Astamaya – Buku 3: Perjalanan Pulang | Bab 37 – Ilusi Ular yang mencekam! | By: Desya Saghir
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dengan sigap Adhit menyingkirkan ular
yang hampir menyentuh Kepala Galuh. Lalu setelahnya, mereka malah dikejutkan
oleh ratusan ular yang tengah mengintip dari setiap ruas pepohonan.
Benar saja, setelah itu muncul sesosok
pria dengan siluet tubuh yang begitu kurus. Diatas kepalanya tersemat tengkorak
ular besar yang menatap dingin. Lalu punggungnya tertutupi jubah sisik ular
keemasan yang selalu berkelip setiap kali tersentuh cahaya matahari.
Sepasang mata runcingnya yang beriris
ular, kini menatap Galuh dan kawan-kawan dengan raut sombong. Tarikan raut
matanya seolah mengatakan apapun yang ia temukan di dunia terlalu kecil untuk egonya
yang seluas langit.
“Si Tengkorak Ular! Berhati-hatilah,”
ucap Gada Sangkara penuh nada waspada.
Semua yang sebelumnya telah berpengalaman
dengan Si Tengkorak Tikus, kini langsung mengerti bahwa dihadapan mereka adalah
salah satu lima Jenderal Hitam yang terkenal berbahaya.
Dengan kepala yang mendongak angkuh, Si
Tengkorak Ular datang menghadang sambil diikuti ratusan ular tadi yang kini mengepung
dari segala penjuru. Kemudian, ratusan ular tersebut berdesis sambil merayap
perlahan dengan mata yang terfokus pada Galuh dan kawan–kawan, seolah tengah bersiap
untuk mencabik kejam para pemilik elemen ini hidup-hidup.
Ditengah kengerian tersebut, Ragadewa tampak
menyadari sesuatu, lalu malah tersenyum senang. Dengan sekali hentakan kaki dan
gerakan tangan yang presisi, semua partikel disekitar Galuh dan kawan-kawan tiba-tiba
berkumpul sambil mengeluarkan desis, yang setelah itu berputar disekeliling
pemilik elemen seperti pusaran dengan efek badai pasir yang menggelora. Dalam
hitungan detik, ratusan replika ular yang terbuat dari pasir menghadang ratusan
ular yang mengepung mereka dari semua sisi.
Lalu dengan gerakan yang tidak
terduga, ratusan replika ular buatan Ragadewa langsung menghajar ratusan ular
milik Si Tengkorak Ular dengan sangat brutal. Membelit, mencabik, bahkan
melahap dengan tanpa jeda. Sehingga ratusan ular yang tengah mengepung Galuh
dan kawan-kawan saat itu langsung lenyap tanpa sisa.
“Ratusan ular milik Si Tengkorak Ular
adalah mahluk hidup! Sehingga kali ini energi Ragadewa bisa dipergunakan!” ucap
Adhit, yang langsung dibenarkan oleh yang lainnya dengan lega.
Begitu tugasnya selesai, replika ular
milik Ragadewa kembali membuar dan menyisakan tanah dan rerumputan yang kembali
tenang. Sontak hal tersebut membuat Si Tengkorak Ular terhina luar biasa!
Dengan wajah dipenuhi rasa kesal, Si
Tengkorak Ular tampak mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan perlahan datanglah
kabut dari segala penjuru, yang menjebak mereka kedalam belitan kabut yang menyesatkan.
“Hati-hati, ini adalah kabut racun
bisa ular wilayah Rangeh. Jangan keluarkan energi apapun secara membabi buta,
karena kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan Si Tengkorak Ular dibalik
kabut ini. Dan ingat! Apapun yang muncul
pada kita nanti, itu semua hanya halusinasi!
”Setelah berbicara, tiba-tiba Gada
Sangkara tersedot masuk kedalam tanah. Ditengah kepanikan, mereka malah dipencarkan
oleh kabut melingkar yang begitu pekat.
Adhit yang hanya Manusia biasa, tentu
saja mulai panik! Selain karena semua temannya hilang, juga karena semua hal
buruk yang dulu menakutinya datang menyembul dari balik kabut.
Semua Kaum Hitam yang pernah mereka
hadapi, tiba-tiba muncul dengan mata iris ular, lalu mencoba menggapai dirinya
dengan sosok jahat mengerikan. Bahkan Dwasa Si Mahluk Asap juga menyembul dari
balik kabut tersebut. Namun anehnya, tidak ada satupun yang menyentuhnya. Itu
membuat Adhit ingat perkataan Gada Sangkara tadi, bahwa semua itu adalah ilusi,
maka Adhit yang tadinya panik, ia memilih tetap diam tidak melakukan apapun.
Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu
membelitnya dengan cepat. Ketika hampir memberontak, Adhit merasa lega karena
mengenali yang tengah membelitnya. “Tambang Energi milik Ragadewa!” ucap Adhit
lega.
Benar saja, setelah ia ditarik paksa,
ia kini kembali berkumpul dengan para pemilik elemen lain ditengah kabut yang
begitu pekat.
“Semuanya!” teriak Adhit begitu lega
“Semuanya ada, kecuali Gada Sangkara!”
ucap Galuh yang membuat semuanya menyadari.
“Entahlah, tambang energi milik saya
tidak bisa menemukannya sama sekali!” Ucap Ragadewa sedikit kesal.
“Tadi bukannya Tuan Gada Sangkara ditarik
masuk kedalam tanah bukan, baiklah kalau begitu.. energi ular, hanya bisa dikenali
oleh sesama ular,” ucap Jinn Si Kelinci sambil mengeluarkan energinya untuk membuka
ilmu gerbang dewa miliknya.
Dan, “Blash!” tiba-tiba muncul ular
naga biru keemasan yang begitu besar menembus keatas kabut! Setiap gerakannya,
ternyata menghasilkan angin yang menghirup kabut hingga tidak tersisa. Lalu,
mereka kini melihat Si Tengkorak Ular yang ternyata tengah menyiapkan ular-ular
beracun untuk Galuh dan kawan-kawan, kini kebingungan karena kabut buatannya
menghilang begitu saja.
Namun, bukan hanya menghilangkan kabut
saja. Ular Naga biru keemasan ini menelan semua ular beracun buatan Si
Tengkorak Ular. Lalu setelah itu ia masuk kedalam tanah, mengacak-acak dalam
bawah tanah, lalu membawa Gada Sangkara kembali ke permukaan dengan wajah yang masih
terkejut.
“Sang Hyang Antaboga!” Teriak Adhit
terkejut sekaligus senang.
“Sang Hyang Antaboga?” tanya Galuh
heran.
“Sang Hyang Antaboga adalah salah satu
tokoh perwayangan sunda. Ia adalah sang penguasa alam bawah tanah, dan penjaga
rahasia dunia bawah tanah. Jinn sangat tepat mengeluarkan tokoh ini untuk
menyelamatkan Gada Sangkara. Karena selain penguasa alam bawah tanah, Sang
Hyang Antaboga adalah Dewa Ular sang penjaga bumi, tentu ia bisa mengenali
energi Si Tengkorak Ular dengan mudah.” Ucap Adhit sangat senang. Setelah itu Galuh
menatap kembali Ular naga biru keemasan tersebut dengan pandangan penuh takjub.
Setelah meletakan Gada Sangkara dengan
hati-hati, Sang Hyang Antaboga kemudian perlahan menghilang.
Dengan kondisi ego yang terluka, Si
Tengkorak Ular langsung mengerahkan energinya pada tanah yang tengah diinjak
Galuh dan kawan-kawan.
Angin dinginpun berdesir, menembus
tulang, bahkan jiwa. Lalu dalam sekejap, energi gelap milik Si Tengkorak Ular
mengubah rerumputan dibawah kaki Galuh dan kawan-kawan jadi ular yang saling
membelit! Kemudian ratusan ular tersebut melilit kaki Galuh dan kawan-kawan hingga
mereka tidak bisa bergerak. Namun bukan itu saja, ular-ular tersebut menotok kaki
dan lengan Galuh dan kawan-kawan, sehingga semua energi yang dikerahkan para
pemilik elemen jadi berupa asap tidak berguna.
“Ular-ular ini menotok aliran tempat
energi kita keluar!” Ucap Ragadewa panik. Beberapa kali ia keluarkan energinya,
namun malah berakhir jadi asap yang membuar bersama angin. Seketika mereka
semua paham alasan nada waspada Gada Sangkara di awal tadi.
Reaksi panik Ragadewa, sontak membuat Si
Tengkorak Ular tergelak dengan sangat puas. Namun, yang membuat semakin ia
tergelak senang justru adalah Galuh.
Rasa cemas Galuh yang tiba-tiba
meledak, membuat segel para ajag melonggar di luar kendalinya. Galuh semakin
panik, malah membuat ia kesulitan dalam menutup segelnya kembali. Para Ajag
yang sudah terlanjur mengamuk didalam segel, kini mendorong paksa sehingga
Galuh sampai harus menjerit karena berusaha menutup kembali segel tersebut.
“Gawat!” Teriak Galuh semakin panik.
“Saat para Ajag mengamuk, mereka tidak bisa membedakan mana kawan dan mana
lawan. Dengan terikat ular seperti ini, kita akan mati sia-sia!” Teriak Galuh lagi
karena para Ajag semakin menggila.
Ditengah kepanikan, dengan gerakan
seolah sedang menepiskan debu, tiba-tiba Si Tengkorak Ular menutup kembali
segel para Ajag dari jarak jauh. Setelah itu ia menatap Galuh dan Kawan-kawan sambil
tertawa mengejek, seolah hal tersebut adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan.
Sontak hal tersebut membuat Galuh dan kawan-kawan terkejut luar biasa.
“Kalau kalian mati cepat, itu sama
sekali tidak seru, saya masih belum mendapatkan yang saya inginkan dari kalian..
hahahaha!” ucap Si Tengkorak Ular dengan tawa yang sangat menyebalkan. “Santai
saja, ada yang hendak saya gali dulu dari kalian. Lalu setelah saya mendapatkan
apa yang saya mau, baru kalian boleh mati.. hahahaha!” Lanjut Si Tengkorak Ular
semakin pongah.
“Ternyata ia menguasai ilmu pemahat
mantera tingkat tinggi, salah satu ilmu dalam Kitab Sembilan! Ucap Jinn Si
Kelinci terkejut.
“Saguri merekrut orang-orang yang
ilmunya di atas para Tetua Putih untuk menghadapi kita? Apa tidak salah?” ucap
Ragadewa heran.
“Tentu saja tidak. Ini bukan masalah
seberapa kuat dewa,” jawab Adhit dengan tatapan yang kini menoleh pada
Ragadewa.
“Untuk batu semenakutkan Hyang
Sawarga, Saguri tahu benar bahwa Guru Candrakara akan memilih orang-orang yang
menurutnya tepat untuk melindungi Hyang Sawarga hingga kembali menuju Istana,”
jawaban Adhit kini membuat Ragadewa terhenyak.
Ragadewa lalu melihat semua yang kini bersamanya.
“Benar juga!” ucap Ragadewa, menyadari. Sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Adhit benar, semua orang yang
bersamanya memang memunculkan kemampuan yang tepat saat mereka tengah membutuhkannya.
Galuh dengan para Ajag disertai
pengetahuan NaRaja tentang rahasia dunia hitam. Gada Sangkara dengan bakat
militer dan pengetahuan tentang para tokoh berbahaya dari militer Kaum Hitam. Soma
Wisesa dengan segala pengalaman hebatnya dan pengetahuan ilmu-ilmu berbahaya di
masa lalu. Lalu Adhit, dengan kecerdasan dan DNAnya yang telah diselipi
memori-memori milik Guru Candrakara. Setelah itu dirinya, yang mengetahui
hal-hal yang bisa menggabungkan antara pengetahuan Astamaya dan dunia Manusia. Semua
itu adalah perpaduan kekuatan yang membuat langkah mereka terus melaju kedepan.
“Guru Candrakara memang Gila! Ia
benar-benar gila!” ucap Ragadewa lagi yang kini mulai mengerti, mengapa Adhit
dan Soma Wisesa sering bereaksi luar biasa bila berhubungan dengan hal-hal yang
dilakukan Guru Candrakara.
Lalu ia menatap Adhit takjub,
pemikiran Adhit yang benar-benar tajam membuatnya terkesima luar biasa.
Ragadewa tiba-tiba refleks penasaran dengan reaksi Galuh, namun setelah melihat
ekspresi Galuh, pandangannya kini melembut. “Ternyata gadis ini sama
terkesimanya seperti saya,” pikir Ragadewa sambil tersenyum tipis.
“Aah.. mengapa semuanya terdiam? Apa kehebatan
saya yang berkilau membuat kalian semua terpukau? Hahahaha… saya memang sehebat
itu,” ucap Si Tengkorak Ular semakin pongah.
“Sangat disayangkan, saat ke enam
Tetua Hitam berusaha merebut batu Hyang Sawarga di istana dulu, saya masih belum
jadi bagian kubu hitam. Andai saja saat itu sudah bergabung, tentu para Tetua Hitam
sudah bebas sejak hari pertama tersegel.. Hahahaha!” Ucap Si Tengkorak Ular yang
membuat semuanya semakin muak.
Melihat Galuh dan kawan-kawan terlihat
sangat tidak berdaya, dengan masih tersenyum pongah, Si Tengkorak Ular berjalan
santai karena tahu bahwa kemenangan sudah menjadi mutlak miliknya.
“Kalian sudah mendapatkan berapa
banyak retakan dari Batu Hyang Sawarga?” tanya Jenderal ular dengan nada penasaran
yang mengejek. “Aaah…. setelah saya mendapatkan semua retakan Hyang Sawarga
yang ada di kalian, Tuan Saguri pasti akan memberikan saya banyak anugrah
energi langka yang hebat.. Hahahaha!” Lanjut Si Tengkorak Ular lagi, sambil
membayangkan semua kejayaan yang akan ia miliki dengan senyum penuh kemenangan.
Semakin Si Tengkorak Ular mendekat,
Galuh dan kawan-kawan semakin merasakan aura dingin menusuk kedalam sumsum
tulang. Mereka terkejut, saat melihat bahwa ternyata efek dingin Si Tengorak
Ular sampai membuat rumput sekitar mengering. Sontak hal tersebut membuat semua
pemilik elemen mulai merasa ngeri.
Namun, tiba-tiba saja perhatian Si
Tengkorak Ular terlihkan! Ada gemerlap memukau dari balik semak tepat disamping
Galuh.
Begitu menyadari bahwa ada beberapa
karung goni berisikan tumpukan koin emas yang sangat melimpah, Si Tengkorak
Ular langsung kalap. Ia bahkan melupakan misinya dan langsung berlari kedalam Semak,
lalu meraup tumpukan koin emas tersebut dengan tawa penuh keserakahan.
Si Tengkorak Ular tertawa semakin
senang, saat menyadari bahwa ternyata koin emas yang ia raup benar-benar emas
kadar murni. Ia bahkan memeluk tumpukan koin emas tersebut dengan sangat erat.
“Bukit Ruh memang penuh dipenuhi
misteri yang sangat menyenangkan.. Hahahaha!” teriak Si Tengkorak Ular dengan
tawa yang semakin sarat ketamakan. Jubah sisik ular keemasannya semakin
berkelip karena ia tertawa begitu keras.
Ketika ia menemukan beberapa peti
besar koin emas di sisi semak yang lebih dalam, Si Tengkorak Ular semakin kalap!
Saking serakahnya, Ia bahkan merubah dirinya jadi ular besar keemasan, yang lalu
melahap semua emas dengan raut penuh ketamakan.
Namun, setelah semua emas berhasil ia
telan, ular jelmaan Si Tengkorak Ular tiba-tiba melengkingkan teriakan yang
begitu hebat! Yang setelah itu ia jatuh berdebam, lalu tewas menggenaskan.
Ditengah kebingungan para pemilik
Elemen, tiba-tiba Hailana Sang Dewi Ruh muncul dari balik salah satu pohon
besar.
“Kelemahan terbesar ular adalah
ketamakan dan garam!” ucap Hailana senang, walaupun wajahnya masih terlihat
kuyu dan cukup sempoyongan.
Hailana lalu memperlihatkan gambaran
ulang tentang emas yang telah ditelan Si Tengorak Ular tadi. Ternyata, dibagian
bawah ratusan tumpukan koin emas dalam peti, disematkan beberapa kilo garam
kasar murni!
Sepertinya Hailana Sang Dewi Ruh
khawatir dengan keadaan NaRaja. Dalam keadaan masih terluka parah, ia mengikuti
mereka secara senyap. Hailana tahu bahwa Ia tidak sekuat dahulu, maka ketika ia
tahu lawannya adalah Si Tengkorak Ular, ia mengakalinya dengan mengeluarkan
emas dan garam dari tanah sekitar, lalu mengemasnya menjadi tumpukan koin emas
mewah dengan detail menggiurkan. Melihat semua gambaran yang diperlihatkan, kini
semua langsung menggeleng takjub dengan kenekatan Hailana Sang Dewi Ruh.
Hailana Sang Dewi Ruh, sekalipun
separuh kekuatannya telah hilang, ternyata ia masih bisa membuka segel para
Ajag untuk memastikan NaRaja selamat. Saat segel para Ajag berhasil dibuka, saat
itu pula ia mendapati NaRaja berdiri tepat didepan pintu segel. Desiran hangat
menjalar penuh hingga membuat wajah Hailana memerah.
Namun, NaRaja tidak mengeluh panjang
seperti biasanya, Ia bahkan menatap Hailana Sang Dewi Ruh dengan pandangan dalam.
Setelah menunduk sebagai tanda terimakasih, NaRaja menutup segel dari dalam
tanpa pamit sedikitpun.
“Cih, dia benar-benar sangat dingin,”
gerutu Hailana, namun wajahnya semakin memerah karena mendapat respon tak terduga
dari NaRaja. Tak lama, Citraloka terlihat datang menyusul dengan raut sangat
khawatir.
“Hailana! Bagaimana bisa kamu
menyelinap keluar dengan keadaan masih terluka parah seperti ini!” gerutu
Citraloka kesal. Lalu dengan energinya, Citraloka langsung memeriksa seluruh
luka Ruh yang terdapat pada tubuh Hailana. Ia lalu memperbaiki beberapa luka
dalam yang sempat terbuka kembali, karena Hailana memaksakan diri untuk
mengeluarkan energinya dalam mengumpulkan emas dan garam.
Hailana menanggapi kekhawatiran Citraloka
dengan tersenyum kekanakan, yang setelah itu mata Hailana menyipit jenaka
sambil melirik pada belakang Galuh.
Citraloka yang menangkap bahwa Hailana
sedang menunjukan tempat dimana NaRaja tinggal, menanggapi kode Hailana dengan
menggeleng sangat gemas. Hal tersebut pula membuat Galuh dan kawan-kawan langsung
tertawa geli.
Sebelum kembali pulang, seperti
yang pernah Hailana lakukan dulu, ketika Galuh, Adhit dan Jinn Si Kelinci saat
pertama kali bertemu dengannya di bukit Ruh. Hailana sang Dewi Ruh kembali
menuliskan mantera singkat, berupa aksara buhun, atau aksara Sunda kuno yang
dituliskan dengan jarinya. Mantera pelindung selama di Bukit Ruh agar tidak ada
Ruh jahil yang mendekat.
Begitu goresan tangannya
membekaskan jejak berupa aksara buhun yang berpendar lembut, Hailana segera
meniupkannya kearah Galuh dan kawan-kawan hingga aksara tersebut lenyap
disekitar mereka. Setelah itu, Hailanapun akhirnya mau dibawa Citraloka pulang
ke Leuweung Asmalaya, tempat paling sakral dimana para Ruh Tua di Bukit Ruh
tinggal.
Mereka pikir perjalanan mereka sudah
mulai tenang, ternyata begitu perjalanan sudah agak jauh, Jinn Si Kelinci malah
menemukan jejak cakar beruang yang sangat besar!
- Bersambung - Desya Saghir -
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar