Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 36 – Perjalanan menuju Istana | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dwasa Si Mahluk Asap yang mereka kira
sudah mati ditangan Kahiyang Raga, ternyata masih hidup! Ia bahkan menyambut
mereka tepat didepan pintu masuk perbatasan antara Dunia Manusia dan Astamaya.
Diiringi lengkingan tawa mengikik
menyebalkan, Dwasa bertepuk tangan senang karena berhasil membuat Galuh roboh
sampai tidak bisa berdiri kembali.
Adhit yang panik, segera melindungi Galuh dalam segel pelindung,
melalui bola hologram yang ia keluarkan dari kalung Sura Suradana miliknya. Lalu,
dengan fasilitas dari bola hologram tersebut, ia langsung memindai luka Galuh
sambil mengeluarkan kantung ramuan obat miliknya.
Sedangkan Ragadewa, dengan amarah yang siap meledak, ia langsung
menyerang Dwasa dan pasukan Monster kerikilnya dengan tanpa ampun. Gada
Sangkara dan Soma Wisesa ikut membantu Ragadewa agar Adhit bisa fokus untuk
mengobati Galuh sampai siuman kembali.
Saat tengah mengobati Galuh, Adhit terkejut
dengan perubahan Dwasa saat tak sengaja melintas didepan mereka, namun setelah
itu Adhit langsung mengernyit miris.
Mulut Dwasa yang dulu terlihat diperbaiki
oleh sejenis benang hitam aneh, kini robek kembali yang bahkan semakin lebar
dari sebelum terjahit. Bahkan, Dwasa sepertinya bersusah payah mengikat tubuh
ringkihnya dengan sejenis akar bahar tertentu agar dia tetap bisa berdiri tegak.
Tampaknya serangan Kahiyang Raga saat itu memang sangat brutal, sehingga tubuh
Dwasa kini nyaris tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Namun, sekalipun begitu kekuatan Dwasa
ternyata malah menjadi lebih besar dari pada ketika mereka terakhir bertemu.
Saat sebagian besar Monster kerikil milik
Dwasa berhasil dihancuran oleh Ragadewa, Gada Sangkara dan Soma Wisesa. Dengan
mudah Dwasa melepaskan kembali ratusan kerikil berasap baru dari jari jemari
kurusnya yang berasap, yang memunculkan puluhan monster kerikil baru dengan
kegesitan acak yang lebih menakutkan!
“Ini Gila!” ucap Gada Sangkara yang
mulai kepayahan. “Ini bukan energi asli Dwasa, berhati-hatilah!” ucap Soma
Wisesa yang kemudian kembali bergabung dengan Ragadewa yang tengah menggila.
Setiap lesatan serangan energi para
pemilik elemen yang membuat Monster kerikil baru Dwasa terbuar, ternyata tidak
berpengaruh sama sekali. Karena setelah itu, tiba-tiba saja kerikil yang
terbuar tersebut, menyatu kembali seakan tidak pernah rusak sama sekali, bahkan
membalas mereka dengan serangan penuh teror.
Replika Ragadewa satu persatu terbuar
oleh serangan para Monster kerikil yang akhirnya menyisakan Ragadewa asli. Gada
Sangkara juga sudah mulai kelelahan, namun para Monster ini seakan tidak pernah
kehabisan energi sama sekali. Soma Wisesa sendiri sudah kehabisan cara dalam
menghabisi para Monster kerikil ini, padahal segala ilmu telah dipelajari saja lama
ia telah coba, namun semuanya seakan tidak berguna.
“Dari mana Dwasa bisa mendapatkan energi
kuno seperti ini?” pikir Soma Wisesa tidak habis pikir.
Disisi lain, sekalipun sudah dipindai
menggunakan fasilitas bola hologram dari kalung Sura Suradana miliknya, Adhit tetap
tidak bisa mengenali jenis racun yang mengenai Galuh.
Belum hilang rasa paniknya, Adhit
terperanjat karena kerikil yang bersarang dibahu Galuh merayap keluar dan turun
ke tanah. Bentuknya kini tidak lagi seperti kerikil biasa, permukaanya yang telah
merekah, kini memunculkan delapan kaki kecil yang terbuat dari serpihan batu, serta
mulut kecil yang memperlihatkan taring seakan siap merobek apapun yang bisa ia
temukan. Seketika hal itu membuat Adhit refleks membuka segel bola hologramnya,
lalu menendang kerikil berkaki tersebut sehingga jauh dari Galuh.
Gawatnya, disaat segel bola hologram
terbuka, disaat yang sama Monster kerikil raksasa yang tengah bertarung melawan
Ragadewa, terpental tepat didekat lingkup bola hologram. Menyadari bahwa Adhit
dan Galuh tanpa pelindungan segel sama sekali, Monster tersebut langsung
berbalik untuk meremukan Adhit dengan tangan besarnya yang menakutkan.
Saat tangan Monster kerikil tersebut hampir
menyentuh Adhit, saat itu pula seseorang menangkis cengkraman Monster kerikil yang
hampir mengenai tubuh Adhit.
“Hailana Sang Dewi Ruh!” Teriak Adhit
yang membuat semua yang mendengarnya langsung terkejut, termasuk Dwasa Si
Mahluk Asap dengan reaksi kaki yang refleks mundur selangkah.
“Saat baru sampai di Bukit Ruh, saya
menerima kabar bahwa si kecoak busuk itu ditugaskan masuk ke dalam segel para
Ajag untuk mengacau!” Ucap Hailana sambil menunjuk Dwasa dengan sangat marah!
Sontak perkataan Hailana Sang Dewi Ruh membuat para pemilik elemen langsung terkejut.
Dwasa tampak sedikit mundur, seolah
bersiap hendak melarikan diri, namun Hailana bergerak lebih cepat yang lalu menghantam
Dwasa dengan tanpa ampun. Dwasa dipukul keras Hailana hingga terpental keatas
hingga menyentuh awan, lalu jatuh kembali menuju tanah dengan dentuman menggelegar
yang membuat tanah sekitarnya retak. Hal tersebut membuat para Monster kerikil
yang sedang dikendalikan Dwasa langsung kehilangan kekuatannya karena Dwasa
tidak sadarkan diri.
“Disini adalah perbatasan menuju Dunia
Manusia. Menurut kabar yang saya terima, Saguri bermaksud membuat para Ajag mengamuk
didalam segel, memaksa kalian menembus pintu perbatasan untuk masuk kembali ke
dunia Manusia, lalu melepaskan para Ajag di Dunia Manusia.” Jelas Hailana lagi
saat telah kembali ke sebelah Galuh yang masih pingsan.
Hailana lalu mengendalikan energinya
untuk mengeluarkan sisa serpihan kerikil hitam milik Dwasa yang masih bersarang
di bahu Galuh.
“Ini adalah racun dari mantera kuno, tidak
bisa diobati hanya dengan ramuan biasa.” Ucap Hailana yang lalu merapalkan
mantera dari bahasa Buhun, atau bahasa sunda kuno. Lalu dengan seketika,
menguaplah asap hitam yang sedari tadi mencengkram kuat pada luka Galuh.
“Jadi bertambahnya kekuatan Dwasa saat
ini juga atas bantuan dari Saguri?” tanya Adhit terkejut.
“Bukan hanya bantuan, melainkan Saguri
sendiri yang melawan kalian melalui Dwasa. Mereka berdua menggunakan perjanjian
darah menggunakan ilmu Mahui. Sehingga, Saguri bisa mentransfer energinya
dimanapun Dwasa berada dengan tanpa menggunakan penghubung apapun!” Jawab Hailana
sambil tetap berjaga didekat Galuh dan Adhit. Tak lama, Galuhpun siuman sehingga
membuat Adhit memeluh Galuh dengan perasaan lega luar biasa.
“Menggunakan ilmu Mahui? Jadi Dwasa
itu semacam pintu portal untuk Saguri dalam menghajar kita?” analogi Adhit yang
di iyakan oleh Hailana, membuat Adhit menggeleng terkejut luar biasa.
