Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 36 – Perjalanan menuju Istana | By: Desya Saghir

Dwasa Si Mahluk Asap yang mereka kira sudah mati ditangan Kahiyang Raga, ternyata masih hidup! Ia bahkan menyambut mereka tepat didepan pintu masuk perbatasan antara Dunia Manusia dan Astamaya.

Diiringi lengkingan tawa mengikik menyebalkan, Dwasa bertepuk tangan senang karena berhasil membuat Galuh roboh sampai tidak bisa berdiri kembali. 

Adhit yang panik, segera melindungi Galuh dalam segel pelindung, melalui bola hologram yang ia keluarkan dari kalung Sura Suradana miliknya. Lalu, dengan fasilitas dari bola hologram tersebut, ia langsung memindai luka Galuh sambil mengeluarkan kantung ramuan obat miliknya.

Sedangkan Ragadewa, dengan amarah yang siap meledak, ia langsung menyerang Dwasa dan pasukan Monster kerikilnya dengan tanpa ampun. Gada Sangkara dan Soma Wisesa ikut membantu Ragadewa agar Adhit bisa fokus untuk mengobati Galuh sampai siuman kembali.

Saat tengah mengobati Galuh, Adhit terkejut dengan perubahan Dwasa saat tak sengaja melintas didepan mereka, namun setelah itu Adhit langsung mengernyit miris.

Mulut Dwasa yang dulu terlihat diperbaiki oleh sejenis benang hitam aneh, kini robek kembali yang bahkan semakin lebar dari sebelum terjahit. Bahkan, Dwasa sepertinya bersusah payah mengikat tubuh ringkihnya dengan sejenis akar bahar tertentu agar dia tetap bisa berdiri tegak. Tampaknya serangan Kahiyang Raga saat itu memang sangat brutal, sehingga tubuh Dwasa kini nyaris tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Namun, sekalipun begitu kekuatan Dwasa ternyata malah menjadi lebih besar dari pada ketika mereka terakhir bertemu.

Saat sebagian besar Monster kerikil milik Dwasa berhasil dihancuran oleh Ragadewa, Gada Sangkara dan Soma Wisesa. Dengan mudah Dwasa melepaskan kembali ratusan kerikil berasap baru dari jari jemari kurusnya yang berasap, yang memunculkan puluhan monster kerikil baru dengan kegesitan acak yang lebih menakutkan!

“Ini Gila!” ucap Gada Sangkara yang mulai kepayahan. “Ini bukan energi asli Dwasa, berhati-hatilah!” ucap Soma Wisesa yang kemudian kembali bergabung dengan Ragadewa yang tengah menggila.

Setiap lesatan serangan energi para pemilik elemen yang membuat Monster kerikil baru Dwasa terbuar, ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Karena setelah itu, tiba-tiba saja kerikil yang terbuar tersebut, menyatu kembali seakan tidak pernah rusak sama sekali, bahkan membalas mereka dengan serangan penuh teror.

Replika Ragadewa satu persatu terbuar oleh serangan para Monster kerikil yang akhirnya menyisakan Ragadewa asli. Gada Sangkara juga sudah mulai kelelahan, namun para Monster ini seakan tidak pernah kehabisan energi sama sekali. Soma Wisesa sendiri sudah kehabisan cara dalam menghabisi para Monster kerikil ini, padahal segala ilmu telah dipelajari saja lama ia telah coba, namun semuanya seakan tidak berguna.

“Dari mana Dwasa bisa mendapatkan energi kuno seperti ini?” pikir Soma Wisesa tidak habis pikir.

Disisi lain, sekalipun sudah dipindai menggunakan fasilitas bola hologram dari kalung Sura Suradana miliknya, Adhit tetap tidak bisa mengenali jenis racun yang mengenai Galuh.

Belum hilang rasa paniknya, Adhit terperanjat karena kerikil yang bersarang dibahu Galuh merayap keluar dan turun ke tanah. Bentuknya kini tidak lagi seperti kerikil biasa, permukaanya yang telah merekah, kini memunculkan delapan kaki kecil yang terbuat dari serpihan batu, serta mulut kecil yang memperlihatkan taring seakan siap merobek apapun yang bisa ia temukan. Seketika hal itu membuat Adhit refleks membuka segel bola hologramnya, lalu menendang kerikil berkaki tersebut sehingga jauh dari Galuh.

Gawatnya, disaat segel bola hologram terbuka, disaat yang sama Monster kerikil raksasa yang tengah bertarung melawan Ragadewa, terpental tepat didekat lingkup bola hologram. Menyadari bahwa Adhit dan Galuh tanpa pelindungan segel sama sekali, Monster tersebut langsung berbalik untuk meremukan Adhit dengan tangan besarnya yang menakutkan.

Saat tangan Monster kerikil tersebut hampir menyentuh Adhit, saat itu pula seseorang menangkis cengkraman Monster kerikil yang hampir mengenai tubuh Adhit.

“Hailana Sang Dewi Ruh!” Teriak Adhit yang membuat semua yang mendengarnya langsung terkejut, termasuk Dwasa Si Mahluk Asap dengan reaksi kaki yang refleks mundur selangkah.

“Saat baru sampai di Bukit Ruh, saya menerima kabar bahwa si kecoak busuk itu ditugaskan masuk ke dalam segel para Ajag untuk mengacau!” Ucap Hailana sambil menunjuk Dwasa dengan sangat marah! Sontak perkataan Hailana Sang Dewi Ruh membuat para pemilik elemen langsung terkejut.

Dwasa tampak sedikit mundur, seolah bersiap hendak melarikan diri, namun Hailana bergerak lebih cepat yang lalu menghantam Dwasa dengan tanpa ampun. Dwasa dipukul keras Hailana hingga terpental keatas hingga menyentuh awan, lalu jatuh kembali menuju tanah dengan dentuman menggelegar yang membuat tanah sekitarnya retak. Hal tersebut membuat para Monster kerikil yang sedang dikendalikan Dwasa langsung kehilangan kekuatannya karena Dwasa tidak sadarkan diri.

“Disini adalah perbatasan menuju Dunia Manusia. Menurut kabar yang saya terima, Saguri bermaksud membuat para Ajag mengamuk didalam segel, memaksa kalian menembus pintu perbatasan untuk masuk kembali ke dunia Manusia, lalu melepaskan para Ajag di Dunia Manusia.” Jelas Hailana lagi saat telah kembali ke sebelah Galuh yang masih pingsan.

Hailana lalu mengendalikan energinya untuk mengeluarkan sisa serpihan kerikil hitam milik Dwasa yang masih bersarang di bahu Galuh.

“Ini adalah racun dari mantera kuno, tidak bisa diobati hanya dengan ramuan biasa.” Ucap Hailana yang lalu merapalkan mantera dari bahasa Buhun, atau bahasa sunda kuno. Lalu dengan seketika, menguaplah asap hitam yang sedari tadi mencengkram kuat pada luka Galuh.

“Jadi bertambahnya kekuatan Dwasa saat ini juga atas bantuan dari Saguri?” tanya Adhit terkejut.

“Bukan hanya bantuan, melainkan Saguri sendiri yang melawan kalian melalui Dwasa. Mereka berdua menggunakan perjanjian darah menggunakan ilmu Mahui. Sehingga, Saguri bisa mentransfer energinya dimanapun Dwasa berada dengan tanpa menggunakan penghubung apapun!” Jawab Hailana sambil tetap berjaga didekat Galuh dan Adhit. Tak lama, Galuhpun siuman sehingga membuat Adhit memeluh Galuh dengan perasaan lega luar biasa.

“Menggunakan ilmu Mahui? Jadi Dwasa itu semacam pintu portal untuk Saguri dalam menghajar kita?” analogi Adhit yang di iyakan oleh Hailana, membuat Adhit menggeleng terkejut luar biasa.

Namun, tiba-tiba Dwasa siuman, kemudian Dwasa dengan sorot aneh pada matanya, ia mengerahkan para Monster Kerikilnya saat Hailana tengah berbicara.

Sebelum para Monster kerikilnya sampai, tiba-tiba rombongan tokoh perwayangan datang menghadang, yang lalu menangkis serangan bahkan salah satunya membuat Dwasa jatuh terjengkang!

DItengah dirinya yang baru siuman, Galuh dikagetkan dengan yang apa yang ia lihat sekarang. Lagi-lagi, Jinn Si Kelinci datang menyelamatkan mereka dengan energi gerbang dewa yang dulu membuat Jinn Si Kelinci nyaris mati, karena melepaskan energi diluar batas kemampuan dirinya sendiri.

Galuh kini heran, karena Jinn Si Kelinci masih terlihat baik-baik saja. Namun bukan Galuh saja, yang lainnya juga heran karena Jinn tidak ambruk seperti dulu.

Setelah Jinn Si Kelinci memberi isyarat halus, yaitu dengan memperlihatkan gelang logam berukir etnik khas Sunda yang sangat Galuh kenali. Sontak Galuh terkejut!

“Itu gelang pengganda energi rancangan Tuan Rahyata! Ternyata Kaum Luhur telah berhasil merampungkannya!” ucap Galuh sangat senang.

“Pengganda energi?” Tanya Adhit penasaran.

“Benar! Rupanya proyek yang dikembangkan team Tuan Rahyata dulu, ternyata telah selesai! Gelang tersebut akan membantu Jinn dalam mengelola pengeluaran energi bahkan menggandakannya, sehingga Jinn tidak perlu mengeluarkan banyak energi lagi dalam mengeluarkan tokoh-tokoh perwayangan dari ilmu gerbang dewanya.” ucap Galuh lega. Lalu Adhit menatap kembali gelang Jinn Si Kelinci dari kejauhan dengan pandangan penuh takjub.

Setelah selesai memberi isyarat pada Galuh tentang gelang yang dipakainya, Jinn Si Kelinci segera menyerang Dwasa dengan tanpa ampun. Mulai dari memunculkan Batara Guru, Pandawa lima, hingga Gatot Kaca.

Para tokoh perwayangan ini membuat Dwasa dan beberapa Monster kerikil miliknya cukup kewalahan. Hailana Sang Dewi Ruh bahkan bertepuk tangan saat melihat ada Kaum Luhur dengan bakat bertarung yang luar biasa.

“Saya tahu ketika melihatnya pertama kali, ia Kaum Luhur yang berbeda dengan kaumnya..” ucap Hailana Sang Dewi Ruh begitu senang.

Ragadewa, Gada Sangkara dan Soma Wisesapun maju ikut bertarung bersama Jinn Si Kelinci. Dari banyaknya pukulan telak dari energi buatan Jinn Si Kelinci, ada satu pukulan hebat yang justru membuat teman – teman band Adhit yang dulu pernah ditelan Dwasa, terpental keluar dari mulut Dwasa.

 

“Kalian!” ucap Adhit terkejut hebat, karena ternyata semua temannya masih hidup!

“Mereka masih hidup, karena yang dihisap adalah saripati semangat mereka.” Ucap Hailana yang memberi Isyarat bahwa Galuh akan aman bersamanya. Adhit yang mengerti, segera berlari untuk melindungi teman-teman bandnya yang masih lemah dibawah perlindungan bola hologram Sura Suradana miliknya. Namun yang tidak terduga, pintu Kalung Istana Tujuh Pintu tiba-tiba terbuka. Lalu para Dewi langsung mengangkat masuk teman-teman Adhit yang masih sangat sempoyongan.

“Kembalilah menyelesaikan misi, teman-temanmu aman bersama kami,” ucap salah satu Dewi bijak, setelah itu pintu Istana Tujuh Pintu menghilang.

Tiba-tiba Adhit dikejutan oleh Dwasa yang berusaha bangkit. Dengan susah payah, Dwasa berusaha untuk mengeluarkan Monster kerikil baru dari jari jemari kurusnya.

Kesempatan ini dimanfaatkan Hailana Sang Dewi Ruh yang langsung melesat ke arah Dwasa. Dengan tanpa membuang banyak waktu, Hailana langsung menarik paksa Ruh Dwasa dari tubuhnya yang belum sepenuhnya waspada.

Lalu dengan segenap jiwanya, Hailana merobek Ruh Dwasa sambil berteriak lantang, “tidak ada yang boleh mengganggu NaRaja sama sekali! Haaaaaa!!!!”

Dengan teriakan yang menggema hingga mengguncang udara, Ruh Dwasa yang telah dicabik hingga robek, Hailana hancurkan kembali hingga terberai seperti pasir, yang sontak membuat Ruh dan jasad Dwasa pun akhirnya musnah lalu menghilang bersama angin. Kini Dwasa benar-benar tamat, yang diikuti menghilangnya puluhan Monster kerikil yang membuar kembali menjadi ratusan kerikil biasa.

Namun, kehancuran Dwasa Si Mahluk Asap malah membuat batu dikening Hailana Sang Dewi Ruh pecah, dan membuat Hailana roboh seketika. Tanpa diduga, NaRaja keluar dari segel dengan wujud tubuh manusia berkepala Ajag.

Semua terhenyak, NaRaja berdiri disana bukan sekedar besar, gagah dan berkharisma kuat. Sosoknya yang memancarkarkan aura gelap yang begitu pekat, melibas segala kengerian yang pernah mereka temui selama ini. Namun dari semua itu, sorot matanya lah yang paling mengerikan. Sorot mata yang membuat Ruh siapapun langsung lari terbirit sebelum jasadnya menyadari.

Gada Sangkara dan Ragadewa yang paling terkejut! Sepanjang perjalanan mereka dalam menghadapi Kaum Hitam, baru kali ini mereka menghadapi energi gelap dengan kekuatan ratusan kali lipat dari energi hitam yang pernah mereka temui.

“Batu itu adalah realisasi energi yang berhasil di kristalkan melalui pertapaan yang sangat lama. Saat Hailana merobek paksa Ruh Dwasa yang masih terhubung dengan energi Saguri, saat itu pula energi Hailana bertabrakan dengan energi Saguri, yang mengakibatkan sebagian besar energi yang sudah Hailana kumpulkan hancur seketika.” Jelas Soma Wisesa yang membuat yang lainnya terkejut.

Dengan hati-hati Soma Wisesa mendekati Hailana yang tengah dipangku NaRaja. Setelah diberi ijin dan NaRaja kembali kedalam segel dalam tubuh Galuh, Soma Wisesa segera memberikan sedikit energi penyembuhan sehingga Hailana kembali pulih.

Saat Hailana menyadari bahwa kristal di keningnya telah pecah. Alih-alih panik, Hailana malah tersenyum seolah tidak perduli.

“Jangan khawatir,” ucap Hailana pelan namun jelas.  “Justru dengan bertabrakannya antara energi saya dan Saguri, bukan sebagian energi saya saja yang hilang, melainkan sebagian energi Saguri juga sama hancurnya seperti saya. Ini adalah sebuah pertukaran yang sangat adil!” Ucap Hailana sambil memegang keningnya yang kini polos dengan sangat puas!

Namun setelah itu, senyumnya malah terkembang. Hailana lalu mengeluarkan energinya tentang rekaan ulang adegan dimana Hailana yang terjatuh, lalu tiba-tiba NaRaja keluar dari segelnya hanya untuk menahan tubuh Hailana agar tidak jatuh ke tanah. Teriakan Hailana yang seperti anak remaja membuat semua tidak bisa menahan senyum, setelah itu terdengar geraman sebal dari NaRaja yang membuat para Ajag tergelak senang.

Karena masih terlalu lemah, untuk sementara Hailana Sang Dewi Ruh dititipkan juga ke dalam kalung Istana Tujuh Pintu untuk dirawat oleh Nawang Wulan dan para kakaknya.

Sesuai arahan Hailana sebelum dibawa masuk kedalam kalung Istana Tujuh Pintu, para pemilik elemen diminta berlari masuk kedalam hutan inti lembah Bukit Ruh, yaitu Leuweung Asmalaya, tempat dimana Hailana dan para Ruh Tua selama ini tinggal.

“Leuweung Asmalaya?” tanya Adhit penasaran,

“Dalam istilah sunda, Leuweung itu artinya hutan, Asma artinya napas Ruh, dan laya adalah wilayah. Jadi, Leuweung Asmalaya mempunyai arti, Hutan wilayah para Ruh,” terang Jinn Si Kelinci dengan penuh bersemangat.

Namun belum sampai di Leuweung Asmalaya , tiba-tiba sosok aneh muncul menghadang mereka. Seseorang dengan memakai topeng tengkorak tikus besar yang ditaruh diatas kepalanya. Ia bahkan memiliki ekor!

Selain raut licik dan tampak sangat lihai berkelit. Perawakannya yang gempal dan agak membungkuk, benar-benar membuatnya terlihat seperti tikus besar yang sedang mengendap licik dari liang gorong – gorong.

“Ia biasa dipanggil Si Tengkorak Tikus, salah satu dari lima Jendral hitam utama yang terkenal paling kejam dan berbahaya!” ucap Gada Sangkara menjadi waspada. “Si tengkorak tikus tinggal di bawah tanah, bukan hanya hebat, ia bahkan membawahi banyak monster yang tinggal dibawah tanah Astamaya,” lanjut Gada Sangkara sambil menyiapkan energinya.

Benar yang dikatakan Gada Sangkara, Jendral Hitam tersebut memulai aksinya dengan bergerak licin seperti tikus. Ia masuk kedalam tanah, lalu tak lama kemudian ia muncul kembali sambil berdiri angkuh diatas satu monster tanah besar dengan banyak kaki bercakar yang menakutkan.

Tak berhenti dari situ, tiba-tiba saja muncul beberapa monster besar lain, menyusul dengan formasi mengepung para pemiik elemen dari segala arah.

Si Tengkorak Tikus kemudian memandangi pada pemilik elemen dengan mata menyipit licik. Sementara para monster tanah yang menyertainya, mereka menggeram rendah seakan tidak sabar dalam menunggu aba-aba dari salah satu jendral hitam tersebut.

Tanpa menunggu lama, Ragadewa langsung beraksi dengan memakai energinya untuk membuat replika pasir dari para Monster bawah tanah, namun tiba-tiba saja replika yang dibuat Ragadewa membuar hilang! Ditengah tawa penuh ejek dari Si Tengkorak Tikus, para pemilik elemen mulai menyadari, bahwa para monster tanah ini ternyata bukan mahluk hidup, karena tidak ada memori yang bisa dibaca oleh energi Ragadewa dari monster-monster tanah disekeliling mereka.

Galuh sendiri sepertinya tidak dapat mengeluarkan para Ajag, karena ternyata, kendi Ruh penggodok para Ajag yang dulu sempat dihancurkan Dharma, ternyata berhasil dikumpulkan pecahannya, bahkan disambungkan kembali oleh Si Tengkorak Tikus. Sekalipun bentuknya penuh sambungan, mereka tetap waspada bila kendi Ruh ini masih berfungsi dengan baik.

Galuh memulai aksinya dengan melayangkan sepasang kujangnya ke atas dirinya, begitu kujangnya membelah diri sehingga menjadi sepuluh kujang, Galuh segera melesatkan sehingga membuat para monster tanah ini tercabik dari segala sisi. Lalu disambung Gada Sangkara yang menyusul dari arah sisi. Pukulan dari kepalan besar yang dihasilkan energinya, sempat membuat tubuh para monster ini sampai terpisah jadi beberapa bagian.

Namun tiba-tiba para monster yang dengan tubuh sudah terpisah ini, malah bergabung dengan tubuh monster lain yang kebetulan berada didekatnya, sehingga mereka kembali berdiri dengan bentuk yang semakin menyeramkan, lalu menyerang mereka dengan gerakan yang sangat membabi buta.

Jinn Si Kelinci menyusul dengan menggunakan ilmu gerbang dewa miliknya, kali ini yang ia keluarkan adalah tokoh Ramayana, yaitu Hanuman, Rama dan Laksmana, yang setelah itu disusul  Rahwana dan ketiga adiknya, Kumbakarna, Surpanaka dan Wibisana. Mereka menyerang para monster tanah dengan jurus khas masing-masing tokoh sangat tanpa ampun. Begitu para Monster tanah kewalahan, Soma Wisesa mengeluarkan energinya yang berupa memasukan para monster tersebut kedalam kubus energi, yang lalu kubus tersebut mengecil, sehingga para monster didalam jadi hancur remuk seperti daging cincang.

Namun setelah itu, para Monster tanah yang sudah hancur, sisa-sisa tubuh mereka menyatu kembali dengan kawanannya yang paling terdekat. Lalu kembali berdiri utuh sehingga menciptakan teror yang sangat menakutkan!

Galuh sempat tergoda, ditengah tekanan serangan yang semakin berat, ia terpikir untuk menggunakan energi dari Batu Hyang Sawarga yang disimpan Adhit.

Namun Adhit segera mengingatkan, “Kamu ingat mengapa Guru Candrakra ingin agar Batu Hyang Sawarga dihancurkan? karena dalam terawangan Guru Candrakara, semua hal yang melibatkan energi yang dikeluarkan Batu Hyang Sawarga setelah masa Guru Candrakara, hanya akan mengakibatkan bencana yang lebih besar.” Galuh tersentak! Setelah itu, sambil tetap menangkis serangan, Galuh mengangguk mengerti.

Saat para pemilik elemen dan Jinn Si Kelinci hampir saja binasa, Tiba-tiba datang si Merah gila dengan baju serba merahnya yang mencolok mata. Bahkan, Si Merah Gila mengibas-ngibaskan bulu merak merah super besar yang menempel di ikat kepalanya, dengan gaya gelengan kepala kucing yang tengah kesurupan.

Meski Si Merah Gila bertingkah gila, menyerang para Monster ini dengan pose-pose yang sangat konyol, Si Tengkorak Tikus dan pasukannya sama sekali tidak menyadari kehadirannya! Bahkan ketika Si Merah Gila mengajak pasukan Si Tengkorak Tikus berdansa, menggelitiki, lalu memaksa mereka berpose sangat absurd, Si Tengkorak Tikus hanya bisa memandang perilaku pasukannya dengan wajah bingung.

Dan hebatnya, Si Merah Gila benar-benar tahu dimana titik kelemahan para Monster tanah ini, sehingga Si Merah Gila bisa menghancurkan para monster ini sampai benar-benar mati dan tidak bisa dihidupkan kembali.

Si Tengkorak Tikus semakin kebingungan, Ia jelas-jelas melihat para pemilik elemen tidak melakukan apa-apa, namun para Monster tanah yang ia bawa malah tiba-tiba bertingkah aneh, lalu setelah itu mereka tampak menggila dengan menghancurkan dirinya sendiri.

Karena panik, Si Tengkorak Tikus mengarahkan kendi penggodok Ruhnya ke segala arah karena menganggap ini perilaku salah satu Ruh, tapi yang terhisap malah moster tanah miliknya yang sebenarnya sedang kerjai Si Merah Gila.

Saat Monster tersebut tersedot kedalam Ruh Kendi, Si Merah Gila menyisipkan energinya yang membuat Monster tersebut saat sudah masuk kedalam Kendi Ruh, membengkak, sehingga membuat kendi penggodok ini yang sebelumnya sempat retak, kini malah semakin rusak bahkan pecah, yang mengakibatkan Si Tengkorak Tikus mati karena terkena ledakan kendi penggodok Ruh.

Begitu Si Tengkorak Tikus binasa, tanpa pamit sama sekali, Si Merah Gila pergi begitu saja sambil mengoceh tidak waras sendirian, lalu melesat hilang tanpa bisa terdeteksi. Semua yang melihatnya hanya bisa menggeleng seakan sudah memaklumi.

Setelah itu, dibawah panduan arah dari Jinn Si Kelinci, mereka segera  berlari menuju Leuweung Asmalaya, tempat dimana para Ruh Tua tinggal.

Awal mereka sampai di Leuweung Asmalaya, mereka terkesima karena wilayah para Ruh Tua berada tidak seperti yang mereka bayangkan. Tempat ini benar-benar sangat diluar narasi pemikiran mereka sendiri. Bukan hutan kelam atau reruntuhan kuil kuno, tetapi lebih menyerupai taman nirwana yang sering diceritakan dalam dongeng-dongeng rakyat sunda kuno.

Leuweung Asmalaya, dikelilingi pohon-pohon rindang yang begitu tinggi besar dan berdaun hijau keperakan. Pohon tersebut terasa semakin menakjubkan karena dihinggapi banyak Ruh yang tengah berkidung sakral dengan Bahasa Buhun, atau Sunda kuno.

Tanaman-tanaman perdu sekitar pohon juga tak kalah menakjubkannya. Tanaman perdu, yang memiliki ratusan bunga yang terbuat dari kristal warna-warni, Galuh menyentuh salah satu bunga kristal untuk memastikan, dan setelah itu ia terkejut! karena itu adalah benar-benar terbuat dari kristal padat yang begitu indah, dan semua itu bertebaran seakan hal itu adalah sesuatu yang  lumrah disana.

Adhit dan yang lainnya melihat berkeliling dengan sangat tidak percaya. Namun yang paling terpesona adalah Jinn Si Kelinci.

Jinn Si Kelinci, yang sejak kecil yang selalu terpesona pada kisah Kaum Ruh. Kisah yang selalu ia baca di perpustakaan gua persembunyian Kaum Luhur. Kisah yang membuatnya selalu bersedia bola balik melewati bukit Ruh. Kini, ia melihat sendiri seperti apa Leuweung Asmalaya yang selalu menjadi misteri bagi seluruh Kaum Astamaya.

Wilayah yang paling sakral bagi Kaum Ruh, dan selama sejarah Astamaya, tidak pernah ada satupun Kaum Astamaya yang pernah terceritakan memasuki wilayah tersebut, bahkan Kakek Addar yang selalu ia kagumi. Sehingga hal tersebut sontak membuat kepala dan hatinya kini seakan berisi ratusan kembang api yang meledak secara bersamaan.

“Ini terlalu hebaaat!” ucap Jinn Si Kelinci sambil melihat berkeliling dan berjingkrak senang.

Para Ruh, terutama Ruh tua yang ada disana juga sama terkejutnya. Karena selain Kaum Ruh, tidak ada yang  berani masuk ke dalam wilayah yang begitu sangat sakral selain kaum mereka.

Begitu mereka melihat Adhit membawa keluar Hailana Sang Dewi Ruh dari dalam Kalung Istana Tujuh pintu. Kini mereka mengerti, mengapa para pemilik Elemen dan Jinn Si Kelinci tidak mendapat gangguan apapun dari Kaum Ruh ketika memasukin wilayah ini.

Bukan para Ruh saja sangat berterimakasih karena mereka telah membawa Nona mereka dengan selamat. Wilayah Leuweung Asmalaya turut bersuka cita. Para hewan kecil, burung, dan serangga terbang mendekat seakan sedang menari. bahkan tanaman-tanaman yang jenisnya bisa bergerak, mereka menyambut para pemilik elemen dan Jinn Si Kelinci seakan – akan pahlawan besar telah kembali. Suasana wilayah Leuweung Asmalaya berubah menjadi hangat dan penuh cahaya, seolah alam itu sendiri mengakui kedatangan mereka adalah sebuah berkah tersendiri.

Karena situasi sudah aman, Hailana bersikeras agar mereka istirahat sebentar dilembah Ruh. Menyadari bahwa mereka juga tengah terluka, mau tidak mau Galuh dan kawan-kawan memutuskan beristirahat, yang lalu di obati oleh energi murni Nawang Wulan yang dibantu oleh para kakak Nawang Wulan.

Tentu saja Hailana Sang Dewi Ruh tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia lalu memaksa NaRaja dan kawanannya untuk keluar dari segel. Bahkan, Hailana merayu bahwa Citraloka telah menyiapkan mantera, sehingga para Ajag bisa menikmati hidangan tanpa perlu melalui proses menyerap energi makanan dari makanan yang terlebih dahulu dikonsumsi oleh Galuh.

Sekalipun kepala mereka masih tetap berbentuk kepala Ajag, diluar dugaan, penampilan para Ajag dalam tubuh Manusia benar-benar sangat gagah.

Namun, semua itu tidak melewati kharisma kuat milik NaRaja, yang justru membuat Hailana Sang Dewi Ruh semakin tergila-gila. Selama masa pemulihan, Hailana benar-benar manja pada NaRaja. Hal ini membuat NaRaja sangat malu dan kesal. Ia ingin segera pergi, namun tidak bisa karena para pemilik elemen memang harus beristirahat dulu sampai mereka benar-benar pulih.

Melihat hal tersebut, para Ajag lain terkekeh sangat senang, ditambah Ragadewa dan Gada Sangkara yang ikut terkekeh karena candaan Adhit, membuat NaRaja mengomel semakin kesal.

Namun ditengah kekeh tawa mereka, ada hal yang membuat mereka semua terkejut. Ternyata ada Kaum Astamaya yang bisa berhasil menembus wilayah Leuweung Asmalaya sebelum mereka, dan ia adalah Guru Candrakara!

“Candrakara! Si gila Candrakara!” Teriak Soma Wisesa dengan terkejut luar biasa. “Kamu pikir, ketika saya dititipi batu tunggal untuk bisa menemukan letak kalian saat mencari Sang Ether itu adalah saya yang kebetulan lewat? Candrakara datang, hanya untuk menemui saya ke Asmalaya dalam menyerahkan batu tunggal, setelah itu ia pergi begitu saja,” ucap Hailana yang membuat semuanya menggeleng semakin tidak percaya.

“Saya tahu apa yang kamu akan katakan Soma.. kamu tahu kan mengapa saya selalu memanggilnya Si Gila Candakara…” ucap Adhit sambil menirukan gestur khas Soma Wisesa. Seketika semuanya tergelak, termasuk Soma Wisesa dengan sangat lepas.

Akhirnya waktu yang ditunggu NaRaja datang, waktunya mereka berangkat lagi. Hailana tidak bisa mengekor NaRaja karena ia masih terluka parah. Akhirnya, dengan dipandu Jinn Si Kelinci, mereka keluar dari bukit Ruh dan melanjutkan perjalanan menuju Istana.

Namun, di tengah perjalanan, suasana hati yang mereka rasakan di wilayah Leuweung Asmalaya kini berubah kembali mencekam.

Jejak mereka sepertinya terendus kembali. Para pemilik elemen mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Karena, tiba-tiba saja banyak ular yang memperhatikan perjalanan mereka dari balik atas pohon.

“Galuh awas!” Teriak Adhit tiba-tiba.

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir