tengorak Beruang ...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 37 – Ilusi Ular yang mencekam! | By: Desya Saghir

Dengan sigap Adhit menyingkirkan ular yang hampir menyentuh Kepala Galuh. Lalu setelahnya, mereka malah dikejutkan oleh ratusan ular yang tengah mengintip dari setiap ruas pepohonan. Benar saja, setelah itu muncul sesosok pria dengan siluet tubuh yang begitu kurus. Diatas kepalanya tersemat tengkorak ular besar yang menatap dingin. Lalu punggungnya tertutupi jubah sisik ular keemasan yang selalu berkelip setiap kali tersentuh cahaya matahari. Sepasang mata runcingnya yang beriris ular, kini menatap Galuh dan kawan-kawan dengan raut sombong. Tarikan raut matanya seolah mengatakan apapun yang ia temukan di dunia terlalu kecil untuk egonya yang seluas langit. “Si Tengkorak Ular! Berhati-hatilah,” ucap Gada Sangkara penuh nada waspada. Semua yang sebelumnya telah berpengalaman dengan Si Tengkorak Tikus, kini langsung mengerti bahwa dihadapan mereka adalah salah satu lima Jenderal Hitam yang terkenal berbahaya. Dengan kepala yang mendongak angkuh, Si Tengkorak Ular datang menghadang sambil ...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 36 – Perjalanan menuju Istana | By: Desya Saghir

Dwasa Si Mahluk Asap yang mereka kira sudah mati ditangan Kahiyang Raga, ternyata masih hidup! Ia bahkan menyambut mereka tepat didepan pintu masuk perbatasan antara Dunia Manusia dan Astamaya. Diiringi lengkingan tawa mengikik menyebalkan, Dwasa bertepuk tangan senang karena berhasil membuat Galuh roboh sampai tidak bisa berdiri kembali.  Adhit yang panik, segera melindungi Galuh dalam segel pelindung, melalui bola hologram yang ia keluarkan dari kalung Sura Suradana miliknya. Lalu, dengan fasilitas dari bola hologram tersebut, ia langsung memindai luka Galuh sambil mengeluarkan kantung ramuan obat miliknya. Sedangkan Ragadewa, dengan amarah yang siap meledak, ia langsung menyerang Dwasa dan pasukan Monster kerikilnya dengan tanpa ampun. Gada Sangkara dan Soma Wisesa ikut membantu Ragadewa agar Adhit bisa fokus untuk mengobati Galuh sampai siuman kembali. Saat tengah mengobati Galuh, Adhit terkejut dengan perubahan Dwasa saat tak sengaja melintas didepan mereka, namun setelah itu ...