Namun, tiba-tiba Dwasa siuman,
kemudian Dwasa dengan sorot aneh pada matanya, ia mengerahkan para Monster
Kerikilnya saat Hailana tengah berbicara.
Sebelum para Monster kerikilnya
sampai, tiba-tiba rombongan tokoh perwayangan datang menghadang, yang lalu
menangkis serangan bahkan salah satunya membuat Dwasa jatuh terjengkang!
DItengah dirinya yang baru siuman, Galuh
dikagetkan dengan yang apa yang ia lihat sekarang. Lagi-lagi, Jinn Si Kelinci
datang menyelamatkan mereka dengan energi gerbang dewa yang dulu membuat Jinn
Si Kelinci nyaris mati, karena melepaskan energi diluar batas kemampuan dirinya
sendiri.
Galuh kini heran, karena Jinn Si
Kelinci masih terlihat baik-baik saja. Namun bukan Galuh saja, yang lainnya
juga heran karena Jinn tidak ambruk seperti dulu.
Setelah Jinn Si Kelinci memberi isyarat
halus, yaitu dengan memperlihatkan gelang logam berukir etnik khas Sunda yang
sangat Galuh kenali. Sontak Galuh terkejut!
“Itu gelang pengganda energi rancangan
Tuan Rahyata! Ternyata Kaum Luhur telah berhasil merampungkannya!” ucap Galuh sangat
senang.
“Pengganda energi?” Tanya Adhit penasaran.
“Benar! Rupanya proyek yang
dikembangkan team Tuan Rahyata dulu, ternyata telah selesai! Gelang tersebut
akan membantu Jinn dalam mengelola pengeluaran energi bahkan menggandakannya,
sehingga Jinn tidak perlu mengeluarkan banyak energi lagi dalam mengeluarkan
tokoh-tokoh perwayangan dari ilmu gerbang dewanya.” ucap Galuh lega. Lalu Adhit
menatap kembali gelang Jinn Si Kelinci dari kejauhan dengan pandangan penuh
takjub.
Setelah selesai memberi isyarat pada Galuh
tentang gelang yang dipakainya, Jinn Si Kelinci segera menyerang Dwasa dengan tanpa
ampun. Mulai dari memunculkan Batara Guru, Pandawa lima, hingga Gatot Kaca.
Para tokoh perwayangan ini membuat
Dwasa dan beberapa Monster kerikil miliknya cukup kewalahan. Hailana Sang Dewi
Ruh bahkan bertepuk tangan saat melihat ada Kaum Luhur dengan bakat bertarung yang
luar biasa.
“Saya tahu ketika melihatnya pertama
kali, ia Kaum Luhur yang berbeda dengan kaumnya..” ucap Hailana Sang Dewi Ruh begitu
senang.
Ragadewa, Gada Sangkara dan Soma Wisesapun maju ikut
bertarung bersama Jinn Si Kelinci. Dari banyaknya pukulan telak dari energi
buatan Jinn Si Kelinci, ada satu pukulan hebat yang justru membuat teman –
teman band Adhit yang dulu pernah ditelan Dwasa, terpental keluar dari mulut
Dwasa.
“Kalian!” ucap Adhit terkejut hebat,
karena ternyata semua temannya masih hidup!
“Mereka masih hidup, karena yang
dihisap adalah saripati semangat mereka.” Ucap Hailana yang memberi Isyarat
bahwa Galuh akan aman bersamanya. Adhit yang mengerti, segera berlari untuk melindungi
teman-teman bandnya yang masih lemah dibawah perlindungan bola hologram Sura
Suradana miliknya. Namun yang tidak terduga, pintu Kalung Istana Tujuh Pintu tiba-tiba
terbuka. Lalu para Dewi langsung mengangkat masuk teman-teman Adhit yang masih
sangat sempoyongan.
“Kembalilah menyelesaikan misi,
teman-temanmu aman bersama kami,” ucap salah satu Dewi bijak, setelah itu pintu
Istana Tujuh Pintu menghilang.
Tiba-tiba Adhit dikejutan oleh Dwasa yang
berusaha bangkit. Dengan susah payah, Dwasa berusaha untuk mengeluarkan Monster
kerikil baru dari jari jemari kurusnya.
Kesempatan ini dimanfaatkan Hailana Sang
Dewi Ruh yang langsung melesat ke arah Dwasa. Dengan tanpa membuang banyak
waktu, Hailana langsung menarik paksa Ruh Dwasa dari tubuhnya yang belum sepenuhnya
waspada.
Lalu dengan segenap jiwanya, Hailana merobek
Ruh Dwasa sambil berteriak lantang, “tidak ada yang boleh mengganggu NaRaja
sama sekali! Haaaaaa!!!!”
Dengan teriakan yang menggema hingga mengguncang
udara, Ruh Dwasa yang telah dicabik hingga robek, Hailana hancurkan kembali hingga
terberai seperti pasir, yang sontak membuat Ruh dan jasad Dwasa pun akhirnya musnah
lalu menghilang bersama angin. Kini Dwasa benar-benar tamat, yang diikuti
menghilangnya puluhan Monster kerikil yang membuar kembali menjadi ratusan
kerikil biasa.
Namun, kehancuran Dwasa Si Mahluk Asap
malah membuat batu dikening Hailana Sang Dewi Ruh pecah, dan membuat Hailana
roboh seketika. Tanpa diduga, NaRaja keluar dari segel dengan wujud tubuh
manusia berkepala Ajag.
Semua terhenyak,
NaRaja berdiri disana bukan sekedar besar, gagah dan berkharisma kuat.
Sosoknya yang memancarkarkan aura gelap yang begitu pekat, melibas segala
kengerian yang pernah mereka temui selama ini. Namun dari semua itu, sorot matanya
lah yang paling mengerikan. Sorot mata yang membuat Ruh siapapun langsung lari terbirit
sebelum jasadnya menyadari.
Gada Sangkara dan Ragadewa
yang paling terkejut! Sepanjang perjalanan mereka dalam menghadapi Kaum Hitam, baru
kali ini mereka menghadapi energi gelap dengan kekuatan ratusan kali lipat dari
energi hitam yang pernah mereka temui.
“Batu itu adalah realisasi energi yang
berhasil di kristalkan melalui pertapaan yang sangat lama. Saat Hailana merobek
paksa Ruh Dwasa yang masih terhubung dengan energi Saguri, saat itu pula energi
Hailana bertabrakan dengan energi Saguri, yang mengakibatkan sebagian besar
energi yang sudah Hailana kumpulkan hancur seketika.” Jelas Soma Wisesa yang
membuat yang lainnya terkejut.
Dengan hati-hati Soma Wisesa mendekati
Hailana yang tengah dipangku NaRaja. Setelah diberi ijin dan NaRaja kembali
kedalam segel dalam tubuh Galuh, Soma Wisesa segera memberikan sedikit energi
penyembuhan sehingga Hailana kembali pulih.
Saat Hailana menyadari bahwa kristal
di keningnya telah pecah. Alih-alih panik, Hailana malah tersenyum seolah tidak
perduli.
“Jangan khawatir,” ucap Hailana pelan
namun jelas. “Justru dengan bertabrakannya
antara energi saya dan Saguri, bukan sebagian energi saya saja yang hilang,
melainkan sebagian energi Saguri juga sama hancurnya seperti saya. Ini adalah sebuah
pertukaran yang sangat adil!” Ucap Hailana sambil memegang keningnya yang kini
polos dengan sangat puas!
Namun setelah itu, senyumnya malah terkembang.
Hailana lalu mengeluarkan energinya tentang rekaan ulang adegan dimana Hailana
yang terjatuh, lalu tiba-tiba NaRaja keluar dari segelnya hanya untuk menahan
tubuh Hailana agar tidak jatuh ke tanah. Teriakan Hailana yang seperti anak
remaja membuat semua tidak bisa menahan senyum, setelah itu terdengar geraman
sebal dari NaRaja yang membuat para Ajag tergelak senang.
Karena masih terlalu lemah, untuk
sementara Hailana Sang Dewi Ruh dititipkan juga ke dalam kalung Istana Tujuh
Pintu untuk dirawat oleh Nawang Wulan dan para kakaknya.
Sesuai arahan Hailana sebelum dibawa masuk
kedalam kalung Istana Tujuh Pintu, para pemilik elemen diminta berlari masuk
kedalam hutan inti lembah Bukit Ruh, yaitu Leuweung Asmalaya, tempat dimana
Hailana dan para Ruh Tua selama ini tinggal.
“Leuweung Asmalaya?” tanya Adhit
penasaran,
“Dalam istilah sunda, Leuweung itu
artinya hutan, Asma artinya napas Ruh, dan laya adalah wilayah. Jadi, Leuweung
Asmalaya mempunyai arti, Hutan wilayah para Ruh,” terang Jinn Si Kelinci dengan
penuh bersemangat.
Namun belum sampai di Leuweung
Asmalaya , tiba-tiba sosok aneh muncul menghadang mereka. Seseorang dengan memakai
topeng tengkorak tikus besar yang ditaruh diatas kepalanya. Ia bahkan memiliki
ekor!
Selain raut licik dan tampak sangat lihai
berkelit. Perawakannya yang gempal dan agak membungkuk, benar-benar membuatnya
terlihat seperti tikus besar yang sedang mengendap licik dari liang gorong –
gorong.
“Ia biasa dipanggil Si Tengkorak Tikus,
salah satu dari lima Jendral hitam utama yang terkenal paling kejam dan
berbahaya!” ucap Gada Sangkara menjadi waspada. “Si tengkorak tikus tinggal di
bawah tanah, bukan hanya hebat, ia bahkan membawahi banyak monster yang tinggal
dibawah tanah Astamaya,” lanjut Gada Sangkara sambil menyiapkan energinya.
Benar yang dikatakan Gada Sangkara, Jendral
Hitam tersebut memulai aksinya dengan bergerak licin seperti tikus. Ia masuk kedalam
tanah, lalu tak lama kemudian ia muncul kembali sambil berdiri angkuh diatas
satu monster tanah besar dengan banyak kaki bercakar yang menakutkan.
Tak berhenti dari situ, tiba-tiba saja
muncul beberapa monster besar lain, menyusul dengan formasi mengepung para
pemiik elemen dari segala arah.
Si Tengkorak Tikus kemudian memandangi
pada pemilik elemen dengan mata menyipit licik. Sementara para monster tanah
yang menyertainya, mereka menggeram rendah seakan tidak sabar dalam menunggu
aba-aba dari salah satu jendral hitam tersebut.
Tanpa menunggu lama, Ragadewa langsung
beraksi dengan memakai energinya untuk membuat replika pasir dari para Monster
bawah tanah, namun tiba-tiba saja replika yang dibuat Ragadewa membuar hilang! Ditengah
tawa penuh ejek dari Si Tengkorak Tikus, para pemilik elemen mulai menyadari,
bahwa para monster tanah ini ternyata bukan mahluk hidup, karena tidak ada
memori yang bisa dibaca oleh energi Ragadewa dari monster-monster tanah disekeliling
mereka.
Galuh sendiri sepertinya tidak dapat
mengeluarkan para Ajag, karena ternyata, kendi Ruh penggodok para Ajag yang
dulu sempat dihancurkan Dharma, ternyata berhasil dikumpulkan pecahannya,
bahkan disambungkan kembali oleh Si Tengkorak Tikus. Sekalipun bentuknya penuh
sambungan, mereka tetap waspada bila kendi Ruh ini masih berfungsi dengan baik.
Galuh memulai aksinya dengan
melayangkan sepasang kujangnya ke atas dirinya, begitu kujangnya membelah diri
sehingga menjadi sepuluh kujang, Galuh segera melesatkan sehingga membuat para
monster tanah ini tercabik dari segala sisi. Lalu disambung Gada Sangkara yang menyusul
dari arah sisi. Pukulan dari kepalan besar yang dihasilkan energinya, sempat
membuat tubuh para monster ini sampai terpisah jadi beberapa bagian.
Namun tiba-tiba para monster yang
dengan tubuh sudah terpisah ini, malah bergabung dengan tubuh monster lain yang
kebetulan berada didekatnya, sehingga mereka kembali berdiri dengan bentuk yang
semakin menyeramkan, lalu menyerang mereka dengan gerakan yang sangat membabi buta.
Jinn Si Kelinci menyusul dengan
menggunakan ilmu gerbang dewa miliknya, kali ini yang ia keluarkan adalah tokoh
Ramayana, yaitu Hanuman, Rama dan Laksmana, yang setelah itu disusul Rahwana dan ketiga adiknya, Kumbakarna, Surpanaka
dan Wibisana. Mereka menyerang para monster tanah dengan jurus khas
masing-masing tokoh sangat tanpa ampun. Begitu para Monster tanah kewalahan,
Soma Wisesa mengeluarkan energinya yang berupa memasukan para monster tersebut
kedalam kubus energi, yang lalu kubus tersebut mengecil, sehingga para monster
didalam jadi hancur remuk seperti daging cincang.
Namun setelah itu, para Monster tanah
yang sudah hancur, sisa-sisa tubuh mereka menyatu kembali dengan kawanannya
yang paling terdekat. Lalu kembali berdiri utuh sehingga menciptakan teror yang
sangat menakutkan!
Galuh sempat tergoda, ditengah tekanan
serangan yang semakin berat, ia terpikir untuk menggunakan energi dari Batu
Hyang Sawarga yang disimpan Adhit.
Namun Adhit segera mengingatkan, “Kamu
ingat mengapa Guru Candrakra ingin agar Batu Hyang Sawarga dihancurkan? karena
dalam terawangan Guru Candrakara, semua hal yang melibatkan energi yang
dikeluarkan Batu Hyang Sawarga setelah masa Guru Candrakara, hanya akan mengakibatkan
bencana yang lebih besar.” Galuh tersentak! Setelah itu, sambil tetap menangkis
serangan, Galuh mengangguk mengerti.
Saat para pemilik elemen dan Jinn Si
Kelinci hampir saja binasa, Tiba-tiba datang si Merah gila dengan baju serba
merahnya yang mencolok mata. Bahkan, Si Merah Gila mengibas-ngibaskan bulu
merak merah super besar yang menempel di ikat kepalanya, dengan gaya gelengan
kepala kucing yang tengah kesurupan.
Meski Si Merah Gila bertingkah gila, menyerang
para Monster ini dengan pose-pose yang sangat konyol, Si Tengkorak Tikus dan
pasukannya sama sekali tidak menyadari kehadirannya! Bahkan ketika Si Merah
Gila mengajak pasukan Si Tengkorak Tikus berdansa, menggelitiki, lalu memaksa
mereka berpose sangat absurd, Si Tengkorak Tikus hanya bisa memandang perilaku
pasukannya dengan wajah bingung.
Dan hebatnya, Si Merah Gila benar-benar
tahu dimana titik kelemahan para Monster tanah ini, sehingga Si Merah Gila bisa
menghancurkan para monster ini sampai benar-benar mati dan tidak bisa
dihidupkan kembali.
Si Tengkorak Tikus semakin kebingungan,
Ia jelas-jelas melihat para pemilik elemen tidak melakukan apa-apa, namun para Monster
tanah yang ia bawa malah tiba-tiba bertingkah aneh, lalu setelah itu mereka tampak
menggila dengan menghancurkan dirinya sendiri.
Karena panik, Si Tengkorak Tikus mengarahkan
kendi penggodok Ruhnya ke segala arah karena menganggap ini perilaku salah satu
Ruh, tapi yang terhisap malah moster tanah miliknya yang sebenarnya sedang kerjai
Si Merah Gila.
Saat Monster tersebut tersedot kedalam
Ruh Kendi, Si Merah Gila menyisipkan energinya yang membuat Monster tersebut
saat sudah masuk kedalam Kendi Ruh, membengkak, sehingga membuat kendi
penggodok ini yang sebelumnya sempat retak, kini malah semakin rusak bahkan pecah,
yang mengakibatkan Si Tengkorak Tikus mati karena terkena ledakan kendi
penggodok Ruh.
Begitu Si Tengkorak Tikus binasa, tanpa
pamit sama sekali, Si Merah Gila pergi begitu saja sambil mengoceh tidak waras
sendirian, lalu melesat hilang tanpa bisa terdeteksi. Semua yang melihatnya
hanya bisa menggeleng seakan sudah memaklumi.
Setelah itu, dibawah panduan arah dari
Jinn Si Kelinci, mereka segera berlari menuju
Leuweung Asmalaya, tempat dimana para Ruh Tua tinggal.
Awal mereka sampai di Leuweung
Asmalaya, mereka terkesima karena wilayah para Ruh Tua berada tidak seperti
yang mereka bayangkan. Tempat ini benar-benar sangat diluar narasi pemikiran
mereka sendiri. Bukan hutan kelam atau reruntuhan kuil kuno, tetapi lebih
menyerupai taman nirwana yang sering diceritakan dalam dongeng-dongeng rakyat sunda
kuno.
Leuweung Asmalaya, dikelilingi pohon-pohon
rindang yang begitu tinggi besar dan berdaun hijau keperakan. Pohon tersebut
terasa semakin menakjubkan karena dihinggapi banyak Ruh yang tengah berkidung sakral
dengan Bahasa Buhun, atau Sunda kuno.
Tanaman-tanaman perdu sekitar pohon juga
tak kalah menakjubkannya. Tanaman perdu, yang memiliki ratusan bunga yang
terbuat dari kristal warna-warni, Galuh menyentuh salah satu bunga kristal
untuk memastikan, dan setelah itu ia terkejut! karena itu adalah benar-benar
terbuat dari kristal padat yang begitu indah, dan semua itu bertebaran seakan
hal itu adalah sesuatu yang lumrah
disana.
Adhit dan yang lainnya melihat
berkeliling dengan sangat tidak percaya. Namun yang paling terpesona adalah
Jinn Si Kelinci.
Jinn Si Kelinci, yang sejak kecil yang
selalu terpesona pada kisah Kaum Ruh. Kisah yang selalu ia baca di perpustakaan
gua persembunyian Kaum Luhur. Kisah yang membuatnya selalu bersedia bola balik
melewati bukit Ruh. Kini, ia melihat sendiri seperti apa Leuweung Asmalaya yang
selalu menjadi misteri bagi seluruh Kaum Astamaya.
Wilayah yang paling sakral bagi Kaum
Ruh, dan selama sejarah Astamaya, tidak pernah ada satupun Kaum Astamaya yang
pernah terceritakan memasuki wilayah tersebut, bahkan Kakek Addar yang selalu
ia kagumi. Sehingga hal tersebut sontak membuat kepala dan hatinya kini seakan berisi
ratusan kembang api yang meledak secara bersamaan.
“Ini terlalu hebaaat!” ucap Jinn Si
Kelinci sambil melihat berkeliling dan berjingkrak senang.
Para Ruh, terutama Ruh tua yang ada
disana juga sama terkejutnya. Karena selain Kaum Ruh, tidak ada yang berani masuk ke dalam wilayah yang begitu
sangat sakral selain kaum mereka.
Begitu mereka melihat Adhit membawa
keluar Hailana Sang Dewi Ruh dari dalam Kalung Istana Tujuh pintu. Kini mereka mengerti,
mengapa para pemilik Elemen dan Jinn Si Kelinci tidak mendapat gangguan apapun dari
Kaum Ruh ketika memasukin wilayah ini.
Bukan para Ruh saja sangat
berterimakasih karena mereka telah membawa Nona mereka dengan selamat. Wilayah
Leuweung Asmalaya turut bersuka cita. Para hewan kecil, burung, dan serangga
terbang mendekat seakan sedang menari. bahkan tanaman-tanaman yang jenisnya
bisa bergerak, mereka menyambut para pemilik elemen dan Jinn Si Kelinci seakan –
akan pahlawan besar telah kembali. Suasana wilayah Leuweung Asmalaya berubah
menjadi hangat dan penuh cahaya, seolah alam itu sendiri mengakui kedatangan
mereka adalah sebuah berkah tersendiri.
Karena situasi sudah aman, Hailana bersikeras
agar mereka istirahat sebentar dilembah Ruh. Menyadari bahwa mereka juga tengah
terluka, mau tidak mau Galuh dan kawan-kawan memutuskan beristirahat, yang lalu
di obati oleh energi murni Nawang Wulan yang dibantu oleh para kakak Nawang
Wulan.
Tentu saja Hailana Sang Dewi Ruh tidak
menyia-nyiakan kesempatan. Ia lalu memaksa NaRaja dan kawanannya untuk keluar
dari segel. Bahkan, Hailana merayu bahwa Citraloka telah menyiapkan mantera,
sehingga para Ajag bisa menikmati hidangan tanpa perlu melalui proses menyerap
energi makanan dari makanan yang terlebih dahulu dikonsumsi oleh Galuh.
Sekalipun kepala mereka masih tetap
berbentuk kepala Ajag, diluar dugaan, penampilan para Ajag dalam tubuh Manusia
benar-benar sangat gagah.
Namun, semua itu tidak melewati kharisma
kuat milik NaRaja, yang justru membuat Hailana Sang Dewi Ruh semakin
tergila-gila. Selama masa pemulihan, Hailana benar-benar manja pada NaRaja. Hal
ini membuat NaRaja sangat malu dan kesal. Ia ingin segera pergi, namun tidak
bisa karena para pemilik elemen memang harus beristirahat dulu sampai mereka benar-benar
pulih.
Melihat hal tersebut, para Ajag lain
terkekeh sangat senang, ditambah Ragadewa dan Gada Sangkara yang ikut terkekeh
karena candaan Adhit, membuat NaRaja mengomel semakin kesal.
Namun ditengah kekeh tawa mereka, ada
hal yang membuat mereka semua terkejut. Ternyata ada Kaum Astamaya yang bisa
berhasil menembus wilayah Leuweung Asmalaya sebelum mereka, dan ia adalah Guru
Candrakara!
“Candrakara! Si gila Candrakara!”
Teriak Soma Wisesa dengan terkejut luar biasa. “Kamu pikir, ketika saya dititipi
batu tunggal untuk bisa menemukan letak kalian saat mencari Sang Ether itu
adalah saya yang kebetulan lewat? Candrakara datang, hanya untuk menemui saya ke
Asmalaya dalam menyerahkan batu tunggal, setelah itu ia pergi begitu saja,”
ucap Hailana yang membuat semuanya menggeleng semakin tidak percaya.
“Saya tahu apa yang kamu akan katakan
Soma.. kamu tahu kan mengapa saya selalu memanggilnya Si Gila Candakara…” ucap
Adhit sambil menirukan gestur khas Soma Wisesa. Seketika semuanya tergelak,
termasuk Soma Wisesa dengan sangat lepas.
Akhirnya waktu yang ditunggu NaRaja
datang, waktunya mereka berangkat lagi. Hailana tidak bisa mengekor NaRaja
karena ia masih terluka parah. Akhirnya, dengan dipandu Jinn Si Kelinci, mereka
keluar dari bukit Ruh dan melanjutkan perjalanan menuju Istana.
Namun, di tengah perjalanan, suasana
hati yang mereka rasakan di wilayah Leuweung Asmalaya kini berubah kembali
mencekam.
Jejak mereka sepertinya terendus
kembali. Para pemilik elemen mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres
terjadi. Karena, tiba-tiba saja banyak ular yang memperhatikan perjalanan mereka
dari balik atas pohon.
“Galuh awas!” Teriak Adhit tiba-tiba.
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar