Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 41 – Kejutan Adhit! | By: Desya Saghir - Tamat -

Disudut Istana yang telah tenang, Adhit termenung. Rahangnya mengeras saat mengingat Galuh yang dulu bersinar penuh semangat, kini dinyatakan koma karena kerusakan otak yang sangat parah. Serangan terakhir Saguri, benar-benar menghancurkan masa depan Galuh sebagai pewaris tahta selanjutnya. Adhit duduk disamping Galuh yang telah divonis akan tertidur selamanya. Galuh tidak mati, nafasnya berjalan teratur seakan ia sedang tertidur pulas, tetapi jiwanya seolah terus menjauh dari jangkauan Adhit. “Mengapa saya tidak bisa melindungi kamu saat itu,” sesal Adhit dengan nada perih yang amat dalam. Ia begitu patah hati hingga jiwanya dipenuhi rasa yang begitu sakit. “Jangankan kamu Dhit, saya yang saat itu juga ada disampingnya, tidak mengira akan datang serangan tidak terduga dari Saguri yang telah sekarat.” Ucapan tersebut sontak membuat Adhit menoleh kaget. Ternyata dibelakangnya sudah ada Ragadewa, ditemani Gada Sangkara yang kini telah pulih. Keduanya memakai pakaian dan ikat kepala lelak...

Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 37 – Ilusi Ular yang mencekam! | By: Desya Saghir

Dengan sigap Adhit menyingkirkan ular yang hampir menyentuh Kepala Galuh. Lalu setelahnya, mereka malah dikejutkan oleh ratusan ular yang tengah mengintip dari setiap ruas pepohonan.

Benar saja, setelah itu muncul sesosok pria dengan siluet tubuh yang begitu kurus. Diatas kepalanya tersemat tengkorak ular besar yang menatap dingin. Lalu punggungnya tertutupi jubah sisik ular keemasan yang selalu berkelip setiap kali tersentuh cahaya matahari.

Sepasang mata runcingnya yang beriris ular, kini menatap Galuh dan kawan-kawan dengan raut sombong. Tarikan raut matanya seolah mengatakan apapun yang ia temukan di dunia terlalu kecil untuk egonya yang seluas langit.

“Si Tengkorak Ular! Berhati-hatilah,” ucap Gada Sangkara penuh nada waspada.

Semua yang sebelumnya telah berpengalaman dengan Si Tengkorak Tikus, kini langsung mengerti bahwa dihadapan mereka adalah salah satu lima Jenderal Hitam yang terkenal berbahaya.

Dengan kepala yang mendongak angkuh, Si Tengkorak Ular datang menghadang sambil diikuti ratusan ular tadi yang kini mengepung dari segala penjuru. Kemudian, ratusan ular tersebut berdesis sambil merayap perlahan dengan mata yang terfokus pada Galuh dan kawan–kawan, seolah tengah bersiap untuk mencabik kejam para pemilik elemen ini hidup-hidup.

Ditengah kengerian tersebut, Ragadewa tampak menyadari sesuatu, lalu malah tersenyum senang. Dengan sekali hentakan kaki dan gerakan tangan yang presisi, semua partikel disekitar Galuh dan kawan-kawan tiba-tiba berkumpul sambil mengeluarkan desis, yang setelah itu berputar disekeliling pemilik elemen seperti pusaran dengan efek badai pasir yang menggelora. Dalam hitungan detik, ratusan replika ular yang terbuat dari pasir menghadang ratusan ular yang mengepung mereka dari semua sisi.

Lalu dengan gerakan yang tidak terduga, ratusan replika ular buatan Ragadewa langsung menghajar ratusan ular milik Si Tengkorak Ular dengan sangat brutal. Membelit, mencabik, bahkan melahap dengan tanpa jeda. Sehingga ratusan ular yang tengah mengepung Galuh dan kawan-kawan saat itu langsung lenyap tanpa sisa.

“Ratusan ular milik Si Tengkorak Ular adalah mahluk hidup! Sehingga kali ini energi Ragadewa bisa dipergunakan!” ucap Adhit, yang langsung dibenarkan oleh yang lainnya dengan lega.

Begitu tugasnya selesai, replika ular milik Ragadewa kembali membuar dan menyisakan tanah dan rerumputan yang kembali tenang. Sontak hal tersebut membuat Si Tengkorak Ular terhina luar biasa!

Dengan wajah dipenuhi rasa kesal, Si Tengkorak Ular tampak mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan perlahan datanglah kabut dari segala penjuru, yang menjebak mereka kedalam belitan kabut yang menyesatkan.

“Hati-hati, ini adalah kabut racun bisa ular wilayah Rangeh. Jangan keluarkan energi apapun secara membabi buta, karena kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan Si Tengkorak Ular dibalik kabut ini.  Dan ingat! Apapun yang muncul pada kita nanti, itu semua hanya halusinasi!

”Setelah berbicara, tiba-tiba Gada Sangkara tersedot masuk kedalam tanah. Ditengah kepanikan, mereka malah dipencarkan oleh kabut melingkar yang begitu pekat.

Adhit yang hanya Manusia biasa, tentu saja mulai panik! Selain karena semua temannya hilang, juga karena semua hal buruk yang dulu menakutinya datang menyembul dari balik kabut.

Semua Kaum Hitam yang pernah mereka hadapi, tiba-tiba muncul dengan mata iris ular, lalu mencoba menggapai dirinya dengan sosok jahat mengerikan. Bahkan Dwasa Si Mahluk Asap juga menyembul dari balik kabut tersebut. Namun anehnya, tidak ada satupun yang menyentuhnya. Itu membuat Adhit ingat perkataan Gada Sangkara tadi, bahwa semua itu adalah ilusi, maka Adhit yang tadinya panik, ia memilih tetap diam tidak melakukan apapun.

Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu membelitnya dengan cepat. Ketika hampir memberontak, Adhit merasa lega karena mengenali yang tengah membelitnya. “Tambang Energi milik Ragadewa!” ucap Adhit lega.

Benar saja, setelah ia ditarik paksa, ia kini kembali berkumpul dengan para pemilik elemen lain ditengah kabut yang begitu pekat.

“Semuanya!” teriak Adhit begitu lega

“Semuanya ada, kecuali Gada Sangkara!” ucap Galuh yang membuat semuanya menyadari.

“Entahlah, tambang energi milik saya tidak bisa menemukannya sama sekali!” Ucap Ragadewa sedikit kesal.

“Tadi bukannya Tuan Gada Sangkara ditarik masuk kedalam tanah bukan, baiklah kalau begitu.. energi ular, hanya bisa dikenali oleh sesama ular,” ucap Jinn Si Kelinci sambil mengeluarkan energinya untuk membuka ilmu gerbang dewa miliknya.

Dan, “Blash!” tiba-tiba muncul ular naga biru keemasan yang begitu besar menembus keatas kabut! Setiap gerakannya, ternyata menghasilkan angin yang menghirup kabut hingga tidak tersisa. Lalu, mereka kini melihat Si Tengkorak Ular yang ternyata tengah menyiapkan ular-ular beracun untuk Galuh dan kawan-kawan, kini kebingungan karena kabut buatannya menghilang begitu saja.

Namun, bukan hanya menghilangkan kabut saja. Ular Naga biru keemasan ini menelan semua ular beracun buatan Si Tengkorak Ular. Lalu setelah itu ia masuk kedalam tanah, mengacak-acak dalam bawah tanah, lalu membawa Gada Sangkara kembali ke permukaan dengan wajah yang masih terkejut.

“Sang Hyang Antaboga!” Teriak Adhit terkejut sekaligus senang.

“Sang Hyang Antaboga?” tanya Galuh heran.

“Sang Hyang Antaboga adalah salah satu tokoh perwayangan sunda. Ia adalah sang penguasa alam bawah tanah, dan penjaga rahasia dunia bawah tanah. Jinn sangat tepat mengeluarkan tokoh ini untuk menyelamatkan Gada Sangkara. Karena selain penguasa alam bawah tanah, Sang Hyang Antaboga adalah Dewa Ular sang penjaga bumi, tentu ia bisa mengenali energi Si Tengkorak Ular dengan mudah.” Ucap Adhit sangat senang. Setelah itu Galuh menatap kembali Ular naga biru keemasan tersebut dengan pandangan penuh takjub.

Setelah meletakan Gada Sangkara dengan hati-hati, Sang Hyang Antaboga kemudian perlahan menghilang.

Dengan kondisi ego yang terluka, Si Tengkorak Ular langsung mengerahkan energinya pada tanah yang tengah diinjak Galuh dan kawan-kawan.  

Angin dinginpun berdesir, menembus tulang, bahkan jiwa. Lalu dalam sekejap, energi gelap milik Si Tengkorak Ular mengubah rerumputan dibawah kaki Galuh dan kawan-kawan jadi ular yang saling membelit! Kemudian ratusan ular tersebut melilit kaki Galuh dan kawan-kawan hingga mereka tidak bisa bergerak. Namun bukan itu saja, ular-ular tersebut menotok kaki dan lengan Galuh dan kawan-kawan, sehingga semua energi yang dikerahkan para pemilik elemen jadi berupa asap tidak berguna.

“Ular-ular ini menotok aliran tempat energi kita keluar!” Ucap Ragadewa panik. Beberapa kali ia keluarkan energinya, namun malah berakhir jadi asap yang membuar bersama angin. Seketika mereka semua paham alasan nada waspada Gada Sangkara di awal tadi.

Reaksi panik Ragadewa, sontak membuat Si Tengkorak Ular tergelak dengan sangat puas. Namun, yang membuat semakin ia tergelak senang justru adalah Galuh.

Rasa cemas Galuh yang tiba-tiba meledak, membuat segel para ajag melonggar di luar kendalinya. Galuh semakin panik, malah membuat ia kesulitan dalam menutup segelnya kembali. Para Ajag yang sudah terlanjur mengamuk didalam segel, kini mendorong paksa sehingga Galuh sampai harus menjerit karena berusaha menutup kembali segel tersebut.

“Gawat!” Teriak Galuh semakin panik. “Saat para Ajag mengamuk, mereka tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Dengan terikat ular seperti ini, kita akan mati sia-sia!” Teriak Galuh lagi karena para Ajag semakin menggila.

Ditengah kepanikan, dengan gerakan seolah sedang menepiskan debu, tiba-tiba Si Tengkorak Ular menutup kembali segel para Ajag dari jarak jauh. Setelah itu ia menatap Galuh dan Kawan-kawan sambil tertawa mengejek, seolah hal tersebut adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan. Sontak hal tersebut membuat Galuh dan kawan-kawan terkejut luar biasa.

“Kalau kalian mati cepat, itu sama sekali tidak seru, saya masih belum mendapatkan yang saya inginkan dari kalian.. hahahaha!” ucap Si Tengkorak Ular dengan tawa yang sangat menyebalkan. “Santai saja, ada yang hendak saya gali dulu dari kalian. Lalu setelah saya mendapatkan apa yang saya mau, baru kalian boleh mati.. hahahaha!” Lanjut Si Tengkorak Ular semakin pongah.

“Ternyata ia menguasai ilmu pemahat mantera tingkat tinggi, salah satu ilmu dalam Kitab Sembilan! Ucap Jinn Si Kelinci terkejut.

“Saguri merekrut orang-orang yang ilmunya di atas para Tetua Putih untuk menghadapi kita? Apa tidak salah?” ucap Ragadewa heran.

“Tentu saja tidak. Ini bukan masalah seberapa kuat dewa,” jawab Adhit dengan tatapan yang kini menoleh pada Ragadewa.

“Untuk batu semenakutkan Hyang Sawarga, Saguri tahu benar bahwa Guru Candrakara akan memilih orang-orang yang menurutnya tepat untuk melindungi Hyang Sawarga hingga kembali menuju Istana,” jawaban Adhit kini membuat Ragadewa terhenyak.

Ragadewa lalu melihat semua yang kini bersamanya. “Benar juga!” ucap Ragadewa, menyadari. Sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Adhit benar, semua orang yang bersamanya memang memunculkan kemampuan yang tepat saat mereka tengah membutuhkannya.

Galuh dengan para Ajag disertai pengetahuan NaRaja tentang rahasia dunia hitam. Gada Sangkara dengan bakat militer dan pengetahuan tentang para tokoh berbahaya dari militer Kaum Hitam. Soma Wisesa dengan segala pengalaman hebatnya dan pengetahuan ilmu-ilmu berbahaya di masa lalu. Lalu Adhit, dengan kecerdasan dan DNAnya yang telah diselipi memori-memori milik Guru Candrakara. Setelah itu dirinya, yang mengetahui hal-hal yang bisa menggabungkan antara pengetahuan Astamaya dan dunia Manusia. Semua itu adalah perpaduan kekuatan yang membuat langkah mereka terus melaju kedepan.

“Guru Candrakara memang Gila! Ia benar-benar gila!” ucap Ragadewa lagi yang kini mulai mengerti, mengapa Adhit dan Soma Wisesa sering bereaksi luar biasa bila berhubungan dengan hal-hal yang dilakukan Guru Candrakara.

Lalu ia menatap Adhit takjub, pemikiran Adhit yang benar-benar tajam membuatnya terkesima luar biasa. Ragadewa tiba-tiba refleks penasaran dengan reaksi Galuh, namun setelah melihat ekspresi Galuh, pandangannya kini melembut. “Ternyata gadis ini sama terkesimanya seperti saya,” pikir Ragadewa sambil tersenyum tipis.

“Aah.. mengapa semuanya terdiam? Apa kehebatan saya yang berkilau membuat kalian semua terpukau? Hahahaha… saya memang sehebat itu,” ucap Si Tengkorak Ular semakin pongah.

“Sangat disayangkan, saat ke enam Tetua Hitam berusaha merebut batu Hyang Sawarga di istana dulu, saya masih belum jadi bagian kubu hitam. Andai saja saat itu sudah bergabung, tentu para Tetua Hitam sudah bebas sejak hari pertama tersegel.. Hahahaha!” Ucap Si Tengkorak Ular yang membuat semuanya semakin muak.

Melihat Galuh dan kawan-kawan terlihat sangat tidak berdaya, dengan masih tersenyum pongah, Si Tengkorak Ular berjalan santai karena tahu bahwa kemenangan sudah menjadi mutlak miliknya.

“Kalian sudah mendapatkan berapa banyak retakan dari Batu Hyang Sawarga?” tanya Jenderal ular dengan nada penasaran yang mengejek. “Aaah…. setelah saya mendapatkan semua retakan Hyang Sawarga yang ada di kalian, Tuan Saguri pasti akan memberikan saya banyak anugrah energi langka yang hebat.. Hahahaha!” Lanjut Si Tengkorak Ular lagi, sambil membayangkan semua kejayaan yang akan ia miliki dengan senyum penuh kemenangan.

Semakin Si Tengkorak Ular mendekat, Galuh dan kawan-kawan semakin merasakan aura dingin menusuk kedalam sumsum tulang. Mereka terkejut, saat melihat bahwa ternyata efek dingin Si Tengorak Ular sampai membuat rumput sekitar mengering. Sontak hal tersebut membuat semua pemilik elemen mulai merasa ngeri.

Namun, tiba-tiba saja perhatian Si Tengkorak Ular terlihkan! Ada gemerlap memukau dari balik semak tepat disamping Galuh.

Begitu menyadari bahwa ada beberapa karung goni berisikan tumpukan koin emas yang sangat melimpah, Si Tengkorak Ular langsung kalap. Ia bahkan melupakan misinya dan langsung berlari kedalam Semak, lalu meraup tumpukan koin emas tersebut dengan tawa penuh keserakahan.

Si Tengkorak Ular tertawa semakin senang, saat menyadari bahwa ternyata koin emas yang ia raup benar-benar emas kadar murni. Ia bahkan memeluk tumpukan koin emas tersebut dengan sangat erat.

“Bukit Ruh memang penuh dipenuhi misteri yang sangat menyenangkan.. Hahahaha!” teriak Si Tengkorak Ular dengan tawa yang semakin sarat ketamakan. Jubah sisik ular keemasannya semakin berkelip karena ia tertawa begitu keras.

Ketika ia menemukan beberapa peti besar koin emas di sisi semak yang lebih dalam, Si Tengkorak Ular semakin kalap! Saking serakahnya, Ia bahkan merubah dirinya jadi ular besar keemasan, yang lalu melahap semua emas dengan raut penuh ketamakan.

Namun, setelah semua emas berhasil ia telan, ular jelmaan Si Tengkorak Ular tiba-tiba melengkingkan teriakan yang begitu hebat! Yang setelah itu ia jatuh berdebam, lalu tewas menggenaskan.

Ditengah kebingungan para pemilik Elemen, tiba-tiba Hailana Sang Dewi Ruh muncul dari balik salah satu pohon besar.

“Kelemahan terbesar ular adalah ketamakan dan garam!” ucap Hailana senang, walaupun wajahnya masih terlihat kuyu dan cukup sempoyongan.

Hailana lalu memperlihatkan gambaran ulang tentang emas yang telah ditelan Si Tengorak Ular tadi. Ternyata, dibagian bawah ratusan tumpukan koin emas dalam peti, disematkan beberapa kilo garam kasar murni!

Sepertinya Hailana Sang Dewi Ruh khawatir dengan keadaan NaRaja. Dalam keadaan masih terluka parah, ia mengikuti mereka secara senyap. Hailana tahu bahwa Ia tidak sekuat dahulu, maka ketika ia tahu lawannya adalah Si Tengkorak Ular, ia mengakalinya dengan mengeluarkan emas dan garam dari tanah sekitar, lalu mengemasnya menjadi tumpukan koin emas mewah dengan detail menggiurkan. Melihat semua gambaran yang diperlihatkan, kini semua langsung menggeleng takjub dengan kenekatan Hailana Sang Dewi Ruh.

Hailana Sang Dewi Ruh, sekalipun separuh kekuatannya telah hilang, ternyata ia masih bisa membuka segel para Ajag untuk memastikan NaRaja selamat. Saat segel para Ajag berhasil dibuka, saat itu pula ia mendapati NaRaja berdiri tepat didepan pintu segel. Desiran hangat menjalar penuh hingga membuat wajah Hailana memerah.

Namun, NaRaja tidak mengeluh panjang seperti biasanya, Ia bahkan menatap Hailana Sang Dewi Ruh dengan pandangan dalam. Setelah menunduk sebagai tanda terimakasih, NaRaja menutup segel dari dalam tanpa pamit sedikitpun.

“Cih, dia benar-benar sangat dingin,” gerutu Hailana, namun wajahnya semakin memerah karena mendapat respon tak terduga dari NaRaja. Tak lama, Citraloka terlihat datang menyusul dengan raut sangat khawatir.

“Hailana! Bagaimana bisa kamu menyelinap keluar dengan keadaan masih terluka parah seperti ini!” gerutu Citraloka kesal. Lalu dengan energinya, Citraloka langsung memeriksa seluruh luka Ruh yang terdapat pada tubuh Hailana. Ia lalu memperbaiki beberapa luka dalam yang sempat terbuka kembali, karena Hailana memaksakan diri untuk mengeluarkan energinya dalam mengumpulkan emas dan garam.

Hailana menanggapi kekhawatiran Citraloka dengan tersenyum kekanakan, yang setelah itu mata Hailana menyipit jenaka sambil melirik pada belakang Galuh.

Citraloka yang menangkap bahwa Hailana sedang menunjukan tempat dimana NaRaja tinggal, menanggapi kode Hailana dengan menggeleng sangat gemas. Hal tersebut pula membuat Galuh dan kawan-kawan langsung tertawa geli.

Sebelum kembali pulang, seperti yang pernah Hailana lakukan dulu, ketika Galuh, Adhit dan Jinn Si Kelinci saat pertama kali bertemu dengannya di bukit Ruh. Hailana sang Dewi Ruh kembali menuliskan mantera singkat, berupa aksara buhun, atau aksara Sunda kuno yang dituliskan dengan jarinya. Mantera pelindung selama di Bukit Ruh agar tidak ada Ruh jahil yang mendekat.

Begitu goresan tangannya membekaskan jejak berupa aksara buhun yang berpendar lembut, Hailana segera meniupkannya kearah Galuh dan kawan-kawan hingga aksara tersebut lenyap disekitar mereka. Setelah itu, Hailanapun akhirnya mau dibawa Citraloka pulang ke Leuweung Asmalaya, tempat paling sakral dimana para Ruh Tua di Bukit Ruh tinggal.

Mereka pikir perjalanan mereka sudah mulai tenang, ternyata begitu perjalanan sudah agak jauh, Jinn Si Kelinci malah menemukan jejak cakar beruang yang sangat besar!

- Bersambung - Desya Saghir -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 6 Tentang Para Kawanan Galuh. | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 1 - Tamu tak diundang! | By: Desya Saghir

Astamaya – Buku 1: Galuh dan Para Ajag Terkutuk! | BAB 3 – Sebuah tempat baru. | by: Desya Saghir